Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN RESMI

TEKNOLOGI SEDIAAN FARMASI


SEDIAAN CAIR

KELOMPOK G. 1

FIDELIS APRI ANGKAT

17113241A

RATNA TRISNA PRADEWI

17113242A

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2012

SEDIAAN CAIR
I. TUJUAN PRAKTIKUM
Mengetahui dan menguasai pembuatan sediaan cair
II. DASAR TEORI
SOLUTIONES (LARUTAN)
Solutio adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut.
Misal : Terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut
yang saling bercampur. kaerena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata,
maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan umumnya memberikan jaminan berupa
keseragaman dosis yang memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau
dicampur. Bentuk sediaan larutan ddigolongkan menurut pemberiannya, misalnya larutan
oral, larutan topikal atau digolongkan menurut cara pemberiannya didasarkan sistem
pelarut dan zat terlarut seperti spirit dan larutan air. Larutan yang diberikan secara parental
disebut injeksi.
Keuntungan solutio :
o campuran homogen
o dosis mudah diubah
o mudah memakainya, dapat dapat ditambah pemanis, pewarna dan pengaroma
o tidak mengiritasi lambung, dapaat dibuat lebih encer
o reaksinya cepat
Kerugian solutio :
o banyak obat yang stabil/ rusak terurai
o bau dan rasa tidak enak, sukar dditutupi
o lebih besar volumenya
Persen dinyatakan dengan 4 cara sebagai berikut yaitu :
b/b% adalah persen bobot per bobot, yaitu jumlah g zat dalam 100 g bahan atau hasil
akhir (larutan atau campuran).
b/v% adalah persen bobot per volume, yaitu jumlah g zat dalam 100 ml bahan atau
hasil akhir (air atau pelrut lain).
v/v% adalah persen volume per volume yaitu jumlah ml zat dalam 100 ml bahan atau
hasil akhir (larutan).
v/b% adalah persen volume per bobot. Yaitu jumlah ml zat dalam 100 g bahan atau
hasil akhir.

Istilah kelarutan
1.
Sangat mudah larut
2.
Mudah larut
3.
Larut
4.
Agak sukar larut
5.
Sukar larut
6.
Sangat sukar larut
7.
Praktis tidak larut

kurang dari 1
1 sampai 10
10 sampai 30
30 sampai 100
100 sampai 1000
1000 sampai 10.000
lebih dari 10.000

Contoh Sediaan farmasi yang berupa larutan


1. Collutaria adalah larutan pekat dalam air yang mengandung bahan deodorant,
antiseptika, anestetika local atau astrigen. Disimpan dalam botol putih, bermulut kecil.
Etiket harus ditulis : tidak boleh ditelan. Untuk cuci mulut dan disebut pula cara
pengencerannya
2. Collyria adalah sediaan berupa steril, jernih, bebas partikel asing, isotonis dan
digunakan untuk mencuci mata, dapat ditambahkan larutan dapar dan pengawet
3. Elixir adalah sediaan berupa larutan obat dengan zat tambahan seperti gula, zat
pengawet, zat warna dan zat pengaroma. Sebagai pelarut utama digunakan alcohol 90
% dan dapat ditambahkan gliserol, propilenglikol dan sorbitol. Karena elixir bersifat
hidroalkohol maka dapat menjaga obat baik yang larut dalam air dan etanol.
4. Gargarisma ialah sediaan berupa larutan. Umumnya pekat dan bila digunakan
diencerkan dulu. Gargarisma digunakan sebagai pencegah atau pengobatan infeksi
tenggorokan.
5. Potiones adalah cairan yang berupa cairan untuk diminum, dibuat sedemikian rupa
hingga dapat digunakan sebagai dosis tunggal dalam volume yang besar umunya, 50
ml
6. Sirupi adalah larutan pekat dari gula yang ditambahkan obat atau zat pewangi dan
merupakan larutan jernih berasa manis.
Sediaan sirup adalah sediaan cair yang mengandung gula (sakarosa), dengan
kadar tidak kurang dari 64% dan tidak lebih dari 66% dan berupa larutan.
Sirupadalahsediaan pekat dalam air dari gula atau pengganti gula dengan atautanpa
penambahan bahan pewangi dan zat obat. Sirup yang mengandung bahan pemberi
rasa tapi tidak mengandung zat-zat obat dinamakan pembawa bukan obat atau
pembawa yang wangi/harum (sirup). Sirup bukan obat ini dimaksudkan sebagai
pembawa yang memberikan rasa enak pada zat obat yang ditambahkan kemudian,
baik dalam peracikan mresep secara mendadak atau dalam pembuatan formula standar
untuk sirup obat, yaitu sirup yang mengandung bahan terapeutik atau bahan
obat. Sirup obat dalam perdagangan dibuat dari bahan-bahanawal; yaitu dengan
menggabungkan masing-masing komponen tunggal dari sirup seperti sukrosa, air
murni, bahan pemberi rasa, bahan pewarna, bahan terapeutik dan bahan-bahanlain
yang perlu dan diinginkan. Sirup merupakan alat yang menyenangkan untuk
pemberian suatu bentuk cairan dari suatu obat yang rasanya tidak enak. Sirup-sirup
terutama efektif dalam pemberian obat untuk anak-anak, karena rasanya yang enak
biasanya menghilangkan keengganan pada sebagian anak-anak untuk meminum obat.
Sebagain besar sirup-sirup mengandung komponen-komponen berikut disampingair
murni dan semua zat-zat obat yang ada: gula (biasanya sukrosa atau pengganti
gulayang digunakan untuk memberikan rasa manis dan kental), pengawet
antimikroba, pembaudan pewarna. Juga ada sirup yang mengandung pelarut-pelarut
khusus, pembantu kelarutan, pengental dan stabilisator.

