Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

Tuberkulosis (TB) sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan


masyarakat di dunia, terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. TB
adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis
yang telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia. Sebagian besar kuman TB
menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh yang lainnya. Pada tahun
1993, WHO (World Health Organization) mencanangkan kedaruratan global penyakit
TB karena jumlah kasus TB meningkat dan tidak terkendali.1
Laporan WHO pada tahun 2009, mencatat peringkat Indonesia menurun ke
posisi lima dengan jumlah penderita TB sebesar 429 ribu orang. Lima Negara dengan
jumlah terbesar kasus insiden pada tahun 2009 adalah India, China, Afrika Selatan,
Nigeria dan Indonesia.2
Pada tahun 2006 terdapat sekitar 9,2 juta kasus baru TB secara global.
Diperkirakan 1,7 juta orang meninggal karena TB termasuk mereka yang terinfeksi
oleh HIV.3 Selain itu munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah
permasalahan bagi penderita TB. Koinfeksi dengan HIV akan meningkatkan risiko
kejadian TB paru secara signifikan. Pada saat yang sama, kekebalan ganda kuman TB
terhadap obat anti TB (multidrug resistence = MDR) semakin menjadi masalah karena
tidak dapat disembuhkan.3
Tuberkulosis dapat menyebabkan hemoptoe baik pada penyakit aktif (lesi
cavitary, pecahnya aneurisma arteri paru-paru) atau sebagai sequelae terlambat
(pecahnya aneurisma atau sekunder untuk bronkiektasis). Pecahnya Rassmussens
aneurisma bisa terjadi pada penyakit TB paru aktif atau pada TB paru sekunder. Hal
ini terjadi terdapat bagian ektatik dari arteri paru yang melintasi rongga berdinding
tebal pecah. Penyebab lain terjadinya perdarahan ialah ulserasi pada dinding kavitas
yang baru terbentuk dimana penuh dengan jaringan granulasi yang kaya dengan
pembuluh darah dan juga dapat disebabkan ulserasi pada mukosa bronkus. Batuk
darah masif dapat merenggut nyawa penderita oleh karena asfiksia, kehilangan banyak
1

darah dalam waktu singkat dan penyebaran penyakit ke bagian-bagian paru yang
sehat.2

BAB II
LAPORAN KASUS

I.

IDENTIFIKASI
Nama

: Tn. MH

Jenis kelamin : Laki-laki


Tanggal Lahir : 04 Desember 1973 (41 tahun)
Alamat

: Perumahan Griya Interbis Blok AA RT.78 RW.05 Talang Kelapa


Alang-alang Lebar Palembang

II.

Pekerjaan

: Supir Truk

Status

: Menikah

Agama

: Islam

MRS

: 22 Juni 2015

ANAMNESIS
Keluhan Utama :
Batuk darah bertambah banyak sejak 1 hari SMRS.
Riwayat Perjalanan Penyakit :
Sejak 2 minggu SMRS, pasien mengeluh batuk, dahak (-), darah (-), sesak
nafas (-), pilek (-), sakit menelan (-), suara serak (-), mual (-), muntah (-), penurunan
nafsu makan (+), penurunan berat badan (+) sejak 2 bulan terakhir yang dirasakan
dengan celana yang semakin longgar namun pasien tidak menimbang berat badan,
demam (-), keringat pada malam hari (-), pusing (-), pandangan berkunang-kunang (-),
BAB dan BAK tidak ada keluhan. Pasien belum berobat.
1 minggu SMRS, pasien mengeluh batuk, dahak (+), kental, warna putih
sdt, bercampur darah (+) 2 sdm setiap kali batuk, frekuensi batuk darah 5x, sesak
nafas (-), pilek (-), sakit menelan (-), suara serak (-), mual (-), muntah (-), penurunan
nafsu makan (+), penurunan berat badan (+), demam (+) hilang timbul, demam timbul
saat malam hari, demam tidak terlalu tinggi, keringat pada malam hari (+). Os lalu
berobat ke RS Bhayangkara dilakukan rontgen dada dikatakan sakit paru-paru dan
2

pemeriksaan dahak sebanyak 3x yang ketiga hasilnya negatif, os disarankan berobat


jalan ke puskesmas dan diberi OBH.
1 hari SMRS, os mengeluh batuk darah bertambah banyak, banyaknya
gelas air mineral tiap kali batuk, frekuensi batuk darah 10x, darah berwarna merah
segar, dahak (+) warna putih, banyaknya 1sdm, sesak nafas (-), pilek (-), sakit
menelan (+), suara serak (-), mual (-), muntah (-), penurunan nafsu makan (+),
penurunan berat badan (+), demam (+) hilang timbul, demam timbul saat malam hari,
demam tidak terlalu tinggi, keringat pada malam hari (+). Os lalu datang ke IGD
RSMH Palembang.
Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat batuk darah (+) 9 tahun yang lalu, namun os tidak berobat.
Riwayat meminum obat yang membuat kencing berwarna merah disangkal.
Riwayat trauma disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat batuk lama dalam keluarga disangkal.


Riwayat sakit tumor/keganasan dalam keluarga disangkal

Riwayat Kebiasaan

Riwayat kontak dengan penderita batuk lama disangkal.


Riwayat merokok (+) selama 13 tahun, 2-3 bungkus/hari, namun os berhenti

merokok sejak 9 tahun yang lalu.


Riwayat kontak dengan bahan kimia, pestisida atau herbisida disangkal.

Riwayat Sosial Ekonomi


Penderita bekerja sebagai supir truk.
Kesan : status sosial ekonomi kurang.
III.

PEMERIKSAAN FISIK (24 Juni 2015)


Keadaan Umum
Keadaan umum

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: compos mentis

Tekanan Darah

: 120/70 mmHg

Nadi

: 72 kali per menit, reguler, isi cukup, tegangan kuat


3

Pernafasan

: 22 kali per menit, regular, thorakoabdominal

Suhu

: 36,7o C

Berat Badan

: 62 kg

Tinggi Badan

: 170 cm

IMT

: 21,45 kg/mm3 (Normoweigh)

RBW

: 98%

Keadaan Spesifik
Kulit
Warna sawo matang, efloresensi (-), pigmentasi normal, ikterus (-/-), sianosis (-),
venektasi (-), spider nevi (-), telapak tangan dan kaki pucat (+/+), pertumbuhan rambut
normal.
KGB
Kelenjar getah bening di submandibula, leher, axila, inguinal tidak teraba.
Kepala
Normocephali, simetris, warna rambut hitam, rambut mudah rontok (-), deformitas (-).
Mata
Eksophtalmus (-/-), endophtalmus (-/-), edema palpebra (-/-), konjungtiva palpebra
pucat (+/+), sklera ikterik (-/-), pupil isokor, reflek cahaya (+/+), pergerakan mata ke
segala arah baik, mata cekung (-/-).
Hidung
Bagian luar hidung tak ada kelainan, septum dan tulang-tulang dalam perabaan baik,
selaput lendir dalam batas normal, epistaksis (-).
Telinga
Sekret (-), pendengaran baik.
Mulut
Pembesaran tonsil (-), gusi berdarah (-), lidah kering (-), tepi lidah hiperemis (-), lidah
tremor (-), atrofi papil (-), stomatitis (-), rhagaden (-), bau pernapasan khas (-).

