Anda di halaman 1dari 89

BAB I

PENDAHULUAN

ound Governance (SG) adalah konsep yang sama


sekali baru di Indonesia. Konsep ini menyeruak hadir
di tengah kegandrungan dunia yang teramat sangat
dengan Good Governance (GG) yang seolah telah menjadi
kebenaran absolut dalam wacana demokrasi dan
administrasi publik. Buku ini dengan nekad hadir ke tengah
kemapanan keyakinan masyarakat akan sistem nilai yang
disebut GG. Mungkin saja konsep baru ini akan diabaikan
begitu saja, ditentang habis karena dianggap telah
melanggar pakem, atau mendapat dukungan luas dari
berbagai kalangan. Tetapi semoga tidak untuk menggantikan posisi dogmatis GG.
Sejak lebih dari dua dekade terakhir perkembangan
ilmu administrasi publik telah sampai pada konsep GG.
Konsep ini telah menjadi kata ajaib (buzzword) yang bisa
melewati batas-batas perbicangan dimensional dan
sektoral. Batas dimensional adalah ketika kita berhadapan
dengan semesta perbicangan ekonomi, politik, sosial,
bahkan lingkungan hidup. Sedangkan batas sektoral
adalah mencakup berbagai sektor seperti pertanian,
kemiskinan, transportasi, bisnis perusahaan, kelautan,
maupun pengendalian polusi. GG telah menjelma seperti
hantu yang bisa merasuki setiap pojok ruang-ruang diskusi
para sarjana dan pelaku dalam ilmu sosial. Tidak sedikit
pihak yang telah mencoba untuk melakukan kritik terhadap GG dari berbagai sudut pandang dan posisi ideologis.
Akan tetapi baru satu yang membuktikan bahwa dirinya

SG

SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Pendahuluan

SG
1

tidak hanya mendekonstruksi, tetapi juga merekonstruksi.


Memberikan solusi konkret ketika menyarankan untuk
meninggalkan proyek-proyek Good Governance beralih
menuju Sound Governance.

Berakhirnya era Good Governance

SG
2

Tak dipungkiri kehadiran GG cukup revolusioner dalam


kancah ilmu sosial. GG juga telah melakukan revisi total
atas term Administrasi Publik atau Pemerintahan yang
selama ini telah terlanjur institusionalistik. Governance
sudah bukan lagi secara eksklusif menjadi menu yang
disuguhkan pada negara dan sub-sub organisasinya (public
sectors). Governance adalah sebuah proses berinteraksinya
berbagai elemen (dipersempit dalam tiga aktor kunci, yaitu
negara, masyarakat dan bisnis) utamanya dalam mengelola
sektor-sektor yang menjadi hak publik atau public
patrimony . GG kemudian bagai kanker ganas menyebar
ke segala arah. Tidak hanya berkutat pada ilmu administrasi publik, tapi merambah pada berbagai kajian lain seperti pemberdayaan masyarakat, lingkungan hidup,
ekonomi, politik, hukum, dan sosiologi terapan. Produk yang
paling fenomenal dari GG adalah ketika dirinya berhasil
menemukan missing link antara kerja refomasi pemerintah
dengan penanggulangan kemiskinan. Argumentasinya
adalah dengan GG maka distribusi anggaran pemerintah
dan kalangan bisnis kepada masyarakat miskin makin
terbuka lebar (Renzio, 1997).
Kenyataannya memang tidaklah jauh dari harapan.
Inovasi-inovasi seperti pilkada langsung, musrenbang,
penjaringan aspirasi masyarakat, adalah merupakan hasil
(output) dari penerapan GG. Dampak (outcome) yang
diharapkan adalah makin eratnya interaksi antara rakyat
dengan negara, utamanya dalam hal distribusi anggaran.
Bukti-bukti ini juga dapat kita lihat di belahan dunia lain.
Brazil telah sangat terkenal dengan program Oramento
Participativo-nya (Partisipasi Anggaran) di Porto Alegre.
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Program PARPA di Mozambique yang telah berhasil


meningkatkan alokasi pendidikan dan infrastruktur rakyat
20% dalam kurun waktu empat tahun (Samuels, 2008).
Hanya saja prestasi gemilang dari GG tersebut menuai
kritik tajam yang berangkat dari identitasnya itu sendiri.
Kata good menjadi sesuatu yang hegemonik dan
seragam. Proses penyeragaman atas sesuatu yang disebut
good itu juga dilakukan tak jarang dengan paksaan. Ali
Farazmand (2004) secara tegas menyebutnya sebagai
bagian dari praktek penyesuaian struktural ( structural
adjustment programs/SAPs ). Sebab kenyataannya di
berbagai belahan dunia GG adalah program yang
diintrodusir oleh lembaga-lembaga donor internasional,
seperti WB, IMF, ADB, UNDP, EU dan semacamnya. Indikator akan sesuatu yang disebut good itu juga dibawa
jauh dari Amerika Serikat atau Eropa untuk kemudian
dipakai dalam mengukur berbagai praktek di negaranegara berkembang, baik di Asia, Afrika maupun Amerika
Selatan/Karibia. Tidak ada ruang bagi lokalitas untuk
mendefinisikan good menurut keyakinan mereka. Term
good dalam GG adalah westernized dan diabsolutkan
sedemikian rupa sehingga terkadang mendekati god.
Kritik berikutnya terhadap GG adalah kegagalannya
dalam memasukkan ar us globalisasi dalam pigura
analisisnya. Dalam GG seolah-olah kehidupan hanya berkutat pada interaksi antara pemerintah di negara tertentu,
pelaku bisnis di negara tertentu dengan rakyat di negara
tertentu pula. Tentulah ini sangat naif. Sebab kenyataan
bahwa aktor yang sangat besar dan berkuasa di atas ketiga
elemen tersebut tidak dimasukkan dalam hitungan. Aktor
tersebut adalah dunia internasional. WTO, perusahaan
multi nasional, UN, dan lembaga-lembaga donor secara
nyata telah hadir dalam setiap relung kehidupan bernegara
dan bermasyarakat di negara-negara berkembang,
termasuk Indonesia. Kita telah sama-sama menyaksikan
bagaimana kehadiran aktor-aktor ini sampai ke pelosok
Pendahuluan

SG
3

SG
4

desa-desa. Program-program World Bank misalnya, telah


merasuki alam pikir dan nilai-nilai masyarakat hingga di
tingkatan desa, bahkan komunitas yang lebih kecil.
Merestrukturisasi pola relasi pemerintah, swasta dan
masyarakat secara domestik dengan mengabaikan peran
aktor internasional adalah pengingkaran atas realitas
global. Dampak dari pengingkaran ini adalah banyaknya
variabel, yang sebenarnya sangat penting, tidak masuk ke
dalam hitungan. Variabel-variabel yang absen itu adalah
kearifan lokal sebagai akibat hegemoni terma good ala
Barat dan dampak dari kekuatan kooptasi internasional.
Ruang kosong inilah yang coba diisi oleh sebuah paradigma
baru yang di sebut Sound Governance.
Kritik-kritik di atas sama sekali tidak menunjukkan
adanya perbedaan ideologi diantara yang mengkritik dan
yang dikritik. Belum lagi kalau kita hendak mengambil
posisi sejenak ke dalam ideologi sosialisme atau berbagai
varian neo-Marxist. Tentu kita akan menemukan daftar
panjang kritik atas GG sebagai alat bagi artikulasi
kepentingan kapitalisme dunia. Prinsip-prinsip dari satu
piranti kapitalisme lanjut yang disebut neo-liberalisme
akan sangat mudah ditemukan dalam GG. Pemerintahan
yang berorietasi pasar dan sangat akomodatif dengan kekuatan sektor swasta adalah bukti yang paling utama atas
kritik tersebut. Dalam buku ini juga akan diulas sangat
lengkap tentang kritik terhadap GG yang bersandar pada
nuansa ideologi neo-Marxist ini.
Di Indonesia, penerapan konsep Good Governance (GG)
yang disponsori oleh lembaga donor internasional telah
berlangsung lama. Di tengah kekuarangan di sana-sini,
harus diakui bahwa transparansi, partispasi masyarakat,
akuntablitas dan penegakan hukum di lingkup pemerintahan telah membaik dibandingkan sepuluh tahun terakhir.
GG juga berhasil melewati garis demarkasi ideologi kanan
versus kiri. Anggapan bahwa GG adalah alat lembaga neoliberal untuk melancarkan pembangunan kapitalisme
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

dunia (Wilson, 2000) telah terpatahkan dengan dicetuskannya Deklarasi Dakar dalam pertemuan Socialist
International di Dakar pada Juli 2004 yang juga mencantumkan GG sebagai agenda besar mereka.
Singkat kata, GG telah menjadi plattform global tentang
kemana arah pembangunan dunia harus dicapai. Sebab
dengan inklusivitas antara negara, masyarakat sipil dan
bisnis, GG telah dianggap mampu menerobos pertentangan
antara paradigma pertumbuhan versus pemerataan.
Dengan makin inklusifnya hubungan antara pemerintah
dengan yang diperintah maka oligopoli dan korupsi akan
menur un dan kesejahteraan rakyat akan meningkat
(Putra, 1999). Transparansi Internasional mengatakan
bahwa korupsi adalah sebab utama kemiskinan. Buktinya,
secara kuantatif kita bisa bandingkan. Indonesia dengan
Indeks korupsi 2,4 yang memiliki GDP nominal per kapita
$1.812 dengan Malaysia yang Indeks korupsinya 5.0
memiliki GDP nominal per kapita $6.648. Sehingga, dalam
perspektif ekonomi, GG adalah lem yang merekatkan antara kekuatan negara dan bisnis dengan rakyat.
Secara konseptual, seharusnya keberhasilan penerapan GG di berbagai dunia itu juga dibarengi dengan
keberdampakannya atas kuatnya fundamen ekonomi
rakyat.

Perlunya Arah Baru

Kenyataannya, relasi antara kesejahteraan rakyat


dengan GG tidaklah seindah teori. Makin merekatnya
hubungan antara negara, bisnis dan rakyat ternyata tidak
serta merta menguatkan fundamen ekonomi rakyat. Pukulan krisis pangan adalah bukti konkret yang sekarang ada
di depan mata.
Bila GG telah berhasil mengurangi kesenjangan di
tingkat domestik, lantas bagaimana dengan kesenjangan
internasional? Bila GG telah berhasil mengadilkan distribusi kekuasaan dan dana di tingkat lokal, apakah hal yang
Pendahuluan

SG
5

SG

sama juga telah terjadi di tingkatan global? Bila orang


miskin di negara berkembang telah memiliki media untuk
bernegosiasi dengan orang kaya, apakah negara-negara
miskin telah memiliki media yang sama di arus global?
Berbagai prinsip ideal GG apakah juga sudah diimplementasikan dalam tataran internasional?
Pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebutlah yang
mengilhami Ali Farazmand (2004) untuk menggagas
konsep Sound Governance (SG) sekaligus membuka arah
baru bagi pembangunan global ke depan. Setelah GG
berhasil menginklusifkan hubungan si kaya dan si miskin
di tingkat nasional, maka fase berikutnya adalah
menginklusifkan hubungan negara kaya dengan negara
miskin melalui agenda SG.

Sound Governance

Sepuluh tahun lalu di depan Konferensi PBB, Presiden


Tanzania Julius K. Nyerere, dengan lantang telah
mengkritik habis-habisan GG yang dikatakanya sebagai
konsep imperialis dan kolonialis. Sebab GG akan mengerdilkan struktur negara-negara berkembang, sementara
kekuatan bisnis dunia makin membesar. Terlepas dari
benar salahnya kritik Sang Presiden, tapi gugatannya
terhadap pengaruh struktur global terhadap reformasi
pemerintahan inilah yang mengilhami Farazmand untuk
tidak hanya terfokus pada tiga aktor (pemerintah, pasar
dan civil society) tetapi juga kekuatan internasional.
Hal ini didukung oleh fakta kesenjangan global yang
kian melebar. Data dari UNDP tentang perbandingan GDP
per kapita konstan negara kaya, menengah dan miskin
sejak tahun 1960 sampai 2002 menunjukkan fakta yang
sangat menarik. Gap antara negara miskin yang ditinggali
sekitar 2,5 milyar jiwa dengan negara menengah (2,7
milyar jiwa) relatif stagnan yaitu berkisar $1.500. Secara
mengejutkan, gap antara negara kaya (kurang dari 1
milyar jiwa) dengan negara menengah di era 1960 berkisar
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

$7.000 dan terus naik secara fantastis hingga tahun 2002


menjadi $25.000 lebih. Kita bisa melihat hasil pembangunan internasional mulai dari Growth Theory sampai terakhir
GG hanya menghasilkan kerapuhan fundamen ekonomi
dunia dan kesenjangan global yang semakin akut.
Kosep Sound Governance sangat perhatian pada
persoalan ini. Sebab diperbaiki sedemokratis dan secanggih
apapun pemerintahan lokal, bila struktur global tetap tidak
adil maka kesejahteraan rakyat akan sulit tercapai.
Formula dasar Sound Governance adalah 4 aktor dan 5
komponen. Empat aktor sudah kita ketahui yaitu membangun inklusifitas relasi politik antara negara, civil society,
bisnis dan kekuatan internasional. Kekuatan internasional
di sini mencakup korporasi global, organisasi dan
perjanjian internasional. Sedangkan 5 komponen adalah
mencakup reformasi struktur, proses, nilai, kebijakan dan
manajemen. Kita menyadari bahwa dalam sebuah proses
transformasi kelima hal tersebut merupakan bagian
integral. Ekslusivitas yang terjadi selama ini adalah
masing-masing organisasi/elemen menjalankan kelima
komponen itu secara sendiri-sendiri. LSM memiliki nilai
dan kebijakannya sendiri yang diejawantahkan dalam
struktur dan manajemen organisasinya. Dimana proses
tersebut sulit untuk dikompromikan dengan negara, swasta
apalagi aktor-aktor global dan demikian pula sebaliknya.
Dalam hal ini, Sound Governance juga menggagas sebuah
konstruksi ideal bagi hubungan antara 4 aktor yang ada.
Term Sound menggantikan Good adalah juga
dalam rangka penghormatan terhadap kenyataan keragaman (diversity) . Sebab ketika istilah Good yang
dipakai maka di dalamnya akan terjadi pemaksaan
standar nilai. Penulis menyaksikan berbagai proyek dari
World Bank, ADB dan UNDP tentang GG juga telah
memiliki alat ukur matematis tentang indikator Good.
Sedangkan dalam konsep Sound, term ini bisa diartikan
layak, pantas atau ideal dalam konteksnya. Dalam pepatah
Pendahuluan

SG
7

SG
8

Jawa disebut empan papan. Sehingga SG pada prinsipnya


juga memberikan ruang bagi tradisi atau inovasi lokal
tentang bagaimana negara dan pemerintahan harus
ditata, sesuai dengan kebiasaan, budaya dan konteks lokal.
Tentu ukuran universal tentang kesejahteraan rakyat dan
penghormatan hak dasar harus tetap ditegakkan. Akhirnya, SG sesungguhnya percaya bahwa reformasi tata
pemerintahan dan pembangunan adalah kerja budaya
bukannya teknis, matematis apalagi dogmatis.
Deskripsi di atas adalah sekelumit dari apa yang hendak
disampaikan dalam buku ini untuk mengupas habis konsep
SG. Secara umum buku ini akan dibagi dalam tujuh bab.
Bab pertama adalah pendahuluan yang mengantarkan
pemahaman umum tentang isi buku dan sekelumit gagasan
inti dari SG. Bab dua dan bab tiga pada dasarnya
membicarakan soal yang sama yakni konsep dasar GG
serta kritik terhadapnya. Hanya saja pada bab dua lebih
menekankan aspek tata ekonomi politik neo-kolonialistik
dunia yang melingkupi GG. Sedangkan dalam bab tiga
lebih pada kenyataan gelombang pasang neo-liberalisme
yang didorong oleh GG sebagai sebuah konsep yang seolah
ilmiah. Bab empat langsung akan membahas konsep dari
SG itu sendiri mulai dari pengertian, konsep dasar, hingga
aspek detail dan teknis darinya. Bab lima dan enam adalah
berisi tentang dua fokus utama dari SG yaitu pentingnya
memasukkan realitas globalisasi dalam reformasi
administrasi publik dan demokratisasi serta kewajiban
adanya penghormatan terhadap budaya lokal dalam sistem
pemerintahan. Bab tujuh adalah penutup yang berisi
tentang tantangan dan peluang penerapan SG di masa
mendatang.
Sebagai sebuah konsep baru, sudah barang tentu SG
akan ter us berkembang dan mendewasakan dirinya
bersamaan dengan dukungan kritik terhadap dirinya.
Kekuatan sebuah konsep justru terletak pada kemampuannya untuk survive di tengah pujian dan kritik. Pujian yang
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

bisa-bisa melambungkan dirinya ke angkasa sehingga jauh


meninggalkan bumi serta kritikan yang dapat membenamkannya dalam lembah ketakpercayaan diri. Yang
paling menakutkan adalah ketidakpedulian. Untuk itu
segala bentuk apresiasi tentu akan sangat penulis hormati
demi makin majunya peradaban manusia tentang bagaimana mereka seharusnya mengelola hidup dan dunia.

SG
9

Pendahuluan

BAB II
GOOD GOVERNANCE DALAM
BINGKAI NEOKOLONIALISME

SG
10

endaratan kapal-kapal Columbus di benua Amerika


pada abad XV sangat menentukan sejarah dunia saat
ini. Sejak saat itulah kolonialisme dimulai sekaligus
memberi jalan yang sangat lapang bagi masuknya eurocentrism dalam berbagai aspek kehidupan saat ini. Standard kesejahteraan dan keabsahan argumen ilmiah dunia
saat ini telah bersandar secara kuat dengan tradisi dan
indikator-indkator dari barat. Studi-studi tentang tricontinental (Asia, Afrika dan Amerika Latin) telah sejak lama
berkembang marak di perguruan-perguruan tinggi baik
Eropa Barat maupun Amerika Utara. Semuanya lebih dimotivasi oleh kepentingan untuk melanggengkan dominasi
ketimbang advokasi terhadap kemajuan negara berkembang di tiga benua itu sendiri. Mitos tentang European
Miracle pun diciptakan melengkapi keseragaman mimpi
yang menjadi idaman seluruh peradaban di dunia (Blaut,
1993).
Tak mengherankan bila kemudian banyak yang mencurigai bahwa wacana pluralisme adalah sekedar alat
untuk melenakan masyarakat dunia atas fakta ketidakadilan. Hubungan antar peradaban tidaklah seadil dan
seharmonis yang dicita-citakan kaum pluralis dengan kata
kunci kebersamaan (coexistence ). Perbedaan peradaban
yang ada bukanlah sekedar berbeda bentuk, tapi juga berbeda ukuran kekuasaan (power). Peradaban satu lebih kuat
dari lainnya. Maka polisentrisme, sebuah wacana -yang
lebih melihat berbagai perbedaan dari segi hubungan
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

kuasa-, jauh lebih realistis ketimbang mimpi-mimpi indah


kaum pluralis tentang unity in diversity (Shohat dan Stam,
1994). Melihat realitas dunia saat ini dalam kacamata
polisentrisme adalah dengan memposisikan hubungan
barat versus timur dan utara versus selatan dalam posisi
eksploitatif, dominatif dan hegemonik. Perbedaan antar
budaya bukanlah sekedar berbeda bentuk, melainkan juga
berbeda power.
Dalam posisi inilah kita tidak melihat perbedaan signifikan antara kolonialisme dan neo-kolonialisme. Secara
formal memang tidak ada lagi satu negara yang menjajah
negara lain. Secara substansial pola hubungan penjajah
dan terjajah tetaplah ada dan terjadi dimana-mana. Partha
Chatterjee, dalam konteks budaya, menjelaskan bagaimana
keberadaan sebuah standar baku ( modular form ) melakukan kontrol atas semua ekspresi budaya sub-ordinat
di berbagai tempat sebagai konsep dasar dari neokolonialisme. J.M. Blaut menyebutnya dengan standar
progress yang harus diacu semua peradaban bila ingin
disebut maju dan beradab (civilize). Hal ini secara tak langsung sesungguhnya merupakan proses peniruan ini juga
dilanggengkan oleh elit-elit lokal sendiri melalui proses yang
disebut Homi K. Bhaha (1990) sebagai mimicry.
Dalam konteks ilmu pemerintahan akhir-akhir ini jelas
sekali terlihat praktek mimicry ini melalui para birokrat
dan intelektual yang selalu berbusa-busa mengobarkan
keluhuran konsep Good Governance . Seorang birokrat
belum kelihatan berkualitas dan seorang ilmuan belum
kelihatan berkelas ketika mereka belum meniru bahasa
dan cara berpikir barat. Mereka belum terlihat percaya
diri bila dalam pidato dan ceramah-ceramahnya belum
menyebut kata good governance sebagaimana orangorang dari Bank Dunia, PBB maupun profesor-profesor dari
Amerika dan Eropa melakukannya. Inilah proses mimicry.
Di samping penjelasan psiko-kultural di atas, neokolonialisme juga bisa dijelaskan dalam konteks sejarah
Good Governance dalam Bingkai Neokolonialisme

SG
11

SG
12

ekonomi politik internasional. Dalam hal ini, memahami


neo-kolonialisme, utamanya yang dikendalikan oleh
lembaga-lembaga donor seperti Bank Dunia dan IMF, kita
perlu terlebih dahulu mengkaji tentang Perjanjian Bretton
Woods. Perjanjian yang ditandatangani oleh negaranegara yang terlibat pada PD II ini dibuat sebagai jalan
keluar atas krisis ekonomi yang terjadi di dunia pasca
perang. Isi dari perjanjian ini adalah kewajiban bagi setiap
negara untuk bersama-sama menjaga rata-rata nilai tukar
mata uang dunia pada nilai yang baku, yaitu berkisar satu
persen dengan mengacu pada nilai emas dan kemampuan
IMF dalam menjembatani ketidakseimbangan pembayaran
(Wiggin, 2006). Sistem ini sempat collaps di tahun 1971
akibat penundaan Amerika Serikat dalam hal mengubah
standar moneter dari dolar ke emas. Sistem ini bersandar
pada prinsip kapitalisme dan memaksa semua negara
untuk mengikutinya meskipun kepercayaan sistem ekonomi
mereka berbeda. Prancis contohnya, awalnya negara ini
lebih percaya pada pentingnya intervensi dan proteksi
ekonomi oleh negara. Tetapi karena ia menandatangani
perjanjian ini, mau tidak mau Prancis harus mengubah
kebijakan dasar perekonomiannya tersebut (Cohen dalam
Jones, 2002).
Kontrol negara-negara Eropa Barat dan Amerika
Serikat sangatlah kuat dalam lembaga-lembaga donor dan
keuangan internasional ini. Memang secara teknis mereka
merupakan bagian dari PBB yang idealnya menjadi organisasi yang netral. Tapi ketika kita melihat lebih jauh pada
tata organisasinya, terlebih Bank Dunia dan IMF, terlihat
sekali bahwa kendali penuh ada di tangan Amerika Serikat.
Grup Bank Dunia misalnya, secara tegas dikatakan bahwa
kepemilikannya adalah berdasarkan proporsi jumlah
saham dari negara-negara anggota. Sehingga persis
seperti dewan komisaris dalam sebuah perusahaan pada
umumnya. Lebih lucu lagi dalam hal pemungutan suara
(voting) tidaklah dilakukan one country one vote, melainkan
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

dimungkinkan adanya suara tambahan yang tergantung


pada kontribusi finansial negara yang bersangkutan pada
organisasi tersebut. Hingga data terakhir tahun 2006 tercatat bahwa Amerika Serikat memegang saham terbesar
sebanyak 16,4%, Jepang 7,9%, Jerman 4,5% sementara
Prancis dan Inggris 4,3%. Pemilihan pimpinan lembaga
ini adalah dengan pengajuan nominasi dari pemerintah
Amerika Serikat yang kemudian akan mendapatkan persetujuan dari dewan gubernur (Lobe, 2003).
Dari penjelasan di atas terlihat bahwa lembaga-lembaga
internasional yang ada, baik itu PBB maupun Bank Dunia
adalah alat bagi kekuatan neo-kolonialisme dalam mengendalikan dunia. Lembaga-lembaga agen neo-kolonialisme ini juga dengan leluasa melancarkan aksi-aksi hegemoni
dan kooptasi global selama enam puluh tahun terakhir
dengan topik yang berganti-ganti. Setelah memperoleh
sukses besar di era 1950-an dalam melakukan rekonstruksi
ekonomi di Eropa melalui Marshall Plan yang diarsiteki
oleh WW. Rostow dengan program developmentalisme-nya,
lembaga-lembaga internasional ini mulai melancarkan
kooptasinya ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Hingga akhir dekade 1990-an kata pembangunanisme telah menjadi kata sakti yang didengungkan ke
seluruh dunia, persis seperti kata Good Governance saat
ini.
Alih-alih meraup sukses seperti yang terjadi di Eropa,
proyek raksasa ini dengan didukung oleh konsep sosiologi
struktural fungsional, Talcott Parson, malah menciptakan
diktator-diktator pragmatis di berbagai negara berkembang. Pemerintahan diktator dan sentralistik yang ada
di banyak negara berkembang sesungguhnya juga
merupakan produk dari lembaga-lembaga neo-kolonial ini.
Lalu dengan tampang tak bersalah, saat ini mereka datang
menawar-nawarkan konsep yang seolah demokratis, Good
Governance.

Good Governance dalam Bingkai Neokolonialisme

SG
13

SG
14

Buku kecil ini mungkin tak akan cukup untuk memuat


seluruh daftar panjang kritik-kritik atas lembaga-lembaga
internasional agen neo-kolonilaisme ini. Joseph Stiglitz
sendiri, sebagai mantan kepala ekonomi Bank Dunia, juga
melontarkan kritik yang sangat pedas. Ia mengatakan
bahwa kebijakan reformasi pasar bebas dari lembagalembaga keuangan global telah turut berkontribusi dalam
merusak tatanan ekonomi negara berkembang. Caufield
(1996) juga mengatakan bahwa kemunduran ekonomi
negara-negara selatan saat ini disebabkan oleh asumsiasumis yang ada di lembaga-lembaga keuangan ini.
Ideologi yang disebutnya sebagai western recipes telah
menyingkirkan konsep-konsep ekonomi tradisional yang
kemungkinan jauh lebih tepat untuk dipakai negara-negara
tertentu. Asumsi yang paling parah menurut Caufield
adalah anggapan bahwa negara-negara berkembang tak
akan pernah maju tanpa bantuan dari luar. Inilah praktek
yang mengabadikan neo-kolonialisme hingga saat ini.
Dalam hal ini kritik dari Arif Dirlik (Mongia, 1996)
sangatlah tajam, yaitu:
The transnationalization of production is the source
at once of unprecedented global unity and
unprecedented fragmentation in history of capitalism.
The homogenization of the globe economically, socially
and culturally is such that Marxs prediction finally
seems to be on the point of vindication.
(transnasionalisasi produksi adalah sumber dari
terjadinya penyatuan global dan fragmentasi dari
sejarah kapitalisme. Hogomenisasi dunia baik secara
ekonomi, sosial maupun budaya yang terjadi melalui
hal itu adalah pembenaran dari prediksi Marx).
Argumen tersebut didukung oleh kenyataan akan
banyaknya intelektual-intelektual di negara berkembang
yang ikut-ikutan mendukung asumsi-asumsi global tersebut. Mereka sibuk menyalahkan faktor internal negaraSOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

nya sebagai sumber masalah keterpur ukan ekonomi


mereka. Dan mengagung-agungkan pentingnya intervensi
dari luar (lembaga-lembaga donor internasional) sebagai
satu-satunya solusi.
Kritik-kritik beraliran kiri tersebut di atas adalah valid
baik secara faktual maupun ilmiah. Kendati dalam alur
paradigma lain, yakni poskolonial, ditemukan cara kritik
yang agak berbeda. Dalam tradisi analisis poskolonial
keadaan tidak dilihat dalam posisi hitam-putih sebagaimana kalangan Marxist melihatnya. Yaitu hubungan antara
yang menghegemoni dan yang dihegemoni, yang
mengeksploitasi dan dieksploitasi, yang menjajah dan yang
dijajah. Hubungan antara [neo] kolonialis dan negaranegara terkoloni sangat kompleks. Dalam studi poskolonial,
kedua belah pihak sama-sama terpengaruh oleh proses
transformasi di antara keduanya. Dalam fase inilah konsep
hybridity berkembang dalam ilmu-ilmu sosial. Meskipun
demikian kita tetap bisa melihat bahwa derajat pengaruh
masing-masng pihak berbeda. Mungkin benar bahwa
negara-negara kolonialis ter-pengaruh, akan tetapi tentu
tidak sedahsyat apa yang terjadi pada negara terkoloni
(Putra, 2008).
Dalam konteks indoktrinasi GG misalnya, memang benar
bahwa praktek-praktek implementasi GG di negara-negara
berkembang berpengar uh terhadap pemahaman dan
kebijakan GG di negara-negara maju. Akan tetapi dampak
destruktif atas proses tasformasi itu lebih dirasakan oleh
negara berkembang ketimbang negara maju.
Sejak awal tahun 1990-an, organisasi-organisasi internasional besar, yang pertama dan terutama diantaranya
ialah International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia,
memberikan rekomendasi-rekomendasi kepada negaranegara anggotanya untuk menerapkan good governance.
Namun, definisi-definisi dari istilah ini, dan sejalan dengan
hal itu, substansi dari istilah tersebut, sangat beragam dari
satu institusi ke institusi lain. Hal ini kemudian mengGood Governance dalam Bingkai Neokolonialisme

SG
15

SG
16

halangi perumusan definisi legal yang tepat mengenai


istilah tersebut terutama karena istilah governance bisa
bersifat global dan corporate (Herrera, 2004).
Di Indonesia, istilah Good Governance dianggap penjelasan dan sekaligus solusi paling canggih dari segenap
penyakit-penyakit buruk birokrasi pemerintahan yang tak
efisien dan tak demokratis. Tiba-tiba saja, ada begitu
banyak pakar di dunia intelektual Indonesia yang jagoan
dalam membincang good governance. Tiba-tiba saja, good
governance menjadi agama baru bagi kaum intelektual
dan birokrat jika tak ingin disebut sebagai pendukung
proses pemerintahan yang buruk (atau mereka sebut
sebagai bad governance). Bukankah jelas, bahwa mereka
yang tak mendukung yang-baik (good) secara otomatis
adalah pendukung yang-buruk (bad). Bukankah lawan
good itu adalah bad?
Apa yang dilupakan oleh kaum intelektual kita yang
terobsesi dengan konsep tersebut ialah bahwa good
governance itu adalah sebutan bagi sebuah agregat
praktek-praktek pemerintahan dan kebijakan publik
sebagaimana yang dikehendaki oleh lembaga-lembaga
internasional, terutama ialah IMF dan Bank Dunia. Jadi,
good governance bukanlah suatu konsep linguistik murni,
juga bukan suatu konsep filsafat politik murni. Meski
terdapat kata good (yang secara harfiah berarti baik),
namun kata tersebut sama sekali bukan lahir dari kontemplasi filosofis para filosof dunia. Ia dilahirkan dari badanbadan ekonomi internasional yang jelas punya agenda
tertentu untuk membangun tata kehidupan bangsa-bangsa
seluruh dunia. Sikap naif kaum intelektual di negeri kita
yang menganggap bahwa kata good (baik) dalam konsep
Good Governance merupakan sesuatu yang netral atau
bahkan bebas dari niat buruk merupakan sesuatu yang
amat disayangkan. Mengapa? Karena dengan demikian,
mereka melepaskan diri dari tanggung jawab keintelektualan mereka untuk senantiasa kritis dan reflektif
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

terhadap berbagai gagasan yang sekiranya turut berpengar uh pada pencapaian tujuan berbangsa dan
bernegara. Penerimaan secara mentah-mentah atas konsep
tersebut malah menunjukkan betapa kaum intelektual kita
menjadi apa yang dulu pernah disebut sebagai Pak Turut,
orang yang hanya bisa mengekor suatu gagasan tanpa
pernah sadar akan mau dibawa ke arah mana dan untuk
tujuan apa gagasan itu dia emban. Konsekuensikonsekuensi jangka pendek, jangka menengah maupun
jangka panjang dari penerapan gagasan tersebut tak
pernah dipikirkan karena dianggap bahwa dalam
konsepnya terkandung kata good (baik). Seakan dengan
sendirinya akan menimbulkan konsekuansi yang selalu baik
pula. Suatu logika pemikiran yang simplistik dan naif!
Sesungguhnya, konsep good governance itu sesuatu
yang masih kabur substansinya. Bagaimana sesuatu yang
remang-remang bisa disebut sebagai suatu kebaikan? Rmy
Herrera pernah mengungkapkan betapa kaburnya
substansi dari konsep tersebut di antara berbagai institusi
ekonomi dunia. Kode Good Governance IMF memiliki
kemampuan untuk diterapkan di negara-negara yang mendapatkan bantuan teknis darinya dan yang berhubungan
dengan perang anti-korupsi yang dijalankannya. Kode ini
bertujuan untuk menciptakan keputusan atau kebijakan
ekonomi yang lebih transparan dalam menciptakan
ketersediaan informasi yang maksimum akan keuangan
publik, untuk menstandarisasi prosedur-prosedur audit, dan
yang lebih mutakhir adalah untuk memerangi pembiayaan
terorisme. Sementara menurut Bank Dunia, governance
dari negara-negara klien haruslah bisa mengatasi
disfungsi sektor publik (yang merupakan gejala umum)
dengan jalan membantu negara-negara tersebut untuk
mengadopsi reformasi-reformasi yang dirancang untuk
meningkatkan mekanisme-mekanisme alokasi sumber
daya publik. Selain itu juga untuk membantu pembangunan institusional negara, proses-proses per umusan,
Good Governance dalam Bingkai Neokolonialisme

SG
17

SG
18

pemilihan dan pengimplementasian kebijakan-kebijakan,


dan relasi-relasi antara warga negara dan pemerintah
mereka. Jika UNDP mengkaitkan good governance
dengan pembangunan sumber daya manusia yang
berkelanjutan, Bank Pembangunan Asia menekankan pada
partisipasi sektor privat. Sementara itu, Inter-American
Development Bank menekankan pada penguatan civil
society dan OECD lebih menekankan pada akuntabilitas,
transparansi, efisiensi dan efektivitas, economic forecasting
dan supremasi hukum. Di sisi lain, EBRD menekankan pada
hak-hak asasi manusia dan prinsip-prinsip demokrasi dsb.
Ketika konsep good governance begitu kabur, maka apa
yang terjadi kemudian ialah konsep tersebut menjadi cek
kosong yang isinya bisa ditentukan oleh siapapun.
Kelihatannya hal ini menarik karena ada demokratisasi
penentuan isi konsep tersebut. Namun sesungguhnya tidak.
Pada akhirnya, kekuasaan institusi-institusi keuangan
internasional-lah yang menjadi penentu paling efektif bagi
isi macam apa yang akan diadopsi oleh pemerintahpemerintah di seluruh dunia, yang tentu saja akan berdampak pada nasib warga-warga dari negara-bangsa di
seluruh dunia. Justru karena kekaburan itulah, maka
setiap institusi keuangan internasional lantas bisa menunjukkan kekuasaannya masing-masing terhadap negaranegara anggota yang membutuhkan bantuan darinya
dengan menetapkan isi konsep yang harus diimplementasikan oleh negara-negara anggota tersebut.
Bagi rezim politik dimana pun, baik di level lokal
maupun nasional, istilah good governance memiliki daya
tarik yang luar biasa. Di satu sisi, dengan memakai konsep
tersebut, rezim politik yang ada akan terhindar dari citra
sebagai rezim yang buruk, apapun yang dilakukannya. Di
sisi lain, dengan konsep tersebut pula, rezim politik yang
ada bisa mendapatkan dukungan dari institusi-institusi
keuangan internasional untuk membiayai proses pemerintahannya. Dengan kata lain, konsep Good Governance
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

menjadi alat pencitraan yang sungguh simpel dan efektif


bagi rezim-rezim politik yang berkuasa untuk menegaskan
kebaikannya. Apalagi jika terus-menerus dikumandangkan bahwa Good Governance akan menjanjikan
ter wujudnya penghapusan kemiskinan, terwujudnya
pemerintahan yang bersih dan efisien, terwujudnya partisipasi rakyat dan sebagainya dan sebagainya. Jelas janjijanji tersebut sungguh menarik dan menyenangkan untuk
didengar. Tapi, tidak mungkinkah janji-janji itu tak lebih
suatu bualan kosong seperti layaknya janji-janji
kemakmuran dan tahap lepas landas yang ditawarkan
oleh gagasan developmentalisme pada tahun 1970-an?
Janji yang dilekatkan dengan konsep Good Governance,
seperti apa yang ditegaskan oleh direktur-direktur
Eksekutif IMF, bahwa ke depan tantangan kuncinya adalah
memacu pertumbuhan ekonomi untuk membantu mengentaskan kemiskinan dan menurunkan tingkat pengangguran. Untuk tujuan ini, mereka memuji pihak
pemerintah Indonesia karena telah mengadopsi agenda
reformasi struktural yang mengesankan. Namun pujian ini
diiringi dengan sambil menekankan bahwa penerapan
secara sungguh-sungguh agenda tersebut akan menjadi
kunci untuk meningkatkan kepercayaan investor dan memajukan pertumbuhan sektor swasta (IMF, 2006)
Mengentaskan kemiskinan dan menurunkan tingkat
pengangguran, siapa yang tidak tertarik? Bagaimana
caranya? IMF memberi resep, lakukan reformasi
struktural. Reformasi struktural yang macam apa?
Reformasi struktural yang bisa meningkatkan kepercayaan
investor dan memajukan pertumbuhan sektor swasta. Jadi,
agar problem kemiskinan dan pengangguran teratasi,
pemerintah harus melakukan reformasi struktural yang
akan melayani rasa kepercayaan investor dan pertumbuhan
sektor swasta. Karena sektor swasta ini pada intinya
dijalankan oleh para investor, maka sesungguhnya yang
dilayani hanya satu, yaitu para investor. Asumsinya:
Good Governance dalam Bingkai Neokolonialisme

SG
19

SG
20

investor datang, rakyat senang. Janjinya, investor datang


maka lapangan kerja berkembang, rakyat punya pekerjaan
dan berkuranglah angka kemiskinan.
Apakah yang dimaksud dengan reformasi struktural
itu? Barangkali penjelasan yang cukup sederhana dari arti
istilah tersebut diberikan oleh David Jay Green, ADB
Indonesia Resident Mission, berikut ini:
Ladies and Gentlemen,
I am pleased to open this seminar on regulatory
improvements for development of a conducive business
environment and good governance.
The idea of using regulation to improve economic
performance of the private sector in developing countries
has a long history. In the United States, formal regulatory
institutions were started in the beginning of the 19th
century.
The market system is generally regarded as the proper
basis for modern economies. But markets themselves can
be imperfect, incomplete or missing. In these circumstances
there is often the need for governments and other institutions
to play a role in helping markets to function efficiently.
(Nyonya-nyonya dan tuan-tuan,
Saya sungguh senang bisa membuka seminar mengenai
perbaikan-perbaikan regulasi bagi pembangunan sebuah
lingkungan bisnis dan good governance.
Gagasan untuk menggunakan regulasi untuk
meningkatkan kinerja ekonomi sektor swasta di negaranegara berkembang sesungguhnya telah memiliki sebuah
sejarah panjang. Di Amerika Serikat, institusi-institusi
pengatur regulasi yang bersifat formal bahkan telah dimulai pada awal abad ke-19 [hur uf miring dari
penterjemah].
Sistem pasar secara umum telah dianggap sebagai basis
yang tepat bagi perekonomian modern. Namun, pasar
sendiri bisa saja tak sempurna, tak lengkap atau lenyap.
Dalam lingkungan-lingkungan yang demikian, seringkali
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

muncul kebutuhan agar pemerintah dan institusi-institusi


lain memainkan peran untuk membantu pasar agar
berfungsi secara efisien.)
David Jay Green mengungkapkan hal tersebut sebagai
kata sambutan saat membuka Workshop on Conducive
Businesss Environment and Good Regulatory Governance
di Hotel Hyatt Aryaduta, Jakarta pada tanggal 3 Maret
2003. Dan apakah kriteria dari regulasi yang baik itu? Ada
banyak cara untuk meregulasi. Namun ada beberapa
pendekatan umum untuk mengevaluasi apakah regulasi
itu baik atau buruk. Pertama, regulasi itu haruslah
efektif yaitu har us menjadikan pasar dan kerja
perekonomian menjadi lebih baik. Kedua, regulasi itu harus
konsisten dengan prinsip-prinsip dasar Good Governance,
yaitu penyusunan regulasi harus dilakukan secara
transparan yang ini secara tersirat bisa terbaca arahnya.
Jadi, jika dipahami sebagai keseluruhan, reformasi
struktural itu haruslah menjadikan pasar berfungsi secara
efisien. Tentu saja, yang dimaksud disini bukanlah pasar
tradisional atau pasar Senin-Kemis di desa-desa. Pasar
yang dimaksud ialah proses dimana aktor-aktor privat
dalam ekonomi bisa mencapai tujuan-tujuan ekonomis yaitu
untuk akumulasi laba dan kapital yang sebesar-besarnya.
Subyek dari pasar ini yang dimaksud tentu bukanlah mbok
penjual sayur, mbok penjual tempe, mbah penjual jamu dan
sebagainya. Namun yang menjadi pelaku pasar adalah
para investor. Lebih spesifik lagi, investor multinasional
yang sibuk dengan bagaimana memperlancar pencapaian
tujuan akumulasi laba dan kapitalnya sendiri. Mengapa
investor multinasional yang sibuk mengejar kepentingannya masing-masing ini harus dilayani? Sekali lagi logika
investor datang, rakyat senang berlaku. Tapi, apakah
investor asing itu selalu merupakan Santa Klaus yang
baik hati dan dermawan?
Tentu saja, investasi merupakan sesuatu yang vital bagi
pembangunan dan kemakmuran suatu bangsa. Namun
Good Governance dalam Bingkai Neokolonialisme

SG
21

SG
22

investasi seharusnya tidak selalu diidentikkan dengan


investor asing. Ketergantungan terhadap investor asing
merupakan hal yang sangat berbahaya bagi kemandirian
dan kemerdekaan ekonomi-politik bangsa dan negara. Jika
lengah, jalur-jalur dan cabang-cabang ekonominya akan
dikuasai dan dikontrol oleh investor-investor asing. Dan
ketika hal ini terjadi maka denyut nadi kehidupan dan nasib
rakyat bangsa tersebut sungguh berada di bawah kontrol
investor-investor asing. Dalam kesempatan ini, yang terpenting untuk diperhatikan ialah ketika Good Governance
mendorong pemerintah untuk melakukan reformasi
regulasi yang melayani kepentingan investor asing.
Sehingga yang tercipta sesungguhnya ialah bangunan
ekonomi-politik yang rapuh karena harus bergantung
kepada investor asing (Putra, 2005).
Keterpukauan kebanyakan kaum intelektual dan
birokrat atas konsep Good Governance sesungguhnya merupakan suatu yang wajar jika kita mengingat bahwa
selama ini kaum intelektual maupun kaum birokrat kita
memang kuat dengan tradisi text-book thinking-nya. Tradisi
ini membentuk kesadaran dogmatik terhadap berbagai
gagasan atau ide yang tertuang dalam teks-teks yang
muncul di panggung internasional. Teks-teks dari luar
dianggap sebagai sesuatu yang sakral dan karena itu harus
diterima sebagai suatu kebenaran mutlak. Elaborasi kritis
belumlah menjadi bagian dari dunia intelektualitas dan
birokrasi di negeri ini. Arus deras ide dari luar bukannya
diposisikan sebagai suatu bahan yang masih har us
ditimbang-timbang apakah selaras dengan -dan jika
diterima, diolah lebih lanjut agar selaras dengan- tujuan
bangsa dan negara sebagaimana tertuang dalam
Pembukaan UUD 1945. Namun ide-ide asing tersebut malah
diadopsi mentah-mentah menjadi paradigma fundamental
dalam mempertimbangkan dan menyusun kebijakan. Bisa
dikatakan, kebanyakan kaum intelektual dan birokrat di
negeri ini hanya menjadi operator dan teknisi atas ide-ide
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

asing untuk dijalankan di negeri ini. Ide-ide asing pun


mudah masuk ke dalam negeri ini secara lalu lalang karena
kuatnya dogmatisme. Kerancuan antara berpikir ilmiah
dengan text-book thinking menjadikan dogmatisme tetap
marak dan lestari dalam tradisi intelektualitas dan
birokrasi di negeri ini. Dogmatisme berlangsung tanpa ada
imbangan refleksi yang memadai. Karena kerancuan
berpikir itu, maka pemikiran yang dihasilkan pun rancu.
Tidak jelas ke arah mana negar-bangsa ini akan dibawa.
Semuanya hanya sekedar ikut arus ide-ide asing yang
sedang tren.
Sikap dogmatisme sendiri merupakan sikap yang
melupakan asal-usul maupun dampak historis dari suatu
gagasan atau ide. Sikap dogmatis lupa bahwa gagasan
atau ide tidak muncul dalam atau dari suatu ruang yang
hampa, namun senantiasa lahir dari ruang sosial tertentu.
Yang ajaib dari sikap dogmatis ini ialah munculnya sikap
puas dan bangga dengan kekaburan gagasan atau ide.
Kekaburan atau keabstrakan gagasan atau ide justru
dianggap sebagai bagian dari karakteristik kebenaran atau
kecanggihan suatu gagasan. Gagasan atau ide yang benar
dan canggih itu ialah gagasan atau ide yang kabur, yang
jauh dari sederhana. Demikianlah paradigma yang umum
dianut di kebanyakan intelektual dan birokrat di negeri
ini. Tak sulit untuk menemukan bukti dari kekaburan atau
keabstrakan cara berpikir mereka. Kita bisa melihatnya
dalam berbagai produk pemikiran yang ada entah itu
berupa karya pemikiran, makalah diskusi, atau berupa
draft rencana kebijakan. Di situ pasti akan kita temukan
berbagai istilah dan konsep yang tak jelas betul apa yang
dimaksud dan bagaimana pengejawantahannya secara
praktis.
Niels Mulder pernah mengamati problem ini. Hanya saja
dalam hubungannya dengan dunia pendidikan dengan
mengatakan bahwa GG dipenuhi dengan skema-skema
yang kabur dan kata-kata yang sukar. Tidak banyak dari
Good Governance dalam Bingkai Neokolonialisme

