Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem persarafan terdiri atas otak, medula spinalis, dan saraf perifer.
Struktur ini bertanggung jawab mengendalikan dan menggordinasikan
aktivitas sel tubuh melalui impuls-impuls elektrik. Perjalanan impuls-impuls
tersebut berlangsung melalui serat-serat saraf dan jaras-jaras. Secara langsung
dan terus menerus. Perubahan potensial elektrik menghasilkan respons yang
akan mentransmisikan sinyal-sinyal ( Batticaca, F., 2008 ).
Tengkorak adalah tulang kerangka dari kepala yang disusun menjadi dua
bagian kranium(adakalanya disebut kalvaria) terdiri atas delapan tulang, dan
kerangka wajah terdiri atas empat belas tulang. Rongga tengkorak mempunyai
permukaan dalam ditandai dengan gili-gili dan lekukan supaya dapat sesuai
dengan otak dan pembuluh darah ( Pearce, E., 2002 ).
Cedera kepala adalah merupakan proses dimana terjadi trauma langsung
atau deselerasi terhadap kepala yang menyebabkan kerusakan tengkorak dan
otak ( Pierce & Borley, 2006 ).
Komplikasi yang ditakutkan pada cedera kepala adalah terjadinya
hematoma subdural atau epidural, yang dapat mengakibatkan herniasi dan
penekanan batang otak yang berakibat fatal (Weiner, H. L., 2001).
Kraniotomi adalah mencakup pembukaan tengkorak

melalui

pembedahan untuk meningkatkan akses pada struktur intrakranial. Prosedur


ini dilakukan untuk meghilangkan tumor, mengurangi tekanan intakranial,
mengevaluasi bekuan darah dan mengontrol hemoeragi ( Brunner & Suddarth,
2002 ).
Cidera kepala atau trauma kepala merupakan salah satu penyebab
kematian utama pada kelompok umur produktif dan sebagian besar terjadi
akibat kecelakaan lalu lintas. Tidak hanya berakibat pada tingginya angka
kematian pada korban kecelakaan. Justru, yang harus menjadi perhatian adalah
banyaknya kasus kecacatan dari korban kecelakaan. Khususnya, korban
kecelakaan yang menderita cedera kepala.
Dampak dari menderita cedera kepala tentu akan terdapat komplikasi
yang mungkin timbul, terlebih setelah penderita mendapat tindakan

pembedahan. Selain itu, kebutuhan perawatan pada pasien dengan menderita


cedera kepala akan berbeda-beda, tergantung pada tingkat keparahan atau
sesuai dengan kondisi yang dialami pasien.
Berdasarkan hal-hal dikemukakan di atas maka penulis tertarik untuk
mempelajari kasus dengan judul Asuhan Keperawatan pada klien Tn. D
Umur 18 Tahun dengan Gangguan Sistem Persarafan : Trauma Kepala Post
Craniotomy
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1
Bagaimana konsep dasar penyakit trauma kepala?
1.2.2
Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada klien dengan trauma
kepala?
1.2.3
Bagaimana asuhan keperawatan pada Tn. D dengan trauma kepala
subdural hematoma post craniotomy?
1.2.4
Bagaimana komplikasi yang dapat ditimbulkan pada kondisi yang
dialami Tn. D?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1
Untuk mengetahui konsep dasar penyakit trauma kepala
1.3.2
Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan pada klien dengan
trauma kepala
1.3.3
Untuk memahami asuhan keperawatan pada Tn. D dengan trauma
kepala subdural hematoma post craniotomy
1.3.4
Untuk mengetahui komplikasi yang dapat ditimbulkan pada
kondisi yang dialami Tn. D

1.4 Manfaat Penulisan


Diharapkan dengan disusunnya makalah ini, penulis khususnya dapat
lebih memahami bagaimana konsep asuhan keperawatan pada klien dengan
gangguan sistem persarafan yang mengalami trauma kepala, dan semoga
makalah ini dapat menjadi salah satu sumber pembelajaran bagi pembaca.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Konsep Dasar Penyakit
2.1.1 Pengertian
a) Cedera kepala
Trauma atau cedera kepala dikenal sebagai cedera otak
adalah gangguan fungsi normal otak karena trauma baik trauma
tumpul maupun trauma tajam. Defisit neurologis terjadi karena
robeknya substansia alba, iskemia, dan pengaruh massa karena
haemorargik, serta udim serebral disekitar otak (Batticaca, 2008).
Cedera kepala atau cedera otak merupakan suatu gangguan
traumatik dari fungsi otak yang di sertai atau tanpa di sertai
perdarahan innterstiil dalm substansi otak tanpa di ikuti
terputusnya kontinuitas otak. (Arif Muttaqin, 2008)
b) Craniotomy
Craniotomy adalah perbaikan pembedahan, reseksi atau
pengangkatan pertumbuhan atau abnormalitas di dalam kranium,
terdiri atas pengangkatan dan penggantian tulang tengkorak untuk
memberikan pencapaian pada struktur intracranial (Susan M,
Tucker, Dkk. 1998)
2.1.2

Etiologi
Penyebab cedera kepala adalah kecelakaan lalu lintas,
perkelahian, jatuh, cedera olah raga, kecelakaan kerja, cedera
kepala terbuka sering disebabkan oleh pisau atau peluru (Corwin,
2000).

2.1.3

Patofisiologi
Patofisiologis dari cedera kepala traumatic dibagi dalam
proses primer dan proses sekunder. Kerusakan yang terjadi
dianggap karena gaya fisika yang berkaitan dengan suatu trauma
yang relative baru terjadi dan bersifat irreversible untuk sebagian
besar daerah otak. Walaupun kontusio dan laserasi yang terjadi
pada permukaan otak, terutama pada kutub temporal dan

permukaan orbital dari lobus frontalis, memberikan tanda-tanda


jelas tetapi selama lebih dari 30 tahun telah dianggap jejas akson
difus pada substasi alba subkortex adalah penyebab utama
kehilangan kesadaran berkepanjangan, gangguan respon motorik
dan pemulihan yang tidak komplit yang merupakan penanda pasien
yang menderita cedera kepala traumatik berat.
a. Proses Primer
Proses primer timbul langsung pada saat trauma terjadi. Cedera
primer biasanya fokal (perdarahan, konusi) dan difus (jejas
akson difus). Proses ini adalah kerusakan otak tahap awal yang
diakibatkan oleh benturan mekanik pada kepala, derajat
kerusakan tergantung pada kuat dan arah benturan, kondisi
kepala yang bergerak diam, percepatan dan perlambatan gerak
kepala. Proses primer menyebabkan fraktur tengkorak,
perdarahan segera intrakranial, robekan regangan serabut saraf
dan kematian langsung pada daerah yang terkena.
b. Proses Sekunder
Kerusakan sekunder timbul beberapa waktu setelah trauma
menyusul kerusakan primer. Dapat dibagi menjadi penyebab
sistemik dari intrakranial. Dari berbagai gangguan sistemik,
hipoksia (kekurangan o2 dlm jaringan) dan hipotensi
merupakan

gangguan

yang

paling

berarti.

Hipotensi

menurunnya tekanan perfusi otak sehingga mengakibatkan


terjadinya iskemi (defisiensi darah suatu bagian) dan infark
otak. Perluasan kerusakan jaringan otak sekunder disebabkan
berbagai faktor seperti kerusakan sawar darah otak, gangguan
aliran darah otak metabolisme otak, gangguan hormonal,
pengeluaran bahan-bahan neurotrasmiter dan radikal bebas.
Trauma saraf proses primer atau sekunder akan menimbulkan
gejala-gejala neurologis yang tergantung lokasi kerusakan.
Kerusakan sistem saraf motorik yang berpusat dibagian
belakang lobus frontalis akan mengakibatkan kelumpuhan pada

sisi lain. Gejala-gejala kerusakan lobus-lobus lainnya baru akan


ditemui setelah penderita sadar. Pada kerusakan lobus oksipital
akan dujumpai ganguan sensibilitas kulit pada sisi yang
berlawanan. Pada lobus frontalis mengakibatkan timbulnya
seperti dijumpai pada epilepsi lobus temporalis.
Kelainan metabolisme yang dijumpai pada penderita cedera
kepala disebabkan adanya kerusakan di daerah hipotalamus.
Kerusakan dibagian depan hipotalamus akan terjadi hepertermi.
Lesi di regio optika berakibat timbulnya edema paru karena
kontraksi sistem vena. Retensi air, natrium dan klor yang
terjadi pada hari pertama setelah trauma tampaknya disebabkan
oleh

terlepasnya

hormon

ADH

dari

daerah

belakang

hipotalamus yang berhubungan dengan hipofisis. Setelah


kurang lebih 5 hari natrium dan klor akan dikeluarkan melalui
urine dalam jumlah berlebihan sehingga keseimbangannya
menjadi negatif. Hiperglikemi dan glikosuria yang timbul juga
disebabkan

keadaan

perangsangan

pusat-pusat

yang

mempengaruhi metabolisme karbohidrat didalam batang otak.


