Anda di halaman 1dari 10

Rabu, 06 Maret 2013

KOGNITIF ANAK USIA 5-6 TAHUN


Diposkan oleh deci zha di 23.02

A.Pengertian Kognitif
Kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susuanan syaraf pada
waktu manusia sedang berfikir (Gagne, 1976). Kemampuan kognitif ini perkembangan fisik
dan syarat-syarat yang berada di pusat syaraf. Salah satu teori yang berpengaruh dalam
menjelaskan

perkembangan

kognitif.

Jean Piaget, yang hidup dari tahun 1896 sampai tahun 1980, adalah seorang ahli biologi dan
psikologi berkebangsaan Swiss. Ia merupakan salah seorang yang memmuskan teori yang
dapat menjelaskan fase-fase perkembangan kognitif. Teori ini dibangun berdasarkan dua
sudut pandang yang disebut sudut pandang aliran struktural (structuralism) dan aliran
konstruktif

(constructivism).

Aliran struktural yang mewarnai teori Piaget dapat dilihat dari pandangannya tentang
inteligensi yang berkembang melalui serangkaian tahap perkembangan yang ditandai oleh
perkembangan kualitas struktur kognitif. Aliran konstruktif terlihat dari pandangan Piaget
yang menyatakan bahwa, anak membangun kemampuan kognitif melalui interaksinya dengan
dunia di sekitarnya. Dalam hal ini, Piaget menyamakan anak dengan peneliti yang selalu
sibuk membangun teori-teorinya tentang dunia di sekitarnya, melalui interaksinya dengan
lingkungan di sekitarnya. Hasil dari interaksi ini adalah terbentuknya struktur kognitil, atau
skemata (dalam bentuk tunggal disebut skema) yang dimulai dari terbentuknya struktur
berpikir secara logis, kemudian berkembang meqjadi suatu generalisasi (kesimpulan umum).
B. Fase-fase Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget Perkembangan merupakan suatu proses yang bersifat kumulatif.
Artinya, perkembargan terdahulu akan menjadi dasar bagi perkembangan selanjutnya.
Dengan demikian, apabila teriadi hambatan pada perkembangan terdahulu maka
perkembangan selaniutnya akan memperoleh hambatan. Piaget membagi perkembangan
kognitif ke dalam empat fase, yaitu fase sensorimotor, fase praoperasional, fase operasi
konkret, dan fase operasi formal (Piaget, 1972: 49-91).

1. Fase Sensorimotor (usia 3 - 4 tahun)


Pada masa dua tahun kehidupannya, anak berinteraksi dengan dunia di sekitarnya,
terutama melalui aktivitas sensoris (melihat, meraba, merasa, mencium, dan mendengar) dan
persepsinya terhadap gerakan fisik, dan aknvitas yang berkaitan dengan sensoris tersebut.
Koordinasi aktivitas ini disebut dengan istilah sensorimotor.
Fase sensorimotor dimulai dengan gerakan-gerakan refleks yang dimiliki anak sejak ia
dilahirkan. Fase ini berakhir pada usia 2 tahun. Pada masa ini, anak mulai membangun
pemahamannya tentang lingkungannya melalui kegiatan sensorimotor, seperti menggenggam,
mengisap, melihat, melempar, dan secara perlahan ia mulai menyadari bahwa suatu benda
tidak menyatu dengan lingkungannya, atau dapat dipisahkan dari lingkungan di mana benda
itu berada. Selanjutnya, ia mulai belajar bahwa benda-benda itu memiliki sifat-sifat khusus.
Keadaan ini mengandung arti, bahwa anak telah mulai membangun pemahamannya terhadap
aspek-aspek yang berkaitan dengan hubungan kausalitas, bentuk, dan ukuran, sebagai hasil
pemaharnannya terhadap aktivitas sensorimotor yang dilakukannya.
Pada akhir usia 3 tahun, anak sudah menguasai pola-pola sensorimotor yang bersifat
kompleks, seperti bagaimana cara mendapatkan benda yang diinginkannya (menarik,
menggenggam atau meminta), menggunakan satu benda dengan tujuan yang berbeda. Dengan
benda yanga da di tangannya,ia melakukan apa yang diinginkannya. Kemampuan ini
merupakan awal kemampuan berpilar secara simbolis, yaitu kemampuan untuk memikirkan
suatu objek tanpa kehadiran objek tersebut secara empiris.
2. Fase Praoperasional (usia 5 - 6 tahun)
Pada fase praoperasional, anak mulai menyadari bahwa pemahamannya tentang bendabenda di sekitarnya tidak hanya dapat dilakukan melalui kegiatan sensorimotor, akan tetapi
juga dapat dilakukan melalui kegiatan yang bersifat simbolis. Kegiatan simbolis ini dapat
berbentuk melakukan percakapan melalui telepon mainan atau berpura-pura menjadi bapak
atau ibu, dan kegiatan simbolis lainnva Fase ini rnemberikan andil yang besar bagi
perkembangan kognitif anak. Pada fase praoperasional, anak trdak berpikir secara operasional
yaitu suatu proses berpikir yang dilakukan dengan jalan menginternalisasi suatu aktivitas
yang memungkinkan anak mengaitkannya dengan kegiatan yang telah dilakukannya
sebelumnya. Fase ini merupakan rlasa permulaan bagi anak untuk membangun
kenrampuannya dalam menyusun pikirannya. Oleh sebab itu, cara berpikir anak pada fase ini
belum stabil dan tidak terorganisasi secara baik. Fase praoperasional dapat clibagi ke dalam