SG
23

SG
24

mereka, termasuk pengajar mereka, yang mempunyai


gambaran apa artinya teori dan untuk apa teori tersebut
digunakan. Atau yang lebih mendalam, apa sesungguhnya
makna mendasar sebuah penelitian sosial dilakukan. Bagi
kebanyakan orang, penelitian hanya dianggap sebagai
kerja pengumpulan data atau sesuatu yang har us
dilakukan agar lulus dan lolos dalam sebuah tanggungjawab normatif. Bila sudah sampai tingkat tertinggi atau
mapan, orang tidak pernah merasa perlu melakukan
penelitian lagi.
Tuduhan akan produk skema-skema yang kabur dalam
penerjemahan sebuah gagasan mungkin mer upakan
ungkapan yang tepat untuk menggambarkan potret
kebanyakan kaum intelektual dan birokrat di negeri ini.
Wajar jika kemudian karena dipenuhi dengan skemaskema yang kabur itu maka tak jelas pula hendak dibawa
kemana organisasi besar yang disebut negara ini oleh
mereka. Ide atau gagasan dihargai karena kualitas ide atau
gagasan itu sendiri, bukan karena dampaknya atas realitas
rakyat secara luas. Para intelektual dan birokrat telah
menjadi terlalu sibuk berkutat di kantor-kantor dan
berhadapan dengan tumpukan kertas-kertas kerja, bukan
sibuk memperhatikan realitas nyata rakyat di desa-desa,
di kota-kota, di jalan-jalan, di pasar-pasar tradisional dan
sebagainya.
Buku ini merupakan usaha penulis untuk menghadirkan
perspektif kritis terhadap konsep Good Governance yang
sedemikian kabur itu. Di sini yang terpenting sebagai bahan
sorotan bukanlah kekaburan dari konsep tersebut, namun
dalam konsekuensi praktis dari konsep tersebut terhadap
alam kesadaran maupun proses pemerintahan dan
pengambilan kebijakan. Konsep Good Governance dalam
pandangan penulis bukan lagi merupakan sekedar konsep
belaka dimana wilayah analisisnya berkutat hanya di
wilayah diskursus belaka. Namun karena merupakan suatu
agenda yang menjadi syarat bantuan (aid conditionality)
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

yang harus diikuti oleh pemerintah negara penerima utang


dari Bank Dunia maupun IMF. Sehingga analisis terhadap
konsep Good Governance juga harus mencakup pula
analisis terhadap bangunan realitas macam apa yang
hendak dibangun oleh konsep tersebut. Analisa yang
disajikan dalam buku ini diusahakan sedemikian rupa agar
bisa memberikan pengayaan wawasan kepada khalayak
pembaca mengenai konsekuensi-konsekuensi kenegaraan
macam apa yang mungkin terbangun jika rezim politik
yang berkuasa memilih untuk tunduk pada setiap dan
segenap agenda Good Governance yang disodorkan oleh
Bank Dunia maupun IMF.
Melihat sebuah peristiwa kecil dalam proses sejarah
yang besar adalah prinsip yang melambari buku ini. Secara lebih spesifik, peristiwa kecil yang dimaksud ialah
infiltrasi konsep Good Governance dalam gerak kehidupan
berbangsa dan bernegara. Sedangkan proses sejarah yang
besar itu ialah proses sejarahnya bangsa Indonesia
menuju masa depannya. Kebiasaan untuk melihat sebuah
peristiwa kecil dalam proses sejarah yang besar ini bagi
penulis merupakan suatu kebiasaan mental-intelektual
yang harus dikembangkan dalam dunia intelektual agar
kemudian dunia intelektual Indonesia tidak terjerembab
ke dalam lingkaran teks belaka sehingga hanya akan
menghasilkan kepandaian retorika semata. Dunia
intelektual Indonesia seharusnya diwarnai dengan tradisi
intelektual yang selalu rajin mengembangkan tool of
analysis bagi kepentingan-kepentingan bangsa dan negara.
Bukan sekedar mengekor atau menjiplak tool of analysis
orang lain demi kepentingan orang lain pula. Dunia
intelektual Indonesia harus melangkah ke tahapan yang
lebih bertanggungjawab. Tahapan dimana dirinya bukan
lagi sekedar murid setia dari pemikiran asing -yang tentu
saja asing bagi bangsa-negaranya-, namun menjadi dunia
originalitas dan otentisitas bagi kemajuan kepentingan
bangsa dan negaranya. Era ketidakotentikan harus diGood Governance dalam Bingkai Neokolonialisme

SG
25

SG
26

tinggalkan untuk melangkah ke era berani


mengeksplorasi diri sendiri. Masa takut-takut dicap
tidak ilmiah dan tak berdasar teks harus ditinggalkan
berganti dengan masa berani menemukan diri sendiri
di tengah rimba raya teks yang carut marut. Beranikah
dunia intelektual Indonesia? Ataukah mereka akan terus
menjadi murid-murid manis dari setiap gagasan atau
pemikiran asing?
Hal inilah yang menjadi perhatian serius pemikir
terkemuka poskolonial, Edward Said, yang mengatakan
bahwa sebenarnya dalam proses penulisan sejarah tidak
ada sejarah yang lebih baik atau sejarah yang lebih buruk.
Yang ada adalah artikulasi kuasa yang lebih kuat dan
artikulasi kuasa yang lebih lemah. Sebab tiap jengkal
sejarah yang tercatat adalah hasil dari sebuah kekuatan
artikulasi satu kekuasaan tertentu. Ilmuwan-ilmuwan
India dan Asia Selatan saat ini telah jauh melakukan
gebrakan ilmiah ini. Kita tentu mengenal tokoh kredit
mikro yang sangat fenomenal dari Bangladesh,
Muhammad Yunus. Dan yang juga harus diperhatikan
adalah pemikir perempuan berdarah India, Gayatri
Chakavorty Spivak. Tokoh poskolonial India ini menyebutkan bahwa masalah mendasar mengapa masyarakat
tertidas (subaltern) tak dapat bersuara adalah karena
media untuk bersuara sudah dikuasai oleh kelas menengah
dan elit. Tata bahasa, tata krama, dan tata aturan untuk
mengungkapkan pendapat telah distandarisasi oleh
budaya dan kebiasaan kelompok masyarakat tertentu
yang jelas berbeda dengan budaya dan kebiasaan para
subaltern (Spivak, 1988).
Tatanan politik dunia juga tersusun seperti itu. Negaranegara miskin dan berkembang harus tunduk pada tata
aturan dan norma global agar dapat bersuara di tingkat
global. Masalahnya, setting dari tata aturan tersebut telah
bias oleh budaya negara-negara kaya dan adikuasa.
Sehingga ketika seorang dari negara-negara miskin di Sub
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Sahara atau Asia Tenggara ingin berbicara, maka dia


harus dapat terlihat seperti standar modular form tersebut,
atau paling tidak ia harus melakukan mimicry. Sayangnya
ketika itu terjadi, dia sudah tidak lagi dapat
merepresentasikan dirinya seratus persen sebagaimana
masyarakat aslinya yang hendak ia suarakan kepentingannya. Hal ini pulalah yang disesalkan oleh seorang tokoh
kulit hitam paling tersohor, Frantz Fanon. Fanon menyebut
kondisi ini seperti orang berkulit hitam yang mengenakan
topeng berwajahkan orang berkulit kulit putih agar dapat
disebut beradab dan diterima keberadaannya di tengah
masyarakat (Fanon, 1967). Fanon menyebutkan:
To speak a language is to take on a world, a culture.
The Antilles Negro who wants to be white will be the
whiter as he gains greater mastery of the cultural tool
that language is. Rather more than a year ago in Lyon,
I remember, in a lecture I had drawn a parallel between
the Negro and European poetr y, and a French
acquaintance told me enthusiastically, At the bottom you
are a white man. The fact that I had been able to
investigate so interesting a problem through the white
mans language gave me honorary citizenship
[berbicara menggunakan bahasa tertentu adalah juga
menerima budayanya. Seorang Negro Antilles yang
ingin menjadi kulit putih akan menjadi demikian sebesar
ia menguasai budaya dari bahasa yang dipakainya.
Setahun lalu di Lyon, dalam sebuah ceramah seorang
teman Prancis mengatakan kepadaku dengan antusias,
jauh di dasar dirimu kamu adalah orang kulit putih.
Sebab kenyataannya saya dapat melihat persoalan
melalui cara orang kulit putih dan menggunakan
bahasanya, dari itu pulalah saya dihormati sebagai
seorang warga.]
Pernyataan di atas menunjukkan betapa dominasi dan
hegemoni global tengah terjadi di berbagai sisi kehidupan
Good Governance dalam Bingkai Neokolonialisme

SG
27

SG
28

manusia. Indikator keberadaban dan kemajuan telah tersentral menjadi sebuah ukuran tunggal. Peradaban dunia
menjadi sangat monolitik. Hal inilah sesungguhnya yang
membuat capaian GG di berbagai belahan dunia
sebenarnya sangat artifisial dan formalistik di atas kertas
laporan belaka. Tapi secara substantif hubungan ideal negara, pasar dan masyarakat sipil tidaklah sungguhsungguh tercapai secara mendasar. Kenyataan ini sebenarnya telah diketahui secara luas oleh berbagai kalangan.
Pada titik ini, pertanyaannya adalah mengapa lembagalembaga donor internasional begitu getol untuk mendesakkan program GG ini sehingga mengalokasikan anggaran
yang begitu besar dalam jangka waktu yang begitu lama
(umumnya antara 10 15 tahun)? Faktanya, di negaranegara berkembang kesempatan kerja sangatlah sempit.
Bahwa beberapa negara berkembang yang pendidikannya
cukup baik malah justr u banyak menciptakan pengangguran terdidik. Sehingga dengan adanya proyek GG
yang datang dengan berbagai macam bentuk, donor dan
daerah membuat masyarakat memandangnya sebagai
kesempatan kerja. Mereka bekerja untuk proyek GG tetapi
bukannya memetik manfaat dari outcome dari keberadaan
ruh GG itu sendiri.
Proyek yang dilahirkan oleh pihak lembaga donor ini
tak lain merupakan kelanjutan dari episode terdahulu
tentang deveoplentalisme. Setelah teori pertumbuhan
Rostow yang didukung oleh lembaga-lembaga donor ini
pada kurun waktu 1970-an sampai awal 1990-an gagal
total secara mondial. Hal ini terbukti masih saja negaranegara berkembang kondisinya jauh tertinggal baik secara
ekonomi maupun politik. Maka babak berikutnya adalah
membawa barang dagangan baru yang bernama Good
Governance. Fakta menunjukkan bahwa tingkat inflasi di
seluruh negara berkembang selalu saja di atas negara
maju sejak hampir 40 tahun. Konteks sejarah sangat
penting untuk memahami sebenarnya dari mana asal
muasal desentralsaisi hadir di negara-negara berkembang.
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Kepedulian Ali Farazmand -yang sesungguhya sudah


diinternaslir oleh World Bank (2005)- tentang perlunya
melihat ketidakadilan global sebagai agenda utama dalam
pembangunan negara berkembang adalah hal penting yang
harus dipertimbangkan. Sebab berbicara tentang GG
bukanlah untuk GG itu sendiri. Berbicara pembangunan
adalah berbicara mengenai keberpihakan terhadap
subaltern, yaitu masyarat yang umumnya miskin. Maka
membuat GG sebagai sebuah wilayah kajian yang steril
dari kancah kehidupan yang luas sangatlah naif. GG
bukanlah sebuah akuarium dengan terumbu karang dan
ikan-ikan yang indah-indah. Akan tetapi dia harus ditempatkan di dasar laut dimana keindahan dan kengerian
bersatu padu dalam sebuah kehidupan nyata.
Berbagai literatur sangat penuh sesak dengan melulu
menyalahkan masalah domestik sebagai penyebab
kegagalan pembangunan di negara berkembang. Apakah
semua problem tersebut juga steril? Apakah korupsi,
kelangkaan anggaran dan lemahnya kapasitas pemerintah
lokal adalah masalah bawaan negara berkembang sejak
lahir? Kita akan coba melihatnya satu persatu dalam
kacamata yang lebih luas, konteks global.
Gelombang kolonalisme yang berlangsung selama
ratusan tahun meninggalkan bentuk formal negara di
colonized countries . Konsep birokrasi rasional Weber
terkirim secara internasional melalui proses kolonialisme
tersebut. Hal ini terjadi karena para penjajah memerlukan
sistem organisasi yang sesuai dengan kebiasaan mereka
dalam rangka menjalankan sistem pemerintahan
kolonialnya. Gaya organisasi pemerintahan yang birokratis
tersebut telah terintenalisir selama ratusan tahun di negaranegara colonized (yang sekarang menjadi negara
berkembang). Meskipun para penjajah telah pergi tapi
mereka tetap mempraktekkan gaya pemerintahan penjajah
tersebut. Kolonalisme juga selalu dilangsungkan dengan
cara sentralistik. Tidak hanya sentralistik di daerah tertentu
Good Governance dalam Bingkai Neokolonialisme

SG
29

SG
30

di wilayah itu, tapi juga tersentral di negara penjajahnya


(Blaut, 1993, p. 53). Maka perilaku pemerintahan negara
bekas jajahan (berkembang) yang sentralisitik dan
birokratis sesungguhnya juga merupakan warisan dari
kolonialisme itu sendiri.
Kelangkaan anggaran yang terjadi di negara bekas
jajahan apakah dikarenakan mereka memang terlahir
untuk menjadi miskin? Fakta menunjukkan bahwa
sesunguhnya sebagian besar negara berkembang yang ada
saat ini memiliki wilayah yang luas, penduduk yang besar
dan sumber daya alam yang melimpah. Tapi kenyataannya
negara-negara tersebut mengalami kelangkaan anggaran
sehingga mereka harus melakukan hutang luar negeri.
Akibatnya negara tidak cukup memiliki dana untuk
melakukan pembangunan domestik. Transfer dana dari
pusat ke daerah pun tidak dapat berlangsung secara
maksimal. Lalu kita harus melihat pada praktek MNC dan
TNC di negara-negara berkembang. Apa yang mereka
dapat dan berapa banyak? Apakah sebanding penghasilan
perusahaan-perusahaan raksasa dengan kontribusinya
pada negara dimana sumber daya alam itu mereka keruk?
Sebagai misal. Inggris adalah negara yang tidak memilki
sumber minyak bumi. Namun negeri ini memiliki
perusahaan minyak yang cukup besar (Knox, 2003, p. 77).
Kita juga bisa melihat bagaimana perbandingan antara
anggaran tambang minyak dengan APBN kita. Di sini
terlihat masalah finance yang menjadi salah satu persoalan
atas kegagalan desentralisasi juga terkait dengan aspek
global.
Sentralisasi, desentralisasi dan GG merupakan sebuah
pemetasan yang diproduseri dan disutradaai oleh subyek
yang sama. Fakta menunjukkan bahwa praktis sejak
berakhirya PD II, hampir semua negara berkembang
berada di bawah asuhan World Bank dan IMF, termasuk
pada saat negara berkembang berada pada masa pradesentralisasi. Lembaga-lembaga donor ini ada dan
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

beroperasi di masa-masa tersebut. Dan merka tetap saja


men-support (untuk tidak mengatakan mendikte) praktek
pemerintahan yang terjadi di sana (Panayiotopoulos and
Capps, 2001, p. 48). Hal ini menunjukkan bahwa pada masa
otoritarian sentralistik pun sebenarnya keberadaan
lembaga-lembaga donor sama persis ketika mereka
mengkampanyekan desentrlisasi dan GG. Mereka samasama ada di dalam proses dan ada di balik dua praktek
yang sebenarnya jauh bertentangan, yaitu sentralisasi dan
desentralsisasi, bad governance dan good governance .
Demikian pula korupsi yang menjalar di seluruh jaringan
birokrasi pemerintahan yang diakibatkan hazard debt yang
diberikan lembaga-lembaga donor kepada pemerintahanpemerintahan diktator sentralistik.
Oleh karenanya yang paling penting saat ini adalah
bagaimana untuk menerapkan keadilan global dalam
rangka reformasi pemerintahan di negara berkembang.
Konsep Ali Farazman Sound Governance (2004)
merupakan sebuah terobosan yang sangat keras terhadap
gaya neo-liberal bertajuk good governance yang hanya
mempersepsi masalah negara berkembang sebagai melulu
masalah domestik. Dengan strategi penataan kembali
hubungan internasional yang dilakukan bersamaan dengan
pembenahan internal, merupakan agenda yang paling
tepat untuk perbaikan sistem pemerintahan di negara
berkembang. Sebenarnya World Bank sendiri (2006) sudah
menyadari adanya ketidakadilan struktural internasonal
yang hal ini har us diperbaiki bersamaaan dengan
perbaikan masalah domestik, seperti korupsi, finansial,
kapasitas, dan lain-lain. Redistribusi kekuasaan
pertumbuhan dan pemerataan jangan menjadi dikotomi.
Hanya saja baik GG maupun World Bank belum cukup
memberikan bekal teknis bagaimana cara mewujudkan itu
semua. Keduanya masih bersifat wacana diskursif tentang
perlunya hal tersebut tapi tak memberi bimbingan
bagaimana mewujudkannya. Untuk mewujudkan keadilan
Good Governance dalam Bingkai Neokolonialisme

SG
31

SG
32

dalam daya tawar internasional negara berkembang


berhadapan dengan negara maju bukanlah soal mudah.
Dari segi ekonomi konsolidasi negara maju baik melalui
OECD maupun melalui G-8 sangatlah solid. Sukar bagi
negara berkembang untuk menerobos bisnis skala global
bila jaringan eksklusif negara maju dengan kekuatan
modal yang luar biasa masih saja bertahan.
Belum lagi berbicara tentang kekuatan militer negara
maju yang sudah jauh di atas rata-rata. Hal-hal tersebut
membuat daya tawar negara berkembang menjadi sangat
lemah. Penekanan-penakan kebijakan negara berkembang
agar berpihak pada kepentingan bisnis negara maju terus
berjalan. Sementara perkembangan pembangunan saat ini
sudah menghadapkan pembangunan sebagai pintu untuk
memasuki bisnis global (Montgomery et all, 2003). Bila
ini dipraktekkan, maka sama artinya dengan pembangunan di negara berkembang untuk memasuki arena
pertarungan yang tak sebanding. Wajar bila Motogomery
mengatakan bahwa pembangunan di negara berkembang
tak mampu menjadi mesin penggerak ekonomi sebab
ekonomi dunia masih ditentukan oleh segelitir negara kaya.
Buku ini sama sekali tidak mengajak kita pada sikap
oksidentalisme yang serba anti barat. Sebab kenyataan
dunia saat ini sudah sangat kompleks dan tak lagi
dikotomis. Yang paling penting untuk dilakukan adalah,
sebagaimana dikatakan Prakash, reworking sejarah barat
dan melakukan provinsionalisasi atas standar barat, bukan
menghabisinya (Prakash, 1996). Artinya, bagaimana menempatkan segala standar-standar ideal versi barat, termasuk terma good dalam GG hanya untuk konteks barat
saja. Dan mempersilahkan tumbuh kembangnya berbagai
indikator lain di daerah lain dalam konteksnya masingmasing. Hal ini menjadi semangat dasar SG yang
didasarkan pada prinsip toleransi dan pengenalan dan
pengakuan atas adanya keberagaman dalam reformasi
tata pemerintahan.
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

BAB III
GOOD GOVERNANCE
SEBAGAI ANAK IDEOLOGIS
NEOLIBERALISME
Sekilas Tentang Ideologi

Ideology is most effective when its working are least


visible... And invisibility is achieved when ideologies are
brought to discourse not as explicit elements of the text,
but as the background assumptions which on the one hand
lead the text producer to textualise the world in a particular
way, and on the other hand lead the interpreter to interpret
the text in a particular way.
(Fairclough, 1989: 85)
(Ideologi itu paling efektif ketika dia bekerja dengan
sangat tak terasa... Dan ketidakterasaan ini akan dicapai
manakala ideologi-ideologi dihadirkan ke dalam diskursus
bukan sebagai elemen-elemen yang bersifat eksplisit dari
teks, namun sebagai asumsi-asumsi latar belakang yang
di satu sisi mengarahkan produsen teks untuk mentekstualisasikan dunia dengan cara tertentu)
***
Bagi seorang petani, cangkul merupakan benda yang
penting. Sementara bagi seorang tukang jahit, cangkul
bukan termasuk benda yang penting jika dibandingkan
dengan mesin jahit atau segulung benang. Mengapa benda
yang sama bisa memiliki makna yang berbeda bagi dua
orang tersebut? Karena adanya perbedaan cara pandang
di antara keduanya. Dan perbedaan cara pandang tersebut
pada gilirannya ditentukan oleh posisi kedua orang terebut
dalam struktur sosio-ekonomi yang ada. Sebagai petani,
Good Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

SG
33

SG
34

seseorang akan melihat dunia secara berbeda dengan


seorang nelayan. Bukan karena individualitasnya, namun
karena profesi keduanya membutuhkan alat-alat dan cara
kerja yang berbeda satu sama lain. Posisi yang berbeda
dalam struktur sosio-ekonomi telah membentuk cara
pandang yang berbeda diantara keduanya dalam memprioritaskan makna benda yang bernama cangkul.
Cara pandang itu sendiri bukanlah sesuatu yang fixed
dan tak bisa diubah. Cara pandang adalah sesuatu yang
cair dan senantiasa bisa dibentuk sekaligus membentuk
cara pandang pihak lain. Pada dasarnya, cara pandang
itu merupakan sesuatu yang berwatak sosio-historis.
Artinya, cara pandang tertentu merupakan buah atau
produk dari suatu proses sosial yang berlangsung dalam
jangka waktu tertentu. Proses sosial yang dimaksud ialah
proses komunikasi. Apa yang sesungguhnya berlangsung
dalam proses komunikasi bukanlah sekedar penyampaian
pesan dari pihak pengirim ke pihak penerima, namun lebih
dalam dari itu. Proses komunikasi merupakan proses
dimana konsepsi-konsepsi atau cara-cara pandang dunia
yang dianut oleh masing-masing pihak yang terlibat dalam
proses itu saling bertemu dan berhadap-hadapan satu sama
lain. Ketika konsepsi atau cara pandang dunia itu relatif
mirip, maka yang terjadi ialah penguatan atau pengukuhan
cara pandang satu sama lain. Sementara ketika konsepsi
atau cara pandang dunia itu saling bertentangan sehingga
yang terjadi ialah sebuah pertarungan saling mendominasi.
Ketika cara pandang itu mencakup suatu gagasan yang
kohesif dan komprehensif mengenai dunia sosial ideal yang
dicitakan maka secara sederhana cara pandang tersebut
disebut sebagai ideology. Sebagai suatu cara pandang,
ideologi ada dalam ruang kesadaran, bukan dalam ruang
teks. Teks menyampaikan ideologi, namun teks bukan
ideologi itu sendiri. Ideologi ada dan mengeram dalam diri
manusia, bukan dalam aksara. Apa yang dilakukan aksara
atau teks hanya sebagai perantara antara ruang kesadaran
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

yang satu dengan ruang kesadaran yang lain, antara satu


cara pandang dengan cara pandang lain. Pemahaman
bahwa ideologi ada dan mengeram dalam ruang kesadaran
manusia dan bukan dalam teks, merupakan pemahaman
yang penting artinya agar di kemudian hari tidak muncul
anggapan bahwa seolah-olah ideologi itu hanyalah suatu
debat wacana semata. Ideologi merupakan sesuatu yang
hidup karena dia ada sebagai cara pandang manusia.
Bukan ada dalam dunia teks atau sebagai bagian dari teks.
Pemahaman seperti ini tentu saja bertentangan dengan
anggapan umum yang menganggap bahwa ideologi itu ada
dalam teks yang kemudian ditanamkan secara begitu saja
dalam benak manusia seolah-olah benak manusia itu
bagaikan tanah yang bisa ditancapi apa saja dengan
gampangnya. Ideologi pertama-tama dan terutama ada
tidak di awang-awang dunia teks. Namun ia ada dalam
ruang kesadaran dan isi ruang kesadaran itu selalu akan
tercermin dalam corak perilaku dan terartikulasi melalui
tindakan dalam bentuk praktek yang dilakukan manusia.
Ideologi bukanlah das Ding an sich, suatu benda yang ada
dalam dirinya sendiri. Ideologi adalah cara manusia
memandang dunia, atau dalam bahasa kerennya, suatu
proyeksi atas dunia yang dilakukan manusia dalam alam
batinnya.
Ini tak berarti bahwa membicarakan teks dalam hubungannya dengan ideologi itu menjadi tidak penting.
Justru sebaliknya, membincang teks menjadi penting disini.
Hanya saja, harus dipahami posisi teks itu mewujud sebagai
apa. Seperti sudah dikatakan, teks merupakan penyampai
ideologi dari satu ruang kesadaran ke ruang kesadaran
lain. Efektivitas teks sebagai penyampai sangat ditentukan
oleh kecanggihan suatu ruang kesadaran (yaitu manusia)
untuk membangun teks yang sedemikian rupa sehingga
akan bisa diminimalisir sekecil mungkin resistensi dari
ruang kesadaran lain (individu yang lain). Tidak setiap teks
itu bisa diterima begitu saja oleh ruang kesadaran lain.
Good Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

SG
35

SG
36

Tidak setiap teks bisa mengeram begitu saja dalam ruang


kesadaran lain. Kutipan Norman Fairclough di atas
barangkali bisa memberikan wawasan sederhana
mengenai bagaimana agar suatu ideologi bisa efektif
mengeram di suatu r uang kesadaran lain lewat
perantaraan teks atau diskursus. Kemampuan untuk
menjadikan suatu teks diskursif bisa menyampaikan ide
secara tanpa terasa atas cara pandang atau ideologi
tertentu kepada ruang kesadaran (pikiran manusia) lain
menjadi kunci dari efektivitas penyebarluasan ideologi ke
khalayak yang lebih luas. Watak sosial dari teks inilah yang
menjadikan perbincangan tentang teksdalm ruang ideologi
itu merupakan hal amat vital karena dalam posisinya
sebagai wahana komunikasi, teks mempunyai potensi
secara efektif untuk menyebarluaskan ideologi ke berbagai
ruang kesadaran secara luas.
Bagaimanapun juga, setiap cara pandang itu agar bisa
dikomunikasikan kepada pihak lain, kepada r uang
kesadaran lain, akan dihadirkan dalam bentuk ungkapanungkapan diskursif seperti kalimat atau konsep. Maka
setiap kalimat atau konsep sesungguhnya membawa cara
pandang tertentu atas dunia, baik disadari atau tidak oleh
pihak pewicaranya. Tak ada kalimat atau konsep yang
netral dari penyampaian cara pandang tertentu, bahkan
untuk kalimat yang nampaknya sederhana. Setiap kalimat
atau konsep akan disampaikan dalam suatu konteks dan
dengan cara tertentu. Sebuah kalimat akan mengubah
konstelasi segenap alam kesadaran yang ada dalam konteks
tersebut. Ambil satu contoh, misalkan ungkapan yang
mengatakan Dia adalah anaknya si X. Kalimat tersebut
akan menjadikan orang-orang yang mendengarnya lantas
paham bagaimana memposisikan dia karena telah diketahui bahwa ternyata dia adalah anak anak dari si X.
Informasi mengenai anak si X memberi petunjuk mengenai bagaimana cara memandang dia. Cara pandang

SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

orang-orang terhadap si X ber ubah akibat adanya


informasi yang terkandung dalam kalimat tersebut.
Hanya saja, memang tidak setiap kalimat atau konsep
itu membawa cara pandang yang kohesif dan komprehensif.
Kohesivitas dan komprehensivitas cara pandang akan
tercipta manakala cara pandang itu merupakan suatu cara
pandang yang lebih saling kait-mengkait membentuk
gambaran yang lebih luas tentang dunia. Kohesivitas
berhubungan dengan bagaimana sesuatu dipandang
memiliki hubungan (apapun jenis dan tingkatan hubungannya) dengan hal-hal yang lain. Sedangkan komprehensivitas berhubungan dengan banyaknya hal-hal yang
disatukan menjadi satu untaian atau jalinan hubungan
yang utuh. Jadi, ideologi tak memandang dunia sebagai
keping-keping yang berserakan. Akan tetapi ia merupakan
jalinan satu kisah yang mengarah atau menuju kepada
hal-hal yang lain. Nah, setiap ideologi memiliki penjelasan
mengenai segala sesuatu yang saling berhubungan dalam
jenis dan tingkatan tertentu. Dalam konsep-konsep rasional,
watak ideologis dari setiap konsep rasional tersebut niscaya
ada. Hal ini karena konsep rasional senantiasa mengandung pengandaian-pengandaian tentang gambaran
dunia yang utuh dan saling jalin-menjalin diantara bagianbagiannya. Dimana konsep tersebut merupakan proses
penyederhanaan dalam merepresentasikan proses atau
struktur rangkaian antara bagian-bagian yang ada atas
gambaran dunia tersebut.

Sekilas tentang Neoliberalisme

Rodan, G, Kevin Hewison dan Richard Robinson (2001)


secara gamblang memetakan posisi neoliberalisme di
tengah ideologi-ideologi lainnya dan berbagai derivatif yang
ada di dalamnya.
Teori ekonomi neo-klasik adalah sebuah pendekatan
(ideology) yang mengutamakan mekanisme pasar.
Asumsinya adalah sifat alamian dari pasar (mencakup
Good Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

SG
37

SG
38

hukum-hukum internal serta pilihan rasional individuindividu yang ingin memaksimasi keuntungan) membuat
pasar menjadi sebuah mekanisme yang paling effisien
secara universal. Kebijakan publik yang baik, dengan
demikian, adalah kebijakan yang dapat menjamin
bergeraknya pasar secara bebas. Inter vensi Negara
terhadap bergeraknya pasar secara bebas itu akan
mengurangi efektifitas dari pasar dalam mengalokasikan
sumber daya. Pada basis inilah World Bank dan IMF
mendesakkah strategi deregulasi ekonomi, privatisasi dan
fiskal ketat (yang kemudian disebut Washington
Consensus) ke negara-negara berkembang ditahun 1980an sampai 1990an.
Neo-klasik bermetamorfosis menjadi neoliberalisme saat
prinsip-prinsip pasar diperluas penerapannya tidak hanya
dalam bidang ekonomi tapi juga arahan umum dalam
berbagai sisi dalam kehidupan sosial, termasuk
pemerintahan.
Dalam konteks ini, sekali lagi, tugas dari Negara adalah
menjamin berlangusngnya pasar bebas. Pasar bebas yang
dimaksud seringkali gagal berjalan dengan optimal karena
adanya rent-seekers (pemburu rente), yaitu para aktor
yang memanfaatkan kekuasaan untuk mendapatkan
keuntungan sendiri dari pasar. Pasar, oleh para pemburu
rente ini, dimanipulasi sehingga aliran sumberdayanya
tidak mengarah pada kehendak pasar, melainkan
mengarah pada kehendak para pemburu rente itu. Dari
sini, tapmak bahwa konsep rent-seeking society juga
merupakan bagian dari paham neoliberalisme. Negara,
menurut para komprador neoliberalisme, dengan kekuasaannya, harus dapat mengeliminasi para pemburu
rente dari muka publik.
Kebijakan publik yang baik, oleh karenanya, harus
mencakup setidaknya tiga hal. Pertama, kebijakan publik
har us dapat meningkatkan kapasitas negara dalam
mengeliminasi keberadaan dan tumbuhkembangnya
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

pemburu rente. Kedua, kebijakan publik harus mengarah


pada perubahan peran negara sebagai pelaku utama
pembangunan menjadi fasilitator, sebab pelaku utama
pembangunan adalah pasar. Ketiga, kebijakan publik harus
dapat memberikan piranti bagi negara (fasilitator) dalam
menjamin keberlangsungan pasar secara efisien. Dari sini
terlihat bahwa sebenarnya paham neoliberalisme tidak
sepenuhnya anti-negara. Pada level tertentu ia masih
membuthkan peran negara, mseki dalam level yang sangat
minimal.
Salah satu problem inheren dari liberalisme klasik yang
hendak dijawab oleh neo-liberalisme adalah masalah
collective action dillema. Ketika motivasi memaksimalkan keuntungan pribadi menjadi fundamen inti dari
mekanisme alamiah pasar dalam bekerja, maka masalah
collective action ini muncul. Pertanyaannya adalah siapa
yang rela mengorbankan tenaga dan waktunya untuk
mengerjakan hal-hal yang bersifat kebutuhan publik (public
goods)? Utamanya saat di mana kebutuhan publik itu akan
terpenuhi bila hanya cukup satu orang saja yang
mengerjakannya, maka semua orang akan merasakan
manfaatnya. Saat situasi seperti ini terjadi, siapakah orang
yang mau bersukarela mengambil peran itu? Terlebih
ketika insentif yang didapatkannya sama saja dengan
insentif bagi mereka yang tidak mengerjakannya. Atau
bahkan insentif yang didapat lebih sedikit dan merekamereka yang ikut menikmati hasilnya.
Contohnya, di kota tertentu ada sebuah aktifitas industri
yang menimbulkan polusi yang dapat membahayakan
kesehatan seluruh warga kota. Semua orang di kota itu
tahu kalau sistem pembuangan limbah per usahaan
tersebut harus dievaluasi dan dikritisi. Akan tetapi tidak
ada yang mengambil inisiatif, sebab mereka saling
menunggu satu sama lain. Bila ada satu orang saja yang
mengambil tindakan untuk berbicara pada pimpinan
perusahaan dan pejabat setempat maka masalah akan
Good Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

SG
39

SG
40

selesai. Dampaknya seluruh kota akan merasakan manfaat


(mendapatkan insentif) yang besarannya sama persis satu
sama lain, bahkan dengan si insiator. Dalam neoliberal,
sikap inisiator tadi adalah irrasional sebab dia bertindak
tidak atas dasar memaksimasi keuntungan. Karena orang
semacam itu adalah irrasional, maka kemuculannya
tidak bisa diharapkan menjadi solusi atas masalah-masalah
sosial ekonomi yang ada.
Neoliberalisme menjawab masalah itu dengan
pendekatan yang disebut ekonomi institusionalisme baru
(new institutionalism economics). Pendekatan ini percaya
bahwa manusia membangun insitusi (aturan) adalah untuk
mengurangi biaya transaksi ( trasaction cost ). Biaya
transaksi disini maksudnya adalah landasan untuk
melakukan pertukaran, ditengah kelangkaan kepercayaan.
Uang, adalah contoh dari insitusi itu. Kita semua sepakat
bahwa insitusi yang bernama uang adalah bernilai sama
pada r uang dan waktu tertentu. Sehingga kita rela
menukarkan sapi kita yang seberat tigaratus kilogram
dengan segepok uang (kertas) yang hanya berbobot kurang
dari satu kilo. Atau menukarkan rumah yang beratnya
puluhan ton hanya dengan selembar cheque atau bukti
transfer bank elektrik. Insitusi berupa uang dan cheque
tidak akan bekerja bila tidak ada institusi lain yang
melingkupinya, yaitu kebijakan moneter misalnya.
Kebijakan moneter sebuah negara menentukan seberapa
besar nilai dari uang seratus ribu, sepuluh juta, satu miliar
dan seterusnya. Uang dan kebijakan moneter sama-sama
merupakan institusi, aturan, dimana semua orang harus
berpijak dalam setiap aktifitas ekonomi yang dilakukan.
Dengan mekanisme yang sama, neoliberal percaya
bahwa masalah collective action juga bisa diatasi.
Kembali pada contoh limbah pabrik tadi, maka harus ada
petugas pemeriksa limbah dan kebijakan pengelolaan
limbah. Sehingga masyarakat kota tidak perlu menunggu
munculnya orang berhati mulia yang akan datang
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

menyelesaikan masalah itu. Sudah ada solusi mekanik atas


setiap masalah yang muncul.
Di sinilah salah satu perbedaan utama antara liberalisme klasik dengan neoliberal. Meskipun begitu neo-liberal
tidak serta merta dapat disimpulkan mem-bangkitkan
peran negara yang telah dikubur dalam-dalam oleh
liberalisme klasik. Insitutsi publik (uang, kebijakan
moneter, petugas lingkungan, kebijakan pengelolaan
limbah, dll) adalah hasil dari berlangsungnya mekanisme
pasar. Ini adalah prinsip dasar kedua setelah new
institutionalism economic, yaitu public choice theory. Para
komprador teori pilihan publik (seperti Krueger, Buchanan
dan Tullock) berargumentasi bahwa r uang politik
mer upakan pasar ( marketplace ) tempat terjadinya
transaksi para politisi, pejabat dan kelompok kepentingan
lainnya. Hasil dari pertukaran (transaksi) para pelaku
pasar inilah yang kemudian menghasilkan kebijakan
publik dan institusi.
Neoliberal, kendati demikian, menyadari bahwa ada
potensi laten yang tersimpan dari mekaniskme ini, yakni
apa yang disebutnya sebagai the predatory interests of
political leaders. Sebab, harus mereka akui juga bahwa
dalam mekanisme ruang politik sebagai pasar pemimpin
politik juga merupakan bagian dari pedagang di pasar
politik tersebut. Masalahnya adalah, kekuatan pemimpin
politik secara relatif lebih besar dibandingkan dengna
pedagang-pedagang lainnya. Maka besar kemungkinan
dengan mekanisme pasar yang liar maka siapa yang
kuat dialah pemenangnya. Dalam pada ini, penguasa
politik akan selalu menjadi yang terkuat, nota bene, selalu
menjadi pemenang. Lagi-lagi, neoliberal mengaharapkan
peran negara (dalam ini negara diartikan sebagai
kumpulan peraturan bukan orang-perorang) dalam
mengeliminasi munculnya pemimpin-pemimpin predator.
Di atas semua itu, semua pengjawantahan insitusi dan
negara adalah, sekali lagi, untuk membebaskan pasar
Good Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

SG
41

SG
42

menunjukkan performa terbaiknya. Ibarat aliran sungai,


pasar selalu akan membawa air pada muara yang tepat.
Negara, hukum, insitusi adalah petugas kebersihan sungai
yang tugasnya mebersihkan sungai dari timbunan sampah
yang bisa menyumbat aliran itu yang bisa mengakibatkan
air meluber tak tentu arah. Mekanisme pasar ibarat gaya
grafitasi yang absolute kebenarannya.
Lelah banyak kritik atas neoliberalisme ini, terutama
dari kalangan Marxis. Itu sudah sangat kentara. Berikut
akan dipaparkan kritik atas neoliberalisme dari paham
non-Marxis.
Pertanyaannya mendasarnya adalah: benarkah pasar
itu stabil? Benarkah mekanisme pasar akan menyediakan
distribusi sumberdaya secara optimal?
Dengan krisis finansial saat ini, orang yang fasih
berbicara soal speculative bubble pastinya akan laris
untuk menjadi narasumber di mana-mana. Tapi ini hanya
menjelaskan keadaan, bukan menjawabnya. Seperti
dikatakan oleh Hyman P. Minsky, bahwa sistem ekonomi
dunia kini (liberalisme) sebenarnya dibangun di atas
gelembung-gelembung spekulasi. Gelembung-gelembung
rapuh yang menahan Bumi seberat 5 triliun biliun kilogram
ini.
Gelembung ekonomi yang dimaksud Minsky sama
persis dengan mainan gelembung air sabun yang biasa
dimainkan anak-anak itu. Mereka meniup kawat berbentuk
lingkaran yang telah dicelupkan dalam air sabun. Lalu
gelembung itu akan terbang tinggi sampai pada titik tertentu ia tak kuasa menahan tekanan udara, lalu meletus.
Bukan hanya tekanan udara yang membuat gelembung
itu meletus, tetapi juga substansinya yang makin menipis.
Kalau sudah begitu anak-anak kembali mencoba membuat
gelembung baru, dan seterusnya.
Tak lebih dan tak kurang, begitulah sistem ekonomi
dunia dibangun. Fenomena ini sangalah sederhana. Ambil
contoh pedagang mainan gelembung tadi. Satu pedagang
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

berjualan gelembung di muka sekolah dan mendapatkan


untung yang banyak. Hal ini akan menarik pedagangpedagang lainnya untuk ikut berjualan. Lama-kelamaan
penawaran akan melebihi permintaan, yang berakibat
keuntungan tidak dapat menutup biaya produksi. Pada saat
persaingan bebas yang terjadi, maka semua pedagang akan
mengalami kerugian yang sama. Lalu krisis ekonomi di
sektor bisnis mainan gelembung pun akan terjadi.
Kenyataan ini diamini oleh seluruh ekonom dari berbagai
aliran. Hanya saja yang membuat mereka berbeda adalah
apa yang terjadi kemudian. Apakah kepala sekolah harus
datang dan mengatur kembali tata cara berbisnis mainan
gelembung? Apakah orang tua murid harus menambah
uang saku, agar anak-anaknya bisa beli lebih banyak
mainan gelembung, sehingga para pedagang selamat dari
kebangkrutan? Ataukah dibiarkan saja, dengan keyakinan
bahwa pasar akan stabil dengan sendirinya (self-fulfiling
stability).
Model ekonomi liberal serupa ini terjadi di seluruh sektor
dalam sistem ekonomi global hari ini. Di Amerika Serikat
terjadi gelembung spekulasi di sektor perumahan atau
housing bubble. Sebuah rumah yang dibeli dengan harga
$160,000 di tahun 1996 dalam waktu tujuh tahun melonjak
harganya menjadi $445,000 atau mengalami kenaikan sebesar 178%. Tentu hal ini sangat menggiurkan. Orang berbondong-bondong melakukan hal yang sama, membeli
r umah sebagai bagian dari bisnis. Bahkan Harian
Washington Post di bulan April 2006 pernah memberitakan
bahwa ada orang yang membeli dalam menjual rumah pada
hari yang sama! Akibatnya tabungan di bank pun menurun
drastis, sebab semua uang habis berputar di bisnis jual beli
rumah. Dan, secara ironis, akibatnya harga rumah menjadi
makin mahal. Sebab keinginan orang untuk membeli rumah
(untuk dijual kembali, bukan untuk ditinggali) meningkat
tajam. Pada titik kenaikan harga tertentu, harga rumah
menjadi terlalu mahal bagi pembeli, ter utama jika
Good Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

SG
43

SG
44

dibandingkan dengan harga sewa. Karena harga yang


secara relatif mahal ini, orang pun makin malas membeli
rumah, dan berpikir lebih baik menyewa saja. Sehingga
permintaan akan rumah merosot tajam. Inilah titik di
mana gelembung itu meletus.
Yang tinggal kemudian adalah jutaan orang yang
memiliki rumah, tapi tak bisa menjualnya sebab tak ada
orang yang mau membeli, dan tak punya tabungan.
Likuiditas membeku. Sejak tahun 2007 harga rumah di
Amerika turun sebesar 30%. Jadi, kalau anda membeli
rumah seharga 600 juta rupiah di tahun 2004 maka anda
hanya akan mampu menjualnya seharga 420 juta rupiah
di tahun 2007, atau rugi sebesar 180 juta! Bisa dihitung
berapa total kerugian bila dianggap saja ada 20 juta orang
Amerika yang melakukan bisnis semacam ini. Belum
termasuk multiplier effects nya.
Sekali lagi, economic bubble semacam ini terjadi di
mana-mana di seluruh penjuru dunia dan di berbagai
sektor. Pemenang Nobel Ekonomi 2008, Paul Krugman,
juga pernah bercerita tentang gelembung finansial di
negara dunia ketiga sebagai sebab krisis ekonomi 1997.
Lalu dot-com bubble yang berakibat rontoknya bisnis
internet di dunia pada tahun 2000.
Kembali pada contoh housing bubble di Amerika,
sebagian dari kita lalu akan bertanya, dari mana orangorang itu mendapatkan uang untuk menjalankan bisnis
instan semacam jual beli rumah ini? Tentu jawabnya
adalah dari pinjaman bank (mortgage), dari sistem
finansial. Masyarakat mengajukan kredit pada bank untuk
membeli rumah, dengan harapan akan membayarnya
setelah berhasil menjual rumah itu kembali, dan meraup
untung.
Lantas, dari mana bank mendapatkan uang untuk
memberi pinjaman pada orang-orang ini, jawabannya
sungguh di luar dugaan: dengan meminjam uang ke bank
lain! Ini disebut dengan proses sekuritisasi. Tentu saja
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

nama yang sangat aneh dan paradoks; sebab ini adalah


sistem yang sama sekali tidak aman. Dengan sistem
finansial semacam ini, kebangkrutan di satu bank bisa
dengan cepat menular ke bank-lain. Parahnya, sistem
finansial yang rapuh dan salingtergantung ini telah terinternasionalisasi dengan pusatnya adalah Amerika Serikat!
Ilmuwan-ilmuwan semacam Paul Krugman, Dean Baker,
James K. Galbraith, William Black dll mungkin akan
berkata lantang: kami sudah mengingatkan sejak jauhjauh hari, tapi mereka (katakanlah kepala bank sentral
Amerika/the Fed Alan Greenspan) tak pernah mendengar!
Dari apologi semacam itu maka pertanyaanku adalah
Mengapa selama ini Alan tak mendengarkan kalian?
Tentu saja karena gagasan-gagasan mereka tak enak di
dengar telinga, karena penuh dengan kekuatiran serta
ancaman, dan, pastinya, tak nyaman bagi mengalirnya
uang ke kantong.
Alan Greenspan lebih mendengarkan omongan Myron
Scholes, Robert C. Merton dan John Meriwether para
petinggi perusahaan finansial raksasa bernama Long-Term
Capital Management (LTCM). Perusahaan perdagangan
saham yang menguasai seluruh sirkulasi dagang di Wall
Street ini bertabur doktor-doktor paling genius lulusan
Harvard, MIT, Stanford dan London School of Economics
(LSE). Bahkan dua diantaranya adalah peraih Nobel di
bidang ekonomi. Yang bekerja secara konkret menghasilkan
milyaran US$ di perputaran saham Dow Jones.
Kelompok-kelompok terakhir ini masih kuat posisinya
dalam percaturan ekonomi politik internasional. Mereka
adalah penyokong ideologi neoliberalisme. Mereka percaya
dan yakin bahwa pasar adasalh solusi bagi segala hal. Krisis
ekonomi dan kemiskinan bukanlah akibat kegagalan pasar,
melainkan akibat ketidakmampuan negara dalam
membersihkan sampah-sampah pasar. Oleh karenanya
negara perlu memiliki piranti yang canggih dalam rangka
membersihkan sampah-sampah pasar itu. Salah satu
Good Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

SG
45

piranti pamungkas dalam melakukan itu adalah Good


Governance ! Akhirnya hubungan erat antara
neoliberalisme dan Good Governance ditegaskan dengan
sangat lugas oleh Rodan (2001):

SG
46

Thus the Bank began a somewhat vague advocacy


of good governance, acknowledging the social
underpinnings of corrupt or weak institutional
frameworks (World Bank 1991:6-7) The language
of participation, civil society, social capital, and
community organization became prominent as the
social basis of sustainable markets was emphasised
(see World Bank 1998). It was asserted that the state
needed to work in concert with a range of social
organizations to cement the social structures, values
and norms supportive of markets. (Rodan 2001:19).
Bank Dunia (secara setengah-setengah) mulai
mendukung diterapkannya good governance dalam
negatasi persoalan korupsi dan kelembagaan yang
lemah (World Bank 1991:6-7) kata-kata seperti
partisipasi, masyarakat sipil, modal sosial, dan
organisasi warga men-jadi populer sebagai basis sosial
dari keberlangsungan pasar (World Bank 1998). Hal
ini menekankan bahwa negara perlu bekerja sama
dengan
lembaga-lembaga
lain-nya
untuk
mengokohkan struktur sosial, nilai dan norma dari
pasar itu sendiri. (Rodan 2001, p. 19)

Good Governance anak Ideologis Neoliberalisme

Good Governance merupakan suatu konsep rasional.