Batang otak dapat mengalami kerusakan langsung karena
benturan atau sekunder akibat fleksi atau torsi akut pada
sambungan serviks medulla, karena kerusakan pembuluh darah
atau karena penekanan oleh herniasi unkus.
Gejala-gejala yang dapat timbul ialah fleksiditas umum yang
terjadi

pada

lesi

tranversal

dibawah

nukleus

nervus

statoakustikus, regiditas deserebrasi pada lesi tranversal


setinggi nukleus rubber, lengan dan tungkai kaku dalam sikap
ekstensi dan kedua lengan kaku dalam fleksi pada siku terjadi
bila hubungan batang otak dengan korteks serebri terputus.
Pathway cedera kepala

2.1.4

v
Sumber : www.google.com
Kasifikasi dan Manifestasi klinis

Berdasarkan Mekanisme , cedera kepala dibagi menjadi dua, yaitu :


a. Trauma Tumpul : adalah trauma yang terjadi akibat kecelakaan
kendaraan bermotor, kecelakaan saat olahraga, kecelakaan saat
bekerja, jatuh, maupun cedera akibat kekerasaan (pukulan).
b. Trauma Tembus : adalah trauma yang terjadi karena tembakan
maupun tusukan benda-benda tajam/runcing.
The Traumatic Coma Data Bank mengklasifisikan cedera kepala
berdasarkan Glasgow Coma Scale ( Mansjoer, dkk, 2000) :

a. Cedera Kepala Ringan/Minor (Kelompok Risiko Rendah) yaitu,


GCS 14-15, pasien sadar dan berorientasi, kehilangan kesadaran
atau amnesia < dari 30 menit, tidak ada intoksikasi alkohol atau
obat terlarang, klien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing,
tidak terdapat fraktur tengkorak, kontusio, hematom , tidak ada
kriteria cedera sedang sampai berat.
b. Cedera Kepala Sedang (Kelompok Risiko Sedang) yaitu GCS 913 (konfusi, letargi dan stupor), pasien tampak kebingungan,
mengantuk, namun masih bisa mengikuti perintah sederhana,
hilang kesadaran atau amnesia > 30 menit tetapi < 24 jam,
konkusi, amnesia paska trauma, muntah, tanda kemungkinan
fraktur kranium (tanda battle, mata rabun, hemotimpanum,
otorhea atau rinorhea cairan serebrospinal).
c. Cedera Kepala Berat (Kelompok Risiko Berat) yaitu GCS 3-8
(koma),

penurunan

derajat

kesadaran

secara

progresif,

kehilangan kesadaran atau amnesia > 24 jam, tanda neurologis


fokal, cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi
cranium. (Arif Muttaqin, 2008)
Berdasarkan perdarahan pada otak (Arif Muttaqin,2008) yaitu :
a. Hematoma intraserebral (ISH) adalah pendarahan yang terjadi pada
jaringan otak yang biasanya akibat robekan pembulu darah yang ada
pada jaringan otak. Secara klinis ditandai dengan adanya penurunan
kesadaran yang kadang-kadang disertai lateralisasi. Pada CT-Scan
didapatkan adanya area hiperdens yang merupakan indikasi
dilakukannya operasi.
b. Hematoma subdural (SDH) adalah terkumpulnya darah antara
durameter dan jaringan otak dapat terjadi akut dan kronis. Terjadi
akibat pecahnya pembuluh darah vena atau jembatan vena yang
biasanya terdapat diantara durameter, perdarahan lambat dan sedikit.
Pengertian lain hematoma subdural adalah hematoma yang terletak
dibawah durameter dengan sumber perdarahan dapat berasal dari

bridging vein, A/V kortikal dan sinus venosus duralis beradasarkan


waktu terjadinya perdarahan maka hematoma subdural dibagi 3,
yaitu :
1. Subdural hematoma akut, terjadi kurang dari 3 hari dari
kejadian.
2. Subdural hematoma subakut, terjadi antara 3 hari sampai 3
minggu.
3. Subdural hematoma kronik, terjadi lebih dari 3 minggu.
Secara klinik subdural hematoma akut ditandai dengan adanya
penurunan kesadaran disertai adanya lateralisasi yang paling sering
berupa hemiparese/plegi dan pada pemeriksaan CT-Scan menunjukan
gambaran hiperdens yang berupa bulan sabit. Gejala dari hematoma
subdural meliputi keluhan nyeri kepala, bingung, mengantuk, menarik
diri, perubahan proses pikir, kejang, dan udim pupil.
Indikasi operasi, menurut Europe Brain Injury Commition (EBIC),
pada perdarahan subdural adalah jika perdarahan lebih dari 1 cm. Jika
terdapat pergesaran garis tengah labih dari 5 mm. Operasi yang
dilakukan

adalah

evakuasi

hematoma,

menghentikan

sumber

perdarahan. Bila ada edema serebi biasanya tulang tidak dikemalikan


(dekompresi) dan disimpan sugalea. Prognosis dari klien SDH
ditentukan dari GCS awal saat operasi, lamanya klien datang sampai
dilakukan operasi, lesi penyerta dijaringan otak, serta usia klien pada
klien dengan GCS kurang dari 8 prognosisnya 50%, semakin rendah
GCS maka semakin jelek prognosisnya. Semakin tua klien maka
semakin jelek prognosisnya. Adanya lesi lain akan memperjelek
prognosisnya.
Gejala dari subdural hematoma meliputi keluhan nyeri kepala,
bingung,mengantuk, menarik diri, perubahan proses pikir (berpikir
lambat), kejang, dan edema pupil.
c. Hematoma Epidural adalah hematoma yang terletak antara durameter
dan tulang, biasanya sumber perdarahannya adalah robeknya arteri
tunika media, vena diploica (oleh karena adanya fraktur kalvaria),
vena emisaria, sinus venosus duralis. Secara klinis ditandai dengan

penurunan kesadaran yang disertai lateralisasi (ada ketidaksamaan


antara tanda-tanda neurologis sisi kiri dan kanan tubuh) yang dapat
berupa hemiparese/plegi, pupil anisokor, adanya refleks patologi 1
sisi, adanya lateralisasi dan jejas pada kepala menunjukan lokasi pada
EDH.
2.1.5 Komplikasi
a. Perdarahan intra cranial
b. Kejang
c. Parese saraf cranial
d. Meningitis atau abses otak
e. Infeksi
f. Edema cerebri
g. Kebocoran cairan serobospinal
2.1.6 Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium : darah lengkap, urine, kimia darah,
analisa gas darah.
2. CT-Scan (dengan atau tanpa kontras: mengidentifikasi luasnya
lesi, perdarahan, determinan ventrikuler, dan perubahan
jaringan otak.
3. MRI : digunakan sama seperti CT-Scan dengan atau tanpa
kontras radioaktif.
4. Cerebral Angiography:

menunjukkan

anomali

sirkulasi

cerebral, seperti perubahan jaringan otak sekunder menjadi


udema, perdarahan dan trauma.
5. X-Ray : mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur),
perubahan struktur garis (perdarahan, edema), fragmen tulang.
Ronsent Tengkorak maupun thorak.
6. CSF, Lumbal Punksi : dapat dilakukan jika diduga terjadi
perdarahan subarachnoid.
7. ABGs : Mendeteksi keberadaan ventilasi atau masalah
pernafasan (oksigenasi) jika terjadi peningkatan tekanan
intrakranial.
8. Kadar Elektrolit:Untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit
sebagai akibat peningkatan tekanan intrakranial (Musliha,
2010).

2.1.7 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan medik cedera kepala yang utama adalah
mencegah terjadinya cedera otak sekunder. Cedera otak sekunder
disebabkan oleh faktor sistemik seperti hipotensi atau hipoksia atau
oleh karena kompresi jaringan otak (Tunner, 2000). Pengatasan nyeri
yang adekuat juga direkomendasikan pada pendertia cedera kepala
(Turner, 2000).
Penatalaksanaan umum adalah:
1. Nilai fungsi saluran nafas dan respirasi
2. Stabilisasi vertebrata servikalis pada semua kasus trauma
3. Berikan oksigenasi
4. Awasi tekanan darah
5. Kenali tanda-tanda shock akibat hipovelemik atau neurogenik
6. Atasi shock
7. Awasi kemungkinan munculnya kejang.
Penatalaksanaan lainnya:
1. Dexamethason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema
serebral, dosis sesuai dengan berat ringannya trauma.
2. Therapi hiperventilasi (trauma kepala berat).

Untuk

mengurangi vasodilatasi.
3. Pemberian analgetika
4. Pengobatan anti oedema dengan larutan hipertonis yaitu
manitol 20% atau glukosa 40 % atau gliserol 10 %.
5. Antibiotika yang mengandung barrier darah otak (penisilin).
6. Makanan atau cairan. Pada trauma ringan bila terjadi muntahmuntah tidak dapat diberikan apa-apa, hanya cairan infus
dextrosa 5% , aminofusin, aminofel (18 jam pertama dan
terjadinya kecelakaan), 2-3 hari kemudian diberikana makanan
lunak.
Pada trauma berat, hari-hari pertama (2-3 hari), tidak terlalu banyak
cairan. Dextrosa 5% untuk 8 jam pertama, ringer dextrose untuk 8 jam
kedua dan dextrosa 5% untuk 8 jam ketiga. Pada hari selanjutnya bila
kesadaran rendah, makanan diberikan melalui ngt (2500-3000 tktp).
Pemberian protein tergantung nilai urea.
Tindakan terhadap peningktatan TIK yaitu:
1. Pemantauan TIK dengan ketat

10

2.
3.
4.
5.
6.

