Anda di halaman 1dari 17

TBC

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Tuberkulosis

paru

adalah

penyakit

menular

yang

disebabkan

oleh

Mycobacterium tuberculosis. Penularan terjadi melalui udara yang mengandung


basil TB (droplet infeksi) yang dihirup oleh orang sehat. Sumber penularan
adalah penderita yang mengeluarkan kumantuberculosis dengan dahak yang
dibatukkan keluar. Berdasarkan cara penularan ini penyakit TB disebut sebagai
airborne disease.
Diperkirakan sepertiga penduduk di seluruh dunia telah terinfeksi oleh
M.TB. Tahun 1995 WHO memperkirakan diseluruh dunia terdapat 9 juta kasus
baru TB dengan jumlah kematian 3 juta orang/tahun. Sebagian besar kasus
terjadi di Negara-negara berkembang, dua pertiga kasus terjadi di Benua Asia. Di
Negara-negara berkembang TB paru menyumbangkan angka 25% dari seluruh
angka kematian.
Penyakit ini telah diketahui penyebabnya, cara penularannya, faktor-faktor
yang mempengaruhinya dan dapat disembuhkan asalkan diberi pengobatan
yang adekuat, namun penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat dunia. WHO tahun 1993 mendeklarasikan Tb sebagai masalah
kesehatan masyarakat dengan sebutan GlobalEmergency.
Secara umum meningkatnya masalah TB dunia disebabkan oleh keadaan
seperti kemiskinan diberbagai negara, malnutrisi, kondisi perumahan yang
kumuh, tidak cukupnya fasilitas kesehatan, terlambatnya atau kurangnya biaya
program

TB.

Situasi

ini

diperburuk

lagi

dengan

timbulnya

obat/resistensi obat ganda (DR-MDR-TB), penyebaran HIV/AIDS

resistensi
dan krisis

ekonomi yang menyebabkan pendanaan tidak dapat mengikuti kebutuhan


dengan meningkatnya kasus TB.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana kebijakan pemerintah nasional berkaitan dengan tuberculosis ?
2. Bagaimana epidemiologi penyakit TB Paru ?
1

3. Jelaskan morfologi dan taksonomi Mycobacterium tuberculosis ?


4. Bagaimanakah siklus hidup dan cara penularan penyakit TB Paru ?
5. Jelaskan gejala klinis dari penyakit TB Paru ?
6. Jelaskan cara mendiagnosis penyakit TB Paru ?
7. Bagaimanakah cara pencegahan penyakit TB Paru ?

1. 3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui kebijakan pemerintah nasional berkaitan dengan
tuberculosis
2. Untuk mengetahui epidemiologi penyakit TB Paru
3. Untuk mengetahui morfologi dan taksonomi Mycobacterium tuberculosis
4. Untuk mengetahui siklus hidup dan cara penularan penyakit TB Paru
5. Untuk mengetahui gejala klinis dari penyakit TB Paru
6. Untuk mengetahui cara mendiagnosis penyakit TB Paru
7. Untuk mengetahui cara pencegahan penyakit TB Paru
1.4. METODE PENULISAN
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini yaitu metode
tinjauan pustaka dan pencarian informasi atau sumber melalui media internet.

BAB II
PEMBAHASAN

Penyakit TB paru adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh


bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat
tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Bakteri ini
pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882, sehingga
untuk mengenang jasanya bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan,
penyakit TBC pada paru-paru kadang disebut sebagai Koch Pulmonum (KP).
Penyakit ini umumnya menular melalui manusia.
2.1

KEBIJAKAN

PEMERINTAH

NASIONAL

BERKAITAN

DENGAN

TUBERKULOSIS
Kebijakan pemerintah nasional berkaitan dengan tuberculosis diatur dalam
PERATURAN

MENTERI

KESEHATAN

REPUBLIK

INDONESIA

NOMOR

565/MENKES/PER/III/2011 tentang Strategi Nasional Pengendalian Tuberkulosis


tahun

2011-2014.