Sebuah konsep yang lahir dari proses rasional manusia
(meski tidak berarti bahwa karena lahir dari proses
rasional, lantas bersifat rasional). Dan seperti konsep
rasional lainnya, konsep Good Governance juga mengandung dalam dirinya suatu cara pandang dunia yang
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

kohesif dan komprehensif, sehingga (dan oleh karena itu)


ia berwatak ideologis. Karena berwatak ideologis inilah,
konsep Good Governance har us dikaji secara kritis.
Pertanyaan utamanya ialah: Cara pandang ideologis
macam apakah yang diajarkan oleh konsep Good
Governance?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita tengok
kata-kata Paul Wolfowitz, Presiden Bank Dunia dalam sambutannya di Jakarta pada tanggal 11 April 2006. Beberapa
poin kunci yang ada dalam pidatonya adalah sebagai
berikut:
Dalam paro-abad terakhir, kami telah mengembangkan sebuah pemahaman yang lebih baik mengenai
apa-apa saja yang bisa membantu agar pemerintahan bisa ber fungsi secara efektif dan mencapai
kemajuan ekonomi. Asumsi yang ditransfer ialah:
Bank Dunia memiliki pengetahuan tentang bagaimana menciptakan pemerintahan yang efektif dan
sanggup mencapai kemajuan ekonomi. Bank Dunia
adalah sosok yang maha tahu. Selain maha tahu,
Bank Dunia punya sifat suka membantu karena
pengetahuan itu dikembangkan untuk membantu
pemerintah-pemerintah yang sedang membangun.
Jadi, Bank Dunia adalah lembaga maha tahu dan
baik hati.
Dalam komunitas pembangunan, kami punya sebuah
frase untuk menyebut hal-hal yang bisa membantu
pemerintah tersebut. Kami menyebutnya good
governance . Asumsi yang ditransfer ialah: Pengetahuan yang bisa membantu pemerintah agar
menjadi pemerintah yang baik itu disebut sebagai
Good Governance. Good Governance adalah konsep
yang baik karena lahir dari institusi yang punya sifat
baik dan maha tahu.
Good governance pada esensinya mer upakan
kombinasi antara institusi-institusi yang transparan
Good Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

SG
47

SG
48

dan akuntabel, mempunyai keterampilan dan kompetensi yang kuat, dan punya kesediaan mendasar
untuk bertindak benar. Hal-hal itulah yang memungkinkan sebuah pemerintahan bisa memberikan
layanan kepada masyarakatnya secara efisien.
Asumsi yang hendak ditransfer: Ketika konsep atau
pengetahuan yang baik itu diterapkan oleh pemerintah, maka niscaya hasilnya mesti suatu pemerintahan
yang baik pula. Inilah janji yang ditawarkan oleh Good
Governance.
Sebuah lembaga pengadilan yang independen, pers
yang bebas, dan civil society yang dinamis merupakan
komponen-komponen penting dari Good Governance.
Kesemuanya itu akan bisa menjadi penyeimbang
kekuasaan pemerintahan. Dan mereka itulah yang
mendorong pemerintah untuk akuntabel dalam
penyediaan layanan publik yang lebih baik,
penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan standar
hidup. Beberapa negara bisa saja mencapai pertumbuhan tanpa harus memiliki kesemua faktor
tersebut. Sejarah Indonesia tahun 1970-an dan 1980an sendiri menjadi sebuah ilustrasi mengenai hal
tersebut. Namun, krisis ekonomi yang melumpuhkan
dan menimpa Indonesia menunjukkan betapa rapuhnya pertumbuhan itu ketika institusi-institusi yang
menjaga agar pemerintah itu bisa akuntabel, transparan dan bertanggungjawab itu secara sistematis
dilemahkan. Asumsi yang hendak ditransfer:
Pertumbuhan yang dicapai tanpa menggunakan resep
konsep Good Governance pastilah menjadi pertumbuhan yang rapuh. Krisis ekonomi yang dialami
Indonesia menjadi bukti yang nyata dari kesimpulan
tersebut.
Secara singkat bisa dikatakan bahwa meta-asumsi dari
konsep Good Governance ialah: Pemerintah-pemerintah
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

yang tak mau mengikuti resep Bank Dunia, pastilah akan


gagal dan rapuh pertumbuhan ekonominya. Dan pengalaman krisis ekonomi Indonesia menjadi bukti yang
dijadikan justifikasi terhadap meta-asumsi tersebut. Bank
Dunia (beserta lembaga keuangan dan donor internasional
lainnya) adalah juru selamat dunia! Tak ada keselamatan
di luar Bank Dunia dan lembaga donor!
Dan ajaran apakah yang dikumandangkan oleh Sang
Juru Selamat itu? Adopsi Good Governance dan akan
kalian temukan surga dengannya. Sungguh menentramkan hati.
Lantas dijelaskan pula oleh Wolfowitz, apa sesungguhnya tujuan besar dari Good Governance itu:
What the Asian crisis of some 8 years ago shows, and
nowhere more clearly than here in Indonesia, is that
corruption is often at the very root of why governments
do not work. Today one of the biggest threats to
development in many countries, including I think here,
is corruption. It weakens fundamental systems, it
distorts markets, and it encourages people to apply
their skills and energies in nonproductive ways. In
the end, governments and citizens will pay a price, a
price in lower incomes, in lower investment, and in
more volatile economic fluctuations. That is a lesson
Indonesia learned the hard way. C o rruption
contributed significantly to the economic collapse of
1997-1998. It now looms as a major obstacle to
achieving the development successes that I believe this
country is capable of, and which the Indonesian people
deserve.

Corruption not only undermines the ability of governments to function properly, it also stifles the growth of
the private sector. We hear it from investors, domestic
and foreign, investors who worry that where
corruption is rampant, contracts are unenforceable,
Good Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

SG
49

SG
50

competition is skewed, and the costs of doing business


becomes stifling. When investors see that, they take
their money somewhere else.
To give you an idea, in Indonesia, a survey of firms
said that 56 percent of them, a majority, were willing
to pay more taxes, in fact, half were willing to pay up
to 5 percent of their revenues, if corruption could be
eliminated. When businessmen offer to pay more
taxes to solve a problem, you know it is a real problem.

than three-and-a-half times their annual income to


obtain all the necessary licenses and permits.
But perhaps the most important challenge lies in the
enforcement of contracts. On this front, Indonesia
ranks amongst the lowest in the world, 145 out of 155.
In fact, investors lack of trust in the legal system is
one of the problems that have brought investment
levels down to half of those of your fast-growing
neighbors.

Corruption thrives in countries where private investors face cumbersome procedures and excessive
regulations. When extra licenses are needed to start
a business, when extra signatures are required to
import goods, that creates opportunities for abuse of
authority and for corruption.

Jadi, Good Governance akan menciptakan pemerintahan yang bersih dari korupsi. Tapi mengapa
kor upsi har us dilawan? Apakah karena kor upsi itu
menguras uang rakyat? Sama sekali bukan. Dalam konsep
Good Governance, korupsi harus dilawan karena korupsi
menghalangi preferensi investor asing untuk masuk ke
negeri itu sehingga tingkat pertumbuhan ekonomi pun
menjadi rendah. Korupsi harus dilawan karena menyusahkan investor. Dan jika investor susah, maka negarapun ikut
susah. Korupsi harus dilawan karena dibutuhkan waktu
151 hari untuk membuka usaha di negeri ini. Ini berarti
lebih lama tiga kali lipat dari waktu rata-rata yang
dibutuhkan untuk membuka usaha di berbagai negeri selain
Indonesia. Kor upsi adalah dosa, mengapa? Karena
menghalangi kepentingan ekspansi modal investor asing.
Setiap yang menghalangi kepentingan ekspansi modal
investor asing adalah dosa, dan setiap dosa pasti berbuah
karma. Apakah karmanya? Yaitu rendahnya tingkat
pertumbuhan. Di tangan investor asinglah, nasib suatu
bangsa-negara tergenggam.
Pada akhirnya, ia menyingkapkan siapa sesungguhnya
yang sedang dilayaninya, atau lebih tegas lagi siapa yang
menjadi pengutusnya yang tak lain adalah investorinvestor asing. Ajaran jangan berbuat salah terhadap
investor asing agar tak bernasib buruk! merupakan
petunjuk paling tegas tentang siapa kuasa tertinggi yang

One of the most interesting and useful products of the


World Bank Group is something we started a few years
ago called the Doing Business report which looks at
the investment climate in 155 different countries
around the world and ranks them in various categories
according to ease of doing business. That kind of
analysis is already, I think, having a useful impact
here in Indonesia. When the new government learned
in 2004 that it took 151 days to launch a business
here, three times the average for the world, your
President announced that this would be reduced to 30
days. Our estimates show that the time to start a
business has already fallen to below 80 days, and we
are hopeful the government will reach its target. That
would be a wonderful success story.
But the government faces many challenges ahead.
It costs Indonesian entrepreneurs the equivalent of
one years income to register a business, and more
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Good Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

SG
51

SG
52

menjadi tujuan pengabdian dalam konsep Good


Governance . Malapetaka ekonomi maupun politik akan
datang kepada rezim politik yang tak mau tunduk pada
kuasa tertinggi itu. Dalam bahasa eufemisme, investorinvestor atau pemodal-pemodal raksasa multinasional
tersebut biasa disebut sebagai pasar. Pernyataanpernyataan seperti pasar sedang bergejolak, sentimen
pasar menguat, dan semacamnya sesungguhnya menunjuk
pada para pemodal raksasa multinasional. Mungkin di
dalamnya ada pula investor-investor dalam negeri. Namun
jika diukur berdasarkan skala kekuatan ekonominya, maka
bisa kita katakan posisi investor-investor dalam negeri
tersebut tidak terlalu signifikan. Dan memang bukan
investor-investor dalam negeri yang sedang diperjuangkan
oleh Bank Dunia dan lembaga-lembaga donor intenrasional
( International Financial Institutions/IFIs ). Jadi, bila
disederhanakan, rezim-rezim politik harus mengabdi
kepada pasar jika ingin selamat. Sekali lagi, tak ada
keselamatan di luar pasar. Tentu saja, pasar disini
adalah sebagaimana yang dimaksud oleh Bank Dunia dan
IFIs beserta bala punggawanya.
Inilah yang lantas disebut sebagai ajaran neoliberalisme. Sebuah ajaran -yang bagi rezim-rezim politik
yang suka bergantung pada Bank Dunia dan IFIsstatusnya laksana agama penyelamatan. Paul Wolfowitz
sendiri menyebutkan kasus krisis ekonomi Indonesia
sebagai salah satu bentuk sanksi yang akan diterima
jika tidak patuh pada ajaran agama neo-liberalisme. Mengenai pengertian neo-liberalisme sendiri, kita harus
memahaminya lebih sebagai sebuah proyek sosio-historis
ketimbang sebagai istilah linguistik. Bob Jessop
menjelaskan:
Before developing my critique of the World Report,
let me relate it to the global neo-liberal project. This
has two interrelated sets of features. The first concern
the pursuit of a new accumulation strategy based on
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

privatization, liberalization, de-regulation, the


introduction of market proxies and benchmarking into
the public sector, tax cuts, and internationalization
bzw. globalization. The second concerns the search
for new forms of social regulation to create a multitiered market society that complements the globalizing
market economy (Jessop, 2001).
(Sebelum membahas kritik saya terhadap World
Report, ijinkan saya untuk mengaitkan kritik saya itu
dengan proyek neo-liberal. Proyek tersebut memiliki
dua kelompok fitur yang saling berhubungan. Yang
pertama berhubungan dengan upaya strategi
akumulasi baru yang didasarkan pada privatisasi,
liberalisasi, de-regulasi, penerapan standar baku dan
metode-metode pasar ke dalam sektor publik,
potongan-potongan pajak, dan internasionalisasi alias
globalisasi. Yang kedua berhubungan dengan usaha
untuk menciptakan bentuk-bentuk baru regulasi
sosial untuk menciptakan sebuah masyarakat pasar
yang multi-level yang komplementer terhadap usaha
globalisasi ekonomi pasar.)
Dari uraian Bob Jessop tersebut, kita bisa lihat bahwa
tujuan besar dari proyek neo-liberalisme ialah penciptaan
sebuah sistem ekonomi pasar yang berlaku secara global.
Untuk itu, proses pemerintahan dan kebijakan publik harus
disesuaikan sedemikian r upa agar selaras dengan
terciptanya ekonomi pasar yang bersifat global itu. Baik
regulasi sosial maupun praktek-praktek pemerintahan
dalam negeri harus dibentuk agar cocok dengan berbagai
kepentingan dan kemajuan proyek globalisasi ekonomi
pasar. Tantangan terbesar ialah bagaimana agar proyek
neo-globalisasi itu bisa tampil -meminjam istilah Bob
Jessop- with a human face (dengan wajah manusiawi).
Sehingga resistensi dari pemerintah-pemerintah negarabangsa di seluruh dunia bisa diminimalisir.
Good Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

SG
53

SG
54

Konsep Good Governance dalam konteks ini memiliki


peran yang sangat strategis untuk menanamkan sebuah
cara pandang tertentu dalam diri pemerintah-pemerintah
di seluruh dunia yang sejatinya cocok dengan kepentingan
proyek neo-liberal dengan topeng yang sama sekali beda.
Penggunaan pilihan kata good sungguh jitu karena dengan
demikian, setiap pandangan yang tidak selaras dengan
konsep tersebut secara otomatis akan terbayang sebagai
bad (lawan kata dari good ). Permainan kata ini jelas
bukanlah sesuatu yang tak signifikan dalam proyek besar
neo-liberalisasi. Permainan kata ini vital maknanya dalam
rangka penanaman cara pandang ideologis tertentu yang
cocok dengan proyek neo-liberalisasi secara global. Dalam
konteks inilah, konsep Good Governance menjadi ideologi
bagi kepentingan neo-liberal.
Saat menginterpretasi kata sambutan Paul Wolfowitz
di atas, kita bisa lihat betapa kata good (baik) memainkan
peran kunci dalam fungsi konsep good governance sebagai
ideologi. Kata itu menciptakan bayangan asumsi bahwa
lembaga-lembaga donor dunia yang melahirkan konsep itu
baik dan punya itikad baik. Bahwa konsep itu mempunyai
maksud dan dampak baik terhadap negara-bangsa. Dan
bahwa pemerintah yang baik ialah pemerintah yang
mengadopsi konsepsi yang baik, yakni Good Governance.
Kata good ini sejak awal mencegah berbagai kalangan
untuk mempertanyakan isinya. Apapun isinya, sepanjang
berada di bawah payung Good Governance, niscaya dan
pasti baik. Orang tak pernah mempertanyakan bagaimana
konsep itu bisa mendapatkan nama Good Governance. Apa
legitimasi dari penggunaan kata good (baik) dan apa arti
good dalam konsep tersebut belum banyak dikaji secara
publik dan luas sebelum ditetapkan menjadi satu istilah
baku dalam konteks kehidupan dunia. Lebih aneh lagi,
meski ada begitu banyak tafsiran antar lembaga
internasional, mereka bisa sama-sama menggunakan istilah

SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

yang sama, good governance . Isi belum ditentukan,


namun sudah dinyatakan sebagai good.
Robert McChesney menyatakan:
A superior term would be neoliberalism; this refers
to the set of national and international policies that
call for business domination of all social affairs with
minimal countervailing force. Neoliberalism is almost
always intertwined with a deep belief in the ability of
markets to use new technologies to solve social
problems far better than any alternative course
(McChesney, 2006).
(Istilah yang lebih tepat ialah neoliberalisme; istilah ini merujuk pada serangkaian kebijakan nasional
dan internasional yang menghendaki dominasi bisnis
atas selur uh ur usan sosial dengan kekuatan
tandingan yang minimal. Neoliberalisme nyaris selalu
jalin-menjalin dengan kepercayaan yang mendalam
akan kemampuan pasar untuk bisa memanfaatkan
teknologi-teknologi baru untuk memecahkan problemproblem sosial secara jauh lebih baik ketimbang
alternatif lain.)

Good Governance berperan sebagai ideologi yang akan


membuka jalan rintisan bagi terbentangnya jalan yang
lebih luas bagi masuknya neo-liberalisme ke dalam ruang
kesadaran warga negara-bangsa di selur uh dunia.
Bagaikan pasukan komando yang bertugas sebagai
pasukan perintis untuk membukakan jalan bagi pasukan
reguler, konsep Good Governance merupakan suatu unit
elit yang akan mer untuhkan basis paling inti dari
pertahanan kesadaran anti-liberalisme dan antineoliberalisme, yaitu konsep mengenai apa yang baik (good)
dalam pengelolaan negara-bangsa. Dalam hal ini, konsep
Good Governance sungguh menerapkan secara bagus
kekuatan tersembunyi dari bahasa.

Good Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

SG
55

SG
56

Sebagai kesimpulan akhir, dalam fungsinya sebagai


ideologi, konsep good governance secara sistematis dan
intensif bergerak dengan metodologi langkah-langkah
sebagai berikut:
1. konsep tersebut mengajarkan bahwa ada faktor-faktor
yang menyebabkan kegagalan pembangunan ekonomi
negara-negara berkembang sehingga karenanya
faktor-faktor tersebut harus dieliminasi;
2. konsep tersebut mengajarkan bahwa Bank Dunia dan
IFIs telah berhasil menemukan resep mujarab untuk
mengeliminir faktor-faktor tersebut, yang tak lain
ialah konsep Good Governance itu sendiri;
3. konsep tersebut mengajarkan bahwa konsep tersebut
merupakan satu-satunya resep manjur bagi penyelesaian problem kegagalan pembangunan ekonomi
negara-negara berkembang;
4. konsep tersebut mengajarkan bahwa faktor-faktor
penyebab kegagalan itu membuat pembangunan
ekonomi gagal karena menghambat berfungsinya
secara sempurna mekanisme pasar, dan karena itu
strategi inti dari resep itu ialah mendorong pemerintah
negara-negara berkembang agar menyelaraskan
proses pemerintahan dan kebijakannya sedemikian
r upa sehingga kondusif bagi berlangsungnya
mekanisme pasar bebas yang sempurna dan tanpa
hambatan; dan
5. konsep tersebut mengajarkan bahwa pemerintah
negara-negara berkembang yang tak menerapkan
konsep good governance akan dianggap sebagai
pemerintah yang poor governance atau bad governance , sehingga karena itu bukanlah pemerintah
yang baik.
Semua itu diajarkan dengan sedemikian intensif dan
ekstensif sehingga pada akhirnya membentuk semacam
atmosfer ruang kesadaran kolektif yang mencengkeram
begitu kuat. Siapapun yang mengambil jalur di luar
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

mainstream akan terstigmatisasi sebagai anti- goodgovernance dan pro- bad-governance . Ketika konsep itu
begitu kuat mencengkeram sedemikian rupa, maka pada
saat itulah fungsi ideologis dari konsep Good Governance
berhasil mencapai tujuan ideologisnya. Yaitu menstigmatisasi cara pandang dunia yang berbeda dan memistifikasi
cara pandangnya sendiri serta melanggengkan dominasi
neo-liberalisme.
Ideologi neo-liberalisme saat ini masih menjadi bahan
diskusi yang sangat marak di for um-for um ilmiah
internasional. Bagaimana sikap penerimaan developing
countries terhadap ideologi ini (termasuk piranti teknisnya
yaitu GG) dan apa dampak jangka panjangnya? Rainer
Tetzlaff pernah menyatakan bahwa diskusi tentang peranperan negara dan pasar yang berbeda dalam proses
pembangunan diangkat ke level yang baru melalui tuntutan
akan good governance . Tujuannya bukanlah untuk
melenyapkan peran negara sebesar mungkin, namun untuk
mengubah arah yang lebih besar ke arah tujuan-tujuan
dan efisiensi. Tuntutan akan good governance -yang
pertama kali dimunculkan oleh Bank Dunia- sejak itu juga
diadopsi oleh lembaga-lembaga donor lain (Tetzlaff, 2006).
Namun, konsep Good Governance bukanlah sekedar
wacana yang hidup dan bergerak di wilayah teks belaka.
Konsep Good Governance juga bergerak di wilayah praktis
ekonomi-politik. Justru karena konsep itu diusung oleh
Bank Dunia dan IFIs, maka konsep itu sama sekali berbeda
statusnya jika diusung oleh akademisi-akademisi
Universitas Sorbonne atau Universitas Leiden. Bank Dunia
dan IFIs, seperti kita tahu, bukanlah lembaga tempat
dimana konsep-konsep didiskusikan dan dikaji demi
kepentingan-kepentingan kepuasan kontemplatif atau
teoretis. Mereka adalah lembaga-lembaga penjaga
stabilitas ekonomi pasar dunia. Keduanya merupakan
lembaga-lembaga internasional yang bertanggungjawab
terhadap peran untuk merumuskan dan sekaligus
Good Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

SG
57

SG
58

menjalankan strategi untuk menjaga stabilitas ekonomi


global demi kepentingan pasar bebas. Karena itu, konsepkonsep yang dibawanya juga sama sekali tidak muncul demi
kepentingan-kepentingan kemajuan teoretis, melainkan
demi kemajuan kepentingan ekonomi pasar global.
Jika pada bagian sebelumnya, kita telah membahas Good
Governance sebagai ideologi yang mengajak kita untuk
melihat dunia dengan cara tertentu, maka pada bagian
ini, kita akan membahas bagaimana Good Governance
membuat kita mengalami pengalaman-pengalaman sosiohistoris tertentu. Pengalaman-pengalaman sosio-historis
macam apa yang telah, tengah dan akan kita alami, bukan
sebagai individu namun sebagai warga negara-bangsa, jika
Good Governance sungguh-sungguh diadopsi sebagaimana
yang digariskan oleh Bank Dunia dan lembaga donor asing?
Dalam berbagai diskursusnya, Good Governance selalu
saja menawarkan janji-janji kehidupan yang lebih baik
sebagai bangsa dan negara. Janji-janji berupa negeri yang
bersih dari korupsi, pemerintahan yang transparan dan
demokratis, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan
sebagainya. Persoalannya ialah: Apakah janji-janji itu
sungguh merupakan janji manis buat rakyat, atau buat
investor asing? Untuk mengerti janji-janji itu janji manis
buat siapa, maka kita harus melihat orientasi baru macam
apa yang diajarkan konsep Good Governance terhadap
praktek-praktek pemerintahan dan kebijakan publik.
Secara mendasar, dua gagasan besar tentang posisi dan
peran negara (atau pemerintah) yang digariskan oleh Good
Governance adalah sebagai berikut:
1. Intervensi minimal dari negara/pemerintah atas
banyak aspek kehidupan negara-bangsa, dan lebih
mengambil sikap biarkan pasar yang bekerja, dan
2. Negara/pemerintah harus dikontrol oleh mekanisme
checks and balances dimana mekanisme itu pada
akhirnya tunduk pada kemauan pasar internasional
dan dalam negeri.
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Gagasan pertama ini tampak jelas dengan terlalu


banyaknya penekanan fungsi pemerintah hanya sebagai
pelancar bekerjanya mekanisme pasar bebas dan penyedia
layanan publik yang efisien. Namun, yang terpenting ialah
bahwa Bank Dunia melihat proyeksi tersebut sebagai
sebuah cara untuk mencapai sebuah tujuan; Good
Governance yang bersinonim dengan manajemen pembangunan yang baik (World Bank 1992: 1). Manajemen
semacam itu tidak saja hanya membutuhkan pembatasan
peran pemerintah, namun juga pemerintah yang lebih baik,
yaitu pemerintah yang berkonsentrasi mengurangi upayaupayanya untuk turut campur secara langsung dan lebih
memberdayakan pihak-pihak lain untuk menjadi produktif
(World Bank 1989:5). Argumen yang dipetik dari karya
pertama Bank Dunia mengenai konsep good governance
ini mengulang argumen-argumen klasik neo-liberal bahwa
belanja negara merupakan sesuatu yang tak produktif dan
bahwa pengeluaran negara itu menghalangi terciptanya
kemakmuran yang dihasilkan dari aktivitas entrepreneurentrepreneur individual yang rasional. Peran negara
seharusnya memberi jalan kepada sektor swasta untuk
mengarahkan aktivitas ekonomi. Dengan kata lain,
aktivitas negara haruslah ramah pasar.
Seperti kata Schmitz (1995:69), inti utama dari apa
yang diminta terhadap negara-negara sedang berkembang
bukanlah apakah mereka harus demokratis atau otokratis,
namun yang menjadi perhatian adalah apakah mereka
memiliki kehendak untuk mengelola dan menciptakan
kerangka kerja kebijakan yang cocok yang dibutuhkan
untuk menciptakan pasar-pasar yang efisien. Juga apakah
mereka bersedia mengawal berhasilnya implementasi
program-program liberalisasi ekonomi seperti yang
dimandatkan lembaga-lembaga donor dan kreditor
internasional.
Ringkasnya, pemerintah harus ramah pasar. Definisi
dari ramah pasar itu tentu bermakna bahwa segala
Good Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

SG
59

SG
60

aktivitas dan kebijakan pemerintah harus memfasilitasi


terciptanya ekonomi pasar bebas di negara tersebut.
Namun, karena pasar bebas tidak hanya membutuhkan
regulasi-regulasi dan praktek-praktek pemerintahan yang
kondusif bagi dirinya, akan tetapi juga membutuhkan
masyarakat yang punya daya beli, maka pemerintah yang
ramah pasar juga har us bisa menciptakan suatu
masyarakat yang paling tidak terpenuhi sekian kebutuhan
dasarnya sehingga punya uang lebih untuk turut serta
dalam arus konsumsi pasar. Ini artinya, pemerintah harus
menanggung tugas untuk menyediakan layanan jasa yang
pokok bagi masyarakat. Tentu saja, bukan karena alasan
kesejahteraan masyarakat itu sendiri, namun demi
kepentingan semakin besarnya arus uang yang berputar
dalam ekonomi pasar. Untuk tujuan tersebut, Bank Dunia
bersedia memberikan bantuan utang kepada pemerintah
yang mau menjalankan program penyediaan layanan publik
dasar. Tak heran jika Wolfowitz menyatakan:
The World Bank Groups country strategy for Indonesia is in many ways leading the World Bank as a
whole. It is one that particularly emphasizes governance. In partnership with the Indonesian government, we are committing $900 million this year to
strengthen governance with the goal of improving
service delivery in education, health, and other
essential services, and enhancing the investment
climate.
(Strategi Kelompok Bank Dunia untuk negara Indonesia dalam banyak cara telah memberi arah buat
Bank Dunia secara menyeluruh. Strategi itu terutama
memberikan penekanan pada governance . Dalam
kemitraannya dengan pemerintah Indonesia, kami
telah berkomitmen untuk memberikan dana bantuan
$900 juta tahun ini dalam rangka memperkuat
governance dengan tujuan untuk meningkatkan
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

layanan jasa di bidang pendidikan, kesehatan, dan


layanan dasar lainnya, dan meningkatkan iklim
investasi.)
Hal ini secara sekilas merupakan suatu gagasan yang
mulia, namun kita lupa apa status dari dana sebesar $900
juta itu. Apakah mungkin Bank Dunia akan demikian
mudah memberikan dana hibah gratis? Tentu saja tidak.
Pada akhirnya, uang tersebut harus dikembalikan lengkap
dengan bunganya. Dan siapakah yang menanggung utang
plus bunga tersebut? Tentu saja rakyat. Di sisi lain, justru
aneh bahwa kemampuan pemerintah untuk menyediakan
layanan publik yang dasar harus bergantung pada utang
terhadap Bank Dunia. Bagaimana pemerintah yang
bergantung pada utang asing untuk membiayai pelayanan
publik dasar itu bisa disebut sebagai pemerintah yang
good governance? Bagaimana pemerintah yang terusmenerus berutang -yang pada akhirnya harus dibebankan
pada rakyat dalam berbagai bentuknya- bisa disebut
sebagai pemerintah yang baik?
Jadi, secara individual, warga negara-bangsa mungkin
bisa merasakan adanya penyediaan layanan publik yang
lebih efisien dan modern. Namun sebagai masyarakat
negara-bangsa, mereka harus membayar lebih mahal
penyediaan layanan publik itu karena layanan publik itu
dibiayai oleh utang pada lembaga donor yang jelas tak
murah dan tak mudah. Mereka harus membayar baik
secara finansial maupun secara non-finansial, seperti
halnya pemberian konsesi-konsesi kepada pihak kreditor
untuk menjalankan program-programnya di negerinya.
Pemerintah yang ramah pasar, seperti yang diidamkan
Good Governance, barangkali terlihat dermawan dalam
hal penyediaan layanan publik, namun sesungguhnya
kedermawanan itu adalah kedermawanan palsu
karena menggunakan uang utang luar negeri yang pada
gilirannya harus dilunasi beserta bunganya oleh rakyat.
Good Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

SG
61

Inilah paradoks dari gagasan pertama konsep Good


Governance tentang posisi dan peran negara. Pemerintah
harus ramah pasar. Agar pemerintah bisa ramah pasar,
maka pemerintah harus bergantung pada utang luar
negeri. Jika dibuat bagannya, maka bagan sederhananya
barangkali seperti di bawah ini:

SG
62

Pada akhirnya, pemerintah negara berkembang beserta


rakyatnya justru harus berutang pada lembaga kreditor
asing bagi terciptanya negeri yang ramah untuk investasi
bagi investor asing. Janji-janji bahwa investor asing akan
membawa kemakmuran sendiri sepanjang sejarah negeri
ini juga tak banyak terbukti. Terbukti dengan kehadiran
raksasa Freeport tak menjadikan Indonesia sebagai negeri
paling makmur sedunia. Padahal Freeport sudah puluhan
tahun ada di negeri ini untuk mengeksploitasi lahan seluas
gunung. Bahkan agar pemerintahnya bisa menyediakan

layanan publik, negara yang sedang berkembang harus


bergantung pada utang luar negeri.
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Inilah pengalaman sosio-historis yang dialami oleh


rakyat negara sedang berkembang yang telah, sedang dan
akan mengadopsi konsep Good Governance. Dia hidup di
sebuah negeri yang semakin hari semakin terjerat utang
dan dalam waktu yang bersamaan, sedikit demi sedikit
berbagai cabang-cabang ekonomi dan sumber-sumber
alamnya dikuasai oleh investor asing.
Gagasan yang kedua berusaha menciptakan suatu
pemerintah yang dikontrol oleh lembaga-lembaga di luar
dirinya yang pada akhirnya, kontrol itu sangat ditentukan
oleh kemauan pasar atau kekuatan-kekuatan pemodal
multinasional.
Jika kita gabungkan elemen-elemen yang diposisikan
sebagai pahlawan kontrol pemerintah agar pemerintah
bisa menjadi pemerintah yang good governance, maka
elemen-elemen tersebut ialah:
1. Lembaga keuangan internasional, seperti Bank Dunia,
IMF, ADB dan sebagainya;
2. Sektor swasta, yang meliputi investor-investor dan
perusahaan-perusahaan swasta; dan
3. Civil society, yang meliputi beragam kelompok civil
society, namun yang terutama disebut-sebut ialah
akademisi, NGO, organisasi kemasyarakatan, dan
media massa.
Tentu saja, agar komponen-komponen tersebut bisa
berfungsi efektif dan sempurna, dibutuhkan ruang yang
kondusif agar komponen-komponen itu bisa bersuara
lantang. Ruang tersebut dinamakan sebagai r uang
demokrasi. Ruang demokrasi menjadi prasyarat bagi
terciptanya kontrol yang sempurna dari komponenkomponen tersebut. Semuanya demi terciptanya
pemerintah yang good governance.
Persoalannya adalah Siapakah yang menentukan apa
yang dinilai dari pemerintahan dan bagaimana cara
menilainya? Apakah kinerja Good Governance untuk
kasus Indonesia misalnya, diukur berdasarkan dengan citaGood Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

SG
63

SG
64

cita Proklamasi Kemerdekaan? Apakah UUD 1945 menjadi


sumber penilaian untuk melaksanakan pengawasan
terhadap kerja dan kinerja pemerintah? Apakah semangat
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia mer upakan semangat yang dipunyai oleh komponenkomponen tersebut dalam aktivitas kontrolnya terhadap
pemerintah? Jawabnya tentu saja: Tidak!
Jadi, siapa yang menentukan nilai yang menjadi tolok
ukur kontrol atas kerja dan kinerja pemerintahan itu? Tentu
saja Bank Dunia dan IFIs. Sebagai lembaga pencetus dan
penyebarluas konsep Good Governance, keduanya niscaya
tak ingin agar konsep tersebut bergeser dari jalur atau
track yang telah mereka tetapkan. Karena itu, wajar jika
keduanya lantas menyusun kategori-kategori tolok ukur
penilaian yang cocok dengan kepentingan-kepentingan
mereka. Dan kategori-kategori yang telah mereka susun
itulah yang kemudian mereka ajarkan kepada berbagai
komponen tersebut.
Pada akhirnya, setiap dan semua komponen kontrol
pemerintah itu sesungguhnya akan menyuarakan hal yang
sama, melihat dan menilai pemerintahan dengan kaca
mata yang tak jauh berbeda satu sama lain. Hal ini terjadi
karena mereka memang telah dikondisikan untuk melihat
dengan tolok ukur yang telah ditetapkan oleh institusiinstitusi yang sama, Bank Dunia dan IFIs. Setiap dan
semua komponen tersebut diajarkan untuk menilai
pemerintah berdasarkan kriteria Good Governance yang
dicanangkan dan didesain oleh dua institusi keuangan
global itu. Dengan kata lain, komponen-komponen tersebut
tak lain dari agen-agen Good Governance yang bekerja di
wilayah-wilayah yang bersifat komplementer terhadap
gerak aktivitas Bank Dunia dan IFIs.
Dari sini, kita bisa melihat fungsi konsep Good
Governance sebagai medan perjuangan Bank Dunia dan
IFis sebagai perpanjangan tangan neo-liberalisme untuk
mengkonsolidasikan kekuatan-kekuatan yang ada untuk
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

mendesak pemerintah agar mengadopsi konsep Good


Governance. Organ-organ civil society diredusir perannya
hanya sebagai agen-agen pemantau implementasi Good
Governance oleh pemerintah. Apa yang kemudian akan
dialami oleh rakyat negara-bangsa jika yang terjadi
demikian? Organisasi-organisasi yang seharusnya menjadi
organisasi-organisasi rakyat yang berjuang dengan
kekuatannya sendiri demi kepentingan rakyat malah
menjadi organisasi yang meredusir diri menjadi organisasiorganisasi massa atau underbouw dari suatu gagasan besar
yang bernama good governance. Pemerintah diposisikan
harus selalu mendengar organ-organ civil society yang
menjadi agen Good Governance jika tak ingin mendapatkan
konsekuensi finansial maupun non-finansial dari Bank
Dunia, IFIs dan segenap bala neo-liberalnya. Akibatnya,
proses penyelenggaraan negara lebih mirip merupakan
hasil kompromi antara pemerintah, sektor swasta, dan
organ-organ civil society (sebagai agen Good Governance).
Proses penyelenggaraan negara bukan lagi merupakan
dialog dan kontak terus-menerus antara pemerintah dan
rakyat. Jika disederhanakan, maka bagan realitas yang
akan tercipta dari implementasi gagasan kedua di atas ialah
sebagai berikut:

Dari bagan di atas, bisa dilihat bahwa arah dan isi dari
kebijakan publik yang diputuskan pemerintah dan lembaga
negara lain (seperti halnya Komisi-Komisi Independen,
Bank sentral dan sebagainya), sangat dipengaruhi oleh
Good Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

SG
65

SG
66

pandangan-pandangan tiga subyek yang sesungguhnya


memperjuangkan satu hal yang sama, yaitu Good
Governance . Secara praktis, pemerintah dan lembaga
negara lain dikepung oleh agen-agen Good Governance
dari segala penjuru. Apa yang terlupakan atau tak ada
dari gambar bagan di atas? Jawabannya adalah rakyat.
Tentu saja agen-agen Good Governance akan berdalih
bahwa telah ada NGO-NGO atau LSM-LSM yang berperan
sebagai representasi atas kepentingan dan suara rakyat.
Namun, jika kita telusuri secara empiris ternyata NGONGO atau LSM-LSM itu justru pembiayaan kerjanya
bergantung pada lembaga-lembaga pendanaan asing
secara rutin. Maka terasa ganjil pula bahwa organisasi
rakyat bergantung pada gaji rutin dari luar negeri. Dalam
kesempatan ini, cukup dinyatakan bahwa klaim rakyat
diwakili oleh NGO atau LSM yang pro-good governance
merupakan klaim yang lemah terutama karena adanya
sifat NGO atau LSM yang hanya bergerak jika dana asing
mengucur.
Dari paparan di atas, lantas bisa dipahami bagaimana
konsep good governance ber fungsi sebagai medan
perjuangan bagi kepentingan neo-liberalisme. Menjadi
medan perjuangan artinya menjadi r uang dimana
kepentingan neo-liberalisme bermain-main membentuk
realitas ke arah seperti yang dicitakannya. Pada bagianbagian awal, sempat kita singgung tentang masalah
kekaburan arti dan makna dari konsep Good Governance.
Kita sempat singgung bagaimana setiap lembaga donor
dan kreditor internasional punya pemaknaan masingmasing terhadap konsep tersebut. Dengan memandang
konsep Good Governance sebagai medan perjuangan bagi
kepentingannya, kekaburan itu justru memiliki arti vital.
Mengapa bisa demikian?
Hal ini karena ketika suatu konsep begitu kabur
sehingga otoritas pemaknaan atas konsep itu tentu akan
berada di tangan pendeklarasi konsep tersebut. Atau
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

setidaknya berada di tangan motor penggerak utama


konsep tersebut. Berbeda halnya jika suatu konsep itu
begitu jernih dan terang benderang, maka setiap subyek
akan bisa menjadi penafsir bagi dirinya sendiri. Dia tak
perlu bergantung pada pihak lain karena begitu jernih dan
terang benderangnya suatu konsep. Ketika konsep itu itu
begitu general dan abstrak, sehingga tak bisa langsung
ditangkap ke mana arah dan isi dari konsep tersebut, pada
saat itulah konsep itu memberi ruang bagi munculnya
otoritas-otoritas penafsir utama. Otoritas-otoritas inilah
yang memegang kuasa bagaimana pihak lain har us
menafsirkan konsep tersebut baik secara teoretis maupun
praksis. Ketika pihak lain memasrahkan arah dan gerak
dirinya pada otoritas tersebut, maka sangat mudah bagi
pemilik otoritas tersebut untuk mendikte pihak lain
tersebut.
Prinsip kekaburan menciptakan otoritas inilah yang
juga berlaku dalam kasus Good Governance. Siapa otoritas
utama dalam menafsirkan bagaimana Good Governance
dan apa kriteria pemerintah yang Good Governance dan
mana yang tidak? Jawabnya menjadi dimonopoli oleh
otoritas utamanya, yakni Bank Dunia dan IFIs. Secara
intensif dan kontinu, kedua institusi tersebut terus-menerus
mempercanggih definisi dan instr umen ukur Good
Governance mereka. Apa tujuannya? Jelas untuk semakin
meneguhkan otoritas mereka. Dan ketika otoritas mereka
semakin menguat, maka lebih mudah bagi mereka untuk
mendikte pemerintah-pemerintah yang butuh bantuan
teknis maupun finansial dari mereka.
Pengetahuan adalah kekuasaan. Barangkali
pernyataan ini bisa meringkaskan strategi besar dari Bank
Dunia dan IFIs untuk mendikte negara-negara Dunia
Ketiga. Namun, agar pengetahuan itu dibutuhkan, maka
harus diciptakan kebutuhan akan pengetahuan tersebut.
Konsep Good Governance menjadi alat yang berguna untuk
tujuan besar itu. Melalui kuasa pengetahuan, disebarGood Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

SG
67

SG
68

luaskan pandangan bahwa kegagalan negara-negara


Dunia Ketiga dalam membangun ekonominya ialah karena
mereka belum menjalankan konsep yang bernama Good
Governance. Setelah konsep itu diterima secara luas, lantas
pada tahap berikutnya akan muncul pertanyaan:
Bagaimanakah konsep Good Governance itu har us
dilaksanakan?. Ketika ditebarkan sebagai konsep, Good
Governance sama sekali hanya berkutat di wilayah teori
general dan belum mendeskripsikan bagaimana secara
teknis pelaksanaannya.
Jadi, Bank Dunia dan IFIs menciptakan suatu ruang
kosong atau r uang penuh tanda tanya mengenai
bagaimana konsep Good Governance itu. Kemudian ketika
pemerintah negara-negara Dunia Ketiga mengalami
kebingungan dalam ruang kosong tersebut, Bank Dunia
dan IFIs dengan cepat dan efektif menguasai ruang kosong
dan mengisinya dengan apapun yang dimaui keduanya.
Keduanya memposisikan seperti seorang psikolog yang
punya kekuasaan menentukan apa penyakit sang klien dan
apa obat bagi sang klien. Jika ingin sembuh, sang klien
tak boleh membantah. Ruang kosong dari kekaburan konsep
Good Governance menjadikan daya sugesti IFIs terhadap
negara-negara yang menjadi kliennya begitu kuat
mencengkeram.
Memang, bahkan kita pun bisa menafsirkan Good
Governance sesuai kemauan kita jika kita mau. Hanya saja
persoalannya ialah seberapa hebat daya kita untuk
memaksakan agar tafsiran kita tersebut diterima dan
diadopsi oleh khalayak luas. Kita bisa saja menafsirkannya
sesuka kita, namun ketika dilempar ke publik, seberapa
besar publik akan menerima apalagi mengadopsinya?
Memangnya siapa kita sehingga bisa memaksakan tafsiran
kita itu? Pada akhirnya, siapa kita sungguh amat menentukan?
Dalam konteks inilah, Bank Dunia dan IFIs menjadi
jauh lebih unggul dan menentukan dari siapapun. Mereka
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

memiliki apa yang dibutuhkan oleh pemerintah-pemerintah


negara Dunia Ketiga. Mereka memiliki dana yang
dibutuhkan oleh negara Dunia Ketiga untuk membangun.
Power mereka -sebagaimana telaah polisentrisme pada bab
terdahulu- timbul karena sumber daya dana yang mereka
punyai. Persoalan bagi keduanya hanyalah bagaimana
agar bisa punya kesempatan mendompleng bantuan dana
tersebut untuk membentuk tata dunia seperti yang mereka
inginkan, dunia yang neo-liberal. Kekuasaan otoritatif
untuk menginterpretasi isi dari konsep Good Governance
menjadikan kesempatan itu terbentang luas. Dengan
kekuasaan otoritatif itu, mereka bisa memposisikan diri
sebagai shaman yang serba tahu penyakit kliennya dan
serba tahu apa obatnya. Nah, melakukan restrukturisasi
distrubusi kuasa yang lebih adil dalam skala internasional
inilah salah satu hal pokok yang hendak diperjuangkan
oleh Sound Governance.

