Anda di halaman 1dari 57

gaya kepemimpinan manajemen

Create your own at MyNiceProfile.com

Minggu, 31 Maret 2013


asuhan keperawatan pada bayi hiperbilirubin, BBLR dan prematur
BAB1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah. Pada sebagian
neonatus, ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Dikemukakan
bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan pada 80% bayi kurang
bulan. Di Jakarta dilaporkan 32,19% menderita ikterus. Ikterus ini pada sebagian lagi
mungkin bersifat patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau
menyebabkan kematian, karenanya setiap bayi dengan ikterus harus mendapat perhatian
terutama apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi atau kadar
bilirubin meningkat lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam. Proses hemolisis darah, infeksi berat,
ikterus yang berlangsung lebih dari 1 minggu serta bilirubin direk lebih dari 1 mg/dl juga
merupakan keadaan yang menunjukkan kemungkinan adanya ikterus patologik. Dalam
keadaan tersebut penatalaksanaan ikterus harus dilakukan sebaik-baiknya agar akibat buruk
ikterus dapat dihindarkan.
Kongres Kedokteran Perinatologi Eropa Ke-2, 1970, mendefinisikan Berat Badan
Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir 2500 gr dan
mengalami masa gestasi yang diperpendek maupun pertumbuhan intra uterus kurang dari
yang diharapkan (Rosa M. Sacharin, 1996).

Berat Badan Lahir Rendah tergolong bayi yang mempunyai resiko tinggi untuk
kesakitan dan kematian karena BBLR mempunyai masalah terjadi gangguan pertumbuhan
dan pematangan (maturitas) organ yang dapat menimbulkan kematian.
Angka kejadian (insidens) BBLR di negara berkembang seperti di Inggris dikatakan
sekitar 7 % dari seluruh kelahiran. Terdapat variasi yang bermakna dalam insidens diseluruh
negeri dan pada distrik yang berbeda, angka lebih tinggi di kota industri besar (Rosa M.
Sacharin,

1996 ). Sedangkan di Indonesia

masih

merupakan masalah yang perlu

diperhatikan, karena di Indonesia angka kejadiannya masih tinggi. Di RSUD Dr. Soetomo
Surabaya dari tahun ke tahun tidak banyak berubah sekitar

22 % - 26,4 %.

Berkenaan dengan itu upaya pemerintah menurunkan IMR tersebut maka pencegahan
dan pengelolaan BBLR sangat penting. Dengan penanganan yang lebih baik dan pengetahuan
yang memadai tentang pengelolaan BBLR, diharapkan angka kematian dan kesakitan dapat
ditekan.
Peran serta perawat dalam pencegahan BBLR dengan meningkatkan kesejahteraan ibu dan
janin yang dikandung, maka perlu dilakukan deteksi dini melalui pemantauan Ante Natal
Care dan pengelolaan BBLR dengan penanganan dan pengetahuan yang memadai dengan
menggunakan pendekatan asuhan keperawatan.
Berdasarkan fenomena diatas kelompok tertarik untuk mengangkat masalah asuhan
keperawatan pada neonatus dengan BBLR di Ruang Neonatus RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Bayi Prematur adalah bayi yang lahir kurang dari usia kehamilan yang normal (37
minggu) dan juga dimana bayi mengalami kelainan penampilan fisik. Prematuritas dan berat
lahir rendah biasanya terjadi secara bersamaan, terutama diantara bayi dengan badan 1500 gr
atau kurang saat lahir, sehingga keduanya berkaitan dengan terjadinya peningkatan
mordibitas dan mortalitas neonatus dan sering di anggap sebagai periode kehamilan pendek
(Nelson 1988 dan Sacharin 1996). Masalah Kesehatan pada bayi prematur, membutuhkan
asuhan keperawatan, dimana pada bayi prematur sebaiknya dirawat di rumah sakit karena
masih membutuhkan cairan-cairan dan pengobatan /serta pemeriksaan Laboratorium yang
bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan terapi pada bayi dan anak yang meliputi
peran perawat sebagai advokad, fasilitator, pelaksanaan dan pemberi asuhan keperawatan
kepada klien. Tujuan pemberian pelayanan kesehatan pada bayi prematur dengan asuhan
keperawatan secara komprehensif adalah untuk menyelesaikan masalah keperawatan.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan hiperbilirubin, Bblr dan premature ?

1.2.2 Apakah yang menjadi penyebab terjadinya hiperbilirubin, Bblr dan premature pada bayi ?
1.2.3 Bagaimana manifestasi klinis penyakit hiperbilirubin, Bblr dan premature pada bayi ?
1.2.4 Bagaimana komplikasi yang terjadi pada penyakit hiperbilirubin, Bblr dan premature pada
bayi?
1.2.5 Bagaimana patofisiologi terjadinya penyakit hiperbilirubin, Bblr dan premature pada bayi?
1.2.6 Apa saja pemeriksaan penunjang pada penyakit hiperbilirubin, Bblr dan premature pada
bayi?
1.2.7 Bagaimana penatalaksanaan pada penyakit hiperbilirubin, Bblr dan premature pada bayi?
1.2.8 Bagaimana proses asuhan keperawatan pada penyakit hiperbilirubin, Bblr dan premature
pada bayi?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk menghasilkan deskripsi tentang definisi hiperbilirubin, Bblr dan premature pada bayi.
1.3.2 Untuk menghasilkan deskripsi tentang penyebab terjadinya hiperbilirubin, Bblr dan
premature pada bayi.
1.3.3 Untuk menghasilkan gambaran tentang manifestasi klinis penyakit hiperbilirubin, Bblr dan
premature pada bayi.
1.3.4 Untuk menghasilkan gambaran tentang komplikasi yang terjadi pada penyakit hiperbilirubin,
Bblr dan premature pada bayi.
1.3.5 Untuk menghasilkan gambaran tentang patofisiologi terjadinya penyakit hiperbilirubin, Bblr
dan premature pada bayi.
1.3.6 Untuk menghasilkan deskripsi tentang pemeriksaan penunjang pada penyakit hiperbilirubin,
Bblr dan premature pada bayi.
1.3.7 Untuk menghasilkan gambaran tentang penatalaksanaan penyakit hiperbilirubin, Bblr dan
premature pada bayi.
1.3.8 Untuk menghasilkan gambaran tentang proses asuhan keperawatan pada bayi dengan
penyakit t hiperbilirubin, Bblr dan premature.
1.4 Manfaat
1.4.1 Memberikan informasi tentang penyakit hiperbilirubin, Bblr dan premature pada bayi.
1.4.2 Memberikan informasi tentang proses asuhan keperawatan pada bayi dengan hiperbilirubin,
Bblr dan premature.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1

HIPERBILIRUBIN
2.1.1 Definisi

Hiperbilirubin adalah keadaan icterus yang terjadi pada bayi baru lahir, yang dimaksud
dengan ikterus yang terjadi pada bayi baru lahir adalah meningginya kadar bilirubin di dalam
jaringan ekstravaskuler sehingga terjadi perubahaan warna menjadi kuning pada kulit,
konjungtiva, mukosa dan alat tubuh lainnya. (Ngastiyah, 2000) Nilai normal: bilirubin indirek
0,3 1,1 mg/dl, bilirubin direk 0,1 0,4 mg/dl.
Hiperbilirubin merupakan gejala fisiologis (terdapat pada 25 50% neonatus cukup
bulan dan lebih tinggi pada neonatus kurang bulan). (IKA II, 2002).
Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang kadar nilainya
lebih dari normal (Suriadi, 2001).
Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah melebihi batas
atas nilai normal bilirubin serum.
Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin dalam darah
berlebihan sehingga menimbulkan joundice pada neonatus (Dorothy R. Marlon, 1998)
Hiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi akumulasi bilirubin dalam darah yang
mencapai kadar tertentu dan dapat menimbulkan efek patologis pada neonatus ditandai
joudince pada sclera mata, kulit, membrane mukosa dan cairan tubuh (Adi Smith, G, 1988).
Hiperbilirubin adalah peningkatan kadar bilirubin serum (hiperbilirubinemia) yang
disebabkan oleh kelainan bawaan, juga dapat menimbulkan ikterus. (Suzanne C. Smeltzer,
2002)
Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek pathologis.
(Markum, 1991:314)
Metabolisme Bilirubin
75%dari bilirubin yang ada pada BBL yang berasal dari penghancuran hemoglobin ,dan
25%dari mioglobin ,sitokrom ,katalase dan tritofan pirolase .satu gram bilirubin yang hancur
menghasilkan 35 mg bilirubin .bayi cukup bulan akan menghancurkan eritrosit sebanyak satu
gram/hari dalam bentuk bilirubin indirek yang terikat dengan albumin bebas (1 gram albumin
akan mengikat 16 mg bilirubin). Bilirubin indirek larut dalam lemak dan bila sawar otak
terbuka, bilirubin akan masuk kedalam otak dan terjadilah kernikterus. yang memudahkan
terjadinya hal tersebut ialah imaturitas, asfiksia/hipoksia, trauma lahir, BBLR (kurang dari
2500 gram), infeksi, hipoglikemia, hiperkarbia.didalam hepar bilirubin akan diikat oleh
enzim glucuronil transverse menjadi bilirubin direk yang larut dalam air, kemudian
diekskresi kesistem empedu, selanjutnya masuk kedalam usus dan menjadi sterkobilin.
sebagian di serap kembali dan keluar melalui urin sebagai urobilinogen.

Pada BBL bilirubin direk dapat di ubah menjadi bilirubin indirek didalam usus karena
disini terdapat beta-glukoronidase yang berperan penting terhadap perubahan tersebut.
bilirubin indirek ini diserap kembali oleh usus selanjutnya masuk kembali ke hati (inilah
siklus enterohepatik).
Keadaan ikterus di pengaruhi oleh :
a) Faktor produksi yang berlebihan melampaui pengeluaran nya terdapat pada hemolisis yang
meningkat seperti pada ketidakcocokan golongan
darah (Rh, ABO antagonis,defisiensi G-6-PD dan sebagai nya).
b) Gangguan dalam uptake dan konjugasi hepar di sebabkan imaturitas hepar, kurangnya substrat
untuk konjugasi (mengubah) bilirubin, gangguan fungsi hepar akibat asidosis,hipoksia, dan
infeksi atau tidak terdapat enzim glukuronil transferase (G-6-PD).
c) Gangguan tranportasi bilirubin dalam darah terikat oleh albumin kemudian di angkut oleh
hepar. Ikatan ini dapat di pengaruhi oleh obat seperti salisilat dan lain-lain. Defisiensi
albumin menyebabkan lebih banyak bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah
melekat pada otak (terjadi krenikterus).
d) Gangguan dalam ekskresi akibat sumbatan dalam hepar atau di luar hepar. Akibat kelainan
bawaan atau infeksi, atau kerusakan hepar oleh penyebab lain.
Macam Macam Ikterus
1. Ikterus Fisiologis
a. Timbul pada hari ke dua dan ketiga.
b. Kadar bilirubin indirek tidak melebihi 10 mg% pada neonates cukup bulan dan 12,5 mg%
untuk neonatus lebih bulan.
c. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg% perhari.
d. Ikterus menghilang pada 10 hari pertama.
e. Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologik.
2. Ikterus Patologik
a. Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama.
b. Kadar bilirubin melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan atau melebihi 12,5 mg% pada
neonatus kurang bulan.
c. Peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg% perhari.
d. Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama.
e. Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg%.
f. Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik. (Ni Luh Gede Y, 1995)

1.1.2
1.
2.
3.
4.

Etiologi
Pembentukan bilirubin yang berlebihan.
Gangguan pengambilan (uptake) dan transportasi bilirubin dalam hati.
Gangguan konjugasi bilirubin.
Penyakit Hemolitik, yaitu meningkatnya kecepatan pemecahan sel darah merah. Disebut juga

ikterus hemolitik. Hemolisis dapat pula timbul karena adanya perdarahan tertutup.
5. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan, misalnya Hipoalbuminemia
atau karena pengaruh obat-obatan tertentu.
6. Gangguan fungsi hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksin yang dapat
langsung merusak sel hati dan sel darah merah seperti : infeksi toxoplasma. Siphilis.
7. Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat disebabkan oleh
beberapa faktor:
8. Produksi yang berlebihan
Hal ini melebihi kemampuannya bayi untuk mengeluarkannya, misal pada hemolisis yang
meningkat pada inkompabilitas darah Rh, ABO, golongan darah lain, defisiensi enzim G6PD,
piruvat kinase, perdarahan tertutup dan sepsis.
9. Gangguan proses uptake dan konjugasi hepar.
Gangguan ini dapat disebabkan oleh immturitas hepar, kurangnya substrat untuk konjugasi
bilirubin, gangguan fungsi hepar, akibat asidosis, hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya
enzim glukoronil transferase (sindrom Criggler-Najjar) penyebab lain atau defisiensi protein
Y dalam hepar yang berperan penting dalam uptake bilirubin ke sel hepar.
10. Gangguan transportasi.
Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkat ke hepar. Ikatan bilirubin
dengan albumin dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat, dan sulfaforazole. Defisiensi
albumin menyebabkan lebih banyak terdapat bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang
mudah melekat ke sel otak.
11.Gangguan dalam ekskresi.
Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar. Kelainan di luar
hepar biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat
infeksi/kerusakan hepar oleh penyebab lain.
1.1.3

Manifestasi Klinis
Menurut Surasmi (2003) gejala hiperbilirubinemia dikelompokkan menjadi :
1. Gejala akut : gejala yang dianggap sebagai fase pertama kernikterus pada neonatus adalah
2.

letargi, tidak mau minum dan hipotoni.


Gejala kronik : tangisan yang melengking (high pitch cry) meliputi hipertonus dan opistonus
(bayi yang selamat biasanya menderita gejala sisa berupa paralysis serebral dengan atetosis,
gengguan pendengaran, paralysis sebagian otot mata dan displasia dentalis).

Sedangakan menurut Handoko (2003) gejalanya adalah warna kuning (ikterik) pada kulit,
membrane mukosa dan bagian putih (sclera) mata terlihat saat kadar bilirubin darah mencapai
1.1.4

sekitar 40 mol/l.
Komplikasi
Terjadi kern ikterus yaitu keruskan otak akibat perlangketan bilirubin indirek pada otak. Pada
kern ikterus gejala klinik pada permulaan tidak jelas antara lain : bayi tidak mau menghisap,
letargi, mata berputar-putar, gerakan tidak menentu (involuntary movements), kejang tonus

otot meninggi, leher kaku, dn akhirnya opistotonus


1.1.5 Patofisiologi
Untuk lebih memahami tentang patofisiologi ikterus maka terlebih dahulu akan diuraikan
tentang metabolisme bilirubin
1. Metabolisme Bilirubin
Segera setelah lahir bayi harus mengkonjugasi Bilirubin (merubah Bilirubin yang larut dalam
lemak menjadi Bilirubin yang mudah larut dalam air) di dalam hati. Frekuensi dan jumlah
konjugasi tergantung dari besarnya hemolisis dan kematangan hati, serta jumlah tempat
ikatan Albumin (Albumin binding site). Pada bayi yang normal dan sehat serta cukup bulan,
hatinya sudah matang dan menghasilkan Enzim Glukoronil Transferase yang memadai
sehingga serum Bilirubin tidak mencapai tingkat patologis.
2. Patofisiologi Hiperbilirubinemia
Peningkatan kadar Bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan . Kejadian yang
sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban Bilirubin pada sel Hepar yang
berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran Eritrosit,
Polisitemia.
Gangguan pemecahan Bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar Bilirubin
tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi Hipoksia,
Asidosis. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah apabila
ditemukan gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi
misalnya sumbatan saluran empedu.
Pada derajat tertentu, Bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas
terutama ditemukan pada Bilirubin Indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah
larut dalam lemak. sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila
Bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak disebut
Kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf pusat tersebut mungkin
akan timbul apabila kadar Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg/dl.

