Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan
infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat
infeksi virus HIV. Virusnya Human Immunodeficiency Virus HIV yaitu virus yang
memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi
rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan
yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum
benar-benar bisa disembuhkan. HIV umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara
lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang
mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu
ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral),
transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan,
bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Penyakit AIDS ini telah menyebar ke berbagai negara di dunia. Bahkan menurut
UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta jiwa
sejak pertama kali diakui tahun 1981, dan ini membuat AIDS sebagai salah satu epidemik
paling menghancurkan pada sejarah. Meskipun baru saja, akses perawatan antiretrovirus
bertambah baik di banyak region di dunia, epidemik AIDS diklaim bahwa diperkirakan
2,8 juta (antara 2,4 dan 3,3 juta) hidup pada tahun 2005 dan lebih dari setengah juta
(570.000) merupakan anak-anak. Secara global, antara 33,4 dan 46 juta orang kini hidup
dengan HIV.Pada tahun 2005, antara 3,4 dan 6,2 juta orang terinfeksi dan antara 2,4 dan
3,3 juta orang dengan AIDS meninggal dunia, peningkatan dari 2003 dan jumlah terbesar
sejak tahun 1981.
Di Indonesia menurut laporan kasus kumulatif HIV/AIDS sampai dengan 31
Desember 2011 yang dikeluarkan oleh Ditjen PP & PL, Kemenkes RI tanggal 29 Februari
2012 menunjukkan jumlah kasus AIDS sudah menembus angka 100.000. Jumlah kasus
yang sudah dilaporkan 106.758 yang terdiri atas 76.979 HIV dan 29.879 AIDS dengan
5.430 kamatian. Angka ini tidak mengherankan karena di awal tahun 2000-an kalangan

ahli epidemiologi sudah membuat estimasi kasus HIV/AIDS di Indonesia yaitu berkisar
antara 80.000 130.000. Dan sekarang Indonesia menjadi negara peringkat ketiga,
setelah Cina dan India, yang percepatan kasus HIV/AIDS-nya tertinggi di Asia.
B. Rumusan Masalah
1.

Apakah pengertian HIV-AIDS?

2.

Apakah Etiologi dari AIDS?

3.

Apa Manifestasi Klinis dari AIDS?

4.

Bagaimana Patofisiologi AIDS?

5.

Bagaimana Pathway dari AIDS?

6.

Bagaimana Patogenesis Dari AIDS?

7.

Apa Komplikasi dari AIDS?

8.

Bagaimana Pencegahan AIDS?

9.

Apa Pemeriksaan Diagnostik untuk AIDS?

10. Bagaimana Penatalaksanaan Medis AIDS?


11. Bagaimana Konsep asuhan keperawatan Klien dengan AIDS?
C. Tujuan Penulisan
1.

Mengetahui pengertian HIV-AIDS

2.

Mengetahui Etiologi dari AIDS

3.

Mengetahui manifestasi Klinis dari AIDS?

4.

Mengetahui dan Memahami Patofisiologi dari AIDS

5.

Mengetahui Pathway dari AIDS

6.

Mengetahui Patogenesis dari AIDS

7.

Mengetahui Komplikasi dari AIDS

8.

Mengetahui Pencegahan AIDS

9.

Mengetahui Pemeriksaan Diagnostik untuk AIDS

10. Mengetahui Penatalaksanaan Medis AIDS


11. Mengetahui dan memahami konsep asuhan keperawatan Klien dengan AIDS?

BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR MEDIS


1. Pengertian
HIV ( Human immunodeficiency Virus ) adalah virus pada manusia yang
menyerang system kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka waktu yang relatif
lama dapat menyebabkan AIDS, sedangkan AIDS sendiri adalah suatu sindroma
penyakit yang muncul secara kompleks dalam waktu relatif lama karena penurunan
sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV.
Pengertian AIDS menurut beberapa ahli antara lain:
AIDS adalah sindroma yang menunujukkan defisiensi imun seluler pada
seseorang tanpa adanya penyebab yang diketahui untuk dapat menerangkan
terjadinya defisiensi, tersebut seperti keganasan, obat obatan seperti imun,
penyakit infeksi yang sudah dikenal, dan sebagainya (Christine L, 1992)
AIDS dalah kumpulan gejalapenyakit akibat menurunnya system kekbalan tubuh
oleh virus yang disbut HIV yang di tandai dengan menurunya system kekebalan
tubuh sehinggapasien AIDS mudah diserang oleh infeksi oportunistik dan kanker
(Djauzi dan Djoerban, 2003)
AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang
berkaitan dengan infeksi

human immunodetciency virus (HIV). (Suzane C.

Smetzler dan Brende G. Bare, 2002)


AIDS adalah infeksi oportunistik yang menyerang seseorang dimana mengalami
penurunan sistem imun yang mendasar ( sel T berjumlah 200

atau kurang ) dan

memiliki antibodi positif terhadap HIV. (Doenges, 1999)


AIDS adalah suatu kumpulan kondisi klinis tertentu yang merupakan hasil akhir
dari infeksi oleh HIV. (Sylvia, 2005)
AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan
tubuh manusia (H. JH. Wartono, 1999 : 09).

Kesimpulan: AIDS adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau


kerusakan daya tahan tubuh yang diakibatkan oleh faktor luar (bukan dibawa
sejak lahir)dan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan
ringan dalam respon imun tanpa dan gejala yang nyata hingga keadaan ini
imunosuprsi dan berkaitan dengan berbagai infeksi yang dapat membawa
kematian dan dengan kelianan malignitas yang jarang terjadi
2. Etiologi
Penyebab infeksi adalah golongan virus retro yang disebut human
immunodeficiency virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai
retrovirus dan disebut HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus
baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap sebagai virus kurang pathogen
dibandingkaan dengan HIV-1. Maka untuk memudahkan keduanya disebut HIV.
AIDS dapat menyerang semua golongan umu, termasuk bayi, pria maupun
wanita. Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah:
1.

Lelaki homoseksual atau biseks.

2.

Orang yang ketagian obat intravena

3.

Partner seks dari penderita AIDS

4.

Penerima darah atau produk darah (transfusi).

5.

Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.

Penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) dapat ditularkan melalui:


a. Hubungan seksual (resiko 0,1 1%)
b. Darah :
1) Transfuse darah yang mengandung HIV (resiko 90 98)
2) Transfuse jarum yang mengandung HIV (resiko 0,3)
3) Terpapar mukosa yang mengandung HIV (resiko 0,09)
c. Transmisi dari ibu ke anak:
1) Selama kehamilan
2) Saat persalinan
3) Air susu ibu
5

3. Manifestasi Klinis
Gejala penyakit AIDS sangat bervariasi. Berikut ini gejala yang ditemui
pada penderita AIDS, panas lebih dari 1 bulan, batuk-batuk, sariawan dan
nyeri menelan,

badan

menjadi

kurus

sekali,

diare,

sesak

napas,

pembesaran kelenjar getah bening, kesadaran menurun, penurunan ketajaman


penglihatan, bercak ungu kehitaman di kulit.
Gejala penyakit AIDS tersebut harus ditafsirkan dengan hati-hati, karena
dapat merupakan gejala penyakit lain yang banyak terdapat di Indonesia, misalnya
gejala panas dapat disebabkan penyakit tipus atau tuberkulosis paru. Bila terdapat
beberapa gejala bersama-sama pada seseorang dan ia mempunyai perilaku atau
riwayat perilaku yang mudah tertular AIDS, maka dianjurkan ia tes darah HIV.
Pasien AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda penyakit. Pada
infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut yang lamanya 1 2
Minggu pasien akan merasakan sakit seperti flu. Dan disaat fase supresi imun
simptomatik (3 tahun) pasien akan mengalami demam, keringat dimalam hari,
penurunan berat badan, diare, neuropati, keletihan ruam kulit, limpanodenopathy,
pertambahan

kognitif,

dan

lesi

oral.

