Anda di halaman 1dari 6

AFASIA BROCA e.

c STROKE NON-HEMORAGIK
Rohaeni
Dokter internship BRSD Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Indonesia
Abstrak
Latar Belakang. Istilah afasia berasal dari kata Yunani yang berarti aphatos atau tidak bisa
berkata-kata. Afasia merupakan gangguan bahasa atau komunikasi akibat terjadinya gangguan
atau kerusakan otak. Bagian otak yang bertanggung jawab untuk bahasa berada di sisi kiri.
Kerusakan mungkin terjadi karena beberapa sebab berikut: 1) Stroke, stroke menyebabkan darah
tidak mampu mencapai bagian tertentu otak yang antara lain dipicu oleh kematian sel otak
karena tidak mendapatkan cukup oksigen. Stroke atau serangan otak adalah sindrom klinis yang
awal timbulnya mendadak, progresif, cepat, berupa defisit neurologis fokal dan atau global, yang
berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian, dan semata-mata
disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non traumatik. Stroke non hemoragik
didefinisikan sebagai gangguan cerebrovaskular yang disebabkan oleh tersumbatnya pembuluh
darah akibat penyakit tertentu seperti aterosklerosis, arteritis, trombus dan embolus. Faktor
resiko terjadinya stroke nonhemoragik, antara lain hipertensi, diabetes mellitus (DM), penyakit
jantung, hiperkolesterolemi, merokok. 2) Benturan pada kepala, benturan keras ke kepala juga
dapat merusak otak. 3) Infeksi dan tumor, infeksi dan tumor pada otak bisa menyebabkan afasia.
Kerusakan ini dapat mempengaruhi pemahaman bahasa serta kemampuan membaca dan
menulis. Kasus. Seorang laki- laki 65 tahun datang dengan keluhan sulit berbicara namun
mengerti pembicaraan secara tiba2 sejak 1 bulan yang lalu.. Keluhan tidak disertai muntah,
penurunan kesadaran, pandangan kabur, maupun nyeri kepala tetapi disertai berbicara pelo.
Pemeriksaan fisik didapatkan TD150/90 mmHg, N. Cranial : Parese N.VII Dextra Sentral dan
parese N.XII. Kesimpulan. Diagnosa afasia broca, parese N.VII Dextra Sentral dan parese N.XII
e.c stroke non hemoragik ditegakkan.
Kata kunci: afasia broca, parese N. Cranialis VII dextra sentral, parese N.XII, stroke non
hemoragik

Pendahuluan

kata-kata tanpa arti tanpa mereka sendiri

Istilah afasia berasal dari kata Yunani

menyadarinya. Selain itu, penderita juga

yang berarti aphatos atau tidak bisa

menghadapi kesulitan memahami apa yang

berkata-kata. Afasia merupakan gangguan

dikatakan orang lain. Terjadi pula penurunan

bahasa atau komunikasi akibat terjadinya

kemampuan membaca sekaligus menulis. 2.

gangguan atau kerusakan otak. Bagian otak

Brocas Aphasia, jenis Afasia ini juga

yang bertanggung jawab untuk bahasa

dikenal sebagai Non Fluent Aphasia atau

berada di sisi kiri. Kerusakan mungkin

Expressive Aphasia atau Motor Aphasia.

terjadi karena beberapa sebab berikut: 1.

Kondisi ini terjadi akibat kerusakan di

Stroke, stroke menyebabkan darah tidak

bagian depan otak yang merupakan daerah

mampu mencapai bagian tertentu otak yang

yang dominan untuk kemampuan bahasa.

antara lain dipicu oleh kematian sel otak

Seseorang yang menderita jenis afasia ini

karena tidak mendapatkan cukup oksigen. 2.

akan

Benturan pada kepala, benturan keras ke

kalimat lengkap(Lloyd et al, 2009). Mereka

kepala juga dapat merusak otak. 3. Infeksi

juga kesulitan dalam menentukan arah

dan tumor, infeksi dan tumor pada otak bisa

apakah kiri atau kanan. Namun, penderita

menyebabkan afasia. Kerusakan ini dapat

umumnya masih bisa memahami apa yang

mempengaruhi pemahaman bahasa serta

dikatakan orang lain tanpa kesulitan berarti.

kemampuan membaca dan menulis.

