Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Bicara merupakan fungsi perkembangan korteks serebral tertinggi. Bicara

merupakan simbol ekspresi pancaindra manusisa melalui proses berfikir. Hal ini
berdasarkan simbol kombinasi sintatik leksikal dan nama-nama yang dilukiskan
dari begitu banyaknya kosa kata (biasanya lebih dari 10.000 kata). Setiap kata yang
diucapkan diciptakan dari kombinasi fonetik dari satu set unit bunyi huruf fokal
dan konsonan yang terbatas.
Komponen bicara adalah fungsi mekanis kemampuan seseorang untuk
berkomunikasi dalam bahasa oral. Komponen bicara termasuk produksi bahasa,
fonasi, dan artikulasi.Bahasa merupakan simbol ide. Bahasa merupakan
kemampuan untuk mengubah pemikiran ke dalamkata kata yang luas.Terdiri dari
lima parameter se
perti bicara, mendengar, mengulang, membaca, dan menulis.
Bicara merupakan fungsi hemisfer serebral. Fungsi bicara ini diatur oleh
hemisfer yang dominan. 9 dari 10 manusia bertangan kanan (kinan) memiliki
hemisfer kiri yang dominan.10% sisanya kidal, 7% dari 10% golongan ini memiliki
hemisfer kiri dominan. 3% dari 10% sisanya memiliki hemisfer kanan yang lebih
dominan. Oleh sebab itu, 97% manusia memiliki hemisfer kiri yang lebih
dominan.Hanya 3% yang memiliki hemisfer kanan dominan.sisanya dari yang
bertangan kidal.
Salah satu gangguan fungsi bicara adalah afasia. Afasia merupakan kelainan
yang disebabkan oleh kerusakan otak yang bertanggung jawab dalam fungsi bicara.
Afasia biasanya terjadi tiba tiba, sering terjadi setelah serangan stroke atau cedera
kepala. Namun afasia dapat juga terjadi secara perlahan, misalnya pada keadaan
tumor otak, infeksi, ataupun demensia. Kelainan ini mengganggu ekspresi dan
pemahaman terhadap bahasa juga membaca dan menulis.

PAPER NEUROLOGI | AFASIA

1.2 Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi syarat dari
kepanitraan klinik senior di Departemen Ilmu Penyakit Saraf Rumah Sakit Haji
Medan secara umum, dan dapat menjadi panduan untuk para pembaca secara
khusus.

1.3 Manfaat
Pengetahuan mengenai afasia penting untuk meningkatkan kepedulian dan
kewaspadaan mengenai afasia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

PAPER NEUROLOGI | AFASIA

AFASIA

2.1 Definisi
Afasia merupakan merupakan istilah umum yang menyatakan hilangnya
kemampuan untuk memahami, mengeluarkan, dan menyatakan konsep bicara.

2.2 Epidemiologi
Angka kejadian afasia di United State masih terbatas. Afasia terjadi pada
berbagai keadaan penyakit cerebrovaskular, trauma, dan degeneratif. Stroke lebih
sering menjadi penyebab afasia, dan diperkirakan 20% nya menderita afasia. Lebih
dari 700.000 kasus stroke terjadi di USA setiap tahunnya,

dan kurang lebih

170.000 kasus baru setiap tahun yang terjadi berhubungan dengan stroke. Jumlah
pasien dengan kelainan bahasa yang kedua adalah trauma otak, tumor otak, dan lesi
otak lain seperti arteriovenous malformation tidak diketahui dengan pasti. Pasien
dengan kelainan neurodegeneratif seperti penyakit alzheimer

dan demensia

frontotemporal sering menampakkan gejala defisit bahasa. Prevalensi alzheimer di


USA diperkirakan 5 juta kasus.

