Anda di halaman 1dari 65

Lampiran 1.

Teks Pidato Presiden SBY HUT Ke-64 RI 2009

Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia


Dalam Rangka Peringatan Hari Ulang Tahun Ke 64 Kemerdekaan Republik
Indonesia
Di Depan Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
Gedung MPR-DPR, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2009
Jakarta, 14 Agustus 2009
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Yang saya hormati, Saudara Ketua, para Wakil Ketua, dan para Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
Yang saya hormati, Saudara Ketua, para Wakil Ketua, dan para Anggota LembagaLembaga Negara,
Yang Mulia para Duta Besar dan Pimpinan Perwakilan Badan-badan dan Organisasi
Internasional,
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air,
Hadirin yang saya muliakan,
Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang
Maha Kuasa, Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita masih diberi
kesempatan, kekuatan, dan insya Allah kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita,
karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara
tercinta. Kita juga bersyukur, pada pagi hari ini dapat menghadiri Rapat Paripurna
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) dalam rangka Peringatan
Hari Ulang Tahun ke-64 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pada tahun 2009 ini, menyambut peringatan hari kemerdekaan pada bulan Agustus,
ada tradisi baru dalam pidato kenegaraan yang disampaikan oleh Presiden. Pada
bulan Agustus tahun ini saya menyampaikan pidato kenegaraan di depan parlemen
sebanyak tiga kali. Pertama adalah pidato untuk mengantarkan RAPBN tahun
anggaran 2010 beserta nota keuangannya, di depan Dewan Perwakilan Rakyat, dan
yang juga dihadiri oleh pimpinan dan anggota Dewan Perwakilan Daerah. Yang
kedua adalah pidato ini, yang saya sampaikan menjelang peringatan detik-detik
proklamasi kemerdekaan kita, di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat, dengan tema
besar refleksi kemerdekaan dan dinamika perjalanan bangsa. Dan yang ketiga adalah
pidato yang insya Allah akan saya sampaikan di hadapan Dewan Perwakilan Daerah,
dengan tema utama pembangunan nasional, utamanya aspek pembangunan daerah.
123
Universitas Sumatera Utara

Oleh karena itu hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan dan dinamika
pembangunan yang sedang kita jalankan, termasuk capaian dan tantangannya, akan
saya sampaikan pada pidato di hadapan Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Daerah
nanti. Ketiga pidato ini adalah suatu rangkaian pidato tahunan Presiden yang
disampaikan kepada rakyat Indonesia di hadapan wakil-wakil rakyat.
Saudara-saudara,
Pada kesempatan yang baik ini, di depan sidang yang terhormat ini, saya mengajak
saudara-saudara se-bangsa dan se-tanah air untuk melakukan refleksi perjalanan
kehidupan bangsa Indonesia yang telah berjalan selama 64 tahun. Ada tiga momen
sejarah bangsa yang ingin saya ajak saudara-saudara untuk merenungkannya, dan
mengambil mutiara kebajikan (wisdom), yang berguna bagi perjalanan bangsa kita ke
depan. Bukankah pepatah mengatakan : sejarah adalah guru kehidupan?
Pertama, tentang makna proklamasi kemerdekaan 1945, dan bagaimana kita terus
mengaktualisasikan semangat kemerdekaan ini di masa kini dan di masa mendatang.
Refleksi yang kedua adalah tentang apa yang terjadi di negeri kita lima puluh tahun
yang lalu. Kita kenal ada tonggak sejarah penting pada waktu itu, yaitu
dikeluarkannya Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959, untuk kembali kepada
Undang-undang Dasar 1945. Ini merupakan tonggak sejarah, karena kalau kita lihat
benang merahnya, sesungguhnya bangsa Indonesia yang baru merdeka saat itu, ingin
betul mencari bentuk atau sosok demokrasi yang diyakini paling tepat untuk negeri
kita.
Sedangkan refleksi yang ketiga, saya mengajak untuk merenungkan apa yang terjadi
di negeri kita sepuluh tahun yang lalu. Tahun 1999 juga merupakan tonggak sejarah
bangsa. Sesungguhnya, setelah kita mengalami krisis yang luar biasa tahun 1998,
maka tahun 1999 merupakan awal dari era reformasi yang sampai sekarang tengah
kita jalankan. Awal dari era reformasi kita ditandai dengan dua hal penting. Pertama,
untuk pertama kalinya dilakukan amandemen terhadap konstitusi kita, yaitu UndangUndang Dasar 1945. Kedua, berakhirnya Dwi Fungsi ABRI yang juga berarti
berakhirnya peran politik ABRI dalam kehidupan bernegara kita.
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah air, marilah kita melakukan refleksi yang
pertama, yaitu makna Indonesia Merdeka.
Kemerdekaan adalah jembatan emas demikian kata Presiden pertama kita,
sekaligus proklamator kemerdekaan, Bung Karno. Melalui jembatan emas itu,
bangsa Indonesia meninggalkan kegelapan alam penjajahan dan memasuki alam
kemerdekaan dengan penuh sinar harapan.
Memang, proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 adalah
kulminasi dari suatu perjuangan yang menakjubkan. Kemerdekaan itu kita rebut, kita
raih dan kita pertahankan dengan segala pengorbanan : dengan darah, keringat dan air
124
Universitas Sumatera Utara

mata.
Kita patut berbangga, karena revolusi kemerdekaan Indonesia telah menjadi salah
satu revolusi besar di abad ke-20 yang turut mengubah dunia. Setelah Perang Dunia II
berakhir, Indonesia adalah salah satu bangsa yang paling awal memproklamasikan
kemerdekaannya. Setelah itu, api revolusi kemerdekaan ini dengan cepat menjalar ke
berbagai penjuru di Asia dan Afrika, memerdekakan India, Ghana, Aljazair, Mesir,
Filipina, Myanmar, Laos Vietnam, Sri Lanka dan banyak lagi. Akibatnya, peta politik
dan geopolitik dunia di abad ke-20 berubah secara drastis. Dan negara kita, Indonesia,
adalah pelopor dalam arus dekolonisasi yang dahsyat itu.
Dalam Undang-Undang Dasar 1945, yang dikeluarkan sehari setelah proklamasi,
tercantum cita-cita dan tujuan nasional kita. Para pendiri bangsa bertekad untuk
mendirikan suatu negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Dalam Pembukaan UUD 1945, para pendiri bangsa juga bertekad untuk melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, serta memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan
sosial.
Semua ini mengingatkan kita bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa pejuang.
Semangat juang yang luhur ini tidak boleh padam. Bahkan, dalam konteks era
demokrasi dan globalisasi dewasa ini, semangat perjuangan ini justru menjadi
semakin relevan dalam upaya kita bersama untuk mewujudkan Indonesia yang maju
dan unggul di abad ke-21. Kita harus terus menjaga karakter perjuangan ini dan
mewariskannya kepada generasi mendatang.
Kita juga harus terus menjaga aset terpenting dari revolusi kemerdekaan kita : yaitu
persatuan Indonesia. Bagi kita, persatuan adalah awal dari kebangkitan. Persatuan
adalah kekuatan. Dan persatuan adalah syarat utama bagi kelestarian Bhinneka
Tunggal Ika yang kita junjung bersama. Semenjak kemerdekaan, betapapun beratnya
tantangan yang dihadapi bangsa, kita selalu berhasil mengatasinya selama kita
menjaga persatuan dan kesatuan. Karena itu, prinsip yang selalu kita pegang adalah:
bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. In crucial things, unity !
Kemerdekaan Indonesia juga melahirkan ideologi dan dasar negara kita, yaitu
Pancasila. Setelah mengalami berbagai pasang surut sejarah, dan setelah kita
melampaui berbagai tantangan dan ujian, bangsa Indonesia semakin yakin terhadap
makna Pancasila bagi bangsa Indonesia. Kita semakin yakin bahwa Pancasila sebagai
ideologi dan dasar negara sudah final, dan tidak dapat diubah, serta tidak dapat
ditawar lagi. Kita harus terus memaknakan Pancasila sebagai ideologi terbuka,
sebagai open and living ideology, dan bukan sebagai dogma yang statis dan
menakutkan. Pancasila harus terus menjadi sumber inspirasi dan sumber solusi dari
proses nation-building Indonesia ke depan.
125
Universitas Sumatera Utara

Saudara-saudara,
Setelah proklamasi kemerdekaan, pembebasan dari penjajahan, perjalanan kita
sebagai bangsa amatlah berwarna dan penuh dengan romantika kehidupan. Republik
yang masih muda, kala itu, harus mencari perpaduan warna-warni demokrasi yang
paling sesuai dengan karakteristik kita sebagai bangsa. Proses pencarian demokrasi
(in search of democracy) yang terkadang mengalami masa pasang, namun tidak
jarang pula mengalami masa surut. Pengalaman pencarian ini memotret jatuhbangunnya kehidupan demokrasi di tanah air tercinta ini. Bahkan, pernah pula
penerapan suatu jenis demokrasi yang lebih bersifat trial and error, yang tentunya
tidak akan langgeng dan mudah gagal, karena diterpa berbagai permasalahan
kehidupan berbangsa dan bernegara yang kita lakukan.
Sejarah mencatat, sejak awal kemerdekaan, hingga era kehidupan bernegara saat ini,
kita pernah menganut berbagai model demokrasi. Dari tahun 1945 hingga tahun 1959,
demokrasi parlementer hadir. Pada saat itu, pemerintah datang dan pergi dengan
cepat, tanpa benar-benar sempat melakukan konsolidasi ataupun menjalankan
program-programnya. Selanjutnya, mulai 1959, ditandai dengan terbitnya Dekrit
Presiden 5 Juli 1959, lahirlah era Demokrasi Terpimpin. Keputusan dan kehidupan
bernegara terpusat dan nyaris dikuasai oleh presiden. Mekanisme checks and
balances tidak berjalan secara efektif. Sejak tahun 1966, model demokrasi yang
bernuansa serupa, meski dengan nama yang berbeda, hadir di era Orde Baru.
Demokrasi yang bernama luhur Pancasila, tetapi tidak utuh, bahkan menyimpang
dalam penerapannya. Yang justru muncul adalah otoritarianisme yang tentulah
bertentangan dengan prinsip dan nilai demokrasi itu sendiri.
Sesungguhnya kita memahami mengapa melalui Dekrit Presiden, Presiden Soekarno
memilih untuk kembali ke UUD 1945, karena Konstituante yang mendapatkan
mandat untuk menyusun konstitusi belum dapat menyelesaikan tugasnya, sementara
keadaan politik amat tidak stabil sehingga pemerintah tidak dapat bekerja dengan
baik. Sementara itu, kita juga memahami mengapa Presiden Soeharto memilih
demokrasi yang semi otoritarian karena ingin menghadirkan stabilitas politik agar
pembangunan ekonomi dapat dilaksanakan dengan baik. Plus dan minus dari 2 corak
demokrasi itulah, yang juga tidak dapat dilepaskan dari konteks tantangan dan
permasalahan kehidupan bernegara pada kurun waktu yang bersangkutan, mendorong
kita untuk menemukan dan memilih model demokrasi yang paling tepat untuk kita
jalankan.
Saudara-saudara,
Setelah reformasi, sejak tahun 1998, kita bekerja keras untuk menapaki lagi jalan
panjang pemurnian demokrasi. Setelah 10 tahun reformasi, yang mengemuka adalah
praktik sistem demokrasi multipartai presidensial. Yaitu pemerintahan presidensial
yang berpijak pada sistem multipartai yang tidak sederhana. Sistem demikian,
meskipun ini merupakan koreksi dari demokrasi yang kita anut pada masa Orde Baru,
126
Universitas Sumatera Utara

dalam dirinya juga menghadirkan tantangan yang tidak ringan. Karena, di tengah
beraneka ragamnya kepentingan partai politik, jalannya pemerintahan harus tetap
berlangsung secara efektif.
Perjalanan sejarah lebih dari enam dekade tersebut, tentunya menghadirkan kesadaran
bahwa apapun pilihan demokrasi yang kita terapkan, mempunyai permasalahan dan
tantangannya sendiri; ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun
demikian, kita harus pastikan bahwa bentuk demokrasi yang kita pilih harus tetap
sejalan dengan nilai-nilai demokrasi yang universal. Di sisi lain, penerapan demokrasi
juga mesti tetap memperhatikan nilai-nilai lokal, serta sifat dasar bangsa kita yang
majemuk. Hanya dengan pilihan konsisten demikianlah, bangsa ini akan makin kokoh
dalam alur pematangan demokrasi yang saat ini sedang dan terus kita jalankan.
Ke depan, pematangan demokrasi kita, harus berjalan seiring dengan prinsip-prinsip
dasar konstitusionalisme. Demokrasi mesti makin egaliter, yaitu demokrasi yang
makin meneguhkan pelaksanaan mekanisme saling kontrol dan saling imbang (checks
and balances) dalam praktek kehidupan politik kita. Demokrasi yang berlandaskan
pada penghormatan dan pelaksanaan penegakan hukum yang adil dan bermartabat
(rule of law). Demokrasi yang makin menjamin dan melindungi kebebasan dan hakhak asasi manusia. Serta, demokrasi yang kehadirannya tetap menjamin terjaganya
stabilitas dan ketertiban politik. Dengan demikian, insya Allah, demokrasi yang kita
terapkan dan wujudkan, akan selalu sejalan dan satu nafas dengan tuntutan dan
kemajuan peradaban bangsa kita.
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah air,
Sepuluh tahun yang lalu, masih terbayang dalam ingatan kita, negara kita mengalami
krisis yang dahsyat. Mungkin sebagian besar yang ada dalam ruangan ini, masih
mengingat pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia pada tahun itu. Tahun
1999 adalah tahun yang sarat dengan persoalan dan tantangan. Banyak kalangan
dalam dan luar negeri yang mencemaskan masa depan negara kita, termasuk
kelangsungan hidup kita sebagai negara.
Paling tidak, pada saat itu, ada lima skenario yang bisa terjadi, ke arah mana masa
depan Republik Indonesia akan bergulir. Yang pertama meramalkan bahwa Indonesia
akan mengalami balkanisasi, terpecah-pecah menjadi banyak negara kecil-kecil,
karena munculnya sentimen kedaerahan yang kuat di mana-mana. Skenario kedua,
melihat Indonesia berubah menjadi negara Islam bergaris keras, karena munculnya
sentimen keagamaan yang ingin meminggirkan ideologi Pancasila. Skenario ketiga
meramalkan Indonesia akan berubah menjadi negara semi otoritarian yang arahnya
tak jelas. Skenario keempat justru melihat Indonesia berjalan mundur, kembali
memperkuat negara otoritarian. Dan hanya sedikit yang meramalkan bahwa Indonesia
bisa menjalankan skenario kelima, yaitu menjadi negara demokrasi, terlebih lagi
negara demokrasi yang stabil dan terkonsolidasikan.

127
Universitas Sumatera Utara

Alhamdulillah, saudara-saudara, kita bisa melalui tahun-tahun yang berat itu dengan
selamat. Di tahun 2009 ini, sepuluh tahun sejak reformasi bergulir, Indonesia masih
tegak berdiri, bahkan semakin berkibar, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas
sampai Pulau Rote. Sekarang ini, kita bisa bangga bahwa negara kita adalah negara
demokrasi yang maju di Asia Tenggara, negara yang menjunjung tinggi asas
kedaulatan rakyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kita mesti memberi hormat seraya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada Presiden B.J. Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, dan
Presiden Megawati Soekarnoputri, pendahulu-pendahulu saya, atas kepemimpinan
dan kerja keras beliau-beliau di masa-masa sulit itu, pada lima tahun pertama era
reformasi.
Saya juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada segenap komponen
bangsa, yang pada lima tahun ke dua era reformasi, ikut berkontribusi dan membantu
saya dalam mengelola, mengawal dan terus menata arah reformasi kita. Periode 5
tahun ini, sebagaimana yang kita ketahui dan rasakan bersama, negara kita juga
menghadapi tantangan dan ujian, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Insya
Allah, reformasi yang sedang dan terus kita jalankan ini akan benar-benar membawa
manfaat dan kemaslahatan bagi bangsa dan negara.
Saudara-saudara,
Kita pun masih ingat semangat dan cita-cita reformasi yang bergelora pada saat itu.
Kita ingin demokrasi tumbuh dan mekar di republik ini. Kita ingin menghadirkan
konstitusionalisme dan checks and balances dalam kehidupan bernegara. Kita ingin
mewujudkan negara yang menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, tanpa
diskriminasi. Kita merindukan negara yang menjamin hak warga negara untuk
berserikat, berkumpul, dan menyatakan pendapat, termasuk hadirnya kebebasan pers.
Kita mendambakan pemilihan umum yang aman, damai, jujur dan adil. Kita
mengharapkan hukum dan keadilan ditegakkan, serta korupsi, kolusi dan nepotisme
terus diberantas. Kita bertekad untuk mewujudkan negara yang dikelola dengan tata
pemerintahan yang baik (good governance). Lebih lanjut lagi, kita juga ingin
mewujudkan pembangunan yang inklusif dengan desentralisasi dan otonomi daerah,
sehingga rakyat Indonesia di daerah-daerah dapat merasakan manfaat pembangunan
secara adil dan bermartabat. Bersamaan dengan itu, kitapun menuntut pembangunan
ekonomi yang makin inklusif dan berkeadilan.
Dalam sepuluh tahun ini, sejumlah perubahan besar telah dan sedang kita jalankan.
Kita telah melaksanakan reformasi konstitusi dengan melakukan empat kali
perubahan terhadap Undang-undang Dasar 1945, yang salah satu tujuannya adalah
memperkuat parlemen kita. Reformasi juga melahirkan lembaga-lembaga negara
yang baru, seperti Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Konstitusi, Komisi
Pemberantasan Korupsi dan lain-lain, untuk antara lain memperkuat mekanisme
128
Universitas Sumatera Utara

checks and balances dalam sistem ketatanegaraan kita. Kita telah merevisi berbagai
Undang-undang dan peraturan pemerintah agar sesuai dengan semangat dan cita-cita
reformasi. Kita pun telah mereformasi sistem pemilu agar dapat memaksimalkan
akuntabilitas wakil rakyat kepada rakyat yang diwakilinya. Di negeri ini, Presiden
dan Wakil Presiden, Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta
Walikota dan Wakil Walikota pun telah dipilih secara langsung oleh rakyat.
Dunia juga telah mengakui bahwa kita telah mampu menjalankan demokratisasi
berskala besar. Termasuk di dalamnya reformasi TNI, dengan penghapusan Dwi
Fungsi ABRI dan peran sosial-politiknya. Insya Allah, pada tahun ini, kita akan
menyelesaikan pelimpahan bisnis TNI kepada negara, yang selama ini sering
mengundang kontroversi. Dengan itu, TNI dapat benar-benar berkonsentrasi untuk
menjalankan tugas pokoknya dan tampil secara profesional sehingga mampu
mempertahankan setiap jengkal wilayah tanah air kita. Dalam mengatasi gangguan
keamanan dalam negeri, kita pun memilih cara-cara yang lebih bermartabat,
demokratis dan damai, dengan tentu saja tetap menjaga kedaulatan dan keutuhan
NKRI. Kebijakan dan cara-cara penyelesaian konflik seperti ini adalah sesuatu yang
tidak kita kenal di masa yang lalu. Di atas segalanya, dalam penyelenggaraan
pemerintahan, kita telah menerapkan prinsip-prinsip good governance dan
pemberantasan korupsi yang agresif, tanpa pandang bulu. Di republik ini, tidak ada
seorang pun yang kebal hukum.
Saudara-saudara,
Dalam pelaksanaan semua agenda reformasi tersebut, tidaklah selalu mudah.
Reformasi kita penuh dengan pasang dan surut, sering menghadapi resistensi, serta
ada pula yang menjalankannya secara berlebihan. Namun, semua itu adalah wajar
dalam proses reformasi, dalam perubahan yang berskala besar. Kita tidak perlu
cemas, dan tidak perlu pula frustrasi. Dalam menjalankan agenda-agenda reformasi,
apa yang terasa baik dan tepat mari kita lanjutkan. Sebaliknya, apa yang terasa tidak
sesuai dan justru menimbulkan hal-hal yang lebih buruk, mari kita koreksi dan kita
perbaiki. Ingat, reformasi pada hakikatnya adalah perubahan dan kesinambungan,
change and continuity.
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah air,
Hadirin yang saya muliakan,
Setelah melihat tonggak-tonggak sejarah bangsa enam puluh empat tahun yang lalu,
ketika kita baru saja memproklamasikan kemerdekaan kita; lima puluh tahun yang
lalu, ketika terjadi tonggak sejarah peralihan model demokrasi kita dari Demokrasi
Parlementer ke Demokrasi Terpimpin; dan sepuluh tahun yang lalu, ketika kita baru
saja mengawali reformasi berskala besar, kita patut memetik pelajaran yang amat
berharga, agar kita tidak melangkah dari satu ujung pendulum ke ujung pendulum
lainnya, dari satu ekstrim ke ekstrim yang lain. Mari bersama-sama kita jaga agar
langkah kita ke masa depan tetap dalam koridor yang tepat, sehingga masa depan
129
Universitas Sumatera Utara

yang gemilang dapat kita raih secara bersama pula.


Barangkali ada sejumlah pertanyaan kritis yang patut kita ajukan. Indonesia seperti
apa yang kita harapkan dalam kurun waktu, sepuluh, lima belas tahun mendatang,
atau dalam jangka menengah?
Kita juga bertanya, lantas di abad dua puluh satu ini, Indonesia seperti apa yang
hendak kita tuju, katakanlah dalam bentangan waktu tiga puluh, lima puluh tahun ke
depan, bahkan dalam bentangan waktu yang lebih panjang?
Saudara-saudara,
Dalam peringatan satu abad Kebangkitan Nasional tahun lalu, saya telah
menyampaikan pidato, bahwa tiga puluh tahun, lima puluh tahun ke depan di abad
dua puluh satu ini, kita yakin Indonesia akan menjadi negara yang maju, bermartabat
dan sejahtera. Indonesia seperti itu akan bisa kita wujudkan manakala kita bisa
memperkokoh tiga pilar kehidupan bernegara kita yaitu: Kemandirian, Daya Saing
dan Peradaban yang unggul. Ya, 3 pilar itulah yang harus kita perkokoh bersamasama.
Pilar pertama, kita harus menjaga dan memperkuat kemandirian kita, karena
kemandirian adalah dasar dari kekuatan, ketahanan, dan kemampuan kita untuk terus
maju sebagai bangsa. Kita tidak boleh memiliki ketergantungan yang tinggi kepada
negara lain, bahkan kepada dunia. Kita ingin, makin ke depan, dengan sumber daya
dan kekuatan budaya yang kita miliki, kemandirian sebagai bangsa dapat terus kita
tingkatkan. Kita harus bisa menjadi bangsa yang dapat menyediakan sendiri sebagian
besar kebutuhan dasarnya. Bangsa yang tidak terjerat dalam hutang yang membebani.
Bangsa yang tidak didikte, baik secara politik, ekonomi, maupun militer oleh negara
manapun.
Pilar kedua, kita juga harus memiliki daya saing yang makin tinggi. Dalam era
globalisasi yang sarat dengan persaingan dan tantangan ini, bangsa yang menang dan
unggul adalah bangsa yang produktif dan inovatif, menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi, cerdas mengambil peluang, serta berani menghadapi perubahan.
Dan, pilar ketiga, kita harus mampu membangun dan memiliki peradaban bangsa
yang unggul dan mulia. Itulah sebabnya, kita perlu terus mempertahankan nilai, jati
diri dan karakter bangsa kita yang luhur dan terhormat. Kita perlu terus meningkatkan
semangat dan etos kerja sebagai bangsa yang kuat dan gigih. Kita terus membangun
peradaban yang menghadirkan persaudaraan dan kerukunan bangsa, serta memelihara
kelestarian alam. Dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah, kita dituntut untuk
selalu mengedepankan cara-cara yang damai, beradab dan demokratis, bukan dengan
cara-cara kekerasan dan mengabaikan pranata sosial dan pranata hukum.

