Anda di halaman 1dari 14

TUGAS INDIVIDU

MAKALAH TOKSIKOLOGI

TOKSIKOLOGI LOGAM BERAT

DISUSUN OLEH
NAMA

: YAYAN HEBRIANTO R

NIM

: N111 10 280

KELAS

:B

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Logam berat yang ada di lingkungan, tanah, air dan udara dengan
suatu mekanisme tertentu masuk ke dalam tubuh makhluk hidup.
Tanaman yang menjadi mediator penyebaran logam berat pada makhluk
hidup, menyerap logam berat melalui akar dan daun (stomata). Logam
berat terserap ke dalam jaringan tanaman melalui akar, yang selanjutnya
akan masuk ke dalam siklus rantai makanan.
Kontaminasi logam berat merupakan salah satu aspek kimia yang
harus diwaspadai karena dapat mengancam kesehatan dan keamanan
konsumen. Logam berat seperti merkuri (Hg), arsen (As), kadmium (Cd),
besi (Fe), dan radioaktif pada konsentrasi tinggi dapat menimbulkan
pengaruh toksisitas yang besar. Racun logam berat ini bersifat akumulatif
dan menyebabkan berbagai penyakit degeneratif pada manusia.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1) Untuk menjelaskan tentang definisi logam berat.
2) Untuk menjelaskan tentang toksisitas Timbal (Pb).
3) Untuk menjelaskan tentang toksisitas Merkuri (Hg).
4) Untuk menjelaskan tentang toksisitas Arsen (As).
5) Untuk menjelaskan tentang toksisitas Kadmium (Cd).
6) Untuk menjelaskan tentang toksisitas Besi (Fe)
7) Untuk menjelaskan tentang toksisitas Radioaktif.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Logam Berat

Logam berat adalah unsur dengan bobot jenis lebih besar dari 5
g/cm3. Logam berat memiliki afinitas yang tinggi terhadap unsur S, terletak
pada sudut bawah daftar periodik pada periode 4-7 dengan nomor atom
22-92. Logam berat dapat membentuk mineral atau senyawa logam bila
bercampur dengan komponen tertentu yang ada di bumi. Logam berat ada
yang bersifat esensial bagi tubuh, tetapi bila tidak terkontrol dapat
berbahaya. Berdasarkan penelitian terhadap organisme air, urutan
toksisitas akut logam berat dari yang paling tinggi adalah Hg 2+, Cd2+, Ag+,
Ni2+, Pb2+, As3+, Cr2+, Sn2+, dan Zn2+ .
Logam berat dapat masuk ke tubuh manusia melewati rantai
pangan pendek (hewan-manusia) atau lewat rantai pangan panjang
(tumbuhan-hewan-manusia) yang disebut pencemaran dakhil. Di samping
melalui mulut dari makanan dan minuman, unsur logam berat juga dapat
masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan dan kulit. Logam berat juga
mempunyai afinitas yang tinggi terhadap senyawa-senyawa sulfida,
seperti sulfhidril (-SH) dan disulfida (-S-S). Gugus-gugus ini banyak
terdapat dalam enzim, sehingga dengan terikatnya logam berat pada
gugus-gugus ini, logam berat dapat menghambat kerja enzim tertentu.
Logam berat termasuk zat pencemar karena sifatnya yang tidak
dapat diuraikan secara biologis dan stabil, sehingga dapat tersebar jauh
dari tempatnya semula. Hal ini sejalan dengan pendapat Sutrisno dan
Salirawati (1993) yang menyatakan ada 2 hal yang menyebabkan logam
berat termasuk sebagai pencemar yang berbahaya, yaitu :
a. Tidak dihancurkan oleh mikroorganisme yang hidup di lingkungan
b. Terakumulasi dalam komponen-komponen lingkungan, terutama air
dan membentuk kompleks bersama bahan organik dan anorganik
secara adsorpsi dan kombinasi.
Pemakaian logam berat sangat luas, seperti untuk pereaksi
atau katalis dalam berbagai proses industri. Bersamaan dengan produk
industri yang dihasilkan, dihasilkan pula limbah yang tidak berguna,
bahkan dalam jumlah tertentu dapat membahayakan kehidupan manusia.
Salah satu zat dalam limbah adalah logam berat yang akan masuk ke