Mudah tidaknya kadar Bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung
pada keadaan neonatus. Bilirubin Indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi
terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah , Hipoksia, dan Hipoglikemia ( AH,
Markum,1991
1.1.6 Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan bilirubin serum
a. Pada bayi cukup bulan, bilirubin mencapai kurang lebih 6mg/dl antara 2-4 hari setelah lahir.
Apabila nilainya lebih dari 10mg/dl tidak fisiologis.
b. Pada bayi premature, kadar bilirubin mencapai puncak 10-12 mg/dl antara 5-7 hari setelah
lahir. Kadar bilirubin yang lebih dari 14mg/dl tidak fisiologis.
2. Pemeriksaan radiology
Diperlukan untuk melihat adanya metastasis di paru atau peningkatan diafragma kanan pada
pembesaran hati, seperti abses hati atau hepatoma
3. Ultrasonografi
Digunakan untuk membedakan antara kolestatis intra hepatic dengan ekstra hepatic.
4. Biopsy hati
Digunakan untuk memastikan diagnosa terutama pada kasus yang sukar seperti untuk
membedakan obstruksi ekstra hepatic dengan intra hepatic selain itu juga untuk memastikan
keadaan seperti hepatitis, serosis hati, hepatoma.
5. Peritoneoskopi
Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk
perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini.
6. Laparatomi
Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk
perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini
1.1.7

Penatalaksanaan.
Berdasarkan pada penyebabnya, maka manejemen bayi dengan
Hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia
dari Hiperbilirubinemia. Pengobatan mempunyai tujuan :
1. Menghilangkan Anemia
2. Menghilangkan Antibodi Maternal dan Eritrosit Tersensitisasi
3. Meningkatkan Badan Serum Albumin
4. Menurunkan Serum Bilirubin
Metode
therapi
pada
Hiperbilirubinemia
meliputi
:

dan

membatasi

efek

Fototerapi,

Transfusi

dikombinasi

dengan

Pengganti, Infus Albumin dan Therapi Obat.


Fototherapi
Fototherapi
Transfusi

dapat
Pengganti

digunakan
untuk

sendiri

menurunkan

atau

Bilirubin.

Memaparkan

neonatus

pada

cahaya dengan intensitas yang tinggi ( a bound of fluorencent light bulbs or

bulbs

in

the

Fototherapi
Biliar

blue-light

menurunkan

Bilirubin

tak

jaringan

mengubah

disebut

Fotobilirubin.

melalui

mekanisme

spectrum)
kadar

menurunkan

Bilirubin

terkonjugasi.
Bilirubin

Hal

tak

Fotobilirubin
difusi.

akan

Di

dengan

ini

cara

terjadi

jika

terkonjugasi
bergerak

dalam

dalam

kulit.

memfasilitasi
cahaya

menjadi

dari

darah

Bilirubin

yang

dua

jaringan

ke

Fotobilirubin

eksresi
diabsorsi

isomer

yang

pembuluh

darah

berikatan

dengan

Albumin dan dikirim ke Hati. Fotobilirubin kemudian bergerak ke Empedu dan


diekskresi

ke

dalam

Deodenum

untuk

dibuang

bersama

feses

tanpa

proses

konjugasi oleh Hati (Avery dan Taeusch, 1984). Hasil Fotodegradasi terbentuk
ketika

sinar

Fototherapi
Bilirubin,

mengoksidasi
mempunyai

tetapi

tidak

Bilirubin

peranan
dapat

dapat

dalam

mengubah

dikeluarkan

pencegahan

penyebab

melalui

urine.

peningkatan

kadar

Kekuningan

dan

Hemolisis

dapat menyebabkan Anemia. Secara umum Fototherapi harus diberikan pada kadar Bilirubin
Indirek 4 -5 mg / dl. Neonatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus di
Fototherapi dengan konsentrasi Bilirubun 5 mg / dl. Beberapa ilmuan mengarahkan untuk
memberikan Fototherapi Propilaksis pada 24 jam pertama pada Bayi Resiko Tinggi dan Berat
Badan

Lahir

Rendah.

Tranfusi Pengganti
Transfusi Pengganti atau Imediat diindikasikan adanya faktor-faktor :
1. Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu.
2. Penyakit Hemolisis berat pada bayi baru lahir.
3. Penyakit Hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama.
4. Tes Coombs Positif
5. Kadar Bilirubin Direk lebih besar 3,5 mg / dl pada minggu pertama.
6. Serum Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg / dl pada 48 jam pertama.
7. Hemoglobin kurang dari 12 gr / dl.
8. Bayi dengan Hidrops saat lahir.
9. Bayi pada resiko terjadi Kern Ikterus.
Transfusi Pengganti digunakan untuk :
1.
Mengatasi
Anemia
sel
darah
merah
yang
tidak
Suseptible
terhadap sel darah merah terhadap Antibodi Maternal.
2. Menghilangkan sel darah merah untuk yang Tersensitisasi (kepekaan)
3. Menghilangkan Serum Bilirubin
4.
Meningkatkan
Albumin
bebas
Bilirubin
dan
meningkatkan
dengan Bilirubin
Pada Rh Inkomptabiliti
(kurang

dari

hari),

diperlukan
Rh

negatif

transfusi
whole

darah

blood.

golongan

Darah

yang

(rentan)

keterikatan
O

segera

dipilih

tidak

mengandung antigen A dan antigen B yang pendek. setiap 4 - 8 jam kadar

Bilirubin

harus

dicek.

Hemoglobin

harus

diperiksa

setiap

hari

sampai

stabil.

Therapi Obat
Phenobarbital dapat menstimulasi hati untuk menghasilkan enzim yang meningkatkan
konjugasi

Bilirubin

dan

mengekresinya.

Obat

ini

efektif

baik diberikan pada ibu hamil untuk beberapa hari sampai beberapa minggu
sebelum

melahirkan.

Penggunaan

penobarbital

pada

post

natal

masih

menjadi

pertentangan karena efek sampingnya (letargi).


Colistrisin

dapat

mengurangi

Bilirubin

dengan

mengeluarkannya

lewat

urine

sehingga menurunkan siklus Enterohepatika.


2.1.8
Untuk

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI HIPERBILIRUBIN


memberikan

keperawatan

yang

keperawatan
meliputi

yang

Pengkajian,

paripurna

Diagnosa

digunakan

Keperawatan,

proses

Perencanaan,

Pelaksanaan dan Evaluasi.


A. Pengkajian
1. Riwayat orang tua :
Ketidakseimbangan golongan darah ibu dan anak seperti Rh, ABO, Polisitemia,
Infeksi, Hematoma, Obstruksi Pencernaan dan ASI.
2. Pemeriksaan Fisik :
Kuning, Pallor Konvulsi, Letargi, Hipotonik, menangis melengking, refleks menyusui
yang lemah, Iritabilitas.
3. Pengkajian Psikososial :
Dampak sakit anak pada hubungan dengan orang tua, apakah orang tua merasa
bersalah, masalah Bonding, perpisahan dengan anak.
4. Pengetahuan Keluarga meliputi :
Penyebab penyakit dan pengobatan, perawatan
keluarga

lain

yang

memiliki

yang

sama,

lebih
tingkat

lanjut,

apakah

pendidikan,

mengenal
kemampuan

mempelajari Hiperbilirubinemia (Cindy Smith Greenberg. 1988)


B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul :
1. Risiko/ defisit volume cairan berhubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan, serta
peningkatan Insensible Water Loss (IWL) dan defikasi sekunder fototherapi.
2. Risiko /gangguan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi bilirubin, efek fototerapi.
3. Risiko hipertermi berhubungan dengan efek fototerapi.

4.

Gangguan parenting ( perubahan peran orang tua ) berhubungan dengan perpisahan dan

penghalangan untuk gabung.


5. Kecemasan meningkat berhubungan dengan therapi yang diberikan pada bayi.
6. Risiko tinggi injury berhubungan dengan efek fototherapi
7. Risiko tinggi komplikasi (trombosis, aritmia, gangguan elektrolit, infeksi) berhubungan
dengan tranfusi tukar.
8. PK : Kern Ikterus
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Risiko /defisit volume cairan b/d tidak adekuatnya intake cairan serta peningkatan IWL dan
defikasi sekunder fototherapi
Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi
-

deficit volume cairan dengan kriteria :


Jumlah intake dan output seimbang
Turgor kulit baik, tanda vital dalam batas normal
Penurunan BB tidak lebih dari 10 % BBL
Intervensi & Rasional :

a.
b.
c.
d.
e.
2.

Kaji reflek hisap bayi


( Rasional/R : mengetahui kemampuan hisap bayi )
Beri minum per oral/menyusui bila reflek hisap adekuat
(R: menjamin keadekuatan intake )
Catat jumlah intake dan output , frekuensi dan konsistensi faeces
( R : mengetahui kecukupan intake )
Pantau turgor kulit, tanda- tanda vital ( suhu, HR ) setiap 4 jam
(R : turgor menurun, suhu meningkat HR meningkat adalah tanda-tanda dehidrasi )
Timbang BB setiap hari
(R : mengetahui kecukupan cairan dan nutrisi).
Risiko/hipertermi berhubungan dengan efek fototerapi
Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi
hipertermi

dengan

kriteria

suhu

aksilla

stabil

antara

36,5-37

C.

Intervensi dan rasionalisasi :


Observasi suhu tubuh ( aksilla ) setiap 4 - 6 jam
(R : suhu terpantau secara rutin )
b. Matikan lampu sementara bila terjadi kenaikan suhu, dan berikan kompres dingin serta ekstra
a.

minum
( R : mengurangi pajanan sinar sementara )
c. Kolaborasi dengan dokter bila suhu tetap tinggi
( R : Memberi terapi lebih dini atau mencari penyebab lain dari hipertermi ).
3. Risiko /Gangguan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi bilirubin, efek fototerapi
Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi

gangguan integritas kulit dengan kriteria :


tidak terjadi decubitus
Kulit bersih dan lembab
Intervensi :

a.
b.
c.
d.
e.

Kaji warna kulit tiap 8 jam


(R : mengetahui adanya perubahan warna kulit )
Ubah posisi setiap 2 jam
(R : mencegah penekanan kulit pada daerah tertentu dalam waktu lama ).
Masase daerah yang menonjol
(R : melancarkan peredaran darah sehingga mencegah luka tekan di daerah tersebut ).
Jaga kebersihan kulit bayi dan berikan baby oil atau lotion pelembab
( R : mencegah lecet )
Kolaborasi untuk pemeriksaan kadar bilirubin, bila kadar bilirubin turun menjadi 7,5 mg%

fototerafi dihentikan
(R: untuk mencegah pemajanan sinar yang terlalu lama )
4. Gangguan parenting ( perubahan peran orangtua) berhubungan dengan perpisahan dan
penghalangan untuk gabung.
Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan orang tua dan
bayi menunjukan tingkah laku Attachment , orang tua dapat mengekspresikan ketidak

a.
b.
c.
d.
e.
5.

mengertian proses Bounding.


Intervensi :
Bawa bayi ke ibu untuk disusui
( R : mempererat kontak sosial ibu dan bayi )
Buka tutup mata saat disusui
(R: untuk stimulasi sosial dengan ibu )
Anjurkan orangtua untuk mengajak bicara anaknya
(R: mempererat kontak dan stimulasi sosial ).
Libatkan orang tua dalam perawatan bila memungkinkan
( R: meningkatkan peran orangtua untuk merawat bayi ).
Dorong orang tua mengekspresikan perasaannya
(R: mengurangi beban psikis orangtua)
Kecemasan meningkat berhubungan dengan therapi yang diberikan pada bayi.
Tujuan : Setelah diberikan penjelasan selama 2x15 menit diharapkan orang tua menyatakan
mengerti tentang perawatan bayi hiperbilirubin dan kooperatif dalam perawatan.

a.
b.
c.
6.

Intervensi :
Kaji pengetahuan keluarga tentang penyakit pasien
( R : mengetahui tingkat pemahaman keluarga tentang penyakit )
Beri pendidikan kesehatan penyebab dari kuning, proses terapi dan perawatannya
( R : Meningkatkan pemahaman tentang keadaan penyakit )
Beri pendidikan kesehatan mengenai cara perawatan bayi dirumah
(R : meningkatkan tanggung jawab dan peran orang tua dalam erawat bayi)
Risiko tinggi injury berhubungan dengan efek fototherapi
Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi

injury akibat fototerapi ( misal ; konjungtivitis, kerusakan jaringan kornea )


Intervensi :
a. Tempatkan neonatus pada jarak 40-45 cm dari sumber cahaya
( R : mencegah iritasi yang berlebihan).
b. Biarkan neonatus dalam keadaan telanjang, kecuali pada mata dan daerah genetal serta
bokong ditutup dengan kain yang dapat memantulkan cahaya usahakan agar penutup mata
tidak menutupi hidung dan bibir

c.
d.
e.
7.

a.
b.
c.
d.
e.

(R : mencegah paparan sinar pada daerah yang sensitif )


Matikan lampu, buka penutup mata untuk mengkaji adanya konjungtivitis tiap 8 jam
(R: pemantauan dini terhadap kerusakan daerah mata )
Buka penutup mata setiap akan disusukan.
( R : memberi kesempatan pada bayi untuk kontak mata dengan ibu ).
Ajak bicara dan beri sentuhan setiap memberikan perawatan
( R : memberi rasa aman pada bayi ).
Risiko tinggi terhadap komplikasi berhubungan dengan tranfusi tukar
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 1x24 jam diharapkan tranfusi tukar
dapat dilakukan tanpa komplikasi
Intervensi :
Catat kondisi umbilikal jika vena umbilikal yang digunakan
(R : menjamin keadekuatan akses vaskuler )
Basahi umbilikal dengan NaCl selama 30 menit sebelum melakukan tindakan
( R : mencegah trauma pada vena umbilical ).
Puasakan neonatus 4 jam sebelum tindakan
(R: mencegah aspirasi )
Pertahankan suhu tubuh sebelum, selama dan setelah prosedur
( R : mencegah hipotermi
Catat jenis darah ibu dan Rhesus memastikan darah yang akan ditranfusikan adalah darah

segar
( R : mencegah tertukarnya darah dan reaksi tranfusi yang berlebihan 0
f. Pantau tanda-tanda vital, adanya perdarahan, gangguan cairan dan elektrolit, kejang
selama dan sesudah tranfusi
(R : Meningkatkan kewaspadaan terhadap komplikasi dan dapat melakukan tindakan lebih
dini )
g. Jamin ketersediaan alat-alat resusitatif
(R : dapat melakukan tindakan segera bila terjadi kegawatan )
8. PK Kern Ikterus
Tujuan : Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tanda-tanda awal
kern ikterus bisa dipantau
Intervensi :
a. Observasi tanda-tanda awal Kern Ikterus ( mata berputar, letargi , epistotonus, dll )
b. Kolaborasi dengan dokter bila ada tanda-tanda kern ikterus.

2.2

BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)

2.2.1 Definisi
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir < 2500 gr
(berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir). WHO pada tahun
1961 mengatakan bahwa semua bayi baru lahir yang berat badannya < 2500 gr atau sama
dengan 2500 gr disebut Low Birth Weight Infant (Bayi dengan berat badan lahir rendah,
BBLR).

Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir dengan berat badan
kurang atau sama dengan 250 gram (WHO, 1961), sedangkan bayi dengan berat badan
kurang dari 1500 gr termasuk bayi dengan berat badan lahir sangat rendah. Pada kongres
European Prenatal Medicine II (1970) di London diusulkan definisi sebagai berikut:
-

Preterin Infant (bayi kurang bulan: masa gestasi kurang dari 269 hari (37mg).

Term infant (bayi cukup bulan: masa gestasi 259-293 hari (37 41 mg).

Post term infant (bayi lebih bulan, masa gestasi 254 hari atau lebih (42 mg/lebih).
Macam BBLR
1. Prematur murni
Yaitu bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat badan lahir sesuai
untuk usia kehamilan.
2. Dismatur
Yaitu bayi dengan berat badan lahir kurang dengan berat badan yang
seharusnya untuk usia kehamilan. Ini menunjukkan bayi mengalami retardasi pertumbuhan
intra uterin.
Klasifikasi BBLR
BBLR dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Berdasarkan BB lahir:
1. BBLR: BB lahir < 2500 gram
2. BBLSR: BB lahir 1000 1500 gram
3. BBLASR: BB lahir < 1000 gram
Berdasarkan umur kehamilan:
1. Kurang bulan/Preterm/Prematur
UK < 37 minggu
2. Cukup bulan/Fullterm/Aterm
UK 37 42 minggu
3. Lebih bulan/Postterm/Serotinus
UK > 42 minggu
2.2.2
Etiologi
1.Faktor ibu :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Riwayat kelahiran prematur sebelumnya


Perdarahan antepartum
Malnutrisi
Hidromion
Penyakit jantung/penyakit kronis lainnya
Umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
Jarak dua kehamilan yang terlalu dekat
Infeksi
Penderita DM berat

2. Faktor Janin :
a. Cacat bawaan
b. Kehamilan ganda/gemili

c.