Dan

disaat

fase

infeksi

Human

Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi AIDS (bevariasi 1-5 tahun dari pertama
penentuan kondisi AIDS) akan terdapat gejala infeksi opurtunistik, yang paling
umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC), Pneumonia interstisial yang disebabkan
suatu protozoa, infeksi lain termasuk menibgitis, kandidiasis, cytomegalovirus,
mikrobakterial, atipikal.
Pembagian Stadium :
a. Stadium pertama : HIV
Infeksi di mulai dengan masuknya HIV dan di ikuti dengan terjadinya perubahan
serologis ketika antibodi terhadap virus tersebut berubah dari negatif menjadi
positif. Rentang waktu sejak HIV masuk ke dalam tubuh sampai tes antibodi
terhadap HIVmenjadi positif di sebut dengan window period. Lama window
period adalah antara satu sampai tiga bulan, bahkan ada yang dapat berlangsung
sampai enam bulan

b. Stadium kedua : Asimptomatik ( tanpa gejala )


Asimptomatik berarti bahwa di dalam organ tubuh terdapat HIV, tetapi tubuh tidak
menunjukkan gejala apa pun. Keadaan ini dapat berlangsung rata-rata selama 5-10
tahun. Cairan tubuh pasien HIV.AIDS yang tampak sehat ini sudah dapat
menularkan HIV kepada orang lain.
c. Stadium ketiga : Pembesaran kelenjar limfe secara menetap dan merata ( pesistent
Generalized Lynphadenopaty ). Hal ini tidak hanya muncul pada satu tempat saja
dan berlangsung lebih satu bulan.
d. Stadium keempat : AIDS
Keadaan ini di sertai dengan adanya bermacam-macam penyakit, antara lain
penyakit konstitusional, penyakit saraf, dan penyakit infeksi sekunder.
Gejala klinis pada stadium AIDS di bagi antara lain :
Gejala utama / mayor :
a. Demam berkepanjangan lebih dari 3 bulan
b. Diare kronis lebih dari satu bulan berulang maupun terus menerus
c. Penurunan berat badan lebih dari 10 % dalam tiga bulan.
Gejala minor :
a. Batuk kronis selama satu bulan
b. Infeksi pada mulut dan tenggorokan yang disebabkan oleh jamur Candida
albicons
c. Pembengkakan kelenjar getah bening yangmenetap di seluruh tubuh
d. Munculnya herpes zoster berulang dan bercak-bercak gatal di seluruh tubuh.

Tabel 1
4 Tahap Derajat Infeksi HIV
Fase

Derajat
7

1
2
3

Infeksi HIV primer


HIV dengan defesiensi imun dini (CD4+ > 500/ul )
Adanya HIV dengan defesiensi imun yang sedang

(CD4+; 200-500/ul)
Hiv dengan defesiensi imun yang berat (CD4+ < 200/ul)
di sebut dengan AIDS . Sehingga muncul CDC Amerika
(1993), pasien masuk alam kategori AIDS bila CD4+ <
200/ul
Tabel 2
Klasifikasi Klinis Infeksi HIV menurut WHO

Stadium
I
II

Gambaran Klinis
1. Asimptomatis
2. Limfadenopati generalisata

Skala Aktivitas
Asimptomatis,
aktivitas

normal
1. Berat badan menurun <10 Simptomatis

aktivitas

%
normal
2. Kelainan kulit dan mukosa
yang

ringan

dermatitis
prurigo,

seperti,
seboroik,

onikomikosis,

ulkus oral yang rekuen, dan


kheilitis angularis
3. Herpes zoster dalam 5 tahun
terakhir
4. Infeksi saluran nafas bagian
atas
III

seperti

sinusitis

bakterialis
1. Berat badan menurun <
10%
2. Diare

Pada

umumya

lemah,

aktivitas di tempat tidur


kronis

yang

kurang dari 50%

berlangsung lebih dari 1


bulan
3. Demam

berkepanjangan

lebih dari satu bulan


4. Kandidiasis orofaringeal
5. Oral hairy leukoplakia
8

6. TB paru alam satu tahun


terakhir
7. Infeksi bacterial yang berat
seperti
IV

pnemonia,

piomiositis
1. HIV wasting

syndrome Pada umumya sangat lemah,

seperti yang didefinisikan aktivitas di tempat tidur lebih


oleh CDC
2. Pnemonia

dari 50%
Pneumocystis

carini
3. Toksoplasmosis otak
4. Diare
kriptosporidiosis
lebih dari satu bulan
5. Kriptokokosis
Ekstrapulmonal
6. Retinitis virus sitomegalo
7. Herpes simplek mukokutan
> 1 bulan
8. Leukoensefalopati
multifokal progresif
9. Mikosis diseminata seperti
histoplasmosis
10. Kandidiasis di esophagus,
trakea, bronkus, dan paru
11. Mikobakteriosis
atipikal
diseminata
12. Septisemia

salmonelosis

nontifoid
13. Tuberkulosis di luar paru
14. Limfoma
15. Sarkoma Kaposi
16. Ensealopati HIV
4. Patofisiologi
Penyakit AIDS disebabkan oleh Virus HIV. Masa inkubasi AIDS diperkirakan
antara 10 minggu sampai 10 tahun. Diperkirakan sekitar 50% orang yang terinfeksi
HIV akan menunjukan gejala AIDS dalam 5 tahun pertama, dan mencapai 70%
9

dalam sepuluh tahun akan mendapat AIDS. Berbeda dengan virus lain yang
menyerang sel target dalam waktu singkat, virus HIVmenyerang sel target dalam
jangka waktu lama. Supaya terjadi infeksi, virus harus masuk ke dalam sel, dalam hal
ini sel darah putih yang disebut limfosit. Materi genetik virus dimasukkan ke dalam
DNA sel yang terinfeksi. Di dalam sel, virus berkembangbiak dan pada akhirnya
menghancurkan sel serta melepaskan partikel virus yang baru. Partikel virus yang
baru kemudian menginfeksi limfosit lainnya dan menghancurkannya.
Virus menempel pada limfosit yang memiliki suatu reseptor protein yang
disebut CD4, yang terdapat di selaput bagian luar. CD4 adalah sebuah marker atau
penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel
limfosit.Sel-sel yang memiliki reseptor CD4 biasanya disebut sel CD4+ atau limfosit
T penolong. Limfosit T penolong berfungsi mengaktifkan dan

