Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kenyataan sampai hari ini kesehatan manusia semakin hari semakin dihadapkan
dengan berbagai permasalahan yang kompleks. Dizaman modern ini dengan teknologi yang
sudah

canggih kesehatan manusia sangat diutamakan.namun untuk mewujudkan

masyarakat sehat tidak hanya terpaku pada kesehatan manusia saja, tapi juga terkait erat
dengan kesehatan hewan. Penyakit-penyakit hewan yang dapat menular ke manusia atau
sebaliknya (penyakit zoonosis) seperti Flu Burung, Rabies, Flu Babi, Panyakit Sapi Gila,
Anthraks, Toksoplasmosis dan zoonosis lainnya adalah ancaman nyata bagi kesehatan
masyarakat. Di sinilah dibutuhkan peran dokter hewan sebagai profesi medis yang memiliki
kompetensi dan tanggung jawab untuk memberikan jaminan kesehatan hewan dalam
mewujudkan kesehatan dan kesejahteraan manusia.
Sesuai dengan

semboyannya Manusya Mriga Satwa Sewaka yang bermakna

mensejahterakan manusia melalui kesejahteraan hewan artinya adalah mengabdi untuk


kesejahteraan manusia melalui kesejahteraan hewan. Hewan yang ditangani dapat berupa
semua jenis hewan misalnya ternak (Farm Animal, Livestock, misalnya sapi, kambing,
domba, ayam, itik dan sebagainya), satwa liar, hewan kesayangan (Pet Animals) dan hewanhewan akuatik (ikan, mamalia air, dan sebagainya). Demikian luas tugas Dokter Hewan
sehingga Dokter Hewan bisa termasuk dalam konsep profesi medik(Medical Profesions)
yang tunduk pada International Medical Ethics, tetapi juga bisa dalam profesi pertanian
(Agriculturist).
Selain itu, seorang Dokter Hewan harus pula memahami Ilmu Kesehatan Masyarakat
Veteriner (Veterinary Public Health) guna ikut bertanggung jawab pada kesehatan
masyarakat yang berhubungan dengan hewan (Pemeriksaan susu, daging dan produk-produk
hewan yang lain), penyakit zoonosis, epidemiologi, karantina, dan sebagainya.
Dokter hewan adalah salah satu pondasi utama dalam mensejahterakan manusia. Jika
pondasi ini rapuh maka mewujudkan kesejahteraan manusia hanya angan belaka. Seperti
halnya suatu bangunan jika pondasi terlalu lemah maka dengan guncangan kecil pun dapat
merobohkannya. Begitu pun dengan kesehatan manusia. Seperti yang pernah Virchow
katakan, kedokteran hewan (Veterinarian) dan kedokteran manusia (Physisian), merupakan
satu kesatuan, tidak ada pembatas diantara keduanya. Hal ini karena, peran keduanya dalam
mewujudkan kesehatan global, bersifat mendasar.
Dokter hewan mungkin tidak populer di Indonesia, tetapi bukan berarti tidak
diperlukan. Mungkin yang lebih populer anekdot tentang dokter hewan, yang katanya lebih
1

pintar dari dokter karena bisa mendiagnosa penyakit tanpa pernah bicara sekalipun dengan
pasiennya. Namun disisi lain dokter hewan juga merasa dikucilkan. Padahal peran dokter
hewan dengan manusia itu sebanding. Hanya saja dokter hewan melakukannya melalui
upaya penyehatan hewan dan lingkungannya, keamanan produk hewan dan pencegahan
penyakit-penyakit yang bersumber hewan yang dapat menular ke manusia. Dalam hal ini
masyarakat perlu diberi pemahaman mengenai peran profesi dokter hewan, karena hal itu
saya membuat makalah yang berjudul Peran Dokter Hewan.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya pada makalah ini yaitu :
1. Apa itu profesi dokter hewan?
2. Bagaimana sejarah Profesi Dokter Hewan?
3. Apa Kode Etik Profesi Dokter Hewan ?
4. Bagaimanakah Peran Profesi Dokter Hewan ?
5. Apa Sajakah Tantangan Profeesi Dokter Hewan ?

C. Tujuan
Adapun tujuan makalah ini berdasarkan rumusan masalah yang ada yaitu :
1. Untuk mengetahui arti dari Profesi Dokter Hewan?
2. Untuk mengetahui sejarah Profesi Dokter Hewan
3. Untuk mengetahui Kode Etik Profesi Dokter Hewan
4. Untuk mengetahui Peran Profesi Dokter Hewan
5. Untuk mengetahui tantangan Profesi Dokter Hewan.

D. Manfaat
Masyarakat dapat mengerti dan memahami tentang peran profesi dokter hewan
sehingga profesi dokter hewan dapat berkembang di Indonesia dan dunia.

BAB II
ISI

A. Pengertian Profesi Dokter Hewan


Pengertian dokter hewan adalah seorang yang memiliki kualifikasi dan otorisasi
dalam melakukan praktek kedokteran hewan. Dahulu definisi klasik kedokteran hewan
dikaitkan hanya dengan sains dan seni mengenai pencegahan, pengobatan atau pengurangan
penyakit atau cedera pada hewan (terutama hewan domestik).
Saat ini definisi tersebut nampaknya tidak pas lagi mengingat profesi kedokteran
hewan kontemporer tidak hanya terbatas pada pengobatan penyakit dan cedera. Pada
kenyataannya, selama bertahun-tahun profesi kedokteran hewan telah memainkan peranan
yang signifikan dalam menunjang kesehatan dan kesejahteraan hewan dan manusia, mutu
pangan, keamanan pangan dan ketahanan pangan, ekologi, etologi, epidemiologi, fisiologi
dan psikologi, pengembangan obat dan farmasetikal, penelitian biomedik, sebagai pendidik
dan pelatih, dalam konservasi satwa liar, serta perlindungan lingkungan dan biodiversitas.
Jadi profesi dokter hewan ialah suatu bidang pekerjaan yang khusus menangani
binatang dan praktikus kedokteran hewan. Dokter hewan disebut juga veteriner. Kata itu
berasal dari bahasa Latin veterinae. Banyak sekali sebenarnya profesi dengan gelar dokter
hewan selain dari praktek klinik. Mereka yang bekerja di lingkungan klinik sering praktek
dokter dalam bidang spesifik, seperti kedokteran hewan kesayangan, kedokteran ternak,
kuda (misalnya olahraga, balapan, pertunjukan, rodeo), kedokteran hewan laboratorium, atau
kedokteran reptil atau mereka berspesialisasi dalam bidang kedokteran seperti pembedahan,
dermatologi, atau kedokteran dalam.
Dokter hewan adalah orang yang memiliki profesi di bidang kedokteran hewan,
memiliki sertifikat kompetensi dan kewenangan medik veteriner dalam melaksanakan
pelayanan kesehatan hewan (UU No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan
Hewan).

B. Sejarah Profesi Dokter Hewan


Profesi Veteriner merupakan profesi yang sangat tua di dunia yang muncul sebagai
pengembangan dari Profesi Kedokteran di zaman Yunani Kuno pada 460-367 Sebelum
Masehi(SM) oleh Bapak Kedokteran di dunia yaitu Hippocrates.
Metode kedokteran dan dasar-dasar filosofi kedokteran yang dikembangkan oleh
Hippokrates sangat dipahami dan dihayati oleh seorang ilmuwan bernama Aristoteles (lahir
384 SM) yang menerapkannya pada penanganan penyakit-penyakit hewan. Pencetus
3

Kedokteran Perbandingan (Comparative Medicine) yaitu penerapan metode medik yang


dipelajari untuk kedokteran manusia kepada spesies hewan adalah Aristoteles. Ia sangat
terkenal dengan bukunya Historia Animalium (Story of Animals) yang menguraikan lebih
dari 500 spesies hewan. Ia juga menulis buku tentang Pathology Hewan yang
mengungkapkan tentang penyakit-penyakit hewan serta memperkenalkan Kastrasi pada
hewan ternak muda dan efeknya pada pertumbuhan dan banyak lagi metode-metode
kedokteran pada berbagai spesies hewan.
Profesi kesehatan di zaman dahulu kala dimanapun, berakar dari Mythologi dan halhal gaib (magic). Di zaman Yunani kuno, cerita tentang dewa-dewa penyakit dan
penyembuh antara lain Apollo, Chiron (digambarkan sebagai manusia berbadan kuda=
centaur) dan murid-muridnya antara lain yang terkenal adalah Asklepios (latin :
Aesculapius) seorang manusia biasa yang berkemampuan menyembuhkan penyakit manusia
dan hewan.

Sejarah Kedokteran Hewan di Indonesia


Pada abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda merasa membutuhkan tenaga kesehatan
hewan menangani Kavaleri, sapi perah dan sapi pekerja. Kemudian pada tahun 1820 mereka
mendatangkan dokter hewan dari Belanda yaitu R.A. Coppreters. Pada tahun 1834, Dokter
hewan korps Kavaleri mulai didatangkan secara teratur. Pada tahun 1860 dibangun Sekolah
Kedokteran Hewan di Surabaya. Pendidikan berlangsung selama 2 tahun. Namun sekolah
tersebut ditutup pada tahun 1975 karena kurang dukungan dari politisi dan tentara kolonial.
Pada tahun 1892 Janeman, anggota parlemen Belanda, mengusulkan pada Gubernur
Jenderal Pynacker Hordyk agar mendirikannya lembaga pendidikan untuk ajun dokter
hewan pribumi (Inlandsche veeartsen) di Batavia karena terjadi ledakan wabah rinderpest
yang terjadi mulai tahun 1879. Namun usul tersebut mendapat tentangan dari kalangan
ilmuan, birokrat dan militer colonial dikarenakan kehadiran dokter hewan pribumi dengan
gaji rendah dan keterampilan yang menyamai dokter hewan eropa dikhawatirkan akan
menyaingi posisi mereka di dalam pemerintahan.
Kemudian pada 5 Mei 1907, Profesor Melchior Treub, Direktur Pertanian,
mendirikan sekolah veteriner dan sebuah laboratorium yang pendidikan di Cimanggu Kecil
Bogor. Lalu Cursus tot Opleiding van Inlandsche Veeartsen dipimpin oleh Dr. L. De Blick
dengan Kepala Veeartsenlkunding Laboratorium (VL) drh. De Does dan lama pendidikan
selama 1 tahun. Pada tahun 1927 terjadi pemisahan NIVS dan VL. Pada Juni 1938, NIVS
mendapat fasilitas baru di Kedung Halang Bogor serta memiliki asisten pengajar dari bangsa
Indonesia yaitu R. Noto Soediro, Sikar, dan M. Nazar.
4

