Anda di halaman 1dari 25

PENGERTIAN

OPERA KECOA
KARYA N. RIANTIARNO
BABAK SATU SAMPAI DENGAN TUJUH BELAS

Makalah
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Lulus Mata Kuliah Kajian Drama Indonesia

Oleh:
Christopher Allen Woodrich
NIM: 084114001

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA


JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA


Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa makalah yang saya tulis ini tidak
memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam
kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, ..........................................
Penulis

Christopher Allen Woodrich

KATA PENGANTAR
Atas bantuan mereka dalam penyelesaian makalah ini saya ingin ucapkan
terima kasih kepada orang-orang berikut:

2
• Trifosa Sie Yulyani Retno Nugroho, atas dukungannya dalam semua tugas
akademik.
• S. E. Peni Adji, untuk segala ajarannya dan untuk peminjaman naskah
drama ini.
• N. Riantiarno untuk menulis karya yang cukup menarik ini dan sangat
mendalam ini.
Makalah ini tidak sempurna dan apabila terjadi kekurangan saya mohon maaf
lebih dahulu. Terima kasih.

Yogyakarta, ………………….. 2010

Christopher Allen Woodrich


NIM: 084114001

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................ ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii

3
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iv
BAB I: PENDAHULUAN ............................................................................. 1
A. Latar Belakang Masalah .................................................................... 1
B. Tujuan dan Metode Analisis .............................................................. 1
C. Sistematik Penyajian ......................................................................... 1
BAB II: PENGERTIAN TEORI STRUKTURAL .......................................... 3
BAB III: KAJIAN STRUKTURAL ................................................................. 4
A. Alur .................................................................................................. 4
B. Latar ................................................................................................. 6
1) Latar Tempat ................................................................................ 6
2) Latar Waktu ................................................................................. 6
3) Latar Sosio-Budaya ...................................................................... 7
C. Penokohan ........................................................................................ 8
1) Julini ........................................................................................... 8
2) Roima ......................................................................................... 8
3) Tarsih .......................................................................................... 9
4) Tuminah ..................................................................................... 10
5) Pejabat ........................................................................................ 11
6) Kumis ......................................................................................... 12
7) Tukang Sulap ............................................................................. 13
8) Para PSK .................................................................................... 13
9) Aparat ......................................................................................... 15
A. Tema ................................................................................................. 16
BAB IV: KOMENTAR MENGENAI PEMENTASAN ................................. 18
BAB V: KESIMPULAN ................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 21

4
BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Opera Kecoa, karya N. Riantiarno, adalah drama kedua dalam trilogi Opera
Kecoa. Karya ini ditulis pada tahun 1985 dan dipentaskan oleh Teater Koma pada
tahun yang sama.

5
Drama ini menceritakan kehidupan sekelompok orang kelas terendah, yaitu
pekerja seks komersial, waria, dan bandit. Kelompok ini selalu saja dimanfaatkan lalu
dibuang oleh pejabat-pejabat dan kelas atas.

B. Tujuan dan Metode Penelitian


Penelitian dimaksud untuk memahami naskah drama Opera Kecoa dan
mengemukakan hal-hal yang perlu diingat saat pementasannya. Untuk memahami
naskah tersebut, akan digunakan teori struktural. Untuk mengemukakan hal-hal yang
perlu diingat akan digunakan hemat penulis berdasarkan pengalamannya dalam dunia
acting.

C. Sistematika Penyajian
Makalah ini dibagi menjadi lima bab dan tujuh subbab. Bab satu adalah bab
pendahuluan, yang berfungsi sebagai pengantar. Bab ini dibagi menjadi tiga subbab
dan menjelaskan latar belakang masalah, tujuan dan metode penelitian, dan sistem
penyajian.
Bab dua berfungsi sebagai informasi latar belakang teori struktural yang
digunakan pada bab tiga. Bab ini mengemukakan hal-hal yang diteliti dalam teori
struktural serta sudut pandang dasarnya.
Bab tiga adalah kajian struktural Opera Kecoa. Bab ini dibagi dalam empat
subbab. Setiap subbab merupakan penjelasan salah satu aspek struktur Opera Kecoa,
yaitu alur cerita, latar cerita, penokohan, dan tema. Penokohan dibagi lagi menjadi
sembilan sub-subbab, satu per tokoh utama.
Bab empat adalah pengemukaan hal-hal yang perlu diingat saat mementaskan
Opera Kecoa. Bab ini adalah hasil hemat penulis berdasarkan pengalamannya dalam
dunia acting dari SMA sampai sekarang.
Bab terakhir adalah bab lima. Bab ini merupakan kesimpulan dan saran dari
makalah.