Ada3 macam sirup yaitu:


1.Sirup Simpex
Mengandung 65% gula dalam air nipagin 0,25% b/v
2.Sirup Obat
Mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tanpa zat tambahan.
3.Sirup Pewangi
Mengandung pewangi atau zat pewangi lain, tidak mengandung obat
Contoh: sir thyamin.
Fungsi sirup
Sebagai Obat
Misalnya: Chlorfeniramini maleatis sirupus
Sebagai Corigensia Saporis
Misalnya: Sirupus simplex
Sebagai Corigensia Odoris
Misalnya: Sirupus aurantii
Sebagai Corigensia Coloris
Misalnya: Sirupus Rhoedos, sirupus rubi idaei
Pengawet
Misalnya: Sediaan dengan bahan pembawa sirup karena konsentrasi gula
yang tinggi mencegah pertumbuhan bakteri,
Keuntungan sirup
Sesuai untuk pasien yang susah menelan (pasien usia lanjut, Parkinson, anakanak.
Dapat meningkatkan kepatuhan minum obat terutama pada anak-anak karena
rasanya lebih enak dan warnanya lebih menarik.
Sesuai untuk obat yang bersifat sangat higroskopis.
Kerugian sirup
Tidak semua obat bentuk sediaan sirup ada di pasaran.
Sediaan sirup jarang yang isinya zat tunggal, pada umumnya campuran atau
kombinasi beberapa zat berkhasiat yang kadang-kadang sebetulnya tidak di
butuhkan oleh pasien tersebut.
Tidak bias untuk sediaan yang sukar larut dalam air (biasanya di buat suspensi
atau eliksir) eliksir kurang di sukai oleh dokter anak karena mengandung alkohol,
suspensi stabilitasnya lebih rendah tergantung formulasi dan suspending agent
yang di gunakan.
Tidak bias untuk bahan obat yang berbentuk minyak (minyak/oil biasanya di
bentuk emulsi yang mana stabilitas emulsi juga lebih rendah.
Tidak ssesuai untuk bahan obat yang tidak stabil.
Harga relaatif mahal karena memerlukan khusus dan kemasan yang khusus pula.
7. Mixtura dan solution tidak ada perbedaan yang prinsip dalam pengerjaan, hanya
dikatakan larutan (solution) apabila zat yang terlarut hanya satu atau disebut mixture
apabila zat yang terlarut adalah banyak. Contoh Solutio Citratis Magnesici dan
Mixtura Bromoterum
8. Tetes telinga adalah cairan yang dibuat untuk digunakan membersihkan telinga atau
melunakkan secret telinga sehingga mudah dikeluarkan.

