Anda di halaman 1dari 120

**'+

#,

6!fli-Tllt

-f

{

iGLr+rf ia* SlAri

LVT ! N

RPUSTAKAAN

EARSIPAN

JAWA TIMUR

Standar Kompetensi Kerja Nasional lndonesia (SKKNI)

J{ t* t,

.*+

"4:

LF't

&?t?ill &H& $Ldr{;

*e5[{iu$

w{,1$t&$}tc il

F

# ;1€i, .,

-xH

-Y

S'_-.'"

.F &,.i.'

tvifit

tiltlE

t;t_r

BSFt

i*'ff-&

'&

##

\*

m,t

-"#

*.#s

11,1

t

*

Las dan Pematrian

Mifftahul Munir, S.Pd.

Las dan Pematrian

o Skripta, 2011

,,fli.im

&:::'n

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam

bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Mifftahul Munir, S.Pd.

Editor, M. Alaika Salmulloh Cetakan 1. Yogyakarta : Skripta Media Creative, 2011

120 HIm. : 77 ,6 x 25 cm

Merek Dagang

Seluruh merek dagang yang digunakan dalam buku ini merupakan hak cipta dari pemegang merek dagang masing-

masing.

Penulis Mifftahul Munir, S.Pd.

Editor

M. Alaika Salamulloh

Tata Letak

Henzanura

Desain Grafis

M. Taufik N.H.

Penerbit

PT. Skripta Media Creative

Informasi/Kontak

Penerbit Skripta Jl. Wulung 7-A, Caturtunggal,

Depok, Sleman, Yogyakarta.

Telp. (027\ 433-2398 traks. (0274) 433-2398 Email, redaksi@ skripta.web.id

engan memaniatkan puii syukur ke hadirat Allah, penulis telah menyelesaikan pen)'usunan buku pengelasan dan pematrian. Ini merupakan buku teori dan

petunjuk praktik yang berkaitan dengan pengelasan dan penyolderan maupun pematrian (brazing) yang dapat digunakan para siswa SMK ataupun masyarakat

umum yang membutuhkan referensi untuk pengelasan danbrazing.

Perkembangan dunia pendidikan keterampilan sangat pesatterutama SMKyang

dipersiapkan sebagai tenaga-tenaga terampil yang siap kerja dan mandiri, ditunjang

dengan program pemerintah yang meningkatkan jumlah sekolah kejuruan di

Indonesia. Oleh karena itu, perlu adanya buku pegangan materi dari masing-masing kompetensi kejuruan sesuai bidang keahliannya yang bisa digunakan sebagai buku

pegangan bagi siswa ataupun guru dan masyarakat.

Kata fengantar

Kata Pengantar

Daftar Isi

""""""""' ln

"""iv

BAB I

HAL-HAL YANG PERLU DIKETAHUI SEBELUM PEKERJAAN

PENGEI/.SAN

""""""""""'

A Yang Perlu Diketahui Sebelum Melaksanakan Pengelasan

"

'

BAB rr PENGELASAN DENGAN LAS OXY ASETILEN (l-AS KARBIT) '

' '

1

3

13

A Pengertian Umum

"""""""""i3

B Peralatan dan Bahan

""""""""""14

C Proses Pengelasan Asetilen

"""""33

D Jenis Nyala Api Las Asetilen'

"""""""""""'36

E Teknik Pengelasan Las karbit

"""37

F Pengerjaan Pengelasan"

"""39

BAB rII IAS BUSUR CAHAYA (ARC WELDING)/Lq.S BUSUR LISTRIK

A Macam-macam Proses Pengelasan Busur Listrik""""

4e

"""50

B Instalasi Las Busur Listrik

""""""""""""54

C Peralatan Las Busur Listrik

""""""""""'':56

D Teknik Dasar Pengelasan Busur Listrik

"""""76

BAB rV

MENYOLDER (BRAZING)

A Penyolderan dan Pematrian

'

B Macam-macam Penyolderan

Glosarium Daftar Pustaka Indeks

.M

Daftar Isi

"""""""""' 87

""""87

"""'90

""""""" 113

"'114

"""""""""' 115

HAL.HAL YANG PERLU DIKETAHUI SEBELUM

PEKERJAAN PENGELASAN

roses penyambungan termasuk pengelasan, mematri,

penempaan, brazing telah lama dikenal bahkan dijumpai 3000 tahun yang lalu. Pada tahun 1903 Thomas

A. Edison, salah seorang pelopor di bidang pengembangan

teknologi las mengajukan permintaan hak paten untuk

deposisi nikel secara elektrolitik di antara pelat yang

dipanaskan dalam lingkungan hidrogen (Amstead dkk,

1 ees).