6
BAB II: PENGERTIAN TEORI STRUKTURAL
Teori struktural dalam sastra adalah pengertian suatu karya, baik prosa, puisi
maupun drama, berdasarkan strukturnya; dalam drama ini termasuk alur cerita, latar,
penokohan dan tema.
Alur cerita (plot) adalah apa yang terjadi dalam cerita. Alur ini dibagi dalam
lima bagian, yakni perkenalan, penimbulan konflik, perkembangan konflik, klimaks

7
dan penyelesaian. Walau secara klasik kelima bagian itu terurut sama seperti di atas,
ada pula karya non-konvensional yang menggunakan urutan yang beda melalui
flashback untuk mengembangkan cerita.
Latar ada tiga jenis, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosio-budaya.
Latar tempat adalah ruang lingkup di mana cerita terjadi, baik secara sempit
(misalnya halaman kampung) maupun luas (misalnya Jakarta). Latar waktu adalah
kurung waktu ketika cerita terjadi, baik secara sempit (misalnya jam dua pagi)
maupun luas (misalnya tahun 1985). Latar sosio-budaya adalah keseluruhan adat dan
kebudayaan di tempat dan waktu di mana cerita terjadi.
Penokohan adalah perkembangan tokoh-tokoh dalam cerita. Ada tiga jenis
tokoh, yaitu protagonis (pelaku / pendorong cerita), antagonis (penghambat
protagonis), dan tritagonis (pembantu protagonis dan atau antagonis). Hubungan di
antara para tokoh dapat menyebabkan dan menyelesaikan konflik.
Tema adalah hal-hal dasar yang dibahas dalam drama yang merupakan
perjuangan universal. Ada tema klasik, di antara lain ‘yang baik mengalahkan yang
jahat,’ dan yang lebih jarang digunakan seperti ‘yang jahat mengalahkan yang baik.’1
Dari azas-azas ini karya Opera Kecoa oleh N. Riantiarno akan kami teliti.

BAB III: KAJIAN STRUKTURAL


A. Alur
Cerita dimulai dengan narasi yang mengenalkan konflik naskah, yaitu orang
bawahan selalu diinjek oleh kaum atas:
“Mereka berhimpitan
Di gorong-gorong
Sementara yang lain
Bermain golf
Mereka merindukan
1 S. E. Peni Adji. 2009. “Hakikat Teori Struktural.” Perkuliahan

8
Rerumputan
Sementara yang lain
Berkelimpahan
Mereka cuma kecoa, kecoa
Sementara yang lain, garuda”2
Setelah perkenalan konflik itu, terjadilah klimaks satu pada babak dua, yaitu
Roima masuk dengan membawa mayat Julini. Dia teriak-teriak bahwa Julini tidak
pernah menyakiti siapapun dan hanya berjuang demi hidup, tetapi malah ditembak
mati.3 Hemat kami, babak ini merupakan klimaks satu karena mengharukan dan
hanya memberi perkenalan sedikit saja.
Pada babak tiga baru terjadi perkenalan tokoh, dengan perkenalan Roima dan
Julini. Pada babak empat sampai enam tokoh utama lain, di antara lain Tuminah,
Tarsih dan Tukang Sulap diperkenalkan. Pada babak-babak ini juga terjadi
peningkatan konflik karena tema semakin dikembangkan, sebagaimana dijelaskan
pada bab tiga, subbab D.
Sisa bagian yang diteliti juga merupakan peningkatan konflik. Julini dan
Roima bertemu kembali dengan Tarsih dan Tuminah, tetapi hubungan mereka dengan
Tarsih sudah terasa beku. Tuminah masih bersedia membantu mereka dan memberi
salam hangat.4
Setelah resepsi mereka di desa, Julini dan Roima pergi dan mencari tempat
untuk berbicara berdua. Namun, mereka diblokir dari masuk lapangan golf oleh
karena ada Pejabat sedang main dengan Tamu Asing. Setelah permainan sudah
selesai, Julini dan Roima bertemu dengan Asnah, yang menawarkan tanah untuk
mereka agar bisa membuka usaha “pijat dan lain-lain.”5
Sementara, di kompleks PSK para PSK sedang bercanda ramai-ramai tentang
masa depan mereka. Mereka ingin dibedah agar kelihatan dan terasa perawan lagi,
lalu kembali ke desa. Namun, mereka teringat akan realitas ketika Tarsih datang

2 Riantiarno, N. 2004. Trilogi Opera Kecoa. Cetakan Pertama. Jakarta: Matahari. Hal. 147.
3 Ibid. Hal. 149.
4 Ibid. Hal. 173 – 181.
5 Ibid. Hal. 182 – 193.