9. Larutan cuci hidung adalah cairan yang dibuat dalam jumlah yang banyak untuk
digunakan membersihkan hidung
EMULSI
Emulsi adalah campuran antara partikel-partikel suatu zat cair (fase terdispersi) dengan zat
cair lainnya (fase pendispersi) dimana satu campuran yang terdiri dari dua bahan tak dapat
bercampur, dengan satu bahan tersebar di dalam fasa yang lain. Dikarenakan setiap bahan
pangan memilki karakteristik masing-masing maka setiap bahan pangan memiliki jenis
emulsi dan pengaruh jenis emulsi yang berbeda-beda. Salah satu dari zat cair tersebut
tersebar berbentuk butiran-butiran kecil kedalam zat cair yang lain distabilkan dengan zat
pengemulsi (emulgator/emulsifiying/surfactan)
Emulsi tersusun atas tiga komponen utama, yaitu:
Fase terdispersi (zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil kedalam zat cair lain
(fase internal).
Fase pendispersi (zat cair yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi
tersebut (fase eksternal).
Emulgator(zat yang digunakan dalam kestabilan emulsi).
Ada dua tipe emulsi, yaitu:
Emulsi A/M yaitu butiran-butiran air terdispersi dalam minyak. Air berfungsi sebagai fase
internal & minyak sebagai fase eksternal)
Emulsi M/A yaitu butiran-butiran minyak terdispersi dalam air.
Pada emulsi A/M, maka butiran-butiran air yang diskontinyu terbagi dalam minyak yang
merupakan fase kontinyu, Sedangkan untuk emulsi M/A adalah sebaliknya. Kedua zat
yang membentuk emulsi ini harus tidak atau sukar membentuk larutan dispersirenik.
Beberapa sifat emulsi yang penting:
Demulsifikasi
Kestabilan emulsi cair dapat rusak apabila terjadi pemansan, proses sentrifugasi,
pendinginan, penambahan elektrolit, dan perusakan zat pengemulsi. Krim atau creaming
atau sedimentasi dapat terbentuk pada proses ini. Pembentukan krim dapat kita jumpai
pada emulsi minyak dalam air, apabila kestabilan emulsi ini rusak,maka pertikel-partikel
minyak akan naik ke atas membentuk krim. Sedangkan sedimentasi yang terjadi pada
emulsi air dalam minyak; apabila kestabilan emulsi ini rusak, maka partikel-partikel air
akan turun ke bawah. Contoh penggunaan proses ini adalah: penggunaan proses
demulsifikasi dengan penmabahan elektrolit untukmemisahkan karet dalam lateks yang
dilakukan dengan penambahan asam format (CHOOH) atau asam asetat (CH3COOH).
Pengenceran
Dengan menambahkan sejumlah medium pendispersinya, emulsi dapat diencerkan.
Sebaliknya, fase terdispersi yang dicampurkan akan dengan spontan membentuk lapisan
terpisah. Sifat ini dapat dimanfaatkan untuk menentukan jenis emulsi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas emulsi, adalah:
Tegangan antarmuka rendah
Kekuatan mekanik dan elastisitas lapisan antarmuka
Tolakkan listrik double layer

Relatifitas phase pendispersi kecilr


Viskositas tinggi.
Aturan pemakaian obat dalam bentuk sediaan emulsi :
Shake well before use atau bahasa latinnya Agitatio ante conqusdum, kocok dahulu
sebelum diminum. Aturan ini tidak diberikan tanpa alasan, obat minum yang tampaknya
tercampur rata ini sebenarnya terdiri dari berbagai macam zat aktif, mulai dari berbagai
bahan obat itu sendiri, bahan pelarut, bahan pemanis,dan bahan penstabil. Bermacam
bahan, baik yang padat, cair, maupun lemak ini kemudian akan tercampur dalam seuatu
bentuk emulsi. Nah, agar emulsi ini tercampur dengan baik, sebelum mengkonsumsinya
anda harus mengocoknya terlebih dahulu. Pengocokan tidak perlu dilakukan terlalu lama
hingga obat berbuih. Cukup membolak-balik botol tempat obat sekitar 15 kali agar emulsi
tersebut dapat tercampur sempurna.

