Anda di halaman 1dari 62

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan zaman dari tahun-ketahun terus meningkat dengan pesat
terutama dibidang industri, banyak perusahaan dari dalam negeri banyak
mempergunakan alat dan bahan dari luar negeri yang diyakini mutu dan
kuwalitasnya lebih baik di dalam negeri. Seperti negara kita yang sedang
berkembang ini kebutuhan akan peralatan industri meningkat secara derastis.
Untuk memenuhi akan kebutuhan barang dan alat kerja didalam perushaan
maka dari itu khususnya mahasiswa teknik mesin dibidang industri diharapkan
mempunyai keterampilan yang tinggi. Agar dapat menciptakan suatu produk yang
bermutu tinggi sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Dengan demikian
maka dapat meningkatan perekonomian bangsa dan masyarakat sekitar supaya
lebih baik lagi.
Pada waktu ini teknik las telah dipergunakan secara luas didalam
penyambungan batang-batang pada kontruksi bangunan baja dan kontruksi mesin.
Luasnya penggunaan teknologi ini disebabkan karena bangunan dan mesin yang
dibutuhkan dengan mempergunakan teknik penyambungan ini menjadi lebih
ringan dan proses pembuatannya lebih sederhana, sehinga biaya keseluruha yang
dikeluarkan menjadi lebih ringan. Lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam
kontruksinya sangat luas, meliputi perkapalan, jembatan, rangka baja, bejana, pipa
pesat, pipa saluran, kendaraan rel dan lain sebagainya.
Disamping untuk pembuatan, peroses las dapat juga dipergunakan untuk
reparasi misalnya untuk mengisi lubang-lubang pada coran, mambuat lapisan
keras pada perkakas, mempertebal bagian-bagian yang sudah aus dan macammacam reparasi lainya. Pengelasan bukan tujuan utama dari kontruksi, tapi hanya
merupakan sarana untuk mencapai ekonomi pembuatan yang lebih baik. Karena
itu rancangan las dan cara pengelesan harus betul-betul memperhatikan
kesesuaian antara sifat-sifat las dengan kegunaan kontruksi serta keadaan
sekitarnya.

Proses pengelasan kelihatanya sangat sedarhana, tetapi sebenarnya di


dalamnya banyak masalah-masalah yang harus diatasi dimana pemecahanya
memerluakan bermacam-macam pengetahuan. Karena itu dalam pengelasan,
pengetahuan harus turut serta mendampingi praktek. Secara terperinci dapat
dikatakan bahwa dalam perancangan kontruksi bangunan dan mesin dengan
menggunakan las, harus direncanakan pula tentang cara pengelasan, cara
pemeriksaan, bahan las dan jenis las yang akan dipergunakan, berdasarkan fungsi
dari bagian-bagian bangunan atau mesin yang dirancang.
1.2 Tujuan
Tujuan dari pada diadakan pratikum dari teknik pengelasan ini adalah
sebagai berikut:
1. Diharapkan mahasiswa dapat mengoperasikan las oxy-acetylene sesuai dengan
teori yang sudah dipelajari pada semester yang lalu.
2. Diharapkan mahasiswa dapat mempelajari teknik pengelasan dan mengerjakan
jenis-jenis pekerjaan yang dapat dilakukan oleh las oxy-acetylene.
3. Diharapkan dapat mengetahui alat apa saja yang digunakan dalam las oxy-

acetylene.
4. Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui bermacam-macam sambungan

las yang sering digunakan dalam pengelasan oxy-acetylene.


5. Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui berbagai macam nyala api las

oxy-acetylene.
1.3 Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dalam praktikum las oxy-acetylene ini
adalah sebagai berikut:
1. Dapat mengelas dengan baik sesuai ketentuan yang telah ada.
2. Dapat mengetahui bentuk pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh las oxyacetylene.
3. Dapat mengetahui berapa waktu yang dibutuhkan untuk melakukan
pekerjaan dengan menggunakan las oxy-acetylene.

4. Dapat mendalami teknik-teknik yang pernah dipelajari dan dapat


mengembangkannya di dalam las oxy-acetylene.
1.4 Sistematika Penulisan
Dalam sistematika penulisan laporan mesin las oxy-acetylene ini terdiri
dari atas:
Bab I

Pendahuluan
Bab ini berisikan latar belakang, tujuan dan manfaat dari Praktikum las
oxy-acetylene.

Bab II

Teori Dasar
Bab ini berisikan tentang teori-teori yang dilaksanakan pada praktikum
oxy-acetylene.

Bab III Alat Dan Bahan.


Pada bab ini berisi tentang jenis-jenis alat yang digunakan dalam
praktikum pengelasan dan bahan-bahan yang digunakan untuk
pengelasan.
Bab IV Prosedur Kerja.
Pada bab ini berisi tentang prosedur-prosedur kerja mengenai cara-cara
pengerjaan serta langkah-langkah kerja kita hingga tercapai hasil kerja
yang baik.
Bab V

Pembahasan.
Pada bab ini berisi tentang pembahasan dari persoalan-persoalan yang
menyangkut

perhitungan-perhitungan

dalam

praktikum

las

oxy-

acetylene.
Bab VI

Kesimpulan Dan Saran.


Berisi tentang kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisa
dan saran yang diperoleh untuk memperbaiki hasil kerja dari analisa
praktikum las oxy-acetylene.

BAB II
TEORI DASAR
2.1 Pengertian Las Oxy Acetylene
Pengelasan dengan las oxy acetylene adalah panyambungan dua buah
logam dengan proses pemanasan yang didapat dari pencampuran gas oxy
acetylene dengan O2 sehingga menimbulkan nyala api dengan suhu yang dapat
mencairkan logam induk dan logam pengisi. Sebagai bahan bakar dapat
digunakan gas-gas oxy acetylene, propan atau hydrogen. Diantara tiga bahan bakar
ini yang paling banyak digunakan adalah gas acetylene, sehingga las gas pada
umunya di artikan sebagai las oxy acetylene. Karena tidak memerlukan tenaga
listrik, maka las oxy acetylene banyak dipakai dilapangan walaupun pemakaianya
tidak sebatas las busur elektroda terbungkus.

Gambar 2.1 Las Acetylene

2.2 Kelasifikasi Pengelasan Dan Pemotongan


Sampai pada saat ini banyak sekali cara-cara pengklasifikasian yang
digunakan dalam bidang las, ini disebabkan karena belum adanya kesepakatan

dalam hal tersebut. Secara konvernsional cara-cara pengklasifikasian tersebut


pada waktu ini dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu klasifikasi pertama cara
kerja dan klasifikasi berdasarkan energi yang digunakan. Sedangkan klasifikasi
pertama membagi las alam kelompok Las Cair, Las Tekan, Las Patri dan lain
sebagainya. Sedangkan klasifikasi yang kedua membedakan adanya kelompokkelompok seperti Las Listrik, Las Kimia, Las Mekanik dan seterusnya. Bila
diadakan klasifikasi tersebut di atas akan terbaut dan akan terbentuk kelompokkelompok yang banyak sekali.
Di antara cara kelasifikasi tersebut di atas, kelihatanya kelasifikasi
berdasarkan cara kerja lebih banyak digunakan, karena itu pengklasifikasianya
yang diterapkan di dalam bab ini, juga didasarkan pada cara kerja.
Berdasarkan klasifikasi ini pengelasan dapat dibagi dalam tiga kelas utama
yaitu:
1) Pengelasan Cair adalah pengelasan di mana sambungan dipanaskan
sampai mencair dengan sumber panas dari busur listrik atau semburan
api gas yang terbakar.
2) Pengelasan Tekan adalah cara pengelasan di mana sambungan
dipanaskan dan ditekan hingga menjadi satu.
3) Pematrian adalah cara pengelasan di mana sambungan diikat dan
disatukan dengan menggunakan paduan logam yang mempunyai titik
cair rendah. Dalam cara ini logam induk tidak ikut mencair.
Perincian lebih lanjut dari klasifikasi ini dapat dilihat dalam. Berdasarkan
klasifikasi dalam tabel tersebut, beberapa cara pengelasan yang banyak
dilaksanakan pada waktu ini diterapkan lebih terperinci dalam pasal-pasal berikut.
Pemotongan yang dibahas dalam laporan ini adalah cara pemotongan
logam yang didasarkan atas mencairya logam yang dipotong. Cara yang banyak
digunakan dalam pengelasan adalah pemotongan dengan gas oksigen dan
pemotongan dengan busur listrik. Klasifikasi dari pemotongan logam ini
ditunjukan dalam potong sembur yang termasuk dalam pemotongan gas dalam
tabel tersebut dikatakan semacam cara pemesinan dengan gas. Disamping dengan

