Anda di halaman 1dari 11

HUBUNGAN ANTARA SELF ESTEEM DENGAN ASERTIVITAS

PADA SISWA KELAS X SMAN 5 MERANGIN

Eric W Yasdiananda
ABSTRACT .This study begins with a lack of students behave assertively in the school
environment. Assertiveness is a way to express what they see and what they want and
express feelings of integrity, direct, and honest while maintaining the privacy and respect
for others. The inability to behave assertively and the confidence of students also
influence the ability to make adjustments to the environment, people who have a high
assertiveness have low social anxiety so that they can express their opinions and feelings
without harming others and theirself. Therefore, one who is capable to behave
assertively and he was able to increase self-esteem. Study design used in this study is
correlational. The sampling technique used in this study is purposive random sampling
technique, How to quantitative data analysis in this study, are: 1) Test requirements
include tests of normality and linearity test, and 2) test hypotheses using correlation
techniques of Karl Pearson Product Moment. The results of these two variables
correlation test showed a significant positive relationship between self-esteem and
assertiveness that rxy = 0.618 and p = 0.000 (p <0.01). Based on these findings we can
conclude the higher self-esteem in students, the higher the assertiveness, conversely the
lower the self-esteem, the lower assertiveness in students.
Keyword: self esteem, assertiveness, Product Moment correlation
ABSTRAK. Penelitian ini diawali dengan kurangnya perilaku asertif siswa dalam
lingkungan sekolah. Asertif adalah cara untuk mengekspresikan apa yang mereka lihat
dan apa yang mereka inginkan dan mengekspresikan perasaan integritas, langsung, dan
jujur dengan tetap menjaga privasi dan menghormati orang lain. Ketidakmampuan untuk
berperilaku asertif dan percaya diri siswa juga mempengaruhi kemampuan untuk
melakukan penyesuaian terhadap lingkungan, orang yang memiliki ketegasan tinggi
memiliki kecemasan sosial yang rendah sehingga mereka dapat mengekspresikan
pendapat dan perasaan mereka tanpa merugikan orang lain dan diri mereka. Oleh karena
itu, orang yang mampu untuk berperilaku asertif, dapat juga meningkatkan harga diri.
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional. Teknik
pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampel purposif

102

103
random, Cara analisis data kuantitatif dalam penelitian ini, adalah: 1) persyaratan uji
meliputi uji normalitas dan uji linearitas, dan 2) uji hipotesis menggunakan teknik
korelasi Product Moment dari Karl Pearson. Hasil kedua uji korelasi variabel
menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara harga diri dan ketegasan bahwa
rxy = 0,618 dan p = 0,000 (p <0,01). Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan
semakin tinggi harga diri pada siswa, semakin tinggi ketegasan, sebaliknya semakin
rendah harga diri, ketegasan rendah pada siswa.
Kata Kunci; self esteem, ketegasan, korelasi product moment

teratas (disekolah menengah pertama,

PENDAHULUAN
Dalam dunia pendidikan salah satu

menjadi siswa yang paling tua dan paling

indikator keberhasilan proses pendidikan

berkuasa

dapat dilihat dari proses belajar yang

terendah

diperoleh

menjadi siswa yang paling muda, paling

siswa,

untuk

mencapai

keberhasilan pendi-dikan tersebut banyak


faktor

dapat

(disekolah

menengah

atas,

kecil bahkan paling lemah disekolah.

mempengaruhinya

Masa remaja merupakan masa

proses belajar mengajar serta

perkembangan transisi antara masa anak-

faktor internal dari siswa itu sendiri.

anak dan masa dewasa yang mencakup

Disamping hal itu terdapat, faktor lain

perubahan biologis, kognitif dan sosial-

yang terkadang diabaikan yaitu masa

emosional. Hal yang sangat menonjol pada

transisi (peralihan), seperti transisi dari

periode

SMP ke SMA (Hapsari, 2006:6). Transisi

mendalam mengenai diri (self), dimana

ini dianggap dapat menimbulkan masalah

remaja mulai meyakini

bagi se-seorang karena transisi yang terjadi

kemauan, potensi dan cita-cita. Remaja

tidak hanya mengenai peralihan tingkat

memiliki

pendidikan tetapi juga peralihan dari masa

dirinya dan apa yang membuat diri remaja

anak-anak ke remaja.