Contoh obat dalam bentuk sediaan emulsi :


Scotts Emulsion
Sakatonik ABC
Curcuma plus
Organic
SUSPENSI
Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi
dalam fase cair. Suspensi terdiri dari beberapa jenis yaitu :
1. Suspensi Oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat yang terdispersi
dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukkan untuk
penggunaan oral.
2. Suspensi Topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam
pembawa cair yang ditujukkan untuk penggunaan pada kulit.
3. Suspensi Optalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang
terdispersi dalam cairan pembawa yang ditujukkan untuk penggunaan pada mata.
4. Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair yang mengandung partikel-partikel halus
yang ditujukkan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.
5. Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang
sesuai dan tidak disuntikan secara intravena atau kedalam saluran spinal.
6. Suspensi untuk injeksi terkontinyu adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa
yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk
suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai.
Stabilitas Suspensi
Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara
memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari pertikel. Cara
tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa faktor
yang mempengaruhi stabiltas suspensi adalah :
1. Ukuran Partikel
Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya
tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan
perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antar luas penampang

dengan daya tekan keatas merupakan hubungan linier. Artinya semakin besar ukuran
partikel maka semakin kecil luas penampangnya.
2. Kekentalan / Viskositas
Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut,
makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). Hal ini dapat
dibuktikan dengan hukum STOKES
3. Jumlah Partikel / Konsentrasi
Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar, maka partikel
tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan
antara partikel tersebut.Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat
tersebut, oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinan
terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat.
4. Sifat / Muatan Partikel
Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran bahan
yang sifatnya tidak terlalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi
antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut.
Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alami, maka kita tidak dapat
mempengruhi.Ukuran partikel dapat diperkecil dengan menggunakan pertolongan
mixer, homogeniser, colloid mill dan mortir. Sedangkan viskositas fase eksternal dapat
dinaikkan dengan penambahan zat pengental yang dapat larut kedalam cairan tersebut.
Bahan-bahan pengental ini sering disebut sebagai suspending agent (bahan
pensuspensi), umumnya besifat mudah berkembang dalam air (hidrokoloid).
Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu :
1. Bahan pensuspensi dari alam.
Bahan pensuspensi dari alam yang biasanya digunakan adalah jenis gom / hidrokoloid.
Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut
membentuk mucilago atau lendir. Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas
cairan tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas suspensi. Kekentalan
mucilago sangat dipengaruhi oleh panas, PH, danproses fermentasi bakteri. Termasuk
golongan gom, contohnya : Acasia ( Pulvis gummi arabici), Chondrus, Tragacanth,
Algin. Golongan bukan gom, contohnya : Bentonit, Hectorit dan Veegum.
2. Bahan pensuspensi sintesis
Derivat Selulosa
Golongan organik polimer
Cara Mengerjakan Obat Dalam Suspensi
1. Metode pembuatan suspensi, suspensi dapat dibuat dengan cara yaitu Metode Dispersi
dan Metode Precipitasi
2. Sistem pembentukan suspensi yaitu Sistem flokulasi dan Sistem deflokulasi
Dalam system flokulasi, partikel terflokulasi adalah terikat lemah, cepat mengendap
dan mudah tersuspensi kembali dan tidak membentuk cake. Sedangkan pada system
Deflokulasi, partikel terdeflokulasi mengendap perlahan lahan dan akhirnya akan
membentuk sendimen dan terjadi agregasi dan selanjutnya cake yang keras dan sukar
tersuspensi kembali.
Secara umum sifat-sifat dari partikel flokulasi dan deflokulasi adalah :
a. Deflokulasi
Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain.
Sedimentasi yang terjadi lambat masing-masing patikel mengendap terpisah dan
ukuran partikel adalah minimal.

Sediaan terbentuk lambat.


Diakhir sedimen akan membentuk cake yang keras dan sukar terdispersi lagi
b. Flokulasi
Partikel merupakan agregat yang basa
Sedimentasi terjadi begitu cepat
Sedimen tidak membentuk cake yang keras dan padat dan mudah terdispersi
kembali seperti semula.
Keuntungan sediaan suspensi antara lain sebagai berikut :
Bahan obat tidak larut dapat bekerja sebagai depo, yang dapat memperlambat
terlepasnya obat .
Beberapa bahan obat tidak stabil jika tersedia dalam bentuk larutan.
Obat dalam sediaan suspensi rasanya lebih enak dibandingkan dalam larutan, karena
rasa obat yang tergantung kelarutannya.
Kerugian bentuk suspensi antara lain sebagai berikut :
Rasa obat dalam larutan lebih jelas.
Tidak praktis bila dibandingkan dalam bentuk sediaan lain, misalnya pulveres, tablet,
dan kapsul.
Rentan terhadap degradasi dan kemungkinan terjadinya reaksi kimia antar kandungan
dalam larutan di mana terdapat air sebagai katalisator .
Alasan Penggunaan Suspensi Dalam Farmasi