gas, pemotongan sembur dapat juga dilaksanakan dengan busur, karena itu dalam
potong busur juga terdapat potong sembur.
Cara pengelasan yang paling banyak digunakan pada waktu ini adalah
pengelasan cair dengan busur dan gas. Karena itu kedua cara tersebut yaitu las
busur listrik dan las gas akan dibahas secara terperinci. Pemotongan, karena
masalah tersendiri maka pembahasan juga dulakuakan secara terperinci.
2.3 Sarana Tempat Kerja
Kebersihan lantai, ruangan, dinding dan lingkungan kerja merupakan
syarat fisik timbulnya gairah dalam kerja, produktivitas dan terjaminnya
keselamatan.
Penerangan yang baik pada ruang kerja berkisar antara 800 - 1200 lux. Hal
in penting untuk mencegah kerusakan mata.

Gambar 2.2 Sarana Tempat Kerja


Sirkulasi udara pada ruang tempat kerja harus baik, sehingga dibutukan
pengaturan dan jumlah jendela yang baik dan memadai. Bila diperlukan dapat
menggunakan kipas ekospen. Hal ini disamping untuk kenyamanan kerja, juga
untuk mencegah penyakit.

Bangku kerja harus dibuat dengan kokoh, lengkap dengan laci untuk
menyimpan perkakas sehingga aman, rapi dan terawat.
2.4 Sarana Perkakas
Pengaturan perkakas dalam laci harus dipisakan antara yang presisi dan
yang kasar. Setiap tempat letak alat dicat warna merah agar mudah dalam
pemeriksaannya.
Pengaturan perkakas diatas bengku kerja (saat digunakan) juga harus
dipisahkan antara yang kasar dan yang halus. Alat-alat ukur/presisi diletakan
terpisah dan diberi alas kain karet.
Dalam pengelasan oxy acetylene diperlukan alat las terdiri dari penyembur
dan pembakar. Dalam praktek terdapat dua jenis alat yaitu jenis tekanan rendah
yang digunakan untuk gas asetilen bertekanan sampai 700 mmHp dan tekanan
sedang untuk tekanan acetylene antara 700 sampai 1300mmHp. Pada jenis
tekanan rendah gas acetylen terisap oleh semburan gas oksigen dan gas
asetilennya didapat langsung dari alat penghasil gas. Sedangkan pada jenis
tekanan sedang gas asetilinnya dilarutkan dan dimasukan dalam botol-botol gas.
Dengan oxy acetylene sedang dapat dihasilkan kwalitas las yang lebih merata. Di
samping itu pada tekanan sedang bahaya terjadinya api balik juga ada, sedangkan
pada jenis tekanan rendah dengan alat penghasil gas yang dihubungkan langsung
bahaya tersebut selalu ada. Untuk menghindari bahaya tersebut maka pada system
pipanya dipasang suatu alat pengaman yang terendam air.
2.5 Generator
Generator adalah tempat untuk mencampur bahan bakar karbit dengan air
yang akan menghasilkan gas acetylene yang dapat dipergunakan untuk dan tempat
menampung gas pada pengerjaan las oxy acetylene. Gas acetylene dapat dibuat
secara sederhana dengan cara mencampur karbit (calcium carbide) ditambah air,
dengan rumus kimia CaC2 + 2H2O C2H2 + Ca(OH)2 + kalor. Percampuran ini
dilakukan dalam sebuah tabung yang disebut generator acetylene.

Gambar 2.3 Generator


Bagian-bagian Generator Acetylene
1. Ruang dapur pembuat gas asitilin.
2. Ruang air.
3. Ruang gas asetilin.
4. Keran air.
5. Pembilas gas asitilin.
6. Pengukur tekanan gas asitilin.
7. Alat pengamanan tekanan.
8. Katup pengaman.
9. Saringan gas

Gambar 2.4 Bagian-bagian Generator

1. Pengaman Generator Acetylene


Agar generator asitilin dapat digunakan secara aman selama kerja
pengelasan maka perlu diperhatikan beberapa hal berikit:
1. Tempatkan generator asitilin agak jauh dari tempat pengelasan
2. Hindarkan nyala api, benda-benda panas dan terik matahari dari
generator asitilin
3. Periksa secara periodik tinggi air dalam kunci(katup) air
4. Berhati-hatilah terhadap kebocoran gas
5. Selama dalam pemakaian suhu air tidak boleh lebih dari 600C
6. Suhu asitilin yang terjadi tidak boleh mencapai 100 0C. perlu diketahui
bahwa penguraian 1 kg karbit dapat memanaskan air dari 00C-950C
2. Macam-macam Generator Acetylene
Menurut system pencampuran karbit dengan air di dalam generator asitilin
adalah sebagai berikut:
1. Generator system celup dimana air menetes ke atas permukaan karbit
yang di tempatkan pada didalam dapur penghasil gas.
2. Generator system tetes dimana karbit dijatuhkan kedalam air maka
berlangsung pembuatan gas asitilin
1. Generator System Celup
Dimana karbit sebagai bahan penghasil gas dicelupkan kedalam air
sehingga menjadi gas asitilin, kemudian gas asitilin yang terjadi naik
akan berkumpul di dalam ruang gas, dari ruangan gas asetilin gas akan
terkunci oleh air dan siap untuk dipergunakan.

Gambar 2.5 Generator Acetylene System Celup


2. Generator System Tetes
Dimana air diteteskan kedalam ruang dapur tempat karbit berada atau
dilaci dalam retor dan gas yang ditimbulkan akan naik kedalam ruang
gas asetelen, sebelum gas memasuki ruang gas asetilin terlebih dahulu
melewati pipa penghubung keruang gas asetilin yang direndam kedalam
air adalah untuk pembersihan gas yang akan masuk kedalam ruang gas
asetilin.

Gambar 2.6 Generator Acetylene System Tetes

10

2.6 Tabung Gas Oxygen


Tabung gas oksigen berfungsi untuk menghembuskan api yang dihasilkan
oleh gas Acetylene dengan tekanan yang tinggi. Tabung gas argon menyerupai
tabung oksigen, dengan kontruksi untuk mengisi tekanan yang tinggi.
Tabung gas argon dibuat 4 macam, yaitu:
A. 78 Cuft pada 2200 psi (200 1 pada 1555 kg/cm persegi)
B. 150 Cuft pada 220 psi (4250 1 pada 155 kg/cm persegi)
C. 150 Cuft pada 2200 psi (7850 1 pada 155 kg/cm persegi)
D. 330 Cuft pada 2640 psi (9300 1 pada 186 kg/cm persegi)

Gambar 2.7 Tabung Oksigen


Kadar oksigen pada nyala api las Acetylene sangat berpengaruh sebagai
penunjang untuk penghematan, kecepatan dan efisiensi kerja pada waktu
pengelasan. Apabila kadar oksigen kurang dari 90%, bahan seperti baja sukar
sekali dilas. Kadar oksigen yang hanya 88%, tidak dapat dipakai untuk mengelas
baja, bahkan perbedaan oksigen yang hanya 0,5% saja akan menyebabkan hasil
yang berbeda pada baja.
Jadi untuk pekerjaan pengelasan kadar oksigen harus tinggi, sebab
ketidakmurnian oksigen akan menyebabkan turunnya suhu nyala api pengelasan.

