Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN DAN


PERSAINGAN USAHA
Persaingan Usaha

Oleh:
Nama :

Dian Aryani Kusady

NIM

B 111 11 279

Kelas :

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN


MAKASSAR
2014

KATA PENGANTAR
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji

syukur

Subhanahuwataala

penyusun
yang

panjatkan

telah

kehadirat

memberikan

Allah

rahmat

dan

karunianya sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas


makalah ini. Makalah tentang Persaingan Usaha ini, penyusun
selesaikan

untuk

memenuhi

tugas

mata

kuliah

Hukum

Perlindungan Konsumen dan Persaingan Usaha.


Makalah ini berisi tentang pembahasan mengenai sejarah
dan pengertian Persaingan Usaha, pentingnya Persaingan Usaha
beserta penjelasan dari Undang-Undang No. 5 tahun 1999 yang
merupakan sumber hukum dari Persaingan Usaha.
Penyusun menyadari bahwa tugas makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan. Untuk itu penyusun mengharapkan kritik,
saran dan solusinya agar penyusun dapat menyempurnakan
makalah ini di masa yang akan datang.
Dengan demikian, penyusun sampaikan terima kasih yang
sebesar-besarnya.

Semoga

makalah

ini

dapat

bermanfaat,

khususnya bagi penyusun dan pembaca umumnya.

Makassar, 22 Mei 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman Sampul................................
i
..

ii

Kata

iii

Pengantar............
.......................

Daftar
Isi...............
3
.......................

BAB I

5
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................8

13

BAB II
PEMBAHASAN

16

A. Pengertian Pesaingan Usaha.................. 17


..
B. Persaingan Usaha di
Indonesia...........................................................
C. Pentingnya Hukum Persaingan
Usaha....................................................
D. Perjanjian, Kegiatan, dan Posisi Dominan yang Dilarang
dalam Hukum Persaingan Usaha di
Indonesia......................................
E. Lembaga
KPPU................................................................................
.....
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan.................
..........................
DAFTAR PUSTAKA....
...................................

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Persaingan

sangat

dibutuhkan

dalam

peningkatan

kualitas hidup manusia. Dunia yang kita kenal sekarang ini


adalah hasil dari persaingan manusia dalam berbagai aspek.
Persaingan yang dilakukan secara terus-menerus untuk saling
mengungguli membawa manusia berhasil menciptakan halhal baru dalam kehidupan yang berangsur-angsur menuju
arah yang semakin maju dari sebelumnya. Untuk terciptanya
keadilan dan kesejahteraan bagi semua pihak, persaingan
yang harus dilakukan adalah persaingan yang sehat. Kegiatan
ekonomi dan bisnis pun tidak luput dari sebuah persaingan,
mengingat

kegiatan

ini

dilakukan

banyak

pihak

untuk

menunjang kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, hukum


yang mengatur persaingan usaha dalam kegiatan ekonomi
dan bisnis sangat diperlukan semua pihak supaya tidak ada
pihak-pihak yang merasa dirugikan.
Seiring dengan Era Reformasi, telah terjadi perubahan
yang mendasar dalam bidang hukum ekonomi dan bisnis,
yang ditandai antara lain dengan lahirnya Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat, yang di banyak negara
disebut

Undang-Undang

Antimonopoli.

Undang-undang

seperti ini sudah sejak lama dinantikan oleh pelaku usaha


dalam rangka menciptakan iklim usaha yang sehat dan bebas
dari praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme. Dalam UndangUndang Nomor 5 Tahun 1999 telah diatur sejumlah larangan
praktik monopoli dan/atau persaingan usaha yang tidak sehat

lainnya,

dengan

harapan

dapat

memberikan

jaminan

kepastian hukum dan perlindungan yang sama kepada setiap


pelaku usaha atau sekelompok pelaku usaha dalam berusaha.
Dengan adanya larangan ini, pelaku usaha atau sekelompok
pelaku usaha dapat bersaing secara wajar dan sehat, serta
tidak

merugikan

masyarakat

banyak

dalam

berusaha,

sehingga pada gilirannya penguasaan pasar yang terjadi


timbul secara kompetitif. Di samping itu dalam rangka
menyosong era perdagangan bebas, kita juga dituntut untuk
menyiapkan dan mengharmonisasikan rambu-rambu hukum
yang mengatur hubungan ekonomi dan bisnis antar bangsa.
Dengan demikian dunia internasional juga mempunyai andil
dalam mewujudkan lahirnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1999.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Persaingan Usaha