Zat berkhasiat tidak larut dalam air

Zat berkhasiat tidak enak atau pahit

Mengurangi proses penguraian zat aktif dalam air

Kontak zat padat dengan medium dispersi dipersingkat

Memperpanjang pelepasan obat menggunakan pembewa minyak


Contoh obat dalam bentuk sediaan suspensi yang ada di pasaran :
Obat maag cair ( Antasida Doen )
Obat maag cair ( Mylanta )
OBH combi plus
Mycostatin Suspensi
Amoxicillin
Proris ibuprofen
Combantrin

III. ALAT DAN BAHAN


A. Alat :
1.
2.
3.
4.
9.

Timbangan
Mortir
Stamfer
Cawan porselin

5.
6.
7.
8.

Ayakan mesh 60 dan 80


Batang pengaduk
Sendok tanduk
Gelas ukur

B. Bahan :
1. Parasetamol
2. Etanol
3. PG
4. Sirup simplex
5. Asam Benzoat
6. CMC
7. Pewarna
8. Essence
9. Aqua
10. Minyak ikan
11. PGA
12. Sirup simplex
25.

13. Amoksilin
14. CMC
15. Na Benzoate
16. Sukrosa
17. Alkohol 96 %
18. Asam Benzoat
19. Asam Borat
20. Oleum eucaliptus
21. Menthol
22. Metil salisilat
23. Timol
24. Na. Lauril sulfat

IV. PENIMBANGAN BAHAN DAN CARA KERJA


26. Formula Sediaan Cair Oral
A. Sirup Parasetamol
27.
120 mg/5 ml
28.R/ Parasetamol
29. Etanol
5 ml
30.
5,5 ml
31. PG
32. Sirup simplex
40%
33.
0,1%
34. Asam Benzoat
35. CMC
1%
36.
1%
37. Pewarna
38. Essence
qs
39.
60 ml
40. Aqua ad
41.
42.
Penimbangan Bahan
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.

Parasetamol

Etanol
PG
Sirup simplex
Asam Benzoat
CMC
600 mg
50. Pewarna
51. Essence
52. Aqua ad
53.

60
5

x 120 = 1,4 g

5 ml
5,5 ml
40 %
0,1 %
1%

24 ml
60 mg
x 60
1%
qs

60 ml

600 mg

54.

Cara Kerja

1. Botol dikalibrasi 60 ml
2. Timbang semua bahan
3. Masukkan parasetamol + etanol dalam backer glass, aduk ad larut, + PG + asam
benzoat aduk ad larut
4. Taburkan CMC di atas air (20 x CMC = 12 ml), biarkan sampai mengembang,
kemudian aduk ad homogen
5. Tambahkan no. 3 + pewarna dan essence aduk ad homogen
6. Tambahkan air ad tanda kalibrasi
55.
B. Emulsi Minyak Ikan
56.
R/ Minyak ikan
20 ml
57.
Air
10 ml
58.
PGA
5
59.
Sirup simplex
20 %
60.
Aqua ad
100
61.
62.

Penimbangan Bahan
63.

Minyak ikan

20 ml

64.

Air

10 ml

65.

PGA

5g

66.

Sirup simplex

20 % x 100 = 20 g

67.

Aqua

100

ad

68.
69.

Cara Kerja

1. Pembuatan korpus emulsi dengan perbandingan M : A : PGA = 4 : 2 : 1


2. Masukkan minyak ikan ke dalam mortir + PGA aduk ad homogen, masukkan air
sekaligus aduk ad terjadi corpus emulsi
3. Tambahkan sirup simplex aduk ad homogen, masukkan botol
4. + air ad 100 g
70.
71.
72.
73.
C. Formula Suspensi (Dry Sirup/ Sirup Kering)
74.
125/5 ml
75.R/ Amoksilin
76. CMC
0,5 %
77.
0,1 %
78. Na Benzoate
79. Sukrosa
20 %
Alkohol 96 %

qs

Zat warna

qs

Essence

qs

80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.
87.

Penimbangan Bahan
60
5

88.

Amoksilin

x 125 = 1,5 g

89.

CMC

0,5 %

90.

Na Benzoate

0,1 %

91.

Sukrosa

20 %

92.

Alkohol 96 %

qs

93.

