Anda di halaman 1dari 16

SKRINING FITOKIMIA SECARA REAKSI TABUNG

I. Tujuan
Praktikum
Memahami metode dan mampu melakukan analisis golongan senyawa kimia
dalam tumbuhan secara reaksi tabung.
II. Teori Dasar
Salah satu pendekatan untuk penelitian tumbuhan obat adalah penapisan
senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman (skrining fitokimia). Cara ini
digunakan untuk mendeteksi senyawa tumbuhan berdasarkan golongannya
sebagai informasi awal dalam mengetahui senyawa kimia apa yang mempunyai
aktivitas biologi dari suatu tanaman. Informasi yang diperoleh dari pendekatan ini
juga dapat digunakan untuk keperluan sumber bahan yang mempunyai nilai
ekonomi lain seperti sumber tanin, minyak untuk industri, sumber gum, dll.
Metode yang telah dikembangkan dapat mendeteksi adanya golongan senyawa
alkaloid, triterpenoid/steroid, flavonoid, tanin, saponin dan kuinon.
A. Alkaloid
Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang banyak ditemukan di
alam. Hampir seluruh senyawa alkaloid berasal dari tumbuh-tumbuhan dan
tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Semua alkaloid mengandung paling
sedikit satu atom nitrogen yang biasanya bersifat basa dan dalam sebagian besar
atom nitrogen ini merupakan bagian dari cincin heterosiklik.
Secara organoleptik, daun-daunan yang berasa sepat dan pahit, biasanya
teridentifikasi mengandung alkaloid. Selain daun-daunan, senyawa alkaloid dapat
ditemukan pada akar, biji, ranting, dan kulit kayu.

Berdasarkan literatur, diketahui bahwa hampir semua alkaloid di alam


mempunyai keaktifan biologis dan memberikan efek fisiologis tertentu pada
mahluk hidup.
Identifikasi Alkaloid :
1. Dengan pereaksi Mayer, membentuk endapan putih.
2. Dengan pereaksi Wagner, membentuk endapan coklat.
3. Dengan pereaksi Dragendorf, membentuk endapan coklat/orange
B. Triterpenoid/Steroid
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam
satuan isoprene dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik
yaitu skualen. Senyawa ini berstruktur siklik yang nisbi rumit, kebanyakan berupa
alkohol, aldehid atau asam karboksilat. Uji yang banyak digunakan adalah reaksi
Lieberman-Buchard (anhidrida asetat - H2SO4 pekat) yang dengan kebanyakan
triterpen dan sterol memberikan warna hijau- biru. Sterol atau steroid adalah
triterpenoid yang kerangka dasarnya cincin siklopentana perhidrofenantren.
Senyawa sterol pada tumbuhan disebut dengan fitosterol, yang umum terdapat
pada tumbuhan tinggi adalah sitosterol, stigmasterol dan kampesterol.
C. Flavonoid
Flavonoid terdapat dalam tumbuhan sebagai campuran, jarang sekali dijumpai
hanya flavonoid tunggal dalam jaringan tumbuhan. Disamping itu, sering terdapat
campuran yang terdiri atas flavonoid yang berbeda kelas. Penggolongan jenis
flavonoid dalam jaringan tumbuhan mula mula didasarkan pada telaah sifat
kelarutan dan reaksi warna. Kemudian diikuti dengan pemeriksaan ekstrak
tumbuhan yang telah dihidrolisis secara kromatografi.

D. Tanin
Tanin adalah senyawa organik yang terdiri dari campuran senyawa polifenol
kompleks, dibangun dari elemen C, H dan O serta sering membentuk molekul
besar dengan berat molekul lebih besar dari 2000. Tanin yang terdapat pada kulit