Hukum persaingan usaha merupakan

hukum

yang

mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan persaingan


usaha. Menurut Arie Siswanto, hukum persaingan usaha
(competition law) adalah instrumen hukum yang menentukan
tentang bagaimana persaingan itu harus dilakukan. Menurut
Hermansyah hukum persaingan usaha adalah seperangkat
aturan hukum yang mengatur mengenai segala aspek yang
berkaitan dengan persaingan usaha, yang mencakup hal-hal
yang boleh dilakukan dan hal-hal yang dilarang dilakukan
oleh

pelaku

usaha.

Sedangkan

kebijakan

persaingan

(competition policy) merupakan kebijakan yang berkaitan


dengan masalah-masalah di bidang persaingan usaha yang
harus dipedomani oleh pelaku usaha dalam menjalankan
usahanya dan melindungi kepentingan konsumen. Tujuan
kebijakan persaingan adalah untuk menjamin terlaksananya
pasar yang optimal, khususnya biaya produksi terendah,
harga

dan

tingkat

keuntungan

yang

teknologi, dan pengembangan produk.

B. Persaingan Usaha Di Indonesia

wajar,

kemajuan

Sejak 1989, telah terjadi diskusi intensif di Indonesia


mengenai

perlunya

Reformasi

sistem

perundang-undangan

ekonomi

yang

luas

antimonopoli.

dan

khususnya

kebijakan regulasi yang dilakukan sejak tahun 1980, dalam


jangka waktu 10 tahun telah menimbulkan situasi yang
dianggap sangat kritis. Timbul konglomerat pelaku usaha
yang dikuasai oleh keluarga atau partai tertentu, dan
konglomerat tersebut dikatakan menyingkirkan pelaku usaha
kecil dan menengah melalui praktek usaha yang kasar serta
berusaha

untuk

mempengaruhi

semaksimal

mungkin

penyusunan undang-undang serta pasar keuangan.


Dengan latar belakang demikian, maka disadari bahwa
pembubaran ekonomi yang dikuasai Negara dan perusahaan
monopoli

saja

tidak

cukup

untuk

membangun

suatu

perekonomian yang bersaing. Disadari juga hal-hal yang


merupakan dasar pembentukan setiap perundang-undangan
antimonopoli, yaitu justru pelaku usaha itu sendiri yang cepat
atau lambat melumpuhkan dan menghindarkan dari tekanan
persaingan

usaha

dengan

melakukan

perjanjian

atau

penggabungan perusahaan yang menghambat persaingan


serta

penyalahgunaan

posisi

kekuasaan

ekonomi

untuk

merugikan pelaku usaha yang lebih kecil.


Disadari adanya keperluan bahwa Negara menjamin
keutuhan proses persaingan usaha terhadap gangguan dari
pelaku usaha terhadap gangguan dari pelaku usaha dengan
menyusun undang-undang, yang melarang pelaku usaha
mengganti hambatan perdagangan oleh Negara yang baru
saja ditiadakan dengan hambatan persaingan swasta.
Tahun-tahun awal reformasi di Indonesia memunculkan
rasa keprihatinan rakyat terhadap fakta bahwa perusahaanperusahaan besar yang disebut konglomerat menikmati

pangsa

pasar

Indonesia.