lingkungan, seperti sungai, danau, tanah, dan udara dan dapat mengalami
magnifikasi biologis pada tumbuhan dan hewan yang akan dikonsumsi
manusia sehingga mempengaruhi kesehatannya
B. Toksisitas Timbal
Timbal adalah bahan yang dapat meracuni lingkungan dan
mempunyai dampak pada seluruh sistem di dalam tubuh. Pada anakanak, timbal mennurunkan tingkat kecerdasan, pertumbuhan, dan
pendengaran, menyebabkan anemia dan dapat menimbulkan gangguan
pemusatan perhatian dan gangguan tingkah laku. Pemaparan yang tinggi
dapat menyebabkan kerusakan otak yang parah atau kematian.
Sumber timbal ada di Cat, pabrik, air, tanah, udara, makanan, minuman,
panik dan peralatan dapur serta keramik yang dipoles, obat-obat
tradisional. Gejala keracunan timbal: gejala penyakit yang timbul setelah
mencerna, menghisap dan menghirup timbal. 3 Keracunan timbal ada
beberapa yaitu akut, subakut dan kronis. Nilai ambang toksisitas timbal
adalah 0,2 miligram /m3.
Keracunan akut, Keracunan ini jarang terjadi. Keracunan biasanya terjadi
karena masuknya senyawa timbal yang larut dala asam atau inhalasi uap
timbal. Efek adstringen menimbulkan rasa haus dan rasa logam disertai
rasa mulut terbakar. Gejala lain mual, muntah berwarna putih seperti susu
karena Pb chlorida dan rasa sakit perut yang hebat. Lidah berlapis dan
nafas mengeluarkan bau menyengat. Pada gusi terdapat garis biru, tinja
berwarna hitam dapat disertai diare atau konstipasi. System syaraf juga
terpengaruh dapat ditemukan vertigo dan kebas. Pergelangan tangan dan
kaki terkulai (wrist and foot drop).
Keracunan subakut, Terjadi karena pemaparan berulangkali dengan
dosis kecil. Gejala yang timbul adalah rasa kebas, kaku otot dengan
kejang-kejang dan koma. Penderita mengalami gangguan system

pencernaan, pengeluaran urin sangat sedikit, berwarna merah. Dosis


fatal:20-30 gram. Periode fatal : 1-3 hari.
Keracunan kronis, Keracunan kronis dapat mempengaruhi system syaraf
dan ginjal, sehingga menyebabkan anemia dan kolik, mempengaruhi
fertilitas, menghambat pertumbuhan janin atau memberikan efek kumulatif
yang dapat muncul kemudian
C. Toksisitas Merkuri
Timbal adalah bahan yang dapat meracuni lingkungan dan
mempunyai dampak pada seluruh sistem di dalam tubuh. Pada anakanak, timbal mennurunkan tingkat kecerdasan, pertumbuhan, dan
pendengaran, menyebabkan anemia dan dapat menimbulkan gangguan
pemusatan perhatian dan gangguan tingkah laku. Pemaparan yang tinggi
dapat menyebabkan kerusakan otak yang parah atau kematian.
Sumber timbal ada di Cat, pabrik, air, tanah, udara, makanan, minuman,
panik dan peralatan dapur serta keramik yang dipoles, obat-obat
tradisional. Gejala keracunan timbal: gejala penyakit yang timbul setelah
mencerna, menghisap dan menghirup timbal. Keracunan timbal ada
beberapa yaitu akut, subakut dan kronis. Nilai ambang toksisitas timbal
adalah 0,2 miligram /m3.
Kerusakan
umumnya

bersifat

tubuh

yang

permanen,

disebabkan

masing-masing

oleh

merkuri

komponen

pada

merkuri

mempunyai perbedaan karakteristik yang berbeda seperti daya racunnya,


distribusi,

akumulasi

atau

pengumpulan,

dan

waktu

retensinya

(penyimpanan) di dalam tubuh. Apabila semua komponen merkuri berada


dalam jumlah yang cukup, maka akan beracun terhadap tubuh. Merkuri
dapat berpengaruh terhadap tubuh karena dapat menghambat kerja
enzim dan menyebabkan kerusakan sel. Sifat-sifat membran dari dinding
sel akan rusak karena pengikatan dengan merkuri, sehingga aktivitas sel

