Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH LEMBAGA KEUANGAN

Bank Syariah

Oleh :
Fery Firmandani

(C1B011032)

Angga Siswanto

(C1B011070)

Nurlita Lathif

(C1B013093)

Mega Auliasari

(C1B013102)

Hamdan Wahyul Hadi

(C1B013111)

Feranda Rizky A.

(C1B013127)

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
JURUSAN MANAJEMEN
PURWOKERTO
2015

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
Makalah Manajemen Lembaga Keuangan ini dengan judul Bank Syariah.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Manajemen
Lembaga Keuangan.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari
sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun guna menyempurnakan makalah ini. Penulis berharap semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca
umumnya.
Purwokerto, 22 September 2015
Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................ i
DAFTAR ISI.......................................................................................................ii
BAB 1
Pendahuluan........................................................................................................
A. Latar Belakang........................................................................................
B. Rumusan Masalah...................................................................................
C. Tujuan Pembahasan...............................................................................
D. Manfaat pembahasan.............................................................................
BAB 2
Pembahasan........................................................................................................
A. Landasan Teori
1. Definisi Bank Syariah......................................................................
1.1 Pengertian Bank............................................................
1.2 Pengertian Bank Syariah..............................................
2. Perkembangan Bank Syariah........................................................
3. Penghimpunan Dana dan Produk Bank Syariah
3.1 Prinsip Al Wadiah
3.2 Prinsip Al Mudharabah
3.3 Prinsip Al Qard ul Hasan
4. Penyaluran Dana dan Produk Bank Syariah
4.1 Al Mudharabah
4.2 Al Musyarakah
4.3 Al Murabahah
4.4 Al Bai Bithman Ajil
4.5 Al Ijarah
4.6 Al Baiu Tajiri
4.7 Al Bai Dayn

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bank merupakan lembaga keuangan yang dibangun atas

dasar

kepercayaan. Bank pun dalam pendanaan operasionalnya sebagian besar berasal

dari masyarakat. Dana-dana yang dihimpun dari masyarakat ternyata menjadi


sumber dana terbesar yang dijadikan andalan oleh bank tersebut. Pencapaiannya
mencapai 80-90% dari seluruh dana yang dikelola bank. Setiap lapisan
masyarakat yang menyimpan uangnya harus benar-benar yakin akan keamanan
uang yang diamanahkannya kepada bank-bank tertentu dan dalam jangka waktu
tertentu pula.
Bank Syariah merupakan lembaga keuangan bank berdasarkan Prinsip
Syariah. Prinsip Syariah adalah aturan perjanjian berddasarkan hukum Islam
antara bank dan pihak lain unuk menyimpan dana dan/atau pembiayaan kegiatan
usaha, atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah seperti
pembiayaan

berdasarkan

prinsip

bagi

hasil

(mudharabah),

pembiayaan

berdasarkan prinsip penyertaan modal (musyarakah), prinsip jual beli barang


dengan memperoleh keuntungan (murabadah), pembiayaan barang modal
berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah), dan adanya pilihan
pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain
(ijarah wa iqtina).
Pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah adalah penyediaan uang atau
tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan
anatara bank denagn pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk
mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan
imbalan atau bagi hasil. Penyediakan pembiayaan dan/atau kegiatan lain yang
dilakukan lembaga keuangan berdasarkan Prinsip Syariah harus sesuai dengan
ketentuan Bsnk Indonesia. Dalam melakukan kegiatan penyertaan modal
sementara untuk mengatasi akibat kegagalan kredit atau kegagalan pembiayaan
berdasarkan Prinsip Syariah harus memenuhi syarat yaitu harus menarik kembali
penyertaanya dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan Bank Indonesia.
Lembaga OJK (Otoritas Jasa Keuangan) juga melakukan pembinaan dan
pengawasan terhadap Bank Syariah.
B. Perumusan Masalah
1. Definisi Bank Syariah
2. Perkembangan Bank Syariah
3. Penghimpunan Dana dan Produk Bank Syariah
4. Penyaluran Dana dan Produk Bank Syariah

5.
6.
7.
8.
9.

