Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kematian maternal adalah kematian wanita sewaktu hamil melahirkan atau dalam
42 hari sesudah berakhirnya kehamilan tidak tergantung dari lama dan lokasi kehamilan
disebabkan oleh apapun yang berhubungan dengan kehamilan atau penanganannya
tetapi tidak secara kebetulan atau oleh penyebab lainnya.
Berdasarkan definisi ini kematian maternal dapat digolongkan pada kematian
obstetrik langsung (direct obstetric death), kematian obstetrik tidak langsung (inderect
obstetric death), kematian yang terjadi bersamaan tetapi tidak berhubungan dengan
kehamilan dan persalinan misalnya kecelakaan. Kematian obstetrik langsung
disebabkan oleh komplikasi kehamilan, persalinan, nifas atau penanganannya. Di
negara-negara sedang berkembang sebagian besar penyebab ini adalah pendarahan,
infeksi dan abortus. Kematian tidak langsung disebabkan oleh penyakit atau komplikasi
lain yang sudah ada sebelum kehamilan atau persalinan, misalnya hipertensi, penyakit
jantung, diabetes, hepatitis, anemia, malaria, dan lain-lain termasuk hiperemesis
gravidarum.
Angka Kematian Ibu, salah satu indikator pembangunan kesehatan dasar,
masih memprihatinkan. Kematian perempuan usia subur disebabkan masalah terkait
kehamilan, persalinan, dan nifas akibat perdarahan. Direktur Bina Kesehatan Ibu
Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Sri Hermiyanti
mengatakan, dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007,
Angka Kematian Ibu 228 per 100.000 kelahiran hidup. Tingkat kematian ibu pada masa
kehamilan, persalinan, dan nifas terjadi hingga 4.692 pada tahun 2008.
Penyebab langsung kematian ibu terkait kehamilan dan persalinan terutama
adalah perdarahan 28 %. Sebab lain, yaitu eklamsi 24 %, infeksi 11 %, partus lama 5
%, dan abortus 5 %. Perdarahan dapat terkait produksi cairan ketuban atau ketuban
pecah terlalu dini (sebelum proses persalinan). Adapun perdarahan pascapersalinan,
antara lain, karena gangguan pada rahim, pelepasan plasenta, robekan jalan lahir, dan
gangguan faktor pembekuan darah.
Menurut
data
WHO,

sebanyak

99%

kematian

ibu

akibat

masalah persalinan atau kelahiran terjadi di negara-negara berkembang. Rasio kematian


ibu di negara-negara berkembang merupakan yang tertinggidengan 450 kematian ibu
per 100.000 kelahiran bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio kematian ibu di
1

sembilan negara maju dan 51 negara persemakmuran. Menurut WHO, 81% AKI akibat
komplikasi selama hamil dan bersalin, dan 25% selama masa post partum.(WHO,2011)
Kehamilan merupakan hal yang fisiologis, meskipun selama kehamilan banyak
hal yang berubah dalam tubuh. Kehamilan yang menyangkut nyawa ibu dan anak harus
diperhatikan, sebab kehamilan bukanlah sekedar mengandung anak dalam jangka
waktu sembilan bulan kemudian siap dilahirkan. Namun kehamilan harus
memperhatikan kesehatan ibu dan anak. Selama masa kehamilan banyak hal patologis
juga yang dialami ibu sesuai dengan situasi dan kondisi. Salah satu hal patologis ialah
hiperemesis gravidarum.
Hiperemesis Gravidarum merupakan mual dan muntah yang berlebihan di saat
kehamilan, yang menyebabkan dehidrasi, defisiensi nutrisi, penurunan berat badan dan
mengganggu pekerjaan sehari-hari. Ibu hamil membutuhkan nutrisi yang baik agar
pertumbuhan dan perkembangan bayi secara sempurna, namun bila ibu hamil
mengalami Hiperemesis Gravidarum, nutrisi ibu berkurang sehingga mengancam
pertumbuhan dan perkembangan bayi. Masalah ini perlu diatasi dan ditanggulangi,
dalam menangani ibu hamil yang mengalami hal ini harus sesuai dengan keadaan ibu.
Diduga 50% sampai 80% ibu hamil mengalami mual dan muntah dan kira kira 5%
dari ibu hamil membutuhkan penanganan untuk penggantian cairan dan koreksi
ketidakseimbangan elektrolit. Walaupun kebanyakan kasus hilang dan hilang seiring
perjalanan waktu, satu dari setiap seribu wanita hamil akan menjalani rawat inap.
Hiperemesis gravidarum umumnya hilang dengan sendirinya (self-limiting), tetapi
penyembuhan berjalan lambat. Kondisi sering terjadi di antara wanita primigravida dan
cenderung terjadi lagi pada kehamilan berikutnya. (Lowdermilk, 2004)
Makalah ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai Hiperemesis
Gravidarum. Diharapkan juga dapat membantu memberikan pembelajaran khususnya
terhadap generasi muda untuk lebih memperhatikan kesehatan ibu hamil.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana memberikan asuhan keperawatan pada pasien Hiperemesis Gravidarum?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum:
Untuk mengetahui bagaimana memberikan asuhan keperawatan pada pasien
1.3.2

dengan Hiperemesis Gravidarum.