terbesar

Dengan

mempengaruhi

dalam

berbagai

berbagai

perekonomian
cara

kebijakan

mereka
ekonomi

nasional
berusaha

pemerintah

sehingga mereka dapat mengatur pasokan atau supply


barang dan jasa serta menetapkan harga-harga secara
sepihak yang tentu saja menguntungkan mereka. Koneksi
yang

dibangun

dengan

birokrasi

Negara

membuka

kesempatan luas untuk menjadikan mereka sebagai pemburu


rente. Apa yang mereka lakukan sebenarnya hanyalah
mencari

peluang

untuk

menjadi

penerima

rente

(rent

seeking) dari pemerintah yang diberikan dalam bentuk


lisensi, konsesi, dan hak-hak istimewa lainnya. Kegiatan
pemburuan rente tersebut, oleh pakar ekonomi William J.
Baumol dan Alan S. Blinder dikatakan sebagai salah satu
sumber utama penyebab inefisiensi dalam perekonomian dan
berakibat pada ekonomi biaya tinggi (high cost economy).
Indonesia sendiri baru memiliki aturan hukum dalam
bidang persaingan usaha, setelah atas inisiatif DPR disusun
RUU Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
Sehat.

RUU

tersebut

akhirnya

disetujui

dalam

Sidang

Paripurna DPR pada tanggal 18 Februari 1999, dalam hal ini


pemerintah

diwakili

oleh

Menteri

Perindustrian

dan

Perdagangan Rahardi Ramelan. Setelah seluruh prosedur


legislasi

terpenuhi,

akhirnya

Undang-undang

tentang

larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat


ditandatangani oleh Presiden B.J. Habibie dan diundangkan
pada tanggal 5 Maret 1999 serta berlaku satu tahun setelah
diundangkan.
Berlakunya Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang
Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak
Sehat sebagai tindak lanjut hasil Sidang Istimewa MPR-RI

yang digariskan dalam Ketetapan MPR-RI No. X/MPR/1998


tentang Pokok-Pokok Reformasi Pembangunan dalam Rangka
Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional, maka
Indonesia memasuki babak baru pengorganisasian ekonomi
yang berorientasi pasar.
C. Pentingnya Hukum Persaingan Usaha.
Sebuah persaingan membutuhkan adanya aturan main,
karena terkadang tidak selamanya mekanisme pasar dapat
berkerja dengan baik (adanya informasi yang asimetris dan
monopoli). Dalam pasar, biasanya ada usaha-usaha dari
pelaku

usaha

untuk

menghindari

atau

menghilangkan

terjadinya persaingan di antara mereka. Berkurangnya atau


hilangnya

persaingan

memungkinkan

pelaku

usaha

memperoleh laba yang jauh lebih besar. Di Indonesia,


pengaturan persaingan usaha baru terwujud pada tahun
1999 saat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang
Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
disahkan. Kelahiran Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999
tersebut ditunjang pula dengan tuntutan masyarakat akan
reformasi total dalam tatanan kehidupan berbangsa dan
bernegara, termasuk penghapusan kegiatan monopoli di
segala

sektor.

Adapun

falsafah

yang

melatarbelakangi

kelahiran undang-undang tersebut ada tiga hal, yaitu:


1) Bahwa pembangunan bidang ekonomi harus diarahkan
kepada terwujudnya kesejahteraan rakyat berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;
2) Bahwa demokrasi dalam bidang ekonomi menghendaki
adanya kesempatan yang sama bagi setiap warga
negara untuk berpartisipasi dalam proses produksi dan
pemasaran barang dan/atau jasa, dalam iklim usaha

yang

sehat,

mendorong

efektif,

dan

pertumbuhan

efisien,
ekonomi

sehingga
dan

dapat

bekerjanya

ekonomi pasar yang wajar;


3) Bahwa setiap orang yang berusaha di Indonesia harus
berada dalam situasi persaingan yang sehat dan wajar,
sehingga

tidak

menimbulkan

adanya

pemusatan

kekuatan ekonomi pada pelaku usaha tertentu, dengan


tidak terlepas dari kesepakatan yang telah dilaksanakan
oleh Negara Republik Indonesia terhadap perjanjianperjanjian internasional.
Oleh karena itu, perlu disusun undang-undang tentang
larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat
yang dimaksudkan untuk menegakkan aturan hukum dan
memberikan perlindungan yang sama bagi setiap pelaku
usaha di dalam upaya untuk meneiptakan persaingan usaha
yang

sehat.