Jasa Jasa dan Produk Bank Syariah


Dewan Syariah
Bank Muamalat Indonesia
Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPR)
Keunggulan dan Kelemahan Syariah

C. Tujuan Pembahasan
1. Mengetahui Definisi Bank Syariah
2. Mengetahui Perkembangan Bank Syariah
3. Memahami Penghimpunan Dana dan Produk Bank Syariah
4. Memahami Penyaluran Dana dan Produk Bank Syariah
5. Mengetahui Jasa Jasa dan Produk Bank Syariah
6. Mengetahui Dewan Syariah
7. Mengetahui Bank Muamalat Indonesia
8. Mengetahui Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPR)
9. Mengetahui Keunggulan dan Kelemahan Bank Islam
D. Manfaat Pembahasan
Penulis berharap makalah ini memiliki manfaat dan dapat
menambah wawasan bagi kita semua dalam mengetahui hal-hal yang
berkaitan dengan bank syariah, baik dari definisi, perkembangan,
penghimpunan dan penyaluran dana, produk bank syariah, maupun
keunggulan dan kelemahan bank Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Landasan Teori
1. Definisi Bank Syariah
a. Pengertian Bank
Bank merupakan lembaga keuangan yang dibangun atas dasar
kepercayaan. Bank pun dalam pendanaan operasionalnya sebagian besar
berasal dari masyarakat. Dana-dana yang dihimpun dari masyarakat
ternyata menjadi sumber dana terbesar yang dijadikan andalan oleh bank
tersebut. Pencapaiannya mencapai 80-90% dari seluruh dana yang dikelola
bank. Setiap lapisan masyarakat yang menyimpan uangnya harus benarbenar yakin akan keamanan uang yang diamanahkannya kepada bankbank tertentu dan dalam jangka waktu tertentu pula.
b. Pengertian Bank Syariah

Bank Syariah merupakan bank yang beroperasi dengan prinsip prinsip syariah Islam. Di dalam operasinya bank syariah mengikuti aturan
Al - Quran - Hadits dan regulasi dari perintah. Sesuai dengan perintah dan
larangan syariah, maka praktik - praktik yang mengandung unsur riba
dihindari, sedangkan yang diikuti adalah praktik praktik bisnis yang
dilakukan di zaman Rasulullah. Perbedaan pokok antara bank syariah
denagn bank konvensional adalah adanya larangan riba (bunga) bagi bank
syariah. Riba dilarang sedangkan jual beli (al abai) dihalalkan. Ini berarti
membayar dan menerima bunga atas uang yang dipinjam atau dipinjamkan
adalah

dilarang.

Dalam

operasionalnya,

baik

dalam

kegiatan

penghimpunan dana dari masyarakat maupun dalam penyaluran dana


kepada masyarakat, bank syariah (bank bagi hasil) tidak memperhitungkan
bunga tapi berdasarkan prinsip jual beli dan bagi hasil.

2. Perkembangan Bank Syariah


Kita mungkin sudah mengetahui bahwa jenis bank jika dilihat dari
cara menentukan harga terbagi menjadi 2 macam yaitu bank yang
berdasarkan prinsip konvensional dan bank yang berdasarkan prinsip
syariah. Hal utama yang menjadi perbedaan antara kedua jenis bank ini
adalah dalam hal penentuan harga, baik untuk harga jual maupun harga
beli. Dalam bank konvensioanal penentuan harga selalu didasarkan
dengan bunga, sedangkan dalam bank syariah didasarkan kepada
konsep Islam yaitu kerjasama dalam skema bagi hasil, baik untung
maupun rugi.
Sejarah awal mula kegiatan Bank Syariah yang pertama sekali
dilakukan di Pakistan dan Malaysia pada tahun 1940an. Kemudian di
Mesir pada tahun 1963 berdiri Islamic Rural Bank di desa It Ghamr
Bank. Bank ini beroperasi di pedesaan Mesir dan masih berskala kecil.
Seiring jalannya waktu bank syariah berkembang secara pesat di dunia
sejak didirikannya Islamic Development Bank (IDB) pada tahun 1975.