mengatur sel-sel

lainnya pada sistem kekebalan (misalnya limfosit B, makrofag dan limfosit T


sitotoksik), yang kesemuanya membantu menghancurkan sel-sel ganas dan
organisme asing. Infeksi HIV menyebabkan hancurnya limfosit T penolong, sehingga
terjadi kelemahan sistem tubuh dalam melindungi dirinya

terhadap infeksi dan

kanker.
Seseorang yang terinfeksi oleh HIV akan kehilangan limfosit T penolong
melalui 3 tahap selama beberapa bulan atau tahun. Seseorang yang sehat memiliki
limfosit CD4 sebanyak 800-1300 sel/mL darah. Pada beberapa bulan pertama setelah
terinfeksi HIV, jumlahnya menurun sebanyak 40-50%. Selama bulan-bulan ini
penderita bisa menularkan HIV kepada orang lain karena banyak partikel virus yang
terdapat di dalam darah. Meskipun tubuh berusaha melawan virus, tetapi tubuh tidak
mampu meredakan infeksi. Setelah sekitar 6 bulan, jumlah partikel virus di dalam
darah mencapai kadar yang stabil, yang berlainan pada setiap penderita. Perusakan
sel CD4+ dan penularan penyakit kepada orang lain terus berlanjut. Kadar partikel
virus yang tinggi dan kadar limfosit CD4+ yang rendah membantu dokter dalam
menentukan orang-orang yang beresiko tinggi menderita AIDS. 1-2 tahun sebelum
terjadinya AIDS, jumlah limfosit CD4+ biasanya menurun drastis. Jika kadarnya
mencapai 200 sel/mL darah, maka penderita menjadi rentan terhadap infeksi.

10

Infeksi HIV juga menyebabkan gangguan pada fungsi limfosit B (limfosit


yang menghasilkan antibodi) dan seringkali menyebabkan produksi antibodi yang
berlebihan. Antibodi ini terutama ditujukan untuk melawan HIV dan infeksi yang
dialami penderita, tetapi antibodi ini tidak banyak membantu dalam melawan
berbagai infeksi oportunistik pada AIDS. Pada saat yang bersamaan, penghancuran
limfosit CD4+ oleh virus menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem kekebalan
tubuh dalam mengenali organisme dan sasaran baru yang harus diserang.
Setelah virus HIVmasuk ke dalam tubuh dibutuhkan waktu selama 3-6 bulan
sebelum titer antibodi terhadap HIVpositif. Fase ini disebut periode jendela
(window period). Setelah itu penyakit seakan berhenti berkembang selama lebih
kurang 1-20 bulan, namun apabila diperiksa titer antibodinya terhadap HIV tetap
positif (fase ini disebut fase laten) Beberapa tahun kemudian baru timbul gambaran
klinik AIDS yang lengkap (merupakan sindrom/kumpulan gejala). Perjalanan
penyakit infeksi HIVsampai menjadi AIDS membutuhkan waktu sedikitnya 26 bulan,
bahkan ada yang lebih dari 10 tahun setelah diketahui HIV positif. (Heri : 2012)

Perjalanan HIV / AIDS di bagi dalam 2 fase :


a. Fase infeksi awal
Pada fase awal proses infeksi ( immunokompeten ) akan terjadi respon imun
berupa peningkatan aktivitas imun, yaitu pada tingkat selular ( KLA-DR; sel T;
IL-2R ); serum atau humoral ( beta-2 mikroglobulin, neopterin, CD8, IL-R ); dan
antibodi upregulation (gp 120, anti p24;IgA ). Induksi sel T helper dan sel-sel lain
diperlukan untuk mempertahankan fungsi sel-sel faktor sistem imun agar tetap
berfungsi dengan baik.
Infeksi HIV akan menghancurkan sel-sel T, sehingga T-helper tidak dapat
memberikan induksi kepada sel-sel efektor sistem imun. Dengan tidak adanya Thelper , sel-sel efektor sisitem imun seperti T8 sitotoksi, sel NK, monosit dan sel
B tidak dapat berfungsi dengan baik. Daya tahan tubuh menurun sehingga pasien
jatuh ke dalam stadium lebih lanjut.
b. Fase infeksi lanjut
11

Fase ini disebut dengan imunodefesien, karena dalam serum pasien yang
terinfeksi HIV ditemukan adanya faktor supresif berupa antibodi terhadap
poliferase sel T. Adanya supresif pada poliferase sel T tersebut dapat menekan
sintesis dan sekresi limfokin, sehingga sel T tidak mampu memberikan respons
terhadap mitogen dan terjadi disfungsi imun yang ditandai dengan penurunan
kadar CD4+, sitokin, antibodi down regulation, TNF a, dan anti nef.

12

PATHWAY
Virus HIV

Menyerang T Limfosit,
sel saraf, makrofag,
monosit, limfosit B

Merusak seluler

HIV- positif ?

Invasi kuman patogen

Flora normal patogen

Reaksi psikologis

Organ target

Sensori

Gangguan
penglihatan
dan
pendengaran

Gangguan sensori

Gatal, sepsis,
nyeri

Gangguan body imageapas

Infeksi

Dermatologi

Tidak efektif pol napas

Penyakit
anorektal

Tidak efektfi bersihan jalan


napas

Disfungsi
biliari

Gangguan pola BAB

Hepatitis

Respiratori

Gangguan rasa nyaman :


nyeri

Diare

Cairan berkurang

Ensepalopati akut

hipertermi

Intolerans Aktivitas

Kompleks
demensia

Gangguan mobilisasi

Cairan berkurang

Lesi mulut

Gastrointestinal

Nutrisi inadekuat

Manifestasi saraf

Gangguan rasa nyaman :


nyeri

Manifestasi oral

Nutrisi inadekuat

Immunocompromise

13

5. Patogenesis
a. Penularan dan Masuknya Virus
HIV dapat diisolasi dari darah, cairan serebrospinalis, semen, air
mata, sekresi vagian atau serviks, urin, ASI, dan air liur. Penularan terjadi
paling efisien melalui darah dan semen . HIV juga dapat ditularkan
melalui air susu dan sekresi vagian atau serviks. Tiga cara utama
penularan adalah kontak ibu-bayi. Setelah virus ditularkan akan terjadi
serangkaian proses yang kemudian menyebabkan infeksi.
b. Perlekatan Virus
Virion HIV matang memiliki bentuk hamper bulat. Selubung
luarnya, atau kapsul viral, terdiri dari lemak lapis-ganda yang
mengandung banyak tonjolan protein. Duri-duri ini terdiri dari dua
glikoprotein: gp120 dan gp41. Gp mengacu kepada glikoprotein dan
angka mengacu kepada massa protein dalam ribuan Dalton. Gp120
adalah selubung permukaan eksternal duri, dan gp41 adalah bagian
transmembran.
Terdapat suatu protein matriks

yang

disebut p17 yang

mengelilingi segmen bagian dalam membrane virus. Sedangkan inti


dikelilingi oleh suatu protein kapsid yang disebut p24. Di dalam kapsid,
p24 terdapat dua untai RNA identik dan molekul preformed reverse
transcriptase, integrase, dan protease yang sudah terbentuk. HIV adalah
suatu retrovirus sehingga materi genetic berada dalam bentuk RNA bukan
DNA. Reverse transcriptase adalah enzim yang mentranskripsikan RNA
virus menjadi DNA setelah virus masuk ke sel sasaran. Enzim-enzim lain
yang menyertai RNA adalah integrase dan protease.
HIV menginfeksi sel dengan mengikat permukaan sel sasaran
yang memiliki molekul reseptor membrane CD4. Sejauh ini, sasaran yang
disukai oleh HIV adalah limfosit T penolong positif-CD$ atau sel T4
(limfosit CD4+). Gp120 HIV berikatan dengan kuat dengan limfosit