130
Universitas Sumatera Utara

Dengan tiga pilar kehidupan bernegara ini---kemandirian, daya saing dan peradaban
bangsa yang unggul dan mulia---saya yakin Indonesia akan mampu menghadapi
berbagai tantangan dan cobaan, betapapun beratnya, apapun bentuknya, dan dari
manapun datangnya. Dan manakala kita bisa memperkokoh ke tiga pilar tersebut, kita
akan menjadi negara yang maju dan sukses di abad ini dan abad-abad selanjutnya.
Syaratnya, saudara-saudara, tentu saja, kita harus membangun negara kita dengan
persatuan, pikiran cerdas, dan kerja keras tanpa kenal lelah dari segenap komponen
bangsa.
Untuk melaksanakan semua itu, bangsa kita memerlukan pikiran-pikiran besar, serta
karya-karya bangsa yang besar pula. Pikiran besar yang saya maksud antara lain,
sudah saatnya kita memilih dan kemudian menjalankan paradigma dan grand strategy
pembangunan ekonomi kita yang lebih tepat. Kita harus memetik pelajaran dari krisis
perekonomian besar yang terjadi sekarang ini, dan menelurkan pikiran-pikiran besar
tentang arah dan strategi pembangunan ekonomi kita.
Saudara-saudara,
Paradigma dan Strategi Besar Pembangunan Ekonomi yang saya maksudkan adalah:
Pertama-tama, pembangunan ekonomi Indonesia ke depan nanti mesti lebih
memadukan pendekatan sumber daya (resources), pengetahuan (knowledge), dan
budaya (culture) yang kita miliki. Ekonomi Indonesia, ekonomi 230 juta manusia
yang akan terus bertambah, ekonomi tanah air seluas 8 juta km persegi, juga harus
memiliki kesinambungan. Pertumbuhan ekonomi yang kita pilih dan anut adalah
pertumbuhan disertai pemerataan, growth with equity, agar benar-benar membawa
rasa adil. Ke depan kita harus memperkuat ekonomi dalam negeri, pasar dalam
negeri, dan tidak boleh hanya menggantungkan kekuatan ekspor sebagai sumber
pertumbuhan kita. Oleh karena itu strategi yang hanya bersifat export oriented tentu
bukanlah pilihan kita. Di sisi lain, ekonomi nasional mestilah berdimensi
kewilayahan, dengan pertumbuhan ekonomi yang tersebar di seluruh tanah air.
Daerah-daerah harus menjadi kekuatan ekonomi lokal. Sumber-sumber investasi dan
pendanaan dalam negeri juga mesti kita perkuat. Kemandirian dan ketahanan pada
bidang-bidang atau sektor ekonomi tertentu harus terus kita perkuat, terutama pangan
dan energi. Ekonomi nasional mesti dikembangkan berdasarkan keunggulan
komparatif (comparative advantage) dan sekaligus keunggulan kompetitif
(competitive advantage). Dan, terakhir, diperlukan ekonomi nasional yang dilandasi
oleh mekanisme pasar untuk efisiensi, tetapi juga memberikan ruang bagi peran
pemerintah yang tepat untuk menjamin keadilan.
Saudara-saudara, Paradigma dan Grand Strategy pembangunan ekonomi seperti itulah
yang mesti kita anut dan perkokoh. Intinya, kita tidak boleh terjerat, menyerah dan
tersandera oleh kapitalisme global yang fundamental, yang sering membawa
ketidakadilan bagi kita semua.
131
Universitas Sumatera Utara

Disisi lain, bangsa yang unggul adalah bangsa yang dapat mengatasi keadaan dan
memberi kontribusi pada permasalahan umat manusia. Kuncinya adalah inovasi,
termasuk dan terutama inovasi teknologi yang harus kita lakukan secara fundamental
dan secara terus menerus. Hanya bangsa yang inovatif, adaptif dan produktiflah yang
akan mampu menjaga kelangsungan hidupnya, dan berjaya di muka bumi ini. Di sini
menonjol peran penelitian, pengembangan dan aplikasi teknologi serta budaya unggul
dan juga kewirausahaan.
Sementara itu, dalam menatap masa depan, adalah suatu keniscayaan bagi bangsa
Indonesia untuk terus membangun budaya unggul (culture of excellence) dan
peradaban yang mulia. Dari kedua hal inilah kita mengembangkan karakter,
semangat, dan keuletan bangsa kita. Di situ pulalah jati diri bangsa kita ditempa.
Dalam kaitan ini peran pendidikan, dalam arti yang luas, amat penting. Oleh karena
itu reformasi bidang pendidikan yang tengah kita jalankan ini harus terus
disukseskan.
Saudara-saudara,
Uraian di atas tadi adalah proyeksi kita pada jangka tiga puluh- lima puluh tahun
mendatang, setelah kita melakukan kilas balik lima puluh tahun ke belakang.
Sementara itu, jika saya mengajak melihat bentangan waktu yang lebih pendek,
sepuluh tahun mendatang, maka misi sejarah kita tiada lain adalah melaksanakan
reformasi gelombang kedua. Agenda utama reformasi gelombang kedua ini adalah
menuntaskan agenda-agenda reformasi yang telah saya jabarkan sebelumnya, dan
kemudian meningkatkannya. Sekali lagi, semuanya tetap dalam kerangka perubahan
dan kesinambungan.
Reformasi gelombang kedua ini, kalau saya boleh mengatakan, hakikatnya adalah
untuk membebaskan Indonesia dari dampak dan ekor krisis yang terjadi 10 tahun
yang lalu, dan kemudian pada tahun 2025 negara kita berada dalam fase untuk benarbenar bergerak menuju negara maju. Inilah visi kita untuk tahun 2025, Visi Indonesia
2025. Rasanya kita bisa sepakat, Insya Allah di tahun 2025 mendatang, kehidupan
berbangsa dan bernegara kita akan berada dalam kondisi yang jauh lebih baik.
Sasaran utama yang kita tuju di tahun 2025 adalah:
Pertama, Persatuan dan Harmoni Sosial yang semakin kokoh. Kita bertekad untuk
membangun bangsa Indonesia yang bersatu, adil dan makmur dalam suatu tatanan
kehidupan sosial-kemasyarakatan yang harmonis. Bhinneka Tunggal Ika. Jangan lagi
kita mengulangi sejarah kelam seperti konflik yang terjadi di Poso, Ambon, Sampit
dan Aceh; Aksi terorisme dengan melakukan pemboman di tempat-tempat umum
adalah tindakan yang sungguh tidak berperikemanusiaan. Korbannya adalah orangorang yang tidak berdosa, baik warga negara sahabat maupun warga negara Indonesia
sendiri. Kaum teroris ingin kita tercekam dalam ketakutan dan kemudian
132
Universitas Sumatera Utara

menghentikan kegiatan sehari-hari. Kita bersyukur, bangsa Indonesia adalah bangsa


yang besar, bangsa yang kuat, yang mampu menghadapi segala tantangan, termasuk
terorisme. Hari ini kita bisa melihat nilai rupiah dan indeks harga saham kita justru
semakin menguat. Berbagai kegiatan ekonomi dan kegiatan masyarakat lainnya terus
berjalan semakin semarak.
Kedua, Stabilitas nasional kita mesti semakin mantap. Dalam beberapa tahun terakhir
ini, situasi keamanan di negeri kita, alhamdulillah telah semakin baik. Lima tahun
terakhir ini ekonomi kita terus tumbuh, kemiskinan berkurang, dan pengangguran pun
menurun. Sayang sekali stabilitas keamanan yang semakin baik ini terganggu dengan
adanya aksi terorisme yang terjadi sebulan yang lalu.
Dalam aksi terorisme kali ini, ada suatu gejala yang baru yaitu aksi terorisme
ditujukan langsung untuk melawan negaranya sendiri, termasuk rencana asasinasi
kepada kepala negaranya. Dalam sidang yang terhormat ini, saya ingin menegaskan
bahwa negara tidak boleh dan tidak akan kalah melawan terorisme. Pemerintahan
yang saya pimpin akan terus berjalan sebagaimana mestinya, melindungi rakyat,
melayani rakyat dan meningkatkan kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia.
Pada kesempatan yang baik ini, saya sampaikan terima kasih dan penghargaan yang
tinggi kepada segenap jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia yang tidak
kenal lelah dan menyerah dalam memberantas terorisme di tanah air. Saya minta,
aparat kepolisian dan jajaran aparat keamanan lainnya untuk tidak pernah lengah.
Terus tingkatkan kewaspadaan, serta cegah dan berantas aksi teror hingga ke akarakarnya, di manapun mereka berada, siapapun mereka, dan apapun motivasinya.
Kepada seluruh rakyat Indonesia, marilah kita bersama bersatu melawan aksi-aksi
terorisme. Marilah kita lindungi warga dan anak-anak muda kita dari pikiran-pikiran
sesat dan ekstrim, yang bisa mengarahkan mereka kepada tindakan terorisme.
Bantulah aparat keamanan dengan memberikan informasi terhadap pelaku terorisme
yang bersembunyi di tengah-tengah masyarakat kita.
Kita mengetahui bahwa aksi-aksi terorisme memiliki beberapa akar penyebab yang
utama, seperti kemiskinan dan keterbelakangan, ketidakadilan di berbagai wilayah
dunia, dan akar-akar radikalitas itu sendiri. Terhadap itu semua, pembangunan yang
kita lakukan justru bertujuan untuk mengatasi kemiskinan, keterbelakangan dan juga
ketidakadilan. Oleh karena itu, strategi yang kita tempuh tetap memiliki dua sasaran;
pertama, mengatasi akar-akar penyebab; dan kedua, langkah-langkah intensif untuk
mencegah dan memberantas aksi-aksi terorisme kapanpun dan di manapun.
Adapun sasaran ketiga, saudara-saudara, Demokrasi dan Keterbukaan harus terus kita
mantapkan. Kita harus terus memajukan dan mematangkan demokrasi dan
keterbukaan dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa. Kita akan terus
133
Universitas Sumatera Utara

menyempurnakan mekanisme checks and balances di lingkungan penyelenggara


negara. Kita juga terus meningkatkan kualitas pembinaan partai politik sebagai sarana
agregasi dan artikulasi kepentingan publik, dan sebagai pembelajaran politik
masyarakat. Peran dan fungsi pers nasional sebagai pilar keempat demokrasi mesti
terus dimantapkan. Kita patut bangga, bahwa sekarang ini Indonesia adalah negara
demokrasi terbesar ketiga di dunia;
Keempat, Hukum dan Ketertiban (law and order) harus tetap kita jaga. Kita akan
terus melaksanakan penegakan hukum secara konsisten dan berkeadilan. Ke depan,
posisi hukum sebagai panglima harus semakin kokoh dan semakin mantap.
Kemandirian kekuasaan kehakiman yang lebih ditegaskan dalam perubahan UUD
1945, telah menghadirkan lembaga peradilan yang semakin bebas dalam mengambil
keputusan-keputusannya. Bahkan, Mahkamah Konstitusi melalui beberapa
putusannya yang monumental telah mengukuhkan supremasi konstitusi dan hukum di
Indonesia;
Kelima, Pertumbuhan ekonomi mesti terus kita jaga dan tingkatkan. Kita harus terus
memelihara pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Pertumbuhan ekonomi harus
ditopang oleh kemampuan kita dalam menyelenggarakan aktifitas ekonomi yang
makin produktif dan makin mandiri. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus
memanfaatkan semua peluang yang tersedia di era globalisasi. Pertumbuhan ekonomi
yang tinggi, pada gilirannya akan makin memperkuat ketahanan ekonomi kita. Dalam
situasi krisis keuangan global dewasa ini, ketika negara-negara lain mengalami
pertumbuhan ekonomi negatif, Alhamdulillah, ekonomi kita tetap dapat tumbuh
positif di atas 4% per tahun, salah satu pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia.
Keenam, Kesejahteraan Rakyat mesti terus kita tingkatkan. Pembangunan ekonomi
yang produktif, hasil-hasilnya harus kita alirkan untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat dan memajukan taraf hidup masyarakat kita. Sasaran yang kita tuju adalah
makin berkurangnya angka kemiskinan, menurunnya pengangguran, dan makin
berkualitasnya layanan fungsi-fungsi kesejahteraan, utamanya pendidikan dan
kesehatan. Kita bersyukur bahwa angka kemiskinan berkurang dari 16,7 % pada
tahun 2004 menjadi 14,1 % pada Maret 2009, dan tingkat pengangguran berkurang
dari 9,9% pada tahun 2004 menjadi 8,1% pada Februari 2009.
Ketujuh, pembangunan Tata Kelola Pemerintahan yang baik (good governance) dan
Pemberantasan Korupsi mesti terus ditingkatkan. Kita bertekad untuk mewujudkan
pemerintahan yang melindungi rakyat, melayani dan meningkatkan taraf hidup rakyat
secara efektif. Kita pun bertekad untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan
berwibawa. Sekarangpun indeks persepsi korupsi Indonesia menurut Transparansi
Internasional, terus membaik. Pada tahun 2004 Indonesia berada pada nomor 10 dari
bawah, dan pada tahun 2008 menjadi nomor 55 dari bawah. Di masa depan nanti,
pakta integritas akan menjadi best practices di semua lini pembangunan.
134
Universitas Sumatera Utara

Pemerintahan Indonesia masa depan, Insya Allah, akan makin bersih dari semua
wujud tindak pidana KKN.
Kedelapan, Perlindungan lingkungan hidup mutlak dilakukan. Kita sudah merasakan
sendiri akibat dari kerusakan alam yang mengakibatkan berbagai bencana seperti
longsor, banjir, kebakaran hutan dan sebagainya. Kita harus terus melakukan
pembangunan di segala bidang dengan mengedepankan prinsip pembangunan
berkelanjutan, pembangunan yang ramah terhadap lingkungannya. Kita bertekad
mewujudkan pembangunan yang maju, berkeadilan dan berketahanan namun juga
berwawasan lingkungan.
Kesembilan, Pembangunan daerah di seluruh wilayah tanah air harus berjalan makin
intensif. Kita terus melaksanakan pembangunan nasional secara merata di seluruh
wilayah tanah air. Tak boleh ada satu pun daerah yang tertinggal terlalu jauh
dibandingkan daerah lainnya. Dalam lima tahun terakhir ini jumlah daerah tertinggal
telah berkurang dari 199 kabupaten di tahun 2004 menjadi 159 kabupaten pada tahun
2008. Dan pada tahun 2009 ini ada 10 Kabupaten lagi yang diharapkan bisa keluar
dari kategori Kabupaten daerah tertinggal.
Dan kesepuluh, Kemitraan dan Kerjasama Global terus kita kembangkan. Hubungan
dan kerjasama antar bangsa harus berada dalam konteks yang saling menguntungkan
dan berkeadilan. Prinsip ini harus kita pegang teguh, baik dalam lingkup hubungan
dan kerjasama regional maupun global. Kerjasama dan kemitraan antar bangsa juga
harus tetap mengedepankan kepentingan nasional. Dalam beberapa tahun terakhir,
kita telah terpilih masuk dalam organisasi-organisasi dunia seperti : Dewan
Keamanan PBB, Dewan Hak-Hak Asasi Manusia PBB, Komisi Pembangunan
Perdamaian PBB (UN Peace Building Commission), serta Komisi Ekonomi dan
Sosial (ECOSOC). Kita juga telah kembali mengaktifkan kerjasama Asia Afrika
dalam bentuk New Asia-Africa Strategic Partnership yang di bentuk pada tahun 2005
di Jakarta. Indonesia juga berperan aktif dengan menjadi tuan rumah World Islamic
Economic Forum yang diselenggarakan di Jakarta pada bulan Maret yang lalu. Barubaru ini Indonesia juga menjadi tuan rumah dari World Ocean Conference, prakarsa
yang digagas oleh Indonesia, dan mendapat dukungan yang luas dari masyarakat
global.
Saudara-saudara,
Itulah tugas sejarah kita ke depan. Itulah tantangan dan tugas besar kita bersama.
Saya menyebutnya tugas sejarah dan tugas besar. Mengapa? Karena kita harus
bersama-sama membangun tanah air kita guna mewujudkan cita-cita proklamasi dan
amanat konstitusi kita.
Hadirin yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik ini pula, ada isu penting yang ingin saya sampaikan
135
Universitas Sumatera Utara

dalam sidang Dewan yang terhormat ini, yaitu peran, tanggung-jawab dan kontribusi
Indonesia di dunia internasional.
Sebagaimana kita ketahui, merupakan amanah dari UUD 1945, bahwa Indonesia
harus turut aktif dalam melaksanakan ketertiban dan perdamaian dunia. Indonesia
akan terus berkontribusi dalam menciptakan tatanan dunia yang aman, adil dan
sejahtera. Kita terus menjalankan diplomasi bebas aktif secara total dan konsekwen.
Kita terus membangun hubungan luar negeri atas dasar kemandirian, kesetaraan dan
saling menguntungkan. Dan kita harus berikhtiar agar tidak terlindas oleh roda-roda
globalisasi, namun justru dapat meraih keuntungan dan manfaat darinya.
Penting disadari bahwa Indonesia kini menghadapi lingkungan strategis baru yang
unik. Untuk pertama kalinya, tidak ada negara yang kita anggap sebagai musuh, dan
sebaliknya, tidak ada negara yang memusuhi Indonesia. Ini suatu hal yang sangat
langka dalam sejarah Republik. Lingkungan strategis ini memberikan peluang yang
sangat besar bagi diplomasi bebas aktif Indonesia untuk semakin berkibar. Di abad
ke-21 ini, kita memang harus semakin jeli memandang dunia internasional bukan
sebagai momok atau ancaman, namun sebagai peluang, sebagai aset dan sebagai
bagian dari kekuatan dan keunggulan bangsa. Ingatlah : negara-negara yang paling
berhasil melakukan transformasi dalam 2 atau 3 dasawarsa terakhir, adalah negaranegara yang paling jeli mengambil keuntungan dari dunia internasional.
Sekarang, Indonesia dapat dengan leluasa menempuh all directions foreign policy,
dimana kita dapat menjalin hubungan persahabatan dengan pihak manapun untuk
kepentingan nasional kita apakah Timur, Barat, Utara, dan Selatan. Kita dapat
bebas berkiprah menjalankan diplomasi sejuta kawan, dan tak ada musuh (a million
friends, zero enemy), karena logikanya, semakin banyak kita berkawan dan
bersahabat, semakin aman dan sejahtera bangsa Indonesia. Semua ini tentunya
dilakukan atas dasar kemandirian, kedaulatan, kesetaraan, dan prinsip saling
menguntungkan.
Yang jelas, saudara-saudara Indonesia kini menempati posisi yang berbeda dalam
percaturan internasional. Kita sudah menanggalkan citra keterpurukan, citra
instabilitas, dan citra konflik. Dunia kini memandang Indonesia sebagai tauladan,
baik sebagai negara demokrasi ketiga terbesar di dunia, sebagai jembatan antara
Islam dan Barat, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, sebagai negara yang
sukses melakukan transformasi, maupun sebagai negara yang menjunjung kebebasan,
pluralisme dan toleransi. Tidaklah mengherankan kalau semakin banyak negaranegara di dunia yang ingin bersahabat dan bekerja-sama dengan Indonesia,
sebagaimana kita juga ingin bersahabat dengan mereka.
Indonesia akan selalu berpartisipasi dalam upaya untuk menciptakan tatanan dunia
yang lebih aman dan lebih damai. Karena itulah, Indonesia aktif memelopori dan
136
Universitas Sumatera Utara

mendorong realisasi terbentuknya Komunitas ASEAN. Indonesia juga akan konsisten


dalam mengimplementasikan Piagam ASEAN, yang akan mentransformasikan
ASEAN dan memperkokoh stabilitas di Asia Tenggara. Indonesia juga dengan giat
membangun Kemitraan Strategis dengan berbagai negara sahabat: antara lain dengan
Australia, Afrika Selatan, Brasil, Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, Pakistan
dan Rusia.
Saudara-saudara,
Sebagaimana diamanahkan pula oleh UUD 1945, kita akan senantiasa aktif dalam
upaya untuk menjaga perdamaian dunia yang masih terus dirundung konflik yang
berkepanjangan. Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin menyampaikan
penghargaan dan apresiasi yang tinggi bagi putra-putri terbaik bangsa yang saat ini
bertugas menjaga perdamaian di berbagai medan konflik internasional yaitu: di
Lebanon, Kongo, Sudan, dan Liberia yang semuanya berada di bawah bendera
Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kita juga bangga, karena untuk pertama kalinya, Kapal
Republik Indonesia, KRI Diponegoro dari jajaran Angkatan Laut Republik Indonesia,
sekarang ini bertugas menjaga perdamaian di perairan Lebanon.
Dengan berakhirnya konflik dan operasi militer di berbagai wilayah tanah air, maka
penugasan untuk menjaga perdamaian internasional adalah juga medan latihan bagi
para prajurit TNI untuk meningkatkan profesionalitas mereka sesuai standar militer
internasional.
Saudara-saudara,
Kita akan terus berkontribusi dalam penciptaan dunia yang lebih adil dan demokratis.
Kita tetap konsisten mendorong reformasi PBB, termasuk Dewan Keamanan PBB,
dan mereformasi lembaga keuangan dunia agar lebih mencerminkan realitas
perubahan kekuatan ekonomi dunia. Kita terus membantu perjuangan bangsa
Palestina untuk mewujudkan cita-citanya menjadi negara yang merdeka, berdaulat
dan utuh.
Indonesia juga akan tetap berjuang menciptakan dunia yang lebih sejahtera.
Keanggotaan kita di ASEAN, G-20, APEC, ASEM, D-8, OKI akan selalu kita
manfaatkan untuk memajukan kerjasama dan kesejahteraan internasional.
Melalui G-20, Indonesia terus berupaya bersama negara maju dan emerging
economies lainnya untuk mencari solusi terhadap krisis keuangan global, serta
menciptakan tatanan ekonomi dunia yang lebih adil. Dalam forum OKI, Indonesia
ikut mendorong reformasi OKI, dan ikut mengusung Piagam Mekah yang merupakan
dokumen politik yang bersejarah bagi umat Islam, khususnya dalam rangka
mempromosikan Islam moderat dan nilai-nilai demokrasi.
Indonesia juga terus aktif menangani isu-isu global, termasuk perubahan iklim. Tahun
2007, kita telah menorehkan tinta emas dengan keberhasilan kita menyelenggarakan
UN Conference on Climate Change, yang berhasil menelorkan Bali Road Map.
137
Universitas Sumatera Utara