SG
69

Good Governance sebagai Anak Ideologis Neoliberalisme

BAB IV

SOUND GOVERNANCE

Mengapa Harus Sound Governance?

SG
70

Pada bagian-bagian terdahulu telah banyak dipaparkan


tentang berbagai kelemahan konsep Good Governance
(GG). Hal yang membuat mengapa menjadi sangat penting
saat ini untuk merumuskan konsep baru yang dapat
menjawab kegagalan epistemologis GG. Solusi dari masalah
ini adalah dengan menghentikan arus besar kesalahkaprahan GG yang meluas dengan menggantinya dengan
konsep baru yang jauh lebih komprehensif dan reliable,
yaitu Sound Governance (SG). Terdapat lima alasan pokok
yang medasari kesegeraan dalam pergantian paradigma
ini.
Pertama, SG jauh lebih komprehensif dari pada GG
terutama dalam melihat aktor-aktor kunci yang harus
dipertimbangkan dalam sebuah proses tata pemerintahan.
Tidak hanya melihat proses interaksi antara aktor-aktor
domestik, yaitu pemerintah, pasar dan masyarakat sipil,
akan tetapi SG juga melihat besarnya peran konkret dari
aktor-aktor ekonomi politik internasional. Aktor-aktor
internasional di sini mencakup kebijakan luar negeri dari
negara-negara maju, organisasi-organisasi multi lateral,
korporasi global multinational corporation/transnational
corporation (MNC/TNC) dan lembaga donor dan keuangan
internasional dan big NGOs. Di Indonesia sendiri telah
banyak bukti dan argumen-argumen ilmiah tentang
besarnya pengaruh aktor-aktor ini dalam dinamika sosial,
politik dan ekonomi dalam negeri yang juga berdampak

SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

pada proses tata pemerntahan (Mansour, 2003). Lebih jauh


tentang analisis aktor dalam SG ini akan dijelaskan lebih
detail pada bagian lain dari buku ini.
Kedua, SG juga mengedepankan adanya penghormatan
atas keragaman konsepsi birokrasi dan tata pemerintahan,
utamanya nilai dasar budaya pemerintahan tradisional
yang telah lama terkubur. Selama ini, kita, terutama
bangsa Indonesia, telah lama me[di]lupakan oleh kekayaan
budaya kita sendiri. Sistem pemerintahan daerah di
Indonesia adalah sejarah yang sangat panjang, bahkan
jauh lebih panjang dari usia negara ini sendiri. Akan tetap
model pemerintahan barat telah ditransplantasi seiring
dengan masuknya kolonialisme di Indonesia. Bukan hanya
di Indonesia, di berbagai belahan dunia, penyeragaman
atas sistem pemerintahan barat telah banyak mengubur
hidup-hidup keragaman yang luar biasa atas sistem
pemerintahan original lokal. Ali Farazmand mencontohkah
kebesaran Kerajaan Persia, sebelum digulung oleh dominasi
budaya barat, memiliki prestasi yang sangat besar dalam
pengelolaan pemerintahan. Di Indonesia, berbagai sistem
pemerintahan berbasis budaya lokal juga sudah banyak
terabaikan (Andi, 2007). Tetapi sejarah dan riset ilmiah
seolah hanya mulai dibuka semenjak Max Weber
mengkonstruksi konsep birokrasi modernnya. Disusul
perkembangan ilmu administrasi publik berikutnya,
termasuk GG, semuanya adalah cerita tentang pembantaian
massal budaya lokal sistem pemerintahan. Itulah sebabnya
SG menyeruak untuk melihat apakah masih ada peluang
untuk menyelamatkan keragaman budaya pemerintahan
itu.
Ketiga, adalah orientasi SG yang lebih kepada
keseimbangan dan fleksibilitas antara proses dan output
dari sebuah proses tata pemerintahan. SG percaya pada
pepatah banyak jalan menuju Roma. Artinya untuk
mewujudkan diri sebagai pemerintahan yang baik tidak
harus dengan satu cara. Melainkan bisa dengan berbagai
Sound Governance

SG
71

SG
72

cara. Hal ini utamanya dipicu oleh tumpang tindih antara


hubungan proses dan output yang ada di dalam GG. Seperti
telah disadari bahwa tujuan utama dari pemerintah adalah
menegakkan keadilan, menjamin keamanan publik,
pertahanan nasional, kesejahteraan umum dan menjamin
hak-hak masyarakat (McDowell, 2008). Nah, dalam rangka
mencapai tujuan itu, GG bersikukuh bahwa hanya ada satu
jalan untuk menuju kesana, yaitu dengan menjalankan
prinsip-prinsip GG. Persis seperti perilaku pembangunanisme di masa Orde Baru, yaitu hanya ada satu jalan saja
untuk maju, yakni pertumbuhan ekonomi. SG lebih
mengedepankan pencapaian tujuan ketimbang ribut soal
bagaimana cara tujuan itu tercapai. Kendati demikian di
dalam SG ada prasarat-prasarat dasar universal terkait
demokrasi, transparansi dan akuntabilitas tetap harus
ditegakkan. Fleksibilitas yang menjadi titik tekan SG
adalah inovasi, yang merupakan ruh dari implementasi
SG dalam praktek pemerintahan sehari-hari (Farazmand,
2004).
Keempat, selaras dengan hukum, perjanjian dan norma
internasional. Hal ini merupakan konsekuensi dari perubahan besar yang dilakukan SG dalam dunia administrasi
publik yang sadar globalisasi. Memutus begitu saja
hubungan antara dinamika di tingkatan lokal dengan
konteks global adalah sesuatu yang naif. Jangankan di
tingkatan lokal, di tingkat nasional pun masalah ini masih
sangat akut. Selama ini yang terjadi adalah hukum-hukum
ratifikasi atas perjanjian-perjanjian internasional yang ada
di sekretariat negara masih hanya merupakan tumpukan
peraturan yang tidak pernah diimplementasikan dengan
baik. Ambil saja contohnya UU No. 21 Tahun 2003 tentang
Pengesahan Konvensi ILO Mengenai Pengawasan
Ketenagakerjaan dalam Industri dan Perdagangan. Di situ
diatur banyak hal jaminan internasional atas hak-hak
bur uh, tapi kenyataannya di Indonesia praktek pelanggaran hak buruh masih saja marak.
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Proses tata pemerintahan seharusnya sinkron dengn


arah dan strategi global jangka panjang yang tertuang
dalam hukum, perjanjian atau norma internasional. Ini
merupakan gerakan sentrifugal dari tata pemerintahan di
tingkat lokal, yang juga pada gilirannya akan berkontribusi
pada perbaikan tata pemerintahan global ( global
governance). Di samping ada nilai-nilai lokal yang harus
tetap dijaga dalam konteks SG, dunia harus juga makin
terkoneksi secara produktif untuk menciptakan
kemakmuran bersama. Ketika SG menganjurkan untuk
menghormati dan mencoba untuk menerapkan budaya
lokal dalam praktek perintahan, bukan berarti mengajak
masyarakat untuk menjadi nativist, yaitu sikap yang hanya
memikirkan masyarakat lokal dan budaya lokalnya tanpa
peduli, dan cenderung membenci, aspek-aspek yang lebih
luas terlebih global. Penghormatan terhadap budaya lokal
dalam SG adalah untuk menjaga kekayaan ragam budaya
tata pemerintahan yang pada gilirannya akan
berkontribusi untuk perbaikan satu-sama lain.
Kelima, pada dasarnya SG bukanlah sebuah konsep
administrasi publik pada umumnya baik dari Birokrasi
Weber hingga GG yang dipaksakan (imposed) dari Barat.
SG adalah sebuah konsep ilmiah yang digali dari Persia.
Keberhasilan Kerajaan Persia pada Abad 500 SM dalam
mengelola wilayah yang begitu luas, terbentang mulai dari
Asia, Timur Tengah, Eropa Timur hingga Afrika Utara
(Daniel, 2001), adalah berkat diterapkannya prinsip
toleransi dalam pemerintahannya. Sebab disadari atau
tidak, dengan wilayah yang begitu luas pada jaman itu,
identitas perbedaan budaya masing-masing daerah masih
sangat kental. Memang hari ini banyak negara yang lebih
luas daripada Kerajaan Persia waktu itu. Namun hari ini
pula perkembangan ilmu pemerintahan dan perangkat
adminstrasi tata pemerintahan hadir lebih kompleks dan
maju. Utamanya dengan adanya teknologi informasi dan
perlintasan antara budaya yang terjadi jauh lebih intensif.
Sound Governance

SG
73

SG
74

Sehingga integrasi relatif lebih mudah tercapai. Pada


zaman tersebut, sebuah negara besar dengan tingkat
keragaman budaya yang tinggi nyatanya dapat bertahan
hingga lebih dari 600 tahun. Ini harus diakui sebagai
sebuah prestasi yang luar biasa. Dibutuhkan kejeniusan
dalam menciptakan sistem pemerintahan yang memungkinkan hal itu terjadi. Toleransi adalah kunci rahasia
dari keberhasilan itu. Dalam prakteknya saat ini, strategi
itu adalah dengan tidak lagi diberlakukan mekanisme
cetrum-pheriphery dalam tata pemerintahan. Hubungan
eksploitatif antara pusat dan daerah harus mulai ditinggalkan. Ide brilian ini sesungguhnya bukanlah sebagaimana
selama ini diklaim dari Barat. Justru SG membuktikan
bahwa konsep-konsep non-Barat sebenarnya banyak yang
applicable, khususnya di bidang pemerintahan.
Sound Governance dipakai tidak hanya untuk menunjuk
pada sistem pemerintahan yang layak dan efektif secara
domestik dan sempurna secara ekonomis, politis,
manajerial, konstitusional dan terlebih etis. Hal inilah yang
menjadikan dasar pembalikan besar-besaran dalam
perkembangan ilmu administrasi publik yang ada selama
ini. Sebab ambisi keberhasilan administrasi publik yang
ingin dicapai dalam SG itu jelas tetapi tidak mendikte. SG
dengan jelas dan spesifik menyebutkan dimensi-dimensi
yang harus dicapai dalam sebuah proses pemerintahan,
tetapi tidak mendikte bagaimana masing-masing dimensi
harus dicapai.

Mendefinisikan Kembali Realitas

Interaksi berbagai elemen adalah realitas yang tak bisa


dipungkiri dari SG (Farazmand, 2004). Seperti telah dikatakan pada bagian pendahuluan, bahwa matrik
kehidupan saat ini sangatlah kompleks. Akibatnya angka
probabilitas menjadi tak terhingga, sementara proses kerja
tata pemerintahan tetap harus terarah. Memang telah
banyak perangkat teknis untuk mengatasi dunia yang
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

penuh dengan ketidakpastian seperti ini, seperti dengan


menggunakan Bayesian Theory. Tetapi masalahnya adalah
disamping kapasitas pelaku-pelaku di lapangan belum
dapat menggunkan teknik ini dengan trampil, pun tidak
mungkin seluruh semesta persoalan di lapangan dapat
diselesaikan dengan teknikteknik semacam ini. Sehingga
pertanyaannya bagaimana tata pemerintahan berurusan
dengan soal semacam ini? Bagaimana dimensi-dimensi
yang ada dalam SG dapat menjadi jawaban atas kerumitan
ini? Sebagian besar birokrat dan pemimpin politik
mengalami frustrasi menghadapi masalah ini. Maka
mereka cenderung hanya menyelesaikan masalah-masalah
permukaan yang hanya akan berujung publisitas semata.
Hal yang pertama kali harus dilakukan oleh para
birokrat adalah memahami realitas situasi ini. Situasi yang
tidak mungkin bisa dijawab dengan cara yang sangat
sederhana, yaitu rutinitas prosedural. Memang masalah
yang ada adalah persoalan laporan dan akuntabilitas
menjadi lebih rumit. Akan tetapi itu adalah harga yang
harus dibayar bila organisasi pemerintahan ingin menjadi
lebih baik dalam mengemban tugas-tugas kepublikannya.
Semangat kepublikan seperti dikatakan Irfan Islamy
(1997) tidak lagi hanya sekedar berada pada tingkatan
mental atau etika, akan tetapi harus segera menjelma
menjadi paradigma. Yang artinya ia haruslah menjadi
sebuah sistem solid dalam tiap individual birokrat mulai
dari tingkat kesadaran yang lebih tunduk pada pemecahan
masalah ketimbang prosedur juga dalam perilaku teknis
mereka di lapangan. Memang harapan ini terdengar sangat
naif. Mengingat kondisi kenyataan birokrat di seluruh dunia
sangat jauh dari hal tersebut. Tetapi sebuah perubahan
budaya dan paradigmatik memang tidak bisa dilakukan
dalam sekejap mata.
Dengan kenyataan sosial yang sarat dengan interaksi
yang dinamis ini maka harus memunculkan tiga hal pokok,
yaitu keragaman, kompleksitas dan ketegangan (FarazSound Governance

SG
75

SG
76

mand, 2004). Tiga perwujudan inilah yang akan menjadi


dasar bagi konstruksi konseptual SG itu sendiri. Tentu saja
perkembangan konsep SG saat ini sedang dan terus akan
berproses. Tapi setidaknya kita tahu dimana kita dulu, dari
mana kita berangkat dan kemana kita hendak pergi. Tiga
realitas dasar, sebagai kesadaran SG dalam mencandra
realitas sosial, berikut ini adalah tonggak dasar dari mana
kita berangkat.
Realitas dasar pertama adalah keragaman (diversity).
Interaksi dinamis yang ada secara niscaya akan memunculkan umpan balik ( feedbacks ) dan check and
balances. Di dalam kehidupan sehari-hari setiap pendapat
yang kita ungkapkan, di rumah atau di kantor pasti akan
selalu mendapat dua hal tersebut baik secara langsung
maupun tak langsung, dalam skala yang besar maupun
kecil. Proses ini menjadi makin tinggi intensitasnya ketika
media teknologi komunikasi sekarang sudah semakin
merapatkan jarak dan waktu. Dalam bidang pemerintahan
tentu hal ini menjadi sangat konkret. Setiap pernyataan
pejabat publik, kebijakan yang dibuat dan perilaku aparat
di lapangan juga pasti akan menarik datangnya feedback
dan check and balances. Hal ini muncul karena keragaman
(diversity) adalah kenyataan hidup (Wilson, 2006). Tidak
ada masyarakat yang monolitik dan akan setuju seratus
persen dengan apapun yang dikatakan orang lain, bahkan
di dalam keluarga sekalipun. Kenyataan bukannya
menjadikan para birokrat putus haparan (hopeless) atas
betapa rumitnya dunia. Sebaliknya, harus dapat dijadikan
energi untuk mendorong tumbuh suburnya inovasi dan
kreatifitas di dalam tubuh organisasi pemerintahan.
Realitas dasar kedua adalah kompleksitas (complexity).
Sebagai dampak dari realitas dasar pertama (diversity),
menjadi perlu untuk membuat kelompok-kelompok oposisi
dan mereka-mereka yang ada di lingkaran pheriphery
merangsek ke dalam inti pemerintahan dan kebijakan
publik. Hal ini juga didorong oleh gerakan demokratisasi
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

yang hari ini juga telah menjadi gelombang besar dalam


sejarah peradaban dunia kontemporer. Singkatnya dapat
dikatakan bahwa keberagaman dan demokratisasi secara
simultan menciptakan kompleksitas dalam tata
pemerintahan kita saat ini. Sekali lagi, realitas ini
seringkali diabaikan, baik tingkatan praktek maupun
perkembangan konseptual dalam ilmu administrasi publik
dan pemerintahan selama ini. SG, sekali lagi, ingin
mengajak kita untuk melihat sesuatu yang kompleks
semacam ini untuk disikapi secara optimis. Kompleksitas
ini pada gilirannya akan membuat tata pemerintahan
( governance ) menjadi tetap sibuk (Farazmand, 2004).
Karena mereka setiap hari harus bertemu dan berhadapan
secara tangkas dengan masalah-masalah yang kompleks.
Sibuk bukan mengerjakan sesuatu yang itu-itu saja dan
bersifat fisik semata, tetapi sibuk yang membuat mereka
berpikir, mencari jalan keluar dan solusi terbaik di tengah
kompleksitas tersebut.
Realitas dasar ketiga adalah ketegangan ( intensity ).
Kompleksitas menghasilkan berbagai macam derajat
ketegangan atau intensitas dalam proses tata pemerintahan baik secara domestik hingga internasional. Ketegangan yang dimaksud bukanlah dalam pengertian
negatif, yaitu yang berkonotasi konflik destr uktif.
Ketegangan di sini lebih pada makin intesifnya komunikasi
diantara elemen-elemen yang ada. Derajat intensitas
komunikasi yang tinggi menyebabkan faktor psikologis dan
rasa juga terlibat di dalamnya. Sebuah interaksi dan
komunikasi yang tidak lagi formal, kaku dan ala kadarnya
sebagaimana proses interaksi umumnya terjadi di dalam
birokrasi. Memang, proses interaksi yang intens bisa
menyebabkan konflik. Tetapi harus diingat, peluang ke
arah konflik sama-sama besarnya dengan peluang makin
eratnya hubungan antar elemen yang berinteraksi. Untuk
itulah dibutuhkan juga jiwa yang senang tantangan (risk
averse) demi mencapai sesuatu yang lebih baik. Tetapi juga
Sound Governance

SG
77

SG
78

harus cepat berbenah ketika menyadari ada kesalahan di


dalam dirinya. Dalam konteks tata pemerntahan, SG
menyadari bahwa ketegangan ini akan makin meninggi
derajatnya dalam era modern. Birokrat harus tangkas
dalam menyikapi berbagai kemungkinan yang timbul, dan
memetik manfaat terbaik dari tingginya derajat intensitas
komunikasi hari ini. Sekali lagi, adaptasi, kelenturan dan
inovasi merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki
oleh para birokrat di semua level.
Ketiga realitas itu menjadi dasar bagi konsep SG itu
sendiri. Penolakan SG atas adanya wacana tunggal bukan
semata wujud ketidaksenangan terhadap hegemoni GG.
Melainkan lebih didasarkan pada pembacaan realitas
sesungguhnya yang terjadi di masyarakat yang serba
kompleks. Tuntutan SG akan adanya kemampuan para
pejabat publik yang lentur, inovatif dan adaptif bukan
semata harapan indah ( wishful thinking ), melainkan
sebuah tuntutan zaman yang tak bisa dihindari begitu saja.
Keinginan SG untuk lebih menyeimbangkan antara output
dan proses adalah berangkat dari perspektif yang kompleks
dan diverse tentang cara bagaimana tujuan-tujuan baik
bisa digapai.

Pentingnya Egalitarianisme

Untuk mencapai hasil yang maksimal atas tujuan ideal


tersebut, peran dari lembaga-lembaga internasional cukup
penting. Hal ini tidak dapat dipungkiri mengingat untuk
kasus Indonesia sebagian proyek-proyek pemberdayaan
dan peningkatan kapasitas pemerintahan didanai oleh
lembaga-lembaga donor ini. Hanya saja yang menjadi
masalah selama ini adalah telah terjadi kesalahan cara
mengelola dan mempersepsi kegiatan-kegiatan tersebut.
Hubungan antara lembaga donor dan pemerintah (baik
pusat ataupun daerah) masih banyak terjadi ketidakharmonisan.

SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Kegiatan peningkatan kapasitas yang ada selama ini


hanya dipandang sebagai proyek semata. Lahan untuk
mencari uang bagi para pelaku yang terlibat di dalamnya.
Hal ini tidak dapat disalahkan, akan tetapi juga harus
melihat pada hasil yang harus dicapai. Dana-dana dari
lembaga asing umumnya masuk dan menandatangani
kontrak dengan pemerintah pusat sebelum masuk ke
daerah. Di tingkat pusat sudah banyak broker-broker
proyek yang memainkan pengucuran dana ke tingkat
daerah. Sehingga daerahpun akan mempersepsi kegiatan
atau program peningkatan kapasitas dari lembaga donor
asing itu juga hanya sebatas proyek. Bila hal ini terus
berlanjut, ketergantungan akan keberadaan dana-dana
asing akan semakin kuat. Dan lembaga donor yang tahu
kondisi ini akan memanfaatkannya untuk makin
merepresifkan pendekatan dan pola hubungannya dengan
negara atau institusi-institusi penerima donor.
Kekuatan internasional semacam itu sehar usnya
memberikan dukungan dan peluang daripada memberikan
tekanan dan hambatan, seperti sanksi, propaganda, sikap
permusuhan, konflik perbatasan, perang, ataupun tekanan
finansial internasional. Hal inilah yang terjadi pada
hubungan lembaga pemberi donor dan negara penerima
donor yang bersifat neo-kolonialistik. Di dasar niat sebaik
apapun kalau hubungan neo-kolonialistik yang terjadi,
maka kemajuan dan perbaikan yang hakiki di negaranegara berkembang tak akan pernah tercapai. Sebab
hubungan neo-kolonialistik hanya akan melanggengkan
kesenjangan antara negara maju dan negara miskin, hanya
akan memperkokoh struktur tidak adil antara centrumperiphery , serta menciptakan tatanan ekonomi politik
internasional yang eksploitatif. Utamanya ketika kemajuan
(progress) telah menjadi bagian dari praktek hegemoni dan
patokan sistem baku (modular form) yang harus dipatuhi,
kapanpun dan dimanapun (Chatterjee, 1993 Blaut, 1993;
Shohat dan Stam, 1994).
Sound Governance

SG
79

SG
80

Pola hubungan antara lembaga pemberi donor dan


penerima donor yang lebh egaliter dan emansipatoris
sangat penting untuk segera ditegakkan agar proses
operasional dari berjalannya peningkatan kapasitas sistem
pemerintahan lebih smooth. Sebab para aktor yang menjadi
sasaran untuk ditingkatkan kapasitasnya melakukan
segala perbaikan atas dasar kesadaran dan kebutuhan
mereka. Bukan sebagai kewajiban dan keharusan yang
kerap kali mereka lakukan atas dasar tekanan dan
keterpaksaan. Sering kita melihat dalam skema proyekperoyek di daerah yang mengatakan bahwa kalau daerah
tertentu tidak berhasil mengimplementasikan modul proyek,
maka daerah itu tidak akan mendapatkan proyek lagi.
Pernyataan ini bersifat ancaman dan koersif. Ini adalah
sebuah hubungan yang neo-kolonialis dan dangkal. Sebab
mereka tidak melihat secara mendalam apa sebab-sebab
kegagalan suatu daerah dalam implementasi proyek
tersebur. Jangan-jangan memang ada yang salah dengan
desain proyeknya.
Dalam SG pola hubungan inter-personal maupun interinstitusional antara pemberi donor dan penerima donor ini
sangat penting. Penting untuk mendorong pada terciptanya
capacity building , inovasi, kreatifitas dan responsivitas
yang adaptif. Tiap-tiap daerah tentu memiliki keunikan
sendiri-sendiri, maka perbedaan capaian adalah sesuatu
yang wajar terjadi. Semua pihak yang terlibat harus
terbuka dan egaliter untuk memahami persoalan dan
bersama mencari solusinya. Yang terjadi selama ini adalah
hubungan antara juragan dan buruh. Para buruh selalu
diliputi rasa segan dan takut ketika berhadapan dengan
juragan, takut dipecat dan takut tak lagi mendapatkan
gaji dari sang juragan. Sehingga agar selamat dari amukan
juragan, para buruh berusaha sedapat mungkin membuat
juragan senang dan gembira. Caranya dengan memberikan
laporan-laporan tentang hal-hal yang baik-baik dan
menutupi hal-hal yang buruk. Sang juragan juga menikmati
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

previllege ini. Senang ketika semua orang berusaha untuk


membuatnya senang, meskipun dengan laporan-laporan
fiktif dan palsu. Dan hanya akan marah-marah ketika
kedapatan ada anak buahnya yang kurang berhasil dalam
pelaksanaan tugas. Persis seperti hubungan penjajah dan
terjajah. Dan kenyataannya, pola hubungan seperti ini di
abad XXI masih cukup lestari di negeri kita tercinta. Tidak
hanya antara bupati dengan para birokrat di bawahnya,
tapi juga yang lebih memperihatinkan adalah antara
lembaga-lembaga donor dengan pemerintah.
Hal inilah yang menjadi titik tolak SG dalam hal
melakukan reformasi atas keberadaan dana-dana asing
di negara-negara berkembang. Berbeda dengan kalangan
Marxist ekstem yang selalu menolak mentah-mentah segala
sesuatu yang datangnya dari World Bank atau IFIs, karena
menganggapnya sebagai agen neo-liberalisme yang selalu
eksploitatif. Memang betul bahwa lembaga-lebaga tersebut
mengemban misi neoliberal (Alavi, 1991), akan tetapi
dalam konteks kekinian menolak mentah-mentah segala
bentuk kehadiran mereka juga bukan pilihan gampang.
Di samping itu, sikap penolakan mentah-mentah semacam
itu juga tidak sejalan dengan solusi arif poskolonial, yaitu
provisionalisme. Sebab di beberapa negara (Eropa Barat,
Korea Selatan, Jepang, Taiwan dan Amerika Utara) harus
diakui faktanya bahwa neo-liberalisme berhasil memajukan ekonomi mereka. Fakta tersebut sama validnya dengan
kenyataan bahwa neoliberalisme juga memiskin-kan negara
di Afrika, Asia Tenggara dan Amerika Latin.
Pun SG berbeda dengan kelompok ekstrem kanan yang
selalu dengan membabi buta mengatakan bahwa neoliberalisme dan segala keturunannya (termasuk GG),
adalah selalu baik dan ideal. Dan oleh karena itu satusatunya pilihan bagi negara-negara di seluruh dunia untuk
menjadi sejahtera maka harus menerapkan neoliberalisme.
Dua sikap ekstrem tersebut sama-sama kekanak-kanakan.
Provisionalisme penting dalam rangka mencegah kita untuk
Sound Governance

SG
81

SG
82

bersikap anti-pati terhadap sesuatu hal. Strategi SG dalam


menata ulang hubungan lembaga pemberi donor dengan
penerima donor bukanlah semata ditunjukkan dalam sikap
manis dan senyum ramah setiap kali bertemu. Tetapi juga
harus nampak pada keramahan ideologis. Artinya, para
petinggi World Bank dan IFIs lainnya berhentilah berskap
seperti juragan dan memperlakukan negara-negara
penerima dana sebagai hamba sahaya. Atau para konsultan
lembaga asing yang merasa paling pintar dan paling
mengerti atas kondisi yang dihadapi negara penerima donor.
Mungkin memang banyak informasi yang diketahui para
petinggi di World Bank yang tidak diketahui masyarakat
dan birokrat di Indonesia. Tetapi harus diingat bahwa
sebaliknya, banyak pula hal yang diketahui pelaku-pelaku
lokal dan tidak diketahui pejabat-pejabat World Bank.
Terlebih dari pada itu, mungkin ada keyakinan ideologis
yang kuat yang dimiliki IFIs dan itu berbeda dengan
keyakinan ideologis para pelaku di lapangan. Bagaimana
seharusnya kita menyikapi perbedaan-perbedaan ini? Satu
kata saja; egalitarianisme. Egaliter dalam bersikap dan
bernegosiasi atas informasi, nilai, kepentingan dan ideologi.

Dimensi-dimensi dalam Sound Governance

Kata dimensi di sini penting untuk mengatakan istilah


indikator. Sebab sebagaimana dalam GG dan konsepkonsep hegemonik lainnya, indikator keberhasilan adalah
sebuah prasyarat mutlak bagi sebuah ide agar dapat
dikatakan implementatif. Sebab sebuah ide yang implementatif adalah ide yang bisa diimplementasikan, dan dapat
diukur sampai sejauh mana kinerjanya dapat dicapai di
lapangan. Tidak ada yang salah dengan pemahaman seperti itu, utamanya bila kita hendak menelorkan sebuah
ide yang akan diterapkan di tataran mikro.
Akan tetapi hal ini akan menjadi masalah besar ketika
hendak diterapkan pada proses epistemoligis pada konsep
makro, terlebih global. Indikator yang digunakan sebagai
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

alat ukur keberhasilan serta merta akan berubah menjadi


awal kegagalan besar. Sebab indikator akan mengabaikan
kompleksnya variasi yang ada di lapangan serta mengabaikan fitrah kehidupan yang tak tunggal. Keindahan tidak
harus satu bentuk. Oleh karena SG tidak ingin mengulang
kesalahan-kesalahan konseptual yang sama, maka SG
lebih mengedepankan dimensi ketimbang indikator.
Dengan konsep dimensi, keleluasaan dalam wilayah
implementasi, keragaman serta kreatifitas pelaku-pelaku
di lapangan menjadi dapat terekspresikan secara luas,
tanpa harus menjadi chaos. Sebab dimensi tetap memiliki
standar ideal, meski sangat normatif yang bisa diukur
meski tidak harus dikuantifikasi.
Di dalam SG terdapat sepuluh dimensi yang diharapkan
dapat menjadi peta dalam pelaksananaan reformasi
administrasi publik. Istilah peta di sini digunakan sebab
sepuluh hal yang ada ini bukan merupakan harga mati
dan keharusan. Ibarat sebuah peta, tentu kita akan dapat
melihat berbagai pilihan alternatif jalan untuk menuju satu
tempat. Jalan mana yang hendak dipilih tentulah sangat
tergantung pada pertimbangan dan keadaan masingmasing yang kontekstual. Dimensi-dimensi tersebut adalah:

1. Proses
Proses di sini artinya adalah hubungan dan interaksi
antara berbagai elemen yang ada dalam proses tata
pemerintahan. Dalam hal ini berarti termasuk pula elemenelemen yang ada dalam GG (negara, swasta dan
masyarakat sipil) dan juga ditambakan satu aktor dalam
SG yaitu aktor-aktor internasional. Yang hendaknya
dilakukan dalam dimensi ini adalah mencapai dan mencermati kualitas proses dari interaksi antar elemen
tersebut. Sehingga tidak seperti dalam GG yang indikator
interaksi antar aktornya hanya penuh dengan lembar
kehadiran dan tanda tangan dari para peserta rapat,
lengkap dengan kolom asal insitusinya. SG tidak melihat
Sound Governance

SG
83

SG
84

melulu pada aspek permukaan itu, melainkan proses


seperti apa yang terjadi atas hubungan empat aktor yang
ada di tiap-tiap daerah, dicari sebabnya dan arah
perbaikan sesuai dengan konteks lokal.
Satu hal yang perlu ditekankan di sini adalah SG tidak
hanya terfokus pada proses internal, tapi juga eksternal
dan struktur dari proses itu sendiri. Proses eksternal yang
dimaksudkan di sini adalah berangkat dari kenyataan
tentang dunia yang saling terkoneksi. Maka ketika kita
melihat proses interaksi empat aktor di satu lokus tertentu,
jangan lupa bahwa ada proses di lokus yang lain yang
mungkin juga berpengaruh terhadap formasi tersebut.
Ibarat menikmati keindahan ikan, SG tidak melihatnya di
dalam sebuah akuarium, melainkan melihat ikan-ikan
tersebut langsung dari dasar lautan. Sedangkan yang
dimaksud dengan struktur dari proses adalah distribusi
kuasa yang terbangun di dalamnya. Sebab dalam proses
interaksi yang polisentris, disadari bahwa hubungan antar
elemen itu selalu terkait dengan besaran kuasa (Shohat
and Stam, 1994). Nah tugas SG adalah untuk mencermati
hal itu dan berupaya untuk mengegaliterkannya.

2. Struktur
Kalau proses adalah tentang bagaimana pemerintahan
bekerja, struktur menunjukkan dan memandu arah pada
proses tersebut. Arahan yang diberikan oleh struktur ini
berada pada keseluruhan sistem tata pemerintahan, tetapi
dapat pula berada di masing-masing elemen yang ada
dalam tata pemerintahan. Sehingga tiap-tiap elemen yang
ada, dengan struktur yang ada di dalam dirinya, tahu apa
yang harus diperbuat dan kemana harus melangkah sesuai
dengan tujuan kolektif yang telah ditetapkan.
Sehingga, yang dimaksud struktur di sini adalah tubuh
konstitutif dari elemen, aktor, peraturan, regulasi,
prosedur, sistem pengambilan keputusan dan otoritas
(Farazmand, 2004). Hal ini merupakan aturan atas peranSOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

an yang harus dimainkan masing-masing hal tersebut.


Contohnya harus ada konstitusi yang jelas yang mengatur
tentang sejauh mana otoritas yang dimiliki seorang pejabat
publik utamanya dalam proses pengambilan keputusan.
Atau struktur yang mengatur tentang regulasi, utamanya
menyangkut kaitan antara satu regulasi dengan regulasi
lainnya serta alasan-alasan mengapa regulasi tersebut
harus berbentuk demikian. Dengan demikian, SG berharap
setiap tata pemerintahan dapat mengidentifikasi struktur
dari elemen-elemen yang ada di dalamnya. Hal ini bertujuan
agar tata pemerintahan yang ada benar-beanr mengerti
dan mengenali elemen-elemen yang dimilikinya, tahu cara
memanfaatkannya dengan baik dan memperbaiki dengan
segera bila terdapat kesalahan.

3. Kesadaran dan Nilai


Nilai demokrasi harus disandarkan sebagai kebutuhan,
bukan dipaksakan sebagai proyek. Hal inilah yang kerap
kali menjadi kesalahan dalam program-program demokratisasi di dalam pemerintahan. Banyak birokrat dan
politisi yang tidak menginternalisasi demokrasi dengan
baik. Mereka menggunakan kata-kata itu hanya untuk
kebutuhan kampanye dalam pidato-pidato formal. Tetapi
ketika diantara mereka sedang berbicara, mereka sering
kali tertawa lebar setelah mengucapkan kata-kata
demokrasi. Sebab demokrasi bagi mereka bukanlah
sesuatu yang konkret, akan tetapi hanyalah wacana. Dan
mereka beranggapan bahwa pekerjaan sebagai birokrat
dan politisi bukanlah pekerjaan yang berurusan dengan
wacana, melainkan sesuatu yang konkret. Wacana adalah
menu bagi dosen dan para aktivis mahasiswa belaka,
termasuk wacana tentang pentingnya demokrasi. Hal ini
terjadi karena selama ini internalisasi nilai tidak dibarengi
dengan kesadaran akan pentingnya nilai itu. Demokrasi
selalu saja dikaitkan tentang hal-hal yang sifatnya jangka

Sound Governance

SG
85

SG
86

panjang. Belum dapat diturunkan ke dalam sesuatu yang


pragmatis.
Internalisasi terhadap demokrasi yang dipaksakan oleh
lembaga-lebaga donor juga makin terkikis kedigdayaannya
oleh standar ganda dari lembaga-lembaga keuangan
tersebut. Sebab, di beberapa tempat ternyata lembagalebaga internasional ini juga menyokong pemerintahanpemerintahan yang anti-demokrasi. Banyak kasus rezim
yang otoriter tapi disokong dan keberadaannya tergantung
pada dukungan internasional hanya karena terjadi
transaksi bisnis yang saling menguntungkan di antara
mereka. Artinya, segala macam proyek tentang demokratisasi yang ada itu tidak hanya bermasalah di tingkatan
penerima tapi juga di tingkatan pemberi. Kesadaran akan
pentingnya nilai demokrasi tidak hanya tidak dipahami oleh
penerima, tetapi juga tidak dihayati oleh para penganjur
proyek demokratisasi itu sendiri.

4. Konstitusi
Pada prisipnya konsitusi adalah dokumen yang
memberikan blue print dari pemerintahan. Namun demikian dalam sistem yang lemah, atau organsasi yang buruk
dan tidak kuat jika ini disebut sebagai sistem konstitusi
tidak lebih dari dokumen formal. Ini diabaikan dan
diterobos oleh sebagian besar orang dan waktu serta
digunakan secara selektif untuk melayani kepentingan
kekuasaan khusus. Ini adalah formalisme atau dualitas
dalam proses tata pemerintahan di seluruh dunia yang
sangat dipengaruhi atau didikte oleh struktur kekuasaan
globalisasi eksternal. Formalisme terjadi ketika aturan dan
regulasi formal dilengkapi oleh norma dan perilaku
informal dan tidak resmi dalam politik, tata pemerintahan,
dan administrasi untuk melayani tujuan khusus, tetapi
mereka diaplikasikan secara kaku (Farazmand, 1989).
Konstitusi di dalam SG tidak diposisikan dalam konteks
tersebut. Penyakit formalisme konsitusi seperti itu juga
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

melanda negara-negara industrialisasi sangat maju dari


Barat dan problem tersebut lebih kronis dalam negaranegara berkembang dan negara-negara kurang maju
(Riggs, 1966). Sebuah tingkat formalisme tinggi telah
mengikis legitimasi sistem. Sebuah konstitusi berfungsi
sebagai sumber legitimasi paling penting atas sistem tata
pemerintahan. Sebuah konstitusi kerja juga memberikan
kontribusi terhadap kekuatan pemerintahan pada level
nasional.

5. Organisasi dan Institusi


SG adalah sebuah konsep yang sangat mengedapankan
implementasi. Bukan hanya sebuah kumpulan nilai-nilai
ideal yang abstrak. Dalam administrasi pemerintahan,
organisasi dan institusi adalah alat untuk membuat sebuah
tujuan dan cita-cita kolektif menjadi kenyataan. Apapun
namanya, perencanaan strategi jangka panjang, menengah
maupun pendek tidak mungkin bisa tercapai bila perangkat
fisik untuk mencapainya tidak memadai. Organisasi dan
institusi adalah peralatan pokok yang harus dimiliki guna
mencapai tujuan sebuah pemerintahan. Namun demikian,
sekali lagi, SG tidak mematok organisasi dan institusi
seperti apa yang bisa dibilang baik atau buruk. Sebab hal
ini sangatlah kontekstual. Panduan yang bisa dipakai
adalah kesesuaian kondisi organisasi dengan tujuan dan
konteks lokal. Organisasi adalah wujud konkret dari
institusi. Institusi berisi tugas-tugas dan alasan kenapa
organisasi tertentu diperlukan. Insitusi adalah jiwa dan
organisasi adalah tubuhnya.
Sehingga untuk mencapai kondisi organisasi yang baik
bukanlah dengan mendaftar sekian banyak indikator dan
mencocokkan apakah kondisi organiasi dan institusi yang
ada sudah cocok dengan indikator tersebut atau belum.
Tetapi dengan mengajukan pertanyaan misalnya tentang
apa saja organisasi yang ada dalam pemerintahan? Dan
bagaimana mereka bekerja? Sehingga dalam hal ini tidak
Sound Governance

SG
87

ada penghakiman yang bersifat langsung terhadap


organisasi-organisasi yang ada. Kita harus melihat
organisasi-organisasi yang ada di dalam pemerintahan
dalam kaca mata yang utuh. Tidak mencari siapa yang
salah atau siapa yang benar dalam menilai kualitas
organisasi. Melainkan yang harus dicari adalah apa yang
salah dan bagaimana cara memperbaikinya. Sekali lagi,
mengontrol kondisi setiap jengkal organisasi dan insitutsi
yang ada di dalam sebuah sistem pemerintahan adalah hal
yang sangat penting di dalam SG. Tanpa institusi tidak akan
ada tata pemerintahan, dan insitusi tanpa organisasi akan
rapuh.

SG
88

6. Manajemen dan Performa


Manajemen adalah sebuah proses yang berjalan di
dalam organisasi. Bila instisusi adalah jiwa dari organsasi
yang membuat organisasi memiliki karakter, manajemen
adalah bagaimana organisasi mengatur hidupnya dan
mengekspresikan dirinya. Oleh karenanya banyak organisasi yang memiliki insitusi yang sama tetapi menajemennya
berbeda. Misalnya, organisasi di satu tempat yang
pekerjaannya adalah membuat perencanaan tidak harus
sama manajemennya dengan organisasi perencanaan di
tempat lain. Masalah manajenen yang penting untuk
diperhatikan di dalam SG bukanlah terletak pada manajemen gaya apa yang dipakai tetapi fokusnya adalah
manajemen yang dipilih itu harus dapat mengantarkan
organisasi pada dampak yang diinginkan. Apa dampak
yang diinginkan? Tentu sangat tergantung dari fungsi
dasar organisasi itu, kontribusi apa yang diharapkan dapat
diberikannya pada masyarakat. Inilah yang disebut dengan
performa. Performa merupakan alat ukur utama dalam
SG untuk melihat kualitas manajemen dalam sebuah prses
pemerintahan.
Oleh karenanya, manajemen harus dinamis dan mengikuti teknologi dan ilmu terbaru. Ini pulalah yang membuat
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

SG tidak mendukung adanya stagnasi dalam sebuah proses


pemerintahan. Selama ini birokrasi selalu malas bahkan
takut untuk melakukan perubahan. Kita bisa melihat
dimana-mana di seluruh kantor pemerintahan di tanah air
sebuah alur atau prosedur tertentu yang usianya sangat
tua masih terpampang di dinding kantor. Beberapa malah
ada yang masih ditulis dengan ejaan yang belum
disempurnakan. Tidak hanya itu, para pemimpin dan
birokrat di lapangan juga hanya mengekor pada kebiasaankebiasaan yang selama ini sudah berlangsung. Ada
kemalasan yang masif untuk mempelajari perkembanganperkembangan dan ilmu terbaru tentang manajenen untuk
coba diterapkan di kantornya. Seperti telah dijelaskan
sebelumnya. Keterpisahan antara dunia kerja dengan dunia
wacana begitu terbentang luas. Bekerja dan berpikir
menjadi dua aktifitas yang saling berbenturan. Birokrat
dan politisi yang dibayangkan hanya berkutat pada sesuatu
yang bersifat kerja konkrit dan jarang berpikir. Sementara
di sisi yang berseberangan, aktifis dan intelektual selalu
dibayangkan dengan kerja-kerja wacana pemikiran yang
abstrak dan tidak riil. Manajemen dalam SG adalah
ditandai dengan tidak adanya lagi dikotomi itu. Sebab,
dalam rangka memperbaiki performanya, birokrat harus
selalu membaca dan mendiskusikan hal-hal baru dalam
mana-jemen sebagai bekal dalam melakukan pekerjaan
riil.