Berbeda dengan Wernicke aphasia, orang

mengalami

kesulitan

membentuk

Berikut adalah jenis afasia:1. Wernicke

yang mengalami Brocas aphasia masih

Aphasia, Wernicke Aphasia juga dikenal

sadar ketika mengatakan hal yang salah

sebagai Receptive Aphasia atau Fluent

(tidak masuk akal) (Mardjono, 2006). 3.

Aphasia

Global Aphasia, ini adalah kasus parah yang

atau

Sensory

Aphasia(PERDOSSI, 2007). Dalam kasus

merupakan

gabungan

dari

dua

afasia

ini, sisi kiri tengah otak (bagian kendali

sebelumnya. Orang yang mengalami kondisi

bahasa) mengalami kerusakan sehingga

ini kehilangan kemampuan total untuk

mengarah ke afasia. Orang yang mengalami

berbicara atau menulis atau membacaGlobal

kondisi ini masih bisa membentuk kalimat

afasia akan membuat seseorang sama sekali

panjang, tetapi dengan tingkat kesulitan

tidak mampu berkomunikasi. 4. Anomia

tertentu. Kalimat yang terbentuk bisa saja

Aphasia, jenis afasia ini juga dikenal sebagai

tidak masuk akal yang berupa rangkaian

Nominal Aphasia atau Anomic Aphasia

atau Amnesic Aphasia. Segala macam


trauma yang
memicu

mempengaruhi otak bisa

masalah

ini. Anomia

Pasien punya riwayat srtoke 2 tahun


yang lalu dengan pengobatan yang tidak

aphasia

terkontrol, diabetes mellituss (-), penyakit

membuat penderitanya mengalami kesulitan

jantung (-). Riwayat anggota keluarga yang

mengingat kata untuk menyusun kalimat

stroke (-); Riwayat darah tinggi (+); Riwayat

saat berbicara atau menulis (Lumban, 2006).

kencing manis (-). Pasien mengaku jarang


berolahraga, aktivitasnya hanya saat bekerja

Kasus

di rumah saja Pasien menyangkal konsumsi

Seorang laki-laki 65 tahun datang


dengan keluhan sulit berbicara namun

minuman beralkohol.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan

mengerti pembicaraan secara tiba2 sejak 1

keadaan

bulan yang lalu.. Keluhan tidak disertai

kesadaran compos mentis, tekanan darah

muntah, penurunan kesadaran, pandangan

150/90 mmHg, nadi 90 kali permenit,

kabur, maupun nyeri kepala tetapi disertai

pernapasan 18 kali permenit, suhu 36,8 0C.

berbicara pelo saat dibawa oleh keluarga ke

Status generalis didapatkan kepala, mata,

UGD RSUD Luwuk. Saat di UGD RSUD

hidung, leher, jantung, paru dan abdomen

Luwuk, tekanan darah pasien diukur dengan

dalam batas normal.

hasilnya

umum

tampak

sakit

sedang,

Pemeriksaan neurologis: kekuatan otot

adalah 150/90 mmHg.

didapatkan hasil 5 pada semua anggota

Pasien menyangkal adanya perasaan

gerak.

Refleks

fisiologis

(+);

reflex

kesemutan atau baal di wajah atau di

patologis : Babinsky -/-. Dari laboratorium

anggota geraknya sebelum kejadian. Pasien

didapatkan hasil leukosit 6100/l; GDS 112,

masih sulit menelan (makanan padat, lunak,

kolesterol total : 210 mg/dl, LDL : 140

maupun cair), masih dapat BAK dan BAB,

mg/dl, HDL : 65 mg/dl kalium : 4,2 mg/dl ,

serta

klorida : 106 mg/dl.

dapat

maupun

menahan

BAK

seperti

keinginan
biasa

BAB
(tidak

mengompol). Untuk aktivitas sehari-hari


(penggunaan toilet,

Pembahasan

makan, berpakaian,

Berdasarkan anamnesa pasien seorang

mandi), pasien tidak memerlukan bantuan

laki- laki 65 tahun datang dengan keluhan

orang lain.

sulit berbicara namun mengerti pembicaraan


secara tiba2 sejak 1 bulan yang lalu SMRS.

