Anda di halaman 1dari 13

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

Pengukuran Kinerja Sektor Publik

Kelompok 2
A.A. Gede Raka Plasa N.

0915351128

Dewa Ketut Wira Santana

1115351076

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Program Ekstensi
Universitas Udayana
2015
1

PENGUKURAN KINERJA ORGANISASI


SEKTOR PUBLIK
A. PENGUKURAN KINERJA ORGANISASI SEKTOR PUBLIK
Sistem pengukuran kinerja sektor publik adalah suatu sistem yang bertujuan untuk
membantu manajer publik menilai pencapaian suatu strategi melalui alat ukur finansial dan
non-finansial. Sistem pengukuran kinerja dapat dijadikan sebagai alat pengendalian
organisasi, karena pengukuran kinerja diperkuat dengan menetapkan reward and punishment
system.
Maksud dilakukannya pengukuran kinerja sektor publik :
1.

Membantu memperbaiki kinerja pemerintah.

2.

Pengalokasian sumber daya dan pembuatan keputusan.

3.

Mewujudkan pertanggungjawaban publik dan memperbaiki komunikasi kelembagaan.


Kinerja sektor publik bersifat multidimensional, sehingga tidak ada indikator tunggal
yang dapat digunakan untuk menunjukkan kinerja secara komprehensif dan sifat output yang
dihasilkan lebih banyak bersifat intagible output.
Tujuan Sistem Pengukuran Kinerja secara umum adalah :

a. Mengkomunikasikan strategi secara lebih baik (top down dan bottom up);
b. Mengukur kinerja finansial dan non-finansial secara berimbang sehingga dapat ditelusur
perkembangan pencapaian strategi;
c. Mengakomodasi pemahaman kepentingan manajer level menengah dan bawah serta
memotivasi untuk mencapai goal congruence;
d. Sebagai alat untuk mencapai kepuasan berdasarkan pendekatan individual dan kemampuan
kolektif yang rasional.
Manfaat Pengukuran Kinerja adalah :
a. Memberikan pemahaman mengenai ukuran yang digunakan untuk menilai kinerja
manajemen;
b. Memberikan arah untuk mencapai target kinerja yang telah ditetapkan;
c. Sebagai media monitor, evaluasi, dan koreksi atas pencapaian kinerja;
2

d. Sebagai dasar untuk memberikan penghargaan dan hukuman (reward & punishment) secara
obyektif;
e. Sebagai alat komunikasi antara bawahan dan pimpinan;
f.

Mengidentifikasi tingkat kepuasan pelanggan;

g.

Membantu memahami proses kegiatan instansi pemerintah;

h.

Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara obyektif.

B.

INFORMASI YANG DIGUNAKAN UNTUK PENGUKURAN KINERJA

1. Informasi Finansial.
Penilaian kinerja finansial dilakukan dengan menganalisis varians antara kinerja aktual
dengan yang dianggarkan.
Analisis Varians secara garis besar :
a. Varians Pendapatan (revenue variance)
b. Varians Pengeluaran/Belanja ( expenditure variance )
c. Varians belanja rutin (recurrent expenditure variance)
d. Varians belanja investasi/modal (capital expenditure variance)
Setelah analisis varians dilanjutkan dengan mengidentifikasi sumber penyebab
terjadinya varians tersebut (apa, siapa/bagian mana, kenapa, dan bagaimana). Keterbatasan
analisis varians diantaranya adalah kesulitan menetapkan batasan besarnya varians.
2. Informasi Non Finansial.
Informasi non-finasial dapat menambah keyakinan terhadap kualitas proses
pengendalian manajemen. Teknik pengukuran komprehensif yang banyak dikembangkan oleh
berbagai organisasi dewasa ini adalah Balanced Scorecard.
Pengukuran dengan metode Balanced Scorecard melibatkan empat aspek, yaitu :
a. Perspektif finansial (finansial perspective),
b. Perspektif kepuasan pelanggan (custumer perspective,
c. Perspektif efisiensi proses internal (internal process efficiency), dan
d. Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan (learning and growth perspective).
Jenis informasi nonfinasial dapat dinyatakan dalam bentuk variabel kunci (key
variable) atau sering dinamakan sebagai key succes factor, key result factor, atau pulse point.