7. Kebijakan
Kebijakan memberi arah dan kendali pada proses,
struktur dan menejemnen dari sebuah pemerintahan. Dari
situ semakin tegas bahwa orientasi dari studi kebijakan
publik itu adalah kepentingan publik. Dimana dengan
demikian dapat diartikan pula bahwa studi ini pada tataran
konseptual har us memiliki keberpihakan yang kuat
terhadap kepentingan masyarakat, dan berorientasi pada
pelayanan kepentingan tersebut. Sebab seperti telah sering
Sound Governance

SG
89

SG
90

diungkap di muka bahwa studi kebijakan publik adalah


sebuah formula problem solver. Sementara problem yang
sesungguhnya itu ada di tengah-tengah riil kehidupan
bermasyarakat. Artinya, problem kebijakan itu tumbuh di
tengah-tengah masyarakat. Dan oleh karena itulah ia juga
tumbuh bersama dengan kepentingan publik itu sendiri
(Putra, 2001). Yang harus diingat adalah ketika dikatakan
bahwa studi kebijakan publik itu berorientasi pada
kepentingan publik. Itu berarti ia juga berorientasi pada
berbagai kepentingan yang beragam di masyarakat. Dan
lebih jauh dari itu, studi kebijakan publik juga berbasis
pada proses dialogis dari berbagai kepentingan tersebut.
Yang kemudian hasil persepakatan proses dialog demokratik itulah yang menjelma menjadi sebuah kebijakan
publik.
Di dalam SG dikenal adanya dua tipe kebijakan.
Pertama, kebijakan eksternal kepada individu atau
organisasi. Yaitu kebijakan yang diangkat dari aspirasi
masyarakat (langsung maupun per wakilan) untuk
dijadikan sebagai arah gerak organisasi. Kebijakan pada
jenis pertama ini terkait dengan keputusan politik
demokratis dari sebuah sistem tata pemerintahan. Yang
diangkat dari aspirasi masyarakat politik di luar organisasi
untuk diformulasi menjadi kebijakan yang akan mengatur
organisasi pemerintahan. Kedua, adalah kebijakan internal.
Yaitu kebijakan tentang aturan, regulasi dan prosedur
untuk mencapai tujuan organisasi. Sehingga ketika
kebijakan pertama (politik) telah ditetapkan, maka
berikutnya adalah membuat kebijakan-kebijakan di dalam
organiasi pemerintahan yang dibuat untuk, dari dan oleh
organisasi itu sendiri. Dari sini jelas terlihat bahwa
pentingnya partispasi dan demokrasi adalah untuk
menjamin kualitas kebijakan di level pertama. Tidak hanya
itu, dengan transparansi, masyarakat juga dapat
melakukan evaluasi tak langsung terhadap kebijakan di
level kedua. SG menghendaki hubungan antara kedua level
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

kebijakan ini menjadi seimbang. Sehingga demokrasi dan


implementasi pembangunan di titik ini dapat menemukan
titik pragmatisnya. Demokrasi bukan lagi sebatas wacana
ilmiah yang tidak membumi dalam pelaksanaan konkret
sebuah tata pemerintahan.

8. Sektor
Dalam sebuah pemerintahan, sektor sangatlah penting.
Karena ujung tombak dari pelaksanaan pelayanan publik
ada pada masing-masing sektor ini. SG sangat mengharapkan agar ada keahlian (expertise) yang sangat tinggi
dalam sebuah penempatan personalia. Pentingnya
expertise itu salah satunya adalah guna menjaga kualitas
sektor-sektor dalam sebuah sistem pemerintahan. Sektor
sifatnya juga sangat kontekstual. Kebutuhan sektoral dari
satu pemerintahan dengan pemerintahan lain tentunya
berbeda-beda. Tidak hanya masalah tempat yang
menyebabkan perbedaan sektor ini. Akan tetapi masalah
waktu juga bisa menjadi sebab. Karena, dalam waktu
tertentu, bisa jadi sebuah sektor diperlukan keberadaannya,
namun di waktu lain tidak dibutuhkan. Maka, dinamika
organisasi pemerintahan juga akan sangat tinggi di semesta
pembicaraan sektor ini.
Sektor-sektor yang umumnya kita kenali di dalam
organisasi pemerintahan adalah seperti sektor indusri,
agrikultur, pedesaan, budaya, pendidikan, kesehatan,
transportasi, dan lain-lain. Membutuhkan pengetahuan dan
kemampuan yang mumpuni dari para birokrat yang ada
di dalamnya dalam pengelolaan ini. Akan tetapi SG juga
tidak mensyaratkan agar organisasi pemerintahan itu
menjadi super body yang bisa menangani segala hal.
Expertise bisa juga diwujudkan dengan cara kerja sama
antar lembaga. Dalam hal ini keterkaitan yang cair antara
organisasi-organisasi pemerintahan di semua sektor
dengan lembaga atau perseorangan yang memiliki keahlian di sektor tertentu sangatlah dianjurkan. Dan tata aturan
Sound Governance

SG
91

birokrasi harus sedapat mungkin menfasilitasi terjadinya


hal tersebut, bukan malah menghambat dan mempersulit.

SG
92

9. Faktor International
Sebagaimana telah berulang kali disampaikan, selama
ini peranan Bank Dunia, IMF, WTO dan lembaga-lebaga
internasional lainnya memainkan peran yang penting
dalam mendefinisikan parameter dari kualitas governace
di berbegai negara. Sekarang, dalam zaman peningkatan
globalisasi dan interdependensi global, negara, pemerintah
dan warga negara semakin ditarik secara sukarela atau
terpaksa untuk menumbuhkan sekumpulan rezim yang
menunjukkan intoleransi terhadap perilaku governance
tertentu yang sebelumnya dan secara tradisional dianggap
normal dan internal bagi kedaulatan pemerintah (misalnya
rezim Apartheid di Afrika Selatan, atau genocide di Afrika).
Juga tuntutan implementasi bermacam-macam aturan,
regulasi, dan protokol yang disetujui dan didasarkan pada
level global dan kolektif. Di sisi lain, pada saat yang
bersamaan juga berkembang trend glocalism sebagai
antitesis dari gagasan globalisasi berikut anomali-anomalinya. Interaksi diantara kedua arus besar ini membuat
kompleksitas global governance juga semakin rumit. Ini
jugalah yang menjadi agenda penting dalam SG, yang
tidak hanya melakukan perbaikan pada local and national
governance melainkan jauh lebih penting juga melakukan
reformasi di tingkatan global governance.
Sikap lembaga donor yang mendikte justru membuat
tata pemerintahan di negara-negara berkembang menjadi
lemah. Sebab reformasi yang diselenggarakan itu bersifat
cangkokan, bukan tumbuh secara alami dan memiliki akar
yang kuat menghujam dalam bumi. Urgensi reformasi tata
pemerintahan global menjadi semakin mendesak atas
adanya situasi semacam ini. Kita bisa menghitung berapa
banyak uang dan sumber daya yang selama ini dikeluarkan
dalam hal penyelengaraan proyek-proyek dari lembaga
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

donor ini. Dan itu semua masih terus berlangsung hingga


kini. Di tengah ketidakefektifan pelaksaannya, kita dengan
demikian juga dapat menghitung berapa banyak uang yang
telah dihamburkan secara mubazir setiap harinya. SG
menginginkan reforamsi tata pemerintahan global
dilakukan secara segera utamanya adalah agar pemanfaatan dana-dana dari institusi-insitusi pendonor internasional
itu tidak terbuang percuma. Lebih dari itu, tidak pula semua
itu dilakukan hanya untuk memperkokoh noe-kolonialisme
tanpa sedikitpun ada niat untuk memperbaiki kondisi
pemerintahan yang ada di negara berkembang.

10. Etika
Meski seringkali dipandang sinis, etika dalam
administrasi publik tetaplah merupakan hal yang penting.
Kelemahan perbicangan etika dalam administrasi publik
selama ini terletak pada konsepnya yang terlalu filosofis
dan tidak membumi. SG dengan demikian ingin agar etika
dalam adimistrasi publik menjadi sesuatu yang benarbenar hadir dalam realitas. Hal ini juga disadari bahwa
stadar etik masing-masing tempat berbeda-beda dan tentu
berada dalam konteksnya masing-masing. Proses
pembelajaran yang bersifat komparatif sangatlah penting.
Misalnya tentang penghormatan atas hak cipta, mengapa
di satu tempat dijunjung tinggi dengan sangat sakral
sementara di tempat lain tidak begitu dipedulikan.
Mengapa di satu tempat asertifisme dianggap hal yang
biasa dan normal sementara di tempat lain dianggap egois
dan mementingkan diri sendiri. Artinya, tidak ada yang
mutlak dalam etika. Penerimaan dan internalisasi etika
adalah masalah pembelajaran. Pandangan konstruktivisme
mempercayai bahwa semua hal yang ada di muka ini
merupakan proses pembelajaran (Wendt, 1999). Tidak ada
satupun hal yang ada memiliki sifat absolut dan tak
mungkin diubah. Hanya saja proses per ubahan dan
pengubahan itu harus dilakukan secara perlahan dan
mengedepankan kesadaran ketimbang paksaan.
Sound Governance

SG
93

SG
94

Demikian pula dalam koteks etika, internalisasi nilai


masih sangat mungkin dilakukan asalkan ada strategi yang
kuat dan handal. Kekuatan dan kehadalan strategi dalam
internaslisasi nilai-nilai etik di dalam administrasi publik
tidak ditentukan dari seberapa koersifnya dia, melainkan
seberapa mampunya dia menjelmakan nilai etik menjadi
kesadaran. Sistem dan struktur juga dapat dibangun untuk
menciptakan akuntabilias dan tansparansi sebagai bagian
dari upaya internalisasi etika. Etika yang implementatif
juga dapat mencegah potensi penyalahgunaan kekuasaan
dan korupsi, juga mencegah orientasi kerja birokrasi yang
hanya murni ekonomis dan administratif semata. Birokrasi
bekerja untuk mencapai efektivitas dan efisiensi, bukan
untuk membuat birokasi menjadi berpikiran sempit
sebagaimana layaknya kalangan bisnis. Efektivitas dan
efisiensi dalam birokrasi itu hanyalah alat, bukan tujuan.
Etika yang harus diemban adalah tetap kepentingan publik
yang berada di atas segalanya. Jadi efektivitas dan efisiensi
adalah untuk pelayanan publik, bukannya untuk efektivitas
dan efisiensi itu sendiri.

Paradigma Baru Administrasi Publik

Empat Level Sasaran Reformasi


Dua kebar uan yang mencolok dalam SG adalah
lokusnya yang sensitif terhadap fakta kontemporer
globalisasi dan pentingnya inovasi dalam proses tata
pemerintahan di lapangan.
Level dari tata pemerintahan (governance) dalam SG
mencakup empat tingkatan, yaitu lokal, nasional, regional
dan internasional. Keempatnya tidak hanya didekati secara
mendalam satu persatu, melainkan juga dilihat
keterkaitannya satu sama lain. Hal inilah yang membedakan dengan sangat mencolok antara GG dan SG. Sebab
berbagai ide dan konsep yang ada dalam GG hanya berkutat pada dua level saja, yaitu reformasi tata pemrintahan
di tingkat lokal dan nasional. Bahkan seringkali GG terlalu
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

terfokus memperhatikan hanya pada level lokal saja.


Perhatian yang lebih dari SG terhadap keempat level tata
pemerintahan itu berangkat dari kesadaran bahwa
keberadaan keempat level tersebut adalah nyata.
Tetapi mengapa seolah ilmu adminisrasi publik
mengabaikan level regional dan level internasional sebagai
lokus kajiannya. Sejak kapan administrasi publik terkotak
hanya mengurusi urusan domestik sebuah negara tertentu,
dan tak boleh menyentuh sama sekali aspek tata
pemrintahan di atasnya? Lantas bila administrasi publik
tidak membicarakan proses tata pemerintahan di atas
institusi negara, siapa yang akan memikirkan hal tersebut?
Oleh karenanya, SG sudah sepatutnya menjadi paradigma
baru dalam adinistrasi publik karena dia telah menerobos
batas-batas mitologi ketabuan khazanah ilmu administrasi
publik yang ada selama ini. Yaitu mitos yang menganggap
bahwa persoalan hubungan antar negara bukanlah wilayah
kajian administrasi publik. Proses manajerial, politik, dan
administrasi di atas organisasi negara bukanlah wilayah
administrasi publik. Administrasi publik hanya dan harus
mengurusi soal-soal domestik satu negara tertentu saja.
Itu semua adalah pandangan tradisional dari administrasi
publik yang sudah harus mulai ditinggalkan. Termasuk GG
yang ternyata juga masih terjebak dalam identifikasi
tradisional tersebut.
Ketika berbicara pada tingkatan lokal maka yan
menjadi fokus adalah bagaimana keterlibatan masyarakat
dalam proses pembangunan dan kebijakan publik yang ada
di daerah. Pada dasarnya partisipasi masyarakat pada
pelaksanaan otonomi daerah harus dipahami sebagai
wujud representativeness dari suatu produk kebijakan.
Pendapat umum mengakui bahwa pemerintahan yang
sentralistik semakin kurang populer karena ketidakmampuanya untuk memahami secara tepat nilai-nilai
daerah atau sentimen aspirasi lokal. Alasannya, warga
masyarakat akan lebih akan dan tentram dengan badan
Sound Governance

SG
95

SG
96

pemerintah lokal yang lebih dekat dengan rakyat, baik


secara fisik maupun psikologis. Selain dari pada itu,
memberikan keleluasaan otonomi kepada daerah, diakuinya pula, tidak akan menimbulkan disintegrasi dan tidak
akan menur unkan derajat kewibawaan pemerintah
nasional. Malah sebaliknya kondisi ini akan menimbulkan
respek daerah terhadap pemerintah pusat (Smith, 1986).
Karena itu, ada sebuah slogan yang sering dilancarkan :
. as much autonomy as possible, as much central power
as necessary (Buckelman dalam Koswara, 1999).
Refomasi tata pemerintahan di tingkat nasional dalam
konteks SG berarti bagaimana formulasi gabungan antara
partispasi masyarakat dengan keselarasan internasional,
norms and rules dapat terejawantahkan dalam kebijakan
skala nasional. Di Indonesia kita telah memiliki proses
perencanaan pembangunan yang cukup sistematis dari
tingkat lokal hingga tingkat nasional (UU no 25/2004).
Sayangnya pada tingkatan musyarawah pembangunan
nasional tidak cukup disertakan apa peran dan pengaruh
pelaksanaan pembangunan di Indonesia dengan capaian
internasional. Sehingga dilihat dari kacamata global corak
perencanaan pembangunan di Indonesia masih sangat egosektoral. Kita bisa membandingkan dengan perencanaan
pembangunan di negara lain yang telah memiliki cukup
peran yang signifikan dalam memberi kontribusi pada
pembangunan dunia. Memang alasan klise yang selalu
muncul adalah bahwa kita negara miskin sehingga tak
mungkin memiliki cukup dana untuk membantu negara
lain. Tetapi harus disadari bahwa bentuk kontribusi kita
saat ini bukan melulu bantuan finansial, melainkan bisa
berupa partisipasi kita dalam bentuk kepedulian dan
empati atas berbagai upaya untuk perbaikan kondisi
global, baik ekonomi, politik, sosial maupun lingkungan
hidup. Hal ini juga penting dalam memperkuat posisi tawar
bangsa ini di mata internasional yaitu dengan menggunakan apa yag disebut soft power (Nye, 1990). Sehingga apa
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

yang terwujud dalam perencanaan pembangunan tingkat


nasional kita ternyata juga memiliki kepedulian terhadap
kondisi global, bukan perencanaan pembangunan yang egosentris.
Di tingkat regional adalah kerjasama antar negara yang
saling menguntungkan. Kita telah memiliki ASEAN dan
APEC khususnya untuk kerja sama ekonomi di tingkatan
regional. Dan harus pula disadari bahwa ada misi-misi
ideologis ekonomi politik di balik organisasi-organisasi itu.
Tetapi, sebagaimana pandangan konstruktivisme, bahwa
segala sesuatunya tidak ada yang baku. Yang dibutuhkan
adalah kecerdikan kita dalam memanfaatkan peluang yang
ada dari lembaga-lembaga kerjasama regional yang
tersedia itu.
Sedangkan internasional adalah bagaimana agar
negara-negara yang selama ini lemah dan dilemahkan
dapat muncul. Di lain pihak, negara-negara yang selama
ini mendominasi dapat dilemahkan. Hubungan antar
negara dalam percaturan global kurang lebih sama dengan
konsep Machiavelli tentang hubungan oposisi biner antara
negara dan rakyat. Kita bisa melihat dengan mudah
kenyataan ini dalam kepemilikan senjata nuklir misalnya.
Negara-negara besar dan mendominiasi tatanan politik
dunia dapat dengan leluasa memiliki perangkat senjata
nuklir sedangkan bila ada negara lain yang hendak
memiliki hal yang sama, mereka anggap sebagai sebuah
ancaman. Kepemilikan senjata nuklir oleh negara-negara
besar ini kemudian membuat posisi politik mereka di
percaturan internasional menjadi sangat kuat. Di dalam
struktur organisasi PBB kita juga bisa melihat praktek yang
serupa. Proses pemilihan dan penetapan direktur-direktur
strategis serta proses pengambilan kebijakan di dalam PBB
juga masih didominasi oleh kekuatan negara-negara besar
Eropa dan Amerika Serikat. Belum lagi kalau kita melihat
pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat yang
tersebar di seluruh penjuru dunia, membuat kekuatan
Sound Governance

SG
97

negara adi kuasa ini menjadi sangat dominan di kancah


internasional. Sehingga yang dimaksud upaya pelemahan
atas negara-negara kuat adalah dalam konteks menyeimbangkan dan mengegaliterkan hubungan antar
negara di kancah internasional. Egalitarianisme adalah
kata kuci dalam SG, tidak hanya dalam konteks reformasi
tata pemerintahan domestik tapi juga tata pemerintahan
global.

SG
98

Inovasi Sebagai Inti Sound Governance


Hal kedua yang sangat menonjol atas kebaruan dari
SG adalah pengutamaan adanya inovasi dalam kebijakan
dan adminstrasi publik. Dalam konsepsi pemerintahan
mutakhir, inovasi dan kreativitas adalah hal yang sangat
penting yang harus dimiliki oleh setiap pemerintahan.
Sebab, pemerintahan hari ini tidak lagi berhadapan
dengan masalah dan realitas yang itu-itu saja. Apel pagi,
rapat-rapat rutin, urusan surat-menyurat dan implementasi prosedur sudah bukan merupakan tugas inti dari
sebuah pemerintahan. Pada saatnya sistem mekanis akan
mengerjakan hal-hal membosankan itu. Pemerintahan
modern berhadapan dengan banyak situasi yang kompleks
dan kurang terduga sebagai akibat dari realitas yang
makin terkoneksi secara ekstrem. Globalisasi bahkan
membuat matrik kehidupan menjadi lebih rumit dari
sebelumnya (Farazmand, 2004).
Dont rock the boat adalah pepatah yang terlanjur
mendarah daging dalam tubuh birokrasi kita. Keadaan
yang sudah ada telah membuat semua orang senang dan
aman, maka janganlah sekali-kali mencoba untuk
menggoyangkan perahu yang sudah tenang mengapung
di tengah danau. Tapi ketenangan dan kenyamanan itu
membuat perahu diam di tempat, tidak bergerak kemanapun. Kepentingan para birokrat untuk memperoleh rasa
aman itulah merupakan tantangan terbesar dalam
menumbuhkan inovasi dalam tubuh pemerintahan. Sistem
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

dan kebiasaan-kebiasaan yang sudah mengakar dalam


proses birokrasi pemerintahan telah menciptakan resistensi
yang sangat kuat bagi datangnya inovasi. Konfigurasi
politik juga turut andil dalam proses pengerdilan inovasi.
Kita telah sama-sama menyaksikan bagaimana dominasi
tokoh-tokoh konservatif dalam kepemimpinan di tanah air.
Kader-kader muda yang diharapkan dapat membawa
inovasi tak bisa leluasa muncul ke dalam kancah politik
tanpa menggantungkan karirnya pada tokoh-tokoh tua.
Kebanyakan tokoh tua juga berperilaku mendikte pilihan
dan langkah-langkah politik kaum muda. Kita bisa melihat
betapa partai-partai politik besar hari ini sangat tergantung
pada figur tokoh tua dan konser vatif yang sangat
hegemonik.
Sistem mapan birokrasi dan konfigurasi politik di
Indonesia telah membuat banyak inisiatif inovasi mengalami proses penuaan dini dan layu sebelum berkembang.
Secara psikis, perilaku politik para inovator ketika
memasuki sistem menjadi tak dinamis dan cenderung
mengekor pada tuntunan para patron. Ini seakan sudah
menjadi pemandangan sehari-hari. Pemimpin-pemimpin
muda itu kemudian tercerabut dari akarnya. Keharusan
untuk mengikuti pakem ketika memasuki sebuah sistem
harus mulai dipersepsi sebagai mitos, atau setidaknya
tantangan. Solusi yang ditawarkan oleh kosep Sound
Governance adalah perubahan struktur pemerintahan
yang berbasis pada fungsi (kompartementalistik) menuju
berbasis pada klien. Dalam hal ini istilah TUPOKSI (Tugas
Pokok dan Fungsi) adalah hambatan terbesar dalam
reformasi tata pemerintahan. Menemukan solusi brilian atas
masalah pokok yang dihadapi masyarakat dan mencari
jalan yang lebih baik atas hal yang sedang berjalan, adalah
tugas pokok yang diemban semua birokrat.
Inovasi tidak mesti harus bersifat revolusioner dan
fragmentatif. Dalam level tertentu bisa saja inovasi adalah
revisi atas sistem yang sedang berjalan serta masih dalam
Sound Governance

SG
99

SG
100

koridor struktur perencanaan jangka panjang. Yang


terpenting dalam inovasi tata pemerintahan adalah selalu
adanya hal-hal baru (besar atau kecil) di dalam praktek
birokrasi keseharian. Inilah saat dimana SG mengharapkan
agar inovasi menjadi rutinitas baru di dalam birokrasi.
Inovasi yang dimaksudkan dalam SG berada pada
berbagai aspek. Di bidang teknologi dilakukan dalam hal
menemukan teknik dan berbagai metoda baru dalam
melancarkan berbagai proses perencanaan maupun
pengantaran pelayanan publik. Di bidang pembangunan/
pengelolaan sumber daya, inovasi diperlukan dalam hal
menemukan cara yang tidak hanya efektif dan efisien
melainkan juga membawa manfaat sebesar-besarnya bagi
masyarakat. Inovasi dalam sistem komunikasi adalah
terkait dengan makin terbukanya ruang publik sehingga
memudahkan sarana dan prasaran komunikasi yang
egaliter antara aktor-aktor dalam tata pemerintahan.
Inovasi juga har us marak dalam kegiatan-kegiatan
operasional seperti di dalam pengelolaan organisasi dan
manajemen, pelatihan, serta penelitian dan pengembangan. Tak hanya di bidang teknologi, di bidang ideologi inovasi
juga sangat diperlukan. Utamanya dalam membongkar
berbagai paradigma lama tentang birokrasi yang rutin dan
monoton yang masih kuat terbenam menuju pada
pemahaman birokrasi yang lebih dinamis.
Inovasi merupakan keniscayaan dari dunia global yang
ter us ber ubah secara cepat. Sebab dengan adanya
perubahan globalisasi ini banyak asumsi-asumsi yang
harus segera dikoreksi sewaktu-waktu. Tidak mungkin,
misalnya, dalam menyusun APBD kita hanya bergerak
pada asumsi yang monoton dan hanya merubah angka
sedikit dari anggaran-anggaran terdahulu. Sikap seperti
itu sungguh jauh dari cita-cita birokrasi SG yang dinamis.
Maka tanpa inovasi dan adaptasi, pemerintahan akan
cepat rusak ( soundless ). Akan tetapi, memang inovasi
harus didukung oleh kapasitas organisasi yang memadai
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

dan kemampuan organisasi itu untuk mengimplementasikannya. Oleh karenanya, dalam dimensi SG juga
dicantumkan tentang pentingnya aspek organisasi dan
institusi di dalam reformasi tata pemerintahan modern.
Inovasi dalam SG juga har us disertai dengan
kemampuan birokrasi yang tangguh dalam antisipasi dan
luwes dalam melakukan adaptasi. Hal ini dikarenakan
watak inovatif juga mencakup kemahiran dalam melakukan
prediksi. Dalam pengertian mahir dan ahli dalam memilih
berbagai variabel yang berpengaruh terhadap kondisi saat
ini dan masa depan. Kemampuan itu akan membawa pada
sikap antisipatif atas segala perubahan. Sehingga birokasi
tidak mudah shock dalam menghadapi kondisi-kondisi yang
penuh dengan kondisi serba mungkin yang ada di depan
mata. Di samping itu, bila memang ternyata yang terjadi
adalah sesuatu yang benar-benar di luar perhitungan,
birokrasi juga harus mampu dengan luwes beradaptasi
dengan lingkungan baru. Situasi politik dan ekonomi dapat
berubah setiap waktu. Maka birokrasi harus dapat segera
beradaptasi tanpa harus terfragmentasi. Istilah ganti
menteri ganti kebijakan bukanlah sikap luwes yang
dimaksudkan di sini. Fleksibilitas artinya adalah dalam
tataran teknis dan strategis, bukan fleksibel dalam tujuan
dan komitmen. Hal ini juga yang ditegaskan oleh
Golembiewski bahwa birokrasi harus digerakkan oleh
komitmen bukannya kepatuhan. Watak birokrasi yang
hanya mengekor pimpinan politik baru adalah watak
birokrasi yang pengecut dan hanya mengandalkan
kepatuhan tetapi tidak memiliki komitmen. Komitmen pada
tujuan dasar pemerintahan, yaitu melayani kepentingan
rakyat. Bukannya melayani kepentingan atasan.

Sound Governance

SG
101

BAB V

AKTOR DALAM SOUND


GOVERNANCE

SG
102

ab ini dimaksudkan tidak hanya untuk melakukan


inventarisasi atas aktor-aktor yang harus terlibat
dalam proses sound governance tetapi juga mengevaluasi peran aktor-aktor dalam pelaksanaan GG selama
ini. Termasuk di dalamnya tentang sebab-sebab mengapa
peran ideal masing-masing aktor yang ada dalam GG itu
tidak tercapai. Serta bagaimana SG dapat hadir dan
mencoba untuk mencegah agar kesalahan-kesalahan itu
tidak terulang kembali di kemudian hari. Tentu saja dari
empat aktor yang ada di dalam SG (yaitu negara,
masyarakat sipil, swasta dan pelaku intenrasional) tiga
diantaranya adalah juga aktor yang ada dalam GG. Kendati
begitu, SG tidak serta merta hanya memindahkan ketiga
aktor dalam GG ke dalam SG, melainkan juga merubah
cara pandang GG selama ini terhadap peran dan posisi
negara, masyarakat sipil, dan swasta dalam penyelenggaraan tata pemerintahan.

Negara: Pusat Konspirasi

Komponen pertama yang dikatakan sebagai sebuah


entitas oleh konsep good governance adalah State/Negara.
Tentu banyak teori-teori klasik yang akan sangat baik
dalam menjelaskan apa yang dimaksud dengan konsep
negara sesungguhnya, berikut berbagai model yang
berkembang di dalamnya. Namun, kita tentu sudah sama
tahu bahwa negara saat ini adalah capaian fundamental
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

politik dalam kehidupan sosial tertinggi secara formal di


dunia saat ini. Ya, sebab warga negara internasional masih
sangat eksklusif dan lembaga politik internasional belum
setangguh negara dalam melakukan regulasi sosial hingga
ke tataran yang paling teknis dan pribadi (Hoffman, 2000).
Di tengah berbagai variasi model negara yang dikenal
dalam teori negara, tentu yang paling populer hingga saat
ini adalah Trias Politika (Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif)
yang entah disikapi sebagai pembagian atau pemisahan
nampaknya itu tak lagi penting saat ini. Bahkan sekarang
negara-negara monarkhi juga telah banyak yang
mengadopsi konsep ini dan mereformasi diri mereka
menjadi negara monarkhi konstitusional, bahkan monarkhi
demokratik (memang agak sulit dimengerti). Yang pasti
saat berbicara tentang negara maka kita tentu tak bisa
lepas untuk mencandra tiga institusi sosial tersebut.
Saat ini tak sedikit kalangan yang mencoba untuk
memisahkan entitas negara dengan rakyat. Sehingga
lembaga trias politika adalah institusi yang tak memiliki
derajat representasi, maka tak jarang harus dibenturkan
dengan rakyat. Dalam hal ini kita seringkali mendengar
kalimat yang mengatakan: ... konflik antara negara
dengan rakyat.... Kalimat itu sangatlah akrab di telinga
kita, hingga pada suatu saat kita terkejut atas permakluman kita bahwa negara tidak lagi memiliki representativitas
(Putra, 1999). Dia hadir bukan lagi penjelmaan rakyat,
melainkan negara datang sebagai leviathan yang siap
mengamuk dan memporak-porandakan semua yang ada
di depannya.
Negara leviathan tak mengenal di masyarakat penganut
paradigma apa ia hidup. Apakah itu tradisi anglo saxon
ataupun continental, dua-duanya dapat menjadi habitat
yang cocok untuk berkembang sehatnya monster ini. Hanya
saja memang keduanya akan menghasilkan ras yang
berbeda, tetapi tetap saja species yang sama. Mungkin bila
pikiran Lord Acton diteruskan, bisa jadi implikasinya
Aktor dalam Sound Governance

SG
103

SG
104

adalah bahwa apabila semua sumber daya yang ada


diserahkan pengelolaannya pada negara, maka secara
terus menerus organisasi-organisasi trias politika menjadi
terus gemuk dan mengobjektifikasi rakyat. Korupsi yang
sesungguhnya adalah proses objektifikasi rakyat itu, yang
mana pada saat ini mereka akan menjadi sangat rukun
seolah mendapat common enemy. Akan tetapi ketika rakyat
telah berhasil mereka taklukkan, maka mereka akan
kembali bertikai. Begitulah sifat dasar dari leviathan.
Hubungan antara tiga lembaga trias politika ini tidak
pernah benar-benar ideal di lapangan. Pilihannya cuma
dua; pertikaian atau persekongkolan. Yang paling sering
muncul ke permukaan adalah hubungan antara eksekutif
dan legislatif. Karena memang dalam sistem hukum yang
berlaku di Indonesia dan berbagai negara demokrasi pada
umumnya di dunia, yang dimaksud dengan policy makers
itu adalah eksekutif dan legislatif. Eksekutif yang
seharusnya hanya menjadi pelaksana saja, entah kenapa
saat ini mereka naik pangkat menjadi perumus kebijakan.
Yang lebih lucu lagi tak sedikit regulasi yang mengatur
bahwa eksekutif punya wewenang yang lebih besar
ketimbang legislatif. Pada posisi normatif ini saja sudah
nampak bahwa hubungan keduanya sangatlah tidak
harmonis. Penuh dengan potensi konflik yang sewaktuwaktu dapat berubah menjadi bahan peledak berkekuatan
high explosive.
Dua lembaga ini sama-sama arogan. Keduanya merasa
bahwa konstitusi mengatur bahwa dirinyalah yang lebih
berkuasa ketimbang yang lain. Dan apabila ada beberapa
pasal dalam undang-undang yang melemahkan posisi
legislatif maka langsung kecurigaan muncul bahwa itu
adalah ulah dari eksekutif untuk mengkerdilkan mereka.
Demikian pula sebaliknya, eksekutif dalam menjalankan
pekerjaannya merasa selalu terancam dengan keberadaan
legislatif yang bisa saja sewaktu-waktu melakukan
impeachment dengan alasan yang paling tidak rasional
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

sekalipun. Distribusi kekuasaan antara eksekutif dan


legislatif telah menjadi sebuah garis kontinu yang saling
tarik satu sama lain. Siapa yang lebih kuat pada waktu
dan tempat tertentu maka ialah yang akan mendapat
kekuasaan lebih besar.
Hubungan antara lembaga eksekutif dengan lembaga
legislatif di berbagai negara, khususnya di Indonesia, sering
ber ujung dalam bentuk persekongkolan dan atau
permusuhan. Di sini eksekutif dan legislatif disebut-sebut
sebagai policy maker dan masyarakat tidak begitu
berperan atau bahkan memang sama sekali tidak
dilibatkan dalam proses pembuatan kebijakan publik.
Padahal Indonesia merupakan negara yang demokratis
dimana seharusnya masyarakat berperan kuat serta
mempunyai hak untuk menyampaikan aspirasinya melalui
lembaga legislatif dalam proses pembuatan kebijakan
publik. Tapi pada kenyataannya lembaga legislatif kurang
begitu mendengarkan aspirasi masyarakat. Lalu siapa yang
akan mendengarkan serta menyampaikan aspirasi
masyarakat jika lembaga ini tidak begitu melaksanakan
tugas serta fungsinya sebagai wakil rakyat? Pada bagian
ini akan dibahas permasalahan mengenai persekongkolan
dan permusuhan antara lembaga eksekutif dan lembaga
legislatif yang ada di Indonesia. Pertanyaan kritisnya
adalah: mengapa di negara Indonesia hanya lembaga
eksekutif dan lembaga legislatif yang berperan sebagai
policy maker s? Lalu bagaimana dengan peran masyarakat? Bagaimana hubungan antara governance theory
dengan kenyataan yang ada di negara Indonesia? Dan,
apakah benar bahwa terdapat hubungan yang tidak
harmonis antara lembaga eksekutif dan lembaga legislatif?
Secara normatif, di Indonesia terdapat lembaga tertinggi
dan lembaga tinggi negara. Lembaga tertinggi negara
adalah MPR sedangkan lembaga tinggi negara terdiri dari
DPR selaku lembaga legislatif, presiden sebagai lembaga
eksekutif dan MA yang mempunyai peran sebagai lembaga
Aktor dalam Sound Governance

SG
105

SG
106

yudikatif. Secara prosedural, sebenarnya pembuat


kebijakan di Indonesia dilakukan oleh lembaga-lembaga
tersebut, namun pada kenyataannya hanya kedua lembaga
saja yang berfungsi yaitu lembaga eksekutif dan lembaga
legislatif. Negara kita memang negara yang demokratis,
dimana masyarakat mempunyai hak untuk menyatakan
dan menyalurkan aspirasinya melalui lembaga legislatif.
Namun pada kenyataannya saat ini lembaga legislatif tidak
pernah mendengarkan atau bahkan mempedulikan suara
rakyat. Padahal sebenarnya keberadaan lembaga legislatif
ini adalah sebagai wakil rakyat. Jika lembaga legislatif
sudah tidak mampu menyalurkan aspirasi rakyat, maka
mengapa lembaga ini tidak dibubarkan? Jawaban yang
mutlak adalah bahwa lembaga legislatif tidak mungkin
dibubarkan karena lembaga ini masih dianggap penting
dan dibutuhkan dalam mekanisme pemerintahan yang
berkaitan dengan lembaga eksekutif. Yaitu bahwa setiap
keputusan-keputusan yang diambil oleh lembaga eksekutif
harus melalui dan mendapatkan persetujuan dari lembaga
legislatif. Sehingga pada akhirnya masyarakat hanya
berperan sebagai pelaksana kebijakan saja dan tidak ikut
dalam proses pembuatan kebijakan.
Dalam menjalankan tugasnya, badan eksekutif ditunjang
oleh tenaga kerja yang trampil dan ahli serta persediaan
bermacam-macam fasilitas dan alat-alat pada masingmasing kementerian. Sebaliknya, keahlian serta fasilitas
yang tersedia bagi badan legislatif jauh lebih terbatas. Oleh
karena itu badan legislatif berada pada posisi yang lemah
dibanding dengan badan eksekutif. Dalam negara
demokratis, legislatif tetap memegang peran yang penting
untuk menjaga agar jangan sampai badan eksekutif keluar
dari garis-garis yang ditentukan oleh badan legislatif.
Keberadaan lembaga legislatif tetap merupakan penghalang atas kecenderungan yang terdapat pada hampir
setiap badan eksekutif untuk memperluas ruang lingkup
wewenangnya.
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Dalam sistem parlementer, badan eksekutifnya dipimpin


oleh seorang perdana menteri yang dibantu pula oleh
menteri dalam menjalankan tugasnya sehari-hari.
Kemudian badan legislatif saling bergantung satu sama
lain. Kabinet, bagian dari badan eksekutif yang
bertanggung jawab diharapkan mampu mencerminkan
kekuatan-kekuatan politik dalam badan legislatif yang
mendukungnya. Jatuh bangunnya kabinet tergantung
kepada dukungan dalam badan legislatif. Sedangkan
dalam sistem presidensial, badan eksekutifnya dipimpin
oleh seorang presiden yang dibantu oleh para menteri yang
bertanggung jawab kepada presiden. Kelangsungan hidup
badan eksekutif tidak tergantung pada badan legislatif.
Badan eksekutif mempunyai masa jabatan yang ditentukan.
Kebebasan badan eksekutif terhadap badan legislatif
mengakibatkan badan eksekutif lebih kuat dalam menghadapi badan legislatif. Lagipula menteri-menteri dalam
kabinet presidensial dapat dipilih menurut kebijaksanaan
presiden sendiri tanpa menghiraukan tuntutan-tuntutan
partai politik. Perkembangan teknologi dan proses
modernisasi yang sudah berjalan jauh dan semakin
terbukanya hubungan politik dan ekonomi antar negara
telah mendorong badan eksekutif untuk memiliki ruang
gerak yang lebih leluasa. Ini berarti tugas-tugas badan
eksekutif tidak lagi terbatas hanya melaksanakan
kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan oleh badan
legislatif. Akan tetapi badan eksekutif dewasa ini dianggap
bertanggung jawab untuk meningkatkan taraf kehidupan
rakyatnya.
Pemerintahan yang baik adalah suatu bentuk
pemerintahan dimana pemerintah mampu mengelola input
berupa masukan, dukungan, serta tuntutan dari rakyat
yang mencakup sebuah keinginan nyata yang terjabarkan
tapi tidak terpenuhi dan bahkan tidak dikenali. Tuntutan
tersebut dilakukan untuk merumuskan masalah sehingga
menghasilkan otoritatif yang sah, yaitu lahirnya kebijakan
Aktor dalam Sound Governance

SG
107

SG
108

dan input yang dikelola yang kemudian dilanjutkan dalam


proses konversi. Setelah melalui proses tersebut, input itu
dikeluarkan dalam bentuk output berupa keputusankeputusan dan tindakan-tindakan yang otoritatif dan
mengikat pada para anggota sistem, termasuk masyarakat
karena output tersebut mampu mempengaruhi peristiwaperistiwa dalam masyarakat. Misalnya output berupa
Peraturan Pemerintah (PP), Keputusan Presiden (Keppres),
Instruksi Presiden (Inspres), Keputusan Menteri (Kep
Men) dan lain sebagainya.
Eksekutif dan legislatif adalah dua lembaga yang dalam
konsep trias politika ditakdirkan bekerja sama. Kebijakan
eksekutif haruslah mendapat restu dari para legislator yang
mewakili jutaan rakyat sebagai pendukungnya. Demikian
juga sebaliknya, rancangan hukum yang merupakan
inisiatif dewan tetap harus melibatkan eksekutif sebagai
pihak pelaksana. Inilah kemitraan kesejajaran dalam
birokrasi. Sayangnya, konsep kemitraan ini berkembang
menjadi perselingkuhan kepentingan akibat longgarnya
rambu-rambu hukum. Celah yang relatif kecil tetap bisa
dikelola dua lembaga ini untuk kepentingan mengatasnamakan rakyat. Bahkan, dalam pengelolaan keuangan
sering kali terjadi barter kepentingan agar sama-sama
untung. Mengapa ini mesti terjadi dan bagaimana penyiapan perangkat hukum sebagai solusinya?
Perselingkuhan kepentingan yang sering dikonotasikan
dengan penganggaran keuangan negara untuk kepentingan
pribadi, bisa menjadi legal karena lemahnya hukum. Ini
terjadi ketika legislatif diberikan hak pengelolaan
keuangan secara otonomi. Akibatnya, ancaman pidana pun
membayangi perilaku semacam ini. Kasus ini tercermin
dalam bidikan kejaksaan atas kasus dugaan korupsi dana
APBD sampai milyaran rupiah.
Dalam konteks ini, undang-undang pengelolaan
keuangan kedua negara dirancang otonom. Para wakil
rakyat akan memiliki hak yang lebih jelas dalam pengelolaSOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

an keuangan. Dewan selama ini terkesan disusui eksekutif


karena nafkahnya ada di tangan eksekutif. Tak jarang
kondisi ini memunculkan nilai tawar, mengingat para wakil
rakyat juga punya hak mengkritisi pemerintah. Pengelolaan keuangan negara yang otonom akan menjadi
salah satu solusi menekan terjadinya kolusi kepentingan.
Ia tak sependapat jika kolusi legislatif-eksekutif menggurita akibat tak adanya lembaga independen yang mengawasi hubungan kerja mereka.
Dalam negara demokratis, legislatif tetap memegang
peran yang penting untuk menjaga agar jangan sampai
badan eksekutif keluar dari garis-garis yang ditentukan
oleh badan legislatif, dan tetap merupakan penghalang
atas kecenderungan yang terdapat pada hampir setiap
badan eksekutif untuk memperluas r uang lingkup
wewenangnya. Kebebasan badan eksekutif terhadap badan
legislatif mengakibatkan bahwa badan eksekutif lebih kuat
dalam menghadapi badan legislatif.
Implikasi negatif yang dikhawatirkan akan muncul
adalah adanya otonomi keuangan yang seringkali akhirnya
berbuah sangkaan korupsi. Aturan hukum dengan pasalpasal karet sangat rawan dalam pengelolaan keuangan.
Aturan hukum otonomi pengelolaan keuangan harus
dirancang simpel agar tak bisa ditafsirkan ganda. Yang
selama ini terjadi adalah kebijakan yang aroma politiknya
amat kental. Pemindahan pengalokasian keuangan dewan
kepada pos eksekutif dinilai sebagai upaya memutus
hubungan wakil rakyat dengan massa yang diwakilinya.
Aturan hukum yang dirancang untuk penyelamatan
kekuasaan dan kepentingan partai penguasa har us
dihindari. Jika ini terjadi, kebijakan yang mengatasnamakan hukum administrasi pengelolaan negara, tetap
saja tak sehat bagi kehidupan berbangsa. Kelompokkelompok pro-kekuasaan menilai tudingan kongkalikong
eksekutif-legislatif mer upakan bentuk-bentuk salah
kaprah. Kesan ini bisa muncul karena kalangan kritis
Aktor dalam Sound Governance

SG
109

SG
110

melihatnya dari satu sisi. Bagi mereka, pengelolaan


pemerintahan mutlak didasari hubungan selaras antara
eksekutif-legislaif dan yudikatif. Selama ini, hanya legislatif
dan eksekutif saja yang disoroti miring.
Lembaga-lembaga yudikatif kondisinya tak lebih baik.
Isu akan keberadaan mafia peradilan bagai gelombang
angin el nino yang tak kasat mata tapi dapat menghancurkan ribuan hektar lahan para petani. Keadilan dan
hukum menjadi komoditas yang diperjualbelikan oleh para
mafia ini. Bak sebuah pasar sapi, keberadaan mafia
menelusup kesana kemari dengan sangat gesit, tangkas
dan rapi, jauh lebih canggih ketimbang para penjual,
pembeli apalagi sapinya itu sendiri.
Masalah korupsi saat ini menjadi sebuah barang empuk
untuk melakukan pemerasan di sana-sini. Pasal-pasal karet
dan peraturan yang tak jelas dan tumpang tindih seolah
sesuatu yang sengaja diciptakan untuk menjerat berbagai
pejabat dengan tuduhan korupsi. Lembaga kejaksaan
sekarang menjadi berubah total dari kucing anggora yang
manis menjadi singa hutan yang begitu garang lengkap
dengan taring dan cakarnya yang siap mengoyak eksistensi
para pejabat publik, pejabat politik dan pebisnis. Yang jadi
masalah adalah apakah singa ini benar-benar bersih dalam
menegakkan supremasi hukum yang alamiah, ataukah
dikepalanya telah ditancapi oleh chip yang bisa
mengendalikan kapan dia harus garang dan kapan dia
har us jinak. Tergantung Sang Pawang yang mengendalikannya dengan sistem navigasi jarak jauh?
Tak sedikit fakta di lapangan yang secara jelas
menunjukkan bahwa pemberantasan kor upsi adalah
strategi tebang pilih. Institusi-institusi hukum seperti
mendapat proyek besar yang disebut TIPIKOR (Tindak
Pidana Korupsi). Maka pialang-pialang hukum pun
bertebaran dimana-mana ada yang menyaru sebagai
aktifis NGO ada yang secara sungguh-sungguh dan
profesional memang berprofesi sebagai pialang hukum.
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Mereka biasa mendatangi para pejabat yang kebetulan


kurang rapi dalam melakukan korupsi dan akhirnya
diperas. Institusi hukum tak jarang juga turut andil dalam
konspirasi ini. Hanya saja, karena sebagai pakar-pakar
hukum, rumor ini sulit sekali terbukti karena tersimpan
dengan sangat rapi. Supremasi hukum sulit untuk diberi
ekspektasi tinggi dikarenakan lembaga yudikatifnya yang
juga masih belum cukup terpercaya.
Sebagai pihak yang bersentuhan langsung dengan
pengalokasian keuangan rakyat, legislatif-eksekutif sangat
rentan disalahkan. Ketika yudikatif melihat atau menafsirkan bahasa hukum berbeda dengan pandangan legislatifeksekutif, maka tudingan korupsi akan muncul. Padahal,
kebijakan itu dalam konteks otonomi keuangan legislatifeksekutif didasari undang-undang. Banyak kalangan
berharap agar payung hukum yang menjadi dasar legislatif
melaksanakan hak dan kewajibannya bahasanya simpel
dan memiliki rentang angka yang jelas. Dalam kasus
terakhir, ia mengatakan tak adanya rentang angka-angka
pengalokasian hak Dewan, membuat pembahasan APBD
molor. Kewenangan eksekutif dalam menyortir hasil kerja
legislatif haruslah dipertegas baik dari batas waktu dan
item yang layak dikaji.
Sayangnya, konsep kemitraan ini berkembang menjadi
perselingkuhan kepentingan yang mengatasnamakan
rakyat. Bahkan, dalam pengelolaan keuangan sering kali
terjadi barter kepentingan agar sama-sama untung.
Perselingkuhan kepentingan yang sering dikonotasikan
dengan penganggaran keuangan negara untuk kepentingan
pribadi, bisa menjadi legal karena lemahnya hukum. Kewenangan eksekutif dalam menyortir hasil kerja legislatif
haruslah dipertegas baik dari batas waktu dan item yang
layak dikaji. Ini penting agar kesan bahwa legislatifeksekutif berselingkuh untuk kepentingan pribadi bisa
ditekan. Inilah konstelasi masalah yang seharusnya dihadapi oleh para aparatus yudikatif di Indonesia, bukannya
malah memperburuk keadaan.
Aktor dalam Sound Governance

SG
111

SG
112

Trias politika di Indonesia yang telah menginjak usia


puluhan tahun masih menunjukkan fakta bahwa insitusi
negara, di level internalnya masih banyak sekali masalah.
Dan fenomena tersebut kiranya tidak hanya terjadi di negara yang usia trias politikanya puluhan tahun seperti
Indonesia saja. Di negara yang usia trias politika telah
menginjak usia satu abad pun masih menghadapi masalah
yang sama. Ini yang menjadi dasar argumentasi bahwa
kita tak bisa hanya menyalahkan pada tataran implementasi saja. Kecurigaan harus sudah mulai ditempatkan pada
wilayah konseptual. Konsep negara masih harus terus dicari
titik puncak idealitasnya.
Di tengah masih kaburnya masalah yang ada ini, GG
secara terburu-buru langsung saja menempatkannya dalam
sebuah komponen yang harus bersinergi. Padahal pertarungan di dalam berbagai elemen dalam negara masih
terus terjadi. Institusi politik terus saja mengecam dan
mengintimidasi eksekutif untuk melakukan banyak hal atas
nama rakyat. Eksekutif menjadi arogan karena menguasai
berbagai sumber daya dan infrastruktur. Yudikatif menjadi
tak pernah lepas dari berbagai konspirasi dan mafia
peradilan. Sungguh, ia masih belum siap untuk secara
terbuka dan progresif memberi kontribusi bagi yang lain.
SG berupaya untuk mencari titik kesalahan fundamental atas konsep negara sembari melakukan capacity
building yang berbasis nilai terhadap institusi negara. Hal
ini menjadi sesuatu yang lebih mendesak untuk dilakukan
saat ini. Ketika good governance telah memisahkan entitas
negara dengan rakyat (civil society), maka hal ini justru
akan mempersulit upaya untuk mempelajari konsep negara
itu sendiri. Sesungguhnya Cicero, de Toqueville dan banyak
pakar lain ketika menempatkan konsep civil society
bukanlah bermaksud untuk memisahkannya dari entitas
negara (Kaldor, 2003). Konsep civil society hadir sebagai
tanda dari sekelompok manusia yang bebas dari tugas
formalisme negara, kendati secara hukum mereka masih
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

menjadi bagian dari keabsahan keberadaan negara itu


sendiri.