Perubahan terjadi lagi pada masa kependudukan Jepang (1942-1945). NIVS diubah
menjadi Bogor Zyni Cakko (Sekolah Dokter Hewan Bogor) yang dipimpin perwira tentara
Dai Nippon Iwamoto. Sejak tahun 1920 lulusan NIVS diterima di Fakultas Kedokteran
Hewan di Utrecht, negeri Belanda, langsung di tingkat III.
Tahun 1942 bala tentara Jepang menyerbu Hindia Belanda. Roda pemerintahan
militer berjalan di bawah kekaisaran Jepang. Sekolah Dokter Hewan di Bogor dibuka
kembali dengan nama Bogor Semon Zui Gakko; sampai pertengahan tahun 1945
Pasca 17 Agustus 1945; Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan (PTKH) berdasarkan
Surat Keputusan Menteri Kemakmuran No. 1280 a/Per. tanggal 20 September 1946. Lama
pendidikan ditetapkan lima tahun. Sebagai Pimpinan diangkat Dr. Mohede dengan sebutan
Rektor Magnifikus. PTKH dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Moh. Hatta bulan
November 1946
Pada tahun 1947 krisis diplomatik antara pemerintah Republik Indonesia dengan
Kerajaan Belanda mencapai puncaknya, maka dihentikanlah aktivitas PTKH dan tidak
pernah secara resmi ditutup. Namun secara tersembunyi mengungsi ke Klaten, Jateng 19
Desember 1948, PTKH-RI ditutup karena serangan Belanda ke Jogja. 1 November 1949
PTKH dibuka kembali tetapi pindah dari Klaten ke Yogyakarta.Pada tanggal 19 Desember
1949 semua perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta bergabung menjadi Universitit Gajah
Mada, dan PTKH-RI menjelma menjadi Fakultas Kedokteran Hewan UGM.
Sementara di Bogor pada bulan Mei 1948 pemerintah Federal membentuk Faculteit
der Diergeneeskunde (Fakultas Kedokteran Hewan), setelah sebelumnya (tahun 1947)
membentuk Faculteit voor Landbouw Wetenschappen (Fakultas Ilmu-ilmu Pertanian).
Setelah perundingan di Komperensi Meja Bundar (KMB) mencapai sukses dan dilakukan
pemulihan kedaulatan (27 Desember 1949), maka pada tanggal 3 Februari 1950 secara resmi
dibentuklah Universitet Indonesia yang meliputi fakultas-fakultas di Jakarta, (Hukum,
Ekonomi, Kedokteran, Sastra), Bogor (Pertanian, Kedokteran Hewan) dan Bandung
(Teknik, Ilmu Pasti dan Ilmu Alam). Nama Faculteit der Diergeneeskunde resmi menjadi
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitet Indonesia (FKH-UI). Dengan peraturan pemerintah
No. 10 tahun 1955 istilah fakultit (UGM) dan Fakultet (UI) diseragamkan menjadi Fakultas.
Kemudian dengan Surat Keputusan No. 53759/Kab. tertanggal 15 September 1955 istilah
Peternakan disebut secara khusus dalam penamaan fakultas, sehingga lengkapnya menjadi
Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (FKHP).Pada tahun 1961 dibuka Jurusan
Perikanan Laut pada FKHP-UI bersama dengan Jurusan Peternakan dan Jurusan Kesehatan
Hewan dan nama fakultas menjadi FKH PPL.
5

Dua tahun kemudian, pada tanggal 1 September 1963 pemerintah membentuk Institut
Pertanian Bogor (IPB) dengan SK Menteri PTIP No. 91 tahun 1963. Jurusan Peternakan
ditingkatkan menjadi Fakultas Peternakan dan Jurusan Perikanan Laut bersama dengan
Jurusan Perikanan Darat Fakultas Pertanian ditingkatkan menjadi Fakultas Perikanan. Maka
nama FKH PPL kembali menjadi hanya FKH lagi.
Di

UGM

Fakultas

Peternakan

didirikan

pada

bulan

November

1969.

Sementara itu pada Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh pada tahun 1961 didirikan
Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan. Namun pada perkembangannya aspek
peternakannya bergabung dengan Fakultas Pertanian.
Pada Tahun 1969 Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang membuka
Jurusan Kedokteran Hewan yang diasuh bersama oleh Universitas Airlangga Surabaya dan
Pemda Jawa Timur. Namun Jurusan ini tidak dilanjutkan dan Universitas Airlangga
mendirikan sendiri Fakultas Kedokteran Hewan pada tahun 1972, dengan keputusan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 055/0/1972 tertanggal 25 Maret 1972.
Universitas Udayana di Denpasar, membuka Program Studi Kedokteran Hewan pada
tahun 1983, yang sebelumnya merupakan Jurusan Kedokteran Hewan, Fakultas Peternakan
semenjak 1979. Program ini menginduk langsung kepada Rektor sambil menunggu
memperoleh status sebagai fakultas. Status sebagai fakultas baru tercapai pada tahun 1997.
Secara garis besarnya perkembangan Pendidikan Kedokteran Hewan setelah
penyerahan kedaulatan RI yaitu :
1950 : Facultet Kedokteran Hewan, Universitet Indonesia (FKH - UI).
1955 :Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia (FKHP-UI).
1961 :Fakultas Kedokteran Hewan, Peternakan dan Perikanan Laut, UI (FKHPPI-UI)
1961 :Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Syahkuala (FKHP-UI)
1963 : Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH IPB)
1972 : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya.(FKH-UNAIR) yang
Merupakan pecahan dari Fakultas Peternakan dan Kedokteran Hewan Universitas
Brawijaya. Fakultas Peternakan di UB dan FKH di UNAIR
1981 : Program Studi Kedokteran Hewan

Universitas

Udayana Bali (PSKH

UNUD)
Sampai saat ini ada 10 Universitas yang ada FKH/PSKHnya yaitu, Universitas
Syahkuala Aceh, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM)
Jogjakarta, Universitas Airlangga (UNAIR) Sby, Universitas Udayana Bali, Universitas
Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Universitas Brawijaya (UB) Malang, Universitas Nusa
Tenggara Barat (UNTB), dan yang baru dibuka tahun 2010 adalah Universitas Hasanuddin
6

Makassar dan Universitas Cendana (UNDANA) NTT. 4 Oktober 2010, dibuka Program
Studi Kedokteran Hewan di UNHAS dibawah Fakulatas Kedokteran
Kata veteriner berasal dari tiga versi:
Versi 1, Di zaman Romawi Kuno dikenal bangsa Etruscans yang sangat menyukai
kuda dan sapi. Hal ini tampak dari gambar-gambar yang merupakan peninggalan kuno.
Hewan pada masa itu mempunyai nilai sakral ataupun nilai martabat dan pada ritual-ritual
khusus digunakan sebagai hewan kurban. Setiap keberhasilan atau kemenangan,dilakukan
perayaan dengan hewan kurban yang diberi nama-nama khusus. Kumpulan beberapa hewan
kurban yang terdiri dari kombinasi beberapa jenis hewan antara lain babi (sus) ,biri-biri
(ovis) , sapi jantan (bull) disebut souvetaurilia .Sedangkan orang-orang yang mengurus
hewan-hewan sakral yang akan dijadikan kurban tadi disebut sou-vetaurinarii yang
kemudian diyakini sebagai lahirnya istilah veterinarius
Versi 2, Kemungkinan dari terminology lain yaitu masih di masa Romawi,dikenal
hewan beban sebagai veterina dan suatu kamp penyimpanan hewan-hewan tersebut
disebut veterinarium. Term veterinarii juga digunakan pada dukumen kuno sebagai
orang yang memiliki kekebalan khusus karena memiliki kompetensi khusus.
Versi 3, Dari berbagai literature lain yang juga membahas istilah Veterinarius
diartikan sebagai orang-orang yang mengurus hewan beban/hewan pekerja. Ada pula orangorang ahli memasang ladam besi bagi hewan-hewan beban yang dikenal sebagai Ferrarius
(Ferrum=besi). Karena terampil menangani kaki-kaki hewan, ada masa dimana para
Ferrarius melakukan praktek mengobati hewan sakit. Dalam jurnal American Veterinary
Medical Association 1972, diuraikan sejarah bagaimana para ilmuwan kedokteran jaman
dahulu memerlukan hewan coba untuk pengembangan ilmu kedokteran manusia,namun
mereka memerlukan veterinarius untuk menangani hewan-hewan tersebut dan bukan
Ferrarius. Untuk itu ternyata diperlukan veterinarius yang berpendidikan agar memahami
apa yang diperlukan. Kemudian timbulah gelar-gelar Ph.D(Doctor of Philosophy) yang
merupakan awal dari para Veterinarius menjadi medical doctor atau Doctor of Veterinary
Medicine.
Lambang Profesi Veteriner
Profesi Veteriner berlambangkan sebuah tongkat dengan 3 mahkota yang dililit ular
menghadap ke kanan dan dibawahnya terdapat huruf V .Ketiga komponen ditampung
dalam lingkaran berwarna ungu. Makna masing-masing bagian adalah
1. Tongkat : Tongkat Aesculapius (As : ular, clepios : melilit),adalah symbol umum yang
melambangkan kedokteran.Filosofi tongkat adalah bahwa tongkat ini dulunya selalu
dibawa oleh Cypress yang melambangkan kekuatan dan solidaritas para dokter hewan.
7

Tongkat tiga mahkota yang mencirikan profesi medik yaitu mengangkat sumpah profesi,
berkode etik dan kompetensi layananannya dijamin dengan perizinan
2. Ular : melambangkan alat penyembuh karena ular meneluarkan suatu zat yamh dapat
menyembunkan.Sifat ular selau berganti kulit berfilosofi bahwa setiap dokter hewan
harus selalu meningkatkan ilmu pengetahuan dan ketrampilannya
3. Huruf V : berarti Veteriner , yaitu profesi dokter hewan
4. Warna ungu : melambangkan keagungan.
5. Lingkaran : melambangkan perhimpunan atau perkumpulan

C. Kode Etik Profesi Dokter Hewan


Etik ( ethics ) yaitu ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana patutnya
manusia hidup di dalam masyarakat untuk mengetahui mana yang patut dilakukan dan yang
tak patut dilakukan. Etika Veteriner (Veterinary Ethics) adalah membahas mengenai isu
moral dalam hubungan ilmu kedokteran dengan hewan.
Etika pada dasarnya adalah tentang nilai-nilai dan berkaitan dengan moral. Etika
berasal dari kata ethikos (Yunani kuno) yang menekankan sifat/karakter
perorangan/individu dan ethos yang berarti yang baik, yang layak. Etika adalah segala
nilai yang dianggap baik dan buruk untuk sebuah profesi yang berlaku di dunia dan menjadi
batasan-batasan bagi para anggota profesi tersebut dalam hal tindakan, prilaku dan sikapnya
dalam menjalankan profesinya.
Ada 4 pemahaman Etika Veteriner yaitu :
1. Etika Veteriner Deskriptif (Descriptive Veterinary Ethics)
2. Etika Veteriner yang ditetapkan sebagai Standard Etika Organisasi Profesi
Veteriner/Dokter Hewan (Official Veterinary Ethics)
3. Etika Veteriner yang tercakup di dalam aturan-aturan pemerintah (Administrative
Veterinary Ethics)
4. Etika Veteriner yang normative (Normative Veterinary Ethics)
Ada 4 Jenis Etika Veteriner :
1. Etika Veteriner Deskriptif adalah yang secara umum perilaku sebagai profesi dan
individu yang langsung terlihat baik buruknya oleh masyarakat.
2. Etika Veteriner Profesi (profesional) adalah kesepakatan anggota organisasi profesinya.
3. Etika Veteriner Administratif adalah yang diatur pemerintah, berkekuatan hukum dan
dapat diberi sanksi.