Selain

itu,

laporan

pencapaian

MDGs

Tahun

2010

menunjukkan bahwa target 6C yaitu mengendalikan penyebaran dan mulai


menurunkan jumlah kasus baru Tuberkulosis, merupakan satu satunya target
MDGs di bidang kesehatan yang telah tercapai, data menunjukkan bahwa upaya
pengendalian TB di Indonesia sebagai bagian pembangunan kesehatan telah
dilaksanakan

dengan

benar

dan

memberikan

kontribusi

pada

upaya

pembangunan nasional.

1. Rencana Strategis Global Pengendalian TB periode 2006-2015 dan periode


2011-2015
Di tingkat global, dibentuk Stop TB Partnership sebagai bentuk kemitraan
global, mendukung negara-negara untuk meningkatkan upaya pemberantasan
TB, mempercepat penurunan angka kematian dan kesakitan akibat TB serta
penyebaran TB di seluruh dunia. Stop TB Partnership telah mengembangkan
rencana global pengendalian TB Tahun 2011-2015 dan menetapkan target dalam
pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium untuk TB. Visi Stop TB Partnership
adalah dunia bebas TB, yang akan dicapai melalui empat misi sebagai berikut:
a. Menjamin akses terhadap diagnosis, pengobatan yang efektif dan
kesembuhan bagi setiap pasien TB.
b. Menghentikan penularan TB.
c. Mengurangi ketidakadilan dalam beban sosial dan ekonomi akibat TB.
d. Mengembangkan dan menerapkan berbagai strategi preventif, upaya
diagnosis dan pengobatan baru lainnya untuk menghentikan TB.
Target yang ditetapkan Stop TB Partnership sebagai tonggak pencapaian utama
adalah:
a. Pada tahun 2015, beban global penyakit TB (prevalensi dan mortalitas)
akan relatif berkurang sebesar 50% dibandingkan tahun 1990, dan
setidaknya 70% orang yang terinfeksi TB dapat dideteksi dengan
strategi DOTS dan 85% diantaranya dinyatakan sembuh.
b. Pada tahun 2050 TB bukan lagi merupakan masalah kesehatan
masyarakat global.
Selain itu, Stop TB Partnership juga mempunyai komitmen untuk mencapai
target dalam Tujuan Pembangunan Milenium, seperti yang disebutkan pada
tujuan 6, target 8 (to have halted and begun to reverse the incidence of TB)
pada tahun 2015. Tujuan tersebut akan dicapai dengan strategi ganda yang akan
dikembangkan dalam waktu 10 tahun ke depan, yaitu akselerasi pengembangan
dan penggunaan metode yang lebih baik untuk implementasi rekomendasi Stop
TB yang baru berdasarkan strategi DOTS dengan standar pelayanan mengacu
pada International Standard for TB Care (ISTC).
Tujuan yang ingin dicapai dalam Rencana Global 2006-2015 adalah untuk:
1. Meningkatkan dan memperluas pemanfaatan strategi untuk menghentikan
penularan TB dengan cara meningkatkan akses terhadap diagnosis yang akurat
4

dan pengobatan yang efektif dengan akselerasi pelaksanaan DOTS untuk


mencapai

target

global

dalam

pengendalian

TB;

dan

meningkatkan

ketersediaan, keterjangkauan dan kualitas obat anti TB;