dapat terganggu. Kondisi yang akut dapat menyebabkan kerusakan perut


dan usus, gagal kardiovaskular (jantung dan pembuluhnya), dan gagal
ginjal akut yang dapat menyebabkan kematian.
D. Toksisitas Arsen
Arsen banyak digunakan dalam berbagai bidang, yaitu salah
satunya dalam bidang pertanian. Di dalam pertanian, senyawa timah
arsenat, tembaga acetoarsenit, natrium arsenit, kalsium arsenat dan
senyawa arsen organik digunakan sebagai pestisida.
Sebagian tembakau yang tumbuh di Amerika Serikat, perlu
diberi pestisida yang mengandung arsen untuk mengendalikan serangga
yang menjadi hama tanaman tersebut selama masa pertumbuhannya.
Tembakau ini akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan rokok.
Intoksikasi tubuh manusia terhadap arsenik (As), dapat berakibat
buruk terhadap mata, kulit, darah , dan liver. Efek Arsenic terhadap mata
adalah gangguan penglihatan dan kontraksi mata pada bagian perifer
sehingga mengganggu daya pandang (visual fields) mata. Pada kulit
menyebabkan

berwarna

gelap

(hiperpigmentasi),

penebalan

kulit

(hiperkeratosis), timbul seperti bubul (clavus), infeksi kulit (dermatitis) dan


mempunyai
menyebabkan

efek

pencetus

kegagalan

kanker

fungsi

(carcinogenic).

sungsum

tulang

Pada
dan

darah,

terjadinya

pancytopenia (yaitu menurunnya jumlah sel darah perifer). Pada liver,


mempunyai efek yang signifikan pada paparan yang cukup lama (paparan
kronis), berupa meningkatnya aktifitas enzim pada liver (enzim SGOT,
SGPT, gamma GT), ichterus (penyakit kuning), liver cirrhosis (jaringan hati
berubah menjadi jaringan ikat danascites (tertimbunnya cairan dalam
ruang perut). Pada ginjal, Arsen (As) akan menyebabkan kerusakan ginjal
berupa renal damage (terjadi ichemia and kerusakan jaringan). Pada
saluran pernafasan, akan menyebabkan timbulnya laryngitis (infeksi
laryng), bronchitis (infeksi bronchus) dan dapat pula menyebabkan kanker
paru. Pada pembuluh darah, logam berat Arsen dapat menganggu fungsi

pembuluh darah, sehingga dapat mengakibatkan penyakit arteriosclerosis


(rusaknya pembuluh darah), portal hypertention (hipertensi oleh karena
faktor pembuluh darah potal), oedema paru dan penyakit pembuluh darah
perifer (varises, penyakit bu rger). Pada sistem reproduksi, efek arsen
terhadap fungsi reproduksi biasanya fatal dan dapat pula berupa cacat
bayi waktu dilahirkan, lazim disebut effek malformasi. Pada sistem
immunologi, terjadi penurunan daya tahan tubuh / penurunan kekebalan,
akibat nya peka terhadap bahan karsinogen (pencetus kanker) dan infeksi
virus. Pada sistem sel, efek terhadap sel mengakibatkan rusaknya
mitochondria dalam inti sel menyebabkan turunnya energi sel dan sel
dapat mati. Pada Gastrointestinal (saluran pencernaan) , Arsen akan
menyebabkan perasaan mual dan muntah, serta nyeri perut, mual
(nausea) dan muntah (vomiting).
E. Toksisitas Cadmium
Kadnium terutama dalam bentuk oksida adalah logam yang
toksisitasnya tinggi. Sebagian besar kontaminasi oleh kadnium pada
manusia melalui makanan dan rokok. Waktu paruh kadnium kira-kira 1030 tahun. Akumulasi pada ginjal dan hati 10-100 kali konsentrasi pada
jaringan yang lain.
Dalam tubuh manusia kadnium terutama dieleminasi melalui
urine. Hanya sedikit kadnium yang diabsorbsi yaitu sekitar 5-10%.
Absorbsi dipengaruhi faktor diet sep erti intake protein, calcium, vitamin D
dan trace logam seperti seng (Zn). Proporsi yang besar adalah absorbsi
malalui pernafasan yaitu antara 10 -40% tergantung keadaan fisik wilayah.
Uap kadnium sangat toksis dengan lethal dose melalui pernafasan
diperkirakan 10 menit terpapar samp ai dengan 190 mg/m3 atau sekitar 8
mg/m3 selama 240 menit akan dapat menimbulkan kematian. Gejala
umum keracunan Cd adalah sakit di dada, nafas sesak (pendek), batuk
-batuk dan lemah. Terpapar akut oleh kadnium (Cd) menyebabkan gejala
nausea