Terlepas dari berbagai upaya yang terus dilakukan, memang masih belum ada
jaminan bahwa dalam pertemuan COP-15 di Copenhagen bulan Desember
mendatang, negara-negara maju dan berkembang akan berhasil mencapai suatu
konsensus baru untuk rezim perubahan iklim paska-2012. Dalam proses ini,
Indonesia terus berupaya berperan menjembatani dan membangun konsensus baru.
Kita juga dengan penuh tanggung-jawab terus menjaga kelestarian hutan hujan tropis
yang merupakan aset dunia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Kita harus
berhasil karena ini bukan saja untuk kepentingan bangsa Indonesia, namun juga demi
kepentingan yang jauh lebih besar, yaitu kepentingan masa depan umat manusia dan
bumi kita.
Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah air,
Hadirin yang saya muliakan,
Pada hakikatnya setiap bangsa memiliki cita-cita dan visi strategisnya. Cita-cita ini
tidak datang dari langit, tetapi mesti kita raih dengan perjuangan dan kerja keras.
Sebagai mana pepatah Bugis mengatakan, resopa temmangingi namalomo naletei
pammase dewata, yang artinya hanya perjuangan dan kerja keras yang terus menerus
yang akan mendapatkan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita ingin mewariskan
Indonesia kepada anak cucu kita, Indonesia yang lebih maju, lebih bermartabat dan
lebih sejahtera.
Terakhir, marilah kita mensyukuri karunia Tuhan kepada kita bangsa Indonesia
bahwa dengan perjuangan dan kerja keras kita, kita telah berdiri sejajar dengan
bangsa-bangsa lain di dunia. Telah jauh kita berjalan sebagai suatu bangsa, dari
sekedar bangsa jajahan menjadi anggota negara-negara G-20, yang ikut menentukan
arah ekonomi dunia. Perjalanan kita memang masih panjang. Namun kita yakin,
dengan semangat satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, kita akan terus bersatu,
bangkit dan maju, menuju masa depan yang gemilang.
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, melimpahkan rahmat, karunia, dan
ridho-Nya kepada kita semua dalam membangun bangsa dan negara kita menjadi
bangsa yang besar, maju, demokratis, berkeadilan, dan bermartabat.
Dirgahayu Republik Indonesia!
Terima kasih,
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jakarta, 14 Agustus 2009
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

138
Universitas Sumatera Utara

Lampiran 2. Analisis Data Fase Teks Pidato Presiden SBY HUT Ke-64 RI 2009
Tipe Fase
Persepahaman
(PS)

Ekspresi Linguistik
[1] Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,
[2] Yang saya hormati, Saudara Ketua, para Wakil Ketua, dan para Anggota
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
Yang saya hormati, Saudara Ketua, para Wakil Ketua, dan para Anggota
Lembaga-Lembaga Negara,
[3] Yang Mulia para Duta Besar dan Pimpinan Perwakilan Badan-badan dan
Organisasi Internasional,
[4] Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air,
Hadirin yang saya muliakan,

Penstruktur
Wacana (PW)

[5] Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat


Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT,
[6] karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita masih diberi kesempatan,
kekuatan, dan insya Allah kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya
kita,
[7] serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara
tercinta.
[8] Kita juga bersyukur,
[9] pada pagi hari ini dapat menghadiri Rapat Paripurna Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) dalam rangka Peringatan Hari Ulang
Tahun ke-64 Kemerdekaan Republik Indonesia
[10] Pada tahun 2009 ini, menyambut peringatan hari kemerdekaan pada
bulan Agustus, ada tradisi baru dalam pidato kenegaraan yang disampaikan
oleh Presiden.

Substansi (SU)

[11] Pada bulan Agustus tahun ini saya menyampaikan pidato kenegaraan di
depan parlemen sebanyak tiga kali.
[12] Pertama adalah pidato untuk mengantarkan RAPBN tahun anggaran
2010 beserta nota keuangannya, di depan Dewan Perwakilan Rakyat,
[13] dan yang juga dihadiri oleh pimpinan dan anggota Dewan Perwakilan
Daerah
[14] Yang kedua adalah pidato ini, yang saya sampaikan menjelang
peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan kita, di hadapan Dewan
Perwakilan Rakyat,
[15] dengan tema besar refleksi kemerdekaan dan dinamika perjalanan
bangsa.
[16] Dan yang ketiga adalah pidato yang insya Allah akan saya sampaikan di
hadapan Dewan Perwakilan Daerah,
[17] dengan tema utama pembangunan nasional, utamanya aspek
pembangunan daerah.
[18]Oleh karena itu hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan dan

139
Universitas Sumatera Utara

dinamika pembangunan yang sedang kita jalankan,


[19] termasuk capaian dan tantangannya, akan saya sampaikan pada pidato di
hadapan Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Daerah nanti.
Simpulan (SM)
Persepahaman
(PS)
Penstruktur
Wacana (PW)

Subtansi (SU)

Evaluasi (EV)

Penstruktur
Wacana (PW)

Subtansi (SU)

Persepahaman
(PS)
Penstruktur
Wacana (PW)

Subtansi (SU)

[20] Ketiga pidato ini adalah suatu rangkaian pidato tahunan Presiden yang
disampaikan kepada rakyat Indonesia di hadapan wakil-wakil rakyat.
[21] Saudara-saudara,
[22] Pada kesempatan yang baik ini, di depan sidang yang terhormat ini,
[2] saya mengajak saudara-saudara se-bangsa dan se-tanah air untuk
melakukan refleksi perjalanan kehidupan bangsa Indonesia yang telah
berjalan selama 64 tahun.
[24] Ada tiga momen sejarah bangsa yang ingin saya ajak saudara-saudara
untuk merenungkannya,
[25] dan mengambil mutiara kebajikan (wisdom), yang berguna bagi
perjalanan bangsa kita ke depan.
[26] Bukankah pepatah mengatakan : sejarah adalah guru kehidupan?
[27] Pertama, tentang makna proklamasi kemerdekaan 1945,
[28] dan bagaimana kita terus mengaktualisasikan semangat kemerdekaan ini
di masa kini dan di masa mendatang.
[29] Refleksi yang kedua adalah tentang apa yang terjadi di negeri kita lima
puluh tahun yang lalu.
[30] Kita kenal ada tonggak sejarah penting pada waktu itu, yaitu
dikeluarkannya Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959, untuk kembali
kepada Undang-undang Dasar 1945.
[31] Ini merupakan tonggak sejarah, karena kalau kita lihat benang merahnya,
sesungguhnya bangsa Indonesia yang baru merdeka saat itu, ingin betul
mencari bentuk atau sosok demokrasi yang diyakini paling tepat untuk negeri
kita.
[32] Sedangkan refleksi yang ketiga, saya mengajak untuk merenungkan apa
yang terjadi di negeri kita sepuluh tahun yang lalu.
[33] Tahun 1999 juga merupakan tonggak sejarah bangsa.
[34] Sesungguhnya, setelah kita mengalami krisis yang luar biasa tahun 1998,
[35] maka tahun 1999 merupakan awal dari era reformasi yang sampai
sekarang tengah kita jalankan.
[36] Awal dari era reformasi kita ditandai dengan dua hal penting.
[37] Pertama, untuk pertama kalinya dilakukan amandemen terhadap
konstitusi kita, yaitu Undang-Undang Dasar 1945.
[38] Kedua, berakhirnya Dwi Fungsi ABRI yang juga berarti berakhirnya
peran politik ABRI dalam kehidupan bernegara kita.
[39] Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah air,
[40] marilah kita melakukan refleksi yang pertama, yaitu makna Indonesia
Merdeka.
[41] Kemerdekaan adalah jembatan emas demikian kata Presiden pertama
kita, sekaligus proklamator kemerdekaan, Bung Karno.
[42] Melalui jembatan emas itu, bangsa Indonesia meninggalkan kegelapan
alam penjajahan dan memasuki alam kemerdekaan dengan penuh sinar
harapan.

140
Universitas Sumatera Utara

Evaluasi (EV)
Subtansi (SU)

Evaluasi (EV)

Penstruktur
Wacana (PW)

Subtansi (SU)

Evaluasi (EV)

[43] Memang, proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus


1945 adalah kulminasi dari suatu perjuangan yang menakjubkan.
[44] Kemerdekaan itu kita rebut, kita raih dan kita pertahankan dengan segala
pengorbanan : dengan darah, keringat dan air mata.
[45] Kita patut berbangga, karena revolusi kemerdekaan Indonesia telah
menjadi salah satu revolusi besar di abad ke-20 yang turut mengubah dunia.
[46] Setelah Perang Dunia II berakhir,
[47] Indonesia adalah salah satu bangsa yang paling awal memproklamasikan
kemerdekaannya.
[48] Setelah itu, api revolusi kemerdekaan ini dengan cepat menjalar ke
berbagai penjuru di Asia dan Afrika, memerdekakan India, Ghana, Aljazair,
Mesir, Filipina, Myanmar, Laos Vietnam, Sri Lanka dan banyak lagi.
[49] Akibatnya, peta politik dan geopolitik dunia di abad ke-20 berubah
secara drastis.
[50] Dan negara kita, Indonesia, adalah pelopor dalam arus dekolonisasi
yang dahsyat itu.
[51] Dalam Undang-Undang Dasar 1945, yang dikeluarkan sehari setelah
proklamasi, tercantum cita-cita dan tujuan nasional kita.
[52] Para pendiri bangsa bertekad untuk mendirikan suatu negara yang
merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
[53] Dalam Pembukaan UUD 1945, para pendiri bangsa juga bertekad untuk
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,
[54] serta memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa
dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial.
[55] Semua ini mengingatkan kita bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa
pejuang.
[56] Semangat juang yang luhur ini tidak boleh padam.
[57] Bahkan, dalam konteks era demokrasi dan globalisasi dewasa ini,
semangat perjuangan ini justru menjadi semakin relevan dalam upaya kita
bersama untuk mewujudkan Indonesia yang maju dan unggul di abad ke-21.

Simpulan (SM)

[58] Kita harus terus menjaga karakter perjuangan ini dan mewariskannya
kepada generasi mendatang.
[59] Kita juga harus terus menjaga aset terpenting dari revolusi kemerdekaan
kita : yaitu persatuan Indonesia.
[60] Bagi kita, persatuan adalah awal dari kebangkitan.
[61] Persatuan adalah kekuatan.
[62] Dan persatuan adalah syarat utama bagi kelestarian Bhinneka Tunggal
Ika yang kita junjung bersama.

Penstruktur
Wacana (PW)
Subtansi (SU)

[63] Semenjak kemerdekaan, betapapun beratnya tantangan yang dihadapi


bangsa, kita selalu berhasil mengatasinya selama kita menjaga persatuan dan
kesatuan.
[64] Karena itu, prinsip yang selalu kita pegang adalah: bersatu kita teguh,
bercerai kita runtuh. In crucial things, unity !

141
Universitas Sumatera Utara

Evaluasi (EV)
Substansi (SU)

Simpulan (SM)
Persepahaman
(PS)
Penstruktur
Wacana (PW)

Subtansi (SU)

[65] Kemerdekaan Indonesia juga melahirkan ideologi dan dasar negara kita,
yaitu Pancasila.
[66] Setelah mengalami berbagai pasang surut sejarah,
[67] dan setelah kita melampaui berbagai tantangan dan ujian,
[68] bangsa Indonesia semakin yakin terhadap makna Pancasila bagi bangsa
Indonesia.
[69] Kita semakin yakin bahwa Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara
sudah final, dan tidak dapat diubah, serta tidak dapat ditawar lagi.
[70] Kita harus terus memaknakan Pancasila sebagai ideologi terbuka,
sebagai open and living ideology,
[71] dan bukan sebagai dogma yang statis dan menakutkan.
[72] Pancasila harus terus menjadi sumber inspirasi dan sumber solusi dari
proses nation-building Indonesia ke depan.
[73] Saudara-saudara,
[74] Setelah proklamasi kemerdekaan, pembebasan dari penjajahan,
perjalanan kita sebagai bangsa amatlah berwarna dan penuh dengan
romantika kehidupan.
[75] Republik yang masih muda, kala itu, harus mencari perpaduan warnawarni demokrasi yang paling sesuai dengan karakteristik kita sebagai bangsa.
[76] Proses pencarian demokrasi (in search of democracy) yang terkadang
mengalami masa pasang, namun tidak jarang pula mengalami masa surut.
[77] Pengalaman pencarian ini memotret jatuh-bangunnya kehidupan
demokrasi di tanah air tercinta ini.
[78] Bahkan, pernah pula penerapan suatu jenis demokrasi yang lebih bersifat
trial and error, yang tentunya tidak akan langgeng dan mudah gagal,
[79] karena diterpa berbagai permasalahan kehidupan berbangsa dan
bernegara yang kita lakukan.

Evaluasi (EV)

Subtansi (SU)

[80] Sejarah mencatat, sejak awal kemerdekaan, hingga era kehidupan


bernegara saat ini,
[81] kita pernah menganut berbagai model demokrasi.
[82] Dari tahun 1945 hingga tahun 1959, demokrasi parlementer hadir.
[83] Pada saat itu, pemerintah datang dan pergi dengan cepat, tanpa benarbenar sempat melakukan konsolidasi ataupun menjalankan programprogramnya.
[84] Selanjutnya, mulai 1959, ditandai dengan terbitnya Dekrit Presiden 5 Juli
1959,
[85] lahirlah era Demokrasi Terpimpin.
[86] Keputusan dan kehidupan bernegara terpusat dan nyaris dikuasai oleh
presiden.
[87] Mekanisme checks and balances tidak berjalan secara efektif.
[88] Sejak tahun 1966, model demokrasi yang bernuansa serupa, meski
dengan nama yang berbeda, hadir di era Orde Baru.
[89] Demokrasi yang bernama luhur Pancasila, tetapi tidak utuh, bahkan
menyimpang dalam penerapannya.

142
Universitas Sumatera Utara

[90] Yang justru muncul adalah otoritarianisme yang tentulah bertentangan


dengan prinsip dan nilai demokrasi itu sendiri.
[91] Sesungguhnya kita memahami mengapa melalui Dekrit Presiden,
Presiden Soekarno memilih untuk kembali ke UUD 1945,
[92] karena Konstituante yang mendapatkan mandat untuk menyusun
konstitusi belum dapat menyelesaikan tugasnya,
[93] sementara keadaan politik amat tidak stabil sehingga pemerintah tidak
dapat bekerja dengan baik.
[94] Sementara itu, kita juga memahami mengapa Presiden Soeharto memilih
demokrasi yang semi otoritarian karena ingin menghadirkan stabilitas politik
agar pembangunan ekonomi dapat dilaksanakan dengan baik.
Simpulan (SM)

[95] Plus dan minus dari 2 corak demokrasi itulah, yang juga tidak dapat
dilepaskan dari konteks tantangan dan permasalahan kehidupan bernegara
pada kurun waktu yang bersangkutan,
[96] mendorong kita untuk menemukan dan memilih model demokrasi yang
paling tepat untuk kita jalankan

Persepahaman
(PS)
Penstruktur
Wacana (PW)

[97] Saudara-saudara,

Subtansi (SU)

[99] Setelah 10 tahun reformasi, yang mengemuka adalah praktik sistem


demokrasi multipartai presidensial.
[100] Yaitu pemerintahan presidensial yang berpijak pada sistem multipartai
yang tidak sederhana.

[98] Setelah reformasi, sejak tahun 1998, kita bekerja keras untuk menapaki
lagi jalan panjang pemurnian demokrasi.

[101] Sistem demikian, meskipun ini merupakan koreksi dari demokrasi yang
kita anut pada masa Orde Baru, dalam dirinya juga menghadirkan tantangan
yang tidak ringan.
[102] Karena, di tengah beraneka ragamnya kepentingan partai politik,
jalannya pemerintahan harus tetap berlangsung secara efektif.
[103] Perjalanan sejarah lebih dari enam dekade tersebut,
[104] tentunya menghadirkan kesadaran bahwa apapun pilihan demokrasi
yang kita terapkan, mempunyai permasalahan dan tantangannya sendiri;
Evaluasi (EV)

Subtansi (SU)

[105] ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing.


[106] Namun demikian, kita harus pastikan bahwa bentuk demokrasi yang
kita pilih harus tetap sejalan dengan nilai-nilai demokrasi yang universal.
[107] Di sisi lain, penerapan demokrasi juga mesti tetap memperhatikan nilainilai lokal,
[108] serta sifat dasar bangsa kita yang majemuk.
[109] Hanya dengan pilihan konsisten demikianlah, bangsa ini akan makin
kokoh dalam alur pematangan demokrasi yang saat ini sedang dan terus kita
jalankan.
[110] Ke depan, pematangan demokrasi kita, harus berjalan seiring dengan
prinsip-prinsip dasar konstitusionalisme.

143
Universitas Sumatera Utara

[111] Demokrasi mesti makin egaliter, yaitu demokrasi yang makin


meneguhkan pelaksanaan mekanisme saling kontrol dan saling imbang
(checks and balances) dalam praktek kehidupan politik kita.
[112] Demokrasi yang berlandaskan pada penghormatan dan pelaksanaan
penegakan hukum yang adil dan bermartabat (rule of law).
[113] Demokrasi yang makin menjamin dan melindungi kebebasan dan hakhak asasi manusia.
[114] Serta, demokrasi yang kehadirannya tetap menjamin terjaganya
stabilitas dan ketertiban politik.
Evaluasi (EV)

Persepahaman
(PS)
Penstruktur
Wacana (PW)

Subtansi (SU)

[115] Dengan demikian, insya Allah, demokrasi yang kita terapkan dan
wujudkan, akan selalu sejalan dan satu nafas dengan tuntutan dan kemajuan
peradaban bangsa kita.
[116] Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah air,
[117] Sepuluh tahun yang lalu, masih terbayang dalam ingatan kita, negara
kita mengalami krisis yang dahsyat.
[118] Mungkin sebagian besar yang ada dalam ruangan ini, masih mengingat
pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia pada tahun itu.
[119] Tahun 1999 adalah tahun yang sarat dengan persoalan dan tantangan.
[120] Banyak kalangan dalam dan luar negeri yang mencemaskan masa depan
negara kita, termasuk kelangsungan hidup kita sebagai negara.
[121] Paling tidak, pada saat itu, ada lima skenario yang bisa terjadi, ke arah
mana masa depan Republik Indonesia akan bergulir.
[122] Yang pertama meramalkan bahwa Indonesia akan mengalami
balkanisasi, terpecah-pecah menjadi banyak negara kecil-kecil,
[123] karena munculnya sentimen kedaerahan yang kuat di mana-mana.
[124] Skenario kedua, melihat Indonesia berubah menjadi negara Islam
bergaris keras,
[125] karena munculnya sentimen keagamaan yang ingin meminggirkan
ideologi Pancasila.
[126] Skenario ketiga meramalkan Indonesia akan berubah menjadi negara
semi otoritarian yang arahnya tak jelas.

Evaluasi (EV)
Penstruktur
Wacana (PW)

[127] Skenario keempat justru melihat Indonesia berjalan mundur, kembali


memperkuat negara otoritarian.
[128] Dan hanya sedikit yang meramalkan bahwa Indonesia bisa menjalankan
skenario kelima, yaitu menjadi negara demokrasi,
[129] terlebih lagi negara demokrasi yang stabil dan terkonsolidasikan.
[130] Alhamdulillah, saudara-saudara, kita bisa melalui tahun-tahun yang
berat itu dengan selamat.
[131] Di tahun 2009 ini, sepuluh tahun sejak reformasi bergulir, Indonesia
masih tegak berdiri,
[132] bahkan semakin berkibar, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas
sampai Pulau Rote.

144
Universitas Sumatera Utara

Subtansi (SU)

[133] Sekarang ini, kita bisa bangga bahwa negara kita adalah negara
demokrasi yang maju di Asia Tenggara,
[134] negara yang menjunjung tinggi asas kedaulatan rakyat dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.
[135] Kita mesti memberi hormat seraya mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Presiden B.J. Habibie, Presiden
Abdurrahman Wahid, dan Presiden Megawati Soekarnoputri,
[136] pendahulu-pendahulu saya, atas kepemimpinan dan kerja keras beliaubeliau di masa-masa sulit itu, pada lima tahun pertama era reformasi.
[137] Saya juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada
segenap komponen bangsa,
[138] yang pada lima tahun ke dua era reformasi, ikut berkontribusi
[139] dan membantu saya dalam mengelola, mengawal dan terus menata arah
reformasi kita.

Simpulan (SM)

Evaluasi (EV)
Persepahaman
(PS)
Penstruktur
Wacana (PW)

[140] Periode 5 tahun ini, sebagaimana yang kita ketahui dan rasakan
bersama,
[141] negara kita juga menghadapi tantangan dan ujian,
[142] baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
[143] Insya Allah, reformasi yang sedang dan terus kita jalankan ini akan
benar-benar membawa manfaat dan kemaslahatan bagi bangsa dan negara.
[144] Saudara-saudara,
[145] Kita pun masih ingat semangat dan cita-cita reformasi yang bergelora
pada saat itu.

Subtansi (SU)

[146] Kita ingin demokrasi tumbuh dan mekar di republik ini.


[147] Kita ingin menghadirkan konstitusionalisme dan checks and balances
dalam kehidupan bernegara.
[148] Kita ingin mewujudkan negara yang menjunjung tinggi hak-hak asasi
manusia, tanpa diskriminasi.
[149] Kita merindukan negara yang menjamin hak warga negara untuk
berserikat, berkumpul, dan menyatakan pendapat, termasuk hadirnya
kebebasan pers.
[150] Kita mendambakan pemilihan umum yang aman, damai, jujur dan adil.
[151] Kita mengharapkan hukum dan keadilan ditegakkan, serta korupsi,
kolusi dan nepotisme terus diberantas.
[152] Kita bertekad untuk mewujudkan negara yang dikelola dengan tata
pemerintahan yang baik (good governance).
[153] Lebih lanjut lagi, kita juga ingin mewujudkan pembangunan
yang inklusif dengan desentralisasi dan otonomi daerah, sehingga rakyat
Indonesia di daerah-daerah dapat merasakan manfaat pembangunan secara
adil dan bermartabat.

Penstruktur
Wacana (PW)
Evaluasi (EV)

[154] Bersamaan dengan itu, kitapun menuntut pembangunan ekonomi yang


makin inklusif dan berkeadilan.
[155] Dalam sepuluh tahun ini, sejumlah perubahan besar telah dan sedang
kita jalankan.