2.3 Etiologi
Afasia dapat disebabkan oleh stroke trauma otak, tumor otak, dan lesi otak,
infeksi dan degeneratif.

2.4 Patogenesis
Afasia dapat terjadi pada cedera otak atau degenerasi. Fungsi bahasa di atur
oleh hemisfer serebri yang kontra lateral, pada orang yang lebih dominan
PAPER NEUROLOGI | AFASIA

menggunakan tangan kanan maka fungsi bicara diatur oleh hemisfer kiri. Pada
orang yang kidal, maka fungsi bicara diatur oleh hemisfer kanan. Orang yang kidal
dapat mengalami afasia setelah lesi hemisfer yang lain, namun sindrom dari cedera
hemisfer kiri dapat lebih ringan atau lebih selektif daripada orang yang dominan
menggunakan tangan kanan.
Kebanyakan kasus afasia berhubungan dengan stroke, cedera kepala, tumor
serebral, atau penyakit degeneratif. Pemahaman dan produksi bahasa merupakan
hal yang kompleks, termasuk input auditory dan pengkodean bahasa di lobus
temporal superior, analisis di lobus parietal, ekspresi di lobus frontal, yang
menurun di traktus kortikobulbar ke kapsula interna dan batang otak, denngan efek
modulator ganglia basal dan serebelum.
Sindrom afasia dijelaskan berdasarkan pola abnormal ekspresi bahasa,
repetisi, dan pemahaman. Sindrom klasik ini berhubungan dengan lokasi spesifik
hemisfer kiri. Pasien dapat kehilangan kemampuan untuk memproduksi bahasa,
memahami bahasa, dan untuk mendengar dan membaca kata kata dalam berbagai
keadaan. Sindrom afasia klasik disebabkan oleh kelainan di area Broca, Wernicke.
Afasia konduksi disebabkan oleh kelainan transkortikal motorik, transkortikal
sensorik,dan transkortikal mixed aphasia. Pure alexia dihubungkan dengan afasia
klasik.
Sejumlah bukti telah diketahui bahwa fungsi bahasa spesifik tertentu
(contohnya penamaan gambar) melibatkan jaringan saraf yang luas yang
melibatkan kedua bagian otak. Memproduksi, menerima, dan menginterpretasikan
bahasa memerlukan proses kognitif yang jelas seperti decoding dan encoding
bunyi. decoding

dan encodi tulisan, akses leksikal, leksikal semantik,

merepresentasikan kata kata, dan menginterpretasikan bahasa semantik.


Pembedaan proses ini memerlukan pengujian pada pasien dengan tipe afasia yang
berbeda dan percobaan untuk menemukan disosiasi di antara kelompok pasien
untuk menentukan dasar neurologis proses kognitif spesifik.

PAPER NEUROLOGI | AFASIA

2.5 Sindrom Afasia


Sindrom afasia
1. Afasia Motorik (Afasia Broca)
a. Afasia berat
Penderita tidak dapat mengeluarkan kata kata.
Masih mengerti bahasa verbal dan visual, juga praxis dan dilaksanakan
sesuai perintah.
Bahasa internalnya masih utuh.
Kemampuan menuliskata kata tidak terganggu.
Agrafia juga dapat ditemukan
Kata kata yang bersifat ledakan emosional masih bisa diucapkan secara
spontan.
Lesi terdapat di area Brocka
b. Afasia ringan
Tidak dapat menemukan simbolik verbal dari benda yang diperlihatkan
kepadanya. Penyimpanan kata benda yang dimaksud dan persandian
abstraksinya masih utuh tetapi decoding dari abstraksi terganggu.
Lesi terdapat di area Broca dan area Wernick.
c.Afasia Motorik Kortikal
Kerusakan di seluruh korteks di area Broca
Tidak dapat berekspresi dengan cara apapun baik dengan cara verbal
maupun visual
d. Afasia Motorik Subkortikal
Kerusakan oleh lesi di masa putih area Broca
Tidak dapat mengucapkan kata apapun, namun masih bisa mengutarakan
fikiran dengan cara menulis. Disebut juga pure word dumbness atau bisu
kata tulen.
e.Afasia Motorik Transkortikal
Kerusakan oleh lesi kortikal yang agak besar di antara area Broca dan
Wernicke.
Tidak dapat mengeluarkan kata kata sebagai cara ekspresi aktif, namun
masih dapat membeo.
f. Akalkulia Ekspresif dan Agrafia Ekspresif
Kerusakan oleh lesi di lobus frontalis yang berdampingan dengan korteks
motorik
Tidak dapat berekspresi dengan menggunakan simbol matematika dan
huruf, namun masih bisa berbahasa.