tiga subfase, yaitu subfase fungsi simbolis, subfase berpikir secara egosentris dan subfase
berpikir secara intuitif.
Subfase fungsi simbolis terjadi pada usia 5 6 tahun. Pada masa ini, anak telah
memiliki kemampuan untuk menggarnbarkan suatu objek yang secara fisik tidak
hadir.Kemampuan ini membuat anak dapat rnenggunakan balok-balok kecil untuk
membangun rumah-rumahan, menyusun puzzle, dan kegiatan lainnya.Pada masa ini, anak
sudah dapat menggambar manusia secara sederhana. Subfase berpikir secara egosentris
terjadi pada usia 2-4 tahun. Berpikir secara egosentris ditandai oleh ketidakmampuan anak
untuk memahami perspektif atau cara berpikir orang lain. Benar atau tidak benar, bagi anak
pada fase ini, ditentukan oleh cara pandangnya sendiri yang disebut dengan istilah egosentris.
C. Aspek-aspek Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini (TK)
Bertitik tolak dari gambaran umum tentang fase-fase perkembangan kognitif tersebut di
atas, maka dapat diketahui bahwa perkembangan kognitrf anak usia taman kanak-kanak
(PAUD) berada dalam fase praoperasional vang menckup tiga aspek, yaitu:

1. Berpikir Simbolis
Aspek berpikir simbolis yaitu kemampuan untuk berpikir tentang objek dan peristiwa
walaupun objek dan peristiwa tersebut tidak hadir secara fisik (nyata) di hadapan anak.
2. Berpikir Egosentris
Aspek berpikir secara egosentris, yaitu cara berpikir tentang benar atau tidak benar,
setuju atau tidak setuju, berdasarkan sudut pandang sendiri. Oleh sebab itu, anak belum dapat
meletakkan

cara

pandangnya

di

sudut

pandang

orang

lain.

3. Berpikir lntuitif
Fase berpikir secara intuitif, yaitu kemarnpuan untuk menciptakan sesuatu, seperti
menggambar atau menyusun balok, akan tetapi tidak mengetahui dengan pasti alasan untuk
melakukannya.
D. Prinsip.prinsip Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini 5-6 tahun
Perkembangan kognitif anak pada hakikatnya merupakan hasil proses asimilasi
(assimilation), akomodasi (accommodation) dan ekuilibrium (equilibrium)

1.. Asimilasi dan Akomodasi


Asimilasi berkaitan dengan proses penyerapan informasi baru ke dalam informasi yang
telah ada di dalam schemata (struktur kognitif) anak. Akomodasi adalah proses menyatukan
informasi baru dengan informasi yang telah ada di dalam skemata, sehingga perpaduan antara
informasi tersebut memperluas skemata anak. Sebagai contoh, seorang anak yang baru
pertama kali diberi jeruk oleh ibunya, ia tidak tahu bahwa buah yang diberikan kepadanya itu
bernana.jeruk. pengetahuannya bahwa buah itu bernama jeruk karena diberi tahu oleh ibunya.
Pada waktu itu, anak telah mempunvai skemata tenlang. Jeruk, yaitu bentuknya yang bulat
dan namanya. Setelah itu, anak tersebut menggenggam. Jeruk dan menggitnya. pada saat
yang bersamaan ibunya mengatakan, "Savang jeruk dikupas dulu baru dapat dimakan." lalu
ibunya memperlihatkm cara mengupas jeruk dan memberikan jeruk yang sudah dikupas itu
kepada anaknya. Pada fase ini terjadi proses asimilasi, yaitu proses penyerapan informasi
baru ke dalam informasi yang telah ada di dalam skemata anak sehingga anak memahami
bahwa jeruk harus dikupas dahulu, baru dapat dimakan. Pada ntuhap ini, telah terjadi proses
akomodasi karena pengetahuan anak tentang jeruk telah diperluas, yaitu jeruk kalau hendak
dimakan harus dikupas terlebih dahulu.
2. Ekuilibrium
Ekuilibrium berkaitan dengan usaha anak untuk mengatasi konflik yang teerjadi dalam
dirinya pada waktu ia menghadapi suatu masalah. Untuk memecahkan masalah tersebut, ia
menyeimbangkan informasi yang baru, yang berkaitan dengan masalah yang dihadapinya
dengan