14

CD4+ sehingga gp41 dapat memerantarai fusi membrane virus ke


membrane sel. BAru-baru ini ditemukan bahwa dua koreseptor
permukaan sel, CCR5 atau CXCR4 diperlukan, agar glikoprotein gp120
dan gp41 dapat berikatan dengan reseptor CD4+ (DOms, Peiper, 1997).
Koreseptor ini menyebabkan perubahan-perubahan konformasi sehingga
gp41 dapat masuk ke membrane sel sasaran. Individu yang mewarisi dua
salinan defektif gen reseptor CCR5 (homozigot) resisten terhadap
timbulnya AIDS, walaupun berlangkali terpajan HIV (sekitar 1% orang
Amerika keturunan Caucasian). Individu yang heterozigot untuk gen
defektif ini (18 sampai 20 %) tidak terkindung dari AIDS, tetapi awitan
penyakit agak melambat. Belum pernah ditemukan homozigot pada
populasi Asia atau Afrika, yang mungkin dapat membantu menerangkan
mengapa mereka lebih rentan terhadap infeksi HIV (OBrien, Dean,
1997).
Sel-sel lain yang mungkin rentan terhadap infeksi HIV mencakup
monosit dan makrofag. Monosit dan makrofag yang terinfeksi dapat
berfungsi sebagai reservoir untuk HIV tetapi tidak dihancurkan oleh
virus. HIV bersifat politrofik dan dapat menginfeksi beragam sel manusia
(Levy, 1994), seperti sel natural killer (NK), limfosit B, sel endotel, sel
epitel, sel Langerhans, sel densritik (yang terdapat di permukaan mukosa
tubuh), sel microglia, dan berbagai jaringan tubuh.
Setelah virus berfusi dengan limfosit CD4+ maka berlangsung
serangkaian

proses

kompleks

yang

apabila

berjalan

lancer,

menyebabkan terbentuknya partikel-partikel virus baru dari sel yang


terinfeksi. Lomfosit CD4+ yang terinfeksi mungkin mengalami siklussiklus replikasi sehingga menghasilkan banyak virus. Infeksi pada
limfosit CD4+ juga dapat menimbulkan sitopatogenisitas melalui
beragam mekanisme, termasuk apoptosis (kematian sel terprogram),
anergi (pencegahan fusi sel lebih lanjut), atau pembentukan sinsitium
(fusi sel).
15

c. Replikasi Virus
Setelah terjadi fusi sel-virus, RNA virus masuk ke bagian tengah
sitoplasma limfosit CD4+. Setelah nukleokapsid dilepas, maka terjadi
transkripsi terbalik (reverse transcription) dari satu untai-tunggal RNA
menjadi DNA salinan (cDNA) untai-ganda virus. Integrase HIV
membantu insersi cDNA virus ke dalam inti sel pejamu. Apabila sudah
terintegrasi ke dalam kromosom sel pejamu, maka dua untai DNA
sekarang menjadi provirus (Greene, 1993). Provirus menghasilkan RNA
messenger (mRNA) yang meninggalkan inti sel dan masuk ke dalam
sitoplasma. Tahap akhir produksi virus membutuhkan suatu enzim virus
yang disebut HIV protease, yang memotong dan menata protein virus
menjadi segmen-segmen kecil yang mengelilingi RNA virus, membentuk
partikel virus menular yang menonjol dari sel yang terinfeksi. Sewaktu
menonjol dari sel pejamu, partikel-partikel virus tersebut akan
terbungkus oleh sebagian dari membrane sel yang terinfeksi. HIV yang
baru terbentuk sekarang dapat menyerang sel-sel rentan lainnya di
seluruh tubuh.
Replikasi HIV berlanjut sepanjang periode latensi klinis, bahkan
saat hanya terjadi aktivitas virus yang minimal di dalam darah
(Embretson et al., 1993; Panteleo et al., 1993). HIV ditemukan dalam
jumlah besar di dalam limfosit CD4+ dan makrofag di seluruh system
limfoid pada semua tahap infeksi. Partikel-partikel virus juga telah
dihubungkan dengan sel-sel dendritik

folikular, yang

mungkin

memindahkan infeksi ke sel-sel selama migrasi melalui folikel-folikel


limfoid.
Walaupun selama masa latensi klinis tingkat viremia dan replikasi
virus di sel-sel mononukleus darah perifer rendah, namun pada infeksi
ini tidak ada latensi yang sejati. HIV secara terus menerus terakumulasi
dan bereplikasi di organ-organ limfoid. Sebagian data menunjukkan
bahwa terjadi replikasi dalam jumlah sangat besar dan pertukaran sel
16

yang sangat cepat, dengan waktu-paruh virus dan sel penghasil virus di
dalam plasma sekitar 2 hari (Wei et al., 1995; Ho et al., 1995). Aktivitas
ini menunjukkan bahwa terjadi pertempuran terus menerus antara virus
dan system imun pasien
6. Komplikasi
Adapun komplikasi kien dengan HIV/AIDS (Arif Mansjoer, 2000 )
antara lain:
a. Pneumonia pneumocystis (PCP)
b. Tuberculosis (TBC)
c. Esofagitis
d. Diare
e. Toksoplasmositis
f. Leukoensefalopati multifocal prigesif
g. Sarcoma Kaposi
h. Kanker getah bening
i. Kanker leher rahim (pada wanita yang terkena HIV)
7. Pencegahan
Dengan mengetahui cara penularan HIV/AIDS dan sampai saat ini
belum ada obat yang mampu memusnahkan HIV/AIDS maka lebih mudah
melakukan pencegahannya.
a. Prinsip ABCDE yaitu :
A = Abstinence (Puasa Sesk, terutama bagi yang belum menikah)
B = Befaithful (Setia hanya pada satu pasangan atau menghindari
berganti- ganti pasangan)
C = use Condom (Gunakan kondom selalu bila sudah tidak mampu
menahan seks)
D = Drugs No (Jangan gunakan narkoba)
E = sterilization of Equipment (Selalu gunakan alat suntik steri)l
b. Voluntary Conseling Testing (VCT)
17

