P. 1
Penggunaan Analytic Network Process Dalam Model Pemilihan Strategi an Teknologi Di Industri Telekomunikasi Indonesia

Penggunaan Analytic Network Process Dalam Model Pemilihan Strategi an Teknologi Di Industri Telekomunikasi Indonesia

|Views: 2,228|Likes:
Dipublikasikan oleh diditherawan
This Paper was Presented at The 3rd National Conference on Management Research. 5 November 2009, PPM-UNPAR, Bandung, Indonesia.
This Paper was Presented at The 3rd National Conference on Management Research. 5 November 2009, PPM-UNPAR, Bandung, Indonesia.

More info:

Published by: diditherawan on Mar 12, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/24/2013

pdf

text

original

PENGGUNAAN ANALYTIC NETWORK PROCESS (ANP) DALAM MODEL PEMILIHAN STRATEGI PENGEMBANGAN TEKNOLOGI DI INDUSTRI TELEKOMUNIKASI INDONESIA

Didit Herawan
Pascasarjana Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia

Didit Herawan. Lahir di Malang, 26 Oktober 1960, menyelesaikan Sarjana Teknik dari Jurusan Teknik Fisika ITB (1985), Master of Business Administration dari Nyenrode University, The Netherlands (1996), dan Kandidat Doktor Manajemen Stratejik dari Universitas Indonesia. Pernah bekerja sebagai Engineer di perusahaan manufaktur pesawat terbang BOEING Co., U.S.A., sebagai Deputy Vice President Sales & Marketing PT. Dirgantara Indonesia, dan sebagai Country Director Motorola Networks Indonesia. Saat ini menjadi Pengajar di Universitas Indonesia dan Entrepreneur di bidang TIK dan Industri Kreatif.

Abstrak Studi ini mengintegrasikan tiga konsep yang relative baru: sistem inovasi, kerangka strategi inovasi teknologi, dan metode analytic network process (ANP), untuk membangun model pemilihan strategi inovasi teknologi industri telekomunikasi di Indonesia. Konstruksi model berbasis ANP dibangun menggunakan kriteria pemilihan yang diadopsi dari komponen dan elemen sistem inovasi sektoral/nasional, yakni: aktor sistem inovasi, karakteristik aktor, pengetahuan dan teknologi, jejaring, kondisi pasar dan budaya usaha, kebijakan pemerintah, dan kerangka waktu (Malerba, 2004; Lundvall, 1992; Arnold, 2003; De Meyer, 2005; Estrin, 2009). Sedangkan alternatif pilihan strategi diadopsi dari hasil penelitian konseptual Wong (1999) yang mencakup: reverse value chain strategy, reverse product life cycle innovation strategy, process capability specialist strategy, product technology pioneering strategy, dan application pioneering strategy. Pengujian model dilakukan melalui pengisian kuesioner menggunakan sample penelitian lima pakar industri telekomunikasi, mewakili kalangan industri, kalangan pemerintah, dan kalangan universitas, disesuaikan dengan konsep triple helix (Leydesdorff & Meyers, 2005). Temuan uji empiris meliputi prioritas strategi dan tingkat kepentingan komponen/elemen sistem inovasi yang mempengaruhinya. Model pemilihan strategi ini diharapkan dapat memberi kontribusi keilmuan pengembangan sistem inovasi sektoral/nasional dan pengembangan aplikasi metode analytic network process. Sebagai kontribusi praktis, model pemilihan strategi ini dapat dimanfaatkan dalam pengembangan daya saing industri telekomunikasi Indonesia. Kata Kunci: Sistem Inovasi Sektoral, Sistem Inovasi Nasional, Strategi Inovasi Teknologi, Analytic Network Process (ANP), Industri Telekomunikasi.