Variabel kunci adalah variabel yang mengindikasikan faktor-faktor yang menjadi sebab
kesuksesan organisasi.
Karakteristik variabel kunci antara lain :
Menjelaskan faktor pemicu keberhasilan dan kegagalan organisasi;
Perubahannya tidak dapat diprediksi;
Jika terjadi perubahan perlu diambil tindakan segera;
Variabel tersebut dapat diukur, baik secara langsung maupun tidak langsung.
C. PERANAN INDIKATOR KINERJA DALAM PENGUKURAN KINERJA.
Pengukuran kinerja dilakukan dengan mengembangkan variabel kunci yang sudah
teridentifikasi menjadi indikator kinerja. Indikator kinerja dapat berbentuk faktor keberhasilan
utama organisasi dan indikator kunci. Indikator kinerja penting untuk mengetahui apakah
aktivitas atau program telah dilakukan secara efisien dan efektif.
Penentuan indikator kinerja perlu dipertimbangkan komponen berikut :
1.

Biaya pelayanan (cost of service);


Indikator biasanya diukur dalam bentuk biaya unit.

2.

Penggunaan (utilization);
Indikator penggunaan membandingkan antara supply of service (pelayanan yang ditawarkan)
dengan public demand (permintaan publik)

3.

Kualitas dan Standar pelayanan (quality and standards);


Indikator kualitas dan standar pelayanan merupakan indikator yang paling sulit diukur.

4.

Cakupan pelayanan (coverage);


Indikator cakupan pelayanan perlu dipertimbangkan apabila terdapat kebijakan atau peraturan
perundangan yang mensyaratkan untuk memberikan pelayanan dengan tingkat pelayanan
minimal yang telah ditetapkan.

5.

Kepuasan (satisfaction).
Indikator kepuasan biasanya diukur melalui metode jajak pendapat secara langsung.

D. INDIKATOR KINERJA DAN PENGUKURAN VALUE FOR MONEY.

Value for money merupakan inti pengukuran kinerja pada organisasi pemerintah.
Permasalahan yang sering dihadapi adalah sulitnya mengukur output, karena output yang
dihasilkan tidak selalu berupa output yang berwujud, akan tetapi lebih banyak berupa
intagible output. Istilah ukuran kinerja (mengacu pada penilaian kinerja secara langsung)
pada dasarnya berbeda dengan istilah indikator kinerja (mengacu pada penilaian kinerja
secara tidak langsung).
Mekanisme untuk menentukan indikator kinerja sebagai berikut :
a. Sistem perencanaan dan pengendalian
b. Spesifikasi teknis dan standardisasi
c. Kompetensi teknis dan profesionalisme
d. Mekanisme ekonomi dan dan mekanisme pasar
Mekanisme ekonomi terkait dengan pemberian penghargaan dan hukuman (reward &
punishment) yang bersifat finansial, sedangkan mekanisme pasar terkait dengan
penggunaan sumber daya yang menjamin terpenuhinya value for money
e. Mekanisme sumber daya manusia
Peran indikator kinerja bagi pemerintah antara lain :
Untuk membantu memperjelas tujuan organisasi;
Untuk mengevaluasi target akhir (final outcome) yang dihasilkan;
Sebagai masukan untuk menentukan skema insentif manajerial;
Memungkinkan bagi pemakai jasa layanan pemerintah untuk melakukan pilihan;
Untuk menunjukkan standar kinerja;
Untuk menunjukkan efektivitas;
Untuk membantu menentukan aktivitas yang memiliki efektivitas biaya yang paling baik
untuk mencapai target sasaran; dan
Untuk menunjukkan wilayah, bagian, atau proses yang masih potensial untuk dilakukan
penghematan biaya.

Permasalahan teknis yang dihadapi saat pengukuran ekonomi, efisiensi dan efektivitas
(value for money) organisasi adalah bagaimana membandingkan input dengan output untuk
menghasilkan ukuran efisiensi yang memuaskan jika output yang dihasilkan tidak dapat
5

dinilai dengan harga pasar. Solusi praktis atas masalah tersebut adalah dengan cara
membandingkan input finansial (biaya) dengan output nonfinansial, misalnya biaya unit (unit
cost statistics).
E.

PENGUKURAN VALUE FOR MONEY.


Kriteria pokok yang mendasari pelaksanaan manajemen publik dewasa ini adalah
ekonomi, efisiensi, efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas publik. Tujuan yang
dikehendaki oleh masyarakat mencakup pertanggungjawaban mengenai pelaksanaan value
for money, yaitu: ekonomis (hemat dan cermat) dalam pengadaan dan alokasi sumber daya,
efisien (berdayaguna) dalam penggunaan sumber daya dalam arti penggunaannya
diminimalkan dan hasilnya dimaksimalkan (maximizing benefits and minimizing costs), serta
efektif (berhasil guna) dalam arti mencapai tujuan dan sasaran.
Value for money merupakan konsep pengelolaan organisasi sektor publik yang
mendasarkan pada tiga elemen utama, yaitu: ekonomi, efisiensi, dan efektivitas.
a. Ekonomi : pemerolehan input dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada harga yang
terendah.