Sejak saat itu diperkirakan telah berkembang ratusan bank syariah di


seluruh dunia, baik negara Islam maupun non Islam. Bank Syariah
sudah menjadi penghimpun dan penyalur dana umat Islam baik untuk
kepentingan yang berkaitan dengan ibadah seperti : dana dari zakat,
infak dan sadaqah maupun muamalah seperti : simpanan al- wadiah
dan mudharabah.
Di Indonesia pembentukan Bank Syariah dalam sistem
perbankan nasional memiliki dasar yang kuat yaitu deregulasi sektor
perbankan sejak tahun 1983. Dalam deregulasi sektor perbankan
tersebut, lembaga keuangan bank diberikan kebebasan, termasuk
dalam hal penentuan tingkat suku bunga hingga nol persen. Deregulasi
di bidang perbankan dapat dimanfaatkan setelah dikeluarkannya Paket
Oktober (Pakto) 1988. Dalam pakto tersebut diperkenankan untuk
mendirikan bank sebagai bank baru. Pada tanggal 1 November 1991
didirikanlah Bank Muamalat Indonesia sebagai Bank Syariah pertama
di Indonesia. Kedudukan bank tanpa perhitungan bunga ini menjadi
lebih kuat setelah dikeluarkannya UU nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan yang kemudian diperbaharui dengan UU No. 10. Tahun
1998 tentang perubahan atas UU No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
Pada pasal 13 ayat (c) UU No 10 Tahun 1998 dinyatakan bahwa salah
satu usaha dari Bank Perkreditan Rakyat adalah menyediakan
pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan pemerintah. Sedangkan
untuk ketentuan pelaksanaannya maka pada tanggal 30 Oktober 1992
dalam lembaran Negara RI Nomor 119 Tahun 1992
Dalam peraturan pemerintah tersebut secara tegas dinyatakan
bahwa bank dengan prinsip bagi hasil tidak boleh melakukan kegiatan
usaha yang tidak berdasarkan prinsip bagi hasil. Sebaliknya bank yang
kegiatan usahanya tidak berdasarkan prinsip bagi hasil tidak
diperkenankan melakukan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip bagi
hasil. Hal itu secara tegas dinyatakan dalam ketentuan pasal 6 PP
Nomor 72 Tahun 1992 yang berbunyi :

1) Bank Umum atau Bank Perkreditan Rakyat yang


kegiatan usahanya semata mata berdaasarkan prinsip
bagi hasil, tidak diperkenankan melakukan kegiatan
usaha yang tidak berdasarkan prinsip bagi hasil.
2) Bank Umum atau Bank Perkreditan Rakyat yang
kegiatan usahanya tidak berdasarkan bagi hasil, tidak
diperkenankan

melakukan

kegiatan

usaha

yang

berdasarkan prinsip bagi hasil.

PENGHIMPUNAN DANA DAN PRODUK BANK SYARIAH


Penghimpunan dana yang dilakukan Bank Syariah berdasarkan prinsip prinsip berikut :
1

Prinsip al Wadiah
Al Wadiah berarti titipan murni. Perjanjian yang dilakukan atas
dasar kepercayaan semata atau merupakan perjanjian antara pemilik
barang (termasuk uang) dengan penyimpan (termasuk bank) di mana
pihak penyimpan bersedia menyimpan dan menjaga keselamatan
barang yang dititpkan kepadanya.
Prinsip Al Wadiah dibagi menjadi dua, yaitu :
a Al Wadiah Amanah berarti penerima simpanan tidak
bertanggungjawab atas kehilangan atau kerusakan yang terjadi
pada asset titipannya, bila tidak diakibatkan oleh perbuatan atau
kelalaian penyimpan. Bank syariah dapat memberikan produk
jasa yaitu safe deposit box, di mana pihak bank dapat
b

mengenakan biaya atas jasa penitipan tersebut


Al Wadiah Dhamanah berarti pihak penyimpan dengan atau
tanpa izin pemilik barang dapat memanfaatkan barang yang

dititipkan dan bertanggungjawab atas kerusakan atau kehilangan


barang yang disimpan. Keuntungan yang diperoleh dalam
penggunaan barang tersebut menjadi hak penyimpan. Produk
jasa simpanan bank yang sesuai dengan prinsip ini adalah
berupa giro (giro wadiah). Tujuan dari fasilitas giro wadiah
adalah untuk keamanan dan kemudahan pemindahbukuan dan
bukan untuk tujuan investasi untuk mendapatkan keuntungan
seperti tabungan dan deposit.
Sifat sifat giro wadiah adalah sebagai berikut :
a Merupakan titipan murni (wadiah yaa ad dhamanah) yang
b

atas seizin penitip dapat digunakan oleh bank.