Ketuban pecah dini/KPD

3. Keadaan sosial ekonomi yang rendah


4. Idiopatik
2.2.3

Manifestasi Klinis
1. Sebelum bayi lahir
a. Pada anamnese sering dijumpai adanya Riwayat abortus, partus prematurus dan lahir mati
b. Pembesaran uterus tidak sesuai tuanya kehamilan
c. Pergerakan janin yang pertama terjadi lebih lambat, gerakan janin lebih lambat walaupun
d.
e.
2.
a.
b.
c.
d.

kehamilannya sudah agak lanjut


Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut yang seharusnya
Sering dijumpai kehamilan dengan oligradramnion gravidarum atau perdarahan anterpartum
Setelah bayi lahir
Bayi dengan retadasi pertumbuhan intra uterin
Bayi premature yang lahir sebelum kehamilan 37 minggu
Bayi small for date sama dengan bayi dengan retardasi pertumbuhan I ntrauterine
Bayi prematur kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya (Rustam Mochtar,

e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.
r.
s.

1998 : 449)
Berat badan < 2500 gram
Panjang badan kurang atau sama dengan cm
Kepala relative lebih besar dari pada badannya
Kulit tipis
Transparan
Lanugo banyak
Lemak subcutan sedikit
Ubun-ubun dan sutura lebar
Genetalia imatur
Pembuluh darah terlihat
Peristaltic usus terlihat
Rambut biasanya tipis, halus
Tulang rawan daun telinga belum cukup sehingga Elastisitas daun telinga masi kurang
Pergerakan kurang dan masih lemah
Tangisan lemah

2.2.4

Komplikasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.

2.2.5

Sindrom aspirasi mekonium, asfiksia neonatorum, sindrom distres respirasi, penyakit


membran hialin
Dismatur preterm terutama bila masa gestasinya kurang dari 35 minggu
Hiperbilirubinemia, patent ductus arteriosus, perdarahan ventrikel otak
Hipotermia, Hipoglikemia, Hipokalsemia, Anemi, gangguan pembekuan darah
Infeksi, retrolental fibroplasia, necrotizing enterocolitis (NEC)
Bronchopulmonary dysplasia, malformasi konginetal
Patofisiologi

Semakin kecil dan semakin premature bayi, maka akan semakin tinggi risiko gizinya.
Beberapa faktor yang memberikan efek pada masalah gizi :
1. Menurunnya simpanan zat gizi, cadangan makanan di dalam tubuh sedikit. Hampir semua
lemak, glikogen, dan mineral seperti zat besi, kalsium, fosfor dan seng dideposit selama 8
minggu terakhir kehamilan. Dengan demikian bayi preterm mempunyai potensi terhadap
peningkatan hipoglikemia, anemia, dll
2. Belum matangnya fungsi mekanisme dari saluran pencernaan, koordinasi antara refleks hisap
dan menelan belum berkembang dengan baik sampai kehamilan 32-34 minggu.Penundaan
pengosongan lambung dan buruknya motilitas usus sering terjadi pada bayi preterm
3. Kurangnya kemampuan untuk mencerna makanan. Bayi preterm mempunyai sedikit
simpanan garam empedu yang diperlukan untuk mencerna dan mengabsorbsi lemak
dibandingkan dengan bayi aterm. Produksi amylase pancreas dan lipase yaitu enzim yang
terlibat dalam pencernaan lemak dan karbohidrat juga. Begitu pula kadar lactase juga rendah
sampai sekitar kehamilan 34 minggu.
4. Paru-paru yang belum matang dengan peningkatan kerja nafas dan kebutuhan kalori yang
meningkat.Masalah pernafasan juga akan mengganggu makanan secara oral.
5. Potensi untuk kehilangan panas akibat luas permukaan tubuh dibandingkan dengan berat
badan dan sedikitnya lemak pada jaringan di bawah kulit. Kehilangan panas ini akan
meningkatkan kebutuhan akan kalori.
2.2.6

Penatalaksanaan
Semua bayi berat lahir rendah akan memerlukan :
1.Suhu yang tinggi dan stabil untuk mempertahankan suhu tubuh
2.Atmosfer dengan kadar oksigen dan kelembaban tinggi
3.Pemberaian minum secara hati hati karena ada kecenderungan terisapnya susu ke paru
4.Perlindungan terhadap infeksi
5.Pencegahan kekurangan zat besi dan vitamin.
Bayi paling kecil yang beratnya kurang dari 2000 gram dirawat telanjang dalan incubator
dalam suhu 32-35oC dengan kelembaban tinggi. Akhirnya sebelum bayi pulang mereka
dirawat di dalam kamar bayi yang dingin (21oC) untuk menyesuaikan diri dengan suhu
kamar.
6.Pemberian minum
Minuman diberikan pada bayi yang terkecil dengan kateter makanan no 6 yang
terpasang terus melalui hidung bayi. Lebih baik diberikan ASI tetapi ada susu pengganti yang
cukup memuaskan yaitu susu yang disesuaikan dengan ASI dengan pemberian 150-180

ml/kg/hr. Pedoman berikut ini merupakan pedoman yang memuaskan. Minum dimulai bila
bayi berusia 4 jam.
a. Hari 1 : 20 ml/500 gram BB/hari
b. Hari 2 : 30 ml/500 gram BB/hari
c. Hari 3 : 40 ml/500 gram BB/hari
d. Hari 4 : 50 ml/500 gram BB/hari
e. Hari 5 : 75 ml/500 gram BB/hari
7.

Perlindungan terhadap infeksi


Perlindungan ini dilakukan dengan perawatan yang aman. Semua petugas harus mencuci
tangannya dengan cermat, menggunakan krem heksaklorofen. Disediakan ruang terpisah
untuk bayi yang terinfeksi dan bayi yang lahir di luar rumah sakit. Incubator memberikan
lingkungan yang relatif steril untuk bayi yang terkecil, tetapi ibu harus dianjurkan untuk
menyentuh bayinya melalui lubang incubator.

2.2.7

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI BBLR


I. Pengkajian
1. Pemeriksaan Fisik
berat badan bayi, apakah defermitas. Apakah ada perubahan pada fisik
2.
Bentuk

bayi

System pernafasan

cuping hidung, dada simetris atau tidak, otot-otot pernafasan

retraksi

intercostae, subclavicula, frekuensi pernafasan, bunyi nafas ada ronchi atau tidak.
3. Sistem cardiovaskuler
Irama dan frekuensi denyut jantung, warna kulit : sianosis, pucat, tekanan darah.
4. Sistem pencernaan
Tentukan apakah ada distensi abdominal, adakah regurgitasi, muntah : warana, bau,
konsistensi, peristaltic.
5. Sistem perkemihan
Jumlah, warna, abnormalitas genetalia.
6. Sistem neuro muskuler
fleksi, extensi, reflek menghisap, tingkat respon, respon pupil. Gerakan tubuh, sikap/
posisi bayi
7. Sistem integument
Tekstur kulit, ada lesi/ rash, iritasi atau tidak.
II.

Diagnosa keperawatan dengan implementasi

1)

Diagnosa I

Potensial terjadi hipotermi b/d tidak mampu mengontrol suhu tubuh d/d sedikitnya lemak
didalam tubuh, area permukaan tubuh luas, kebutuhan metabolisme tinggi.

Tujuan : Agar suhu tubuh bayi normal


Rencana :
1.Rawat bayi diruang isolasi
Rasional : suhu ruang isolasi lebih tinggi 2 dari suhu tubuh dan merupakan ruang yang netral
bagi bayi.
2.Monitor temperature axila, observasi, catat dan laporkan perubahan suhu klien.
Rasional : memantau tingkat perkembangan bayi dalam mengelola suhu badannya.
3.Observasi
distensi
abdomen,
perubahan
warna
pada
dinding
abdomen
Rasional : melihat sejauh mana bayi mengalami hipotermi karena bayi masih melakukan
nafas perut.
2) Diagnosa II
Potensial infeksi b/d imunitas tubuh rendah
Tujuan : tidak terjadi infeksi/ infeksi dapat di kurangi
Rencana :
1. Kaji, perhatikan lokasi dan infeksi.
Rasional : menetukan pilihan tindakan yang dilakukan pada bayi.
2. Rawat luka bayi
Rasional : mencegah terjadinya komplikasi lenjut pada bayi.
3. Atur posisi bayi (terlentang)
Rasional : dengan posisi terlentang menghindarkan tekanan pada daerah infeksi.
3) Diagnosa III
Pola nafas tidak efektif b/d perkembangan jaringan paru kurang baik d/d cairan surfaktan
kurang, otot-otot pernafasan lemah.
Tujuan : pola nafas teratur
Rencana :
1. Observasi dan laporkan bila ada perubahan frekuensi pernafasan, retraksi pada dada, cuping
hidung, ekspansi dada menurun atau tidak.
Rasional : melihat sejauh mana kesulitan bayi bernafas serta memudahkan dalam menentukan
2.

tindakan.
Pertahankan

jalan

nafas

dalam

keadaan

bersih.

(lakukan

secsion).

Rasional : dengan seksion jalan nafas bayi menjadi bersih dan bayi dapat bernafas dengan
baik.
4) Diagnosa IV
Potensial perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d berat badan menurun d/d kurang
mampu menghisap, volume lambung kecil, menurunnya motilitas gaster
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Rencana :
1. Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya.
Rasional : air susu ibu sangat baik untuk pertumbuhan bayi dan merupakan kebutuhan paling
utama untuk bayi.

2.

Berikan

informasi

tentang

pentingnya

asi

untuk

bayi.

Rasional : membantu memahami tujuan dari apa yang dilakukan dan mengurangi masalah
karena ketidaktahuan klien tentang pentingnya/ manfaat asi untuk bayi.
2.3 BAYI PREMATUR
2.3.1 Definisi
Bayi prematur adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan kurang atau sama dengan
37minggu, tanpa memperhatikan berat badan lahir. (Donna L Wong 2004)
Bayi premature adalah bayi yang lahir sebelum minggu ke 37, dihitung dari mulai hari
pertama menstruasi terakhir, dianggap sebagai periode kehamilan memendek. (Nelson.1998
dan Sacharin, 1996)
Bayi premature adalah bayi yang lahir belum cukup bulan. Berasarkan kesepakatan
WHO, belum cukup bulan ini dibagi lagi menjadi 3, yaitu :
1. Kurang bulan adalah bayi yang lahir pada usia kurang dari 37 minggu.
2. Sangat kurang bulan adalah bayi yang lahir pada usia kurang dari 34 minggu.
3. Amat sangat kurang bulan adalah bayi yang lahir pada usia kurang dari 28 minggu. (Martono,
Hari. 2007)
Prematur adalah kelahiran bayi pada saat masa kehamilan kurang dari 259 hari dihitung
dari terakhir haid / menstruasi ibu. (Hasuki, Irfan. 2007)
Prematuritas murni adalah masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya
sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi itu. (Hassan, Rusepno. 2005)
2.3.2

Etiologi
a.

Faktor Maternal
Toksenia, hipertensi, malnutrisi / penyakit kronik, misalnya diabetes mellitus kelahiran

premature ini berkaitan dengan adanya kondisi dimana uterus tidak mampu untuk menahan
fetus, misalnya pada pemisahan premature, pelepasan plasenta dan infark dari plasenta
b.

Faktor Fetal
Kelainan Kromosomal (misalnya trisomi antosomal), fetus multi ganda, cidera radiasi

(Sacharin. 1996)
Faktor yang berhubungan dengan kelahiran premature :

a.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kehamilan

Malformasi Uterus
Kehamilan ganda
TI. Servik Inkompeten
KPD
Pre eklamsia
Riwayat kelahiran premature
Kelainan Rh
b.

Penyakit

1. Diabetes Maternal
2. Hipertensi Kronik
3. Penyakit akut lain
c.
1.
2.
3.
4.

Sosial Ekonomi

Tidak melakukan perawatan prenatal


Status sosial ekonomi rendah
Mal nutrisi
Kehamilan remaja
Faktor Resiko Persalinan Prematur :
a.

1.
2.
3.
4.
5.

Ras
Usia (<> 40 tahun)
Status sosio ekonomi rendah
Belum menikah
Tingkat pendidikan rendah
b.

1.
2.
3.
4.
5.

Resiko Demografik

Resiko Medis

Persalinan dan kelahiran premature sebelumnya


Abortus trimester kedua (lebih dari 2x abortus spontan atau elektif)
Anomali uterus
Penyakit-penyakit medis (diabetes, hipertensi)
Resiko kehamilan saat ini :
Kehamilan multi janin, Hidramnion, kenaikan BB kecil, masalah-masalah plasenta (misal :
plasenta previa, solusio plasenta), pembedahan abdomen, infeksi (misal : pielonefritis, UTI),
inkompetensia serviks, KPD, anomaly janin
c.

1.
2.
3.
4.

Resiko Perilaku dan Lingkungan

Nutrisi buruk
Merokok (lebih dari 10 rokok sehari)
Penyalahgunaan alkohol dan zat lainnya (mis. kokain)
Jarang / tidak mendapat perawatan prenatal

d.

Faktor Resiko Potensial

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
2.3.3

Stres
Iritabilitas uterus
Perestiwa yang mencetuskan kontraksi uterus
Perubahan serviks sebelum awitan persalinan
Ekspansi volume plasma yang tidak adekuat
Defisiensi progesterone
Infeksi
Manifestasi Klinis

2.3.4

Klasifikasi Bayi Prematur


a.

Bayi prematur digaris batas

1. 37 mg, masa gestasi


2. 2500 gr, 3250 gr
3. 16 % seluruh kelahiran hidup
4. Biasanya normal
5. Masalah :
a) Ketidak stabilan
b) Kesulitan menyusu
c) Ikterik
d) RDS mungkin muncul
6. Penampilan :
a)
b)
c)
d)

Lipatan pada kaki sedikit


Payudara lebih kecil
Lanugo banyak
Genitalia kurang berkembang
b.

Bayi Prematur Sedang

1. 31 mg 36 gestasi
2. 1500 gr 2500 gram
3. 6 % - 7 % seluruh kelahiran hidup
4. Masalah :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)

Ketidak stabilan
Pengaturan glukosa
RDS
Ikterik
Anemia
Infeksi
Kesulitan menyusu
Penampilan :
1. Seperti pada bayi premature di garis batas tetapi lebih parah
2. Kulit lebih tipis, lebih banyak pembuluh darah yang tampak

c.
1.
2.
3.
4.
5.
a)
b)
c)
2.3.5

Bayi Sangat Prematur

24 mg 30 mg gestasi
500 gr 1400 gr
0,8 % seluruh kelahiran hidup
Masalah : semua
Penampilan :
Kecil tidak memiliki lemak
Kulit sangat tipis
Kedua mata mungkin berdempetan
KomplikasiPada Bayi Prematur
a.

Sindrom Gawat Napas (RDS)

Tanda Klinisnya : Mendengkur, nafas cuping hidung, retraksi, sianosis, peningkatan usaha
nafas, hiperkarbia, asiobsis respiratorik, hipotensi dan syok
b.

Displasin bronco pulmaner (BPD) dan Retinopati prematuritas (ROP). Akibat terapi
oksigen, seperti perporasi dan inflamasi nasal, trakea, dan faring. (Whaley & Wong, 1995)

2.3.6

c.

Duktus Arteriosus Paten (PDA)

d.

