Anda di halaman 1dari 12

DI 448 EKOLOGI DESAIN

Tinjauan Pengelolaan Limbah


Padat(Sampah) Rumah Tangga
Oleh: Aisyah Humairoh | 31.2012.105

1) PENDAHULUAN
a) Latar Belakang
Limbah padat merupakan jenis limbah yang terbanyak di
lingkungan dan salah satu faktor penyebab rusaknya lingkungan
hidup. Limbah tersebut dihasilkan dari sisa-sisa proses atau
kegiatan industri maupun domestik (rumah tangga) baik yang
organik maupun anorganik. Limbah organik adalah limbah yang
dapat

membusuk

dan

dapat

terurai

oleh

mikroorganisme,

sedangkan anorganik merupakan kebalikannya. Dalam hal limbah


padat tersebut atau yang biasa dikenal dengan sampah, hal yang
paling mengganggu lingkungan adalah bau yang menusuk dan
pemandangan yang kotor.
Selama ini sampah organik maupun anorganik dalam rumah
tangga biasanya dikumpulkan dalam satu wadah yang diambil oleh
petugas kebersihan pada waktu-waktu tertentu. Sampah kemudian
diangkut ke tempat pembuangan sampah tingkat RW dan kelurahan
atau yang umum dikenal dengan nama Tempat Pembuangan
sampah Semantara (TPS) hingga akhirnya diangkut

oleh Dinas

Kebersihan kota ke Tempat Pembuangan sampah Akhir (TPA).


Dilihat dari pola pembuangan sampah tersebut, TPA sangat
terbebani karena harus menampung sampah yang ada dari seluruh
bagian kota dan hal itu yang dirasakan menjadi masalah oleh
kebanyakan kota besar di Indonesia.
Setiap tahun biaya yang dibutuhkan untuk penyediaan sarana
transportasi

(gerobak/motor

sampah,

truk

sampah

dan

loader/buldozer) dan lahan tempat pembuangan sampah (baik TPS


dan TPA) semakin meningkat sementara alokasinya masih terbatas.
Melalui kajian ini, penulis mencoba mencari alternatif solusi
agar pola pembuangan sampah dapat diperbaiki sehingga sampah
yang masuk ke TPA pada akhirnya hanya berupa sampah yang tidak
dapat diolah kembali.
b) Identifikasi Masalah
Berdasarkan fenomena diatas, dapat diketahui permasalahanpermasalahan yang terjadi pada pola pembuangan sampah di Kota
Besar di Indonesia antara lain:
2

Sampah organik dan anorganik yang disatukan pembuangannya.


Kurangnya kesadaran masyarakat akan pencemaran lingkungan.
Kurangnya pemahaman dan peran aktif masyarakat dalam

memilah sampah.
Belum ada pola pembuangan sampah yang baik yang diterapkan
di Indonesia.

c) Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah:
Meningkatkan
partisipasi
masyarakat

terhadap

proses

pengelolaan sampah khususnya sampah rumah tangga.


Membudayakan cara pembuangan sampah yang baik mulai dari

lingkungan rumah hingga ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS).


Mengurangi tingkat pencemaran lingkungan pada kota-kota

besar di Indonesia.
Mencari alternatif pengaplikasian pola pembuangan sampah di
Indonesia.

2) TEORI-TEORI TERKAIT
a) Pengertian sampah
Menurut wikipedia, sampah diartikan sebagai material sisa
yang tidak lagi diinginkan setelah berakhirnya suatu proses.
Sampah adalah zat kimia, energi atau makhluk hidup yang tidak
mempunyai nilai guna dan cenderung merusak.
Sampah juga diartikan oleh Ecolink (1996 dalam Milyandra,
2009), adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber
hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki
nilai ekonomis.
b) Klasifikasi sampah
Klasifikasi limbah padat (sampah) menurut istilah teknis ada 6
kelompok yaitu:
1. Sampah organik mudah busuk (garbage), yaitu limbah padat
semi basah, berupa bahan-bahan organik yang mudah busuk
atau terurai mikroorganisme. Sampah ini umumnya berasal
dari sektor pertanian dan makanan, misalnya sisa dapur, sisa
makanan, sampah sayuran, dan kulit buah-buahan.
2. Sampah anorganik dan organik tak membusuk (rubbish), yaitu
limbah padat anorganik atau organik cukup kering yang sulit
3

