Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PAPLC B

PENGUKURAN DAN PERHITUNGAN


DEBIT LIMBAH CAIR

Dosen Pembimbing :
Fery Kriswandana, SST, MT
Disusun oleh :
Suraida Agil Litasari (P27833113093)
KELAS B / KELOMPOK C / SEMESTER IV

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia


Politeknik Kesehatan Jurusan Kesehatan Lingkungan
Prodi Kesehatan Lingkungan Surabaya
Tahun 2015
A.

WAKTU PELAKSANAAN

Hari / tanggal : Kamis / 28 Mei 2015


Waktu

: 08 : 00 - selesai

Lokasi

: Bengkel Kesehatan Lingkungan Poltekkes Surabaya

B.

TUJUAN

1.

Untuk menghitung debit aliran air

2.

Mengetahui macam macam weir, aplikasinya dan cara perhitungannya

C.

DASAR TEORI
Debit air adalah volume air yang mengalir melalui suatu penampang

melintang pada suatu titik tertentu per satuan waktu, pada umumnya dinyatakan
dalam m/s. Pengukuran debit dapat dilakukan secara langsung dan secara tidak
langsung. Pengukuran debit secara langsung adalah pengukuran yang dilakukan
dengan menggunakan peralatan berupa alat pengukur arus (current meter),
pelampung, zat warna, dll. Debit hasil pengukuran dapat dihitung segera setelah
pengukuran selesai dilakukan.
Pengukuran debit secara tidak langsung adalah pengukuran debit yang
dilakukan dengan menggunakan rumus hidrolika misal rumus Manning atau
Chezy. Pengukuran dilakukan dengan cara mengukur parameter hidraulis sungai
yaitu luas penampang melintang sungai, keliling basah, dan kemiringan garis
energi. Garis energi diperoleh dari bekas banjir yang teramati di tebing sungai.
Untuk pos duga air yang sudah dilengkapi dengan pelskal khusus garis energi
dapat dibaca dari pelskal khusus tersebut.
Rumus yang digunakan untuk mengukur debit adalah :
Q =Ax v
Keterangan : Q = Debit Aliran (m3/s)
A = Luas Penampang (m2)
v = Kecepatan Aliran (m/s)
Weir adalah sebuah obstruksi yang dilalui cairan di dalam sebuah aliran
terbuka. Aplikasinya banyak dipakai pada sistem pengolahan limbah, irigasi dan
saluran pembuangan limbah. Pengukuran dapat dilakukan dengan mengukur

kecepatan aliran dengan satuan yang umum yaitu gallon per menit (gpm) menjadi
gallon per hari. Laju alir sebagai fungsi dari ketinggian head di atas cekung weir
dan lebar bukaan (notch).
Weir hanya dapat digunakan apabila liquida mengalir dalam channel
terbuka, tidak dapat digunakan untuk liquida dalam pipa. Perhitungan pada aliran
terbuka lebih rumit dari pada aliran dalam pipa dikarenakan:
a) Bentuk penampang yang tidak teratur (terutama sungai)
b) Sulit menentukan kekasaran (sungai berbatu sedangkan pipa tembaga
licin)
c) Kesulitan pengumpula data di lapangan
Prinsip Kerja dari weir adalah pada umumnya pengukuran aliran pada
saluran terbuka menggunakan weir (bendungan) dilengakpi dengan Vernier
Height Gauge (pengukur perubahan ketinggian ) yang mempunyai suatu scale line
(garis pembacaan). Mula mula posisi ujung Vernier Height Gauge tepat diatas
permukaan aliran fluida dan scale line nya menunjukkan angka nol. Ketika
aliran suatu fluida melalui weir mengalami peningkatan laju, maka ketinggian dari
fluida tersebut meningkat. Ketinggian dari fluida akan terbaca pada Vernier
Height Gauge sehingga laju alir dari suatu fluida sebanding dengna ketinggian
dari Vernier Height Gauge dengan beberapa faktor pembanding seperti
kemiringan bukaan weir dan panjang puncak weir. Weir mempunyai bentuk
bermacam-macam diantaranya segitiga (V-notch), segiempat (rectangular),
trapesium (cipoletti).
a)

Weir Segitiga ( V-notch)


Weir segitiga mempunyai jangkauan kapasitas yang lebih besar dan
praktis dibandingkan dengan bentuk weir lainnya. Alat ini terdiri atas takik
segitiga yang dipotong di dalam kanal, puncaknya terletak di bagian dasar.
Weir V-notch dapat dihitung menggunakan rumus :
Q = 2,54 x H5/2
Keterangan : Q = Debit air
H = Tinggi Weir (feet)

b)

Segiempat (rectangular)

Weir segiempat merupakan salah satu bentuk weir yang sudah lama
digunakan karena bentuknya sederhana, konstruksinya mudah dan akurat.
Rectanguler weir dapat dihitung menggunakan rumus :
Q = 3,33 x H3/2 ( L-0,2H )
Keterangan : Q = Debit air (cfs=cubis feet per second),
H = Tinggi Weir (feet),
L = Lebar Weir (feet)
c)

Trapesium (cipoletti)
Weir trapesium merupakan benutuk weir yang cukup banyak
digunakan. Aliran fluida proposional dengan lebar dibawah cekungan weir
trapesium. Cipoletti weir dapat dihitung menggunakan rumus :
Q = 1,9.L.H3/2
Keterangan : Q = debit air yag melalui weir (cfs)
L= panjang tempat pelimpahan air pada weir (feet)
H= tinggi air yang melimpah pada weir (feet)

D.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
E.