Pada waktu ini teknik las telah dipergunakan secara

Iuas dalam penyambungan batang-batang pada konstruksi

bangunan baja dan konstruksi mesin. Luasnya penggunaan teknologi ini disebabkan karena bangunan dan mesin yang

dibuat dengan mempergunakan teknik penyambungan ini menjadi lebih ringan dan proses pembuatannya juga Iebih

sederhana, sehingga biaya keseluruhannya menjadi lebih murah (Wiryosumarto & Okumura, 2000). Hal ini menyebabkan hampir semua konstruksi bangunan,

peralatan transportasi, industri ataupun mesin-mesin menggunakan teknik las

sebagai penyambungannya.

Las (welding) adalah suatu cara untuk menyambung benda padat dengan ialan

mencairkannya melalui pemanasan (Sriwidharto, 1996). Berdasarkan definisi dari

Deutche Industrie Normen (DIN) las adalah ikatan metalurgi pada sambungan

logam atau logam paduan yang dilaksanakannya dalam keadaan lumer atau cair.

Dari definisi tersebut dapat diiabarkan lebih laniut bahwa las adalah sambungan

setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan energi panas

(Wiryosumarto & Okumura, 2000).

Untuk mendapatkan ikatan metalurgi ada banyak cara dilakukan, yakni:

a). Logam yang disambung, dipanasi sampai pada suhu tertentu yang terletak di bawah atau di atas sedikit titik lebur, kemudian logam disatukan dengan cara

ditekan atau dipukul (las tekan).

b). Logam yang disambung bersama-sama dengan bahan tambah (apabila

diperlukan) dicairkan (las busur cair). c). Bahan tambah dicairkan kemudian diletakkan pada logam yang disambung

(pada pematrian).

Keuntungan penggunaan las adalah:

a). Konstruksi sambungan las mudah dilakukan. b). Waktu pengeriaan sambungan las relatif lebih cepat.

c). Bahan lebih hemat.

d). Konstruksi lebih ringan.

e). Diperoleh bentuk sambungan yang lebih estetis (indah).

Dari pengertian pengelasan secara umum di atas, maka cara pengelasan

dibedakan meniadi beberapa macam, yakni:

a). Las tekan

(1). Las resistansi listrik

(2). Las tempa

(3). Las tekan yang lain

b). Las cair (1). Las gas (2). Las cair busur listrik

(a). Elektrode tak terumpan (Las TlG/Wolfram)

(b). Elektrode terumpan

- Las busur pelindung Gas (Las MIG, Las CO2)

Las dan Pematria[

- Las busur pelindung fluks (elektrode terbungkus, elektrode Inti,

elektrode rendam)

- Las busur tanpa pelindung

(c). Las termit

(d). Las terak

(e). Las cair yang lain (3). Pematrian (a). Patri keras

(b). Patri lunak

Pada buku ini kami bahas pengelasan dengan las cair yaitu dengan las dengan

gas ohy asetilen, pengelasan dengan busur listrik, serta penyolderan dan pematrian yang banyak aplikasi dan penggunaannya di masyarakat dan di sekolah kejuruan

pada khususnya.

I*]Yang Perlu Diketahui Sebelum Melaksanakan Pengelasan

1. Keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan

Setiap pekerjaan hendaknya selalu mengutamakan keselamatan, kesehatan

kerja dan lingkungan. Apalah artinya sebuah kemajuan zaman (modernisasi)

tetapi selalu mengancam keselamatan dan kesehatan jiwa manusia dan memsak

lingkungan. Cepat atau lambat kemajuan itu akan menghancurkan kehidupan manusia itu sendiri, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, negara kita mempunyai undang-undang tentang keselamatan kerja yang melindungi hak kelangsungan hidup manusia dan kelestarian alam.