145
Universitas Sumatera Utara

Subtansi (EV)

[156] Kita telah melaksanakan reformasi konstitusi dengan melakukan empat


kali perubahan terhadap Undang-undang Dasar 1945, yang salah satu
tujuannya adalah memperkuat parlemen kita.
[157] Reformasi juga melahirkan lembaga-lembaga negara yang baru, seperti
Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Konstitusi, Komisi Pemberantasan
Korupsi dan lain-lain, untuk antara lain memperkuat mekanisme checks and
balances dalam sistem ketatanegaraan kita.
[158] Kita telah merevisi berbagai Undang-undang dan peraturan pemerintah
agar sesuai dengan semangat dan cita-cita reformasi.
[159] Kita pun telah mereformasi sistem pemilu agar dapat memaksimalkan
akuntabilitas wakil rakyat kepada rakyat yang diwakilinya.
[160] Di negeri ini, Presiden dan Wakil Presiden, Gubernur dan Wakil
Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota pun
telah dipilih secara langsung oleh rakyat.
[161] Dunia juga telah mengakui bahwa kita telah mampu menjalankan
demokratisasi berskala besar.
[162] Termasuk di dalamnya reformasi TNI, dengan penghapusan Dwi
Fungsi ABRI dan peran sosial-politiknya.

Evaluasi (EV)
Simpulan (SM)

[163] Insya Allah, pada tahun ini, kita akan menyelesaikan pelimpahan bisnis
TNI kepada negara, yang selama ini sering mengundang kontroversi.
[164] Dengan itu, TNI dapat benar-benar berkonsentrasi untuk menjalankan
tugas pokoknya dan tampil secara profesional sehingga mampu
mempertahankan setiap jengkal wilayah tanah air kita.
[165] Dalam mengatasi gangguan keamanan dalam negeri, kita pun memilih
cara-cara yang lebih bermartabat, demokratis dan damai, dengan tentu saja
tetap menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI.

Subtansi (SU)

Persepahaman
(PS)
Penstruktur
Wacana (PW)

[166] Kebijakan dan cara-cara penyelesaian konflik seperti ini adalah sesuatu
yang tidak kita kenal di masa yang lalu.
[167] Di atas segalanya, dalam penyelenggaraan pemerintahan, kita telah
menerapkan prinsip-prinsip good governance dan pemberantasan korupsi
yang agresif, tanpa pandang bulu.
[168] Di republik ini, tidak ada seorang pun yang kebal hukum.
[169] Saudara-saudara,
[170] Dalam pelaksanaan semua agenda reformasi tersebut, tidaklah selalu
mudah.
[171] Reformasi kita penuh dengan pasang dan surut, sering menghadapi
resistensi, serta ada pula yang menjalankannya secara berlebihan.
[172] Namun, semua itu adalah wajar dalam proses reformasi, dalam
perubahan yang berskala besar.

Evaluasi (EV)

[173] Kita tidak perlu cemas, dan tidak perlu pula frustrasi.
[174] Dalam menjalankan agenda-agenda reformasi, apa yang terasa baik dan
tepat mari kita lanjutkan.
[175] Sebaliknya, apa yang terasa tidak sesuai dan justru menimbulkan halhal yang lebih buruk,
[176] mari kita koreksi dan kita perbaiki.

146
Universitas Sumatera Utara

Simpulan (SM)

[177] Ingat, reformasi pada hakikatnya adalah perubahan dan kesinambungan,


change and continuity.

Persepahaman
(PS)

[178] Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah air,


Hadirin yang saya muliakan,

Subtansi (SU)

[179] Setelah melihat tonggak-tonggak sejarah bangsa enam puluh empat


tahun yang lalu,
[180] ketika kita baru saja memproklamasikan kemerdekaan kita; lima puluh
tahun yang lalu, ketika terjadi tonggak sejarah peralihan model demokrasi
kita dari Demokrasi Parlementer ke Demokrasi Terpimpin;
[181] dan sepuluh tahun yang lalu, ketika kita baru saja mengawali reformasi
berskala besar, kita patut memetik pelajaran yang amat berharga,
[182] agar kita tidak melangkah dari satu ujung pendulum ke ujung pendulum
lainnya, dari satu ekstrim ke ekstrim yang lain.

Evaluasi (EV)

[183] Mari bersama-sama kita jaga agar langkah kita ke masa depan tetap
dalam koridor yang tepat,
[184] sehingga masa depan yang gemilang dapat kita raih secara bersama
pula.
[185] Barangkali ada sejumlah pertanyaan kritis yang patut kita ajukan.

Penstruktur
Wacana (PW)
Subtansi (SU)

Persepahaman
(PS)
Subtansi (SU)

[186] Indonesia seperti apa yang kita harapkan dalam kurun waktu, sepuluh,
lima belas tahun mendatang, atau dalam jangka menengah?
[187] Kita juga bertanya, lantas di abad dua puluh satu ini, Indonesia seperti
apa yang hendak kita tuju,
[188] katakanlah dalam bentangan waktu tiga puluh, lima puluh tahun ke
depan, bahkan dalam bentangan waktu yang lebih panjang?
[189] Saudara-saudara,
[190] Dalam peringatan satu abad Kebangkitan Nasional tahun lalu,
[191] saya telah menyampaikan pidato, bahwa tiga puluh tahun, lima puluh
tahun ke depan di abad dua puluh satu ini, kita yakin Indonesia akan menjadi
negara yang maju, bermartabat dan sejahtera.

Simpulan (SM)

[192] Indonesia seperti itu akan bisa kita wujudkan manakala kita bisa
memperkokoh tiga pilar kehidupan bernegara kita yaitu: Kemandirian, Daya
Saing dan Peradaban yang unggul.
[193] Ya, 3 pilar itulah yang harus kita perkokoh bersama-sama.

Subtansi (SU)

[194] Pilar pertama, kita harus menjaga dan memperkuat kemandirian kita,
[195] karena kemandirian adalah dasar dari kekuatan, ketahanan, dan
kemampuan kita untuk terus maju sebagai bangsa.
[196] Kita tidak boleh memiliki ketergantungan yang tinggi kepada negara
lain, bahkan kepada dunia.
[197] Kita ingin, makin ke depan, dengan sumber daya dan kekuatan budaya
yang kita miliki, kemandirian sebagai bangsa dapat terus kita tingkatkan.
[198] Kita harus bisa menjadi bangsa yang dapat menyediakan sendiri
sebagian besar kebutuhan dasarnya.

147
Universitas Sumatera Utara

Evaluasi (EV)

[199] Bangsa yang tidak terjerat dalam hutang yang membebani.


[200] Bangsa yang tidak didikte, baik secara politik, ekonomi, maupun militer
oleh negara manapun.

Subtansi (SU)

[201] Pilar kedua, kita juga harus memiliki daya saing yang makin tinggi.
[202] Dalam era globalisasi yang sarat dengan persaingan dan tantangan ini,
[203] bangsa yang menang dan unggul adalah bangsa yang produktif dan
inovatif, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, cerdas mengambil
peluang, serta berani menghadapi perubahan.
[204] Dan, pilar ketiga, kita harus mampu membangun dan memiliki
peradaban bangsa yang unggul dan mulia.
[205] Itulah sebabnya, kita perlu terus mempertahankan nilai, jati diri dan
karakter bangsa kita yang luhur dan terhormat.
[206] Kita perlu terus meningkatkan semangat dan etos kerja sebagai bangsa
yang kuat dan gigih.
[207] Kita terus membangun peradaban yang menghadirkan persaudaraan dan
kerukunan bangsa, serta memelihara kelestarian alam.

Evaluasi (EV)

[208] Dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah, kita dituntut untuk


selalu mengedepankan cara-cara yang damai, beradab dan demokratis,
[209] bukan dengan cara-cara kekerasan dan mengabaikan pranata sosial dan
pranata hukum.

Simpulan (SM)

[210] Dengan tiga pilar kehidupan bernegara ini---kemandirian, daya saing


dan peradaban bangsa yang unggul dan mulia--[211] saya yakin Indonesia akan mampu menghadapi berbagai tantangan dan
cobaan, betapapun beratnya, apapun bentuknya, dan dari manapun datangnya.
[212] Dan manakala kita bisa memperkokoh ke tiga pilar tersebut,
[213] kita akan menjadi negara yang maju dan sukses di abad ini dan abadabad selanjutnya.

Penstruktur
Wacana (PW)

[214] Syaratnya, saudara-saudara, tentu saja, kita harus membangun negara


kita dengan persatuan, pikiran cerdas, dan kerja keras tanpa kenal lelah dari
segenap komponen bangsa.
[215] Untuk melaksanakan semua itu, bangsa kita memerlukan pikiranpikiran besar, serta karya-karya bangsa yang besar pula.
[216] Pikiran besar yang saya maksud antara lain, sudah saatnya kita memilih
dan kemudian menjalankan paradigma dan grand strategy pembangunan
ekonomi kita yang lebih tepat.

Subtansi (SU)

[217] Kita harus memetik pelajaran dari krisis perekonomian besar yang
terjadi sekarang ini,
[218] dan menelurkan pikiran-pikiran besar tentang arah dan strategi
pembangunan ekonomi kita.
Persepahaman
(PS)
Penstruktur
Wacana (PW)

[219] Saudara-saudara,
[220] Paradigma dan Strategi Besar Pembangunan Ekonomi yang saya
maksudkan adalah:
Pertama-tama, pembangunan ekonomi Indonesia ke depan nanti mesti lebih
memadukan pendekatan sumber daya (resources), pengetahuan (knowledge),
dan budaya (culture) yang kita miliki.

148
Universitas Sumatera Utara

Subtansi (SU)

Evaluasi (EV)

Simpulan (SM)
Subtansi (SU)

Persepahaman
(PS)
Penstruktur
Wacana (PW)

Subtansi (SU)

[221] Ekonomi Indonesia, ekonomi 230 juta manusia yang akan terus
bertambah,
[222] ekonomi tanah air seluas 8 juta km persegi, juga harus memiliki
kesinambungan.
[223] Pertumbuhan ekonomi yang kita pilih dan anut adalah pertumbuhan
disertai pemerataan, growth with equity, agar benar-benar membawa rasa adil.
[224] Ke depan kita harus memperkuat ekonomi dalam negeri, pasar dalam
negeri,
[225] dan tidak boleh hanya menggantungkan kekuatan ekspor sebagai
sumber pertumbuhan kita.
[226] Oleh karena itu strategi yang hanya bersifat export oriented tentu
bukanlah pilihan kita.
[227] Di sisi lain, ekonomi nasional mestilah berdimensi kewilayahan,
dengan pertumbuhan ekonomi yang tersebar di seluruh tanah air.
[228] Daerah-daerah harus menjadi kekuatan ekonomi lokal.
[229] Sumber-sumber investasi dan pendanaan dalam negeri juga mesti kita
perkuat.
[230] Kemandirian dan ketahanan pada bidang-bidang atau sektor ekonomi
tertentu harus terus kita perkuat, terutama pangan dan energi.
[231] Ekonomi nasional mesti dikembangkan berdasarkan keunggulan
komparatif (comparative advantage)
[232] dan sekaligus keunggulan kompetitif (competitive advantage).
[233] Dan, terakhir, diperlukan ekonomi nasional yang dilandasi oleh
mekanisme pasar untuk efisiensi,
[234] tetapi juga memberikan ruang bagi peran pemerintah yang tepat untuk
menjamin keadilan.
[235] Saudara-saudara,
[236] Paradigma dan Grand Strategy pembangunan ekonomi seperti itulah
yang mesti kita anut dan perkokoh.
[237] Intinya, kita tidak boleh terjerat, menyerah dan tersandera oleh
kapitalisme global yang fundamental, yang sering membawa ketidakadilan
bagi kita semua.
[238] Disisi lain, bangsa yang unggul adalah bangsa yang dapat mengatasi
keadaan dan memberi kontribusi pada permasalahan umat manusia.
[239] Kuncinya adalah inovasi, termasuk dan terutama inovasi teknologi yang
harus kita lakukan secara fundamental dan secara terus menerus.
[240] Hanya bangsa yang inovatif, adaptif dan produktiflah yang akan
mampu menjaga kelangsungan hidupnya, dan berjaya di muka bumi ini.
[241] Di sini menonjol peran penelitian, pengembangan dan aplikasi
teknologi serta budaya unggul dan juga kewirausahaan.
[242] Sementara itu, dalam menatap masa depan, adalah suatu keniscayaan
bagi bangsa Indonesia untuk terus membangun budaya unggul (culture of
excellence) dan peradaban yang mulia.

149
Universitas Sumatera Utara

Simpulan (SM)

[243] Dari kedua hal inilah kita mengembangkan karakter, semangat, dan
keuletan bangsa kita.
[244] Di situ pulalah jati diri bangsa kita ditempa.
[245] Dalam kaitan ini peran pendidikan, dalam arti yang luas, amat penting.
[246] Oleh karena itu reformasi bidang pendidikan yang tengah kita jalankan
ini harus terus disukseskan.

Persepahaman
(PS)
Subtansi (SU)

[247] Saudara-saudara,

Evaluasi (EV)

Simpulan (SM)

Penstruktur
Wacana (PW)
Subtansi (SU)

Evaluasi (EV)

[248] Uraian di atas tadi adalah proyeksi kita pada jangka tiga puluh- lima
puluh tahun mendatang,
[249] setelah kita melakukan kilas balik lima puluh tahun ke belakang.
[250] Sementara itu, jika saya mengajak melihat bentangan waktu yang lebih
pendek, sepuluh tahun mendatang, maka misi sejarah kita tiada lain adalah
melaksanakan reformasi gelombang kedua.
[251] Agenda utama reformasi gelombang kedua ini adalah menuntaskan
agenda-agenda reformasi yang telah saya jabarkan sebelumnya,
[252] dan kemudian meningkatkannya. Sekali lagi, semuanya tetap dalam
kerangka perubahan dan kesinambungan.
[253] Reformasi gelombang kedua ini, kalau saya boleh mengatakan,
hakikatnya adalah untuk membebaskan Indonesia dari dampak dan ekor krisis
yang terjadi 10 tahun yang lalu,
[254] dan kemudian pada tahun 2025 negara kita berada dalam fase untuk
benar-benar bergerak menuju negara maju.
[255] Inilah visi kita untuk tahun 2025, Visi Indonesia 2025.
[256] Rasanya kita bisa sepakat, Insya Allah di tahun 2025 mendatang,
kehidupan berbangsa dan bernegara kita akan berada dalam kondisi yang jauh
lebih baik.
[257] Sasaran utama yang kita tuju di tahun 2025 adalah: Pertama, Persatuan
dan Harmoni Sosial yang semakin kokoh.
[258] Kita bertekad untuk membangun bangsa Indonesia yang bersatu, adil
dan makmur dalam suatu tatanan kehidupan sosial-kemasyarakatan yang
harmonis.
[259] Bhinneka Tunggal Ika.
[260] Jangan lagi kita mengulangi sejarah kelam seperti konflik yang terjadi
di Poso, Ambon, Sampit dan Aceh;
[261] Aksi terorisme dengan melakukan pemboman di tempat-tempat umum
adalah tindakan yang sungguh tidak berperikemanusiaan.
[262] Korbannya adalah orang-orang yang tidak berdosa, baik warga negara
sahabat maupun warga negara Indonesia sendiri.
[263] Kaum teroris ingin kita tercekam dalam ketakutan dan kemudian
menghentikan kegiatan sehari-hari
[264] Kita bersyukur, bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa
yang kuat, yang mampu menghadapi segala tantangan, termasuk terorisme.
[265] Hari ini kita bisa melihat nilai rupiah dan indeks harga saham kita justru
semakin menguat.
[266] Berbagai kegiatan ekonomi dan kegiatan masyarakat lainnya terus
berjalan semakin semarak.

150
Universitas Sumatera Utara

Penstruktur
Wacana (PW)
Substansi (SU)

[267] Kedua, Stabilitas nasional kita mesti semakin mantap.


[268] Dalam beberapa tahun terakhir ini, situasi keamanan di negeri kita,
alhamdulillah telah semakin baik.
[269] Lima tahun terakhir ini ekonomi kita terus tumbuh, kemiskinan
berkurang, dan pengangguran pun menurun.
[270] Sayang sekali stabilitas keamanan yang semakin baik ini terganggu
dengan adanya aksi terorisme yang terjadi sebulan yang lalu.

Evaluasi (EV)

[271] Dalam aksi terorisme kali ini, ada suatu gejala yang baru yaitu aksi
terorisme ditujukan langsung untuk melawan negaranya sendiri,
[272] termasuk rencana asasinasi kepada kepala negaranya.

Simpulan (SM)

[273] Dalam sidang yang terhormat ini, saya ingin menegaskan bahwa negara
tidak boleh dan tidak akan kalah melawan terorisme.
[274] Pemerintahan yang saya pimpin akan terus berjalan sebagaimana
mestinya, melindungi rakyat, melayani rakyat dan meningkatkan
kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia.

Penstruktur
Wacana (PW)

[275] Pada kesempatan yang baik ini, saya sampaikan terima kasih dan
penghargaan yang tinggi kepada segenap jajaran Kepolisian Negara Republik
Indonesia yang tidak kenal lelah dan menyerah dalam memberantas terorisme
di tanah air.
[276] Saya minta, aparat kepolisian dan jajaran aparat keamanan lainnya
untuk tidak pernah lengah.
[277] Terus tingkatkan kewaspadaan, serta cegah dan berantas aksi teror
hingga ke akar-akarnya, di manapun mereka berada, siapapun mereka, dan
apapun motivasinya
[278] Kepada seluruh rakyat Indonesia, marilah kita bersama bersatu
melawan aksi-aksi terorisme.
[279] Marilah kita lindungi warga dan anak-anak muda kita dari pikiranpikiran sesat dan ekstrim, yang bisa mengarahkan mereka kepada tindakan
terorisme.
[280] Bantulah aparat keamanan dengan memberikan informasi terhadap
pelaku terorisme yang bersembunyi di tengah-tengah masyarakat kita.
[281] Kita mengetahui bahwa aksi-aksi terorisme memiliki beberapa akar
penyebab yang utama, seperti kemiskinan dan keterbelakangan, ketidakadilan
di berbagai wilayah dunia, dan akar-akar radikalitas itu sendiri.
[282] Terhadap itu semua, pembangunan yang kita lakukan justru bertujuan
untuk mengatasi kemiskinan, keterbelakangan dan juga ketidakadilan.

Subtansi (SU)

Evaluasi (EV)

Simpulan (SM)

Penstruktur
Wacana (PW)

[283] Oleh karena itu, strategi yang kita tempuh tetap memiliki dua sasaran;
pertama, mengatasi akar-akar penyebab; dan kedua, langkah-langkah intensif
untuk mencegah dan memberantas aksi-aksi terorisme kapanpun dan di
manapun.
[284] Adapun sasaran ketiga, saudara-saudara, Demokrasi dan Keterbukaan
harus terus kita mantapkan.

151
Universitas Sumatera Utara

Subtansi (SU)

[285] Kita harus terus memajukan dan mematangkan demokrasi dan


keterbukaan dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa.
[286] Kita akan terus menyempurnakan mekanisme checks and balances di
lingkungan penyelenggara negara.
[287] Kita juga terus meningkatkan kualitas pembinaan partai politik sebagai
sarana agregasi dan artikulasi kepentingan publik, dan sebagai pembelajaran
politik masyarakat.
[288] Peran dan fungsi pers nasional sebagai pilar keempat demokrasi mesti
terus dimantapkan.

Evaluasi (EV)

[289] Kita patut bangga, bahwa sekarang ini Indonesia adalah negara
demokrasi terbesar ketiga di dunia.
[290] Keempat, Hukum dan Ketertiban (law and order) harus tetap kita jaga.

Penstruktur
Wacana (PW)
Subtansi (SU)

Penstruktur
Wacana (PW)
Subtansi (SU)

Evaluasi (EV)

Penstruktur
Wacana (PW)
Subtansi (SU)

Evaluasi (EV)

[291] Kita akan terus melaksanakan penegakan hukum secara konsisten dan
berkeadilan.
[292] Ke depan, posisi hukum sebagai panglima harus semakin kokoh dan
semakin mantap.
[293] Kemandirian kekuasaan kehakiman yang lebih ditegaskan dalam
perubahan UUD 1945, telah menghadirkan lembaga peradilan yang semakin
bebas dalam mengambil keputusan-keputusannya.
[294] Bahkan, Mahkamah Konstitusi melalui beberapa putusannya yang
monumental telah mengukuhkan supremasi konstitusi dan hukum di
Indonesia;
[295] Kelima, Pertumbuhan ekonomi mesti terus kita jaga dan tingkatkan.
[296] Kita harus terus memelihara pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.
[297] Pertumbuhan ekonomi harus ditopang oleh kemampuan kita dalam
menyelenggarakan aktifitas ekonomi yang makin produktif dan makin
mandiri.
[298] Pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus memanfaatkan semua peluang
yang tersedia di era globalisasi.
[299] Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pada gilirannya akan makin
memperkuat ketahanan ekonomi kita.
[300] Dalam situasi krisis keuangan global dewasa ini, ketika negara-negara
lain mengalami pertumbuhan ekonomi negatif,
[301] Alhamdulillah, ekonomi kita tetap dapat tumbuh positif di atas 4% per
tahun, salah satu pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia.
[302] Keenam, Kesejahteraan Rakyat mesti terus kita tingkatkan.
[303] Pembangunan ekonomi yang produktif, hasil-hasilnya harus kita alirkan
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memajukan taraf hidup
masyarakat kita.
[304] Sasaran yang kita tuju adalah makin berkurangnya angka kemiskinan,
menurunnya pengangguran, dan makin berkualitasnya layanan fungsi-fungsi
kesejahteraan, utamanya pendidikan dan kesehatan.
[305] Kita bersyukur bahwa angka kemiskinan berkurang dari 16,7 % pada
tahun 2004 menjadi 14,1 % pada Maret 2009,
[306] dan tingkat pengangguran berkurang dari 9,9% pada tahun 2004
menjadi 8,1% pada Februari 2009.

152
Universitas Sumatera Utara

Penstruktur
Wacana (PW)

[307] Ketujuh, pembangunan Tata Kelola Pemerintahan yang baik (good


governance)

Subtansi (SU)

[308] dan Pemberantasan Korupsi mesti terus ditingkatkan.


[309] Kita bertekad untuk mewujudkan pemerintahan yang melindungi
rakyat, melayani dan meningkatkan taraf hidup rakyat secara efektif.
[310] Kita pun bertekad untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan
berwibawa.
[311] Sekarangpun indeks persepsi korupsi Indonesia menurut Transparansi
Internasional, terus membaik.

Evaluasi (EV)

[312] Pada tahun 2004 Indonesia berada pada nomor 10 dari bawah, dan pada
tahun 2008 menjadi nomor 55 dari bawah.
[313] Di masa depan nanti, pakta integritas akan menjadi best practices di
semua lini pembangunan.
[314] Pemerintahan Indonesia masa depan, Insya Allah, akan makin bersih
dari semua wujud tindak pidana KKN.

Subtansi (SU)

[315] Kesembilan, Pembangunan daerah di seluruh wilayah tanah air harus


berjalan makin intensif.
[316] Kita terus melaksanakan pembangunan nasional secara merata di
seluruh wilayah tanah air.
[317] Tak boleh ada satu pun daerah yang tertinggal terlalu jauh
dibandingkan daerah lainnya.

