Anda di halaman 1dari 13

UNIVERSITAS MUHAMADIYAH SEMARANG

DIFTERI, PERTUSIS, TETANUS


Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang

Diajukan Kepada :
Prof. Dr. dr. Harsoyo, Sp.A(K)

Disusun Oleh :
Alaa Ulil Haqiyah

H2A009001

Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Kesehatan Anak


FAKULTAS KEDOKTERAN Muhammadiyah Semarang
Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang
PERIODE 21 April 12 Juli 2014

BAB I

PENDAHULUAN
Pertusis disebut juga whooping cough adalah penyakit infeksi akut yang menyerang
saluran pernapasan yang disebabkan oleh Bordetella pertussis, bakteri Gram-negatif
berbentuk kokobasilus. Organisme ini menghasilkan toksin yang merusak epitel saluran
pernapasan dan memberikan efek sistemik berupa sindrom yang terdiri dari batuk yang
spasmodik dan paroksismal karena pasien berupaya keras untuk menarik napas, sehingga
pada akhir batuk disertai bunyi yang khas.
Di seluruh dunia insidensi pertussis banyak didapatkan pada bayi dan anak kurang
dari 5 tahun, meskipun anak yang lebih besar dan orang dewasa masih mungkin terinfeksi
oleh B. pertussis. Insidensi terutama didapatkan pada bayi atau anak yang belum diimunisasi.
Dahulu pertusis adalah penyakit yang sangat epidemic karena menyerang bukan
hanya negara-negara berkembang namun juga beberapa bagian dari negara maju. Namun
setelah digalakkannya vaksinasi untuk pertusis, angka kematian dapat ditekan, dengan
semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi pertusis diharapkan dapat dicegah
maupun ditangani dengan baik.
Dengan mendiagnosa secara dini kasus pertusis, dari anamnesis, pemeriksaan fisik,
manifestasi klinis, foto rontgen, dan pemeriksaan penunjang lainnya, diharapkan para klinisi
mampu memberikan penanganan yang tepat dan cepat sehingga derajat penyakit pertusis
tidak menimbulkan komplikasi yang lebih lanjut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
PERTUSIS
1. DEFINISI
Pertusis disebut juga whooping cough adalah penyakit infeksi akut yang menyerang
saluran pernapasan yang disebabkan oleh Bordetella pertussis, bakteri Gram-negatif
berbentuk kokobasilus.

2. EPIDEMIOLOGI
Pada masa pravaksin, pertusis menyerang anak prasekolah. Kurang dari 10% kasus
terjadi pada bayi usia <1 tahun. Setelah mulai dilakukan imunisasi (tahun 1940), kejadian
pertusis menurun drastis, dari 200.000 kasus/tahun menjadi 1.010 kasus pada tahun 1976.
Sejak itu, imunisasi pertusis dianggap memiliki kemampuan perlindungan seumur hidup,
sehingga tidak perlu diproduksi vaksin pertusis untuk usia >7 tahun.
Mulai tahun 1980 ditemukan peningkatan kejadian pertusis pada bayi, usia 11-18
tahun, dan dewasa, dengan cakupan imunisasi pertusis rutin yang luas. Centers of Disease
Control and Prevention (CDC) (tahun 2004) melaporkan 25.827 kasus pertusis di AS, suatu
angka yang tinggi sejak tahun 1950-an dengan proporsi 35% kejadian pada usia 11-18 tahun (30
per 100.000). Angka yang jauh lebih tinggi diperlihatkan oleh sebuah penelitian prospektif
terhadap individu dengan gejala batuk paroksismal atau batuk yang menetap >7 hari, ternyata
didapatkan perkiraan insidens pertusis pada remaja sekitar 997 per 100.000.