2. Menyusun strategi untuk menghadapi berbagai tantangan dengan cara
mengadaptasi DOTS untuk mencegah, menangani TB dengan resistensi OAT
(MDR-TB) dan menurunkan dampak TB/HIV; dan
3. Mempercepat upaya eliminasi TB dengan cara meningkatkan penelitian dan
pengembangan untuk berbagai alat diagnostik, obat dan vaksin baru; serta
meningkatkan penerapan metode baru dan menjamin pemanfaatan, akses dan
keterjangkauannya.
2.2 EPIDEMIOLOGI TUBERKULOSIS
Di seluruh dunia sekitar 19-42% populasi saat ini telah terinfeksi
Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang penting di dunia sehingga pada tahun 1992 World Health
Organization (WHO) telah menyatakan tuberculosis sebagai Global Emergency.
Pada tahun 1995, diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian
akibat TB di seluruh dunia. Laporan WHO tahun 2004 menyatakan adanya 8.8
juta kasus baru tuberculosis pada tahun 2002 dengan 3.9 juta kasus diantaranya
adalah kasus BTA (Basil Tahan Asam) positif. Sepertiga penduduk dunia telah
terinfeksi kuman tuberkulosis dan menurut data regional WHO, jumlah terbesar
kasus TB terjadi di Asia Tenggara yaitu 33% dari seluruh kasus TB di dunia.
Namun bila dilihat dari jumlah penduduk terdapat 182 kasus per 100.000
penduduk. Di Afrika hampir 2 kali lebih besar dari Asia tenggara yaitu 350 per
100.000 penduduk.
Di negara maju seperti Eropa dan Amerika, TB paru relatif mulai langka, hal
ini disebabkan karena tingginya standar hidup masyarakat serta kemajuan dalam
cara pengobatan. Menurut data Center for Disease Control (CDC), angka kejadian
TB 10 kali lebih tinggi pada orang-orang Asia dan Pasifik, 8 kali lebih tinggi pada
orang-orang kulit hitam non-Hispanic, dan 5 kali lebih tinggi pada orang-orang
Hispanic, Amerika asli dan Alaska asli.
Indonesia adalah negeri dengan prevalensi Tb ke-3 tertinggi di dunia
setelah Cina dan India. Survei prevalensi TBC yang dilakukan di enam propinsi
pada tahun 1983-1993 menunjukkan bahwa prevalensi TBC di Indonesia berkisar
5

antara 0,65%. Sedangkan menurut laporan Penanggulangan TBC Global yang


dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2004, angka insidensi TBC pada tahun 2002
mencapai 555.000 kasus (256 kasus/100.000 penduduk), dan 46% diantaranya
diperkirakan

merupakan

kasus

baru.

Perkiraan

prevalensi,

insidensi

dan

kematian akibat TBC dilakukan berdasarkan analisis dari semua data yang
tersedia, seperti pelaporan kasus, prevalensi infeksi dan penyakit, lama waktu
sakit, proporsi kasus BTA positif, jumlah pasien yang mendapat pengobatan dan
yang tidak mendapat pengobatan, prevalensi dan insidens HIV, angka kematian
dan demografi.
Dari data tahun 1997-2004 (Attachment: Tabel Identifikasi Kasus 1997-2004
dan Tingkat Pelaporan 1995 2000) terlihat adanya peningkatan pelaporan
kasus sejak tahun 1996. Yang paling dramatis terjadi pada tahun 2001, yaitu
tingkat pelaporan kasus TBC meningkat dari 43 menjadi 81 per 100.000
penduduk, dan pelaporan kasus BTA positif meningkat dari 25 menjadi 42 per
100.000 penduduk. Sedangkan berdasarkan umur, terlihat angka insidensi TBC
secara perlahan bergerak ke arah kelompok umur tua (dengan puncak pada 5564 tahun), meskipun saat ini sebagian besar kasus masih terjadi pada kelompok
umur 15-64 tahun. (Attachment : Age Specific Notification Rate 2004)
2.3 MORFOLOGI DAN TAKSONOMI Mycobacterium tuberculosis
2.3.1 Morfologi Mycobacterium tuberculosis
Secara mikrobiologi, MT merupakan basil tahan asam yang dapat dilihat
dengan pewarnaan ZN (karbol fuksin). Kuman mycobacteria ini berbentuk
batang dan berukuran panjang 2-4 dan lebar 0,2-0,4. Kuman MT tumbuh
dengan energi yang diperoleh dari oksidasi senyawa karbon yang sederhana
berupa CO2 yang dapat merangsang pertumbuhan. MT merupakan mikroba
kecil seperti batang yang tahan terhadap desinfektan lemah dan bertahan
hidup pada kondisi yang kering hingga berminggu-minggu, tetapi hanya
dapat tumbuh di dalam organisme hospes.
Kuman akan mati pada suhu 60 0C selama 15-20 menit, Pada suhu 30 0 atau
400-450C sukar tumbuh atau bahkan tidak dapat tumbuh. Pengurangan
oksigen menurunkan metabolisme kuman.
MT memiliki dinding sel waxy tebal yang bertanggung jawab terhadap
pembentukan granuloma kaseosa tipikal pada tuberkulosis. Infeksi TB
dimulai ketika mikobakterium sampai pada alveoli pulmonalis, dimana
6

bakteri ini menginvasi dan bereplikasi di dalam makrofag-makrofag alveolar.