(mual),

muntah,

diare,

kram,

otot,

anemia,

dermatitis,

pertumbuhan lambat, kerusakan ginjal dan hati, gangguan kardiovaskuler,

empisema dan degenerasi testicular (Ragan & Mast , 1990). Perkiraan


dosis mematikan ( lethal dose) akut adalah sekitar 500 mg/kg untuk
dewasa dan efek dosis akan nampak jika terabsorbsi 0,043 mg/kg per hari
(Ware, 1989) .
F. Toksisitas Besi
Tempat pertama dalam tubuh yang mengontrol pemasukkan Fe
adalah usus halus. Bagian dari usus ini berfungsi untuk absorpsi dan
sekaligus ekskresi Fe yang tidak diserap. Besi dari usus diabsorpsi dalam
bentuk feritin, dimana bentuk ferro lebih mudah diabsorpsi daripada
bentuk ferri. Feritin masuk kedalam darah berubah bentuk menjadi
transferin. Dalam darah tersebut besi berstatus sebagai besi bervalensi
tiga (trivalent) yang kemudian ditransfer ke hati dan limpa yang kemudian
disimpan dalam organ tersebut sebagai cadangan dalam bentuk feritin
dan hemosiderin. Toksisitas terjadi bilamana terjadi kelebihan (kejenuhan)
dalam ikatan tersebut.
Toksisitas akut Fe pada anak terjadi karena anak memakan
sekitar 1 g Fe dan mungkin lebih banyak. Kandungan asupan besi pada
anak secara normal adalah sekitar 10-20 mg/kg berat badan. Setiap tahun
dilaporkan sekitar 2500 kasus keracunan Fe pada anak dibawah umur 6
tahun dan merupakan salah satu kasus keracunan yang terbanyak yang
menyebabkan kematian pada anak.
Jumlah zat besi di dalam tubuh seorang normal berkisar antara
3-5 g tergantung dari jenis kelamin, berat badan, dan hemoglobin. Besi di
dalam tubuh terdapat dalam haemoglobin sebanyak 1,5-3,0 g dan sisa
lainnya terdapat di dalam plasma dan jaringan. Di dalam plasma besi
terikat dengan protein yang disebut transferin yaitu sebanyak 3-4 g.
Sedangkan dalam jaringan berada dalam suatu status esensial dan bukan
esensial. Disebut esensial karena tidak dapat dipakai untuk pembentukan
Hb maupun keperluan lainnya.

G. Toksisitas Radiokatif

Zat radioaktif yang pertama ditemukan adalah Uranium. Pada


tahun 1898, Marie Curie dan suaminya, Pierre Curie menemukan
Polonium dan Radium yang jauh lebih aktif dari uranium. Ternyata, banyak
unsur yang secara alami bersifat radioaktif. Semua isotop yang bernomor
atom di atas 83 bersifat radioaktif. Unsur yang bernomor atom 83 atau
kurang mempunyai isotop yang stabil kecuali teknesium dan promesium.
Isotop yang bersifat radioaktif disebut isotop radioaktif atau radioi isotop,
sedangkan isotop yang tidak radiaktif disebut isotop stabil. Dewasa ini,
radioisotop dapat juga dibuat dari isotop stabil.
Pada tahun 1903, Ernest Rutherford mengemukakan bahwa
radiasi yang dipancarkan zat radioaktif dapat dibedakan atas 2 jenis
berdasarkan muatannya. Radiasi yang berrnuatan positif dinamai sinar
alfa, dan yang bermuatan negatif diberi nama sinar beta. Selanjutnya Paul
U.Viillard menemukan jenis sinar yang ketiga yang tidak bermuatan dan
diberi nama sinar gamma.
a. Sinar alfa ()
Sinar alfa merupakan radiasi partikel yang bermuatan positif.
Partikel sinar alfa sama dengan inti helium -4, bermuatan +2e dan
bermassa 4 sma. Partikel alfa adalah partikel terberat yang dihasilkan oleh
zat radioaktif. Sinar alfa dipancarkan dari inti dengan kecepatan sekitar
1/10 kecepatan cahaya. Karena memiliki massa yang besar, daya tembus
sinar alfa paling lemah diantara diantara sinar-sinar radioaktif. Di udara
hanya dapat menembus beberapa cm saja dan tidak dapat menembus
kulit. Sinar alfa dapat dihentikan oleh selembar kertas biasa. Sinar alfa
segera kehilangan energinya ketika bertabrakan dengan molekul media
yang dilaluinya. Tabrakan itu mengakibatkan media yang dilaluinya
mengalami ionisasi. Akhirnya partikel alfa akan menangkap 2 elektron dan
berubah menjadi atom helium.
b. Sinar beta ()
Sinar beta merupakan radiasi partikel bermuatan negatif. Sinar
beta merupakan berkas elektron yang berasal dari inti atom. Partikel beta