(Bobak. 2005)Necrotizing Enterocolitas (NEC)

Patofisiologi
Persalinan preterm dapat diperkirakan dengan mencari faktor resiko mayor atau minor.
Faktor resiko minor ialah penyakit yang disertai demam, perdarahan pervaginam pada
kehamilan lebih dari 12 minggu, riwayat pielonefritis, merokok lebih dari 10 batang perhari,
riwayat abortus pada trimester II, riwayat abortus pada trimester I lebih dari 2 kali Faktor
resiko mayor adalah kehamilan multiple, hidramnion, anomali uterus, serviks terbuka lebih
dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, serviks mendatar atau memendek kurang dari 1 cm
pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali, riwayat
persalinan preterm sebelumnya, operasi abdominal pada kehamilan preterm, riwayat operasi
konisasi, dan iritabilitas uterus.
Pasien tergolong resiko tinggi bila dijumpai 1 atau lebih faktor resiko mayor atau bila ada
2 atau lebioh resiko minor atau bila ditemukan keduanya. (Kapita selekta, 2000 : 274)

2.3.7 Pemeriksaan Diagnostik


1.
Jumlah darah lengkap : Hb/Ht
2.
Kalsium serum
3. Elektrolit (Na , K , U) : gol darah (ABO)
4. Gas Darah Arteri (GDA) : Po2, Pco2

2.3.8

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI PREMATUR


1.

a.

PENGKAJIAN DASAR DATA NEONATUS

SIRKULASI
Nadi apikal mungkin cepat dam atau tidak teratur dalam batas normal(120 -160dpm) murmur

jantung yang dapat didengar dapat menanadakan duktus arterious paten (PDA).
b. MAKANAN/CAIRAN
Berat badan < 2500 g (5 1b 8oz)
c.

NEOROSENSORI
Tubuh panjang, kurus , lemas dengan perut agak gendut. Ukuran kepala besar dalam
hubungarnya dengan tubuh, sutura mungkin mudah di gerakkan ,fontenetal mungkin atau
tidak terbuka lebar.dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata berputar . edema kelopak
mata umum terjadi, mata mungkin merapat( tergantung pada usia gestasi). Refleks tergantung
pada usia gestasi: roting terjadi dengan baik pada gestasi minggu 32; koordinasi refleks untuk
menghisap ,menelan ,bernapas, biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke-32; komponen
pertama dari refleks moro ( ekstasi lateral dari ektremitas atas dengan mebuka tangan )
tampak pada gestasi minggu ke 28; komponen kedua ( refleksi anterior dan menangis yang
dapat di dengar) tampak pada gestasi minggu ke 32.pemeriksaan dubowits menandakan usia
gestasi antra minggu 24 dan 37.

d. PERNAPASAN
Pernapasan mungkin dakal, tidak terutur; retraksi diafragmatik intermirten atau periodik (4060x/mnit)
Mengorok, pernafan cuping hidung, retraksi superasternal atau substernal, atau berb agai
drajat sianosis mu ngkin ada.
Adanya bunyi ampelas pada auskultasi , menandakan sindro distres pernafasan(RDS).
e.

KEAMANAN
Suhu berfluktuasi dengan mudah .
Menagis mungkin lemah.
Wajah mungkin memar; mungkin ada suksedaneum.
Kulit kemerahan atau tembus pandang; warna mungkin merah muda/ kebiruan, akrosianosis,
atau sianosis/pucat.
Lanugo terdistribusi secara luas di seluruh tubuh.
Ekstremitas mungkin tamapak edema.
Garis telapak kaki mungkin atau mungkin tidak ada pada semua atau sebagian tepak.

Kuku mungkin pendek.


f.

SEKSUALITAS
Persalinan atau kelahiran mungkin tergesa-gesa.
Genetalia;labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayor dengan klitoris
menonjol;
Testis pria mungkin tidak turun, rugea mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum.

2.
A.

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI


PERTUKARAN GAS, KERUSAKAN
Dapat berhubungan dengan :
ketidak seimbanagn perfusi ventilasi , ketidak adekutan
kadar surfaktan, imaturitas otot arteriol pulmunal , imaturitas sitem saraf pusat dan sistem
neoro muskular, ketidak efektifan bersihan jalan nafas, anemia dan stres dingin.
Kemungkinan di buktikan oleh: hiperkapnia, hipoksia, takipnia, sianosis.
HASIL YANG DIHARAPKAN
mempertahankan kadar po2/pco2 dalam batas normal.
Menderita RDS minimal, dengann penuruna kerja pernapasan dan tidak ada morbiditas.
Bebas dari displasia bronkopulmonal.
TIDAKAN/ INTERVENSI
Mandiri

1 Tinjau ulang informasi yang berhubungan dengan kondisi bayi, seperti lama persalinan, tipe
kelahiran, agar skor, kebutuhan tindakan resusitas saat kelahiran, dan obat-obatan ibu yang di
gunakan selama ke hamilan / kelahirann, termasuk betametason.
Rasional : Persalinan yang lama meningkatakn resiko hipoksia, dan depresi
pernapasan dapat terjadi setelah pemberian atau pengunaan obat oleh ibu. Selain itu, bayi
yang memerlukan tindakan resusitatif pada kelahiran , atau yang apgar skornya rendah,
mungkin memerlukan intervensi lebih untuk menstabilkan gas darah dan mungkin dan
mungkin menderita cedra SSP dengan kerusakan hipotalamus, yang mengontrol pernafasan.
( catatn : ppemnerian kortokosteroid pada ibu dalam minggu 1 kelhiran membantu
2.

mengembangkan maturitas bayi dan produksi surfaktan


Perhatian usia gestasi, berat badan, dan jenis kelamin.
Rasional: neonatus lahir sebelim gestasi mingu ke-30 dan / atau brat badan kurang dari 1500
g beresiko tinggi terhadap terjadinya RDS. Selain itu, pria 2 kali rentnnya dari pada wanita.
(catatan : mayoritas kematian berhubungan dengan RDS terjadi pada bayi dengan berat badan

3.

< 1500 g).


Kaji status pernafasan, perhatikan tanda-tanda disters pernafasan ( miss ; retraksi, pernafasan
cuping hidung , mengorok, retraksi, ronki, atau krekels).
Rasional: menandakan distres [pernafasan , khususnya bila pernafasan lebih besar sri
60x/mnit setelah 5 jam pertama kehidupan pernafasan mengorok menunjukan upaya untuk

mempertahankan ekspensi alveolar; pernafasan cuping hidung adalah mekanisme kompensasi


untuk menambah diameter hidung dan meningkatakan masukan oksigen. Krekels/ ronki dapat
menandakan

fasokontriksi

pulmunal

yang

berhubungan

dengan TDA,

hipoksmia

asedemia,atau imaturotas otot areterior, yang gagal untuk kontriksi sebagai respons terhadap
4.

peningkatan lkdar oksigen.


Gunakan pemantauan oksigen transkuta atau oksimeter nadi . catat kadar tiap jam, ubah sisi
alat setiap 3-4 jam .
Rasional: memberika pemantaaun noninfasiv konstan terhadap kdar oksigen, (cataan:

insufisiensi polmunal biasanya memburuk 24-48 jam petama, kemudian mencapai pelatian).
5.
Hisap hidung dan orofaring dengan hati-hati, sesuai kebutuhan btasi waktu obstruksi jalan
nafas dengan kateter 5-10 detik. Observasi pemantauan oksigen trankutan oksimeter nadi
sebelum dan selam penghisapan berikan kantung ventilasi setelah penghisapan.
Rasional: mungkin perlu untuk mempertahankan kepatenan jalan nafas, khususnya pada bayi
yang menerima penytilasi bayi pertem tidak mngembangkan reflek terkoordinasi untuk
menghisap menelan, dan bernafas sampai gestasi [ada minggu ke-32 sampai ke-34. Silia tidak
berkembang dengan penuh atau mungkin rusak dari penggunaan selam indoktrial fase
eksudat berhubngan dengang RDS pada kira-48 jam pascapartum dapat meperberat kesutan
bayi dalam mengatsi vagus, menyebabka bradikardi, hiposemia, bronkospasme. Kantung
6.

ventilasi meningkatkan perbaikan kadar oksigenn yang cepat .


Pertahankan keneetrlan suhu denngan suhu tubuh pada 97,7F (dalam 0,5F).Rujuk pada DK:
termoregolasi, tidak efektifresiko tinggi terada).
Rasional : Stres dingin menigkatkan konsumsi oksigen bayi , dapat meningkatkan asidosis,

7.

dan selanjutnya kerusakan produksi surfaktan.


Pantau masukan haluaran cairan: timbang berat badan sesuai indikasi berdasarkan protokol.
Rasional : dehidrasi merusak kemampuan untuk membersihkan jalan nafas saat mukus
menjadi kental. Hidrasi berlebihan dapat memperberat infiltrat alveolar/ edema pulmonal.
Penurunan berat badan dan peningkatan haluran irin daoat menandakan fase diuretik dari

RDS, biasanya mulai pada 72-96 jam dan mendahului resolusi kondisi.
8.
Tingkatan istirahat;minimalkan rangsangan dan pengunaan energi.Posisikan bayi pada
abdomen bila mungkin berikan matrastidak rata sesuai indikasi
Rasional: menurunkan laju metabolik dan konsumsi oksigenn. Memungkinkan ekspansi dada
optimal merangsang pernafasan dan pertumbuhan ventrikel.
9. Observasi terhadap tanda-tanda vital dan lokasi sianosis. Ung
Rasional: sianosiss adalah tanda lanjut dari poa2 rendah dan tamapak sampai ada sedikit lbih
dafri 3 g /dl penurunan Hb pada darah erteri sentrl. Atau 4-6 g/dl pada darah kapiler, atau
sampai satursai oksigen haqnya 75-85 % dengan kadar po2 42 -41 mmhg.

10. Selidiki penyimpangan tiba-tba dari kondisi yang di hubungkan dengan sianosis, penurunan
atau tidak adanya bunyi napas, pergeseran btitik tampak maksimal, penonjolan dndinng dada,
hipotensi,atau disritmia jantung.
Rasional :penyimpangan pernapasan yang tiba- tiba atau tidak diperkirakan dapat menandakn
awitan pneomothoraks.
11. Pantau terhadap tanda-tanda nekrosis ektrokolitis (rujuk pada DK:konstipasi , resiko tiggi
terhdap diaare, resiko tinggi teradap).
Rasional ;: hipoksia dapat menyembuhkan pirau darah ke otak sehinga men urunkan sirkulasi
keusus, dengan akibat lanjut dengan kerusakan sel usus damn infasi oleh bakteri membentuk
gas.
Kolaborasi
12. Pantau pemeriksaan laboratorium, dengan teta; grafik seri GDA.
Rasional : hopoksemia. Hiperkapnia , dan asisdosis menurunkan produksi surfaktan kadar
pao2 harus 50-70 mmhg atau lebih tinngi, kadar paco2 haru 35-45mmhg, dan saturasi
oksigen harus 92%-94%.
13. Hb/Ht.
Rasional : penurunan simpanan besi pada kelahiran, pengulangan pengambilan sampel darah,
pertumbuhan cepat, dan episode henoragis meningkatakn kemungkinan bahwa bayi patrem
akan anemik, sehingga menurunakan kapasitas pembawa oksigen darah.( catatan: pemberian
sel mungkin perli untuk menggantikan darah yang di ambil untuk pemeriksaan laboratorium).
14. Tinjau ulang seri sinar x dada.
Rasional : atelektasis,kongesti, bronkogram udara menujukkan terjadinya RDS.
15. Berikan oksigen sesiuai kebutuhan, dengnanmasker kap, selang endotrakeal atau fentilasi
mekanik dengan menggunakan tekanan jakan napas positif konstan dan fentilasi mandotari
intermiten(IMV), atau pernapasan tekann positif intermiten dan tekanan ekspirasi akhir
positif.
Rasional:

hipoksemia

asdemia

dapat

berlanjut

menurunkan

produksi

surfaktan,

meningkatkan tahanan vaskuler pulmonal dan vasokontriksi, dan menyebabkan duktus


arterious tetap terbuka . imaturitas hipotalamus dapat memerlukan bantuan ventilasi untuk
mempertahankan pernapasn. Pengunaan PEEP dapat menurunkan kolaps jalan napas,
meningkatkan pertukran gas dan menurunkan kebutuhan oksigen tingkat tinggi.
16. Pantau pemberian oksigen dan durasi pemberian.
Rasional :kadar oksigen serum tinggi yang lama diakibatkan dari IPPB dan
PEEP(barotrauma) dapat memredisposisikan bayi pada displasia bronkopulmunal.
17. Catat fraksi oksigen dalam udra inspirasi (FIO2) setiap jam.
Rasional: jumlah oksigen yang di berikan, diexspresikan sebagai FIO2 ditentukan secra
individu, berdasarkan pada pemantauan transkutan atau sampel darah kapiler.(catatan: kadar

ooksigen tinggi lama {toksisitas oksigen }. Dapat mendisposisikan bayi pada kertusakan
retinal trolental fibropasial).
18. Mulai drainase postural. Fisioterapi dada, atau vibrasi lobus setiap 2jam, sesuai indikasi,
perhatikan toleransi bayi terhadap proedur.
Rasional: memudahkan penghilngan sekresi. Lama waktu yang digunakan untuk setiap lobus
dihubu8ngkan dengan toleransi bayi. ( bayi biasanya tidak bisa mentoleransi regimen
tindakan yang penuh setiap waktu).
19. Aspirasi isi lambung untuk tes shake.
Rasional: memberikan informasi yang segera akn ada atau tidak adanya surfaktan.
Surfaktan,, yang perli untuk meningkatakan ekspansi normal dan elastisitas alveolibiasanya
tidak ada dalam kuantitas yang cukup sampai gestasi minggu ke-32 samapi ke-33.
20. Beri makan dengan selang nasogastrik atau orogastrik sebagai pengganti penberian makan
dengan AS, bila tepat.
Rasional: menu runkan kebutuhan oksigen, meningkatkan istirahat, menghemat energi, dan
menurunkan resiko aspirasi karena perkembangan refleks gag buruk.
21. Berikan obat-obatan sesui indikasi:
a.
Natrrium bikarbonat.
Rasional: bila tindakan meningkatkan frekuensi pernapasan atau memperbaiki ventilasi tidak
cukup untuk memperbaiki asidosis. Penggunaan natrium bikarbonat yang hati-hati dapat
mengembalikan ph ke dalam rentang normal.
b. Surfaktan(artifisial atau eksogen).
Rasional : Mungkin di berikan pada kelahiran atau setelah diagnosis RDS untuk menurunkan
beratnya kondisi dan komplikasi yang berhubungan efek dapat berakjir sampai 72 jam.
22. Bantu dengan aspirasi jarum toresentesis, atau pemasangan selang dada.
Rasional: mengembankan kembali paru melalui mengeluarkan udara atau cairan yang
terjebak. Membuat kembal tekanan negatif dn meninkatkan pertukaran gas.
B. POLA PENAPASAN, TIDAK EFEKTIF
Dapat berhubungan dengan :

imatiritas pusat pernafasan, keterbatasan perkembangan

otot, penurunan energi. Depresi berhubungan dengan obat dan ketidak seimbangan
metabolik.
Kemungkinan di buktikan oleh :

dispnea, takipneaa, periode aonea, pernafasan cuping

hidung , penggunaan bantuan otot, sianosis , GDA abnormal, takikardia.


HASIL YANG DI HARAPKAN NEONATAL AKAN:

Mempertahankan pola

pernafasan periodik ( periode apenik berakhir 5-10 dtk diikuti dengan periode pendek
ventilasi cepat). Dengan membran mukosa merah muda dan frekuensi jantung DBN.
TINDAKAN/ INTERVENSI
Mandiri

1.

Kaji frekuensi pernafasan dan pola pernafasan. Perhatikan adanya apnea dan perubahan
frekuensi jantung , tonus jantung, tonus otot, dan warna kulit berkenaan dengan prosedur atau
perawatan. Lakukan pemantauan jantung dan pernafasan yang kontinu.
Rasional : membantu dalam memberikan periode perpytaran pernfasan normal dari serangan

apneik sejati, yang terutama sering terjadi seblum gestasi mingu ke-30.
2. Hisap jalan nafas sesuai kebutuhan.
Rasional : Menghilangkan mucus yang menyumbat jalan napas.
3.
Tinjau ulang riwayat ibu terhadap obat-obatan yang dapat memperberat depresi pernapasan
pada bayi.
Rasional : madnesium sulfat dan narkotik menekan pusat pernafasan aktifitas SSP. Ikan
4.
Posisikan bayi pada abdomen atau posisi telentang dengan gulungan pokok di bawah bahu
untuk menghasilkan sedikit hiperektensi .
Rasional: posisi ini dapat memoermudah pernafasan dan menurunkan episode apneik,
5.

khususnya pada adanya hipoksia, asidosis metabolik, atau hiperkapnia.