Bakteri ditangkap oleh sel-sel dendritik kemudian akan membawa mereka
menuju nodus-nodus limfatikus lokal. Bakteri dapat menyebar lebih lanjut
melalui aliran darah ke organ-organ dan jaringan-jaringan yang lebih jauh
dimana lesi-lesi TB sekunder dapat berkembang pada apeks paru, nodusnodus limfatikus perifer, ginjal, otak dan tulang.
Daya tahan kuman MT lebih besar dibandingkan dengan kuman lainnya
karena sifat hidrofobik pada permukaan selnya. Kuman ini tahan terhadap
asam, alkali dan zat warna malakit. Pada sputum yang melekat pada debu
dapat tahan hidup selama 8-10 hari.
MT hominis merupakan penyebab terbesar kasus tuberkulosis dengan
reservoir infeksi biasanya ditemukan pada manusia dengan penyakit paru
aktif. Penularan biasanya secara langsung, melalui inhalasi organisme di
udara atau melalui sekret penderita. Basil ini adalah aerob obligat yang
pertumbuhannya terhambat oleh pH <6,5 dan oleh asam lemak rantai
panjang. Oleh karena itu basil ini sulit ditemukan pada bagian tengah
nekrosis perkijuan besar karena terdapat anaerobiosis, pH rendah dan kadar
asam yang meningkat.
2.3.2 Taksonomi Mycobacterium tuberculosis

Kerajaan :Bacteria
Filum

:Actinobacteria

Ordo

:Actinomycetales

Subordo

:Corynebacterineae

Famili

:Mycobacteriaceae

Genus

:Mycobacterium

Spesies

: M. Tuberculosis

2.4 SIKLUS HIDUP DAN CARA PENULARAN

Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri
Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan
pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa.
Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan
berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan
tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar
getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh
organtubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar
getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering
terkena yaitu paru-paru.

Saat Mycobacterium tuberculosis berhasil menginfeksi paru-paru, maka


dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat).
Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha
dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru.
Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan disekitarnya menjadi
8

jaringan

parut

dan

bakteri

TBC

akan

menjadi

dormant

(istirahat).

Bentuk- bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada
pemeriksaan foto rontgen.
Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap
dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem
kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan
sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk
sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang inilah yang nantinya menjadi
sumber produksi sputum (dahak). Seseorang yang telah memproduksi sputum
dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif
terinfeksi TBC.
a. Tuberkulosis Primer
Penularan tuberculosis paru terjadi karena kuman dibatukkan atau
dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara sekitar kita. Partikel
infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung
pasti

ada

tidaknya

sinarnya

ultraviolet,

ventilasi

yang

buruk dan

kelembaban. Dalam suasana lembab dan gelap kuman dapat bertahan


berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila partikel infeksi ini terisap oleh
orang sehat, ia akan menempel pada saluran napas atau jaringan paru.
Partikel dapat masuk ke alveolar bila ukuran partikel <5 mikrometer. Kuman
akan dihadapi pertama kali oleh neutrofil, kemudian baru oleh makrofag.
Kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag keluar
dari percabangan trakeobronkial bersama gerakan silia dengan sekretnya.
Bila kuman menetap di jaringan paru, berkembang biak dalam
sitoplasma makrofag. Di

siniia dapat terbawa masuk ke organ tubuh

lainnya. Kuman yang bersarang di jaringan paru akan berbentuk sarang


tuberculosis pneumonia kecil dan disebut sarang pimer atau afek primer
atau sarang (focus) Ghon. Sarang primer ini dapat terjadi di setiap bagian
jaringan paru. Bila menjalar sampai ke pleura, maka terjadilah efusi pleura.
Kuman dapat juga masuk melalui salurangastrointestinal, jaringan limfe,
orofaring, dan kulit, terjadi limfadenopati regional kemudian bakteri masuk
ke dalam vena dan menjalar ke seluruh organ seperti paru, otak, ginjal,
tulang. Bila masuk ke arteri pulmonalis maka terjadi penjalaran ke seluruh
bagian paru menjadi TB milier. Dari sarang primer akan timbul peradangan
saluran getah bening menuju hilus (limfangitislocal), dan juga diikuti
pembesaran

kelenjar

getah

bening

hilus(limfadenitis

regional).