Kejadian luar biasa pertusis dialami Massachusett (1996) dengan 67% kasus berusia
10-19 tahun, kemudian Wisconsin (2002-2003) sebesar 313 kasus dengan 70% berusia 10-19
tahun. Remaja merupakan reservoir B. Pertussis dan menjadi sumber penularan pertusis bagi
bayi kecil, golongan risiko tinggi untuk mengalami komplikasi pertusis, menjalani perawatan
di Rumah Sakit, dan mengalami kematian.1,2

3. ETIOLOGI
Penyebab pertusis adalah Bordetella pertusis atau Hemophillus pertussis, adenovirus
tipa 1, 2,3 dan 5 dapat ditemukan dalam traktus respiratorius, traktus gastrointestinal dan

traktus genitourinarius penderita pertusis bersama sama Bordetella pertusis atau tanpa adanya
Bordetella pertussis.2
B. pertussis adalah suatu kuman yang kecil tidak bergerak, gram negatif dan
didapatkan dengan melakukan swab pada daerah nasofaring penderita pertussis dan kemudian
ditanam pada agar media Bordet-Gengou. B. pertusis yang didapatkan secara langsung adalah
tipe antigenetik fase 1, sedangkan yang diperoleh melalui pembiakan terdapat dalam bentuk
lain, yaitu fase II, III, dan IV. Strain fase I diperlukan untuk menularkan penyakit atau
mendapatkan vaksin yang efektif.
B. Pertussis dan B. bronchiseptica secara morfologis menyerupai B. pertussis dan
dibedaka dengan reaksi aglutinasi yang khas.2

4. PATOGENESIS
Bordetella pertusis setelah ditularkan melalui sekresi udara pernapasan kemudian
melekat pada silia epitel saluran pernapasan. Mekanisme patogenesis infeksi oleh Bordetella
pertusis terjadi melalui empat tingkatan yaitu perlekatan, perlawanan terhadap mekanisme
pertahanan pejamu, kerusakan lokal dan akhirnya timbul penyakit sistemik.

Filamentous Hemaglutinin (FHA), Lymphosithosis Promoting Factor (LPF) /


Pertusis Toxin (PT) dan protein 69-Kd berperan pada perlekatan Bordetella pertusis pada
silia. Setelah terjadi perlekatan, Bordetella pertussis kemudian bermultiplikasi dan menyebar
ke seluruh permukaan epitel saluran napas. Proses ini tidak invasif oleh karena pada pertusis
tidak terjadi bakteremia. Selama pertumbuhan Bordetella pertusis, maka akan menghasilkan
toksin yang akan menyebabkan penyakit yang dikenal dengan whooping cough.
Toksin terpenting yang dapat menyebabkan penyakit disebabkan karena pertusis
toxin. Toksin pertusis mempunyai 2 sub unit yaitu A dan B. Toksin sub unit B selanjutnya
berikatan dengan reseptor sel target kemudian menghasilkan subunit A yang aktif pada daerah
aktivasi enzim membrane sel. Efek LPF menghambat migrasi limfosit dan makrofag ke
daerah infeksi.
Toxin mediated adenosine diphosphate (ADP) mempunyai efek mengatur sintesis
protein dalam membran sitoplasma, berakibat terjadi perubahan fungsi fisiologis dari sel
target termasuk limfosit (menjadi lemah dan mati), meningkatkan pengeluaran histamine dan
serotonin, efek memblokir beta adrenergic dan meningkatkan aktifitas insulin, sehingga akan
menurunkan konsentrasi gula darah.
Toksin menyebabkan peradangan ringan dengan hyperplasia jaringan limfoid
peribronkial dan meningkatkan jumlah lendir pada permukaan silia, maka fungsi silia sebagai
pembersih terganggu, sehingga mudah terjadi infeksi sekunder (tersering oleh Streptococcus
pneumonia, H. influenzae dan Staphylococcus aureus). Penumpukan lendir akan
menimbulkan plak yang dapat menyebabkan obstruksi dan kolaps paru.
Hipoksemia dan sianosis disebabkan oleh gangguan perukaran oksigenasi pada saat
ventilasi dan timbulnya apnea saat terserang batuk. Terdapat perbedaan pendapat mengenai
kerusakan susunan saraf pusat, apakah akibat pengaruh langsung toksin ataukah sekunder
sebagai akibat anoksia.
Terjadi perubahan fungsi sel yang reversible, pemulihan tampak apabila sel
mengalami regenerasi, hal ini dapat menerangkan mengapa kurangnya efek antibiotik
terhadap proses penyakit. Namun terkadang Bordetella pertusis hanya menyebabkan infeksi
yang ringan, karena tidak menghasilkan toksin pertusis.