9
membawa berita buruk: akan ada pajak tinggi, maka para pelanggan harus bayar
semakin mahal. Walau ini dikeluh, mereka akhirnya harus menerimanya.6
Sementara, Roima memasuki dunia bandit dengan bantuan Tuminah, yang
dulu pernah menyerahkan keperawanannya kepada pemimpin mereka, Kumis.
Setelah diejek sedikit, Roima akhirnya diterima dan dipekerjakan.7
Pekerjaan Julini pada babak empat belas sudah maju. Pakaiannya sudah model
bagus dan dia mampu beli wig dan accessories lain. Para PSK sangat bangga akan
diri Julini yang semakin berkembang dan kagum tidak ada stress dalam hubungan
Julini dan Roima karena pekerjaannya itu.8
Namun, hidup rumah tangganya sudah tidak baik. Oleh karena Roima sudah
dihormati oleh Kumis dan mulai naik pangkat, mereka jarang bisa bertemu dan tidak
punya waktu untuk bermesraan. Ini membuat Julini merasa ditelantarkan dan sedikit
curiga.9

B. Latar
1) Latar Tempat
Latar tempat luas di Opera Kecoa ialah ibu kota Indonesia, Jakarta. Jakarta
ada dua sisi yang sangat berbeda: Jakarta untuk rakyat kecil, yang penuh dengan
gubuk, kecoa, pekerja seks komersial, waria, dan sebagainya, dan Jakarta untuk yang
berkuasa, yang mempunyai monumen, lapangan golf, dan kemewahan lain yang luar
biasa.
Di dalam latar tempat luas ini ada beberapa tempat sempit, sebagai berikut:
• Emperen Plaza Monumen – tempat monumen besar yang dijaga Satpam

6 Ibid. Hal. 194 – 198.


7 Ibid. Hal. 200 – 205.
8 Ibid. Hal. 206 – 212.
9 Ibid. Hal. 217 – 225.

10
• Kompleks Pelacuran – tempat usaha Tarsih, pada sore dan malam hari ramai
dikunjungi pelanggan
• Di Kolong Jembatan
• Gubuk-gubuk Kawasan Kumuh – tempat orang miskin, tukang pijat biasa
tidak laku
• Padang Golf – mepet dengan Kawasan Kumuh dan Kompleks Pelacuran,
tempat orang penting berhiburan
• Sudut Jalan Dekat Kawasan Kumuh
• Markas Para Bandit – di bawah pimpinan Kumis, tempat aman untuk anak
buah Kumis
• Kawasan Proyek – tempat yang diindahkan dengan kata kosong

2) Latar Waktu
Latar waktu luas tidak diketahui. Tahun berapa tidak disebut dengan jelas.
Dengan demikian, bisa ditarik kesimpulan bahwa naskah drama ini dimaksud untuk
kontemporer, tergantung pada tahun dia dipentaskan. Pengaliran waktu juga tidak
jelas; oleh karena bisnis Julini sudah bisa berkembang, dapat ditarik kesimpulan
bahwa waktu cukup lama sudah lewat, tetapi tidak bisa diketahui dengan pasti. Latar
waktu sempit pun tidak dijelaskan secara mendalam. Berikut ada daftar latar waktu
sempit di bagian yang diteliti:
• Malam pekat
• Pagi
• Larut Malam
• Siang yang Terik
• Malam
• Siang
• Sore

3) Latar Sosio-Budaya

11
Latar sosio-budaya di Opera Kecoa cukup rumit. Di satu sisi, ‘kecoa’ seperti
pekerja seks komersial dan waria diterima dan disenangi masyarakat dan pejabat. Di
sisi lain, mereka dianggap sebagai kelompok yang tidak pantas tinggal dekat
masyarakat banyak dan selalu diusir ke pinggir kota. Kemunafikan ini menjadi dasar
sebagian besar konflik cerita.
Selain itu, dilihat bahwa korupsi mempunyai kekuatan yang cukup besar di
dunia Opera Kecoa. Baik Pejabat lokal maupun orang asing bersedia memotong
keuntungan pribadi dari uang bantuan negara. Ini dilakukan secara terang-terangan di
depan wartawan, yang juga menerima uang suap dalam amplop. Dengan demikian,
bisa dimengerti bahwa korupsi sudah umum di Jakarta dan diterima masyarakat.
Selisi di antara kaum kaya dan rakyat kecil kelihatan sangat jelas. Kaum kaya
tinggal dalam keadaan yang sangat mewah dan memainkan nasib negara, sedangkan
rakyat kecil terpaksa tinggal dalam gubuk dan sudah lama putus asa, merasakan
dirinya kecoa. Ini akan dijelaskan secara lebih detail pada Bab III, Subbab D.

