Anda di halaman 1dari 7

MATERI PENYULUHAN

PERAN KELUARGA DALAM MENCEGAH KEKAMBUHAN PENDERITA


GANGGUAN JIWA DENGAN IDE BUNUH DIRI

Bunuh diri atau suicide atau tentamen suicidum adalah kematian yang diniatkan dan
dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri (Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto,
2010) atau segala perbuatan seseorang yang dapat mengakhiri hidupnya sendiri dalam waktu
singkat (Maramis dan Maramis, 2009).

Ada macam-macam pembagian bunuh-diri dan

percobaan bunuh-diri. Pembagian Emile Durkheim masih dapat dipakai karena praktis, yaitu:
1. Bunuh diri egoistik
Individu ini tidak mampu berintegrasi dengan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh kondisi
kebudayaan atau karena masyarakat yang menjadi individu itu seolah-olah tidak
berkepribadian. Kegagalan integrasi dalam keluarga dapat menerangkan mengapa mereka tidak
menikah lebih rentan untuk melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan dengan mereka
yang menikah. Masyarakat daerah pedesaan mempunyai integrasi social yang lebih baik dari
pada daerah perkotaan, sehingga angka suiside juga lebih sedikit.
2. Bunuh diri altruistik
Individu itu terikat pada tuntutan tradisi khusus ataupun ia cenderung untuk bunuh diri
karena identifikasi terlalu kuat dengan suatu kelompok, ia merasa bahwa kelompok tersebut
sangat mengharapkannya. Contoh: Hara-kiri: di Jepang, puputan di Bali beberapa ratus tahun
yang lalu, dan di beberapa masyarakat primitive yang lain. Suiside macam ini dalam jaman
sekarang jarang terjadi, seperti misalnya seorang kapten yang menolak meninggalkan kapalnya
yang sedang tenggelam.
3. Bunuh diri anomik
Hal ini terjadi bila tedapat gangguan keseimbangan integrasi antara individu dengan
masyarakat, sehingga individu tersebut meningglakan norma-norma kelakuan yang biasa.
Individu itu kehilangan pegangan dan tujuan. Masyarakat atau kelompoknya tidak dapat
memberikan kepuasan kepadanya karena tidak ada pengaturan dan pengawasan terhadap
kebutuhan-kebutuhannya. Hal ini menerangkan mengapa percobaan bunuh diri pada orang cerai
pernikahan lebih banyak dari pada mereka yang tetap dalam pernikahan. Golongan manusia yang
mengalami perubahan ekonomi yang drastis juga lebih mudah melakukan percobaan bunuh diri.
Helber Hendin mengemukakan beberapa hal psikodinamika bunuh-diri sebagai berikut:

1.

Kematian sebagai pelepasan pembalasan (Death as retaliatory abandonment).


Suiside dapat merupakan usaha untuk mengurangi preokupasi tentang rasa takut akan
kematian. Individu mendapat perasaan seakan-akan ia dapat mengontrol dan dapat
mengetahui bilamana dan bagaimana kematian itu.

2.

Kematian sebagai pembunuhan terkedik (ke belakang) (Death as retroflexed


murder).
Bagi individu yang mengalami gangguan emosi hebat, suiside dapat mengganti kemarahan
atau kekerasan yang tidak dapat direpresikan. Orang ini cenderung untuk bertindak kasar
dan suiside dapat merupakan penyelesaian mengenai pertentangan emosi dengan keinginan
untuk membunuh.

3.

Kematian sebagai penyatuan kembali (Death as reunion).


Kematian dapat mempunyai arti yang menyenangkan, karena individu itu akan bersatu
kembali dengan orang yang telah meninggal (reuni khayalan).