Leher
Pembesaran

kelenjar

thyroid

(-),

JVP (5-2)

cmH 2O,

hipertrofi

musculus

sternocleidomastoideus (-), kaku kuduk (-).


Dada
Bentuk dada normal, retraksi (-), nyeri tekan (-), nyeri ketok (-), krepitasi (-).
Jantung
Inspeksi

: ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: ictus cordis tidak teraba

Perkusi

: Batas jantung atas ICS II


Batas jantung kiri linea mid clavicularis sinistra
Batas jantung kanan linea sternalis dextra

Auskultasi

: HR 72 x/menit, reguler. Murmur (-). Gallop (-).

Paru
Inspeksi

: statis dan dinamis simetris, sela iga melebar (-).

Palpasi

: stemfremitus kanan = kiri, nyeri tekan (-).

Perkusi

: sonor di kedua lapangan paru, batas paru hepar ICS VI, peranjakan
1 sela iga.

Auskultasi

: vesikuler (+) normal, ronkhi (+) basah sedang di lapangan paru kanan
atas, wheezing (-).

Abdomen
Inspeksi

: datar

Palpasi

: lemas, nyeri tekan daerah epigastrium (-), hepar dan lien tidak teraba
membesar, Murphy sign (-), Ludwig sign (-)

Perkusi

: timpani, shifting dullness (-)

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Genital

(Tidak diperiksa)

Ekstremitas
Ekstremitas atas

: gerakan bebas, pigmentasi normal, telapak tangan pucat (+), jari


tabuh (-), turgor < 2 detik, sianosis (-), akral hangat, edema (-).

Ekstremitas bawah: gerakan bebas, pigmentasi normal, telapak kaki pucat (+), jari
tabuh (-), turgor ,2detik, akral hangat, edema pretibial (-).
IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tanggal 21 Juni 2015
Hematologi
N

Pemeriksaan

Hasil

o
1 Hemoglobin
2 Eritrosit
3 Hematokrit
4 Leukosit
5 Trombosit
6 Basofil
7 Eosinofil
8 Netrofil
9 Limfosit
10 Monosit
Kesan: anemia, leukositosis.

10,5 g/dl
3.51 x 106/mm6
31 vol%
22.7 x 103/mm3
407 x 103/mm3
0
1
80
10
9

Nilai Normal
13.2-17.3 g/dl
4.20-4.87 x 106/mm6
43-49 vol%
4.5-11 x 103/mm3
150-450 x 103/mm3
0-1 %
1-6 %
25-40 %
2-8 %

Kimia Klinik
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pemeriksaan
BSS
SGOT
SGPT
Ureum
Kreatinin
Kalsium
Natrium
Kalium

Hasil
162 mg/dl
22 U/L
18 U/L
33 mg/dl
1.05 mg/dl
8.8 mg/dl
139 mEq/L
4.2 mEq/L

Nilai Normal
< 200 mg/dl
0-38 U/L
0-41 U/L
16.6-48.5 mg/dl
0.70-1.20 mg/dl
8.8-10.2 mg/dl
135-155 mEq/L
3.5-5.5 mEq/L

Rontgen Thorax:
Tanggal 15 Juni 2015

Kesan:
Dalam
normal

batas

Interpretasi:

Kondisi foto baik


Simetris kanan dan kiri
Trakhea di tengah
Tulang-tulang dan jaringan

lunak baik
Sela iga melebar (-)
CTR<50%
Diafragma
Sudut costofrenicus kanan

dan kiri lancip


Terdapat infiltrat di lapangan
paru kanan atas setinggi ICS
I-III.

Kesan: TB paru lesi sedang

V.

Diagnosis Sementara:
- Hemaptoe masif ec. kasus baru TB paru lesi sedang + Anemia ec. Perdarahan +
Infeksi sekunder

VI.

Diagnosis Banding
- Hemaptoe masif ec. tumor paru dextra + Anemia penyakit kronis + Infeksi
sekunder

VII.

Tatalaksana
Non Farmakologis :
-

Istirahat

Diet NB TKTP 2100 kkal

Edukasi

Farmakologis :
-

IVFD RL gtt XX/m makro

Inj. Asam Tranexamat 2x1 amp (IV)

Inj. Ceftriaxon 2x1 amp (IV)

Ambroxol syrup 3x1 C (PO)


7

As. Folat 3x1 tab (PO)

Vit. B1, B6, B12 1x1 tab (PO)

Rimstar 1x4 tab (PO)

VIII. Rencana Pemeriksaan


- Darah rutin (Hb, leukosit, trombosit, LED)
- Kimia darah (SGOT, SGPT, bilurbin total, bilirubin direk, bilirubin indirek,
IX.

X.

ureum, kreatinin, LDH)


BTA sputum I/II/III
Kultur dan resistensi MTB
Kultur dan resistensi sputum
Rontgen thorax PA ulang
Rontgen thorax lateral dextra
Sitologi sputum

Prognosis
Quo ad vitam

: dubia ad bonam

Quo ad functionam

: dubia ad bonam

Quo ad sanationam

: dubia ad bonam

FOLLOW UP
Tanggal
S

24 Juni 2015
Keluhan: Batuk darah (+) semalam 600cc

O:
Keadaan umum
Kesadaran

Compos mentis

Tekanan darah

120/ 80 mmHg

Nadi

74 x/menit

Pernapasan

20 x/ menit

Temperatur

36,7 oC

Keadaan spesifik
Kepala

Konjungtiva palpebra pucat (+/+)


Sklera ikterik (-/-)

Leher

JVP (5-2) cm H2O


Pembesaran KGB (-)

Thorax:
Paru

I: statis dan dinamis simetris, sela iga melebar (-).


P: stemfremitus kanan = kiri, nyeri tekan (-).
P: sonor di kedua lapangan paru, batas paru hepar
ICS VI, peranjakan 1 sela iga.
A: vesikuler (+) normal, ronkhi (+) basah sedang di
lapangan paru kanan atas, wheezing (-).

Jantung

I: ictus cordis tidak terlihat


P: ictus cordis tidak teraba
P: Batas jantung atas ICS II
Batas jantung kiri linea mid clavicularis sinistra
Batas jantung kanan linea sternalis dextra
A: HR 74 x/menit, reguler. Murmur (-). Gallop (-).

