Anda di halaman 1dari 10

SCABIES, RINGWORM, DAN INFESTASI PARASIT LAINNYA

(Kharisma)1, Muliani, Trini Purnama Sari, Muh Noer A, Wendelindia V.T.T.

Bagian Bedah & Radiologi. Departemen Klinik, Reproduksi & Patologi


Program Studi Kedokteran Hewan (PSKH), Universitas Hasanuddin (UNHAS)
Korespondensi penulis:Kharismachulung@yahoo.com
ABSTRAK
Tujuan praktikum ini adalah menjelaskan kasus penyakit kulit pada
kucing, agar dapat mengetahui berbagai ragam perubahan klinik dan patologis
pada kucing, hingga dapat diagnosa dan diagnosis banding serta bagaimana
tindakan penanganan penyakit pada kasus scabies, ringworm, pedikulosis, dan
cheyletielosis pada kucing. Seekor kucing betina bernama Andriani ras domestik
yang di adopsi dua minggu lalu, tidak ada riwayat vaksinasi dan pemberian obat
cacing. Kucing tersebut memiliki warna bulu tortie, berumur 4 bulan, berat
badan 1 kg, dengan tanda khusus corak hitam di telinga. Kucing aktif dan jinak.
Pertumbuhan badan kucing baik di lihat dari pemeriksaan 2 minggu lalu yaitu
penambahan berat badan 2 ons selama pasien di rawat oleh klien. Sikap berdiri
normal, suhu tubuh 38,5oC, frekuensi nadi 108 x per menit, serta frekuensi nafas
40 x per menit. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan adanya infestasi
ektoparasit pada kucing. Hal tersebut ditunjukkan oleh di dapatnya pinjal selama
pemeriksaan dan juga adanya kerak di bagian telinga pasien. Kerontokan rambut
terlihat pada kedua telinga, kedua telinga juga kotor dan berbau sedikit amis.
Glandula parotis sebelah kanan teraba, glandula parotis bagian kiri normal
dibandingkan bagian kanan. Tipe pernafasan costal, intensitas normal, ritme
pernafasan reguler/teratur, suara pernafasan vesikular dan tidak terdapat suara
ikutan. Pada pemeriksaan perkusi lapangan jantung hasil yang diperoleh adalah
normal. Hasil pemeriksaan auskultasi jantung yaitu frekuensi denyut jantung 120
x per menit, intensitas normal, ritme reguler, suara sistole dan diastole jelas, serta
adanya sinkronisasi antara pulsus dan jantung. Pemeriksaan lanjutan yang
dianjurkan untuk peneguhan diagnosa yaitu pemeriksaan menggunakan wood
lamp, pemeriksaan laboratorium dengan sampel kerokan kulit, dan pemeriksaan
mikroskopis. Diagnosa sementara adalah Ringworm dengan prognosa fausta.
Terapi yang perlu dilakukan yaitu pemberian alkohol 70% pada lesi, grooming,
pemberian anti fungal, dan pemberian vitamin. Kasus Ringworm pada kucing
yang diperiksa masih dalam derajat ringan dengan prognosa fausta. Terapi yang
perlu dilakukan yaitu pemberian alkohol 70% pada lesi, grooming, pemberian anti
fungal, dan pemberian vitamin.

Kata kunci: Kucing, Ringworm, Infestasi Parasit, Metode Kerokan Kulit,


Grooming.