informasi

yang

telah

ada

di

dalam skematanya secira dinamis. Sebagai contoh, pada waktu anak diberi buah lain yang
berkulit, maka anak akan menyeirnbangkan pengetahuannya tentang jeruk dengan cara-cara
yang

harus

dilakukannya

agar

buah

tersebut

dapat

dimakan.

E. Karakteristik Kognitif Anak Usia 5-6 Tahun


Anak berusia antara 5-6 tahun sedang berada pada akhir dari bagian awal masa kanakkanaknya. Karakteristik khusus bagi anak dalam kelompok usia 5-6 tahun adalah:
Perkembangan kemampuan fisik

Pada usia ini anak menunjukkan keingintahuan yang besar dan aktif. Dia bisa mengatur
gerakan badannya dengan lebih baik dan lebih luwes. Anak juga bisa berjalan jinjit mundur
dan berjalan mundur dengan tumitnya. Dia juga bisa berlari dengan cepat, meloncat, berlari
dengan satu kaki. Anak pada sia ini sudah bisa mencuci tanganya sendiri tanpa membasahi
bajunya, berpakaian dan mengikat tali sepatunya sendiri. Koordinasi motorik yang baik
berkembnag smapai si anak dapat mencontoh segitiga dan belah ketupat. Mereka mulai dapat
menulus beberapa huruf dan angka dan menuliskan namanya dengan benar. Anak juga dapat
menggambar benda hidup.
Penglihatan
Anak usia 5-6 tahun dapat menguasai indera peraba, pendengaran dan penglihatan
hampir sebaik orang dewasa.
Perkembangan kemampuan bahasa
Perkembangan bahasa berlangsung dengan cepat dan membantu anak untuk
mengemukakan pikiranya. Kosa kata anak meningkat samapi 8000-14000 kata pada usia 6
tahun. Kata Tanya (kenapa, siapa, dimana, dan kapan)lebih banyak digunakan sehingga anak
pada usia ini cenderung banyak bertanya.
Perkembangan kemampuan sosial
Anak usia 5-6 tahun menunjukkan lebih banyak kemampuan sosial. Hal ini dapat
dilihat dari cara bermain anak yang lebih terarah dan mampu bekerja sama dalam bermain.
Anak senang bermain bersama dan tolong menolong dalam mencapai keinginan tertentu. Ada
kecenderungan tolong menolong ini dalam bermain dan kegiatan lainya. Anak usia ini lebih
siap untuk berpisah beberapa jam dari orangtuanya dibandingkan dengan anak yang lebih
muda dari itu. Anak sudah mampu berbagi dengan oranglain, mampu bertenggang rasa, sabar
menunggu giliranya,dan mampu menerima tabggung jawab yang ringan.
Perkembangan Emosional
Emotional intelligence (kecerdasan emosi) adalah suatu tingkst kepandaian dalam
memahami emosi oranglain dan mengatur emosinya sendiri, seperti misalnya mampu
memptivasi diri sendiri dan tahan menghadapi rasa frustasi, mengontrol gerak hati dan
menunda kegembiraan, mengatur untuk tetapa berpikir,berempati (mampu membayangkan
dan merasakan perasaan oranglain) dan berharap. (Goleman,1995)
Pada anak usia ini, kosa kata anak yang berhubungan dengan emosi meningkat secara
bertahap, sehingga mereka mengenal lebih banyak variasi ekspresi oranglain. Bersamaan
dengan itu anak juga belajar ekspresi emosi dirinya.
Perkembangan kepribadian