Sarang primer limfangitis local + limfadenitis regional = kompleks primer


9

(Ranke). Semua proses ini memakan waktu 3-8 minggu. Kompleks primer ini
selanjutnya dapat menjadi:
Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat. Ini banyak terjadi.
Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotic,
kalsifikasi hilus,keadaan ini terdapat pada lesi pneumonia yang luasnya >
5 mm dan 10% diantaranyadapat terjadi reaktivasi lagi karena kuman

yang dormant .
Berkomplikasi dan menyebar secara :
a) Perkontinuitatum, yakni menyebar ke sekitarnya
b) Secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru di
sebelahnya.Kuman dapat juga tertelan bersama sputum dan ludah

sehingga menyebar ke usus


c) Secara limfogen ke organ-organ tubuh lainnya
d) Secara hematogen ke organ tubuh lainnya.
b. Tuberkulosis Pasca Primer (Tuberkulosis sekunder)
Kuman yang dormant pada tuberculosis primer akan muncul bertahuntahunkemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberculosis dewasa
(tuberculosis post primer = TB pasca primer = TB sekunder). Mayoritas
reinfeksi mencapai 90%. Tuberculosissekunder terjadi karena imunitas
menurun seperti malnutrisi, alcohol, penyakit maligna,diabetes, AIDS, gagal
ginjal. Tuberculosis pasca primer ini dimulai dengan sarang diniyang
berlokasi di region atas paru (bagian apical-posterior lobus superior atau
inferior).Invasinya adalah ke daerah parenkim paru-paru dan tidak ke nodus
hiler paru.Sarang dini ini mula-mula berbentuk sarang pneumonia kecil.
Dalam 3-10minggu sarang ini menjadi tuberkel yakni suatu granuloma yang
terdiri atas sel-selHistiosit dan sel Datia-Langhans (sel besar dengan banyak
inti) yang dikelilingi oleh sel-sel limfosit dan berbagai jaringan ikat.TB pasca
primer juga dapat berasal dari infeksi eksogen dari usia muda menjadi
TBusia

tua

(elderly

tuberculosis).

Tergantung

dari

jumlah

kuman,

virulensinya dan imunitas pasien.


2.5 GEJALA KLINIS
2.5.1 Gejala Sistemik/Umum
a. Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan
malam haridisertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam
seperti influenza dan bersifathilang timbul.
b. Penurunan nafsu makan dan berat badan.
c. Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
2.5.2 Gejala Khusus
10

a. Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan
sebagian bronkus(saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan
kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara
"mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak.
b. Kalau ada cairan dirongga Pleura (pembungkus paru-paru), dapat
disertai dengan keluhansakit dada.
c. Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang
yang pada suatu saatdapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit
di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
d. Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan
disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah
demam tinggi, adanya penurunankesadaran dan kejang-kejang
2.6 DIAGNOSIS TB PARU
Menurut American Thoracic Society dan WHO 1964 diagnosis pasti
tuberkulosis

paru

adalah

dengan

menemukan

kuman Mycobacterium

tuberculosae dalam sputum atau jaringan paru secara biakan. Tidak semua
pasien memberikan sediaan atau biakan sputum yang positif karena kelainan
paru yang belum berhubungan dengan bronkus atau pasien tidak biasa
membatukkan sputumnya dengan baik. Kelainan baru jelas setelah penyakitnya
berlanjut sekali.
Di Indonesia agak sulit menerapkan diagnosis di atas karena fasilitas
laboratorium yang sangat terbatas untuk pemeriksaan biakan. Sebenarnya
dengan menemukan kuman BTA dalam sediaan sputum secara mikroskopik
biasa, sudah cukup untuk memastikan diagnosis tuberkulosis paru, karena
kekerapan Mycobacterium atipic di Indonesia sangat rendah. Sungguhpun
begitu, hanya 30-70% saja dari seluruh kasus tuberkulosis paru yang dapat
didiagnosis

secara bakteriologis.