kayu dan kayu dapat berfungsi sebagai penghambat kerusakan akibat serangan
serangga dan jamur, karena memilki sifat antiseptik. Dari struktur kimianya, tanin
dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu tanin terhidrolisis dan tanin
terkondensasi.
Identifikasi Tanin dapat dilakukan dengan cara :
1. Diberikan larutan FeCl3, berwarna biru tua/hijau violet/hitam kehijauan.
2. Ditambahkan Kalium Ferrisianida + amoniak, berwarna coklat.
3. Diendapkan dengan garam Cu, Pb, Sn, dan larutan Kalium Bikromat, berwarna
coklat.
E. Saponin
Saponin merupakan triterpena atau steroid yang terutama terdapat sebagai
glikosida. Saponin merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti
sabun, dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa dan
menghemolisis sel darah.
Sifat-sifat Saponin :
1) Mempunyai rasa pahit
2) Dalam larutan air membentuk busa yang stabil
3) Menghemolisa eritrosit
4) Merupakan racun kuat untuk ikan dan amfibi
5) Membentuk persenyawaan dengan kolesterol dan hidroksisteroid lainnya
6) Sulit untuk dimurnikan dan diidentifikasi
7) Berat molekul relatif tinggi, dan analisis hanya menghasilkan formula empiris
yang mendekati
Uji saponin yang sederhana ialah dengan mengocok ekstrak alkohol-air dari
tumbuhan dalam tabung reaksi, kemudian diamati apakah ada terbentuk busa
tahan lama pada permukaan cairan.
F. Kuinon
Kuinon adalah senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar seperti
kromofor pada benzokuinon, yang terdiri atas dua gugus karbonil yang
berkonjugasi dengan dua ikatan rangkap karbon karbon. Untuk tujuan

identifikasi, kuinon dapat dipilah menjadi empat kelompok : benzokuinon,


naftokuinon, antrakuinon, dan kuinon isoprenoid. Tiga kelompok pertama
biasanya terhidroklisasi dan bersifat senyawa fenol serta mungkin terdapat in vivo
dalam bentuk gabungan dengan gula sebagai glikosida atau dalam bentuk kuinol.
Untuk memastikan adanya adanya suatu pigmen termasuk kuinon atau bukan,
reaksi warna sederhan masih tetap berguna. Reaksi yang khas ialahreduksi bolak
balik yang mengubah kuinon menjadi senyawa tanwarna, kemudian warna
kembali lagi bila terjadi oksidasi oleh udara.
Uraian Bahan
Daun Tembakau
Klasifikasi Tanaman
Kingdom
: Plantae (Tumbuhan)
Divisi
: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas
: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Ordo
: Solanales
Famili
: Solanaceae
Genus
: Nicotiana
Spesies
: Nicotiana tabacum L.
Zat Berkhasiat Utama / Isi : Flavonoid, Alkaloid, Minyak atsiri, Polifenol,
nikotin, Resin, neurotoksin, katekin, theaflavin, asam oksalat, asam sitrat, dan
asam malat
Khasiat atau Manfaat

: anti-inflamasi, kurap, diabetes, immunitas, anti

inflamasi, obat luka, insektisida, menghilangkan embun, memelihara kesehatan


ternak, melepaskan gigitan lintah.

Morfologi Tanaman Tembakau


Tanaman tembakau merupakan tanaman berakar tunggang yang tumbuh
tegak ke pusat bumi. Akar tunggangnya dapat menembus tanah kedalaman 50- 75
cm, sedangkan akar serabutnya menyebar ke samping. Selain itu, tanaman
tembakau juga memiliki bulu-bulu akar. Perakaran akan berkembang baik jika
tanahnya gembur, mudah menyerap air, dan subur.