Zat warna

94.

Essence

300 mg
x 60

60 mg
12 g

qs
qs

95.
96.

Cara Kerja

1. Botol dikalibrasi 60 ml
2. Timbang semua bahan
3. Dalam mortir sukrosa dihaluskan, + asam benzoate, haluskan + zat warna dan
essence, aduk ad homogen dan halus
4. Kembangkan CMC dengan etanol secukupnya, tambahkan no 3, gerus ad
menjadi massa granul yang siap untuk diayak
Granul diayak dengan mesh 16, dan keringkan dalam oven
Setelah granul kering, ayak lagi dengan mesh 18
Masukkan mortir, campurkan dengan amoksilin, aduk ad homogen
Masukkan dalam botol yang sudah diberi tanda
97.
98.
99.
100.
101.Formula Sediaan Cair Topikal
A. Mouthwash
102.
R/ Etanol (90%)
21%
103.
104. Asam Benzoat
0,028%
105.
Asam Borat
2,35%
106.
107. Oleum eucaliptus
0,085%
108.
Menthol
0,042%
109.
110. Metil salisilat
0,05%
111.
Timol
0,064%
5.
6.
7.
8.

Na. Lauril sulfat

qs

Pewarna

0,1%

Aqua ad

100 ml

112.
113.
114.
115.
116.
117.
118.
Penimbangan Bahan
119.
120.
Etanol (90%)
121.
Asam Benzoat
122.
Asam Borat
123.
Oleum eucaliptus
124.
Menthol
125.
Metil salisilat
126.
Timol
127.
Na. Lauril sulfat
128.
Pewarna
129.
Aqua
ad
130.
131.

21%
0,028%
2,35%
0,085%
x 100
0,042%
0,05%
0,064%
qs
0,1% x 60 = 100 mg
100 ml

21 ml
28 mg
2,35 g
85 mg
42 mg
50 mg
64 mg

Cara Kerja

1. Botol dikalibrasi 100 ml


2. Timbang semua bahan
3. Asam Benzoat, Asam Borat, Menthol, dan Timol dilarutkan dengan sebagian
alkohol dalam becker glass, aduk ad semua larut
4. Oleum eucaliptus, Metil salisilat, dan sisa alkohol dilarutkan dalam becker glass,
aduk ad homogen, + no 3 aduk ad homogen dan larut
5. Bila larutan keruh tambahkan Na. Lauril sulfat sedikit demi sedikit sambil diaduk
ad jernih
6. masukkan botol + air ad tanda kalibrasi
132.

V. PEMBAHASAN
133.

Dalam praktek kali ini kami membuat sediaan cair yang berupa sirup,

emulsi, suspensi, dan mouthwash. Solutio adalah sediaan cair yang mengandung satu
atau lebih zat kimia yang terlarut. Bentuk sediaan larutan ddigolongkan menurut
pemberiannya, misalnya larutan oral, larutan topikal atau digolongkan menurut cara
pemberiannya didasarkan sistem pelarut dan zat terlarut seperti spirit dan larutan air.
Larutan yang diberikan secara parental disebut injeksi.
134. Sirupi adalah larutan pekat dari gula yang ditambahkan obat atau zat
pewangi dan merupakan larutan jernih berasa manis. Sediaan sirup adalah sediaan
cair yang mengandung gula (sakarosa), dengan kadar tidak kurang dari 64% dan tidak
lebih dari 66% dan berupa larutan. Sirup merupakan alat yang menyenangkan untuk
pemberian suatu bentuk cairan dari suatu obat yang rasanya tidak enak. Pada praktikum
kali ini kami membuat sediaan sirup parasetamol. Yang isinya adalah Parasetamol,
Etanol, PG, Sirup simplex, Asam Benzoat, CMC, Pewarna, Essence, dan Aqua. Dimana
parasetamol ini agak sukar larut dalam air. Kelarutannya adalah, parasetamol larut
dalam 70 bagian air, 7 bagian etanol, 13 bagian aseton, 40 bagian gliserol, 9 bagian PG,
dalam alkali hidroksida (KOH). Maka dalam resep ini parasetamol dilarutkan dengan
etanol dan PG. PG digunakan untuk menambah kelarutan agar kadar etanol tidak terlalu
besar. CMC dilarutkan dengan cara ditaburkan di atas air 20x nya dan dibiarkan
mengembang, baru kemudian dicampurkan dengan larutan parasetamol yang sudah
dicampur dengan asam benzoat. Setelah semuanya tercampur, baru kemudian
ditambahkan pewarna dan essence, aduk ad homogen, masukkan dalm botol, kemudian
tambahkan air sampai tanda kalibrasi dan jangan lupa diberi etiket warna putih.
135. Emulsi adalah campuran antara partikel-partikel suatu zat cair (fase
terdispersi) dengan zat cair lainnya (fase pendispersi) dimana satu campuran yang
terdiri dari dua bahan tak dapat bercampur, dengan satu bahan tersebar di dalam fasa
yang lain, maka dapat distabilkan dengan zat pengemulsi (emulgator/ emulsifiying/
surfactan). Dalam praktikum kali ini kami membuat sediaan emulsi minyak ikan yang
isinya adalah Minyak ikan, Air, PGA, Sirup simplex, dan Aqua. Minyak ikan tidak akan
dapat bercampur dengan air, maka dibuat emulsi dengan cara menambahkan emulgator
yang berupa PGA dengan menggunakan perbandingan M : A : PGA = 4:2:1. Minyak
ikan dimasukkan terlebih dahulu ke dalam mortir, kemudian tambahkan PGA aduk ad
homogen, baru kemudian kita tambahkan air sekaligus dengan jumlah yang sesuai
dengan perbandingan tadi, aduk ad terjadi corpus emulsi. Setelah itu baru kita
tambahkan sirup simplex sedikit demi sedikit gerus ad larut dan homogen, kemudian