Diagnosis

masih

banyak

ditegakkan

berdasarkan kelainan klinis dan radiologis saja. Kesalahan diagnosis dengan cara
ini cukup banyak sehingga memberikan efek terhadap pengobatan yang
sebenarnya tidak diperlukan. Oleh sebab itu dalam diagnosis sebaiknya
dicantumkan status klinis, status bakteriologis, status radiologis, dan status
kemoterapi. WHO tahun 1991 memberikan kriteria pasien tuberkulosis paru.

Pasien dengan sputum BTA positif :


a. Pasien yang pada pemeriksaan sputumnya secara mikrobiologis
ditemukan BTA, sekurang-kurangnya pada 2 x pemeriksaan, atau

11

b. Satu sediaan sputumnya positif disertai kelainan radiologis yang


sesuai dengan gambaran TB aktif, atau 3. Satu sediaan sputumnya

positif disertai biakan yang positif.


Pasien dengan sputum BTA negative:
a. Pasien yang pada pemeriksaan sputumnya secaramikroskopis tidak
ditemukan

BTA

sedikitnya

pada

pemeriksaan

tetapi

gambaranradiologis sesuai dengan TB aktif atau,


b. Pasien yang pada pemeriksaan sputumnya secara mikroskopis tidak
ditemukan BTA sama sekali, tetapi pada biakannya positif.
Disamping TB paru terdapat juga TB ekstra paru, yakni pasien dengan
kelainan histologis atau dengan gambaran klinis sesuai dengan Tb aktif atau
pasien dengan satu sediaan dari organ ekstra parunya menunjukkan hasil
bakteri Mycobacterium tuberculosae.
Di luar pembagian tersebut di atas pasien digolongkan lagi berdasarkan
riwayat penyakitnya,yakni :
a. Kasus baru, yakni pasien yang tidak mendapat obat anti TB lebih dari 1
bulan.
b. Kasus kambuh, yakni pasien yang pernah dinyatakan sembuh dari TB,
tetapi kemudian timbul lagi TB aktifnya.
c. Kasus gagal (smear positive failure), yakni:
Pasien yang sputum BTA-nya positif setelah mendapat obat anti TB

lebih dari 5 bulan, atau


Pasien yang menghentikan pengobatanya setelah mendapat obat

anti TB 1-5 bulan dan sputum BTA-nya masih positif.


d. Kasus kronik, yakni pasien yang sputum BTA positif setelah mendapat
pengobatan ulang(retreatment) lengkap yang disupervisi dengan baik.
Hal lain yang agak jarang ditemukan adalah Cryptic tuberculosis. Di sini
pemeriksaan radiologis dan laboratorium/sputum menujukkan hasil negatif
dan kelainan klinisnya sangat minimal (biasanya demam saja dan dianggap
sebagai fever of unknown origin). Diagnosis diberikan berdasarkan percobaan
terapi dengan obat anti tuberculosis INH + Etambutol selama 2 minggu. Bila
keluhan

membaik

terapi

dengan

obat

anti

tuberculosis

diteruskan

sebagaimana mestinya. Bila tidak ada perbaikan maka obat-obat diatas


dihentikan.
2.7 Pencegahan Penyakit TB Paru

12

Tindakan pencegahan dapat dikerjakan oleh penderita, masyarakat dan


petugas kesehatan.
A. Pengawasan Penderita, Kontak dan Lingkungan.
a. Oleh penderita, dapat dilakukan dengan menutup mulut sewaktu batuk
dan membuang dahak tidak disembarangan tempat.
b. Oleh masyarakat dapat dilakukan dengan meningkatkan dengan
terhadap bayi harus harus diberikan vaksinasi BCG.
c. Oleh petugas kesehatan dengan memberikan penyuluhan tentang
penyakit TB yang antara lain meliputi gejala bahaya dan akibat yang
ditimbulkannya.
d. Isolasi, pemeriksaan kepada orang-orang yang terinfeksi, pengobatan
khusus TBC. Pengobatan mondok dirumah sakit hanya bagi penderita
yang