Tanaman tembakau memiliki bentuk batang agak bulat, agak lunak tetapi
kuat, makin ke ujung, makin kecil. Ruas-ruas batang mengalami penebalan yang
ditumbuhi daun, batang tanaman bercabang atau sedikit bercabang. Pada setiap
ruas batang selain ditumbuhi daun, juga ditumbuhi tunas ketiak daun, diameter
batang sekitar 5 cm.
Daun tanaman tembakau berbentuk bulat lonjong (oval) atau bulat,
tergantung pada varietasnya. Daun yang berbentuk bulat lonjong ujungnya
meruncing, sedangkan yang berbentuk bulat, ujungnya tumpul. Daun memiliki
tulang-tulang menyirip, bagian tepi daun agak bergelombang dan licin. Lapisan
atas daun terdiri atas lapisan palisade parenchyma dan spongy parenchyma pada
bagian bawah. Jumlah daun dalam satu tanaman sekitar 28- 32 helai. Daun
tembakau merupakandaun tunggal. Lebar daun 2 30 cm, panjang tangkai 1 2
cm. Warna daun hijau keputih-putihan.
Tanaman tembakau berbunga majemuk yang tersusun dalam beberapa
tandan dan masing masing tandan berisi sampai 15 bunga. Bunga berbentuk
terompet dan panjang, terutama yang berasal dari keturunan Nicotiana tabacum,
sedangkan dari keturunan Nicotiana rustika, bunganya lebih pendek, warna bunga
merah jambu sampai merah tua pada bagian atas. Bunga tembakau berbentuk
malai, masing-masing seperti terompet dan mempunyai bagian sebagai berikut:
a. Kelopak bunga, berlekuk dan mempunyai lima buah pancung.
b. Mahkota bunga berbentuk terompet, berlekuk merah dan berwarna merah
jambu atau merah tua dibagian atasnya. Sebuah bunga biasanya mempunyai
lima benang sari yang melekat pada mahkota bunga, dan yang satu lebih
pendek dari yang lain.
c. Bakal buah terletak diatas dasar bunga dan mempunyai dua ruang yang
membesar.
d. Kepala putik terletak pada tabung bunga yang berdekatan dengan benang sari.
Tinggi benang sari dan putik hampir sama. Keadaan ini menyebabkan
tanaman tembakau lebih banyak melakukan penyerbukan sendiri, tetapi tidak
tertutup kemungkinan untuk penyerbukan silang.
Tembakau memiliki bakal buah yang berada di atas dasar bunga dan terdiri
atas dua ruang yang dapat membesar, tiap-tiap ruang berisi bakal biji yang banyak

sekali. Penyerbukan yang terjadi pada bakal buah akan membentuk buah. Sekitar
tiga minggu setelah penyerbukan, buah tembakau sudah masak. Setiap
pertumbuhan yang norrmal, dalam satu tanaman terdapat lebih kurang 300 buah.
Buah tembakau berbentuk bulat lonjong dan berukuran kecil, di dalamnya berisi
biji yang bobotnya sangat ringan. Dalam setiap gram biji berisi 12.000 biji.
Jumlah biji yang dihasilkan pada setiap tanaman rata-rata 25 gram.
Pemanfaatan:
1. Luka
Bahan: 25 gr daun tembakau segar
Cara membuat: bahan dicuci bersih, ditumbuk halus. Tambahkan 25 ml minyak
tanah ke dalam tumbukan, aduk rata dan peras.
Cara menggunakan: oleskan air perasan itu ke bagian yang luka
2. Insektisida
Tanamannya bermanfaat sebagai pemberantas hama seperti: beberapa jenis
serangga, ulat, dan lintah.
3. Kurap
Cara membuat: daun tembakau secukupnya lalu dicuci bersih, ditumbuk halus.
Cara menggunakan: oleskan pada bagian kulit yang kurap
4. Gigitan Lintah
Cara menggunakan : pada saat digigit lintah, ambillah tembakau secukupnya dan
tempelkan pada badan lintah. Beberapa saat lintah akan mati keracunan.
III.

1.
2.
3.
4.
5.

Bahan dan Alat

a. Bahan
Serbuk daun tembakau
Aquadest
Alcohol Klorhidrat
Amil alcohol
Serbuk Mg

6. Pereaksi Dragendorf
7. Pereaksi Mayer
8. Larutan FeCl3 1%
9. Pereaksi Liebermann Burchard
10. Larutan NaOH 1N
b. Alat

1.
2.
3.
4.
5.

Tabung Reaksi
Pipet Tetes
Kertas Saring
Corong
Beaker glass

6.
7.
8.
9.

Kaca arloji
Cawan porselen
Pembakar spiritus
Kaki tiga

IV. Prosedur

Golongan
Kimia
Alkaloid

Metoda ekstraksi

Pereaksi

Pengamatan

Reaksi Positif
0,5 g serbuk simplisia + 1 3 ml larutan pada kaca Endapan coklat
ml HCl 2N, + 9 ml air, arloji ditambah 2 tetes
panaskan di atas penangas pereaksi Dragendorff.

Endapan putih

air

atau

kuning

yang

larut

selarna

menit,

dinginkan dan saring.