tersebut

seperti

yang

disekolah) ke posisi yang

Peralihan dari SMP ke SMA pada

ini

adalah

pemikiran
berbeda

Kesadaran

kesadaran

akan adanya

tentang

dengan

remaja

yang

siapakah

orang

yang

lain.

mendalam

dasarnya hal ini adalah suatu pengalaman

mengenai diri ini membuat remaja mampu

yang normatif bagi semua orang namun

melakukan

ternyata dapat menimbulkan masalah atau

terhadap diri (Santrock, 2003:26).

penilaian

atau

evaluasi

stress. Transisi dari SMP ke SMA yaitu

Teman sebaya (peers) menurut

suatu keadaan yang bergerak dari posisi

Santrock (2003:219) adalah remaja dengan

104

tingkat usia atau tingkat kematangan yang

Nunally (Andriani dan Marini, 2005:48)

sama. Sementara itu, kelompok teman

mengatakan bahwa penyebab para remaja

sebaya

sosial

tersebut terjerumus ke hal-hal negatif,

pertama dimana remaja belajar untuk

salah satunya adalah karena kepribadian

hidup bersama orang lain yang bukan

yang

anggota

sebaya

mengekspresikan diri, menerima umpan

sangat besar pengaruhnya terhadap proses

balik, me-nyampaikan kritik, menghargai

sosialisasi selama masa remaja. Oleh

hak dan kewajiban, kurang bisa me-

karena itu, sebelum memasuki masa

ngendalikan emosi dan agresifitas serta

dewasa penting bagi remaja untuk me-

tidak dapat mengatasi masalah dan konflik

merupakan

lingkungan

keluarganya.

ngembangkan

self

Teman

Darajat

esteemnya.

lemah,

seperti

kurang

bisa

dengan baik.

(1976:19) mengungkapkan bahwa self

Coopersmith

(Ling&Dariyo,

esteem adalah kebutuhan dasar remaja.

2000:14) menjelaskan evaluasi terhadap

Setiap remaja ingin merasakan akan

diri ini diantaranya adalah bagaimana

kebutuhan tentang keberadaanya yang

kebiasaan seseorang memandang dirinya

dapat

sendiri,

mem-berikan

perasaan

bahwa

remaja berhasil, mampu dan berguna.

penerimaan

Penelitian Cohen (Hapsari, 2006:8)


menemukan

bahwa

seseorang

memiliki

self

cenderung

lebih

hidupnya

dibandingkan

esteem

terutama

yang

diri

kepercayaan

mengenai
dan

sikap

beberapa

se-seorang

besar

terhadap

kemampuan, keberartian, kesuksesan, dan

yang

tinggi

keberhargaan

diri

dalam

kemukakan

oleh

Coopersmith

orang

yang

(Ling&Dariyo,

2000:16)

proses

percaya

diri,

sebagaimana

didiri

mempunyai self esteem yang rendah.

seseorang melihat diri sendiri sebagai

Master dan Johnson (Ismail, 2005:13)

seorang

mengatakan

mencerminkan self esteem yang dimiliki

terhadap

self
sikap

esteem

berpengaruh

berharga

dan

berarti

terhadap

oleh orang tersebut. Self esteem dapat

statusnya sebagai remaja. Seorang remaja

berkembang dengan baik karena seseorang

yang memiliki self esteem yang positif,

mendapatkan penerimaan, peng-hargaan,

maka ia tidak akan terbawa godaan yang

dan perhatian yang cukup banyak dari

banyak ditawarkan oleh lingkungan dan

orang-orang

dapat

mengutarakan

terhadap

sikap

apa

yang

seseorang

yang

serta

mengambil

sebenarnya

yang

memiliki

dirinya.

pengaruh
Munculnya

ingin

ketidakpercayaan ter-hadap kemampuan

dilakukan, yang pada akhirnya akan

yang dimiliki, perasaan kurang berharga

menghindari

dan pesimis merupakan indikasi self

perilaku-perilaku

negatif.