Tujuan Khusus:
1. Untuk mengetahui apa itu Hiperemesis Gravidarum
2. Untuk mengetahui apa saja penyebab Hiperemesis Gravidarum
3. Untuk mengetahui apa saja tanda dan gejala Hiperemesis Gravidarum
4. Untuk mengetahui apa saja diet pada Hiperemesis Gravidarum
2

5. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan pada


Hiperemesis Gravidarum.
1.4 Manfaat
1. Mahasiswa dapat memahami apa itu

Hiperemesis Gravidarum, penyebab

Hiperemesis Gravidarum, tanda dan gejala Hiperemesis Gravidarum, diet pada


Hiperemesis Gravidarum, dan pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan pada
Hiperemesis Gravidarum.
2. Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana melakukan asuhan keperawatan pada
pasien dengan Hiperemesis Gravidarum.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Penyakit


2.1.1 Pengertian Hiperemesis Gravidarum
Hiperemesis gravidarum adalah keadaan dimana penderita mual dan
muntah berlebihan, lebih dari 10 kali dalam 24 jam atau setiap saat, sehingga
menggganggu kesehatan dan pekerjaan sehari hari (Arief. B., 2009).
Wanita hamil memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum
sehingga berat badannya sangat turun, turgor kulit berkurang , dieresis berkurang
dan timbul asetonuri, keadaan ini di sebut hiperemesis gravidarum (Sastrowinata,
2004).
Hiperemesis gravidarum adalah vomitus yang berlebihan atau tidak
terkendali selama masa hamil, yang menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan
elektrolit, atau defisiensi nutrisi, dan kehilangan berat badan (Lowdermilk, 2004).
Jadi dapat disimpulkan, hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah
yang berlebihan yang dapat mengganggu aktivitas sehari hari yang tidak
terkendali selama masa hamil yang menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan
elektrolit atau defisiensi nutrisi dan kehilangan berat badan.
2.1.2

Penyebab Hiperemesis Gravidarum


Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti, tetapi ada
faktor yang dapat menyebabkan hiperemesis gravidarum. Beberapa faktor
pendukung yang dapat menyebabkan hiperemesis gravidarum yaitu :
a. Primigravida, mola hidatidosa, dan kehamilan ganda. Pada mola hidatidosa
dan kehamilan ganda, faktor hormon memegang peranan dimana hormon
khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan
b. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik
akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan
tersebut.
c. Alergi, sebagai salah satu respons dari jaringan ibu terhadap anak.
Pada kehamilan, di mana di duga terjadi invasi jaringan villi korialis yang
masuk peredaran darah ibu, maka faktor alergi dianggap dapat menyebabkan
kejadian hiperemesis gravidarum.
d. Faktor psikologis
Faktor psikologis seperti depresi, gangguan psikiatri, rumah tangga yang
retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan,
takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, tidak siap untuk menerima
4

kehamilan

memegang

peranan

yang

cukup

penting

dalam

menimbulkan hiperemesis gravidarum.


2.1.3

Patofisiologi
Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah
pada hamil muda terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak
seimbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik.
Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan
lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tidak
sempurna terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton asetik, asam
hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan volume cairan yang
diminum dan kehilangan karena muntah menyebankan dehidrasi sehingga cairan
ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan khlorida air kemih turun. Selain
itu juga adapt menyebabkan hemokonsentrasi sehingga aliran darah berkurang.
Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi
lewat ginjal menambah frekuensi muntah muntah lebih banyak, dapat merusak
hati dan terjadilah lingkaran yang sulit dipatahkan.

2.1.4

Manifestasi Klinik
Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat dibagi 3
(tiga) tingkatan yaitu :
a. Tingkatan I (ringan)
Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu
merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan nyeri pada
epigastrium. Nadi meningkat sekitar 100 kali per menit, tekanan darah
sistol menurun turgor kulit berkurang, lidah mengering dan mata cekung.
b. Tingkatan II (sedang)
Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih berkurang, lidah
mengering dan nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang
naik dan mata sedikit ikterus. Berat badan menurun dan mata menjadi
cekung, tensi rendah, hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi.
Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan, karena mempunyai aroma
yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing.
c. Tingkatan III (berat)
Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dan
somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu badan meningkat dan
tensi menurun. Komplikasi fatal dapat terjadi pada susunan saraf yang
dikenal sebagai ensefalopati Wemicke, dengan gejala : nistagtnus dan
diplopia. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan,
5

termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus adalah tanda adanya


payah hati. (Rukiyah dan yulianti 2010).
2.1.5

Diet Hiperemesis Gravidarum


Ada 3 macam diet pada hiperemesis gravidarum, yaitu :
a. Diet Hiperemesis I
Diet hiperemesis I diberikan kepada pasien dengan hiperemesis gravidarum
berat. Makana hanya terdiri dari roti kering, singkong bakar atau rebus, ubi
bakar atau rebus, dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan
tetapi 1-2 jam sesudahnya. Karena pada diet ini zat gizi yang terkandung di
dalamnya kurang, maka tidak diberikan dalam waktu lama.
b. Diet Hiperemesis II
Diet ini diberikan bila rasa mual dan muntah sudah berkurang. Diet diberikan
secara berangsur dan dimulai dengan memberikan bahan makanan yang
bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersamaan dengan makanan.
Pemilihan bahan makanan yang tepat pada tahap ini dapat memenuhi
kebutuhan gizi kecuali kebutuhan energi.
c. Diet Hiperemesis III
Diet hiperemesis III diberikan kepada pasien hiperemesis gravidarum ringan.
Diet diberikan sesuai kesanggupan pasien, dan minuman boleh diberikan
bersama makanan. Makanan pada diet ini mencukupi kebutuhan energi dan
semua zat gizi.
d. Makanan yang dianjurkan untuk diet hiperemesis gravidarum I, II, dan III
adalah:
1. Roti panggang, biskuit, dan crackers
2. Buah segar dan sari buah
3. Minuman botol ringan, sirop, kaldu tak berlemak, teh dan kopi encer
e. Makanan yang tidak dianjurkan untuk diet hiperemesis gravidarum I, II, III
adalah makanan yang umumnya merangsang saluran pencernaan dan
berbumbu tajam. Bahan makanan yang mengandung alkohol, kopi, dan yang
mengadung zat tambahan (pengawet, pewarna, dan bahan penyedap) juga
tidak dianjurkan.

