Anda di halaman 1dari 2

Peran apoteker dalam QA (Quality Assurance) saintifikasi jamu

Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 245/Menkes/SK/V/1990


tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha Industri
Farmasi Pasal 10, suatu industri farmasi obat jadi dan bahan baku obat setidaknya harus
mempekerjakan secara tetap minimal tiga orang apoteker WNI sebagai manager atau
penanggung jawab produksi, pengawasan mutu (Quality Control/QC), dan pemastian mutu
(Quality Assurance/QA).
Konsep yang menjadi dasar pelayanan kesehatan adalah jaminan kualitas dari
pelayanan pasien. Quality Assurance (QA) menurut WHO (2004) dan juga diapdosi dari
CPOB (2006) diartikan sebagai semua aspek yang secara kolektif maupun individual
mempengaruhi mutu suatu produk, dari konsep design hingga produk tersebut sampai
ditangan konsumen. Quality Assurance juga dapat diartikan sebagai aktifitas yang
berkontribusi untuk menetapkan, merencakan, mengkaji, memonitor, dan meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan. Aktifitas ini dapat ditampilkan sebagai akreditasi pelayanan
farmasi, pengawasan tenaga kefarmasian atau upaya meningkatkan penampilan dan
kualitas pelayanan kesehatan. Peningkatan kualitas dalam pelaksanaan dan praktek dari
pharmaceutical care dapat ditingkatkan dengan membuat perubahan pada sistem
pelayanan kesehatan atau sistem pelayanan kefarmasian.
Quality Assurance (QA) bertanggung jawab untuk kualitas produk, sistem atau
pelayanan dan pelatihan. Peran apoteker dalam perusahaan jamu untuk kualitas produk
yaitu menentukan waktu panen tanaman obat, pengeringan, pembentukan simplisia sampai
dalam bentuk sediaan dan akhirnya diberikan kepada pasien, atau dapat disimpulkan
bahwa apoteker bertugas untuk memastikan bahwa langkah-langkah dalam produksi
sediaan jamu sudah sesuai dengan GMP (Good Manufacturing Practices). Mulai dari
pemilihan bahan sampai dengan terbentuknya produk jadi.
Berikut Gambar 1. adalah tugas penjaminan mutu yang harus dilakukan oleh
apoteker mulai dari GAP (Good Agricultular Product) atau pemilihan produk pertanian
yang baik sebagai tanaman obat hingga Saintifikasi Jamu berkaitan dengan distribusi dan
khasiat.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2012. Cara Pembuatan Obat yang Baik, Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia : Jakarta.
Badan Pengawas Obat dan Makanan.

(2005). Pedoman Cara Pembuatan Obat

Tradisional yang Baik. Jakarta : BPOM RI.


Badan Pengawas Obat dan Makanan, (2005). Penyiapan Simplisia Untuk Sediaan Herbal.
Jakarta : BPOM RI.
Kementerian Kesehatan RI. (2010). Saintifikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis
Pelayanan Kesehatan. PerMenkes No : 003/Menkes/Per/I/2010.
Suharmiati., Handayani, L., Bahfen, F., Djuharto., dan Kristiana, L. 2012. Kajian Hukum
Peran Apoteker Dalam Saintifikasi Jamu. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan.
Vol. 15 No. 1 Januari 2012: 20-25.