Dalam kaitannya dengan kerja bodi kendaraan, perlu diketahui langkah- langkah yang berhubungan dengan K3L (keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan). Langkah-langkah umum K3L antara lain:

a. Dalam melaksanakan pekerjaan pengelasan harus menggunakan peralatan

pelindung dan keselamatan untuk menghindari kecelakaan kerja dan

terjaminnya kesehatan pekerja. Misalkan pemakaian kacamata las untuk kesehatan mata, masker untuk kesehatan paru-paru dan lainnya.

b. Letak, bentuk danlay oil, bangunan/bengkel harus sesuai dengan K3L. Hal ini dibuktikan dengan izin pemerintah tentang pendirian bangunan.

c. Adanya SPL (saluran pembuangan limbah) yang menjamin K3L atau

pengelolaan limbah industri yang sesuai dengan ketentuan pemerintah.

d. Perlu diadakan penvuluhan tentang K3L dari instansi yang berwenang kepada semua warga bengkel atau sekolah. Dengan demikian, warga

sekolah dapat sadar terhadap pentingnya langkah K3L. Langkah beserta

*

Hal'hal yaag Faflu Oilaa{ahui,Sgbelumr

Pekeijaan Ptngelarar

peralatan K3L secara khusus pada pengelasan, pematrian, pemotongan dengan panas dan pemanasan sebagian sudah ada dalam penyampaian

materi pada modul ini.

2. Kualitas hasil pengelasan

Kualitas hasil pengelasan ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain

teknik pengelasan, bahan logam yang disambung, pengaruh panas, pengaruh

cara pendinginan, serta jenis kampuh yang tepat.

a. Teknik pengelasan

Faktor yang memengaruhi kualitas las pada pengelasan ini adalah

posisi mengelas, bentuk kampuh sambungan, kecepatan mengelas, brander

las yang dipakai (untuk las gas), ukuran elektrode (las busur).

b. Bahan logam yang disambung

Logam yang dipanasi sampai keadaan lumer/meleleh, maka pada

proses pendinginan kembali akan terjadi perubahan sifat elastisitas logam.

Jika didinginkan secara perlahan logam akan meniadi kenyal dan iika

didinginkan mendadak (dengan cepat) logam akan menjadi getas. Logam

yang dipanasi tersebut akan mengalami perubahan komposisi kimia

yang terkandung, terutama unsur karbon (C). Logam yang meleleh pada temperatur tinggi akan lebih banyak mengandung gas daripada logam yang meleleh pada temperatur rendah, dan berakibat logam menjadi keropos.

Untuk menghindari keropos tersebut maka sewaktu pengelasan perlu diberi bahan lluks (bahan pelindung). Perlu diketahui pula bahwa logam

yang disambung diusahakan mempunyai titik lebur yang sama, sehingga proses penyambungannya menjadi sempurna'

c. Pengaruh Panas

Akibat pengaruh panas teriadi ekspansi dan pemuaian, sehingga

menimbulkan tegangan-tegangan sekunder yang tidak diinginkan. Pada proses pendinginan logam lasan yang meleleh/cair akan menialani

proses pembekuan. Selama pembekuan akan terjadi reaksi pemisahan

(retak), terbentuk lubang halus, serta terbentuknya oksida-oksida. Reaksi

pemisahan ada beberapa macam, yakni: (a) pemisahan makro, yaitu terjadinya perubahan pada garis lebur menuju ke garis sumbu las, (b)

pemisahan gelombang, yaitu terputusnya gelombang manik las, dan (c) pemisahan mikro, yaitu terjadinya perubahan komponen dalam satu pijar

atau bagian dari satu Pilar.

d. Macam-macam kampuh sambungan las

Pada rancang bangun suatu konstruksi ada berbagai bentuk kampuh

sambungan las. Dalam uraian ini dibedakan menjadi tiga kelompok

kampuh sambungan las, yakni kampuh lurus, kampuh sudut, dan kampuh

Te.

c.=0

c. = 2-3 mm

s. = 1-2 mm

s. = 2-6 mm

c.: jarak logam

s.:Tebal Iogam

(a). I Tertutup

(b). I Terbuka

c.=0

t.=3mm

s. = 6-26 mm t.: Tinggi bidang senruh

(d). Kampuh Ve

nn

c.=2-3mm

t.=3mm

s. = 6-26 mm

(e). Ve - Celah

c.

= 2-3 mm

s.