Pertahankan suhu tubuh optimal.(rujuk pada DK: termoregulasi , tidak efektif, resiko tinggi
terhadap).
Rasional: bahkan adanya sedikit peningkatan atau penurunn suhu lingkungan dapat

6.

menimbulkan apnea.
Berikan rangsangan taktil yang segera.( mis, gosokan punggung bayi) bila terjadi apnea.
Pergatikan adanya sianosis, bradikardi, atau hipotonia. Anjurakan kontak orang tua.
Rasional: merangsang SSP untuk meningkatkan gerakan tubuh dan kembalinya pernafasan
spontan. Kadang-kadang, bayi mengalami kejadian apnea lebih sedikit atau tidak ada , atau

bradikardia bila orangtua menyentuh dan bicara pada mereka.


7. Tempatkan bayi pada matras bergelombang.
Rasional: gerakan memberikann rangsangan, yang dapat menurunkan kejadian apnneik.
Kaloborasi
8.

Pantau pemeriksaan laboratorium (Mis,. GDA, glikosa serum, elekrolit, kultur,mdan kadar
obat) sesuai indikasi.
Rasional: hipoksia, asidosis metabolik, hiperkapnia, hipoglekimia, hipokalsemia,dan sepsis
dapat memperberat serangan apneik. Toksisitas obat, yang menekan fungsi pernafasan dapat
terjadi karena pernafasan dapat terjadi karena keterbatasan ekskresi dan waktu paruh obat

yang lama.
Berikan oksigen sesuai indikasi.(rujukan pada DK: pertukaran gas, kerusakan).
Rasional: perbaikan kadar oksigen dan karbondioksida dapat meningkatka n pernfasan.
10. Berikan obat-obatan, sesuai indikasi:
9.

Natrium bikarbonat.
Rasional : memperbaiki asidosis.
Antibiotik.
Rasional; mengatasi infeksi pernapasan atau sepsis.

Kalsium glikonat.
Rasional: hipokalsemia mempredisposisikan bayi pada apnea.
Aminoflin.
Rasional: dapat meningkat aktifitas pusat pernafasan dan menurunkan sensitifitas terhadap
karbondiosida, menurunkan frekuensi apnea.
Pankuronium bromida (pavulon).
Rasional: mengakibatkan relaksasi otot rangka yang mungkin perlu bila bayi scra mekanis
terventilasi.
Larutan glukosa.
Rasional: mencegah hipoglikemia. (Rujuk pada DK: nutrisi, perubahan, kurang dari
kebutuhan tubuh, resikotinggi terhadap).
C.

TERMOLEGULASI, TIDAK EFEKTIF, RESIKO TINGGI TERHADAP.


Faktor resiko dapat meliputi: perkembangan SSP imatur( pusat regulasi suhu). Penurunan
rasio masa tubuh terhadap area permukaan, penurunan lemak subkutan . keterbtasan
simpanan lemak coklat , ketidak mampuan merasakan dingin atau berkeringat. Cadangan
metabolik buruk, respons mati terhadap hipotermia. Danmanipulasi dan intervensi medis/
keperawatan yang sering.
Kemungkinan di buktikan oleh: {tidak dapat di terapkan: adanyha tanda/gejala untuk
mendiagnosa aktual}
HASIL YANG DI HARAPKAN NEONATAL AKAN: Mempertahankan suhu kilt /aksila
dalam 95,9-99,1 F(35,5-37,3F) bebas dari tanda-tanda stres dimgin.
TINDAKAN/INTERVENSI
Mandiri

1.

Kaji suhu dengan sering. Periksa suhu rektal pada awalnya; selanjutnya, periksa suhu
aksila atau gunakan alat termostat dengan dasar terbuka dan penyebar hangat. Ulangi setiap
15 mnt selama penghangatan ulang,
Rasional: hipotermia mebuat bayi cendrung pada stres dingin, penggunaan simpanan lemak
coklat yang tidak dapat diperbarui bila ada, dan menurunkan sensitifitas untuk meningkatkan
kadar karbon dioksida ( hiperkapnia) atau penurunan kadat oksigen( hipoksia). (catatan:
penghangatan ulang terlalu cepat berkenaan dengan kondisi apneik, ini dapat menyebabkan
depessi pernafasan lanjut sebagai pengganti pernapasan. Mengakibatkan apnea dan

2.

penurunan ambilan oksigen.)


Tempatkan bayi pada penghangat ,tempat tidur terbuka dengan penyebar hangat , tau
tempat tidur bayi terbuka dengan pakaian tpat untuk bayi yang lebih besar tau lebih

tua.gunakan bantal pemanas di bawah bayi bila perlu, dalam hubunganya dengan tempat
tiidur isolet atau tebuka .
Rasional ; mempertahankan lngkungan termonal membantu mencegah stres dingin.
3.
Gunakan lampu pemanas selam prosedur. Tutup penyebar hangat atau bayi dengan penutup
plastik atau kertas alumunium bil tepat. Objek pans dengan tubuh bayi, seperti stetosko,
linen, dan pakaian.
Rasional; menurunkan kehilangan panas pada lingkungan yanng lebih dingin dari ruangan.
4.
Kurangi pemajanan pada aliran udara: hindari pembukaan pagar isolette yang tidak
semestinya.
Rasional : menurunkan kehilangan panas karena konveksi/konduksi. Membatasi kehilangan
panas melalui radiasi.
5. Ganti pakaian atau linen tempat bila basah. Pertahankan kepala bayi tetap tertutup.
Rasional: menurunkan kehilangan melalui evaporasi.
6. Pantau system pengatur suhu, penyebar hangat, atau incubator. (pertahankan batas atas pada
bayi 98,6oF, tergantung pada ukuran atau usia bayi).
Rasional : hipertemie akibat pening katan pada laju metabolisme, kebutuhan oksigen dan
glukosa dan kehilangan air tidak kasat mata dapat terjadi bila suhu lingkungan yang dapat
dikontrol, terlalu tinggi.
Pertahankan kelembapan relatif 50-80%. Oksigen lembap hangat 88-93 F(31-34C)
Rasional; mencegah evaporasi berlebihan , menurunkan kehilngan cairan tidak kasat mata..
8.
Perhatikan adanya takipnea atau apnea: sianosis umum, akrosianosis , atau kulit belang:
7.

bradikardia , menangis buruk, atu latergi . evaluasi derajat dan lokasi ikterik. (rujukan
padaMK:Bayi baru lahir:hiperbiliribinemia.
Rasional: tanda-tanda ini menandakan stres dingin, yang meninkatkan konsumsi oksigen dan
kalori serta mebuat bayi cendrung pada asidosis berkenaan dengan metabolisme anerobik.
Hipoytmia meningkatkan reiko kernikterus, saat asam lemak dilepasakan pada metabolisme
lemak coklat bersaing dengan bilirubin untuk bagian pada albumin. (catan : warna kulit
mungkin merah terang pada perifer, dengan sianosis terlihat pada bagian tengah sebagai
9.

akibat darike gagalan disoiasi oksihemoglobin .


Berikan penghangatan bertahap untuk bayi yang stres dingin.
Rasional: Peningkatan suhu tubuh yang cepat dapat menyebabkan konsumsi oksigen

berlebihan dan apnea.


10. Kaji haluaran dan berat jenis urin.
Rasional: peningkatan haluaran dan peningkatan berat jenis urin di hubungkan dengan
penurunan perfusi ginjal selama periode stres dingin.
11. Pantau penambahan berat badan berturut-turut. Bila penambahan berat badan tidak adekuat,
tingkatkan suhu lingkingan sesuai indikasi.
Rasional: ketidak adekuatan penambahan berat badan mesipunmasukan kalori tidak adekuat
dapat menandakan bahwa kalori di gunakan untuk mempertahankan suhu tubuh ,
memerlukan penngkatan suhu lingkungan.

12. Perhatikan frekuensi dan jumlah masukan. Pantau dextrosix. Kaji bayi terhadp muntah,
distensi abdomen, atau apatis.
Rasional: pemberian makan buruk ketidak stabilan biasa terjadi pada bayi dengan ketidak
stabilan suhu kadar dextrosik kurang dari 45 mg/dl menadakan hipoglekimia yang
memrluksn intervensi segera.
13. Kaji kemjuan kemampuan bayi untuk berdaptasi tergadap suhu rendah di dalam inkubator,
atau pada suhu ruangann, saat mendemonstrasikan penambahan berat badan yang tepat
Rasional: .alat buain dapat di gunakan bila bayi dapat memperthankan suhu tubuh stabil 97,7
F dalam udra ruangan dan dapat meningkatkan berat badan.
14. Pantau suhu bayi bila keluar dari lingkungan hangtat. Berikan informasi termoregulasi
kepada orangtua.
Rasional: kontak di luar tempat tidur , khusunya dengan orangtua , mungkin singkat sak bila
bilqa dimungkinkan untuk mencegah strexs dingi n. ( catatan: hipertermia dapat terjdi bla
bayi di gendong oleh orang tua.)
15. Perhatikan perkembangan takikardia, warna kemerahan , diaforesis, letarge,apnea, koma atau
aktifitas kejang .
Rassional:tanda-tanda hipertermia (suhu tubuh lebih besar dari 99 F( 37,2 C). Da oat
berkanjut pada kerusakan otak bil tidak teratasi.
16. Evaluiasi sumber eksternal ( miss., foto terapi, lampu pemanas , atau sinar matahari). Batasi
pakaian dan mandi di seka dengan spon menggunakabn air hangat. Pastikan posisi yang tepat
dari alat pengukur suhu bila digunakan.
Rasional: tindakan ini secra umum berhasil dalam memperbaiki hipertmia. ( ctatan: bila
hipertermia menetap menetukan posisi yang tepat dan memfungsikan alat pengukur suhu,
kemungkinan status hipermetabolik seperti sepsis atau gejal a putus satnarkotik harus
dipertimbangkan).
Kolaborasi
17. Pantau pemeriksaan laboratorium,sesuai indikasi( mis., GDA, Glukosa, serum, elektrolit, dan
kadar bilirubin). (rujuk pada DK: petukaran gas .)
Rasional: stres dingin meningkatkan kebutuhann terhadap glukosa dan oksigen serta dapat
menyebabkan masalah asam basa bila bayi mengalami metabolisme anerobik bila kadar
oksigen yang cukup tidak tersedia peningkatan kadar bilirubin inderek dapat terjadi karena
pelepasan asam lemak dari metabolisme lemak coklat, dengan asam lemak bersaig dengan
bilirubin pada bagian ikatan di alabumin. Asidosis metabolok dapat juga terjadi pada
hipertermia.
18. Berikan D10 W dan ekspander volume secara intravena, bila diperlukan.

Rasional: pemberian dekstrosa mungkin perlu untuk meperbaiki hipoglikemia. Hipotensi


karena vasodilatasi perifer mungkin memerlukan tindakan pada bayi yang mengalami stress
panas. Hipertermia dapat menyebabkan peningkatan dehidrasi tiga sampai empat kali lipat.
19. Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi
Rasional : Bila oksigen tidak siap tersedia untuk memenuhi peningkatan kebutuhan
metabolik berkenaan dengan upaya untuk meningkatkan suhu tubuh, bayi akan menggunakan
metabolisme anaerobik, mengakibatkan asidosis karena pembentukan asam laktat.
Hipotermia menurunkan respons bayi praterm terhadap hipoksia dan hiperkapnia, yang
menyebabkan depresi pernapasan lanjut sebagai ganti dari peningkatan frekuensi pernapasan,
mengakibatkan apnea dan penurunan ambilan oksigen. Hipertermia karena penghangatan
terlalu cepat dihubungkan dengan keadaan apnea, peningkatan kehilangan air yang tidak
kasatmata dan peningkatan frekuensi metabolik dengan peningkatan kebutuhan terhadap
oksigen dan glukosa.
20. Berikan obat-obatan, sesuai indikasi :
a.
Fenobarbital.
Rasional : Membantu mencegah kejang berkenaan dengan perubahan fungsi SSP yang
disebabkan oleh hipertermia.
b. Natrium bikarbonat
Rasional: Memperbaiki asidosis, yang dapat terjadi pada hipotermia dan hipertermia.
D. KEKURANGAN VOLUME CAIRAN, RISIKO TINGGI TERHADAP
Faktor resiko dapat meliputi : Usia dan berat badan ekstrem (prematur, dibawah 2500 g),
kehilangan cairan berlebihan (kulit tipis, kurang lapisan lemak, peningkatan suhu
lingkungan, ginjal imatur / kegagalan untuk mengkonsentrasikan urin).
Kemungkinan dibuktikan oleh : [Tidak dapat diterapkan, adanya tanda/gejala untuk
menegakkan diagnosa aktual].
HASIL YANG DIHARAPKAN NEONATAL AKAN : Bebas dari tanda-tanda dehidrasi atau
glikosuria dengan masukan cairan sama dengan haluaran dan pH, Ht, dan berat jenis urin
DBN. Menunjukkan penambahan berat badan 20-30g/hari.
TINDAKAN / INTERVENSI
Mandiri
1.

Dapatkan seri berat badan setiap hari dengan menggunakan skala yang sama dan pada
waktu yang sama.
Rasional; Berat badan adalah indikator paling sensitif dari keseimbangan cairan. Penurunan
berat badan tidak boleh melebihi 15% dari berat badan total atau 1%-2% dari berat badan
total perhari. Ketidakadekuatan penambahan berat badan dapat dihubungkan dengan
ketidakseimbangan air atau ketidakadekuatan masukan kalori.

2.

Bandingkan masukan dan haluaran cairan setiap shift dan keseimbangan kumulatif setiap
periode 24 jam. Pertahankan catatan setiap jam dari penginfusan cairan intravena. Kaji
haluaran melalui pengukuran urin dari kantung penampung atau melalui penimbangan /
penghitungan popok. Pertahankan catatan akurat mengenai jumlah darah yang diambil untuk
tes laboratorium.
Rasional: Haluran harus 1-3 ml/kg/jam, sementara kebutuhan terapi cairan kira-kira 80-100
ml/kg/hari pada hari pertama kehidupan, meningkat sampai 120-140 ml/kg/hari pada hari ke-

3.

3 pasca kelahiran. Pengambilan darah untuk tes menyebabkan penurunan kadar Hb/Ht.
Pantau berat jenis urin setiap selesai berkemih, atau setiap 2-4 jam, dengan megaspirasi urin
dari popok bila bayi tidak tahan dengan kantung penampung urin atau yang kantung
penampung yang direkatkan.
Rasional; Meskipun imaturitas ginjal dan ketidakmampuan untuk mengkonsentrasikan urin
biasanya mengakibatkan berat jenis yang rendah pada bayi praterm (rentang normal 1,006
1,013), berat jenis urin bervariasi, memberikan tanda tingkat dehidrasi individu. Kadar yang
rendah menandakan volume cairan berlebihan; kadar lebih besar dar 1,013 menandakan

4.

ketidakcukupan masukan cairan dan dehidrasi.


Tes urin dengan Dextrotix per protokol.
Rasional: Bahkan pada kasus hipoglikemia, glikosuria terjadi saat ginjal yang imatur mulai
mengekskresikan glukosa, yang dapat menimbulkan diuresis osmotik, meningkatkan resiko

5.

dehidrasi.
Minimalkan kehilangan cairan yang tidak kasatmata melalui penggunaan pakaian, suhu
termonetral, dan menghangatkan atau melembabkan oksigen.
Rasional: Bayi praterm kehilangan air dalam jumlah besar melalui kulit, karena pembuluh
darah dekat dengan permukaan dan kadar lapisan lemak berkurang atau tidak ada. Fototerapi
atau penggunaan penyebar hangat dapat meningkatkan kehilangan tidak kasatmata sampai
50% atau sebanyak 200 ml/kg/hari. (catatan : BB bayi < 1500g (3 lb 5 oz) paling rentan

6.

terhadap kehilangan cairan tidak kasatmata).