11

Tetapi meskipun kadar zat asam berkurang, kita masih dapat melakukan pekerjaan
pengelasan, yaitu dengan cara memperlambat gerakan pengelasan.
2.7 Regulator
Mengalirkan gas dari tabung harus memakai alat ukur yang dinamakan
Regulatar, alat ini berfungsi untuk mengatur tekanan tabung menjadi suatu
tekanan kerja. Pada regulator terdapat dua manometer, yaitu manometer tekana isi
dan manometer takanan kerja. Yang dimaksud tekanan isi adalah tekanan gas yang
berada dalam tabung. Dalam tabung yang masih penuh, tekanan gas oksigen
besarnya 150 bar (15 MPa) sedangakan tekanan gas asitilin besarnya 15 bar (1,5
MPa). Yang dimaksud tekanan kerja adalah tekanan yang dibutuhkan pada waktu
melakukan pekerjaan las. Tekanan kerja ini diatur oleh regulator dan besarnya
dapat dibaca pada manometer tekanan kerja.
Antara regulator las Oxy-Acetylene dilengkapi dengan pengukur tekanan
(manometer) dengan skala pound/square inci (1b/in2); dangan skala cuft per hous
(ft 3/jam), atau bahkan lajimnya regulator kombinasi regulator dan flow meter.
Kedudukan flow meter pada regulator harus pada posisi tegak, ini untuk
memudahkan operator membacanya.

Gambar 2.8 Regulator Acetylene

12

Bagian-bagian Regulator
1. Manometer isi
2. Manometer kerja
3. Ruang tekanan isi
4. Keran penyetel tekanan
5. Katup
2.7.1 Jenis-jenis Regulator
Ada dua jenis regulator yaitu regulator satu tingkat dan regulator dua
tingkat
1) Regulator satu tingkat
Pada regulator ini tekanan isi diturunkan sekaligus menjadi tekanan
kerja yang dikehendaki. Besar kecilnya tekanan diatur dengan memutar
keran pengatur pada kedudukan tertentu. Keran diputar kekenan berarti
menambah tekanan kerja dan bila diputar kekiri berarti mengurangi
takanan kerja

Gambar 2.9 Regulator Satu Tingkat


2) Regulator dua tingkat
Prinsip kerja regulator ini sama dengan regularor satu tingkat,
perbedaanya adalah pada cara penurunan tekanan isi menjadi tekanan
kerja dilakukan dua tahap. Tahap pertama tekanan gas diturunkan hingga

13

takanan kerja gas diturunkan hingga tekanan pertengahan, tahap kedua


gas diturunkan lagi sampai tekanan kerja.

Gambar 2.10 Regulator Dua Tingkat


2.7.2 Regulator Acetylene
Regulator Acetylene adalah regulator yang dipasang pada tabung
Acetylene . Pada generator ini terdapat:
1.

Manometer tekanan isi dengan skala sampai 30 kg/cm2

2.

Manometer tekanan kerja dengan skala sampai 3 kg/cm2

3.

Baut dan mur pengikat yang mengunakan ulir kiri

Gambar 2.11 Regulator Asitilin

14

2.7.3 Regulator Oksigen


Pada tabung oksigen dipasang regulator oksigen yang memiliki:
1.

Manometer tekanan isi dengan skala sampai 250 kg/cm2

2.

Manometer tekanan kerja dengan skala sampai 12 kg/ cm2

3.

Baut a mur pengikat yang mengunakan ulir kanan

Gambar 2.12 Regulator Oksigen


2.7.4 Perinsip Kerja regulator
1. Bila katup dibuka gas dari silinder masuk keruang, ruang tekanan isi dan
tekanannya dilihat pada monometer isi.
2. Bila baut pengatur yakni keran penyetel tekanan diputar searah jarun jam
maka pegas akan mendekati membran sehingga klep terbuka.
3. Gas dari ruang tekanan isi masuk ketekanan kerja, sehingga akan
mendekati membram sehingga bila tekanan gas diruang tekanan kerja
lebih besar dari tekanan pegas dan katup akan kembali menutup.
4. Tekanan gas diruang tekanan kerja besarnya dapat dilihat pada
monometer tekanan kerja, besar kecilnya tekanan di tekanan kerja dapat
dibuat oleh penyetelan tekanan.
5. Bila katup pembakar dibuka maka gas di ruang-ruang tekanan kerja
keluar melalui selang las dan brander/pembakar
6. Tekanan di ruang-ruang tekanan kerja maka membram kembali akan
membuka katup sehingga gas dari rung tekanan isi masuk kembali
keruang tekanan kerja.

15

Sebelum regulator disekrupkan kepada kepala botol pergunakan kunci


yang pas dan yakinkanlah apakah soket tersebut bersih, kering dan bebas dari abu.
Tiuplah kotoran pada soket dengan membuka sebentar katup gas pengunci jangan
terlalu kencang.
2.8 Pembakar Las
Pembakar las berfungsi untuk mencampur antara gas Acetylene dengan gas
oxygen dan mengatur campuran gas tersebut pada ujung pembakar sesuai dengan
kebutuhan. Pembakar las terdiri dari tiga bagian yaitu: pucuk/moncong, saluran
nosel dan tangkai/gagang.

Gambar 2.13 Pembakar Las


Bagian-bagian Brander
1. Kelem Acetylene
2. Saluran Acetylene
3. Klem oksigen
4. Ruang pencampur
5. Saluran oksigen
6. Tangkai
7. Ulir
8. Pucuk
9. Sekrup pengencang
10. Selang

16

2.8.1 Macam-macam Brander


Ada beberapa macam jenis brander yang dipakai dalam mengelas
diantaranya: pembakar potong, pembakar tekanan rendah (pembakar inekktor) dan
pembakar tekanan rata (pembakar mixer)
a) Pembakar Potong
Pembakar potong berfungsi untuk memanaskan bahan dasar yang akan
dipotong biasanya besi atau baja dan untuk memotong besi atau baja yang
telah dipanaskan dengan menggunakan reaksi kimia. Zat asam murni
disemburkan dengan tekanan yang cukup besar kepada besi atau baja yang
telah dipanaskan sehingag besi tersebut akan teroksidasi dengan cepat.
Nyala api pemanas pada pembakar potong berjumblah lebih dari satu dan
berada disekeliling lubang zat asam potong.

Gambar 2.14 Pembakar Potong


b) Pembakar Tekanan Rendah (injector)
Pada pembakar jenis ini tekanan kerja lebih besar dari tekanan kerja
Acetylene, zat asam masuk kedalam pembakar dengan takanan yang lebih
besar melalui injector, kecepatannya bertambah dan menarik gas acetylene
ke dalam pipa pencampur yang kemudian kedua gas itu bercampur serta
siap dibakar setelah lewat mulut brander.

17

Gambar 2.15 Pembakar Tekanan Rendah


c) Pembakar Tekanan Rata (pembakar mixer)
Jenis pencampuran dipakai untuk mengelas dengan tekanan acetylene
yang tinggi yang ada pada botol asetilin. Oksigen mengalir dengan
kecepatan tetap (stabil) dan akan mengadakan pencampuran jika telah
melalui saluran pencampur.

Gambar 2.16 Pembakar Tekanan Rata


2.8.2 Hubungan Tebal Plat, Tekanan Gas Dan Ukuran Pembakar
Ketidak sesuaian pemakaian ukuran ujung pembakar dan tekanan gas
terhaadap ukuran plat yang akan dilas atau dipotong, sering mempersulit
pengerjaan dan mudah terjadi letusan api las pada waktu pengelasan. Untuk
mengatasi hal ini maka dialam pekerjaan mengelas atau memotong digunakan
petunjuk hubungan tebal plat, tekanan gas dan ukuran ujung pembakar.

18

2.9 Selang Las


Selang las berfungsi sebagai penghubung gas dari tabung ke pembakar
maka dipakailah selang yang terbuat dari karet tiga atau empat lapis yang
diperkuat terhadap tekanan gas, biasanya selang diberi warna merah yang
dihubungkan pad botol Acetylene dan warna biru atau hitam pada botol gas
oksigen.
Selang yang ada tersebut akan berfungsi sebagai saluran gas dari silinder
atau generator pembangkit karbit ke brender, selang harus tahan tekanan gas
sebesar 10 kg/cm2, garis tengah selang las bermacam-macam dari 5mm, 6mm dan
7mm pada kedua selang las tersebut terpasang penyambungan selang yang satu
ke pembakar dan yang lainya ke generator. Pada zat asam memakai ulir kanan
dan pada zat acetylene dipakai ulir kiri, hal ini dimaksutkan untuk mencegah
adanya kekeliruan.