terurai

oleh

mikroorganisme,

sehingga

sulit

membusuk,

misalnya kertas, plastik, kaca dan logam.


3. Sampah abu (ashes), yaitu limbah padat yang berupa abu,
bisaanya hasil pembakaran. Sampah ini mudah terbawa angin
karena ringan dan tidak mudah membusuk.
4. Sampah bangkai binatang (dead animal), yaitu semua limbah
yang berupa bangkai hewan/binatang (selain tumbuhan).
5. Sampah sapuan (street sweeping), yaitu limbah padat hasil
sapuan jalanan yang berisi berbagai sampah yang tersebar di
jalanan, seperti dedaunan, kertas, dan plastik.
6. Sampah industri (industrial waste), semua limbah padat
buangan industri. Komposisi sampah ini tergantung dari jenis
industrinya.
c) Cara pengolahan sampah
Cara untuk mengolah Limbah dapat menggunakan konsep 5 R yang
berasal dari 5 kata dalam bahasa Inggris yaitu Reduce (Mengurangi),
Reuse

(Menggunakan

kembali),

Recycle

(Mendaur

Ulang),

Replace

(Menggunakan kembali) dan Replant (Menanam Kembali). Istilah istilah


ini sering disebutkan dalam upaya melestarikan lingkungan hidup.
1. Recycle
Recycle atau mendaur ulang adalah kegiatan mengolah kembali
atau mendaur ulang. Pada perinsipnya, kegitan ini memanfaatkan
barang bekas dengan cara mengolah materinya untuk dapat
digunakan lebih lanjut. Contohnya adalah memanfaatkan dan
mengolah sampah organik untuk dijadikan pupuk kompos.
2. Reuse
Reuse atau penggunaan kembali adalah kegiatan menggunakan
kembali material atau bahan yang masih layak pakai. Sebagai
contoh, kantong plastik atau kantng kertas yang umumnya didapat
dari

hasil

kita

berbelanja,

sebaiknya

tidak

dibuang

tetapi

dikumpulkan untuk digunakan kembali saat dibutuhkan. Contoh lain


ialah menggunakan baterai isi ulang.
3. Reduce

Reduce atau Pengurangan adalah kegiatan mengurangi pemakaian


atau pola perilaku yang dapat menguarangi produksi sampah serta
tidak

melakukan

pola

konsumsi

yang

berlebihan.

Contoh

menggunakan alat-alat makan atau dapur yang tahan lama dan


berkualitas sehingga memperpanjang masa pakai produk atau
mengisi ulang atau refill produk yang dipakai seperti aqua galon,
tinta printer serta bahan rumah tangga seperti deterjen, sabun,
minyak goreng dan lainnya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi
potensi bertumpuknya sampah wadah produk di rumah Anda.
4. Replace
Replace atau Penggantian adalah kegiatan untuk mengganti
pemakaian suatu barang atau memakai barang alernatif yang
sifatnya lebih ramah lingkungan dan dapat digunakan kembali.
Upaya ini dinilai dapat mengubah kebisaaan seseorang yang
mempercepat
menggunakan

produksi
kontong

sampah.

plastik

atau

Contohnya
kertas

mengubah

belanjaan

dengan

membawa tas belanja sendiri yang terbuat dari kain.