5. MANIFESTASI KLINIS1,2
Masa inkubasi pertusis 6-10 hari, rata-rata 7 hari, sedangkan perjalanan penyakit ini
berlangsung antara 6-8 minggu atau lebih. Perjalanan klinis penyakit ini dapat berlangsung

dalam tiga stadium, yaitu stadium kataralis (prodromal, pra paroksismal), stadium akut
paroksismal (spasmodik), dan stadium konvalesens. Manifestasi klinis tergantung dari
etiologi spesifik, usia, dan status imunisasi.
1. Stadium kataralis (1-2 minggu)
Gejala awal menyerupai gejala infeksi saluran napas bagian atas yaitu timbulnya rinorea
dengan lendir yang cair dan jernih, injeksi pada konjungtiva, lakrimasi, batuk ringan, dan
panas tidak begitu tinggi. Pada stadium ini biasanya diagnosis pertusis belum dapat
ditegakkan karena sukar dibedakan dengan common cold. Sejumlah besar organisme tersebar
dalam droplet dan anak sangat infeksius, pada tahap ini kuman mudah diisolasi.
2. Stadium paroksismal/stadium spasmodik
Frekuensi dan derajat batuk bertambah, terdapat pengulangan 5-10 kali batuk kuat
selama ekspirasi yang diikuti oleh usaha inspirasi masif yang mendadak dan menimbulkan
bunyi melengking (whoop), udara yang dihisap melalui glotis yang menyempit. Pada remaja,
bunyi whoop sering tidak terdengar. Selama serangan wajah merah dan sianosis, mata
menonjol, lidah menjulur, lakrimasi, salivasi, dan distensi vena leher bahkan sampai terjadi
petekia di wajah (terutama di konjungtiva bulbi). Episode batuk paroksismal dapat terjadi lagi
sampai mucous plug pada saluran napas menghilang. Muntah sesudah batuk paroksismal
cukup khas, sehingga seringkali menjadi kecurigaan apakah anak menderita pertusis
walaupun tidak disertai bunyi whoop.
3. Stadium konvalesens
Stadium penyembuhan ditandai dengan berhentinya whoop dan muntah dengan puncak
serangan paroksismal yang berangsur-angsur menurun. Batuk biasanya masih menetap untuk
beberapa waktu dan akan menghilang sekitar 2-3 minggu. Pada beberapa pasien akan timbul
serangan batuk paroksismal kembali. Episode ini terjadi berulang-ulang untuk beberapa bulan
dan sering dihubungkan dengan infeksi saluran napas bagian atas yang berulang.

6. DIAGNOSIS
Diagnosis

ditegakkan

berdasarkan atas

anamnesis,

pemeriksaan

fisis, dan

pemeriksaan laboratorium. Pada anamnesis penting ditanyakan adanya riwayat kontak


dengan pasien pertusis, adakah serangan khas yaitu paroksismal dan bunyi whoop yang jelas.
Perlu pula ditanyakan mengenai riwayat imunisasi. Gejala klinis yang didapat pada
pemeriksaan fisik tergantung dari stadium saat pasien diperiksa.

Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis 20.000-50.000/L

dengan limfosistosis absolut khas pada akhir stadium kataral dan selama stadium
paroksismal. Pada bayi jumlah lekositosis tidak menolong untuk diagnosis, oleh
karena respons limfositosis juga terjadi pada infeksi lain.
Isolasi B. pertussis dari sekret nasofaring dipakai untuk membuat diagnosis
pertusis pada media khusus Bordet-gengou. Biakan positif pada stadium kataral 95100%, stadium paroksismal 94% pada minggu ke-3, dan menurun sampai 20% untuk
waktu berikutnya.2,4

Dengan metode PCR yang lebih sensitif dibanding pemeriksaan kultur untuk
mendeteksi B. pertussis, terutama setelah 3-4 minggu setelah batuk dan sudah
diberikan pengobatan antibiotik. PCR saat ini merupakan pilihan yang paling tepat
karena nilai sensitivitas yang tinggi. Tes serologi berguna pada stadium lanjut
penyakit dan untuk menentukan adanya infeksi pada individu dengan biakan. Cara
ELISA dapat dipakai untuk menentukan IgM, IgG, dan IgA serum terhadap FHA dan
PT. Nilai IgM serum FHA dan PT menggambarkan respons imun primer baik
disebabkan oleh penyakit atau vaksinasi. IgG toksin pertusis merupakan tes yang
paling sensitif dan spesifik untuk mengetahui infeksi alami dan tidak tampak setelah
imunisasi pertusis.