4. Etika Veteriner Normatif adalah norma-norma etika yang benar dan tepat yang dalam
berperilaku sebagai profesi veteriner termasuk terhadap hewan atau disepakati sebagai
norma-norma Kesejahteraan Hewan.
Kode Etik Profesi Dokter Hewan terbagi dalam 7 bab, dengan 29 pasal. Didalamnya
tercantum kewajiban-kewajiban seorang dokter hewan. Dibawan ini akan dijelaskan maksud
setiap pasaal dari kode etik Profesi Dokter Hewan.
BAB I KEWAJIBAN UMUM
Pasal 1
Dokter Hewan merupakan Warga Negara yang baik yang memanifestasikan dirinya dalam
cara berpikir, bertindak dan menampilkan diri dalam sikap dan budi pekerti luhur dan penuh
sopan santun.
[Dokter Hewan tidak dimaksudkan menjadi masyarakat eksklusif, tetapi tampil sebagai
bagian dari masyarakat profesi yang sepatutnya terpercaya , intelektual dapat diandalkan ,
tidak mudah berkonflik dan dapat menjadi suri tauladan dalam banyak aspek bagi
lingkungannya dalam hal cara berpikir, cara bertindak dan memiliki integritas budi pekerti
luhur dan penuh sopan santun]
Pasal 2
Dokter Hewan diharapkan menjujung tinggi Sumpah/Janji Kode Etik Dokter Hewan.
[Dokter Hewan diamanatkan dalam UU no.18 tahun 2009 tentang Peternakan dan
Kesehatan Hewan untuk memegang teguh Sumpah/Janji dan Kode Etik Dokter Hewan,
menghayatinya dan mengimplementasikannya dalam pelayanannya sebagai dokter hewan
kepada masyarakat, kepada bangsa dan negara serta dalam memperlakukan hewan sebagai
obyek profesinya].
Pasal 3
Dokter Hewan tidak akan menggunakan profesinya bertentangan dengan perikemanusiaan
dan usaha pelestarian sumber daya alam.
[Sebagai Dokter Hewan dengan kewenangan khusus profesi medis wajib bersifat luhur yaitu
mengutamakan kemanusian di atas kepentingan pribadi serta berhati-hati dalam tindakan
dan keputusannya yang berdasarkan pertimbangan ilmiah medis veteriner untuk resikoresiko yang bahkan dapat memusnahkan sumberdaya alam hewani kita yang justru menjadi
kekayaan bangsa]
Pasal 4
Dokter Hewan tidak mencantumkan gelar yang tidak ada relevansinya dengan profesi yang
dijalankannya.
9

[Bilamana seorang dokter hewan sedang berada dalam posisi kemasyarakatan dan
pekerjaan yang tidak ada kaitan dan kepentingannya dengan keputusan-keputusan bidang
veteriner maupun tindakan medis veteriner maka ia bertindak sebagai seorang anggota
masyarakat/warga negara biasa tanpa perlu mencantumkan gelar profesinya sehingga tidak
mengikatkan citra dirinya kepada korps dokter hewan].
Pasal 5
Dokter Hewan wajib mematuhi perundangan dan peraturan yang berlaku.
[Seorang dokter hewan sarat dengan berbagai rambu-rambu etika dan hukum yang
terkandung di dalam hukum positif seperti UU, PP dan lain-lain, sehingga dalam segala
tindakannya yang terkait pelayanan profesi bidang kesehatan hewan/veteriner wajib
mengacu kepada ketentuanketentuan hukum yang mengatur profesi dan keilmiahan di
bidang kerjanya sehingga dapatdipertanggung jawabkan kepada bangsa dan negara
sedangkan sebagai warga negara hendaknya mematuhi berbagai aturan hukum yang
berlaku agar tidak merusak citra korps profesi dokter hewan].
Pasal 6
Dokter Hewan wajib berhati hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap penemuan
teknik therapi atau obat baru yang belum teruji kebenarannya.
[Seorang Dokter Hewan dalam melakukan pelayanan jasa medik veterinernya tidak
bereksperimen terhadap pasien dengan memberikan terapi/obat-obatan yang belum
mendapatkan kepastian hukum atau belum melalui proses pengujian ilmiah yang
dipertanggung jawabkan sesuai aturan hukum yang berlaku baik nasional maupun
internasional. Dalam hal ini adalah tindakan/obat yang beresiko menimbulkan
kecacatan/keburukan bahkan kematian pada pasien sehingga merugikan pemiliknya.
Sedangkan dalam bidang penelitian maka hasil penelitiannya dipublikasikan sesuai
prosedur dan ketentuan hukum yang mengatur temuantemuan ilmiah yang dapat
dimasyarakatkan secara legal dan terakreditasi ]
Pasal 7
Dokter Hewan wajib berhati-hati dalam menulis artikel atau hasil analisa yang dapat
menimbulkan polemik maupun kekhawatiran publik tanpa didasari kajian ilmiah
[Dalam menyatakan pendapat ilmiah bidang veteriner maupun yang terkait dan
menyangkut kepentingan umum dalam aspek sosial,budaya dan kesejahteraan masyarakat,
,seorang dokter hewan wajib berhati-hati dan mempertimbangkan dampak sosial-politik
keresahan dan kekhawatiran masyarakat yang menimbulkan keributan. Pendapat ilmiah
dengan dasar kajian ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya tetap
dikemukakan namun dalam forum-forum yang ilmiah dengan para ilmuwan yang kompeten
10

dan bila perlu ditindak-lanjuti oleh langkah teknis pemerintah maka disampaikan secara
prosedural kepada pengambil keputusan yang menangani bidang terkait ].
Pasal 8
Dokter Hewan menerima imbalan sesuai dengan jasa yang diberikan kecuali dengan
keikhlasan, sepengetahuan dan kehendak klien sendiri.
[Dokter Hewan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku pada UU no.18 tahun 2009
tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang ditindak lanjuti dengan adanya Permentan
no.2/permentan/OT.140/1/2010 Bab I.D.butir 13 dijamin bahwa dalam tindakan pelayanan
jasa kesehatan hewan/medik veteriner bersifat transaksi terapetik memenuhi ketentuan
sebagai berikut : Transaksi Terapetik adalah pelayanan jasa medik veteriner yang
melibatkan unsur dokter hewan, klien (pengguna jasa) dan pasien (hewan mati/hewan
hidup) yang diikuti dengan IMBALAN atas kompetensi medik veteriner yang diberikannya,
fasilitasnya ,dan/atau tempat praktik yang digunakan. Dalam hal ini dapat dilakukan
perhitungan biaya modal pelayanan untuk berbagai fasilitas serta biaya konsultasinya yang
memenuhi azas kewajaran dan kepatutan.Dalam hal ini tidak memanfaatkan kepercayaan
pengguna jasa untuk membayar halhal yang tidak diperlukan dalam terjadinya transaksi
terapetik sehingga bahkan menimbulkan biaya tinggi yang merusak citra profesi/merupakan
malpraktek].
BAB II KEWAJIBAN TERHADAP PROFESI
Pasal 9
Dokter Hewan dalam menjalankan profesinya wajib mematuhi persyaratan umum dan
khusus yang berlaku sehingga citra profesi dan korsa terpelihara karenanya
[Dalam rangka penampilan Dokter Hewan sebagai Warga Negara yang baik,dalam
menjalankan profesinya sebagai Dokter Hewan wajib mematuhi perundangan/peraturan
umum yang berlaku, seperti :Undang Undang Wajib Pajak, Undang Undang Gangguan,
Undang - Undang Dampak Lingkungan, dan lain lain, di samping adanya ketentuanketentuan hukum(UU,PP maupun peraturan daerah khusus yang berlaku bagi Dokter
Hewan, seperti : perijinan keprofesian oleh PDHI maupun pemda, ketentuan magang dan
kewajiban meningkatkan pengetahuan profesi sesuai perkembangan jaman , pendalaman
pemahaman Kode Etik, dan lain-lain].
Pasal 10
Dokter Hewan tidak mengajarkan ilmu kedokteran hewan yang bisa mendorong ilmu
tersebut disalah gunakan.
(Profesi kedokteran hewan/veteriner merupakan profesi tertutup yaitu dalam mengamalkan
ilmunya harus dengan mematuhi rambu-rambu profesi medis serta bersertifikat kompetensi.
11

Ilmu-ilmu inti kedokteran hewan adalah terdiri dari ilmu-ilmu klinik, ilmu-ilmu pathologi,
lmuilmu medik reproduksi dan ilmu-ilmu farmakologi veteriner yang seluruhnya tidak boleh
secara sembarangan diajarkan kepada orang-orang awam yang tidak akan pernah memiliki
kewenangan medik veteriner, kecuali bersekolah dan memperoleh gelar dokter hewan
sehingga mengajarkan pada yang tidak berhak akan mendorong praktek ilegal/penyalah
gunaan].
Pasal 11
Dokter Hewan yang melakukan praktek memasang papan nama sebagai informasi praktek
yang tidak berlebihan.
[Dokter Hewan membuat papan nama hanya dalam rangka memudahkan khalayak
mengetahui lokasi, hari/jam praktek dan tempatnya. Papan nama bukanlah media promosi
sehingga tidak boleh menghiasinya dengan lampu lampu warna warni, huruf bercorak
macam macam untuk menarik perhatian yang berlebihan dan informasinya tidak
mengunggulkan diri. Papan nama praktek berukuran yang sesuai dengan kesepakatan
nasional PDHI yang terstandard , cat dasar putih, dengan tulisan huruf hitam, ukuran dan
bentuk hurufnya standar, mudah dibaca, tertulis nama dokter hewan, hari dan jam praktek,
alamat dan nomor ijin praktek].
Pasal 12
Dokter Hewan yang tidak melakukan praktek hendaknya merujuk ke Dokter Hewan praktek
apabila ada klien yang meminta jasa pelayanan medik.
(sesuai sumpah dan janji serta kode etik dokter hewan dalam komitmennya kepada hewan
sebagai obyek utama profesinya maka dalam keadaan adanya hewan yang memerlukan
pertolongan tenaga medik veteriner sedangkan dokter hewan yang dimintai pertolongan
bukanlah yang kompeten dalam bidang prakrisi tersebut maka dokter hewan bersangkutan
WAJIB mencarikan pertolongan pertama dan segera merujukkannya kepada sejawatnya
yang kompeten)
Pasal 13
Pemasangan iklan dalam media massa hanya dalam rangka pemberitahuan mulai buka,
pindah atau penutupan prakteknya.
(Pemasangan iklan Dokter Hewan dalam media masa yang diperkenankan adalah yang
merupakan pemberitahuan kepada khalayak mengenai dibukanya tempat praktek Dokter
Hewan, penutupan baik sementara maupun seterusnya atau pun karena pindah tempat /
alamat praktek. Iklan yang memamerkan kelebihan dalam fasilitas / peralatan praktek
dilarang. Ukuran iklan adalah sesuai azas kewajaran dan cukup jelas agar memudahkan
mereka bila memerlukan pelayanan dokter hewan) .
12