1

1

Latar Belakang dan Masalah Penelitian Industrialisasi dan globalisasi telah memacu negara-negara untuk

mengembangkan keunggulan daya saing, dengan membangun dan menguasai: pasar, teknologi, keahlian dan investasi (Vietor, 2007). Negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia, menghadapi tantangan besar dalam proses mengejar ketertinggalan industrialisasinya. Sejak krisis ekonomi 1998 hingga saat ini industri manufaktur perangkat telekomunikasi di Indonesia tidak menunjukkkan harapan yang cerah. Meskipun potensi pasar pengguna telepon seluler di Indonesia sangat besar, dan pertumbuhannya sangat pesat, namun tidak diikuti peningkatan peran industri domestik. Kandungan lokal perangkat jejaring telekomunikasi seluler yang digunakan oleh sebelas operator telekomunikasi di Indonesia sangat kecil.1 Dari belanja modal (capital expenditure) infrastruktur telekomunikasi nasional yang besarnya mencapai
Jumlah Perusahaan
Perusahaan Jasa

Perusahaan Manufaktur ‘80 ‘90 ‘98 ‘02

1st Generation INTI RFC LEN 2nd Generation CMI EN CITRA NUSA BAKRIE HARIFF TELNIC 3rd Generation QUASAR other 4th Generation INDONESIA TOWER AMP

x
50% of the companies: • Change competency • Shrinking • Flat-out • Fading-out

x x x

Gambar 1-2 Perkembangan Industri Telekomunikasi Indonesia Rp 40 trilyun per tahun pada kurun waktu 2004-2008, kontribusi manufaktur nasional hanya 3% dari sekitar total Rp 20 trilyun per tahun belanja perangkat, dan hanya 0,1%-0,7% yang merupakan produk asli nasional Indonesia2. Sementara Departemen
1 2

Siaran Pers Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Departemen Komunikasi dan Informasi. Ibid

2

Perindustrian Republik Indonesia (DEPERIN) memperkirakan nilai belanja modal (capex) peralatan Telekomunikasi dalam negeri tahun 2008-2012 mencapai Rp150 triliun.3 Namun kebutuhan perangkat telekomunikasi yang masih tinggi tersebut belum bisa dimanfaatkan sebagai pendorong pertumbuhan manufaktur nasional. Lemahnya riset & pengembangan menjadi penyebab terhambatnya industri telematika nasional dalam bersaing dengan manufaktur asing.4 Di tingkat Internasional, penelitian Gartner, Inc. (2008) menunjukkan bahwa Indonesia tidak termasuk dalam daftar 30 negara yang menjadi tujuan

offshore/outsourcing. Sepuluh negara dari Asia/Pasifik yang masuk dalam daftar tersebut adalah Australia, China, India, Malaysia, New Zealand, Pakistan, The Philippines, Singapore, Thailand dan Vietnam. Penilaian tersebut didasarkan pada kriteria: bahasa, dukungan pemerintah, ketersediaan tenaga kerja, infrastruktur, sistem pendidikan, biaya, kondisi politik dan ekonomi, kompatibilitas budaya, kesiapan global dan legal, serta keamanan dan privasi data dan intellectual property5. Walaupun tidak secara eksplisit disebutkan, penelitian tersebut juga menunjukkan ketidaksiapan industri jasa dan perangkat Indonesia untuk berperan di arena global. DEPERIN dalam Laporan Tahun 2007 mencanangkan pembangunan industri nasional Indonesia untuk meningkatkan kesempatan kerja, investasi dan ekspor, dengan meningkatkan daya saing industri manufaktur, melalui perbaikan iklim investasi, pemberdayaan industri kecil menengah (IKM), dan pengembangan industri berorientasi ekspor.6 Industri Telekomunikasi dalam negeri akan terus ditingkatkan kompetensi di bidang R&D, Manufacturing & Engineering Services, antara lain terkait dengan produk berbasis teknologi Broadband Wireless Access (BWA). Penelitian terdahulu yang dilakukan Kim (1997, 2000) dan Wong (1999) mengaitkan dengan pendekatan sistem inovasi nasional7, yaitu suatu pendekatan

3 4

Ibid, halaman 25-26. Dikutip dari Laporan Perkembangan Sektor Industri Tahun 2007, yang diterbitkan oleh Departemen Perindustrian di bulan Desember 2007, halaman 43. 5 Press release Gartner, Inc., New York, 2008. 6 Laporan Perkembangan Sektor Industri Tahun 2007, Departemen Perindustrian, Desember 2007. 7 Beberapa definisi Sistem Inovasi Nasional dikutip dari OECD (1997):   “.. the elements and relationships which interact in the production, diffusion and use of new, and economically useful, knowledge ... and are either located within rooted inside the borders of a nation state.” (Lundvall, 1992) “.. that set of distinct institutions which jointly and individually contribute to the development and diffusion of new technologies and which provides the framework within which governments form and implement policies to influence the innovation process. As such it is a