Pemeriksaan foto toraks


Pemeriksaan lainnya yaitu foto toraks dapat memperlihatkan infiltrat perihiler,

atelektasis, atau empisema.

7. DIAGNOSIS BANDING
Batuk spasmodik hendaknya dibedakan dengan batuk-batuk yang diakibatkan
trakeobronkitis, bronkiolitis, dan pnemonia intertitialis. Infeksi dengan B. parapertussis, B.
bronchiseptica dan adenovirus memperlihatkan gejala klinis seperti pertussis. Perbedaannya
hanya dapat diketahui dengan biakan dan kenaikan titer antibodi pada adenovirus.2

8. PENATALAKSANAAN
Tujuan terapi adalah membatasi jumlah paroksismal, untuk mengamati keparahan
batuk, memberi bantuan bila perlu, dan memaksimalkan nutrisi, istirahat, dan penyembuhan
tanpa sekuele. Tujuan rawat inap spesifik, terbatas adalah untuk menilai kemajuan penyakit
dan kemungkinan kejadian yang mengancam jiwa pada puncak penyakit, mencegah atau
mengobati komplikasi, dan mendidik orang tua pada riwayat alamiah penyakit dan pada
perawatan yang akan diberikan di rumah. Untuk kebanyakan bayi yang tanpa komplikasi,
keadaan ini disempurnakan dalam 48-72 jam.1

Denyut jantung, frekuensi pernafasan, dan pulse oxymetri dimonitor terus, pada
keadaan yang membahayakan. Pengawasan batuk yang rinci dan pencatatan pemberian
makan, muntah, dan perubahan berat badan memberikan data untuk penilaian keparahan.
Paroksismal khas yang tidak membahayakan mempunyai tanda sebagai berikut lamanya
kurang dari 45 detik, perubahan warna merah tetapi tidak biru, bradikardi, atau desaturasi
oksigen yang secara spontan selesai pada akhir paroksismal, berteriak atau kekuatan untuk
menyelamatkan diri pada akhir paroksismal, mengeluarkan sumbatan lendir sendiri,
kelelahan pasca batuk tetapi bukan tidak berespons.1
Pengobatan suportif yang bisa dilakukan diantaranya menghindarkan faktor- faktor yang
menimbulkan serangan batuk, mengatur hidrasi dan nutrisi, oksigen dapat diberikan pada
distres pernapasan akut/kronik, dan penghisapan lendir terutama pada bayi dengan
pneumonia dan distres pernapasan. Beberapa agen terapeutik atau medikamentonsa yang
digunakan pada pasien pertussis adalah sebagai berikut :
1. Antibiotik
Antibiotik selalu diberikan bila pertussis dicurigai atau diperkuat karena
kemungkinan manfaat klinis dan membatasi penyebaran infeksi. Eritromisin, 40-50
mg/kg/24 jam, secara oral dalam dosis terbagi empat selama 14 hari merupakan
pengobatan baku. Beberapa pakar lebih menyukai preparat estolat tetapi etilsuksinat dan
stearat juga manjur. Penelitian kecil eritromicin etilsuksinat yang diberikan dengan dosis
50 mg/kg/24 jam dibagi menjadi dua dosis, dengan dosis 60 mg/kg/24 jam dibagi menjadi
tiga dosis, dan eritromicin estolat diberikan dengan dosis 40 mg/kg/24 jam dibagi
menjadi dua dosis menunjukkan pelenyapan organisme pada 98% anak. Azitromisin,
Claritomisin, Ampisillin, Rifampin, Trimethoprim-Sulfametoksasol cukup aktif tetapi
sefalosporin generasi pertama dan ke-2 tidak. Pada penelitian klinis, eritromicin lebih
unggul daripada amoksisilin untuk pelenyapan B. pertussis dan merupakan agen dengan
kemanjuran yang terbukti.1
2. Salbutamol
Sejumlah kecil trial klinis dan laporan memberi kesan cukup pengurangan gejalagejala dari stimulan 2-adrenergik salbutamol (albuterol). Tidak ada trial tepat yang
menunjukkan manfaat. pengobatan dengan aerosol memicu paroksismal.1
3. Kortikosteroid
Belum ada penelitian cukup besar yang dilakukan untuk meneliti penggunaan
kortikosteroid dalam manajemen pertusis.1