Civil Society: Lahan Bisnis Baru

Kesalahan konseptual yang paling akut dari konsep GG


ketika ia menanggapi konsep civil society sebagai entitas
yang terpisah dari negara. Padahal dari epistimologi
kemunculan konsep ini sungguh bukan merupakan upaya
untuk menarik masyarakat keluar dari negaranya dan
berdiri diametral dengan negara. Civil society secara
institusional bisa diartikan sebagai pengelompokan dari
anggota-anggota masyarakat sebagai warga negara yang
mandiri serta dapat dengan bebas dan egaliter bertindak
aktif dalam wacana dan praksis mengenai hal yang
berkaitan dengan masalah kemasyarakatan pada
umumnya. Termasuk di dalamnya adalah jaringan-jaringan
dan pengelompokan-pengelompokan sosial yang mencakup
mulai dari rumah tangga, organisasi-organisasi sukarela,
sampai dengan organisasi-organisasi yang mungkin pada
awalnya dibentuk oleh negara tetapi melayani kepentingan
masyarakat. Mereka hadir sebagai perantara bagi negara
di satu pihak dan individu atau masyarakat di lain pihak.
Namun demikian, civil society harus dibedakan dengan
suku, klan atau jaringan-jaringan klientelisme, karena
variabel utama di dalamnya adalah sifat otonomi, publik
dan civic (Alagappa, 2004). Hal ini menyiratkan keharusan
adanya kebebasan dan keterbukaan untuk berserikat,
berkumpul dan mengeluarkan pendapat serta kesempatan
yang sama dalam mempertahankan kepentingankepentingan di muka umum.
Sehingga skema hubungan antara negara dengan
masyarakat sipil seharusnya masih dalam sebuah bingkai
yang utuh. Penguasa yang sedang menempati struktur
negara adalah persoalan tersendiri, dan negara sebagai
sebuah jaringan komunal yang legal adalah masalah lain.
Atas nama negara, bisa saja para penguasa yang ada
Aktor dalam Sound Governance

SG
113

SG
114

melakukan aksi penghisapan dengan mengeluarkan


berbagai regulasi yang itu sangat meminggirkan
masyarakat sipil. Tapi bila substansi negara itu sudah
menjadi sebuah organisme yang hidup maka regulasi dan
kebijakan semacam itu pasti akan tertolak dengan
sendirinya. Ini bisa diibaratkan dengan tubuh manusia.
Ketika ada zat-zat asing yang tak sesuai dengan
metabolisme tubuh, maka pasti self defend mecanism tubuh
akan menolaknya. Dan apabila antibodi yang ada dalam
tubuh tak mampu mengeluarkan toksin tersebut maka
tubuh manusia itu akan mengalami sakit.
Deskripsi di atas adalah gambaran yang terjadi akan
nasib negara di berbagai belahan dunia saat ini. Banyak
penguasa-penguasa negara yang meracuni tubuh
negaranya sendiri dengan kebijakan yang menghisap
rakyat dan meniadakan demokrasi. Indonesia merupakan
satu contoh terbaik untuk membuktikan teori tersebut.
Menghadapi kondisi ini, maka ide tentang tumbuhnya
negara sebagai monster leviathan harus dihadapi dengan
cara mengembalikan kesejatian negara itu. Tapi GG justru
membiarkan mutasi negara itu tetap terjadi. Kemudian ia
mengeluarkan beberapa anggota tubuh dari makhluk yang
bernama negara itu untuk menjadi lawan tandingnya. Ini
bisa jadi merupakan sebuah proses evolusi dari organisme
negara. Negara telah berubah bentuk karena adanya
perlakuan alam yang berubah. Hanya saja yang menjadi
masalah adalah proses evolusi ini bukan sebuah perubahan
gradual yang progresif. Karenanya, alam harus direcovery. Alam harus dikembalikan keasliannya. Dengan
demikian, negara harus kembali pada keasliannya. Yakni
negara sebagai ikatan kolektif atas berbagai elemen yang
ada di dalamnya untuk kemudian bersepakat merumuskan
dan mencapai cita-cita kemajuan bersama.
Klaim bahwa civil society yang dikeluarkan dari ikatan
negara dan menjadikannya sebagai lawan tanding
membuat seolah tidak ada masalah sedikitpun darinya.
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Pepatah klasik vox populi vox dei telah mengalami


hiperbola yang luar biasa. NGOs, GROs dan rakyat pada
umumnya seolah pasti benar dan tak ada masalah bawaan
di dalam diri mereka yang bisa jadi pelibatannya justru
membuat masalah menjadi semakin akut. Konspirasi elit
NGO dan tokoh masyarakat tertentu dengan berbagai
penguasa dan pengusaha hitam malah akan membuat
runyam keadaan. Kelompok masyarakat sipil yang kritis
terhadap kebijakan penguasa namun tidak didasari oleh
keberpihakannya pada rakyat adalah sebuah kenyataan
yang tak dapat dipungkiri. Ada banyak kepentingan yang
membalut kelompok-kelompok semacam ini yang terkadang
tak murni. Apakah itu akibat desakan donatur asing atau
justru digerakkan oleh kelas-kelas elit yang kecewa akibat
distrubusi kekuasaan yang tak sesuai dengan ekspektasinya (Farazamnd, 2004).
Bahkan yang terjadi di lapangan kita melihat bahwa
ternyata tidak sedikit elemen rakyat yang juga aktif dalam
melakukan tindakan korupsi. Dulu pada masa orde baru
kita sering mendengar cemooh yang ditujukan pada para
pejabat pemerintah, bahwa mereka adalah tukang korupsi.
Lalu muncul ide-ide agar rakyat diberi kepercayaan untuk
mengelola pembangunan, maka dipastikan korupsi tidak
akan terjadi. Tapi benarkah demikian? Kasus KUT (kredit
usaha tani) misalnya. Proyek ini menjadi sangat terkenal
di Indonesia. Tapi bukan karena suksesnya program ini
dalam penyejahteraan petani, melainkan karena banyak
sekali kebocoran di sana. Banyak sekali kasus yang sudah
masuk ke pengadilan atas penyelewengan dana KUT ini.
Tak sedikit dari mereka yang saat ini juga sudah masuk
hotel prodeo. Dan pelakunya bukan pejabat negara
melainkan masyarakat sendiri. Atau berbagai program
bantuan dana langsung ke masyarakat (BLM) dari
berbagai proyek pemerintah yang juga banyak ditilap oleh
masyarakat sendiri.

Aktor dalam Sound Governance

SG
115

SG
116

Elemen civil society lainnya yang sering didengungdengungkan sebagai benteng terakhir moralitas publik
adalah LSM atau Ornop. Lembaga swadaya masyarakat
atau disebut pula Organisasi Non-Pemerintah (Ornop) ini
didefinisikan sebagai lembaga-lembaga yang berada di
luar sektor pemerintah maupun bisnis swasta, yang
bergerak dalam berbagai kegiatan pembangunan atau
pembelaan kepentingan umum, dan menekankan
pencarian pola-pola alternatif serta pemberdayaan
masyarakat. Adapun jenis kegiatan LSM hadir beragam
mulai dari advokasi publik, pekerja sosial, pemberdayaan
dan penyadaran, bantuan kemanusiaan, lingkungan hidup,
hak konsumen hingga soal penggusuran rumah. Selama
ini memang LSM diidentikkan dengan pihak yang berseberangan dengan pemerintah.
Dalam paradigma GG, NGOs dikonseptualisasi sebagai
salah satu pilar utama elemen masyarakat sipil ( civil
society). Isu yang paling keras dalam membincang NGO
adalah dari mana asal muasal sumber dana organisasi
tersebut. Ini menjadi pembahasan penting sebab masalah
yang melingkupi perihal pendanaan NGO ini sangat dekat
dengan pepatah kaum marxist modes of production. Suara
dan isu yang diangkat oleh NGO 99% sangat ditentukan
siapa yang mem-back up dapur finansialnya.
Konsep paling ideal pendanaan NGO adalah ketika
organisasi tersebut memiliki sumber pendanaannya sendiri.
Hal ini sering dikenal dengan istilah fund rising. Tapi kalau
dilihat secara cermat sesungguhnya sangat sedikit NGO di
dunia ini yang mampu memiliki sumber pendanaan internal
yang tangguh. Umumnya NGO masih menggantungkan
energi pendanaannya dari sumber luar. Bahkan di negaranegara maju sekalipun sebagian besar NGO didanai oleh
sumber dari luar. Mekanismenya adalah dana-dana sosial
dari perusahaan-perusahaan besar ( Corporate Social
Responsibility ) diserahkan pada negara, lalu negara
mendistribusikan dana tersebut ke berbagai lembaga sosial

SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

untuk dirupakan dalam berbagai program NGO. Atau ada


juga per usahaan yang langsung menyerahkan dana
tersebut pada berbagai NGO yang ada, baik skala nasional
maupun internasional. Dana-dana inilah yang kemudian
tersebar ke berbagai lembaga donor (funding agencies) di
seluruh dunia. Dan akhirnya sebagian dana tersebut
sampai ke berbagai NGO di Indonesia.
Ada juga sumber pendanaan NGO yang langsung dari
dana negara yang dialokasikan untuk mendukung kegiatan
NGO. Ini biasanya dapat terlihat jelas dalam perencanaan
keuangan negara baik tingkat nasional maupun daerah
(di Indonesia bisa melalui APBN atau APBD). Kalau seperti
ini maka sumber dana menjadi tidak jelas, artinya tidak
hanya dari berbagai korporasi melainkan bisa juga dari
pajak ataupun sumber keuangan negara lainnya.
Informasi mengenai sumber dana memberikan beberapa
masukan yang menarik. Kebanyakan organisasi tergantung pada gabungan dari sumber dana yang berbedabeda; pada umumnya sumber-sumber dana tersebut
merupakan kombinasi antara swadana (iuran keanggotaan, sumbangan swasta), pendapatan yang berasal dari
aktivitas-aktivitas yang dilakukan (biaya konsultasi,
pendapatan dari koperasi), dan lembaga-lembaga pemberi
dana baik dalam negeri maupun internasional. Perluasan
sumber dana swadaya adalah bukti kreativitas dan
komitmen organisasi-organisasi tersebut dan juga
merupakan tanda penghargaan dari komunitas lokal atas
dukungan yang diberikan oleh mereka. Kenyataan bahwa
kurang dari seperempat organisasi yang terdaftar
menerima dana internasional barangkali dapat mengurangi
kesan bahwa peace building dikendalikan oleh donatur.
Dalam konteks ini maka pertanyaan besarnya adalah
bagaimana dengan konsep independensi NGO dalam
menyuarakan kepentingan rakyat? Apakah keberpihakan
fundamental mereka kepada kaum tertindas mendapat
legitimasi yang cukup kuat ketika penghidupannya justru
tergantung pada kekuatan-keuatan mainstresam ?
Aktor dalam Sound Governance

SG
117

SG
118

Independensi sebuah gerakan sosial hanya dibatasi


dengan istilah non-partisan belaka. Konsep non-partisan
itu sendiri juga dipersempit lagi dengan tidak ada
keterikatan formal antara NGO dengan partai politik. Ide
religius tentang value free tentu tak akan cocok bila dipakai
untuk memotret fenomena gerakan sosial termasuk juga
aktifitas ornop. Independensi ornop tidak ditentukan ada
tidak kepentingan di balik tindak tanduknya, melainkan
dari pertanyaan apakah ada kepentingan partai politik di
situ. Padahal bisa jadi kekuatan-kekuatan di luar partai
akan lebih politis ketimbang kepentingan partai politik itu
sendiri.
Sejarah perkembangan ornop di Indonesia pun tak lepas
dari ambigu. Pada saat Orde Baru tumbang dan beralih
menjadi Orde Reformasi maka keberadaan LSM bagaikan
cendawan di musim hujan. Memang tidak sedikit LSM yang
lantang menyuarakan dan mengatasnamakan kepentingan
rakyat. Apalagi bila ada kebijakan pemerintah yang
dilahirkan ternyata dinilai merugikan kepentingan rakyat,
mereka pun ramai berteriak. Tetapi apakah keberadaan
mereka memang semata-mata untuk menyuarakan
kepentingan dan memperjuangkan nasib rakyat? Nyatanya
memang tidak semua LSM yang berdiri tersebut benarbenar murni karena kepentingan rakyat. Berdirinya mereka
sebagian disebabkan pula oleh persyaratan-persyaratan
yang diterapkan oleh lembaga keuangan internasional.
Ambil contoh Bank Dunia, yang mensyaratkan perlunya
pemerintah bekerja sama dengan LSM dalam proyek yang
akan mereka kucurkan. Maka tak heran bila akhirnya
muncul LSM jadi-jadian dan juga LSM yang dinamakan
plat merah. Dengan kata lain, munculnya LSM disebabkan
dua hal. Pertama , karena kebutuhan riil masyarakat.
Kedua, karena adanya kucuran dana dari lembaga donor
(funding). Bila pada akhirnya pihak donor mengucurkan
dananya kepada para LSM tersebut, baik secara langsung
ataupun tidak, apakah memang tidak terdapat agenda
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

tersembunyi dari pihak donor tersebut ataupun dari negara


yang diwakilinya? Yang jelas, pihak lembaga donor yang
mengucurkan bantuannya tidak akan sembarangan dalam
menyetujui proposal program yang ditawarkan oleh pihak
LSM. Mereka akan memilah dan memilih program yang
memang dirasakan pas bagi mereka. Hingga pada
akhirnya akan muncul sebuah indikasi ketergantungan dari
LSM tersebut terhadap pihak pemberi dana.
Dari kondisi tersebut yang lebih menggelikan lagi di
Indonesia mengenal 3 kategori LSM, yaitu plat merah, plat
kuning dan plat hitam. LSM plat merah adalah LSM
bentukan dari pemerintah dimana seringkali hanya
dijadikan alat penutup kedok agenda GG yang melibatkan 3 pilar utama dalam menjalankan pemerintahan yaitu
civil, privat dan society . Dalam pandangan pemerintah
sendiri, dibentuknya LSM Plat Merah yang notabene berisi
istri-istri pejabat ini adalah agar jika mereka memiliki
proyek yang harus melibatkan LSM maka LSM-LSM plat
merah inilah yang kemudian dirangkul agar seakan-akan
pemerintah telah menjalankan GG dengan baik. Padahal
alangkah piciknya jika semua tahu bahwa LSM tersebut
tidak lebih memang telah dipersiapkan dan dikondisikan
seperti itu. Jadi mereka menyetujui apa yang menjadi kata
pemerintah bukan karena mereka tahu bawa programprogram tersebut menguntunkan masyarakat tetapi lebih
kepada wujud kesetiaan kepada sang tuannya. LSM plat
merah ini juga disinyalir membela kepentingan pejabatpejabat pemerintah yang biasanya dilakukan untuk
mengejar posisi tertentu, seperti bupati, gubernur atau lebih
ke atas lagi. LSM seperti ini menyalahgunakan perannya
dan mereka menjadi backing pemerintah. Artinya, jadi
setiap kegiatan yang dijalankan adalah untuk kepentingan
pemerintah. Adapun sumber dana dari LSM plat merah
ini sudah pasti dan sudah tentu dari pemerintah terlepas
apakah itu dana memang sudah dianggarkan untuk itu
ataukan dana-dana lain yang ada di pemerintahan yang
mungkin semestinya tidak dialokasikan untuk itu.
Aktor dalam Sound Governance

SG
119

SG
120

LSM plat kuning bukan hasil bentukan dari pemerintah


tetapi LSM ini terbentuk semata-mata untuk mencari keuntungan. Sehingga orientasinya lebih kepada keuntungan
dan laba dari organisasi tersebut dan bukannya malah
menjadi media pengontrol bagi kinerja pemerintah. LSM
plat kuning ini bisa ditumpangi siapa saja dengan maksud
apapun asalkan cocok harga. Karena terbentuknya LSM
ini lebih berorientasi pada uang, maka setiap proyek yang
masuk akan mereka terima walaupun bukan pada bidang
tugasnya. Adapun sumber dana LSM plat kuning ini
seringkali berasal dari donor terlepas apakah itu donor
asing maupun dari dana swadaya masyarakat dan juga
anggotanya sendiri. Dan karena orientasinya pada keuntungan maka mereka pasti berusaha mencari input yang
setinggi-tingginya bahkan mengkhianati rakyat akan
dilakukan asalkan mendapatkan uang.
Sedangkan LSM plat hitam adalah yang disebut-sebut
sebagai satu-satunya LSM yang murni menjalankan fungsi
sebagaimana mestinya yaitu sebagai media pengontrol
kinerja pemerintah dan juga mengkritisi kebijakankebijakan pemerintah yang dirasa tidak akuntabel dan
tidak membawa manfaat bagi masyarakat umum. LSM ini
merupakan LSM yang independen. LSM ini juga merupakan satu-satunya LSM yang konsisten pada satu
bidang tugasnya. Karena LSM ini disinyalir sebagai satusatunya LSM yang benar-benar murni terbentuk untuk
mengkritisi kinerja pemerintah maka mereka pasti berusaha mendapatkan dana untuk menjalankan organisasinya. Adapun sumber dana ini tidak mungkin jika berasal
dari pemerintah karena seperti kita tahu pemerintah telah
memiliki tugas untuk menghidupi LSM bentukan mereka.
Oleh karena itu dana ini sebagian besar didapat dari donor
asing. Hal inilah yang kemudian menjadi masalah karena
ketergantungannya pada donor asing sehingga tidak jarang
mereka dianggap menjadi corong asing dan sedikit
melenceng dari komitmen awalnya. Jumlah LSM plat hitam
ini di Indonesia sangatlah sedikit.
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Jika kenyataanya seperti ini masihkan agenda GG yang


dikehendaki akan mampu dilaksanakan dengan benar
karena pada akhirnya keterlibatan ketiga sektor tersebut
juga merupakan akal-akalan dari pemerintah. Dimana
letak transparansinya jika NGOs yang profit oreinted
tersebut dengan sukarela dan sudah pasti selalu
mengiyakan dan menjalankan apa kata tuannya serta
menyetujui semua kebijakan yang mungkin justr u
membawa kemunduran bagi bangsa ini. Alangkah lebih
bijaksana jika kita mencoba melihat NGO yang ada di luar
negeri dimana mereka benar-benar mampu menjadi alat
pengontrol pemerintah karena mereka murni terbentuk
untuk itu tanpa tendensi apapun daripada harus
kebingungan mencari dana dari luar atau harus
menjalankan apa kata tuannya.
Di sinilah pentingnya capacity building yang diprogramkan secara eksplisit dalam SG. SG beranggapan bahwa
idealnya NGO adalah yang dapat mendanai semua
kegiatannya dan aktifitasnya secara mandiri. Tidak
tergantung dari pihak luar, baik pemerintah maupun donor
asing. Tetapi SG juga tidak anti terhadap berbagai program
sokongan dana yang diberikan pada LSM asalkan niatnya
adalah dalam kerangka peningkatan kapasitas. Akan lebih
bagus bila semua bentuk bantuan dana kepada NGO atau
GRO berupa program yang langsung mengarah pada
capacity building. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan
pula bila suntikan-suntkan dana itu bersifat program
sektoral, tetapi target utamanya tetap peningkatan
kapasitas. Sehingga SG berharap semua bantuan dana
pada masyarakat sipil itu sifatnya adalah penyiapan
kemandirian mereka dalam jangka panjang.

Aktor dalam Sound Governance

SG
121

Sektor Swasta: Dieksplotasi dan/atau


Mengeksploitasi

SG
122

GG mengasumsikan bahwa antara pemerintah,


masyarakat dan pelaku bisnis hanyalah tiga entitas yang
berbeda sektor saja. Kenyataan yang ada di lapangan
menunjukkan bahwa secara psikologis sektor bisnis agak
jauh berbeda dengan masyarakat sipil dan pemerintah.
Kita bisa saksikan perbedaan ekstrem ini pada berbagai
rapat atau pertemuan yang diselenggarakan untuk mempertemukan mereka. Sangat mudah untuk menghadirkan
unsur masyarakat dan pemerintah, tetapi tidak untuk
unsur dunia usaha.
Kenyataan di lapangan, dunia usaha adalah unsur yang
paling sulit diajak bekerja sama dan bermusyawarah untuk
membahas berbagai persoalan publik. Di berbagai tempat
di selur uh Indonesia, partispasi dunia usaha dalam
pertemuan-pertemuan sosial semacam ini adalah yang
paling rendah dan memprihatinkan. Mereka, unsur dunia
usaha, hanya akan datang pada acara-acara yang terkait
dengan bisnis dan sejauh itu menguntungkan saja, misalnya
pada acara-acara tender. Kalangan bisnis sangat jauh dari
atmosfer perbicangan masyarakat dan pemerintah
khususnya dalam membicarakan pembangunan baik di
tingkat daerah maupun pusat. Kalau toh ada satu dua
perwakilan dari dunia usaha yang datang, umumnya
adalah dari sektor yang sangat kecil. Adapun pelaku-pelaku
bisnis yang besar umumnya mereka lebih senang bermain
lobby dengan pejabat-pejabat tinggi untuk mendapatkan
tender ketimbang duduk bersama rakyat, bermusyawarah
untuk membicarakan arah pembangunan dan perbaikan
kondisi sosial ekonomi secara makro.
Parahnya partisipasi private sector dalam proses
pembangunan partisipatif ini sekaligus membuktikan
bahwa klaim keberhasilan GG selama ini hanya di atas
kertas semata. Bukti bahwa pihak pemerintah, swasta dan

SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

masyarakat sipil telah bahu-membahu berkerja menyejahterakan rakyat hanyalah ada di dokumen-dokumen
laporan kegiatan semata. Secara substantif, sektor swasta
tetap saja hanya memperhatikan keuntungan bisnisnya
semata. Itu masih lebih baik. Di beberapa tempat sektor
swasta justru melakukan banyak hal yang kontraproduktif
dengan proses demorkatisasi pembangunan itu sendiri.
Mereka melakukan lobby pada elite birokrasi dan elit politik
untuk menggolkan proyek mereka, atau memenangkan
mereka dalam proses tender.
Oleh karena itulah SG lebih terfokus pada penegasan
paradigmatik peran dan tanggungjawab private sector
dalam pembangunan. Hal ini jauh lebih penting ketimbang
memikirkan bagaimana pola hubungannya dengan aktoraktor lain yang ada di masyarakat seperti yang dilakukan
GG. Bila hanya terfokus pada penciptaan hubungan dengan
aktor-aktor yang ada maka yang jadi masalah adalah
adanya pola hubungan yang justru saling memanipulasi
atau mengkooptasi. Bila pola hubungan yang seperti ini
yang terjadi maka benar apa yang berulang dikatakan
Shohat dan Stam (1994) bahwa ketidaadilan pola
hubungan antar kuasalah yang akan terjadi. Masyarakat
sipil yang secara komparatif memiliki kuasa lebih kecil
dibanding pemerintah dan swasta akan menjadi korban.
Maka SG dalam melihat sektor swasta terlebih dahulu
penting untuk menegaskan tugas dan tanggungjawabnya.
Dan itu harus tertuang dengan jelas dalam regulasi.
Kontribusi pihak swasta dalam proses pembangunan ini
sebenarnya berada dalam pembahasan yang sangat sulit.
Hanya saja studi-studi administrasi publik selama ini tidak
cukup banyak membicarakannya. Bila kita membuat
regulasi yang terlalu ketat akan dipersalahkan. Sebaliknya,
bila terlalu longgarpun akan salah. Ada persoalan besar
tentang batasan penentuan derajat dan proporsi yang tepat
dalam hal keterlibatan sektor bisnis dalam pembangunan.
Sejauh ini GG sama sekali belum memberikan arah yang
Aktor dalam Sound Governance

SG
123

SG
124

jelas dari komplikasi ini. Adapun dua kutub dilematis itu


bersandar pada dua paradigma dasar, pertama paragdima
pajak dan yang kedua adalah tanggungjawab sosial
perusahaan.
Pertama, beberapa kalangan menganggap bahwa satusatunya wujud tanggung jawab per usahaan dalam
pembangunan adalah pajak. Ketika pemerintah telah
membuat regulasi perpajakan yang di dalamnya juga
mengatur bagaimana dan seberapa besar pajak yang harus
dibayarkan, maka sebesar itu pulalah tanggung jawab
perusahaan yang harus ditunaikan. Perusahaan tidak perlu
lagi ditambahi beban-beban lainnya yang hanya akan
mengganggu pekerjaan utama mereka menghasilkan
produk dan profit sebanyak-banyaknya.
Lebih dari itu, kehadiran dunia bisnis sangat penting
dalam pertumbuhan ekonomi makro sebuah bangsa. Oleh
karenanya penciptaan suasana bisnis yang nyaman dan
aman bagi investor adalah hal yang sangat penting untuk
menggerakkan ekonomi sebuah bangsa. Bila tak ada sektor
bisnis yang bergerak di sebuah daerah atau negara
tertentu, maka bisa dipastikan lokasi tersebut akan segera
terkena krisis perekonomian yang cukup akut. Mengingat
Indonesia tidak menganut sosialisme secara ekstrem, maka
tugas-tugas melakukan proses produksi ini tidak bisa
diserahkan seratus persen pada negara. Pemberian banyak
beban tambahan pada sektor bisnis tidak lain hanya akan
membuat iklim usaha di daerah tersebut akan menjadi
buruk. Hal ini akan berujung pada banyaknya kerugian
dan krisis sosial ekonomi yang akan diderita oleh
masyarakat dan derah itu sendiri.
Paradigma ini beranggapan bahwa, jangankan untuk
membebani perusahaan-perusahaan dengan beban dan
tanggung jawab tambahan, memberikan pajak yang terlalu
besar pun akan berkontribusi secara negatif terhadap
tumbuh kembangnya iklim usaha di sebuah daerah.
Sehingga penentuan jumlah dan besaran pajak kepada

SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

perusahaan itu berbanding terbalik dengan iklim usaha


dan investasi. Semakin kecil beban pajak yang diberikan
semakin senang pelaku bisnis untuk melakukan bisnisnya
di daerah atau negara itu. Sebaliknya, semakin tinggi pajak
yang dikenakan, semakin enggan mereka melakukan
aktifitas bisnis di sana. Hal ini makin diperkuat dengan
kenyataan tentang leluasanya aliran modal berpindah dari
satu tempat ke tempat lain. Sehingga hari ini daerah A
memiliki banyak investor, bisa saja keesokan harinya
ditinggalkan oleh seluruh investor yang dimilikinya itu
gara-gara daerah tetangganya memberikan banyak
tawaran regulasi pajak yang menggiurkan bagi investor
(jauh lebih rendah), dan membuat para investor itu
memindahkan seluruh aktifitas bisnis dan modalnya ke
daerah tersebut.
Pandangan yang ada di paradigma ini tentu saja hanya
mengharapkan kepatuhan para pemilik perusahaan untuk
membayar pajak sebagai kontribusi tertinggi mereka dalam
pembangunan. Di Indonesia hal ini menjadi masalah klasik
dan akut sejak bertahun-tahun. Berdasarkan informasi dari
Dirjen Pajak, kasus penggelapan pajak yang sedang
diselidiki per awal tahun 2008 sebanyak 50 kasus dugaan
penggelapan pajak. Total perkiraan kerugian negara akibat
penggelapan itu sekitar Rp 325 miliar. Jumlah kerugian
negara digabungkan dengan dugaan penggelapan pajak
Asian Agri mencapai Rp 1,625 triliun. Data dari Dirjen
Pajak juga menunjukkan bahwa jumlah kasus yang ada
dari tahun ketahun terus meningkat.
Hal tersebut sekaligus sebagai tantangan bagi
pandangan yang menganggap bahwa pajak adalah satusatunya dan sekaligus bentuk kontribusi tertinggi dari
sektor swasta pada pembangunan. Ketika kita hanya
mendasarkan pada pajak, dan kenyataan kecurangan dan
penggelapan pajak yang dilakukan oleh para pebisnis
masih begitu parah, lalu sampai kapan rakyat akan menunggu kontribusi yang nyata dari pihak swasta yang telah
Aktor dalam Sound Governance

SG
125

SG
126

menjalankan binisnya dan mengeruk banyak keuntungan


dari daerahnya? Penegakan hukum dan pendisiplinan, baik
bagi aparatur pajak maupun pembayar pajak masih
merupakan pekerjaan rumah yang sangat panjang. Sementara pembangunan dan kesejahteraan rakyat adalah
persoalan yang harus segera diselesaikan dalam jangka
pendek. Hal ini pulalah yang sebenarnya mengantarkan
pada paradigma kedua yang lebih menekankan pentingnya
tanggungjawab sosial perusahaan.
Paradigma berikutnya berpandangan bahwa perusahaan harus memiliki peran dan tanggungjawab lebih dalam
pembangunan dan kemasyarakatan serta tidak hanya
sebatas membayar pajak. Asumsi yang dipakai adalah
bahwa perusahaan dan para pebisnis tersebut telah menggunakan berbagai sumber daya yang ada di daerah
tertentu. Sehingga sudah sewajarnya masyarakat dan
daerah yang ditempati tersebut juga mendapatkan
keutungan dari keberadaan lembaga-lembaga bisnis itu.
Di samping itu, dalam struktur sosial ekonomi yang lebih
luas, kesenjangan ekonomi yang ada di masyarakat saat
ini sangatlah tinggi. Dan keberadaan berbagai sektor bisnis
yang ada di Indonesia saat ini tidak banyak membantu
dalam memperkecil kesenjangan ekonomi yang ada. Lebih
buruk lagi, kesenjangan yang ada malah cenderung makin
parah dengan adanya berbagai sektor bisnis tersebut. Di
Indonesia sekaligus terdapat orang terkaya se Asia
Tenggara, dan hampir dapat pastikan mungkin juga akan
didapatkan orang termiskin.
Keberadaan para pelaku bisnis kaya yang hidup di
tengah masyarakat Indonesia yang pada umumnya hidup
di bawah garis kemiskinan- membuat banyak kalangan
berharap agar sektor bisnis ini dapat memberikan
kontribusi yang signifikan bagi pembangunan. Kontribusi
yang dimaksudkan di sini tidak hanya melulu terkait
dengan bantuan dana yang bersifat charity , melainkan
lebih merupakan keterlibatan secara aktif dan strategis
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

untuk ikut memikirkan dan menemukan solusi bagi


masalah kemiskinan. Sektor swasta yang selama ini
beroperasi di berbagai daerah di Indionesia dianggap telah
banyak membuat para pemilik modal atau kelas menengah
atas dari perusahaan-perusahaan tersebut menjadi kaya,
tetapi tidak berdampak apapun bagi masyarakat banyak.
Tidak terbuktinya teori trickle down effect telah semakin
memperkuat anggapan bahwa perusahaan memang harus
memberikan dan menunjukkan peran nyata dalam
pembangunan dan berbagai urusan sosial kemasyarakatan
lainnya. Kerja murni untuk produksi dan mengakumulasi
kapital tidak lagi menjadi satu-satunya alasan keberadaan
sektor bisnis tumbuh dalam ruang kehidupan.
Belum lagi ketika melihat kenyataan bahwa pada sektor
sosial terdekat pun ternyata dunia usaha di Indonesia belum
bisa dipercaya sepenuhnya mampu menyejahterakan
mereka, yakni kaum buruh. Ada janji bahwa tumbuhnya
sektor industri sektor industri di sebuah daerah atau negara
akan membuat kesempatan kerja di lokasi itu mengalami
peningkatan sehingga terwujud kesejahteraan rakyat
dalam jangka panjang. Kenyataan yang bisa dilihat sampai
hari ini adalah fakta bahwa kaum buruh masih tertindas.
Dalam dunia ekonomi politik fenomena ini dikenal dengan
istilah race to the bottom (Singh, 2004). Race to the bottom
adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan
fenomena industri yang berusaha menekan biaya-biaya
sosial dan lingkungan demi menekan biaya produksi yang
dikeluarkan oleh pemodal. Sebagai akibat umum dari
praktek race to the bottom ini maka upah dan kesejahteraan
buruh harus ditekan. Demikian pula berbagai pengeluaran
lain terkait dengan pembuangan limbah. Sehingga tak
jarang peningkatan jumlah perusahaan yang beroperasi
di sebuah tempat berbanding lurus dengan makin besarnya
tingkat pencemaran lingkungan hidup (tanah, air maupun
udara) di daerah tersebut.

Aktor dalam Sound Governance

SG
127

SG
128

Berbagai cerita tentang wajah buruk dunia usaha di


Indonesia, mulai penggelapan pajak, penindasan buruh dan
pencemaran lingkungan makin mempertegas bahwa tidak
cukup tanggung jawab sosial, politik dan ekonomi mereka
hanya tertunaikan melalui pajak. Harus ada berbagai
beban tambahan yang bersifat taktis maupun strategis
yang diberikan kepada mereka sebagai wujud kontribusi
konkretnya dalam pembangunan.
Paradigma kedua ini pun masih menyisakan persoalan
yang tidak sederhana. Semakin perusahaan ditekan
dengan berbagai beban tambahan maka para investor akan
berpikir bahwa di daerah tersebut memiliki high cost
economy . Dan sesungguhnya hal inilah yang selama ini
terjadi di Indonesia. Sebagaimana layaknya praktek
preman pasar yang sudah menarik uang keamanan bagi
para pedagang, di dalam skala yang lebih luas praktek
ala preman pasar ini juga melanda dunia investasi kita.
Ketika sebuah investasi direncanakan hendak datang ke
sebuah daerah, maka para aktor-aktor penting di daerah
tersebut telah berbondong-bondong mendatangi kantor
perusahaan tersebut untuk meminta jatah ataupun uang
kemananan. Mulai dari pejabat eksekutif maupun
legislatif yang membawa daya tawar regulasi untuk
mendapat jatah dari si investor, para aparat keamanan,
hingga LSM jadi-jadian yang mengancam akan melakukan demo besar-besaran jika si pengusaha tidak memberi
mereka sejumlah konpensasi yang diminta.
Hal-hal seperti tersebut di atas makin memperumit
konsep peran sektor swasta dalam pembangunan. Dan
sekali lagi kerumitan ini masih menjadi pertanyaan besar
yang belum terjawab dalam wacana tata pemerintahan,
khususnya di Indonesia.
Lubang besar itu pun belum terjawab dalam konsepsi
GG. Dalam GG ada anggapam ideal bahwa perusahaan
memiliki peran langsung dan terlibat dalam proses-proses
sosial dan demokrasi baik pada level perencanaan maupun
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

dalam pelaksanaan pembangunan itu sendiri. Bagaimana


mereka bisa terlibat bila posisi mereka saat ini berada
dalam dua titik ekstem, yaitu mengeksploitasi masyarakat
daerah atau dieksploitasi oleh mereka. Maka, SG
mempersepsi peran swasta dalam proses tata pemerintahan tidak lagi pada ukuran seberapa banyak dia terlibat
dalam rapat-rapat atau seberapa banyak dana yang dia
berikan pada pemerintah (dalam bentuk pajak). Sebab hal
terakhir tersebut sangat terkait dengan berbagai upaya
supremasi hukum yang juga harus dilakukan secara
simultan. SG memandang peran penting dari sektor swasta
adalah bagaimana kehadirannya di tengah-tengah
masyarakat dapat berdampak secara signifikan bagi
kesejahteraan secara umum dan memperkecil gap
pendapatan yang terjadi di masyarakat. Dalam konteks
inilah maka konsep-konsep seperti public-private
partnerships (PPP) ataupun berbagai konsep dan teori
tentang community devolpment mengambil peran sebagai
pilihan-pilihan taktis. Bukan sebagai tujuan dan keharusan
sebagaimana umumnya para pendukung GG anjurkan.