Abdomen

I: datar
P: lemas, nyeri tekan daerah epigastrium (-), hepar
dan lien tidak teraba membesar.
9

P: timpani, shifting dullness (-)


A: bising usus (+) normal
Ekstremitas
Pemeriksaan

palmar eritem (-/-), akral hangat, edema (-)


Sputum BTA (3x)
BTA I : (-) / negatif
BTA II : (-) / negatif
BTA III : (-) / negatif

Hemaptoe masif ec. kasus baru TB paru lesi sedang


+ Anemia ec. Perdarahan + Infeksi sekunder

Non Farmakologis :
- Istirahat
- Diet NB TKTP 2100 kkal
- Edukasi
Farmakologis :
- IVFD RL gtt XX/m makro
- Inj. Asam Tranexamat 2x1 amp (IV)
- Inj. Ceftriaxon 2x1 amp (IV)
- Ambroxol syrup 3x1 C (PO)
- As. Folat 3x1 tab (PO)
- Vit. B1, B6, B12 1x1 tab (PO)
- Rimstar 1x4 tab (PO)
Rencana :
-

Tanggal
S

Kultur dan resistensi MTB


Kultur dan resistensi sputum
Rontgen thorax PA ulang
Rontgen thorax lateral dextra
Sitologi sputum

25 Juni 2015
Keluhan: Batuk darah (+) 250cc
10

O:
Keadaan umum
Kesadaran

Compos mentis

Tekanan darah

110/ 80 mmHg

Nadi

84 x/menit

Pernapasan

22 x/ menit

Temperatur

36,7 oC

Keadaan spesifik
Kepala

Konjungtiva palpebra pucat (+/+)


Sklera ikterik (-/-)

Leher

JVP (5-2) cm H2O


Pembesaran KGB (-)

Thorax:
Paru

I: statis dan dinamis simetris, sela iga melebar (-).


P: stemfremitus kanan = kiri, nyeri tekan (-).
P: sonor di kedua lapangan paru, batas paru hepar
ICS VI, peranjakan 1 sela iga.
A: vesikuler (+) normal, ronkhi (+) basah sedang di
lapangan paru kanan atas, wheezing (-).

Jantung

I: ictus cordis tidak terlihat


P: ictus cordis tidak teraba
P: Batas jantung atas ICS II
Batas jantung kiri linea mid clavicularis sinistra
Batas jantung kanan linea sternalis dextra
A: HR 84 x/menit, reguler. Murmur (-). Gallop (-).

Abdomen

I: datar
P: lemas, nyeri tekan daerah epigastrium (-), hepar
11

dan lien tidak teraba membesar.


P: timpani, shifting dullness (-)
A: bising usus (+) normal
Ekstremitas
Pemeriksaan

palmar eritem (-/-), akral hangat, edema (-)


Laboratorium
Hb

: 8,2 g/dL

Eritrosit

: 2.72 x 106/mm3

Leukosit

: 12.6 x 103/mm3

Hematokrit : 25 %
Trombosit : 372 x 103/L
Diff. Count : 0/5/68/19/8
A

Hemaptoe masif ec. kasus baru TB paru lesi sedang


+ Anemia ec. Perdarahan + Infeksi sekunder

Non Farmakologis :
- Istirahat
- Diet NB TKTP 2100 kkal
- Edukasi
Farmakologis :
- IVFD RL gtt XX/m makro
- Inj. Asam Tranexamat 2x1 amp (IV)
- Inj. Ceftriaxon 2x1 amp (IV)
- Ambroxol syrup 3x1 C (PO)
- As. Folat 3x1 tab (PO)
- Vit. B1, B6, B12 1x1 tab (PO)
- Rimstar 1x4 tab (PO)
Rencana :

Tanggal
S
O:

- Kultur dan resistensi MTB


- Kultur dan resistensi sputum
- Rontgen thorax lateral dextra
- Sitologi sputum
26 Juni 2015
Keluhan: Batuk darah (-)

Keadaan umum
12

Kesadaran

Compos mentis

Tekanan darah

120/ 70 mmHg

Nadi

78 x/menit

Pernapasan

20 x/ menit

Temperatur

36,5 oC

Keadaan spesifik
Kepala

Konjungtiva palpebra pucat (+/+)


Sklera ikterik (-/-)

Leher

JVP (5-2) cm H2O


Pembesaran KGB (-)

Thorax:
Paru

I: statis dan dinamis simetris, sela iga melebar (-).


P: stemfremitus kanan = kiri, nyeri tekan (-).
P: sonor di kedua lapangan paru, batas paru hepar
ICS VI, peranjakan 1 sela iga.
A: vesikuler (+) normal, ronkhi (+) basah sedang di
lapangan paru kanan atas, wheezing (-).

Jantung

I: ictus cordis tidak terlihat


P: ictus cordis tidak teraba
P: Batas jantung atas ICS II
Batas jantung kiri linea mid clavicularis sinistra
Batas jantung kanan linea sternalis dextra
A: HR 78 x/menit, reguler. Murmur (-). Gallop (-).

Abdomen

I: datar
P: lemas, nyeri tekan daerah epigastrium (-), hepar
dan lien tidak teraba membesar.
P: timpani, shifting dullness (-)
13

A: bising usus (+) normal


Ekstremitas

palmar eritem (-/-), akral hangat, edema (-)

Hemaptoe masif ec. kasus baru TB paru lesi sedang +

Anemia ec. Perdarahan + Infeksi sekunder


Non Farmakologis :
- Istirahat
- Diet NB TKTP 2100 kkal
- Edukasi
Farmakologis :
- IVFD RL gtt XX/m makro
- Inj. Asam Tranexamat 2x1 amp (IV)
- Inj. Ceftriaxon 2x1 amp (IV)
- Ambroxol syrup 3x1 C (PO)
- As. Folat 3x1 tab (PO)
- Vit. B1, B6, B12 1x1 tab (PO)
- Rimstar 1x4 tab (PO)
Rencana :
-

Kultur dan resistensi MTB


Kultur dan resistensi sputum
Rontgen thorax PA ulang
Rontgen thorax lateral dextra
Sitologi sputum

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1. Hemaptoe
A. Definisi

14

Hemaptoe (batuk darah) adalah darah berdahak yang dibatukkan yang berasal dari
saluran pernafasan bagian bawah. Dikatakan batuk darah masif apabila jumlah darah
yang keluar 600 ml dalam waktu 24 jam. Hemaptoe (hemoptysis) adalah batuk dengan
sputum yang mengandung darah yang berasal dari paru atau percabangan bronkus.1
Hemaptoe diklasifikasikan menjadi:
1. Hemaptoe masif : perdarahan lebih dari 200cc per 24 jam
2. Hemaptoe moderat : perdarahan kurang dari 200cc per 24 jam
3. Hemaptoe ringan : sputum dengan bercak darah.
B. Etiologi
Hemaptoe adalah gejala pernafasan non-spesifik dan memiliki hubungan yang
signifikan dengan TB paru.2 Etiologi hemaptoe antara lain:
1. Infeksi: penyakit paru inflamasi kronis (bronkhitis akut/ kronis, bronchiectasis
(fibrosis cystic), abses paru, aspergilloma, tuberkulosis.
2. Neoplasma: karsinoma bronchogenik, metastase pulmonal, adenoma bronkial,
sarcoma.
3. Benda asing/ trauma: aspirasi benda asing, fistula trakeovaskular, trauma dada,
broncholith.
4. Pembuluh darah pulmonal/ cardiac: gagal ventrikel kiri, stenosis katup mitral,
infark/emboli pulmonal, perforasi arteri pulmonal (komplikasi dari kateter arteri
pulmonal).
5. Alveolar hemoragik: sindrom Goodpasteur, vasculitide sistemik/ penyakit vaskular
kolagen,

obat-obatan

(nitrofurantoin,

isocyanate,

trimellitic

anhydrid,

D-

penicillamine, kokain), koagulopati.