3

sistemik terhadap inovasi yang dikenalkan oleh Freeman (1987), Lundval (1992) dan Nelson (1993). Konsep sistem inovasi juga dikembangkan pada tingkatan sektoral atau industri oleh Malerba (2004) dan dikenal sebagai sistem inovasi sektoral (Malerba, 2004). Namun dalam konteks suatu negara, peran pemerintah yang kuat tetap diperlukan bagi pengembangan industri, seperti halnya di Korea (Kim, 1997). Kim (1997) juga menyimpulkan adanya proses serupa diantara negara-negara yang sedang berkembang dalam mengejar ketertinggalan industrinya melalui empat tahapan inovasi teknologi: (1) melakukan impor teknologi dan tenaga ahli asing, (2) memindahkan aktivitas industri dari pemerintah ke swasta, (3) melakukan asimilasi teknologi yang diimpor, dan (4) menyusul ketertinggalannya (catch-up) dari negara maju. Sedangkan Wong (1999) yang melakukan penelitian terhadap keberhasilan Korea, Taiwan dan Singapore, mengemukakan lima pilihan kerangka konseptual strategi inovasi teknologi dalam produk, proses dan aplikasi. Kelima pilihan strategi tersebut adalah: reverse value chain strategy, reverse product life cycle innovation strategy, process capability specialist strategy, product technology pioneering strategy, dan application pioneering strategy. Pertanyaan utama yang muncul adalah: strategi inovasi teknologi mana yang sebaiknya diterapkan manufaktur perangkat telekomunikasi di Indonesia, untuk meningkatkan daya saing dan perannya di pasar domestik dan global? Secara umum penelitian ini bertujuan menjawab pertanyaan penelitian untuk mendapatkan strategi inovasi percepatan pengembangan teknologi industri

manufaktur di Indonesia. Sedangkan secara khusus penelitian ini ditujukan untuk mengembangkan model pemilihan strategi berbasis ANP, dengan menggunakan faktor sistem inovasi sektoral/nasional sebagai kriteria dan kerangka strategi percepatan pengembangan teknologi sebagai alternatif pilihan. Studi ini sendiri diharapkan dapat mengisi kesenjangan penelitian (research gap) studi sistem inovasi di industri telekomunikasi, sekaligus sebagai usaha melihat pemanfaatan kerangka konseptual strategi percepatan pengembangan teknologi yang dikemukakan Wong (1999) aplikasi metode analytic network process (ANP). Sedangka kontribusi praktis yang dapat diberikan, antara lain: (a) memberikan prioritas strategi yang dapat diterapkan di industri telekomunikasi Indonesia dalam

system of interconnected institutions to create, store and transfer the knowledge, skills and artifacts which define new technologies.” (Metcalfe, 1995)

4

usaha mengejar ketertinggalan teknologinya; (b) memberikan model alternatif pemilihan strategi pengembangan teknologi melalui evaluasi sistem inovasi sektoral/nasional, yang diharapkan dapat dikembangkan sebagai template proses penentuan kebijakan secara partisipatif di industri telematika.

2

Sintesa Strategi Inovasi, Sistem Inovasi, dan ANP Model yang dibangun dalam studi ini merupakan sintesis tiga pendekatan,

yakni: sistem inovasi sektoral dan sistem inovasi nasional, alternatif strategi inovasi teknologi, dan metode pengambilan keputusan ANP. Ketiganya diintegrasikan menjadi Model Pemilihan Strategi, seperti digambarkan berikut.

Lima Kerangka Strategi Inovasi Teknologi (Wong, 1999) Sebagai alternatif pilihan

Komponen/Elemen Sistem Inovasi Sektoral/Nasional (Malerba, 2004; De Meyer, 2005; Estrin, 2009) Sebagai kriteria pemlihan

Model ANP Pemilihan Strategi

Metode Pengambilan Keputusan Analytic Network Process (Saaty, 1998, 2005)

Gambar 2-1 Sintesis Model Pemilihan Strategi

2.1

Alternatif Pilihan Strategi Kelima kerangka inovasi teknologi yang dikemukakan Wong (1999) menjadi

alternatif yang akan dipilih sebagai strategi dalam pemegembangan daya saing industri manufaktur perangkat telekomunikasi Indonesia. Secara ringkas masingmasing strategi dapat dijelaskan sebagai berikut. Reverse value chain strategy; Merupakan strategi perusahaan dalam mengejar ketertinggalan teknologi, dengan cara menguasai teknologi pembuatan komponen sederhana dan menerima pekerjaan outsorcing atau subcontracting dari perusahaan besar pembuat perangkat lengkap. Peranan perusahaan kemudian ditingkatkan dari original equipment manufacturing (OEM) menjadi original design manufacturers