Pasal 14
Dokter Hewan dianjurkan menulis artikel dalam media massa dan jurnal veteriner.
[Dalam masyarakat yang maju penulisan ilmiah berdasarkan penelitian-penelitian dan
kajian kajian ilmiah untuk dimuat dalam jurnal-jurnal ilmiah harus merupakan kebiasaan
dan menuntut kerajinan karena akan dapat menjadi rujukan . Selain itu mengingat
masyarakat awam yang sangat kurang dalam pemahaman tentang peran profesi veteriner,
maka Dokter Hewan berkewajiban memberikan informasi dan penyuluhan/pencerahan
dibidang yang dikuasainya dengan tujuan meningkatkan pengetahuan umum dan persepsi
masyarakat sehingga perhatian terhadap pentingnya kesejahteraan hewan dan manfaatnya
bagi masyarakat dan pemiliknya meningkat].
Pasal 15
Dokter Hewan tidak membantu atau mendorong adanya praktek ilegal bahkan wajib
melaporkan bilamana mengetahui adanya praktek ilegal itu.
(Dokter Hewan tidak diperkenankan menuliskan resep vaksin/obat-obatan bahan-bahan
yang jelas hanya merupakan kewenangan medik Dokter Hewan bagi orang yang tidak
berkompeten menggunakannya, apalagi jauh diluar pengawasannya. Dokter Hewan juga
tidak diperbolehkan menyuruh bukan Dokter Hewan untuk menggantikan prakteknya yang
kemungkinan orang tersebut melakukan tindakan tindakan yang karena bukan merupakan
kompetensinya akan menimbulkan kecacatan, penganiayaan bagi hewan bahkan kematian
yang tidak perlu terjadi sehingga merugikan pemiliknya baik perorangan, institusi maupun
pemerintah yang memilikihewan-hewan organik. Pada intinya seseorang yang bukan
Dokter Hewan tidak diperbolehkan menggantikan praktek Dokter Hewan).
Pasal 16
Dokter Hewan wajib melaporkan kejadian penyakit menular kepada instansi yang
berwenang.
(Sebagai tanggung jawab profesi dalam melindungi sumberdaya alam hewani yang
merupakan kekayaan bangsa dan pada penyakit menular yang bersifat zoonotik maka
seorang dokter hewan yang dalam pekerjaannya sehari-hari menemukan adanya penyakitpenyakit yang membahayakan harus melaporkannya kepada pemerintah daerah setempat
melalui dokter hewan berwenang di daerah yang bersangkutan)
Pasal 17
Dokter Hewan ikut berpartisipasi aktif dalam mensosialisasikan Kesehatan Masyarakat
Veteriner, kesejahteraan hewan dan pelestarian alam.
(Sudah menjadi hal yang lazim bahwa hewan-hewan di Indonesia hidup berdampingan atau
berada di antara kehidupan masyarakat luas baik sebagai hewan ternak, hewan
13

kesayangan, hewan kebun binatang baik yang sengaja dipelihara ataupun sebagai hewan
liar/jalanan yang dapat menjadi sumber penularan penyakit penyakit zoonosis kepada
manusia. Selain itu, manusia juga mengkonsumsi pangan asal hewan seperti daging, susu
dan telur serta produk turunannya yang harus dipastikan aman untuk dikonsumsi manusia.
Hal-hal ini merupakan pengetahuan kesmavet yang perlu disosialisasikan kepada
masyarakat agar memahami sejauh mana tanggung jawab dokter hewan serta dapat
menjadi tempat bertanya bagi masyarakat luas. Dalam hal memperlakukan hewan ,dokter
hewan harus menguasai ilmu kesejahteraan hewan sebagai etika veteriner normatif dan
mendidik berbagai pihak yang memanfaatkan hewan untuk mengimplementasikan kesrawan
Kesrawan sendiri sudah menjadi ukuran dan norma internasional yang disepakati yang
sudah mendapatkan dukungan organisasiorganisasi internasional dan negara-negara
,karena juga bertujuan agar manusia tidak seenaknya mengeksploitasi hewan untuk
keuntungan pribadi/kelompok yang dapat mengakibatkan kepunahan hewan di bumi. Sudah
barang tentu kepunahan spesies-spesies ini akan dapat mengganggu keseimbangan
ekosistem hewan, manusia dan tumbuhan)
BAB III KEWAJIBAN TERHADAP PASIEN
Pasal 18
Dokter Hewan memperlakukan pasien dengan penuh perhatian dan kasih sayang
sebagaimana arti tersebut bagi pemiliknya, dan menggunakan segala pengetahuannya,
keterampilannya dan pengalamannya untuk kepentingan pasiennya.
(Hewan dimiliki manusia atas dasar beberapa kepentingan yaitu karena memberikan
keuntungan finansial ,memberikan kenyamanan bathin/sebagai teman/kesayangan dan
hobby, sebagai milik negara untuk pelacakan narkotika, menemukan jenazah dalam
reruntuhan gempa, anti huru-hara dan lain-lain , dimiliki karena harus dilestarikan
berdasarkan perjanjian dunia (konservasi satwa liar), sebagai hiburan dan digunakan untuk
penelitian ilmiah untuk kesejahteraan manusia. Dalam menangani berbagai kelompok
hewan ini, hewan sebagai obyek profesi ataupun pasien ditangani secara profesional
dengan keahlian keilmuan dokter hewan tertentu, namun dokter hewan tetap harus menjadi
pembela kepentingan hewan dan tidak boleh mengabaikan kesejahteraan hewan yang baik
selama berada di tangan dokter hewan maupun dalam pengelolaan manusia yang
membayar jasa dokter hewan. Bagi hewan yang memiliki nilai istimewa bagi pemiliknya
harus diberikan apresiasi yang sama oleh dokter hewan sebagaimana pemilik namun
dengan menempatkan nilai kesejahteraan hewan sebagai dasar pertimbangan profesional
terhadap hewan)
14

Pasal 19
Dokter Hewan siap menolong pasien dalam keadaan darurat dan atau memberikan jalan
keluarnya apabila tidak mampu dengan merujuk ke sejawat lainnya yang mampu
melakukannya.
(sesuai sumpah dan janji serta kode etik dokter hewan dalam komitmennya kepada hewan
sebagai obyek utama profesinya maka dalam keadaan adanya hewan yang memerlukan
pertolongan tenaga medik veteriner sedangkan dokter hewan yang dimintai pertolongan
bukanlah yang kompeten dalam bidang prakrisi tersebut maka dokter hewan bersangkutan
WAJIB mencarikan pertolongan pertama dan segera merujukkannya kepada sejawatnya
yang kompeten)
Pasal 20
Pasien yang selesai dikonsultasikan oleh seorang sejawat wajib dikembalikan kepada
sejawat yang meminta konsultasi
(sebagai dokter yang memiliki profesi luhur ,terikat kepada sumpah , kode etik dan acuan
dasar profesi , dalam rangka memberikan pelayanan jasa medik veriner akan bersikap
menjaga moral profesi dan hubungan kesejawatan sehingga dalam menerima kasus yang
dikonsultasikan tidak bersikap membujuk untuk mengambil alih dengan itikad memperoleh
keuntungan finansial . Sebagai sejawat harus menjaga citra dan kelemahan sejawatnya
serta saling mendukung secara etikal melalui konsultasi yang tidak dibahas di depan
pemilik hewan yang awam guna menjaga martabat profesi dan sejawatnya)
Pasal 21
Dokter Hewan dengan persetujuan kliennya dapat melakukan Euthanasia (mercy sleeping),
karena diyakininya tindakan itulah yang terbaik sebagai jalan keluar bagi pasien dan
kliennya.
(Bagi seorang dokter hewan yang menghadapi kondisi dimana seekor hewan yang ada
pemiliknya berada dalam kondisi-kondisi tertentu sehingga memerlukan beberapa solusi
termasuk dieuthanasi , maka harus ada pertimbangan-pertimbangan yang memenuhi
azasazas keluhuran profesi , etika veteriner dan kesejahteraan hewan. Dokter hewan tidak
melakukan euthanasia hanya semata-mata karena pemiliknya tidak menghendaki
direpotkan/terbebani oleh hewan miliknya dimana hewan tersebut dalam keadaa sehat ,
normal dan tidak merupakan gangguan. Lebih jauh dan bila dimungkinkan , dokter hewan
harus mencarikan penampung dari hewan yang tidak layak euthanasia).

15

Pasal 22
Dokter Hewan yang melakukan praktek pada suatu peternakan, mengutamakan kesehatan
hewan dan pencegahan terhadap perluasan penyakit yang dapat berakibat kerugian ekonomi
dan sosial.
( dokter hewan yang bekerja pada tempat dengan populasi hewan yang relatif tinggi
sehingga dapat mengancam kesehatan manusia di sekitarnya maupun kesehatan lingkungan
harus meningkatkan kompetensinya dalam manajemen kesehatan hewan yang tersistem
serta kompeten dalam menggunakan pengetahuan epidemiologi yang memadai untuk secara
bertanggung jawab mencegah perluasan penyakit guna menghindari kerugian ekonomi dan
sosial yang besar)
BAB IV KEWAJIBAN TERHADAP KLIEN
Pasal 23
Dokter Hewan menghargai klien untuk memilih Dokter Hewan yang diminati.
(Dokter hewan tidak mengekspresikan rasa tidak senang terhadap klien yang seringkali
memilih-milih dan berpindah-pindah dokter sekalipun mungkin dengan itikad yang kurang
baik . Dokter hewan harus bersikap menjaga hubungan kesejawatan yang etikal dengan
tidak terpancing mengeluarkan komentar-komentar negatif terhadap sejawatnya)
Pasal 24
Dokter Hewan menghargai klien untuk setuju / tidak setuju dengan prosedur dan tindakan
medik yang hendak dilakukan Dokter Hewan setelah diberi penjelasan akan alas an
alasannya sesuai dengan ilmu Kedokteran Hewan.
(Dokter hewan harus berupaya secara profesional meyakinkan pemilik hewan untuk
memahami dasar-dasar ilmiah tindakan dokter hewan untuk suatu tindakan medis dengan
bahasa sederhana dan tujuan yang mulia sesuai etika dan sumpah profesi dan dengan
mempertimbangkan kemampuan finansial pemilik hewan . Namun dokter hewan juga tidak
mengekspresikan kekecewaannya bila segala upaya tidak dapat diterima klien karena
merupakan hak pemilik hewan.Hal ini juga untuk menghindari konflik yang tidak
diharapkan)
Pasal 25
Dokter Hewan tidak menanggapi keluhan (complain) versi klien mengenai sejawat lainnya.
(Dalam keadaan adanya klien /pengguna jasa yang senang mengadu domba sesama dokter
hewan dengan alasan apapun ataupun menggunakan kata-kata medis dari dokter hewan
lain untuk memojokkan dokter hewan lain yang mungkin layanannya dirasakan tidak
memuaskan sebagaimana diharapkan , maka dokter hewan yang mendengar kata-kata klien
yang kurang menyenangkan tentang sejawatnya tidak terpancing untuk berkomentar negatif
16