C. Penokohan
1) Julini
Julini adalah seorang waria, pacar Roima, dan teman lama Tarsih dan
Tuminah. Dia sangat lebai, bertindakan sangat feminine; namun, dia masih berani
berbicara terbuka tentang seks seperti laki-laki. Oleh karena itu, dia popular dengan
PSK-PSK.
Dia adalah seorang tukang pijat “dan sebagainya.” Walaupun dulu dia pernah
membuka warung dan berusaha bekerja sebagai macul, dia sekarang kembali bekerja
sebagai tukang pijat “dan sebagainya” karena dia tidak berhasil dalam pekerjaan lain.
JULINI:
Ya, dulu tinggal di sini. Digusur. Pergi. Sekarang datang lagi. Habis di
kampung tidak tahu mesti bikin apa. Mau macul nggak bisa. Jadi tukang

12
pijit, mereka tidak butuh. Buka warung, malah bangkrut. Diutangi mulu.
Jadi...

...
JULINI:
Eh, Asnah, ngomong-ngomong, tukang pijit laku nggak ya, di sini?

ASNAH:
Kalau cuma tukang pijit, pasti jeblok. Tukang pijit dan sebagainya baru
laku.

JULINI:
Ya, maksudnya itu. Dulu saya juga tukang pijit dan sebagainya. Diantre
kayak lokek, habis servis saya selalu memuaskan. Sesudah lama nggak
praktek, takut langganan pada lari.10

2) Roima
Roima adalah pacar Julini yang mempunyai perasaan untuk Tuminah.
Walaupun kadang malas dan galak, dia sudah berubah karena dengan Julini:
ROIMA:
Atur bagaimana baiknya. Aku sudah punya rencana sendiri. Pergi dulu,
nanti balik lagi.
(ROIMA PERGI BERGEGAS)

ASNAH:
Pacar? Galak amat?

JULINI:
Suka aneh, tapi hatinya baik. Dulu kasar, tapi sekarang jadi suka
mengalah. Di ranjang, dulu maunya di atas melulu. Sekarang, sekali-kali
mau juga di bawah. Ya, ibaratnya manusia kan juga seperti roda, sebentar
di atas sebentar di bawah. Tergantung syahwatnya.
Demi masa depan dia dan Julini, dengan bantuan Tuminah Roima
mendapatkan pekerjaan sebagai bandit di bawah Kumis. Dia ternyata cukup pintar
menjadi bandit dan dipercayai Kumis.

3) Tarsih

10 Ibid. Hal. 189 – 190.

13
Tarsih adalah PSK yang sudah lama bekerja dalam bidang itu dan cukup ahli.
Namun, kini dia tidak melayani klien langsung tetapi menjadi pengantara PSKnya
dan klien. Dia berpikir tentang bisnis dulu, lalu kesenangan dia, lalu kesenangan
orang lain.
Oleh karena sering dipermainkan, baik oleh pemerintah maupun oleh orang
awam, Tarsih sudah menjadi trauma. Dia sudah keras hati dan tidak percaya pada
teman lamanya:
TARSIH:
Jadi Julini datang mau apa?

TUMINAH:
Bagaimana kalau nanti saja itu kita tanyakan, Mbak Tarsih? Kasihan,
masih capek. Sudah makan, Jul? Roima?

TARSIH:
Tidak, Tum. Kita sekarang harus tahu jelas tujuan orang biarpun dia itu
teman kita sendiri.
Ingat pengalaman kita dulu. Aku tidak mau lagi diremehkan orang. Ingat
juga masa lalu kamu. Kamu serahkan kehormatan jadi nyamikan orang
konyol. Kamu lakukan itu untuk kepentingan kakakmu.
Tapi apa hasilnya? Kamu dihancurkan juga dan kakakmu masuk penjara.
Kita harus keras, Tum, harus. Itu kalau kita sayang kepada diri sendiri.
Menolong orang boleh, tapi kita tetap harus minta imbalan. Begitulah
tata cara hidup di kota besar. Kalau kita lemah, habis kita.

