Anda di halaman 1dari 3

Nama: Bagus Meshawidiyatmika Samhita

NIM: 1115351089
Materi 11
Hitungan Pendapatan Minyak Versi BP Migas
TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Pengendalian Operasi Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak
dan Gas Bumi, Rudi Rubiandini, memastikan perhitungan pendapatan minyak mentah versi
ekonom Kwik Kian Gie keliru.
"Kwik menghitung langsung pendapatan minyak mentah dikurangi pengeluaran untuk bahan
bakar minyak sehingga timbul keuntungan Rp 98 triliun," ujar Rudi ketika dihubungi Tempo,
Minggu 25 Maret 2012.
Padahal menghitung pendapatan dan pengeluaran sektor minyak dan gas tidak seperti
menghitung kas biasa. Sebab, pendapatan migas masuk dalam anggaran negara yang
pengeluarannya diatur pemerintah. Karena itu, pendapatan negara dari sektor migas tidak
seluruhnya digelontorkan buat subsidi BBM, tapi juga untuk pendidikan, infrastruktur,
kesehatan, dan pos-pos anggaran lain.
Rudi menambahkan, produksi minyak Indonesia saat ini 900 ribu barel per hari. Dari angka itu,
negara hanya kebagian 600 ribu barel per hari, sedangkan konsumsi masyarakat 1,3 juta barel per
hari.
Harga ekonomis BBM mencapai US$ 120 per barel, yang dihitung dari harga minyak mentah
US$ 105 per barel ditambah biaya pengangkatan, pemurnian, dan transportasi US$ 15 per barel.
Total penerimaan negara dari minyak mentah mencapai Rp 207 triliun ditambah penerimaan dari
penjualan BBM ke masyarakat Rp 340 triliun menjadi Rp 547 triliun. Penerimaan ini dikurangi
pengeluaran untuk subsidi BBM, seperti impor, pengolahan, distribusi, plus margin sebanyak Rp
512 triliun, sehingga diperoleh sisa pendapatan migas Rp 35 triliun.
"Rp 35 triliun itulah sumbangan sebenarnya industri minyak kepada APBN," kata Rudi.
Rudi berpendapat, seharusnya sumbangan dari minyak dapat diterima negara secara utuh
sebanyak Rp 207 triliun, bukan cuma Rp 35 triliun. Itu lantaran selama ini Rp 178 triliun
pendapatan minyak justru dihabiskan untuk subsidi.
Juru bicara Pertamina, Mochammad Harun, membenarkan, kalau dihitung secara mentah,

memang masih terdapat sisa dari pendapatan minyak dan gas bumi. "Tapi apa mau pendapatan
minyak sebagian besar dihabiskan hanya untuk subsidi," ujarnya. Pertimbangan lainnya, jika
subsidi tak dikurangi atau harga BBM tetap Rp 4.500 per liter, konsumsi BBM bersubsidi
dipastikan melonjak dari kuota 40 juta kiloliter menjadi 47 juta kiloliter.
Menteri Koordinator Perekonomian periode 1999-2000, Kwik Kian Gie, beberapa kali
menyatakan alasan pemerintah menaikkan harga jual BBM untuk menyelamatkan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara tidak tepat. Menurut hitungan Kwik, pemerintah sebenarnya
memiliki uang dari penjualan BBM untuk menambal subsidi. "Tapi ini tidak pernah dibuka, dan
disimpan dalam rekening APBN di pos Menteri Keuangan," katanya.
Berdasarkan analisis Kwik, Pertamina mendapatkan hasil penjualan 53 miliar liter BBM dengan
harga Rp 4.500 per liter sebanyak Rp 283,5 triliun. Adapun pengeluaran Pertamina hanya Rp
410,09 triliun, yang berasal dari biaya impor Rp 149,8 triliun, pembelian dari pemerintah Rp
224,54 triliun, serta biaya lifting, refining, dan transportasi Rp 35,65 triliun. Artinya, kekurangan
uang Pertamina hanya Rp 126,59 triliun. Kekurangan inilah yang sering dinyatakan sebagai
subsidi. Angka subsidi ini lebih kecil daripada perkiraan pemerintah

Nama: Meli Yuliana


Materi 11
Anggaran Belanja Belum Efektif

NIM: 1215351162

JAKARTA Menteri Keuangan M Chatib Basri mengakui penyerapan anggaran pemerintah


belum terlalu optimal. Pola penyerapan masih cenderung tinggi pada akhir tahun sehingga daya
dorong belanja terhadap perekonomiam menjadi tidak maksimal.
"Permasalahan penyerapan anggaran disebabkan oleh berbagai aspek, baik struktural,
institusional, maupun kultural, percepatannya perlu dibarengi dengan perbaikan tata kelola
belanja negara," ujarnya dalam menyampaikan jawaban pemerintah atas Pemandangan Umum
Fraksi-faksi DPR terhadap RAPBN 2015 di gedung DPR, Jakarta, Kamis (21/8).
Menurut Menkeu, perlu adanya perbaikan dalam berbagai aspek, seperti regulasi, kelembagaan,
serta inovasi agar masalah dalam penyerapan belanja dapat teratasi secara bertahap oleh
pemerintah.
"Dalam aspek inovasi, terkait inisiatif spending review, fokus belanja pemerintah akan diarahkan
pada pengukuran-pengukuran efisiensi dan efektivitas belanja yang dilakukan oleh satuan kerja
masing-masing," katanya.
Selain itu, untuk mengoptimalkan tingkat realisasi penyerapan anggaran pada kementerianlembaga, pemerintah mengambil langkah strategis melalui berbagai pendekatan. Termasuk,
mengurangi jalur birokrasi.
Pemerintah juga telah membentuk Tim Evaluasi dan Pengawasan Penyerapan Anggaran
(TEPPA), mengupayakan percepatan implementasi UU Pengadaan Tanah, serta melaksanakan
mekanisme sanksi dan penghargaan bagi kementerian-lembaga untuk mengoptimalkan belanja
itu.
Menkeu mengharapkan melalui upaya belanja APBN dapat lebih berdampak terhadap
perekonomian, khususnya sektor riil. "Terkait penurunan tingkat kemiskinan, fungsi distribusi
belanja terus ditingkatkan melalui perbaikan kebijakan belanja yang difokuskan kepada
masyarakat miskin, seperti subsidi dan bantuan sosial," ujarnya.
Dalam tiga tahun terakhir, realisasi penyerapan belanja pemerintah pusat relatif berfluktuasi,
antara 95 persen hingga 97,3 persen terhadap pagu APBN Perubahan yang seluruhnya baru
tercapai ketika mendekati akhir tahun.
Selain itu, data RAPBN 2015 menyebut, khusus belanja Kementerian Kelembagaan (KL) ratarata penyerapan dalam kurun 2010-2014 sebesar 90 persen. Belanja KL pada 2010 tercatat
sebesar Rp 366,1 triliun dan meningkat menjadi Rp 602,3 triliun pada 2014.
Menkeu mengatakan, pelaksanaan dan penyerapan anggaran negara pada 2015 harus lebih
efektif .