tentang sejawat lainnya) . Bilamana terbukti adanya kata-kata saling memburukkan sejawat
yang berarti terjadi pelanggaran kode etik profesi maka dapat diadakan pelurusan masalah
melalui Majelis kehormatan PDHI)
Pasal 26
Dokter Hewan melakukan client education dan memberikan penjelasan mengenai penyakit
yang sedang diderita hewannya dan kemungkinan kemungkinan lainnya yang dapat
terjadi. Dalam segala hal yang penting dan harus dilakukan demi kebaikan pasien dengan
segala resikonya maka dokter hewan menyampaikan secara transparan termasuk segala
resiko yang terburuk sekalipun.
(Dalam melakukan pelayanan kesehatan hewan/pelayanan jasa medik veteriner , dokter
hewan harus membekali diri selain dengan kompetensi veterinernya, juga dengan
kemampuan dialog yang profesional yang berisi berbagai nasehat, informasi, tips dengan
kemampuan memberikan penjelasan secara sederhana tentang yang terjadi pada hewan
pasien dan tindakan-tindakan apa yang akan dilakukan termasuk resiko-resiko / faktor
kegagalannya).
Pasal 27
Dokter Hewan yang melakukan praktek, tehnical service, tehnical sales dan konsultan
veteriner
tidak memaksakan kehendak dalam pemakaian obat, vaksin maupun imbuhan pakan tanpa
argumentasi ilmiah.
(Semua dokter hewan yang melakukan pekerjaan baik praktisi, sebagai tenaga teknis bidang
obat hewan maupun produk alat dan mesin kesehatan hewan apapun tanggung jawabnya di
perusahaan dimana ia bekerja, maupun konsultan tetap disyaratkan profesional dan
kompeten, serta terikat kepada ciri-ciri profesi sebagai dokter yaitu bekerja dengan
berlandaskan etik profesi, pekerjaannya berijin (baik ijin profesi dan ijin pemda), selalu
meningkatkan pengetahuan dengan yang terkini dan menjadi anggota dari organisasi
profesi kedokteran hewan) dan mengutamakan kemanusiaan di atas mengejar keuntungan
finansial).
BAB V KEWAJIBAN TERHADAP SEJAWAT DOKTER HEWAN
Pasal 28
Dokter Hewan memperlakukan sejawat lainnya seperti dia ingin diperlakukan seperti dirinya
sendiri.
(Bila mengingat kepada Sumpah Bapak Kedokteran di Dunia Hippokrates yang menjadi
landasan etika medis di dunia , tercantum tentang hal ini yaitu sikap menganggap saudara
17

kandung dan saling menghargai secara bermartabat sehingga tidak hitung-hitungan untung
rugi tetapi sikap saling mendukung dan tidak saling menjatuhkan)
Pasal 29
Dokter Hewan tidak akan mencemarkan nama baik sejawat Dokter Hewan lainnya
(hal ini telah ditetapkan dalam Acuan Dasar Profesi).
Pasal 30
Dokter Hewan wajib menjawab konsultasi yang diminta sejawatnya menurut pengetahuan,
keterampilan dan pengalaman yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan etika
serta telah terbukti menyelesaikan masalah yang sama dengan baik dan benar.
(Dalam hal ini hubungan kesejawatan dokter hewan senior dan yunior (kesenioran dari segi
pengalaman/bukan usia) harus bersifat membimbing dan mendukung serta tidak
membiarkan sejawatnya yang kebingungan dalam situasi-situasi dimana menghadapi hal
yang di luar kemampuannya dalam melakukan layanan medis veteriner)
Pasal 31
Dokter Hewan memberikan pengalamannya yang bermanfaat dalam pertemuan sejawat.
(Sebagai dokter hewan bila telah kaya pengalaman yang dipandang penting dan bermanfaat
untuk dibagi(share) kepada sejawat lainnya maka dapat menawarkannya untuk diberikan
dalam pertemuan dokter hewan atau bila diminta wajib berbagi pengalaman demi
peningkatan citra korps profesi dokter hewan yang tangguh).
Pasal 32
Dokter Hewan tidak melakukan pendekatan-pendekatan/menghasut klien dengan maksud
untuk menyarankan berpindah ke sejawat lainnya.
(sebagai seorang dokter hewan yang terikat kepada rambu kode etik,sumpah dan etika
profesi dalam hubungan kesejawatan serta menghayati posisi profesinya sebagai profesi
luhur, tidak akan merusak hubungan etikal kesejawatannya hanya karena alasan-alasan
tidak terhormat ataupun karena mengejar keuntungan finansial dengan mengorbankan
hubungan sejawat. Citra dokter hewan yang mengembangkan konflik akan merusak citra
korps veteriner secara umum).
Pasal 33
Dokter hewan yang akan membuka pelayanan kesehatan hewan/medik veteriner dan
melakukan praktek di suatu tempat dalam wilayah tertentu , harus membuat pemberitahuan
kepada sejawat Dokter hewan yang lebih dahulu berpraktek di lingkungan yang sama atau
berdekatan .
(Dalam rangka seorang dokter hewan membuka layanan veteriner di wilayah yang
berdekatan perlu menyampaikan pemberitahuan kepada sejawatnya dalam rangka
18

hubungan kesejawatan yang memenuhi norma-norma sopan santun ,kepatutan dan etika
profesi
BAB VI KEWAJIBAN TERHADAP DIRI SENDIRI
Pasal 34
Dokter Hewan wajib memelihara bahkan meningkatkan kondisi dirinya sehingga selalu
berpenampilan prima dalam menjalankan profesinya.
(Penampilan dokter hewan yang melakukan layanan kepada masyarakat harus sejalan dan
tidak kontradiktif dengan citra profesi kedokteran yang intelektual, kompeten ,berkomitmen
tinggi ,beretika dan membangkitkan kepercayaan dari pengguna jasanya yang dilengkapi
dengan perilaku menunjukkan kepedulian kepada hewan selaku obyek profesinya).
Pasal 35
Dokter Hewan tidak mengiklankan kelebihan dirinya secara berlebihan.
(Sikap keangkuhan atau mengunggulkan diri merupakan sikap tidak terpuji sehingga citra
dokter hewan sebagai kelompok orang berkeahlian khusus di bidang kedokteran yang akan
melakukan pelayanan kepada masyarakat tidak boleh bersifat menjanjikan kemampuan
berlebihan karena kesembuhan pada mahluk hidup tidak dapat dijamin oleh manusia)
Pasal 36
Dokter Hewan wajib selalu mempertajam pengetahuan, keterampilan dan meningkatkan
perilakunya dengan cara mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Kedokteran Hewan terkini .
(Dokter Hewan sebagai bagian bagian dari rumpun ilmu kedokteran harus memenuhi
syarat ciri-ciri profesi yang antara lain adanya kewajiban belajar sepanjang hayat.
Dalam UU no.18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan juga diamanatkan
bahwa kompetensi adalah termasuk meningkatkan kemampuan dalam teknologi yang
terkini. Peningkatan kompetensi dan pengetahuan bagi setiap Dokter Hewan adalah dengan
mengikuti pendidikan berkelanjutan (contunuing education) seperti pelatihan, seminar,
simposium, lokakarya, konferensi dan diskusi-diskusi ilmiah. Kegiatan pendidikan
berkelanjutan(CE) yang diikuti adalah yang terakreditasi oleh organisasi profesi
kedokteran hewan (PDHI) dan institusi institusi ilmiah yang berwenang sesuai amanat
UU yang berlaku)
BAB VII PENUTUP
Pasal 37
Dokter Hewan harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghayati, mematuhi dan
mengamalkan Kode Etik Dokter Hewan Indonesia dalam pekerjaan profesinya sehari-hari,
19

demi martabat profesi dan kepercayaan masyarakat kepada pengabdian dokter hewan bagi
masyarakat, bangsa dan negara melalui dunia hewan (Manusya Mriga Satwa Sewaka).

Kode Etik Dokter Hewan Indonesia, merupakan perjanjian yang mengikat setiap
Dokter Hewan untuk mematuhi norma-norma dan nilai-nilai yang baik dan buruk , salah dan
benar yang disepakati nasional dan berlaku bagi korps profesi dokter hewan di Indonesia
,harus dihayati dan diimplementasikan secara bertanggung jawab dalam melaksanakan
pekerjaan profesinya
Kode Etik dan nilai-nilai etika yang bersifat spesifik medik veteriner dan melekat
pada tindakan teknis medis oleh dokter hewan sesuai dengan kespesialisasian spesies
maupun disiplin ilmu kedokteran hewan perlu disusun tersendiri.
Oleh karena itu, setiap Dokter Hewan harus menjaga citra profesi dan nama baik
dokter hewan sebagai profesi yang mulia dengan menjauhkan diri dari perbuatan yang
bertentangan atau tidak sesuai dengan UU ,Kode Etik dan Sumpah profesi.
Mekanisme Penanganan terhadap penyimpangan kode etik
Apabila terjadi kasus/complain thd drh kemungkinan menempuh jalur sbb :
1. Yang berwajib/kepolisian setempat yg akan memerikan apa masalah hukum
pidana/perdata atau etika.
2. Apabila hukum perdata atau pidana maka lewat jalur hukum yang berlaku.
3. Apabila masuk etika akan diserahkan ke organisasi profesinya.
4. Kalau organisasi cabang tidak dapat menyelesaikan dikirim ke PB-PDHI/Dewan
pertimbanagan kode etik.
5. Kalau ternyata betul ada pelanggaran, mal prakteknya diklasifikasi kedalam klas yg
mana
6. Keputusan sanksi ditetapkan pada klasifikasi:
a. Peringatan lisan dan tertulis
b. Peringatan keras lisan dan tertulis
c. Pemberhentian sementara sebagai anggota atau membatalkan sementara
rekomendasi izin prakteknya.
d. Tindakan tetap berupa pemberhentian dari keanggotaan perhimpunan.
e. PB-PDHI dan PDHI cabang wajib memberikan pembelaan bagi anggotanya tsb
Kode Etik Dokter Hewan akan mengatur Etika dalam hal :
1. Bagaimana berkomitmen terhadap profesi melalui citra diri yang bermartabat dan
kompeten.
20

2. Bagaimana

berkomitmen

dalam

menangani

dan

memperlakukan

hewan

(menegakkan kesejahteraan hewan / animal welfare).


3. Bagaimana membina hubungan keprofesian veteriner dengan sesama dokter hewan /
sejawatnya.
Kode Etik Dokter Hewan Indonesia yang disahkan tahun 1994 walaupun belum
sempurna (perlu revisi) namun telah mengatur tiga hal tersebut di atas.
Tindakan Etika Oleh Profesional Medik Veteriner
Ada 4 bidang khas keilmuan profesi Medik yang harus dijunjung tinggi dan tidak
secara sembarangan dialihkan tanggung jawab kewenangan dan penerapannya yaitu :
1. Bidang ilmu-ilmu Klinik.
2. Bidang Farmakologi Veteriner/Obat-obatan.
3. Bidang Pathologi.
4. Bidang Reproduksi.
Dalam pelaksanaan praktek,maka merupakan kombinasi dari 4 bidang ini.
Sedangkan bidang lainnya merupakan ilmu-ilmu dasar dan ilmu penunjang yang
berkembang melalui penelitian dan pengembangan teknologi.
Acuan Dasar Tindakan Profesional Medik Veteriner (Guide To Professional Conduct)
Setiap Dokter Hewan perlu menyadari bahwa sebagai profesi yang berkeahlian
khusus dan berkewenangan medis, bilamana di dalam negaranya belum diatur dengan
kekuatan Undang-Undang, namun tetap harus tunduk kepada rambu-rambu Internasional
profesi yang sama. Oleh karenanya setiap organisasi profesi sebagaimana PDHI wajib
menerbitkan pedoman ini yang juga kemudian juga wajib dipatuhi oleh anggotanya.
Rambu-Rambu Etik Dalam Tindakan Profesional Medik Veteriner
1. Berkenaan memperlakukan hewan (tanggung jawab Kesrawan).
2. Berhubungan dengan pekerjaan profesinya.
3. Berkenaan dengan mempromosikan peran profesi veteriner kepada masyarakat.
4. Dalam periklanan layanan profesi medvet.
5. Berkenaan pengobatan (terapeutika), penggunaan obat-obatan, penjualan obat-obatan
maupun alat kesehatan.
6. Dalam berbagai jenis Layanan Praktisi Medik Veteriner.
7. Dalam membina hubungan professional sesama profesi veteriner.