TUMINAH:
Lho, ini apa-apaan? Kita belum tahun Julini datang mau apa, kok sudah
curiga. Mentang-mentang dia datang dari desa.

TARSIH:
Orang-orang sudah tahu kita sukses. Kalaumereka datang sama kita,
apalagi yang diharapkan kalau bukan pertolongan?11
Namun, hal ini membuat hati Tarsih menjadi tidak tenang. Dia merasa bahwa
dia sudah menjadi orang pengusir sehingga menangis sendiri.12

4) Tuminah
11 Ibid. Hal. 179 – 180.
12 Ibid. Hal. 211 – 212.

14
Tuminah adalah pegawai Tarsih yang paling visible. Dia adalah mantan
kekasih Roima, simpanan hati Kumis, dan pekerja PSK yang paling akrab dengan
Tarsih. Untuk Roima, tampaknya dia masih punya rasa kasih sayang:
ROIMA:
Biar aku yang bicara. Kalau ada apa-apa, aku akan melindungi kamu.

TUMINAH:
Roima
(MEMEGANG TANGAN ROIMA)

ROIMA:
(BALAS MEMEGANG TANGAN TUMNAH, TAPI JENGAH SENDIRI)
Aku pergi. Julini pasti sudah di rumah.

TUMINAH:
Ya. Kamu milik Julini. Aku lupa.13
Pertama kali dia melakukan hubungan seks adalah dengan Kumis. Menurut
Tarsih, ini untuk melindungi kakaknya dari penjara. Namun, itu tidak berhasil. Kini
dia menjadi PSK yang ternama, sangat pintar dalam melaksanakan pekerjaannya
sehingga orang penting seperti Pejabat dan Tamu Asing ingin menikmatinya.
Sementara Kumis masih terkenang nikmat berhubungan dengan Tuminah dan merasa
telah jatuh hati kepadanya.
Karena sudah menjual hubungan seks kepada banyak lelaki, Tuminah
menjadi sinis mengenai cinta. Dia tidak merasa bahwa cinta sesungguhnya ada.14
Sementara, dia juga tidak menyenangi pekerjaannya. Dia merasa bahwa menjadi PSK
itu pekerjaan sial.15

5) Pejabat
Pejabat adalah seorang Pejabat dengan kedudukan yang cukup tinggi. Oleh
karena dunia seksualnya bersama istri terbatas, dia sering mengunjungi kompleks
PSK Tarsih, khususnya untuk menyewa Tuminah. Oleh karena usianya sudah tua, dia

13 Ibid. Hal. 218.


14 Ibid. Hal. 202 – 203.
15 Ibid. Hal. 195 – 196.

15
merasa sensitif kalau disebut Pak; dia ingin disebut Mas saja. Dia juga tampaknya
benar-benar suka pada Tuminah, sebagaimana dibuktikan ketika dia tidak mau pergi
setelah selesai menggauli Tuminah.16
Selain tidak setia kepada istrinya, Pejabat juga tidak memenuhi tanggung
jawab kepada rakyat; dalam kata lain, dia pelaku korupsi. Walau dia mengakui
menganggap hak rakyat paling tinggi, ternyata dia hanya memikirkan masa depan
dirinya:
PEJABAT:
Yang penting, dana kredit itu akan keluar dengan segera, ‘kan?
Kami sangat membutuhkan, lho.

TAMU:
Pasti. Pasti. But, one for me, one for you.
Masing-masing lima prosen. Bagaimana?

PEJABAT:
Ah, itu tidak penting untuk dibicarakan. Kita kan bekerja untuk
kesejahteraan bangsa kita masing-masing. Tidak penting, tidak penting.
Tapi, kalau bisa, yang lima prosen itu boleh Tuan masukkan ke dalam
rekening bank saya, nomor...
(MENUNJUKKAN ANGKA REKENING BANKNYA)

TAMU:
Baik, baik.17

6) Kumis
Kumis adalah pemimpin sekelompok bandit. Walaupun dia cukup kasar, dia
masih bisa menyayangi orang. Dia menerima Roima atas saran Tuminah, karena dia
masih sayang Tuminah setelah mengambil keperawanannya:
TUMINAH:
Diterima, Mas Kumis?

KUMIS:
(ALOT)
Ya.
16 Ibid. Hal. 158 – 161.
17 Ibid. Hal. 186.