4. Globulin Imun Pertusis


Belum ada persesuaian faham mengenai pemberian imunoglobulin pada stadium
kataralis. ada penelitia yang mengatakan pemberian imunoglobulin menghasilkan
pengurangan frekuensi episode batuk paroksismal, tetapi ada pula yang berpendapat
bahwa imunoglobulin tidak bermanfaat. pemberian imunoglobulin pada stadium
paroksismal sama sekali tidak bermanfaat.2

9. PENCEGAHAN
1. Imunisasi :
Dosis total 12 unit protektif vaksin pertussis dalam 3 dosis yang seimbang dengan
jarak 8 minggu. Imunisasi dilakukan dengan menyediakan toksoid pertussis, difteri dan
tetanus (kombinasi). Jika pertusis bersifat prevalen dalam masyarakat, imunisasi dapat
dimulai pada waktu berumur 2 minggu dengan jarak 4 minggu. Anak-anak berumur > 7 tahun
tidak rutin diimunisasi. Imunitas tidak permanen oleh karena menurunnya proteksi selama
adolesens infeksi pada penderita besar biasanya ringan tetapi berperan sebagai sumber infeksi
B. pertussis pada bayi-bayi non imun. Vaksin pertusis monovalen (0.25 ml,i.m) telah dipakai
untuk mengontrol epidemi diantara orang dewasa yang terpapar.
Efek samping sesudah imunisasi pertussis termasuk manifestasi umum seperti
eritema, indurasi, dan rasa sakit pada tempat suntikan dan sering terjadi panas, mengantuk,
dan jarang terjadi kejang, kolaps, hipotonik, hiporesponsif, ensefalopati, anafilaksis. Resiko
terjadinya kejang demam dapat dikurangi dengan pemberian asetaminofen (15mg/kg BB, per
oral) pada saat imunisasi dan setiap 4-6 jam untuk selama 48-72 jam.
Imunisasi pertama pertussis ditunda atau dihilangkan jika penyakit panas, kelainan
neurologis yang progresif atau perubahan neurologis, riwayat kejang. Riwayat keluarga
adanya kejang, Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) atau reaksi berat terhadap imunisasi
pertussis bukanlah kontra indikasi untuk imunisasi pertussis. Kontraindikasi untuk pemberian
vaksin pertussis berikutnya termasuk ensefalopati dalam 7 hari sebelum imunisasi, kejang
demam atau kejang tanpa demam dalam 3 hari sebelum imunisasi, menangis 3 jam, high
picth cry dalam 2 hari, kolaps atau hipotonik/hiporesponsif dalam 2 hari, suhu yang tidak
dapat diterangkan 40,50 C dalam 2 hari, atau timbul anafilaksis.1,2

2. Profilaksis
Eritromisin efektif untuk pencegahan pertussis pada bayi-bayi baru lahir dan ibu-ibu
dengan pertussis. Eritromisin 50 mg/kg BB/hari dibagi dalam 4 dosis, peroral selama 14 hari.
Anak yang berumur > 7 tahun yang telah mendapatkan imunisasi juga diberikan eritromisin
profilaksis. Pengobatan eritromisin awal akan mengurangi penyebaran infeksi eliminasi B.
pertussis dari saluran pernafasan dan mengurangi gejala-gejala penyakit.2
Orang-orang yang kontak dengan penderita pertussis yang belum mendapat imunisasi
sebelumnya, diberikan eritromisin selama 14 hari sesudah kontak diputuskan. Jika ada kontak
tidak dapat diputuskan, eritromisin diberikan sampai batuk penderita berhenti atau mendapat
eritromisin selama 7 hari. Vaksin pertussis monovalen dan eritromisin diberikan pada waktu
terjadi epidemi.2