VCT merupakan satu pembinaan dua arah atau dialog yang


berlangsung tak terputus antara konselor dan kliennya dengan tujuan
untuk mencegah penularan HIV, memberikan dukungan moral, informasi
serta dukungan lainnya kepada ODHA, keluarga dan lingkungannya.
VTC mempunyai tujuan sebagai :
1) Upaya pencegahan HIV/AIDS
2) Upaya untuk mengurangi kegelisahan, meningkatkan persepsi atau
pengetahuan mereka tentang faktor-faktor resiko penyebab seseorang
terinfeksi HIV.
3) Upaya mengembangkan perubahan perilaku, sehingga secara dini
mangarahakan mereka menuju ke program pelayanan dan dukungan
termasuk akses terapi antiretroviral (ARV), serta membantu
mengurangi stigma dalam masyarakat.
c. Universal Precautions (UPI)
Universal precautions adalah tindakan pengendalian infeksi yang
dilakukan oleh seluruh tenaga kesehatan untuk mengurangi resiko
penyebaran infeksi serta mencegah penularan HIV/AIDS bagi petugas
kesehatan dan pasien.
UPI perlu diterapkan dengan tujuan untuk :
1) Mengendalikan infeksi secara konsisten.
2) Mamastikan standar adekuat bagi mereka yang tidak di diagnosis
atau terlihat seperti beresiko.
3) Mengurangi resiko bagi petugas kesehatan dan pasien.
4) Asumsi bahwa resiko atau infeksi berbahaya.
Upaya perlindungan dapat dilakukan melalui :
1) Cuci tangan
2) Alat pelindung
3) Pemakaian antiseptik

18

4) Dekontaminasi, pembersihan dan sterilisasi atau disterilisasi atau


desinfektan tingkat tinggi untuk peralatan bedah, sarung tangan dan
benda lain.
8. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostic untuk penderita AIDS (Arif Mansjoer, 2000) adalah
a. Lakukan anamnesi gejala infeksi oportunistik dan kanker yang terkait
dengan AIDS.
b. Telusuri perilaku berisiko yang memungkinkan penularan.
c. Pemeriksaan fisik untuk mencari tanda infeksi oportunistik dan kanker
terkait. Jangan lupa perubahan kelenjar, pemeriksaan mulut, kulit, dan
funduskopi.
d. Dalam pemeriksaan penunjang dicari jumlah limfosot total, antibodi HIV,
dan pemeriksaan Rontgen.
Bila hasil pemeriksaan antibodi positif maka dilakukan pemeriksaan
jumlah CD4, protein purufied derivative (PPD), serologi toksoplasma,
serologi sitomegalovirus, serologi PMS, hepatitis, dan pap smear.Sedangkan
pada pemeriksaan follow up diperiksa jumlah CD4. Bila >500 maka
pemeriksaan diulang tiap 6 bulan. Sedangkan bila jumlahnya 200-500 maka
diulang

tiap

3-6

bulan,

dan

bila

<200

diberikan

profilaksi

pneumonia pneumocystis carinii. Pemberian profilaksi INH tidak tergantung


pada jumlah CD4.Perlu juga dilakukan pemeriksaan viral load untuk
mengetahui awal pemberian obat antiretroviral dan memantau hasil
pengobatan.

Bila

tidak

CD4 (mikroskop fluoresensi

tersedia

peralatan

untuk

pemeriksaan

atau flowcytometer) untuk kasus AIDS

dapat digunakan rumus CD4 = (1/3 x

jumlah limfosit total)-8.

19

9. PenatalaksanaanMedis
a. Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka
terapinya yaitu (Endah Istiqomah : 2009) :
1) Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan,mengendalikan, dan pemulihan infeksi
opurtunistik, nasokomial, atau sepsis. Tidakan
pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri
dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien
dilingkungan perawatan kritis.
2) Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang
efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik
traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya
<>3

Sekarang,

AZT

tersedia

untuk

pasien

dengan

Human

Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500


mm3
3) Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system
imundengan menghambat replikasi virus / memutuskan rantai
reproduksivirus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah :
a)
b)
c)
d)

Didanosine
Ribavirin
Diedoxycytidine
Recombinant CD 4 dapat larut

4) Vaksin dan Rekonstruksi Virus


Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti
interferon,

maka

perawat

unit

khusus

perawatan

kritis

dapatmenggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan


penelitianuntuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.
5) Diet
20

Penatalaksanaan diet untuk penderita AIDS (UGI:2012) adalahTujuan


Umum Diet Penyakit HIV/AIDS adalah memberikan intervensi gizi
secara cepat dengan mempertimbangkan seluruh aspek dukungan gizi
pada

semua

tahap

dini

penyakit

infeksi

HIV,

mencapai

dan mempertahankan berat badan secara komposisi tubuh yang


diharapkan, terutama jaringan otot (Lean Body Mass),Memenuhi
kebutuhan energy dan semua zat gizi, mendorong perilaku sehat
dalam menerapkan diet, olahraga dan relaksasi.
Tujuan Khusus Diet Penyakit HIV/AIDS adalah Mengatasi gejala
diare,

intoleransi

laktosa,

kemampuan untuk

mual

perubahan

muntah,

meningkatkan

memusatkan perhatian, yang terlihat pada:

pasien dapat membedakan


kenyang,

dan

antara gejala anoreksia, perasaan

indra pengecap

dan kesulitan

menelan,

mencapai dan mempertahankan berat badan normal, mencegah


penurunan berat badan yang berlebihan (terutama jaringan otot),
memberikan kebebasan pasien untuk memilih makanan yang adekuat
sesuai dengan kemampuan makan dan jenis terapi yang diberikan.
Syarat-syarat Diet HIV/AIDS adalah:
a) Energi tinggi. Pada perhitungan kebutuhan energi, diperhatikan
faktor stres, aktivitas fisik, dan kenaikan suhu tubuh. Tambahkan
energi sebanyak 13% untuk setiap kenaikan Suhu 1C. Protein
tinggi, yaitu 1,1 1,5 g/kg BB untuk memelihara dan mengganti
jaringan sel tubuh yang rusak. Pemberian protein disesuaikan bila
ada kelainan ginjal dan hati.
b) Lemak cukup, yaitu 10 25 % dari kebutuhan energy total. Jenis
lemak

disesuaikan

dengan

toleransi

pasien. Apabila

ada

malabsorpsi lemak, digunakan lemak dengan ikatan rantai sedang


(Medium Chain Triglyceride/MCT). Minyak ikan (asam lemak
omega 3) diberikan bersama minyak MCT dapat memperbaiki
fungsi kekebalan.

21

c) Vitamin dan Mineral tinggi, yaitu 1 kali (150%) Angka


Kecukupan Gizi yang di anjurkan (AKG), terutama vitamin A,
B12, C, E, Folat, Kalsium, Magnesium, Seng dan Selenium. Bila
perlu dapat ditambahkan vitamin berupa suplemen, tapi megadosis
harus dihindari karena dapat menekan kekebalan tubuh.
d) Serat cukup; gunakan serat yang mudah cerna.
e) Cairan cukup, sesuai dengan keadaan pasien. Pada pasien dengan
gangguan fungsi menelan, pemberian cairan harus hati-hati dan
diberikan bertahap dengan konsistensi yang sesuai. Konsistensi
cairan dapat berupa cairan kental (thick fluid), semi kental (semi
thick fluid) dan cair (thin fluid).
f) Elektrolit. Kehilangan elektrolit melalui muntah dan diare perlu
diganti (natrium, kalium dan klorida).
Jenis Diet dan Indikasi Pemberian
Diet AIDS diberikan pada pasien akut setelah terkena infeksi HIV,
yaitu kepada pasien dengan:
a) Infeksi HIV positif tanpa gejala.
b) Infeksi HIV dengan gejala (misalnya panas lama, batuk, diare,
kesulitan menelan, sariawan dan pembesaran kelenjar getah
c)
d)
e)
f)

bening).
nfeksi HIV dengan gangguan saraf.
Infeksi HIV dengan TBC.
Infeksi HIV dengan kanker dan HIV Wasting Syndrome.
Makanan untuk pasien AIDS dapat diberikan melalui tiga cara,
yaitu secara oral, enteral(sonde) dan parental(infus). Asupan
makanan secara oral sebaiknya dievaluasi secara rutin. Bila tidak
mencukupi, dianjurkan pemberian makanan enteral atau parental
sebagai tambahan atau sebagai makanan utama.