2. Afasia Global

PAPER NEUROLOGI | AFASIA

Pasien memiliki defisit semua aspek bahasa : bicara spontan, penamaan,


pengulangan, pemahaman apa yang didengar, membaca, dan menulis.
Biasanya terdapat infark luas di hemisfer serebri kiri, terdapat oklusi di arteri
karotis interna atau arteri serebri kiri. Infark frontal, temporal, parietal, dan
daerah arteri serebri media.
3. Afasia Sensorik
a. Afasia Sensorik (Afasia perseptif / Afasia Wernicke)
Kemampuan bahasa visual dan verbal berkurang (hilang sama sekali).
Masih dapat menulis dan mengucapkan kata kata, namun apa yang di
baca dan ditulis tidak ada maknanya.
Berbicara dan menulis bahasa baru yang tidak dimengerti oleh dirinya
sendiri dan orang lain (Neologisme) yang mengandung kata kata yang
wajar tapi kebanyakan merupakan ocehan yang tidak mempunyai arti
(Jargon Aphasia).
b. Afasia Sensorik Ringan
Tuli kata kata (word deafness)
1) Tidak mengerti bahasa verbal, tetapi mengerti bahasa tulisan dengan
baik.
Buta kata kata (word blindness)
Bahasa verbal mengerti, tetapi tidak mengerti bahasa visual (tulisan)
1) Agrafia
a) Agrafia ekspresif : ekspresimelalui berbahasa ikut terganggu
b) Agrafia reseptif : kemampuan untuk mengerti bahasa verbal masih
utuh, tetapi daya untuk mengerti bahasa tertulis hilang.
2) Akalkulia
Mengerti bahasa verbal, tapi tidak mengerti soal hitung
3) Aleksia
Kemampuan untuk mengerti apa yang dibaca terganggu, bahasa verbal
masih dimengerti.
Lesi lesi yang relevan bagi afasia reseptif fraksional itu terbatas pada gyrus
angularis dan supramarginalis. Gyrus yang tersebut pertama terletak di ujung
sulkus temporalis superior dan girus tersebut terakhir terletak di ujung fissura
serebri lateralis Sylvii.

2.6 Imaging

PAPER NEUROLOGI | AFASIA

Neuroimaging diperlukan untuk menentukan lokasi dan mendiagnosa


penyebab afasia. CT Scan dan MRImerupakan pemeriksaan neuroimaging utama.
CT Scan dapat menggambarkan perdarahan akut dan kebanyakan iskemik stroke
lebih dari 48 jam, namun kurang efektif pada stroke yang terjadi kurang dari 48
jam. MRI dengan diffusion weighted imaging mendeteksi stroke satu jam setelah
onset.
Pada penggunaan CT scan dan MRI peningkatan kontras menunjukkan
adanya tumor. Potongan tipis yang melalui lobus temporal menunjukkan atrofi
hipokampus dan sklerosis yang biasanya pada epilepsi dan demensia. Gambaran
koronal pada MRI dapat menolong deteksi atrofi hipokampus asimetris.
Ketika atrofi yang besar di jaringan sulit dideteksi, PET dan SPECT
berguna untuk mendeteksi hipometabolisme atau menurunkan aliran darah serebral.
Teknik ini berguna untuk menentukan fokus epilepsi.

