Anda di halaman 1dari 10

BAB II

KONSEP KEPERAWATAN INTENSIF PSIKIATRI


A. Konsep Unit Perawatan Intensif Psikiatri (UPIP)
Unit perawatan intensif psikiatri adalah suatu unit yang memberikan perawatan
khusus kepada pasien psikiatri yang berada dalam kondisi membutuhkan pengawasan
ketat. Di beberapa negara unit ini diterjemahkan sebagai unit kedaruratan ataupun
unit akut yang pada prinsipnya memiliki tujuan yang sama yaitu merawat pasienpasien yang berada dalam kondisi membutuhkan intervensi segera. Pasien dengan
kondisi ini adalah pasien yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain dan
lingkungan. Contohnya, seperti pasien dengan usaha bunuh diri, isi halusinasi yang
membahayakan, perilaku kekerasan, dan waham.
Kedaruratan dapat terjadi dimanapun dan membutuhkan penanganan segera.
Kecepatan menangani kondisi kedaruratan akan meminimalkan gejala sisa maupun
kecacatan yang akan dialami pasien. Oleh karena itu tenaga kesehatan umumnya dan
tenaga keperawatan khususnya perlu memperlengkapi diri dengan kemampuan
menangani masalah-masalah kedaruratan. Disamping itu fasilitas ruangan yang
memadai juga dibutuhkan untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan dan
keperawatan yang terbaik.
Di Indonesia, istilah yang digunakan adalah intensif karena merujuk kepada tindakan
segera yang dilakukan kepada pasien, sedangkan istilah kedaruratan lebih merujuk
kepada kondisi pasien. Kondisi darurat pasien membutuhkan tindakan intensif segera
untuk mencegah situasi yang lebih buruk. Kondisi darurat memiliki kriteria berikut:

Ancaman segera terhadap kehidupan, kesehatan, harta benda atau lingkungan


Kehilangan kehidupan, gangguan kesehatan, kerusakan harta benda dan
lingkungan

Cenderung peningkatan bahaya yang tinggi dan segera terhadap kehidupan,


kesehatan, harta benda atau lingkungan

Tindakan intensif adalah tindakan yang diberikan secara terus menerus pada pasien

dengan kondisi darurat. Tindakan intensif diberikan sesuai dengan level kedaruratan
yang dialami pasien. Secara umum ada tiga fase tindakan intensif bagi pasien yaitu:
fase intensif I, II, dan III.
Berikut ini akan dijelaskan secara rinci fase intensif I, II, dan III pada UPIP.
1.

Tujuan

Setelah menyelesaikan modul ini peserta pelatihan diharapkan mampu:


1.

Menyebutkan pengertian kedaruratan dan intensif

2.

Menyebutkan pengertian kedaruratan jiwa dan intensif jiwa

3.

Menyebutkan pola manajemen pelayanan keperawatan di UPIP

4.

Menyebutkan pola manajemen asuhan keperawatan di UPIP

2.

Kedaruratan Psikiatri

Kedaruratan psikiatrik adalah suatu gangguan akut pada pikiran, perasaan, perilaku,
atau hubungan sosial yang membutuhkan suatu intervensi segera (Allen, Forster,
Zealberg, & Currier, 2002). Menurut Kaplan dan Sadock (1993) kedaruratan
psikiatrik adalah gangguan alam pikiran, perasaan atau perilaku yang membutuhkan
intervensi terapeutik segera. Dari pengertian tersebut, kedaruratan psikiatri adalah
gangguan pikiran, perasaan, perilaku dan atau sosial yang membahayakan diri sendiri
atau orang lain yang membutuhkan tindakan intensif yang segera. Sehingga prinsip
dari kedaruratan psikiatri adalah kondisi darurat dan tindakan intensif yang segera.
Berdasarkan prinsip tindakan intensif segera, maka penanganan kedaruratan dibagi
dalam fase intensif I (24 jam pertama), fase intensif II (24-72 jam pertama), dan fase
intensif III (72 jam-10 hari).
Fase intensif I adalah fase 24 jam pertama pasien dirawat dengan observasi, diagnosa,
tritmen dan evaluasi yang ketat. Berdasarkan hasil evaluasi pasien maka pasien
memiliki tiga kemungkinan yaitu dipulangkan, dilanjutkan ke fase intensif II, atau
dirujuk ke rumah sakit jiwa. Fase intensif II fase perawatan pasien dengan observasi
kurang ketat sampai dengan 72 jam. Berdasarkan hasil evaluasi maka pasien pada