3 ml larutan pada kaca


arloji ditambah 2 tetes

dalam metanol

pereaksi Mayer.
Flavonoid

1 g serbuk + 100 ml air 5 ml lar. + 0,3 g serbuk Warna


panas, didihkan selama 5 (lempeng) Mg + 1 ml amil
menit,

saring,

digunakan

filtrat alkohol

dalam
alkohol

klorhidrat (merah, kuning

untuk (campuran HCl 37% atau jingga)

percobaan berikutnya.

dan etanol 95% dengan


volume

yang

sama),

tambahkan

amil

alkohol, kocok kuatSaponin

Digunakan
diperoleh
flavonoid.

filtrat
pada

kuat, biarkan memisah


yang 10 ml larutan dalam Terbentuk busa
uji tabung reaksi dikocok
vertikal

selama

10

detik, dibiarkan selama


10 menit

yang stabil di
dalam tabung
reaksi

Tanin

Digunakan
diperoleh

filtrat
pada

yang Ke

Digunakan
diperoleh

masing-

uji masing 5 ml larutan

flavonoid.

Kuinon

dalam

tambahkan

filtrat
pada

beberapa
Hijau violet
Endapan putih

tetes :
Larutan FeCl3 1%
Larutan Gelatin
yang Ke dalam 5 ml larutan
uji tambahkan

flavonoid.

beberapa

Warna merah

tetes larutan NaOH 1N

Triterpenoid

1 g serbuk dimaserasi 5

eter

Warna merah

atau Steroid

dengan 20 ml eter selama diuapkan

dalam

jingga/ungu

penguap,

(triterpenoid)

digunakan untuk reaksi tambahkan ke dalam

atau hijau-biru

jam,

saring,

ml

larutan

filtrat cawan

berkutnya

di

residu 2 tetes asam

(steroid)

asetat anhidrid dan 1


tetes asam sulfat pekat
(reaksi

Liebermann

Burchard)

V. Hasil Percobaan :

Golongan

Metoda ekstraksi

Pereaksi

Pengamatan

Hasil

Kimia

Reaksi

Pengamatan

Alkaloid

Positif
0,5 g serbuk simplisia 3 ml larutan pada Endapan
+ 1 ml HCl 2N, + 9 kaca

arloji coklat

coklat)

ml air, panaskan di ditambah 2 tetes


atas
selama

penangas
2

Positif
(Endapan

air pereaksi

menit, Dragendorff.

dinginkan dan saring.

Endapan

3 ml larutan pada putih


kaca

Positif
atau

arloji kuning yang

ditambah 2 tetes larut


Flavonoid

dalam

pereaksi Mayer. metanol


1 g serbuk + 100 ml 5 ml lar. + Warna dalam
air

panas,didihkan serbuk

selama

amilalkohol

Positif
(kuning)

menit, (lempeng) Mg +

saring,

filtrat 1

ml alkohol

digunakan

untuk klorhidrat,

percobaan

tambahkan

berikutnya.

amilalkohol,
kocok kuat-kuat,

Saponin

Digunakan

biarkan memisah
filtrat 10 ml larutan Pembentukan

yang diperoleh pada dalam


uji flavonoid.

reaksi
vertikal

tabung busa

yang

dikocok stabil

di

Negatif
(busa tidak
stabil)

selama dalam tabung

10

detik, reaksi

dibiarkan selama
Tanin

Digunakan

10 menit
filtrat Ke

dalam

yang diperoleh pada masing-masing 5


uji flavonoid.

ml

larutan

tambahkan

Hijau violet

beberapa tetes :
- Larutan
FeCl3

Kuinon

Digunakan

Endapan

1%
putih
- Larutan Gelatin
filtrat Ke dalam 5 ml Warna merah

yang diperoleh pada larutan


uji flavonoid.