Pantau tekanan darah (TD), nadi, dan tekanan arterial rerata (TAR)
Rasional: Kehilangan 25% volume darah mengakibatkan syok dengan TAR <25 mmHg
menandakan hipotensi (Catatan: TD dihubungkan dengan BB; mis, bayi lebih kecil, TAR

7.

lebih rendah).
Evaluasi turgor kulit, membran mukosa, keadaan fontanel anterior.
Rasional: Cadangan cairan dibatasi pada bayi praterm. Kehilangan/perpindahan cairan yang
minimal dapat dengan cepat menimbulkan dehidrasi, terlihat oleh turgor kulit yang buruk,

membran mukosa kering, dan fontanel cekung.


8.
Perhatikan letargi, menangis dengan nada tinggi, distensi abdomen, peningkatan apnea,
kedutan, hipotonia, atau aktivitas kejang.

Rasional: Tanda-tanda ini menunjukkan hipokalsemia, yang paling mungkin terjadi selama
10 hari pertama kehidupan.
9.
Kaji lokasi tempat masuknya cairan intravena setiap jam. Perhatikan edema atau kegagalan
masuknya cairan. Jangan memeriksa posisi jarum dengan menurunkan cairan dibawah tingkat
jarum.
Rasional: Pembengkakan dapat menandakan terjadi infiltrasi cairan atau plester terlalu ketat.
Aliran balik darah disebabkan oleh penurunan cairan mungkin menyumbat jarum.
10. Berikan kalium klorida, kalsium glukonat 10%, dan magnesium sulfat 50%, sesuai indikasi.
Pantau bradikardia yang potensial terjadi pada bayi melalui pemantau jantung; observasi
lokasi tempat masuknya infus terhadap adanya tanda-tanda iritasi atau edema.
Rasional: Perbaikan ketidakseimbangan elektrolit perlu untuk mempertahankan atau
mencapai homeostasis. Pemberian kalsium melalui kateter vena umbilikal dapat
menyebabkan nekrosis hepar, bila diberikan melalui arteri umbilikal, ini dapat memperberat
entrokolitits nekrotisan. Pengenalan dini dan intervensi segera dapat membatasi efek-efek
tidak baik dari infiltrasi obat; sperti kerapuhan, kalsifikasi, dan nekrosis. (Catatan:
Penggantian kalsium tidak efektif pada adanya defisit magnesium).
11. Berikan transfusi darah.
Rasional: Mungkin perlu untuk mempertahankan kadar Ht/Hb optimal dan menggantikan
kehilangan darah.
12. Berikan dopamin hidroklorida, sesuai indikasi.
Rasional: Dapat digunakan untuk mengatasi penurunan tekanan darah, khususnya bila
berhubungan dengan pemberian Pavulon.
Kolaborasi
1.
a.

Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi :


Ht
Rasional: Dehidrasi meningkatkan kadar Ht di atas nilai normal 45% - 53%.
b. Kalsium serum dan magnesium serum.
Rasional: Bayi praterm rentan pada hipokalsemia (kadar kalsium < 7 mg/dl) karena simpanan
rendah, depresi rangsang paratiroid, dan stress karena hipoksia, sepsis, atau hipoglikemia.
c.

Hipomagnesemia sering disertai hipokalsemia.


Kalsium serum.
Rasional: Hipokalsemia dapat terjadi karena kehilangan melalui selang nasogastrik, diare, ata
muntah. Kadar kalium berlebihan (hiperkalemia) dapat diakibatkan dari kesalahan
penggantian, perpindahan kalium dari ruangan intraselular ke ekstraselular, asidosis, atau

gagal ginjal.
2.
Berikan infus parenteral : dalam jumlah > 180 ml/kg, khususnya pada PDA, displasia
bronkopulmonal (BPD), atau enterokolitis nekrotisan (NEC).
Rasional: Penggantian cairan menambah volume darah, membantu mengembalikan
vasokonstriksi berkenaan dengan hipoksia, asidosis, dan pirau kanan kekiri melalui PDA, dan

telah membantu dalam penurunan komplikasi enterokolitis nekrotisan dan displasia


bronkopulmonal.
E. CEDERA, RISIKO TINGGI TERHADAP, KERUSAKAN SSP
Faktor resiko dapat meliputi : Hipoksia jaringan, perubahan faktor pembekuan,
ketidakseimbangan metabolik (hipoglikemia, perpindahan elektrolit, peningkatan bilirubin).
Kemungkinan dibuktikan oleh : [Tidak dapat diterapkan, adanya tanda/gejala untuk
menegakkan diagnosa aktual].
HASIL YANG DIHARAPKAN NEONATAL AKAN : Bebas dari kejang dan tanda-tanda
kerusakan SSP. Mempertahankan homeostasis dibuktikan oleh GDA, glukosa serum, kadar
elektrolit dan bilirubin DBN.
TINDAKAN / INTERVENSI
Mandiri
1.

Kaji upaya pernapasan. Perhatikan adanya pucat atau sianosis.


Rasional: Distress pernapasan dan hipoksia mempengaruhi fungsi serebral dan dapat
merusak atau melemahkan dinding pembuluh darah serebral, meningkatkan resiko ruptur.
Bila tidak teratasi, hipoksia dapat mengakibatkan kerusakan permanen. (Rujuk DK:

pertukaran gas, kerusakan).


2.
Pantau kadar Dextrostix, dan observasi adanya perilaku yang menandakan hipokalsemia
atau hipokalsemia pada bayi (mis, kacau mental, kedutan, kejang mioklonik, atau mata
terbalik). (Rujuk DK : Nutrisi, perubahan, kurang dari kebutuhan tubuh, resiko tinggi
terhadap).
Rasional: Karena kebutuhannya terhadap glukosa, otak dapat menderita kerusakan yang
tidak dapat pulih bila kadar glukosa serum lebih rendah dari 30-40 mg/dl. Hipokalsemia
(kadar kalsium serum < 7 mg/dl) sering menyertai hipokalsemia dan dapat mengakibatkan
apnea dan kejang.
3.
Observasi bayi terhadap perubahan fungsi SSP dimanifestasikan oleh perubahan perilaku,
letargi, hipotonia, penonjolan atau ketegangan fontanel, mata terbalik, atau aktifitas kejang.
Selidiki penyimpangan keadaan yang ditandai oleh menangis nada tinggi, pernapasan yang
sulit, dan sianosis, yang diikuti dengan apnea, flaksid kuadriparese, tidak berespons,
hipotensi, postur tonik, dan arefleksia.
Rasional: Trauma kelahiran, kapiler rapuh, dan kerusakan proses koagulasi membuat bayi
beresiko terhadap IVH, khususnya bayi yang BB nya < 1500g atau gestasi dibawah 34
minggu. Penegangan atau penonjolan fontanel anterior mungkin merupakan tanda pertama
dari IVH, syok hemoragi, atau peningkatan tekanan intrakranial (PTIK), yang dengan mudah
membawa pada kematian akibat sirkulasi yang kolaps. Bayi gestasi < 32 minggu dapat
menjadi letargik atau hipotonik serta dapat memanifestasikan gerakan mata menjelajahi
yang tidak terkontrol dan kurang jalur penglihatan. (Catatan: tanda-tanda klinis dan

perkembangan IVH mungkin tidak ada, sangat samar, atau tiba-tiba serta mengancam
kehidupan).

4.

Ukur lingkar kepala, sesuai indikasi.


Rasional: Membantu mendeteksi kemungkinan PTIK atau hidrosefalus, yang mungkin
merupakan akibat dari hemoragi subdural. Hanya 35%-50% bayi dengan hidrosefalus

berkembang secara normal.


5.
Kaji warna kulit, perhatikan bukti peningkatan ikterik berkenaan dengan perubahan
perilaku seperti letargi, hiperrefleksia, kacau mental, dan opistotonus. (Rujuk pada MK: Bayi
baru lahir: Hiperbilirubinemia).
Rasional: Bayi praterm lebih rentan pada kernikterus pada kadar bilirubin lebih rendah dari
bayi cukup bulan karena peningkatan kadar bilirubin sirkulasi tidak terkonjugasi melewati
barier darah otak.
Kolaborasi
1.
a.

Pantau pemeriksaan laboratorium, sesuai indikasi :


Ht / Hb; GDA
Rasional: Penurunan kadar Hb atau anemia menurunkan kapasitas pembawa oksigen,
meningkatkan resiko kerusakan SSP yang peramnen berkenaan dengan hipoksemia.

Penurunan Ht yang tiba-tiba dapat menjadi indikator pertama dari IVH.


b. Kadar bilirubin
Rasional: Peningkatan kadar bilirubin dengan cepat dapat mengakibatkan kernikterus bila
tidak diatasi.
c.
Berika suplemen oksigen
Rasional: Hipokalsemia meningkatkan resiko kelemahan atau kerusakan SSP yang
permanen.
2. Bantu dengan prosedur diagnostik atau terapeutik, sesuai indikasi :
a.
Skaning tomografi komputer, ultrasonografi kranial.
Rasional: Mengidentifikasi adanya/luasnya hemoragi, yang bermanfaat dalam memprediksi
kemungkinan komplikasi jangka panjang dan dalam pemilihan tindakan.
b.

Punksi lumbal
Rasional:Spesimen cairan serebrospinal (CSS) berdarah memastikan IVH. Beberapa rumah
sakit melakukan punksi leumbal berturut-turut setiap hari untuk menurunkan TIK dan

c.

mencegah efek-efek berbahaya dari hidrosefalus.


Transfusi tukar
Rasional: Naik atau meningkatnya kadar bilirubin dengan cepat menandakan kebutuhan
terhadap transfusi tukar volume ganda dengan darah O negatif untuk mengeluarkan bilirubin

d.

dan mencegah hemolisis lanjut dari sel darah merah (SDM).


Ventrikulopunksi atau tap.

Rasional: Mungkin digunakan untuk mengeluarkan kelebihan darah dari ventrikel, meskipun
pemeriksaan tidak menandakan adanya perubahan dalam hasil.
e.
Penempatan pirau ventrikuloperitoneal.
Rasional: Dilatasi ventrikel progresif tidak responsif pada tindakan lain dapat memrlukan
3.
a.

intervensi pembedahan untuk memperbaiki atau mencegah hidrosefalus.


Berikan obat-obatan, sesuai indikasi :
Kalsium, magnesium, natrium bikarbonat, dan atau glukosa.
Rasional: Perbaikan ketidakseimbangan membantu mencegah aktivitas kejang neonatus,

yang dapat terjadi pada respons terhadap keadaan metabolik sementara.


b. Fenobarbital
Rasional: Membantu untuk mengontrol kejang akut serta status epileptikus pada bayi baru
lahir.
c.
Fenitoin atau diazepam
Rasional: Mungkin digunakan bila obat antiepileptik lain tidak berhasil dalam mengontrol
aktifitas kejang. (Catatan : Dosis harus berdasarkan pada pembuluh darah).
d. Furosemid, asetazolamid, atau steroid.
Rasional: Membantu menurunkan tekanan intrakranial, dan mengatasi efek-efek sekunder
dari perdarahan.
e.
Vitamin E
Rasional: Sifat antioksidan melindungi membran SDM terhadap hemolisis.
f.
Indometasin
Rasional: Pemberian IV dapat memperbaiki ketidakseimbangan hemodinamik melalui
penutupan duktus arteriosus paten.
4. Bantu dengan penggantian cairan atau pembatasan
Rasional: Perfusi serebral tergantung pada volume sirkulasi adekuat. (Catatan: cairan
mungkin tidak dibatasi pada kasus hipertonisitas, kerusakan SSP dengan perdarahan, atau
palsi serebral).

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hiperbilirubin adalah keadaan icterus yang terjadi pada bayi baru lahir, yang dimaksud
dengan ikterus yang terjadi pada bayi baru lahir adalah meningginya kadar bilirubin di dalam
jaringan ekstravaskuler sehingga terjadi perubahaan warna menjadi kuning pada kulit,
konjungtiva, mukosa dan alat tubuh lainnya. (Ngastiyah, 2000) Nilai normal: bilirubin indirek
0,3 1,1 mg/dl, bilirubin direk 0,1 0,4 mg/dl.
BBLR adalah bayi baru lair yang berat badannya saat lair kurang dari 2500 gram. BBLR
sangat membutuhkan penanganan khusus karena bayi BBLR sangat rentan terhadap infeksi
maupun hipotermi. Oleh karena itu, perlu penanganan antara lain :
1. Pengaturan suhu lingkungan
2. Pengawasan nutrisi / makanan
3. Pemberian O2
4. Pencegahan infeksi
5. Penimbangan secara ketat
Masalah Kesehatan pada bayi prematur, membutuhkan asuhan keperawatan, dimana pada
bayi prematur sebaiknya dirawat di rumah sakit karena masih membutuhkan cairan-cairan
dan pengobatan /serta pemeriksaan Laboratorium yang bertujuan untuk meningkatkan derajat
kesehatan terapi pada bayi dan anak yang meliputi peran perawat sebagai advokad, fasilitator,
pelaksanaan dan pemberi asuhan keperawatan kepada klien. Tujuan pemberian pelayanan
kesehatan pada bayi prematur dengan asuhan keperawatan secara komprehensif adalah untuk
menyelesaikan masalah keperawatan. Bayi premature adalah bayi yang lahir sebelu minggu

ke 37, dihitung dari mulai hari pertama menstruasi terakhir, dianggap sebagai periode
kehamilan .
3.2 saran
Kita sebagai tenaga kesehatan (keperawatan ) harus meningkatkan kualitas pelayanan
pada maternal maupun neonatal sehingga dapat mengurangi insiden terjadinya hiperbilirubin,
BBLR,dan premature .

DAFTAR PUSTAKA
Boback. 2004. Keperawatan Maternitas. Ed. 4. Jakarta : EGC.
Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Edisi
8. Jakarta : EGC.
Doenges, Marilynn E. 2001. Rencana Perawatan Maternal. Ed. 2.
Jakarta : EGC.
Saccharin, Rossa M. 2004. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Ed. 2
Jakarta : EGC.
Wong, Donna L. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik.Jakarta: EGC
Doenges,Marilyn.2001.Rencana Perawatan Maternal Bayi Pedoman untuk Perencanaan dan
Dokumentasi Perawatan Klien Edisi2.Jakarta:EGC
Novita Regina.2011.Keperawatan Maternitas.Bogor:Ghalia Indonesia
http://rheakampus.blogspot.com/2012/11/askep-bayi-prematur_23.html
Mansjoer, Arif dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid I. Jakarta : Media
Asculapius FKUI
Staf Pengajar IKA FKUI. 1985. Ilmu Kesehatan Anak 3. Jakarta : Bagian IKA FKUI

Diposkan oleh fitria 20 imout di 23.26


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

divine-music.info

divine-music.info

More Images @ MyNiceProfile.com

More Images @ MyNiceProfile.com

Arsip Blog

2013 (2)
o April (1)
o Maret (1)

asuhan keperawatan pada bayi hiperbilirubin, BBLR ...

Mengenai Saya

fitria 20 imout
Lihat profil lengkapku

More Images @ MyNiceProfile.com


Template Picture Window. Diberdayakan oleh Blogger.

LAPORAN PENDAHULUAN
KEPERAWATAN
Minggu, 07 April 2013
LP Hiperbilirubin
A. Pengertian
Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang kadar nilainya
lebih dari normal (Suriadi, 2001). Nilai normal bilirubin indirek 0,3 1,1 mg/dl, bilirubin
direk 0,1 0,4 mg/dl.
Hiperbillirubin ialah suatu keadaan dimana kadar billirubinemia mencapai suatu nilai
yang mempunyai potensi menimbulkan kernikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik
(Prawirohardjo, 1997).
Hiperbilirubinemia (ikterus bayi baru lahir) adalah meningginya kadar bilirubin di dalam
jaringan ekstravaskuler , sehingga kulit, konjungtiva, mukosa dan alat tubuh lainnya
berwarna kuning (Ngastiyah, 2000).
B. Klasifikasi
1. Ikterus Fisiologis.
Ikterus fisiologik adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang tidak
mempunyai dasar patologis, kadarnya tidak melewati kadar yang membahayakan atau
mempunyai potensi menjadi kernicterus dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada

bayi. Ikterus patologik adalah ikterus yang mempunyai dasar patologis atau kadar
bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubin.
Ikterus pada neonatus tidak selamanya patologis. Ikterus fisiologis adalah ikterus yang
memiliki karakteristik sebagai berikut menurut (Hanifah, 1987), dan (Callhon, 1996),
(Tarigan, 2003) dalam (Schwats, 2005):
a. Timbul pada hari kedua - ketiga .
b.