Evaluasi (EV)

[318] Dalam lima tahun terakhir ini jumlah daerah tertinggal telah berkurang
dari 199 kabupaten di tahun 2004 menjadi 159 kabupaten pada tahun 2008.
[319] Dan pada tahun 2009 ini ada 10 Kabupaten lagi yang diharapkan bisa
keluar dari kategori Kabupaten daerah tertinggal.
[320] Dan kesepuluh, Kemitraan dan Kerjasama Global terus kita
kembangkan.
[321] Hubungan dan kerjasama antar bangsa harus berada dalam konteks
yang saling menguntungkan dan berkeadilan.
[322] Prinsip ini harus kita pegang teguh, baik dalam lingkup hubungan dan
kerjasama regional maupun global.
[323] Kerjasama dan kemitraan antar bangsa juga harus tetap mengedepankan
kepentingan nasional.
[324] Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah terpilih masuk dalam
organisasi-organisasi dunia seperti : Dewan Keamanan PBB, Dewan HakHak Asasi Manusia PBB, Komisi Pembangunan Perdamaian PBB (UN Peace
Building Commission), serta Komisi Ekonomi dan Sosial (ECOSOC).
[325] Kita juga telah kembali mengaktifkan kerjasama Asia Afrika dalam
bentuk New Asia-Africa Strategic Partnership yang di bentuk pada tahun
2005 di Jakarta.
[326] Indonesia juga berperan aktif dengan menjadi tuan rumah World
Islamic Economic Forum yang diselenggarakan di Jakarta pada bulan Maret
yang lalu.
[327] Baru-baru ini Indonesia juga menjadi tuan rumah dari World Ocean
Conference, prakarsa yang digagas oleh Indonesia,
[328] dan mendapat dukungan yang luas dari masyarakat global.
[329] Saudara-saudara,

Penstruktur
Wacana (PW)
Subtansi (SU)

Persepahaman
(PS)

153
Universitas Sumatera Utara

Substansi (SU)

[330] Itulah tugas sejarah kita ke depan.


[331] Itulah tantangan dan tugas besar kita bersama.
[332] Saya menyebutnya tugas sejarah dan tugas besar.
[333] Mengapa? Karena kita harus bersama-sama membangun tanah air kita
guna mewujudkan cita-cita proklamasi dan amanat konstitusi kita.

Persepahaman
(PS)
Penstruktur
Wacana (PW)

[334] Hadirin yang saya muliakan,

Subtansi (SU)

Evaluasi (EV)
Penstruktur
Wacana (PW)
Subtansi (SU)

Evaluasi (EV)
Subtansi (SU)

[335] Pada kesempatan yang baik ini pula, ada isu penting yang ingin saya
sampaikan dalam sidang Dewan yang terhormat ini, yaitu peran, tanggungjawab dan kontribusi Indonesia di dunia internasional.
[336] Sebagaimana kita ketahui, merupakan amanah dari UUD 1945, bahwa
Indonesia harus turut aktif dalam melaksanakan ketertiban dan perdamaian
dunia.
[337] Indonesia akan terus berkontribusi dalam menciptakan tatanan dunia
yang aman, adil dan sejahtera.
[338] Kita terus menjalankan diplomasi bebas aktif secara total dan
konsekwen. Kita terus membangun hubungan luar negeri atas dasar
kemandirian, kesetaraan dan saling menguntungkan.
[339] Dan kita harus berikhtiar agar tidak terlindas oleh roda-roda globalisasi,
namun justru dapat meraih keuntungan dan manfaat darinya.
[340] Penting disadari bahwa Indonesia kini menghadapi lingkungan strategis
baru yang unik.
[341] Untuk pertama kalinya, tidak ada negara yang kita anggap sebagai
musuh,
[342] dan sebaliknya, tidak ada negara yang memusuhi Indonesia.
[343] Ini suatu hal yang sangat langka dalam sejarah Republik.
[344] Lingkungan strategis ini memberikan peluang yang sangat besar bagi
diplomasi bebas aktif Indonesia untuk semakin berkibar.
[345] Di abad ke-21 ini, kita memang harus semakin jeli memandang dunia
internasional bukan sebagai momok atau ancaman,
[346] namun sebagai peluang, sebagai aset dan sebagai bagian dari kekuatan
dan keunggulan bangsa.

Evaluasi (EV)

Penstruktur
Wacana (PW)

Substansi (SU)

[347] Ingatlah : negara-negara yang paling berhasil melakukan transformasi


dalam 2 atau 3 dasawarsa terakhir, adalah negara-negara yang paling jeli
mengambil keuntungan dari dunia internasional.
[348] Sekarang, Indonesia dapat dengan leluasa menempuh all directions
foreign policy,
[349] dimana kita dapat menjalin hubungan persahabatan dengan pihak
manapun untuk kepentingan nasional kita apakah Timur, Barat, Utara, dan
Selatan.
[350] Kita dapat bebas berkiprah menjalankan diplomasi sejuta kawan, dan
tak ada musuh (a million friends, zero enemy),
[351] karena logikanya, semakin banyak kita berkawan dan bersahabat,
semakin aman dan sejahtera bangsa Indonesia.

154
Universitas Sumatera Utara

Simpulan (SM)

[352] Semua ini tentunya dilakukan atas dasar kemandirian, kedaulatan,


kesetaraan, dan prinsip saling menguntungkan.

Penstruktur
Wacana (PW)

[353] Yang jelas, saudara-saudara Indonesia kini menempati posisi yang


berbeda dalam percaturan internasional.

Subtansi (SU)

[354] Kita sudah menanggalkan citra keterpurukan, citra instabilitas, dan citra
konflik.
[355] Dunia kini memandang Indonesia sebagai tauladan, baik sebagai negara
demokrasi ketiga terbesar di dunia, sebagai jembatan antara Islam dan Barat,
sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, sebagai negara yang sukses
melakukan transformasi, maupun sebagai negara yang menjunjung
kebebasan, pluralisme dan toleransi.
[356] Tidaklah mengherankan kalau semakin banyak negara-negara di dunia
yang ingin bersahabat dan bekerja-sama dengan Indonesia,
[357] sebagaimana kita juga ingin bersahabat dengan mereka.
[358] Indonesia akan selalu berpartisipasi dalam upaya untuk menciptakan
tatanan dunia yang lebih aman dan lebih damai.
[359] Karena itulah, Indonesia aktif memelopori dan mendorong realisasi
terbentuknya Komunitas ASEAN.
[360] Indonesia juga akan konsisten dalam mengimplementasikan Piagam
ASEAN,
[361] yang akan mentransformasikan ASEAN dan memperkokoh stabilitas di
Asia Tenggara.
[362] Indonesia juga dengan giat membangun Kemitraan Strategis dengan
berbagai negara sahabat: antara lain dengan Australia, Afrika Selatan, Brasil,
Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, Pakistan dan Rusia.
[363] Saudara-saudara,

Simpulan (SM)

Penstruktur
Wacana (PW)
Substansi (SU)

Persepahaman
(PS)
Penstruktur
Wacana (PW)

[364] Sebagaimana diamanahkan pula oleh UUD 1945, kita akan senantiasa
aktif dalam upaya untuk menjaga perdamaian dunia yang masih terus
dirundung konflik yang berkepanjangan.

Subtansi (SU)

[365] Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin menyampaikan penghargaan
[366] dan apresiasi yang tinggi bagi putra-putri terbaik bangsa yang saat ini
bertugas menjaga perdamaian di berbagai medan konflik internasional yaitu:
di Lebanon, Kongo, Sudan, dan Liberia
[367] yang semuanya berada di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Evaluasi (EV)

[368] Kita juga bangga, karena untuk pertama kalinya, Kapal Republik
Indonesia, KRI Diponegoro dari jajaran Angkatan Laut Republik Indonesia,
sekarang ini bertugas menjaga perdamaian di perairan Lebanon.
[369] Dengan berakhirnya konflik dan operasi militer di berbagai wilayah
tanah air,
[370] maka penugasan untuk menjaga perdamaian internasional adalah juga
medan latihan bagi para prajurit TNI untuk meningkatkan profesionalitas
mereka sesuai standar militer internasional.
[371] Saudara-saudara,

Simpulan (SM)

Persepahaman
(PS)
Penstruktur
Wacana (PW)

[372] Kita akan terus berkontribusi dalam penciptaan dunia yang lebih adil
dan demokratis.

155
Universitas Sumatera Utara

Subtansi (SU)

Simpulan (SM)

Evaluasi (EV)
Penstruktur
Wacana (PW)
Subtansi (SU)

Evaluasi (EV)

Simpulan (SM)

Persepahaman
(PS)
Penstruktur
Wacana (PW)

[373] Kita tetap konsisten mendorong reformasi PBB, termasuk Dewan


Keamanan PBB,
[374] dan mereformasi lembaga keuangan dunia agar lebih mencerminkan
realitas perubahan kekuatan ekonomi dunia.
[375] Kita terus membantu perjuangan bangsa Palestina untuk mewujudkan
cita-citanya menjadi negara yang merdeka, berdaulat dan utuh.
[376] Indonesia juga akan tetap berjuang menciptakan dunia yang lebih
sejahtera.
[377] Keanggotaan kita di ASEAN, G-20, APEC, ASEM, D-8, OKI akan
selalu kita manfaatkan untuk memajukan kerjasama dan kesejahteraan
internasional.
[378] Melalui G-20, Indonesia terus berupaya bersama negara maju dan
emerging economies lainnya untuk mencari solusi terhadap krisis keuangan
global,
[379] serta menciptakan tatanan ekonomi dunia yang lebih adil.
[380] Dalam forum OKI, Indonesia ikut mendorong reformasi OKI,
[381] dan ikut mengusung Piagam Mekah yang merupakan dokumen politik
yang bersejarah bagi umat Islam,
[382] khususnya dalam rangka mempromosikan Islam moderat dan nilai-nilai
demokrasi.
[383] Indonesia juga terus aktif menangani isu-isu global, termasuk
perubahan iklim.
[384] Tahun 2007, kita telah menorehkan tinta emas dengan keberhasilan kita
menyelenggarakan UN Conference on Climate Change, yang berhasil
menelorkan Bali Road Map.
[385] Terlepas dari berbagai upaya yang terus dilakukan, memang masih
belum ada jaminan bahwa dalam pertemuan COP-15 di Copenhagen bulan
Desember mendatang,
[386] negara-negara maju dan berkembang akan berhasil mencapai suatu
konsensus baru untuk rezim perubahan iklim paska-2012.
[387] Dalam proses ini, Indonesia terus berupaya berperan menjembatani dan
membangun konsensus baru.
[388] Kita juga dengan penuh tanggung-jawab terus menjaga kelestarian
hutan hujan tropis yang merupakan aset dunia untuk menurunkan emisi gas
rumah kaca.
[389] Kita harus berhasil karena ini bukan saja untuk kepentingan bangsa
Indonesia,
[390] namun juga demi kepentingan yang jauh lebih besar, yaitu kepentingan
masa depan umat manusia dan bumi kita.
[391] Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah air,
Hadirin yang saya muliakan
[392] Pada hakikatnya setiap bangsa memiliki cita-cita dan visi strategisnya.

156
Universitas Sumatera Utara

Subtansi (SU)

Simpulan (SM)
Penstruktur
Wacana (PW)
Subtansi (SU)

Evaluasi (EV)

Simpulan (SM)

Persepahaman
(PS)

[393] Cita-cita ini tidak datang dari langit, tetapi mesti kita raih dengan
perjuangan dan kerja keras.
[394] Sebagai mana pepatah Bugis mengatakan, resopa temmangingi
namalomo naletei pammase dewata, yang artinya hanya perjuangan dan
kerja keras yang terus menerus yang akan mendapatkan ridho Tuhan Yang
Maha Kuasa.
[395] Kita ingin mewariskan Indonesia kepada anak cucu kita,
[396] Indonesia yang lebih maju, lebih bermartabat dan lebih sejahtera.
[397] Terakhir, marilah kita mensyukuri karunia Tuhan kepada kita bangsa
Indonesia bahwa dengan perjuangan dan kerja keras kita,
[398] kita telah berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
[399] Telah jauh kita berjalan sebagai suatu bangsa, dari sekedar bangsa
jajahan menjadi anggota negara-negara G-20,
[400] yang ikut menentukan arah ekonomi dunia.
[401] Perjalanan kita memang masih panjang.
[402] Namun kita yakin, dengan semangat satu nusa, satu bangsa, dan satu
bahasa,
[403] kita akan terus bersatu, bangkit dan maju, menuju masa depan yang
gemilang.
[404] Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, melimpahkan rahmat,
karunia, dan ridho-Nya kepada kita semua dalam membangun bangsa
[405] dan negara kita menjadi bangsa yang besar, maju, demokratis,
berkeadilan, dan bermartabat.
[406] Dirgahayu Republik Indonesia!
[407] Terima kasih,
[408] Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
[409] Jakarta, 14 Agustus 2009
[410] PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

157
Universitas Sumatera Utara

Lampiran 3. Analisis Data Sub-Fase dan Modalitas Teks Pidato Presiden SBY
Jenis Sub-fase
Salam Pembuka
(SPe)

Orientasi (OR)

Fokus (FO)

Pernyataan (PE)

Penegasan (PG)

Pernyataan (PE)

Ekspresi Linguistik
[1] Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,
[2] Yang saya hormati, Saudara Ketua,
para Wakil Ketua, dan para Anggota
Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia,
Yang saya hormati, Saudara Ketua, para
Wakil Ketua, dan para Anggota LembagaLembaga Negara,
[3] Yang Mulia para Duta Besar dan
Pimpinan Perwakilan Badan-badan dan
Organisasi Internasional,
[4] Saudara-saudara se-Bangsa dan seTanah Air,
Hadirin yang saya muliakan,
[5] Marilah kita bersama-sama
memanjatkan puji dan syukur ke hadirat
Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT,
[6] karena atas rahmat dan karunia-Nya,
kita masih diberi kesempatan, kekuatan,
dan insya Allah kesehatan untuk
melanjutkan ibadah kita, karya kita,
[7] serta tugas dan pengabdian kita kepada
masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.
[8] Kita juga bersyukur,
[9] pada pagi hari ini dapat menghadiri
Rapat Paripurna Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI)
dalam rangka Peringatan Hari Ulang
Tahun ke-64 Kemerdekaan Republik
Indonesia
[10] Pada tahun 2009 ini, menyambut
peringatan hari kemerdekaan pada bulan
Agustus, ada tradisi baru dalam pidato
kenegaraan yang disampaikan oleh
Presiden.
[11] Pada bulan Agustus tahun ini saya
menyampaikan pidato kenegaraan di depan
parlemen sebanyak tiga kali.
[12] Pertama adalah pidato untuk
mengantarkan RAPBN tahun anggaran
2010 beserta nota keuangannya, di depan
Dewan Perwakilan Rakyat,
[13] dan yang juga dihadiri oleh pimpinan

Modalitas

InsaAllah=Modalisasi/Probabilitas/
Menengah

dapat=Modulasi/Keharusan/
Rendah

158
Universitas Sumatera Utara

dan anggota Dewan Perwakilan Daerah


Pernyataan (PE)

Pernyataan (PE)

Fokus (FO)

Ringkasan (RK)

Salam Pembuka
(Spe)
Pernyataan (PE)/
Fokus (FO)

Pengingat (PN)

[14] Yang kedua adalah pidato ini, yang


saya sampaikan menjelang peringatan
detik-detik proklamasi kemerdekaan kita,
di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat,
[15] dengan tema besar refleksi
kemerdekaan dan dinamika perjalanan
bangsa.
[16] Dan yang ketiga adalah pidato yang
insya Allah akan saya sampaikan di
hadapan Dewan Perwakilan Daerah,
[17] dengan tema utama pembangunan
nasional, utamanya aspek pembangunan
daerah.
[18]Oleh karena itu hal-hal yang berkaitan
dengan perkembangan dan dinamika
pembangunan yang sedang kita jalankan,
[19] termasuk capaian dan tantangannya,
akan saya sampaikan pada pidato di
hadapan Sidang Paripurna Dewan
Perwakilan Daerah nanti.
[20] Ketiga pidato ini adalah suatu
rangkaian pidato tahunan Presiden yang
disampaikan kepada rakyat Indonesia di
hadapan wakil-wakil rakyat.

akan=Modalisasi/Probabilitas
/Menengah

[21] Saudara-saudara,
[22] Pada kesempatan yang baik ini, di
depan sidang yang terhormat ini,
[23] saya mengajak saudara-saudara sebangsa dan se-tanah air untuk melakukan
refleksi perjalanan kehidupan bangsa
Indonesia yang telah berjalan selama 64
tahun.
[24] Ada tiga momen sejarah bangsa yang
ingin saya ajak saudara-saudara untuk
merenungkannya,
[25] dan mengambil mutiara kebajikan
(wisdom), yang berguna bagi perjalanan
bangsa kita ke depan.

Kutipan (KP)

[26] Bukankah pepatah mengatakan :


sejarah adalah guru kehidupan?

Pernyataan (PE)

[27] Pertama, tentang makna proklamasi


kemerdekaan 1945,
[28] dan bagaimana kita terus
mengaktualisasikan semangat
kemerdekaan ini di masa kini dan di masa
mendatang.
[29] Refleksi yang kedua adalah tentang
apa yang terjadi di negeri kita lima puluh

Pernyataan (PE)/
Pengingat (PN)

Insa Allah=Modalisasi/Probabilitas/
Menengah
akan=Modalisasi/Probabilitas
/Menengah

Ingin= Modulasi/Kecendrungan/
Rendah

terus =
Tinggi

Modalisasi/Keseringan/

159
Universitas Sumatera Utara

Penjelasan (PJ)

Membanding
(MG)

Pengingat (PN)/
Penegasan (PG)

Pernyataan (PE)
Penjelasan (PJ)

Salam Pembuka
(Spe)
Fokus (FO)
Defenisi (DE)/
Kutipan (KP)

Fokus (FO)/
Penjelasan (PJ)

Penegasan (PG)

tahun yang lalu.


[30] Kita kenal ada tonggak sejarah
penting pada waktu itu, yaitu
dikeluarkannya Dekrit Presiden pada
tanggal 5 Juli 1959, untuk kembali kepada
Undang-undang Dasar 1945.
[31] Ini merupakan tonggak sejarah,
karena kalau kita lihat benang merahnya,
sesungguhnya bangsa Indonesia yang baru
merdeka saat itu, ingin betul mencari
bentuk atau sosok demokrasi yang diyakini
paling tepat untuk negeri kita.
[32] Sedangkan refleksi yang ketiga, saya
mengajak untuk merenungkan apa yang
terjadi di negeri kita sepuluh tahun yang
lalu.
[33] Tahun 1999 juga merupakan tonggak
sejarah bangsa.
[34] Sesungguhnya, setelah kita
mengalami krisis yang luar biasa tahun
1998,
[35] maka tahun 1999 merupakan awal
dari era reformasi yang sampai sekarang
tengah kita jalankan.
[36] Awal dari era reformasi kita ditandai
dengan dua hal penting.
[37] Pertama, untuk pertama kalinya
dilakukan amandemen terhadap konstitusi
kita, yaitu Undang-Undang Dasar 1945.
[38] Kedua, berakhirnya Dwi Fungsi
ABRI yang juga berarti berakhirnya peran
politik ABRI dalam kehidupan bernegara
kita.

ingin=
Rendah

Modulasi/Kecendrungan/

[39] Saudara-saudara se-Bangsa dan seTanah air,


[40] marilah kita melakukan refleksi yang
pertama, yaitu makna Indonesia Merdeka.
[41] Kemerdekaan adalah jembatan
emas demikian kata Presiden pertama
kita, sekaligus proklamator kemerdekaan,
Bung Karno.
[42] Melalui jembatan emas itu, bangsa
Indonesia meninggalkan kegelapan alam
penjajahan dan memasuki alam
kemerdekaan dengan penuh sinar harapan.
[43] Memang, proklamasi kemerdekaan
bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus 1945
adalah kulminasi dari suatu perjuangan
yang menakjubkan.

160
Universitas Sumatera Utara

Penjelasan (PJ)

Fokus (FO)/
Pernyataan (PE)

Pengingat (PN)/
Penjelasan (PJ)

Penjelasan (PJ)

Penjelasan (PJ)

Pernyataan (PE)

Penegasan (PG)/
Kutipan (KP)
Penegasan (PG)/
Kutipan (KP)

Pengingat (PN)/
Pernyataan (PE)

Pernyataan (PE)

Penegasan (PG)

[44] Kemerdekaan itu kita rebut, kita raih


dan kita pertahankan dengan segala
pengorbanan : dengan darah, keringat dan
air mata.
[45] Kita patut berbangga, karena revolusi
kemerdekaan Indonesia telah menjadi
salah satu revolusi besar di abad ke-20
yang turut mengubah dunia.
[46] Setelah Perang Dunia II berakhir,
[47] Indonesia adalah salah satu bangsa
yang paling awal memproklamasikan
kemerdekaannya.
[48] Setelah itu, api revolusi kemerdekaan
ini dengan cepat menjalar ke berbagai
penjuru di Asia dan Afrika, memerdekakan
India, Ghana, Aljazair, Mesir, Filipina,
Myanmar, Laos Vietnam, Sri Lanka dan
banyak lagi.
[49] Akibatnya, peta politik dan geopolitik
dunia di abad ke-20 berubah secara drastis.
[50] Dan negara kita, Indonesia, adalah
pelopor dalam arus dekolonisasi yang
dahsyat itu.
[51] Dalam Undang-Undang Dasar 1945,
yang dikeluarkan sehari setelah
proklamasi, tercantum cita-cita dan tujuan
nasional kita.
[52] Para pendiri bangsa bertekad untuk
mendirikan suatu negara yang merdeka,
bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
[53] Dalam Pembukaan UUD 1945, para
pendiri bangsa juga bertekad untuk
melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia,
[54] serta memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa
dan ikut melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial.
[55] Semua ini mengingatkan kita bahwa
bangsa Indonesia adalah bangsa pejuang.
[56] Semangat juang yang luhur ini tidak
boleh padam.
[57] Bahkan, dalam konteks era demokrasi
dan globalisasi dewasa ini, semangat
perjuangan ini justru menjadi semakin
relevan dalam upaya kita bersama untuk
mewujudkan Indonesia yang maju dan
unggul di abad ke-21.
[58] Kita harus terus menjaga karakter

patut=
Menengah

Modulasi/Keharusan/

bertekad=Modulasi/Kecenderungan
/ Menengah
bertekad=
Modulasi/Kecenderungan/
Menengah

mengingatkan=Modulasi/Probilitas/
Rendah
boleh=Modulasi/Keharusan/Rendah
Semakin= Modalisasi/Keseringan/
Rendah

harus= Modulasi:Keharusan/ Tinggi

161
Universitas Sumatera Utara

Pernyataan (PE)

perjuangan ini dan mewariskannya kepada


generasi mendatang.
[59] Kita juga harus terus menjaga aset
terpenting dari revolusi kemerdekaan kita :
yaitu persatuan Indonesia.
[60] Bagi kita, persatuan adalah awal dari
kebangkitan.

terus=Modalisasi/Keseringan/
Tinggi
harus= Modulasi:Keharusan/ Tinggi
terus=Modalisasi/Keseringan/
Tinggi

Pernyataan (PE)

[61] Persatuan adalah kekuatan.