Ada tiga macam diet AIDS yaitu Diet AIDS I, II dan III.
a) Diet AIDS I diberikan kepada pasien infeksi HIV akut,
dengangejala panas tinggi, sariawan, kesulitan menelan, sesak
nafas berat, diare akut, kesadaran menurun, atau segera setelah
pasien dapat diberi makan.Makanan berupa cairan dan bubur
22

susu, diberikan selama beberapa hari sesuai dengan keadaan


pasien, dalam porsi kecil setiap 3 jam. Bila ada kesulitan
menelan, makanan diberikan dalam bentuk sonde atau dalam
bentuk kombinasi makanan cair dan makanan sonde. Makanan
sonde dapat dibuat sendiri atau menggunakan makanan enteral
komersial energi dan protein tinggi. Makanan ini cukup energi,
zat besi, tiamin dan vitamin C. bila dibutuhkan lebih banyak
energy dapat ditambahkan glukosa polimer (misalnya polyjoule).
b) Diet AIDS IIdiberikan sebagai perpindahan Diet AIDS I setelah
tahap akut

teratasi. Makanan diberikan dalam bentuk saring

atau cincang setiap 3 jam. Makanan ini rendah nilai gizinya dan
membosankan. Untuk memenuhi

kebutuhan energy dan

zatgizinya, diberikan makanan enteral atau sonde sebagai


tambahan atau sebagai makanan utama.
c) Diet AIDS IIIdiberikan sebagai perpindahan dari Diet AIDS II
atau kepada

pasien dengan infeksi HIV tanpa gejala. Bentuk

makanan lunak atau biasa

diberikandalam porsi kecil dan

sering. Diet ini tinggi energy, protein, vitamin

dan mineral.

Apabila kemampuan makan melalui mulut terbatas dan


masih

terjadi penurunan

berat

badan,

maka

dianjurkan

pemberian makanan sondesebagai makanan tambahan atau


makanan utama.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Pengkajian keperawatan untuk penderita AIDS (Doenges, 1999) adalah
Data tergantung dari organ-organ / jaringan tubuh yang terkena dan infeksi
oportunistik atau kangker spesifik.

23

AKTIFITAS/ISTIRAHAT
Gejala : Mudah lelah, berkutangnya toleransi terhadap aktifitas biasanya.
Progesi kelelahan/malaise. Perubahan Pola tidur.
Tanda : Kelemahan otot, menurunya masa otot. Respon fiiologis terhadap
aktifitas seperti perubahan TD, frekuensi jantung, pernapasan
SIRKULASI
Gejala : Proses penyembuhan uka yang lambat (bila anemia); pendarahan
lama pada cedera (jarang terjadi)
Tanda : Takikardia perubahan TD postural, menurunnya volume nadi periver,
pucat atau sianosis, perpanjangan pengisian kapier.
INTEGRITAS EGO
Gejala : Faktor stree yang berhubunan dengan kenilangan. Miss, dukungan
Keluarga, hubungn dengan orang lain penghasilan, gaya hidup tertentu, dan
distress spiritual.
Mengkuatirkan penampilan: alopesia, lesi cacat, dan menurunnya berat
badan.
Mengingkari diagnose, merasa tidak berdaya, putu asa, tidak berguna, rasa
bersalah ken=hilangan control diri dan depresi.
Tanda : Meninkari, cemas, depresi, takut, menarik diri.
Prilaku marah, portur tubuh mengelak, menangis, dan kontak mata yang
kurang.
Gagal menepati janji atau banyak janji uantuk periksa dengan gejala yang
sama.
ELIMINASI
Gejala : Diare intermitan, terus menerus, sering engan atau tampa disertai
kram abdomen. Nyeri panggul, ras terbakas saat miksi
Tanda :
24

Feses encer dengan atau tampa disertai mucus tau darah

Diare pekat yang sering

Nyeri tekan abdominal

Lesi atau abses rectal, perianal

Perubahan dalam jumlah, warna dan karakteristik urin,

MAKANAN DAN CAIRAN


Gejala : Tidak nafsu makan, perubahan dalam kemempuan mengenali
makan,mual, muntah disfagia nyeri retroternal saat menelan.
Penurunan berat badan yng cepat/progresif
Tanda : dapat menunjukkan adanya bising uus hiperaktif
Penurunan berat badan; perawakan kurus, menurunnya lemk subkutan/massa
otot, tugor kulit buruk.
Lesi pada rongga mulut, adanya selput putih dan perubahan warna.
Kesehatan

gigi/gusi

yang

bururk,

adanya

gigi

anggal.

Edema

(umum,dependen)
HIEGENE
Gejala : Tidak dapat menyelasaikan AKS
Tanda : Memperlihatkan penampilan yang rapi.
Kekurangnan dalam banya atau emua perawatan diri, akivitas perawatan diri

NEURUSENSORI
Gejala : Pusing/pening. Sakit kepala.
Perubahan status mental, kehilangan ketajaman atau kemempuan diri untuk
mengatasi masalah, tidak mampu nengingat dan konsentrasi menurun.
Kerusakan sensasi atau indra posisi dan geratan.
Kelemahan otot, temor, dan perubahan ketajaman pengelihatan

25

Kebas, kesemutan pada ekstremita (kaki tampak menunjukkan perubahan


palin awal)
Tanda : perubahan status mental denganrentan antara kacau mental samai
demensia, lupa, konsentrasi buruk, tingkat kesadaran menurun, apatis
retardasi psikomotor/respons melambat. Ide paranoid, ansietas yan
berkembang bebas, harapan yang tidak realistis.
Rimbu reflex tidak normal, menurunnya kekuatan otot, dan gaya berjalan
ataksia
Tremor pada motorik kasar/halus, menurunnya motori vokali. Hemiparesis,
kejang, Hemoragi retinadan eksudat (renitis CMV)
NYERI/KENYAMANAN
Gejala : Nyeri umum atau local, sakit, rasa terbakar pada kaki.
Sakit kepala (keterlibatan SsP)
Nyeri dada pleuritis
Tanda : pembekakan pada sendi, nyeri pada kelenjar, nyeri teknan
Penurunan rentang gerak, perubahan gaya berjalan/pincang
Gerak otot melindungi bagian yang sakit
PERNAPASAN
Gejala : ISK kering, menetap
Napas pendek yang progresif
Batuk (mulai dari sedang sampai parah), produktif non produktif sputum
(tanda adanya PCP mungkin batus spasmodic saat napas dalam).
Bendungan atau sesak pada dada.
Tanda : Takipnea, distrea pernapasan
Perubahan pada bunyi napas/bunyi nafas adventisius
Sputum; kuning (pada pneumonia yang menghasilkan sputum)
KEAMANAN
26