= 4-6 mm

(c). I Terbuka Lebar

c. = 2-3 mm

t.=3mm

s. = 6-26 mm

(0 Ve - Tumpul

Nffi Wffi Wffi

s. = 12-40 mm

(g). Kampuh Ka

s. = 12-40 mm

(h). Kampuh Eks

s. = 12-40 mm (i). Kampuh 2/3 Eks

NN WN

(j). Kampuh U

(k). Kampuht/zLI

I Gambar 1. Kampuh sambungan las bentuk lurus

(1) Kampuh Dobel U

Hal-hal yang Perlu Diletahui Sebelum pekerfaan pergela*an

*

(a). Kampuh Sudut Membujur

(c). Kampuh Sudut Terbuka

(e). Kampuh Kowak

(b). Kampuh Sudut Melintang

(d). Kampuh Sudut tertutup

(f). Kampuh Lubang

r Gambar 2. Macam-macam kampuh sambungan sudut

(a). Kampuh Te Tumpul

Laa dan,Pematrian

(b). Te Vz -Ye

(c). Kampuh Te - Ka

(d). KampuhTet/z IJ

I Gambar 3. Macam-macam kampuh sambungan Te.

3. Perencanaan prosedur pengelasan pada beberapa jenis logam

Untuk merencanakan prosedur pengelasan perlu diketahui beberapa jenis

Iogam dan jenis pengelasan yang biasa dipakai. Kebutuhan pada logam tidak

hanya terbatas pada logam ferro, tetapi sering juga dibutuhkan logam non ferro.

Beberapa jenis logam mempunyai kandungan unsur logam yang berbeda-beda.

Oleh karena itu, perlakuan proses pengelasan juga mempunyai karakteristik

yang berbeda-beda. Untuk itu, seorang tukang las harus memperhatikan unsur-

unsur bahan yang terkandung dalam bahan yang akan dilas. Dalam hal ini

kami bahas pengelasan besi dan baja, sedangkan pengelasan dengan logam non ferro akan kami bahas dalam buku yang berbeda.

a. Pengelasan besi

1) Klasifikasi

Bahan logam ferro biasanya mengandung karbon 0 s.d 4,5%o dan dibagi dalam tiga golongan, yaitu:

- besi (kadar karbon 0 - 0,008%),

- baja (kadar karbon 0,008 - 2,Oo/o),

- besi cor (kadar karbon 2,0 - 4,5o/o).

Dalam besi kandungan karbon dan unsur paduan sangat rendah, karena itu besi tidak dapat dikeraskan dengan pendinginan celup.

Besi tempa adalah besi yang mengandung terak silikat antara 2 -

4o/o, besi igot adalah besi yang murni. Keduanya adarah besi dengan

kadar karbon rendah yang diproses secara khusus untuk penggunaan tertentu.

Untuk pengelasan yang dipakai pada besi tempa, untuk menghindari penetrasi yang dalam, di dalam pengelasan digunakan

t

l{al-hal yang Parlu Diketahui Sobelurn pekerjaan pengelasan 7

elektroda terbungkus dengan arus listrik dengan kecepatan pengelasan

yang rendah. Adapun untuk pelat yang tebal perlu dilakukan

pembebasan tegangan dengan proses annealing (pemanasan) pada

suhu 370"C - 420"C. Adapun untuk pengelasan besi igot (besi murni) karena besi murni

dan butiran kandungan Fe yang homogen dan iarang menghasilkan

gas, maka cara pengelasasannya hampir sama dengan pengelasan besi

tempa.

Pengelasan baia karbon

(1). Klasifikasi

Baja karbon: paduan besi dan karbon dengan sedikit Si,Mn,P,s

dan Cu. Sifatnya tergantung dari kadar karbonnya, sehingga dibedakan menjadi baja karbon tinggi (kadar karbon 0,45 - 1,70o/o), baja karbon

sedang (kadar karbon o.3oo/o - 0.45o/o) dan baia karbon rendah (kadar

karbon kurang dari 0,30%).

