Anda di halaman 1dari 24

DISKUSI KASUS

HIPERTENSI

Oleh:
Fitri Febrianti Ramadhan
G99142099

.
KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR MOEWARDI
SURAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Hipertensi merupakan penyakit tidak menular degeneratif. Penyakit tidak
menular (PTM) yang meliputi penyakit degeneratif dan man made diseases
merupakan faktor utama masalah morbiditas dan mortalitas.1,2 Perubahan
sosial ekonomi, lingkungan dan perubahan struktur penduduk, saat masyarakat
telah mengadopsi gaya hidup tidak sehat, misalnya merokok, kurang aktivitas
fisik, makanan tinggi lemak dan kalori, serta konsumsi alkohol diduga
merupakan faktor risiko PTM.1-3
Pada abad ke-21 ini diperkirakan terjadi peningkatan insidens dan
prevalensi PTM secara cepat, yang merupakan tantangan utama masalah
kesehatan dimasa yang akan datang. WHO memperkirakan, pada tahun 2020
PTM akan menyebabkan 73% kematian dan 60% seluruh kesakitan di dunia.
Diperkirakan negara yang paling merasakan dampaknya adalah negara
berkembang termasuk Indonesia.3,4 Salah satu PTM yang menjadi masalah
kesehatan yang sangat serius saat ini adalah hipertensi yang disebut sebagai
the silent killer. Di Amerika, diperkirakan 1 dari 4 orang dewasa menderita
hipertensi.5 Apabila penyakit ini tidak terkontrol, akan menyerang target
organ, dan dapat menyebabkan serangan jantung, stroke, gangguan ginjal,
serta kebutaan. Dari beberapa penelitian dilaporkan bahwa penyakit hipertensi
yang tidak terkontrol dapat menyebabkan peluang 7 kali lebih besar terkena
stroke, 6 kali lebih besar terkena congestive heart failure, dan 3 kali lebih
besar terkena serangan jantung.4,6 Menurut WHO dan the International Society
of Hypertension (ISH), saat ini terdapat 600 juta penderita hipertensi di
seluruh dunia, dan 3 juta di antaranya meninggal setiap tahunnya. Tujuh dari
setiap 10 penderita tersebut tidak mendapatkan pengobatan secara adekuat. 6,7
Di Indonesia masalah hipertensi cenderung meningkat. 8 Hasil Survei
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan bahwa 8,3%
penduduk menderita hipertensi dan meningkat menjadi 27,5% pada tahun
2004.9 Kelompok Kerja Serebrokardiovaskuler FK UNPAD/RSHS tahun
1999, menemukan prevalensi hipertensi sebesar 17,6%,10,11 dan MONICA
2

Jakarta tahun 2000 melaporkan prevalensi hipertensi di daerah urban adalah


31,7%. Sementara untuk daerah rural (Sukabumi) FKUI menemukan
prevalensi sebesar 38,7%.10 Hasil SKRT 1995, 2001 dan 2004 menunjukkan
penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit nomor satu penyebab kematian
di Indonesia dan sekitar 2035% dari kematian tersebut disebabkan oleh
hipertensi.9

Penelitian

epidemiologi

membuktikan

bahwa

hipertensi

berhubungan secara linear dengan morbiditas dan mortalitas penyakit


kardiovaskular.8-12 Oleh sebab itu, penyakit hipertensi harus dicegah dan
diobati. Hal tersebut merupakan tantangan kita di masa yang akan datang.
Beberapa studi menunjukkan bahwa seseorang yang mempunyai kelebihan
berat badan lebih dari 20% dan hiperkolesterol mempunyai risiko yang lebih
besar terkena hipertensi.10-14 Faktor risiko tersebut pada umumnya disebabkan
pola hidup (life style) yang tidak sehat. Faktor sosial budaya masyarakat
Indonesia berbeda dengan sosial budaya masyarakat di negara maju, sehingga
faktor yang berhubungan dengan terjadinya hipertensi di Indonesia
kemungkinan berbeda pula. Selain itu pemilihan terapi medikamentosa
menjadi sangat perlu diperhatikan memperhitungkan kebutuhan pasien
termasuk derajat hipertensi dan penyakit penyulit yang menyertai.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
HIPERTENSI
A.