Gejaa : riwayat jatuh, terbakar, pingsan, luka yang lambat proses


penyembuhannya.
Riwayat melayani tranfusi darah yang sering atau berulang (miss..
hemophilia, oprasi vaskuler mayor, incident traumatis)
Riwayat penyakit defisiensi imun, yakni kangker tahap lanjut
Riwayat/berulangnya inveksi dengan PHS
Demam berulang: suhu rendah, perningkatan uhu intermiten/memuncak;
berkeringat malam
Tanda : perubahan integritas kulit; terpotong, ruam, mis, ezkema, eksantem,
psoriasi, perubaha warna, perubahan ukuran/warna mola; mudah terjadi
memar yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.
Rectum, luka-luka perianal atau abses.
Timbulnya nodul-nodul, pelebaran kekenjar limpe pada kedua area tubuh
atau lebih ketiak, paha
Menurunkan kekuatan umum, tekanan otot, perubahan pada gaya berjalan.
SEKSUALITS
Gejala : riwayat prilaku beresiko tinggi yakni mengadakan hubungan dengan
pasangann yang positif HIV, pasangan seksual multiple, aktivitas seksual
yang idak terlindung, dan sex anal.
Menurunnya libido, terlalu sakit untuk melakukan hubungan sex.
Penggunaan kondom yang tidak konsisten
Menggunakan pil ppemcegah kehamilan (meningkatkan kerentanan terhadap
virus pada wanita yang diperkirakan dapat terpajan karena peningkatan
kekeringan/friabilitas vagina).
Tanda : Kehamian atau resiko terhadap hamil
Genetalia;manifestasi klinis (mis.. herpes, kutil), rabas
INTERAKSI SOSIAL

27

Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis mis.. kehilangan kerabat.


Orang terdekat, temam, pendukung. Rsa takut untuk mengungkapkan pada
orang lain. Takut akan penolakan / kehilangan pendapatan.
Isolasi, kesepian, teman dekat ataupun pasangan sexual yang meninggal
karena AIDS
Mempertanyakan kemampuan untuk tetap mandiri, tidak mampu membuat
rencana
Tanda : Perubahan pada interaksi keluarga/orang terdekat
2. DIAGNOSA MENURUT DOENGES, 1999
a. Nyeri berhubungan dengan inflamasi/ kerusakan jaringan
b. Perubahan nutrisi yang kurang dari kebutuhan tubuh dihubungkan
dengan gangguan intestinal
c. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan diare berat
d. Resiko tinggi pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses infeksi
dan ketidak seimbangan muskuler (melemahnya otot-otot pernafasan)
e. Intoleransi aktovitas berhubungan dengan penurunan produksi
metabolisme

3. INTERVENSI
DX1 : NYERI BERHUBUNGAN DENGAN INFLAMASI/
KERUSAKAN JARINGAN
Hasil yang diharapkan :

Keluhan hilang
Menunjukan aekspresi wajah rileks
Dapat tidur atau beristirahat secara adekuat.
INTERVENSI
RASIONAL
1. Kaji keluhan nyeri, perhatikan 1. Mengindikasikan

kebutuhan
28

lokasi, intensitas, frekuensi dan

untuk intervensi dan juga tanda-

waktu. Tanda gejala nonverbal

tanda perkembangan komplikasi.

misalnya

gelisah,

meringis.
2. Instruksikan

takikardia,

pasien

untuk

menggunakan visualisasi atau

2. Meningkatkan

relaksasi

dan

perasaan rileks.

imajinasi, relaksasi progresif,


teknik nafas dalam.
3. Dorong pengungkapan perasaan
3. Dapat mengurangi ansietas dan
rasa sakit, sehingga persepsi akan
4. Berikan

analgesik

atau

antipiretik narkotik. Gunakan


ADP (analgesic yang dikontrol
pasien)

untuk

memberikan

analgesia 24 jam.

intensitas rasa sakit.


4. Memberikan

penurunan

nyeri/tidak nyaman, mengurangi


demam.

Obat

yang

dikontrol

pasien berdasar waktu 24 jam


dapat

mempertahankan

analgesia

tetap

stabil,

kekurangan

atau

kelebihan obat-obatan
5. Lakukan tindakan paliatif misal 5. Meningkatkan relaksasi

atau

mencegah

pengubahan

posisi,

masase,

darah

kadar

menurunkan tegangan otot.

rentang gerak pada sendi yang


sakit.
DX2 : PERUBAHAN NUTRISI YANG KURANG DARI KEBUTUHAN
TUBUH DIHUBUNGKAN DENGAN GANGGUAN INTESTINAL
Hasil yang diharapkan :

Mempertahankan berat badan atau memperlihatkan peningkatan berat

badan yang mengacu pada tujuan yang diinginkan,


Mendemostrasikan keseimbangan nitrogen positif,
Bebas dari tanda-tanda malnutrisi
Menunjukkan perbaikan tingkat energy.
29

INTERVENSI
1. Kaji
kemampuan
mengunyah,

untuk 1. Lesi

merasakan

dan

menelan.

RASIONAL
mulut, tenggorok

dan

esophagus dapat menyebabkan


disfagia, penurunan kemampuan
pasien untuk mengolah makanan
dan mengurangi keinginan untuk
makan.
2. Hopermotilitas saluran intestinal

2. Auskultasi bising usus

umum terjadi dan dihubungkan


dengan muntah dan diare, yang
dapat mempengaruhi pilihan diet
atau cara makan.
3. Melibatkan orang terdekat dalam
3. Rencanakan diet dengan orang
terdekat, jika memungkinakan
sarankan makanan dari rumah.
Sediakan makanan yang sedikit
tapi

sering

berupa

makanan

padat nutrisi, tidak bersifat asam


dan

juga

pilihan

minuman

yang

memberi

perasaan

control lingkungan dan mungkin


meningkatkan
Memenuhi

pemasukan.
kebutuhan

akan

makanan nonistitusional dan juga


meningkatkan pemasukan.

dengan

disukai pasien.

Dorong

konsumsi

berkalori

tinggi

makanan

yang

dapat

merangsang nafsu makan


4. Batasi
makanan

yang

menyebabkan mual atau muntah.


Hindari

rencana

menghidangkan

makanan yang panas dan yang


susah untuk ditelan

4. Rasa sakit pada mulut atau


ketakutan akan mengiritasi lesi
pada

mulut

menyebabakan

dapat
pasien

akan
enggan

untuk makan. Tindakan ini akan


berguna

untuk

meningkatakan

pemasukan makanan.
5. Mengindikasikan status nutrisi

30

5. Tinjau

ulang

laboratorium,

pemerikasaan
misal

BUN,

Glukosa, fungsi hepar, elektrolit,

dan

fungsi

organ,

mengidentifikasi

dan

kebutuhan

pengganti.

protein, dan albumin.


6. Berikan

obat

anti

emetic

6. Mengurangi insiden muntah dan


meningkatkan fungsi gaster

misalnya metoklopramid.

DX3 : RESIKO TINGGI KEKURANGAN VOLUME CAIRAN


BERHUBUNGAN DENGAN DIARE BERAT
Hasil yang diharapkan :

Mempertahankan hidrasi dibuktikan oleh membrane mukosa lembab


Turgor kulit baik
Tanda-tanda vital baik
Keluaran urine adekuat secara pribadi.