kategori

berat

yang

memerlukan

pengembangan

program

pengobatannya yang karena alasan-alasan sosial ekonomi dan medis


untuk tidak dikehendaki pengobatan jalan.
e. Des-Infeksi, Cuci tangan dan tata rumah tangga kebersihan yang ketat,
perlu perhatian khusus terhadap muntahan dan ludah (piring, hundry,
f.

tempat tidur, pakaian), ventilasi rumah dan sinar matahari yang cukup.
Imunisasi orang-orang kontak. Tindakan pencegahan bagi orang-orang
sangat dekat (keluarga, perawat, dokter, petugas kesehatan lain) dan
lainnya yang terindikasi dengan vaksin BCG dan tindak lanjut bagi yang

positif tertular.
g. Penyelidikan orang-orang kontak. Tuberculin-test bagi seluruh anggota
keluarga dengan foto rontgen yang bereaksi positif, apabila cara-cara
ini negatif, perlu diulang pemeriksaan tiap bulan selama 3 bulan, perlu
penyelidikan intensif.
h. Pengobatan khusus. Penderita dengan TBC aktif perlu pengobatan yang
tepat. Obat-obat kombinasi yang telah ditetapkan oleh dokter diminum
dengan tekun dan teratur, waktu yang lama ( 6 atau 12 bulan).
Diwaspadai adanya kebal terhadap obat-obat, dengan pemeriksaan
penyelidikan oleh dokter.
B. Tindakan Pencegahan.
a. Status sosial ekonomi rendah yang merupakan faktor menjadi sakit,
seperti kepadatan hunian, dengan meningkatkan pendidikan kesehatan.
b. Tersedia sarana-sarana kedokteran, pemeriksaan penderita, kontak atau
suspect gambas, sering dilaporkan, pemeriksaan dan pengobatan dini
bagi penderita, kontak, suspect, perawatan.

13

c. Pengobatan preventif, diartikan sebagai tindakan keperawatan terhadap


penyakit

inaktif

pencegahan.
d. BCG, vaksinasi,

dengan

pemberian

diberikan

pengobatan

pertama-tama

kepada

INH

sebagai

bayi

dengan

perlindungan bagi ibunya dan keluarganya. Diulang 5 tahun kemudian


pada 12 tahun ditingkat tersebut berupa tempat pencegahan.
e. Memberantas penyakti TBC pada pemerah air susu dan tukang potong
f.

sapi, dan pasteurisasi air susu sapi.


Tindakan mencegah bahaya penyakit paru kronis karean menghirup
udara yang tercemar debu para pekerja tambang, pekerja semen dan

sebagainya.
g. Pemeriksaan bakteriologis dahak pada orang dengan gejala tbc paru.
h. Pemeriksaan screening dengan tubercullin test pada kelompok beresiko
tinggi, seperti para emigrant, orang-orang kontak dengan penderita,
i.

petugas dirumah sakit, petugas/guru disekolah, petugas foto rontgen.


Pemeriksaan foto rontgen pada orang-orang yang positif dari hasil
pemeriksaan tuberculin test.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN

14

1.

Kebijakan pemerintah nasional berkaitan dengan tuberculosis diatur dalam


PERATURAN

MENTERI

565/MENKES/PER/III/2011

KESEHATAN
tentang

REPUBLIK
Strategi

INDONESIA

Nasional

NOMOR

Pengendalian

Tuberkulosis tahun 2011-2014.


2.

Di seluruh dunia sekitar 19-42% populasi saat ini telah terinfeksi


Mycobacterium

tuberculosis.

Tuberkulosis

(TB)

merupakan

masalah

kesehatan masyarakat yang penting di dunia sehingga pada tahun 1992


World Health Organization (WHO) telah menyatakan tuberculosis sebagai
Global Emergency. Secara mikrobiologi, MT merupakan basil tahan asam
yang

dapat

dilihat

dengan

pewarnaan

ZN

(karbol

fuksin).