Positif
-

Negatif
(warna coklat)

tambahkan
beberapa
larutan

tetes
NaOH

Triterpeno

1N
1 g serbuk dimaserasi 5 ml larutan eter Warna merah

id/Steroid

dengan 20 ml eter diuapkan

di atau hijau

Negatif
(warna coklat)

selama 2 jam, saring, dalam


filtrat

cawan

digunakan penguap,

untuk

reaksi tambahkan

berkutnya

ke

dalam residu 2
tetes asam asetat
anhidrat dan 1
tetes asam sulfat
pekat

(pereaksi

Liebermann
Burchard)

Hasil Identifikasi Golongan Senyawa Berkhasiat dalam Tumbuhan


Alkaloid
Steroid/Triterpenoid
Flavonoid
(Dragendorf dan Mayer)

Positif

Positif

Negatif

Positif

(terbentuk

(terdapat

(terbentuk warna coklat)

(terbentuk warna

Saponin

kuning)
Kuinon

endapan coklat)
embun)
Tanin (FeCl3 1%)

Positif

Negatif

Negatif

(terbentuk warna

(terbentuk busa yang

(tidak terbentuk

hijau violet)

tidak stabil di dalam

warna merah)

tabung reaksi)

VI. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan uji identifikasi golongan senyawa
alkaloid, steroid/triterpenoid, flavonoid, saponin, tanin dan kuinon pada sampel
yang telah ditentukan. Sampel yang digunakan dalam praktikum ini adalah
simplisia tembakau.
Berdasarkan hasil praktikum pada uji alkaloid jika hasil positif alkaloid
pada uji mayer ditandai dengan terbentuknya endapan putih. Endapan tersebut
adalah kompleks merkuri-alkaloid. Pada pembuatan pereaksi mayer, larutan
merkurium (II) klorida ditambah kalium iodida akan berekasi membentuk endapan merkuri
(II) iodida. Jika kalium iodida yang ditambahkan berlebih maka akan terbentuk
kalium tetraiodomerkurat (II). Alkaloid mengandung atom nitrogen yang
mempunyai pasangan elektron bebas sehingga dapat digunakan untuk membentuk
ikatan kovalen koordinat dengan ion logam. Pada uji alkaloid dengan pereaksi
mayer, nitrogen pada alkaloid akan bereaksi dengan ion logam Hg dari kalium
tetraiodomerkurat (II) membentuk kompleks merkuri-alkaloid yang mengendap,
hasil yang didapat tidak menghasilkan endapan putih, hal ini kemungkinan
disebabkan pada saat pembuatan reaksi meyer tidak sempurna sehingga tidak
dapat bereaksi dengan filtrat tembakau sehingga tidak terbentuk endapan putih

melainkan terbentuk embun, sedangkan pada saat ditambah pereaksi Dragendorff


menghasilkan reaksi positif yaitu menghasilkan endapan warna coklat. Hal ini
menunjukkan bahwa tembakau mengandung senyawa alkaloid.
Uji steroid/triterpenoid bertujuan untuk mengetahui adanya kandungan
steroid/triterpenoid pada simplisia tembakau. Pelarut yang digunakan adalah nheksan yang bersifat nonpolar karena steroid merupakan senyawa organik yang
memiliki sifat nonpolar sehingga steroid dapat larut dalam pelarut nonpolar.
Larutan yang telah dikocok kemudian disaring dengan tujuan untuk memisahkan
residu tembakau dari filtrat. Filtrat yang diperoleh kemudian diuapkan. Penguapan
berfungsi untuk menghilangkan pelarut n-heksan yang tersisa pada filtrat. Residu
yang diperoleh dari penguapan kemudian ditambah dengan asam asetat anhidrat
dimana asam asetat anhidrat akan bereaksi dengan steroid melalui reaksi asetilasi
menghasilkan kompleks asetil steroid. Penambahan H2SO4 pekat bertujuan untuk
mendekstruksi kompleks asetil steroid. H 2SO4 pekat lebih bersifat reaktif jika
bereaksi dengan steroid dibandingkan dengan asam asetat anhidrat. Hal ini
dikarenakan kemampuan H2SO4 yang lebih mudah masuk mengatasi efek sterik
yang besar dari molekul steroid sehingga senyawa kompleks yang dihasilkan lebih
stabil dari kompleks asetil steroid. Uji positif terhadap steroid adalah jika
terbentuk larutan berwarna hijau-biru. Sedangkan uji positif terhadap triterpenoid
adalah jika terbentuk warna merah, jingga atau ungu. Pada percobaan ini
menghasilkan warna coklat. Hal ini menunjukkan bahwa tembakau tidak
mengandung senyawa golongan steroid/triterpenoid.
Flavonoid adalah senyawa polifenol yang mempunyai 15 atom kuinon,
terdiri dari 2 cincin benzena yang dihubungkan menjadi rantai linear yang terdiri
dari 3 atom karbon. Penentuan uji flavonoid dilakukan dengan menambahkan
serbuk Mg dan larutan HCl pada filtrat. Pada proses penambahan ini terjadi reaksi
eksoterm yaitu reaksi yang melepaskan panas yang ditandai dengan terbentuknya
gelembung-gelembung gas dan pelepasan kalor pada permukaan tabung reaksi.
Gelembung gas yang terbentuk ini adalah gas H 2. Reaksi yang terjadi merupakan
pembentukan ikatan baru dimana adanya MgCl+ mampu melarutkan flavon
sehingga flavonoid dapat dipisahkan dari golongan kimia lain. Penambahan