ALAT
Selang
Pipa
Gayung
Ember
Gelas ukur
Stopwath
Macam-macam weir : v notch, rectanguler, dan cipoletti
Penggaris

CARA KERJA
1. Pengukuran debit secara langsung
a)
Nyalakan stopwatch
b)
Letakkan dan pegang ember pada aliran air selama 30 menit
c)
Setelah 30 menit angkat ember dari aliran air
d)
Kemudian masukkan air yang ada di ember pada gelas ukur dengan
menggunakan gayung
e)
Kemudian catat volume air pada gelas ukur
f)
Lakukan pengulangan sebanyak 3 kali
g)
Kemudian rata rata hasilnya
h)
Hitung volume ember
i)

Kemudian masukkan kedalam rumus :

Q=
Keterangan
Q
V
t
2.
a)
b)
c)
d)

:
= debit air (lt/s )
= volume air ( lt )
= waktu (s )

Pengukuran debit dengan menggunakan weir


Siapkan weir (v notch, rectanguler, dan cipoletti )
Isi air pada weir sampai melewati batas weir
Kemudian ukur tinggi air yang keluar weir
Kemudian masukkan kedalam rumus

F.
HASIL PRAKTIKUM
Dari hasil praktikum yang dilakukan didiapatkan hasil pengukuran debit sebagai
berikut :
1.
Pengukuran debit secara langsung
NO

PENGUKURAN

VOLUME AIR

15 Detik Pertama

3230 ml

0,215 lt / s

15 Detik Kedua

3300 ml

0,22 lt / s

15 Detik ketiga

3300 ml

0,22 lt / s

Rata rata

2.

0,218 lt / s

Pengukuran debit menggunakan weir


NO

JENIS WEIR

KETINGGIAN AIR ( h )

Thomson

3 cm

Rectangular

0,2 cm

Cipoletty

0,5 cm

Perhitungan ( 1 kaki = 30 cm )
1.

Q=

Weir V notch
Q

= 2,54 x H5/2
= 2,54 x 0,15/2
= 1,27 x 10-5 cfs

2.

Weir rectangular
Q

= 3,33 x H3/2( L-0,2H )


= 3,33 x 0,006673/2 ( 0,5 (0,2x 0,00667 ))
= 2,47 x 10-7cfs

3.

Weir cipoletty
Q
= 1,9.L.H3/2
= 1,9 x 0,18 x 0,0173/2
= 8,4 x 10-7cfs

G.

KESIMPULAN
Dari hasil praktikum diatas dapat disimpulkan bahwa pengukuran debit

yang dilakukan secara langsung didapatkan hasil bahwa semakin lama waktu
untuk mengukur debit maka semakin banyak pula volume air yang dihasilkan
sehingga debit air juga semakin tinggi. Sedangkan pengukuran debit
menggunakan alat ukur berupa weir didapatkan hasil bahwa weir segitiga
mempunyai jangkauan kapasitas yang lebih besar dan praktis dibandingkan
dengan bentuk weir lainnya. Hal ini dikarenakan ketinggian air yang keluar dari
setiap weir dipengaruhi oleh bentuk cekungan weir, karena semakin tinggi letak
cekungan air maka air yang keluar akan semakin tinggi dan begitu juga sebaliknya
sehingga jumlah debit air yang dihasilkan dari masing masing weir juga berbeda

DAFTAR PUSTAKA
Acep. Mekanika Fluida Dan Hidrolika Teori Debit Aliran. Universitas Mercu
Buana.

http://kk.mercubuana.ac.id/elearning/files_modul/11015-11-

465738282255.pdf#. Akses pada 30 Mei 2015


Efendi.

2012.

Debit

Air

https://akutresno.wordpress.com/2012/02/26/debit-air-perairan/
pada 30 Mei 2015

Perairan
Akses

Raharja

Bayu.

2011.

Pengukuran

Debit

dan

Pengambilan

Sampel.

https://raharjabayu.wordpress.com/2011/06/13/pengukuran-debit-danpengambilan-sampel/ Akses pada 30 Mei 2015


Egi

Nurtalsyain.

2013.

Pengukuran

Debit

https://pojokpustaka.wordpress.com/pengukuran-debit-air/

Air

Akses pada

30 Mei 2015
Andreas

Setiawan.

2014.

Pemodelan

dan

Pengujian

Model

Dinamis.

http://repository.uksw.edu/bitstream/123456789/3162/2/ART_Andreas
%20Setiawan-F%20Dalu%20Setiaji_Pemodelan%20dan%20pengujian
%20model%20dinamis_Full%20text.pdf Akses pada 30 Mei 2015