2.1.6

Pemeriksaan Diagnostik
Menurut (Marilynn E. Doenges, 2001: 43):
a) Urinalisis: Urinalisis untuk menentukan adanya infeksi dan atau dehidrasi
meliputi pemeriksaan keton, albumin, dan berat jenis urine
b) USG (dengan menggunakan waktu yang tepat): mengkaji usia gestasi janin
dan adanya gestasi multipel, mendeteksi abnormalitas janin, melokalisasi
plasenta.
6

c) Kadar hemoglobin (HB) dan hematokrit (Ht)


d) Pemeriksaan elektrolit jika terjadi dehidrasi dan diduga terjadi muntah
berlebihan meliputi pemeriksaan natrium, kalium, klorida dan protein.
e) Pemeriksaan Blood Urea Nitrogen (BUN), nonprotein nitrogen, dan kadar
asam.
f) TSH untuk menentukan penyakit pada tiroid
g) CBG, amilase, lipase, keadaan hati atau jika diduga terjadi infeksi sebagai
penyebab.
h) Foto abdomen jika ada indikasi gangguan abdomen akut.
i) Kadar HCG jika diduga kehamilan multiple atau mola hidatiformis.
2.1.7

Komplikasi
a. Dehidrasi berat
b. Ikterik
c. Takikardia
d. Suhu meningkat
e. Alkalosis
f. Kelaparan
g. Gangguan emosional yang berhubungan dengan kehamilan dan hubungan
keluarga
h. Menarik diri dan depresi

2.1.8

Penatalaksanaan
a. Obat-obatan
Sedativa yang siring diberikan adalah phenobarbital, vitamin yang dianjurkan
adalah vitamin B1 dan B6. Anti histamika juga dianjurkan seperti dramamin,
ovamin pada keadaan lebih kuat diberikan antimetik seperti disiklomin
hidrokhloride atau khlorpromasin.
b. Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan peredaran
udara baik. Catat cairan yang keluar dan masuk. Hanya dokter dan perawat
yang boleh masuk ke dalam kamar penderita. Sampai muntah berhenti dan
penderita mau makan, tidak diberikan makan/minum selama 24 jam.
Kadang-kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau hilang
tanpa pengobatan.
c. Terapin Psikologik
Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan,
hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta
menghilangkan masalah dan konflik yang kiranya dapat menjadi latar
belakang penyakit ini.
d. Cairan Parenteral
7

Berikan cairan parental yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan
glukose 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter sehari. Bila
perlu dapat ditambah kalium dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks
dan vitamin C dan bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam
amino secara intravena.
e. Penghentian kehamilan
Bila keadaan memburuk dilakukan pemeriksaan medik dan psikiatrik,
manifestasi komplikasi organis adalah delirium, kebutuhan, takikardi,
ikterus,

anuria

dan

perdarahan

dalam

keadaan

demikian

perlu

dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan keadaan yang memerlukan


pertimbangan gugur kandung diantaranya
1) Gangguan kejiwaan
a. Delirium
b. Apatis, somnolen sampa inkomakis
c. Terjadi gangguan jiwa ensepalopati wernicle
2) Gangguan penglihatan
a. Pendarahan bretina
b. Kemunduran penglihatan
3) Gangguan faal
a. Hati dalam bentuk ikterus
b. Ginjal dalam bentuk anuria
c. Jantung dan pembuluh darah terjadi nadi meningkat
d. Tekanan darah menurun
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan
2.2.1 Pengkajian
a. Identitas klien
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, tempat tanggal lahir, nama orang tua,
pekerjaan dan pendidikan.
b. Riwayat kesehatan yang lalu
c. Riwayat kesehatan saat sakit
1. Keluhan utama
2. Riwayat perjalanan penyakit
3. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi keluhan.
d. Riwayat penyakit keluarga
e. Riwayat alergi juga penting karena dapat juga menjadi

indikator

penyakit terutama obat.


f. Aktifitas istirahat; tekanan darah sistol menurun, denyut nadi meningkat(>100
kali per menit)
g. Integritas
ego;
ekonomi,perubahan

konflik

interpersonal

persepsi

tentang

keluarga,

kondisinya,

kesulitan

kehamilan

tak

direncanakan.