2.7 Diagnosa
Diagnosa afasia dilakukan dengan cara melakukan pengujian berupa :
1. Testing spontaneus speech
Yang dilihat pada tes ini adalah :
a. Keancaran : perhatikan apakah bicaranya lancar atau tersendat sendat dengan
mencari kata kata yang terlupa.
b. Usaha yang dilakukan untuk berbicara : lihat apakah pasien tidak dapat
berusaha/berusaha untuk bicara.
c. Kosa kata : perhatikan apakah ada banyak kesukaran dalam menemukan kosa
kata. Apakah pasien gagap. Perhatikan kemampuan untuk berbicara dengan kalimat
yang utuh, atau apakah pasien hanya dapat bicara dalam satu frase.
d. Tata bahasa : perhatikan apakah tata bahasa pasien benar atau tidak.

2. Testing comprehension

PAPER NEUROLOGI | AFASIA

Uji dengan bertanya pada pasien untuk mengikuti perintah. Tanyakan pada pasien
untuk menunjukkan lidah, tutup mata, mengangkat tungkanya.

3. Testing repetition
Pasien diminta untuk mengulang sebuah kalimat sederhana yang harus dicontohkan
terlebih dahulu oleh pemeriksa misalnya : Hari ini adalah hari Kamis, 14 Mei
2015. Perhatikan apakah pasien dapat mengulang apa yang kamu katakan. Ingat
jangan berteriak pada pasien afasia, karena biasanya pendengaran pasien afasia
normal. Seorang pasien dengan lesi frontal kiri dapat mengulang kata kata dan
frasa. Pasien dengan lesi posterior di gyrus angularis tidak dapat mengulang apa
yang dikatakan pemeriksa. Ini merupakan karakter afasia konduktif. Biasanya pada
afasia transkortikal.

4. Testing for naming


Pasien ditunjukkan dengan sebuah objek yang sering digunakan dan diminta untuk
menamai objek tersebut, misalnya pena. Perhatikan apakah pasien dapat menamai
objek tersebut. Pada afasia anomik atau afasia nominal, pasien tidak dapat
menamai namun dapat menggunakannya. Pemahaman auditori, repetisi, membaca
dan menulis biasanya tetap ada pada pasien. Pengujian ingatan sebaliknya akan
normal. Biasanya terjadi pada transcortical afasia.

5. Other test to be done


Minta pasien untuk membaca sebuah perintah. Perhatikan apakah pasien dapat
menjawab dan menulis pertanyaan. Lihat apakah dia mematuhi perintah tertulis.
Minta pasien untuk membaca, menulis nama dan alamat, untuk menggambar
sebuah benda, atau untuk melakukan hitungan sederhana, misalnya 4 + 4.

2.8 Penatalaksanaan

PAPER NEUROLOGI | AFASIA

Penatalaksanaan afasia tergantung pada penyebab sindrom afasia. Pada


pasien afasia karena stroke akut, perawatan seperti intravenous tPA, perawatan
intra arterial

interventional, carotid endarterectomy and stenting,

atau

bahkan manipulasi tekanan darah dapat menolong untuk mengurangi defisit.


Pembedahan pada hematoma subdural atau tumor otak. Pada penyakit infeksi
seperti herpes simplex encephalities, terapi antiviral dapat menolong pasien.
Yang paling utama adalah terapi bicara dan berbahasa. Waktu dan lamanya
terapi sangat bervariasi tiap individu.

2.9 Prognosis
Prognosis pasien dengan afasia tergantung dari penyebab afasia. Prognosis
untuk perbaikan bahasa bervariasi bergantung ukuran lesi, umur dan keadaan
kesehatan pasien. Kebanyakan pasien berhasil sembuh dari afasia post stroke,
sebagian pasien sembuh dengan sempurna. Umumnya,