Gambar 2.17 Selang Las


2.10 Alat Dan Bahan
2.10.1 Korek api las.
Korek api las biasanya digunakan untuk menyalakan gas, karena tangan
kita posisinya terlalu dekat dengan ujung pembakar maka sangat mudah terjilat
nyala api.

Gambar 2. 18 Korek Api Las

19

2.10.2 Kaca Mata Las


Kaca mata pengaman ini digunakan untuk melindungi mata operaornya
saat melakukan kerja pengelasan.

Gambar 2.19 Kaca Las


2.10.3 Kamar Las
Kamar las penting agar orang yang ada di sekitarnya tempat pengelesan
tidak terganggu oleh cahaya dan asap las yang sangat berbahaya bagi kesehatan.

Gambar 2.20 Kamar Las


2.10.4 Sarung Tangan Las
Sarunga tangan las berguna untuk melindung tangan akan panasnya api las
dan percikan api las.

20

Gambar 2.21 Sarung Tangan Las


2.10.5 Masker Las
Masker digunakan untuk melindungi hidung operator dari asap yang
ditimbulkan oleh proses pengelasan yang dapat merusak kesehatan.

Gambar 2.22 Masker Las


2.11 Macam-macam Nyala Las
Nyala hasil pembakaran dalam las Oxy-Acetylene dapat berubah
tergantung dari perbandingan antara gas oksigen dan gas asetilin diantaranya
adalah:
1. Nyala karburasi
2. Nyala netral
3. Nyala oksidasi

21

1. Nyala Karburasasi
Nyala karbulasi adalah nyala api kelebihan gas Acetylene. Bila acetylene
yang digunakan melebihi dari pada jumlah untuk mendapatkan nyala netral maka
diantara kerucut dalam dan luar timbul kerucut nyala baru yang berwarna biru. Di
dalam bagian nyala ini terdapat kelebihan gas acetylene yang menyebabkan
terjadinya karburasi pada logam cair.

Gambar 2.23 Nyala Karburasi


2. Nyala Netral
Nyala ini terjadi bila perbandingan antara oksigen dan asetilinsekitar satu.
Nyala terdiri atas kerucut dalam yang berwarna putih bersinar dan kerucut luar
yang berwarna bening.

Gambar 2.24 Nyala Netral

22

3. Nyala Oksidasi
Nyala api oksidasi adalah nyala api kelebihan gas oksigen. Bila gas
oksigen lebih dari pada jumlah yang diperlukan untuk menghasdilkan nyala netral
maka nyala menjadi pendek da warna kerucut dalam berubah dari putih bersinar
menjadi ungu. Bila nyala ini digunakan mengelas maka terjadi peruses oksidasi
atau dekaburasi pada logam cair.

Gambar 2.25 Nyala Oksidasi


Karena sifatnya yang dapat merubah komposisi logam cair maka nyala
acetylene berlebihan dan nyala oksidasi tidak dapat digunakan untuk mengelas
baja. Dalam nyala oksi-asetilin terjadi dua reaksi bertingkat yaitu:
C2H2 + O2 2CO + H2

kerucut dalam

2CO + O2 2CO2

kerucut luar

2H2 + O2 2H2O

kerucut luar

Suhu pada ujung kerucut dalam kira-kira 3000 o C dan ditengah kerucut
luar kira-kira 2500o C. suhu ini masi rendah dari pada suhu yang terjadi pada
busur listrik dan konsentrasi suhu juga kurang baik. Karena hal ini maka las OxyAcetylene hanya dapat dipakai untuk mengelas dengan laju yang rendah saja
sehinga terjadi perubahan bentuk pada hasil pengelasan.

23

Table 2.1 Perbandingan Las Oxy-Acetylene Dan Las Busur Elektroda


JENIS LAS
las oksi-asitilin
las busur elektroda

BESARAN
Efisiensi
Sifat mampu las
Harga peralatan
Harga bahan las
Keterampilan juru las
Penggunaan

Rendam (suhu 3000oC)


Kurang baik
Murah
Sama
Sama
Terbatas pada alas tipis

terbungkus
Tinggi (suhu 6000oC)
Baik
Mahal
Sama
Sama
luas

2.12 Kawat Las


Kawat pengisi sebagai bahan tambahan diperlukan pada pengelasan
dengan karbit/asetilin apabila dibutuhkan bahan tambahan untuk menjadikan hasil
pengelasan yang baik dan kuat. Bahan kawat dibuat dari logam yang sesuai
dengan benda kerja yang dilas, umunya dipakai baja lunak, besi tung, baja tahan
karet, aluminium, kuningan dan perunggu. Bahan las dibuat dengan ukuran
11/2mm sampai 10mm dengan panjang batang 900mm.
2.13 Sambungan Las
Adapun jenis-jenis sambungan las yang sering digunakan adalah:
1. Sambungan Berimpit
Sambungan Berimpit adalah bentuk sambungan dimana kedua
bidang yang akan disambung bertumpangan satu sama lain.

Gambar 2.26 Sambungan Tumpang

24

2. Sambungan T
Maksut sambungan T adalah bentuk sambungan dimana kedua bidang
yang akan disambung berbentuk T.

Gambar 2.27 Sambungan T


3. Sambungan Sudut
Sambungan Sudut adalah bentuk sambungan dimana kedua bidang yang
akan disambung membentuk sudut satu sama lain.

Gambar 2.28 Sambungan Sudut


4. Sambungan Tumpul
Sambungan tumpul adalah bentuk sambungan dimana kedua bidang yang
akan disambung dihadapkan satu sama lain.

25

Gambar 2.29 Sambungan Tumpul


2.14 Posisi Mengelas
Dalam mengelas dikenal beberapa metode dan cara yaitu: mengelas maju,
mengelas mendatar, memotong dengan las, mengelas bewah tangan, mengelas
mendatar, mengelas tegak, mengalas diatas kepala.
1. Mengelas Dibawah Tangan
Di mana pengelasan dilakuakan bila mana benda kerja terletak di atas
bidang datar danproses pengerjaan penelasan dilaksanakan dibawah
tangan.

Gambar 2.30 Menelas Dibawah Tangan


2. Mengelas Horizontal
Di mana benda kerja berdiri tegak sedangkan pengelasan dilakukan sejajar
dengan arah bahu tukang las. Pada pengelasan ini cairan las cenderung
mengalir kebawah, ayunan brander sebaiknya sekecil mungkin.

26

Gambar 2.31 Mengelas Horizontal


3. Mengelas posisi tegak (vertical)
Posisi ini dimaksutkan untuk mengelas bila mana arah benda yang
disambung adalah tegak terhadap tanah, sehingga arah pengelasan berjalan
keatas atau kebawah, dimana sudutnya 450-600, dan sudut brander 800.
kedudukan kawat pengisi adalah diatas letak brander.

Gambar 2.32 Mengelas Posisi Tegak


4. Mengelas Posisi Atas kepala (over heat)
Pengelasan dengan posisi ini akan lebih sulit lagi, dimana benda kerja
yang akan dilas berada diatas kepala dan pengelassan dilakukan
dibawahya.

27

Gambar 2.33 Mengelas Posisi Atas Kepala


2.15 Gerakan Brander Las
Pada waktu melakukan las, terdapat beberapa cara untuk mengayunkan
mulut brander untukmendapatkan sambungan yang kuat dan tahan lama. Baik
dalam posisi dan arah yang manapun juga, gerakan brander selama pekerjaan las
tetap diperlukan.
Gerakan brander ini dimaksutkan untuk mangatur pemanansan bahan
dasar yang akan dikerjakan/disambung supaya kedua sambungan mendapatkan
panas yang rata, juga untuk mengatur pemanasan dan bentuk rigi-rigi (hasil
pengelasan) sehingga menghasilkan bentuk rigi-rigi las yang baik dan kuat.