105

esteem yang rendah. Myers (Hapsari,

masalah

2006:8)

peng-

pendidikan agar semua tujuan dapat

hargaan diri yang rendah ini menyebabkan

tercapai maka salah satu hal yang sangat

munculnya

pada

perlu dikembangkan terkait dengan self

remaja. Salah satu bentuk dari adanya

esteem yang tinggi adalah asertivitas,

perasaan

karena asertivitas selain merupakan salah

menambahkan
perasaan

adanya

inferioritas

inferioritas

ini

diantaranya

perilaku yang tidak asertif.

dan

didalam

dunia

satu yang dapat mempengaruhi self esteem

Menurut Jay (2007:95), asertivitas


merupakan

mereka

kemampuan

untuk

individu juga

me-rupakan karakteristik

penting yang dimiliki individu dengan self

mengkomunikasikan apa yang diinginkan

esteem

secara jujur, tidak menyakiti orang lain

mengarah pada tujuan, jujur, terbuka,

dan menyakiti diri sendiri serta kita

penuh percaya diri. Asertivitas terkandung

mendapatkan apa yang kita inginkan.

perilaku

Pengertian lain juga dinyatakan oleh

berempati dan ber-komunikasi baik verbal

Alberti dan Emmons (2008:45), bahwa

maupun

asertivitas adalah suatu kemampuan untuk

asertivitasnya tinggi sadar akan kelebihan-

mengkomunikasikan apa yang diinginkan,

kelebihan yang dimiliki dan memandang

dirasakan, dan dipikirkan kepada orang

kelebihan

lain namun dengan tetap menjaga dan

penting dari pada kelemahannya, begitu

menghargai hak-hak serta perasaan pribadi

pula se-baliknya. Terdapat beberapa faktor

dan pihak lain.

yang dapat mempengaruhi per-kembangan

Menurut Rathus (Rosita.H, 2008:9)

yang

tinggi.

Orang

kesanggupan
non

asertif

ber-masyarakat,

verbal.

Individu

kelebihan

tersebut

yang

lebih

asertivitas yaitu: jenis kelamin, harga diri,

munculnya asertivitas pada remaja karena

kebudayaan,

adanya penghargaan diri (self esteem) yang

kepribadian dan situasi tertentu lingkungan

positif

sekitar (Rosita. H, 2008:30).

terhadap

dirinya

yang

dapat

tingkat

pendidikan,

tipe

menumbuhkan keyakinan bahwa apa yang

Kasus dalam dunia pendidikan

dilakukan itu sangat berharga dan apa

adalah remaja yang tidak tegas atau takut

yang

dapat

menolak teman yang ingin mencontek.

dipenuhi dengan cara mengoptimalkan

Biasanya siswa yang mengalami situasi

kemampuan

tersebut merasa takut, malu atau sungkan

diharapkan

oleh

remaja

yang dimilikinya apabila

remaja tidak asertif justru tidak mampu

mengemukakan

mengungkapkan pikiran, perasaan dan

pendapatnya secara terbuka, tidak percaya

keyakinan akan dirinya karena mereka

diri, takut dijauhi, dan disepelekan oleh

cenderung

teman-teman (Rosita. H, 2007:8). Oleh

tidak mampu keluar dari

keinginan

atau

106

karena itu, remaja juga diharapkan dapat

X adalah self esteem sedangkan yang

memiliki Asertivitas dari proses belajar

dijadikan variabel Y adalah asertivitas.

dilingkungan

yang

Populasi adalah seluruh individu

diungkapkan oleh Elliot dan Gramling

yang dimaksudkan untuk diteliti, dan yang

(dalam Adriani, 2005:14) bahwa seorang

nantinya

remaja harus mampu bersikap asertif pada

(Winarsunu, 2002:12). Jenis penelitian

diri sendiri maupun pada orang lain dan

yang dilakukan dalam penelitian ini adalah

pengalaman yang tidak menyenangkan

penelitian

yang dialami siswa dapat menumbuhkan

bermaksud untuk meng-generalisasikan

penilaian yang rendah pada diri sebagai

hasil penelitian sampel dimana peneliti

akibat umpan balik yang bersifat negatif.

mengangkat kesimpulan penelitian sebagai

Jika hal ini terjadi secara berulang-ulang

suatu

maka

(Arikunto,

dapat

belajar

siswa

barunya.