fase ini memiliki empat kemungkinan yaitu dipulangkan, dipindahkan ke ruang fase
intensif III, atau kembali ke ruang fase intensif I. Pada fase intensif III pasien di
kondisikan sudah mulai stabil, sehingga observasi menjadi lebih berkurang dan
tindakan-tindakan keperawatan lebih diarahkan kepada tindakan rehabilitasi. Fase ini
berlangsung sampai dengan maksimal 10 hari. Merujuk kepada hasil evaluasi maka
pasien pada fase ini dapat dipulangkan, dirujuk ke rumah sakit jiwa atau unit psikiatri
di rumah sakit umum, ataupun kembali ke ruang fase intensif I atau II
Adapun skala yang digunakan untuk mengukur tingkat kedaruratan pasien adalah
skala GAF (General Adaptive Function) dengan rentang skor 1 30 skala GAF.
Kondisi pasien dikaji setiap shift dengan menggunakan skor GAF. (Dalam diagnosis
psikiatri GAF adalah aksis kelima dalam struktur diagnosis berupa kemampuannya
berfungsi)
Katagori pasien yang berada dalam rentang skor 1 30 GAF adalah :
Skor 30 Perilaku dipengaruhi oleh waham atau halusinasi ATAU gangguan serius
pada komunikasi atau pertimbangan (misalnya kadang kadang inkoheren,
tindakan jelas tidak sesuai preokupasi bunuh diri) ATAU ketidakmampuan
untuk berfungsi hampir pada semua bidang (misalnya tinggal di tempat tidur
21

sepanjang hari, tidak memiliki pekerjaan, rumah atau teman)

20 Terdapat bahaya melukai diri sendiri atau orang lain (misalnya usaha bunuh
diri tanpa harapan yang jelas akan kematian, sering melakukan kekerasan,
kgembiraan manik) ATAU kadang kadang gagal untuk mempertahankan
perawatan diri yang minimal (misalnya mengusap feses) ATAU gangguan
11 yang jelas dalam komunikasi (sebagian besar inkoheren atau membisu)
10 Bahaya melukai diri sendiri atau orang lain persisten dan parah (misalnya
kekerasan rekuren) ATAU ketidakmampuan persisten untuk mempertahankan
hiegien pribadi yang minimal ATAU tindakan bunuh diri yang serius tanpa
1

harapan akan kematian yang jelas .

Pada keperawatan kategori pasien dibuat dengan skor RUFA (Respons Umum Fungsi
Adaptif)/ GAFR (General Adaptive Function Response) yang merupakan modifikasi
dari skor GAF karena keperawatan menggunakan pendekatan respons manusia dalam
memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan fungsi respons yang adaptif.
Keperawatan meyakini bahwa kondisi manusia selalu bergerak pada rentang adaptif
dan maladaptif. Ada saat individu tersebut berada pada titik yang paling adaptif ,
namun di saat lain individu yang sama dapat berada pada titik yang paling maladaptif.
Kondisi adaptif dan maladaptif ini dapat dilihat atau diukur dari respons yang
ditampilkan. Dari respons ini kemudian dirumuskan diagnosa Skor RUFA yang
dibuat berdasarkan diagnosa keperawatan yang ditemukan pada pasien. Sehingga
setiap diagnosa keperawatan memiliki kriteria skor RUFA tersendiri (lihat tabel 1).
Tabel 1. Kriteria Kondisi Pasien berdasarkan RUFA (skor 1-30)
No
1

Diagnosa
Keperawatan
Gangguan
persepsi sensori:
halusinasi

1.
2.
3.
4.
5.