kepastian

Undang-undang

hukum

pembangunan
kesejahteraan

untuk

ekonomi
umum,

ini

lebih
dalam

serta

memberikan
mendorong
upaya

sebagai

jaminan

percepatan

meningkatkan

implementasi

dari

semangat dan jiwa Undang-Undang Dasar 1945. Dengan


demikian kelahiran Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999
dimaksudkan untuk memberikan jaminan kepastian hukum
dan perlindungan yang sama kepada setiap pelaku usaha
dalam berusaha, dengan cara mencegah timbulnya praktikpraktik monopoli dan/atau persaingan usaha yang tidak sehat
lainnya dengan harapan dapat menciptakan iklim usaha yang
kondusif, di mana setiap pelaku usaha dapat bersaing secara
wajar dan sehat. Adapun beberapa tujuan diadakannya
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 antara lain:

1. Menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi


ekonomi

nasional

sebagai

salah

satu

upaya

meningkatkan kesejahteraan rakyat.


2. Mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan
persaingan usaha yang sehat.
3. Mencegah praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak
sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha.
4. Berusaha menciptakan efektivitas dan efisiensi

dalam

kegiatan usaha.
Dampak positif lain dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1999

adalah

terciptanya

pasar

yang

tidak

terdistorsi,

sehingga menciptakan peluang usaha yang semakin besar


bagi para pelaku usaha. Keadaan ini akan memaksa para
pelaku usaha untuk lebih inovatif dalam menciptakan dan
memasarkan produk (barang dan jasa) mereka. Jika hal ini
tidak dilakukan, para konsumen akan beralih kepada produk
yang lebih baik dan kompetitif. Ini berarti bahwa, secara tidak
langsung

Undang-Undang

memberikan

keuntungan

Nomor
bagi

Tahun

konsumen

1999

dalam

akan
bentuk

produk yang lebih berkualitas, harga yang bersaing, dan


pelayanan yang lebih baik. Namun perlu diingat bahwa
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 bukan merupakan
ancaman bagi perusahaan-perusahaan besar yang telah
berdiri sebelum undang-undang ini diundangkan, selama
perusahaan-perusahaan tersebut tidak melakukan praktikpraktik yang dilarang oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1999.

D. Perjanjian,

Kegiatan,

dan

Posisi

Dominan

yang

Dilarang dalam Hukum Persaingan Usaha di Indonesia


1) Perjanjian yang dilarang
Menurut Pasal 1 ayat (7) Undang-undang No. 5 Tahun
1999, perjanjian didefinisikan sebagai: Suatu perbuatan
satu atau lebih pelaku usaha untuk mengikatkan diri
terhadap satu atau lebih pelaku usaha lain dengan nama
apapun, baik tertulis maupun tidak tertulis.
Dengan adanya definisi perjanjian yang dirumuskan
oleh Undang-undang No. 5 Tahun 1999, dapat diketahui
bahwa Undang-Undang No. 5 tahun 1999 merumuskan
bahwa perjanjian dapat dalam bentuk tertulis maupun
tidak tertulis, kedua-duanya diakui atau digunakan sebagai
alat bukti dalam kasus persaingan usaha.
Sebelumnya perjanjian tidak tertulis
dianggap

tidak

begitu

kuat

sebagai

alat

umumnya
bukti

di

pengadilan, karena hukum acara perdata yang berlaku


pada saat ini lebih menekankan dan mengganggap bukti
tertulis dan otentik sebagai alat bukti yang kuat.
Pengakuan dan masuknya perjanjian yang

tidak

tertulis sebagai bukti adanya kesepakatan yang dilakukan


oleh para pelaku usaha dalam Hukum Persaingan Usaha
adalah sangat tepat dan telah sesuai dengan rezim Hukum
Persaingan Usaha yang berlaku di berbagai negara. Pada
umumnya para pelaku usaha tidak akan begitu ceroboh
untuk memformalkan kesepakatan diantara mereka dalam
suatu bentuk tertulis, yang akan memudahkan terbuktinya
kesalahan mereka. Oleh karenanya perjanjian tertulis
diantara para pelaku usaha yang bersekongkol atau yang
bertentangan dengan Hukum Persaingan Usaha akan
jarang ditemukan.