6. Iatrogenik: post biopsi paru, rupturnya arteri pulmonal dari kateter Swan-Ganz
7. Lain-lain:

malformasi

arterivenous

pulmonal,

bronkial

telangiectasia,

pneumoconiosis.

C. Patogenesis
Setiap proses yang terjadi pada paru akan mengakibatkan hipervaskularisasi dari
cabang-cabang arteri bronkialis yang berperanan untuk memberikan nutrisi pada jaringan
15

paru, juga bila terjadi kegagalan arteri pulmonalis dalam melaksanakan fungsinya untuk
pertukaran gas.1
Mekanisma terjadinya batuk darah adalah sebagai berikut:2,3
1. Radang mukosa

Pada trakeobronkitis akut atau kronis, mukosa yang kaya pembuluh darah
menjadi rapuh, sehingga trauma yang ringan sekalipun sudah cukup untuk
menimbulkan batuk darah.
2. Infark paru

Biasanya disebabkan oleh emboli paru atau invasi mikroorganisme pada


pembuluh darah, seperti infeksi coccus, virus, dan infeksi oleh jamur.
3. Pecahnya pembuluh darah vena atau kapiler

Distensi pembuluh darah akibat kenaikan tekanan darah intraluminar seperti


pada dekompensasi cordis kiri akut dan mitral stenosis.
4. Kelainan membran alveolokapiler

Akibat adanya reaksi antibodi terhadap membran, seperti pada Goodpastures


syndrome.
5. Perdarahan kavitas tuberkulosa

Pecahnya pembuluh darah dinding kavitas tuberkulosis yang dikenal dengan


aneurisma Rasmussen; pemekaran pembuluh darah ini berasal dari cabang
pembuluh darah bronkial. Perdarahan pada bronkiektasis disebabkan
pemekaran pembuluh darah cabang bronkial. Diduga hal ini terjadi disebabkan
adanya anastomosis pembuluh darah bronkial dan pulmonal. Pecahnya
pembuluh darah pulmonal dapat menimbulkan hemoptisis masif.
6. Invasi tumor ganas
7. Cedera dada

Akibat benturan dinding dada, maka jaringan paru akan mengalami transudasi
ke dalam alveoli dan keadaan ini akan memacu terjadinya batuk darah.

D. Klasifikasi
Klasifikasi menurut Pusel:
16

+
++
+++
++++

batuk dengan perdarahan yang hanya dalam bentuk garis-garis


dalam sputum
batuk dengan perdarahan 1 30 ml
batuk dengan perdarahan 30 150 ml
batuk dengan perdarahan > 150 ml

Positif satu dan dua dikatakan masih ringan, positif tiga hemoptisis sedang, positif
empat termasuk di dalam kriteria hemoptisis masif.
Klasifikasi didasarkan pada perkiraan jumlah darah yang dibatukkan.
1. Bercak (Streaking) : <15-20 ml/24 jam
Yang sering terjadi darah bercampur dengan sutum. Umumnya pada bronkitis.
2. Hemoptisis: 20-600 ml/24 jam
Hal ini berarti perdarahan pada pembuluh darh yang lebih besar. Biasanya pada
kanker paru, pneumonia, TB, atau emboli paru.
3. Hemoptisis massif : >600 ml/24 jam
Biasanya pada kanker paru, kavitas pada TB, atau bronkiektasis.
4. Pseudohemoptisis
Merupakan batuk darah dari struktur saluran napas bagian atas (di atas laring) atau
dari saluran cerna atas atau hal ini dapat berupa perdarahan buatan (factitious).
E. Manifestasi Klinis
Untuk mengetahui penyebab batuk darah kita harus memastikan bahwa perdarahan
tersebut berasal dari saluran pernafasan bawah, dan bukan berasal dari nasofaring atau
gastrointestinal. Dengan perkataan lain bahwa penderita tersebut benar-benar batuk darah
dan bukan muntah darah.4

Tabel 1. Perbedaan Batuk Darah Dengan Muntah Darah5


No
1

Keadaan
Prodromal

Batuk Darah

Muntah Darah

Darah dibatukkan dengan

Darah dimuntahkan

rasa panas di tenggorokan

dengan rasa mual

17

Onset

Darah dibatukkan, dapat

(Stomach Distress)
Darah dimuntahkan, dapat

3
4
5

Tampilan
Warna
Isi

disertai dengan muntah


Darah berbuih
Merah segar
Lekosit, mikroorganisme,

disertai dengan batuk


Darah tidak berbuih
Merah tua
Sisa makanan

6
7

Ph
Riwayat

hemosiderin, makrofag
Alkalis
Penyakit paru

Asam
Peminum alkohol, ulcus

penyakit dahulu
8
9

(RPD)
Anemis
Tinja

pepticum, kelainan hepar


Kadang tidak dijumpai
Blood test (-) /

Sering disertai anemis


Blood Test (+) /

Benzidine Test (-)

Benzidine Test (+)

Kriteria batuk darah:3


1. Batuk darah ringan (<25cc/24 jam).
2. Batuk darah berat (25-250cc/ 24 jam).
3. Batuk darah masif (batuk darah masif adalah batuk yang mengeluarkan darah
sedikitnya 600 ml dalam 24 jam).
Kriteria yang paling banyak dipakai untuk hemoptisis masif:5
1. Apabila pasien mengalami batuk darah lebih dari 600 cc / 24 jam dan dalam
pengamatannya perdarahan tidak berhenti.
2. Apabila pasien mengalami batuk darah kurang dari 600 cc / 24 jam dan tetapi lebih
dari 250 cc / 24 jam jam dengan kadar Hb kurang dari 10 g%, sedangkan batuk
darahnya masih terus berlangsung.
3. Apabila pasien mengalami batuk darah kurang dari 600 cc / 24 jam dan tetapilebih
dari 250 cc / 24 jam dengan kadar Hb kurang dari 10 g%, tetapi selama pengamatan
48 jam yang disertai dengan perawatan konservatif batuk darah tersebut tidak
berhenti.
F. Diagnosis
Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
gambaran radiologis. Untuk menegakkan diagnosis, seperti halnya pada penyakit lain
perlu dilakukan urutan-urutan dari anamnesis yang teliti hingga pemeriksaan fisik
maupun penunjang sehingga penanganannya dapat disesuaikan.2,3
1. Anamnesis2,3
18

Untuk mendapatkan riwayat penyakit yang lengkap sebaiknya diusahakan untuk


mendapatkan data-data:
-

Jumlah dan warna darah

Lamanya perdarahan

Batuknya produktif atau tidak

Batuk terjadi sebelum atau sesudah perdarahan

Sakit dada, substernal atau pleuritik

Hubungannya perdarahan dengan : istirahat, gerakan fisik, posisi badan dan


batuk

Riwayat penyakit paru atau jantung terdahulu.