Aktor Internasional

Yang membuat SG sama sekali baru dalam khazanah


administrasi publik adalah perhatiannya yang kuat pada
pengar uh aspek internasional dalam proses tata
pemerintahan. Ambil salah satu contoh pada satu kekuatan
besar yang beroperasi di peta politik dunia, WTO (World
Trade Organization). Ia merupakan sebuah organisasi yang
beranggotakan berbagai negara di dunia yang (dipaksa
untuk) sepakat dalam mencapai cita-cita perdagangan
bebas internasional. WTO sendiri tidak serta merta muncul
menjadi kekuatan dominan yang akhirnya akan berpegaruh
pada berbagai kebijakan domestik negara-negara
anggotanya termasuk Indonesia. Ia di-back up oleh World
Bank sebagai penata financial. Sementara Multi-National
Corporation (MNC) berperan sebagai penguasa perdagangAktor dalam Sound Governance

SG
129

SG
130

an dan PBB sebagai penata politik global. Sedangkan


sponsor utama dari lembaga-lembaga dominan itu adalah
negara-negara maju dunia yang tergabung dalam G-8 (AS,
Kanada, Jepang, Rusia, Inggris, Prancis, Italia, dan
Jerman). SG melihat bahwa praktek transforasi pasar
bebas yang dilakukan secara sistematis ini sangat
berpengaruh terhadap kualitas tata pemerintahan di
seluruh dunia. Hanya saja, sangat mengherankan mengapa
GG sama sekali tidak melibatkan faktor maha penting ini
dalam semesta pembicaraannya. Berikutnya kita akan lihat
bagaimana modus operandi mereka di sektor ekonomi dan
politik.
Per usahaan-per usahaan transnasional, menur u t
laporan Investsai Dunia 1993 yang diterbitkan Perserikatan
bangsa-bangsa (PBB), ada 37.000 perusahaan transnasional yang memiliki 170.000 anak perusahaan di luar
negeri. Sembilan puluh persen dari per usahaanperusahaan transnasional tersebut berkantor pusat di
negara-negara maju. Dengan menggabungkan data dari
berbagai sumber, seorang akademisi Inggris Paul Hirst dan
Graham Thompson, dalam Globalization in Question (Hirst,
1996) mencatat penjualan dan aset per usahaanperusahaan transnasional yang maha besar jumlahnya itu
terkosentrasi di negara atau regional rumah mereka,
di samping semua spekulasi mengenai globalisasi. Bagi
perusahaan-perusahaan transnasional di sektor manufaktur dengan kantor pusat mereka yang ada di Amerika
Serikat pada tahun 1987, 70% dari penjualan mereka dan
67% dari aset mereka ada di Amerika Serikat sendiri. Di
tahun 1993, 67% dari penjualan dan 73% aset mereka
berada di Amerika. Sebagian besar dari sisa penjualan dan
aset mereka pada tahun 1987 dan 1993 ada di Eropa dan
Kanada. Bagi perusahaan-perusahaan transnasional yang
berpusat di Eropa Barat, terjadi penyebaran penjualan dan
aset mereka secara lebih luas. Akan tetapi antara 70-90%
diantaranya ada di negara induk (negara asal perSOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

usahaan) dan di negara-negara Eropa Barat lainnya. Untuk


perusahaan-perusahaan transnasional yang bergerak
dalam bidang manufaktur yang berpusat di Jepang, 75%
dari penjualan mereka pada tahun 1993 ada di Jepang,
begitu juga 97% aset mereka. Antara tahun 1987-1993,
terjadi perkembangan konsentrasi aset-aset para
perusahaan transnasional di negara induk/asal masingmasing, ketimbang trend ke arah globalisasi.
Dari statistik di atas kita dapat melihat bahwa, jauh
dari apa yang disebut sebagai penyebaran aset dan
penjualan mereka, sekalipun menyeberangi bola bumi,
justr u per usahaan-per usahaan transnasional telah
memusatkan baik produksi dan penjualan komoditi mereka
di negara-negara induk. Dan mereka telah menginternasionalisasikan operasi-operasi mereka ini yang
dikonsentrasikan di negara-negara kapitalis maju lainnya.
Ini mencerminkan adanya distribusi yang sangat tidak
merata (uneven) dalam hal investasi langsung (Foreign
Direct Investment atau investasi langsung) dan perdagangan dalam skala global. 100 per usahaan
transnasional terbesar di dunia memiliki sepertiga dari
modal ini.
Dalam konteks dominasi politik, kita akan melihat
bagaimana negara-negara G-8 memaksa untuk mempengaruhi peta politik dan kebijakan domestik di berbagai
negara berkembang. Pertama, ketika kedelapan pemimpin
membicarakan rencana AS untuk menyediakan 700 juta
dolar guna menarik negara-negara lain untuk mengirim
pasukannya ke Irak dan perang melawan terorisme. Kedua,
akan menempatkan dana pembangunan Afrika sebagai
prioritas. Ketiga, Kerjasama Baru bagi Pembangunan
Afrika (NEPAD). Para pemimpin G-8 menggerojok bantuan
miliaran dolar kepada NEPAD dalam upaya membantu
memberantas kor upsi, melindungi demokrasi, dan
melakukan reformasi terhadap ekonomi para anggota
kelompok tersebut. Dalam KTT G-8 di Genoa, dimana
Aktor dalam Sound Governance

SG
131

SG
132

kesenjangan digital ramai diperbincangkan, Italia


menghimbau negara-negara lain untuk mengatasinya
dengan membentuk DOT (Digital Opportunity Task). Sejauh
ini, sekitar 12 juta euro telah dialokasikan untuk mendanai
proyek-proyek pembangunan TI di negara-negara
berkembang. Akibatnya, arus informasi tak terbendung,
dekadensi moral pasti datang mengiringi.
Har us diakui bahwa dominasi yang terjadi
menyebabkan ketergantungan negara berkembang
terhadap negara maju yang diakhiri dengan terposisikannya negara berkembang sebagai negara kapitalis
pinggiran. Untuk mengetahui pokok-pokok pikiran dari
teori ketergantungan, Frank (1996) mengungkapkan dua
hal pokok. Pertama, negara yang ekonominya maju berarti
tidak underdeveloped meskipun mungkin pernah
mengalami kondisi underdeveloped . Bersamaan dengan
tumbuhnya ekonomi kapitalis, negara maju kemudian
menyandarkan diri pada kekayaan sumber daya alam dari
negara Dunia Ketiga. Kedua , menumpuknya modal
merupakan kekuatan pendorong (driving force) di balik
proses ini. Sebagai dampaknya adalah distributor besar,
pemilik industri manufaktur, dan bankir mencari
keuntungan sebesar-besarnya di negara Dunia Ketiga.
Aspek tersebut di atas akan membawa dampak pada
perilaku pedagang, produsen dan bankir untuk
mengakumulasikan modalnya di negara Dunia Ketiga agar
mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya. Hal ini akan
menghasilkan surplus yang banyak dinikmati negaranegara maju. Dan, pemindahan surplus ke negara-negara
maju dimaksudkan untuk mempertahankan supaya sistem
ekonomi negara Dunia Ketiga ( periphery ) tetap berorientasi keluar dengan mengekspor bahan mentahnya dan
mengimpor barang-barang siap pakai. Maka industri di
negara Dunia Ketiga akan tetap tergantung pada kekuatan
sentral (centruum forces) , utamnaya ketergantungan di
bidang teknologi dan modal.
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Selanjutnya, dinamika internal sistem ekonomi juga


dikembangkan dalam Dunia Ketiga, yaitu dengan
memperkuat sistem ketergantungan. Upah diupayakan
serendah mungkin, pasar domestik ( internal market )
dibatasi dengan cara pembelanjaan income di negara maju
oleh kalangan elite di negara Dunia Ketiga. Polarisasi
kekayaan menuju negara maju tidak dapat dihindarkan.
Pasar di negara Dunia Ketiga tidak lebih dari sekedar
perwujudan tuntutan elite setempat. Hal ini diperparah
dengan kelompok kapitalis negara Dunia Ketiga yang
memiliki kecukupan modal justru mengadakan hubungan
dengan kaum borjuis di negara maju. Sehingga memungkinkan berkembangnya negara-negara dengan sistem
kolonial ekonomis atau yang dikenal dengan ketergantungan centruum-periphery .
Sistem kapitalis dunia merupakan hasil dari suatu sistem
yang ingin mempertahankan dominasinya atas negara
Dunia Ketiga. Oleh sebab itu, otonomi penuh bagi negara
Dunia Ketiga tidak akan terwujud. Sehingga Cardoso (1979)
mengatakan bahwa ketergantungan ini terjadi sebagai
akibat adanya kondisi str uktural yang tidak menguntungkan bagi negara Dunia Ketiga. Baik di tingkat
internasional maupun nasional. Aksioma yang dikembangkan adalah bahwa pembangunan negara Dunia Ketiga akan
berkembang secara pesat bila mereka menjalin aliansi yang
kuat dengan negara Dunia Pertama. Dengan kondisi ini
relasi ketergantungan ekonomi politik centruum-periphery
tidak akan pernah dapat teratasi.
Dalam konteks inilah secara langsung proses tata
pemerintahan, terutama di negara-negara berkembang
terpengar uh. Kapitalisme peripher y menjadikan
originalitas reformasi pemerintahan negara berkembang
tidak terjadi. Proyek-proyek GG yang di impose ke negara
berkembang dari lembaga-lebaga donor asing makin
memperkuat pola hubungan dependensi antara centruum
and periphery tersebut. Dalam lalu lintas perbincangan
Aktor dalam Sound Governance

SG
133

SG
134

seputar kapitalisme periphery ini, kita akan melakukan


elaborasi dari beberapa tawaran konsep dari Andre Gunder
Frank tentang konsepnya underdevelopment (Budiman,
1999: 29). Teori underdevelopment dari Frank mengatakan
bahwa keterbelakangan negara-negara Dunia Ketiga
adalah berangkat dari akibat-akibat struktural. Artinya,
seiring dengan makin maju pesatnya perkembangan
ekonomi negara Dunia Pertama maka pada saat yang sama
negara Dunia Ketiga makin teralienasi. Analisis Frank ini
makin dipertajam oleh Immanuel Wallernstein dengan
idenya yang sangat terkenal, world system theory. Teori ini
mengatakan bahwa di dunia ini pada dasarnya hanya
terdapat satu sistem besar yang mengatasi sistem-sistem
lainnya. Sistem besar yang dimaksud di atas adalah pasar
internasional. Sistem besar tersebut secara bertingkat
melakukan eksploitasi pada berbagai level di bawahnya.
Negara mengeksploitasi produsen domestik. Lalu, kelas
yang dieksploitasi oleh produsen mengeksploitas kelas lain
yang bukan produsen. Demikianlah terjadi secara menerus
hingga terbentuk kelas-kelas yang keberadaannya baru
dalam susunan sosial dan merupakan model baru dalam
perkembangan produksi (Giddens, 1986: 63). Hamza Alavi
menggagas pendapatnya dalam dua arus besar. Pertama,
penjabaran proses feodalisme tradisional menuju
feodalisme kapitalis. Kedua, subsumption under capital
masyarakat prakapitalis golongan pekerja upahan. (Alavi
1991: 138).
Di tengah arus globaliasi sekarang hal di atas tidak
makin memudar. Sebaliknya, hubungan tak adil secara
global itu malah makin mengental. Memang dalam
paradigma konstrukvisme tidak diakui sepenuhnya bahwa
pola hubungan saat ini adalah hitam putih, penjajah dan
terjajah. Akan tetapi hubungan yang ada lebih bersifat
saling pengaruh mempengaruhi secara kompleks. Tetapi
dalam hal ini SG lebih menaruh sandaran pemahamannya
pada konsep policentrism yang percaya bahwa sekompleks
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

apapun hubungan yang terjadi, tetap ada relasi kuasa yang


bisa dilihat dan diukur. Satu pihak lebih berkuasa
ketimbang lainnya. Yang demikian itu adalah juga fakta
yang tak bisa dipungkiri.
Policentrisme dalam ekonomi politik terejawantah pada
represivitas aktor-aktor internasional yang pada giliranya
juga menular pada aktor-aktor nasional terhadap
warganya. Sugiono (1999) pernah memberikan ilustrasi
yang sangat tajam tentang otoriteriansme dan
pembangunan di negara berkembang. Yakni ketika semua
pejabat negara ter fokus pada segala daya upaya
peningkatan persentase pertumbuhan ekonomi, GNP, dan
nilai investasi. Untuk menuju ke sana maka, pilihan satusatunya jatuh pada industrialisasi skala besar. Untuk
menggenjot industrialisasi skala besar sangat dibutuhkan
modal yang besar. Sedangkan kelemahan utama negara
berkembang termasuk Indonesia adalah minimnya modal.
Sehingga satu-satunya jalan adalah dengan mendatangkan
big push dari MNC/TNC serta berbagai lembaga kapitalis
internasional lainnya yang jelas memiliki kecukupan modal.
Untuk melancarkan misi pemasukan per usahaan
mereka sebebas-bebasnya dan sebanyak-banyaknya ke
berbagai belahan dunia, the death triangle ini menyerang
berbagai sudut. Tidak hanya dari sudut perekonomian saja,
namun juga menyentuh hingga sudut politik dan kebijakan
nasional. Pada titik inilah kita mengenal istilah structural
adjusment programme (SAPs), yaitu sebuah kebijakan
penyesuian di berbagai sektor yang harus dilakukan negara
berkembang untuk dapat mengakses modal MNC/TNC.
SAPs adalah paket kebijakan standar yang ditentukan oleh
lembaga keuangan internasional bagi setiap negara di
kawasan selatan. Elemen-elemen paket standar dan
pengaruh negatif yang potensial bagi masyarakat miskin
mencakup:
Pengurangan belanja pemerintah, yang artinya
memangkas belanja pelayanan sosial;
Aktor dalam Sound Governance

SG
135

SG
136

Pencabutan subsidi, termasuk subsidi yang menguntungkan masyarakat miskin;


Pembatasan ketersediaan kredit, termasuk kredit
untuk para petani;
Swastanisasi perusahaan-perusahaan negara yang dapat memacu pemusatan aset;
Liberalisasi perdagangan, yang dapat menghancurkan kapasitas produktif domestik dan lapangan pekerjaan;
Reorientasi ekonomi ke arah pasar ekspor yang
dapat menyediakan insentif bagi penambangan
sumber daya alam;
Perlucutan hambatan-hambatan, yaitu perlakuan nasional untuk investasi asing, yang tidak
menguntungkan sektor swasta domestik; dan
Deregulasi pasar tenaga kerja, yang dapat menekan upah minimum.
Ambil contoh implikasi SAP ini di sektor perburuhan.
Visi kebijakan sektor perburuhan yang lebih menekankan
pada kepentingan investor ini bagi pemerintah adalah
pilihan yang paling rasional bagi mereka. Sebab, memang
bagi MNC/TNC, biaya untuk memindah perusahaan itu
sangat murah. Kasus penutupan (lock out) Sony Corporation
misalnya, tidak dapat dipungkiri berakar dari adanya
demo buruh beberapa tahun sebelumnya. Dan biaya
pemindahan dari Indonesia ke Vietnam ternyata tidak lebih
dari 20% dari keuntungan pertahun yang telah mereka
raih. Dari sini terlihat memang bargain pemerintah dengan
MNC/TNC sangatlah lemah. Terlebih ketika kita ditekan
oleh SAP dari IMF dan perjanjian free trade zones dari
WTO.
Lemahnya bargain negara ketika berhadapan dengan
MNC/TNC pada akhirnya harus mengorbankan buruh. Itu
menunjukkan diplomasi internasional yang dilakukan
diplomat-diplomat kita sangat lemah di samping fundamen
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

ekonomi kita yang juga memang rapuh. Terlepas dari


kedua faktor tersebut, hal pokok yang menyebabkan
kondisi itu karena Indonesia masih merupakan kapitalis
periphery, yang tengah gagap melalui masa transisi dari
feodalisme seperti halnya yang terjadi di India pada awal
1980-an (sebagaimana diulas oleh Alavi). Di sektor lain,
baik pertanian, pendidikan, subsidi BBM, dan sebagainya
mengalami kondisi yang sama dan modus operandi yang
sama pula. Intinya adalah negara tidak memiliki otonomi
dalam menentukan arah kebijakannya. Negara telah
dikendalikan oleh kekuatan interasional melalui sebuah
peraturan yang dinamakan SAPs. Sehingga ketika banyak
permasalahan dan kekacauan tata pemerintahan akibat
hal-hal itu, apakah kita tetap hanya bisa mengandalkan
analisis pada aktor-aktor lokal, yakni pemerintah, swasta
dan masyaakat sipil?
Hal di atas adalah bukti nyata bagaimana aktor-aktor
lokal yang dicantumkan dalam GG tidak bisa berbuat apaapa ketika berhadapan dengan aktor internasional (dalam
contoh di atas adalah MNC). Sehingga keinginan SG untuk
menambahkan aktor internasional ke dalam diskusi
reformasi tata pemerintahan sangatlah beralasan. Sebab
secara rasional dan empirikal, hal ini sebenarnya sudah
terjadi sejak lama, dan sudah disadari oleh para pakar dan
pelaku di lapangan sejak lama pula. Tetapi mengapa dalam
wacana administrasi publik, termasuk GG, dia seolah
dihilangkan dalam berbagai diskusi reformasi pemerintahan. Secara naif ilmu administrasi publik dan pemerintahan
juga seolah melokalisir bahwa lokus agenda reformasi
hanya ada dalam wilayah domestik sebuah negara.
Kenyataan dunia yang makin meng-global dan makin
terkoneksi tentu membuat lokus administrasi publik yang
lokalistik semacam itu menjadi sangat tidak relevan. Tidak
relevan dari segi konseptual, juga tak relevan lagi dengan
kenyataan yang sesungguhnya terjadi.

Aktor dalam Sound Governance

SG
137

BAB VI

GLOBALISASI DAN
BUDAYA LOKAL DALAM
TATA PEMERINTAHAN

SG
138

ebagaimana telah disampaikan pada bagian-bagian


terdahulu bahwa terdapat dua hal yang menonjol
dari kebaruan konsep SG, yaitu kesadaran atas pengaruh faktor internsional dan pentingnya pengakuan atas
budaya lokal dalam tata pemerintahan. Tentu tidak hanya
dua hal tersebut faktor yang membuat SG menjadi pantas
untuk menggeser dominasi paradigma GG yang ada selama
lebih dari sepuluh tahun terakhir ini. Hal-hal semacam
inovasi, perubahan tentang cara melihat konfigurasi aktoraktor dalam tata pemerintahan serta berbagai dimensi
yang ada, sebagaimana telah di jelaskan pada bab-bab
sebelumnya, juga sangat penting dalam memahami konsep
baru yang disebut SG ini. Akan tetapi dalam buku kecil
ini, yang lebih bersifat sebagai pengantar untuk memahami
SG, nampaknya dua faktor ini yang akan menjadi fokus
paling utama.

Globalisasi dalam Tata Pemerintahan

Hubungan antara globalisasi dan administrasi publik


ibarat urat leher manusia. Ia sebenarnya sangat dekat dan
sangat penting dalam kehidupan manusia, tapi tak satupun
manusia di dunia ini yang dapat melihat urat lehernya
secara langsung dengan mata kepalanya sendiri. Semua
orang setiap hari telah menyaksikan bagaimana kejadiankejadian dan kebijakan-kebijakan yang dibuat baik di

SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Eropa maupun di Amerika Serikat telah berpengaruh


sangat besar bagi kebijakan sosial, ekonomi, maupun
politik di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Berbagai teori juga telah banyak yang membenarkan
kenyataan ini. Akan tetapi ilmu pemerintahan dan
administrasi publik yang berkembang di Indonesia seolah
menganggapnya tak ada.
Berbagai kurikulum di perguruan tinggi utamanya
dalam pemerintahan dan sejenisnya telah ada diskusidiskusi tentang pentingnya faktor internasional ini.
Perbicangan globalisasi juga bukanlah menu baru di sana.
Termasuk kritik-kritik atas globalisasi sudah menjadi
makanan sehari-hari para mahasiswa. Tetapi ketika
berbicara tentang refomasi administrasi publik, faktor
global ini sirna. Umumnya semua hanya berkutat pada
masalah manajerial, politik lokal ataupun proses internal
kebijakan publik. Termasuk paradigma GG yang nampaknya juga masih berkutat pada persoalan yang sama.
Memang tidak ada yang salah secara mutlak terhadap
ide-ide seperti perlunya, kerja sama antara pemerintah,
swasta dengan masyarakat sipil. Ataupun tentang
pentingnya penerapan transparansi, akuntabilitas,
partisipasi, dan penegakan hukum. Masalah muncul ketika
penyelenggaraan hal-hal tersebut dilakukan bersamaan
dengan proses penyeragaman (uniformization). Ada relasi
subjekobjek dalam hal ini. Yaitu pihak yang merasa
superior dan sekaligus merasa dirinyalah yang mampu
melakukan perbaikan, berhadapan pihak yang inferior
yang harus diperbaiki (Blaut, 1993). GG adalah alam pikir
lembaga-lembaga donor (sebagai pihak pertama) tentang
arah kemana pemerintahan harus diperbaiki, dimana
pemerintah negara berkembang harus menerimanya.
Pihak subjek (para donor) berperilaku bak seorang profesor
yang sedang melakukan uji coba di dalam laboratorium,
yang dengan demikian, bukan bagian dari percobaan itu
sendiri. Memasukkan formula GG ke semua tabung-tabung
Globalisasi dan Budaya Lokal

SG
139

SG
140

percobaan, dan sekali lagi dirinya berada di luar masalah


percobaan itu.
Kenyataan yang jarang disadari justru pengaruh si
profesor terhadap formasi kimiawi yang ada di dalam
tabung-tabung itu. Keberadaan lembaga-lembaga donor
ini sudah lama sekali ada di Indonesia. Mereka juga
berkontribusi pada formasi ekonomi politik yang terjadi
saat ini pada Indonesia yang dinilainya bad governance
dan korup. Ada elemen sang profesor di dalam tabungtabung percobaannya yang tidak dimasukkan dalam
hitungan. Inilah masalah utama dari GG, yang memandang
seolah masalah pemerintahan yang ada di Indonensia
adalah murni masalah relasi antara pemerintah setempat,
pelaku bisnis setempat dan masyarakat sipil setempat.
Persoalan ini dengan begitu tidak bisa dikatakan bahwa
masalah GG tidak terletak pada konsepnya melainkan cara
implementasinya. Sebab strategi implementasi yang
cenderung dipaksakan dan menyeragamkan itu dilakukan
di dalam konsep GG dengan tidak memasukkan lembagalembaga penyeragam (donor) itu sebagai bagian dari
masalah pemerintahan (governance).
Kesalahan konseptual ini makin diperparah ketika GG
sama sekali tidak menyentuh realitas globalisasi kenyataan
terkini yang makin tak terbantahkan. Contoh kecil adalah
masalah terorisme misalnya. Apakah pengaruh 9/11 di New
York City dengan APBD? Jawabnya sangat berpengaruh.
Karena isu terorisme itu, pemerintah Indonesia harus
membuktikan dirinya bahwa dia layak menjadi mitra
terdepan AS dalam perang melawan terorisme di Asia
Tenggara. Dampaknya pemerintah AS pada tahun 2006
menggerojok dana sebesar Rp 50 miliar sebagai dana
penanggulangan terorisme (Surya Online, 16/06/07).
Kemudian dana itu masuk dalam sistem anggaran kita,
hingga ke daerah-daerah dan struktur APBD pun harus
memasukkan mata anggaran anti-teroris di dalamnya.
Kita bisa melihat bagaimana seandainya tidak ada insiden
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

9/11, apakah akan ada dana Rp 50 milyar masuk ke


Indonesia? Apakah akan ada mata anggaran anti teroris
di APBD? Banyak sekali contoh-contoh lainnya, apalagi di
sektor bisnis. Pengaruh kebijakan pemerintah China dalam
masalah upah terhadap lock out perusahaan multi-nasional
di Indonesia dan membanjirnya pengangguran. Naiknya
demand minyak dari Amerika Serikat juga berpengaruh
terhadap naiknya harga sembako di Indonesia.
Hubungannya adalah dengan naiknya permintaan minyak
di AS maka harga minyak dunia akan naik. Karena
Indonesia adalah pengimpor minyak jadi, maka harga BBM
pun naik. Kenaikan harga BBM akan disusul oleh harga
sembako yang juga melambung.
Contoh-contoh di atas adalah realitas globalisasi yang
terjadi secara tak langsung. Hubungan antara lembagalembaga donor, kerjasama bilateral atau multi lateral dan
perjanjian-perjanjian internasional yang berimbas pada
ratifikasi konstitusi adalah kenyataan relasi globalistik
yang terjadi dan berimplikasi secara langsung.
Hal ini sebenarnya juga bukan merupakan kenyataan
yang baru. Misalnya, dalam bidang politik internasional
sudah menjadi pembicaraan umum tentang pengaruh CIA
dalam politik dalam negeri sebuah negara. Sebut saja Chile.
Penggulingan pemerintahan sosialis Salvador Allende
Gossens pada tahun 1973 yang pada akhirnya
menenggelamkan Chile pada masa kediktatoran Augusto
Pinochet selama 16 tahun tak lepas dari dukungan CIA.
Kudeta yang mentransisikan pemerintahan sosialis ke
pragmatis militeristik ini sama persis dengan yang terjadi
di Indonesia para tahun 1965. Tak mengherankan bila
dalam beberapa dokumen CIA disebutkan bahwa strategi
kudeta Pinochet disebut dengan Operasi Jakarta
(Grandin, 2002). Jauh sebelum itu, pada tahun 1920-an,
Alexander Nahum Sack sudah mengintrodusir adanya
praktek odious debt , yaitu utang luar negeri yang dipergunakan untuk pelanggengan kekuasaan atau
Globalisasi dan Budaya Lokal

SG
141

SG
142

pemupukan kekayaan pribadi para diktator, secara global.


Atau ketika ditarik jauh lagi ke belakang pada era
kolonialisme, bagaimana hubungan negara-negara
centrum Eropa Barat (colonizers) dengan negara peripheri
atau jajahan (colonized) yang telah terjadi sejak Abad XVI.
Deskripsi di atas adalah gambaran singkat atas realitas
dunia yang saling tergantung satu sama lain. Belum lagi
ketika saat ini teknologi informasipun jauh sudah melewati
batas-batas negara. Era digital yang berpengaruh pada
cepatnya lalu lintas aliran modal dari satu perusahaan ke
perusahaan lain, dari satu negara ke negara lain yang bisa
terjadi hanya dalam hitungan detik.
Masalah-asalah konkret yang terabaikan oleh GG
tersebut di atas akan dimasukkan dalam kalkulasi Sound
Governance . Program-program restr ukturisasi dan
refomasi yang dilakukan lembaga-lembaga internasional
sudah saatnya mengarah pada stabilisasi dan mengadilkan
hubungan internasional baik antar negara, negara dengan
institusi maupun negara dengan masyarakat.
Lebih jauh lagi, banyak argumentasi telah membuktikan
bahwa ternyata GG sendiri adalah perwujudan dari
indoktrinasi aspek global itu sendiri. Kembali padai metafora urat nadi tadi. Bahwa bagaimana mungkin GG
menyadari dan melihat adanya masalah di urat nadinya?
Dan ketika masalah ini masuk ke berbagai negara, termasuk Indonesia, maka semua orang akan terkena endemik
yang sama. Entah latah atau histeris, konsep ini telah
membungkam mulut, mata dan telinga kita sehingga kita
yakin bahwa seakan tak ada cacat darinya.
Ia telah menjadi sebuah mainstream global. Sehingga
sudah saatnya untuk kita melakukan kritik dan dekonstruksi jika tidak ingin mainstream itu menjadi diktator
yang menindas seluruh alam pikir kita kapanpun dan dimanapun. Ini bukan sebuah keharusan yang berangkat
dari kesadaran pokoknya harus. Melainkan memang
sesungguhnya bila dibaca dengan lebih sabar dan diamati
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

secara perlahan banyak sekali kesalahan genetik dari


konsep ini. Maka keharusan untuk melakukan kritik atas
GG adalah keharusan yang sifatnya wajib. Hal ini senada
dengan konsep Giddens (2000) tentang juggernaut. Seperti
ketika kita mendapati seorang sopir bis yang ternyata
kurang waras atau mabuk, maka kita wajib memintanya
berhenti untuk turun, atau jika ia tak mau maka kita pun
wajib untuk memaksanya turun demi keselamatan para
penumpang. Dengan good governance sesungguhnya kita
ibarat penumpang yang sedang dikendalikan oleh sopir bis
yang tengah mabuk, kendati dia memilki performa kuat
dan meyakinkan. Ataukah kita tengah terpesona dengan
penampilan perlentenya, sehingga seolah tak peduli bahwa
dia sedang membawa kita pada batas kematian?
SG mencoba untuk menjaga jarak dari lingkaran inti
kekuasaan globalisasi. SG berusaha untuk keluar dari
tubuh kuasa globalisasi, sehingga ia bisa melihat dengan
mudah ada masalah apa dengan urat nadi globalisasi.
Mengevaluasinya, mengamatinya dan mencarikan solusi
untuk menyembuhkan penyakit-penyakit eksploitatif yang
ada dalam globalisasi itu sendiri. Hal inilah yang tak mampu dilakukan GG dan justru malah terkesan melanggengkan struktur kuasa tak adil yang ada dalam globalisasi itu
sendiri.
Hal lain yang membuat argumentasi bahwa GG adalah
alat untuk melanggengkan ketimpangan yang ada dalam
globalisasi adalah terkait dengan pemisahan tiga elemen
dasar negara, yaitu pemerintah, pelaku pasar masyarakat
sipil (Sjahrir, 1999). Dengan dalih merangkul ketiga elemen
dasar itu, cara GG mendefiniskan mereka justr u
menimbulkan kesan bahwa tiga hal tersebut adalah
terpisah satu sama lain. Maka, mendekonstruksi GG adalah
argumentasi yang harus dihadirkan. Sebab GG telah
mengingkari dasar-dasar hakiki sebuah negara. Ia telah
melepaskan elemen-elemen penting dalam negara menjadi
puing-puing rapuh yang tak memiliki ikatan historis ke
Globalisasi dan Budaya Lokal

SG
143

SG
144

belakang. Political and social involvement dalam sebuah


proses produksi yang dilakukan negara apakah mesti harus
dilakukan dengan mencerai-beraikannya terlebih dulu dan
kemudian melarutkannya ke dalam sistem global yang
penuh dengan ketidakpastian?
Tentu ketika entitas negara dicerai-berai seperti itu
maka akan muncul apa yang disebut dengan internal
networking. Yakni jejaring yang terbangun antara berbagai
elemen dalam dunia bisnis, jejaring antar NGO dan jejaring
antar state . Jejaring itu dibangun atas dasar kesamaan
idea masing-masing. Otoritas negara sebagai kristalisasi
berbagai kekuatan dalam negeri menjadi hilang.
Digantikan oleh kekuatan jejaring itu. Maka tak heran jika
berbagai NGO yang ada akan lebih berkomitmen pada
jaringan domestik dan internasionalnya ketimbang
berkomitmen dengan berbagai elemen politik dan birokrasi
di negaranya sendiri. Demikian pula yang terjadi dengan
dunia bisnis dan negara. Negara akan lebih menjaga
hubungan baik dengan berbagai negara (Kaldor, 2003),
ketimbang bermesra-mesra dengan NGOs dan CSOs (Civil
Society Organizations ) milik anak bangsanya sendiri.
Entah terbangun atas sejarah yang seperti apa, tiba-tiba
diakui bahwa ada hubungan yang sangat buruk diantara
3 (tiga) elemen tersebut. Sehingga GG dibutuhkan untuk
merukunkannya. Ataukah ketidakr ukunan itu adalah
sebuah hyperreality yang sengaja dibentuk dalam level
tertinggi kesadaran manusia untuk sebuah invasi memethic
sehingga ide good governance menjadi memiliki
akseptabilitas yang universal?
Pengar uh globalisasi yang terbesar dalam tata
pemerintahan adalah arus demokratisasi. Perbedaan term
demokrasi dan demokratisasi adalah terletak pada aspek
ideologisasinya. Demokrasi adalah sebuah konsep ideal
yang bersifat generik. Sedangkan demokratisasi lebih merupakan penyebaran secara luas sebuah bentuk keyakinan
dan definisi tentang demokrasi. Sehingga demokratisasi
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

yang dilakukan secara global saat ini lebih merupakan


sebuah kerja politik dan ideologis. Prinsip-prinsip
demokrasi juga telah dicuri oleh GG. Ia mengklaim
berbagai pola yang dikenal sebagai bagian operasional dari
demokrasi sebagai miliknya. Kendati itupun sesungguhnya
hanya sebatas pada aras demokrasi liberal saja (Luebbert,
1991). Seperti kita tahu, bahwa ada dua arus besar dalam
wacana demokrasi, yaitu Demokrasi Liberal dan Demokrasi
Sosialis. Demokrasi liberal dicirikan dengan adanya
kebebasan penuh pada individu. Sedangkan Demokrasi
sosialis/komunis dicirikan dengan dominasi kekuasaan atau
pemerintah untuk mengatur urusan-urusan warganya.
Negara menempatkan diri sebagai gerakan yang
mengusahakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Dalam
good governance gagasan demokrasi sosialisme akan
dianggap sebagai sebuah masalah.
Maka tak heran jika spirit dari good governance adalah
meminimalkan peran negara ( minimizing state ) dan
mengedepankan pasar ( market oriented ). Ini sekaligus
menunjukkan betapa teori ini tidaklah mampu
menempatkan dirinya secara konseptual untuk berpihak
kepada rakyat, terlebih di negara berkembang. Kita semua
sama-sama tahu bahwa pasar hari ini dikuasai oleh negaranegara maju. Kapital dan teknologi pengendali ekonomi
dunia tidaklah berlaku secara equal. Negara berkembang
selalu saja menjadi objek dari trend ekonomi global yang
diciptakan oleh negara maju khususnya negara-negara G8. Oleh karena itu keberpihakan kepada pasar berarti
memberi r uang yang makin luas pada diaspora
kepentingan-kepentingan negara kapitalis untuk terus saja
menjajah dan mengeksploitasi ekonomi negara berkembang
termasuk Indonesia.
Oleh karenanya, dalam konteks ini, SG berpendapat
bahwa kebutuhan saat ini adalah negara yang kuat (strong
state ) bukannya negara yang lemah. Kuat dalam
pengertian andal ( sound ), bukan kuat dalam pengertian
Globalisasi dan Budaya Lokal

SG
145

SG
146

represif atau otriter. Kuat (andal) dalam menghadapi krisis,


andal dalam mengelola anggaran juga kuat dalam
membasmi korupsi. Ide pelemahan negara yang terkandung
dalam GG jelas Machiavelist , dimana dikatakan untuk
memperkuat rakyat, maka negara haruslah lemah. Hal ini
pun masih ditambahi kesalahannya dengan kalau ingin
memperkuat pasar maka negara harus dilemahkan. Ini
adalah dasar filosofi dari teori GG yang jarang diketahui
oleh khalayak. Sehingga semua orang menganggap bahwa
GG baik-baik saja.
Dalam ketimpangan ekonomi global seperti ini, SG
menganggap yang menjadi pilihan dari negara berkembang
adalah melakukan konsolidasi internal, yang secara
bersamaan juga melakukan restrukturisasi sistem global.
Negara-negara berkembang harus memperkuat dirinya
dengan mengedepankan soft power (Ilgen, 2006). Yaitu
pendekatan-pendekatan persuasif di internal mereka untuk
memupuk secara lebih aktif nasionalisme mereka.
Sehingga orientasi pasar harus diletakkan pada posisi
paling belakang. Kesejahteraan rakyat ( social welfare )
hendaknya lebih dikedepankan ketimbang membuka luas
intervensi pasar dalam memainkan ekonomi nasional.
Logika pasar adalah logika provit taking yang seringkali
bertolak belakang dengan ide dasar negara dalam
penciptaan social welfare itu sendiri.

Reinventing Kearifan dalam Kultur Pemerintahan


Lokal

Hal yang memprihatinkan dalam khazanah ilmu pemerintahan dan administrasi publik di Indonesia adalah
sangat sedikitnya studi-studi tentang sejarah dan
pengalaman tata pemerintahan tradisonal warisan leluhur
di Indonesia. Padahal, sebagai bangsa yang kaya sejarah,
bangsa ini dulu memiliki ratusan pemerintahan yang tersebar di seluruh penjuru pelosok negeri. Sejarah pemerintahan Indonesia jauh lebih tua di bandingkan pengalaman
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

sejarah pemerintahan yang dimiliki Amerika Serikat.


Tetapi itu semua telah terkubur, tidak hanya oleh pengaruhpengaruh dari luar tapi juga telah dikubur oleh anak-anak
bangsa sendiri. Para pofesor dan petinggi negeri ini emoh
untuk melihat dan bercermin pada kekayaan sejarah
budaya bangsa sendiri. Seperti disebutkan Homi K.
Bhabha, para ahli di bidang pemerintahan lebih senang
berbicara dan berpikir ke barat-baratan agar lebih terlihat
mengagumkan, padahal itu semua hanya membuat mereka
tak lebih dari seorang penjiplak.
Praktis, ilmu administrasi publik di seluruh dunia,
termasuk Indonesia saat ini telah berlangsung dengan
sangat homogen dan menjemukan. Sejak zaman Birokrasi
Weber yang telah mendapatkan banyak kritik. Perlakuan
terhadap berbagai teori adminstrasi publik sejak dahulu
hingga saat ini sebenanrya tidak ada yang berubah.
Mungkin pernah mencuat pikiran Fredrickson di tahun 80an yang cukup radikal menolak segala bentuk pemikiran
Weberian dalam birokrasi, hingga terakhir konsep GG.
Atau berbagai perkembangan paradigma administrasi
publik (Henry, 1975) yang telah menjadi doktrin wajib di
dalam ruang-ruang perkualiahan mahasiswa semester
awal. Dimana kesemua itu penuh dengan omong kosong
yang membuat administrasi publik seolah-olah berubah
dan berkembang namun dalam kenyataan tidak ada
perubahan sama sekali.
Apa yang membuat ia tidak berubah sama sekali?
Jawabannya adalah kontrol dan homogenisasi atas nilai
Barat dalam setiap paradigma yang muncul. SG hadir
justru akan membongkar kejumudan itu. Bisa dibilang
sebenarnya SG adalah paradigma kedua dalam administras
publik. Sebab paradigma pertama adalah Adminitrasi
Publik Eurocentrisme (mulai dari Weber sampai GG)yang
saat ini harus segera di akhiri. Karena era kedua, yaitu
SG, hadir untuk menghormati keragaman budaya dalam
praktek administrasi publik di pelbagai belahan dunia.
Globalisasi dan Budaya Lokal

SG
147

SG
148

SG menjadi penting dalam konteks ini karena melihat


proses perkembangan administrasi publik tidak bisa
diseragamkan secara global. Negara berkembang memiliki
masalah dan dimensi sendiri dalam administrasi publiknya.
Demikian pula negara maju. Maka SG menyarankan
adanya pendekatan dan paradgima teoritik yang berbedabeda untuk mendekati satu negara dengan negara lain. Di
sinilah letak pentingnya budaya lokal dalam reformasi
pemerintahan. Sebab kegagalan-kegagalan yang ada
selama ini dalam penerapan pemerintahan adalah karena
banyak teori-teori dan konsep-konsep yang tidak mengakar
secara budaya. Sehingga penerapan konsep-kosep
administrasi pemerintahan itu hanya di permukaan saja.
Belum pernah ada kemauan dan kesempatan untuk
menggali teori atau strategi pembangunan adminisras
publik yang digali secara bottom up, berangkat dari budaya
masyarakat untuk mencari strategi yang tepat. Bukannya
mengimpor segala teori dan strategi mentah-mentah dari
luar. Hal ini juga bukan berarti mendorong pada semangat
nativisme, yang selalu berpandangan bahwa semua yang
dari luar selalu jelek dan semua yang dari dalam selalu
baik. Akan tetapi, yang jadi masalah adalah ketidakseimbangan dalam mengakomodasi aspek budaya sendiri
dengan injeksi nilai dari barat. Inilah persoalan intinya.
Yang terjadi selama ini bukanlah akulturasi ataupun
asimilasi, melainkan lebh pada penaklukan budaya. Proses
penaklukan budaya oleh Barat itulah yang dilawan dalam
SG bukan ide Barat-nya per se.
Masalahnya, yang terjadi selama ini, termasuk terakhir
dilakukan oleh GG, kesadaran ini tidak muncul. Masyarakat
dunia lebih memandang bahwa masalah tata pemerintahan
adalah persoalan teknis yang steril cultural boundaries.
Sebenarnya indoktrinasi global, terlebih yang dilakukan
negara-negara barat bukanlah barang baru. J.M. Blaut
(1993) misalnya, telah menjelaskan dengan gamblang
bagaimana konsep progress sebenarnya sangat
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

monolitik. Progress atau kemajuan adalah bentuk impian


atas masa depan dan konstruksi peradaban yang ideal
menurut kaca mata Barat. Apalagi ketika pemetaan
peradaban dunia hanya menjadi merupakan dua sisi biner,
yaitu baik-buruk, maju-terbelakang dan Western-The Rest.
Tentu saja, The Rest yang dimaksud di sini adalah trikontinental yang meliputi Asia, Afrika dan Amerika Selatan
(Shohat dan Stam, 1994). Eurocentrism sudah menjadi
pola dasar pembangunan peradaban sejak berpuluh tahun
lalu yang sangat dogmatis. Semua orang merayakan
eurocentrism ini, bahkan tak jarang orang non-Barat
berpikir dan berperilaku lebih barat dari pada orang barat
itu sendiri. Atau oleh Homi K. Bhabha disebut dengan
mimicry.
Sejak era 1960-an indoktrinasi eurocentrism yang
dihelat di tri-kontinental adalah pembangunanisme, atau
Growth Theory. Pasca Perang Dunia II, Amerika Serikat
membuat program rekonstruksi ekonomi negara-negara
Eropa Barat yang disebut Marshall Plan. WW Rostow
adalah salah satu arsitek dari program ini. Hingga
diterapkan kurang dari 5 tahun, strategi ini menuai sukses
besar. Perekonomian Prancis, Italia, Swis dan beberapa
negara Eropa lainnya pulih dalam waktu singkat.
Kemudian melalui IBRD (sekarang World Bank)
diperluaslah program ini hingga memasuki tri-kontinental.
IBRD bercokol di sana hingga lebih dari dua dekade namun
gagal di banyak tempat kecuali di Jepang, Korea Selatan
dan akhir-akhir ini di Taiwan.
Memasuki era 1980-1990an reformasi dan demokratisasi terjadi di banyak negara berkembang, terutama di
Asia dan Amerika Selatan. Doktrin teori Growth yang
ternyata begitu akrab dengan otoritariansme tak lagi laku
dipasaran. Sementara lembaga-lembaga internasional
seperti WB, IMF, UNDP, dan semacamnya harus segera
melakukan perubahan strategi demi menjaga legitimasi
keberadaannya. Di ruang seperti inilah kemudian di
Globalisasi dan Budaya Lokal

SG
149

SG
150

Indonesia saat itu muncul sebuah pendekatan yang di sebut


Good Governance. Ini adalah doktrin baru. Yang proses
internalisasinya di Indonesia dapat dilihat dalam lima lokus
yaitu Akademis, Konstitusi, Program/Proyek, Pemerintahan
dan Sosial Budaya.
Di bidang akademis wacana ini telah menjadi menu wajib
dalam setiap perkuliahan, utamanya dalam ilmu-ilmu
administrasi atau pemerintahan. Tulisan ilmiah, modul
kuliah, hingga ceramah-ceramah ilmiah belumlah absah
bila tak ada kata sakti ( buzzword ) GG di dalamnya.
Berbagai macam topik yang diperbincangkan dalam
ruang-ruang akademis itu telah menjadikan GG sebagai
bacaan wajib yang tidak hanya digunakan sebagai objek
konseptual tetapi menjadi pisau analisis utama. Bila coba
dilihat satu persatu kurikulum program Administrasi Publik
atau Kebijakan Publik (utamanya program Pasca Sarjana)
di kampus-kampus kita. Kurikulum yang ada masih
melihat betapa GG merupakan menu wajib. Di beberapa
perguruan tinggi terkemuka di Indonesia bahkan masih
mencantumkan Reinventing Government (yang lebih
terbelakang) dalam kurikulum akademik. Belum lagi kalau
kita melihat pada institusi-institusi pendidikan yang diprovide secara langsung oleh lembaga negara seperti
Badan Kepegawaian Negara, Lembaga Administrasi
Negara atau Lembaga Pertahanan Nasional. Meski
beberapa masih terlihat tertatih-tatih dalam memahami
GG, tetapi ambisi akademisnya terlihat kuat ke arah sana.
Tak kalah serunya, di ranah konstitusional, kita juga
melihat betapa GG bertebaran dalam hampir semua
konsideran konstituti kita. Kita tentu tidak hanya berbicara
tentang produk konsitusi yang berupa ratifikasi konvensi
bilateral maupun multi-lateral yang sudah barang tentu
mengandung banyak doktrin GG di dalamnya. Tetapi
produk perundangan yang diproduksi murni oleh lembaga
eksekutif dan legislatif kita pun tak luput dari doktrin GG
ini. lihat saja UU no 32 tahun 2004 yang tentang
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Pemerintahan Daerah dalam Pasal 27, misalnya. Dalam


undang-undang tersebut secara eksplisit dikatakan bahwa
tugas utama kepala daerah adalah menjamin pelaksanaan
GG (tata pemerintahan yang baik). Berbagai perangkat
peraturan tentang pemberantasan korupsi, hingga UU no.
11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh pun tak luput
dari cengkraman GG dalam konsiderasi utamanya. Secara
lebih serius lagi, BAPPENAS juga telah membentuk
Sekretariat Pengembangan Public Good Governance yang
secara periodik mengevaluasi sampai sejauh mana
internalisasi doktrin GG telah masuk ke kepala-kepala
perangkat pemerintahan di seluruh tanah air.
Program proyek yang ada di Indonesia baik tingkat
pusat maupun daerah, baik diselenggarakan oleh
pemerintah maupun LSM, semua juga tak luput dari
doktrin GG. Ambil contoh proyek paling masif di Indonesia
dari World Bank saat ini yaitu Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Dalam strategi dasar
pemberdayaannya ( community empowerment approach ),
PNPM mencantumkan GG sebagai prasyarat mutlak.
USAID, tentu saja, melalui Local Governance Support
Program (LGSP) telah memaksakan penerapan indikatorindikator good sebagai alat ukur kualitas penyelenggaraan pemerintahan di seluruh daerah. Lembaga
kemitraan atau partnership sebagai salah satu NGO
terbesar di Indonesia saat ini secara terang-terangan
mengatakan dirinya sebagai institusi yang berupaya
menyelenggarakan GG di Indonesia. Tak diragukan lagi
lembaga-lembaga yang ada di balik partnership adalah
lembaga donor negara-negara Eropa Barat dan Amerika
Utara. Sub-sub proyek dari lembaga ini juga bertebaran
di seluruh antero negeri, dengan melibatkan LSM-LSM
lokal di berbagai daerah.
Pemerintah tak mau kalah juga ter us ber usaha
mencitrakan dirinya sebagai pelopor gerakan GG. Dalam
pertemuan Asia Afrika tahun 2005 lalu, Presiden SBY
Globalisasi dan Budaya Lokal