Keluhan tidak disertai muntah, penurunan

gajah mada kemudian disesuaikan dengan

kesadaran, pandangan kabur, maupun nyeri

kriteria yang ada untuk menentukan jenis

kepala tetapi disertai berbicara pelo..

stroke. Perhitungan algoritma gajah mada

R/

stroke sebelumnya (+) dengan

yang dinilai adalah ada/tidaknya penurunan

riwayatan pengobatan yang tidak rutin, R/

kesadaran, ada/tidaknya nyeri kepala, dan

diabetes melitus (-), R/ penyakit jantung (-).

terdapat/tidaknya refleks babinsky. Hasil

Riwayat anggota keluarga yang stroke (-);

dari perhitungan algoritma gajah mada

Riwayat darah tinggi (+); Riwayat kencing

dinyatakan stroke hemoragik (perdarahan

manis (-). Dilihat dari faktor resiko berupa

intraserebral) jika didapatkan ketiganya

usia, dan jenis kelamin maka pasien

(+)/2 dari 3 kriteria (+), jika didapatkan

memiliki resiko tinggi untuk terjadinya

penurunan kesadaran (+), jika terdapatkan

stroke berulang, terutama dengan seseorang

nyeri kepala (+), sedangkan dinyatakan

yang punya riwayat pernah terkena stroke

stroke non hemoragik jika didapatkan

sebelumnya (Rismanto, 2006).

refleks babinsky saja yang postif (+) atau

Pasien

juga

mengaku

jarang

berolahraga, aktivitasnya hanya saat bekerja

ketiga kriteria tidak ditemukan atau negatif


(-). Pada kasus ini

di rumah saja. Dari kebiasaan pasien sehari-

tidak terdapat penurunan kesadaran,

hari semakin meningkatkan resiko terjadinya

pada

stroke karena kebiasaan makanan yang

didapatkan hasil (-/+), nyeri kepala (+) dan

bersantan, berlemak dan goreng- gorengan

maka

sehari harinya dan jarang berolahraga dapat

dinyatakan stroke non hemoragik (Isabel et

meningkatkan

al, 2006).

resiko

terjadinya

stroke

(Oviana, 2013).

pemeriksaan
dari

hasil

reflek

perhitungan

Tabel 1. Siriraj Stroke Score

Pemeriksaan

fisik

didapatkan

A. Derajat Kesadaran

TD150/90 mmHg, N. Cranial : Parese N.VII

- Koma: 2

Dextra Sentral dan parese N.XII. Dari hasil

- Apatis: 1

anamnesa

dan

pemeriksaan

maupun

penunjang

dapat

baik

fisik

dilakukan

perhitungan menurut penilaian kategori

- Sadar: 0
B. Muntah

- ( + ): 1
-(-):2

stroke dengan menggunakan algoritma gajah

C. Sakit Kepala

mada. Penilaian hasil perhitungan algoritma

- ( + ): 1

babinsky
dapat

-(-):2

Pemberian ringer laktat karena pasien ini

D. Tanda-tanda Ateroma

mengalami gangguan homeostatis dan harus

1. Angina Pectoris

segera diberi infus untuk mengembalikan

- (+): 1

keseimbangan air dan elektrolit pasien.