(2). )enis las yang dipakai

Baja karbon rendah: baia yang mudah dilas sehingga dapat dipakai

semua teknik pengelasan. Hasil pengelasannya sangat telgantung dari

kesempumaan langkah persiapan. Baia karbon rendah atau baja lunak

(mild steel) ini banyak digunakan dalam bidang konstruksi, di mana baja karbon rendah ini dibagi meniadi tiga ienis yaitu:

a. Bala kil atau baja karbon khusus yang mengandung C < 1.5%o, Si >

O.L0/o, dan Mn > O.3o/o

baja karbon yang mengandung C < I o/o,

b. Baja semi kill atau

Si

> 0.010/o - O.1o/o, dan Mn > 0.45o/o - O.Bo/o

c. Baja rim atau baja karbon rendah yang mengandung C < 0'3 %, Si

< 0.01Y0, dan Mn > 0.25o/o - 0.45o/o

penggolongan di atas berdasarkan pada persyaratan oksidasi.

Sifat-sifat mampu las yang dimiliki oleh baia ienis ini adalah kekuatan

takik dan kepekakan terhadap retak las. Kekuatan takik pada baia ini dapat dipertinggi dengan menurunkan kadar C dan menaikkan

kadar Mn. Baja jenis ini mempunyai kepekakan retak las yang rendah

dibandingkan dengan baia karbon lainnya. Retak las dapat mudah

terjadi pada pengelasan pelat tebal atau bila dalam baia terdapat

belerang bebas.

Laa dan,Pematrian

le:.:-r:

semua cara pengelasan yang ada. Hasilnya akan baik iika persiapan;-,":

memenuhi persyaratan. Retak las dapat dihindari dengan pemana\a:

awal menggunakan elektroda hidrogen rendah.

Cara pengelasan baja karbon rendah ini dapat dilas

Pengelasan baja karbon sedang dan baja karbon tinggi

Baja karbon sedang dan baja karbon tinggi mengandung banr-ak

unsur karbon dan unsur lain yang dapat memperkeras baja. Oleh

karena itu pada daerah pengaruh panas mudah menjadi keras dan

peka terhadap retak. Terjadinya retak dapat dicegah dengan pemanasan

mula (pre heating) dengan suhu tergantung dari kadar karbon pada

bahan tersebut. Untuk mengurangi retak las dianiurkan menggunakan

elektroda hydrogen rendah.

Baja karbon tinggi: karena mudah menjadi keras dan hidrogen

difusi menyebabkan baia karbon tinggi peka terhadap retak las. OIeh

karena itu perlu dilakukan pemanasan mula. Baja ini dapat dilas dengan Ias busur, tetapi pemilihan elektrode harus diperhatikan (lihat

tabel)

Tabel 1. Pemilihan Elektrode Terbungkus untuk Baia Karbon

E*rre

*,4r-+ -*,#

C"lS*?S

a*i*+!a*

9"8**,?*

*ass

e*+*t*s i

.a-

i!,

+5-

i{.

**-

rl+*

8S

k.5

ffi

:rs*kEFfoffid+

l{.*! elettr*d* 'l

*i*t#i@$t

*tE

Bi,i-lt}* rFt

gtere*$tE *t*

l*t

E3!$*r**E

**

€-!n6$.-s

axf5

E$E!4**

E*t€****

t{Es

*rr*it**

i

I

t

i

i

I

i

;

!

rtF#lrf t*sfi# #*B*s**

!E* l&89* k*E

j**sl.

5*s +sA*& sa*s *:

*

#* &lR. llFa

ilki****

**EFb

*&r *i*{i

qibt***i}ffi Fc*c***#*

gFr#iwr

*Sr n-!8'*i

pffi#s*qE*I"*

h#ri-**

*l*a +i+=r

ffi**riiiFf

iftffirffi*tk6SS'€,

k

tu*ffi*S

tu**!*?*#*i

€l*L+*. s€l

a+*t$*s

tsa s$st

s+sd*

i

lti*i I

t

5s& #eEd*

zl'l t

le lt

,

a

J**

g}*r*!l*t

l

Fit*

j

:#* ***nF*r*&

*r&&ffi

F*+

=

t*":€

rlk*r#*t+ABta;

*t5

P*ege*e?ie'e

kffi**F+*,t

**::r*t+a*

ffit*l*

tt*

k**li+r*{ *rs*E*#€

eaat-*#*

tl*

+:

irHit--t+6*

,t5

*#1'$*

k*l*:*S*:iff'.

kH*n*:l&*€t:

l*

+:

8*.=t*a*

 

Jas

k*iffi M#etS€

e,r*l-**tt

ffii-I**

tr*s*

t**errxtr*r*t*xahtxe*ex*rx&*EF*r4?Et*.rEf*qs$Sii&*.1!l$rfu:*!Sa*:3{**B**-}kl€F

fthx1q1*pr******itt See.=*bw.***

*.*

*i

k

*** *i{

*

**+ itad *rd s*ih *e r*i- r#**&!*e

.

h5*.

ft*rq seA.i:flE- tu

*ffi

*ht* a**F*S****l{t

t*x&**r***€:"s#F**e#,**#*rf*€*

+w+

.*r Esd*.