1. Gerakan melingkar

Gambar 2.34 Gerakan Melingkar


2. Gerakan tali

28

Gambar 2.35 Gerakan Tali


3. Gerakan siksak

Gambar 2.36 Gerakan Siksak


4. Gerakan trapezium

Gambar 2.37 Gerakan Terapesium

2.16 Arah Dalam Pengelasan


1. Arah Pengelasan Maju
Bila brander dipegang dengan tengan kenan dan arah pengelasan maju
dimulai dari kanan ke kiri pengeseran pembakar yang dipegang oleh tangan
kanan mengikuti pengeseran kawat las menuju kearah kiri.

29

Gambar 2.38 Arah Pengelasan Maju


2. Arah pengelasan mundur
Pada cara ini arah pengelasan bergeser dari kiri kekanan yang diikuti
bergesernya kawat las sehingga ujung brander dan kawat las berjalan kearah
kanan.

Gambar 2.39 Arah Pengelas Mundur

2.17 Menyalakan Dan Memadamkan Brender


Setelah semua paralatan pengelasan selesai dipakai maka diperiksa apakah
ada kebocoran yang ada, pemeriksaan dilakukan dengan air sabun, oleskan cairan
sabun tersebut pada tempat yang akan diperiksa dengan memakai kwas yang
lunak, kelep dibuka penuh dan setelah takanan kerja dalam yang dilakukan
kedalam klep drender terbuka.
Lengkah pada waktu menyalakan brender adalah sebagai berikut:
1. Buka katup gas oksigen dan acetylene pada klep pengisian
2. Aturlah tekanan kedua gas apakah sudah sesuai dengan ukuran yang
ditentukan

30

3. Buka kedua katup brender untuk membiarkan oxygen memulai ujung


brender dan mulai mengalirkan gas acetylene
4. Nyalakan gas tersebut yang keluar dari mulut brender dengan korek
api
5. Setalah nyala tersebut sampai sesuai dengan nyala yang kita inginkan
Langkah mematikan nyala api brender tersebut adalah pertama kali putar
katup acetylene sampai tek mengelir lagi gas asitilinnya, lalu putarlah katup
oksigennya sampai padam.
2.18 Cacat Las
Cacat yang biasa terdapat pada pengelasan adalah kurangnya penetrasi dan
kurangnya peleburan. Cacat-cacat ini dapat menyebabkan kerusakan setelah
pemakaian yang lama.
1. Under cutting yaitu logam yang meleleh tidak terisi penuh oleh bahan las.
Hal ini disebabkan karena:

Sifat elektroda yang digunakan tidak baik

Posisi pengelasan yang tidak tepat

Arus yang digunakan terlalu besar

Terlalu panjang busur listrik

Voltase terlalu besar

Cara memperbaiki Under cutting adalah dengan mengisi kembali tempat


tersebut dengan las setelah permukaannya dibersihkan.

31

Gambar 2.40 Under Cutting

2. Lach of fussion yaitu logam dasar tidak meleleh atau mencair. Hal ini
disebabkan karena adanya bahan lain yang merintang ditempat itu. Untuk
menghindari hal ini, maka sebelum dilas benda kerja harus dibersihkan
terlebih dahulu.

Gambar 2.41 Lach Of Fussion

3. Slach inclusion yaitu terdapat bahan lain dalam hasil las. Hal ini terjadi
karena:

Reaksi kimia antara logam

Pengaruh udara sekeliling

Coating dari elektroda


Hendaknya dipilih komposisi kimia dari elektroda dan koantinya yang
tidak akan memberikan reaksi dengan alemen yang ada pada logam
dasar.

32

Gambar 2.42 Slach Inclusion


4. Penetrasi yang tidak sempurna. Hal ini disebabkan: Celah terlalu kecil,
elektroda terlalu besar dan gerakan elektroda terlalu cepat
5. Gas pocket yaitu adanya udara yang terkurung dalam hasil las. Hal ini
terjadi karena arus listrik yang digunakan terlalu besar atau busur listrik
terlalu besar.

Gambar 2.43 Gas Pocket

2.19 Bentuk-bentuk Kampuh Las


Diantara sambungan-sambungan las, ada yang memerlukan persiapan atau
pengerjaan sisi yang akan dilas secara khusus. Pengerjaan sisi yang akan dilas
dapat dilakukakn dengan cara digerinda, dipahat, dikikir atau dengan las potong.

33

Gambar 2. 44 Bentuk-bentuk Kampuh Sambungan Las


2.20 Simbol/ Lambang Las
Syarat-syarat dalam pengelasan sangat penting bagi mutu sambungan las.
Cara penempatan dan cara penggambaran tanda pengelasan dalam gambar harus
mengikuti peraturan-peraturan tertentu. Berikut ini beberapa cara menurut JIS dan
AWS.
1)

Tanda pengelasan pada dasarnya harus menunjukan macam


pengelasan dari bagian yang disambung kecuali dalam hal pengelasan
pelapisan.

34

2)

Tanda pengelasan harus ditempatkan pada garis lengkap dengan


ukurannya.

3)

Garis tanda harus terdiri dari dua garis yaitu gari lurus datar tempat
tanda dan garis penunjuk dengan panah yang menunjukan bagian dari
sambungan dan membuat sudut 600 terhadap garis tempat tanda.

4)

Tanda gambar dan ukuran harus ditempatkan sedekat mungkin


dengan garis tanda dan diletakkan di bawah garis bila sisi yang dilas
adalah sisi yang ditunjukan oleh panah dan harus diletakkan di atas garis
bila yang dilas adalah sisi sebaliknya.

5)

Tanda-tanda pelengkap untuk pengelasan di lapangan harus


diletakkan pada pertemuan dari garis tanda dan garis penunjuk.

6)

Pengelasan-pengelasan khusus yang perlu harus ditempatkan pada


ujung garis tanda.

Mengenai simbol/lambang serta tanda-tanda gambar pada pengelasan dapat


dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.2 Simbol Atau Lambang Las

35

BAB III
ALAT DAN BAHAN
3.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam mesin las asetilin adalah sebagai berikut:
1. Generator
Generator adalah tempat untuk mencampur bahan bakar karbit dengan air
yang akan menghasilkan gas acetylene yang dapat dipergunakan untuk

36

mengelas dan tempat menampung gas pada pengerjaan las oxy acetylene dan
untuk menghembuskan gas tekanan tinggi

Gambar 3.1 Generator


2. Regulator dan selang las
Alat ini berfungsi untuk menurunkan tekanan tabung menjadi suatu tekanan
kerja dan untuk menghubungkan gas ke pembakar.

Gambar 3.2 Regulator Dan Selang Las


3. Meja kerja
Digunakan untuk meletakan benda kerja atau sebagai landasan benda kerja,
sehingga dalam waktu pengelasan tidak terganggu dan hasil dari las bagus

37

Gambar 3.3 Meja Kerja


4. Palu terak
Digunakan untuk memukul terak hasil dari lasan agar terak yang ada pada
hasil pengelasan terlepas dari peremukaan lasan dan hasilnya tampak
bersih dan bagus.

Gambar 3.4 Palu Terak


5. Sikat kawat
Digunakan untuk menyikat karat pada benda kerja sehingga pengelasan
menjadi lebih baik dan hasil yang baik pula dan untuk menyikat terak
pengelasan

Gambar 3.5 Sikat Kawat


6. Tang
Digunakan untuk menjepit benda kerja ketika benda kerja dilas dan untuk
mengangkat benda kerja setelah selesai pengelasan ketika masih panas

38

Gambar 3.6 Tang


7. Gerinda tangan
Digunakan untuk membentuk kampuh las atau meratakan sisi dari bagian
yang akan dilas atau sambungan dan merapikan hasil pengelasan benda
kerja setelah di las.