DEFINISI

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah


sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg
pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan
cukup istirahat/tenang. Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam
jangka waktu lama (persisten) dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal
(gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan otak (menyebabkan
stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang
memadai. Banyak pasien hipertensi dengan tekanan darah tidak terkontrol dan
jumlahnya terus meningkat. Oleh karena itu, partisipasi semua pihak, baik
dokter dari berbagai bidang peminatan hipertensi, pemerintah, swasta maupun
masyarakat diperlukan agar hipertensi dapat dikendalikan.15
Hipertensi yang tidak diketahui didefinisikan sebagai hipertensi esensial,
atau lebih dikenal hipertensi primer, untuk membedakannya dengan hipertensi
sekunder bahwa hipertensi sekunder dengan sebab yang diketahui. Menurut
The Seventh Report Of The Joint Committe on Prevention, Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7) klasifikasi tekanan
darah

pada

orang

dewasa

terbagi

menjadi

kelompok

Normotensi,

Prahipertensi, Hipertensi Derajat I, Hipertensi derajat II.16


Kelas Tekanan Darah
Normal
Prahipertensi
Hipertensi Stage I
Hipertensi Stage II

B.

TDS (mmHG)
<120
120-139
140-159
160

TDD (mmHg)
<80
80-89
90-99
100

EPIDEMIOLOGI
Berdasarkan pengukuran tekanan darah pada penelitian Riskesdas 2007,
prevalensi hipertensi di Indonesia adalah 32,2%, sedangkan prevalensi
hipertensi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan dan atau riwayat
minum obat hanya 7,8% atau hanya 24,2% dari kasus hipertensi di
masyarakat. Berarti 75,8% kasus hipertensi di Indonesia belum terdiagnosis

dan terjangkau pelayanan kesehatan. Faktor risiko hipertensi di Indonesia


adalah umur, pria, pendidikan rendah, kebiasaan merokok, konsumsi minuman
berkafein >1 kali per hari, konsumsi alkohol, kurang aktivitas fisik, obesitas
dan obesitas abdominal.17 Sampai saat ini, hipertensi masih merupakan
tantangan besar di Indonesia. Betapa tidak, hipertensi merupakan kondisi yang
sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer kesehatan. Hal itu
merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar
25,8%, sesuai dengan data Riskesdas 2013.15
C.

MANIFESTASI KLINIS
Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala.
Bila demikian gejala baru muncul setelah terjadi komplikasi pada ginjal, mata,
otak, atau jantung. Gejala lain yang lebih sering ditemukan adalah sakit
kepala, epistaksis, marah, telinga berdengung, rasa berat di tengkuk, sukar
tidur, mata berkunangkunang dan pusing
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala;
meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan
dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya
tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung,
pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada
penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang
normal. Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul
gejala seperti sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak nafas, gelisah,
pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak,
mata, jantung dan ginjal. Kadang penderita hipertensi berat mengalami
penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak.
Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan
segera.18
Hipertensi merupakan silent killer dimana gejala dapat bervariasi pada
masing-masing individu dan hampir sama dengan gejala penyakit lainnya.
Gejala-gejalanya itu adalah sakit kepala/rasa berat di tengkuk, mumet

(vertigo), jantung berdebar-debar, mudah Ieiah, penglihatan kabur, telinga


berdenging (tinnitus), dan mimisan.15
D.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai terapi
bertujuan untuk menentukkan adanya kerusakan organ dan faktor lain atau
mencari penyebab hipertensi. Biasanya diperiksa urin analisa, darah perifer
lengkap, kimia darah (kalium , natrium, kreatinin, gula darah puasa, kolesterol
total, kolesterol HDL, kolesterol LDL) dan EKG. Sebagai tambahan dapat
dilakukan pemeriksaan yang lain seperti klirens kreatinin, protein urin 24
jam, asam urat, kolesterol HDL, dan EKG.18

E.

DIAGNOSIS
Diagnosis hipertensi tidak dapat ditegakkan dalam satu kali pengukuran,
hanya dapat ditetapkan setelah dua kali atau lebih pengukuran pada kunjungan
yang berbeda, kecuali terdapat kenaikan
Renin yang tinggi atau gejala-gejala klinis.
Pengukuran pertama harus dikonfirmasikan pada sedikitnya 2 kunjungan lagi
dalam waktu satu sampai beberapa minggu. Pengukuran tekanan darah
Angiotensin I
dilakukan dalam keadaan pasien duduk bersandar, setelah pasien beristirahat
Angiotensin
I Converting
selama 5 menit, dengan ukuran pembungkus
lengan yang
sesuai. Enzyme
(ACE)
Angiotensin
II tingkat hipertensi dan lamanya
Anamnesis yang dilakukan
meliputi
menderita, riwayat dan gejala-gejala penyakit yang berkaitan dengan penyakit
jantung koroner, gagal jantung, penyakit serebrovaskuler dll. Apakah terdapat

Stimulasiyang
sekresi
aldosteron
dari
Sekresi
hormone
ADH dalam
rasa haus
riwayat
penyakit
keluarga dan gejala-gejala
berkaitan
dengan
korteks adrenal

penyebab hipertensi, perubahan aktivitas atau kebiasaan merokok, konsumsi


Urin sedikit pekat & osmolaritas

makanan,

riwayat

obat-obatan

psikososial dsb.18

bebas,

faktor
lingkungan, pekerjaan,
Ekskresi NaCl (garam) dengan
mereabsorpsinya di tubulus ginjal

Mengentalkan

F.