Undang-undang

Nomor

Tahun

1999

mengatur

beberapa perjanjian yang dilarang untuk dilakukan oleh


pelaku usaha, yaitu:
1. Oligopoli,
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan
pelaku

usaha

lain

untuk

secara

bersama-sama

melakukan penguasaan produksi dan atau pemasaran


barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan
terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan
usaha tidak sehat. Dimana pelaku usaha tersebut
patut diduga atau dianggap secara bersama-sama
melakukan penguasaan produksi dan atau pemasaran
barang dan atau jasa, apabila 2 (dua) atau 3 (tiga)
pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai
lebih dari 75% pangsa pasar satu jenis barang atau
jasa tertentu.
2. Penetapan harga
Perjanjian di antara pelaku usaha yang seharusnya
bersaing, sehingga terjadi koordinasi (kolusi) untuk
mengatur harga. Hal ini bisa juga disebut kartel harga.
Penetapan harga adalah salah satu bentuk perjanjian
pengaturan harga. Di luar itu ada bentuk perjanjian
price discrimination (diskriminasi terhadap pesaing),
predatory pricing (banting harga), dan resale price
maintenance (mengatur harga jual kembali atas suatu
produk).
3. Pembagian wilayah,

10

Perjanjian di antara pelaku usaha yang seharusnya


bersaing, untuk berbagi wilayah pemasaran.
4. Pemboikotan,
Perjanjian di antara beberapa pelaku usaha untuk:
a) Menghalangi masuknya pelaku usaha baru (entry barrier);
b) Membatasi ruang gerak pelaku usaha lain untuk menjual
atau membeli suatu produk.
5. Kartel,
Perjanjian di antara pelaku usaha yang seharusnya
bersaing, sehingga terjadi koordinasi (kolusi) untuk
mengatur kuota produksi, dan/atau alokasi pasar.
Kartel juga bisa dilakukan untuk harga (menjadi price
fixing).
6. Trust,
Perjanjian kerja sama di antara pelaku usaha dengan
cara menggabungkan diri menjadi perseroan lebih
besar, tetapi eksistensi perusahaan masing-masing
tetap ada.
7. Oligopsoni,
Perjanjian

untuk

menguasai

penerimaan

pasokan

barang/jasa dalam suatu pasar oleh 2 s.d. 3 pelaku


usaha atau 2 s.d. 3 kelompok pelaku usaha tertentu.
8. Integrasi vertikal (vertical integration),
Perjanjian di antara

perusahaan-perusahaan yang

berada dalam satu rangkaian jenjang produksi barang


tertentu, namun semuanya berada dalam kontrol satu

11

tangan (satu afiliasi), untuk secara bersama-sama


memenangkan persaingan secara tidak sehat.
9. Perjanjian tertutup (exclusive dealing),
Perjanjian di antara pemasok dan penjual produk
untuk memastikan pelaku usaha lainnya tidak diberi
akses memperoleh pasokan yang sama atau barang
itu tidak dijual ke pihak tertentu.
10. Perjanjian dengan luar negeri
Semua bentuk perjanjian yang dilarang tidak hanya
dilakukan antar sesama pelaku usaha dalam negeri,
tetapi juga dengan pelaku usaha dari luar negeri.
2) Kegiatan yang dilarang
Kegiatan adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh satu
atau lebih pelaku usaha yang berkaitan dengan proses
dalam menjalankan kegiatan usahanya. Adapun jenis-jenis
kegiatan

yang

dilarang

menurut

Undang-Undang

Antimonopoli adalah sebagai berikut:


1. Monopoli, yaitu kegiatan menguasai atas produksi
dan/atau

pemasaran

barang

atau

menguasai

penggunaan jasa oleh satu pelaku usaha atau satu


kelompok pelaku usaha tertentu.
2. Monopsoni,

yaitu

kegiatan

menguasai

atas

penerimaan pasokan barang/jasa dalam suatu pasar


oleh satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku
usaha tertentu.
3. Penguasaan

pasar.