Gambar 3.7 Gerinda Tangan


8. Korek api
Digunakan untuk memicu api pada ujung mulut brander pada saat awal
permulaian pengelasaan.

Gambar 3.8 Korek Api

9. Gergaji besi
Digunakan untuk memotong benda kerja yang akan dilas

39

Gambar 3.9 Gergaji Tangan


10. Penggores
Digunakan untuk membuat gambar pada benda kerja yang akan dipotong dan
yang akan dilas

Gambar 3.10 Penggores


11. Busur
Busur mekanik digunakan untuk mengukur kemiringan pada pipa yang akan
dipotong

Gambar 3.11 Busur


12. Palu perata
Digunakan untuk meratakan hasil daripada pengelasan

40

Gambaar 3.12 Palu Perata


13. Rol meter
Digunakan untuk mengukur benda kerja yang penjang dan lebar yang tidak
dapat dilakuan oleh mistar

Gambar 3.13 Rol Meter


14. Siku
Digunakan untuk mengukur kesikuan benda kerja yang akan dilas dan yang
telah dilas

Gambar 3.14 Suku

15. Mistar baja


Digunakan untuk mengukur benda kerja yang akan dilas

41

Gambar 3.15 Mistar Baja

3.2 Bahan
1. Benda kerja rigi-rigi las
Pelat dengan ukuran 100 mm x 100 mm x 1mm. Digunakan untuk
membuat rigi las
100mm

1mm

100mm

2. Benda kerja sambungan tumpul


Pelat dengan ukran 100 mm x 50 mm x 1, 5 mm. Digunakan untuk
membuat las kampuh I sebamnyak 2 buah pelat.

100mm

1mm

42

50mm

3. Benda kerja sambungan T


Pelat dengan ukuran 100 mm x 50 mm x 1 mm sebagai landasan bawah
dan posisi tegak dipakai benda kerja kampuh I.
100mm

1mm

50mm

4. Benda kerja sambungan tumpang


Dua lembar pelat masing-masing berukuran 100 mm X 50 mm X 1,5 mm
dan direncanakan untuk membuat sambungan tumpang.

100mm

1mm

50mm

5. Benda kerja las sambungan pipa.


Pipa dengan panjang 120 mm, yang dipotongmiring dengan kemiringan 45
derjat, dengan alas pelat 100 X 100 mm.

43

130mm

60mm

6. Kawat las
Kawat las dengan diameter 2,3 mm
2,3

BAB IV
PROSEDUR KERJA
D.1Prosedur Umum
1. Peralatan kerja disiapkan

44

2. Bahan kerja disiapkan


3. Gambar kerja disiapkan
4. Gambar benda kerja dipelajari dan dipahami
5. Perencanaan kerja dibuat
6. Benda kerja diukur panjang dan lebar dengan menggunakan mistar baja.
7. Benda kerja diberi tanda mengunakan penggores untuk mudah dalam
melakukan pengelasan
8. Katup tekanan isi regulator acetylene dibuka dengan memutar baut
pengaturnya berlawanan arah jarum jam.
9. Katup tekanan isi regulator oksigen dibuka dengan memutar baut
pengaturnya berlawanan arah jarum jam.
10. Katup tekanan kerja pada regulator acetylene di buka berlahan-lahan
sehingga menunjukan tekanan 0.5 Psi.
11. Katup tekanan kerja pada regulator oksigen di buka berlahan-lahan
sehingga memunjukan tekanan 2 Psi.
12. Keselamatan kerja las dikenakkan.
13. Katup acetylene pada pembakar( brender )dibuka sedikit
14. Nyala api las diatur dengan membuka katup actylene secara berlahanlahan dan korek api dinyalakan kemudiaan didekatkan pada kepela atau
ujung pembakar hinganga menyala
15. Setelah api pada pembakar menyala maka kran oksigen dibuka secara
perlahan-lahan
16. Kemudian atur nyala api yang ingin digunakan untuk mengelas
17. Benda kerja diletakan di atas meja kerja las
18. Benda kerja terlebih dahulu dilas titik sebelum melakukan proses
pengelasan penuh, agar mudah untuk penyetelan posisi benda kerja yang
akan dilas penuh
19. Jika sudah sesuai dengan yang dinginkan maka pengelasan dilakukan
dengan penuh hingga selasai
20. Nyala api las pada pembakar dipadamkan dengan menutup kran acetylene
secara penuh kemuduan keran oksigen hingga tidak ada gas yang keluar

45

21. Hasil

dari

dipukul-pukul

dengan

palu

terak

gunanya

untuk

menghilangakan terak-terak yang menempel pada hasil pengelasan


22. Jika hasil pengelasann terdapat cacat las atau kotoran maka benda
dibersihkan terlebih dahuli kemudiaan dilas kembali
23. Kran tekanan isi dan tekanan kerja acytelen ditutup dengan memutar kran
yang ada pada regulator acytelen
24. Kran tekanan isi dan tekanan kerja gas oksigen ditutup dengan memutar
kran yang ada pada regulator oksigen
25. Peralatan kerja di bersihkan dan dirapikan
26. Ruangan kerja dibersihakan dan dirapikan
D.2Prosedur Kerja Membuat Rigi-rigi Las
4.2.1 Langkar persiapan
A. Peralatan kerja disiapkan
B. Bahan kerja disiapkan
C. Gambar kerja disiapkan
10mm

80mm

10mm
10mm

80mm

10mm

Gambar 4.1 Benda Kerja I


D. Gambar benda kerja dipelajari dan dipahami
E. Perencanaan kerja dibuat
4.2.2 Langkah kerja

46

1. Benda kerja diukur panjang dan lebar dengan menggunakan mistar baja.
2. Benda kerja diberi tanda dilukis sesuai dengan gambar kerja menggunakan
penggores ini untuk mudah dalam melakukan pengelasan
3. Katup tekanan isi regulator acetylene dibuka dengan memutar baut
pengaturnya berlawanan arah jarum jam.
4. Katup tekanan isi regulator oksigen dibuka dengan memutar baut
pengaturnya berlawanan arah jarum jam.
5. Katup tekanan kerja

pada regulator acetylene di buka berlahan-lahan

sehingga menunjukan tekanan 0.5 Psi.


6. Katup tekanan kerja pada regulator oksigen di buka berlahan-lahan
sehingga memunjukan tekanan 2 Psi.
7. Peralatan keselamatan kerja las dikenakkan.
8. Katup acetylene pada pembakar( brender )dibuka sedikit
9. Ujung pembakar disulut dengan korek api hingga menyala
10. Setelah api pada pembakar menyala maka kran oksigen dibuka secara
perlahan-lahan
11. Kemudian atur nyala api yang ingin digunakan untuk mengelas
12. Benda kerja diletakan di atas meja kerja las dengan posisi lukisan rigi-rigi
las berada diatas
13. Benda kerja dipanaskan terlebih dahulu hingga benda kerja menbara
setelah memerah barulah diberi bahan tambahan atau kewat las
14. Pembakar diayunkan secara melingkar dan arah pengelasan arah dari
kanan kekiri mengikuti kewat las
15. Jika langkah pengelasan sudah sesuai dengan yang dinginkan maka
pengelasan dilakukan dengan penuh hingga semua gambar lukisan rigirigilas selasai dilas
16. Nyala api las pada pembakar dipadamkan dengan menutup kran oxygen
secara penuh kemudian keran acetylene hingga tidak ada gas yang keluar
17. Benda kerja diangkat dari meja karja las mengunakan tang penjepit
18. Kemudian hasil pengelasan dipukul-pukul dengan palu terak gunanya
untuk menghilangakan terak-terak yang menempel pada hasil pengelasan

47

19. Jika hasil pengelasann terdapat cacat las atau kotoran maka benda
dibersihkan terlebih dahuli kemudiaan dilas kembali atau dirapikan
20. Kran tekanan isi dan tekanan kerja acetylene ditutup dengan memutar kran
yang ada pada regulator acytelen
21. Kran tekanan isi dan tekanan kerja gas oksigen ditutup dengan memutar
kran yang ada pada regulator oksigen
22. Selang las digulung dan dirapikan
23. Peralatan kerja di bersihkan dan dirapikan
24. Ruangan kerja dibersihakan dan dirapikan
D.3Prosedur Kerja II Membuat Sambungan Tumpul
4.3.1 Langkar persiapan
1. Peralatan kerja disiapkan
2. Bahan kerja disiapkan

Gambar 4.2 Benda Kerja II


3. Gambar kerja disiapkan
4. Gambar benda kerja dipelajari dan dipahami
5. Perencanaan kerja dibuat

4.3.2Langkah kerja
1. Benda kerja diukur panjang dan lebar dengan menggunakan mistar baja.
2. Benda kerja diberi tanda dilukis sesuai dengan gambar kerja menggunakan
penggores ini untuk mudah dalam melakukan pengelasan