*i##*k

*

{sr &i}E}**

*

*r*!a!Rai b**: t*#eet*e"

*St&+

**gB5&

sixfr$ $ift* lfry}

r&d**

+ * i**:*i i***r"

#-

llet hal ytng Psrlu Dlketahui Sebelum Pekeriau P.qlar

c.

Pengelasan baia cor

1) Klasifikasi:

Lihat tabel berikut untuk mengetahui paduan baja cor dan

penggunaannya:

Tabel 2. Klasiflkasi Baja karbon Cor

Thhan Aus Tahan Karat Thhan Suhu Tinggi

0,40<C dengan tambahan Cr,Al,Ni-Cr atau Cr-V-Mn'

Cr, Ni atau Cu

Cr, W, Mo atau Ti

2) Jenis las yang diPakai

Jenis las yang dapat dipakai: seperti pengelasan baia karbon atau

baia campuran rendah dengan komposisi kimia yang sama. cara

yang banyak dipakai adalah penggunaan las busur lindung dengan

menggunakan electrode hydrogen rendah. Untuk menghidari terjadinya

pengerasan daerah pengaruh panas dan untuk menghilangkan

tegangan sisa maka dilakukan lebih dahulu dengan pemanasan

mula dan pemanasan akhir. Di samping itu juga dilakukan dengan

pendinginan lambat (dengan udara), sedangkan untuk sambungan sederhana dapat dipakai las busur rendam'

d.

Pengelasan besi cor

1) Klasifikasi besi cor

Besi cor adalah paduan besi-karbon dengan kadar C lebih rendah dari 2o/o dengan tambahan unsur lain seperti si, Mn, P, s dan lain

sebagainya. Dalam penggunaan tertentu masih ditambah lagi dengan

Ni, cr, dan Mo. Kekuatan besi cor pada umumnya lebih rendah dari baia cor, pada tipe tertentu kekuatannya sama baja cor'

2) Sifat mamPu las besi cor

Sifat mampu las besi cor dibandingkan dengan las besi dan baja lainnya lebih rendah. Penyebabnya: (a). Bila teriadi pendinginan yang

cepat akan terbentuk besi cor putih yang keras, getas, dan mudah patah. (b). Persenyawaan gas CO dari besi cor dan 02 atmosfer las

membentuk gas co yang menyebabkan lubang halus. (c). Tegangan

sisa pada sudut, rusuk dan tempat perubahan tebal menyebabkan besi

cor mudah retak. (d). Bila dipanaskan lama, grafit besi cor meniadi

Las dan Fomairian

kasar dan besi cor banyak berisi pasir dan berongga. Elektroda rid:^

mudah sesuai dengan induknya, sehingga terjadi lubang-lubang

halus.

3) Cara pengelasan besi cor

Cara pengelasan besi cor dapat dilihat pada tabel berikut:

Proses

pengelasan

1. Las busur logam

terlindung

2. Las gas

3. Las suhu Kamar

4. Las busur Karbon

5. Las busur gas mulia

6. Las termit

tr

l*

->

'Ianpa pemanasan mula

Pemanasan mula suhu rendah

Pemanasan mula suhu tinggi (las panas)

Brasing

Las eutektik

Tujuan dari pemanasan mula di sini adalah agar tidak terjadi

pendinginan cepat, sehingga tidak mudah retak.