PATOGENESIS

Menarik cairan
intraseluler
ekstraseluler
Aldosteron
merupakan
hormon

steroid hasil

Konsentrasi NaCl
di pembuluh
darah
sekresi
korteks
adrenal

yang

memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan


Diencerkan
dengan
volume
Volume darahaldosteron

ekstraseluler,
akan mengurangi ekskresi
NaCl
(garam)
dengan
ekstraseluler

Tekanan darah

Volume darah

Tekanan darah

cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan


diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler
yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah.

Gambar 1. Patofisiologi hipertensi.


Tekanan yang dibutuhkan untuk mengalirkan darah melalui sistem
sirkulasi dilakukan oleh aksi memompa dari jantung (cardiac output/CO) dan
dukungan dari arteri (peripheral resistance/PR). Fungsi kerja masing-masing
penentu tekanan darah ini dipengaruhi oleh interaksi dari berbagai faktor yang
kompleks. Hipertensi sesungguhnya merupakan abnormalitas dari faktorfaktor tersebut, yang ditandai dengan peningkatan curah jantung dan / atau
ketahanan periferal. Selengkapnya dapat dilihat pada bagan.

Gambar 3: Beberapa faktor yang mempengaruhi tekanan darah


Kaplan

menggambarkan

beberapa

faktor

yang

berperan

dalam

pengendalian tekanan darah yang mempengaruhi Tekanan Darah = Curah


Jantung x Tekanan Perifer.18
G.

PENGOBATAN
Tujuan umum pengobatan hipertensi adalah :
1. Penurunan mortalitas dan morbiditas yang berhubungan dengan
hipertensi.
2. Mortalitas dan morbiditas ini berhubungan dengan kerusakan organ
target (misal: kejadian kardiovaskular atau serebrovaskular, gagal
jantung, dan penyakit ginjal) Mengurangi resiko merupakan tujuan
utama terapi hipertensi, dan pilihan terapi obat dipengaruhi secara
bermakna oleh bukti yang menunjukkan pengurangan resiko.
Target nilai tekanan darah yang di rekomendasikan dalam JNC VII:21
1. Kebanyakan pasien < 140/90 mm Hg

2. Pasien dengan diabetes < 130/80 mm Hg


3. Pasien dengan penyakit ginjal kronis < 130/80 mm Hg
Pengobatan hipertensi terdiri dari terapi nonfarmakologis dan terapi
farmakologis. Menurut modifikasi gaya hidup yang merupakan terapi
nonfarmakologis dapat dilakukan dengan membatasi asupan garam tidak lebih
dari - sendok teh (6 gram/hari), menurunkan berat badan, menghindari
minuman berkafein, rokok, dan minuman beralkohol. Olah raga juga
dianjurkan bagi penderita hipertensi, dapat berupa jalan, lari, jogging,
bersepeda selama 20-25 menit dengan frekuensi 3-5 x per minggu. Penting
juga untuk cukup istirahat (6-8 jam) dan mengendalikan stress.
Ada pun makanan yang harus dihindari atau dibatasi oleh penderita
hipertensi adalah:
1. Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak
kelapa, gajih).
2. Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biscuit,
crackers, keripikdan makanan keringyangasin).
3. Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran
serta buah-buahan dalam kaleng, soft drink).
4. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin,
pindang, udang kering, telur asin, selai kacang).
5. Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber
protein

hewani

yang

tinggi

kolesterol

seperti

daging

merah

(sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam).


6. Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal,
tauco

serta

bumbu

penyedap

lain

yang

pada

umumnya

mengandunggaram natrium.
7. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape.
Di Indonesia terdapat pergeseran pola makan, yang mengarah pada
makanan cepat saji dan yang diawetkan yang kita ketahui mengandung garam
tinggi, lemak jenuh, dan rendah serat mulai menjamurterutama di kota-kota
besardi Indonesia.