5

(ODM) kemudian menjadi original idea manufacturing (OIM) dan akhirnya menjadi own brand manufacturing (OBM). Reverse product life cycle innovation strategy; Strategi ini merupakan varian dari strategi sebelumnya dimana perusahaan berubah dari late-followers menjadi fastfollowers dalam produk yang dihasilkan, melalui cara penggunaan lisensi atau meniru produk yang sudah tidak lagi bersifat proprietary dan menjual dengan harga murah. Tahap selanjutnya adalah meningkatkan kemampuan produk dan proses, dengan investasi penuh pada proses pembelajaran dan mengadopsi R&D dari perusahaan pemimpin pasar untuk dapat mempersempit kesenjangan yang ada. Pendekatan ini membutuhkan kemampuan keuangan yang kuat, karena perusahaan pendatang baru menggunakan strategi produk dan proses secara bersama-sama dan langsung berhadapan dengan pesaing yang telah ada sebelumnya dengan menggunakan brandnya sendiri dan bersaing dalam harga8. Process capability specialist strategy; Melalui strategi ini perusahaan membuat komitmen untuk mengembangkan usahanya hanya dalam proses saja, dengan memiliki spesialisasi manufaktur. Fokus dari pengembangan teknologi perusahaan adalah untuk meningkatkan kemampuan prosesnya dan secara konsisten

meningkatkan investasi sumber daya untuk dapat melakukan inovasi proses terus menerus. Product technology pioneering strategy; Strategi ini juga disebut sebagai product innovator strategy. Melalui strategi ini perusahaan pendatang baru berusaha melakukan lompatan penguasaan teknologi untuk menjadi pelopor produk baru melalui inovasi teknologi produk yang radikal dan menetapkan inovasinya dalam desain untuk mendominasi pasar. Dalam kaitan ini perusahaan perlu mendapatkan berbagai kompensasi yang menguntungkan, seperti: tenaga R&D yang murah, dukungan pemerintah yang khusus, penggunaan piranti lunak yang murah atau bebas selama masa pengembangan produk, pasar tertentu yang tidak diketahui/dimiliki oleh negara maju, dll.

8

Catatan penulis dari industri telekomunikasi seluler-nirkabel: Strategi ini digunakan oleh pendatang baru di dunia telekomunikasi, seperti Huawei dan ZTE dari negeri China. Pemerintah China mengundang produsen utama telekomunikasi untuk memproduksi dan memasarkan di China, kemudian meniru produk dan prosesnya, dan selanjutnya berkompetisi dalam harga menggunakan brand sendiri di pasar global, termasuk di pasar telekomunikasi Indonesia. Tahap perubahan ini terjadi dalam kurun waktu 10-15 tahun sejak munculnya teknologi seluler-nirkabel AMPS (1G: first generation) yang kemudian berkembang dengan teknologi 2G, 3G dan kini menjelang 4G. Huawei dan ZTE melakukan transisinya pada saat pengembangan teknologi 2G.

6

Application

pioneering

strategy;

Strategi

ini

menuntut

perusahaan

untuk

memanfaatkan teknologi yang sudah ada dan menerapkannya secara inovatif, tidak pada inovasi teknologi produk yang radikal, melainkan hanya pada inovasi penerapannya. Strategi ini memiliki peluang keberhasilan yang lebih baik bila perusahaan yang akan memanfaatkan teknologi tersebut memiliki kemampuan pelengkap. Keberhasilan strategi ini ditentukan oleh kemampuan perusahaan memilih dan mengadopsi teknologi yang sudah ada lebih cepat dan lebih kreatif dari pesaing. Juga penting adanya kemampuan mengenali dengan baik segmen bisnis persaingannya. Strategi ini meskipun tampak sederhana, namun juga memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi dalam penerapan untuk mencapai keberhasilannya 9.