48

3. Katup tekanan isi regulator acetylene dibuka dengan memutar baut


pengaturnya berlawanan arah jarum jam.
4. Katup tekanan isi regulator oksigen dibuka dengan memutar baut
pengaturnya berlawanan arah jarum jam.
5. Katup tekanan kerja pada regulator acetylene di buka berlahan-lahan
sehingga menunjukan tekanan 0.5 Psi.
6. Katup tekanan kerja pada regulator oksigen di buka berlahan-lahan
sehingga memunjukan tekanan 2 Psi.
7. Peralatan keselamatan kerja las dikenakkan.
8. Katup acetylene pada pembakar( brender )dibuka sedikit
9. Ujung pembakar disulut dengan korek api hingga menyala
10. Setelah api pada pembakar menyala maka kran oksigen dibuka secara
perlahan-lahan
11. Kemudian atur nyala api yang ingin digunakan untuk mengelas
12. Benda kerja diletakan di atas meja kerja las dengan posisi lukisan
13. Benda kerja dipanaskan terlebih dahulu hingga benda kerja membara
setelah memerah barulah diberi bahan tambahan atau kewat las
14. Benda kerja dilas titik terlebih dahilu intuk memperr mudah pengelasan

Gambar 4.3 Pengelasan Titik

15. Pembakar diayunkan secara melingkar dan arah pengelasan arah dari
kanan kekiri mengikuti kewat las
16. Jika langkah pengelasan sudah sesuai dengan yang dinginkan maka
pengelasan dilakukan dengan penuh hingga semua

49

Gambar 4.4 Pengelasan Penuh


17. Nyala api las pada pembakar dipadamkan dengan menutup kran acetylene
secara penuh kemuduan keran oksigen hingga tidak ada gas yang keluar
18. Benda kerja diangkat dari meja karja las mengunakan tang penjepit
19. Kemudian hasil pengelasan dipukul-pukul dengan palu terak gunanya
untuk menghilangakan terak-terak yang menempel pada hasil pengelasan
20. Jika hasil pengelasan terdapat cacat las atau kotoran maka benda
dibersihkan terlebih dahuli kemudiaan dilas kembali atau dirapikan
21. Kran tekanan isi dan tekanan kerja acetylene ditutup dengan memutar kran
yang ada pada regulator acetylene
22. Kran tekanan isi dan tekanan kerja gas oksigen ditutup dengan memutar
kran yang ada pada regulator oksigen
23. Selang las digulung dan dirapikan
24. Peralatan kerja di bersihkan dan dirapikan
25. Ruangan kerja dibersihakan dan dirapikan

D.4Prosedur Kerja IV Sambungan T


4.4.1Langkar persiapan
1. Peralatan kerja disiapkan
2. Bahan kerja disiapkan

50

3. Gambar kerja disiapkan

50mm

100mm
1mm
50mm
Gambar 4.9 Benda Kerja IV
4. Gambar benda kerja dipelajari dan dipahami
5. Perencanaan kerja dibuat
4.4.2Langkah kerja
1. Benda kerja diukur panjang dan lebar dengan menggunakan mistar baja.
2. Benda kerja diberi dilukis sesuai dengan gambar kerja menggunakan
penggores ini untuk mudah dalam melakukan pengelasan
3. Katup tekanan isi regulator acetylene dibuka dengan memutar baut
pengaturnya berlawanan arah jarum jam.
4. Katup tekanan isi regulator oksigen dibuka dengan memutar baut
pengaturnya berlawanan arah jarum jam.
5. Katup tekanan kerja pada regulator acetylene di buka berlahan-lahan
sehingga menunjukan tekanan 0.5 Psi.
6. Katup tekanan kerja pada regulator oksigen di buka berlahan-lahan
sehingga memunjukan tekanan 2 Psi.
7. Peralatan keselamatan kerja las dikenakkan.
8. Katup acetylene pada pembakar( brender )dibuka sedikit
9. Ujung pembakar disulut dengan korek api hingga menyala
10. Setelah api pada pembakar menyala maka kran oksigen dibuka secara
perlahan-lahan
11. Kemudian atur nyala api yang ingin digunakan untuk mengelas

51

12. Benda kerja dijepit dengan menggunakan klem penjepit


13. Benda kerja diletakan di atas meja kerja las dengan posisi lukisan
14. Benda kerja dipanaskan terlebih dahulu hingga benda kerja menbara
setelah memerah barulah diberi bahan tambahan atau kawat las

Gambar 4.10 Pengelasan Titik


15. Pembakar diayunkan secara melingkar dan arah pengelasan arah dari
kanan kekiri mengikuti kawat las
16. Benda kerja dilas secara penuh seperti gambar dibawah

Gambar 4.11 Pengelasan Penuh Tahap I


17. Benda kerja diangkat mengunakan tang penjepit dan kemudian dibalik
pada sisi sebelahnya kemudian dilas

52

Gambar 4.12 Pengelasan Penuh Tahap II


18. Jika langkah pengelasan sudah sesuai dengan yang dinginkan maka
pengelasan dilakukan dengan penuh hingga selesai
19. Nyala api las pada pembakar dipadamkan dengan menutup kran acetylene
secara penuh kemudian kran oksigen hingga tidak ada gas yang keluar
20. Benda kerja diangkat dari meja karja las mengunakan tang penjepit
21. Kemudian hasil pengelasan dipukul-pukul dengan palu terak gunanya
untuk menghilangakan terak-terak yang menempel pada hasil pengelasan
22. Jika hasil pengelasann terdapat cacat las atau kotoran maka benda
dibersihkan terlebih dahulu kemudiaan dilas kembali atau dirapikan
23. Kran tekanan isi dan tekanan kerja acetylene ditutup dengan memutar kran
yang ada pada regulator acetylene
24. Kran tekanan isi dan tekanan kerja gas oksigen ditutup dengan memutar
kran yang ada pada regulator oksigen
25. Selang las digulung dan dirapikan
26. Peralatan kerja di bersihkan dan dirapikan
27. Ruangan kerja dibersihakan dan dirapikan
D.5Prosedur Kerja III Sambungan Tumpang
4.5.1Langkah persiapan
1. Peralatan kerja disiapkan
2.Bahan kerja disiapkan
3.Gambar kerja disiapkan
100mm
1mm

53

20mm

30mm

Gambar 4.5 Benda Kerja III


4.Gambar benda kerja dipelajari dan dipahami
5.Perencanaan kerja dibuat
4.5.2 Langkah kerja
2. Benda kerja diukur panjang dan lebar dengan menggunakan mistar baja.
3. Benda kerja diberi tanda dilukis sesuai dengan gambar kerja menggunakan
penggores ini untuk mudah dalam melakukan pengelasan
4. Katup tekanan isi regulator acetylene dibuka dengan memutar baut
pengaturnya berlawanan arah jarum jam.
5. Katup tekanan isi regulator oksigen dibuka dengan memutar baut
pengaturnya berlawanan arah jarum jam.
6. Katup tekanan kerja pada regulator acetylene di buka berlahan-lahan
sehingga menunjukan tekanan 0.5 Psi.
7. Katup tekanan kerja pada regulator oksigen di buka berlahan-lahan
sehingga memunjukan tekanan 2 Psi.
8. Peralatan keselamatan kerja las dikenakkan.
9. Katup acetylene pada pembakar( brender )dibuka sedikit
10. Ujung pembakar disulut dengan korek api hingga menyala
11. Setelah api pada pembakar menyala maka kran oksigen dibuka secara
perlahan-lahan
12. Kemudian atur nyala api yang ingin digunakan untuk mengelas
13. Benda kerja diletakan di atas meja kerja las dengan posisi lukisan
14. Benda kerja dipanaskan terlebih dahulu hingga benda kerja menbara
setelah memerah barulah diberi bahan tambahan atau kewat las
15. Benda kerja dilas titik terlebih dahulu ini untuk mempermudah dalam
pengerjaan

