Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan jiwa merupakan aspek kesehatan yang penting. Tanpa kesehatan jiwa
kehidupan menjadi tidak berarti. Pengukuran DALYs (Disability Adjusted Life Years)
yang

menggambarkan

ukuran

beban

penyakit

menunjukkan

gangguan

jiwa

mengakibatkan beban 8,1% dari global burdens of disease. Dampak gangguan jiwa
terhadap penurunan produktivitas manusia lebih besar dibandingkan dengan penyakit
jantung, kanker, malaria, dan tbc sekalipun. Hal ini mestinya membuat setiap orang dan
pemerintah memperhatikan kesehatan jiwa dengan lebih baik.
Pasca bencana gempa dan tsunami serta konflik yang berkepanjangan di Nanggroe Aceh
Darussalam diprakirakan terdapat jumlah kasus gangguan jiwa yang besar. Hal ini dapat
dilihat dari temuan kasus gangguan jiwa setelah program Community Mental Health
Nursing dilaksanakan mulai tahun 2005 sampai 2007 telah ditemukan kasus gangguan
jiwa lebih dari 7000 orang di masyarakat dari 21 kabupaten (seluruh NAD) yang telah
mengimplementasikan CMHN.
Sistem pelayanan kesehatan kesehatan jiwa perlu ditata sehingga lebih komprehensif.
Pelayanan kesehatan jiwa yang selama ini masih berfokus kepada pendekatan kuratif
(pengobatan) ternyata kurang meningkatkan status kesehatan jiwa masyarakat. Untuk itu
focus pendekatan preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif perlu diintensifkan mulai
dari tatanan di masyarakat dan Puskesmas, rumah sakit umum, dan rumah sakit jiwa.
Pendekatan di masyarakat diimplementasikan melalui Community Mental Health
Nursing (CMHN), di rumah sakit umum melalui penyediaan pelayanan intensif psikiatri,
sedangkan di rumah sakit jiwa menyediakan pelayanan spesialistik menerima rujukan
dari Puskesmas dan rumah sakit umum.

Di Nanggroe Aceh Darussalam, hanya ada satu rumah sakit jiwa yaitu BPKJ Banda Aceh
memiliki lebih kurang 250 tempat tidur. Saat ini BOR BPKJ Banda Aceh mencapai angka
yang luar biasa yaitu 140% dari kapasitas yang ada. Kemungkinan jumlah kapasitas
tempat tidur akan semakin tidak cukup, karena diperkirakan 10 persen dari pasien
gangguan jiwa suatu saat memerlukan perawatan di rumah sakit, sementara estimasi
jumlah pasien gangguan jiwa 1.5% dari populasi(WHO, 1995). Dengan kondisi seperti
ini maka penanganan masalah kesehatan jiwa di NAD mustahil dilakukan hanya oleh
rumah sakit jiwa. Rumah sakit jiwa tidak akan mampu menangani masalah kesehatan
jiwa dengan segala keterbatasan yang dimiliki. Selain itu BPKJ Banda Aceh tidak mudah
dicapai oleh seluruh kabupaten dan kota di seluruh propinsi NAD. Untuk itu jajaran
kesehatan di NAD perlu memikirkan system pelayanan yang dapat dijangkau oleh
seluruh penduduk di segenap provinsi NAD tanpa kecuali, dengan mendekatkan
pelayanan kesehatan jiwa ke masyarakat melalui pelayanan kesehatan jiwa masyarakat
dan pelayanan kesehatan jiwa untuk kondisi akut pada rumah sakit umum yang ada di
rumah sakit umum di kabupaten/kota.
Sejak Juli 2005 di NAD telah dimulai satu bentuk program pelayanan kesehatan jiwa
yang langsung menyentuh masyarakat. Bentuk pelayanan tersebut adalah Community
Mental Health Nursing (CMHN). CMHN adalah program pemberdayaan Perawat
Puskesmas untuk memiliki kompetensi dalam merawat pasien gangguan kesehatan jiwa
dalam konteks keluarga. Perawat CMHN dalam memberikan pelayanan kesehatan
melakukan deteksi kasus bekerja sama dengan aparat dan petugas kesehatan di
Puskesmas, dari pasien yang terdeteksi mereka akan kunjungi untuk memberikan asuhan
keperawatan baik kepada pasien dan keluarga. Perawat melakukan kolaborasi dengan
dokter Puskesmas dalam pemberian obat psikotropika yang dibutuhkan oleh pasien.
Pasien yang memerlukan perawatan rumah sakit, khusus pasien akut yang
membahayakan dirinya sendiri atau orang lain, maka perlu dirujuk ke rumah sakit
terdekat. Untuk itulah perlu ada unit perawatan akut di tiap rumah sakit umum
kabupaten/kota wilayah tempat tinggal pasien.