Oksigenisasi adekuat
Pemberian manitol
Penggunaan steroid
Peningkatan kepala tempat tidur
Bedah neuro.

Tindakan pendukung lain yaitu:


1. Dukungan ventilasi
2. Pencegahan kejang
3. Pemeliharaan cairan, elektrolit dan keseimbangan nutrisi
4. Terapi anti konvulsan
5. Klorpromazin untuk menenangkan klien
6. Pemasangan selang nasogastrik
(Mansjoer, dkk, 2000).
Adapun penatalaksanaan post op craniotomy mencakup :
a. Mengurangi edema serebral seperti pemberian manitol, yang
meningkatkan osmolalitas serum dan menarik air bebas dari area
otak.

Cairan

ini

kemudian

disekresikan

melalui

diuresis

osmotik.Deksametason dapat diberikan melalui intravena setiap 6


jam selama 24 jam sampai 72 jam, selanjutnya dosisnya dikurangi
secara bertahap.
b. Meredakan nyeri dan mencegah kejang. Asetaminofen biasanya
diberikan selama suhu diatas 37,50C dan untuk nyeri. Sering kali
pasien mengalami sakit kepala setelah kraniotomy, biasanya sebagai
akibat saraf kulit

kepala diregangkan

dan diiritasi selama

pembedahan. Kodein diberikan lewat parenteral, biasanya cukup


untuk menghilangkan sakit kepala.
c. Memantau TIK. Kateter ventrikel atau beberapa tipe drainase sering
dipasang pada pasien yang menjalani pembedahan

untuk tumor

fossa posterior. Pirau ventrikel kadang dilakukan sebelum prosedur


bedah tertentu untuk mengontrol hipertensi intrakranial, terutama
pada pasien dengan tumor fossa posterior.

2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pada Cedera Kepala


2.2.1 Pengkajian
Pengumpulan data klien baik subjektif maupun objektif pada cedera kepala
11

tergantung pada bentuk, lokasi, jenis injuri, dan adanya komplikasi pada organ
vital lainnya.
a. Anamnesis
Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan
kesehatan tergantung seberapa jauh dampak trauma kepala yang di sertai dengan
penurunan tinngkat kesadaran.
1)

Riwayat penyakit saat ini

Adanya riwayat trauma yang mengenai kepala akibat Kecelakaan Lalu Lintas
(KLL), jatuh dari dari ketinggian dan trauma langsung kepala. Adanya penurunan
atau perubahan pada tingkat kesadaran di hubungkan dengan perubahan didalam
intrakranial. Keluhan perubahan perilaku juga umum terjadi. Sesuai
perkembangan penyakit, dapat terjadi letargi, tidak responsif dan koma.
2)

Riwayat penyakit terdahulu

Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat hipertensi, riwayat


cedera kepala sebelumnya, DM, penyakit jantung anemia, penggunaan obat-obat
anti koagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, dan konsumsi alkohol yang
berlebihan.
3)

Riwayat penyakit keluarga

Mengkaji adanya anggota generasi terdahulu yang menderita hipertensi dan DM.
4)

Pengkajian Psiko-Sosio-Spiritual

Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien untuk menilai respon emosi
klien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran klien dalam
keluarga serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari.
5)

Pola Aktifitas
a) Pola Nutrisi

12

Dikaji tentang frekuensi makan, jenis diit, porsi makan, riwayat alergi
terhadap suatu jenis makanan tertentu. Pada klien post craniotomy
biasanya terjadi penurunan nafsu makan akibat mual dan muntah (Brunner
dan Suddarth, 2008).
b) Dikaji tentang jumlah dan jenis minuman setiap hari. Minuman yang harus
dihindari pasien post craniotomy akibat cedera kepala yaitu minuman
beralkohol dan yang mengandung kafein karena dapat meningkatkan
derajat dehidrasi dan dapat menimbulkan rasa pusing pada kepala.
c) Pola Eliminasi
Dikaji frekuensi BAB, warna, bau, konsistensi feses dan keluhan klien
yang berkaitan dengan BAB. Pada klien post craniotomy pola defekasi
biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus (Muttaqin,
2008 : 160).
Setelah pembedahan klien mungkin mengalami inkontinensia urine,
ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan dan ketidakmampuan
mempergunakan sistem perkemihan karena kerusakan kontrol motorik dan
postural. Kadang-kadang kontrol spingter urinarius hilang atau berkurang
(Muttaqin, 2008 : 160).
d) Pola Istirahat dan Tidur
e) Dikaji mengenai kebutuhan istirahat dan tidur, waktu tidur, lamanya tidur
setiap hari, apakah ada kesulitan dalam tidur. Pada klien post craniotomy
sering terjadi pusing dan sakit kepala dan hal ini mungkin akan
mengganggu istirahat tidur klien.
f) d). Pola Personal Hygiene
g) Dikaji mengenai frekuensi dan kebiasaan mandi, keramas, gosok gigi dan
menggunting kuku. Pada klien post craniotomy kemungkinan dalam
perawatan dirinya tersebut memerlukan bantuan baik sebagian maupun
total.
h) Pola Mobilisasi Fisik
Dikaji dalam kegiatan yang meliputi

pekerjaan, olah raga, kegiatan

diwaktu luang dan apakah keluhan yang dirasakan mengganggu aktivitas


klien tersebut (Brunner dan Suddarth, 2001).

13

d.

Pemeriksaan fisik

Setelah melkukan anamnesis yang mengarah pada keluhan klien, pemeriksaan


fisik sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajian anamnesis.
Keadaan umum
Pada pasien yang mengalami cedera kepala umumnya mengalami penurunan
kesadaran CKR dengan GCS 13-15, CKS dengan GCS 9-12, CKB dengan GCS
8.
Sistem pernfasan
Inpeksi : didapatkan klien batuk, peningkatan produksi sputum, sesak nafas,
penggunaan otot bantu nafas dan peningkatan frekuensi pernafasan, Ekspansi
dada pnuh atau tidak dan dilihat kesimetrisanny, pernapasan perut, retraksi otototot intercosta, dan respirasi paradok.
Palpasi : fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain akan didapatkan
jika melibatkan trauma pada torak.
Perkusi : suara redup sampai pekak pada melibatkan trauma pada
torak/hemitoraks.
Aukultasi : bunyi nafas tambahan seperti nafas berbunyi strior, ronkhi pada klien
dengan peningkatan produksi sekret, dan kemampuan batu yang menurun yang
sering didapatkan pada klien cedera klien dengan penurunan koma.
Pada klien dengan kesadaran compos mentis, taktil fremitus seimbang dan tidak
didapatkan bunyi tambahan.
Sistem kardiovaskuler
Didapatkan renjatan (syok hipovolemik) yang sering terjadi pada klien cedera
kepala sedang dan berat. Hasil pemeriksaan kardiovskuler klien cedera kepala
klien pada beberapa keadaan dapat ditemukan tekanana darah normal atau
berubah, nadi bradikardi, takikardi, dan aritmia. Frekuensi nadi cepat dan lemah
berhubungan dengan homeotatis tubuh dalam upaya menyeimbangkan kebutuhan
oksigen perifer. Nadi bradikardia merupakan tanda dari perubahan perfusi

14

jaringan otak. Kulit kelihatan pucat menunjukan adanya penurunan kadar


hemoglobin dalam darah. Hipotensi menandakan adanya perubahan perfusi
jaringan dan tanda-tanda awal dari syok. Pada beberapa keadaan lain akibat dari
trauma kepala akan merangsang pelepasan antidiuretik hormon yang berdampak
pada kompensasi tubuh untuk melakukan retensi atau pengeluaran garam dan air
oleh tubulus. Mekanisme ini akan meningkatan konsentrasi elektrolit sehingga
memberikan resiko terjadinya gangguan keseimbangan keseimbangan elektrolit
pada sistem kardiovaskuler.
Sistem persarafan
Cedera kepala menyebabkan berbagai defisit neurologis terutama akibat pengaruh
penngkatan tekanan intrakranial yang disebakan adanya perdarahan baik bersifat
hematoma intraserebral, subdural, dan etidural.
Pada keadaan lanjut tingkat kesadaran cedera kepala biasanya berkisar pada
tingkat letargi, stupor, semikoma sampai koma.
Pengkajian fungsi serebral
Pengkajian ini meliputi
Status mental: adanya perubahan pada tingkah laku klien, nilai gaya bicara,
ekspresi wajah.
Fungsi intelektual : adanya penurunan dalam memori jangka panjang maupun
jangka pendek.
Lobus frontal : kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologis didapatkan jika
trama kepala menyebabka kerusakan pada lobus frontal, kapasitas, memori atau
kerusakan fungsi intelektual, kortikal yang ebih tinggi. Disfungsi ini dapat
ditunjukan dalam lapang perhatian terbata, sulit dalam pemahaman, lupa, dan
kurang motivasi, yang menyebabkan klien ini menghadapi masalah frustasi dalam
program rehabilitasi mereka.
Hemisfer : Cedera kepala kanan didapatkan heiparese sebelah kiri tubuh, penilaian
buruk, dan mempunyai kerentanan terhadap sisi kolateral sehingga kemungkinan
terjatuh kesisi yang berlawanan tersebut. Cedera kepala kiri didapatkan
hemiparase kanan, perilaku lambat dan sangat hati-hati, kelainan bidang pandang
sebelah kanan , disfagia global, afasia dan mudah frustasi.