16
TUMINAH:
Terima kasih, Mas Kumis. Dan tidak pakai syarat-syarat kan?

KUMIS:
Tuminah, Tuminah. Kamu memang perempuan pintar. Rayuan gombal
Mas Kumis-mu ini, tidak pernah mempan. Padahal kalau ingat masa lalu,
waktu perawanmu jadi nyamikan gua. Waduuh... pengalaman sulit
dilupa. Kenikmatan luar biasaaa...

TUMINAH:
Idih, Mas Kumis bisa tidur sama saya kok, asal tarifnya cocok. Saya kan
sekarang profesional? Boleh untuk siapa saja.

KUMIS:
Itu yang saya tidak mau. Cinta murni, kasih suci, siapa bilang itu tidak
dirindukan oleh bandit-bandit macam gua? Saya ingin cinta murni,
Tuminah...18
Lama-lama Kumis menjadi percaya pada Roima karena Roima jujur apa
adanya. Dengan demikian, hubungan mereka menjadi erat.19

7) Tukang Sulap
Tukan Sulap adalah orang yang jual obat anti-kecoa; namun, obatnya tidak
laku. Walaupun dia tidak berperan aktif dalam cerita, dia memberi komentar yang
mengembangkan tema. Dia juga berperan untuk menamah comic relief:
TK. SULAP:
Saudara-saudara, jangan anggap saya sinting. Saya serius, mengingat
keadaan kita juga serius. Kecoa, saudara-saudara, kecoa, sudah makin
jadi ancaman. Begitu seringnya mereka dibasmi, berabad-abad kemudian
sejak masa pembasmian pertama, tubuh mereka lama-kelamaan menjadi
semakin kebal. Kalau hanya obat semprot biasa saja, bukan tandingan.
Ibaratnya, kecoa zaman sekarang sudah pakai helm. Pengaman bahaya.
Itu maknanya saya datang dengan obat semprot paling manjur. Pakailah
obat semprot saya. Jangan kata kecoa, manusia juga bisa modar kena
oabat semprot saya. Boleh coba. Resiko tanggung sendiri.

18 Ibid. Hal. 202 – 203.


19 Ibid. Hal. 221 – 225.

17
(SESEORANG DARI KAWASAN KUMUH MELEMPARI TUKANG
SULAP DENGAN BATU. YANG LAIN IKUT-IKUTAN)

Ee, apa-apaan ini, apa-apaan ini? Apa salah saya? Tolong, tolong, saya
dijarah. Tolong...

(LARI MENYELAMATKAN BARANG-BARANGNYA)20

8) Para PSK
Ada sebanyak enam PSK yang menjadi tokoh kecil di Opera Kecoa, yaitu:
• PSK-1
• PSK-2
• PSK-3
• PSK-4
• PSK-5
• Kasijah
PSK-1 sampai dengan PSK-5 mempunyai sifat yang hampir sama. Mereka
memperhatikan pelanggan (“pacar”) mereka. Mereka juga semangat akan pekerjaan
mereka dan mempunyai harapan tinggi untuk masa depan, biarpun mereka dikhianati
dan dihina yang berkuasa dan adat; mereka merasa terpaksa harus memasuki
pekerjaan itu. Misalnya:
TUMINAH:
(SUDAH BERGABUNG)
Dan lantaran sadar kita bakal ditendang, wajar kalau kita sodok sana,
sodok sini, menumpuk banyak uang.

PSK-1:
Demi masa depan.

PSK-2:
Sesudah uang terkumpul, kita pergi ke Singapura, cari dokter bedah
plastik di sana, pulang-pulang kita perawan lagi. Lalu pulang kampung
dan kawin sama bujangan.

PSK-3:
20 Ibid. Hal. 199.

18
Kalau ditanya mertua: di Jakarta kerja apa?

PSK-3:
Kita akan jawab dengan lembut: oo, kita buka usaha.

PSK-4:
Dagang.

PSK-5
Wiraswasta.

TUMINAH
(BERLAGAK PIDATO)
Tapi percayalah saudara-saudara, kita sadar harus kembali ke jalan yang
benar. Usaha maksiat ini hanya untuk sementara.21
Kasijah adalah kasus yang beda. Dia sudah tua dan tidak menjual diri; namun,
karena bertahun-tahun bekerja sebagai PSK dan kena sipilis dia sudah menjadi gila.22

9) Aparat
Aparat diwujudkan dengan beberapa tokoh, yaitu:
• Satpam-1
• Satpam-2
• Rentenir
• Petugas
Semua aparat ini mempunyai ciri-ciri yang sama. Mereka takut pada amuk
massa, dan sering menggunakan kekerasan dan intimidasi untuk menyembunyikan
ketakutan ini. Demi itu mereka juga menghina orang-orang kelas bawah. Walau
mereka mewakili orang berkuasa, mereka tidak disenangi ataupun diterima dengan
baik oleh orang kelas bawah. Misalnya:
ASNAH:
Baok kaniak upeh-upeh tu. Waden indak salah, Asnah indak takuik.