Pendahuluan

Parasit adalah organisme yang hidupnya dapat menyesuaikan diri dengan


inangnya, sangat tergantung pada inangnya sebagai habitat dan pemberi
makannya dan merugikan organisme yang ditempelinya (inang). parasit dapat
dibagi menjadi 2 kelompok yang berbeda yaitu ektoparasit dan endoparasit,
menurut letak organ yang terinfeksi oleh parasit. Ektoparasit adalah parasit yang
melekat pada bagian permukaaan tubuh, sedangkan endoparasit adalah parasit
yang hidup di dalam tubuh inang, seperti saluran pencernaan, hati dan organ lain.
Scabies pada kucing merupakan suatu penyakit kulit yang disebabkan oleh
infestasi parasit luar sejenis tungau (tidak bisa dilihat tanpa alat bantu mikroskop)
yang hidupnya di folikel kulit. Penyakit tersebut muncul dengan ditandai
kerusakan jaringan kulit, apabila tidak segera dilakukan tindakan pengobatan
kucing tersebut akan mengalami infeksi sekunder (pembusukan) akibat
mikroorganisme pembusuk.
Masalah skabies masih banyak ditemukan di seluruh dunia, terutama pada
negara berkembang dan industri. Tingkat higiene, sanitasi dan sosial ekonomi
yang relatif rendah menjadi faktor pemicu terjangkitnya penyakit ini. Berbeda
dengan pernyataan di atas, Mc Carthy et al. (2004) menyebutkan bahwa skabies
dapat menyerang semua golongan sosial ekonomis. Rendahnya kesadaran serta
pengetahuan masyarakat tentang penyakit skabies, harga obat yang relatif mahal
dan bervariasinya hasil pengobatan juga masih perlu mendapat perhatian dari
kalangan praktisi kesehatan hewan ataupun manusia (Wardhana, et. al, 2006).
Ringworm atau dermatofitosis adalah infeksi oleh cendawan pada bagian
kutan/superfisial atau bagian dari jaringan lain yang mengandung keratin (bulu,
kuku, rambut dan tanduk). Trichopyton spp dan Microsporum spp, merupakan 2
jenis kapang yang menjadi penyebab utama ringworm pada hewan. Di Indonesia
yang
menonjol
diserang
adalah
anjing,
kucing
dan
sapi.
Penyebab ringworm ialah cendawan dermatofit yaitu sekelompok cendawan dari
genus Epidermophyton, Microsporum dan Trichophyton. Cendawan dermatofit
penyebab ringworm menurut taksonomi tergolong fungi imperfekti
(Deuteromycetes), karena pembiakannya dilakukan secara aseksual, namun ada
juga yang secara seksual tergolong Ascomycetes (Ahmad., R.Z. 2009).

Tinjauan Pustaka
I.

Scabiosis
Scabiosis adalah penyakit scabies atau kudis yang disebabkan oleh
sarcoptes berbagai jenis tungau atau kudis. Tungau merupakan Arthropoda
yang masuk dalam kelas Arachnida, subklas Acarina, ordo Astigmata, dan
famili Sarcoptidae. Contoh tungau Astigmata yaitu: Sarcoptes scabiei,
Psoroptes ovis, Notoedres cati, Chorieptes sp, dan Otodectes cynotis.
Notoedres cati, dan Chorieptes sp biasanya menyerang kambing domba,
kadang menyerang sapi dan kerbau. Sedangkan yang sering menyerang hewan
kesayangan yaitu tungau jenis Notoedres sp pada kucing dan kelinci.
Sarcoptes scabiei merupakan jenis yang paling patogen yang sering
menginfeksi pada hewan karena cakupan inangnya yang luas dan merupakan
parasit obligat (Vagulna dkk, 2014).

www.kucingkita.com

II.

Ringworm
Penyebab ringworm ialah cendawan dermatofit yaitu sekelompok
cendawan dari genus Epidermophyton, Microsporum dan Trichophyton.
Cendawan dermatofit penyebab ringworm menurut taksonomi tergolong fungi
imperfekti (Deuteromycetes), karena pembiakannya dilakukan secara
aseksual, namun ada juga yang secara seksual tergolong Ascomycetes. Jenis
dermatofit jumlahnya adalah 38 jenis, namun kemudian dapat dibedakan lagi
menjadi 84 strain (Zainuddin, 2014).

www.lysakal.com
III.

Pedikulosis
Parasit ini memang tepat dinamai kutu sesuai dengan bentuk tubuhnya
yang pipih. Kutu yang menginfeksi anjing dan kucing biasanya adalah
Felicolla subrostratus, Trichodectes canis, heteroduxus spiniger serta
Linognathus setosus. Kutu ini akan menimbulkan kegatalan pada kulit anjing
dan kucing serta tidak menyebar dan menimbulkan masalah bagi manusia,
biasanya muncul karena perawatan yang tidak baik (Fosters & Smith, 2014).

IV.