Seperti

menyebabkan
jadi

semangat

ber-kurang

dan

terjadinya penurunan prestasi.


permasalahan dilakukan remaja di atas,
peneliti

ingin

melihat

dikenai

sampel,

yang

generalisasi

karena

berlaku

bagi

2006:131).

peneliti

populasi

Jika

jumlah

populasi lebih dari 100 maka jumlah


sampel yang akan diambil berkisar antara

Berdasarkan latar belakang dari


maka

akan

apakah

10%-15%

atau

20-25%

dari

jumlah

populasi (Arikunto, 2006:134).


Populasi

dalam

penelitian

ini

terdapat hubungan antara self esteem

adalah seluruh siswa Kelas X SMAN 5

dengan asertivitas pada siswa kelas X

Merangin, dimana keseluruhan berjumlah

SMAN 5 Merangin.

122 siswa. Teknik pengambilan sampel


yang digunakan dalam penelitian ini
adalah teknik sampel purposif random

METODE PENELITIAN
Desain penelitian ini tergolong
penelitian

kuantitatif.

Penelitian

yaitu dengan menetapkan sampel ber-

ini

dasarkan tujuan dari penelitian yang

merupakan penelitian kuantitatif berjenis

dipilih secara acak. Penarikan sampel

korelasional. Menurut Yusuf (2005:84)

diambil

penelitian korelasional adalah suatu tipe

jumlah kelas X yang ada di sekolah

penelitian yang melihat hubungan antara

tersebut.

satu atau

beberapa ubahan dengan satu

keseluruhan siswa adalah 122 Siswa maka

atau beberapa ubahan lain. Penelitian ini

jumlah sampel yang akan diambil 20-25%

dilakukan untuk melihat sejauh mana

dari jumlah populasi adalah 30 orang

variabel berhubungan dengan variabel lain.

siswa Kelas X SMAN 5 Merangin.

Dalam penelitian yang dijadikan variable

secara

seimbang

Berdasarkan

berdasarkan

populasi

dari

107

Analisis data dilakukan secara

HASIL

kuantitatif. Ada dua hal yang dilakukan


dalam cara analisis data kuantitatif pada

Deskripsi data dalam penelitian ini

penelitian ini, yaitu 1) Uji prasyarat

mencakup

rerata

empiris

dan

rerata

meliputi uji normalitas dan uji linieritas,

hipotetik penelitian. Rerata empiris dan

dan 2) Uji hipotesis penelitian dengan

rerata hipotetik dalam penelitian diperoleh

menggunakan teknik korelasi Product

melalui skala self esteem dan asertivitas

Moment dari Karl Pearson.

pada siswa kelas X SMAN 5 Merangin.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel.1 Rerata Empiris dan Rerata Hipotetik Self Esteem dan Asertivitas

Variabel

Skor Hipotetik

Skor Empiris

Min Max Mean SD Min Max Mean

Self Esteem

28

112

70

14

54

98

69,36

11,53

Asertivitas

30

120

75

15

56

92

70,40

11,56

Rangkuman data penelitian diatas


digunakan

SD

untuk

Berdasarkan tabel 2 tersebut dapat

meng-kategorisasikan

dilihat bahwa siswa kelas X SMAN 5

self esteem dan asertivitas. Interval dalam

Merangin memiliki self esteem yang

kategorisasi ditetapkan dalam 3 kelas.

termasuk dalam kategori sedang, diantara

Ketiga kelas tersebut mengacu pada

30 orang penelitian terdapat 24 orang

tingkat kecenderungan penyebaran data

siswa atau 80,00% memiliki skor 56 X

pada setiap variabel.

< 84.