5. Replant
Replant atau penamanan kembali adalah kegiatan melakukan
penanaman kembali. Contohnya melakukan kegiatan kreatif seperti
membuat pupuk kompos dan berkebun di pekarangan rumah.
Dengan menanam beberapa pohon, lingkungan akanmenjadi indah
dan asri, membantu pengauran suhu pada tingkat lingkungan mikro
(atau sekitar rumah anda sendiri), dan mengurnagi kontribusi atas
pemanasan global.
d) Penanganan sampah di Jerman
Menurut Landri (2008:1),
Penanganan sampah di jerman benar-benar dimulai dari rumah tangga.
Begitu juga dilingkungan perkantoran, perusahaan, dan pertokoan.
Sampah sudah dipilah-pilah berdasarkan jenis dari titik pertama produksi
sampah.
Pada dasarnya penanganan sampah memang perlu dilakukan dari
linkungan terkecil seperti rumah tangga. Sampah rumah tangga ini adalah
sampah yang biasa kita hasilkan di rumah.
5

Menurut Landri(2008:1),
Setiap perumahan penduduk, toko, kantor, restaurant, dan industri di
Jerman wajib memiliki sedikitnya 2 macam tong sampah yang disediakan
oleh Dinas Kebersihan Pemerintah Daerah setempat.
Perlu adanya dukungan dari pemerintah agar masyarakat dapat
berkontribusi langsung terhadap pengolahan sampah. Di Jerman sendiri
Pemda

setempat

yang

diwakili

Dinas

kebersihan,

mewajibkan

penduduknya minimal memiliki 2 macam tong sampah. Dan hal ini


dirasakan sangat berdampak positif, agar pemilahan sampah dapat
berjalan dengan lancar. Selain itu Pemerintah jerman juga sangat antusias
terhadap pengolahan sampah ini,sehingga mereka memberikan dengan
cuma-cuma kantong plastik sampah yang diberi nama Gelbbersack ke
setiap rumah tangga. Kantong ini difungsikan untuk menyimpan sampah
yang masih dapat diolah kembali atau recycling, seperti kaleng, plastik,
kertas (sampah anorganik).
Menurut Irawati (2009:1)
Secara umum pengolahan sampah di Jerman dibagi menjadi 3 bagian :
pengumpulan, pengangkutan, dan pengolahan.
Menurut Landri (2008:3)
Setiap tahun sebanyak 525.000 ton sampah yang di bakar di
industri batubara merah di Schoningen.
Hal ini menggambarkan bahwa di Jerman, sampah merupakan barang
yang sangat berharga. Sehingga mereka tidak mengenal sampah yang
sia-sia. Pemerintah setempat akan berusaha menjadikan sampahsampah ini menjadi sumber energi.
Schoningen adalah pusat pengolahan sampah yang berproduksi 24
jam dan setiap hari. Sampah-sampah yang dibakar menjadi sumber energi
ini diambil dari berbagai kota yang ada di Jerman. Sumber energi yang
digunakan di tempat pengolahan sampah ini, berasal dari sampah dan
batu bara merah.
6

e) Proses pengelolaan sampah dengan basis partisipasi aktif


masyarakat
Menurut salah satu artikel di kompasiana, Pada umumnya proses
pengelolaan sampah dengan basis partisipasi aktif masyarakat
terdiri dari beberapa tahapan proses, antara lain:
1. Mengupayakan agar sampah rumah tangga dikelola, dipilah dan
diproses, tahap awal mulai dari tempat timbunan sampah itu
sendiri (dalam hal ini mayoritas adalah lingkungan rumah
tangga). Upaya ini sebaiknya dapat mengurangi timbunan
sampah yang harus dikumpulkan dan diangkut ke TPS sehingga
bebannya menjadi berkurang.
2. Mengolah sampah organik menjadi kompos dan sampah non
organik dipilah menurut jenisnya sehingga memungkinkan untuk
di daur ulang. Sampah organik sebenarnya telah dapat diproses
menjadi kompos di setiap rumah tangga pada tong-tong sampah
khusus kompos (Komposter BioPhosko) yang mampu memproses
sampah menjadi kompos untuk periode tampung antara 5-7 hari
dengan bantuan mikroba pengurai dan penggembur. Bila proses
pengomposan di tiap rumah tangga belum mungkin dilakukan,
selanjutnya petugas sampah mengangkut sampah yang telah
terpilah ke tempat pembuangan sampah atau TPS di beberapa
bagian kota diketahui bahwa masing-masing sampah non organik
sangat memiliki nilai ekonomi.
3. Pewadahan dan pengumpulan dari wadah tempat timbunan
sampah