Kuman

mycobacteria ini berbentuk batang dan berukuran panjang 2-4 dan lebar
0,2-0,4.
3.

4.

Taksonomi Mycobacterium tuberculosis


Kerajaan

:Bacteria

Filum

:Actinobacteria

Ordo

:Actinomycetales

Subordo

:Corynebacterineae

Famili

:Mycobacteriaceae

Genus

:Mycobacterium

Spesies

: M. Tuberculosis

Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri
Mikobakterium

tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC

batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita
TBC dewasa.
5.

GEJALA SISTEMIK/UMUM
1. Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan
malam haridisertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam
seperti influenza dan bersifathilang timbul.
2. Penurunan nafsu makan dan berat badan.
3. Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
4. Perasaan tidak enak (malaise), lemah.

6. WHO tahun 1991 memberikan kriteria pasien tuberkulosis paru.

Pasien dengan sputum BTA positif :

15

a. Pasien

yang

pada

pemeriksaan

sputumnya

secara

mikrobiologis

ditemukan BTA, sekurang-kurangnya pada 2 x pemeriksaan, atau


b. Satu sediaan sputumnya positif disertai kelainan radiologis yang sesuai
dengan gambaran TB aktif, atau 3. Satu sediaan sputumnya positif disertai

biakan yang positif.


Pasien dengan sputum BTA negative:
a. Pasien yang pada pemeriksaan sputumnya secaramikroskopis tidak
ditemukan

BTA

sedikitnya

pada

pemeriksaan

tetapi

gambaranradiologis sesuai dengan TB aktif atau,


b. Pasien yang pada pemeriksaan sputumnya secara mikroskopis tidak
ditemukan BTA sama sekali, tetapi pada biakannya positif.

7. Tindakan pencegahan dapat dikerjakan oleh penderita, masyarakat dan


petugas kesehatan.
A. Pengawasan Penderita, Kontak dan Lingkungan.
1. Oleh penderita, dapat dilakukan dengan menutup mulut sewaktu batuk dan
membuang dahak tidak disembarangan tempat.
2. Oleh masyarakat dapat dilakukan dengan meningkatkan dengan terhadap
bayi harus harus diberikan vaksinasi BCG.
3. Oleh petugas kesehatan dengan memberikan penyuluhan tentang penyakit
TB yang antara lain meliputi gejala bahaya dan akibat yang ditimbulkannya.
4. Isolasi, pemeriksaan kepada orang-orang yang terinfeksi, pengobatan
khusus TBC. Pengobatan mondok dirumah sakit hanya bagi penderita yang
kategori berat yang memerlukan pengembangan program pengobatannya
yang

karena

alasan-alasan

sosial

ekonomi

dan

medis

untuk

tidak

dikehendaki pengobatan jalan.


5. Des-Infeksi, Cuci tangan dan tata rumah tangga kebersihan yang ketat,
perlu perhatian khusus terhadap muntahan dan ludah (piring, hundry,
tempat tidur, pakaian), ventilasi rumah dan sinar matahari yang cukup.
6. Imunisasi orang-orang kontak. Tindakan pencegahan bagi orang-orang
sangat dekat (keluarga, perawat, dokter, petugas kesehatan lain) dan
lainnya yang terindikasi dengan vaksin BCG dan tindak lanjut bagi yang
positif tertular.
7. Penyelidikan orang-orang kontak. Tuberculin-test bagi seluruh anggota
keluarga dengan foto rontgen yang bereaksi positif, apabila cara-cara ini
negatif, perlu diulang pemeriksaan tiap bulan selama 3 bulan, perlu
penyelidikan intensif.
8. Pengobatan khusus. Penderita dengan TBC aktif perlu pengobatan yang
tepat. Obat-obat kombinasi yang telah ditetapkan oleh dokter diminum
16

dengan tekun dan teratur, waktu yang lama ( 6 atau 12 bulan). Diwaspadai
adanya kebal terhadap obat-obat, dengan pemeriksaan penyelidikan oleh
dokter.

17