21

Sumpah Dokter Hewan


Adapun isi Sumpah Dokter Hewan tersurat 6 poin :
1. Mengamalkan ilmu untuk kebajikan dalam masyarakat untuk peningkatan kesehatan
hewan dan perbaikan mutu ternak yang berwawasan kesinambungan, keselarasan dan
kelestarian hidup manusia.
2. Melaksanakan profesi dengan sekasama dan mulia.
3. Memberikan pertimbangan utama untuk kesehatan pasien, kepentingan tertinggi
jpemilik dan kesejahteraan sesama manusia.
4. Tidak menggunakan pengetahuan yang berlawanan dengan hukum perikemanusiaan atau
menyimpang dari kode etik.
5. Menjunjung dan mempertinggi kehormatan serta tradisi luhur Dokter Hewan.
6. Sumpah /janji ini dibuat di hadapan Tuhan dengan mempertaruhkan kehormatan.

D. Peran dan ruang lingkup Profesi Dokter Hewan


Kedokteran hewan adalah pengembangan dari ilmu kedokteran dan sebagai ilmu
perpandingan (pada awalnya). Kedokteran hewan di posisikan sama dengan ilmu pertanian,
karena hewan hewan yang penting bagi kehidupan manusia.
Dalam ilmu pengetahuan ada 5 ilmu yang mempelajari hewan:
1. Ilmu biologi (fakultas biologi)
2.

Ilmu perternakan( fakultas perternakan)

3. Ilmu kehutanan-satwa liar(fakultas kehutanan)


4. Ilmu perikanan/kelautan-satwa akuatik(fakutas perikanan)
5. Ilmu kedoteran hewan(fakultas kedokteran hewan)
Ciri-ciri pekerjaan profesi yaitu pendidikan sesuai standar nasional, berlandaskan etik
profesi, panggilan kemanusian lebih dari mencari keuntungan, legal melalui perizinan,
anggota belajar sepanjang hayat, anggota bergabung dalam sebuah organisasi
Dalam masyarakat, banyak yang menggunakan jasa dokter hewan. Dokter hewan
banyak diperlukan dalam menobati atau merawat hewan pangan / hewan produksi, hewan
hobby / kesayangan/ companion animal, hewan pekerja milik Negara (anjing pelacak / kuda
penertib di keramaian), hewan / satwa konversi, hewan laboratorium. Dalam melayani
masyarakat, dokter hewan dibagi berdasarkan:
1. Berdasarkan Keahlian spesies :
a. Menangani hewan pangan/farm animal.
b. Menangani hewan hobby/kesayangan/kepentingan khusus
c. Menangani hewan liar/satwa liar termasuk untuk konservasi.
22

d. Menangani hewan aquatik/air untuk pangan dan konservasi.


e. Menangani hewan laboratorium untuk ilmu kedokteran manusia dan ilmu
pengetahuan lainnya.
2. Berdasarkan keahlian keilmuan :
a. Praktisi hewan ternak dan praktisi spesies individu: ahli bedah mata, penyakit
dalam, dermatologi, patologi klinik, akupuntur veteriner.
b. Konsultan (non praktisi klinis): ahli epidemiologi, kesehatan masyarakat,
veteriner, kesehatan daging, kesehatan susu, mikrobiologi, virology.
c. Kompetisi yang terjadi dalam layanan medis yaitu layanan medic secara
berkelompok (perternakan-perternakan), layanan medic secara individual,
(hewan kecil, kebun binatang dan hewan hobby).
3. Kompetensi Layanan Medis Veteriner Terhadap Hewan
Terdiri atas 2 kategori :
a. Layanan medik untuk hewan secara kelompok (herd health), hal ini umumnya di
perternakan dan dinas-dinas pemerintah.
b. Layanan medik untuk hewan secara individual (individual health), hal ini
umumnya pada praktisi hewan kecil, di kebun binatang dan hewan hobi.
4. Peran Khusus Dokter Hewan Bagi Masyarakat Melalui Dunia Hewan
Peran khusus tersebut adalah sebagai berikut :
a. Menjaga dan meningkatkan kesehatan hewan, produktifitas dan keadaan yang baik
dari hewan-hewan yang dimanfaatkan manusia agar tidak membawa bahaya bagi
manusia dan lingkungan.
b. Menggunakan ilmu dan teknologi di bidang veteriner dalam layanan medik
veteriner kepada masyarakat, bangsa dan negara secara kompeten dan profesional.
c. Mencegah terjadinya dan mengurangi terjadinya kesengsaraan atau teraniayanya
hewan (kesejahteraan hewan) sebagai obyek profesi yang harus dilindungi dan
dibela.
Peran dan fungsi dokter hewan sesuai dengan GATT ( General Agreement on Tariffand
Trade) yaitu melindungi kesehatan hewan dari penyakit, melindungi kesehatan manusia yang
ditimbulkan bahan tambahan makanan. Dalam profesi medic ada sumpah Hipocrates yang
berbunyi Primum Non Nocere / Above All, Do No Harm / Dalam Segala Tindakan
Penyembuhan, Jangan Mencelakakan. Sumpah ini harus di pegang oloeh tenaga medis.
Setiap tenaga medis harus tahu sumpah ini.
Medik Veteriner melaksanakan tugas-tugas sebagai berikut, dibantu oleh paramedik
veteriner:
23

1. Melakukan pelayanan penyidikan dan pengujian veteriner;


2. Melakukan pengujian mutu dan sertifikasi obat hewan;
3. Melakukan pengujian dan produksi vaksin dan bahan biologik;
4. Melakukan pengujian kesehatan dan keamanan produk peternakan;
5. Melakukan pengujian keamanan pakan ternak;
6. Melakukan pengujian kesehatan semen dan embrio;
7. Melakukan pelayanan kesehatan bibit ternak.
8. Melakukan pengamatan dan pengidentifikasian penyakit hewan;
9. Melakukan pengamanan penyakit hewan;
10. Melakukan pemberantasan penyakit hewan;
11. Melakukan pengawasan obat hewan;
12. Melakukan pengendalian penanggulangan zoonosis pada hewan;
13. Melakukan penjaminan keamanan dan kesehatan produk hewan;
14. Menerapkan prinsip-prinsip kesejahteraan hewan.
Tugas Dokter Hewan
1. Praktek klinik dan konsultasi klinik
a. Dokter hewan di klinik berkewajiban untuk memberikan layanan yang up to date
(terkini), pengobatan yang terampil terhadap pasien dan layanan yang efisien.
Diperlukan adanya standard untuk tempat, peralatan, fasilitas dan SDM.
b. Tampilan dokter hewan yang memberikan konsultasi harus memberikan kesan
yang profesional yang terlihat dari kemampuan yang harus di standard, meliputi
kemampuan bicara, kemampuan menjelaskan, perilaku dalam pelayanan dan
kepakaran yang memberi nilai positif kepada reputasi profesi.
c. Pemilik hewan mempunyai hak untuk meminta konsultasi dokter hewan yang dia
pilih akan tetapi dokter hewan tidak berkewajiban untuk menerima klien pada
keadaan yang dapat menjelaskan dasar penolakan.
2. Dalam layanan masyarakat/publik (PNS)
a. Dokter hewan PNS mempunyai kewajiban kewajiban kepada negara dengan
pedoman pedoman kerja sesuai aturan pemerintah dan adanya aturan hukum
yang memayungi pekerjaannya.
b. Para dokter hewan ini dapat mempunyai kewenangan kewenangan dan tanggung
jawab yang harus dipahami dan dihargai oleh umumnya para dokter hewan.
c. Hubungan antara dokter hewan PNS layanan publik dan dokter hewan lain selaku
sesama profesi haruslah berdasarkan kesejawatan profesi yang harmonis. Dalam
24

hal ini harus saling menginformasikan demi kepentingan keselamatan dan


kesehatan masyarakat.
d. Dalam melakukan layanan publik Drh PNS harus memiliki kompetensi yang
terakreditasi, tersertifikasi dan tunduk kepada rambu rambu profesi veteriner.
3. Dalam bidang industri /bid. Komersial
a. Dokter hewan yang dipekerjakan atau menjadi karyawan diharuskan setia kepada
perusahaan / atasannya. Namun demikian mereka juga mempunyai tanggung
jawab untuk mempertahankan standard etik dan kewajibankewajiban profesi
untuk melawan setiap upaya yang meremehkan standard profesi yang ada demi
kepentingan perusahaan / komersial.
b. Dokter hewan bisa terpojok menjadi kambing hitam dalam permasalahan, oleh
karenanya dokter hewan berkewajiban menginformasikan dan menyarankan
informasi teknis yang terbaik kepada atasannya.
4. Dalam dunia pendidikan
Dokter hewan pendidik mempunyai kewajiban khusus untuk memastikan baik dengan
mengarahkan maupun mencontohkan standard standard tertinggi yang etikal dalam
memper-kenalkan dan mempertahankannya diseluruh aspek kegiatan profesi.
5. Dalam dunia penelitian
Diseluruh bidang riset yang melibatkan hewan, setiap dokter hewan yang terlibat
harus berinisiatif untuk memastikan standard etik dan teknis yang tertinggi. Dokter
hewan yang melakukan bedah percobaan atau menyiapkan hewan coba harus
memastikan memiliki keterampilan bedah dan kompetensi yang memadai serta
memenuhi persyaratan hewan coba yang distandardkan.
6. Dalam hal karantina
a.

Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kelengkapan dan kebenaran isi
dokumen dan mendeteksi hama penyakit hewan karantina, status kesehatan dan
sanitasi media pembawa, atau kelayakan sarana prasarana karantina dan alat
angkut. Pemeriksaan kesehatan atau sanitasi media pembawa dilakukan secara
fisik dengan cara pemeriksaan klinis pada hewan dan pemeriksaan kemurnian
atau keutuhan secara organoleptik pada bahan asal hewan, hasil bahan asal
hewan dan benda lain. Dan pemeriksaan ini dilakukan pada siang hari kecuali
dengan alasan tertentu menurut pertimbangan dokter hewan karantina dapat
dilakukan malam hari. Jika pemeriksaan belum dapat dikukuhkan diagnosanya,
maka dokter hewan karantina dapat melanjutkan dengan pemeriksaan
25

laboratorium, patologi, uji diagnostic,atau teknik dan metoda pemeriksaan


lainnya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
b.