h. Eliminasi; perubahan pada konsistensi, defekasi, peningkatan frekuensi


berkemih Urinalis ;peningkatan konsistensi urine.
i. Makanan/cairan; mual dan muntah yang berlebihan (4-8 minggu), nyeri
epigastrium, pengurangan berat badan (5-10 kg), membrane mukosa mulut
iritasi dan merah, Hb dan Ht rendah, nafas berbau aseton, turgorkulit
berkurang, mata cekung dan lidah kering.
j. Pernafasan; frekuensi pernapasan meningkat.
k. Keamanan; suhu kadang naik, badan lemah, ikterus, dan dapat jatuh dalam
koma
l. Seksualitas; penghentian menstruasi, bila keadaan ibu membahayakan maka
dilakukan abortus terapeutik.
m. Interaksi
sosial;
perubahan

status

kesehatan/stressor

kehamilan,perubahan peran, respon anggota keluarga yang dapat


bervariasi terhadap hospotalisasi dan sakit, sistem pendukung yang kurang.
n. Pembelajaran dan penyuluhan; segala yang dimakan dan diminum
dimuntahkan, apalagi kalau berlangsung lama, berat badan turun lebih dari
1/10 dari berat badab normal, turgor kulit, lidah kering, adanyaaseton dalam
urine.
2.2.2

Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nausea dan
vomitus
b. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan akibat
vomitus danasupan cairan yang tidak adequat.
c. Gangguan rasa nyaman: nyeri (perih) berhubungan dengan muntah
yangberlebihan, peningkatan asam lambung.
d. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan berhubungan
denganketerbatasan informasi.
e. Resiko perubahan integritas kulit berhubungan dengan penurunan
darah dannutrisi kejaringanjaringan sekunder akibat dehidrasi
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakadekuatan sumber
energi sekunder.

2.3.2

Perencanaan Keperawatan
a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
nausea dan vomitus yang menetap.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil :

1) Klien akan mengkonsumsi asupan oral diet yang mengandung zat


gizi yang adequate.
2) Klien tidak mengalami nausea dan vomitus.
3) Klien akan menoleransi diit yang telah di programkan.
4) Klien akan mengalami peningkatan berat badan yang sesuai selama
hamil.
Intervensi :
1) Catat intake dan output.
Rasional: Menentukan hidrasi cairan dan pengeluaran melalui
muntah.
2) Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional: Dapat mencukupi asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh.
3) Anjurkan untuk menghindari makanan yang berlemak
Rasional : Dapat merangsang mual dan muntah.
4) Anjurkan untuk makan makanan selingan seperti biskuit, roti dan teh
(panas) hangat sebelum bagun tidur pada siang hari dan sebelum tidur.
Rasional: Makanan selingan dapat mengurangi atau menghindari
rangsangmual muntah yang berlebih
5) Catat intake TPN, jika intake oral tidak dapat diberikan dalam
periodeter tentu.
Rasional: Untuk mempertahankan keseimbangan nutrisi.
6) Inspeksi adanya iritasi atau Iesi pada mulut.
Rasional: untuk mengetahui integritas inukosa mulut.
7) Kaji kebersihan oral dan personal hygiene serta penggunaan cairan
pembersih mulut sesering mungkin.
Rasional: Untuk mempertahankan integritas mukosa mulut.
8) Pantau kadar Hemoglobin dan Hemotokrit
Rasional: Mengidenfifikasi adanya anemi dan potensial penurunan
kapasitas pembawa oksigen ibu. Klien dengan kadar Hb < 12 gr/dl
ataukadar Ht < 37 % dipertimbangkan anemi pada trimester I.
9) Test urine terhadap aseton, albumin dan glukosa.
Rasional: Menetapkan data dasar ; dilakukan secara rutin
untuk mendeteksi
ketidakadekuatan

situasi potensial
asupan

karbohidrat,

resiko tinggi seperti


Diabetik

keloasedosis

dan

Hipertensi (Doenges, 2001:57).


b. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan akibat
vomitus dan asupan cairan yang tidak adequat.
Tujuan : Kebutuhan cairan terpenuhi
Kriteria hasil :
1) Keseimbangan cairan dan elektrolit akan kembali ke kondisi normal,
yangterbukti dengan turgor kulit normal, membran mukosa lembab,
10

berat badanstabil, tanda-tanda vital dalam batas normal; elektrolit,


serum, hemoglobin,hematokrit, dan berat jenis urin akan berada dalam
batas normal.
2) Klien tidak akan muntah lagi
3) Klien akan mengkonsumsi asupan dalam jumlah yang adequat.
Intervensi:
1) Tentukan frekuensi atau beratnya mual/muntah.
Rasional: Memberikan data berkenaan dengan
Peningkatan

kadar

hormon

Korionik

semua

kondisi.

gonadotropin

(HCG),

perubahanmetabolisme karbohidrat dan penurunan motilitas gastric


memperberat mual/muntah pada kehamilan.
2) Tinjau ulang riwayat kemungkinah masalah medis lain (misalnya Ulkus
peptikum, gastritis)
Rasional: Membantu dalam mengenyampingkan penyebab lain untuk
mengatasi masalah khusus dalam mengidentifikasi intervensi.
3) Kaji suhu badan dan turgor kulit, membran mukosa, TD, input/output dan berat
jenis urine. Timbang BB klien setiap hari.
Rasional: Sebagai indikator dalam membantu mengevaluasi tingkat atau
kebutuhan hidrasi.
4) Anjurkan peningkatan asupan minuman berkarbonat, makan sesering
mungkin dengan jumlah sedikit. Makanan tinggi karbonat seperti : roti kering
sebelum bangun dari tidur.
Rasional: Membantu dalam

meminimalkan

mual/muntah

dengan

menurunkan keasaman lambung. (Doenges, 2001:61)


c. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan muntah yang
berlebihan, peningkatan asam lambung.
Tujuan :Nyeri hilang/berkurang.
Kriteria hasil :
1) Klien mengungkapkan secara verbal.
2) Nyeri hilang atau berkurang
3) Pasien dapat beristirahat dengan tenang
Intervensi:
1) Kaji skala nyeri, karakteristik, kualitas, frekuensi dan lokasi nyeri.
Rasional : Menentukan perubahan dalam tingkat nyeri dan mengevaluasi
nilaiskala nyeri. Mengidentifikasi sumber sumber multiple dan jenisnyeri.
2) Anjurkan penggunaan tekhnik relaksasi dan distraksi
Rasional: Menggunakan strategi ini sejalan dengan pemberian analgesic
untuk mengurangi atau mengalihkan respon terhadap nyeri.