4. Kematian sebagai hukuman buat diri sendiri (Death as self punishment).


Menghukum diri sendiri karena kegagalan dalam pekerjaan jarang terjadi pada wanita, akan
tetapi seorang ibu tidak mampu mencintai, maka keinginan menghukum dirinya sendiri dapat
terjadi. Dalam rumah sakit jiwa, perasaan tak berguna dan menghukum diri sendiri merupakan
hal yang umum. Mula-mula mungkin karena kegagalan, rasa berdosa karena agresi, individu
itu mencoba berbuat lebih baik lagi, tetapi akhirnya ia menghukum diri sendiri untuk
menjauhkan diri dari tujuan itu.
Faktor Risiko
Berikut ini faktor-faktor resiko untuk bunuh diri (Sadock, et al, 2007):
a.

Jenis kelamin
Perempuan lebih banyak melakukan percobaan bunuh diri dibanding laki-laki. Akan
tetapi, keberhasilan bunuh diri lebih tinggi pada laki-laki. Hal ini berkaitan dengan metode
bunuh diri yang dipilih. Laki-laki lebih banyak dengan gantung diri, meloncat dari tempat
tinggi, dengan senjata api. Perempuan lebih banyak dengan overdosis obat-obatan atau
menggunakan racun.

b.

Usia
Kasus bunuh diri meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Pada laki-laki, angka
bunuh diri tertinggi pada usia di atas 45 tahun sedangkan pada perempuan angka bunuh diri

tertinggi pada usia di atas 55 tahun. Orang yang lebih tua lebih jarang melakukan percobaan
bunuh diri, tetapi lebih sering berhasil.
c.

Ras
Di Amerika Serikat ras kulit putih lebih banyak melakukan bunuh diri dibanding ras kulit
hitam.

d.

Status perkawinan
Pernikahan menurunkan angka bunuh diri, terutama jika terdapat anak di rumah. Orang
yang tidak pernah menikah dua kali lebih beresiko untuk bunuh diri. Perceraian meningkatkan
resiko bunuh diri. Janda atau duda yang pasangannya telah meninggal juga memiliki angka
bunuh diri yang tinggi.

e.

Pekerjaan
Semakin tinggi status sosial semakin tinggi resiko bunuh diri, tetapi status sosial yang
rendah juga meningkatkan resiko bunuh diri. Pekerjaan sebagai dokter memiliki resiko bunuh
diri tertinggi dibanding pekerjaan lain. Spesialisasi psikiatri memiliki resiko tertinggi, disusul
spesialis mata dan spesialis anestesi. Pekerjaan lain yang memiliki resiko tinggi untuk bunuh
diri adalah pengacara, artis, dokter gigi, polisi, montir, agen asuransi. Orang yang tidak
memiliki pekerjaan memiliki resiko lebih tinggi untuk bunuh diri.

f.

Kesehatan fisik
Satu dari tiga orang yang melakukan bunuh diri memiliki masalah kesehatan dalam 6
bulan sebelum bunuh diri. Hilangnya mobilitas fisik, nyeri hebat yang kronik, pasien
hemodialisis meningkatkan resiko bunuh diri.

g.

Gangguan mental
Sekitar 95% dari semua orang yang mencoba atau melakukan bunuh diri memiliki
gangguan mental. Gangguan mental tersebut terdiri dari depresi 80%, skizofrenia 10%, dan
demensia atau delirium 5%. Di antara semua pasien dengan gangguan mental, 25%
kecanduan juga kepada alkohol.

h.

Kecanduan alkohol
Sekitar 15% pasien kecanduan alkohol melakukan bunuh diri. Sekitar 80% pasien bunuh
diri akibat kecanduan alkohol adalah laki-laki. Sekitar 50% dari pasien kecanduan alkohol
yang bunuh diri mengalami kehilangan anggota keluarga atau pasangan dalam satu tahun
terakhir.

i.

Gangguan kepribadian
Sebagian besar orang yang bunuh diri memiliki gangguan kepribadian. Gangguan
kepribadian merupakan faktor predisposisi untuk gangguan depresi. Selain itu juga
merupakan faktor predisposisi untuk kecanduan alkohol. Gangguan kepribadian juga dapat
menyebabkan konflik dengan keluarga dan orang lain.