Pengasingan
Pengasingan dilakukan terhadap sebagaian atau seluruh media pembawa untuk
diadakan pengamatan, pemeriksaan, dan perlakuan dengan tujuan untuk
mencegah kemungkinan penularan hama penyakit hewan karantina. Lamanya
waktu pengasingan tergantung pada lamanya waktu yang dibutuhkan untuk
melakukan pengamatan, pemeriksaan, dan perlakukan terhadap media pembawa,
yang nantinya waktu ini dipergunakan sebagai dasar penetapan masa karantina.

c.

Pengamatan
Pengamatan dilakukan untuk mendeteksi lebihl anjut hama penyakit hewan
karantina dengan cara mengamati timbulnya gejala hama penyakit hewan
karantina pada media pembawa selama diasingkan. Pengamatan juga dilakukan
untuk mengamati situasi hama penyakit hewan karantina pada suatu negara,
area, atau tempat. Masa pengamatan didasarkan pada masa inkubasi dan
subklinis penyakit serta sifat pembawa dari jenis media pembawa.
Pengamatan dilakukan dengan ketentuan :
1) Untuk pemasukan dari luar negeri dilakukan di instalasi karantina atau pada
tempat atau area pemasukan.
2) Untuk pengangkutan antar area, diutamakan pada area pengeluaran.
3) Untuk pengeluaran ke luar negeri pengematan disesuaikan dengan
permintaan negara tujuan.

d.

Perlakuan
Merupakan tindakan untuk membebaskan dan menyucihamakan media
pembawa dari hama penyakit hewan karantina, atau tindakan lain yang bersifat
preventif, kuratif, promotif. Perlakuan dapat dilakukan setelah media pembawa
terlebih dahulu diperiksa secara fisik dan dinilai tidak menganggu proses
pengamtan dan pemeriksaan selanjutnya.

e.

Penahanan
Penahanan dilakukan terhadap media pembawa yang belum memenuhi
persyaratan karantina. Yaitu persyaratan dalam melengkapi sertifikat kesehatan
hewan, surat keterangan asal hewan, serta dokumen-dokumen lain yang
dibutuhkan dalam lalu lintas hewan. Penahanan dilakukan setelah dilakukan
pemeriksaan fisik terhadap media pembawa dan diduga tidak berpotensi
memebawa dan menyebarkan hama penyakit hewan karantina. Selama dilakukan
26

penahanan dapat dilakukan tindakan karantina lain yang bertujuan untuk


mendeteksi kemungkinan adanya hama penyakit hewan karantina dan penyakit
hewan lainnya dan atau mencegah kemungkinan penularannya, menurut
pertimbangan dokter hewan karantina.
f.

Penolakan
Penolakan dilakukan terhadap media pembawa apabila :
1) Setelah dilakukan pemeriksaan di atas alat angkut, tertular hama penyakit
hewan karantina tertentu, busuk, rusak, atau merupakan jenis-jenis yang
dilarang pemasukannya.
2) Persyaratan karantina tidak seluruhnya dipenuhi.
3) Setelah diberikan perlakuan di atas alat angkut tidak dapat disembuhkan dan
atau disucihamakan dari hama penyakit hewan karantina.

g.

Pemusnahan
Pemusnahan dilakukan apabila :
1) Setelah media pembawa tersebut diturunkan dari alat angkut dan dilakukan
pemeriksaan, tertular hama penyakit hewan karantina.
2) Media pembawa yang ditolak tidak segera dibawa keluar oleh pemiliknya
dalam batas waktu yang ditetapkan.
3) Setelah dilakukan pengamatan dalam pengasingan tertular hama penyakit
hewan karantina tertentu.
4) Setelah media tersebut diturunkan dari alat angkut dan diberi perlakuan,
ternyata tidak dapat disembuhkan atau disucihamakan dari hama penyakit
hewan tertentu.

h.

Pembebasan
Pembebasan dilakukan terhadap media pembawa dan diberikan

sertifikat

pelepasan apabila :
1) Setelah dilakukan pemeriksaan tidak tertular hama penyakit hewan karantina.
2) Setelah dilakukan pengamatan dalam pengasingan tidak tertular hama
penyakit hewan karantina.
3) Setelah dilakukan perlakuan dapat disembuhkan dari hama penyakit hewan
karantina.
4) Setelah dilakukan pemahaman seluruh persyaratan yang diwajibkan dapat
dipenuhi.
Adapun Lingkup Kerja Profesi Dokter Hewan
1. Menangani hewan pangan/hewan ternak berbasis pertanian (farm animals/livestock).
27

2. Menangani hewan kesayangan/hobby/kepentingan khusus yaitu berbasis.


a. Rumah tinggal.
Hewan Kecil (Anjing dan Kucing), Hewan Kesayangan Eksotik (tak lazim ada di
rumah), Hewan Hias/Ornamental Animals (karena warna,suara,bentuk unik,dll).
b. Non Rumah tinggal.
Kuda,Burung Walet,Buaya.
Adapun Pekerjaan Profesional Dokter Hewan yaitu :
1. Tindakan medik (promotif, preventif, kuratif , rehabilitatif)
2. Tindakan dengan tujuan security (menjamin keamanan dari bibit penyakit
3. Tindakan dengan tujuan safety (menghindari resiko adanya gangguan kesehatan pada
manusia)
Adapun Kategori Layanan Medvet Praktisi Menurut PDHI yaitu, Dokter Hewan
Mandiri, Dokter Hewan Praktek Bersama, Klinik Hewan, Rumah Sakit Hewan. Dokter
hewan pada 4 kategori itu dapat melakukan layanan house call (kunjungan rumah) karena
memiliki status yang legal melalui perizinan yang direkomendasi oleh organisasi profesi.
1. Dokter Hewan Mandiri.
Adalah suatu usaha yanmedvet yang dikelola oleh satu dokter hewan yang
mempertanggung jawabkan semua tindakannya secara individual. Dokter hewan tersebut
harus memiliki home base berupa tempat administrasi, konsultasi dan ruang
periksa/tindakan.
2. Dokter Hewan Praktek Bersama.
Adalah suatu usaha yanmedvet yang dijalankan oleh lebih dari 1 orang dokter hewan
serta dipimpin oleh seorang dokter hewan penanggung jawab.
3. Klinik Hewan/Klinik Veteriner.
Adalah suatu usaha yanmedvet yang dijalankan oleh suatu manajemen dan mempunyai 1
orang dokter hewan penanggung jawab. Klinik tersebut diwajibkan memiliki ruang
rawat inap minimum untuk 20 ekor hewan sakit serta laboratorium ataupun laboratorium
rujukan
4. Rumah Sakit Hewan
Adalah suatu usaha yanmedvet dengan fasilitas rawat inap, ruang isolasi (rawat inap
penyakit menular) dan unit gawat darurat. RSH dijalankan oleh suatu manajemen serta
mempunyai 1 dokter hewan penanggung jawab.

28

Lapangan pekerjaan dokter hewan menurut OIE ada 33 bidang kerja dokter hewan di 110
negara :
1. Food technology

18. Livestock and animal products

2. Food inspection

19. Aquaculture

3. Food hygiene

20. Wildlife

4. Consumer protection

21. Environmental protection

5. Laboratories

22. Nutrition

6. Legislation

23. Parasitology

7. Artificial breeding

24. Teaching

8. Zoos

25. Research and development

9. Laboratory animals

26. Livestock marketing

10. Animal Welfare

27. Publications

11. Zoonoses

28. Economics

12. Veterinary medicine

29. Import animal production

13. Clinical health care

30. Livestock industry organizations

14. Disease control

31. Administration

15. Exotic diseases

32. International Cooperation

16. Epidemiology

33. Professional organizations

17. Quarantine
Dokter hewan dengan otoritasnya mempunyai tugas yang sangat mulia, yaitu menjaga
kesehatan hewan dan menjaga agar hewan diperlakukna dengan baik (welfare), baik hewan
ternak, hewan kesayangan, satwa liar ataupun hewan laboratorium, termasuk juga menjaga
agar manusia terhindar dari risiko tertular dari penyakit hewan dan sebaliknya. Sehingga
dokter hewan juga menjaga kesehatan manusia secara tidak langsung dengan menyediakan
bahan panagan asal hewan yang sehat dan menyehatkan serta mencegah penularan penyakit
hewan pada manusia.
Dokter Hewan mempunyai peran-peran khusus bagi masyarakat melalui dunia hewan
(manusya mriga satwa sewaka) yang meliputi:
1. Menjaga dan meningkatkan kesehatan hewan, produktifitas dan keadaan yang baik dari
hewan-hewan yang dimanfaatkan manusia agar tidak membawa bahaya bagi manusia
dan lingkungan.
2. Menggunakan ilmu dan teknologi di bidang veteriner dalam layanan medik veteriner
kepada masyarakat, bangsa dan negara secara kompeten dan profesional.
3. Mencegah terjadinya dan mengurangi terjadinya kesengsaraan atau teraniayanya hewan
(kesejahteraan hewan) sebagai obyek profesi yang harus dilindungi dan dibela.
29

Dokter hewan bertanggung jawab terhadap berbagai kegiatan yang terkait dengan
kesehatan manusia secara individuil maupun populasi. Pada tingkat individuil, yang harus
ditangani adalah penyakit-penyakit yang ditularkan ke orang yang hidup atau yang bekerja
dengan hewan. Mengingat pekerjaannya, seseorang memiliki risiko tertular penyakit hewan.
Sedangkan pada tingkat populasi, yang harus ditangani adalah penyakit-penyakit yang
ditularkan ke orang melalui pangan asal hewan (foodborne), yang ditularkan melalui air
(waterborne), atau yang ditularkan melalui perantara (vectorborne).
Peran dokter hewan harus dikaitkan dengan perkembangan global saat ini, dengan
munculnya berbagai wabah penyakit zoonosis. Data menunjukkan bahwa dari seluruh
penyakit menjangkiti manusia yang muncul akhir-akhir ini, sekitar 60 persen bersumber dari
hewan. Sebut saja anthraks,rabies, flu burung, sapi gila, SARS, HIV, Nipah dan masih banyak
lagi. Hampir di seluruh negara, peran dokter hewan menjadi simpul kritis, terutama bila
dikaitkan dengan bagaimana keberhasilan suatu negara dalam mengatasi kemunculan wabah
zoonosis tersebut.
Begitu juga peran dokter hewan yang sangat penting bagi ketahanan nasional dan
pertahanan negara adalah melindungi wilayah Republik Indonesia dari ancaman bioterorisme
yang sebagian besar bersumber dari agen penyakit hewan dan invasi spesies asing.
Begitu maraknya kasus zoonosis di Indonesia membuat para dokter hewan melakukan
berbagai hal untuk menanggulanginya. Salah satunya dengan fokus pada hewan sakit tersebut.
Untuk itu, maka dilakukanlah vaksinasi agar hewan tetap sehat dan terbebas dari penyakit.
Akan tetapi hal tersebut bukan berarti tidak ada kendala dalam pelaksanaannya.
Seringkali

kendala

dalam

melaksanakan

program-program

pengendalian

dan

pemberantasan penyakit hewan menular adalah keterbatasan atau tidak tersedianya sama
sekali dana ganti rugi atau kompensasi yang pantas bagi peternak yang ternaknya menderita
atau terpapar penyakit dan harus dimusnahkan. Tidaklah mungkin untuk mendapatkan
dukungan peternak atau industri bilamana ternak-ternak yang harus dimusnahkan tersebut
tidak memperoleh kompensasi yang pantas.
Kebutuhan paling kritis yang perlu diantisipasi adalah penyediaan dana kompensasi
yang pantas ketika suatu wabah penyakit eksotik telah berjangkit. Seringkali bermilyar-milyar
rupiah dipertaruhkan bergantung pada seberapa cepat kawanan-kawanan ternak yang tertular
dapat diasingkan dan dimusnahkan untuk mencegah agar wabah dapat dihentikan dan
penyebaran tidak meluas. Upaya penghentian wabah harus dianggap sebagai tindakan darurat
untuk mencegah sedapat mungkin penyakit eksotik tersebut menjadi endemik. Pada kurun
waktu kritis demikian, kompensasi kerugian haruslah pantas untuk menjamin pelaporan
penyakit dan kerjasama yang baik dari peternak atau industri.
30

Zoonosis tidak hanya terjadi pada saat manusia kontak langsung dengan hewan akan
tetapi juga dari makanan hewani. Terlebih akhir-akhir ini banyak terjadi kasus foodborne
zoonosis (penularan penyakit dari makanan hewani) karena lemahnya pengawasan pemerintah
terhadap mutu dan kesehatan pangan. Dan untuk itu peran dokter hewan sangat dibutuhkan.