15

Pengkajian saraf kranial


Saraf I : adanya kelainan pada fungsi penciuman/anosmia unilateral atau bilateral.
Saraf II : hematoma palpebra pada klien cedera kepala akan menurunkan lapang
pandang dan mengganggu fungsi saraf optikus, pendarahan diruang intrakranial
terutama hemoragia subarachnoidal dapat disertai dengan perdarahan di retina.
Anomali pembuluh darah didalam otak dapat bermanifestasi juga di fundus.
Saraf III, IV, VI : gangguan mengangkat kelopak mata, anisokoria. Gejala in harus
dianggap seris jika midriasis itu tidak bereaksi pada penyinaran. Tanda dini
herniasi tentorium adalah midriasis yang tidak bereaksi pada penyinaran. Paralisis
otot okuler akan menyusun pada tahap berikutya. Jika pada trauma kepala terdapat
anisokoria, bukan midriasis melainkan miosis yang bergandengan dengan pupil
yang normal pada sisi yang lain, maka pupil yang mitok adalah abnormal. Miosis
ini disebabkan oleh lesi di lobus frontalis ipsilateral yang mengelola pusat
siliospinal. Hilangnya fungsi itu berarti fungsi siliospinal menjadi tidak aktif,
sehingga pupil tidak dilatasi melainkan kontriksi .
Saraf V : pada beberapa keadaan cedera kepala menyebabkna paralisis saraf
trigemnimus, didapatkan penurunan kemampuan koordinasi gerakan mengunyah.
Saraf VII : Persepsi pengecapan mengalami perubahan.
Saraf VIII : Pada fungsi pendengaran pada klien cedera kepala ringan biasanya
tidak didapatkan apabila trauma yang terjadi tidak melibatkan saraf
festibulokoklearis.
Saraf IX dan X : Kemampuan menelan kurang baik dan kesulitan membuka
mulut.
Saraf XI : bila tidak melibatkan trauma pada leher, mobilitas kelainan cukup baik
serta tidak ada artofi otot sternokeidomastoideos dan trapezius.
Saraf XII : Indera pengecapan mengalami perubahan.
Pengkajian sistem motorik, didapatkan hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi)
karena lesi pada sisi otak yang berlawanan. Tanda yang lain adalah tonus oto
menurun sampai hilang, tingkat kekuatan otot didapatkan nol, keseimbangan dan
koordinasi mengalami gangguan karena hemiparase dan hemiplegia.

16

Pengkajian reflek, pemeriksaan refleks profunda, pengetukan pada tendon,


ligamentum atau periosteum derajat reflek pada respon normal. Pemeriksaan
refleks patologis pada fase akut refleks fifiologis sisi yang lumpuh akan hilang.
Setelah beberapa hari reflek fisiologis akan muncul kembali didahului dengan
reflek patologis.
Pengkajian sistem sensorik, dapat terjadi hemihipestesi. Pada persepsi terjadi
ketidakmampuan untuk menginterpretasikan sensasi. Disfungsi persepsi visual
karena gangguan jarak sensori primer diantara mata dan kortek visual. Gangguan
hubungan visual-spasial (mendapatkan hubungan dua atau lebih objek dalam area
spasial). Sering terlihat pada klien dengan hemiplegia kiri kehilangan sensorik
karena cedera kepala dapat beupa kerusakan sentuhan ringan atau lebih berat,
dengan kehilangan ropriosepsi (kemampuan untuk merasakan posisi dan gerakan
bagian tubuh )serta kesulitan dalam menginterpretasikan stimuli visul, taktil, dan
auditorius.
Sistem Perkemihan
Setelah cedera kepala klien mungkn mengalami inkontinensia urin karena konfusi,
ketidamampuan mengkomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk
menggunakan sistem perkemihan karena kerusakan kontrol motorik dan postural.
Kadang kadang kontrol spingter urinarius eksternal hilang atau berkurang.
Sistem Pencernaan
Didapatkan adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan menurun, mual dan
muntah pada fase akut. Pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan
peristaltik usus. Adanya inkontinensia alvi yang berlanjut menunjukan kerusakan
neurologi luas. Pemeriksaan rongga mulut dengan melakukan penilaian ada
tidaknya lesi pada mulut atau perubahan pada lidah dapat menunjukan adanya
dehidrasi. Pemeriksaan bising usus untuk menilai ada atau tidaknya dan kualitas
bising usu harus dikaji sebelum meakukan palpasi abdomen. Bising usus menurun
atau hilang dapat terjadi pada paralitik ileus dan peritonitis.
Dampak Post Craniotomy Terhadap Sistem Tubuh Lain :
a. Sistem Kardiovaskuler

17

Craniotomy bisa menyebabkan perubahan fungsi jantung mencakup


aktivitas atipikal miokardial, perubahan tekanan vaskuler dan edema
paru. Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan
vaskuler, dimana penurunan tekanan vaskuler pembuluh darah arteriol
berkontraksi. Tidak adanya stimulus endogen saraf simpatis
mempengaruhi penurunan kontraktilitas ventrikel. Hal ini bisa
menyebabkan terjadinya penurunan curah jantung dan meningkatkan
atrium kiri, sehingga tubuh akan berkompensasi dengan meningkatkan
tekanan sistolik. Pengaruh dari adanya peningkatan tekanan atrium
kiri adalah terjadinya edema paru.
b. Sistem Pernafasan
Adanya edema paru dan vasokonstriksi paru atau hipertensi paru
menyebabkan hiperapneu dan bronkho kontriksi. Konsentrasi oksigen
dan karbondioksida dalam darah arteri mempengaruhi aliran darah.
Bila tekanan oksigen rendah, aliran darah bertambah karena terjadi
vasodilatasi, jika terjadi penurunan tekanan karbondioksida akan
menimbulkan alkalosis sehingga terjadi vasokontriksi dan penurunan
CBF (Cerebral Blood Fluid). Bila tekanan karbondioksida bertambah
akibat gangguan sistem pernafasan akan menyebabkan asidosis dan
vasodilatasi. Hal tersebut menyebabkan penambahan CBF yang
kemudian terjadi peningkatan tingginya TIK.Tingginya TIK dapat
menyebabkan terjadinya herniasi dan penekanan batang otak atau
medula oblongata. Akibat penekanan pada medulla oblongata
menyebabkan pernafasan ataksia (kurangnya koordinasi dalam
gerakan bernafas).
c. Sistem Eliminasi
Pada pasien dengan post craniotomy terjadi perubahan metabolisme
yaitu kecenderungan retensi natrium dan air serta hilangnya sejumlah
nitrogen. Setelah tiga sampai 4 hari retensi cairan dan natrium mulai
berkurang dan dapat timbul hiponatremia.
d. Sistem Pencernaan
Hipotalamus merangsang anterior hipofise untuk mengeluarkan

18

steroid adrenal. Hal ini adalah kompensasi tubuh untuk menangani


edema serebral, namun pengaruhnya terhadap lambung adalah
terjadinya peningkatan ekskresi asam lambung yang menyebabkan
hiperasiditas. Selain itu juga hiperasiditas terjadi karena adanya
peningkatan pengeluaran katekolamin dalam menangani stress yang
mempengaruhi produksi asam lambung. Jika hiperasiditas ini tidak
segera ditangani, akan menyebabkan perdarah lambung.
e. Sistem Muskuloskeletal
Akibat dari post craniotomy dapat mempengaruhi gerakan tubuh.
Hemisfer atau hemiplegia dapat terjadi sebagai akibat dari kerusakan
pada area motorik otak. Selain itu, pasien dapat mempunyai control
volunter terhadap gerakan dalam menghadapi kesulitan perawatan diri
dan kehidupan sehari hari yang berhubungan dengan postur,
spastisitas atau kontraktur.
Gerakan volunter terjadi sebagai akibat dari hubungan sinapsis dari 2
kelompok neuron yang besar. Sel saraf pada kelompok pertama
muncul pada bagian posterior lobus frontalis yang disebut girus
presentral atau strip motorik . Di sini kedua bagian saraf itu
bersinaps dengan kelompok neuron-neuron motorik bawah yang
berjalan dari batang otak atau medulla spinalis atau otot-otot tertentu.
Masing-masing dari kelompok neuron ini mentransmisikan informasi
tertentu pada gerakan. Sehingga, pasien akan menunjukan gejala
khusus jika ada salah satu dari jaras neuron ini cidera. Pada disfungsi
hemisfer bilateral atau disfungsi pada tingkat batang otak, terdapat
kehilangan penghambatan serebral dari gerakan involunter. Terdapat
gangguan tonus otot dan penampilan postur abnormal, yang pada
saatnya dapat membuat komplikasi seperti peningkatan saptisitas dan
kontraktur.
Diperlukan keterlibatan dan kerjasama dengan keluarga klien dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien yang mengalami
penurunan kesadaran yang disertai gelisah, untuk itu, perawat dan
keluarga klien dapat bekerjasama terutama dalam mencegah injuri

19

serta ditunjang oleh sarana yang memadai, antara lain tersedianya bed
plang.