2.2

Sistem Inovasi Sektoral/Nasional sebagai Kriteria Pemilihan Sintesis kriteria pemilihan strategi dikembangkan mulai dengan faktor-faktor

yang memengaruhi sistem inovasi sektoral: aktor dan jejaring, pengetahuan dan teknologi, dan institusi (Malerba, 2004). Dimensi ini kemudian ditambah dengan batasan negara melalui kajian sistem inovasi nasional (Lundvall, 1992; Arnold, 2003), dan penekanan pada elemen penting penelitian lainnya: kepemimpinan (De Meyer, 2005), pendanaan, penelitian dan pengembangan (Estrin, 2009), dan kebijakankebijakan pemerintah (Taufik, 2005). Secara lengkap komponen, dengan elemen-elemen di dalamnya, yang digunakan sebagai kriteria pemilihan strategi adalah: aktor sistem inovasi (industri, pemerintah, universitas); karakteristik aktor (kepemimpinan, kewirausahaan,

kreativitas); pengetahuan dan teknologi (kesiapan pengetahuan & teknologi, kemampuan akuisisi pengetahuan & teknologi, resiko perubahan teknologi); jejaring (pendanaan, R&D, supply-chain, pemasaran, telematika & transportasi); kondisi pasar & budaya usaha (ketersediaan pasar, kolaborasi, kompetensi, pengaruh politik, proses HAKI/paten); kebijakan pemerintah (kebijakan R&D, kebijakan fiskal & pajak, kebijakan industri, kebijakan pendidikan, regulasi telekomunikasi); dan kerangka waktu (jangka pendek/1 tahun, jangka menengah/5 tahun, jangka panjang/20 tahun).

9

Observasi malalui BPPT dan MASTEL, menunjukkan bahwa kebanyakan pemain di industri telekomunikasi mencari jalan singkat menjadi pedagang (trader) dari teknologi, dan tidak melakukan inovasi dalam penerapannya.

7

2.3

Metode Analytic Network Process (ANP) ANP yang digunakan sebagai dasar pemodelan, merupakan metode baru

pengambilan keputusan pada permasalahan yang bersifat teknis-sosial (sociotechnical) berdasarkan sejumlah kriteria (multi-criteria). ANP adalah generalisasi dari analytic network process (AHP) dengan memasukkan faktor feedback. Metode ini telah terbukti dapat digunakan, tidak saja sebagai metode pengambilan keputusan, namun juga dapat digunakan sebagai metode forecasting, ataupun perhitungan pangsa pasar (Saaty, 2006). Hal penting dalam membangun model ANP adalah adanya alternatif pilihan dan kriteria pemilihan. Dengan memasukkan penilaian Pakar, melalui pembandingan berpasangan dalam skala tingkat kepentingan 1-9, ke dalam model tersebut, maka akan diperoleh hasil berupa prioritas pilihan (Saaty, 2005).

Tabel 2-1 Skala Fundamental Kepentingan Relatif Skala
1

Definisi
Kepentingan yang sama

Penjelasan
Dua faktor atau elemen berperan sama atau kepentingan sama terhadap tujuan Pengalaman dan penilaian agak lebih menyukai satu faktor dibanding lainnya Pengalaman dan penilaian lebih menyukai satu faktor atau elemen dibanding lainnya Suatu faktor atau elemen benar-benar lebih disukai dan dominasinya terlihat jelas Sebuah faktor atau elemen amat sangat disukai dibanding lainnya dalam tingkat kemungkinan yang paling tinggi (ekstrim)

3

Kepentingan yang moderat

5

Kepentingan yang kuat

7

Kepentingan yang sangat kuat Kepentingan yang ekstrim

9

2,4,6,8

Nilai pertengahan diantara dua penilaian yang berdekatan

Apabila diperlukan kompromi lebih lanjut

Penambahan Nilai pertengahan dengan 0,1 penambahan 0,1

Digunakan untuk penilaian yang lebih akurat

3.

Pengembangan Model Pemilihan Strategi Pengembangan model ANP pemilihan strategi ini dilakukan melalui tiga

tahap, dengan mengadopsi tahapan penelitian yang dilakukan Ho (2004), yakni: tahap konstruksi model, tahap kuantifikasi model dan tahap analisis hasil.