4) Elektrode untuk pengelasan besi cor

cara pemilihan elektroda pengelasan besi cor yang disesuaikan

dengan bahan induknya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3. Klasifikasi Elektrode Pengelasan Besi Cor

DFf Ni

DFC NiFe

I

I

I

i

|

l.E maks

?.0 maks

DFC NiCu i l,7mak*

*TC CI

PFC Fe

i B,l3 xaks

l,B makr

],5 mrks

3$ auks

13 *als

t*$ **ks

3,5 *sk*

?,5 *uks

I$ mak

?q*o{

I$ m*ks

$,ffi mak*

*,** rsaks

*,S4 a*ks

S,3t rnsk*

*$3 mak*

*,$4 uek*

*,*4 *aks

0"$4 **ke

$.*,1 *aks

S$3 *ahe

$3 *ix.

{e*tr

* xi*.

i*

t- i

bEa

i

i],5 maks

$i*

Sisa

ieu i

?5*35

Untuk pemilihan elektrode pengelasan besi cor dapat dilihat pada

tabel 3. di atas.

5) Prosedur pengelasan besi cor

Prosedur pengelasan pada besi cor dapat dilakukan dengan urutan sebagai berikut: (a). Bentuk alur pengelasan, (b). pemanasan mula

logam induk untuk mencegah terjadinya pendinginan yang cepat

sehingga tidak mudah retak, (c). proses pengelasan sesuai dengan mesin las yang dipakai.

Hal.rlal yan$ Perlu Eikeiatlui $ebelum pekerfaan pengelasat 'l

E

Tabel 4. Sifat dari Elektrode Terbungkus

eat*taa: *

*; 4:

:

&*it s+k*!i

BE:t

H*r*s; beift

**cs"

*_-

irJ

\j

{r} *****k1ry*i*:q-

i5*?* xr*

:i

{* Il&*k*t*rt*x-

Tabel di atas menuniukkan sifat dari beberapa elektrode terbungkus

untuk pengelasan besi cor dan bentuk alur untuk pengelasan reparasi besi cor.

Lae dan Pemefirian

PENGELASAN DENGAN LAS

oxY ASETILEN (LAS KARBIT)

A iPengertian Umum

I

as cair busur cair gas biasa disebut sesuai dengan

hbahan bakar gas yang dipakai, misalnya las karbit

karena menggunakan bahan bakar gas karbit, las elpiji

karena gas elpiji yang dipakai, dan seterusnya. Bahan bakar

yang biasa dipakai pada pengelasan busur cair gas antara

lain gas asetilen (karbit), gas propan, gas hydrogen, gas

elpiji, dan lain-lain. Dalam materi ini kami membatasi

materi dengan las karbit. Las karbit termasuk pengelasan

leleh, yaitu bagian yang akan dilas dipanasi pada lokasi

sambungan hingga melampaui titik lebur dari kedua

logam yang akan disambung. Dengan meleburnya kedua Iogam tersebut akan menyatu (tersambung) dengan atau

tanpa adanya bahan tambah. Ikatan dengan prosedur tersebut biasa disebut sebagai

ikatan metalurgi.

i, B: Peralatan dan Bahan

Dalam pengelasan karbit kita memerlukan beberapa peralatan yang harus

disiapkan agar proses pengelasan dapat kita lakukan dengan lancar dan hasil yang sempurna. Peralatan tersebut yakni:

(1).

Brander Listrik

(10). Palu Besi

(2).

Regulator

(11). Pembersih Brander

(3).

Gas Asetelyne

(12). KunciTabung

(4).

Gas Oksigen

(13). Sikat Baja

(5).

Katup pengaman

(14) Pakaian Kerja

(6).

Kaca Mata Las

(15) Alat Pengerjaan kampuh Las

(7).

Tang Penjepit

( 1 6). Penjepit/ragum

(B). SarungTangan

(9).

Sumber Api

1. Brander Las/Pembakar (Torch)

(17) Alat Pengukur

(18)

Bahan Tambah (kawat las)

fi

F

@ frilil d**.**

$ $ *#eq

r Gambar 4. Brander las asetilen

Brander las sebagai tempat bercampurnya gas karbit dengan oksigen (02)

untuk kemudian dinyalakan menjadi busur api yang nantinya digunakan

untuk mengelas. Agar terjadi busur api yang sesuai dengan yang kita inginkan

maka campuran gas karbit dan oksigen harus disesuaikan. Oleh karena itu,

pada bagian brander ini dilengkapi penyetel baik penyetel gas karbit maupun oksigen. Penyetel ini juga berfungsi untuk menyalakan dan mematikan busur

api las karbit serta sebagai katup pengaman pertama bila terjadi aliran balik

busur api. Pada ujung brander dilengkapi torekh. Torekh memiliki ukuran dan kecil sampai ukuran besar. ukuran yang terdapat pada torekh menunfukkan

ukuran tebal pelat yang dapat disambung. oleh karena itu, torekh yang terdapat

pada brander dapat dilepas dan diganti dengan ukuran yang sesuai dengan

ukuran tebal pelat yang akan disambung.