Perdarahan di tempat lain serempak dengan batuk darah

Perokok berat dan telah berlangsung lama

Sakit pada tungkai atau adanya pembengkakan serta sakit dada

Hematuria yang disertai dengan batuk darah.

Untuk membedakan antara batuk darah dengan muntah darah dapat digunakan
petunjuk sebagai berikut:
Keadaan
1. Prodromal

Hemoptoe
Rasa tidak enak di

Hematemesis
Mual, stomach distress

2. Onset

tenggorokan, ingin batuk


Darah dibatukkan, dapat

Darah dimuntahkan dapat disertai

3. Penampilan darah
4. Warna
5. Isi

disertai batuk
Berbuih
Merah segar
Lekosit, mikroorganisme,

batuk
Tidak berbuih
Merah tua
Sisa makanan

6. Reaksi
7. Riwayat Penyakit

makrofag, hemosiderin
Alkalis (pH tinggi)
Menderita kelainan paru

Asam (pH rendah)


Gangguan lambung, kelainan

Kadang-kadang
Warna tinja normal

hepar
Selalu
Tinja bisa berwarna hitam, Guaiac

Guaiac test (-)

test (-)

Dahulu
8. Anemi
9. Tinja

19

2. Pemeriksaan Fisik2,3
Untuk mengetahui perkiraan penyebab.
a. Panas merupakan tanda adanya peradangan.
b. Auskultasi :
o Kemungkinan menonjolkan lokasi.
o Ronchi menetap, whezing lokal, kemungkinan penyumbatan
oleh: Ca, bekuan darah.
c. Friction Rub : emboli paru atau infark paru
d. Clubbing : bronkiektasis, neoplasma

3. Pemeriksaan Penunjang
Foto toraks dalam posisi PA dan lateral hendaklah dibuat pada setiap
penderita hemoptisis masif. Gambaran opasitas dapat menunjukkan tempat
perdarahannya.6
Pemeriksaan bronkografi untuk mengetahui adanya bronkiektasis, sebab
sebagian penderita bronkiektasis sukar terlihat pada pemeriksaan X-foto toraks.7
Pemeriksaan dahak baik secara bakteriologi maupun sitologi (bahan dapat
diambil dari dahak dengan pemeriksaan bronkoskopi atau dahak langsung).7
4. Pemeriksaan Bronkoskopi
Bronkoskopi dilakukan untuk menentukan sumber perdarahan dan sekaligus
untuk penghisapan darah yang keluar, supaya tidak terjadi penyumbatan.
Sebaiknya dilakukan sebelum perdarahan berhenti, karena dengan demikian
sumber perdarahan dapat diketahui.6,7
Adapun indikasi bronkoskopi pada batuk darah adalah :6
a. Bila radiologik tidak didapatkan kelainan
b. Batuk darah yang berulang
c. Batuk darah masif : sebagai tindakan terapeutik
Tindakan bronkoskopi merupakan sarana untuk menentukan diagnosis,
lokasi perdarahan, maupun persiapan operasi, namun waktu yang tepat untuk
melakukannya merupakan pendapat yang masih kontroversial, mengingat bahwa
20

selama masa perdarahan, bronkoskopi akan menimbulkan batuk yang lebih


impulsif, sehingga dapat memperhebat perdarahan disamping memperburuk
fungsi pernapasan. Lavase dengan bronkoskop fiberoptik dapat menilai
bronkoskopi merupakan hal yang mutlak untuk menentukan lokasi perdarahan.6
Dalam mencari sumber perdarahan pada lobus superior, bronkoskop serat
optik jauh lebih unggul, sedangkan bronkoskop metal sangat bermanfaat dalam
membersihkan jalan napas dari bekuan darah serta mengambil benda asing,
disamping itu dapat melakukan penamponan dengan balon khusus di tempat
terjadinya perdarahan.6

G. Penatalaksanaan
Tujuan pokok terapi ialah:5
1. Mencegah asfiksia.
2. Menghentikan perdarahan.
3. Mengobati penyebab utama perdarahan.
Langkah-langkah: 5
1. Pemantauan menunjang fungsi vital
a. Pemantauan dan tatalaksana hipotensi, anemia dan kolaps kardiovaskuler.
b. Pemberian oksigen, cairan plasma expander dan darah dipertimbangkan sejak
awal.
c. Pasien dibimbing untuk batuk yang benar.
2. Mencegah obstruksi saluran napas
a. Kepala pasien diarahkan ke bawah untuk cegah aspirasi.
b. Kadang memerlukan pengisapan darah, intubasi atau bahkan bronkoskopi.
3. Menghentikan perdarahan
a. Pemasangan kateter balon oklusi forgarty untuk tamponade perdarahan.
b. Teknik lain dengan embolisasi arteri bronkialis dan pembedahan.
21

Sasaran-sasaran terapi yang utama adalah memberikan support kardiopulmoner


danmengendalikan

perdarahan

sambil

mencegah

asfiksia

yang

merupakan

penyebabutama kematian pada para pasien dengan hemoptisis masif.1,5


Masalah utama dalam hemoptisis adalah terjadinya pembekuan dalam saluran
napasyang menyebabkan asfiksia. Bila terjadi afsiksi, tingkat kegawatan hemoptisis
paling tinggi dan menyebabkan kegagalan organ yang multipel. Hemoptosis dalam
jumlah kecil dengan refleks batuk yang buruk dapat menyebabkan kematian. Dalam
jumlah banyak dapat menimbukan renjatan hipovolemik.1,5
Pada prinsipnya, terapi yang dapat dilakukan adalah:
1. Terapi konservatif
Dasar-dasar pengobatan yang diberikan sebagai berikut:2,3,5
a. Mencegah penyumbatan saluran nafas
Penderita yang masih mempunyai refleks batuk baik dapat diletakkan dalam
posisi duduk, atau setengah duduk dan disuruh membatukkan darah yang terasa
menyumbat saluran nafas. Dapat dibantu dengan pengisapan darah dari jalan nafas
dengan alat pengisap. Jangan sekali-kali disuruh menahan batuk.
Penderita yang tidak mempunyai refleks batuk yang baik, diletakkan dalam
posisi tidur miring kesebelah dari mana diduga asal perdarahan, dan sedikit
trendelenburg untuk mencegah aspirasi darah ke paru yang sehat. Kalau masih
dapat penderita disuruh batuk bila terasa ada darah di saluran nafas yang
menyumbat, sambil dilakukan pengisapan darah dengan alat pengisap. Kalau perlu
dapat dipasang tube endotrakeal.
Batuk yang terlalu banyak dapat mengakibatkan perdarahan sukar berhenti.
Untuk mengurangi batuk dapat diberikan Codein10 - 20 mg. Penderita batuk darah
masif biasanya gelisah dan ketakutan, sehingga kadang-kadang berusaha menahan
batuk. Untuk menenangkan penderita dapat diberikan sedatif ringan (Valium)
supaya penderita lebih kooperatif.
b. Memperbaiki keadaan umum penderita
Bila perlu dapat dilakukan:
1) Pemberian oksigen.
2) Pemberian cairan untuk hidrasi.
3) Tranfusi darah.
4) Memperbaiki keseimbangan asam dan basa.
c. Menghentikan perdarahan
22