Dengan mengetahui gejala dan faktor risiko terjadinya hipertensi


diharapkan penderita dapat melakukan pencegahan dan penatalaksanaan
dengan modifikasi diet/gaya hidup ataupun obat-obatan sehingga komplikasi
yang terjadi dapat dihindarkan.15
Jenis-jenis obat antihipertensi untuk terapi farmakologis hipertensi yang
dianjurkan oleh JNC 7 adalah18:
1. Diuretik
Diuretik menurunkan tekanan darah dengan menyebabkan diuresis.
Pengurangan volume plasma dan Stroke Volume (SV) berhubungan
dengan dieresis dalam penurunan curah jantung (Cardiac Output, CO)
dan tekanan darah pada akhirnya. Penurunan curah jantung yang utama
menyebabkan resitensi perifer. Pada terapi diuretik pada hipertensi
kronik volume cairan ekstraseluler dan volume plasma hampir kembali
kondisi pretreatment.
a. Thiazide
Thiazide adalah golongan yang dipilih untuk menangani hipertensi,
golongan lainnya efektif juga untuk menurunkan tekanan darah.
Penderita dengan fungsi ginjal yang kurang baik Laju Filtrasi
Glomerolus (LFG) diatas 30 mL/menit, thiazide merupakan agen
diuretik yang paling efektif untuk menurunkan tekanan darah.
Dengan menurunnya fungsi ginjal, natrium dan cairan akan
terakumulasi maka diuretik jerat Henle perlu digunakan untuk
mengatasi efek dari peningkatan volume dan natrium tersebut. Hal
ini akan mempengaruhi tekanan darah arteri. Thiazide menurunkan
tekanan darah dengan cara memobilisasi natrium dan air dari

10

dinding arteriolar yang berperan dalam penurunan resistensi


vascular perifer.
b. Diuretik Hemat Kalium
Diuretik Hemat Kalium adalah anti hipertensi yang lemah jika
digunakan tunggal. Efek hipotensi akan terjadi apabila diuretik
dikombinasikan dengan diuretik hemat kalium thiazide atau jerat
Henle. Diuretik hemat kalium dapat mengatasi kekurangan kalium
dan natrium yang disebabkan oleh diuretik lainnya.
c. Antagonis Aldosteron
Antagonis Aldosteron merupakan diuretik hemat kalium juga tetapi
lebih berpotensi sebagai antihipertensi dengan onset aksi yang
lama (hingga 6 minggu dengan spironolakton).
2. Beta Blocker
Mekanisme hipotensi beta bloker tidak diketahui tetapi dapat
melibatkan menurunnya curah jantung melalui kronotropik negatif dan
efek inotropik jantung dan inhibisi pelepasan renin dan ginjal.
a. Atenolol, betaxolol, bisoprolol, dan metoprolol merupakan
kardioselektif pada dosis rendah dan mengikat baik reseptor 1
daripada reseptor 2. Hasilnya agen tersebut kurang merangsang
bronkhospasmus dan vasokontruksi serta lebih aman dari non
selektif bloker pada penderita asma, penyakit obstruksi
pulmonari kronis (COPD), diabetes dan penyakit arterial perifer.
Kardioselektivitas merupakan fenomena dosis ketergantungan dan
efek akan hilang jika dosis tinggi.
b. Acebutolol, carteolol, penbutolol, dan pindolol memiliki aktivitas
intrinsik simpatomimetik (ISA) atau sebagian aktivitas agonis
reseptor .
3. Inhibitor Enzim Pengubah Angiotensin (ACE-inhibitor)

11

ACE membantu produksi angiotensin II (berperan penting dalam


regulasi tekanan darah arteri). ACE didistribusikan pada beberapa
jaringan dan ada pada beberapa tipe sel yang berbeda tetapi pada
prinsipnya merupakan sel endothelial. Kemudian, tempat utama
produksi angiotensin II adalah pembuluh darah bukan ginjal. Pada
kenyataannya, inhibitor ACE menurunkan tekanan darah pada
penderita dengan aktivitas renin plasma normal, bradikinin, dan
produksi jaringan ACE yang penting dalam hipertensi.
4. Penghambat Reseptor Angiotensin II (ARB)
Angiotensin II digenerasikan oleh jalur renin-angiotensin
(termasuk ACE) dan jalur alternatif yang digunakan untuk enzim lain
seperti chymases. Inhibitor ACE hanya menutup jalur reninangiotensin, ARB menahan langsung reseptor angiotensin tipe I,
reseptor yang memperentarai efek angiotensin II. Tidak seperti
inhibitor ACE, ARB tidak mencegah pemecahan bradikinin.
5. Antagonis Kalsium / Calsium channel blocker
Calsium channel blocker (CCB) menyebabkan relaksasi jantung
dan otot polos dengan menghambat saluran kalsium yang sensitif
terhadap tegangan sehingga mengurangi masuknya kalsium ekstra
selluler ke dalam sel. Relaksasai otot polos vaskular menyebabkan
vasodilatasi dan berhubungan dengan reduksi tekanan darah.
Antagonis kanal kalsium dihidropiridini dapat menyebabkan aktifasi
refleks simpatetik dan semua golongan ini (kecuali amilodipin)
memberikan efek inotropik negative.
Verapamil menurunkan denyut jantung, memperlambat konduksi
nodus AV, dan menghasilkan efek inotropik negative yang dapat

12

memicu gagal jantung pada penderita lemah jantung yang parah.