RENTENIR:
Tidak takut? Saya bawa bodigar.
21 Ibid. Hal. 195.
22 Ibid. Hal. 191 – 193.

19
ASNAH:
Allaaaa, bodigar waang tu gadang sarawa. Sunguiknyo sajo ma nan
gadang malintang. Diagieh paho, tangga lutuiknyao.

RENTENIR:
Wooo, paha bau kakus masih dibangga-banggain.

ASNAH:
Apo? Apo kecek ang? Kanciang, kalera, buntuik, boco gadang, cipuik,
den tanggalkan sarawa waang. Pai capek...

RENTENIR:
(LARI KETAKUTAN)
Awas kamu nanti...

ASNAH:
(MASUK MENGGERUNDEL)
Rentenir gata, cangok. Keceknyo sia awak. Mancaliek paho sajo tubudue
incek matonyo... 23

D. Tema
Tema utama Opera Kecoa ialah penelantaran kelas bawah oleh kelas atas. Ini
diwujudkan melalui pernyataan korupsi dan perendahan kelas bawah..
Penelantaran kelas bawah kelihatan dari awal babak dua, ketika Roima masuk
membawa mayat Julini. Roima teriak bahwa nasib telah “melempar [Julini] ke got
dan sampai mati dia tetap berkubang di got, berdesakan dengan kutu dan kecoa.” Dari
awalan ini dapat dilihat bahwa disparity di antara kaum rendah dan kaum atas adalah
tema yang sangat berperan dalam Opera Kecoa.
Kejadian lain yang menjelaskan penelantaran kelas bawah ialah:
• Ketika Julini dan Roima bangun di Emperen Plaza Monumen mereka harus
melarikan diri dari Satpam24
• Para kecoa dinyatakan mabuk karena pusing menghadapi hidup25

23 Ibid. Hal. 169.


24 Ibid. Hal. 151 – 153.
25 Ibid. Hal. 154 – 155.

20
• Tarsih digusur dari rumah / tempat pelacuran milik dia oleh Petugas dan
Satpam26
• Di padang golf Julini dan Roima diusir agar Pejabat dan Tamu Asing dapat
main golf tanpa diganggu27
• Kasijah menyamakan bangsanya dengan babi, sapi, dan tai28
• Pemerintah minta pajak pendapatan sebesar 17%, PPN 10%, pajak
penghasilan 25% dan pajak kenikmatan 20%29
• Saat ada peninjauan rencana projek, rakyat kecil disembunyikan30
Tema ini juga muncul dengan adanya tokoh Pejabat dan Tamu Asing. Ketika
rakyat kecil bersusah payah untuk mencari kehidupan, Pejabat dan Tamu Asing
mendiskusikan korupsi31 dan menggunakan uang rakyat yang bisa digunakan untuk
subsidi sembako untuk pembangunan monumen.32 Ini membuat tokoh dari kelas atas
kelihatan lebih mementingkan keterampilan daripada nasib rakyat kecil.