Gangguan Jiwa yang sering Berkaitan dengan Bunuh Diri, adalah gangguan mood,
keterantungan alkohol, skizofrenia. Pencegahan tindak bunuh diri yang terbaik adalah dengan
mendeteksi dini dan menatalaksana gangguan jiwa yang mungkin menjadi faktor kontribusi tadi.
Mengenali pasien yang berpotensi bunuh diri
Kemungkinan bunuh diri dapat terjadi apabila (Tomb, 2004):
a.
Pasien pernah mencoba bunuh diri
b.
Keinginan bunuh diri dinyatakan secara terang-terangan maupun tidak, atau berupa
ancaman: kamu tidak akan saya ganggu lebih lama lagi (sering dikatakan pada
c.
d.

keluarga)
Secara objektif terlihat adanya mood yang depresif atau cemas
Baru mengalami kehilangan yang bermakna (pasangan, pekerjaan, harga diri, dan lain-

e.

lain)
Perubahan perilaku yang tidak terduga: menyampaikan pesan-pesan, pembicaraan serius

f.

dan mendalam dengan kerabat, membagi-bagikan harta/barang-barang miliknya.


Perubahan sikap yang mendadak: tiba-tiba gembira, marah atau menarik diri.

Panduan Wawancara dan Psikoterapi

Pada waktu wawancaa, pasien mungkin secara spontan menjelaskan adanya ide bunuh diri.

Bila tidak, tanyakan langsung.


Mulailah dengan menanyakan:
- Apakah anda pernah merasa ingin menyerah saja?
- Apakah anda pernah merasa bahwa lebih baik kalau anda mati saja?
Tanyakan isi pikiran pasien:
- Berapa sering pikiran ini muncul?
- Apakah pikiran tentang bunuh diri ini meningkat?
Selidiki :
- Apakah pasien bisa mendapatkan alat dan cara untuk melaukan rencana bunuh dirinya?
- Apakah mereka sudah mengambilkah aktif, isalnya mengumpulkan obat?
- Seberapa pesimiskah mereka?
- Aakah mereka bisa memikirkan bahwa kehidupannya akan membaik?
Evaluasi dan Penatalaksanaan

Pertolongan pertama biasanya dilakukan secara darurat di rumah (di tempat kejadian) dan
atau di Unit Gawat Darurat di rumah sakit, di bagian penyakit dalam atau bedah. Dilakukan
pengobatan terhadap luka-luka dan atau keracunan. Bila keracunan atau luka sudah dapat diatasi
maka dilakukan evaluasi psikiatrik. Tidak ada hubungan antara beratnya gangguan fisik dengan
beratnya gangguan psikologis. Penting sekali dalam pengobatan untuk menangani juga gangguan
mentalnya. Untuk pasien dengan depresi dapat diberikan psikoterapi dan obat antidepresan
(Maramis dan Maramis, 2009).
Ketika sedang mengevaluasi pasien dengan kecendrungan bunuh diri, jangan tinggalkan
mereka sendiri di ruangan. Singkirkan benda-benda yang dapat membahayakan dari ruang
tersebut. Etika mengevaluasi pasien yang baru melakukan percobaan bunuh diri, buatlah
penilaian apakah hal itu direncanakan atau dilakukan secara impulsif.
Penatalaksanaan tergantung dari diagnosis yang ditegakkan. Pasien yang depresi berat
boleh saja berobat jalan asalkan keluarganya dapat mengawasi pasien secara ketat di ruma. De
bunuh diri pada pasien alkoholik umumnya hilang setelah sesudah menghentkan pengguanan
alkohol itu. Pasien dengan gangguan kepribadian akan berespon baik bila mereka ditangani
secara empatik dan dibantu untuk memecahkan masalah dengancara rasionald an bertanggung
jawab.
Rawat inap jangka panjang diperlukan bagi pasien yang cendrung dan mempunyai
kebiasaan melukai diri sendiri serta parasuicides. Parasuicides yaitu mereka yang berulangkali
melakukan hal-hal berbahaya tetapi menyangkal adanya ide-ide bunuh diri. (Elvira, Sylvia D dan
Gitayanti Hadisukanto, 2010)
Terapi psikofarmaka
Seorang yang sedang dalam krisis karena baru ditinggal mati biasanya akan berfungsi lebih
baik setelah mendapat tranquilizer ringan, tertama bila tidurnya terganggu. Obat pilihannya
adalah golongan benzodiazepine, misalnya lorazepam 3x1 mg per hari selama 2 minggu. Jangan
memberukan obat dalam jumlah banyak sekaligus terhdap pasien(rrespkan sedikit-seikit saja)
dan pasien harus kontrol dalam bebeapa hari.