Tabel.2 Kategori Interpretasi Skor Skala Self Esteem dengan N = 30 orang

Standar Deviasi
X < (-1)

Kategorisasi

Skor

Jumlah
Subjek

Persentase

Rendah

X <56

6,67

(-1) X < (+1)

Sedang

56 X <84

24

80,00

(+1) X

Tinggi

84 X

13,33

30

100%

Jumlah

108

Tabel.3 Kategori Interpretasi Skor Skala Asertivitas dengan N = 30 orang

Standar deviasi

Kategori

X < (-1)

Jumlah

Skor

Subjek

Persentase

Rendah

X <60

30,00%

(-1) X < (+1)

Sedang

60 X <90

19

63,33%

(+1) X

Tinggi

90 X

6,67%

30

100%

Jumlah
Berdasarkan kategori pada tabel 3,

asertivitas sedang (63,33%), 2 orang yang

maka subjek yang melakukan asertivitas

melakukan

rendah

Hasil analisis dan perhitungan dapat dilihat

sebanyak

terdapat

19

orang

orang
yang

(30,00%),
melakukan

asertivitas

tinggi

(6,67%).

pada tabel berikut:

Tabel.4 Hasil Uji Normalitas Sebaran Variabel Self Esteem dan Asertivitas

No

Variabel

SD

Mean

K-SZ

Asymp. Sig Keterangan


(2-tailed)

Self Esteem

11,53

69,36

0,601

0,863

Normal

Asertivitas

11,56

70,40

0,868

0,438

Normal

Berdasarkan tabel 4, dapat dilihat

diperoleh nilai K-SZ sebesar 0,868 dan

bahwa hasil dari uji normalitas sebaran

nilai Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0,438.

variabel self esteem di peroleh nilai K-SZ

Berdasarkan tabel tersebut, uji normalitas

sebesar 0,601 dan nilai Asymp. Sig (2-

menunjukan bahwa kedua variabel dalam

tailed) sebesar 0,863. Variabel asertivitas

penelitian ini berdistribusi normal.

Tabel.5 Hasil Uji Linieritas Variabel Self Esteem dan Asertivitas (N = 30)

Variabel
Self Esteem dengan
Asertivitas

F Linierity

Ket

24,859

p=0,001 (p<0,05)

Linier

Berdasarkan tabel 5, dapat dilihat


nilai linieritas pada self esteem dengan
asertivitas adalah sebesar F = 24,859 yang

memiliki

p =0,001

(p<0,05) dengan

demikian dapat dikatakan bahwa self

109

esteem dan asertivitas dalam penelitian ini

memiliki korelasi yang linier.

Tabel.6 Hasil Uji Hipotesis Variabel Self Esteem dengan Asertivitas (N = 30)

Koefisien Korelasi (r)

Keterangan

0,618

p=0,000 (p<0,01)

Signifikan

Berdasarkan hasil analisis korelasi

maupun lingkungan masyarakat sekitar.

tentang hubungan self esteem dengan

Pada

saat

lingkungan

asertivitas diperoleh koefisien korelasi

kesempatan

sebesar r = 0,618 dengan p = 0,000 (p<

memunculkan

0,01) menandakan hipotesis diterima.

individu

bagi

memberikan

individu

untuk

asertivitasnya,

maka

tersebut

akan

mampu

mengembangkan asertivitasnya begitu pula


sebaliknya.

PEMBAHASAN
Hasil

utama

penelitian

ini

menunjukkan bahwa hipotesa penelitian

Selain

itu

asertivitas

merupakan tingkah laku yang dipelajari


individu dari lingkungan.