Diltiazem menurunkan konduksi AV dan denyut jantung dalam level
yang lebih rendah daripada verapamil.
6. Alpha blocker
Prasozin, Terasozin dan Doxazosin merupakan penghambat
reseptor 1 yang menginhibisi katekolamin pada sel otot polos vascular
perifer yang memberikan efek vasodilatasi. Kelompok ini tidak
mengubah aktivitas reseptor 2 sehingga tidak menimbulkan efek
takikardia.
7. VASO-dilator langsung
Hedralazine dan Minokxidil menyebabkan relaksasi langsung otot
polos arteriol. Aktivitasi refleks baroreseptor dapat meningkatkan
aliran simpatetik dari pusat fasomotor, meningkatnya denyut jantung,
curah jantung, dan pelepasan renin. Oleh karena itu efek hipotensi dari
vasodilator langsung berkurang pada penderita yang juga mendapatkan
pengobatan inhibitor simpatetik dan diuretik.
8. Inhibitor Simpatetik Postganglion
Guanethidin dan guanadrel mengosongkan norepinefrin dari
terminal simpatetik postganglionik dan inhibisi pelepasan norepinefrin
terhadap respon stimulasi saraf simpatetik. Hal ini mengurangi curah
jantung dan resistensi vaskular perifer .
Untuk sebagian besar pasien hipertensi, terapi dimulai secara bertahap dan
target tekanan darah dicapai secara progresif dalam beberapa minggu.
Dianjurkan untuk menggunakan obat antihipertensi dengan masa kerja
panjang dan yang memberikan efikasi 24 jam dengan pemberian sekali sehari.
Jika terapi dimulai dengan satu jenis obat dan dalam dosis rendah, dan
kemudian tekanan darah belum mancapai target, maka langkah selanjutnya
adalah meningkatakan dosis obat tersebut atau berpindah ke antihipertensi

13

yang lain dengan dosis rendah baik tunggal maupun kombinasi. Kombinasi
yang terbukti dapat ditolerir pasien adalah : diuretika dan ACEI atau ARB,
CCB dan BB, CCB dan atau ARB, CCB dan diuretika, ARB dan BB, kadang
diperlukan tiga atau empat kombinasi obat.
Berikut merupakan panduan untuk tatalaksana hipertensi menurut 2014
Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure19

14

Gambar 4. 2014 Hypertension Guideline Management Algorithm


(Sumber: JAMA, 2013)

BAB III
STATUS PASIEN
I. ANAMNESIS
A. IDENTITAS PENDERITA
Nama

: Tn. R

Umur

: 57 Tahun

Jenis Kelamin

: Laki-Laki

Alamat

: Sragen

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Buruh

B. Keluhan Utama :
Kepala cekot-cekot
C. Riwayat Penyakit Sekarang :
Kurang lebih 1 minggu yang lalu pasien sering mengeluh kepala cekotcekot. Cekot-cekot terutama dirasakan di kepala bagian belakang. Cekotcekot dirasakan hilang timbul terutama jika merasa stress menghadapi
pekerjaannya yang tak kunjung beres atau jika malamnya susah tidur.
Pasien sering tidak bisa bekerja karena sakit kepalanya itu.

Pasien

mengaku sering merasakan sakit yang sama namun hilang timbul sejak
setahun terakhir. Pasien tidak mengeluhkan pandangan kabur, nyeri dada,
berdebar-debar, sesak napas, maupun kesemutan. BAB dan BAK dalam
batas normal. Sekitar 3 bulan yang lalu pasien periksa ke puskesmas dan
dinyatakan darah tinggi. Dari puskesmas pasien mendapat obat, namun
pasien lupa obat yang telah dikonsumsinya. Pasien merasa baikan setelah
15

meminum obat dari puskesmas, dan tidak berobat lagi secara rutin karena
merasa sudah sembuh.
D. Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat sakit jantung

: disangkal

Riwayat stroke

: disangkal

Riwayat asma

: disangkal

Riwayat batuk lama

: disangkal

Riwayat sakit liver

: disangkal

Riwayat sakit ginjal

: disangkal

Riwayat alergi

: disangkal

Riwayat mondok

: disangkal

E. Riwayat Kebiasaan
Riwayat merokok

: (+) sejak usia 30 tahun dengan

konsumsi 3-4 batang per hari


Riwayat minum jamu

: disangkal

Riwayat minum obat pegal linu

: disangkal

Riwayat minum minuman keras

: disangkal

Riwayat olah raga teratur

: disangkal

F. Riwayat Penyakit pada Anggota Keluarga


Riwayat sakit gula

: disangkal

Riwayat tekanan darah tinggi

: (+) ibu pasien

Riwayat asma

: disangkal

Riwayat alergi

: disangkal

Riwayat batuk lama

: disangkal

G. Riwayat Sosial dan Ekonomi


Pasien bekerja sebagai buruh, berangkat kerja dengan motor. Pasien
mengaku jarang berolahraga di luar aktivitas hariannya. Pasien mengaku
terganggu waktu istirahatnya. Seminggu terakhir pasien mengaku stres

16

pada pekerjaannya. Pasien makan sehari 2-3 kali dengan sayur dan lauk,
suka makanan asin, pedas dan suka minum teh dan kopi.