Cheyletiosis
Cheyletiosis adalah penyakit kulit pada hewan kesayangan yang
sebabkan oleh tungau Cheyletiella. Cheyletella terkenal dengan istilah
Walking Dundruff, istilah ini muncul karena jika dilakukan pemeriksaan
pada rambut kucing maka terlihat gambaran ketombe yang nampak bergerak-

gerak. Gerakan ini muncul karena adanya tungau di pangkal rambut yang
bergerak-gerak sehingga di ikuti gerakan dari rambut Barr Stephen et.al. 2010.

1.

Kasus

Anamnese merupakan berita atau keterangan atau keluhan dari pemilik


hewan mengenai keadaan hewannya ketika dibawa datang berkonsultasi
untuk pertama kalinya (Widodo, 2011). Anamnesa yang diperoleh yaitu
kucing betina bernama Andriani ras domestik yang baru diadopsi sekitar dua
minggu lalu, tidak ada riwayat vaksinasi lengkap dan pemberian obat cacing,
tidak pernah mendapatkan perawatan apapun.
Signalemen merupakan identitas diri dari seekor hewan yang
membedakannya dengan hewan lain sebangsa dan sewarna meski ada
kemiripan satu sama lainnya (Widodo, 2011). Pasien yang di tangani adalah
kucing betina bernama Andriani, ras domestik, memiliki warna bulu tortie,
berumur 4 bulan, berat badan 1 kg, dengan tanda khusus ada totol hitam di
telinga.
Status present, Pasien malas dan selalu ingin tidur di pelukan klien.
Pertumbuhan badan kucing baik yang di tunjukkan dari berat badan pasien
naik 2 ons dari berat badannya dua minggu yang lalu. Sikap berdiri normal,
suhu tubuh 38,5oC, frekuensi nadi 108 x per menit, serta frekuensi nafas 40 x
per menit. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan adanya infestasi ektoparasit
pada kucing. Hal tersebut ditunjukkan oleh di dapatnya pinjal selama
pemeriksaan dan juga adanya kerak di bagian telinga pasien. Kerontokan
rambut terlihat pada kedua telinga, kedua telinga juga kotor dan berbau
sedikit amis. Glandula parotis sebelah kanan teraba, glandula parotis bagian
kiri normal dibandingkan bagian kanan. Tipe pernafasan costal, intensitas
normal, ritme pernafasan reguler/teratur, suara pernafasan vesikular dan tidak
terdapat suara ikutan. Pada pemeriksaan perkusi lapangan jantung hasil yang
diperoleh adalah normal. Hasil pemeriksaan auskultasi jantung yaitu

frekuensi denyut jantung 120 x per menit, intensitas normal, ritme reguler,
suara sistole dan diastole jelas, serta adanya sinkronisasi antara pulsus dan
jantung.
Pemeriksaan lanjutan yang dianjurkan untuk peneguhan diagnosa yaitu
melalui pemeriksaan laboratorium (diperlukan sampel kerokan kulit, serpihan
kuku, atau rambut), dengan Wood lamp, pemeriksaan langsung dengan
mikroskop dengan KOH, atau dengan membuat biakan pada media.
Diagnosa sementara adalah Ringworm. Menurut Ahmad (2009), gejala
ringworm pada kucing, terutama oleh M. canis, sering tidak jelas. Namun,
umumnya ditandai dengan adanya pembentukan sisik pada lesi berbentuk
ring yang bersifat agak ringan, gatal-gatal adakalanya ditemukan kerontokan
bulu (rambut) sehingga daerah itu agak gundul, atau dalam hal ini terjadi lesi
yang lebih berat, dapat berbentuk kerak-kerak yang nyata, lesi ini sering
ditemukan di daerah wajah dan kaki., dalam keadaan infeksi yang lebih parah
dapat meluas ke beberapa bagian tubuh. Diagnosa banding : Penyakit ini
dapat dikelirukan dengan lesi yang diperlihatkan oleh gigitan serangga,
urtikaria, infeksi bakteri dan dermatitis lainnya, namun dengan adanya bentuk
cincin pada derah yang terinfeksi dan peneguhan diagnosa dengan
pemeriksaan laboratorium akan memastikan bahwa hewan tersebut menderita
penyakit.
Prognosis adalah proses suatu kasus penyakit berdasarkan hasil
diagnosis. Terdiri dari tiga tingkatan, yaitu:
1. Fausta : tingkat kesembuhan lebih dari 50%
2. Dubius : tingkat kesembuhan 50 : 50
3. Infausta : tingkat kesembuhan <50%
Kasus Ringworm pada hewan yang diperiksa merupakan kasus yang
ringan dan dapat dengan segera di obati sehingga prognosa yang di berikan
adalah fausta.
Terapi yang di berikan yaitu pemberian alkohol 70% pada lesi, grooming,
pemberian anti fungal, dan pemberian vitamin. Menurut Ahmad (2009).