Ekonomi

merupakan

perbandingan input dengan input

value yang

dinyatakan dalam satuan moneter.


b. Efisiensi : pencapaian output yang maksimum dengan input tertentu atau penggunaan
input yang rendah untuk mencapai output tertentu. Efisiensi merupakan perbandingan
output/input yang dikaitkan dengan standar kinerja atau target yang telah ditetapkan.
c. Efektivitas : tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan. Secara
sederhana efektivitas merupakan perbandingan outcome dengan output.
F.

PENGEMBANGAN INDIKATOR VALUE FOR MONEY.


Indikator value for money dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
(1) indikator alokasi biaya (ekonomi dan efisiensi)
(2) indikator kualitas pelayanan (efektivitas)

Gambar Pengukuran Value for Money


Input merupakan sumber daya yang digunakan untuk pelaksanaan suatu kebijakan, program,
dan aktivitas
Output merupakan hasil yang dicapai dari suatu program, aktivitas, dan kebijakan.
Outcome adalah dampak yang ditimbulkan dari suau aktivitas tertentu.
G.

LANGKAH-LANGKAH PENGUKURAN VALUE FOR MONEY.


Pengukuran Ekonomi

Apakah biaya organisasi lebih besar dari yang telah dianggarkan oleh organisasi?

Apakah biaya organisasi lebih besar daripada biaya organisasi lain yang sejenis yang dapat
diperbandingkan?

Apakah organisasi telah menggunakan sumberdaya finansialnya secara optimal?


Pengukuran Efisiensi
Efisiensi diukur dengan rasio antara output dengan input. Semakin besar output dibanding
input, maka semakin tinggi tingkat efisiensi suatu organisasi.
Perbaikan efisiensi dapat dilakukan dengan cara :

a. Meningkatkan output pada tingkat input yang sama


b.

Meningkatkan output dalam proporsi yang lebih besar daripada proporsi peningkatan input

c. Menurunkan input pada tingkatan output yang sama


d. Menurunkan input dalam proporsi yang lebih besar daripada proporsi penurunan output

Pengukuran Efektivitas
a.

Efektivitas adalah ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi mencapai tujuannya.

b.

Efektivitas tidak menyatakan tentang berapa besar biaya yang telah dikeluarkan untuk
mencapai tujuan tersebut.

c.

Efektivitas hanya melihat apakah suatu program atau kegiatan telah mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
7

Pengukuran Outcome
Outcome adalah dampak suatu program atau kegiatan terhadap masyarakat.

Gambar Elemen-elemen Pengukuran Kinerja VFM


Pengukuran outcome memiliki dua peran,
Peran retrospektif penilaian kinerja masa lalu : menentukan apakah manfaat yang
diharapkan (expected benefit) dari suatu program publik telah terwujud

Peran prospektif terkait dengan perencanaan kinerja di masa yang akan datang :
memberikan bukti terhadap praktik yang baik (good management). Bukti tersebut dapat
menjadi dasar untuk menetapkan target di masa yang akan datang dan mendorong untuk
menggunakan praktik yang terbaik.
Estimasi Indikator Kinerja
Kinerja tahun lalu

Merupakan benchmark (perbandingan) bagi unit tersebut untuk melihat seberapa besar kinerja
yang telah dilakukan
Expert Judgment
Menggunakan pengetahuan dan pengalaman dalam mengestimasi indikator kinerja.
Trend
Trend digunakan dalam mengestimasi indikator kinerja karena adanya pengaruh waktu dalam
pencapaian kinerja unit kerja.
H. PERSPEKTIF DALAM BALANCED SCORECARD
Adapun perspektif-perspektif yang ada di dalam BSC adalah sebagai berikut :
1. Perspektif Keuangan
BSC memakai tolak ukur kinerja keuangan seperti laba bersih dan ROI, karena tolak
ukur tersebut secara umum digunakan dalam perusahaan untuk mengetahui laba. Tolak ukur
keuangan saja tidak dapat menggambarkan penyebab yang menjadikan perubahan kekayaan
yang diciptakan perusahaan atau organisasi (Mulyadi dan Johny Setyawan, 2000).
Balanced Scorecard adalah suatu metode pengukuran kinerja yang di dalamnya ada
keseimbangan antara keuangan dan non-keuangan untuk mengarahkan kinerja perusahaan
terhadap keberhasilan. BSC dapat menjelaskan lebih lanjut tentang pencapaian visi yang
berperan di dalam mewujudkan pertambahan kekayaan tersebut (Mulyadi dan Johny
Setyawan, 2000) sebagai berikut :
1. Peningkatan customer 'yang puas sehingga meningkatkan laba (melalui peningkatan
revenue).
2. Peningkatan produktivitas dan komitmen karyawan sehingga meningkatkanlaba
(melalui peningkatan cost effectiveness).
3. Peningkatan kemampuan perasahaan untuk menghasilkan financial returns dengan
mengurangi modal yang digunakan atau melakukan investasi daiam proyek yang
menghasilkan return yang tinggi.
Di dalam Balanced Scorecard, pengukuran finansial mempunyai dua peranan penting,
di mana yang pertama adalah semua perspektif tergantung pada pengukuran finansial yang
menunjukkan implementasi dari strategi yang sudah direncanakan dan yang kedua adalah
9