II. PEMERIKSAAN FISIK


A. Keadaan Umum
: Sakit sedang, compos mentis, gizi kesan cukup
Tanda Vital
Tekanan darah
: 160/100 mmHg
Nadi
: 98 x/menit, irama reguler, tegangan cukup
Frekuensi Respirasi : 20 x/menit
Suhu
: 36,7oC
B. Status Gizi
BB
= 64 kg
TB
= 168 cm
BMI = 22,67 (normal)
C. Kulit
: Warna coklat, turgor menurun (-), hiperpigmentasi (-), kering
(-), teleangiektasis (-), petechie (-), ikterik (-), ekimosis (-),
D. Kepala

pucat (-)
: Nyeri kepala (+), cekot-cekot (+), bentuk mesocephal, rambut

E. Mata

warna hitam, uban (-), mudah rontok (-), luka (-)


: Mata cekung (-/-), konjunctiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-),
perdarahan subkonjugtiva (-/-), pupil isokor dengan diameter (3
mm/3 mm), reflek cahaya (+/+), edema palpebra (-/-),

F. Telinga

strabismus (-/-)
: Membran timpani intak, sekret (-), darah (-), nyeri tekan

G. Hidung

mastoid (-), nyeri tekan tragus (-)


: Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-), fungsi

H. Mulut

penghidu baik
: Sianosis (-), gusi berdarah (-), gigi tanggal (+), bibir kering (-),
pucat (-), lidah tifoid (-), papil lidah atrofi (-), stomatitis (-), luka

I. Leher

pada sudut bibir (-)


: Jugular Venous Pressure (JVP) R+2 cm (tidak meningkat),
trakea di tengah, simetris, pembesaran kelenjar tiroid (-),
pembesaran limfonodi cervical (-), cengeng (+), leher kaku
(-), distensi vena-vena leher (-)

17

J. Thorax

: Bentuk normochest, simetris, pengembangan dada kanan =


kiri, retraksi intercostal (-), spider nevi (-), pernafasan
torakoabdominal, sela iga melebar (-), pembesaran KGB axilla
(-/-)

K. Jantung :
a. Inspeksi
b. Palpasi
c.

:Iktus kordis tidak tampak


:Iktus kordis teraba di SIC V 1 cm medial linea

medioclavicularis, iktus kordis tidak kuat angkat


Perkusi
:Batas jantung kanan atas : SIC II
linea sternalis dextra
Batas jantung kanan bawah : SIC IV linea
parasternalis dekstra
Batas jantung kiri atas : SIC II linea parasternalis
sinistra
Batas jantung kiri bawah : SIC V 1 cm medial linea
medioklavicularis sinistra
Pinggang jantung : SIC II-III parasternalis sinistra
konfigurasi jantung kesan tidak melebar
Auskultasi
:HR : 108 kali/menit reguler. Bunyi

d.

jantung I-II murni, intensitas normal, reguler, bising


(-), gallop (-). Bunyi jantung I > Bunyi jantung II,
di SIC V 1 cm medial linea medioklavikula sinistra
dan SIC IV linea parasternal sinistra. Bunyi jantung
II > Bunyi jantung I di SIC II linea parasternal
dextra et sinistra.
L. Pulmo :
a. Inspeksi

Normochest, simetris, sela iga

melebar (-), iga

mendatar (-). Pengembangan dada kanan = kiri, sela iga melebar,


retraksi intercostal (-)
b. Palpasi Simetris. Pergerakan dada ka = ki, peranjakan dada ka = ki,
fremitus raba kanan = kiri
c. Perkusi
Sonor / Sonor
d. Auskultasi
Suara dasar vesikuler intensitas normal, suara
tambahan wheezing (-/-), ronchi basah kasar (-/-), ronchi basah
halus basal paru (-/-), krepitasi (-/-)

18

M. Punggung

: kifosis (-), lordosis (-), skoliosis (-), nyeri ketok

kostovertebra (-),
N. Abdomen :
a. Inspeksi

:Dinding perut sejajar dari dinding thorak, distended

(-), venektasi (-), sikatrik (-), stria (-), caput medusae (-)
b. Auskultasi
:Peristaltik (+) normal
c. Perkusi
:Timpani, pekak alih (-)
d. Palpasi :Supel, nyeri tekan (-). Hepar tidak teraba. Lien tidak
teraba.
O. Genitourinaria : Ulkus (-), sekret (-), tanda-tanda radang (-)
P. Ekstremitas : Kuku pucat (-), spoon nail (-)
Akral dingin
Oedem
-