Kadar bilirubin indirek setelah 2x24 jam tidak melewati 15 mg% pada neonatus cukup

c.
d.
e.
f.

bulan dan 10 mg% pada kurang bulan.


Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg% perhari.
Kadar bilirubin direk kurang dari 1 mg%.
Ikterus hilang pada 10 hari pertama.
Tidak mempunyai dasar patologis; tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan
patologis tertentu.

g.

Ikterus yang kemungkinan menjadi patologis atau hiperbilirubinemia dengan karakteristik

sebagai berikut Menurut (Surasmi, 2003) bila:


1) Ikterus terjadi pada 24 jam pertama sesudah kelahiran.
2) Peningkatan konsentrasi bilirubin 5 mg% atau > setiap 24 jam.
3) Konsentrasi bilirubin serum sewaktu 10 mg% pada neonatus < bulan dan 12,5 mg% pada
neonatus cukup bulan.
4) Ikterus disertai proses hemolisis (inkompatibilitas darah, defisiensi enzim G6PD dan sepsis).
5) Ikterus disertai berat lahir < 2000 gr, masa gestasi < 36 minggu, asfiksia, hipoksia, sindrom
gangguan pernafasan, infeksi, hipoglikemia, hiperkapnia, hiperosmolalitas darah.
2. Ikterus Patologis/Hiperbilirubinemia.
Menurut (Tarigan, 2003) adalah suatu keadaan dimana kadar konsentrasi bilirubin dalam
darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan kern ikterus kalau
tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis.
Brown menetapkan hiperbilirubinemia bila kadar bilirubin mencapai 12 mg% pada cukup
bulan, dan 15 mg% pada bayi kurang bulan. Utelly menetapkan 10 mg% dan 15 mg%.
3. Kern Ikterus.
Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan bilirubin indirek pada otak terutama
pada korpus striatum, talamus, nucleus subtalamus, hipokampus, nukleus merah, dan nukleus
pada dasar ventrikulus IV.
Kern ikterus ialah ensefalopati bilirubin yang biasanya ditemukan pada neonatus cukup
bulan dengan ikterus berat (bilirubin lebih dari 20 mg%) dan disertai penyakit hemolitik berat
dan pada autopsy ditemukan bercak bilirubin pada otak. Kern ikterus secara klinis berbentuk
kelainan syaraf simpatis yang terjadi secara kronik.

C. Etiologi
Peningkatan kadar bilirubin dalam darah tersebut dapat terjadi karena keadaan sebagai
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

berikut;
Polychetemia
Isoimmun Hemolytic Disease
Kelainan struktur dan enzim sel darah merah
Keracunan obat (hemolisis kimia; salisilat, kortikosteroid, kloramfenikol)
Hemolisis ekstravaskuler
Cephalhematoma
Ecchymosis
Gangguan fungsi hati; defisiensi glukoronil transferase, obstruksi empedu (atresia biliari),

9.

infeksi, masalah metabolik galaktosemia, hipotiroid jaundice ASI


Adanya komplikasi; asfiksia, hipotermi, hipoglikemi. Menurunnya ikatan albumin; lahir
prematur, asidosis.

D. Patofisiologi
Bilirubin adalah produk pemecahan hemoglobin yang berasal dari pengrusakan sel
darah merah/RBCs. Ketika RBCs rusak maka produknya kan masuk sirkulasi, diimana
hemoglobin pecah menjadi heme dan globin. Gloobin {protein} digunakan kembali oleh
tubuh sedangkan heme akan diruah menjadi bilirubin unkonjugata dan berikatan dengan
albumin.
Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan bebab bilirubin
pada streptucocus hepar yang terlalu berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat
peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia, memendeknya umur eritrosit janin/bayi,
meningkatnya bilirubin dari sumber lain, atau terdapatnya peningkatan sirkulasi
enterohepatik.
Gangguan ambilan bilirubin plasma terjadi apabila kadar protein-Z dan protein-Y
terikat oleh anion lain, misalnya pada bayi dengan asidosis atau dengan anoksia/hipoksia,
ditentukan gangguan konjugasi hepar (defisiensi enzim glukuronii transferase) atau bayi
menderita gangguan ekskresi, misalnya penderita hepatitis neonatal atau sumbatan saluran
empedu intra/ekstra hepatika.
Pada derajat tertentu, bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusakan jaringan otak.
Toksisitas ini terutama ditemukan pada bilirubin indirek. Sifat indirek ini yang
memungkinkan efek patologik pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar
darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak ini disebut kernikterus atau ensefalopati biliaris.

Mudah tidaknya bilirubin melalui sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung
dari tingginya kadar bilirubin tetapi tergantung pula pada keadaan neonatus sendiri. Bilirubin
indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila pada bayi terdapat keadaan imaturitas.
Berat lahir rendah, hipoksia, hiperkarbia, hipoglikemia dan kelainan susunan saraf pusat yang
karena trauma atau infeksi.
Peningkatan kadar Bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Kejadian
yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban Bilirubin pada sel Hepar
yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran Eritrosit,
Polisitemia. Gangguan pemecahan Bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan
kadar Bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang, atau
pada bayi hipoksia, asidosis.
Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah apabila
ditemukan gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi
misalnya sumbatan saluran empedu. Pada derajat tertentu Bilirubin ini akan bersifat toksik
dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada Bilirubin Indirek yang
bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. sifat ini memungkinkan
terjadinya efek patologis pada sel otak apabila Bilirubin tadi dapat menembus sawar darah
otak. Kelainan yang terjadi pada otak disebut kernikterus.
Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf pusat tersebut mungkin akan
timbul apabila kadar Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg/dl. Mudah tidaknya kadar Bilirubin
melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Bilirubin
Indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi terdapat keadaan BBLR ,
hipoksia, dan hipoglikemia (AH Markum, 1991).

E. Pathways Lampiran
F. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang jelas pada anak yang menderita hiperbilirubin adalah;
1. Tampak ikterus pada sklera, kuku atau kulit dan membran mukosa.
2. Jaundice yang tampak dalam 24 jam pertama disebabkan oleh penyakit hemolitik pada bayi
baru lahir, sepsis, atau ibu dengan diabetik atau infeksi.
3. Jaundice yang tampak pada hari ke dua atau hari ke tiga, dan mencapai puncak pada hari ke
tiga sampai hari ke empat dan menurun pada hari ke lima sampai hari ke tujuh yang biasanya
merupakan jaundice fisiologis.

4. Ikterus adalah akibat pengendapan bilirubin indirek pada kulit yang cenderung tampak
kuning terang atau orange, ikterus pada tipe obstruksi (bilirubin direk) kulit tampak berwarna
kuning kehijauan atau keruh. Perbedaan ini hanya dapat dilihat pada ikterus yang berat.
5. Muntah, anoksia, fatigue, warna urin gelap dan warna tinja pucat, seperti dempul
6. Perut membuncit dan pembesaran pada hati
7. Pada permulaan tidak jelas, yang tampak mata berputar-putar
8. Letargik (lemas), kejang, tidak mau menghisap
9. Dapat tuli, gangguan bicara dan retardasi mental
10. Bila bayi hidup pada umur lebih lanjut dapat disertai spasme otot, epistotonus, kejang,
stenosis yang disertai ketegangan otot.
G. Komplikasi
1. Bilirubin enchepalopathy (komplikasi serius)
2. Kernikterus; kerusakan neurologis, cerebral palsy, retardasi mental, hiperaktif, bicara lambat,
tidak ada koordinasi otot dan tangisan yang melengking.

H. Pemeriksaan Diagnostik
1. Laboratorium (Pemeriksan Darah)
a. Pemeriksaan billirubin serum. Pada bayi prematur kadar billirubin lebih dari 14 mg/dl dan
b.
c.
2.
3.

bayi cukup bulan kadar billirubin 10 mg/dl merupakan keadaan yang tidak fisiologis.
Hb, HCT, Hitung Darah Lengkap.
Protein serum total.
USG, untuk mengevaluasi anatomi cabang kantong empedu.
Radioisotop Scan, dapat digunakan untuk membantu membedakan hapatitis dan atresia
billiari.

I. Penatalaksanaan
1. Pengawasan antenatal dengan baik dan pemberian makanan sejak dini (pemberian ASI).
2. Menghindari obat yang meningkatakan ikterus pada masa kelahiran, misalnya sulfa
furokolin.
3. Pencegahan dan pengobatan hipoksin pada neonatus dan janin.
4. Fenobarbital
Fenobarbital dapat mengeksresi billirubin dalam hati dan memperbesar konjugasi.
Meningkatkan sintesis hepatik glukoronil transferase yang mana dapat meningkatkan
billirubin konjugasi dan clereance hepatik pigmen dalam empedu. Fenobarbital tidak begitu
sering digunakan.
5. Antibiotik, bila terkait dengan infeksi.
6. Fototerapi

Fototerapi dilakukan apabila telah ditegakkan hiperbillirubin patologis dan berfungsi


untuk menurunkan billirubin dikulit melalui tinja dan urine dengan oksidasi foto pada
billirubin dari billiverdin.
7. Transfusi tukar.
Transfusi tukar dilakukan bila sudah tidak dapat ditangani dengan foto terapi.
J. Diagnosa dan Intervensi
1. Resiko tinggi cedera b.d. meningkatnya kadar bilirubin toksik dan komplikasi berkenaan
phototerapi.
Tujuan : Klien tidak menunjukan gejala sisa neurologis dan berlanjutnya komplikasi
phototerapi.

a.
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
b.
c.

Kriteria hasil :
Rencana Rational
Identifikasi adanya faktor resiko :
Bruising
Sepsis
Delayed ord clamping
Ibu dengan DM
Rh, ABO antagonis
Pletora
SGA
Kaji BBL terhadap adanya hiperbilirubinemia setia 2-4 jam lima hari pertama kehidupan
Rasional: BBL sangat rentan terhadap hiperbilirubinemia.
Perhatikan dan dokumentasikan warna kulit dari kepala, sclera dan tubuh secara progresif
terhadap ikterik setiap pergantian shift
Rasional: Mengetahui addanya hiperbilirubinemi secara dini sehingga dapat dilakukan

tindakan penanganan segera.


d. Monitor kadar bilirubin dan kolaborasi bila ada peningkatan kadar
Rasional: Peningkatan kadar bilirubin yang tinggi
e. Monittor kadar Hb, Hct ata adanya penurunan
Rasional: Adanya penurunan Hb, Hct menunjukan adanya hemolitik
f. Monitor retikulosit, kolaborasi bila ada peningkatan
g. Berikan phototerapi:
Rasional: phototerapi berfungsi mendekomposisikan bilirubin dengan photoisomernya.
Selama phototerapi perlu diperhatikan adanya komplikasi seperti: hipertermi, Konjungtivitis,
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
h.

dehidrasi.
Sesuai protocol untuk waktu, prosedur, dan durasi.
Monitor kadar bilirubin setia 6 12 jam under therapy
Tutup mata dengan tameng mata, hindari tekanan pada hidung
Ganti bantalan mata sedikitnya 2 kali sehhari
Inspeksi mata dengan lampu sedikit nya 8 jam sekali
Pertahankan terapi cairan parenteral untuk hidrasi kolabborasi medis
Pertahankan suhu axila 36.5 dderajat Celsius
Lakukan transfusi tukar kolaborasi medis

Rasional: Transfusi tukar dilakukan bila terjadi hiperbilirubinemia pathologis karena


terjadinya proses hemoliitik berlebihan yang disebabkan oleh ABO antagonis.
1) Monitor vital sign selama dan setelah transfusi tukar
2) Periksa darah yang keluar dan masuk
3) Adanya faktor resiko membimbing perawat untuk waspada terhadap kemungkinan
munculnya hiperbilirubinemia
2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d. phototerapi.
Tujuan : Klien tiidak menunjjukan tanda-tanda kekurangan volume cairan
Rencana Rasional
a. Pertahankan intake cairan :
1) Timbang BB perhari
2) Ukur intake output
3) Berikan intake extra peroral atau per IV jika ada kehilangan BB progresif,
4) meningkatnya suhu, diare, onsentrasi urine,
b. Kaji Output:
c. Rasional: Output yang berlebihan atau tidak seimbang dengan intake akan menyebabkan
gangguan keseimbangan cairan.
1) Kaji jumlah, warna urine setiap 4 jam
2) Kaji Diare yang berlebihan
3) Kaji Hidrasi:
Rasional: Hidrasi yang adekuat menunjukan keseimbangna cairan tubuh baik yang ditunjukan
dengan suhu tubuh 36-37 derajat Celsius dan membran mukosa mulut lembab dan fontanela
datar.
4) Monitor suhu tubuh tiap 4 jam
5) Inspeksi membran mukosa dan pontanel 1. Intake cairan yang adekuat metabolisme
bilirubin akan berlangsung sempurna dan terjadii keseimbangan dengan caairan yang keluar
selama photo terapi karena penguapan.
3. Kerusakan integritas kulit b.d. efek dari phototerapi.
Tujuan : Klien tidak menunjukan gangguan integritas kulit
a. Monitor adanya kerusakan integritas kulit
Rasional: Deteksi dini kerusakan integritas kulit
b. Bersihkan kulit bayi dari kotoran setelah BAB, BAK
Rasional: Feses dan urine yang bersifat asam dapat mengiritasi kulit
c. Pertahankan suhu lingkungan netral dan suhu axial 36.5 derajat Celsius
Rasional: Suhu yang tinggi menyebabkan kulit kering sehingga kulit mudah pecah
d. Lakukan perubahan posisi setiap 2 jam.
Rasional: Perubahab posisi mempertahankan sirkulasi yang adekuat dan mencegah
e.

penekanan yang berlebihan pada satu sisi.


Berikan istirahat setelah 24 jam phototerapi

Daftar Pustaka
Suriadi, dan Rita Y. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak . Edisi I. Fajar Inter Pratama. Jakarta.
Ngastiah. 1997. Perawatan Anak Sakit. EGC. Jakarta.
Prawirohadjo, Sarwono. 1997. Ilmu Kebidanan. Edisi 3. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.
Syaifuddin, Bari Abdul. 2000. Buku Ajar Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal.
JNPKKR/POGI & Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.
Doengoes, E Marlynn & Moerhorse, Mary Fraces. 2001. Rencana Perawatan Maternal /
Bayi. EGC. Jakarta

Diposkan oleh guntur prasetyo di 09.30


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Label: ANAK
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Arsip Blog

2013 (28)
o Mei (3)
o April (6)

LP HIDRONEFROSIS

LP DIARE

LP DEHIDRASI

LP LEUKEMIA

LP Hiperbilirubin

LP Osteoporosis

o Maret (12)
o Januari (7)

Mengenai Saya

guntur prasetyo
Lihat profil lengkapku
Template Ethereal. Diberdayakan oleh Blogger.

