Anda di halaman 1dari 6

Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid

Pada PLTH, renewable energy yang digunakan dapat berasal


dari energi matahari, angin, dan lain-lain yang dikombinasikan dengan
Diesel-Generator Set sehingga menjadi suatu pembangkit yang lebih
efisien, efektif dan handal untuk dapat mensuplai kebutuhan energi
listrik baik sebagai penerangan rumah atau kebutuhan peralatan listrik
yang lain seperti TV, pompa air, strika listrik serta kebutuhan industri
kecil di daerah tersebut. Dengan adanya kombinasi dari sumbersumber energi tersebut, diharapkan dapat menyediakan catu daya
listrik yang kontinyu dengan efisiensi yang paling optimal.

Contoh sistem PLTH yang mengkombinasikan Tenaga Surya, Tenaga


Angin, dan Diesel Generator

I.

Prinsip kerja PLTH


Cara kerja Pembangkit Listrik Sistim Hybrida Surya Bayu
dan Diesel sangat tergantung dari bentuk beban atau fluktuasi
pemakain energi (load profile) yang mana selama 24 jam
distribusi beban tidak merata untuk setiap waktunya. Load profil
ini sangat dipengaruhi penyediaan energinya. Untuk mengatasi
permasalahan tersebut maka kombinasi sumber energi antara
Sumber energi terbarukan dan Diesel Generator atau disebut
Pembangkit Listrik Sistem Hibrida adalah salah satu solusi paling
cocok untuk sistem pembangkitan yang terisolir dengan jaringan
yang lebih besar seperti jaringan PLN.

Urutan kerja PLTH


1. Pada kodisi beban rendah, maka beban disuplai 100%
dari baterai dan PV module, selama kondisi baterai masih
penuh sehingga diesel tidak perlu beroperasi.
2. Untuk beban diatas 75% beban inverter (tergantung
setting parameter) atau kondisi baterai sudah kosong
sampai level yang disyaratkan, diesel mulai beroperasi
untuk mensuplai beban dan sebagian mengisi baterai
sampai beban diesel mencapai 70-80% kapasitasnya
(tergantung setting parameter). Pada kondisi ini Hybrid
Controller bekerja sebagai charger (merubah tegangan AC
dari generator menjadi tegangan DC) untuk mengisi
baterai.
3. Pada kondisi beban puncak baik diesel maupun inverter
akan beroperasi dua-duanya untuk menuju paralel sistem
apabila kapasitas terpasang diesel tidak mampu sampai
beban puncak. Jika kapasitas genset cukup untuk
mensuplai beban puncak, maka inverter tidak akan
beroperasi paralel dengan genset.
Semua proses kerja tersebut diatas diatur oleh System
Command Unit yang terdapat pada Hybrid Controller. Proses
kontrol ini bukan sekedar mengaktifkan dan menonaktifkan diesel
tetapi yang utama adalah pengaturan energi agar pemakain BBM
diesel menjadi efisien. Parameter Pemakaian BBM dinyatakan
dengan Specified Fuel Consumption (SFC),yaitu besar atau
volume bahan bakar untuk dapat menghasilkan energi tertentu
dari suatu diesel-generator. Nilai SFC tergantung efisiensi engine
dan berapa persen daya yang dipikul oleh engine terhadap
kapasitas maksimumnya, yang nilainya antara 0.25 - 0.5
liter/kWh. NIlai optimum diperoleh saat pembebanan genset 75%80%

II.

Contoh aplikasi PLTH

a. embangkit listrik tenaga angin

Energi angin merupakan salah satu potensi energi


terbarukan yang dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap
kebutuhan energi listrik domestik, khususnya wilayah terpencil.
Pembangkit energi angin yang biasa disebut Pembangkit Listrik
Tenaga Angin ini bebas polusi dan sumber energinya yaitu angin
tersedia di mana pun, maka pembangkit ini dapat menjawab
masalah lingkungan hidup dan ketersediaan sumber energy.
Namun dalam pemasagannya kita harus memperhatikan
seberapa besar potensi angina di tempat bersangkutan.
Dari data Blueprint Energi Nasional, Departemen ESDM RI
dapat dilihat bahwa potensi PLTB di Indonesia sangat menarik
untuk dikembangkan karena dari potensi sebesar 9,29 GW, baru
sekitar 0,5 GW yang dikembangkan, yang berarti baru sekitar
5,38%. Secara implisit, hal ini menyiratkan bahwa jumlah
penelitian dan jumlah peneliti yang tertarik mengembangkan
teknologi ini masih sangat sedikit. Prospek pengembangan
teknologi ini masih sangat tinggi. Beberapa wilayah di Indonesia
disinyalir dapat berkontribusi besar terhadap penggunaan
pembangkit listrik tenaga angin diantaranya wilayah NTT, Maluku,
dan beberapa wilayah Indonesia bagian timur.
Namun dari survey dan studi literatur dari Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), pengembangan
teknologi Pembangkit listrik Tenaga Angin di Indonesia
menghadapi beberapa masalah penting yang harus dipecahkan
karena menghambat pengembangan dan mengurangi minat
masyarakat untuk memakai energi angin ini, yaitu:

1. Rendahnya distribusi kecepatan angin di Indonesia.


Daerah di Indonesia rata-rata hanya memiliki kecepatan
angin pada kisaran 2,5 6 m/s.
2. Besarnya fluktuasi kecepatan angin di Indonesia. Yang
berarti profil kecepatan angin selalu berubah secara drastis
dengan interval yang cepat.
Peta persebaran potensi angin Indonesia. Dapat dilihat
bahwa distribusi kecepatannya relatif rendah.
Dengan rata-rata kecepatan angin yang rendah, generator
yang dipasang harus dirancang untuk berputar secara optimal
pada kecepatan angin yang rendah (yang kemungkinan
terjadinya paling besar). Masalahnya, karena fluktuasi kecepatan
angin di Indonesia cukup besar, kecepatan angin sering melonjak
tinggi selama beberapa saat. Jika kita merancang generator
untuk berputar secara optimal pada kecepatan angin rendah,
generator tidak akan kuat menahan kecepatan angin yang tinggi.
Akibatnya generator akan rusak.
Maka dari itu, biasanya turbin angin yang dipasang di
Indonesia tidak dirancang untuk berputar secara optimal pada
kecepatan rendah yang kemungkinan terjadinya paling besar
tersebut. Biasanya turbin angin yang dipasang di Indonesia
dirancang untuk berputar secara optimal pada kecepatan angin
yang sedikit lebih tinggi daripada kecepatan rendah yang
dimaksud tadi.
Namun solusi ini menghadapi masalah baru yaitu turbin
tidak akan berputar dengan baik pada kecepatan yang sangat
rendah (yang sering terjadi juga karena besarnya fluktuasi).
Akibatnya daya tidak terbangkitkan pada kecepatan rendah.
Maka sistem turbin angin di Indonesia sering tidak menghasilkan
daya (karena kecepatan sangat rendah cukup sering terjadi).

b. Pembangkil Listrik Tenaga Surya


Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia,
paling populer digunakan untuk listrik pedesaan (terpencil),
system seperti ini populer dengan sebutan SHS (Solar Home
System). SHS umumnya berupa system berskala kecil, dengan
menggunakan modul surya 50-100 Wp (Watt Peak) dan
menghasilkan listrik harian sebesar 150-300 Wh. Karena
skalanya yang kecil, system DC (direct current) lebih disukai,
untuk menghindari losses dan self consumption akibat
digunakannya inverter.

Konfigurasi SHS seperti diagram dibawah ini:

Karena systemnya yang kecil dan dipasang secara


desentralisasi (satu rumah satu pembangkit, sehingga tidak
memerlukan jaringan distribusi) SHS ideal digunakan untuk listrik
di pedesaan dimana jarak rumah satu dengan lainnya berjauhan,
dan keperluan listriknya relatif kecil, yakni hanya untuk memenuhi
kebutuhan dasar (lampu). Meskipun secara pengertian SHS
dapat saja berupa system yang besar (sejauh masih digunakan
untuk listrik rumah), namun kebanyakan orang cenderung tidak
menggunakan istilah SHS untuk system yang menggunakan
modul lebih besar dari 100Wp (atau produksi energi harian
>400Wh). Kecilnya listrik yang dapat disediakan oleh SHS (kecil
menurut definisi orang kota yang sering menggunakan listrik jauh
diatas produksi SHS, padahal bagi orang desa listrik sejumlah itu
sangat bermanfaat, karena dibandingkan lampu minyak tanah,
yakni lampu teplok/petromak), ditambah lagi dengan relatif
sulitnya mencari peralatan elektronik rumah tangga (TV,
Radio/Tape dll) yang menggunakan system DC, membuat SHS
tidak menarik untuk penggunaan di desa-desa dekat kota atau di
perkotaan, dimana kebutuhan listrik sudah tidak melulu hanya
untuk lampu penerangan.
Meskipun belum ada batasan yang jelas, PLTS yang
menggunakan modul surya lebih dari 100Wp (Output energi
>400Wh), dan oleh karenanya lebih memungkinkan digunakan
system AC (Alternating current; karena listrik yang dapat
digunakan setelah dikurangi losses dan self consumption inverter
masih cukup memadai), dalam tulisan ini, termasuk dalam
kategori PLTS skala menengah-besar. PLTS pada skala ini
umumnya tidak lagi menggunakan system desentralisasi, tetapi
menggunakan system sentralisasi ( dus menggunakan jaringan
distribusi), dan dikombinasikan dengan system pembangkit
lainnya.