akan memberi dorongan kepada 3 perspektif yang lainnya tentang target yang harus dicapai
dalam mencapai tujuan organisasi. Menurut Kaplan dan Norton, siklus bisnis terbagi 3 tahap,
yaitu: bertumbuh (growth), bertahan (sustain), dan menuai (harvest), di mana setiap tahap
dalam siklus tersebut mempunyai tujuan fmansial yang berbeda. Growth merupakan tahap
awal dalam siklus suatu bisnis.
2. Perspektif Pelanggan
Dalam perspektif pelanggan, perusahaan perlu terlebih dahulu menentukan segmen
pasar dan pelanggan yang menjadi target bagi organisasi atau badan usaha. Selanjutnya,
manajer harus menentukan alat ukur yang terbaik untuk mengukur kinerja dari tiap unit
opetasi dalam upaya mencapai target finansialnya. Selanjutnya apabila suatu unit bisnis ingin
mencapai kinerja keuangan yang superior dalam jangka panjang, mereka harus menciptakan
dan menyajikan suatu produk baru/jasa yang bernilai lebih baik kepada pelanggan mereka
(Kaplan, dan Norton, 1996). Ada 2 kelompok pengukuran dalam perspektif pelanggan, yaitu :
1. Kelompok pengukuran inti (core measurement group).
Kelompok pengukuran ini digunakan untuk mengukur bagaimana perusahaan memenuhi
kebutuhan pelanggan dalam mencapai kepuasan, mempertahankan, memperoleh, dan merebut
pangsa pasar yang telah ditargetkan. Dalam kelompok pengukuran inti, kita mengenal lima
tolak ukur, yaitu: pangsa pasar, akuisisi pelanggan (perolehan pelanggan), retensi pelanggan
(pelanggan yang dipertahankan), kepuasan pelanggan, dan profitabilitas pelanggan.
2. Kelompok pengukuran nilai pelanggan (customer value proposition).
Kelompok pengukuran ini digunakan untuk mengetahui bagaimana perusahaan mengukur
nilai pasar yang mereka kuasai dan pasar yang potensial yang mungkin bisa mereka masuki.
Kelompok pengukuran ini juga dapat menggambarkan pemacu kinerja yang menyangkut apa
yang harus disajikan perusahaan untuk mencapai tingkat kepuasan, loyalitas, retensi, dan
akuisisi pelanggan yang tinggi. Value proposition menggambarkan atribut yang disajikan
perusahaan dalam produk/jasa yang dijual untuk menciptakan loyalitas dan kepuasan
pelanggan. Kelompok pengukuran nilai pelanggan terdiri dari :
a. Atribut produk/jasa, yang meliputi: fungsi, harga, dan kualitas produk.