Perilaku
kekerasan

Gangguan proses
pikir: waham

Skor RUFA 1-10


(Intensif I)
Setiap saat mengalami
halusinasi
Halusinasi tidak
terkendali
Perilaku dikendalikan
oleh isi halusinasi
Halusinasi berisi
ancaman terhadap diri
atau orang lain
Risiko tinggi bunuh diri
atau membunuh orang
lain
1. Perilaku kacau
2. Sedang melakukan
tindak kekerasan
fisik dan verbal
3. Berisiko
tinggi
mencederai orang
lain
dan
diri
sendiri

1.
2.
3.

Risiko bunuh diri

1.

1.
2.
3.
4.

1.
2.
3.

Perilaku kacau
Waham
terjadi
setiap saat
Komunikasi sangat
kacau

Aktif mencoba

Skor RUFA 11-20


(Intensif II)
Sering mengalami
halusinasi
Seringkali tidak bisa
mengendalikan
halusinasi
Halusinasi mengancam
tetapi masih bisa
dikendalikan
Perilaku sering kacau

1.
2.
3.

1.

1.
2.
3.
4.

Skor RUFA 21-30


(Intensif III)
Halusinasi
sesekali
muncul
Perilaku masih bisa
dikendalikan
Isi halusinasi tidak
mengancam
Perilaku kadang kacau

Perilaku kadang
kacau
Sedang
melakukan
kekerasan verbal
Risiko
sedang
mencederai diri
dan orang lain

1.

Perilaku sering
kacau
Waham sering
terjadi
Komunikasi
kadang kacau

1.

Aktif

memikirkan

2.

3.

2.
3.

1.

Perilaku kadang
kacau
Ada riwayat
melakukan
tindakan
kekerasan
Sesekali
melakukan
tindakan
kekerasan
verbal, tidak
fisik
Perilaku cukup
terorganisir
Waham jarang
terjadi
Komunikasi
kacau jika terjadi
waham

Mungkin sudah

3.
4.
5.

Panik

bunuh diri engan


cara:
a. gantung diri
b. minum racun
c. memotong urat
nadi
d. menjatuhkan diri
dari tempat yang
tinggi
Mengalami tandatanda depresi
Mempunyai rencana
bunuh diri yang
spesifik
Menyiapkan alat
untuk bunuh diri
(pistol, pisau, silet,
dll)

1.
2.
3.
4.

6
7
8

Gejala putus zat


Over dosis zat
adiktif
Defisit perawatan
diri

1.

2.
3.

Isolasi sosial

1.
2.
3.

rencana bunuh diri,


namun tidak disertai
dengan percobaan
bunuh diri
2.
Meng
atakan ingin bunuh
diri namun tanpa
rencana
yang
spesifik
3.
Mena
rik
diri
dari
pergaulan sosial

Perilaku kacau
Persepsi
sangat
sempit
Tidak
mampu
menerima
informasi
Tidak
sadar
lingkungan

1.

Sama sekali tidak


mau dan mampu
melakukan
perawatan diri
Perilaku kacau
Tidak
mampu
mengikuti perintah

1.

Kontak
sosial
sangat kurang
Katatonia
Sama sekali atau
kurang
sekali
dalam
kontak
verbal

2.
3.
4.

2.
3.

1.

2.
3.

memiliki ide untuk


mengakhiri
hidupnya,
namun
tidak disertai dengan
ancaman
dan
percobaan
bunuh
diri
2.
Mengungkapka
n perasaan seperti
rasa bersalah / sedih /
marah / putus asa /
tidak berdaya
3.
Mengungkapka
n hal-hal negatif
tentang diri sendiri
yang
menggambarkan
harga diri rendah
4. Mengatakan: Tolong
jaga anak-anak
karena saya akan
pergi jauh! atau
Segala sesuatu
akan lebih baik
tanpa saya.

Perilaku
agak
kacau
Persepsi hanya
yang nyata
Mampu
berkomunikasi
terbatas
Sadar
lingkungan
terbatas

Mampu
melakukan
kebersihan diri
tetapi tidak mau
Perilaku masih
bisa diarahkan
Praktek
kebersihan diri
hanya
jika
diingatkan

1.

Kontak
sosial
sangat terbatas,
hanya
dengan
orang
yang
sangat dekat
Komunikasi
verbal
sangat
terbatas
Aktivitas fisik
hanya terbatas

1.

2.
3.

2.

3.