Hasil Praktikum
Salinan kartu rekam medis (terlampir).

Diskusi
Di Dunia hewan peliharaan sangat dekat dengan pemilikanya termasuk juga di
Indonesia entah itu dipelihara dan ada yang liar. Hewan yang ada pemiliknya
umumnya dirawat oleh ownernya, ada pula yang tidak memeliharanya, dan ada
juga yang hidup liar di jalanan. Hewan yang hidup liar umumnya mudah terkena
penyakit kulit salah satunya adalah ringworm, yang kemudian bila berkontak
dengan hewan yang dipelihara ada menjadi reservoir penularan. Karena penyakit
kulit pada hewan kesayangan banyak bersifat zoonosis, saat hewan peliharaan
terkena namun pemilik tidak mengetahuiny, dan akan menjangkit si pemilik
hewan tersebut. Untuk itu tata laksana pemeliharaan hewan kesayangan amat
penting dan harus dilaksanakan, agar manusia dan hewannya sama-sama sehat.
Frekuensi penularan dermatofitosis pada hewan di Indonesia lebih rendah karena
faktor iklim tropis yang menguntungkan bila dibandingkan dengan negara yang
mempunyai iklim 4 musim (Ahmad, 2009).
Parasit ini banyak menginfeksi hewan berambut panjang (long hair) karena
sifatnya yang membutuhkan tempat yang lebih lembab. Ringworm ini cenderung
terbentuk pada hewan yang kurang diperhatikan kebersihannya dan memiliki
kelembaban kulit yang cukup untuk cendawan dapat hidup.
Kucing yang dijadikan sebagai bahan praktikum merupakan kucing ras
domestik yang baru di adopsi 2dua minggu lalu di selokan sehingga kemungkinan
mendapatkan penyakit kulit sangat besar namun setelah perawatan dan perbaikan
lingkungan infestasi ringworm mulai sembuh dengan di lihatnya lesi sudah mulai
menjadi kerak.

Kesimpulan
Penyakit kulit salah satu kasus terbesar di dunia semua hewan dapat terjangkit
dan memungkinkan bersifat zoonosis, pencegahan dan pengobatan bisa di lakukan
dengan cara meningkatkan daya tahan tubuh hewan.

Pustaka Acuan

Ahmad, R.Z. 2009. Permasalahan dan Penanggulangan Ring Worm pada Hewan.
Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis, hal 297-303.
Barr Stephen et.al. 2010. Canine and Feline Infectious Disease and Parasitology.
USA : Blackwell Publishing.
Fosters, & Smith. 2014. Lice (Pedikulosis) in Cats. Race Foster, DVM. Pet
education.com
Smith Jr., F. W. K. 2009. The 5 Minutes Veterinary Consult Canine and Feline ver
2. Lippincott Williams & Wilkins.
Vagulna, david Dkk. 2014. Sistem Pakar Diagnosis Penyakit Kulit pada Kucing
Menggunakan Metode Certainty Factor. JSIKA Vol 3, No 1 (2014) ISSN 2338137X. Surabaya: Stikom Surabaya
Wardhana, A.H., et al. 2006. Skabies: Tantangan Penyakit Zoonosis Masa
Kini.dan Masa Datang. Wartazoa Vol. 16 No. 1.
Widodo, Setyo. 2011. Diagnostik Klinik Hewan Kecil. Bogor : IPB Press.
Zainuddin, Ahmad R. 2014. Permasalahan dan Penanggulangan Ringworm pada
Hewan. Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor: Balai Penelitian
Veteriner.

Lampran
Perhitungan Pulsus

Perhitungan suhu

Di dapatnya kutu

Perhitungan jantung dan aukultasi sistole diastole

Palpasi cermin hidung

Palpasi konjuntivitis