Penegasan (PG)

[62] Dan persatuan adalah syarat utama


bagi kelestarian Bhinneka Tunggal Ika
yang kita junjung bersama.

Pengingat (PT)/
Penegasan (PG)

[63] Semenjak kemerdekaan, betapapun


beratnya tantangan yang dihadapi bangsa,
kita selalu berhasil mengatasinya selama
kita menjaga persatuan dan kesatuan.

selalu=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

Ungkapan (UK)

[64] Karena itu, prinsip yang selalu kita


pegang adalah: bersatu kita teguh, bercerai
kita runtuh. In crucial things, unity !

selalu=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

Pernyataan (PE)

[65] Kemerdekaan Indonesia juga


melahirkan ideologi dan dasar negara kita,
yaitu Pancasila.
[66] Setelah mengalami berbagai pasang
surut sejarah,
[67] dan setelah kita melampaui berbagai
tantangan dan ujian,
[68] bangsa Indonesia semakin yakin
terhadap makna Pancasila bagi bangsa
Indonesia.

Penjelasan (PJ)

Penegasan (PG)
[69] Kita semakin yakin bahwa Pancasila
sebagai ideologi dan dasar negara sudah
final, dan tidak dapat diubah, serta tidak
dapat ditawar lagi.

Pesan (PS)/
pernyataan (PE)

Pernyataan (PE)

Salam Pembuka
(Spe)

[70] Kita harus terus memaknakan


Pancasila sebagai ideologi terbuka, sebagai
open and living ideology,
[71] dan bukan sebagai dogma yang statis
dan menakutkan.
[72] Pancasila harus terus menjadi sumber
inspirasi dan sumber solusi dari proses
nation-building Indonesia ke depan.

semakin=Modalisasi/Keseringan/
Rendah
yakin=Modalisasi/Probabilitas/
Tinggi

semakin=Modalisasi/Keseringan/
Rendah
yakin= Modalisasi/Probabilitas/
Tinggi
dapat= Modulasi/Keharusan/
Rendah
dapat= Modulasi/Keharusan/
Rendah
harus=Modulasi/Keharusan/Tinggi
terus=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

harus=Modulasi/Keharusan/Tinggi
terus=Modalisasi/Keseringan/
Tinggi

[73] Saudara-saudara,

162
Universitas Sumatera Utara

Pernyataan (PE)

[74] Setelah proklamasi kemerdekaan,


pembebasan dari penjajahan, perjalanan
kita sebagai bangsa amatlah berwarna dan
penuh dengan romantika kehidupan.

Penjelasan (PJ)

[75] Republik yang masih muda, kala itu,


harus mencari perpaduan warna-warni
demokrasi yang paling sesuai dengan
karakteristik kita sebagai bangsa.
[76] Proses pencarian demokrasi (in
search of democracy) yang terkadang
mengalami masa pasang, namun tidak
jarang pula mengalami masa surut.
[77] Pengalaman pencarian ini memotret
jatuh-bangunnya kehidupan demokrasi di
tanah air tercinta ini.
[78] Bahkan, pernah pula penerapan suatu
jenis demokrasi yang lebih bersifat trial
and error, yang tentunya tidak akan
langgeng dan mudah gagal,
[79] karena diterpa berbagai permasalahan
kehidupan berbangsa dan bernegara yang
kita lakukan.
[80] Sejarah mencatat, sejak awal
kemerdekaan, hingga era kehidupan
bernegara saat ini,
[81] kita pernah menganut berbagai model
demokrasi.
[82] Dari tahun 1945 hingga tahun 1959,
demokrasi parlementer hadir.
[83] Pada saat itu, pemerintah datang dan
pergi dengan cepat, tanpa benar-benar
sempat melakukan konsolidasi ataupun
menjalankan program-programnya.
[84] Selanjutnya, mulai 1959, ditandai
dengan terbitnya Dekrit Presiden 5 Juli
1959,
[85] lahirlah era Demokrasi Terpimpin.
[86] Keputusan dan kehidupan bernegara
terpusat dan nyaris dikuasai oleh presiden.
[87] Mekanisme checks and balances tidak
berjalan secara efektif.
[88] Sejak tahun 1966, model demokrasi
yang bernuansa serupa, meski dengan
nama yang berbeda, hadir di era Orde
Baru.
[89] Demokrasi yang bernama luhur
Pancasila, tetapi tidak utuh, bahkan
menyimpang dalam penerapannya.

Pengingat (PT)/
Penjelasan (PJ)

Fokus (FO)/
Penjelasan (PJ)

Pengingat (PT)/
Fokus (FO)
Pernyataan (PE)
Penjelasan (PJ)

Penjelasan (PJ)

Ringkasan (RK)
Pernyataan (PE)

Pernyataan (PE)/
Membanding
(MG)

harus= Modulasi/Keharusan/Tinggi

Jarang =
Modalisasi/keseringan/rendah

akan=Modalisasi/Probabilitas
/Menengah

nyaris=Modalisasi/Probabilitas/Ren
dah

163
Universitas Sumatera Utara

Evaluasi (EV)

Fokus (FO)

Penjelasan (PJ)

Pernyataan (PE)/
Penjelasan (PJ)

Membanding
(MG)/ Penjelasan
(PJ)

Salam Pembuka
(Spe)
Pernyataan (PE)/
Pengingat (PT)
Pernyataan (PE)

[90] Yang justru muncul adalah


otoritarianisme yang tentulah bertentangan
dengan prinsip dan nilai demokrasi itu
sendiri.
[91] Sesungguhnya kita memahami
mengapa melalui Dekrit Presiden, Presiden
Soekarno memilih untuk kembali ke UUD
1945,
[92] karena Konstituante yang
mendapatkan mandat untuk menyusun
konstitusi belum dapat menyelesaikan
tugasnya,
[93] sementara keadaan politik amat tidak
stabil sehingga pemerintah tidak dapat
bekerja dengan baik.
[94] Sementara itu, kita juga memahami
mengapa Presiden Soeharto memilih
demokrasi yang semi otoritarian karena
ingin menghadirkan stabilitas politik agar
pembangunan ekonomi dapat dilaksanakan
dengan baik.
[95] Plus dan minus dari 2 corak
demokrasi itulah, yang juga tidak dapat
dilepaskan dari konteks tantangan dan
permasalahan kehidupan bernegara pada
kurun waktu yang bersangkutan,
[96] mendorong kita untuk menemukan
dan memilih model demokrasi yang paling
tepat untuk kita jalankan

tentulah=
Modalisasi/Probabilitas/Rendah

dapat=
Modulasi/Keharusan/Rendah
dapat=
Modulasi/Keharusan/Rendah

dapat=
Modulasi/Kecendrungan/Tinggi
ingin=
Modulasi/Kecendrungan/Rendah

[97] Saudara-saudara,
[98] Setelah reformasi, sejak tahun 1998,
kita bekerja keras untuk menapaki lagi
jalan panjang pemurnian demokrasi.
[99] Setelah 10 tahun reformasi, yang
mengemuka adalah praktik sistem
demokrasi multipartai presidensial.

Penjelasan (PJ)

[100] Yaitu pemerintahan presidensial


yang berpijak pada sistem multipartai yang
tidak sederhana.

Cek (CK)/
Penjelasan (PJ)

[101] Sistem demikian, meskipun ini


merupakan koreksi dari demokrasi yang
kita anut pada masa Orde Baru, dalam
dirinya juga menghadirkan tantangan yang
tidak ringan.
[102] Karena, di tengah beraneka
ragamnya kepentingan partai politik,
jalannya pemerintahan harus tetap
berlangsung secara efektif.

harus =Modulasi:Keharusan/Tinggi
tetap=
Modalisasi:Probabilitas
/Tinggi

164
Universitas Sumatera Utara

Pernyataan (PE)/
Penjelasan (PJ)

Penilaian (PL)

[103] Perjalanan sejarah lebih dari enam


dekade tersebut,
[104] tentunya menghadirkan kesadaran
bahwa apapun pilihan demokrasi yang kita
terapkan, mempunyai permasalahan dan
tantangannya sendiri;
[105] ada kelebihan dan kekurangannya
masing-masing.

Ringkasan (RK)
[106] Namun demikian, kita harus pastikan
bahwa bentuk demokrasi yang kita pilih
harus tetap sejalan dengan nilai-nilai
demokrasi yang universal.
Fokus (FO)

Penegasan (PG)

Pesan (PS)

Pernyataan (PE)/
Penjelasan (PJ)

[107] Di sisi lain, penerapan demokrasi


juga mesti tetap memperhatikan nilai-nilai
lokal,
[108] serta sifat dasar bangsa kita yang
majemuk.
[109] Hanya dengan pilihan konsisten
demikianlah, bangsa ini akan makin kokoh
dalam alur pematangan demokrasi yang
saat ini sedang dan terus kita jalankan.
[110] Ke depan, pematangan demokrasi
kita, harus berjalan seiring dengan prinsipprinsip dasar konstitusionalisme.
[111] Demokrasi mesti makin egaliter,
yaitu demokrasi yang makin meneguhkan
pelaksanaan mekanisme saling kontrol dan
saling imbang (checks and balances)
dalam praktek kehidupan politik kita.
[112] Demokrasi yang berlandaskan pada
penghormatan dan pelaksanaan penegakan
hukum yang adil dan bermartabat (rule of
law).
[113] Demokrasi yang makin menjamin
dan melindungi kebebasan dan hak-hak
asasi manusia.
[114] Serta, demokrasi yang kehadirannya
tetap menjamin terjaganya stabilitas dan
ketertiban politik.

Ringkasan (RK)
[115] Dengan demikian, insya Allah,
demokrasi yang kita terapkan dan
wujudkan, akan selalu sejalan dan satu
nafas dengan tuntutan dan kemajuan
peradaban bangsa kita.
Salam Pembuka
(Spe)

tentunya=Modalisasi/Probabilitas/T
inggi

harus= Modulasi:Keharusan/Tinggi
pastikan= Modalisasi:Probabilitas
/Tinggi
harus= Modulasi:Keharusan/Tinggi
tetap=
Modalisasi:Probabilitas
/Tinggi
mesti= Modulasi:Keharusan/Tinggi
tetap=
Modalisasi:Probabilitas
/Tinggi

akan=Modalisasi:Probabilitas
/Menengah

harus=Modulasi:Keharusan/Tinggi

mesti= Modulasi:Keharusan/Tinggi

tetap= Modalisasi:Probabilitas
/Tinggi

Insya
Allah=Modalisasi/Probabilitas/
Tinggi
akan=Modalisasi/Probabilitas
/Menengah
selalu=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

[116] Saudara-saudara se-Bangsa dan seTanah air,

165
Universitas Sumatera Utara

Pengingat (PN)

Fokus (FO)

Pengingat (PN)
Pernyataan (PE)

Fokus (FO)

Pernyataan (PE)/
Penjelasan (PJ)

Pernyataan (PE)/
Penjelasan (PJ)

Pernyataan (PE)/
Penjelasan (PJ)
Pernyataan (PE)/
Penjelasan (PJ)
Pernyataan (PE)/
Fokus (FO)

Ringkasan (RK)

Pernyataan (PE)/
Fokus (FO)

[117] Sepuluh tahun yang lalu, masih


terbayang dalam ingatan kita, negara kita
mengalami krisis yang dahsyat.
[118] Mungkin sebagian besar yang ada
dalam ruangan ini, masih mengingat pidato
kenegaraan Presiden Republik Indonesia
pada tahun itu.
[119] Tahun 1999 adalah tahun yang sarat
dengan persoalan dan tantangan.
[120] Banyak kalangan dalam dan luar
negeri yang mencemaskan masa depan
negara kita, termasuk kelangsungan hidup
kita sebagai negara.
[121] Paling tidak, pada saat itu, ada lima
skenario yang bisa terjadi, ke arah mana
masa depan Republik Indonesia akan
bergulir.
[122] Yang pertama meramalkan bahwa
Indonesia akan mengalami balkanisasi,
terpecah-pecah menjadi banyak negara
kecil-kecil,
[123] karena munculnya sentimen
kedaerahan yang kuat di mana-mana.
[124] Skenario kedua, melihat Indonesia
berubah menjadi negara Islam bergaris
keras,
[125] karena munculnya sentimen
keagamaan yang ingin meminggirkan
ideologi Pancasila.
[126] Skenario ketiga meramalkan
Indonesia akan berubah menjadi negara
semi otoritarian yang arahnya tak jelas.
[127] Skenario keempat justru melihat
Indonesia berjalan mundur, kembali
memperkuat negara otoritarian.
[128] Dan hanya sedikit yang meramalkan
bahwa Indonesia bisa menjalankan
skenario kelima, yaitu menjadi negara
demokrasi,
[129] terlebih lagi negara demokrasi yang
stabil dan terkonsolidasikan.
[130] Alhamdulillah, saudara-saudara, kita
bisa melalui tahun-tahun yang berat itu
dengan selamat.
[131] Di tahun 2009 ini, sepuluh tahun
sejak reformasi bergulir, Indonesia masih
tegak berdiri,
[132] bahkan semakin berkibar, dari
Sabang sampai Merauke, dari Miangas

masih=
Modalisasi/Keseringan/Rendah
mungkin=Modalisasi/Probabilitas/
Menegah
masih=
Modalisasi/Keseringan/Rendah

bisa= Modulasi/Keharusan/Rendah

ingin=
Modulasi/Kecenderungan/Rendah

ingin=
Modulasi/Kecenderungan/Rendah

bisa= Modulasi/Keharusan/Rendah

masih=
Modalisasi/Keseringan/Rendah

166
Universitas Sumatera Utara

Pernyataan (PE)

Fokus (FO)

Pernyataan (PE)

sampai Pulau Rote.


[133] Sekarang ini, kita bisa bangga bahwa
negara kita adalah negara demokrasi yang
maju di Asia Tenggara,
[134] negara yang menjunjung tinggi asas
kedaulatan rakyat dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.
[135] Kita mesti memberi hormat seraya
mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada Presiden B.J. Habibie, Presiden
Abdurrahman Wahid, dan Presiden
Megawati Soekarnoputri,
[136] pendahulu-pendahulu saya, atas
kepemimpinan dan kerja keras beliaubeliau di masa-masa sulit itu, pada lima
tahun pertama era reformasi.

Pernyataan (PE)

[137] Saya juga menyampaikan terima


kasih dan penghargaan kepada segenap
komponen bangsa,

Penjelasan (PJ)

[138] yang pada lima tahun ke dua era


reformasi, ikut berkontribusi
[139] dan membantu saya dalam
mengelola, mengawal dan terus menata
arah reformasi kita.
[140] Periode 5 tahun ini, sebagaimana
yang kita ketahui dan rasakan bersama,

Pengingat (PE)

Pernyataan (PE)

[141] negara kita juga menghadapi


tantangan dan ujian,

Membanding
(MG)

[142] baik dari dalam negeri maupun luar


negeri.

Fokus (FO)
[143] Insya Allah, reformasi yang sedang
dan terus kita jalankan ini akan benarbenar membawa manfaat dan
kemaslahatan bagi bangsa dan negara.
Salam Pembuka
(Spe)
Pengingat (PN)

masih=
Modalisasi/Keseringan/Rendah

mesti= Modulasi/Keharusan/Tinggi

terus
=Modalisasi/Keseringan/Tinggi

Insa Allah=
Modalisasi/Probabilitas/ menengah
akan= Modalisasi:Probabilitas
/Menengah
terus=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

[144] Saudara-saudara,
[145] Kita pun masih ingat semangat dan
cita-cita reformasi yang bergelora pada
saat itu.

masih= Modalisasi:
Keseringan/Rendah

Pernyataan (PE)

[146] Kita ingin demokrasi tumbuh dan


mekar di republik ini.

Ingin=Modulasi:Kecenderungan/Re
ndah

Pernyataan (PE)

[147] Kita ingin menghadirkan


konstitusionalisme dan checks and
balances dalam kehidupan bernegara.

Ingin=
Modulasi:Kecenderungan/Rendah

167
Universitas Sumatera Utara

Penegasan (PG)

Pernyataan (PE)

Pernyataan (PE)

[148] Kita ingin mewujudkan negara yang


menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia,
tanpa diskriminasi.
[149] Kita merindukan negara yang
menjamin hak warga negara untuk
berserikat, berkumpul, dan menyatakan
pendapat, termasuk hadirnya kebebasan
pers.
[150] Kita mendambakan pemilihan umum
yang aman, damai, jujur dan adil.

Pernyataan (PE)
[151] Kita mengharapkan hukum dan
keadilan ditegakkan, serta korupsi, kolusi
dan nepotisme terus diberantas.
Ringkasan (RK)

Penegasan (PG)/
Penjelasan (PJ)

Fokus (FO)

Pernyataan (PE)

Pernyataan (PE)/
Penjelasan (PJ)

Fokus (FO)/
Penjelasan (PJ)

Pernyataan (PE)

[152] Kita bertekad untuk mewujudkan


negara yang dikelola dengan tata
pemerintahan yang baik (good
governance).
[153] Lebih lanjut lagi, kita juga ingin
mewujudkan pembangunan yang inklusif
dengan desentralisasi dan otonomi daerah,
sehingga rakyat Indonesia di daerahdaerah dapat merasakan manfaat
pembangunan secara adil dan bermartabat.
[154] Bersamaan dengan itu, kitapun
menuntut pembangunan ekonomi yang
makin inklusif dan berkeadilan.
[155] Dalam sepuluh tahun ini, sejumlah
perubahan besar telah dan sedang kita
jalankan.
[156] Kita telah melaksanakan reformasi
konstitusi dengan melakukan empat kali
perubahan terhadap Undang-undang Dasar
1945, yang salah satu tujuannya adalah
memperkuat parlemen kita.
[157] Reformasi juga melahirkan lembagalembaga negara yang baru, seperti Dewan
Perwakilan Daerah, Mahkamah Konstitusi,
Komisi Pemberantasan Korupsi dan lainlain, untuk antara lain memperkuat
mekanisme checks and balances dalam
sistem ketatanegaraan kita.
[158] Kita telah merevisi berbagai
Undang-undang dan peraturan pemerintah
agar sesuai dengan semangat dan cita-cita
reformasi.

Ingin=
Modulasi:Kecenderungan/Rendah
merindukan=Modulasi/Keharusan/
Menengah

mendambakan=Modulasi/Keharusa
n/ Menengah
mengharapkan=Modulasi/Keharusa
n/ Menengah
terus
=Modalisasi/Keseringan/Tinggi
bertekad=Modulasi/Kecenderungan
/ Menengah

ingin=
Modulasi:Kecenderungan/Rendah
dapat=
Modulasi/Keharusan/Rendah

makin=
Modalisasi/Keseringan/Rendah

168
Universitas Sumatera Utara

Pernyataan (PE)

Pernyataan (PE)

Penegasan (PG)

Penjelasan (PJ)

[159] Kita pun telah mereformasi sistem


pemilu agar dapat memaksimalkan
akuntabilitas wakil rakyat kepada rakyat
yang diwakilinya.
[160] Di negeri ini, Presiden dan Wakil
Presiden, Gubernur dan Wakil Gubernur,
Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota
dan Wakil Walikota pun telah dipilih
secara langsung oleh rakyat.
[161] Dunia juga telah mengakui bahwa
kita telah mampu menjalankan
demokratisasi berskala besar.
[162] Termasuk di dalamnya reformasi
TNI, dengan penghapusan Dwi Fungsi
ABRI dan peran sosial-politiknya.

Pernyataan (PE)
[163] Insya Allah, pada tahun ini, kita
akan menyelesaikan pelimpahan bisnis
TNI kepada negara, yang selama ini sering
mengundang kontroversi.
Ringkasan (RK)
[164] Dengan itu, TNI dapat benar-benar
berkonsentrasi untuk menjalankan tugas
pokoknya dan tampil secara profesional
sehingga mampu mempertahankan setiap
jengkal wilayah tanah air kita.
Penegasan (PG)

Membanding
(MG)

Penilaian (PL)

Penegasan (PG)
Salam Pembuka
(Spe)
Pernyataan (PE)

[165] Dalam mengatasi gangguan


keamanan dalam negeri, kita pun memilih
cara-cara yang lebih bermartabat,
demokratis dan damai, dengan tentu saja
tetap menjaga kedaulatan dan keutuhan
NKRI.
[166] Kebijakan dan cara-cara
penyelesaian konflik seperti ini adalah
sesuatu yang tidak kita kenal di masa yang
lalu.
[167] Di atas segalanya, dalam
penyelenggaraan pemerintahan, kita telah
menerapkan prinsip-prinsip good
governance dan pemberantasan korupsi
yang agresif, tanpa pandang bulu.
[168] Di republik ini, tidak ada seorang
pun yang kebal hukum.

Insa Allah=
Modalisasi:Probabilitas/ Menengah
akan=Modalisasi:Probabilitas
/Menengah
sering=Modalisasi/Keseringan/Ting
gi
dapat=
Modulasi/Keharusan/Rendah
benarbenar=Modalisasi/Probabilitas/
Tinggi
mampu= Modalisasi:
Probabilitas/Rendah
tentu= Modalisasi:Probabilitas
/Tinggi
tetap= Modalisasi:Probabilitas
/Tinggi

[169] Saudara-saudara,
[170] Dalam pelaksanaan semua agenda
reformasi tersebut, tidaklah selalu mudah.

selalu=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

169
Universitas Sumatera Utara

Penjelasan (PJ)

[171] Reformasi kita penuh dengan pasang


dan surut, sering menghadapi resistensi,
serta ada pula yang menjalankannya secara
berlebihan.
[172] Namun, semua itu adalah wajar
dalam proses reformasi, dalam perubahan
yang berskala besar.
[173] Kita tidak perlu cemas, dan tidak
perlu pula frustrasi.
[174] Dalam menjalankan agenda-agenda
reformasi, apa yang terasa baik dan tepat
mari kita lanjutkan.
[175] Sebaliknya, apa yang terasa tidak
sesuai dan justru menimbulkan hal-hal
yang lebih buruk,
[176] mari kita koreksi dan kita perbaiki
[177] Ingat, reformasi pada hakikatnya
adalah perubahan dan kesinambungan,
change and continuity.
[178] Saudara-saudara se-Bangsa dan seTanah air,
Hadirin yang saya muliakan,
[179] Setelah melihat tonggak-tonggak
sejarah bangsa enam puluh empat tahun
yang lalu,
[180] ketika kita baru saja
memproklamasikan kemerdekaan kita;
lima puluh tahun yang lalu, ketika terjadi
tonggak sejarah peralihan model
demokrasi kita dari Demokrasi
Parlementer ke Demokrasi Terpimpin;
[181] dan sepuluh tahun yang lalu, ketika
kita baru saja mengawali reformasi
berskala besar, kita patut memetik
pelajaran yang amat berharga,
[182] agar kita tidak melangkah dari satu
ujung pendulum ke ujung pendulum
lainnya, dari satu ekstrim ke ekstrim yang
lain.
[183] Mari bersama-sama kita jaga agar
langkah kita ke masa depan tetap dalam
koridor yang tepat,
[184] sehingga masa depan yang gemilang
dapat kita raih secara bersama pula.

sering=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

Pernyataan (PE)

[185] Barangkali ada sejumlah pertanyaan


kritis yang patut kita ajukan.

patut=
Modulasi:Keharusan/Menengah

Cek (CK)

[186] Indonesia seperti apa yang kita


harapkan dalam kurun waktu, sepuluh,
lima belas tahun mendatang, atau dalam

harapkan=Modulasi/Keharusan/
Menengah

Evaluasi (EV)

Penegasan (PG)
Penilaian (PL)

Cek (CK)
Penegasan (PG)

Salam Pembuka
(Spe)
Pengingat (PN)/

Pengingat (PN)/
Evaluasi (EV)

Fokus (FO)

patut=
Modulasi:Keharusan/Menengah

dapat=
Modulasi/Keharusan/Rendah

170
Universitas Sumatera Utara

jangka menengah?