Sampai dengan akhir tahun 2007 seluruh kabupaten di NAD telah menerapkan
pendekatan pelayanan baru ini (CMHN). Hasil evaluasi yang dilaksanakan oleh External
Evaluator menunjukkan program ini cocok dilaksanakan di NAD bahkan di seluruh
Indonesia. Pasien dan keluarga yang dirawat merasakan puas terhadap pelayanan yang
diberikan oleh CMHN.
Kesulitan muncul kemudian apabila kondisi pasien memburuk (kambuh) dan
membutuhkan penanganan yang intensif di rumah sakit dengan pengawasan yang lebih
ketat. Saat ini tiap kabupaten/kota mempunyai jumlah pasien gangguan jiwa, yang satu
ketika 10% dari mereka memerlukan perawatan di rumah sakit dalam waktu singkat. Saat
ini tidak ada tempat rujukan yang sesuai di NAD, kecuali di BPKJ yang untuk beberapa
wilayah NAD sangat sulit untuk dijangkau, belum lagi biaya yang dibutuhkan sangat
besar (harus naik pesawat).
Untuk menjembatani pelayanan rujukan tertinggi di BPKJ dan pelayanan kesehatan jiwa
di masyarakat oleh CMHN dan Puskesmas di beberapa wilayah yang letaknya jauh dari
Banda Aceh perlu adanya pelayanan rujukan yang sifatnya mampu menjadi rujukan
pelayanan dari Puskesmas dan memberikan pelayanan intensive kesehatan jiwa. Bentuk
pelayanan seperti ini berupa pelayanan kedaruratan psikiatri dan perawatan intensif
psikiatri yang sifatnya tepat dan cepat serta perawatan yang singkat. Apabila ada
pelayanan seperti ini maka pasien yang sedang ditangani CMHN dan perlu rujukan bisa
dikirim ke pelayanan tersebut.
Pelayanan intensif psikiatri merupakan bentuk pelayanan kesehatan jiwa dengan focus
penanganan pasien yang perlu penanganan gawat darurat psikiatri/akut. Pasien berasal
dari rujukan masyarakat maupun Puskesmas baik pasien yang baru mengalami gangguan
jiwa maupun pasien yang mengalami eksaserbasi akut. Pelayanan yang diberikan dalam
bentuk pelayanan intensif I yang dimulai dari pasien masuk sampai dengan 24 jam
pertama. Intensif II adalah pelayanan yang diberikan dari 24 jam sampai dengan 72 jam.
Pelayanan intensif III dilaksanakan setelah 72 jam sampai dengan maksimal 10 hari.

Pelayanan intensif psikiatri selama ini hanya ada di rumah sakit jiwa (BPKJ Banda
Aceh). Mengingat begitu luasnya NAD maka pelayanan intensif psikiatri tersebut sangat
tidak memadai dan tidak dapat diakses dari wilayah yang jauh dari Banda Aceh. Oleh
karena itu PICU sangat diperlukan di seluruh wilayah NAD dan sangat strategis kalau
bisa diimplementasikan di area-area yang jauh dari BPKJ yaitu di RSUD-RSUD. Dengan
pendekatan deteksi dini, penanganan yang sesuai, dan penanganan kekambuhan maka
PICU merupakan bentuk pelayanan yang strategis diimplementasikan di NAD.
Pengembangan PICU dilaksanakan secara terstruktur dimulai dengan pelatihan staf
Perawat