Sebagai konsekuensi dari yad ad-dhamanah (menjamin
keutuhan dana) apabila dari pengelolaan uang tersebut bank
memperoleh keuntungan, maka keuntungan tersebut milik

bank.
Salah satu cara penyimpanan dana, alat pembayaran giral
dengan menggunakan media cek, bilyet giro, dan perintah

d
2

bayar lainnya.
Bank atas kehendaknya sendiri tanpa perjanjian di muka

dapat memberikan semacam bonus kepada nasabahnya.


Prinsip Al Mudharabah
Al Mudharabah adalah perjanjian antara pemilik modal (shalibul
al-mal) dengan pengusaha atau entrepreneur (mudharib). Mudharabah
merupakan hubungan berserikat antara dua pihak yaitu pemilik modal
dan pihak pemilik keahlian atau pengalaman. Pemilik modal bersedia
membiayai sepenuhnya suatu proyek/usaha dan pengusaha setuju
untuk mengelola proyek tersebut dengan pembagian hasil sesuai
dengan perjanjian. Pemilik modal tidak ikut dalam pengelolaan tapi
dibolehkan membuat usulan dan mengawasi. Jika usaha mengalami
kerugian maka kerugian tersebut ditanggung bersama sama antara
pemilik modal dan penerima modal. Produk bank syariah yang sesuai
dengan prinsip ini adalah tabungan mudharabah dan deposito
mudharabah.
Sifat sifat tabungan mudharabah adalah sebagai berikut :

Tabungan mudharabah adalah simpanan pihak ketiga di bank


Syariah yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat atau

beberapa kali sesuai dengan perjanjian.


Bank sebagai mudharib akan membagi keuntungan kepada
pihak sahib al mal sesuai dengan nisbah yang sudah disetujui

kedua pihak.
Sifat sifat deposito mudharabah adalah sebagai berikut :
a Deposito mudharabah adalah simpanan pihak ketiga
(perorangan atau badan hukum) yang penarikannya hanya
dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu (sesuai jatuh

tempo) dengan mendapatkan imbalan bagi hasil.


Imbalan dibagi dalam bentuk pembagian pendapatan atas

penggunaan dana dengan proporsi sesuai kesepakatan.


Jangka waktu deposito mudharabah misalnya 1 bulan, 3

bulan, 6 bulan dan 12 bulan.


Prinsip Al Qard ul Hasan
Al Qard ul Hasan artinya pemilik dana (masyarakat) memberikan
fasilitas dananya kepada bank (penerima dana) di mana pemilik dana
tidak mengharapkan imbalan atas dana yang diberikan. Contohnya
adalah zakat, infaq dan sadaqah (ZIS).

KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN BANK ISLAM


Keunggulan Bank Islam
Keunggulan dari Bank Islam jika dibandingkan dengan bank konvesional, antara
lain (Karnaen Perwataatmadja dan Muhammad Syafii Antonio:1999: 47):
1

Kuatnya ikatan emosional keagamaan antara pemegang saham, pengelola

bank, dan nasabahnya.


Dengan adanya keterikatan religi, maka semua pihak yang terlibat di
dalam bank Islam akan berusaha sebaik-baiknya sebagai pengamalan
ajaran agamanya sehingga berapapun hasil yang di peroleh akan membawa

berkah.
Adanya fasilitas pembiayaan (Al mudharabah dan Al musyarakah) yang
tidak membebani nasabah sejak awal dengan membayar kewajiban biaya
secara tetap.

Dengan diterapkannya sistem bagi hasil sebagai ganti bunga, maka tidak
ada diskriminasi terhadap nasabah yang didasarkan atas kemampuan

ekonominya sehingga aksesibilitas bank Islam menjadi sangat luas.


Dengan adanya sistem bagi hasil maka penyimpan dana telah tersedia
peringatan dini tentang keadaan banknya yang bisa diketahui sewaktu-

waktu dari naik-turunnya jumlah bagi hasil yang diterima.