amilalkohol berfungsi untuk melarutkan flavonoid. Hal ini disebabkan flavonoid


merupakan senyawa polar sehingga amilalkohol yang juga bersifat polar mampu
memisahkan flavonoid dari senyawa-senyawa yang bersifat non polar, misalnya
kuinon. Larutan dikocok dengan tujuan untuk memperbesar distribusi flavonoid
ke dalam amilalkohol. Uji positif untuk flavonoid adalah terbentuknya larutan
berwarna merah, kuning atau jingga. Setelah dikocok, terbentuk 2 lapisan.
Lapisan atas berwarna kuning dan lapisan bawah terdapat endapan serbuk Mg.
Hal ini menunjukkan bahwa tembakau mengandung flavonoid.
Tanin merupakan senyawa yang mengandung gugus hidroksi (turunan
benzena) yang dapat larut dalam air karena adanya ikatan hidrogen antara gugus
hidroksil yang dimiliki tanin dengan molekul air. Oleh karena itu, penentuan tanin
pada serbuk daun tembakau dilakukan dengan penambahan air pada serbuk
simplisia yang kemudian dipanaskan. Tanin yang bersifat polar akan larut dalam
air yang bersifat polar, hal ini sesuai dengan prinsip like dissolve like. Kelarutan
tanin yang tinggi terjadi dalam keadaan panas karena alasan inilah maka
dilakukan proses pemanasan agar tanin yang terlarut semakin banyak. Selain itu
proses pemanasan juga berfungsi untuk memecah ikatan-ikatan pada tanin
sehingga dihasilkan bentuk monomer-monomer tanin bebas. Selanjutnya adalah
penyaringan yang bertujuan untuk memisahkan tanin dari simplisia dan senyawa
lain

yang

terkandung

Larutan/filtrat

didalamnya

seperti

alkaloid,

steroid,

flavonoid.

ditambahkan FeCl3 1%. Penambahan FeCl3 berfungsi sebagai

sumber atom pusat, dimana tanin merupakan ligan yang membutuhkan atom pusat
untuk membentuk kompleks yang stabil, sehingga terbentuklah kompleks antara
atom pusat Fe3+ dengan ligan tanin. Uji positif yaitu terbentuk larutan berwarna
hijau violet. Hal ini menunjukkan tembakau mengandung senyawa golongan
tanin.
Saponin merupakan suatu glikosida dengan gugus hidroksil pada
molekulnya dengan rumus C32H18O7. Saponin mempunyai sifat seperti sabun,
yang ketika dilarutkan dalam air akan terbentuk busa atau buih. Metode pengujian
saponin dilakukan dengan memanaskan serbuk simplisia ke dalam air. Tujuan
pemanasan ini adalah untuk memperbesar kelarutan saponin dalam air.

Penyaringan dilakukan dalam keadaan panas, hal ini dilakukan agar kandungan
saponin tidak berkurang bila suhu menurun. Penyaringan ini bertujuan untuk
memisahkan saponin dari simplisia dan senyawa lain yang terkandung
didalamnya seperti misalnya alkaloid, steroid, flavonoid. Filtrat yang dihasilkan
kemudian dikocok secara vertikal hingga terbentuk busa. Hal ini disebabkan
saponin merupakan senyawa yang bersifat seperti sabun, dimana memiliki gugus
hidrofil dan hidrofob yang dapat bertindak sebagai permukaan aktif dalam
pembentukan busa. Uji positif untuk saponin adalah dengan terbentuknya busa
yang stabil. Saponin dapat larut dalam air karena adanya gugus hidrofil (OH)
yang dapat membentuk ikatan hidrogen dengan molekul air. Pada percobaan ini
simplisia tembakau menghasilkan busa yang tidak stabil sehingga tidak
mengandung saponin.