SG
151

SG
152

dalam pidato sambutannya dengan lantang menyatakan


dukungannya terhadap GG. Sangat jauh berbeda dengan
apa yang dikatakan Julius K. Nyerere Presiden Tanzania
yang berani mengkritik habis GG dalam pidatonya di
hadapan Konfrensi PBB tahun 1998. Secara latah, kita
juga akan dengan mudah menyaksikan kepala-kepala
daerah dan para anggota dewan juga akan menyebutnyebut GG dalam pidato-pidato sambutan mereka.
Singkat kata, internalisasi GG telah terjadi begitu masif
di Indonesia, hingga menyentuh palung budaya terdalam.
Sebagian mungkin akan berkata bahwa kalau hal tersebut
memang baik apa salahnya diikuti. Yang menjadi perhatian
dalam bagian ini bukan untuk menilai baik atau buruknya
sebuah konsep. Akan tetapi tentang bagaimana proses
indoktrinasi dari sebuah konsep dari luar yang diinternalisir ke dalam.
Saat ini di dalam ranah ilmu sosial tengah marak
digandrungi sebuah teori yang disebut dengan Good
Governance (GG) atau sering diterjemahkan dengan Tata
Pemerintahan Yang Baik. Berbagai pihak baik dari
kalangan praktisi maupun akademisi di berbagai sektor
terasa jengah jika tidak menyandarkan pikiran dan
tindakannya pada teori ini. Salah satu pakar administrasi
publik terkemuka dunia, Geroge H. Fredrickson, pernah
menulis sebuah artikel pada tahun 2003 yang berjudul
Governance, Governance Everywhere. Dalam artikelnya
ini Fredrickson mengatakan bahwa saat ini seluruh sektor
yang ada di dunia ini, baik publik maupun privat, tengah
berlomba-lomba untuk mengatakan bahwa dirinyalah yang
lebih baik dalam menerapkan prinsip-prinsip governance.
Dan teori ini telah menjadi standar ukuran baik buruknya
sebuah praktek pengelolaan organisasi modern. Tak pelak,
lembaga-lembaga internasional seperti PBB, World Bank,
USAID, dan sebagainya, mensyaratkan penerapan GG
dalam setiap program yang mereka danai di semua negara.
Seperti kanker, GG kemudian menjalar dengan cepat ke
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

selur uh pembuluh darah kehidupan dan budaya


pemerintahan kita dan memakan setiap sel-sel tubuh
originalitas budaya pemerintahan bangsa ini.
Indonesia tak terhindar dari gerusan arus budaya global
ini. Salah seorang tokoh ilmu sosial yang sangat terkemuka
di negeri ini, Sutandyo Wignyosubroto, pada sebuah
kesempatan tahun 2006 lalu juga pernah menyampaikan
bahwa perkembangan teori demokrasi terkini adalah GG.
Belum lagi ketika kita melihat pakar-pakar ilmu sosial
lainnya yang juga seolah tak pernah sur ut dalam
mendukung teori ini. Di tataran praktek jauh lebih kolosal.
Mulai dari presiden, bupati, walikota, anggota dewan,
aktifis LSM bahkan sampai jurnalis secara kompak
mengkampanyekan betapa idealnya teori ini. Tak
mengherankan karena memang ada banyak bantuan dana
dari donor internasional bagi siapa saja yang mau
memasarkan teori ini di Indonesia. Kenyataan yang paling
fenomenal adalah Surat Keputusan Kepala Bappenas no.
354/m.ppm/11/23 tentang Pembentukan Tim Nasional Pembangunan Tata Pemerintahan Yang Baik. Ini menunjukkan
bahwa Pemerintah RI benar-benar telah menerima teori
ini sebagaimana layaknya bagian yang tak terpisahkan
dari keberadaan berbagai elemen otentik lainnya di negeri
ini.
Kesuskesan konsep ini dalam hal merobohkan semua
pandangan yang berbeda sangatlah luar biasa. Hingga
saat ini kita sukar sekali melihat adanya perbedaan
paradigmatik dalam ilmu-ilmu sosial yang sempat ramai
di Abad XIX hingga XX. Dapat dipastikan seluruh belahan
dunia sekarang tak berani berbeda pendapat ketika konsep
good governance dikatakan sebagai solusi berbagai
persoalan kehidupan di dunia ini. Mulai dari pengaturan
pemerintahan di level nasional hingga pedesaan, konsep
governance menjadi solusi. Bahkan sekolah, BUMN,
perbankan, dunia bisnis, ketua RT, warung hingga penjual
nasi goreng sekarang telah menyepakati bahwa mereka
Globalisasi dan Budaya Lokal

SG
153

SG
154

harus menerapkan governance theory dalam praktek


keseharian mereka.
Entah latah atau histeris, konsep ini telah membungkam
mulut, mata dan telinga kita sehingga kita yakin bahwa
seakan tak ada cacat darinya. Secara kultural, GG telah
membuat bangsa ini sebagai bangsa mutant. Ini hebat,
bahkan saat di berbagai portal gelap orang saling hujat
antar agama, tapi ketika membincang governance tak ada
secuilpun perbedaan. Semuanya satu pandangan, satu
suara, saking seragamnya sampai-sampai melebihi
keseragaman suara anggota DPR pada zaman Orde Baru.
Keseragaman yang jumud membuat tak berlebihan ketika
dengan nada sinis harus dikatakan bahwa good governance
telah menjadi sebuah agama baru yang melewati batasbatas budaya. Agama yang tanpa kritik dan tanpa cela.
Semua tindakan yang melakukan klaim bahwa ia berdasar
padanya maka tindakan itu pasti benar. Semua pendapat
yang di depannya mengutip kata itu, maka pendapat itu
pasti benar. Semuanya yang ada di depan, di tengah, di
belakang bahkan di balik good governance maka semuanya
pastilah benar.
Padahal sesungguhnya spirit dari good governance
adalah meminimalkan peran negara (minimizing state) dan
mengedepankan pasar ( market oriented ). Ini sekaligus
menunjukkan betapa teori ini tidaklah mampu menempatkan dirinya, secara konseptual, berada pada pihak rakyat
terlebih di negara berkembang. Kita semua sama-sama
tahu bahwa pasar hari ini dikuasai oleh negara-negara
maju. Kapital dan teknologi pengendali ekonomi dunia
tidaklah berlaku secara equal. Negara berkembang selalu
saja menjadi objek dari trend ekonomi global yang
diciptakan oleh negara maju khususnya negara-negara G8. Oleh karena itu keberpihakan kepada pasar berarti
memberi r uang yang makin luas pada diaspora
kepentingan-kepentingan negara kapitalis untuk terus saja
menjajah dan mengeksploitasi ekonomi negara berkembang
termasuk Indonesia.
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Seperti pernah diprediksikan oleh Alvin dan Heidi


Toeffler (1970) trend global hari ini bahwa perusahaan
multinasional mempunyai kecenderungan untuk memecah
usahanya menjadi kecil-kecil. Dimana dengan demikian
berarti perusahaan-perusahanaan multi-nasional/PMN
(multi-national corporations) akan memiliki banyak tangantangan produksi dan pemasarannya di seluruh sudut
belahan dunia. Dengan tangan-tangan guritanya itu
perusahaan-perusahaan ini akan makin mudah untuk menjangkau pasar dan menumpuk keuntungannya. Berangkat
dari kecenderungan itu maka perbincangan seperti GG ini
selalu dilekati dengan kekhawatiran bahwa sebuah bangsa
akan semakin dieksploitasi oleh kapitalisme global. Pikiran
semacam ini muncul karena dalam konsep GG, daerah
berhak mencari dan mengelola sumber dana dari luar
negeri atas inisiatifnya sendiri. Dalam hal ini tentunya juga
kerja sama bisnis dengan lembaga-lembaga perdagangan
internasional. Kebebasan kerjasama antar daerah dan
internasional ini apabila dilihat sekilas memang sangat
membuka ruang bagi terkembangnya eksploitasi global.
Proses eksplotasi yang difasilitasi oleh penaklukan budaya
adalah cermin dari ekonomi politik dunia. Sistem tata
pemerintahan yang monolitik juga tak lepas dari praktek
tersebut.
Sebuah studi yang sangat menarik dari Andi Ahmad
Yani (2007) tentang Perilaku Politik Orang Bugis dalam
Dinamika Politik Lokal sangat menarik untuk dikemukakan
dalam konteks ini. Secara sangat detail dijelaskan dalam
essai tersebut bahwa tidak hanya sejarah tata
pemerintahan Bugis tetapi juga berbagai nilai yang terkandung di dalamnya. Lebih menarik lagi ketika Yani
membongkar maksud filosofis dari sebuah sistem relasi
sosial yang terbangun dalam proses governance di Bugis
sebelum masa kolonialisme. Meskipun masih terkesan
melakukan verifikasi atas kebenaran teori-teori barat
seperti Hobbes, Locke dan Rousseau dalam pebentukan
Globalisasi dan Budaya Lokal

SG
155

SG
156

masyarakat dan negara di pemerintahan Bugis kuno, tetapi


bentuk penghormatan atas kearifan budaya lokal cukup
nampak dalam tulisan itu.
Contoh paling nyata adalah figur kepemimpinan
kharismatik yang sangat dihormati dan diluhurkan oleh
rakyat. Pempimpin yang melindungi dan mengayomi,
sementara rakyat bekerja dan berakivitas dalam
keseharian mereka dengan tentram. Pemimpin yang tidak
didapat dari proses yang kompetitif, seperti konsep-konsep
kepemimpinan yang jamak dikenal hari ini. Konsep
pemimpin yang bukan penguasa. Legitimasi kepemimpinan
yang didapat dari reciprocity atas apa yang diberikan
pemimpin pada rakyatnya dan apa yang didapat pemimpin
dari rakyatnya, bukan hubungan dominatf dan eksploitatif
antar kelas. Konsep kepemimpinan seperti ini untuk saat
sekarang tak lagi dianggap masuk akal. Sejak kapan pola
hubungan kepemimpinan seperti ini tidak masuk akal?
Sangat jelas, sejak pola pikir monolitik yang berdasar game
theory menjalar di seluruh dunia, melalui kolonialisme,
termasuk sampai jauh ke pedalaman masyarakat Bugis.
Colombus dan kapal-kapalnya telah memulai sejarah
baru dalam homogenisasi sejarah dunia. Hal ini pulalah
yang secara langsung berpengar uh pada penguatan
paradigma pertama dalam administrasi publik (Birokrasi
Weber sampai GG) yang bertahan hingga lebih dari seratus
tahun. Istilah hubungan patron-client misalnya, sekarang
kata itu telah dikenal khalayak luas degan konotasi yang
sangat buruk. Sekali lagi, Yani, dengan sangat gemilang
menjelaskan bagaimana konsep origin dari patron-client
sebelum kolonialisme, kemudian terjadinya pemelintiran
di masa kolonial, dan kemunculan kembali hubungan
patron client ala kolonial di masa sekarang. Dan orangorang ramai menghakimi patron-client kolinialisme jilid II
ini tanpa mau menoleh nilai filosofi dasar dari versi aslinya.
Masyarakat menjadi bingung menentukan yang salah,
apakah hubungan patron-client itu ataukah kolonialismenya.
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Hal di atas adalah hanyalah contoh kecil semata. SG


memiliki perhatian yang sangat serius atas aspek budaya
lokal dalam pembentukan sisten tata pemerintahan di
seluruh dunia. Oleh karenanya sejak awal SG tidak mau
ada standardisasi yang baku dan kaku untuk mengukur
kualitas tata pemerintahan. Sebab hal itu hanya akan
memungkiri kenyataan betapa beragamnya budaya di
dunia ini. Dan tata pemerintaan adalah sebuah instrumen
yang mengatur manusia, masyarakat dan peradaban. Oleh
karenanya tidak mungkin hanya ada satu patokan yang
dipakai dalam penyelenggraannya. Cara penyeragaman
seperti itu hanya akan menghasilkan pemborosan, karena
progam tak akan pernah mengakar pada budaya dan cara
hidup masyarakat. Kualitas tata peerintahan kemudian
hanya akan berakhir menjadi dokumen laporan bulanan
atau tahunan yang akan menumpuk di sudut gudang yang
gelap.

SG
157

Globalisasi dan Budaya Lokal

BAB VII

PENUTUP

SG
158

erakhirnya era GG bukanlah disebabkan karena


kekalahannya dalam menghadapi konsep
tandingannya. Saat dimana GG harus ditinggalkan
sebagai sebuah paradigma besar bukanlah saat seperti
runtuhnya tembok Berlin atau masuknya China ke dalam
WTO. Kegagalan GG bukanlah hasil dari sebuah peperangan dikotomik, tidak pula sama dengan kekalahan
ide sosialisme atas kapitalsime. Berakhirnya GG adalah
disebabkan kontradiksi internalnya yang tidak berhasil
menjawab persoalan riil yang ada di depan mata. Bahkan
proses bunuh diri ini terjadi akibat kegagalannya memahami realitas dunia dimana ia tinggal. Pun ketika SG
hadir bukanlah sebagai pemenang dari sebuah pertarungan. SG hanya datang mengisi ruang kosong yang
menganga baik semasa era kejayaan GG, maupun saat antiklimaks kekuasaannya.
Dominasi GG sebagai sebuah paradigma tunggal yang
diagung-agungkan orang di seluruh penjuru dunia memang
telah melewati tengah hari, meski hari belumlah senja.
Hegemoninya masih kita rasakan di banyak tempat hingga
saat ini. Tidak hanya di ruang-ruang kuliah maupun jurnaljurnal ilmiah, di media massa dan bahkan kantor-kantor
pemerintahan dan swasta pun masih dijangkiti wabah GG
ini. Seperti agama bar u, ia telah menembus batas
rasionalitas masyarakat pengikutnya sehingga tak ada
ruang tanpa dosa bagi mereka untuk mempertanyakan

SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

keabsahannya. Ibarat mantra sihir GG telah menghipnotis


akal sehat orang-orang pandai di negara-negara
berkembang, termasuk Indonesia, sehingga tak mampu
mengelak untuk melakukan apapun perintah dari si tukang
sihir. Tidak dengan menggunakan sapu lidi dan tingkat
ajaib tentunya, tapi internalisasi ini dilakukan dengan
sangat rapi dan kolosal melalui lembaga-lembaga donor
internasional, institusi politik global dan perusahaan multinasional. Keberhasilan proses hegemoni ini selalu
dirayakan dengan kata penutup wajib elite politik Amerika
Serikat, yaitu menyebarluaskan demokrasi ke seluruh
penjuru dunia.
Perdebatan tentang perbedaan demokrasi dan
demokratisasi di dalam diskursus politik sudah cukup
jelas. Term demokrasi sebagai sebuah ide memang baik
dan harus ditegakkan dalam berbagai aspek kehidupan di
muka bumi ini. Akan tetapi ketika demokrasi telah
didefinisikan secara sepihak dan pihak yang mendefinisikan
itu memaksakan definisinya untuk juga diamini oleh pihak
lain, itu lain soal. Dalam konteks tersebut demokrasi justru
menemukan paradoksnya. Hal ini akan lebih terasa ketika
kita bertemu dengan kata demokratisasi. Sebab dalam
demokratisasi ada upaya secara sengaja, terencana,
terorganisir dan sistemik untuk mewujudkan demokrasi.
Sejauh ide yang hendak diwujudkan itu tidak monolitik dan
tidak ada unsur pemaksaan di dalamnya, demokratisasi
boleh-boleh saja. Tetapi ketika sudah ada paksaan, baik
dari segi definisi maupun teknis pelaksanaan, pada saat
itu demokratisasi juga telah membunuh makna dasar
demokrasi itu sendiri.
Dalam kenyataannya GG adalah bagian dari paradok
demokratisasi seperti telah disebutkan di atas. Sebab dalam
GG telah disebutkan secara eksplisit tentang defines
demokrasi seperti apa yang harus dipakai. Bahkan juga
tentang petunjuk yang sangat teknis tentang bagaimana
demokrasi itu harus dicapai. Pemaksaan konsep GG yang
Penutup

SG
159

SG
160

dilakukan oleh lembaga-lembaga donor internasional


adalah bentuk otoritarianisme dari sebuah gerakan
demokratisasi. Sangat menyedihkan.
Hal yang paling membuat GG menjadi tidak berhati
dalam menghadapi kritikan adalah diabaikannya realitas
besar globalisasi dalam skema teoritisasinya. Globalisasi
adalah sebuah ide sekaligus realitas. Dikatakan realitas
sebab fenomena ini bukan hanya baru muncul akhir-akhir
ini setelah adanya revolusi informasi ataupun maraknya
bisnis transnasional terutama dibidang finance. Akan
tetapi jauh sejak ratusan tahun lalu akar-akar globalisasi
juga telah ada yang kemudian mencapai puncaknya pada
abad XIV saat dimulainya babak imperialisme di dunia.
Sebagai sebuah realitas ada tidaknya globalisasi juga bisa
dibilang sama saja, sebab dalam titik diskursus tertentu
batas antara yang lokal dan yang global juga semakin
kabur. Budaya bar u hanyalah mer upakan bentuk
kombinasi baru antara budaya-budaya kuno. Sebagai
sebuah ide, globalisasi tentu memiliki akar epistemologisnya
sendiri. Seseorang telah menciptakan kata itu dan
melekatkannya pada sebuah fenomena yang dianggapnya
nyata. Dalam pada ini globalisasi menjadi tidak lagi bebas
nilai. Seseorang mungkin hanya menjalankan bisnisnya
untuk mencari untung, sebagaimana layaknya pedagang.
Dan dia mulai menjual barang dagangannya ke Singapura
dan Malaysia. Dari situ maka produk yang dijualnya masuk
ke pasar dunia, maka saat itu dia telah menjadi salah satu
aktor dalam globalisasi. Tetapi barangkali tidak bagi yang
bersangkutan, dia hanya mencari uang, menjual barang.
Pada titik inilah globalisasi menjadi barang yang juga
diperdebatkan, apakah ia realitas objektif atau gagasan?
Kenyataanya kita sudah melihat dengan jelas bagaimana
perusahaan multi-nasional bekerja di seluruh dunia,
dengan mudah me-lock out pabriknya di Indonesia karena
banyaknya demo buruh dan memindahnya ke China, hanya
dalam hitungan minggu. Atau masuknya ide-ide yang
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

disusun di sebuah ruang di Manhattan masuk sampai ke


pelosok desa di Indonesia melalui proyek-proyek PBB,
Bank Dunia, ADB dan sebagainya? Dan bagaimana
serangan teroris di Madrid dan London membuat
pemerintah menerima kucuran dana di dalam APBD nya
untuk membuat program anti-teroris dari Uni Eropa? Itu
semua adalah tanda-tanda yang paling tangible atas
globalisasi yang secara aneh tidak disadari oleh GG.
Dari semua resep yang ditawarkan GG dalam
melakukan pembangunan sebuah negara dan pemerintahan aspek global ini selalu absen. Dari segi konseptual
GG sama sekali mengabaikan bagaimana tata ekonomi
politik dunia, secara langsung maupun tidak langsung,
berpengaruh terhadap per wujudan praktek tata pemerintahan di dalam negeri. Dari segi praksis dapat
terlihat bagaimana GG hanya melihat tiga aktor saja; pasar,
negara dan masyarakat sipil sebagai pihak yang harus
terlibat dalam tata pemerintahan. Sementara dalam
kenyataannya aktor-aktor global sangat berperan dalam
membentuk kenyataan sehari-hari. Sebenarnya hal ini
tidaklah terlalu mengherankan, sebab GG adalah anak
kandung dari neo-liberalisme yang bernenek moyangkan
fungsionalisme, padangan yang bersiteguh bahwa sebab
utama problem negara-negara berkembang hanya faktor
internalnya belaka. SG hadir sekali lagi tidak dalam rangka
menyerang dan mengalahkan GG. Secara prinsip ia hanya
mengisi ruang kosong yang tidak tersentuh oleh GG, seperti
faktor globalisasi ini. SG menempatkan pentingnya
restrukturisasi global sebagai bagian dari upaya perbaikan
tata pemerintahan dan menempatkan aktor internasional
sejajar dengan tiga aktor lainnya yang juga harus duduk
bersama secara egaliter memacahkan persoalan-persoalan
rill sosial yang ada di depan mata.
Seiring dengan adanya realitas buruk globalisasi dan
demokratisasi yang mengantarkan dunia menjadi teruniformisasi, satu lagi kelemahan dasar GG terkuak. Yaitu
Penutup

SG
161

SG
162

tidak ramahnya GG terhadap keberadaan kearifan budaya


lokal. Di Indonesia sendiri sejarah pemerintahan bukanlah
seumur jagung, bahkan lebih tua dari pohon asam yang
mungkin telah tertanam jauh sebelum proklamasi 1945.
Kebesaran kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Singosari, Kutai
dan sebagainya seolah telah menjadi sebatas dongeng
pengantar tidur. Secara keji pakar dan praktisi pemerintahan kita pada jaman itu telah diubah menjadi cerita-cerita
sinetron sampah. Kaum terdidik lebih hormat pada sistem
pemerinthana Eropa dan Amerika Utara dan tak pernah
belajar tentang sistem pemerintahan bangsanya sendiri.
Sejarah kejayaan nusantara telah digelapkan menjadi
sebatas budaya primitif patron-client yang kuno dan tidak
demokratis belaka. Dalam ilmu administrasi publik sendiri,
sejak Konsep Birokrasi Weber hingga GG, praktis tidak
melahirkan kajian yang bar u dan kritis. Semuanya
monoton dan memberangus keberadaan budaya lokal lalu
mencangkokkan sistem impor ke dalam tubuh bangsa ini.
Kondisi itu mirip seperti keberadaan formalisasi enam
agama resmi yang semuanya dicangkokkan ke bangsa ini,
sehingga menegasikan keberadaan agama-agama lokal
yang sejatinya sejak ratusan tahun sudah ada sebelum
agama-agama resmi hadir ke bumi pertiwi. SG justru
hadir dalam rangka menghapus penyeragaman itu dan
mempersilahkan budaya-budaya lokal untuk tumbuh dan
mengekspresikan dirinya secara lebih leluasa. Tentu ini
bukan mengarahkan pada sikap nativisme. Hanya saja,
ruang dan kesempatan budaya lokal dalam pemerintahan
untuk secara adil berkontestasi dengan wacana modern
yang sekarang ada. Toh sistem tata pemerintahan adalah
sesuatu yang hidup bersama masyarakat, sehingga sudah
seharusnya ia berangkat dari akar budaya yang telah lama
hidup di masyarakat.
Ada dua neo yang sangat kontekstual dalam membincang persoalan dunia hari ini, yaitu neo-kolonialisme
dan neo-liberalisme. Dua-duanya sekaligus juga menjelasSOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

kan apa yang telah dan sedang dilakukan oleh GG


khususnya pada Negara-negara berkembang.
Neo-kolonialisme terlihat pada dua hal. Pertama, aspek
psiko-kultural dimana masyarakat dunia berkembang saat
ini terlalu mengiblatkan dirinya kepada semua produk
budaya dan peradaban yang berasal dari barat. Proses ini
sering disebut dengan mimicry, yang diterjemahkan bukan
sekedar proses meniru atau menyerupakan diri, tetapi
menghadirkan eksisitensi kolonial ke dalam sendi kehidupan bangsa terkoloni secara mendasar. Secara
perlahan proses ini melanggengkan imperisalisme sebab
proses kolonialisme akan berlangsung dengan sendirinya,
bahkan dilakukan secara suka rela oleh bangsa sasaran
dominasi itu sendiri. Frantz Fanon secara vulgar
mengatakan bahwa keberadaannya dan kaumnya baru
mendapat pengakuan dan penghargaan yang layak sebagai
manusia seutuhnya bila telah menerima semua cara hidup,
berpikir dan berperilaku ala barat (white). Dalam konteks
GG, hal ini terlihat dari para pakar ilmu sosial khususnya
administrasi publik dan para birokrat yang berbusa-busa
meyakinkan orang bahwa mereka sungguh-sungguh
membela apapun yang dimau oleh imperialis-imperialis
penyokong GG.
Kedua, secara ekonomi politik, neo-kolonialisme terlihat
dari praktek internalisasi koersif yang dilakukan lembagalembaga donor besar dunia semacam World Bank, UN,
USAID dan sebagainya agar Negara-negara berkembang
mau menerima ide ini, sampai ke aspek-aspek teknisnya.
Perilaku semacam ini sama sekali tidak ada bedanya
dengan apa yang mereka lakukan jauh sebelum GG hadir
ke muka bumi, yaitu melalui sebuah strategi yang
dinamakan SAPs ( structural adjustment programs). Dan
saat ini dalam bentuk yang berbeda ternyata GG sudah
menjadi bagian dari SAPs yang telah banyak bukti hal itu
menyengsarakan dan mengeksploitasi ekonomi Negara
berkembang di tahun 1980an sampai 1990an.
Penutup

SG
163

SG
164

Neo-liberalisme sangat jelas adalah fundamen ideologi


dari GG itu sendiri. Upaya untuk mengerdilkan institusi
negara dan membuka seluas-luasnya pintu pasar bebas
adalah tujuan utama dari GG. Hal ini dapat dilihat dari
berbagai pernyataan dari petinggi-petinggi World Bank
maupun IMF di berbagai pidato-pidato resmi mereka. Tak
heran bila isu ini juga sering diangkat oleh pakar maupun
politisi yang kritis terhadap gerakan ganas neo-liberalisme
yang saat ini tengah berlangsung. Ideologi adalah sebuah
cara pandang manusia atas dunianya, dan pandangan yang
bersifat ideologis adalah pandangan picik yang menganggap bahwa semua orang harus sama dan sebangun
dengan world view-nya. Dalam konteks GG, kata good
adalah ideologis. Sebab untuk menjadi baik semua orang
harus melakukan sesuatu yang sama dan seragam. Yakni
standar yang ditetapkan oleh para agen neo-liberalisme di
kantor-kantor pusat IFIs. Pejabat-pejabat IFIs selalu
mengatakan betapa pentingnya negara-negara berkembang mengikuti resep-resep reformasi ekonomi dan
pemerinthana dari mereka agar segera terlepas dari
kemiskinan. Dan GG adalah merupakan resep utama yang
pasti selalu disyaratkan. Sejak zaman developmentalism
praktek pemaksaan resep ini selalu dilakukan oleh IFIs.
Apa hasilnya? Sampai sekarang gap antara negara maju
dan negara berkembang kenyataannya masih sangatlah
jauh. Tidak berubah meski dalam kurun waktu empat puluh
tahun terakhir. Yang ada justru sebaliknya, negara kaya
makin besar kekayaannya, tentu saja dengan mengaksploitasi berbagai macam sumber daya dari negara
berkembang. Neo-liberalisme yang mengagungkan pasar
bebas tidak lebih hanya akan menguntungkan perusahaanperusahaan multi-nasional. Dan GG pun hanyalah alat dari
pencapaian tujuan ideologis neo-liberalisme tersebut. Yang
lebih memprihatinkan adalah untuk menerima proses eksploitasi itu, negara-negara berkembang harus pula menerima masuknya proyek-proyek GG ke dalam negaranya.
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Tidak gratis, semua proyek-proyek GG itu adalah berupa


hutang!
Di samping memasukkan faktor global dan budaya lokal
dalam hitungan, ada beberapa hal pokok yang membuat
SG layak dikatakan sebagai arah bar u paradigma
pembangunan menggantikan GG. Salah satu hal terpenting
adalah inovasi. Ketimbang membuat daftar panjang yang
berisi indikator-indikator kelayakan untuk disebut good
yang bersifat hegemonic, SG lebih mengedapankan adanya
dimensi-dimensi. Dimensi yang dimaksud di sini bukan
untuk menjadi petunjuk teknis yang harus diikuti semua
bangsa di dunia, melainkan ini hanya gambaran kondisi
ideal yang bersifat sangat umum dan generik. Dengan
demikian ruang bagi munculnya inovasi, utamanya dalam
praktek pemerintahan dan kebijakan public, sangat
terbentang luas. Dimensi-dimensi yang dijelaskan pada bab
IV sangat berbeda sifatnya dengan 10 prinsip yang ada
dalam GG. Sebab dalam dimensi-dimensi yang ada dalam
SG ini hanya memuat garis besar, sedangkan bagaimana
cara mencapainya tidak ada cara dan strategi tunggal.
Semuanya mengandalkan inovasi. Keseimbangan antara
orientasi output dan proses inilah yang menjadi ciri dasar
SG sebagai sebuah metode. Berbeda dengan GG yang over
confidence mengatakan bahwa bila semua negara
melakukan 10 prinsipnya dengan baik maka secara
otomatis output kesejahteraan akan tercapai. SG
mengedepankan output kesejahteraan rakyat sebagai
tujuan utama pemerintahan. Akan tetapi inovasi tetapi
tidak dilepas begitu saja. Tetap ada dasar-dasar nilai luhur
yang sifatnya universal yang harus selalu dijunjung tinggi,
seperti hak dasar kemanusiaan misalnya. Inilah yang
membedakan inovasi dengan seenaknya sendiri. Inovasi
memiliki tujuan yang jelas dan stanbdar universal luhur
yang selalu dipatuhi. Sebab bila SG kembali membuat
prinsip-prinsip dan indikator teknis yang harus dicapai,
maka SG tak akan berbeda dengan GG, terjebak dalam
perilaku dogmatisme.
Penutup

SG
165

SG
166

Hal lain yang memberikan kebaruan dalam SG adalah


semangatnya yang berusaha menjauh dari eurocentrism .
Upaya menjauhkan diri SG dari Eurocentrism ini bukan
berarti memberikan ruang bagi maraknya oksidentalisme
yang bersifat anti-barat atau pokoknya bukan barat. Tetapi
lebih menempatkan ide barat dalam konteks provinsionalisme, yaitu sebuah upaya yang menempatkan ide dan
gagasan barat baik dan kontekstual untuk wilayah dan
peradabannya, yang tidak perlu disebarluaskan secara
global. Demikian juga dengan ide dan gagasan dari Timur
yang merupakan gagasan untuk bangsa dan masyarakat
Timur. Bila ternyata suatu saat ada persinggungan dan
proses dialog di antara mereka, maka hal itu seharusnya
terjadi secara alamiah dan melalui proses transformasi
yang seimbang dan egaliter. Ketidakadilan yang dilakukan
orientalisme selama ini bukan berarti harus dilawan dengan
kekejaman yang sama berupa oksidentalisme. Sebab pada
titik tertentu kedua kutub tersebut justru tiada beda satu
sama lain.
Ketidakadilan global yang selama ini ada membuat
proses trasformasi ide berjalan timpang, hubungannya
menjadi seperti juragan dan kacung (buruh). Lembagalembaga donor internasional (IFIs) bertingkah pongah
seperti juragan, sementara pemerintah negara-negara
berkembang nampak seperti kacung yang disuruh-suruh.
Dengan provisionalisme bukan berarti akan dilakukan balas
dendam, si kacung menindas si juragan, tapi menghilangkan hubungan dominatif itu. Ini agenda besar yang hendak
dibangun oleh SG. Cara SG membangun agenda besar itu
adalah dengan menempatkan empat level dasar yang harus
dilakukan dalam reformasi tata pemerintahan dan harus
dilakukan secara simultan. Empat level tersebut adalah;
lokal, nasional, regional dan internasional. Bagaimana pola
dan strategi untuk menciptakan reformasi yang egaliter
dan sekaligus sistemik di empat level tersebut telah
dijelaskan dalam bab IV.
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Kategorisasi aktor adalah hal yang paling fenomenal


dalam SG. Tidak hanya berkutat pada tiga aktor dasar
yang ada dalam GG, satu aktor tambahan yang justru
sangat penting telah ditambahkan dalam konsep SG, yaitu
aktor internasional. Aktor internasional ini mencakup
lembaga-lembaga donor internasional, lembaga multilateral, perusahaan multi nasional dan aktor-aktor yang
secara langsung berpengaruh terhadap tatanan politik dan
ekonomi global. Mereka adalah aktor utama yang
menyebabkan wajah dunia menjadi seperti apa yang kita
lihat sekarang. Melalui investasi dan invasi yang mereka
lakukan, perubahan dunia baik secara fisik maupun nonfisik telah terjadi. Sehingga sangat aneh ketika selama ini
hanya disimplifikasi dalam tiga aktor; negara, pelaku bisnis
dan masyarakat sipil saja. Hanya mereka yang harus
berbicara, berembug dan beripikir bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan riil. Tetapi biang keroknya
justru tidak pernah diajak berbicara. Bukankah mereka
yang paling bertanggungjawab atas semuanya dan
sekaligus memiliki kapasitas yang sangat memadai untuk
melaksanakan jalan keluar yang telah ditetapkan? Dalam
konteks aktor ini, buku ini juga mengkritik realitas tiga
aktor yang selama ini diandalkan GG dapat mengatasi
permasalahan sosial. Negara yang sampai sejauh ini hanya
menjadi pusat konspirasi politisi dan pengusahan untuk
menumpuk harta dan kekuasaan dimana pada waktu yang
bersamaan juga harus menjadi pelayan bagi perusahaan
multi-nasional. Masyarakat sipil, dalam hal ini NGO yang
ternyata juga banyak yang kebingungan menentukan jati
diri dan keberpihakannya di tengah gerojokan dana-dana
dari luar negeri yang membuat dirinya juga tak beda jauh
dengan Negara, yakni menjadi komprador. Sementara
pengusaha, selama ini juga masih asyik masyuk dengan
urusan dapurnya sendiri, yakni mencari untung sebanyakbanyaknya. Semntara GG selama ini menutup mata atas
realitas kegilaan aktor-aktor tersebut. GG hanya mePenutup

SG
167

SG
168

mandang bahwa seolah negara, bisnis dan masyarakat sipil


hanya butuh dipertemukan dan diajak duduk semeja dan
masalah akan selesai. GG tidak sadar bahwa di dalam diri
para aktor itu sendiri tengah dilanda penyakit dalam yang
telah lama membusuk.
Tidak sedikit kalangan praktisi yang mengeluhkan
dinamika perkembangan ilmu-ilmu sosial. Mereka merasa
belum tuntas dalam mengerjakan satu konsep, tiba-tiba
sudah muncul konsep lainnya. Belum selesai pekerjaan
untuk mengimplementasikan satu ide sudah keburu muncul
ide tandingannya. Tidak hanya di dunia profesional,
kegelisahan ini juga ditemukan di kalangan akademisi.
Beberapa dosen juga sempat mengeluhkan tentang
dinamika konsep-konsep ilmu sosial khususnya administrasi publik. Karena belum selesai menuntaskan satu silabus
perkuliahan, sudah muncul konsep baru. Beberapa justru
mengeluhkan bahwa dinamika konseptual ini akan
membuat mahasiswa menjadi bingung. Karena pada
minggu kemarin baru saja diajarkan, tiba-tiba minggu ini
konsep itu telah dir untuhkan dengan konsep bar u.
Pandangan-pandangan seperti itu tentu saja sangat disayangkan. Perkembangan ilmu adalah hal yang wajar.
Ilmuwan eksakta malah lebih dewasa menyikapi jatuh
bangunnya sebuah teori. Mereka percaya bahwa kemunculan teori-toeri baru adalah tanda bahwa dunia tidak
tidur. Manusia terus bergerak dan berpikir. Terus berusaha
mencari jalan terbaik bagaimana caranya untuk hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Samuels, K, 2008, Cities and Governance in Mozambique,


paper in Public Affairs Seminar in LBJ School
University of Texas at Austin
Renzio, P., Good Governance and Poverty Some Reflections
Based on UNDPS Experience in Mozambique. UNDP:
NY

SG

Farazmand A., Sound Governance in the Age of the Age of


Globalization , in Ali Farazmand, ed., Sound
Governance: Policy and Administrative Innovations
(Westport, CT: Praeger, 2004)

169

Wilson R. H., Understanding Local Governance: An


International Perspective, Revista de Administracao
de Empresas, Vol 40, no. 2, April/June, 2000, pp. 5163.
World Bank, Equity and Development, World Development
Report: 2006 (Oxford University Press, 2005),
Overview, pp. 1-17.
Blaut, J. M., 1993, The Colonizers Model of the World:
Geographical Diffusionism and Eurocentric History,
Guilford Press, NY/London
Shohat. E, Stam. R., Unthinking Eurocentrism :
Multiculturalism and Media, New York: Routledge,
1994

SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Daftar Pustaka

Bhabha, H., Nation and Narration, Routledge, 1990.

SG
170

Jones, R.J. (ed.), Bretton Woods System , Routledge


Encyclopedia of International Political Economy
(Routledge,2002)

Governance: Policy and Administrative Innovations


(Westport, CT: Praeger, 2004)Farazmand, 1989. The
state Bureaucracy and Revolution in Modern Iran:
Agrarian Reform and Regima Politics. New York:
Praeger

Lobe, J., US Blocks Stronger African Voice at World Bank


NGO, Inter Press Service, June 26, 2003 http://
www.globalpolicy.org/socecon/bwi-wto/wbank/2003/
0626blocks.htm

Knox P. and Agnew J., The Geography of the World


Economy , 4th edition (London: Arnold, 2003),
Chapters 1 and 2.

Chatterjee, P., The Nation and Its Fragments, Princeton


University Press, 1993

Panayiotopoulos P., and Capps G., eds., World Development:


An Introduction (London: Pluto Press, 2001). pp. 3597

Caufield, C., Masters of Illusion: The World Bank and the


Poverty of Nations. New York: Henry Holt and Co.,
1997

Prakash, G., Whos Afraid of Postcoloniality?, Social Text


49, Vol. 14, No. 4, Winter 1996, Duke University Press

Mongia, Contemporary Postcolonial Theory, London: Arnold,


1996 Moore, D., The World Bank, University of
KwaZulu-Natal Press, 2007

Jessop, B., Good Governance and the Urban Question: On


Managing the Contradictions of Neo-Liberalism,
Comment on Urban21 Published in German in
MieterEcho June (2000) (placed on www:12th May,
2001)

Herrera, R., Good Governance against Good Government?,


Tuesday 2 March 2004 http://www.alternatives.ca/
article1144.html
IMF Survey Vol. 35 No. 17 - 11 September 2006

McChesney, R. W., David Horowitz and the Attack on


Independent Thought . Published on Tuesday,
February 28, 2006 by CommonDreams.org

Spivaks, G. C., Can the Subaltern Speak?, in Cary Nelson


and Lawrence Grossbergs Mar xism and the
Interpretation of Culture, 1988

Kaldor, M., The Idea of Global Civil Society, International


Affairs 79,3 (2003), pp. 583-593.

Fanon, F., 1986, Black Skin, White Mask, Pluto Press.


London

Tetzlaff, R., International Organizations (World Bank, IMF,


EU) as catalyst of democratic values, rule of law and
human rights successes and limits, A discussion
paper for the panel: Survey of Civic Education and
Human Rights Curricular Materials Disseminated by

Farazmand A., Sound Governance in the Age of the Age of


Globalization, in Ali Farazmand, ed., Sound
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Daftar Pustaka

SG
171

major International Organizations In Denver/


Colorado September, 2006-09-13
Fairclough, N. 1989. Language and Power , London:
Longman
Alavi, Hamza, 1991, The Structure of Peripheral Capitalism,
Sage Publication Ltd: London

Daniel, Elton, The History Of Iran, Greenwood Press, 2001


Islamy, M. Ir fan, 1997, Prinsip-Prinsip Per umusan
Kebijaksanaan Negara, Bumi Aksara, Jakarta
Wilson, Edward Osborne, The Diversity Of Life (Questions
Of Science),Textbook Reviews, Ny

Cardoso, F. H., 1979, Dependency and Development in Latin


America, UCLA Press, Los Angeles, Berkeley.

Fred W. Riggs, Comparative Government , Public


AdministrationDeveloping Countries, Developing
CountriesPolitics And Government, Duke University,
Durham, Nc

SG

Budiman, Arief, 1991, Teori Pembangunan Negara Keitga,


Gramedia: Jakarta

Putra, 1999. Devolusi: Rekonsiliasi Ketegangan Politik


Negara-Rakyat, PB PMII Kopri dan Pustaka Pelajar

172

Giddens, Anthony, 1986, Kapitalisme Dalam Teori Sosial


Modern: Suatu Analisis Terhadap Karya Tulis Marx,
Durkheim Dan Weber, Ui Press, Jakarta
Sugiono, M., 1999, Kritik Antonio Gramsci Terhadap
Pembangunan Dunia Ketiga , Pustaka Pelajar:
Yogyakarta.
Fakih, Mansour. 2003. Bebas Dari Neoliberalisme, Insist
Pers, Yogyakarta
Yani, A. A., Prilaku Politik Orang Bugis Dalam Dinamika
Politik Lokal, Tulisan Pengantar Diskusi dalam Acara
Peluncuran Buku Manusia Bugis yang Ditulis Oleh
Christian Pelras

The Five Functions Of Government

______, 2001, Paradigma Kritis dalam Kebijakan Publik,


Universitas Sunan Giri dan Pustaka Pelajar
______, 2005, Kebijakan Tidak Untuk Publik, Resist Book,
Yogyakarta
______, 2008, World Bank Hybridization, Working paper
presented at Postcolonial Theory and Criticism class
University of Texas at Austin
Wendt, Alexander, Social Theory Of International Politics,
Cambridge: Cambridge University Press, 1999, P.1
Koswara, E., 1999, Upaya Reformasi Undang-Undang
Tentang Otonomi Daerah: Telaah Tentang PrinsipPrinsip yang Termuat Dalam RUU Tentang
Pemerintahan Daerah, http://www.transparansi.or.id/
majalah/edisi6/6kolom_2.Html

McDowell, S. K., The Preamble To The U.S. Constitution


Lists The Five Functions Of Government, All Based
On Biblical Principles Http://Forer unner.Com/
Mandate/X0043_Five_Functions_Of_Go.Html
SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

SG

Daftar Pustaka

173

Surya Online, 16 Juni 2007


Giddens, Anthony, Jalan Ketiga, Jakarta, Gramedia, 2000
Sjahrir: Good Governance Di Indonesia Masih
Utopia:Tinjauan Kritis Good Governance , Jurnal
Transparansi, No. 14 November 1999

New Series, Vol. 21, No. 4 (1996), pp. 716-718


Published by: Blackwell Publishing on behalf of The
Royal Geographical Society (with the Institute of
British Geographers)

Hoffmann, S., The Uses and Limits of International Law,


in Robert J. Art and Robert Jervis, eds., International
Politics: Enduring Concepts and Contemporary Issues,
5th Edition, New York, Longman, 2000.

SG
174

Luebert, G. M., 1991 , Liberalism, Fascism, Or Social


Democracy. Oxford University Press Ilgen, T. L., 2006,
Hard Power, Sof t Power And The Future Of
Transatlantic Relations. Ashgate Publishing, Ltd.

SG

Henry, N., Paradigms Of Public Administration Public


Administration Review, Vol. 35, No. 4 (Jul. - Aug.,
1975), Pp. 378-386 Published By: Blackwell
Publishing On Behalf Of The American Society For
Public Administration

175

Alagappa, M., (ed.), Civil Society and Political Change in


Asia: Expanding and Contracting Democratic Space.
(CA: Stanford University Press, 2004), pp. 25-40
Singh, Ajit, 2004, Labour Standards And The Race To The
Bottom: Rethinking Globalisation And Workers
Rights From Developmental And Solidaristic
Perspectives, ESRC Centre for Business Research,
University of Cambridge Working Paper No. 279
Hirst, P., Globalization in Question. The International
Economy and the Possibilities of Governance
Transactions of the Institute of British Geographers,

SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Daftar Pustaka

BIOGRAFI PENULIS

SG
176

FADILLAH PUTRA, lahir di Rengat, Riau, 27 Juni 1974,


adalah aktifis dalam sebuah lembaga nirlaba progresif
yakni Averroes Community. Pelaku aktif wisata kuliner dan
mengajar di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas
Brawijaya Malang. Gemar pada studi-studi kebijakan dan
administrasi publik, pembangunan internasional,
manajemen krisis dan studi poskolonial. Buku yang telah
diterbitkan antara lain; Devolusi (1999), Kapitalisme
Birokrasi (2000), Paradigma Kritis Kebijakan Publik
(2001), Hukum dan Kebijakan Publik (2002), Partai Politik
dan Kebijakan Publik (2003), Masa Depan Otonomi Daerah
(2004), Kebijakan Tidak Untuk Publik (2005) , dan
beberapa karya lainnya. Meraih beasiswa Ford Foundation
untuk melakukan studi lanjut di Lyndon B. Johnson School
University of Texas at Austin, Texas, USA. Telah
mempresentasikan makalah berjudul Border Conflicts:
Are we getting closer together or further apart di Society
for Public Policy and Planning University of Texas at Austin,
17 April 2008 dan menjadi partisipan di The 21st Winter
Course di Andalo, Italy, dari January 6 through 13, 2008
tentang Fighting Terrorism, Protecting Human Rights
yang disponsori oleh Pugwash International.

SOUND GOVERNANCE
Berakhirnya Era Good Governance

Biografi Penulis

SG
105