11

3) Yakinkan

pada

klien

bahwa

perawat

mengetahui

nyeri

yang

dirasakannyadan akan berusaha membantu untuk mengurangi nyeri tersebut.


Rasional: ketakutan bahwa nyari akan tidak dapat diterima seperti
peningkatan ketegangan dan ansietas yang nyata dan menurunkan toleransi
nyeri.
4) Berikan kembali skala pengkajian nyeri
Rasional: memungkinkan pengkajian terhadap keefektifan analgesic dan
mengidentifikasi kebutuhan terhadap tindak lanjut bila tidak efektif.
5) Catat keparahan nyeri pasien dengan bagan.
Rasional: membantu dalam menunjukkan kebutuhan analgesic tambahan
atau pendekatan alternative terhadap penatalaksanaan nyeri.
6) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi.
Rasional: Analgesic lebih efektif bila diberikan pada awal siklus nyeri.
(Smeltzer. 2001)
d. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan berhubungan
denganketerbatasan informasi.
Tujuan: Klien mengerti tentang perubahan fisiologis dan pskologis yang
normaldan tanda-tanda bahaya kehamilan.
Kriteria hasil:
1) Klien menjelaskan perubahan fisiologis
berkaitandengan kehamilan trimester pertama.
2) Klien
menunjukkan
perilaku
perawatan

dan

pskologis

diri

sendiri

normal
yang

meningkatkankesehatan.
3) Mengidentifikasi tanda-tanda bahaya kehamilan.
Intervensi:
1) Jelaskan tentang Hiperemesis Grvidarum dan kaji pengetahuan pasien.
Rasional: Untuk mengetahui seberapa dalam pengetahuan pasien tentang
penyakitnya dan tentang penatalaksanaannya di rumah.
2) Berikan pendidikan kesehatan tentang hiperemesis gravidarum.
Rasional:
Untuk
meningkatkan
pengetahuan
pasien

tentang

hiperemesisgravidarum.
3) Buat hubungan perawat-klien yang mendukung dan terus menerus.
Rasional: Peran penyuluh atau konselor dapat memberikan bimbingan
antisipasi dan meningkatkan tanggung jawab individu terhadapkesehatan.
4) Evaluasi pengetahuan dan keyakinan budaya saat ini berkenaan dengan
perubahan fisiologis/psikologis yang normal pada kehamilan, serta keyakinan
tentang aktivitas, perawatan diri dan sebagainya.
Rasional: Memberikan informasi untuk membantu mengidentifikasi
kebutuhan-kebutuhan dan membuat rencana keperawatan.
5) Klarifikasi kesalahpahaman.

12

Rasional: Ketakutan biasanya timbul dari kesalahan informasi dan


dapatmengganggu pembelajaran selanjutnya.
6) Tentukan derajat motivasi untuk belajar.
Rasional: Klien dapat mengalami kesulitan dalam belajar kecuali
kebutuhan untuk belajar tersebut jelas.
7) Pertahankan sikap terbuka terhadap keyakinan klien/pasangan.
Rasional: Penerimaan penting untuk mengembangkan dan mempertahankan
hubungan.
8) Jawab pertanyaan tentang perawatan dan pemberian makan bayi.
Rasional: Memberikan informasi yang dapat bermanfaat
membuatpilihan.
9) Identifikasi tanda

bahaya

untuk

kehamilan, seperti perdarahan, kram,

nyeriabdomen akut, sakit punggung, edema, gangguan penglihatan, sakit


kepaladan tekanan pelvis.
Rasional: Membantu klien membedakan yang normal dan abnormal sehingga
membantunya dalam mencari perawatan kesehatan pada waktuyang tepat.
(Doenges,2001:67)
e. Resiko perubahan integritas kulit berhubungan dengan penurunan
darah dannutrisi kejaringanjaringan sekunder akibat dehidrasi
Tujuan: Tidak terjadi ganguan integritas kulit.
Kriteria hasil : Mengidentifikasi dan menunjukkan perilaku untuk
mempertahankan kulit halus, kenyal, utuh.
Intervensi:
1) Observasi kemerahan, pucat, ekskoriasi.
Rasional: Area ini meningkat risikonya

untuk

memerlukanpengobatan lebih intensif.


2) Dorong mandi tiap 2 hari 1x, pengganti mandi tiap hari.
Rasional: Sering mandi membuat kekeringan kulit.
3) Gunakan krim kulit dua kali sehari dan setelah mandi.
Rasional: Melicinkan kulit dan mengurangi gatal.
4) Diskusikan
pentingnya
perubahan
posisi
sering,

kerusakan

perlu

dan

untuk

mempertahankanaktivitas.
Rasional: Meningkatkan sirkulasidan perfusi kulit dengan mencegah
tekananlama pada jaringan.
5) Tekankan pentingnya masukan nutrisi/cairan adequat.
Rasional: Perbaikan nutrisi dan hidrasi akan memperbaiki kondisi kulit.
(Doenges, 1999:433 -434).
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakadekuatan sumber
energisekunder.
Tujuan: Pasien dapat beraktivitas secara mandiri.
Kriteria hasil :
13

1) Pasien dapat memperlihatkan kemajuan khususnya tingkat yang lebih tinggi.