Kuinon merupakan senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar


seperti kromofor pada benzakuionon yang terdiri dari 2 gugus karbonil yang
berkonjugasi dengan R ikatan rangkap karbon. Penentuan adanya kuinon
dilakukan dengan mendidihkan simplisia ke dalam air. Pendidihan berfungsi
untuk memperbesar kelarutan kuinon dalam air..Setelah itu larutan disaring untuk
memisahkan residu simplisia tembakau dari filtrat yang diperkirakan terdapat
kuinon. Filtrat hasil penyaringan ditambahkan NaOH. Penambahan NaOH
berfungsi untuk mendeprotonasi gugus fenol pada kuinon sehingga terbentuk ion
enolat. Ion enolat tersebut akan mampu mengadakan resonansi antar elektron pada
ikatan rangkap , karena terjadinya resonansi ini ion enolat dapat menyerap
cahaya tertentu dan memantulkan warna. Uji positif terhadap keberadaan kuinon
yaitu jika larutan memberikan warna merah. Pada percobaan ini tidak terbentuk
larutan berwarna merah melainkan larutan tetap

berwarna coklat. Hal ini

menunjukkan bahwa pada percobaan ini menghasilkan uji negatif, karena tidak
menghasilkan larutan berwarna merah sehingga tembakau tidak mengandung
senyawa kuinon.
Alkaloid adalah senyawa metabolit sekunder yang bersifat basa, yang
mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam cincin heterosiklik,

dan bersifat aktif biologis menonjol yang berguna melindungi tanaman dari
predator (serangga dan bianatang), sebagai hasil akhir dari reaksi detoksifikasi
yang merupakan hasil metabolit akhir dari komponen yaitu limbah yang tidak
berfungsi sebagai substansi simpanan atau sebagai regulator pertumbuhan.
Alkaloid banyak dimanfaatkan oleh manusia karena memiliki efek farmakologi
yang dapat menstimulasi saraf pusat. Flavonoid bertindak sebagai antiradang,
antioksidan dan berfungsi menetralisir radikal bebas sehingga meminimalkan efek
kerusakan pada sel dan jaringan tubuh. Kandungan tanin bertindak sebagai
antiseptik.

VII.

Kesimpulan
Skrining fitokimia merupakan penapisan senyawa kimia yang terkandung

dalam tanaman

untuk mendeteksi

adanya

golongan senyawa alkaloid,

triterpenoid/steroid, flavonoid, tanin, saponin dan kuinon. Berdasarkan hasil


praktikum dapat disimpulkan bahwa simplisia daun tembakau positif mengandung
senyawa golongan alkaloid, flavonoid, dan tanin. Alkaloid pada tanaman berguna
untuk melindungi tanaman dari predator (serangga dan bianatang). Flavonoid
bertindak sebagai antiradang, antioksidan dan berfungsi menetralisir radikal bebas
sehingga meminimalkan efek kerusakan pada sel dan jaringan tubuh. Kandungan
tanin bertindak sebagai antiseptik.

DAFTAR PUSTAKA

Tim Dosen Fitokimia. 2015. Penuntun Praktikum Fitokimia. Akademi Farmasi


Saraswati : Denpasar

Anonim. 2014. Percobaan Penapisan Fitokimia. (Online) Tersedia :


http://coret-coretannajih.blogspot.com/percobaan-iv-penapisanfitokimiawi.html ( diakses 12 Maret 2015 )

Skylander,Dachlan, dkk. Alkaloid dan Flavonoid. (Online) Tersedia :


https://www.scribd.com/doc/78221055/Alkaloid-Dan-Flavonoid ( diakses 12
Maret 2015)

Kuswandi, Atin. 2014. Memanfaatkan Obat Tradisional Sunda Dalam


Mengobati Penyakit. (Online) Tersedia : http://blogkabehbaraya.blogspot.in/
Diakses : 13 Maret 2015