dengan menggunakan modul, selanjutnya dimplementasi dan dilakukan

monitoring serta evaluasi. Modul berisi pedoman dalam mengelola pelayanan intensif
psikiatri dan pedoman-pedoman untuk perawat dan dokter dalam melakukan penanganan
pasien gangguan jiwa baik penanganan intensif I, intensif II, dan intensif III. Setelah
pelatihan peserta (dokter dan Perawat) akan mengimplementasikan ilmu dan
keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan dengan dibantu oleh fasilitator pada saat
implementasi. Pada saat implementasi akan dilakukan evaluasi dan monitoring sehingga
pada akhirnya staf yang dilatih akan mampu menyelenggarakan pelayanan intensif
psikiatri ini secara mandiri. Tahapan ini akan diimplementasikan di NAD yang akan
dimulai untuk pertama kalinya di RSUD Jantho.
B. Tujuan
Setelah mempelajari modul ini diharapkan pembaca memiliki pengetahuan, sikap, dan
keterampilan dalam menyelenggarakan pelayanan kedaruratan dan rawat inap intensif
psikiatri.
Tujuan khusus: setelah mengikuti pelatihan PICU diharapkan mampu:
1. Memahami konsep perawatan intensif psikiatri
2. Memahami system pelayanan keperawatan intensif psikiatri
3. Memahami dan melaksanakan pengelolaan pelayanan kedaruratan dan perawatan
intensif psikiatri

4. Memberikan asuhan keperawatan intensif psikiatri


5. Mampu bekerja sama dengan profesi lain dalam menyelenggarakan pelayanan
kedaruratan dan perawatan intensif psikiatri
6. Mampu melakukan rujukan balik ke PUSKESMAS dan rujukan ke BPKJ (rumah
sakit jiwa)
7. Monitoring dan evaluasi.
C. Isi Modul
Dalam rangka mencapai tujuan maka isi modul terdiri dari empat bab. Bab I Pendahuluan
berisi latar belakang, tujuan modul dan gambaran isi. Bab II berisi Konsep keperawatan
Intensif Psikiatri yang berisi konsep perawatan intensif psikiatri dan proses keperawatan
pada unit perawatan intensif psikiatri. Bab III Manajemen Perawatan Intensif Psikiatri
yang berisi 4 pilar praktek keperawatan psikiatri meliputi pendekatan manajemen, system
reward, hubungan professional, dan system pelayanan di unit perawatan intensif psikiatri
yaitu system penanganan medis dan system asuhan keperawatan. Bab IV Penanganan
Pasien di UPIP berisi pedoman asuhan keperawatan intensif pada pasien halusinasi,
perilaku kekerasan, waham, risiko bunuh diri, panik, gejala putus zat, over dosis zat
adiktif, defisit perawatan diri, dan isolasi social. Di Bab IV ini juga berisi terapi modalitas
yang diterapkan di UPIP meliputi terapi musik, latihan keterampilan hidup, dan olah raga
serta pendekatan diagnosis dan terapi medis pada psikotik, delirium, gangguan cemas
menyeluruh, depresi-bunuh diri, dan adiksi zat. Dalam modul ini juga dilampirkan
commission plan dan manajemen pelatihan.
D. Petunjuk Mempelajari Modul
Modul ini disusun sehingga memungkinkan untuk dapat dipelajari dengan mudah. Topik
Konsep Keperawatan Psikiatri memberikan konsep dasar bagaimana pelayanan intensif
psikiatri diberikan. Topik manajemen perawatan memberikan dasar pilar parktek
keperawatan psofesional di UPIP, sedangkan Penanganan Kasus di UPIP memberikan
konsep dan pedoman tindakan kepada pembaca dalam memberikan asuhan keperawatan

dan penanganan medis dengan menerapkan berbagai pendekatan modalitas yang


diperlukan.
Cara mempelajari modul ini sebagai berikut:
1. Baca dasar konsep dan teori dengan teliti, pahami isinya.
2. Pelajari latihan-latihan dalam bentuk latihan percakapan Perawat dan pasien,
pahami dan ingat tahapan komunikasi dan garis besar isi komunikasinya
3. Latihan bersama teman Perawat percakapan yang ada di contoh materi
4. Evaluasi apa yang sudah diperagakan, perbaiki sampai mahir dan sikap terapautik
benar-benar sudah bisa diterapkan.
Selamat mempelajari seluruh modul ini dan menerapkan dengan optimal untuk
memberikan pelayanan yang professional, cepat, dan tepat.