- ( -): 2

Pemberian vitamin B sebagai vitamin untuk

2. Claudicatio Intermiten
- (+): 1
- (- ): 2

gangguan

neurologiknya.

piracetam

bertujuan

Penggunaan

untuk

mengobati

gangguan serebrovaskular dan insufisiensi

3. Diabetes Mellitus
- (+): 1

sirkulasi serebral. Pemberian vasodilator

- (- ): 2

dalam kasus ini diberikan citicoline untuk

Perhitungan dengan menggunakan siriraj

mengatasi

stroke score dengan menggunakan rumus,

mempercepat rehabilitasi tungkai atas dan

yaitu: SSS = (2,5 x kesadaran) + (2 x

bawah

muntah) + (2 x sakit kepala) + (0,1 x TD

disarankan

diastole) (3 x ateroma) 12. Rumus

medik untuk memberi kemampuan kepada

tersebut memiliki skor untuk menentukan

penderita yang telah mengalami disabilitas

jenis stroke yang terjadi. Jika hasilnya 0

fisik dan atau penyakit kronis, agar dapat

maka pemeriksa harus melihat hasil CT

hidup atau bekerja sepenuhnya

scan, jika hasilnya -1 dapat dinyatakan

dengan kapasitasnya. Program rehabilitasi

stroke

medik yang dapat diikuti pasien berupa

non

hemoragik/infark/ischemik,

sedangkan jika hasil yang didapat 1 dapat

infark

pada

cerebral

pasien

dan

ini.Pasien

untuk menjalani

dapat
akan

rehabilitasi

sesuai

fisioterapi, dan psikoterapi.

dinyatakan stroke hemoragik.


Dari hasil anamnesis, pemeriksaan baik fisik

Simpulan

maupun penunjang serta hasil perhitungan

Diagnosa afasia broca, parese N.VII

skor dapat ditegakkan diagnosa sebagai

Dextra Sentral dan parese N.XII e.c stroke

berikut: diagnosis klinis yaitu hemiparese

non hemoragik ditegakkan pada pasien

sinistra. Diagnisis topik yaitu Infark cerebri

seorang laki- laki 65 tahun. Berdasarkan

dextra,

infark

diagnosis

cerebellum

etiologik

hemoragik
dislipidemia.

dengan

yaitu

dextra

dan

anamnesia dan pemeriksaan fisik, serta telah

stroke

non

ditatalaksana

faktor

resiko

baik

secara

non

medikamentosa dan medikamentosa yang


sesuai dengan evidence base medicine.

Daftar Pustaka
1. Goldstein LB, Adams R, Alberts MJ, Appel LJ. 2006. Primary prevention of ischemic
stroke: A Guideline From the American Heart Association/ American Stroke Association
Stroke Counsil. Stroke.37:1583-1633.
2. Isabel C, Samatra DP, & Nuartha A. 2003. Penentuan stroke hemoragik dan
nonhemoragik memakai scoring stroke dalam Kongres Nasional V. 9-13 Juli 2003. SanurBali.
3. Lambardo MC. 2005. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit edisi ke empat.
964-72.
4. Lloyd JD, Adams R, Carnethon M, Simone G, Ferguson B, Flegal K. 2009. Heart disease
and stroke statistics-2009 Update : A report from the American Heart Association
Statistics Committee and stroke statistics subcommittee. Circulation.119:e21-e181.
5. Mardjono M. 2006. Mekanisme gangguan vascular susunan saraf dalam Neurologi klinis
dasar edisi kesebelas. Dian Rakyat. 270-93.
6. Oviana Y. 2013. Hubungan pola makan, olahraga dan merokok terhadap prevalensi
penyakit stroke non hemoragik. The Jambi Medical Journal.
7. PERDOSSI. 2007. Konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia. Jakarta:3-7.
8. Price SA & Wilson LM. 2006. Patofisiologi, konsep klinis proses-proses penyakit jilid 2.
Jakarta: EGC. 2006: 1110-19.
9. Prasetya Y. 2006. Faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian stroke non
hemoragik. Universitas Diponegoro.
10. Rismanto. 2006. Gambaran faktor-faktor risiko penderita stroke di instalasi rawat jalan
Rsud Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2006. FKM UNDIP.
11. Semarang. http://www.fkm.undip.ac.id.