10. KOMPLIKASI2
1. Alat Pernafasan
Dapat terjadi Otitis media (sering pada bayi), bronkitis, bronkopnemonia, atelektasis yang
disebabkan sumbatan mukus, emfisema, (dapat terjadi emfisema mediastinum, leher, kulit
pada kasus berat), bronkiektasis, sedangkan tuberkulosis yang sebelumnya telah ada dapat
bertambah berat.
2. Alat Pencernaan
Muntah-muntah yang berat dapat menimbulakn emasiasi, prolapsus rektum, atau hernia
yang mungkin timbul karena tinggiya tekanan intra abdominal, ulkus pada ujung lidah
karena lidah tergosok pada gigi atau tergigit pada waktu serangan batuk, stomatitis.
3. Susunan Saraf
Kejang dapat timbul karena gangguan keseimbangan elektrolit akibat muntah-muntah.
Kadang-kadang terdapat kongesti dan edema otak, mungkin pula terjadi perdarahan otak.
4. Lain- lain
dapat pula terjadi perdarahan lain seperti epistaksis, hemoptisis dan perdarahan
subkonjungtiva.2

11. PROGNOSIS
Angka kematian karena pertussis telah menurun menjadi 10/1000 kasus. Rasio kasus
kematian bayi < 2 bulan adalah 1,8 % selama tahun 2000-2004 di USA. Persentase rawat

inap pada dewasa sebesar 3% (12% dewasa tua). Tingkat berkembangnya menjadi pneumonia
hingga 5% dan mengalami patah tulang rusuk sampai 4%. Kebanyakan kematian disebabkan
oleh ensefalopati dan pneumonia atau komplikasi paru-paru lain.1
bergantung pada ada tidaknya komplikasi, terutama komplikasi paru dana sususnan
saraf yang sangat berbahaya khususnya pada bayi dan anak kecil.2

BAB III
KESIMPULAN
Pertusis disebut juga whooping cough adalah batuk yang berat atau batuk yang
intensif, merupakan penyakit infeksi saluran nafas akut yang dapat menyerang setiap orang
yang rentan seperti anak yang belum diimunisasi atau orang dewasa dengan kekebalan yang
menurun.1,2
Penyebab pertusis adalah Bordetella pertusis atau Haemoephilus pertusis yang
ditularkan melalui sekresi udara pernapasan kemudian melekat pada silia epitel saluran
pernapasan. Mekanisme patogenesis infeksi oleh Bordetella pertusis terjadi melalui empat
tingkatan yaitu perlekatan, perlawanan terhadap mekanisme pertahanan pejamu, kerusakan
local dan akhirnya timbul penyakit sistemik.1,2
Masa inkubasi pertusis 6-10 hari, rata-rata 7 hari, sedangkan perjalanan penyakit ini
berlangsung antara 6 8 minggu atau lebih. Perkembangan penyakit melalui 3 tahapan yaitu
kataral, paroksismal, dan konvalesen.
Diagnosis dilakukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik maupun penunjang.
Isolasi dan pembiakan B. pertussis dari sekret nasofaring dapat dipakai untuk membuat
diagnosis. PCR merupakan pemeriksaan penunjang yang memilki sensitifitas dan spesifitas

yang akurat. Selain itu, dapat juga dilakukan pemeriksaan serologi untuk mendeteksi antibodi
dari pasien yang terinfeksi.
Penatalaksaan medikamentosa pasien pertusis yaitu dapat diberikan antibiotik seperti
Eritromicin atau yang lain seperti Azitromisin, Claritomisin, Ampisillin, Rifampin,
Trimethoprim-Sulfametoksasol. Untuk pencegahan yaitu melalui imunisasi dengan vaksin
pertusis , serta penggunaan obat profilaksis untuk kontak dengan penderita pertusis.1,2

DAFTAR PUSTAKA
1. Behrman, Kliegman. 2002. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Ed. 15. EGC : Jakarta.
2. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 2007. Ilmu Kesehatan Anak jilid 2.
Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI : jakarta.

Anda mungkin juga menyukai