2.2.2 Diagnosa dan Intervensi


a.

Gangguan perfusi jaringan cerebral b.d peningkatan intracranial ditandai

dengan
DS :
-

Mengatakan kejang

DO :
-

Perubahan tingkat kesadaran

Gangguan atau kehilangan memori

Defisit sensori

Perubahan tanda vital

Perubahan pola istirahat

Retensi urine

Gangguan berkemih

Nyeri akut atau kronis

Demam

Mual , muntah

Intervensi
1)

Ubah posisi klien secara bertahap

Rasional : Klien dengan paraplegia beresiko menglami luka tekan (dekubitus).


Perubahan posisi setiap 2 jam atau sesuai respons klien mencegah terjadinya luka
tekan akibat tekanan yang lama karena jaringan tersebut akan kekurangan nutrisi
dan oksigen dibawa oleh darah.
2)

Jaga suasana tenang

Rasional : Suasana tenang akan memberikan rasa nyama pda klien dan
mencegah ketegangan
3)

Kurangi cahaya ruangan

Rasional : Cahaya merupakan salah satu rangsangan yang beresiko terhadap

20

peningkatan TIK
b.

Resiko tinggi peningkatan tekanan intracranial b.d desak ruang sekunder dari

kompresi korteks cerebri ditandai dengan


DS :
DO :
-

GCS 12 (blackout, post trepanasi)

- TD : 67/42 mmHg
-

N : 76x / menit

Pupil anisocor

Intervensi
1)

Kaji faktor penyebab dari situasi kemungkinan penyebab peningkatan TIK

Rasional : deteksi dini untuk memprioritaskan intervensi, mengkaji status


neurologis untuk menentukan perawatan kegawatan atau tindakan pembedahan.
2)

Memonitor TTV tiap 4 jam

Rasional : suatu keadaan normal bila sirkulasi cerebral terpelihara dengan baik
atau fluktuasi ditandai dengan tekanan darah sistemik, penurunan dari
autoregulator kebanyakan merupakan tanda penurunan difusi local vaskularisasi
darah cerebral.
3)

Pertahankan kepala atau leher pada posisi yang netral, usahakan dengan

sedikit bantal. Hindari penggunaan bantal yang tinggi pada kepala.


Rasional : perubahan kepala pada satu sisi dapat menimbulkan penekanan pada
vena jigularis dan menghambat aliran darah otak (menghambat drainase pada
vena cerebral) untuk itu dapat meningkatkan tekanan intracranial.

21

c.

Gangguan pola pernapasan b.d depresi pusat pernapasan ditandai dengan

DS:
-

Kien mengatakan sulit bernapas dan sesak napas

DO :
-

Gangguan visual

Penurunan karbondioksida

- Takikardia
- Tidak dapat istirhat
-

Somnolen

Irritabilitas

Hipoksia

Bingung

Dispnea

Perubahan warna kulit (pucat , sianosis)

Hipoksemia

Intervensi :
1)

berikan posisi nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur.

Balik ke posisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.
Rasional :Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekspansi paru dan
ventilasi pada sisi yang tidak sakit
2)

Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea, atau

perubahan tanda-tanda vital.


Rasional :Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi
sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syok
sehubungan dengan hipoksia.
3)

Jelaskan pada klien tentang etiologi/ faktor pencetus adanya sesak atau kolaps

paru
Rasional :Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan
mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana terapeutik

22

d.

Kekurangan volume cairan yang b.d penurunan kesadaran dan disfungsi

hormonal ditandai dengan


DS :
DO:
-

Perubahan turgor kulit

Perubahan tanda vital

- Akral dingin
-

Penurunan BB mendadak

Perubahan nilai metabolisme

Intervensi
1)

Pantau keseimbangan cairan

Rasioanal : Kerusakan otak dapat menghasilkan disfungsi hormonal dan


metabolic
2)

Pemeriksaan serial elektrolit darah atau urine dan osmolaritas

Rasional : Hal ini dapat dihubungkan dengan gangguan regulasi natrium. Retensi
natrium dapat terjadi beberapa hari, diikuti dengan dieresis natrium. Peningkatan
letargi, konfusi, dan kejang akibat ketidakseimbangan elektrolit.
3)

Evaluasi elektrolit

Rasional : Fungsi elektrolit dievaluasi dengan memantau elektrolit, glukosa


serum, serta intake dan output.

e.

Gangguan atau kerusakan mobilitas fisik b.d gangguan neurovascular yang di

tandai dengan
DS :
DO :

23

Kelemahan

Parestesia

Paralisis

Ketidakmampuan

Kerusakan koordinasi

Keterbatasan rentang gerak

Penurunan kekuatan otot

Intervensi
1)

Kaji fungsi motorik dan sensorik dengan mengobservasi setiap ekstermitas

Rasional : Lobus frontal dan oxipital berisi saraf-saraf yang mengatur fungsi
motorik dan sensorik dan dapat dipengaruhi oleh iskemia atau peningkatan
tekanan.
2)

Ubah posisi klien tiap 2 jam

Rasional : Mencegah terjadinya luka tekan akibat tidur terlalu lama pada satu
posisi sehingga jaringan yang tertekan akan kehilangan nutrisi yang dibawa darah
melalui oksigen.
3)

Lakukan latihan secara teratur dan letakan telapak kaki klien dilantai saat

duduk dikursi atau papan penyangga saat di tempat tidur.


Rasional : Mencegah deformitas dan komplikasi seperti footdrop

24

BAB III
PEMBAHASAN KASUS
3.1 Sistem Saraf : Trauma Kepala
Tn. D usia 18 tahun dirawat diruang RC 3 Bedah Saraf karena
mengalami Trauma Kepala Sedang disertai subdural hematoma. Ketika
dikaji diperoleh data: GCS 11 (E2M5V4). Pasien telah dioperasi 2 hari
yang lalu, terdapat luka post craniotomy sepanjang 10 cm pada daerah
lobus frontal, pasien tampak gelisah dan terpasang mag slang karena
masih dipuasakan. Pada pemeriksaan tanda-tanda vital diperoleh: TD =
140/90 mmHg, Nadi = 110x/menit, RR = 30x/ menit, dan suhu 38,5
derajat celcius.
3.2 Penugasan
Diskusikan trauma kepala dengan tindakan operasi craniotomy, apa
yang saudara bisa jelaskan dari kondisi tersebut terkait dengan kebutuhan
perawatan pasien dan hal-hal lain terkait dengan komplikasi yang mungkin
timbul.
3.3 Pembahasan
Seperti yang telah dijelaskan di BAB II, trauma kepala adalah
deformitas jaringan di kepala yang diakibatkan oleh suatu kekuatan
mekanis. Sedangkan hematoma subdural adalah akumulasi darah yang
terjadi di dalam rongga antara durameter dan arakhnoid yang biasanya
disebabkan karena perdarahan vena. Post craniotomy yaitu suatu keadaan
yang terjadi setelah proses pembedahan untuk memperbaiki abnormalitas
didalam kranium untuk mengetahui kerusakan otak. Post craniotomy
bagian frontal atas indikasi trauma kepala sedang disertai subdural
hematoma ialah operasi pembedahan yang dilakukan untuk membuka
tengkorak guna mengevakuasi bekuan darah atas indikasi cedera kepala
dengan nilai tingkat kesadaran (GCS) 11 pada pasien Tn. D disertai

25

akumulasi darah yang terjadi di dalam rongga antara durameter dan


arakhnoid yang biasanya disebabkan karena perdarahan vena di daerah
frontal.
Ketika terjadi trauma kepala maka akan menyebabkan perlukaan
dikulit kepala, serta akan menyebabkan hematoma pada kulit kepala akibat
benturan yang akan menyebabkan cedera pada otak. Ketika terjadi trauma
kepala disitu juga akan terjadi patahan/fraktur tulang kepala. Diantaranya
fraktur linear, fraktur communited, fraktur depressed, dan fraktur basis
yang akan menyebabkan tekanan intra kranial meningkat. Ketika terjadi
trauma kepala akan menyebabkan kerusakan pula pada jaringan otak dan
akan menyebabkan hematom, edema, dan konkusio. Hal tersebut akan
mnyebabkan meningkatnya tekanan intra kranial. Dari semua itu maka
akan ditemukan

kelainan respon fisiologis otak yang berakibat pada

cedera otak sekunder dan peningkatan kerusakan sel otak.