Ada

beberapa

kegiatan

yang

termasuk kategori kegiatan penguasaan pasar yang


dilarang:

12

a) menolak/menghalangi masuknya pelaku usaha baru


(entry barier);
b) menghalangi konsumen

berhubungan

dengan

pelaku usaha saingannya;


c) membatasi peredaran/penjualan barang/jasa pelaku
usaha lain;
d) melakukan praktek diskriminasi terhadap pelaku
usaha lain;
e) menjual rugi (banting harga).
4. Persekongkolan, yaitu kegiatan (konspirasi) dalam
rangka memenangkan suatu persaingan usaha secara
tidak sehat, dalam bentuk:
1. persekongkolan untuk memenangkan tender;
2. persekongkolan

mencuri

rahasia

perusahaan

merusak

kualitas/citra

saingan;
3. persekongkolan

produk

saingan.

3) Posisi Dominan
Pengertian posisi dominan dikemukakan Pasal 1 angka
4 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 yang menyatakan
bahwa posisi dominan adalah keadaan di mana pelaku
usaha tidak mempunyai pesaing yang berarti di pasar
bersangkutan dalam kaitan dengan pangsa pasar yang
dikuasai, atau pelaku usaha mempunyai posisi tertinggi di
antara pesaingnya di pasar bersangkutan dalam kaitan
dengan kemampuan keuangan, kemampuan akses pada
pasokan

atau

penjualan,

serta

kemampuan

untuk

menyesuaikan pasokan atau permintaan barang atau jasa


tertentu.

13

Lebih lanjut, dalam Pasal 25 ayat (2) Undang-Undang


Nomor 5 Tahun 1999 dinyatakan bahwa suatu pelaku usaha
atau sekelompok pelaku usaha dianggap memiliki "posisi
dominan" apabila:
a. Satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha
menguasai 50% (lima puluh persen) atau lebih pangsa
pasar atau jenis barang atau jasa tertentu; atau
Dua atau tiga pelaku usaha atau kelompok pelaku

b.

usaha menguasai 75% (tujuh puluh lima persen) atau


lebih pangsa pasar satu jenis barang atau jasa
tertentu.
Berdasarkan ketentuan Undang-Undang No. 5 Tahun
1999 dapat diketahui bahwa posisi dominan yang dilarang
dalam dunia usaha karena dapat menimbulkan praktik
monopoli

dan

persaingan

usaha

tidak

sehat

dapat

dibedakan menjadi 4 macam yakni:


a.
b.
c.
d.

Kegiatan posisi dominan yang bersifat umum;


Jabatan rangkap atau kepengurusan terafiliasi;
Kepemilikan saham mayoritas atau terafiliasi;
Penggabungan, peleburan, dan pengambil-alihan
perusahaan.

E. Lembaga KPPU
Komisi

Pengawas

Persaingan

Usaha

(KPPU)

adalah

lembaga baru yang diperkenalkan dalam Undang-Undang No.


5 Tahun 1999. Pembentukannya secara resmi melalui Kepres
No. 75 Tahun 1999 dengan melalui serangkaian tahap
pemilihan yang cukup alot melibatkan Pemerintah dan DPR.
KPPU berkedudukan di Jakarta, tetapi boleh membuka
perwakilan di ibukota provinsi. Organisasi KPPU hanya terdiri
dari anggota dan sekretariat. Jumlah anggota seluruhnya