III. DIAGNOSIS BANDING


1. Hipertensi stage II
2. Tension type headache
IV. DIAGNOSIS
Hipertensi stage II
V. TUJUAN TERAPI
1. Menurunkan tekanan darah sampai <140/90 mmHg.
a. Modifikasi gaya hidup
b. Obat antihipertensi, untuk pasien hipertensi stage II, diberikan
kombinasi 2 obat hipertensi:
1) Diuretik. Misalnya hidroklortiazid 1 tablet dengan dosis 12,5
mg diberikan sehari sekali.
2) ACE inhibitor. Misalnya tenapril 1 kaplet dengan dosis 2,5 mg
diberikan sehari sekali setiap hari atau captopril tablet dengan
dosis 12,5 mg diberikan 2 kali sehari setiap hari
2. Penurunan morbiditas

dan mortalitas

penyakit kardiovaskuler,

dilakukan dengan mempertahankan tekanan darah normal.

19

3. Mengahambat laju nefropati hipertensi. Misalnya, obat-obatan


golongan ACE inhibitor memiliki efek nefroprotektor, misalnya
captopril tablet dengan dosis 12,5 mg diberikan 2 kali sehari setiap hari
dengan monitoring fungsi ginjal rutin.
VI. PENGOBATAN
1. Nonmedikamentosa
Modifikasi gaya hidup sangat perlu dilakukan disamping penggunaan obatobat antihipertensi yaitu dengan membatasi asupan garam tidak lebih dari sendok teh (6 gram/hari), menurunkan berat badan, menghindari minuman
berkafein, rokok, dan minuman beralkohol. Olah raga juga dianjurkan bagi
penderita hipertensi, dapat berupa jalan, lari, jogging, bersepeda selama 20-25
menit dengan frekuensi 3-5 x per minggu. Penting juga untuk cukup istirahat
(6-8 jam) dan menghindari stres.
Ada pun makanan yang harus dihindari atau dibatasi oleh penderita
hipertensi adalah:
8. Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak
kelapa, gajih).
9. Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biscuit,
crackers, keripikdan makanan keringyangasin).
10. Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran
serta buah-buahan dalam kaleng, soft drink).
11. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin,
pindang, udang kering, telur asin, selai kacang).
12. Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber
protein

hewani

yang

tinggi

kolesterol

seperti

daging

merah

(sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam).


13. Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal,
tauco

serta

bumbu

penyedap

lain

yang

pada

umumnya

mengandunggaram natrium.
14. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape.

20

2. Medikamentosa
R/ Hidroklortiazid tab mg 12,5 No. V
S 1 dd tab 1 mane
R/ Captopril tab mg 12,5 No. X
S 2 dd tab 1 a.c.
Pro: Tn. R (57 tahun)
VII. PEMBAHASAN OBAT
Fixed-dose combination yang paling efektif adalah sebagai berikut:
1. Penghambat enzim konversi angiotensin (ACEI) dengan diuretik
2. Penyekat reseptor angiotensin II (ARB) dengan diuretik
3. Penyekat beta dengan diuretik
4. Diuretik dengan agen penahan kalium
5. Penghambat enzim konversi angiotensin (ACEI) dengan antagonis
kalsium
6. Agonis -2 dengan diuretik
7. Penyekat -1 dengan diuretic
Petunjuk dari JNC 7 merekomendasikan diuretik tipe tiazid bila
memungkinkan sebagai terapi lini pertama untuk kebanyakan pasien, baik
sendiri atau dikombinasi dengan salah satu dari kelas lain (ACEI, ARB,
penyekat beta, CCB). Diuretik tipe thiazide sudah menjadi terapi utama
antihipertensi pada kebanyakan trial. Pada trial ini, termasuk yang baru
diterbitkan Antihypertensive and Lipid Lowering Treatment to Prevent Heart
Attack Trial (ALLHAT), diuretik tidak tertandingi dalam mencegah komplikasi
kardiovaskular akibat hipertensi. Kecuali pada the Second Australian National
Blood Pressure Trial; dimana dilaporkan hasil lebih baik dengan ACEI
dibanding dengan diuretik pada laki-laki kulit putih. Diuretik meningkatkan
efikasi antihipertensi dari banyak regimen obat, berguna dalam mengontrol
tekanan darah, dan harganya lebih

dapat dijangkau dibanding obat

antihipertensi lainnya. Sayangnya disamping kenyataan ini, diuretik tetap


kurang digunakan.
Pada kasus diatas diberikan obat kombinasi Hidroklortiazid 12,5 mg dan
Captopril 12,5 mg. Hidroklorotiazid merupakan salah satu golongan obat

21

Diuretik yang menurunkan tekanan darah dengan menyebabkan diuresis.