E. Tantangan Global Profesi Kedokteran Hewan


Adanya globalisasi berbagai tantangan dihadapi oleh para dokter hewan. Tantangantantangannya yaitu:
1. International Public Good.
Tantangan internasional sesungguhnya mengarah kepada isu yang terkait dengan
siskeswannas itu sendiri dan kebijakan nasional yang ditetapkan suatu negara. Standarstandar Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) diciptakan agar negara-negara anggota
dapat lebih memusatkan kebijakannya pada pemenuhan fungsi siskeswannas sebagai
international public good, artinya pelaksanaan siskeswannas secara benar dan utuh adalah
tanggung jawab semua negara. Jika satu negara gagal melakukannya, dampaknya akan
membahayakan seluruh dunia.
2. Tantangan Penguatan Kapasitas.
Pemerintah Indonesia melakukan restrukturisasi terhadap siskeswannas di era 198090an, sehingga program pemerintah hanya terfokus kepada urusan-urusan yang lebih
bersifat public good. Berdasarkan analisa ekonomi terhadap keseluruhan penyakit-penyakit
menular utama yang ada di Indonesia pada waktu itu, maka berhasil disusun suatu daftar
penyakit strategis yang mendapatkan prioritas penanganannya. Dalam hal ini, aspek
eksternalitas digunakan sebagai pertimbangan utama dari penetapan tersebut.
3. Tantangan Transparansi Pelaporan Penyakit.
Tantangan yang kita hadapi sejak dulu adalah bagaimana kemampuan pengumpulan
data di lapangan dan semua informasi yang berkaitan dengan itu didasarkan kepada
kemampuan deteksi dini, penyidikan yang profesional serta kecepatan dan ketepatan
diagnosa. Pada kenyataannya, pemerintah berulangkali gagal menentukan diagnosa,
terlambat dan tidak transparan dalam melaporkan kejadian wabah penyakit hewan
menular.
4. Tantangan Perdagangan Global.
Standar OIE diakui secara resmi melalui perjanjian Sanitary and Phytosanitary (SPS)
yang ditetapkan oleh Organisasi perdagangan Dunia (WTO) dan telah diratifikasi oleh
pemerintah Indonesia. Perjanjian SPS dimaksudkan untuk mengharmonisasikan tindakantindakan

SPS

dan

menghilangkan

hambatan

teknis

yang

tidak

dapat
31

dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sesuai dengan perjanjian ini, ke depan Indonesia


harus sedapat mungkin menggunakan standar, pedoman dan rekomendasi internasional
dalam menjalankan siskeswannas.
5. Tantangan Pengaturan Obat Hewan.
Dengan peningkatan industri peternakan dalam 20 tahun terakhir terutama ekspansi
yang cepat industri perunggasan, terjadi pula peningkatan yang signifikan dalam
penggunaan dan distribusi obat hewan di Indonesia. Proses regulasi juga mengalami
kemajuan yang signifikan, meskipun masih ada beberapa kelemahan dalam menerapkan
peraturan perundangan baik secara administratif maupun di lapangan.
6. Tantangan Keamanan Pangan.
Tantangan ke depan adalah bagaimana program-program kesmavet bisa dilakukan
dengan pendekatan farm to fork continuum, dimana keamanan dan kualitas pangan
hewani

ditetapkan dengan pendekatan terintegrasi dan

multi disiplin

dengan

mempertimbangkan keseluruhan rantai pangan. Mengingat banyak profesional lain yang


juga terlibat dalam urusan keamanan pangan seperti ahli mikrobiologi, ahli teknologi
pangan, ahli toksikologi dan lain sebagainya, maka kerjasama erat dan dan komunikasi
efektif dengan pihak lain baik yang berada di dalam maupun di luar siskewannas mau tidak
mau harus dilakukan.
7. Tantangan Pengembangan Profesi
Tantangan ke depan yang sama pentingnya dengan diatas adalah isu pengembangan
profesi. Di tataran internasional disepakati bahwa hampir sebagian besar negara
berkembang termasuk Indonesia, perlu memperbaiki sistem pendidikan kedokteran
hewannya. Untuk mengatasi hal itu, OIE menyarankan agar negara-negara berkembang
melakukan refokus kurikulum dan perbaikan standar kompetensi. Dengan demikian,
profesi dokter hewan akan berada pada posisi yang lebih baik dalam melayani kebutuhan
siskeswannas yang beragam.
Menuju Good Governance
Untuk menghadapi tantangan internasional sebagaimana diuraikan diatas, diperlukan
good governance siskeswannas untuk menghadapi ancaman penyakit hewan yang muncul
baru dan muncul kembali (emerging and re-emerging animal diseases). Kenyataan ini
harus semakin mendorong timbulnya kesadaran pemerintah dan masyarakat akan
pentingnya peranan siskeswannas dalam mencegah penyakit-penyakit hewan, terutama
yang berpotensi menulari manusia. Penguatan kapasitas siskeswannas seharusnya
merupakan respon terhadap tanggung jawab pemerintah sebagai regulator seperti yang
dikehendaki dalam peraturan perundangan dan dunia internasional.
32

Sebagai anggota WTO, dokter hewan Indonesia harus mempersiapkan konsekuensi


perjanjian SPS yaitu:
1. Melindungi kehidupan atau kesehatan hewan di dalam wilayah setiap negara anggota
dan resiko yang ditimbulkan dari masuk atau berkembangnya atau menyebarnya
hama, penyakit, organisme pembawa penyakit atau organisme penyebar penyakit.
2. Melindungi kehidupan dan kesehatan manusia dari resiko yang ditimbulkan oleh
bahan tambahan (additives), kontaminan, toksin atau organisme penyebab penyakit
dalam makanan, minuman dan pakan (food borne diseases).
3. Melindungi kehidupan dan kesehatan manusia dari resiko timbulnya penyakit yang
terbawa oleh hewan, atau produknya atau dari masuknya, berkembangnya,
menyebarnya penyakit sampar (Pest)
4. Mencegah atau membatasi kerusakan lingkungan atau lainnya dari masuknya,
berkembangnya atau menyebarnya hama penyakit (Pest).

33

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengertian dokter hewan adalah seorang yang memiliki kualifikasi dan otorisasi
dalam melakukan praktek kedokteran hewan. Orang yang memiliki profesi di bidang
kedokteran hewan, memiliki sertifikat kompetensi dan kewenangan medik veteriner dalam
melaksanakan pelayanan kesehatan hewan.
Profesi Veteriner merupakan profesi yang sangat tua di dunia yang muncul
sebagai pengembangan dari Profesi Kedokteran di zaman Yunani Kuno pada 460-367
Sebelum Masehi (SM) oleh Bapak Kedokteran di dunia yaitu Hippokrates. Metode
kedokteran dan dasar-dasar filosofi kedokteran yang dikembangkan oleh Hippokrates sangat
dipahami dan dihayati oleh seorang ilmuwan bernama Aristoteles (lahir 384 SM) yang
menerapkannya pada penanganan penyakit-penyakit hewan. Dokter hewan mempunyai kode
etik yang menjadi acuan dalam menjalankan pengabdiannya. Pada kedokteran hewan,
upaya-upaya kesehatan yang diembannya mencakup 2 tanggung jawab yang dikenal sebagai
Manusya Mriga Satwa Sewaka. Dokter hewan dengan otoritasnya mempunyai tugas yang
sangat mulia, yaitu menjaga kesehatan hewan dan menjaga agar hewan diperlakukna dengan
baik (welfare), baik hewan ternak, hewan kesayangan, satwa liar ataupun hewan
laboratorium, termasuk juga menjaga agar manusia terhindar dari risiko tertular dari
penyakit hewan dan sebaliknya

B. Saran
Penulis sangat mengharapkan kritk dan saran dari pembaca karena sesungguhnya
makalah ini masih jauh dari sempurna. Dengan makalah ini penulis berharap agar kita
sebagai dokter hewan maupun calon dokter hewan harus bangga dengan profesi kita, karena
dokter hewan nantinya sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan kesejahteraan
masyarakat. Mari kita bersama-sama memajukan profesi kedokteran hewan.

34

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2009. Kode Etik Veteriner Indonesia . From http://dokterternak.com/2012/02/25/kode-etikveteriner-dokter-hewan-indonesia-etika-etic/.27 Oktober 2014


Bagja, W. 2005. Peningkatan Profesionalisme Dokter Hewan. Munas PDHI. Jakarta
Bahmid, Nur Alif.2011. Tugas Penghayatan Profesi Dokter Hewan .Makassar : Unhas
Muhadjir,iin.2014.

Pengaruh

Sumpah

Dokter

Hewan

Terhadap Profesinya.From

http://veterinariangirl.wordpress.com/2014/06/04/pengaruh-sumpah-dokter-hewanterhadap-profesinya . 27 Oktober 2014


Nuriy,Muhammad.2011. Kode

Etik

Dokter

Hewan.

From

http://diary-

veteriner.blogspot.com/2011/11/kode-etik-dokter-hewan.html. 1 November 2014


PDHI. 2010. AD PDHI dan Kode Etik. Kongres ke 16 Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia
Pradjodiharjo, Soedjasmiran, dkk. 2010. 100 Tahun Dokter Hewan Indonesia. PT. Gallus
Indonesia Utama : Jakarta.
Rusli,Fajar Anugrah.2011. Tugas Penghayatan Profesi Dokter Hewan.Makassar:Unhas
Tjiptardjo.1986.Buku Dokter Hewan Indonesia.FKH IPB
Wahyuda,AgungPJ. 2014.Peran dan Pengenalan Profesi Dokter Hewan(PPT).Makassar
Yudhabuntara, Doddy. 2011. Etika Profesi Veteriner. Yogyakarta : Fakultas Kedokteran
Hewan UGM

35