2) Pasien mengidentifikasi faktor-faktor yang menurunkan toleransi aktivitas.
Intervensi :
1) Tingkatkan tirah baring/duduk. Berikan lingkungan yang tenang; batasi
pengunjung sesuai keperluan.
Rasional: Meningkatkan istirahat dan ketenangan.
2) Ubah posisi dengan sering. Berikan perawatan kulit yang baik.
Rasional: Meningkatkan fungsi pernapasan dan meminimalkan tekanan
pada area tertentu untuk menurunkan risiko kekurangan jaringan.
3) Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi, bantu melakukan latihan rentang
geraksendi pasif/aktif.
Rasional: tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan. Ini dapat terjadi
karena keterbatasan aktivitas yang mengganggu periode istirahat.
4) Dorong penggunaan tekhnik manajemen stress. Contoh

relaksasi

progresif,visualisasi, bimbingan imajinasi.


Rasional: meningkatkan relaksasi dan penghematan energy, memusatkan
kembali perhatian dan dapat meningkatkan koping.
5) Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi: sedatif, agen antiansietas,
contohdiazepam (valium); lorazepam(ativan).
Rasional:
Membantu dalam manajemen

kebutuhan

tidur.

BAB III
PEMBAHASAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S
DENGAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM
I. Pengkajian
A. Pengumpulan Data
14

1) Identitas Klien
Nama Pasien
: Ny.S
Umur
: 27 tahun
Suku / Bangsa
: Jawa/Indonesia
Agama
: Islam
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Alamat
: JL. Bratang binangun VB/26
Status Perkawinan
: Menikah
Diagnosa
: Hiperemesis Gravidarum
Pemberi Jaminan
: BPJS
Sumber Informasi
: Pasian dan keluarga
Identitas Keluarga
Nama Suami
: Tn.N
Umur
: 30 th
Suku / Bangsa
: Jawa/Indonesia
Agama
: Islam
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
: Buruh
Alamat
: JL. Bratang binangun VB/26
2) Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama:
Klien mengatakan sering mual dan muntah sebanyak 4-6 kali sehari selama
kurang lebih 1 minggu.
b. Keluhan Sekarang:
Klien mengatakan selalu mual dan muntah. Mual dan muntah dirasakan saat
melakukan aktivitas. Mual dirasakan sangat menganggu aktivitas dan
terkadang tidurnya. Mual terjadi tidak menentu.
c. Kesehatan dahulu:
Klien mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular seperti
HIV/AID, TBC dan penyakit menurun seperti hipertensi, DM, dan penyakit
menahun seperti jantung dan asma, dan tidak pernah operasi dan opname di
RS.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga:
Klien mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit
menular seperti HIV/AID, TBC dan penyakit menurun seperti hipertensi,
DM, dan penyakit menahun seperti jantung dan asma.
3) Pola Aktivitas Sehari-hari
1. Nutrisi
Aktivitas
Makan

Sebelum Sakit
3x1 hari ( 1 porsi habis

Saat Sakit
2x1 hari (porsi sedikit, nasi

dengan nasi, sayur dan lauk

lauk, sayur dan buah)

pauk)
15

Keluhan
Minum
Keluhan

Tidak ada keluhan


7-8 gelas/ hari dengan air

Mual, tidak nafsu makan


Minum air putih 4 5 gelas

putih dan teh

dan susu hamil

Tidak ada keluhan

Sakit tenggorokan

2. Eliminasi
Aktivitas
BAB

Sebelum Sakit
1x/hari (warna kuning khas,

Saat Sakit
1x/hari dengan waktu yang

konsistensi lembek)

tidak menentu (warna kuning


khas,konsistensi lembek)

Keluhan

Tidak ada keluhan


Tidak ada keluhan

BAK

5-6x/hari (warna kuning

5-6x/hari (warna kuning

Keluhan

bening)
Tidak ada keluhan

bening)
Tidak ada keluhan

3. Personal Hygiene
Aktivitas
Mandi
Keramas
Gosok gigi

Sebelum Sakit
2x/hari
1x/2hari
2x/hari

Sakit Sakit
Diseka
1x/hari

Aktivitas

Sebelum Sakit

Saat Sakit

Tidur

8 jam di malam hari

4. Istirahat tidur

5 jam di malam hari, dan


jam di siang hari

5. Latihan atau olahraga


Aktivitas

Sebelum Sakit

Saat Sakit

Olahraga

Lari pagi atau joging

Pasien tidak melakukan


aktivitas tersebut, pasien
berbaring di tempat tidur.

16

4) Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
Kesadaran
Tekanan Darah
Respirasi
Nadi
Suhu
Berat Badan
Tinggi Badan

:
:
:
:
:
:
:
:

Lemah
Compos Mentis
110/60 mmHg
18/mnt
110X/menit
37 C
68kg
160 cm

1) Kepala dan rambut


Bentuk kepala tidak ada kelainan, penyebaran rambut merata, warna rambut
2)

hitam, ikal, dan tidak ada benjolan maupun nyeri


Hidung
Bentuk hidung simetris, hidung bersih tidak ada sekret, tidak ada pernafasan
cuping hidung , tidak ada perdarahan dan tidak ada nyeri.