Cek (CK)

Salam Pembuka
(Spe)
Pengingat (PN)/
Penjelasan (PJ)/
Penegasan (PG)

Fokus (FO)

Penegasan (PG)

[187] Kita juga bertanya, lantas di abad


dua puluh satu ini, Indonesia seperti apa
yang hendak kita tuju,
[188] katakanlah dalam bentangan waktu
tiga puluh, lima puluh tahun ke depan,
bahkan dalam bentangan waktu yang lebih
panjang?
[189] Saudara-saudara,

hendak=Modulasi/Kecendrungan/
Menengah

[190] Dalam peringatan satu abad


Kebangkitan
Nasional tahun lalu, saya telah
menyampaikan pidato, bahwa tiga puluh
tahun, lima puluh tahun ke depan di abad
dua puluh satu ini,
[191] kita yakin Indonesia akan menjadi
negara yang maju, bermartabat dan
sejahtera.
[192] Indonesia seperti itu akan bisa kita
wujudkan manakala kita bisa
memperkokoh tiga pilar kehidupan
bernegara kita yaitu: Kemandirian, Daya
Saing dan Peradaban yang unggul.
[193] Ya, 3 pilar itulah yang harus kita
perkokoh bersama-sama.

yakin=
Modalisasi/Probabilitas/Tinggi
akan= Modalisasi/Probabilitas
/Menengah

akan= Modalisasi/Probabilitas
/Menengah
bisa= Modulasi/Keharusan/Rendah
bisa= Modulasi/Keharusan/Rendah
harus= Modulasi:Keharusan/Tinggi

Pernyataan (PE)/
Penjelasan (PJ)

[194] Pilar pertama, kita harus menjaga


dan memperkuat kemandirian kita,
[195] karena kemandirian adalah dasar
dari kekuatan, ketahanan, dan kemampuan
kita untuk terus maju sebagai bangsa.

harus= Modulasi/Keharusan/Tinggi
terus =
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

Penilaian (PL)

[196] Kita tidak boleh memiliki


ketergantungan yang tinggi kepada negara
lain, bahkan kepada dunia.

boleh=Modulasi/Keharusan/Rendah

Penegasan (PG)
[197] Kita ingin, makin ke depan, dengan
sumber daya dan kekuatan budaya yang
kita miliki, kemandirian sebagai bangsa
dapat terus kita tingkatkan.

Penegasan (PG)
[198] Kita harus bisa menjadi bangsa yang
dapat menyediakan sendiri sebagian besar
kebutuhan dasarnya.

ingin=
Modulasi:Kecenderungan/Rendah
makin=
Modalisasi/Keseringan/Rendah
dapat=
Modulasi/Keharusan/Rendah
terus =
Modalisasi/Keseringan/Tinggi
harus= Modulasi/Keharusan/Tinggi
bisa=
Modulasi/Keharusan/Menengah
dapat=
Modulasi/Keharusan/Rendah

171
Universitas Sumatera Utara

Pernyataan (PE)

Pernyataan (PE)

Pernyataan (PE)/
Penjelasan (PJ)

Pernyataan (PE)

Ringkasan (RK)

Penegasan (PG)

Pesan (PS)

Ringkasan (RK)/
Penegasan (PG)

Evaluasi (EV)

[199] Bangsa yang tidak terjerat dalam


hutang yang membebani.
[200] Bangsa yang tidak didikte, baik
secara politik, ekonomi, maupun militer
oleh negara manapun.
[201] Pilar kedua, kita juga harus
memiliki daya saing yang makin tinggi.
[202] Dalam era globalisasi yang sarat
dengan persaingan dan tantangan ini,
[203] bangsa yang menang dan unggul
adalah bangsa yang produktif dan inovatif,
menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi, cerdas mengambil peluang,
serta berani menghadapi perubahan.
[204] Dan, pilar ketiga, kita harus mampu
membangun dan memiliki peradaban
bangsa yang unggul dan mulia.
[205] Itulah sebabnya, kita perlu terus
mempertahankan nilai, jati diri dan
karakter bangsa kita yang luhur dan
terhormat.
[206] Kita perlu terus meningkatkan
semangat dan etos kerja sebagai bangsa
yang kuat dan gigih.
[207] Kita terus membangun peradaban
yang menghadirkan persaudaraan dan
kerukunan bangsa, serta memelihara
kelestarian alam.
[208] Dalam menghadapi dan
menyelesaikan masalah, kita dituntut
untuk selalu mengedepankan cara-cara
yang damai, beradab dan demokratis,
[209] bukan dengan cara-cara kekerasan
dan mengabaikan pranata sosial dan
pranata hukum.
[210] Dengan tiga pilar kehidupan
bernegara ini---kemandirian, daya saing
dan peradaban bangsa yang unggul dan
mulia--[211] saya yakin Indonesia akan mampu
menghadapi berbagai tantangan dan
cobaan, betapapun beratnya, apapun
bentuknya, dan dari manapun datangnya.
[212] Dan manakala kita bisa
memperkokoh ke tiga pilar tersebut,
[213] kita akan menjadi negara yang maju
dan sukses di abad ini dan abad-abad
selanjutnya.

harus=Modulasi/Keharusan/Tinggi
makin=
Modalisasi/Keseringan/Rendah

harus= Modulasi:Keharusan/Tinggi
mampu=
Modulasi/Keharusan/Menengah
perlu=Modulasi/Kecendrungan/
Tinggi
terus=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi
perlu=Modulasi/Kecendrungan/
Tinggi
terus
=Modalisasi/Keseringan/Tinggi
terus =
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

selalu=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

yakin=Modalisasi/Probabilitas/
Tinggi
akan=Modalisasi/Probabilitas/
Menengah
mampu=
Modalisasi/Probabilitas/Rendah

bisa= Modulasi/Keharusan/Rendah
bisa= Modulasi/Keharusan/Rendah

172
Universitas Sumatera Utara

Pesan (PS)

[214] Syaratnya, saudara-saudara, tentu


saja, kita harus membangun negara kita
dengan persatuan, pikiran cerdas, dan kerja
keras tanpa kenal lelah dari segenap
komponen bangsa.
[215] Untuk melaksanakan semua itu,
bangsa kita memerlukan pikiran-pikiran
besar, serta karya-karya bangsa yang besar
pula.
[216] Pikiran besar yang saya maksud
antara lain, sudah saatnya kita memilih dan
kemudian menjalankan paradigma dan
grand strategy pembangunan ekonomi kita
yang lebih tepat.
[217] Kita harus memetik pelajaran dari
krisis perekonomian besar yang terjadi
sekarang ini,
[218] dan menelurkan pikiran-pikiran
besar tentang arah dan strategi
pembangunan ekonomi kita.
[219]Saudara-saudara,

harus= Modulasi/Keharusan/Tinggi
tentu=
Modalisasi/Probabilitas/Tinggi

[220] Paradigma dan Strategi Besar


Pembangunan Ekonomi yang saya
maksudkan adalah:
Pertama-tama, pembangunan ekonomi
Indonesia ke depan nanti mesti lebih
memadukan pendekatan sumber daya
(resources), pengetahuan (knowledge), dan
budaya (culture) yang kita miliki.

mesti= Modulasi/Keharusan/Tinggi

Penjelasan (PJ)

[221] Ekonomi Indonesia, ekonomi 230


juta manusia yang akan terus bertambah,
[222] ekonomi tanah air seluas 8 juta km
persegi, juga harus memiliki
kesinambungan.
[223] Pertumbuhan ekonomi yang kita
pilih dan anut adalah pertumbuhan disertai
pemerataan, growth with equity, agar
benar-benar membawa rasa adil.

akan = Modalisasi/Probabilitas
/Menengah
terus=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi
harus= Modulasi/Keharusan/Tinggi

Penegasan (PG)

[224] Ke depan kita harus memperkuat


ekonomi dalam negeri, pasar dalam negeri,
[225] dan tidak boleh hanya
menggantungkan kekuatan ekspor sebagai
sumber pertumbuhan kita.
[226] Oleh karena itu strategi yang hanya
bersifat export oriented tentu bukanlah
pilihan kita.

harus=Modulasi/Keharusan/Tinggi
boleh=Modulasi/Keharusan/Rendah

Ringkasan (RK)

Pernyataan (PE)

Penegasan (PG)/
Fokus (FO)

Salam Pembuka
(Spe)
Pernyataan (PE)/
Fokus (FO)

Ringkasan (RK)

tentu=
Modalisasi/Probabilitas/Tinggi

harus= Modulasi/Keharusan/Tinggi

tentu=Modalisasi/Probabilitas/
Tinggi

173
Universitas Sumatera Utara

Pernyataan (PE)

Penegasan (PG)
Penegasan (PG)

Penjelasan (PJ)

Penjelasan (PJ)

Penjelasan (PJ)

Salam Pembuka
(Spe)
Penegasan (PG)

[227] Di sisi lain, ekonomi nasional


mestilah berdimensi kewilayahan, dengan
pertumbuhan ekonomi yang tersebar di
seluruh tanah air.
[228] Daerah-daerah harus menjadi
kekuatan ekonomi lokal.

mestilah=
Modulasi/Keharusan/Tinggi

[229] Sumber-sumber investasi dan


pendanaan dalam negeri juga mesti kita
perkuat.
[230] Kemandirian dan ketahanan pada
bidang-bidang atau sektor ekonomi
tertentu harus terus kita perkuat, terutama
pangan dan energi.
[231] Ekonomi nasional mesti
dikembangkan berdasarkan keunggulan
komparatif (comparative advantage)
[232] dan sekaligus keunggulan kompetitif
(competitive advantage).

mesti= Modulasi:Keharusan/Tinggi

harus= Modulasi:Keharusan/Tinggi

harus= Modulasi:Keharusan/Tinggi
terus =
Modalisasi/Keseringan/Tinggi
mesti= Modulasi:Keharusan/Tinggi

[233] Dan, terakhir, diperlukan ekonomi


nasional yang dilandasi oleh mekanisme
pasar untuk efisiensi,
[234] tetapi juga memberikan ruang bagi
peran pemerintah yang tepat untuk
menjamin keadilan.
[235] Saudara-saudara,
[236] Paradigma dan Grand Strategy
pembangunan ekonomi seperti itulah yang
mesti kita anut dan perkokoh.

mesti= Modulasi:Keharusan/Tinggi

Ringkasan (RK)

[237] Intinya, kita tidak boleh terjerat,


menyerah dan tersandera oleh kapitalisme
global yang fundamental, yang sering
membawa ketidakadilan bagi kita semua.

boleh=Modulasi/Keharusan/Rendah
sering=Modalisasi/Probabilitas/
Tinggi

Penjelasan (PJ)

[238] Disisi lain, bangsa yang unggul


adalah bangsa yang dapat mengatasi
keadaan dan memberi kontribusi pada
permasalahan umat manusia.
[239] Kuncinya adalah inovasi, termasuk
dan terutama inovasi teknologi yang harus
kita lakukan secara fundamental dan
secara terus menerus.
[240] Hanya bangsa yang inovatif, adaptif
dan produktiflah yang akan mampu
menjaga kelangsungan hidupnya, dan
berjaya di muka bumi ini.
[241] Di sini menonjol peran penelitian,
pengembangan dan aplikasi teknologi serta
budaya unggul dan juga kewirausahaan.

dapat=
Modulasi/Kecendrungan/Tinggi

Penjelasan (PJ)

Penegasan (PG)

Penjelasan (PJ)

harus= Modulasi:Keharusan/Tinggi
terus=Modalisasi/Keseringan/
Tinggi
akan=Modalisasi:Probabilitas
/Menengah
mampu=Modulasi/Keharusan/
Menengah

174
Universitas Sumatera Utara

Fokus (FO)

[242] Sementara itu, dalam menatap masa


depan, adalah suatu keniscayaan bagi
bangsa Indonesia untuk terus membangun
budaya unggul (culture of excellence) dan
peradaban yang mulia.

Ringkasan (RK)

[243] Dari kedua hal inilah kita


mengembangkan karakter, semangat, dan
keuletan bangsa kita.
[244] Di situ pulalah jati diri bangsa kita
ditempa.

Salam Pembuka
(Spe)
Ringkasan (RK)

Pernyataan (PE)

Fokus (FO)/
Pernyataan (PE)

Penegasan (PG)
Cek (CK)/
Penjelasan (PJ)

Ringkasan (RK)

[245] Dalam kaitan ini peran pendidikan,


dalam arti yang luas, amat penting.
[246] Oleh karena itu reformasi bidang
pendidikan yang tengah kita jalankan ini
harus terus disukseskan.
[247] Saudara-saudara,

terus =
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

harus= Modulasi:Keharusan/Tinggi
terus =
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

[248] Uraian di atas tadi adalah proyeksi


kita pada jangka tiga puluh- lima puluh
tahun mendatang,
[249] setelah kita melakukan kilas balik
lima puluh tahun ke belakang.
[250] Sementara itu, jika saya mengajak
melihat bentangan waktu yang lebih
pendek, sepuluh tahun mendatang, maka
misi sejarah kita tiada lain adalah
melaksanakan reformasi gelombang kedua.
[251] Agenda utama reformasi gelombang
kedua ini adalah menuntaskan agendaagenda reformasi yang telah saya jabarkan
sebelumnya, dan kemudian
meningkatkannya.
[252] Sekali lagi, semuanya tetap dalam
kerangka perubahan dan kesinambungan.
[253] Reformasi gelombang kedua ini,
kalau saya boleh mengatakan, hakikatnya
adalah untuk membebaskan Indonesia dari
dampak dan ekor krisis yang terjadi 10
tahun yang lalu,
[254] dan kemudian pada tahun 2025
negara kita berada dalam fase untuk benarbenar bergerak menuju negara maju.
[255] Inilah visi kita untuk tahun 2025,
Visi Indonesia 2025.

tetap= Modalisasi:Probabilitas
/Tinggi

175
Universitas Sumatera Utara

Penilaian (PL)

[256] Rasanya kita bisa sepakat, Insya


Allah di tahun 2025 mendatang, kehidupan
berbangsa dan bernegara kita akan berada
dalam kondisi yang jauh lebih baik.

Pernyataan (PE)

[257] Sasaran utama yang kita tuju di


tahun 2025 adalah: Pertama, Persatuan
dan Harmoni Sosial yang semakin kokoh.

Penegasan (PG)/
Fokus (FO)

[258] Kita bertekad untuk membangun


bangsa Indonesia yang bersatu, adil dan
makmur dalam suatu tatanan kehidupan
sosial-kemasyarakatan yang harmonis.
[259] Bhinneka Tunggal Ika.
[260] Jangan lagi kita mengulangi sejarah
kelam seperti konflik yang terjadi di Poso,
Ambon, Sampit dan Aceh.
[261] Aksi terorisme dengan melakukan
pemboman di tempat-tempat umum adalah
tindakan yang sungguh tidak
berperikemanusiaan.
[262] Korbannya adalah orang-orang yang
tidak berdosa, baik warga negara sahabat
maupun warga negara Indonesia sendiri.

bertekad=Modulasi/Kecenderungan
/ Menengah

[263] Kaum teroris ingin kita tercekam


dalam ketakutan dan kemudian
menghentikan kegiatan sehari-hari.
[264] Kita bersyukur, bangsa Indonesia
adalah bangsa yang besar, bangsa yang
kuat, yang mampu menghadapi segala
tantangan, termasuk terorisme.
[265] Hari ini kita bisa melihat nilai rupiah
dan indeks harga saham kita justru
semakin menguat.
[266] Berbagai kegiatan ekonomi dan
kegiatan masyarakat lainnya terus berjalan
semakin semarak.
[267] Kedua, Stabilitas nasional kita mesti
semakin mantap.

ingin=
Modulasi/Kecenderungan/Rendah

Pesan (PS)/
Memberi Contoh
(MC)
Pernyataan (PE)

Pernyataan (PE)

Pernyataan (PE)

Penjelasan (PJ)

Penjelasan (PJ)

Pernyataan (PE)

Penilaian (PL)

Fokus (FO)

[268] Dalam beberapa tahun terakhir ini,


situasi keamanan di negeri kita,
alhamdulillah telah semakin baik.
[269] Lima tahun terakhir ini ekonomi kita
terus tumbuh, kemiskinan berkurang, dan
pengangguran pun menurun.

Rasanya= Modalisasi:Probabilitas
/Rendah
bisa= Modulasi/Keharusan/Rendah
Insya Allah=
Modalisasi/Probabilitas/ Menengah
akan= Modalisasi:Probabilitas
/Menengah
semakin= Modalisasi: Keseringan/
Rendah

bersyukur=modulasi/Keharusan/
Tinggi
mampu=
Modulasi/Keharusan/Menengah
bisa=Modulasi/Keharusan/Rendah
terus=Modalisasi/Keseringan/
Tinggi
semakin=
Modalisasi/Keseringan/Rendah
mesti=Modalisasi/Probabilitas/
Tinggi
semakin=Modalisasi/Keseringan/
Rendah
semakin=
Modalisasi/Keseringan/Rendah
terus =
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

176
Universitas Sumatera Utara

Penegasan (PG)

Pernyataan (PE)/
Penjelasan (PJ)

Penjelasan (PJ)

[270] Sayang sekali stabilitas keamanan


yang semakin baik ini terganggu dengan
adanya aksi terorisme yang terjadi sebulan
yang lalu.
[271] Dalam aksi terorisme kali ini, ada
suatu gejala yang baru yaitu aksi terorisme
ditujukan langsung untuk melawan
negaranya sendiri,
[272] termasuk rencana asasinasi kepada
kepala negaranya.
[273] Dalam sidang yang terhormat ini,
saya ingin menegaskan bahwa negara tidak
boleh dan tidak akan kalah melawan
terorisme.

Pernyataan (PE)

[274] Pemerintahan yang saya pimpin


akan terus berjalan sebagaimana mestinya,
melindungi rakyat, melayani rakyat dan
meningkatkan kesejahteraan seluruh
bangsa Indonesia.

Pernyataan (PE)

[275] Pada kesempatan yang baik ini, saya


sampaikan terima kasih dan penghargaan
yang tinggi kepada segenap jajaran
Kepolisian Negara Republik Indonesia
yang tidak kenal lelah dan menyerah
dalam memberantas terorisme di tanah air.
[276] Saya minta, aparat kepolisian dan
jajaran aparat keamanan lainnya untuk
tidak pernah lengah.
[277] Terus tingkatkan kewaspadaan, serta
cegah dan berantas aksi teror hingga ke
akar-akarnya, di manapun mereka berada,
siapapun mereka, dan apapun motivasinya.

Fokus (FO)/

Penegasan (PG)

Pesan (PS)

Pesan (PS)/
Penjelasan (PJ)

Pesan (PS)

Penjelasan (PJ)

[278] Kepada seluruh rakyat Indonesia,


marilah kita bersama bersatu melawan
aksi-aksi terorisme.
[279] Marilah kita lindungi warga dan
anak-anak muda kita dari pikiran-pikiran
sesat dan ekstrim, yang bisa mengarahkan
mereka kepada tindakan terorisme.
[280] Bantulah aparat keamanan dengan
memberikan informasi terhadap pelaku
terorisme yang bersembunyi di tengahtengah masyarakat kita.
[281] Kita mengetahui bahwa aksi-aksi
terorisme memiliki beberapa akar
penyebab yang utama, seperti kemiskinan
dan keterbelakangan, ketidakadilan di
berbagai wilayah dunia, dan akar-akar

semakin= Modalisasi:
Keseringan/Rendah

ingin=
Modulasi:Kecenderungan/Rendah
boleh=
Modulasi/Keharusan/Rendah
akan= Modalisasi:Probabilitas
/Menengah
akan= Modalisasi:Probabilitas
/Menengah
terus=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

terus=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

bisa= Modulasi/Keharusan/Rendah

177
Universitas Sumatera Utara

Evaluasi (EV)

Ringkasan (RK)

Fokus (FO)

Penegasan (PG)

Penegasan (PG)

Penegasan (PG)

Fokus (FO)

radikalitas itu sendiri.


[282] Terhadap itu semua, pembangunan
yang kita lakukan justru bertujuan untuk
mengatasi kemiskinan, keterbelakangan
dan juga ketidakadilan.
[283] Oleh karena itu, strategi yang kita
tempuh tetap memiliki dua sasaran;
pertama, mengatasi akar-akar penyebab;
dan kedua, langkah-langkah intensif untuk
mencegah dan memberantas aksi-aksi
terorisme kapanpun dan di manapun.
[284] Adapun sasaran ketiga, saudarasaudara, Demokrasi dan Keterbukaan
harus terus kita mantapkan.
[285] Kita harus terus memajukan dan
mematangkan demokrasi dan keterbukaan
dalam penyelenggaraan kehidupan
berbangsa.
[286] Kita akan terus menyempurnakan
mekanisme checks and balances di
lingkungan penyelenggara negara.

[287] Kita juga terus meningkatkan


kualitas pembinaan partai politik sebagai
sarana agregasi dan artikulasi kepentingan
publik, dan sebagai pembelajaran politik
masyarakat.
[288] Peran dan fungsi pers nasional
sebagai pilar keempat demokrasi mesti
terus dimantapkan.

tetap= Modalisasi:Probabilitas
/Tinggi

harus= Modulasi:Keharusan/Tinggi
terus=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi
akan=Modalisasi:Probabilitas
/Menengah
terus=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi
terus=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

mesti=Modalisasi/Probabilitas/
Tinggi
terus=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

Penilaian (PL)

[289] Kita patut bangga, bahwa sekarang


ini Indonesia adalah negara demokrasi
terbesar ketiga di dunia;

patut= Modalisasi:Probabilitas
/Menengah

Pernyataan (PE)

[290] Keempat, Hukum dan Ketertiban


(law and order) harus tetap kita jaga.

Penjelasan (PJ)

[291] Kita akan terus melaksanakan


penegakan hukum secara konsisten dan
berkeadilan.

harus= Modulasi/Keharusan/Tinggi
tetap=Modulasi/Kecendrungan/
Tinggi
akan=Modalisasi/Probabilitas
/Menengah
terus=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

Penilaian (PL)

[292] Ke depan, posisi hukum sebagai


panglima harus semakin kokoh dan
semakin mantap.

harus=Modulasi/Keharusan/Tinggi
semakin=
Modalisasi/Keseringan/Rendah
semakin=
Modalisasi/Keseringan/Rendah

178
Universitas Sumatera Utara

Penjelasan (PJ)

Penegasan (PG)

Pernyataan (PE)

[293] Kemandirian kekuasaan kehakiman


yang lebih ditegaskan dalam perubahan
UUD 1945, telah menghadirkan lembaga
peradilan yang semakin bebas dalam
mengambil keputusan-keputusannya.
[294] Bahkan, Mahkamah Konstitusi
melalui beberapa putusannya yang
monumental telah mengukuhkan
supremasi konstitusi dan hukum di
Indonesia;
[295] Kelima, Pertumbuhan ekonomi
mesti terus kita jaga dan tingkatkan.