kita masukkan dalam botol dan tambahkan aqua sampai 100 g, dan jangan lupa diberi
etiket warna putih.
136. Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak
larut yang terdispersi dalam fase cair. Suspensi Oral adalah sediaan cair yang
mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan
pengaroma yang sesuai dan ditujukkan untuk penggunaan oral. Dan kali ini kita
membuat sediaan suspensi dry sirup / sirup kering Amoksilin. Dengan resep yang isinya
adalah Amoksilin, CMC , Na Benzoate, Sukrosa, Alkohol 96 %, Zat warna, dan
Essence. Disini CMC berguna sebagai bahan pengikat, Na Benzoate sebagai bahan
pengawet, Sukrosa sebagai pemanis ataupun pengisi, Alkohol 96 % sebagai pelarutnya,
Zat warna, dan Essence digunakan agar obat terlihat menarik. Cara membuat CMC
yaitu dengan cara dikembangkan dengan menggunakan etanol secukupnya sekitar
3ml dalam mortir kemudian gerus. Dalam mortir lain sukrosa dihaluskan, tambahkan
asam benzoate kemudian haluskan kembali, setelah itu tambahkan zat warna dan
essence, aduk ad homogen dan halus. Setelah itu masukkan kedalam mortir yang berisi
CMC tadi, kemudian gerus ad menjadi massa granul yang siap untuk diayak. Granul
diayak dengan mesh 16, dan keringkan dalam oven. Setelah granul kering, ayak lagi
dengan mesh 18, stelah terayak semua masukkan dalam mortir, kemudian campurkan
dengan amoksilin, aduk ad homogen dengan menggunakan sendok tanduk. Dry sirup
harus dibuat granul terlebih dahulu karena dengan membuat granul jika sudah
ditambahkan air, maka akan lebih cepat larut dibandingakan dengan yang tidak dibuat
granul (serbuk halus). Terakhir masukkan dalam botol yang sudah diberi tanda ad 60 ml
dan beri etiket berwarna putih.
137. Mouthwash adalah termasuk sedian cair topikal, yang cara
penggunaanya hanya untuk kumur-kumur saja dan tidak boleh ditelan. Dalam
praktikum kali ini kami membuat sediaan Mouthwash yang berisi Etanol (90%), Asam
Benzoat, Asam Borat, Oleum eucaliptus, Menthol, Metil salisilat, Timol, Na. Lauril
sulfat, Pewarna, dan Aqua. Asam Borat terdapat dua sediaan yaitu pulveratum dan
kristalitatum. Pulveratum biasanya digunakan untuk sediaan salep dan pulvis,
sedangkan yang kristalitatum biasanya digunakan untuk sediaan larutan, jadi kali ini
kami menggunakan Asam Borat yang berupa kristalitatum. Menthol, Metil salisilat, dan
Timol masing-masing diambil dengan sendok porselin dan ditimbang dengan kaca
arloji. Pertama- tama botol dikalibrasi 100 ml. Asam Benzoat, Asam Borat, Menthol,
dan Timol dilarutkan dengan sebagian alkohol dalam becker glass, aduk ad semua larut.