26 Ibid. Hal. 156 – 157.


27 Ibid. Hal. 183.
28 Ibid. Hal. 191.
29 Ibid. Hal. 196.
30 Ibid. Hal. 216.
31 Ibid. Hal. 186
32 Ibid Hal. 214 – 215.

21
BAB IV: KOMENTAR MENGENAI PEMENTASAN
Menurut penulis, Opera Kecoa susah dipentaskan sesuai dengan visi N.
Riantiarno. Cukup banyak tokoh mempunyai sikap yang rumit, perlu special effects
yang cukup mahal dan bahaya digunakan, dan jumlah cast dan staff pasti mahal.
Dari segi casting, ada beberapa tokoh yang sangat sulit dicasting. Julini adalah
contoh yang sangat bagus, khususnya karena statusnya sebagai waria. Apabila
dicasting seorang perempuan, dia mungkin sulit dipercaya oleh audiens. Sementara,
apabila dicasting seorang lelaki, pemain itu mungkin saja malu dan tidak bisa main
sehebat-hebatnya. Untungnya pribadi Julini tidak sulit ditiru.
Sementara, Tuminah sangat susah dicasting untuk dua alasan, yaitu alasan
fisik dan alasan kemampuan. Dari segi fisik, pemain Tuminah harus seorang remaja,
di antara usia 17 dan 22 tahun, dan sangat cantik; ini agar audiens dapat percaya
bahwa dia menjadi kesayangan pejabat dan bisa minta harga tinggi. Sementara dari
segi sikap, pemain Tuminah harus mempunyai seksualitas yang tidak lebai, tetapi
juga mempunyai sikap serius yang dapat digunakan ketika bersama teman-temannya.
Apabila pemain tidak mampu membuat Tuminah seksual dan erotis ketika bersama
pelanggan serta serius dengan orang lain, tokoh Tuminah akan gagal dengan audiens.

22
Tarsih dan Kasijah mempunyai kesulitan yang cukup unik. Tarsih sebaiknya
orang yang berusia di antara 25 dan 30 tahun tetapi masih mempunyai tampak fisik
yang menarik, walaupun sudah mengurang akibat stress. Dia harus bisa serius
sekalian masih mempunyai daya tarik seksual dalam semua tindakan.
Kasijah lebih mudah, tetapi tetap saja susah mencari orang yang fisiknya pas.
Dia sebaiknya di atas usia 30, sudah mulai kelihatan jelek tetapi masih ada bekas-
bekas kecantikan. Dalam goyangannya ketika berbicara sebagai orang gila dia
sebaiknya mempunyai daya tarik seksual, hampir secara tidak sadar.
Sebenarnya lebih baik kalau semua orang yang di-casting juga mampu
menyanyi dengan indah karena ada banyak lagu di Opera Kecoa. Namun, itu sangat
sulit. Oleh karena itu, sebaiknya extras yang dipilih pintar menyanyi dan pemain
utama me-lip synch dengan audio yang di-record sebelumnya saat ada nyanyian
bersama.
Dari segi special effects, harus tersedia dana dan akal yang tidak sedikit. Di
bagian akhir naskah terjadi suatu kebakaran yang besar sekali. Untuk itu, dapat
digunakan permainan cahaya dan asap atau api benaran yang dikendalikan. Kedua
cara itu memerlukan banyak dana untuk dijalani dengan benar oleh karena perlu
menyewa alat dan tenaga khusus. Special effects lain ringan. Penembakan Julini dapat
menggunakan saus tomat dan senjata dengan peluru kosong. Penusukan Kumis juga
menggunakan saus tomat, hanya dalam jumlah yang banyak.
Cast perlu besar. Dihitung dari catatan di awal Opera Kecoa, ada setidaknya
empat puluh tokoh, baik yang tokoh utama maupun yang bit-parts dan extras. Walau
beberapa tokoh dapat dimainkan oleh orang yang sama, masih perlu setidaknya dua
puluh lima pemain. Selain itu, perlu juga pemain cadangan untuk setiap tokoh utama
agar tidak ada gangguan kalau salah satu pemain sakit, lighting crew, pemain atau
pemutar musik, stage manager dan sebagainya. Dengan demikian, jumlah orang yang
diperlukan setidaknya lima puluh, dengan setiap orang menerima gaji. Tentu saja
mahal.

23
Selain itu, kostum perlu dipikirkan dengan baik. Contohnya, kostum Julini
perlu berubah hampir setiap babak untuk mencerminkan kemajuannya. Kostum
Tunimah setelah bercinta Pejabat harus minimalis, dan mungkin diperlukan kain
sewarna kulitnya agar kelihatan realis tanpa adanya ketelanjangan.

BAB V: KESIMPULAN
Walaupun Opera Kecoa menceritakan kehidupan orang yang dianggap tuna
susila, ternyata ada unsur kritik sosial yang lembut dan cerita yang indah. Biarpun
Tuminah, Julini, Tarsih dan sebagainya dianggap sebagai penjahat oleh dunia luar,
mereka pun dapat menarik perasaan dan perhatian penonton akan nasib mereka yang
malang; sebisa mungkin mereka berjuang, tetapi selalu dibatasi oleh kaum atasan.
Oleh karena itu, karya ini berhasil mempengaruhi audiens.

24
DAFTAR PUSTAKA
Riantiarno, N. 2004. Trilogi Opera Kecoa. Cetakan Pertama. Jakarta: Matahari.

S. E. Peni Adji. 2009. “Hakikat Teori Struktural.” Perkuliahan

25