Pada umumnya hemoptisis akan berhenti secara spontan. Di dalam


kepustakaan dikatakan hemoptisis rata-rata berhenti dalam 7 hari. Pemberian
kantongan es diatas dada, hemostatiks, vasopresin (Pitrissin), ascorbic acid
dikatakan khasiatnya belum jelas. Apabila ada kelainan didalam faktor-faktor
pembekuan darah, lebih baik memberikan faktor tersebut dengan infus.
Di beberapa rumah sakit masih memberikan Hemostatika (Adona Decynone)
intravena 3 - 4 x 100 mg/hari atau per oral. Walaupun khasiatnya belum jelas,
paling sedikit dapat memberi ketenangan bagi pasien dan dokter yang merawat.
d. Mengobati penyakityangmendasarinya(underlyingdisease)
Pada penderita tuberkulosis, disamping pengobatan tersebut diatas selalu
diberikan secara bersama tuberkulostatika. Kalau perlu diberikan juga antibiotika
yang sesuai.
2. Terapi pembedahan
Pembedahan merupakan terapi definitif pada penderita batuk darah masif yang
sumber perdarahannya telah diketahui dengan pasti, fungsi paru adekuat, tidak ada
kontraindikasi bedah.8
Reseksi bedah segera pada tempat perdarahan merupakan pilihan. Tindakan
operasi ini dilakukan atas pertimbangan:8
a. Terjadinya hemoptisis masif yang mengancam kehidupan pasien.
b. Pengalaman berbagai penyelidik menunjukkan bahwa angka kematian
padaperdarahan yang masif menurun dari 70% menjadi 18% dengan
tindakanoperasi.
Etiologi dapat dihilangkan sehingga faktor penyebab terjadinya hemoptisis yang
berulang dapat dicegah.
H. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi merupakan kegawatan dari hemoptosis, yaitu ditentukan
oleh tiga faktor:2,3,8
1. Terjadinya asfiksia oleh karena terdapatnya bekuan darah dalam saluran
pernapasan.
2. Jumlah darah yang dikeluarkan selama terjadinya hemoptosis dapat menimbulkan
renjatan hipovolemik.
3. Aspirasi, yaitu keadaan masuknya bekuan darah maupun sisa makanan ke dalam
jaringan paru yang sehat bersama inspirasi.
Penyulit hemoptisis yang biasanya didapatkan:2,8
23

1. Bahaya utama batuk darah ialah terjadi penyumbatan trakea dan saluran napas,
sehingga timbul sufokasi yang sering fatal. Penderita tidak tampak anemis tetapi
sianosis, hal ini sering terjadi pada batuk darah masif (600-1000 cc/24 jam).
2. Pneumonia aspirasi merupakan salah satu penyulit yang terjadi karena darah
terhisap ke bagian paru yang sehat.
3. Karena saluran nafas tersumbat, maka paru bagian distal akan kolaps dan terjadi
atelektasis.
Bila perdarahan banyak, terjadi hipovolemia. Anemia timbul bila perdarahan terjadi
dalam waktu lama.
I.

Diagnosis Banding
1. TB paru
2. Tumor paru

J. Prognosis
Pada hemoptosis idiopatik prognosisnya baik kecuali bila penderita mengalami
hemoptosis yang rekuren. Sedangkan pada hemoptisis sekunder ada beberapa faktor yang
menentukan prognosis:2,3,8
1. Tingkatan hemoptisis: hemoptisis yang terjadi pertama kali mempunyai prognosis
yang lebih baik.
2. Macam penyakit dasar yang menyebabkan hemoptisis.
3. Cepatnya kita bertindak, misalnya bronkoskopi yang segera dilakukan untuk
menghisap darah yang beku di bronkus dapat menyelamatkan penderita.
a. Hemoptisis <200 ml/24 jam prognosa baik
b. Profuse massive >600cc/24 jam prognosa jelek 85% meninggal

3.2. Tuberkulosis Paru


A. Definisi
Tuberkulosis adalah penyakit yang ditularkan melalui udara, dimana bakteri basil
yang infeksius terhirup (droplet) di udara. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksius,

24

yang terutama menyerang parenkim paru. Tuberkulosis dapat juga ditularkan ke bagian
tubuh lainnya, termasuk meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe.3
B. Gejala Klinis
Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau
lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk
darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise,
berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan.9
Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain tb,
seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan lain-lain. Mengingat
prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke
UPK dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien
TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.9

C. Tipe Penderita TB Paru


Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada
beberapa tipe pasien yaitu:
Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah
menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
Kasus kambuh (Relaps)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis
kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).
Kasus setelah putus berobat (Default )
Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan
BTA
positif.
Kasus setelah gagal (failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali
menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
Kasus Pindahan (Transfer In)
Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk
melanjutkan pengobatannya.
25

Kasus lain :
Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam kelompok ini
termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA
positif
setelah selesai pengobatan ulangan.
D. Pemeriksaan Diagnostik
Untuk mengetahui adanya tuberkulosis, dokter biasanya berpegang pada tiga
patokan utama. Pertama, hasil wawancaranya tentang keluhan pasien dan hasil
pemeriksaan yang dilakukan pada pasien yang disebut dengan anamnesis. Kedua, hasil
pemeriksaan laboratorium untuk menemukan adanya BTA pada spesimen penderita.

