Anda di halaman 1dari 4

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)

TATA LAKSANA KASUS


SMF BEDAH
RUMAH SAKIT PUSAT PERTAMINA
2015

RUMAH SAKIT
PUSAT
PERTAMINA

Fistula Perianal
1. Pengertian (Definisi)

Fistula adalah hubungan abnormal antara dua tempat yang


berepitel. Fistula ani adalah fistula yang menghubungkan
antara kanalis anal ke kulit di sekitar anus. Pada permukaan
kulit bisa terlihat satu atau lebih lubang fistula, dan dari
lubang fistula tersebut dapat keluar nanah ataupun kotoran
saat buang air besar

2. Anamnesis

1.
2.
3.
4.
3. Pemeriksaan Fisik

Riwayat iritasi atau ulkus di sekitar lubang fistula

Apakah pernah keluar darah atau nanah dari lubang fistula


Keluhan gatal di sekitar anus dan lubang fistula
Keluhan demam dan tanda tanda umum infeksi
Pada pemeriksaan fisik pada daerah anus, dapat
ditemukan satu atau lebih external opening atau
teraba fistula di bawah permukaan. Pada colok
dubur terkadang dapat diraba indurasi fistula dan
internal opening.

4. Kriteria Diagnosis

Diagnosa ditegakkan dari pemeriksaan fisik dan


pemeriksaan penunjang. Pada kasus-kasus yang sederhana,
hukum Goodsall membantu mengantisipasi anatomi fistula
perianal. Hukum ini menyatakan bahwa fistula dengan
eksternal opening ke anterior biasanya memiliki saluran
yang berbentuk lurus. Sedangkan fistula dengan eksternal
opening ke posterior atau dorsal biasanya selalu bengkok ke
depan karena radang dan pus terdorong ke anterior di sekitar
muskulus puborektal dan dapat membentuk 1 atau lebih
lubang perforasi di sebelah anterior.

5. Diagnosis Banding

Hidranitis

supurativa:

Merupakan

radang

kelenjar

keringat apokrin yang membentuk fistula multiple


subkutan. Predileksi di perineum, perianal, ketiak dan
tidak meluas ke struktur yang lebih dalam.
Sinus pilonidalis: Terdapat di lipatan sakrokoksigeal,
berasal dari rambut dorsal tulang koksigeus/ ujung os
sacrum. Gesekan rambut, peradangan dan infeksi akut
sampai abses dan terbentuk fistel setelah abses pecah.
Fistel proktitis: Fistel proktitis dapat terjadi pada morbus
Crohn, tbc, amubiasis, infeksi jamur, dan divertikulitis.
Kadang disebabkan benda asing atau trauma.

6. Pemeriksaan
Penunjang

Fistulografi: Injeksi kontras melalui pembukaan internal,


diikuti dengan anteroposterior, lateral dan gambaran Xray oblik untuk melihat jalur fistula.

Ultrasound endoanal / endorektal: Menggunakan


transduser 7 atau 10 MHz ke dalam kanalis ani untuk
membantu melihat differensiasi muskulus intersfingter
dari lesi transfingter. Transduser water-filled ballon
membantu evaluasi dinding rectal dari beberapa ekstensi
suprasfingter.

MRI: MRI dipilih apabila ingin mengevaluasi fistula


kompleks, untuk memperbaiki rekurensi.

CT- Scan: CT Scan umumnya diperlukan pada pasien


dengan penyakit crohn atau irritable bowel syndrome
yang memerlukan evaluasi perluasan daerah inflamasi.
Pada umumnya memerlukan administrasi kontras oral dan
rektal.

Barium Enema: untuk fistula multiple,


mendeteksi penyakit inflamasi usus.

Anal Manometri: evaluasi tekanan pada mekanisme


sfingter berguna pada pasien tertentu seperti pada pasien
dengan fistula karena trauma persalinan, atau pada
fistula kompleks berulang yang mengenai sphincter ani.

dan

dapat

7. Terapi
1. Terapi Konservatif Medikamentosa dengan pemberian analgetik, antipiretik serta profilaksis antibiotik jangka
panjang untuk mencegah fistula rekuren.
2. Terapi pembedahan:
Fistulotomi: Fistel di insisi dari lubang asalnya sampai ke
lubang kulit, dibiarkan terbuka,sembuh per sekundam
intentionem. Dianjurkan sedapat mungkin dilakukan
fistulotomi.

Fistulektomi:Jaringan granulasi harus di eksisi


keseluruhannya untuk menyembuhkan fistula. Terapi
terbaik pada fistula ani adalah membiarkannya terbuka.

Seton: benang atau karet diikatkan malalui saluran


fistula. Terdapat dua macam Seton, cutting Seton, dimana
benang Seton ditarik secara gradual untuk memotong
otot sphincter secara bertahap, dan loose Seton, dimana

benang Seton ditinggalkan supaya terbentuk granulasi


dan benang akan ditolak oleh tubuh dan terlepas sendiri
setelah beberapa bulan.
Advancement Flap: Menutup lubang dengan dinding
usus, tetapi keberhasilannya tidak terlalu besar.
Fibrin Glue: Menyuntikkan perekat khusus (Anal Fistula
Plug/AFP) ke dalam saluran fistula yang merangsang
jaringan alamiah dan diserap oleh tubuh. Penggunaan
fibrin glue memang tampak menarik karena sederhana,
tidak sakit, dan aman, namun keberhasilan jangka
panjangnya tidak tinggi

8. Edukasi
(Hospital Health
Promotion)
9. Prognosis
10. Kepustakaan

Melakukan perawatan pada luka post operasi agar


tidak terjadi infeksi sekunder
Dubia ad bonam
1. Botsford-Dunphy, W.B Saunders Company Publisher,
Pemeriksaan Fisik Bedah; Physycal
Examination, Alih Bahasa I Janvar Ahmad dkk,
Yayasan Essentia Medica, Jakarta, 1977, hal 73 - 77.
2. Dudley, Hugh AF; Hamilton Bailey, Ilmu Bedah
Gawat Darurat, Penerjemah Prof. Dr. A. Samik
Wahab, dr. Soedjono Aswin, Ph. D, edisi ke XI,
FK.
UGM, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, hal
493 - 495.
3. Henry MM, Thompson JN , 2005, Principles of
Surgery, 2nd edition, Elsevier Saunders, page 431445.
4. Panitia Pelantikan Dokter periode Desember 1988,
Penuntun Tindakan Medik Bagi Dokter Umum,
F.K UGM, Andi Offsed, Yogyakarta, 1988,
hal
119 - 120.
5. R, Syamsuhidajat, Wim de Jong; Buku Ajar Ilmu
Bedah : Jakarta EGC, 1997 hal 700 - 711.
6. She Warts, Seymour I, Intisari Prinsip-prinsip
Ilmu Bedah, Alih Bahasa Laniyati Celal, editor Linda
Chandranata - Jakarta, EGC, 2000, hal 509 - 515.
7. Sabiston, Devid C; Buku Ajar Bedah : Sabistons
Essential Surgey, Alih Bahasa Petrus Andrianto,
Timah I. S; editor, Jonatan Oswan - Jakarta : EGC,
1995, hal 228 - 231.
8. Schrock, Theodore R, Ilmu Bedah; Handbook of
Surgey, Penerjemah Med. Ajidharma dkk, Ed. 7
Jakarta, EGC, 1991, hal 300 - 302.
9. Widjaja, H, Anatomi abdomen, Jakarta, EGC, 2007,

Hal : 21-25.