Selain karena faktor keturunan, lingkungan juga mempengaruhi perkembangan


kepribadian anak. Anak mempelajari berbagai perilaku sosial dari contoh-contoh yang
dilihatnya. Selain itu, pada usia ini anak tidak hanya belajar tingkah laku tang kelihatan jelas,
tapi juga dapat mempelajari gagasan, harapan, dan nilai-nilai. Anak dapat mempelajari halhal apa saja yang boleh dan tidak boleh.
Penting untuk diperhatikan bahwa setiap anak itu unik, mereka tumbuh menurut
lajunya masing-masing. Dan tidak semua aspek perkembangan tersebut diatas tumbuh
bersamaan atau berurutan sehingga hal yang wajar jika terjadi variasi dalam perkembangan
anak. Agar menjadi perhatian para orangtua atau pendidik bahwa kwgiatan dalam mendidik
anak usia dini harus direncanakan dengan mempertimbangkan karakteristik anak seperi yang
telah disebutkan diatas.
F. Pengertian Daya Pikir dan Daya Cipta Dalam Kognitif Anak 5-6 Tahun
1. Daya pikir
Daya pikir disebut juga sebagai kemampuan kognitif sering diartikan sebagai daya atau
kemampuan seorang anak untuk berfikir dan mengamati, melihat hubungan-hubungan,
kegiatan yang mengakibatkan seorang anak memperoleh pengetahuan baru yang banyak
didukung oleh kemampuannya bertanya.
Berk (1991:207) menerangkan bahwa kemampuan kognitif menunjuk kepada proses
dan produk dari dalam akal ;pikiran manusia yang membawanya untuk tahu. Dalam hal ini
termasuk semua kegiatan mental manusia yang meliputi: mengingat, menghubungkan,
menggolongkan, memberikan symbol, mengkhayal, memecahkan masalah, mencipta dan
membayangkan kejadian dan mimpi.

2. Daya Cipta
Daya cipta disebut juga sebagai kreativitas. Banyak definisi tentang daya cipta atau
kreativitas yang diajukan oleh para ahli yang satu sama lain memiliki sudut pandang sendirisendiri. Namun para ahli sebenarnya telah mengembangkan pengertian kreativitas dalam
bentuk pengertian popular dan makna psikologis (Hurlock, 1978).
G. Tujuan dan Fungsi Pengembangan Daya Pikir dan Daya Cipta

Daya Pikir
Daya pikir perlu dikembangkan sedini mungkin karena apa yang diperoleh pada suatu
periode akan sangat membantu penembangan daya pikir pada periode selanjutnya.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1997) telah menetapkan tujuan dan fungsi
pengembangan daya pikir di TK yakni sebagai berikut:
a. Tujuan
Tujuan pengembangan daya pikir adalah agar anak mampu menghubungkan
pengetahuan baru yang diperolehnya. Tujuan tersebut secara rinci adalah sebagai berikut:
1. Mengembangkan kemampuan berpikir logis dan pengetahuan akan ruang dan waktu
2. Anak mampu mengembangkan pengetahuan yang sudah diketahui dengan pengetahuan
baru yang diperolehnya
3. Mengembangkan kemampuan memahami sesuatu dengan cara melihat bermacam-macam
hubungan antara satu objek dengan objek lain berdasarkan perbedaan dan persamaan
4. Mengembangkan imajinasi melalui bermacam-macam kegiatan
5. Memberi kesempatan untuk mengolah lingkungan dan membangun dunianya secara aktif
6. Agar anak dapat menghargai dan mencintai isi alam sebagai ciptaan Tuhan
b. Fungsi
1. mengenalkan lingkungan sekitar kepada anak, manfaat serta bahayanya
2. melatih agar anak mampu menggunakan panca inderanya untuk mengenal lingkungannya
3. memberi kesempatan pd anak untuk mengamati dan mengolah lingkungan atau dunianya
secara aktif sesuai dengan kemampuan anak
4. mengenal konsep bilangan dan benda-benda
5. memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan kegiatan bermain sambil belajar atau
belajar seraya bermain
6. melatih anak berpikir logis
Daya Cipta
Tujuan
1. Mengembangkan imajinasi dan kreatifitas anak
2. Memberi kesempatan pada anak untuk menciptakan sesuatu sesuai dengan kreatifitasnya
3. Anak dapat menghargai hasil karyanya
Fungsi
1. Mengenalkan berbagai hasil karya seni dan kreatifitas pada anak
2. Memberi kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi benda-benda yang ada disekitarnya
3. Melatih anak berpikir kreatif