Pemeriksaan dahak mikroskopis 9


Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai
keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak
untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak
yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa SewaktuPagi-Sewaktu (SPS). Pemeriksaan ulang dahak untuk memantau kemajuan
pengobatan dilakukan pada :
1. Akhir tahap intensif
Dilakukan seminggu sebelum akhir pengobatan penderita baru BTA positif
dengan kategori 1 atau seminggu sebelum akhir bulan ke-3 pengobatan ulang
penderita BTA positif kategori 2.
2. Sebulan sebelum akhir pengobatan
Dilakukan seminggu sebelum akhir bulan ke-5 pengobatan penderita baru BTA
positif dengan kategori 1 atau seminggu sebelum akhir bulan ke-7 pengobatan
ulang penderita BTA positif dengan kategori 2.
3. Akhir pengobatan
Dilakukan seminggu sebelum akhir bulan ke-6 pada penderita BTA positif
dengan kategori 1 atau seminggu sebelum akhir bulan ke-8 pengobatan ulang
BTA positif dengan kategori 2. 8
Pemeriksaan dahak pada sebulan sebelum akhir pengobatan dan akhir

pengobatan bertujuan untuk menilai hasil pengobatan (apakah sembuh atau gagal).
E. Prinsip Pengobatan

26

Penatalaksanaan TB meliputi penemuan pasien dan pengobatan yang dikelola


dengan menggunakan strategi DOTS.9
Tujuan utama pengobatan pasien TB adalah menurunkan angka kematian dan
kesakitan

serta

mencegah

penularan

dengan

cara

menyembuhkan

pasien.

Penatalaksanaan penyakit TB merupakan bagian dari surveilans penyakit; tidak sekedar


memastikan pasien menelan obat sampai dinyatakan sembuh, tetapi juga berkaitan
dengan pengelolaan sarana bantu yang dibutuhkan, petugas yang terkait, pencatatan,
pelaporan, evaluasi kegiatan dan rencana tindak lanjutnya.9
Tabel 2.1. Jenis, sifat dan dosis OAT
Dosis yang direkomendasikan (mg/kg)
Jenis OAT

Sifat

Harian

3x seminggu

Isoniazid (H)

Bakterisid

Rifampicin (R)

Bakterisid

Pyrazinamide (Z)

Bakterisid

Streptomycin (S)

Bakterisid

Etambutol (E)

Bakteriostatik

5
(4-6)
10
(8-12)
25
(20-30)
15
(12-18)
15
(15-20)

10
(8-12)
10
(8-12)
35
(30-40)
15
(12-18)
30
(20-35)

Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut: 9


OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam jumlah
cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT
tunggal (monoterapi) . Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT KDT)
lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.
Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan
langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan
Obat (PMO).
Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.
Tahap awal (intensif) 9
- Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi
secara
langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
27

- Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien
menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
- Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2
bulan.
Tahap Lanjutan 9
- Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam
jangka
waktu yang lebih lama
- Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah
terjadinya kekambuhan
F. Panduan Penggunaan OAT di Indonesia9
Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis di Indonesia:
- Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
- Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE)
- Kategori Anak: 2HRZ/4HR
Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket
berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT), sedangkan kategori anak
sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak.
Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu
tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas
dalam satu paket untuk satu pasien.
Paket Kombipak
Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket, yaitu Isoniasid,
Rifampisin, Pirazinamid dan Etambutol. Paduan OAT ini disediakan program
untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT.
Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket, dengan tujuan untuk
memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas)
pengobatan sampai selesai.
Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan.

28

KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB:


1. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas
obat dan mengurangi efek samping.
2. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya
resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep
3. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi
sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien.

Paduan OAT dan peruntukannya.


1. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
Pasien baru TB paru BTA positif.
Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
Pasien TB ekstra paru

Tabel 2.2. Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1


Tahap Intensif

Tahap Lanjutan

Berat Badan

tiap hari selama 56 hari

3 kali seminggu selama 16 minggu

30-37 kg
38-54 kg
55-70 kg
71 kg

RHZE (150/75/400/275)
2 tablet 4 KDT
3 tablet 4 KDT
4 tablet 4 KDT
5 tablet 4 KDT

RH (150/150)
2 tablet 4 KDT
3 tablet 4 KDT
4 tablet 4 KDT
5 tablet 4 KDT

2. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)


Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati
sebelumnya:
Pasien kambuh
Pasien gagal
Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus)
Tabel 2.3. Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2
29

Tahap Intensif

Tahap Lanjutan

tiap hari

3 kali seminggu

RHZE (150/75/400/275) + S

RH (150/150) + E (275)

Berat Badan

30-37 kg
38-54 kg
55-70 kg
71 kg

Selama 56 hari

Selama 28 hari

Selama 20 minggu

2 tablet 4 KDT +
500 mg Streptomisin inj
3 tablet 4 KDT +
750 mg Streptomisin inj
4 tablet 4 KDT +
1000 mg Streptomisin inj
5 tablet 4 KDT +
1000 mg Streptomisin inj

2 tablet 4 KDT

2 tablet 4 KDT
+ 2 tab Etambutol
3 tablet 4 KDT
+ 3 tab Etambutol
4 tablet 4 KDT
+ 4 tab Etambutol
5 tablet 4 KDT
+ 5 tab Etambutol

3 tablet 4 KDT
4 tablet 4 KDT
5 tablet 4 KDT

Catatan:
Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah
500mg tanpa memperhatikan berat badan.
Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus.
Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest
sebanyak 3,7ml sehingga menjadi 4ml. (1ml = 250mg)

3. OAT Sisipan (HRZE)


Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori
1 yang diberikan selama sebulan (28 hari).
Tabel 2.4. Dosis KDT untuk Sisipan
Berat Badan

Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari

30-37 kg
38-54 kg
55-70 kg
71 kg

RHZE (150/75/400/275)
2 tablet 4 KDT
3 tablet 4 KDT
4 tablet 4 KDT
5 tablet 4 KDT

Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya


kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru
tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada
OAT lapis pertama. Di samping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko
resistensi pada OAT lapis kedua.
30

G. Evaluasi Pengobatan
Evaluasi Klinis
Biasanya pasien di control dalam 1 minggu pertama, selanjutnya setiap 2
minggu selama tahap intensif dan seterusnya sekali sebulan sampai akhir
pengobatan. Secara klinis hendaknya terdapat perbaikan keluhan pasien seperti
batuk yang berkurang, tidak ada batuk darah, nafsu makan bertambah dan ada

peningkatan berat badan.


Evaluasi Bakteriologis
Pemeriksaan dahak untuk menilai keberadaan kuman. Biasanya setelah 2-3
minggu perngobatan, sputum BTA mulai negatif. Pemeriksaan control sputum
dilakukan sekali sebulan. Bagi penderita dengan BTA positif setelah tahap
intensif akan mendapatkan pengobatan ulang. Bila sudah negatif, sputum
diperiksa tiga kali berturut-turut dan harus dikontrol agar tidak terjadi silent
bacterial shedding yaitu terdapat sputum BTA positif tanpa disertai keluhankeluhan TB yang relevan.