Berdasarkan macamnya brender las ini ada 2 macam yaitu brender las

dan brender las potong. untuk penampang brender las terdiri dari tiga bagian

besat yaitu pucuk/moncong, saluran nosel, dan tangkai/gagang. Adapun

menurut sistem pencampuran gas oksigen dan asetilen yaitu jenis injector dan

ienis pencampuran. Ienis injector dipakai untuk pengelasan dengan tekanan

asetilen yang rendah, misalnya pada pengelasan yang menggunakan gas asetilen

pada tangki karbit. oksigen yang mengalir melalui injector pada kecepatan

yang tinggi menyeret gas aserilen yang terdapat disekeliling dinding iniector,

sedangkan jenis pencampur dipakai untuk pengelasan dengan tekanan asetilen yang tinggi yang terdapat pada botol asetilen.

?*fe *9

i&fr{e?}&*

*-,'.*

r0[r4

:tts$3trI!

ii ]i

.

+r

r(d,t

e4

1

f;"9.,.-4.**. $/.4.

fw*le*ft,*t1

ft&.t.*z** *3&4.

€lW5 r*a i*r\$t

I Gambar 5. Brender las

{prr6€B i*&-t,"*

;*r;g. *ggag-j

Flgl,{i*t ,ii#

€e.*4 /4.**

,EiX*W r*^e

oksigen mengalir dengan kecepatan tetap akan mengadakan pencampuran

setelah melalui pencampur. Nosel mempunyai berbagai jenis dan ukuran.

Namun demikian, ukuran itu selalu dihubungkan dengan kemampuan gas melalui nosel.

untuk pembakar pemotong bentuknya serupa dengan pembakar untuk pengelasan biasa. Perbedaannya adalah pada pembakar pemotong terdapat

Pengelasan Dengan Las Oxy Asetiten (Ias Karbit) 'a

pipa ketiga untuk saluran gas oksigen. Selain itu, uiung pembakarnya berbeda

dengan ujung pembakar untuk mengelas. Setiap pembakar pemotong

mempunyai alat pemegang pipa penghubung dan kepala pemotong. Pada

kepala pemotong dipasang mulut pemotong. Pada mulut pemotong ini terdapat

sebuah lubang kecil untuk pemanasan pendahuluan, panjang mulut pemotong

untuk pekerjaan tertentu berbeda dan terdapat iuga bentuk uiung pemotong lengkung. Perbandingan campuran gas asetilen dan oksigen berbeda untuk keperluan pemanasan pendahuluan dan untuk keperluan memotong. Logam yang akan dipotong lebih dahulu dipanaskan dengan nyala api pemanasan

pendahuluan, kemudian dengan nyala api gas oksigen bertekanan tinggi,

maka bagian yang

terjadi karena

telah dipanaskan tersebut kemudian dipotong. Pemotongan

hembusan gas oksigen pemotong melalui lubang di tengah-

tengah nyala api pemanasan pendahuluan. untuk logam yang berkarat atau kotor ataupun logam tebal memerlukan pemanasan yang lebih lama'

Hubungan Tebal Pelat, Tekanan Gas, dan Ukuran Pembakar

Ketidaksesuaian pada pemakaian ukuran pembakar dan tekanan gas terhadap

ukuran pelat yang akan dilas atau dipotong akan mempersulit pengerjaan dan memengaruhi kualitas dan hasil akhirnya. oleh karena itu, dalam melaksanakan

pekerjaan pengelasan harus mengetahui dan mematuhi petuniuk hubungan tebal pelat, tekanan gas dan ukuran uiung pembakar'

Tabel 5. Hubungan antara tebal pelat, ukuran lubang moncong

dengan tekanan kerja Yang sama.

0001234s67

00-1 00-1

1-7

1"7

1'?

\-?

0,40,8r,51,5356810

 

89

1-7

7'7

l