Mau berinisiatif
melakukan
perawatan diri
hanya
dengan
bimbingan
Perilaku masih
bisa diarahkan
Kadang-kadang
tidak melakukan
kebersihan diri
dengan rutin
Kontak verbal
masih
sangat
terbatas
Sudah
mau
berinteraksi
walaupun sangat
terbatas
Aktifitas
fisik
sudah
makin
sering dilakukan

untuk kebutuhan
dasar fisik

Sedangkan berdasarkan masalah keperawatan maka pasien yang perlu dirawat di unit
perawatan intensif psikiatri adalah sebagai berikut:
a. Perilaku Kekerasan
b. Perilaku Bunuh diri
c. Perubahan sensori persepsi: halusinasi (fase IV)
d. Perubahan proses pikir: waham curiga
e. Masalah-masalah keperawatan yang berkaitan dengan kondisi pasien putus zat
dan over dosis:
1)

Perubahan kenyamanan: nyeri

2)

Gangguan pola tidur

3)

Gangguan pemenuhan nutrisi

4)

Gangguan eliminasi bowel

f. Defisit perawatan diri


3. Pola penanganan di unit perawatan intensif psikiatri
Pola penanganan di UPIP menggunakan pendekatan MPKP yang terdiri dari empat
pilar yaitu :
1. Pendekatan manajemen
2. Compensatory reward
3. Hubungan profesional
4. Manajemen asuhan keperawatan
Pada ruangan UPIP keempat pilar ini dilebur menjadi 2 pilar sebagai berikut:
1. Manajemen pelayanan keperawatan (pilar I-III)
2. Manajemen asuhan keperawatan (pilar IV)
(lihat Bab II b dan c)

Alur penerimaan pasien di UPIP

Pasien baru yang masuk di UPIP dilakukan triase dengan mengkaji keluhan utama
pasien dengan menggunakan skor RUFA (1-30) dan tanda vital. Adapun kategori
pasien menurut skor RUFA adalah:
1. Skor 1-10 masuk ruang intensif I
2. Skor 11-20 masuk ruang intensif II
3. Skor 21-30 masuk ruang intensif III
Triase
Pada fase ini hal pertama yang harus dilakukan adalah rapid assessment/screening
assessment yang dilakukan berdasarkan protap yang telah disepakati. Pengkajian ini
harus meliputi identitas pasien yaitu: nama pasien, tanggal lahir, nomor tanda
pengenal (KTP/SIM/Paspor), alamat, nomor telepon, serta nama dan nomor telepon
orang terdekat pasien yang dapat dihubungi. Pengkajian kondisi pasien yaitu tanda
vital dan keluhan utama dengan skor RUFA (perawat) dan skor GAF (dokter). Hasil
pengkajian

menentukan perlu tidaknya dirawat di unit UPIP, jika perlu dirawat

segera tentukan tindakan intensif yang diberikan sesuai dengan hasil skor RUFA.
Fase intensif I (24 jam pertama)
Prinsip tindakan

Life saving

Mencegah cedera pada pasien, orang lain dan lingkungan

Indikasi :
o Pasien dengan skor 1-10 skala RUFA

Pengkajian
o Hal-hal yang harus dikaji adalah:
1. Riwayat perawatan yang lalu
2. Psikiater/perawat jiwa yang baru-baru ini menangani pasien (bila
memungkinkan)
3. Diagnosa gangguan jiwa di waktu yang lalu dengan tanda dan gejala yang
dialami pasien saat ini

4. Stresor sosial, lingkungan, dan kultural yang menimbulkan masalah pasien


saat ini
5. Kemampuan dan keinginan pasien untuk bekerjasama dalam proses
tritmen
6. Riwayat pengobatan dan respons terhadap terapi, mencakup jenis obat
yang didapat, dosis, respons terhadap obat, efek samping dan kepatuhan
minum obat, serta daftar obat terakhir yg diresepkan dan nama dokter
yang meresepkan.
7. Pemeriksaan kognitif untuk mendeteksi kerusakan kognitif atau neuro
psikiatrik
8. Tes kehamilan untuk semua pasien perempuan usia subur
Pengkajian lengkap harus dilakukan dalam 3 jam pertama. Selain itu pasien harus
sudah

diperiksa

oleh

seorang

psikiater/dokter

umum

kesehatan

jiwa

(Psikiater/Medical Officer Mental Health/MOMH/GP+/GP++) dalam 8 jam pertama


dengan prioritas pertama adalah psikiater. Bila tidak ada psikiater maka pasien dapat
ditangani oleh MOMH. Selanjutnya bila tidak ada MOMH dapat ditangani GP+ atau
GP++. Pasien-pasien yang berada dalam kondisi membutuhkan penanganan sangat
segara harus dikaji dan bertemu dengan psikiater/MOMH dalam 15 menit pertama.