pasien dengan fungsi

bahasa yang baik prognosisnya lebih baik daripada pasien dengan kerusakan fungsi
bahasa. Potensi untuk sembuh secara fungsional dari afasia Broca pasca stroke
sangat besar. Potensi untuk sembuh secara fungsional dari afasia Wernicke pasca
stroke tak sebaik afasia Broca, tetapi kebanyakan pasien pasien ini mengalami
perubahan. Potensi kesembuhan dari afasia yang berhubungan dengan tumor atau
penyakit neurodegenerative yang tidak diobati sangat jelek.
Pasien dapat sembuh secara fungsional dan dapat hidup bebas afasia,namun
sebagian memiliki afasia persisten, sepanjang mereka memiliki apraxia, hal ini
sering dihubungkan dengan keterlibatan lobus parietal inferior atau frontal ataupun
defisit kognitif lainnya.
Walaupun telah diketahui bahwa kebanyakan perbaikan dari afasia terjadi
pada enam bulan pertama setelah stroke, banyak diketahui penyembuhan dappat
terjadi beberapa bulan atau bahkan tahunan setelah stroke. Pada keadaan berat,
global afasia, biasanya akan ada perbaikan dalam enam bulan kedua setelah stroke
daripada 6 bulan pertama.

PAPER NEUROLOGI | AFASIA

BAB III
KESIMPULAN
Afasia merupakan merupakan istilah umum yang menyatakan hilangnya
kemampuan untuk memahami, mengeluarkan, dan menyatakan konsep bicara.
Etiologi dari afasia bermacam mcam di antaranya dapat disebabkan oleh stroke
trauma otak, tumor otak, dan lesi otak, infeksi dan degeneratif.

PAPER NEUROLOGI | AFASIA

10

Sindrom afasia dijelaskan berdasarkan pola abnormal ekspresi bahasa,


repetisi, dan pemahaman. Pasien dapat kehilangan kemampuan untuk memproduksi
bahasa, memahami bahasa, dan untuk mendengar dan membaca kata kata dalam
berbagai keadaan. Sindrom afasia klasik disebabkan oleh kelainan di area Broca,
Wernicke. Afasia konduksi disebabkan oleh kelainan transkortikal motorik,
transkortikal sensorik,dan transkortikal mixed aphasia. Pure alexia dan optic
aphasia dihubungkan dengan afasia klasik.
Pemeriksaan laboratorium yang dibutuhkan adalah CT Scan, MRI. Diagnosa
afasia juga dilakukan dengan cara melakukan pengujian berupa : Testing
spontaneus speech, Testing comprehension, Testing repetition, Testing for naming,
Other test to be done.
Prognosis pasien dengan afasia tergantung dari penyebab afasia. Prognosis
untuk perbaikan bahasa bervariasi bergantung ukuran lesi, umur dan keadaan
kesehatan pasien. Kebanyakan pasien berhasil sembuh dari afasia post stroke,
sebagian pasien sembuh dengan sempurna. Umumnya,

pasien dengan fungsi

bahasa yang baik prognosisnya lebih baik daripada pasien dengan kerusakan fungsi
bahasa. Potensi untuk sembuh secara fungsional dari afasia Broca pasca stroke
sangat besar. Potensi untuk sembuh secara fungsional dari afasia Wernicke pasca
stroke tak sebaik afasia Broca, tetapi kebanyakan pasien pasien ini mengalami
perubahan. Potensi kesembuhan dari afasia yang berhubungan dengan tumor atau
penyakit neurodegenerative yang tidak diobati sangat jelek.

PAPER NEUROLOGI | AFASIA

11

DAFTAR PUSTAKA

1. Price, Silvia A; Lorraine M Wilson.Patofisiologi.Konsep Klinis Proses Proses


Penyakit.Volume 2.Edisi 6.EGC.Jakarta.2003.Hal : 1048.
2. Emedicine.medscape.com/aphasia/overview
3. Gupta Abha, Gaurav Singhal.Riview Article : Understanding Aphasia in a
Simplified Manner.JIACM.2011;12(1):32-7
4. NIDCD Fact sheet (National Institut of Deaness and Other Communication
Disorders), US Department of Health & Human Services.Aphasia.Publication
No. 08-4232.October 2008.
5. Mardjono, Mahar; Priguna Sidharta.Neurologi Klinis Dasar.Cetakan ke
14.Jakarta 2009.Hal : 203 207

PAPER NEUROLOGI | AFASIA

12

Beri Nilai