yang bemuatan -le dan bermassa 1/836 sma. Energi sinar beta sangat
bervariasi, mempunyai daya tembus lebih besar dari sinar alfa tetapi daya
pengionnya lebih lemah. Sinar beta paling energetik dapat menempuh
sampai 300 cm dalam uadara kering dan dapat menembus kulit.
c. Sinar gamma ()
Sinar gamma adalah radiasi elektromagnetik berenergi tinggi,
tidak bermuatan, dan tidak bermassa. Sinar gamma mempunyai daya
tembus. Selain sinar alfa, beta, gamma, zat radioaktif buatan juga ada
yang memancarkan sinar X dan sinar Positron. Sinar X adalah radiasi
sinar elektromagnetik.
Secara alami kita mendapat radiasi dari lingkungan, misalnya
radiasi sinar kosmis atau radiasi dari radioakif alam, serta dari berbagai
kegiatan, seperti diagnosa atau terapi dengan sinar X atau radioisotop.
Orang yang tinggal di sekitar instalasi nuklir juga mendapat radiasi lebih
banyak, tetapi masih dalam batas aman.
Radiasi dapat mengganggu fungsi normal tubuh manusia, dari
taraf yang paling ringan hingga fatal. Derajat taraf ini tergantung pada
beberapa faktor, yaitu :
1. Jenis radiasi
2. Lamanya penyinaran
3. Jarak sumber dengan tubuh
4. Ada tidaknya penghalang antara sumber dengan tubuh
Apabila tubuh manusia terkena radiasi maka partikel-partikel
radiasi akan secara langsung mengadakan interaksi dengan bagian yang
terkecil dari sel, yakni atom-atom yang ada di sel. Adapun interaksi
tersebut dapat berlangsung secara langsung maupun tidak langsung.
Interaksi langsung terjadi apabila penyerapan energi langsung
pada molekul-molekul organik dalam sel yang mempunyai arti biologik
penting, seperti DNA. Sedangkan interaksi radiasi tidak langsung terjadi
bila interaksi radiasi dengan molekul-molekul air dalam sel berlangsung
lebih dahulu, kemudian efeknya mengenai molekul-molekul organik yang
penting. Hal ini terjadi karena 80% tubuh manusia terdiri dari air. Akibat
interaksi ini, terjadi proses ionisasi atau eksitasi atom-atom dalam sel
yang bisa menyebabkan terjadinya perubahan struktur kimiawi dari