Intervensi
Intervensi untuk fase ini adalah:
Observasi ketat

o Bantuan pemenuhan kebutuhan dasar (makan, minum, perawatan diri)


o Manajemen pengamanan pasien yang efektif (jika dibutuhkan).
o Terapi modalitas yang dapat diberikan pada fase ini adalah terapi musik.

Evaluasi
o Evaluasi dilakukan setiap shift untuk menentukan apakah kondisi pasien
memungkinkan untuk dipindahkan ke ruang intensif II.
o Bila kondisi pasien diatas 10 skala RUFA maka pasien dapat dipindahkan ke
intensif II.

Fase Intensif II (24-72 jam pertama)


Prinsip tindakan

Observasi lanjutan dari fase krisis (Intensif I)

Mempertahankan pencegahan cedera pada pasien, orang lain dan


lingkungan

Indikasi :
o Pasien dengan skor 11-20 skala RUFA

Intervensi
Intervensi untuk fase ini adalah:
Observasi frekuensi dan intensitas yang lebih rendah dari fase intensif

o
I

o Terapi modalitas yang dapat diberikan pada fase ini adalah terapi musik dan
terapi olah raga.

Evaluasi
o Evaluasi dilakukan setiap shift untuk menentukan apakah kondisi pasien
memungkinkan untuk dipindahkan ke ruang intensif III.
o Bila kondisi pasien diatas skor 20 skala RUFA maka pasien dapat dipindahkan
ke intensif III. Bila dibawah skor 11 skala RUFA maka pasien dikembalikan
ke fase intensif I

Fase Intensif III (72 jam-10 hari)


Prinsip tindakan

Observasi lanjutan dari fase akut (Intensif II)

Memfasilitasi perawatan mandiri pasien

Indikasi :
o Pasien dengan skor 21-30 skala RUFA

Intervensi
Intervensi untuk fase ini adalah:
o

Observasi dilakukan secara minimal

Pasien lebih banyak melakukan aktivitas secara mandiri

Terapi modalitas yang dapat diberikan pada fase ini adalah terapi

musik, terapi olah raga dan life skill therapy.

Evaluasi
o Evaluasi dilakukan setiap shift untuk menentukan apakah kondisi pasien
memungkinkan untuk dipulangkan.
o Bila kondisi pasien diatas skor 30 skala RUFA maka pasien dapat dipulangkan
dengan mengontak perawat CMHN terlebih dahulu. Bila dibawah skor 20
skala RUFA pasien dikembalikan ke fase intensif II, dan dibawah skor 11
skala RUFA pasien dikembalikan ke fase intensif I.

Intensif II
(RUFA 11-20)
Intensif I
(RUFA 1-10)

Intensif
Intensif III
III
(RUFA
(RUFA 21-30)
21-30)
Pulang
Pulang
(RUFA
(RUFA > 30)
30)
Intensif I
(RUFA
(RUFA 1-10)

YA
YA
(RUFA
(RUFA 1-30)

UGD/Poliklinik
Psikiatri
Psikiatri

UPIP

Intensif II
(RUFA 11-20)

TRIASE:
TRIASE:
Pengkajian
Pengkajian
RUFA/Rapid
RUFA/Rapid
assessment

Intensif
Intensif III
III
(RUFA
(RUFA 21-30)
21-30)
Pulang
Pulang
(RUFA
(RUFA >30)

TIDAK
TIDAK

Pulang

Intensif
Intensif III
III
(RUFA
(RUFA 21-30)
21-30)

Intensif I
(RUFA
(RUFA 1-10)
Intensif II
(RUFA 11-20)
Pulang
Pulang
(RUFA
(RUFA >30)