Penjelasan (PJ)

[296] Kita harus terus memelihara


pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.

Penjelasan (PJ)

[297] Pertumbuhan ekonomi harus


ditopang oleh kemampuan kita dalam
menyelenggarakan aktifitas ekonomi yang
makin produktif dan makin mandiri.

Penjelasan (PJ)

[298] Pertumbuhan ekonomi yang tinggi


harus memanfaatkan semua peluang yang
tersedia di era globalisasi.
[299] Pertumbuhan ekonomi yang tinggi,
pada gilirannya akan makin memperkuat
ketahanan ekonomi kita.

Penjelasan (PJ)

Cek (CK)/

Evaluasi (EV)

[300] Dalam situasi krisis keuangan global


dewasa ini, ketika negara-negara lain
mengalami pertumbuhan ekonomi negatif,
[301] Alhamdulillah, ekonomi kita tetap
dapat tumbuh positif di atas 4% per tahun,
salah satu pertumbuhan ekonomi tertinggi
di dunia.

Pernyataan (PE)

[302] Keenam, Kesejahteraan Rakyat


mesti terus kita tingkatkan.

Penjelasan (PJ)

[303] Pembangunan ekonomi yang


produktif, hasil-hasilnya harus kita alirkan
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat
dan memajukan taraf hidup masyarakat
kita.
[304] Sasaran yang kita tuju adalah makin
berkurangnya angka kemiskinan,
menurunnya pengangguran, dan makin
berkualitasnya layanan fungsi-fungsi
kesejahteraan, utamanya pendidikan dan

Penjelasan (PJ)

semakin=Modalisasi/Keseringan/
Rendah

mesti=Modalisasi/Probabilitas/
Tinggi
terus=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi
harus= Modulasi/Keharusan/Tinggi
terus=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi
harus= Modulasi/Keharusan/Tinggi
makin=
Modalisasi/Keseringan/Rendah
makin=
Modalisasi/Keseringan/Rendah
harus= Modulasi:Keharusan/ Tinggi

akan=Modalisasi:Probabilitas
/Menengah
makin= Modalisasi:
Keseringan/Rendah

tetap = Modalisasi/Probabilitas
/Tinggi
dapat=
Modulasi/Keharusan/Rendah
mesti=
Modalisasi/Probabilitas/Tinggi
terus=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi
harus= Modulasi/Keharusan/Tinggi

makin=
Modalisasi/Keseringan/Rendah
makin=
Modalisasi/Keseringan/Rendah

179
Universitas Sumatera Utara

Membanding
(MG)

Pernyataan (PE)

Penjelasan (PJ)

Cek (CK)/

Membanding
(MG)
Fokus (FO)

Penilaian (PL)

Pernyataan (PE)

Penjelasan (PJ)

kesehatan.
[305] Kita bersyukur bahwa angka
kemiskinan berkurang dari 16,7 % pada
tahun 2004 menjadi 14,1 % pada Maret
2009,
[306] dan tingkat pengangguran berkurang
dari 9,9% pada tahun 2004 menjadi 8,1%
pada Februari 2009.
[307] Ketujuh, pembangunan Tata Kelola
Pemerintahan yang baik (good
governance)
[308] dan Pemberantasan Korupsi mesti
terus ditingkatkan.
[309] Kita bertekad untuk mewujudkan
pemerintahan yang melindungi rakyat,
melayani dan meningkatkan taraf hidup
rakyat secara efektif.
[310] Kita pun bertekad untuk
mewujudkan pemerintahan yang bersih
dan berwibawa.
[311] Sekarangpun indeks persepsi korupsi
Indonesia menurut Transparansi
Internasional, terus membaik.
[312] Pada tahun 2004 Indonesia berada
pada nomor 10 dari bawah, dan pada tahun
2008 menjadi nomor 55 dari bawah.
[313] Di masa depan nanti, pakta integritas
akan menjadi best practices di semua lini
pembangunan.
[314] Pemerintahan Indonesia masa depan,
Insya Allah, akan makin bersih dari semua
wujud tindak pidana KKN.

[315] Kesembilan, Pembangunan daerah di


seluruh wilayah tanah air harus berjalan
makin intensif.
[316] Kita terus melaksanakan
pembangunan nasional secara merata di
seluruh wilayah tanah air.

Penegasan (PG)

[317] Tak boleh ada satu pun daerah yang


tertinggal terlalu jauh dibandingkan daerah
lainnya.

Cek (CK)/

[318] Dalam lima tahun terakhir ini jumlah


daerah tertinggal telah berkurang dari 199
kabupaten di tahun 2004 menjadi 159
kabupaten pada tahun 2008.

bersyukur=Modalitas/Keharusan/
Tinggi

mesti=
Modalisasi/Probabilitas/Tinggi
terus=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi
bertekad=
Modulasi:Kecenderungan/
Menengah
bertekad=
Modulasi/Kecenderungan/
Menengah
terus=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

akan=Modalisasi/Probabilitas/
Tinggi
InsaAllah= Modalisasi/Probabilitas/
Menengah
akan= Modalisasi/Probabilitas/
Tinggi
makin=Modalisasi/Keseringan/Ren
dah
harus= Modulasi/Keharusan/Tinggi
makin=Modalisasi/Keseringan/
Rendah
terus =
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

boleh=Modulasi/Keharusan/Rendah

180
Universitas Sumatera Utara

Membanding
(MG)

[319] Dan pada tahun 2009 ini ada 10


Kabupaten lagi yang diharapkan bisa
keluar dari kategori Kabupaten daerah
tertinggal.
[320] Dan kesepuluh, Kemitraan dan
Kerjasama Global terus kita kembangkan.

diharapkan=Modulasi/Keharusan/
Menengah
bisa= Modulasi/Keharusan/Rendah

Penjelasan (PJ)

[321] Hubungan dan kerjasama antar


bangsa harus berada dalam konteks yang
saling menguntungkan dan berkeadilan. `

harus= Modulasi:Keharusan/Tinggi

Penegasan (PG)

[322] Prinsip ini harus kita pegang teguh,


baik dalam lingkup hubungan dan
kerjasama regional maupun global.

harus= Modulasi:Keharusan/Tinggi

Penegasan (PG)

[323] Kerjasama dan kemitraan antar


bangsa juga harus tetap mengedepankan
kepentingan nasional.
[324] Dalam beberapa tahun terakhir, kita
telah terpilih masuk dalam organisasiorganisasi dunia seperti : Dewan
Keamanan PBB, Dewan Hak-Hak Asasi
Manusia PBB, Komisi Pembangunan
Perdamaian PBB (UN Peace Building
Commission), serta Komisi Ekonomi dan
Sosial (ECOSOC).
[325] Kita juga telah kembali
mengaktifkan kerjasama Asia Afrika
dalam bentuk New Asia-Africa Strategic
Partnership yang di bentuk pada tahun
2005 di Jakarta.
[326] Indonesia juga berperan aktif dengan
menjadi tuan rumah World Islamic
Economic Forum yang diselenggarakan di
Jakarta pada bulan Maret yang lalu.
[327] Baru-baru ini Indonesia juga
menjadi tuan rumah dari World Ocean
Conference, prakarsa yang digagas oleh
Indonesia,
[328] dan mendapat dukungan yang luas
dari masyarakatglobal.
[329] Saudara-saudara,

harus= Modulasi:Keharusan/Tinggi
tetap= Modalisasi:Probabilitas
/Tinggi

Pernyataan (PE)

Pernyataan (PE)

Pernyataan (PE)

Penjelasan (PJ)

Penjelasan (PJ)

Salam Pembuka
(Spe)
Pernyataan (PE)

[330] Itulah tugas sejarah kita ke depan.

Pernyataan (PE)

[331] Itulah tantangan dan tugas besar kita


bersama.

Pernyataan (PE)

[332] Saya menyebutnya tugas sejarah dan


tugas besar.

181
Universitas Sumatera Utara

Cek (CK)

[333] Mengapa? Karena kita harus


bersama-sama membangun tanah air kita
guna mewujudkan cita-cita proklamasi dan
amanat konstitusi kita.

Salam Pembuka
(Spe)
Pernyataan (PE)

[334] Hadirin yang saya muliakan,

Penjelasan (PJ)

Pernyataan (PE)

Pernyataan (PE)

Penilaian (PL)

Cek (CK)

Pernyataan (PE)/
Penegasan (PG)

Penilaian (PL)
Pernyataan (PE)

Pernyataan (PE)

harus= Modulasi/Keharusan/Tinggi

[335] Pada kesempatan yang baik ini pula,


ada isu penting yang ingin saya sampaikan
dalam sidang Dewan yang terhormat ini,
yaitu peran, tanggung-jawab dan
kontribusi Indonesia di dunia
internasional.

ingin=
Modulasi/Kecenderungan/Rendah

[336] Sebagaimana kita ketahui,


merupakan amanah dari UUD 1945,
bahwa Indonesia harus turut aktif dalam
melaksanakan ketertiban dan perdamaian
dunia.
[337] Indonesia akan terus berkontribusi
dalam menciptakan tatanan dunia yang
aman, adil dan sejahtera.

harus= Modulasi/Keharusan/Tinggi

[338] Kita terus menjalankan diplomasi


bebas aktif secara total dan konsekwen.
Kita terus membangun hubungan luar
negeri atas dasar kemandirian, kesetaraan
dan saling menguntungkan.
[339] Dan kita harus berikhtiar agar tidak
terlindas oleh roda-roda globalisasi, namun
justru dapat meraih keuntungan dan
manfaat darinya.
[340] Penting disadari bahwa Indonesia
kini menghadapi lingkungan strategis baru
yang unik.
[341] Untuk pertama kalinya, tidak ada
negara yang kita anggap sebagai musuh,
[342] dan sebaliknya, tidak ada negara
yang memusuhi Indonesia.
[343] Ini suatu hal yang sangat langka
dalam sejarah Republik.
[344] Lingkungan strategis ini
memberikan peluang yang sangat besar
bagi diplomasi bebas aktif Indonesia untuk
semakin berkibar.
[345] Di abad ke-21 ini, kita memang
harus semakin jeli memandang dunia
internasional bukan sebagai momok atau
ancaman,
[346] namun sebagai peluang, sebagai aset

terus =
Modalisasi/Keseringan/Tinggi
terus =
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

akan=Modalisasi/Probabilitas
/Menengah
terus =
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

harus= Modulasi/Keharusan/Tinggi
dapat=
Modulasi/Keharusan/Rendah

semakin=Modalisasi/Keseringan/
Rendah

harus= Modulasi/Keharusan/Tinggi
semakin= Modalisasi/Keseringan/
Rendah

182
Universitas Sumatera Utara

dan sebagai bagian dari kekuatan dan


keunggulan bangsa.

Cek (CK)

[347] Ingatlah : negara-negara yang paling


berhasil melakukan transformasi dalam 2
atau 3 dasawarsa terakhir, adalah negaranegara yang paling jeli mengambil
keuntungan dari dunia internasional.

Pernyataan (PE)

[348] Sekarang, Indonesia dapat dengan


leluasa menempuh all directions foreign
policy,

dapat=
Modulasi/Keharusan/Rendah

Penjelasan (PJ)

[349] dimana kita dapat menjalin


hubungan persahabatan dengan pihak
manapun untuk kepentingan nasional kita
apakah Timur, Barat, Utara, dan Selatan.

dapat=
Modulasi/Keharusan/Rendah

Pernyataan (PE)

[350] Kita dapat bebas berkiprah


menjalankan diplomasi sejuta kawan, dan
tak ada musuh (a million friends, zero
enemy),
[351] karena logikanya, semakin banyak
kita berkawan dan bersahabat, semakin
aman dan sejahtera bangsa Indonesia.

dapat=
Modulasi/Keharusan/Rendah

Penjelasan (PJ)

semakin=
Modalisasi/Keseringan/Rendah
semakin=
Modalisasi/Keseringan/Rendah

Pernyataan (PE)

[352] Semua ini tentunya dilakukan atas


dasar kemandirian, kedaulatan, kesetaraan,
dan prinsip saling menguntungkan.

tentunya=Modalisasi/Probabilitas/
Tinggi

Penegasan (PG)

[353] Yang jelas, saudara-saudara


Indonesia kini menempati posisi yang
berbeda dalam percaturan internasional.

jelas=Modulasi/Kecendrungan/
Tinggi

Pernyataan (PE)

[354] Kita sudah menanggalkan citra


keterpurukan, citra instabilitas, dan citra
konflik.
[355] Dunia kini memandang Indonesia
sebagai tauladan, baik sebagai negara
demokrasi ketiga terbesar di dunia, sebagai
jembatan antara Islam dan Barat, sebagai
ekonomi terbesar di Asia Tenggara,
sebagai negara yang sukses melakukan
transformasi, maupun sebagai negara yang
menjunjung kebebasan, pluralisme dan
toleransi.

Pernyataan (PE)/
Penjelasan (PJ)/
Membanding
(MG)

183
Universitas Sumatera Utara

Pernyataan (PE)

[356] Tidaklah mengherankan kalau


semakin banyak negara-negara di dunia
yang ingin bersahabat dan bekerja-sama
dengan Indonesia,
[357] sebagaimana kita juga ingin
bersahabat dengan mereka.

semakin=Modalisasi/Keseringan/
Rendah
ingin=
Modulasi/Kecenderungan/Rendah
ingin=
Modulasi/Kecenderungan/Rendah

Pernyataan (PE)

[358] Indonesia akan selalu berpartisipasi


dalam upaya untuk menciptakan tatanan
dunia yang lebih aman dan lebih damai.

akan=Modalisasi/Probabilitas
/Menengah
selalu=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

Penjelasan (PJ)

[359] Karena itulah, Indonesia aktif


memelopori dan mendorong realisasi
terbentuknya Komunitas ASEAN.
[360] Indonesia juga akan konsisten dalam
mengimplementasikan Piagam ASEAN,
[361] yang akan mentransformasikan
ASEAN dan memperkokoh stabilitas di
Asia Tenggara.
[362] Indonesia juga dengan giat
membangun Kemitraan Strategis dengan
berbagai negara sahabat: antara lain
dengan Australia, Afrika Selatan, Brasil,
Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan,
Pakistan dan Rusia.
[363] Saudara-saudara,

Penegasan (PG)/
Penjelasan (PJ)

Pernyataan (PE)

Salam Pembuka
(Spe)
Pernyataan (PE)

akan=Modalisasi/Probabilitas
/Menengah
akan=Modalisasi/Probabilitas
/Menengah

[364] Sebagaimana diamanahkan pula oleh


UUD 1945, kita akan senantiasa aktif
dalam upaya untuk menjaga perdamaian
dunia yang masih terus dirundung konflik
yang berkepanjangan.

akan=Modalisasi/Probabilitas
/Menengah
masih=
Modalisasi/Keseringan/Rendah
terus =
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

Pernyataan (PE)

[365] Pada kesempatan yang baik ini, saya


ingin menyampaikan penghargaan,

Ingin=
Modulasi/Kecenderungan/Rendah

Penjelasan (PJ)

[366] dan apresiasi yang tinggi bagi putraputri terbaik bangsa yang saat ini bertugas
menjaga perdamaian di berbagai medan
konflik internasional yaitu: di Lebanon,
Kongo, Sudan,dan Liberia
[367] yang semuanya berada di bawah
bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pernyataan (PE)

[368] Kita juga bangga, karena untuk


pertama kalinya, Kapal Republik
Indonesia, KRI Diponegoro dari jajaran
Angkatan Laut Republik Indonesia,
sekarang ini bertugas menjaga perdamaian
di perairan Lebanon.

184
Universitas Sumatera Utara

Pernyataan (PE)

Penjelasan (PJ)

Salam Pembuka
(Spe)
Pernyataan (PE)

[369] Dengan berakhirnya konflik dan


operasi militer di berbagai wilayah tanah
air,
[370] maka penugasan untuk menjaga
perdamaian internasional adalah juga
medan latihan bagi para prajurit TNI untuk
meningkatkan profesionalitas mereka
sesuai standar militer internasional.
[371] Saudara-saudara,
[372] Kita akan terus berkontribusi dalam
penciptaan dunia yang lebih adil dan
demokratis.

Pernyataan (PE)

[373] Kita tetap konsisten mendorong


reformasi PBB, termasuk Dewan
Keamanan PBB,

Pernyataan (PE)

[374] dan mereformasi lembaga keuangan


dunia agar lebih mencerminkan realitas
perubahan kekuatan ekonomi dunia.

Penjelasan (PJ)

[375] Kita terus membantu perjuangan


bangsa Palestina untuk mewujudkan citacitanya menjadi negara yang merdeka,
berdaulat dan utuh.
[376] Indonesia juga akan tetap berjuang
menciptakan dunia yang lebih sejahtera.

Penegasan (PG)

Pernyataan (PE)

[377] Keanggotaan kita di ASEAN, G-20,


APEC, ASEM, D-8, OKI akan selalu kita
manfaatkan untuk memajukan kerjasama
dan kesejahteraan internasional.

Fokus (FO)/
Penjelasan (PJ)

[378] Melalui G-20, Indonesia terus


berupaya bersama negara maju dan
emerging economies lainnya untuk
mencari solusi terhadap krisis keuangan
global,
[379] serta menciptakan tatanan ekonomi
dunia yang lebih adil.
[380] Dalam forum OKI, Indonesia ikut
mendorong reformasi OKI,
[381] dan ikut mengusung Piagam Mekah
yang merupakan dokumen politik yang
bersejarah bagi umat Islam,
[382] khususnya dalam rangka
mempromosikan Islam moderat dan nilainilai demokrasi.

Pernyataan (PE)
Penjelasan (PJ)/

Fokus (FO)

akan=Modalisasi/Probabilitas
/Menengah
terus =
Modalisasi/Keseringan/Tinggi
Tetap= Modalisasi/Probabilitas
/Tinggi

akan=Modalisasi/Probabilitas
/Menengah
tetap= Modalisasi/Probabilitas
/Tinggi
akan=Modalisasi/Probabilitas
/Menengah
selalu=Modalisasi/Keseringan/
Tinggi
terus =
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

185
Universitas Sumatera Utara

Pernyataan (PE)

[383] Indonesia juga terus aktif menangani


isu-isu global, termasuk perubahan iklim.

Penilaian (PL)

[384] Tahun 2007, kita telah menorehkan


tinta emas dengan keberhasilan kita
menyelenggarakan UN Conference on
Climate Change, yang berhasil menelorkan
Bali Road Map.
[385] Terlepas dari berbagai upaya yang
terus dilakukan, memang masih belum ada
jaminan bahwa dalam pertemuan COP-15
di Copenhagen bulan Desember
mendatang,
[386] negara-negara maju dan berkembang
akan berhasil mencapai suatu konsensus
baru untuk rezim perubahan iklim paska2012.
[387] Dalam proses ini, Indonesia terus
berupaya berperan menjembatani dan
membangun konsensus baru.
[388] Kita juga dengan penuh tanggungjawab terus menjaga kelestarian hutan
hujan tropis yang merupakan aset dunia
untuk menurunkan emisi gas rumah kaca.
[389] Kita harus berhasil karena ini bukan
saja untuk kepentingan bangsa Indonesia,
[390] namun juga demi kepentingan yang
jauh lebih besar, yaitu kepentingan masa
depan umat manusia dan bumi kita.

Pernyataan (PE)

Penjelasan (PJ)

Pernyataan (PE)

Penjelasan (PJ)

Penegasan (PG)
Penjelasan (PJ)

Salam Pembuka
(Spe)
Pernyataan (PE)
Pernyataan (PE)

Ungkapan (UK)

Pernyataan (PE)

Penegasan (PG)

[391] Saudara-saudara se-Bangsa dan seTanah air,


Hadirin yang saya muliakan,
[392] Pada hakikatnya setiap bangsa
memiliki cita-cita dan visi strategisnya.
[393] Cita-cita ini tidak datang dari langit,
tetapi mesti kita raih dengan perjuangan
dan kerja keras.
[394] Sebagai mana pepatah Bugis
mengatakan, resopa temmangingi
namalomo naletei pammase dewata, yang
artinya hanya perjuangan dan kerja keras
yang terus menerus yang akan
mendapatkan ridho Tuhan Yang Maha
Kuasa.
[395] Kita ingin mewariskan Indonesia
kepada anak cucu kita,

terus =
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

terus =
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

akan=
Modalisasi/Probabilitas/Menengah
terus =
Modalisasi/Keseringan/Tinggi
terus =
Modalisasi/Keseringan/Tinggi

harus= Modulasi/Keharusan/Tinggi

mesti=Modulasi/Keharusan/Tinggi

terus=
Modalisasi/Keseringan/Tinggi
akan=Modalisasi/Probabilitas/Mene
ngah

ingin=
Modulasi/Kecenderungan/Rendah

[396] Indonesia yang lebih maju, lebih


bermartabat dan lebih sejahtera.

186
Universitas Sumatera Utara

Pesan (PS)

Pernyataan (PE)
Pernyataan (PE)
Penjelasan (PJ)

Pernyataan (PE)

[397] Terakhir, marilah kita mensyukuri


karunia Tuhan kepada kita bangsa
Indonesia bahwa dengan perjuangan dan
kerja keras kita,
[398] kita telah berdiri sejajar dengan
bangsa-bangsa lain di dunia.
[399] Telah jauh kita berjalan sebagai
suatu bangsa,
[400] dari sekedar bangsa jajahan menjadi
anggota negara-negara G-20, yang ikut
menentukan arah ekonomi dunia.
[401] Perjalanan kita memang masih
panjang.

Penjelasan (PJ)
[402] Namun kita yakin, dengan semangat
satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa,
[403] kita akan terus bersatu, bangkit dan
maju, menuju masa depan yang gemilang.
Ringkasan (RK)

[404] Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa,


Allah SWT, melimpahkan rahmat, karunia,
dan ridho-Nya kepada kita semua dalam
membangun bangsa,

Fokus (FO)

[405] dan negara kita menjadi bangsa yang


besar, maju, demokratis, berkeadilan, dan
bermartabat.

Orientasi (OR)
Salam Penutup
(SPp)

[406] Dirgahayu Republik Indonesia!


[407] Terima kasih,
[408] Wassalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
[409] Jakarta, 14 Agustus 2009
[410] PRESIDEN REPUBLIK
INDONESIA,

memang=Modalisasi/Probabilitas/
Menengah
masih= Modalisasi:
Keseringan/Rendah
yakin=
Modalisasi:Probabilitas/Tinggi
akan=Modalisasi:Probabilitas
/Menengah
terus=Modalisasi/Keseringan/
Tinggi

DR. H. SUSILO BAMBANG


YUDHOYONO

187
Universitas Sumatera Utara