10

b. Hubungan dengan pelanggan, yang meliputi: distribusi produk kepada pelanggan,


termasuk respon dari perusahaan, waktu pengiriman, serta bagaimana perasaan
pelanggan setelah membeli produk/jasa dari perusahaan yang bersangkutan.
c. Citra dan reputasi, yang menggambarkan faktor intangible bagi perusahaan untuk
menarik pelanggan untuk berhubungan dengan perusahaan, atau membeli produk.
3. Perspektif Proses Bisnis Internal
Perspektif proses bisnis internal menampilkan proses kritis yang memungkinkan unit
bisnis untuk memberi value proposition yang mampu menarik dan mempertahankan
pelanggannya di segmen pasar yang diinginkan dan memuaskan harapan para pemegang
saham melalui financial retuns (Simon, 1999).
Tiap-tiap perasahaan mempunyai seperangkat proses penciptaan nilai yang unik bagi
pelanggannya. Secara umum, Kaplan dan Norton (1996) membaginya dalam 3 prinsip dasar,
yaitu :
1. Proses inovasi.
Proses inovasi adalah bagian terpenting dalam keseluruhan proses produksi. Tetapi ada juga
perusahaan yang menempatkan inovasi di luar proses produksi. Di dalam proses inovasi itu
sendiri terdiri atas dua komponen, yaitu: identifikasi keinginan pelanggan, dan melakukan
proses perancangan produk yang sesuai dengan keinginan pelanggan. Bila hasil inovasi dari
perusahaan
tidak sesuai dengan keinginan pelanggan, maka produk tidak akan mendapat tanggapan
positif dari pelanggan, sehingga tidak memberi tambahan pendapatan bagi perasahaan bahkan
perasahaan haras mengeluarkan biaya investasi pada proses penelitian dan pengembangan.
2. Proses operasi.
Proses operasi adalah aktivitas yang dilakukan perusahaan, mulai dari saat penerimaan order
dari pelanggan sampai produk dikirim ke pelanggan. Proses operasi menekankan kepada
penyampaian produk kepada pelanggan secara efisien, dan tepat waktu. Proses ini,
berdasarkan fakta menjadi fokus utama dari sistem pengukuran kinerja sebagian besar
organisasi.
3. Pelayanan purna jual.
11

Adapun pelayanan purna jual yang dimaksud di sini, dapat berupa garansi, penggantian untuk
produk yang rusak, dll.
4. Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan
Perspektif ini menyediakan infrastruktur bagi tercapainya ketiga perspektif
sebelumnya, dan untuk menghasilkan pertumbuhan dan perbaikan jangka panjang. Penting
bagi suatu badan usaha saat melakukan investasi tidak hanya pada peralatan untuk
menghasilkan produk/jasa, tetapi juga melakukan investasi pada infrastruktur, yaitu: sumber
daya manusia, sistem dan prosedur. Tolak ukur kinerja keuangan, pelanggan, dan proses bisnis
internal dapat mengungkapkan kesenjangan yang besar antara kemampuan yang ada dari
manusia, sistem, dan prosedur. Untuk memperkecil kesenjangan itu, maka suatu badan usaha
harus melakukan investasi dalam bentuk reskilling karyawan, yaitu: meningkatkan
kemampuan sistem dan teknologi informasi, serta menata ulang prosedur yang ada.
Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan mencakup 3 prinsip kapabilitas yang terkait dengan
kondisi intemal perusahaan, yaitu :
1. Kapabilitas pekerja.
Kapabilitas pekerja adalah merupakan bagian kontribusi pekerja pada perusahaan.
Sehubungan dengan kapabilitas pekerja, ada 3 hal yang harus diperhatikan oleh manajemen :
a. Kepuasan pekerja.
Kepuasan pekerja merupakan prakondisi untuk meningkatkan produktivitas, tanggungjawab,
kualitas, dan pelayanan kepada konsumen. Unsur yang dapat diukur dalam kepuasan pekerja
adalah keterlibatan pekerja dalam mengambil keputusan, pengakuan, akses untuk
mendapatkan informasi, dorongan untuk bekerja kreatif, dan menggunakan inisiatif, serta
dukungan dari atasan.

b. Retensi pekerja.
Retensi pekerja adalah kemampuan imtuk mempertahankan pekerja terbaik dalam
perusahaan. Di mana kita mengetahui pekerja merupakan investasi jangka panjang bagi
perusahaan. Jadi, keluamya seorang pekerja yang bukan karena keinginan perusahaan

12

merupakan loss pada intellectual capital dari perusahaan. Retensi pekerja diukur dengan
persentase turnover di perusahaan.
c. Produktivitas pekerja.
Produktivitas pekerja merupakan hasil dari pengaruh keseluruhan dari peningkatan keahlian
dan moral, inovasi, proses internal, dan kepuasan pelanggan. Tujuannya adalah untuk
menghubungkan output yang dihasilkan oleh pekerja dengan jumlah pekerja yang seharusnya
untuk menghasilkan output tersebut.

2. Kapabilitas sistem informasi.


Adapun yang menjadi tolak ukur untuk kapabilitas sistem inforaiasi adalah tingkat
ketersediaan informasi, tingkat ketepatan informasi yang tersedia, serta jangka waktu untuk
memperoleh informasi yang dibutuhkan.
3. Iklim organisasi yang mendorong timbulnya motivasi, dan pemberdayaan adalah penting
untuk menciptakan pekerja yang berinisiatif. Adapun yang menjadi tolak ukur hal tersebut di
atas adalah jumlah saran yang diberikan pekerja.

13