8

3.1

Tahap Konstruksi Model Konsep model yang dibangun berdasarkan sitesis kosep sistem inovasi, pilihan

kerangka strategi inovasi dan metode ANP, kemudian diaplikasikan dalam pirati lunak Super Decision sehingga dapat ditampilkan seperti pada Gambar 3-1 berikut

Gambar 3-1 Model ANP Pemilihan Strategi Validasi terhadap model penelitian mencakup tiga hal, yakni: validasi konten dan validasi model. Validasi dilakukan melalui diskusi dengan pakar telekomunikasi maupun pakar ANP baik secara sendiri-sendiri dan maupun dalam Focus Group Discussion (FGD)
10

dengan kelompok pakar. Proses ini dilakukan untuk

mendapatkan konsesus bersama terhadap batasan-batasan penelitian. Dalam tahapan ini diterima beberapa masukan dari pakar, sehingga akhirnya diperoleh konstruksi model ANP dengan 5 alternatif strategi dan 8 kelompok/klaster kriteria yang memiliki jumlah elemen keseluruhan sebanyak 27 elemen. 3.2 Tahap Kuantifikasi Model (Metode Pengumpulan Data) Pengumpulan data primer dilakukan melalui pengisian kuesioner oleh responden pakar industri telekomunikasi, yang mewakili kalangan Industri (3 orang), kalangan Univesitas (1 orang) dan kalangan Pemerintah (1 orang). Format kuesioner
10

FGD dilakukan dengan mengundang lima pakar industry Telekomunikasi, yakni: Prof. DR. Suhono Harso Supangkat, DR. Ir. Trio Andiono, Ir. Yana S. Raharja, Ir. Hidayat Oemar, dan Ir, John Welly MSc. Proses FGD dilakasanakan pada tanggal 3 April 2009 di kantor Pusat Inkubator Bisnis ITB, Bandung, dengan dibantu oleh beberapa rekan fasilitator Kanaka Hidayat MTM, Ir. Gatot Wibisono, dan Ir. Adhi Widodo.

9

yang diisi oleh para responden terdiri atas 169 pertanyaan, yang kemudian akan ditranslasikan untuk menjawab pertanyaan pasangan (pairwise comparison) sebanyak 1150 pertanyaan yang ada di Super Decision. Pre-test kuesioner dilakukan untuk memastikan kesiapan dan kemudahan kuesioner untuk dipahami oleh responden sehingga responden dapat menjawab pertanyaan yang diberikan dengan baik.

3.3

Tahap Analisis Hasil Pengolahan data dilakukan terhadap hasil kuesioner dari masing-masing pakar

dan data gabungan kelima hasil kuesioner para pakar tersebut, sehingga dapat diketahui pemeringkatan yang dilakukan masing-masing responden dan

pemeringkatan kolektif/gabungan. Data gabungan dihasilkan dengan menghitung geometric-mean dari kelima data tersebut. Hasil pemrosesan Super Decision berupa tiga jenis tabel supermatrix, yakni: (1) cluster matrix yang menunjukkan hubungan antar klaster; (2) weighted super matrix, dimana setiap blok dari eigenvector kolom dari suatu cluster dibobot dengan prioritas dari pengaruh dari cluster tersebut, yang membuat kolom weighted supermatrix menjadi stokastik; dan (3) limiting super matrix diperoleh dengan memangkatkan weighted supermatrix sehingga jumlah pada setiap kolom adalah satu.

4

Hasil Analisis dan Temuan Hasil analisis meliputi analisis terhadap hasil pengujian model yang berupa

pemeringkatan alternatif pilihan strategi dan analisis terhadap penggunaan model ANP. Analisis Hasil Pemeringkatan Strategi Proses pemeringkatan alternatif strategi memberikan hasil seperti ditampilkan dalam grafik pada Gambar 4-1 di bawah. Hasil pemeringkatan gabungan menunjukkan strategi Application Pioneering menempati prioritas tertinggi, disusul dengan strategi Reverse Product Life Cycle di posisi kedua dan terpaut sedikit dengan strategi Reverse Value Chain di peringkat ketiga. Peringkat keempat adalah strategi Product Technology Pioneering dan peringkat terakhir adalah strategi Process Capability Specialist. Apabila dibandingkan dengan penilaian masing-masing pakar, maka hasil gabungan yang diperoleh ini didukung oleh 3 pakar dari kalangan Industri (60%). Sementara pakar dari kalangan Pemerintah (R1) dan kalangan Universitas (R2) tidak 10

menempatkan strategi Application Pioneering pada pilihan pertama. R1 memilih strategi Product Technology Pioneering sebagai pilihan pertama sedangkan R2 memilih strategi Reverse Value Chain sebagai pilihan pertamanya.