INTERVENSI
1. Pantau pemasukan
pemasukan

oral

cairan

RASIONAL
dan 1. Mempertahankan keseimbangan

sedikitnya

2.500 ml/hari.

melembabkan

2. Buat cairan mudah diberikan


pada pasien; gunakan cairan
yang mudah ditoleransi oleh
pasien dan yang menggantikan
elektrolit

cairan, mengurangi rasa haus dan

yang

dibutuhkan,

membrane

mukosa.
2. Meningkatkan pemasukan cairan
tertentu

mungkin

menimbulkan

nyeri

terlalu
untuk

dikomsumsi karena lesi pada


mulut.

misalnya Gatorade.
3. Kaji turgor kulit, membrane
mukosa dan rasa haus.
4. Hilangakan
makanan

3. Indicator tidak langsung dari


yang

potensial menyebabkan diare,


yakni

yang

pedas,

status cairan.
4. Dapat mengurangi diare

berkadar

lemak tinggi, kacang, kubis,


susu. Mengatur kecepatan atau
31

konsentrasi

makanan

yang

diberikan

berselang

jika

dibutuhkan
5. Berikan obat-obatan anti diare
misalnya ddifenoksilat (lomotil),

5. Menurunkan

loperamid Imodium, paregoric.

jumlah

dan

keenceran feses, dan mengurangi


kejang usus dan peristaltis.

DX4 : RESIKO TINGGI POLA NAFAS TIDAK EFEKTIF


BERHUBUNGAN DENGAN PROSES INFEKSI DAN KETIDAK
SEIMBANGAN

MUSKULER

(MELEMAHNYA

OTOT-OTOT

PERNAFASAN)
Hasil yang diharapkan :

1.

Mempertahankan pola nafas efektif


Tidak mengalami sesak nafas.

INTERVENSI
RASIONAL
Auskultasi bunyi nafas, tandai 1. Memperkirakan

adanya

daerah paru yang mengalami

perkembangan komplikasi atau

penurunan,

infeksi

atau

kehilangan

ventilasi, dan munculnya bunyi

pernafasan,

misalnya

pneumoni

adventisius. Misalnya krekels,


mengi, ronki.
2. Catat kecepatan
sianosis,
pernafasan

pernafasan,

peningkatan
dan

dispnea, ansietas

kerja

munculnya

2. Takipnea, sianosis, tidak dapat


beristirahat,
nafas,

dan

peningkatan

menunjukkan

kesulitan

pernafasan dan adanya kebutuhan


untuk meningkatkan pengawasan

atau intervensi medis


3. Tinggikan kepala tempat tidur. 3. Meningkatkan fungsi pernafasan

32

Usahakan pasien untuk berbalik,

yang optimal dan mengurangi

batuk,

aspirasi

menarik

nafas

kebutuhan.
4. Berikan tambahan

O2

sesuai

atau

infeksi

yang

ditimbulkan karena atelektasis.


Yng 4. Mempertahankan
oksigenasi

dilembabkan melalui cara yang

efektif

untuk

mencegah

atau

sesuai misalnya kanula, masker,

memperbaiki krisis pernafasan

inkubasi atau ventilasi mekanis

DX5 : INTOLERANSI AKTOVITAS BERHUBUNGAN DENGAN


PENURUNAN PRODUKSI METABOLISME
Hasil yang diharapkan :

Melaporkan peningkatan energy,


Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan dalam tingkat

kemampuannya.
INTERVENSI
1. Kaji pola tidur dan

RASIONAL
catat 1. Berbagai
factor

dapat

perunahan dalam proses berpikir

meningkatkan

kelelahan,

atau berperilaku

termasuk kurang tidur, tekanan


emosi, dan efeksamping obat-

2. Rencanakan

perawatan

obatan
untuk 2. Periode istirahat yang

sering

menyediakan fase istirahat. Atur

sangat yang dibutuhkan dalam

aktifitas

memperbaiki

pada

waktu

pasien

sangat berenergi

energi.

atau

menghemat

Perencanaan

akan

membuat pasien menjadi aktif


saat energy lebih tinggi, sehingga
dapat
3. Dorong pasien untuk melakukan
apapun yang mungkin, misalnya
perawatan diri, duduk dikursi,

memperbaiki

perasaan

sehat dan control diri.


3. Memungkinkan
penghematan
energy, peningkatan stamina, dan
mengijinkan pasien untuk lebih

33

berjalan, pergi makan


4. Pantau
terhadap
perubahan

respon

aktif
psikologis

aktifitas,
TD,

misal
frekuensi

pernafasan atau jantung

tanpa

menyebabkan

kepenatan dan rasa frustasi.


4. Memungkinkan
penghematan
energy, peningkatan stamina, dan
mengijinkan pasien untuk lebih
aktif

tanpa

menyebabkan

kepenatan dan rasa frustasi.

5. Rujuk pada terapi fisik atau


okupasi

5. Latihan setiap hari terprogram


dan aktifitas yang membantu
pasien

mempertahankan

meningkatkan

kekuatan

atau
dan

tonus otot

34

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Kesimpulan: AIDS adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan
atau kerusakan daya tahan tubuh yang diakibatkan oleh faktor luar (bukan
dibawa sejak lahir)dan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai
dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa dan gejala yang nyata hingga
keadaan ini imunosuprsi dan berkaitan dengan berbagai infeksi yang dapat
membawa kematian dan dengan kelianan malignitas yang jarang terjadi
2. Etiologi AIDS disebabkan oleh virus HIV-1 dan HIV-2 adalah lentivirus
sitopatik, dengan HIV-1 menjadi penyebab utama AIDS diseluruh dunia.
3. Cara penularan AIDS yaitu melalui hubungan seksual, melalui darah
( transfuse darah, penggunaan jarum suntik dan terpapar mukosa yang
mengandung AIDS), transmisi dari ibu ke anak yang mengidap AIDS.
B. Saran
Agar pembaca dapat mengenali tentang pengertian AIDS dan menerapkan
asuhan keperawatan AIDS pada klienAIDS.

35

DAFTAR PUSTAKA

Alimul Hidayat, Aziz. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 2. Jakarta:


Salemba Medika.
Anderson Price, Sylvia. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Proses
Penyakit. Volume 1. Jakarta: EGC.
Carpenito, Lynda Juall. 2006. Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC
Doengoes, Marilynn, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman
untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. edisi 3.
Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif . 2000 . Kapita Selekta Kedokteran . Jakarta : Media Sculapius
Marilyn , Doenges , dkk . 1999 . Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien . Jakarta : EGC
Price , Sylvia A dan Lorraine M.Wilson. 2005. Patofissiologis Konsep Klinis
Proses Proses Penyakit . Jakarta : EGC
Administrator. 2010. Pencegahan dan Pentalaksanaan Infeksi HIV (AIDS) pada
kehamilan. http://www.mkb-online.org/.tml. Diakses pada tanggal 5 Mei 2015.
Pukul 20.00WITA
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Profil Data Kesehatan
Indonesia

Tahun

2011.

http://www.depkes.go.id/

downloads/PROFIL_DATA_KESEHATAN_INDONESIA_TAHUN_2011.pdf 2.
Diakses pada tanggal 5 Mei 2015. Pukul 20.00 WITA

36

37