Peningkatan TIK dapat pula dilakukan proses pembedahan untuk
mencegah peningkatan TIK dapat dilakukan dengan 3 cara yang pertama
kraniotomi, kraniektomi, kranioplasti. Dari proses pembedahan itu akan
menyebabkan perlukaan pada kulit kepala yang merupakan tempat
masuknya mikroorganisme yang dapat menyebabkan resiko tinggi infeksi.
Dapat pula menyebabkan nyeri karena dari proses pembedahan itu
menyebabkan terputusnya kontinuitas jaringan yang merangsang reseptor
nyeri, biasanya pasien dengan kraniotomi akan mengalami intoleransi
aktivitas karena kelemahan fisik akibat nyeri. Dari proses inflamasi juga
akan didapatkan respon yang memungkinkan terjadinya edema otak yang
akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan. Dari proses pembedahan
dapat pula menyebabkan resti kekurangan cairan dan nutrisi akibat efek
dari anastesi selama proses pembedahan. Prosedur anastesi dan
pengguanaan ETT pada proses pembedahan akan menimbulkan iritasi
pada saluran pernapasan yang akan memungkinkan terjadinya resiko jalan
napas tidak efektif. Adapun penatalaksanaan post op craniotomy
mencakup :

26

d. Mengurangi edema serebral seperti pemberian manitol, yang


meningkatkan osmolalitas serum dan menarik air bebas dari area
otak.

Cairan

ini

kemudian

disekresikan

melalui

diuresis

osmotik.Deksametason dapat diberikan melalui intravena setiap 6


jam selama 24 jam sampai 72 jam, selanjutnya dosisnya dikurangi
secara bertahap.
e. Meredakan nyeri dan mencegah kejang. Asetaminofen biasanya
diberikan selama suhu diatas 37,50C dan untuk nyeri. Sering kali
pasien mengalami sakit kepala setelah kraniotomy, biasanya sebagai
akibat saraf kulit

kepala diregangkan

dan diiritasi selama

pembedahan. Kodein diberikan lewat parenteral, biasanya cukup


untuk menghilangkan sakit kepala.
f. Memantau TIK. Kateter ventrikel atau beberapa tipe drainase sering
dipasang pada pasien yang menjalani pembedahan

untuk tumor

fossa posterior. Pirau ventrikel kadang dilakukan sebelum prosedur


bedah tertentu untuk mengontrol hipertensi intrakranial, terutama
pada pasien dengan tumor fossa posterior.
Dampak Post Craniotomy Terhadap Sistem Tubuh Lain :
f. Sistem Kardiovaskuler
Craniotomy bisa menyebabkan perubahan fungsi jantung mencakup
aktivitas atipikal miokardial, perubahan tekanan vaskuler dan edema
paru. Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan
vaskuler, dimana penurunan tekanan vaskuler pembuluh darah arteriol
berkontraksi. Tidak adanya stimulus endogen saraf simpatis
mempengaruhi penurunan kontraktilitas ventrikel. Hal ini bisa
menyebabkan terjadinya penurunan curah jantung dan meningkatkan
atrium kiri, sehingga tubuh akan berkompensasi dengan meningkatkan
tekanan sistolik. Pengaruh dari adanya peningkatan tekanan atrium
kiri adalah terjadinya edema paru.
g. Sistem Pernafasan
Adanya edema paru dan vasokonstriksi paru atau hipertensi paru
menyebabkan hiperapneu dan bronkho kontriksi. Konsentrasi oksigen

27

dan karbondioksida dalam darah arteri mempengaruhi aliran darah.


Bila tekanan oksigen rendah, aliran darah bertambah karena terjadi
vasodilatasi, jika terjadi penurunan tekanan karbondioksida akan
menimbulkan alkalosis sehingga terjadi vasokontriksi dan penurunan
CBF (Cerebral Blood Fluid). Bila tekanan karbondioksida bertambah
akibat gangguan sistem pernafasan akan menyebabkan asidosis dan
vasodilatasi. Hal tersebut menyebabkan penambahan CBF yang
kemudian terjadi peningkatan tingginya TIK.Tingginya TIK dapat
menyebabkan terjadinya herniasi dan penekanan batang otak atau
medula oblongata. Akibat penekanan pada medulla oblongata
menyebabkan pernafasan ataksia (kurangnya koordinasi dalam
gerakan bernafas).
h. Sistem Eliminasi
Pada pasien dengan post craniotomy terjadi perubahan metabolisme
yaitu kecenderungan retensi natrium dan air serta hilangnya sejumlah
nitrogen. Setelah tiga sampai 4 hari retensi cairan dan natrium mulai
berkurang dan dapat timbul hiponatremia.
i. Sistem Pencernaan
Hipotalamus merangsang anterior hipofise untuk mengeluarkan
steroid adrenal. Hal ini adalah kompensasi tubuh untuk menangani
edema serebral, namun pengaruhnya terhadap lambung adalah
terjadinya peningkatan ekskresi asam lambung yang menyebabkan
hiperasiditas. Selain itu juga hiperasiditas terjadi karena adanya
peningkatan pengeluaran katekolamin dalam menangani stress yang
mempengaruhi produksi asam lambung. Jika hiperasiditas ini tidak
segera ditangani, akan menyebabkan perdarah lambung.
j. Sistem Muskuloskeletal
Akibat dari post craniotomy dapat mempengaruhi gerakan tubuh.
Hemisfer atau hemiplegia dapat terjadi sebagai akibat dari kerusakan
pada area motorik otak. Selain itu, pasien dapat mempunyai control
volunter terhadap gerakan dalam menghadapi kesulitan perawatan diri
dan kehidupan sehari hari yang berhubungan dengan postur,
spastisitas atau kontraktur.

28

Gerakan volunter terjadi sebagai akibat dari hubungan sinapsis dari 2


kelompok neuron yang besar. Sel saraf pada kelompok pertama
muncul pada bagian posterior lobus frontalis yang disebut girus
presentral atau strip motorik . Di sini kedua bagian saraf itu
bersinaps dengan kelompok neuron-neuron motorik bawah yang
berjalan dari batang otak atau medulla spinalis atau otot-otot tertentu.
Masing-masing dari kelompok neuron ini mentransmisikan informasi
tertentu pada gerakan. Sehingga, pasien akan menunjukan gejala
khusus jika ada salah satu dari jaras neuron ini cidera. Pada disfungsi
hemisfer bilateral atau disfungsi pada tingkat batang otak, terdapat
kehilangan penghambatan serebral dari gerakan involunter. Terdapat
gangguan tonus otot dan penampilan postur abnormal, yang pada
saatnya dapat membuat komplikasi seperti peningkatan saptisitas dan
kontraktur.
Diperlukan keterlibatan dan kerjasama dengan keluarga klien dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien yang mengalami
penurunan kesadaran yang disertai gelisah, untuk itu, perawat dan
keluarga klien dapat bekerjasama terutama dalam mencegah injuri
serta ditunjang oleh sarana yang memadai, antara lain tersedianya bed
plang.

29

3.4 Asuhan Keperawatan pada Tn. D


1. Pengkajian
a.

Pengumpulan Data

1) Identitas Klien
Nama

: Tn. D

Umur

: 18 tahun

Jenis Kelamin

: Pria

Agama

: Islam

Pendidikan

: Perguruan Tinggi

Pekerjaan

: Mahasiswa

Status marital

: Belum Menikah

Suku bangsa

: Sunda

Diagnosa medis

: Post Craniotomy a.i Subdural

Hematoma
b. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat Kesehatan Sekarang
a

Alasan masuk rumah sakit


Terjadi trauma kepala sedang disertai subdural hematoma.

b) Keluhan utama saat dikaji


Pada saat pengkajian, klien nampak gelisah, terpasang maag
slang, masih dipuasakan. nilai GCS: 11. Klien membuka mata
terhadap rangsang sakit (2), klien dapat mengenali nyeri lokal
(5). Klien memberikan respon kata-kata tidak bermakna (4).
c) Riwayat kesehatan dahulu
Tidak terkaji
d) Riwayat kesehatan keluarga
Tidak terkaji .
c. Pola Aktifitas Sehari-hari
No
Pola Aktifitas
(1)
(2)
1 Nutrisi

Di rumah
(3)

Di rumah sakit
(4)

30

a. Makan

Tidak terkaji

klien masih puasa

Frekuensi

Porsi

Jenis
b. Minum

Tidak terkaji

klien masih puasa

Tidak terkaji

sejak masuk RS

Jenis
Jumlah
2

Personal higiene
a. Mandi

belum mandi

b. Keramas

belum pernah

c. Gosok gigi
(1)
(2)
3. Pola eliminasi

(3)
Tidak terkaji

belum pernah
(4)
Tidak terkaji

Tidak terkaji

Tidak terkaji

Aktifitas mandiri

Aktifitas perlu

BAK
Frekuensi
Warna
a. BAB
Frekuensi
Warna
Konsistensi
4

Istirahat dan tidur


a. Tidur siang
b. Tidur malam

Aktifitas gerak

dibantu
d. Pemeriksaan Fisik

31

Keadaan Umum

: Klien tampak gelisah

Tingkat Kesadaran

: Sopor

Tanda-tanda vital

TD : 140/90 mmHg
HR : 110 x/m
RR : 30x/m
S : 38,50 C
1) Sistem Pernafasan
Belum terpasang nasal canule O2, klien tampak sesak frekuensi
nafas: 30x/ menit.
2) Sistem Kardiovaskuler
TD: 140/90 mmHg, nadi: 110x/ mnt
3) Sistem Pencernaan
Klien terpasang NGT
4) Sistem Perkemihan
Klien terpasang dower catheter.
5) Sistem Endokrin
Tidak terkaji.
6) Sistem Muskuloskeletal
Tidak terkaji.
7) Sistem Integumen
Terdapat luka post op craniotomy sepanjang 10 cm pada daerah
lobus frontal. Keadaan rambut klien tidak terkaji karena tertutup
balutan luka klien, keadaan luka belum kering dan ditutup kassa
dan perban. Suhu 38,50C.
8) Sistem Persyarafan
a) Test fungsi serebral
(1) Status mental
-