14

(termasuk seorang ketua dan seorang wakil) paling sedikit


sembilan orang. Keanggotaan KPPU periode yang pertama
(20002005) ada 11 orang, dan mereka masih mungkin
dipilih untuk satu periode berikutnya.
Pasal 35 Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 menentukan
bahwa tugas tugas KPPU terdiri dari:
1. Melakukan penilaian terhadap perjanjian yang dapat
mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat.
2. Melakukan penilaian terhadap kegiatan usaha dan atau
tindakan

pelaku

usaha

yang

dapat

mengakibatkan

terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha


tidak sehat.
3. Melakukan penilaian terhadap ada atau tidak adanya
penyalahgunaan

posisi

dominan

yang

dapat

mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau


persaingan usaha.
4. Mengambil tindakan sesuai dengan wewenang Komisi.
5. Memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan
Pemerintah yang berkaitan dengan praktek monopoli
dan atau persaingan usaha tidak sehat.
6. Menyusun pedoman dan atau publikasi yang berkaitan
dengan Undang-Undang No. 5 tahun 1999
7. Memberikan laporan secara berkala atas hasil kerja
Komisi kepada Presiden dan DPR.
Dalam menjalankan tugas tugasnya tersebut, Pasal 36
Undang-Undang No. 5 tahun 1999 memberi wewenang
kepada KPPU untuk:
1. Menerima laporan dari masyarakat dan atau dari pelaku
usaha tentang dugaan terjadinya praktek monopoli dan
atau persaingan usaha tidak sehat.
2. Melakukan penelitian tentang dugaan adanya kegiatan
usaha dan atau tindakan pelaku usaha yang dapat

15

mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau


persaingan usaha tidak sehat.
3. Melakukan penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap
kasus dugaan praktek monopoli dan atau persaingan
usaha tidak sehat yang dilaporkan oleh masyarakat atau
oleh pelaku usaha atau yang ditemukan komisi sebagai
hasil penelitiannya.
4. Menyimpulkan hasil penyelidikan dan atau pemeriksaan
tentang ada atau tidak adanya praktek monopoli dan
atau persaingan usaha tidak sehat.
5. Memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan
pelanggaran terhadap ketentuan Undang-Undang No. 5
tahun 1999.
6. Memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli, dan
setiap orang yang dianggap mengetahui pelanggaran
ketentuan Undang-Undang No. 5 tahun 1999.
8. Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku
usaha, saksi, saksi ahli atau setiap orang yang dimaksud
dalam nomor 5 dan 6 tersebut di atas yang tidak
bersedia memenuhi panggilan Komisi.
9. Meminta keterangan dari instansi Pemerintah dalam
kaitannya dengan penyelidikan dan atau pemeriksaan
terhadap

pelaku

usaha

yang

melanggar

ketentuan

Undang-Undang No. 5 tahun 1999.


10.
Mendapatkan, meneliti, dan atau menilai surat,
dokumen

atau

alat

bukti

lain

untuk

keperluan

penyelidikan dan atau pemeriksaan.


11.
Memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya
kerugian di pihak pelaku usaha lain atau masyarakat.
12.
Memberitahukan putusan Komisi kepada pelaku
usaha yang diduga melakukan praktek monopoli dan
atau persaingan usaha tidak sehat.

16

13.

Menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif

kepada

pelaku

usaha

yang

melanggar

ketentuan

Undang-Undang No. 5 tahun 1999.


Jadi, KPPU berwenang untuk melakukan penelitian dan
penyelidikan dan akhirnya memutuskan apakah pelaku usaha
tertentu telah melanggar Undang-Undang No. 5 tahun 1999
atau tidak. Pelaku usaha yang merasa keberatan terhadap
Putusan KPPU tersebut diberikan kesempatan selama 14 hari
setelah menerima pemberitahuan putusan tersebut untuk
mengajukan keberatan ke Pengadilan Negeri.
KPPU merupakan lembaga administratif.

Sebagai

lembaga semacam ini, KPPU bertindak demi kepentingan


umum. KPPU berbeda dengan pengadilan perdata yang
menangani hak-hak subyektif perorangan. Oleh karena itu,
KPPU harus mementingkan kepentingan umum dari pada
kepentingan

perorangan

dalam

menangani

dugaan

pelanggaran hukum antimonopoli.