Evaluasi Radiologis
Evaluasi radiologis juga diperlukan untuk melihat kemajuan terapi. Dengan
pemeriksaan radiologis dapat dilihat keadaan TB parunya atau adanya penyakit

lain yang menyertai. Evaluasi foto dada dilakukan tiap 3 bulan sekali. 10
H. Efek Samping OAT
Sebagian besar penderita TB paru dapat menyelesaikan pengobatan tanpa efek
samping . Namun sebagian kecil dapat mengalami efek samping . Oleh karena itu ,
pemantauan kemungkinan terjadinya efek samping sangat penting dilakukan selama
pengobatan . Pemantauan dilakukan dengan cara menjelaskan kepada penderita tandatanda efek samping dan menanyakan adanya gejala efek samping pada waktu penderita
mengambil OAT. 8
Efek samping ringan dari OAT seperti tidak ada nafsu makan,mual, sakit perut ,
nyeri sendi , kesemutan sampai dengan rasa terbakar di kaki , dan warna kemerahan
pada air seni . Efek samping berat dari OAT misalnya gatal dan kemerahan kulit , tuli ,
gangguan keseimbanagn , ikterus tanpa penyebab lain , bingung dan muntah-muntah ,
gangguan penglihatan , purpura dan syok .8

31

BAB IV
ANALISIS MASALAH
Hemaptoe (batuk darah) adalah darah berdahak yang dibatukkan yang berasal dari
saluran pernafasan bagian bawah. Dikatakan batuk darah masif apabila jumlah darah yang
keluar 600 ml dalam waktu 24 jam. Hemaptoe (hemoptysis) adalah batuk dengan sputum
yang mengandung darah yang berasal dari paru atau percabangan bronkus. Hemaptoe
disebabkan oleh:1.Infeksi: penyakit paru inflamasi kronis (bronkhitis akut/ kronis,
bronchiectasis (fibrosis cystic), abses paru, aspergilloma, tuberkulosis. 2.Neoplasma:
karsinoma bronchogenik, metastase pulmonal, adenoma bronkial, sarcoma. 3.Benda asing/
trauma: aspirasi benda asing, fistula trakeovaskular, trauma dada, broncholith. 4.Pembuluh
darah pulmonal/ cardiac: gagal ventrikel kiri, stenosis katup mitral, infark/emboli
pulmonal, perforasi arteri pulmonal (komplikasi dari kateter arteri pulmonal). 5.Alveolar
hemoragik: sindrom Goodpasteur, vasculitide sistemik/ penyakit vaskular kolagen, obatobatan (nitrofurantoin, isocyanate, trimellitic anhydrid, D-penicillamine, kokain),
koagulopati. 6.Iatrogenik: post biopsi paru, rupturnya arteri pulmonal dari kateter SwanGanz.

7.Lain-lain:

malformasi

arterivenous

pulmonal,

bronkial

telangiectasia,

pneumoconiosis.
Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
gambaran radiologis.
Dari anamnesis pasien mengalami Batuk darah 1 minggu SMRS, dahak (+), kental,
warna putih sdt, bercampur darah (+) 2 sdm setiap kali batuk, frekuensi batuk darah
5x, penurunan nafsu makan (+), penurunan berat badan (+), demam (+) hilang timbul,
demam timbul saat malam hari, demam tidak terlalu tinggi, keringat pada malam hari (+).
Os lalu berobat ke RS Bhayangkara dilakukan rontgen dada dikatakan sakit paru-paru dan
32

pemeriksaan dahak sebanyak 3x yang ketiga hasilnya negatif, os disarankan berobat jalan
ke puskesmas dan diberi OBH.
1 hari SMRS, os mengeluh batuk darah bertambah banyak, banyaknya gelas air
mineral tiap kali batuk, frekuensi batuk darah 10x, darah berwarna merah segar, dahak
(+) warna putih, banyaknya 1sdm, sakit menelan (+),penurunan nafsu makan (+),
penurunan berat badan (+), demam (+) hilang timbul, demam timbul saat malam hari,
demam tidak terlalu tinggi, keringat pada malam hari (+). Os lalu datang ke IGD RSMH
Palembang. Pemeriksaan fisik ditemukan Keadaan umumtampak sakit sedang, Kesadaran
compos mentis, Tekanan Darah 120/70 mmHg Nadi 72 kali per menit, reguler, isi cukup,
tegangan kuat, Pernafasan 22 kali per menit, regular, thorakoabdominal, Suhu 36,7o C,
Berat Badan 62 kg, Tinggi Badan 170 cm, IMT 21,45 kg/mm3 (Normoweigh), RBW 98%.
Keadaan Spesifik konjungtiva palpebra pucat (+/+), Paru Perkusi sonor di kedua lapangan
paru, batas paru hepar ICS VI, peranjakan 1 sela iga, Auskultasi ronkhi (+) basah sedang di
lapangan paru kanan atas. Pemeriksaan Penunjang seperti Foto toraks dilakukan dalam
posisi PA dan lateral hendaklah dibuat pada setiap penderita hemoptisis masif. Gambaran
opasitas dapat menunjukkan tempat perdarahannya.6 Pada pasien dari hasil foto toraks
terdapat sela iga yang melebar dan terdapat infiltrat di lapang paru kanan atas ICS I-III ini
menunjukkan suatu TB paru sedang.
Pemeriksaan bronkografi untuk mengetahui adanya bronkiektasis, sebab sebagian
penderita bronkiektasis sukar terlihat pada pemeriksaan X-foto toraks.7
Pemeriksaan dahak baik secara bakteriologi maupun sitologi (bahan dapat diambil
dari dahak dengan pemeriksaan bronkoskopi atau dahak langsung).7
Pemeriksaan bronkoskopi dilakukan untuk menentukan sumber perdarahan dan
sekaligus untuk penghisapan darah yang keluar, supaya tidak terjadi penyumbatan.
Sebaiknya dilakukan sebelum perdarahan berhenti, karena dengan demikian sumber
perdarahan dapat diketahui.6,7

33

Daftar Pustaka
1. Tabrani, Rab. 2010. Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: TIM.
2. Pitoyo CW. 2006. Hemoptisis. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku ajar ilmu penyakit dalam, jilid II, edisi
IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
3. PAPDI. 2006. Hemoptisis. Dalam: Rani Aziz, Sugondo Sidartawan, Nasir Anna U.Z.,
Wijaya Ika Prasetya, Nafrialdi, Mansyur Arif. Panduan pelayanan medik. Jakarta:
Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
4. Alsagaff, Hood. 2009. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya : Airlangga
University Press.
5. Amirullah, R. 2004. Gambaran dan Penatalaksanaan

Batuk Darah di Biro

Pulmonologi RSMTH. Cermin Dunia Kedokteran No.33.


6. Alsagaff, Hood. 2009. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya : Airlangga
University Press.
7. Aru W, Bambang S, Idrus A, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II :
Tuberkulosis Paru, Edisi IV. FKUI. Jakarta. 2006 ; 998-1004.
8. Depkes RI, 2006. Pedoman Nasional Penangulangan Tuberkulosis. Jakarta.
9. Subijakto, Hubungan Pengetahuan tentang Tuberkulosis Paru dengan Kepatuhan
Berobat Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas, Proposal Skripsi, Jakarta. 2011.
Diakses pada tanggal 20 Januari 2012.
10. Aditama, Tjandra Y, 2002. Tuberkulosis : Diagnosis, Terapi dan Masalahnya.
Yayasan IDI. Jakarta.

34