sisa

sementara.
4. Pengangkutan

yang
ke

sudah
tempat

dipilah

ke

tempat

pembuangan

atau

penimbunan
ke

tempat

pengolahan sampah terpadu. Pada tahapan ini diperlukan kotak


penampungan sampah dan gerobak pengangkut sampah yang
sudah dipilah.
5. Tahapan selanjutnya adalah pengolahan sampah yang tidak
memungkinkan untuk diolah di setiap lingkungan rumah tangga
di TPS. Tempat pembuangan sampah sementara (TPS) yang ada
dengan pendekatan ini kemudian diubah fungsinya menjadi
7

semacam pabrik pengolahan sampah terpadu, yang produk hasil


olahnya adalah kompos, bahan daur ulang dan sampah yang
tidak dapat diolah lagi.
6. Tahapan akhir adalah pengangkutan sisa akhir sampah, sampah
yang tidak dapat didaur ulang atau tidak dapat dimanfaatkan lagi
ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA). Pada fase ini
barulah proses penimbunan atau pembakaran sampah akhir
dapat dilakukan dengan menggunakan incinerator, sekitar 5-10%
sampah yang tidak bisa didaur ulang.
3) PEMBAHASAN
Masalah sampah di indonesia sebenarnya dapat dipecahkan dengan
baik sebagaimana yang berhasil dilakukan di negara maju dengan cara
mengadopsi proses pengolahan sampah di negara tersebut. Namun unuk
mewujudkan hal itu yang pertama dilakukan adalah mensosialisasikan
tentang pentingnya menjaga lingkungan kepada masyarakat luas agar
menyadari dampak negatif dari pencemaran lingkungan yang dihasilkan
oleh sampah. Dengan itu, pengolahan sampah sudah dapat dimulai dari
lingkungan terkecil, yaitu rumah tangga.
Menurut salah satu warga indonesia yang pernah tinggal di salah
satu kota besar di Jerman yang merupakan negara maju, pengelolaan
sampah di kota tersebut dimulai dari pengkategorian sampah ketika di
dalam rumah. Dan di setiap lingkungan warga terdapat kotak untuk
sampah kain dan botol kaca.
Setiap rumah tinggal di kota tersebut memiliki 4 kotak sampah yang
akan diisi oleh beberapa kategori sampah (beberapa kota hanya
menerapkan 2 kotak). Berikut 4 jenis sampah yang dipisahkan:
1. Sampah kertas (kardus, kertas, dan sebagainya)
2. Sampah bio (dalam hal ini merupakan sampah organik seperti sisa
makanan, tumbuhan mati, dan sebagainya)
3. Sampah plastik (semua yang jenisnya sintetis)
4. Sampah lain-lain (barang yang tidak dapat dikategorikan apapun
seperti: paku, kaleng, pembalut,dll)

Sampah

tersebut

kemudian

diambil

oleh

petugas

kebersihan

menggunakan mobil sampah. Di mobil tersebut juga terdapat bilik-bilik


sampah sesuai dengan kategori sampah.