GABUNGAN

R5 (Ind.)

Reverse Value Chain Reverse Product Life Cycle Innovation Process Capability Specialist

RESPONDEN

R4 (Ind.)

R3 (Ind.) Product Technology Pioneering R2 (Univ.) Application Pioneering

R1 (Govt.) SKALA

Gambar 4-1 Prioritas Pilihan Strategi

Dalam angka-angka yang lebih rinci dapat dilihat pada Tabel 5.2. berikut.

Tabel 4-1 Angka Prioritas Pilihan Strategi

Strategi Application Pioneering dipilih oleh pelaku industri karena dianggap sebagai langkah dengan risiko yang paling rendah, dengan mengambil peran sebagai pemanfaat teknologi yang dihasilkan oleh pihak lain. Hasil ini makin jelas bila dikaitkan dengan latar belakang masing-masing responden dari kalangan industri yang lebih mengambil peran pengguna teknologi, dengan atau tanpa pengalaman dalam produksi perangkat telekomunikasi sebelumnya. Pilihan strategi yang mendapat prioritas berikutnya adalah Reverse Product Life Cycle Innovation dan Reverse Value 11

Chain. Keduanya merupakan langkah pengembangan yang paling memungkinkan untuk dijalankan, setelah pelaku usaha memahami tentang sektor telekomunikasi lebih baik. Sedangkan process capability specialist dan product technology pioneering mendapat prioritas terakhir. Kedua strategi ini memang membutuhkan kemampuan dan komitmen yang lebih tinggi dibandingkan strategi sebelumnya. Keluaran lain yang dihasilkan adalah perbandingan tingkat kepentingan elemen-elemen yang menjadi kriteria pemilihan, seperti diperlihatkan pada Gambar 42. Dalam gambar ini, lima elemen yang paling penting mempengaruhi pemilihan strategi adalah: pelaku industri, kemampuan akuisisi pengetahuan & teknologi, ketersediaan pasar, Kesiapan pengetahuan & teknologi, dan jejaring pendanaan dan kolaborasi.

Gambar 4-3 Tingkat Kepentingan Elemen 5 Pembahasan dan Saran Penelitian Lanjutan Hasil pengujian yang diperoleh menunjukkan bahwa industri manufaktur telekomunikasi Indonesia masih berada pada tahap awal akuisisi pengetahuan dan teknologi, sehingga lebih tepat untuk melakukannya melalui strategi application pioneering. Hal ini sesuai dengan kesimpulan umum Gammeltoft & Aminullah (2006) bahwa sistem inovasi Indonesia masih belum terbentuk dan masih berada di crossroad. Untuk mendapatkan akurasi yang lebih baik, pemodelan ANP perlu diarahkan pada hal yang spesifik, dengan pemisahan responden berdasarkan latar belakang kepakaran untuk dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Berkaitan dengan 12

hal ini, maka pemilihan teknologi harus ipisahkan antara teknologi manufaktur perangkat jejaring dengan teknologi manufaktur telepon seluler. Apabila penelitian ini bertujuan mendapatkan masukan dari kalangan pelaku industri, maka sebaiknya

responden hanya yang brasal dari kalangan pelaku industri. Dengan demikian Pemerintah sebagai pembuat kebijakan industri dapat memahami situasi yang dirasakan pelaku industri. Dari keseluruhan proses pemodelan ANP untuk pemilihan strategi ini dapat diamati adanya kemungkinan perbaikan yang dapat dilakukan agar model yang telah dibangun dapat dikembangkan lebih lanjut. Kemungkinan perbaikan tersebut mencakup tiga hal, yakni pada: a) konstruksi model, b) pemilihan pakar, dan c) pengumpulan data melalui kuesioner. Pada ketiga hal ini, keterlibatan pakar yang intensif sangat dibutuhkan. Penempatan peranan pakar yang jelas dalam keseluruhan proses penting diperhatikan, sehingga semua pihak dapat melakukan dengan motivasi yang tinggi dan berkesinambungan. Kesinambungan dalam proses penting untuk menjaga konsistensi pandangan terhadap persoalan yang dibahas. Studi ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan pengayaan model pada aspek konten dengan kirteria yang lebih menyeluruh dan lebih lengkap untuk bisa lebih memahami perilaku sistem inovasi yang ada. Sedangkan konstruksi model dapat ditingkatkan ketelitiannya dengan mengkombinasikan metode AHP dan ANP.