3) Telinga

Kedua telinga simetris tidak ada kelainan, tidak ada penumpukan serumen,
pendengaran normal.
4) Mata

Kedua mata simetris, penyebaran bulu mata merata, palpebra tidak ada
benjolan dan tidak odema, konjungtiva anemis.
5) Mulut, Gigi, Tonsil, Lidah dan Pharing

Mulut kotor, mukosa bibir kering, tidak ada pembesaran tonsil, tidak ada
stomatitis, tidak ada pembengkakan gusi, lidah bengkak dan kering.
6) Leher dan Tenggorokan

Tidak terdapat pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis, warna kulit
sama dengan warna kulit sekitar, tidak ada nyeri tekan.
7) Dada
Inspeksi
Bentuk dada simetris, tidak ada bunyi nafas, gerakan singkron, tidak ada
kelainan bentuk, dan tidak ada lesi.
Palpasi
Tidak ada nyeri tekan, pergerakan dada simetris dan tidak ada lesi
Auskultasi
Suara nafas vesikuler, tidak ada suara tambahan
8) Payudara
Inspeksi
Payudara bersih, tidak ada kotoran, tidak ada lesi, bentuk payudara

simetris.
Palpasi
Teksturnya agak keras, dan ada nyeri tekan
9) Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi
Bentuk abdomen simetris, tidak nampak lesi luka jaringan parut.
Auskultasi
Bising usus terdengar 15 kali/ menit
17

Palpasi
Ada nyeri tekan , distensi usus dan ada pembesaran janin.
10) Genetalia dan anus
Tidak ada kelainan
11) Ekstremitas(Integumen)
Turgor kulit
: Menurun/sedang
Warna kulit
: Ikterik
Kesulitan dalam pergerakan : Ya
12) Keadaan Psikologis
Kehamilan ini sangat diharapkan oleh ibu, suami, keluarga, dan tidak

mengharapkan jenis kelamin tertentu, yang penting ibu dan janin sehat.Tetapi
ibu cemas dan takut akan keadannya sekarang karena ini kehamilan
pertamanya.
13) Keadaan Sosial
Hubungan ibu, suami, keluarga dan tetangga baik
Ibu berharap yang menolong persalinan adalah bidan
Ibu tidak pernah merokok dan minum alcohol
14) Keadaan spiritual
Ibu dan suami beragama islam dan selalu berdoa agar ibu dan janinnya sehat.
15) Latar Belakang Sosial Budaya
Ibu dan suami berasal dari suku jawa, selama hamil ibu tidak pernah minum
jamu, dan tidak ada pantangan makanan. Keluarga juga melakukan tradisi
adat jawa seperti mengadakan acara 3 bulanan dan 7 bulanan.

16) Data Penunjang


Nama test

Hasil

Nilai Normal

Hemoglobin
Lekosit

14 g/dl
8000/mm3

13,0-16,0
4.000-10.000

Hematokrit

45%

40-50

Trombosit
Eritrosit

194 /mm3
5 juta

150.000-440.000
4,5 5 juta

Trombosit

160.000

150.000-450.000

17) Terapi
Bufantacyd syr 3 x 1 cth ( jam sebelum makan)
Caviplex 1 x 1 tab (sesudah makan)
Sanmol 3 x 1 tab
Therapi Parenteral:
18

Sotatic Inj 2 x1Vit C inj 2 x 1


Infus: RL + Neurobin 20 gtt/menit
II. Analisa DataA
DATA
DS:

ETIOLOGI

MASALAH

Kehamilan

KEPERAWATAN
Kurang volume cairan dan

Pasien Mengatakan
Mual Dan muntah

elektrolit
Perubahan Fisiologis

berlebih 3 hari:
TTV
TD: 110/60 mmHg
N:110x/mnt
S : 37 Derajat Celcius,
R: 18x/menit

Hormon HCG esterogen


Motilitas lambung dan usus
Kembung dan produksi gas

DO:
Mukosa bibir kering,
badan lemas, turgor

Mual muntah
Cairan elektrolit keluar

menurun, mata tampak


cekung.

Kurang volume cairan dan


elektrolit

DS:
Pasien Mengatakan
Mual Dan muntah, tidak
nafsu

Kehamilan
Perubahan Fisiologis

Gangguan Kebutuhan
Nutrisi

Hormon HCG esterogen


Motilitas lambung dan usus
19

DO: Porsi makan tidak

Kembung dan produksi gas


Mual muntah
Nafsu Makan menurun
Gangguan nutrisi
Kehamilan

Cemas

Perubahan Fisiologis

DS:
Pasien Mengatakan

Hormon HCG esterogen

cemas karena takut


keadaan janinnya

Motilitas lambung dan usus

DO:
TTV

Kembung dan produksi gas

TD: 110/60 mmHg


N :110x/mnt

Mual muntah berlebih

S : 37 Derajat Celcius.
Ekspresi klien tampak

Takut akan janin dalam

cemas, klien tidak bisa

kandungan

tidur
Cemas
III.

Diagnosa Keperawatan
1. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan akibat
vomitus dan asupan cairan yang tidak adequat.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nausea dan
vomitus yang menetap.
3. Cemas berhubungan dengan takut keadaan janin terganggu

IV.

Perencanaan Keperawatan
No
.
1.