54

Gambar 4.6 Penelasan Titik


16. Pembakar diayunkan secara melingkar dan arah pengelasan arah dari
kanan kekiri mengikuti kawat las dan dilas penuh

Gambar 4.7 Arah Pengelasan


17. Benda kerja diangkat dan dibalik kemudian dilas penuh seperti gambit
dibawah ini

Gambar 4.8 Pengelasan Penuh


18. Jika langkah pengelasan sudah sesuai dengan yang dinginkan maka
pengelasan dilakukan dengan penuh hingga semua gambar
19. Nyala api las pada pembakar dipadamkan dengan menutup kran acetylene
secara penuh kemuduan keran oksigen hingga tidak ada gas yang keluar
20. Benda kerja diangkat dari meja karja las mengunakan tang penjepit
21. Kemudian hasil pengelasan dipukul-pukul dengan palu terak gunanya
untuk menghilangakan terak-terak yang menempel pada hasil pengelasan
22. Jika hasil pengelasann terdapat cacat las atau kotoran maka benda
dibersihkan terlebih dahuli kemudiaan dilas kembali atau dirapikan
23. Kran tekanan isi dan tekanan kerja acetylene ditutup dengan memutar kran
yang ada pada regulator acetylene

55

24. Kran tekanan isi dan tekanan kerja gas oksigen ditutup dengan memutar
kran yang ada pada regulator oksigen
25. Selang las digulung dan dirapikan
26. Peralatan kerja di bersihkan dan dirapikan
27. Ruangan kerja dibersihakan dan dirapikan

D.6Prosedur Kerja Sambungan Pipa


I. Langkar persiapan
1. Peralatan kerja disiapkan
2. Bahan kerja disiapkan
3. Gambar kerja disiapkan
60mm

60mm

60
Gambar 4.13 Sambungan Pipa
4. Gambar benda kerja dipelajari dan dipahami
5. Perencanaan kerja dibuat
II. Langkah kerja

56

1. Benda kerja diukur panjang dan lebar dengan menggunakan mistar baja.
2. Benda kerja diberi tanda garis membentuk sudut 300 dengan penggores
3. Benda kerja dipotong menjadi dua bagian dan pemotonganya membentuk
sudut 300 dengan mengunakan gergaji tangan
4. Benda kerja digerinda agar sambungan pipa rata mengunakan gerinda
bangku
5. Katup tekanan isi regulator acetylene dibuka dengan memutar baut
pengaturnya berlawanan arah jarum jam.
6. Katup tekanan isi regulator oksigen dibuka dengan memutar baut
pengaturnya berlawanan arah jarum jam.
7. Katup tekanan kerja pada regulator acetylene di buka berlahan-lahan
sehingga menunjukan tekanan 0.5 Psi.
8. Katup tekanan kerja pada regulator oksigen di buka berlahan-lahan
sehingga memunjukan tekanan 2 Psi.
9. Peralatan keselamatan kerja las dikenakkan.
10. Katup acetylene pada pembakar( brender )dibuka sedikit
11. Benda kerja dijepit dengan klem penjepir
12. Ujung pembakar disulut dengan korek api hingga menyala
13. Setelah api pada pembakar menyala maka kran oksigen dibuka secara
perlahan-lahan
14. Kemudian atur nyala api yang ingin digunakan untuk mengelas
15. Benda kerja diletakan di atas meja kerja las dengan posisi lukisan rigi-rigi
las berada diatas
16. Benda kerja dipanaskan terlebih dahulu hingga benda kerja menbara
setelah memerah barulah diberi bahan tambahan atau kawat las
17. Benda kerja terlebih dahulu dilas titik ini untuk mempermudah dalam
melakukan pengelasan
18. Setalah pengalasan titik selesai barulah pipa dilas penuh dengan
menggunakan kawat las sebagai bahan isi
19. Pembakar diayunkan secara melingkar dan arah pengelasan arah dari
kanan kekiri mengikuti kawat las

57

20. Jika langkah pengelasan sudah sesuai dengan yang dinginkan maka
pengelasan dilakukan dengan penuh
21. Nyala api las pada pembakar dipadamkan dengan menutup kran acetylene
secara penuh kemuduan keran oksigen hingga tidak ada gas yang keluar
22. Benda kerja diangkat dari meja karja las mengunakan tang penjepit
23. Kemudian hasil pengelasan dipukul-pukul dengan palu terak gunanya
untuk menghilangakan terak-terak yang menempel pada hasil pengelasan
24. Jika hasil pengelasan terdapat cacat las atau kotoran maka benda
dibersihkan terlebih dahulu kemudiaan dilas kembali atau dirapikan
25. Kran tekanan isi dan tekanan kerja acytelen ditutup dengan memutar kran
yang ada pada regulator acetylene
26. Kran tekanan isi dan tekanan kerja gas oksigen ditutup dengan memutar
kran yang ada pada regulator oksigen
27. Selang las digulung dan dirapikan
28. Peralatan kerja di bersihkan dan dirapikan
29. Ruangan kerja dibersihakan dan dirapikan

BAB V
PEMBAHASAN

5.1 Perhitungan

58

Menentukan sudut untuk pemotongan pipa.

300

30mm

60mm

60mm
130mm

30mm
300
A

60mm
Diketahui :
AB = 60mm
AD = 30mm

= 300

Ditanya :
BC =........?
Dimana :

tan

AD
BC

59

Tan 300=

30
BC

BC

= 30 x tan 300

BC

= 30 mm

Menentukan jarak rigi-rigi (alur) las


10mm

80mm

10mm
10mm

80mm

10mm

Jika panjang benda kerja adalah 100mm dan lebar adalah 100mm
Jika jarak setiap rigi-rigi las berjarak 10mm
Ditanya jumlah rigi-rigi las yang akan dilas
Jawab:
Jika setiap tepi benda kerja diberi jarak 10mm
Maka luas benda kerja menjadi
L = (P-20) x (l-20)
= (100-20) x (100-20)
= 80 x 80
= 6400mm
5.2 Analisa
Pada waktu mengelas terjadi letusan-letusan las ini disebabkan karena
nyala api yang digunakan dalam mengelas terlalu kecil, waktu mengelas mulut
pembakar terlalu dekat dengan dengan kawat las, mulut pembakat tersumbat. Pada

60

saat mengelas benda kerja yang dilas tidak ikut meleleh hal ini dikarenakan
pemanasan kurang.
Ketika mengelas benda kerja yang kita las memuai ini di karenakan nyala
api yang terlalu besar. Hasil pengelasan ini dikarenakan gerak ayun pambakar
terlalu cepat dan logam dasar tidak ikut meleleh.
Benda kerja yang dilas lama mencairnya ini dikarenakan benda kerja
terdapat karat atau bahan yang melapisi benda kerja, maka sebelum mengelas
sebaiknya benda kerja yang akan dilas dibersihkan terebih dahulu.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan

61

Setelah penulis melakukan praktikum teknik pengelasan, penulis dapat


menyimpulkan bahwa:
1. Pengoperasian dari alat las Oxy-Acetylene sangat mudah untuk dipahami,
walaupun bagi pemakai pemula.
2. Apabila dalam mengelas Oxy-acetylene sudah bagus, maka hasil lasan
akan sangat kuat.
3. Ayunan las pada pengelasan las asetilin sangat berpengaruh terhadap hasil
lasan
4. Nyala api las yang kita gunakan sangat berpengaruh terhadap hasil lasan,
karena sedikit saja kita berbuat salah dalam menentukan api las, kampuh
dari lasan akan mengalami cacat.
6.2 Saran
Setelah penulis selesai melakukan praktikum teknik penngelasan las OxyAcetylene, pennulis dapat menyimpulkan bahwa:
1. Disarankan pada saat mengelas gunakanlah pakainan kerja, dan jangan
lupa memakai alat keselamatan kerja.
2. Kepala pembakar jangan terlalu dekat dengan kawat las agar tidak terjadi
letusan atau letupan.
3. Ketika menyalakan pembakar gas asetilin jangan terlalu besar
4. Hindarkan selang las yang bersentuhan dengan benda panas ini dapat
mengakibatkan ladakan
5. Disarankan tabung gas asetilin jauh dari benda panas

62