mengenai adanya hubungan positif yang

Hal ini sejalan penelitian yang

signifikan antara self esteem dengan

dilakukan oleh Trumbull (Sert,2003:73)

asertivitas pada siswa kelas X SMAN 5

bahwa self esteem berpengaruh terhadap

Merangin terbukti benar denganrxy =

munculnya asertivitas pada diri individu

0,618 dan p=0,000 (p<0,01). Hasil tersebut

karena samakin tinggi self esteempada

menunjukkan bahwa semakin tinggi self

individu

esteem pada siswa kelas X SMAN 5

muncul dan sebaliknya apabila self esteem

Merangin, maka semakin tinggi atau

pada individu rendah maka individu

semakin baik asertivitas pada siswa kelas

tersebut cenderung tidak asertif. Selain itu,

ini

hasil penelitian lain oleh Speirs (2006:11)

menunjukan bahwa self esteem merupakan

bahwa terdapat kesimpulan yang tidak

salah satu sumber dalam diri individu yang

jauh berbeda yaitu terdapat ada hubungan

berguna untuk meningkatkan asertivitas

negatif antara asertivitas dengan perilaku

pada siswa tersebut.

negatif, dimana apabila asertivitas tinggi

SMAN

oleh
bahwa

Merangin.

Hasil

maka

Lazzarus

Penelitian senada juga diungkapkan oleh

pembentukan

asertivitas

tidak

Widawati,

yang

akan

akan

maka

2007:35)

negatif

asertif

Sebagaimana yang dikemu-kakan


(Porpitasari,

perilaku

perilaku

menemukan

rendah.
adanya

terlepas dari pengaruh lingkungan tempat

hubungan positif yang signifikan antara

tinggal, baik itu lingkungan keluarga

self esteem dengan perilaku asertif.

110

Hasil penelitian ini menunjukkan

self esteem yang sedang dan 6,67% siswa

bahwa walaupun self esteem pada siswa

memiliki self esteem yang rendah. (2).

berada dalam kategori sedang, dengan kata

Asertivitas pada siswa kelas X SMAN 5

lain self esteem yang terbanyak yang

Merangin berada pada kategori sedang.

dirasakan oleh siswa yaitu self values,

Hal ini dapat dilihat 63,33% siswa kelas X

namun ketika menghadapi permasalahan,

SMAN

kategori asertivitas yang dilakukan siswa

memiliki tingkat asertivitas sedang, 6,67%

juga berada pada kategori sedang. Hal ini

siswa memiliki tingkat asertivitas yang

menunjukkan

esteem

tinggi dan 30% siswa memiliki tingkat

mempengaruhi asertivitas pada siswa.

asertivitas rendah. (3). Terdapat hubungan

Orang yang asertif merasa bebas untuk

positif yang signifikan antara self esteem

menyatakan diri terhadap orang lain, orang

dengan asertivitas pada siswa kelas X

tersebut mampu mengungkapkan perasaan,

SMAN 5 Merangin, dengan nilai korelasi

pikiran dan keyakinan secara langsung,

rxy = 0,618 dan p = 0,000 (p<0,01) yang

jujur dan terbuka. Orang yang asertif

berarti semakin tinggi self esteem pada

memiliki ciri mampu mengekspresikan

siswa kelas X SMAN 5 Merangin, maka

perasaan dengan baik pada semua orang

semakin tinggi asertivitas pada diri siswa

karena mempunyai rasa percaya diri yang

tersebut.

bahwa

self

Merangin

sebagian

besar

tinggi. Disamping itu orang yang asertif


menolak hal-hal yang tidak sesuai dengan

Saran

diri tanpa mengesampingkan, menyakiti


atau-pun mengecilkan arti orang lain.

Berdasarkan hasil yang diperoleh


dari penelitian yang telah dilakukan,
berikut ini disampaikan beberapa saran

SIMPULAN DAN SARAN

yang dapat menjadi bahan pertimbangan

Simpulan

bagi pihak yang terkait: (1). Siswa,

Berdasarkan

penelitian

yang

diharapkan

untuk

terus

dapat

dilakukan terhadap siswa kelas X SMAN 5

mengembangkan diri untuk lebih asertif

Merangin, maka diperoleh kesimpulan

dengan

sebagai berikut: (1). Secara umum self

dirisehingga

esteemsiswa kelas X SMAN 5 Merangin

diaplikasikan

sebagian besar berada pada kategori

maupun masyarakat. Perilaku asertif yang

sedang. Hal ini dapat dikatakan bahwa

dimiliki siswa akan memberikan dampak

13,33% siswa memiliki tingkat self esteem

yang sangat positif bagi siswa itu sendiri,

yang tinggi, 80% siswa memiliki tingkat

sehingga mereka akan lebih aktif, kreatif

melatih

dan

perilaku
di

membiasakan
tersebut

lingkungan

dapat
sekolah

111

dan

inovatif.