Hal ini sesuai dengan tujuan Undang-Undang No. 5 tahun
1999 yang tercantum dalam Pasal 3 huruf a Undang-Undang
No. 5 tahun 1999 yakni untuk menjaga kepentingan umum
dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah
satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

17

1. Hukum

persaingan

mengatur

segala

usaha
sesuatu

merupakan
yang

hukum

berkaitan

yang

dengan

persaingan usaha.
2. Adapun falsafah yang melatarbelakangi kelahiran undangundang tersebut ada tiga hal, yaitu:
1) Bahwa pembangunan bidang ekonomi harus diarahkan
kepada terwujudnya kesejahteraan rakyat berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;
2) Bahwa demokrasi dalam bidang ekonomi menghendaki
adanya kesempatan yang sama bagi setiap warga
negara untuk berpartisipasi dalam proses produksi dan
pemasaran barang dan/atau jasa, dalam iklim usaha
yang

sehat,

mendorong

efektif,

dan

pertumbuhan

efisien,
ekonomi

sehingga
dan

dapat

bekerjanya

ekonomi pasar yang wajar;


3) Bahwa setiap orang yang berusaha di Indonesia harus
berada dalam situasi persaingan yang sehat dan wajar,
sehingga

tidak

menimbulkan

adanya

pemusatan

kekuatan ekonomi pada pelaku usaha tertentu, dengan


tidak terlepas dari kesepakatan yang telah dilaksanakan
oleh Negara Republik Indonesia terhadap perjanjianperjanjian internasional.
3. Tujuan diadakannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999
antara lain:
a. Menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi
ekonomi

nasional

sebagai

salah

satu

upaya

meningkatkan kesejahteraan rakyat.


b. Mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan
persaingan usaha yang sehat.
c. Mencegah praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak
sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha.
d. Berusaha menciptakan efektivitas dan efisiensi
kegiatan usaha.
4. Perjanjian yang dilarang dalam persaingan usaha:

18

dalam

a. Oligopoli,

f. Trust,

b. Penetapan harga

g. Oligopsoni,

c. Pembagian wilayah,

h. Integrasi vertikal

d. Pemboikotan,

i. Perjanjian tertutup

e. Kartel,

j. Perjanjian dengan luar negeri

19

5. Kegiatan yang dilarang dalam persaingan usaha


a.
b.
c.
d.

Monopoli,
Monopsoni,
Penguasaan pasar,
Persekongkolan.

6. Posisi Dominan adalah keadaan di mana pelaku usaha tidak


mempunyai pesaing yang berarti di pasar bersangkutan
dalam kaitan dengan pangsa pasar yang dikuasai, atau
pelaku

usaha

mempunyai

posisi

tertinggi

di

antara

pesaingnya di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan


kemampuan keuangan, kemampuan akses pada pasokan
atau penjualan, serta kemampuan untuk menyesuaikan
pasokan atau permintaan barang atau jasa tertentu.
7. KPPU adalah sebuah lembaga yang bersifat independen,
dimana dalam menangani, memutuskan atau melakukan
penyelidikan suatu perkara tidak dapat dipengaruhi oleh
pihak manapun, baik pemerintah maupun pihak lain yang
memiliki conflict of interest, walaupun dalam pelaksanaan
wewenang

dan

tugasnya

bertanggung

jawab

kepada

presiden.
8. DAFTAR PUSTAKA
9.
10. http://alisarjuni.blogspot.com/2013/05/hukum-persainganusaha.html. Diakses tanggal 20 Mei 2014 Pukul 00:39
11. http://business-law.binus.ac.id/2013/01/20/catatan-seputarhukum-persaingan-usaha/. Diakses tanggal 20 Mei 2014
Pukul 00:33
12. http://dunia-angie.blogspot.com/2013/10/hukumpersainganusaha-di-susun-guna.html. Diakses tanggal 20
Mei 2014 Pukul 00:27
13. http://prokum.esdm.go.id/uu/1999/uu-5-1999.pdf.
Diakses
tanggal 20 Mei 2014 Pukul 00:20
14. http://www.kppu.go.id/docs/buku/buku_ajar.pdf.
Diakses
tanggal 20 Mei 2014 Pukul 00:12
15.
16.

18

17.

18.

18