Gambar 1- kategori sampah rumah tangga di salah satu kota besar di Jerman
Gambar 2- kotak sampah khusus untuk botol kaca

Ket:
Biru : sampah kertas
Kuning
: sampah plastik
Hijau : sampah organik
Hitam : sampah lain-lain

(Sumber: dokumentasi dari rekan yang tinggal di Jerman)

Cara pengelolaan sampah di Jerman tersebut dapat diaplikasikan di


kota-kota Besar di Indonesia setelah disesuaikan berdasarkan lingkungan
di masing-masing kota. Berikut merupakan salah satu proses pengelolaan
sampah yang dapat diterapkan sesuai dengan lingkungan kota di
indonesia:
1. Menyediakan kotak sampah dengan 4 kategori yang berbeda (kertas,
organik, plastik, dan sampah lain-lain). Hal ini bertujuan untuk
membudayakan cara pembuangan sampah yang baik mulai dari
lingkungan rumah hingga ke Tempat Pembuangan sampah Sementara
(TPS) dengan menggunakan kotak sampah terpisah. Lalu di tiap RW
disediakan kotak sampah kain dan kotak botol kaca.
2. Kemudian gerobak/motor sampah yang telah memiliki bilik sampah
terpisah mengambil sampah ke rumah warga untuk dibawa ke Tempat
Pembuangan sampah Sementara (TPS). (Gerobak/motor sampah
sebagai kendaraan yang digunakan mengingat terdapat banyaknya
pemukiman warga yang terletak di gang-gang sempit).
TPS dapat menjadi pusat pemanfaatan sampah organik dan non
organik secara maksimal. Sampah organik dapat dijadikan kompos.
3. Sampah non organik dapat dijadikan bahan baku untuk diolah menjadi
bahan daur ulang (kertas, kaca plastik, dsb)
9

4. Sisa sampah yang tidak dapat didaur ulang atau tidak dapat
dimanfaatkan lagi dibawa ke Tempat Pembuangan sampah Akhir (TPA).
Pada fase ini, sisa sampah dapat ditimbun dan dibakar dengan

menggunakan incinerator.
Gambar 4-mesin incinerator
(Sumber: http://metalindoeng.indonetwork.co.id/1360736/incinerator-inceneratorpembakar-limbah-pembakar-sampah.htm)
Gambar 5-Cara kerja mesin incinerator

(Sumber: http://mix-maxy.blogspot.com/2012/05/tentang-incinerator.html)

Pengaplikasian

model

pengelolaan

ini

tergantung

dari

sikap

masyarakat dalam memperlakukan sampah serta perlunya dorongan dari


pemerintah. Semakin sadar masyarakat akan pentingnya berkontribusi
dalam menjaga kebersihan lingkungan maka akan semakin mudah proses
ini untuk dilaksanakan. Untuk itu peran pemerintah, LSM, serta peran
dunia usaha dalam mensosialisasikan hal ini harus didukung dengan
penerapat peraturan berupa undang-undang tentang lingkungan dan

10

pengelolaan sampah yang baik dan benar. Dengan itu, maka masalah
sampah khususnya di perkotaan dapat teratasi.

Sumber Referensi:
http://mipa.ucoz.com/index/pengelompokan_limbah_berdasarkan_wujudny
a/0-39 oleh anonim. Dilihat pada tanggal 13 Juni 2015 pukul 09.10 WIB
http://www.artikellingkunganhidup.com/cara-menerapkan-konsep-5-r.html
oleh anonim. Dilihat tanggal 13 Juni 2015 pukul 09.16 WIB
http://ayouk91.blogspot.com/2010/04/dampak-negatif-sampah-dancara.html?m=1 oleh Putri Ayu A.L. Dilihat pada tanggal 14 juni 2015 pukul
16.15 WIB
http://mchmdwhyhdyt.blogspot.com/2010/01/pengolahan-sampah-dijerman-oleh-putri.html Dilihat pada tanggal 14 Juni 2015 pukul 16.21WIB

11

http://kompasiana.com/hasrulhoesein/penanganan-sampah-dengan-peranaktif-masyarakat-_54fff3bba333111c6c50f82b oleh H. Asrul hoesein.


Dilihat pada tanggal 14 Juni pukul 16.28

12