Perencanaan

Dx
1

Tujuan
Tupen:

Intervensi
1. Kaji suhu badan dan

Rasional
1. Sebagai indikator

Kebutuhan cairan

turgor kulit, membran

dalam membantu

terpenuhi

mukosa, TD, input/output

mengevaluasi tingkat

dan berat jenis urine.

atau kebutuhan hidrasi

Tupan:

Timbang BB klien dan


20

Setelah dilakukan

bandingkan dengan

asuhan keperawatan

standar

2. Membantu dalam

dalam waktu 324

meminimalkan

jam kebutuhan
cairan dan elektrolit
terpenuhi, mukosa
bibir lembab, turgor
kulit baik, dan badan
tidak lemas, dan
kelopak
#mukosa bibir
:lembab

mual/muntah dengan
2. Anjurkan peningkatan

menurunkan

asupan minuman

keasaman lambung

berkarbonat, makan

Mempermudah

sesering mungkin dengan

pengenceran secret.

jumlah sedikit. Makanan


tinggi karbonat seperti :
roti kering sebelum
bangun dari tidur.

#turgor:baik
#badan klien tampak
segar
#kelopak mata :tidak
tampak hitam
2.

Tupan:

1. Berikan obat anti emetik

1. Mencegah muntah

Kebutuhan nutrisi

yang diprogramkan

serta memelihara

terpenuhi

dengan dosis rendah

keseimbangan cairan
dan elektrolit.

Tupen:
Setelah dilakukan
asuhan keperawatan
dalam waktu 324
jam kebutuhan

2. Anjurkan makan dalam


porsi kecil tapi
seringmakanan yang

asupan nutrisi yang


dibutuhkan tubuh

3. Makanan selingan

nafsu makan
makan habis.

Dapat mencukupi

berlemak

nutrisi terpenuhi,
meningkat, Porsi

2.

dapat mengurangi atau


3. Anjurkan untuk makan
makanan selingan seperti

menghindari rangsang
mual muntah yang
21

biskuit, roti dan the

berlebih

(panas) hangat sebelum


bagun tidur pada siang
hari dan sebelum tidur
4. Berikan
multivitamin/suplemen

4. Meningkatkan stamina
3

Tupan:
Rasa cemas
menghilang

1. Kontrol lingkungan klien


dan batasi pengunjung

1. Untuk mencegah dan


mengurangi
kecemasan

2. Kaji tingkat fungsi


psikologis klien

Tupen: Setelah
dilakukan asuhan
keperawatan 3x24

2. Untuk menjaga
3. Berikan support
psikologis
3. Untuk menurunkan

jam rasa cemas

kecemasan dan

menghilang, klien
dapat tidur dengan

intergritas psikologis

4. Berikan penguatan positif

baik, ekspresi cemas

membina rasa saling


percaya

menghilang.

4. Untuk meringankan
pengaruh psikologis
akibat kehamilan

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
22

Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan yang dapat
mengganggu aktivitas sehari hari yang tidak terkendali selama masa hamil yang
menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit atau defisiensi nutrisi dan
kehilangan berat badan.
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti, tetapi ada
beberapa faktor yang dapat menyebabkan hiperemesis gravidarum. Beberapa faktor
pendukung yang dapat menyebabkan hiperemesis gravidarum yaitu: Primigravida,
mola hidatidosa, dan kehamilan ganda, masuknya vili khorialis dalam sirkulasi
maternal, alergi, dan faktor psikologis.
Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat dibagi d
alam 3 (tiga) tingkatan yaitu : Tingkatan I (ringan), Tingkatan II (sedang), dan
Tingkatan III (berat).
Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan meliputi Urinalisis, USG, Kadar
hemoglobin (HB) dan hematokrit (Ht), Pemeriksaan elektrolit jika terjadi dehidrasi dan
diduga terjadi muntah berlebihan meliputi pemeriksaan natrium, kalium, klorida dan
protein, Pemeriksaan Blood Urea Nitrogen (BUN), nonprotein nitrogen, dan kadar
asam, TSH untuk menentukan penyakit pada tiroid, CBG, amilase, lipase, keadaan hati
atau jika diduga terjadi infeksi sebagai penyebab, Foto abdomen jika ada indikasi
gangguan abdomen akut, Kadar HCG jika diduga kehamilan multiple atau mola
hidatiformis.
Komplikasi yang dapat terjadi di antaranya Dehidrasi berat, Ikterik, Takikardia,
Suhu meningkat, Alkalosis, Kelaparan, Gangguan emosional yang berhubungan dengan
kehamilan dan hubungan keluarga, Menarik diri dan depresi.
4.2 Saran
Penulis berharap setelah pembaca membaca makalah ini, pembaca dapat
mengambil manfaat dari isi makalah. Penulis mengakui bahwa pembuatan makalah ini
jauh dari sempurna. Penulis mengakui sumber kepustakaan masih kurang lengkap.
Diharapkan setelah membaca makalah ini pembaca dapat mengetahui apa itu
hiperemesis gravidarum, tanda dan gejala hiperemesis gravidarum serta bagaimana diet
yang bisa dilakukan untuk pasien dengan hiperemesis gravidarum.

23

DAFTAR PUSTAKA
Babak, Lowdermik, Jensen, 2004, Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Edisi 4; Jakarta, EGC
Doenges, Marilynn E. 2001. Rencana Perawatan Maternal atau Bayi. Jakarta ; EGC
Rukiyah, Yulianti. 2010. Asuhan Kebidanan IV (Patologi Kebidanan). Jakarta: Trans Info
Media.
Sastrowinata, Sulaiaman (2004), OBSTETRI PATOLOGI, EGC, Jakarta.
24

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/127/jtptunimus-gdl-fatmawatig-6322-1-babi.pdf

25