(2).

Pihak

sekolah,

terutama

yang

berhubungan

dengan

Khususnya kepala sekolah dan guru

asertivitas. (3). Penelitian selanjutnya,

pembimbing disarankan dapat memberi

diharapkan untuk dapat mengembangkan

bimbingan

bagaimana

pengetahuan tentang perilaku asertif dalam

menumbuhkan dan bersikap lebih asertif.

ruang lingkup yang lebih luas, dan bisa

Salah satunya yaitu membantu siswa

memberikan pelatihan-pelatihan tentang

dalam

asertivitas terhadap siswa di sekolah.

kepada

siswa

menyelesaikan

permasalahan

siswa

permasalahansecara

mandiri

DAFTAR RUJUKAN
Alberti, Robert. and Emmons, Michael.
2008.
Your
Perfect
Right:
Assertiveness And Equality In Your
Life And Relationship. Ninth Edition.
California: Impact Publisher.
Andriani, Elvi dan Marini, Liza. 2005.
Perbedaan Asertivitas Remaja
Ditinjau Dari Pola Asuh Orang Tua.
Jurnal Psikologi (Vol 4 No. 2
Desember 2007). Hal: 46-51.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur
Penelitian:
Suatu
Pendekatan
Praktik, Edisi Revisi VI. Jakarta:
Rineka Cipta.
Daradjat, Z. 1976. Kesehatan Mental.
Jakarta: Gunung Agung.
Dariyo & Ling. 2000. Psikologi Phronesis
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan.
Jakarta
:
Fakultas
Psikologi
Universitas Tarumanegara.
Hapsari,
Ratna
Maharani.
2006.
Sumbangan
Perilaku
Asertif
Terhadap Harga Diri Pada remaja.
Jurnal psyche. Vol 5. Diakses pada
tanggal
2
Januari
2012.dari
http://psikologi.gunadarma.ac.id/libr
ary/jurnal/psychology/2007/413/pdf.
Ismail, 2005. Harga Diri dan Aktualisasi
Diri dengan Partisipasi Mahasiswa
Dalam Gerakan Sosial. Jurnal.(Vol 1
No 1 Desember 2005). Hal: 12-55.
Jay, Ross. 2007. How To Manage Your
Boss (Bagaimana Menyikapi Bos

Anda)Membangun
Kerja Yang
Sempurna. Alih bahasa: Sigit
Purwanto. Jakarta: Erlangga.
Porpitasari,
Mustika,
Desy.
2007.
Pengaruh
Kemampuan
Asertif
Terhadap Hubungan Interpersonal.
Program SI UIN Malang.
Rosita, H. 2007. Hubungan antara perilaku
asertif dengan kepercayaan diri.
Jurnal fakultas psikologi universitas
gunadarma. Diakses pada tanggal 7
Januari2012.
http://www.gunadarma.ac.id/library/j
urnalgraduate/psychology/2007/637/pdf.
Santrock, John W. 2003. Adolescence
(PerkembanganRemaja).
Alih
bahasa: Shinto B. Adelar. Jakarta:
Erlangga.
Siegel,
Sidney.
1992.
Statistik
Nonparametrik untuk Ilmu-ilmu
Sosial. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka.
Sert, Adile Guslah. 2003. the effect of an
assertiveness training on the
assertiveness and self esteem level of
5th grade children.a thesis submitted
to the graduate school of social
sciences of middle east technical
university. Department of Educational Sciences.
Speirs, Andrew, Bridge. 2006. Validation
and Reliability Analysis of the
Health Assertiveness Scale in a

112

General Population. PSY32PYB


Project Final Report.
Winarsunu, Tulus. 2002. Statistik dalam
penelitian psikologi & pendidikan,
Malang: UMM Press.

Yusuf, A. Muri. 2005. Metodologi


Penelitian. Padang: UNP Press