H. lmplikasi Perkembangan Kognitif dalam Proses Pembelajaran yang Efektif di


Taman Kanak-Kanak
1. Aktivitas di dalam proses belajar-mengajar hendaknya ditekankan pada
pengembangan struktur kognitif, melalui pemberian kesempatan pada anak untuk
memperoleh pengalaman langsung dalam berbagai aktivitas pembelajaran yang sesuai
dengan pembelajaran terpadu dan mengandung makna, seperti membuat bangunan dari balok,
mengamati perubahan yang terjadi di lingkungan anak (turnbuh-tumbuhan, binatang, air),
menggambar, menggunting, dan lain-lain yang dikaitkan dengan pengembangan dasar-dasar
pengetahuan alam atau matematika dan pengembangan bahasa, baik bahasa lisan maupun
membaca dan menulis.
2 Memulai kegiatan dengan membuat konflik dalam pikiran anak. Misalnya,
memberikan. jawaban yang salah untuk memotivasi anak memikirkan dan mengemuk akan
jawaban yang benar.
3 Memberi kesempatan pada anak untuk melakukan berbagai kegiatan yang dapat
mengembangkan kemampuan kognitifnya. Misalnya, mengubah obiek-objek yang disajikan
secara nyata kedalam bentuk lain, misalnya gambar.
4. Melakukan kegiatan tanya jawab yang dapat mendorong anak untuk berpikir dan
mengemukakan pikirannya.
http://elearning.unesa.ac.id/myblog/nur-ardisti/fase-perkembangan-kognitif-anak-usiadini (diakses tanggal 17 maret 2012)
Bukanlah hal yang susah, sekarang ini sudah banyak cara yang lebih mudah lagi untuk
menumbuhkan motivasi belajaranak, asalkan kita mau berusaha, selain ini juga banyak
faktor-faktor yang mempengaruhi keingianan belajar anak, keinginan baca anak, tinggal kita
sebagai orang tua/kakak harus mengenal dia terlebih dahulu seperti,benda apa yang ia suka
atau permaianan apa yang dia suka. Adapun cara mendidik anak supaya pintar yaitu dengan
cara :
Bermain musik
Cara ini dapat merangsang pertumbuhan otak kanan. Dan dari studi yang dilakukan
oleh universitas Toronto, ini dapat meningkatkan IQ dan nilai akademis anak. Bintang pernah
membaca sebuah artikel kenapa orang zionis israel menjadi pintar. Salah satunya adalah sejak
masih dini mereka sudah dilatih konsentrasinya dengan bermain Piano.

Mengembangkan rasa ingin tahu anak


Pendidikan yang sukses karena anak pintar selalu ingin tahu akan hal baru. Maka
daripada itu sejak kecil biasakan anda sebagai orang tua harus selalu menunjukkan rasa ingin
tahu kepada anak. Dengan begitu anda tidak perlu menyuruh anak untuk belajar ini itu.
Karena dia sendiri yang akan penasaran. Otomatis dengan semakin banyak yang dia pelajari
akan membuatnya menjadi pintar.

Budayakan membaca
Dengan kegiatan membaca akan dapat meningkatkan ilmu pengetahuan dan
perkembangan kognitif anak. Lalu bagaimana cara untuk melakukannya? Membacakan
dongeng untuk anak bisa menjadi salah satu jalan keluar. Cara lain, berikan anak hadiah
sebuah

buku

yang

dapat

menarik

perhatiannya.

Apalagi sekarang sudah zaman internet, mengapa tidak gunakan itu senjata dalam mendidik?
Internet sudah terbukti cara ampuh untuk membuat orang sering membaca. Tentu saja karena
ini untuk pendidikan anak untuk menjadi pintar, harus tetap ditemani oleh Orang Tua.

Kepercayaan Diri

Mendidik anak pintar yang baik adalah membuatnya percaya diri dan selalu optimis
bahwa dia bisa melakukan sesuatu. Salah satu cara adalah berpatisipasi dalam kegiatan
olahraga maupun sosial dapat membantunya. Dan jangan sekalipun mendidik anak sehingga
dia menjadi tidak PD. Salah satu contoh adalah Ketika seorang ibu mengkritik gambar
anaknya karena langitnya berwarna merah bukan biru. Sepertinya hal itu sepele. Tapi itu
bukan pendidikan anak yang bagus. Karena anak jadi takut melakukan sesuatu karena salah.
Dan manusia yang tidak pernah melakukan sesuatu bagaimana mungkin menjadi pintar.
Beberapa hal lain yang dapat membuat anak menjadi pintar adalah dengan tentu saja
memberikan ASI, menyingkirkan makanan cepat saji dan memberikan makanan yang sehat,
membiasakan berolahraga. Mudah-mudahan jika anda mendidik dengan pendidikan seperti
cara diatas, anak bisa menjadi lebih pintar.