1. Tumbuh Kembang Anak


a. Pengertian
Tumbuh kembang adalah proses yang kontinyu sejak dari konsepsi sampai
maturitas/dewasa yang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan. Ini
berarti bahwa tumbuh kembang anak sudah terjadi sejak di dalam kandungan
dan setelah kelahiran merupakan suatu masa dimana mulai saat itu tumbuh
kembang anak dapat dengan mudah dipahami.
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan
interseluler, yang berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian
atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.
Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih

kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta
sosialisasi dan kemandirian. (Depkes RI, 2005)
Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan
pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan syaraf
pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem
neuromusculer, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi.
b. Tahap-tahap tumbuh kembang
Walaupun terdapat variasi yang sangat besar, akan tetapi setiap anak akan
melalui suatu "milestone" yang merupakan tahapan dari tumbuh kembang
anak dan setiap tahapan mempunyai ciri-ciri tersendiri. adapun tahap-tahap
tumbuh kembang anak (Cecily, 2002) :

2)

1) Masa pranatal

Masa mudigah / embrio


: Konsepsi 8 minggu

Masa janin / fetus


: 9 minggu lahir
Masa bayi
Masa neonatal
: 0 28 hari
Masa neonatal dini
: 0 7 hari
Masa neonatal lanjut
: 8 28 hari
Masa pasca neonatal
: 29 hari 1 tahun
Masa prasekolah
: 1 6 tahun
3) Masa sekolah
: 6 10/20 tahun

Masa praremaja
: 6 10 tahun

Masa remaja
Masa remaja dini : Wanita, usia 8-13 tahun
Masa remaja lanjut : Wanita, usia 13-18 tahun dan Pria, usia 15-20
tahun
Menurut Sigmund Freud, periodesasi perkembangan dibagi 5 fase :
1) Fase oral (0-1 tahun)
Anak memperoleh kepuasan dan kenikmatan yang bersumber pada
mulutnya. Hubungan sosial lebih bersifat fisik, seperti makan atau minum susu.
Objek sosial terdekat adalah ibu, terutama saat menyusu.
2) Fase anal (1-3 tahun)
Pada fase ini pusat kenikmatannya terletak di anus, terutama saat buang air
besar. Inilah saat yang paling tepat untuk mengajarkan disiplin pada anak
termasuk toilet training.
3) Fase falik (3-5 tahun)
Anak memindahkan pust kenikmatannya pada daerah kelamin. Anak mulai
tertarik dengan perbedaan anatomis antara laki-laki dan perempuan. Pada anak

laki-laki kedekatan dengan ibunya menimbulkan gairah sexual perasaan cinta


yang disebut Oedipus Complex. Sedangkan pada anak perempuan disebut
Electra Complex.
4) Fase laten (5-12 tahun)
Ini adalah masa tenang, walau anak mengalami perkembangan pesat pada
aspek motorik dan kognitif.. Anak mencari figure ideal diantara orang dewasa
berjenis kelamin sama dengannya.
5) Fase genital (12 ke atas)
Alat-alat reproduksi sudah mulai masak, pusat kepuasannya berada pada
daerah kelamin. Energi psikis (libido) diarahkan untuk hubungan-hubungan
heteroseksual. Rasa cintanya pada anggota keluarga dialihkan pada orang lain
yang berlawan jenis.
Menurut Erik H. Erikson perkembangan anak dibagi dalam 8 tahap :
1) Masa oral-sensorik yaitu masa kepercayaan vs ketidakpercayaan.
Tahap ini berlangsung pada masa oral, kira-kira terjadi pada umur 0-1 atau
1 tahun. Tugas yang harus dijalani pada tahap ini adalah menumbuhkan dan
mengembangkan kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan untuk hadirnya
suatu ketidakpercayaan.
2) Masa anal-muskular yaitu kebebasan vs perasaan malu-malu atau raguragu.
Pada tahap kedua adalah tahap anus-otot (anal-mascular stages), masa ini
biasanya disebut masa balita yang berlangsung mulai dari usia 18 bulan sampai
3 atau 4 tahun. Tugas yang harus diselesaikan pada masa ini adalah kemandirian
(otonomi) sekaligus dapat memperkecil perasaan malu dan ragu-ragu.
3) Masa genital-locomotor yaitu inisiatif vs rasa bersalah
Tahap ketiga adalah tahap kelamin-lokomotor (genital-locomotor stage)
atau yang biasa disebut tahap bermain. Tahap ini pada suatu periode tertentu
saat anak menginjak usia 3 sampai 5 atau 6 tahun, dan tugas yang harus
diemban seorang anak pada masa ini ialah untuk belajar punya gagasan
(inisiatif) tanpa banyak terlalu melakukan kesalahan.
4) Masa laten yaitu ada gairah vs rendah diri
Tahap keempat adalah tahap laten yang terjadi pada usia sekolah dasar
antara umur 6 sampai 12 tahun. Salah satu tugas yang diperlukan dalam tahap

ini ialah mengembangkan kemampuan bekerja keras dan menghindari perasaan


rasa rendah diri.
5) Masa remaja yaitu identitas vs kekaburan peran
Tahap kelima merupakan tahap adolesen (remaja), yang dimulai pada saat
masa puber dan berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. melalui tahap ini orang
harus mencapai tingkat identitas ego, dalam pengertiannya identitas pribadi
berarti mengetahui siapa dirinya dan bagaimana cara seseorang terjun ke tengah
masyarakat.
6) Masa dewasa yaitu kemesraan vs keterasingan
yaitu pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 20-30 tahun. Adalah
ingin mencapai kedekatan dengan orang lain dan berusaha menghindar dari
sikap menyendiri.
7) Masa dewasa muda yaitu generativitas vs kehampaan
Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati
oleh orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. salah satu tugas
untuk dicapai ialah dapat mengabdikan diri guna keseimbangan antara sifat
melahirkan sesuatu (generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnasi).
8) Masa kematangan yaitu integritas ego vs kesedihan
Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja yang
diduduki oleh orang-orang yang berusia sekitar 60 atau 65 ke atas. Yang
menjadi tugas pada usia senja ini adalah integritas dan berupaya menghilangkan
putus asa dan kekecewaan.
Tabel 1. Ringkasan Kemajuan Perkembangan Anak dari Lahir Sampai 5
Tahun (Sacharin, 1996)
Umur
Motorik/Sensorik
Sampai 1 Reflek-reflek
bulan
primitif
Dapat enghisap
Menggenggam,
Memberikan respon
terhadap suarasuara
mengejutkan
Umur
1-3 bulan

Motorik/Sensorik

Sosial

Bahasa

Manipulatif

Sosial

Bahasa

Manipulatif

Menegakkan
Memberikan
kepala sebentar,
respon senyum

3-4 bulan

5-9 bulan

9-10
bulan

Umur
1 tahun

1
tahun

Mengadakan
gerakan-gerakan
merangkak jika
tengkurap
Mengangkat
Tersenyum.
kepala dari posisi
tengkurap dalam
waktu
yang
singkat.
Memalingkan
kepala ke arah
suara.

Bersuara jika

Berguling dari Memperlihatkan


Bervokalisasi
kegembiraan
sisi ke sisi ketika
suara-suara
dengan berlagak
terlentang.
bergumam,
dan tersipuMemalingkan
suaraseperti
sipu.
kepala
pada
"da", "ma".
orang
yang
berbicara.

Duduk
dari Mengenal dan

menolak orang
posisi berbaring
asing
Berpindah

Meniru
Merangkak.
Berteriak
untuk
menarik
perhatian.

Motorik/Sensorik
Merangkak
dengan baik
menarik badan
sendiri
untuk
berdiri
Dapat berjalan
dengan
dibimbing.
Berjalan tanpa
ditopang
Menaiki tangga
atau peralatan
rumah tangga
(kursi)

diajak bicara.

Ngoceh dan
bervokalisasi
Mengatakan
kata-kata
seperti da-da,
mam- mam.

Mulai
mengamati
tangan sendiri
Mampu untuk
memegang
kerincingan.

Mulai
memindahkan
benda
dari
satu tangan ke
tangan
lainnya.
Mampu
memanipulasi
benda-benda.
Memungut
benda
diantara jarijari dan ibu
jari.

Sosial
Menurut

perintah
sederhana
meniru
orang
dewasa.
Memperlihatkan
berbagai emosi.

Bahasa
Manipulatif
Mengucapka Memegang
n kata-kata
gelas untuk
tunggal
minum.

Ingin bermain
dekat
anakanak lain.
Meminta
minum.
Mengenal
gambargambar
binatang.
Mengenal
beberapa
bagian
tubuhnya

Telah
menggunakan
20 kata-kata
yang dapat
dimengerti.

Mencoretcoret,
Membalikbalik
halaman,
Bermain
dengan
balok-balok
bangunan
ecara
konstruktif.

2 tahun

Mampu berlari
Memanjat
Menaiki tangga
Membuka pintu.

Mulai bernain
dengan anakanak lain

Mulai
menggunakan
dua atau tiga
kata secara
bersamaan

3 tahun

Berlari bebas

Melompat
Mengendari
sepeda
roda
tiga.

Mengetahui

nama dan jenis


kelaminnya
sendiri
dapat
diberi
pengertian
Bermain secara
konstruktif dan
imitatif.
Mengetahui

banyak huruf-
huruf
dari
alphabet
Mengetahui
lagu
kanakkanak
Dapat
menghitung
sampai 10.

Berbicara
dengan
kalimatkalimat
pendek.

4-5 tahun

Berpakaian
sendiri, tidak
mampu untuk
mengikat atau
memasang
kancing.
Menggambar
lingkaran
Menggambar
gambargambar yang
dapat
dikenal.

Bernyanyi
Berdendang

c. Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang


1) Keturunan
Jenis kelamin dan determinan keturunan lain secara kuat mmpengaruhi
hasil akhir pertumbuhan dan laju perkembangan untuk mendapatkan hasil akhir
tersebut. Terdapat hubungan yang besar antara orangtua dan anak dalam hal sifat
seperti tinggi badan, berat badan, dan laju pertumbuhan.
2) Neuroendokrin
Beberapa hubungan fungsional diyakini ada diantara hipotalamus dan
system endokrin yang memengaruhi pertumbuhan. Tiga hormon-hormon
pertumbuhan, hormone tiroid, dan endrogen. Tampak bahwa setiap hormone
yang mempunyai pengaruh bermakna pada pertumbuhan memanifestasikan efek
utamanya pada periode pertumbuhan yang berbeda.
3) Nutrisi
Nutrisi mungkin merupakan satu-satunya pengaruh paling penting pada
pertumbuhan. Faktor

diet

mengatur

pertumbuhan pada

semua tahap

perkembangan, dan efeknya ditujukan pada cara beragam dan rumit.


4) Hubungan Interpersonal

Hubungan dengan orang terdekat memainkan peran penting dalam


perkembangan, terutama dalam perkembangan emosi, intelektual, dan
kepribadian. luasnya rentang kontak penting untuk pembelajaran dan
perkembangan kepribadian yang sehat.
5) Tingkat Sosioekonomi
Riset menunjukkan bahwa tingkat sosioekonomi keluarga anak mempunyai
dapak signifikan pada pertumbuhan dan perkembangan.
6) Penyakit
Banyak penyakit kronik dan Gangguan apapun yang dicirikan dengan
ketidakmampuan untuk mencerna dan mengabsorbsi nutrisi tubuh akan member
efek merugikan pada pertumbuhan dan perkembangan.
7) Bahaya lingkungan
Bahaya dilikungan adalah sumber kekhawatiran pemberi asuhan kesehatan
dan orang lain yang memerhatikan kesehatan dan keamanan. Bahaya dari residu
kimia ini berhubungan dengan potensi kardiogenik, efek enzimatik, dan
akumulasi. (Baum dan Shannon, 1995)
8) Stress pada masa kanak-kanak
Stress adalah ketidakseimbagan antara tuntutan lingkungan dan sumber
koping individu yang menggangggu ekuiibrium individu tersebut. ( mastern
dkk, 1998)
Usia anak, temperamen situasi hidup, dan status kesehatan mempengaruhi
kerentanan, reaksi dan kemampuan mereka untuk mengatasi stress. Koping
adalah tahapan khusus dari reaksi individu terhadap stressor. Strategi koping
adalah cara khusus anak mengatasi stersor ang dibedakan dari gaya koping yang
relative tidak mengubah karakteristik kepribadian atau hasil koping. ( Ryanwengger, 1992)
9) Pengaruh media masa
Terdapat peningkatan kekhawatiran mengenai berbagai pengaruh media
pada perkembangan anak. (Rowitz, 1996)
2. Dampak Hospitalisasi
1) Pengertian
Menurut Wong (2000), hospitalisasi adalah suatu proses yang karena suatu
alasan yang berencana atau darurat mengharuskan anak untuk tinggal di RS,

menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah.


Perasaan yang sering muncul pada anak adalah cemas, marah, sedih, takut dan rasa
bersalah.
Penyebab timbul reaksi hospitalisasi pada anak (Wong, 2000) :

Menghadapi sesuatu yang baru dan belum pernah dialaminya


Rasa tidak aman dan nyaman
Perasaan kehilangan sesuatu yang biasa dialaminya dan sesuatu yang dirasakan

menyakitkan
2) Reaksi anak terhadap hospitalisasi
a. Masa bayi ( 0 - 1 tahun )
Perpisahan dengan orang tua : gangguan pembentukan rasa percaya dan kasih

sayang.
Terjadi stranger anxiety ( usia 6 bulan ) : cemas apabila berhadapan dengan

orang asing dan perpisahan.


Reaksinya : menangis, marah, banyak melakukan gerakan.
b. Masa toddler ( 2 3 tahun )
Sumber stress yang utama : cemas akibat perpisahan
Respon : tahap protes, putus asa dan pengingkaran
Tahap protes : menangis kuat, menjerit memanggil orang tua atau menolak

perhatian yang diberikan orang lain


Tahap putus asa : menangis berkurang,anak tidak aktif, kurang menunjukkan

minat bermain dan makan, sedih dan apatis


Tahap pengingkaran : mulai menerima perpisahan,membina hubungan secara

dangkal, anak mulai terlihat menyukai lingkungannya


c. Masa prasekolah
Perawatan di RS : anak untuk berpisah dari lingkungan yang dirasakannya

aman, penuh kasing sayang dan menyenagkan.


Reaksi terhadap perpisahan : menolak makan, sering bertanya, menagis

secara perlahan dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan


d. Masa sekolah
Timbul kecemasan : berpisah dengan lingkungan yang dicintainya

Kehilangan kontrol karena adanya pembatasan aktivitas


Kehilangan kontrol : perubahan peran dalam keluarga, kehilangan kelompok
sosialnya karena ia biasa melakukan kegiatan bermain atau pergaulan sosial,

perasaan takut mati dan adanya kelemahan fisik


Reaksi terhadap perlukaan atau rasa nyeri : ekspresi baik secara verbal
maupun nonverbal : anak sudah mampu mengkomunikasikannya, sudah
mampu mengontrol perilaku jika merasa nyeri : menggigit bibir/menggigit

dan memegang sesuatu dengan erat.


e. Masa remaja

Timbul perasaan cemas : harus berpisah dengan teman sebayanya


Pembatasan aktivitas di RS : anak kehilangan kontrol terhadap dirinya dan

menjadi tergantung pada keluarga atau pertugas kesehatan.


Reaksi yang sering muncul : menolak perawatan atau tindakan yang
dilakukan, anak tidak mau kooperatif dengan petugas kesehatan atau menarik

diri dari keluarga, sesama pasien dan petugas kesehatan.


Perasaan sakit : respon anak bertanya-tanya, menarik diri dari lingkungannya

/ menolak kehadiran orang lain.


3) Reaksi orang tua terhadap hospitalisasi anak
a. Perasaan cemas dan takut
Perasaan cemas dan takut : mendapat prosedur menyakitkan
Cemas paling tinggi : menunggu informasi tentang diagnosa penyakit

anaknya.
Takut muncul : takut kehilangan anak pada kondisi sakit terminal
Perilaku : sering bertanya/bertanya tentang hal yang sama secara berulang-

ulang pada orang yang berbeda, gelisah, ekspresi wajah tegang dan marah.
b. Perasaan sedih
Muncul pada saat anak dalam kondisi terminal
Perilaku : isolasi, tidak mau didekati orang lain, tidak kooperatif terhadap
petugas kesehatan.
c. Perasaan frustasi
Putus asa dan frustasi : anak yang telah dirawat cukup lama dan tidak

mengalami perubahan, tidak adekuatnya dukungan psikologis.


Perilaku : tidak kooperatif, putus asa, menolak tindakan, menginginkan
pulang paksa.

A. DAMPAK PENYAKIT TERHADAP KEBUTUHAN DASAR MANUSIA


1. Kebutuhan Oksigenasi
Tidak terjadi ganguan kecuali jika adanya metastasis di paru atau peningkatan
2.
3.
4.
5.

penekakan diafragma kanan pada pembesaran hati, seperti abses hati atau hepatoma.
Kebutuhan Nutrisi
Terjadi karena menurun atau menghilangnya reflek hisap
Kebutuhan Aktifitas
Terjadi karena adanya letargi.
Kebutuhan Rasa Aman
Adanya resiko injuri berhubungan dengan prosedur penatalaksanan.
Pertumbuhan dan Perkembangan
Komplikasi pada sistem syaraf pusat dapat menimbulkan kerusakan neurogis
permanen yang mempengaruhi terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.