molekul DNA, atau terjadi mutasi titik (point mutation) dalam sel tersebut.
Ini menyebabkan perubahan yang berat dari struktur kromosom
(chromosome aberration).
Perubahan struktur kromosom kemungkinan menyebabkan
kerusakan pada tingkatan tertentu dalam suatu organ. Hal ini akan terjadi
pada sel yang peka terhadap radiasi (sensitive organ). Namun, bisa terjadi
sebaliknya, yaitu akibat interaksi dengan radiasi bisa sembuh dengan
sendirinya melalui proses biologis dalam sel, disebut dengan proses
perbaikan sendiri (cell repair). Hal ini tergantung pada kemampuan dan
macam sel yang bersangkutan. Jika perbaikannya tidak sempurna, akan
menghasilkan sel yang tetap hidup, tetapi sudah berubah. Di lain, pihak
partikel radiasi dapat pula mengadakan interaksi dengan molekul air
dalam sebuah sel. Dimungkinkan juga terjadi perubahan-perubahan
sehingga terbentuk molekul-molekul baru, yaitu H 2O2 dan HO2 yang amat
beracun yang mengakibatkan kerusakan-kerusakan jaringan tubuh. Selain
melalui kedua proses tersebut, radiasi dapat pula menyebabkan terjadinya
reaksi-reaksi kimiawi lain dalam organ atau jaringan tubuh, seperti reaksi
protein denaturalisasi dan perubahan enzimatis. Juga reaksi hormonal
dalam jaringan, yang pada akhirnya akan lebih mempercepat proses
kerusakan yang kronis dan tetap, terutama pada organ-organ yang tetap.
Beberapa efek biologi pada tubuh manusia :
1). Efek genetik
Efek biologi dari radiasi ionisasi pada generasi yang belum lahir
disebut efek genetik. Efek ini timbul karena kerusakan molekul
DNA pada sperma atau ovarium akibat radiasi. Atau, bila radiasi
berinteraksi dengan makro molekul DNA, dapat memodifikasi
struktur molekul ini dengan cara memecah kromosom atau
mengubah jumlah DNA yang terdapat dalam sel melalui
perubahan informasi genetik sel. Tipe ini dapat menimbulkan
penyakit genetik yang diteruskan ke generasi berikutnya.
2). Efek somatik

Bila organisme seperti manusia yang terkena radiasi mengalami


kerusakan biologi sebagai akibat penyinaran, efek penyinaran
tersebut

diklasifikasikan

sebagai

efek

somatik.

Efek

ini

tergantung pada lamanya terkena radiasi sampai pertama


timbulnya gejala kerusakan radiasi.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Logam-logam berat seperti Merkuri (Hg), Arsen (As), Kadmium
(Cd), Besi (Fe), dan Radioaktif memiliki pengaruh yang besar apabila
masuk ke dalam tubuh, terutama mempengaruhi sel-sel dan organ-organ,
sehingga perlu dihindari terjadinya pemaparan terhadap logam-logam
tersebut. Logam berat termasuk bahan berbahaya dan beracun yang
biasanya dihasilkan oleh industri berupa limbah. Logam berat yang lazim
terdapat dalam limbah industri adalah logam timbal (Pb),merkuri (Hg),
kadnium (Cd), dan arsenicum (As)
B. Saran

Sebagai generasi penerus, maka sebaiknya kita harus


bijakasana dalam menjalani hidup ini. Perlu ditanamkan bahwa kesehatan
adalah sesuatu yang harus dan mesti dipertahankan. Dengan pola hidup
sehat, maka bukan hanya kita yang dapat merasakan arti kesehatan itu,
tapi juga orang banyak.

DAFTAR PUSTAKA
Anderson,K dan Scoot,R. (1982). Fundamental of Industrial Toxicology.
Michigan: Ann Arbor Science Publisher.
Bernard S, Enayati A, Binstock T, Roger H, Redwood L, McGinnis W
(2000). Autism: A Unique of Mercury Poisoning. ARC Research
Cranford, NJ 07016.
Casarett & Doulls. (2001). Toxicology the Basic Science of Poissons. New
York: McGraww-Hill Medical Publishing Division.
Eddie,

W.S.
(2005).
Limbah
B3
dan
Kesehatan.
//www.dinkesjatim.go.id/images/datainfo/200504121503
LIMBAH%20B-3.pdf. 18 Desember 2005.

http:
-

Gayer, RA. (1986). Toxic Effects of Metal. In C.D.Klaasen, M.O.Amdur,


and J.Doul. (Eds). Toxicology the Basic Science of Poisons.3rd
ed. New York: Mac Millan Publishing Co.
Mukono, H.J. (2000). Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan . Surabaya:
Airlangga University Press.
Mukono, H.J. (2002). Epidemiologi Lingkungan. Surabaya: Airlangga
University Press.

Mukono J., Koeswadji H., Sugijanto, Laksminiwati E. (1991). Laporan


Penelitian: Status Kesehatan dan Kadar Pb (timah hitam)
Darah pada Karyawan SPBU di Jawa Timur. Lembaga
Penelitian Universitas Airlangga.
Ringo,HS. and Damon, LE. (1990). Occupational Hematology. In J.LaDou
(eds). Occupational Medicine. San Fransisco: Riantice Hall
International,Inc.