Klien tampak gelisah

32

orientasi terhadap waktu, tempat dan orang belum dapat


dikaji

daya ingat, belum dapat dikaji

perhatian dan perhitungan, belum dapat dikaji

fungsi bicara, belum dapat dikaji

(2) Tingkat kesadaran


-

kualitas;sopor , klien dapat bangun bila diberi rangsang


nyeri

kuantitas; nilai GCS: 11, (E: 2, M: 5, V: 4)

(3) Pengkajian bicara

b)

proses reseptif, belum dapat dikaji

proses ekspresif, belum dapat dikaji


Test nervus kranial

(1) Nervus I (olfaktorius)


Belum dapat dikaji
(2) Nervus II (optikus)
Belum dapat dikaji
(3) Nervus III, IV, VI (okulomotorius, troklearis, abdusen)
Belum terkaji
(4) Nervus V (trigeminus)
Belum dapat dikaji
(5) Nervus VII (fasialis)
Belum dapat dikaji
(6) Nervus VIII (akustikus)
Belum dapat dikaji
(7) Nervus IX, X (glosofaringeus, vagus)
Belum dapat dikaji
(8) Nervus XII (hipoglosus)
Belum dapat dikaji
c) Pemeriksaan motorik
(1) massa otot normal,

33

(2) kekuatan otot, belum dapat dikaji


d) Pemeriksaan sensorik
(1) rasa sakit
klien tampak melokalisir nyeri ketika diberi rangsangan
nyeri
(2) vibrasi, diskriminasi. Belum dapat dikaji
e) Fungsi cerebellum
Belum dapat dikaji
f) Reflek Fisiologis
(1) Biseps

: belum terkaji

(2) Triseps

: belum terkaji

(3) Supinator

: belum terkaji

(4) Patella

: belum terkaji

(5) Achiles

: belum terkaji

(6) Superfisial

: belum terkaji

g) Reflek patologis
(1) Babinski

: belum terkaji

(2) Caddock

: belum terkaji

h) Iritasi meningen
-

kaku kuduk belum terkaji

kernig sign belum terkaji

lasaque sign belum terkaji

brudzinsky I, II belum terkaji

e. Data Psikologis
Data psikologis pada klien belum terkaji.
f. Data Sosial
Data sosial klien belum terkaji.
g. Data Spiritual
belum terkaji.

34

h. Data Penunjang
1) Laboratorium

:-

2) Hasil CT Scan

Subdural hematoma pada daerah lobus frontal


Therapi: Craniotomy
3) Foto rontgen

:-

4) Hasil Laporan Operasi


Terdapat bekuan darah pada ruang Subdural di area antara
Duramater dan membran Subaraknoid.
5) Therapi : i. Analisa Data
N

Data Senjang

Etiologi dari Dampak

Masalah

o
(1)

(2)

(3)

(4)

35

Ds: -

Trauma kepala

Do: - klien terpasang


canule masal O2
-

tingkat kesadaran
sopor dengan
GCS: 11

RR: 30x/ mnt

Klien tampak sesak

terjadi kerusakan dan peregangan

Gangguan
Oksigenasi:
Ventilasi

sel-sel endotel dinding kapiler


pembuluh darah otak

darah dan cairan masuk ke


jaringan

oedema dan perdarahan pada otak

proses desak ruang intra kranial

perubahan pada jaringan sekitar

Herniasi otak

kompresi medula oblongata

Gangguan oksigemasi

36

Ds: -

Trauma kepala

Do: - TD: 140/90 mmHg

Resiko
terjadinya

N: 110x/ mnt

terjadi kerusakan dan peregangan

peningkatan

RR: 30x/mnt

sel-sel endotel dinding kapiler

tekanan intra

lambat dan dalam


-

S: 38,50C

Pupil isokor

pembuluh darah otak

darah dan cairan masuk ke

diameter 3 mm

jaringan

Kesadaran sopor

GCS: 11

E: 2, M: 5, V: 4
-

Reflek cahaya: +
- Hasil CT Scan
Subdural hematoma
-

Hasil laporan

kranial

oedema dan perdarahan pada otak

proses desak ruang intra kranial

peningkatan tekanan intra kranial

Operasi terdapat
bekuan darah
pada ruang
Subdural di area
antara Duramater
dan membran
Subaraknoid
3

Ds: Do: - Klien mengalami

Trauma kepala

Gangguan
pemenuhan

penurunan kesadaran

37

- klien terpasang NGT

Penurunan

Peningkatan

nutrisi kurang

dan klien masih

kesadaran

metabolisme

dari kebutuhan

otak

- bibir klien nampak

kontrol otot-

kering

otot motorik

terjadi

yang

penurunan

digunakan

kemampuan

untuk

pemasukan

mengunyah

nutrisi

dan

menelan(masse

intake oral

ter)menurun

menurun

intake oral

asupan nutrisi

menurun

kurang dari

kebutuhan

dipuasakan

asupan nutrisi
kurang dari
kebutuhan

(1)
4. Ds: -

(2)

(3)
Trauma kepala

(4)
Gangguan

Do: - ADL klien dipenuhi

pemenuhan

oleh keluarga

penurunan kesadaran

kesadaran sopor
-

kulit tampak kotor

kulit lengket

gigi dan mulut kotor

GCS: 11

ADL: personal
higiene

klien tak dapat melakukan


aktifitas

ADL klien dipenuhi oleh


keluarga
38

gangguan pemenuhan ADL


Tindakan craniotomy

Ds: -

Do: - tampak luka operasi


yang belum kering

kontinuitas kulit dan jaringan

di kepala
-

suhu 38,50C

hari ke-2 post op

Resiko
terjadinya
infeksi

terputus

jaringan kontak dengan dunia


luar

media invasi kuman ke jaringan

resiko terjadinya infeksi

j. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas Masalah


1) Gangguan oksigenasi: ventilasi berhubungan dengan kompresi pusat
pernapasan di medula oblangata akibat adanya proses peningkatan tekanan
intrakranial
2) Resiko peningkatan tekanan intra kranial berhubungan dengan adanya
proses desak ruang akibat penumpukan cairan dan darah di dalam otak
3) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan berkurangnya kemampuan menerima nutrisi per oral
akibat penurunan kesadaran
4) Gangguan pemenuhan ADL berhubungan dengan ketidakmampuan
beraktifitas secara mandiri akibat penurunan kesadaran
5) Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan masuknya kuman pada
jaringan luka

39

2. Perencanaan
No Diagnosa Keperawatan
1 Gangguan oksigenasi:

Tujuan
Tupan:

Tindakan
1. Monitor kecepatan,

Rasional
perubahan yang terjadi dan

ventilasi berhubungan

Kebutuhan oksigen terpenuhi

kedalaman, frekuensi irama

hasil pengkajian berguna

dengan kompresi pusat

Tupen:

dan bunyi nafas tiap 4 jam

dalam menunjukkan adanya

pernapasan di medula

Setelah dilakukan intervensi

komplikasi pulmonal dan

oblangata akibat

keperawatan selama 2 hari.

luasnya bagian otak yang

adanya proses desak

Klien dapat bernapas dengan

terkena

ruang intra kranial

normal dengan kriteria:


-

frekuensi nafas 20-24x/

2. Pertahankan posisi klien

dengan posisi semi fowler

posisi semi fowler akan


mengurangi penekanan isi

menit

rongga perut terhadap

irama nafas teratur

diafragma, sehingga

bunyi napas Vesikuler

ekspansi paru tidak

nilai AGD dalam batas

terganggu, kepala

normal

ditinggikan untuk mencegah


hiper ekstensi

3. Berikan therapi oksigen

memenuhi kebutuhan
oksigen otak dan mencegah

43

hipoksia
4. Kolaborasi dengan tim

analisa gas darah dapat

medis dan laboratorium

menentukan keefektifan

untuk dilakukan AGD ulang

respirasi, keseimbangan
asam basa dan kebutuhan

Tupan:

peningkatan TIK

Peningkatan TIK tidak terjadi

yang berhubungan dengan

tanda peningkatan TIK,

berhubungan dengan

Tupen:

tanda-tanda peningkatan

dapat menentukan

adanya proses desak

Setelah dilakukan intervensi

TIK terutama GCS tiap 4

tindakan selanjutnya

ruang akibat

keperawatan selama 3 hari,

jam

penumpukan cairan dan tanda-tanda peningkatan TIK


darah di dalam otak

tidak terjadi dengan kriteria:

1. Monitor status neurologis

2. Monitor tanda-tanda vital

therapi
Dengan mengetahui tanda-

Resiko terjadinya

setiap 8 jam
3. Monitor intake dan output

Dapat mendeteksi secara


dini peningkatan TIK

Mencegah kelebihan

44

Tekanan darah dalam

setiap 8 jam sekali

cairan yang dapat

batas normal

menambah oedema serebri

Nadi 60-80x/mnt

sehingga terjadi TTIK

Suhu 37-37,50C

Pupil isokor

Kesadaran compos mentis

hipertonis yang berguna

Nilai GCS 13-15

untuk menarik cairan dari

4. Lanjutkan pemberian therapi

antidema

Manitol/ gliserol
merupakan cairan

intraseluler ke
intravaskuler sehingga
dapat mengurangi oedema
cerebri dan menurunkan
TIK.
5. Pertahankan posisi head up
300

Posisi head up 300 akan


meningkatkan dan
melancarkan aliran balik
darah vena kepala
sehingga mengurangi

45

kongesti serebrum, oedema


dan mencegah TTIK
6. Bantu klien bila sadar dalam

Aktifitas seperti ini dapat


meningkatkan tekanan

menghindari/ membatasi

intra otak dan intra

batuk, muntah atau

abdomen yang dapat

mengedan pada saat BAB

meningkatkan tekanan

1. Observasi bising usus dan

Gangguan pemenuhan

Tupan:

nutrisi: kurang dari

Kebutuhan nutrisi terpenuhi

kebutuhan

Tupen:

pemberian makanan dari

berhubungan dengan

Setelah dilakukan intervensi

mencegah komplikasi

berkurangnya

keperawatan selama 3 hari,

kemampuan menerima

asupan nutrisi adekuat dengan

kebutuhan nutrisi bila

nutrisi peroral akibat

kriteria:

kemampuan menelan klien

penurunan kesadaran

BU dalam batas normal

intra kranial
BU perlu diketahui untuk

catat bila terjadi penurunan

2. Monitor letak NGT

mengetahui/menentukan

NGT dapat memenuhi

lemah.

46

5-15x/mnt
-

Porsi makan klien


bertambah

3. Puasakan klien sesuai

dengan intruksi
4. Kolaborasi dengan tim

Melaksanakan program
yang telah di intruksikan

Hasil Laboratorium dapat

Nafsu makan

medis dan laboratorium

mengidentifikasi

bertambah

untuk pemeriksaan protein

defisiensi, Nutrisi, fungsi

total, globulin, albumin

organ dan respon nutrisi

47

Gangguan pemenuhan

Tupan:

1. Atur posisi klien dan ubah

ADL berhubungan

Kebutuhan ADL terpenuhi

secara teratur setiap 2 jam

sirkulasi darah seluruh

ketidakmampuan

Tupen:

sekali

tubuh dan mencegah

beraktifitas secara

Setelah dilakukan intervensi

adanya penekanan pada

mandiri akibat

keperawatan selama 3 hari,

bagian tubuh tertentu

perubahan kesadaran

klien dapat beraktifitas

2. Bantu klien dalam

Dapat meningkatkan

Dengan dibantu personal

mandiri sebagian dengan

memenuhi kebutuhan

higiene, klien dapat

kriteria:

personal higiene seperti

terpenuhi sehingga tubuh

memandikan

klien bersih

Kebutuhan ADL: personal


higiene terpenuhi

3. Latih klien untuk melakukan

Mempertahankan fungsi

Badan bersih, segar, tidak

gerakan-gerakan sendi

sendi dan mencegah

bau

secara pasif

penurunan tonus serta

Gerakan otot terkendali

Kesadaran compos mentis

mencegah kontraktur
4. Lakukan massage,

Meningkatkan sirkulasi,

perawatan kulit dan

elastisitas kulit dan

mempertahankan alat tenun

integritas kulit

bersih dan kering

48

klien dengan penurunan


kesadaran
3. Kaji ulang adanya faktor-

Memudahkan intervensi

faktor yang mendukung

yang tepat dalam

terjadinya injuri dari

melakukan tindakan

lingkungan, seperti: adanya

keamanan

benda-benda tajam, tempat


tidur tanpa bed plang,
5

tempat tidur terlalu tinggi


1. Lakukan cuci tangan

Resiko terjadinya

Tupan:

infeksi berhubungan

Infeksi tidak terjadi

sebelum dan sesudah

septik akan mengurangi

dengan masuknya

Tupen:

melakukan tindakan

timbulnya mikroorganisme

kuman pada jaringan

Setelah dilakukan intervensi

secara aseptik dan anti

patogen

luka

keperawatan selama 4 hari,

septik

infeksi tidak terjadi dengan

2. Monitor tanda-tanda

kriteria:

infeksi setiap hari

3. Ganti balutan post op.

keluarga dapat

Tindakan aseptik dan anti

Mendeteksi secara dini


tanda-tanda infeksi

Kebersihan luka terjaga

49

mengetahui tanda-tanda

craniotomy setiap hari

dan mengurangi

Infeksi
-

tanda-tanda infeksi

4. Jelaskan pada keluarga

tidak terjadi (Suhu

tanda-tanda infeksi dan

perawatan luka dan tanda-

tubuh 36,50-37,50 )

cara perawatan luka di

tanda infeksi

luka post craniotomy

rumah

kering
-

mikroorganisme tubuh

5. Lanjutkan pemberian

Keluarga mengerti cara

Antibiotik berguna untuk

leukosit 3,8-10,6

antibiotik sesuai dengan

membunuh kuman

ribu/mm3

program pengobatan :

penyakit yang masuk ke

Cefotaxim 3x1gr IV

dalam tubuh.

(09.00, 17.00, 01.00)

50

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Jadi Trauma atau cedera kepala yang dikenal sebagai cedera otak adalah
gangguan fungsi normal otak karena trauma baik trauma tumpul maupun trauma
tajam. Defisit neurologis terjadi karena robeknya substansia alba, iskemia, dan
pengaruh massa karena haemorargik, serta udim serebral disekitar otak (Batticaca,
2008).
Penyebab cedera kepala adalah kecelakaan lalu lintas, perkelahian, jatuh,
cedera olah raga, kecelakaan kerja, cedera kepala terbuka sering disebabkan oleh
pisau atau peluru (Corwin, 2000).
Cedera kepala traumatik dibagi kedalam proses primer dan proses sekunder.
Kerusakan yang terjadi dianggap karena gaya fisika yang berkaitan dengan suatu
trauma yang relative baru terjadi dan bersifat irreversible untuk sebagian besar
daerah otak. Walaupun kontusio dan laserasi yang terjadi pada permukaan otak,
terutama pada kutub temporal dan permukaan orbital dari lobus frontalis,
memberikan tanda-tanda jelas tetapi selama lebih dari 30 tahun telah dianggap
jejas akson difus pada substasi alba subkortex adalah penyebab utama kehilangan
kesadaran berkepanjangan, gangguan respon motorik dan pemulihan yang tidak
komplit yang merupakan penanda pasien yang menderita cedera kepala traumatik
berat.
Adapun pengertian dari traumatik degan proses primer yaitu proses yang timbul
langsung pada saat trauma terjadi. Cedera primer biasanya fokal (perdarahan,
konusi) dan difus (jejas akson difus). Proses ini adalah kerusakan otak tahap awal
yang diakibatkan oleh benturan mekanik pada kepala, derajat kerusakan
tergantung pada kuat dan arah benturan, kondisi kepala yang bergerak diam,
percepatan dan perlambatan gerak kepala. Proses primer menyebabkan fraktur
tengkorak, perdarahan segera intrakranial, robekan regangan serabut saraf dan
kematian langsung pada daerah yang terkena.
Sedangkan pengertian traumatik dengan proses sekunder yaitu Kerusakan
sekunder timbul beberapa waktu setelah trauma menyusul kerusakan primer.

51

Dapat dibagi menjadi penyebab sistemik dari intrakranial. Dari berbagai gangguan
sistemik, hipoksia (kekurangan o2 dlm jaringan) dan hipotensi merupakan
gangguan yang paling berarti. Hipotensi menurunnya tekanan perfusi otak
sehingga mengakibatkan terjadinya iskemi (defisiensi darah suatu bagian) dan
infark otak. Perluasan kerusakan jaringan otak sekunder disebabkan berbagai
faktor seperti kerusakan sawar darah otak, gangguan aliran darah otak
metabolisme otak, gangguan hormonal, pengeluaran bahan-bahan neurotrasmiter
dan radikal bebas. Trauma saraf proses primer atau sekunder akan menimbulkan
gejala-gejala neurologis yang tergantung lokasi kerusakan.
4.2 Saran
Adapun saran dari penulis yaitu mahasiswa dapat melakukan asuhan
keperawatan dengan klien trauma atau cedera kepala sesuai dengan teori sehingga
dalam pengaplikasiannya mahasiswa menjadi lebih terarah lagi.

52

DAFTAR PUSTAKA
http://buddifarma.blogspot.com/2013/03/askep-cedera-kepala.html
Baticaca, Fransisca.2008.Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan.Jakarta:Salemba
Muttaqin, Arif.2008.Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan.Jakarta:Salemba
Doenges, Marilyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3. Jakarta: Penerbit
buku kedokteran, EGC.
Bruner & Sudarth. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8.
Jakarta : EGC.
Corwin, Elizabet J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC
M. Tucker. 1998. Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, Diagnosa,
Dan Evaluasi, Edisi 5, Vol 3 . Jakarta : EGC

53