DAFTAR KEPUSTAKAAN De Meyer, A., & Garg, S. (2005). Inspire to Innovate: Management & Innovation in Asia. Palgrave Mc Milan. Herawan, D. 2009. Catatan atas Sistem Inovasi Nasional. Dalam Avanti Fontana, Innovate We Can! Manajemen Inovasi dan Penciptaan Nilai. Gramedia Widiasarana Indonesia, Lampiran D, halaman 290-295. Fontana, A. 2009. Innovate We Can! Manajemen Inovasi dan Penciptaan Nilai. Gramedia Widiasarana Indonesia. Estrin, J. (2009). Closing the Innovation Gap: Reigniting the Spark of Creativity in A Global Economy. McGraw-Hill. New York. Fagerberg, J., Mowery, D.C., & Nelson, R.R. (2005). The Oxford Handbook of Innovation. Oxford University Press, Oxford New York. Ho, C. (2004). Strategic Evaluation of Emerging Technologies in The Semiconductor Foundry Industry (Special Case: Semiconductor Foundry Industry in Taiwan). Disertasi Doctor of Philosophy dalam System Science: Engineering Management. Portland State University. Holbrook, J.A.D. (1997). The Use of National Systems of Innovation Models to Develop Indicators of Innovation and Technological Capacity. Center for Policy Research on Science and Technology. Vancouver, British Columbia. 13

Kim, L. (1997). Imitation to Innovation: The Dynamics of Korea’s Technological Learning. Harvard Business School Press. Boston, Massachusetts. Kim, L., & Nelson, R.R. (2000). Technology, Learning, & Innovation: Experiences of Newly Industrializing Economies. Cambridge University Press, Cambridge, U.K. Leydesdorff, L., & Etzkowitz, H. (2001). The Transformation of University–industry– government Relations. Electronic Journal of Sociology. ISSN: 1198 3655. Leydesdorff, L., & Meyer, M. (2005). The triple Helix Model and the KnowledgeBased Economy. Lundvall, B.-A. (Ed.) (1992). National Systems of Innovation: Towards a Theory of Innovation and Interactive Learning. London: Pinter. Lundvall, B.-A (2004). National Innovation Systems – Analytical Concept and Development Tool. Dynamics of Industry and Innovation: Organizations, networks and Systems. Copenhagen, Denmark. Lundvall, B.-A., Intarakumnerd, P. & Vang, J. (2006). Asia’s Innovation Systems in Transition. Edward Elgar, Cheltenham, UK. Lundvall, B.-A (2007). National Innovation Systems – Analytical Concept and Development Tool. Industry and Innovation. Vol. 14, No. 1, pp. 95-119. Malerba, F. (2004). Sectoral Systems of Innovation: Concepts, Issues and Analysis of Six Major Sector in Europe. Cambridge University Press, Cambridge, UK. Nelson, R.R. (1993). National Innovation Systems: A Comparative Analysis. Oxford University Press, New York. Saaty, T.L. (1999). Fundamentals of the Analytic Network Process. ISAHP 1999, Kobe, Japan, August 12-14, 1999. Saaty, T.L. (2005). Theory and Applications of the Analytic Network Process: Decision Making with Benefits, Opportunities, Costs, and Risks. RWS Publication, Pittsburgh. Saaty, T.L., & Sodenkamp, M. (2008). Making Decisions in Hierarchic and Network Systems. International Journal of Applied Decision Sciences. Volume 1, Number 1, pp.24-79. Saaty, T.L., & Vargas, L.G. (2006). Decision Making with the Analytic Network Process. Springer, New York. Scherer, F.M. (1999). New Perspectives on Economic Growth and Technological Innovation. The Brookings Institution, Washington, D.C. Vietor, R.H.K. (2007). How Countries Compete: Strategy, Structure, and Government in the Global Economy. Harvard Business School Press, Boston, Massachusetts. Wong, P.K. (1999). National Innovation Systems for Rapid Technological Catch-Up: An analytical framework and a comparative analysis of Korea, Taiwan and Singapore. DRUID Summer Conference on National Innovation Systems, Industrial Dynamics and Innovation Policy. Rebild, Denmark.

14

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->