Oleum eucaliptus, Metil salisilat, dan sisa alkohol dilarutkan dalam becker glass yang
lain, aduk ad homogen, kemudian tambahkan larutan Asam Benzoat, Asam Borat,
Menthol, dan Timol tadi, aduk ad homogen dan larut. Bila larutan keruh tambahkan Na.
Lauril sulfat sedikit demi sedikit sambil diaduk ad jernih. Na. Lauril sulfat adalah sabun
yang berfungsi untuk menjernihkan larutan yang keruh. Setelah larutan jernih
masukkan botol, tambahkan air ad tanda kalibrasi, dan beri etiket berwarna biru.
138.
VI. KESIMPULAN
139.Dari data dan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Solutio adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang
terlarut.
2. Sirupi adalah larutan pekat dari gula yang ditambahkan obat atau zat pewangi dan
merupakan larutan jernih berasa manis. Sediaan sirup adalah sediaan cair yang
mengandung gula (sakarosa), dengan kadar tidak kurang dari 64% dan tidak lebih
dari 66% dan berupa larutan.
3. Parasetamol dilarutkan dengan etanol dan PG. PG digunakan untuk menambah
kelarutan agar kadar etanol tidak terlalu besar.
4. CMC dilarutkan dengan cara ditaburkan di atas air 20x nya dan dibiarkan
mengembang.
5. Emulsi adalah campuran antara partikel-partikel suatu zat cair (fase terdispersi)
dengan zat cair lainnya (fase pendispersi) dimana satu campuran yang terdiri dari
dua bahan tak dapat bercampur, dengan satu bahan tersebar di dalam fasa yang
lain, maka dapat distabilkan dengan zat pengemulsi (emulgator/ emulsifiying/
surfactan).
6. Minyak ikan tidak akan dapat bercampur dengan air, maka dibuat emulsi dengan
cara menambahkan emulgator yang berupa PGA dengan menggunakan
perbandingan M : A : PGA = 4:2:1.
7. Korpus emulsi adalah inti dari pembuatan emulsi
8. Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang
terdispersi dalam fase cair. Suspensi Oral adalah sediaan cair yang mengandung
partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang
sesuai dan ditujukkan untuk penggunaan oral.
9. Suspensi yang dibuat adalah sediaan dry sirup / sirup kering. Yang cara
pembuatannya dengan membuat granul terlebih dahulu, karena dengan membuat
granul jika sudah ditambahkan air, maka akan lebih cepat larut dibandingakan
dengan yang tidak dibuat granul (serbuk halus).

10. Mouthwash adalah termasuk sedian cair topikal, yang cara penggunaanya hanya
untuk kumur-kumur saja dan tidak boleh ditelan.
11. Asam Borat terdapat dua sediaan yaitu pulveratum dan kristalitatum. Pulveratum
biasanya digunakan untuk sediaan salep dan pulvis, sedangkan yang kristalitatum
biasanya digunakan untuk sediaan larutan, jadi kita menggunakan Asam Borat
yang berupa kristalitatum.
12. Menthol, Metil salisilat, dan Timol masing-masing diambil dengan sendok porselin
dan ditimbang dengan kaca arloji.
13. Na. Lauril sulfat adalah sabun yang berfungsi untuk menjernihkan larutan yang
keruh
14. Untuk obat dalam diberi etiket putih (Sirup Parasetamol, Emulsi Minyak Ikan, dan
Suspensi Dry Sirup Amoksilin)
15. Untuk obat luar diberi etiket biru (Mouthwash)
140.
VII. DAFTAR PUSTAKA
141.
142.Arief, M., 1999, Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek, Gajah Mada University Press,
Yogyakarta.
143.Depkes RI. Farmakope Indonesia Ed III.1979.Jakarta
144.tjay, Tan Hoan dan Rahardja, Kirana. Obat-Obat Penting. Edisi keenam. 2007. Jakarta;
Elex Media Komputindo
145.Kuncahyo, Ilham, 2011, Petunjuk Praktikum Teknologi sediaan Farmasi, Universitas
Setia Budi, Surakarta.
146.
147.