Keluarga merupakan pusat dari semua kegiatan dalam kehidupan individu. Konflik
interpersonal, hubungan yang terganggu dan kehidupan yang tidak harmonis merupakan faktor
pencetus yang penting dalam tindakan bunuh diri. Keluarga perlu memberi dukungan dan

melakukan upaya untuk mencegah bunuh diri. Anggota keluarga dapat melakukan upaya yang
efektif dengan berbagai cara, antara lain:
a) Mengidentifikasi tanda-tanda dari stres dan kecenderungan bunuh diri. Karena ekspresinya
sangat unik untuk setiap budaya, maka keluarga harus mengenali kecenderungan tersebut
b) Membina hubungan yang erat dengan pelaku, penuh perhatian, mendengarkan, menghargai
perasaan serta memahami emosinya.
c) Tunjukkan bahwa keluarga ingin menolongnya.
d) Lebih baik membangun potensi kekuatan pelaku dari pada terpaku pada kelemahannya.
e) Jangan tinggalkan seorang diri anggota keluarga yang mempunyai keinginan bunuh diri.
f) Menjauhkan pelaku dari benda yang membahayakan dirinya seperti: obat-obatan, racun,
benda tajam, tali dan lain-lain.
g) Secara bertahap bangkitkan kembali keinginan untuk hidup (untuk beberapa situasi dapat
terjadi dengan cepat).
h) Ajari dan praktekkan metode penyelesaian masalah dan timbulkan rasa optimis.
i) Mencoba untuk meminimalkan konflik di rumah dan mengembangkan latihan pemecahan
masalah bersama dengan anggota keluarga yang lain.
j) Mendorong anggota keluarga tersebut untuk mencari pertolongan profesional, rumah sakit
atau LSM (lihat lampiran) yang tepat. Mereka yang mempunyai masalah kesehatan jiwa
tidak mau dilabel dengan gangguan jiwa. Oleh karena itu persuasi merupakan faktor kunci
untuk membawanya ke dokter. Konsultasi dengan dokter tidak cukup hanya satu kali. Untuk
mendapatkan perubahan yang bermakna diperlukan konsultasi yang teratur dan perlu
mengikuti saran yang diberikan oleh dokter.
k) Membantu anggota keluarga tersebut untuk mengatasi krisis dengan berbagai cara yang
realistik dan cocok dengan yang bersangkutan.
l) Tetap mengobservasi dan mewaspadai tindakan, reaksi dan perilakunya.
m) Perhatian khusus diberikan pada usia lanjut, penyakit terminal, gangguan jiwa (depresi,
alkoholisme, tindak kekerasan dan lain-lain) dan penderita cacat.
n) Identifikasi lembaga atau tokoh dalam masyarakat untuk membantu kasus spesifik (misalnya
sekolah, lembaga tenaga kerja, lembaga sosial, institusi kesehatan, tokoh agama dan sesepuh
atau tokoh masyarakat).
o) Dengan memberikan perhatian yang penuh kasih sayang, pengertian dan dukungan (selain
dari memberi pengobatan yang diperlukan secara teratur), dapat mencegah terjadinya
tindakan bunuh diri.

DAFTAR PUSTAKA

Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto ed. 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan
Penerbit FKUI
Maramis, W.F. dan Maramis, A.A. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2. Surabaya:
Airlangga University Press.
Sadock, B.J., Sadock, V.A., et al. 2007. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral
Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. New York: Lippincott Williams & Wilkins.
Tomb, D.A. 2004. Buku Saku Psikiatri. Edisi 6. Jakarta: EGC.