Pengurangan volume plasma dan Stroke Volume (SV) berhubungan dengan
dieresis dalam penurunan curah jantung (Cardiac Output, CO) dan tekanan
darah pada akhirnya. Penurunan curah jantung yang utama menyebabkan
resitensi perifer. Obat Hidroklortiazid ini diiberikan 1x/hari pada pagi hari.
Captopril merupakan obat antihipertensi golongan ACE inhibitor yaitu
dengan menurunkan Angiotensin II yang merupakan vasokonstriktor dalam
sirkulasi melalui aktivitas renin plasma normal, bradikinin, dan produksi
jaringan ACE yang penting dalam hipertensi. Diberikan pada saat perut
kosong yaitu 1 jam sebelum makan atau 2 jam sesudah makan. Dosis captopril
perhari adalah 25-100 mg dengan frekuensi pemberian 2-3x/hari. Pemberian
kombinasi obat ini dengan antihipertensi lainnya akan meningkatkan efek
hipotensi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Balitbangkes. Depkes RI. Operational study an integrated community-based
intervention program on common risk factors of major non-communicable
diseases in Depok-Indonesia. Jakarta: Depkes RI; 2006.
2. Bonita R. Surveillance of risk factors for non-communicable diseases: the
WHO stepwise approach. Summary. Geneva: World Health Organization;
2001.

22

3. Syah B. Non-communicable disease surveillance and prevention in South-East


Asia region. Report of an inter-country consultation. New Delhi: WHOSEARO; 2002.
4. WHO/SEARO. Surveillance of major non-communicable diseases in South
East Asia region. Report of an inter-country consultation. Geneva: WHO;
2005.
5. CDC. State-specific trend in self report 3rd blood pressure screening and high
blood pressure-United States 1991-1999. MMWR. 2002;51(21):456.
6. WHO-ISH Hypertension Guideline Committee. Guidelines of the management
of hypertension. J Hypertension. 2003;21(11): 1983-92.
7. Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment
of High Blood Pressure (JNC). The Seventh Report of the JNC (JNC-7).
JAMA. 2003;289(19):2560-72.
8. Hipertensi di Indonesia. In: Mansjoer A, ed. Kapita Selekta Kedokteran.
Jakarta: Media Aesculapius;1999.p.518-21.
9. Departemen Kesehatan. Survei kesehatan nasional. Laporan Departemen
Kesehatan RI. Jakarta. 2004.
10.Basuki B, Setianto B. Age, body posture, daily working load - past
antihypertensive drugs and risk of hypertension: a rural Indonesia study.
Med J Indon. 2001;10(1):29-33
11.Darmojo

B. Mengamati penelitian epidemiologi hipertensi di Indonesia.

Disampaikan pada seminar hipertensi PERKI. 2000.


12.Setiawan, Zamhir. Karakteristik sosiodemografi sebagai faktor resiko
hipertensi studi ekologi di pulau Jawa tahun 2004 [Tesis]. Jakarta: Program
Studi Epidemiologi Program Pasca Sarjana FKM-UI; 2006.

23

13.Kaplan NM. Clinical hypertension. 8th ed. Lippincott: Williams & Wilkins;
2002.
14.Resolution WHA57.17. Global strategy on diet, physical activity, and health.
In: Fifty-seventh World Health Assembly. 17-12 May 2004. Geneva: World
Health Organization; 2004.
15.Pusat Data dan Informasi. Mencegah dan Mengontrol Hipertensi Agar
Terhindar dari Kerusakan Organ Jantung, Otak dan Ginjal. Jakarta Selatan:
Kementerian Kesehatan RI; 2014.
16.Martin

Jeffery.

Hypertension

Recommendations.

The

Guidelines:

Journal

of

Revisiting

Lancaster

The

General

JNC

Hospital:

Hypertension and kidney specialists. 2008. Vol. 3 No. 3.


17.Rahajeng, Ekowati dan Sulistyowati Tuminah. Prevalensi Hipertensi dan
Determinannya di Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian Biomedis dan
Farmasi Badan Penelitian Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Maj
Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 12, Desember 2009.
18.Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan
Alat Kesehatan. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Hipertensi. Jakarta:
Departemen Kesehatan. 616.132 Ind P; 2006.
19.Paul A. et al. 2014 Evidence-Based Guideline for the Management of High
Blood Pressure in Adults Report From the Panel Members Appointed to the
Eighth

Joint

National

Committee

(JNC8).

JAMA.

doi:10.1001/jama.2013.284427 Published online: December 18, 2013.

24

Anda mungkin juga menyukai