Adanya fasilitas pembiayaan pengadaan barang modal dan peralatan
produksi (al mudharabah dan Al bai bitsaman ajil) yang lebih
mengutamakan kelayakan usaha dari pada jaminan (collateral) sehingga
siapapun baik pengusaha ataupun bukan mempunyai kesempatan yang

luas untuk berusaha.


Dengan diterapkannya sistem bagi hasil maka cost push inflation yang

ditimbulkan oleh perbankan sistem bunga dihapuskan sama sekali.


Dengan diterapkannya sistem bagi hasil dan ditinggalkannya sistem
bunga, menjadikan bank Islam lebih mandiri dari pengaruh gejolak

moneter baik dari dalam maupun luar negeri.


Dengan diterapkannya sistem bagi hasil, maka persaingan antara bank
Islam berlaku secara wajar yang ditentukan oleh keberhasilan dalam
membina nasabah dengan profesionalisme dan pelayanan terbaik.

10 Tersedianya fasilitas kredit kebajikan (Al qardhul hasan) yang tidak


membebani

nasabah

dengan

biaya

apapun

kecuali

biaya

yang

dipergunakan sendiri, seperti bea materai, biaya akte notaries, biaya studi
kelayakan, dan sebagainya. Dana fasilitas ini diperoleh diperoleh dari
pengumpulan zakat, infaq, shodaqoh para amil zakat yang masih
mengendap di bank menunggu saatnya disalurkan kepada yang berhak
Kelemahan Bank Islam
Selain beberapa keunggulan diatas, terdapat kelemahan yang ada pada bank Islam
jika dibandingkan dengan bank konvesional antara lain (Karnaen Perwataatmadja
dan Muhammad Syafii Antonio: 1999: 46):
1
Bank Islam terlalu berprasangka baik kepada nasabahnya dan berasumsi
2

bahwa semua orang yang terlibat di dalam bank Islam adalah jujur.
Dalam sistem bagi hasil memerlukan perhitungan-perhitungan yang rumit
terutama dalam menghitung bagian laba nasabah yang kecil-kecil dan yang
nilai simpanannya di bank tidak tetap.

Bank Islam membawa misi bagi hasil yang adil, maka diperlukan tenagatenaga yang handal dari pada bank konvesional.
.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bank Syariah merupakan lembaga keuangan bank berdasarkan prinsip
syariah. Namun dalam kegiatannnya perbankan islam tidak boleh menyimpang
dari landasan dan prinsip-prinsip islam itu sendiri, karena timbulnya Bank Syariah
adalah untuk menyempurnakan dari sistem sosialis dan konvensional. Yang bukan
saja berorientasi pada profitabilitas tapi juga bagaimana perbankan islam itu

sendiri mengedepankan etika dan moral dalam berbisnis di dunia perbankan yang
dapat menciptakan sebuah kegiatan perbankan yang efisien dan efektif (bebas dari
Riba, Gharar, Maysir, dll) sehingga dapat berimplikasi pada pembangunan
ekonomi, kesejahteraan rakyat, menciptakan pasar ekonomi yang sehat dan
menghilangkan paradigma dzalim.
B. Saran
Maka tugas kita selaku akademisi adalah bagaimana kita mengembangkan
dan menerapkan kegiatan perbankan islam pada masyarakat dunia, sehingga tidak
ada kata alergi ketika masyarakat mendengar istilah istilah kegiatan perbankan
islam. Harapan kita bahwa sudah cukup sampai disini saja kegiatan dunia bisnis
baik yang basis finansial, investasi, perbankan, real, pasar modal, pasar barang dll.
Yang hanya menguntungkan sebagian pihak dan dipihak lain tertindas. Mari kita
jadikan perbankan islam sebagai sarana untuk menciptakan dunia bisnis baru yang
positif yang dapat memberikan kesejahteraan bagi semua.

DAFTAR PUSTAKA
1
2

Martono, 2009, Bank & Lembaga Keuangan Lain, Yogyakarta: Ekonisia


Kasmir, 1998, Bank & Lembaga Keuangan Lainnya, Jakarta : RajaGrafindo

Persada
Subagyo, Sri Fatmawati, Rudy Badrudin, 2005 Bank dan Lembaga keuangan
Lainnya, Yogyakarta : Aditya Media