Anda di halaman 1dari 58

KESIAPAN UMKM DAN LKM

DALAM MENGHADAPI MEA


OLEH
EDI SUSILO

1. Pasar Tunggal dan Basis Produksi


1.1. Aliran Bebas Barang
1.2. Aliran Bebas Sektor Jasa
1.3. Aliran Bebas Investasi
1.4. Aliran Modal yang Lebih Bebas
1.5.
Aliran Bebas Lalu Lintas Tenaga Kerja
Terampil
1.6. Sektor Integrasi Prioritas
1.7. Pangan, Pertanian, dan Kehutanan

2. Menuju Kawasan yang Berdaya Saing Tinggi


2.1. Kebijakan Persaingan
2.2. Perlindungan Konsumen
2.3. Hak Atas Kekayaan Intelektual
2.4. Pembangunan Infrastruktur
2.5. Perpajakan dan E-commerce
3. Menuju Kawasan dengan Pembangunan
Ekonomi Setara
3.1. Pengembangan UKM
3.2. Inisiatif Integrasi ASEAN
4. Integrasi ke dalam Ekonomi Global
3

INFLASI

Global Competitiveness Index


(2008 - 2009)

Indeks Pembangunan Manusia di


Beberapa Negara

Tantangan dan Kesiapan


UMKM Indonesia dalam MEA
2015

Potensi Ekonomi ASEAN


Total GDP (Gross Domestic Product) ASEAN mencapai sekitar US$ 2.327 milyar
(ASEAN Secretariat, 2012) dengan pasar sebesar 600 juta - memiliki daya tarik
yang tinggi.
Saat ini, sebagian besar (lebih dari 99%) perdagangan barang intra-ASEAN
menikmati tarif 0% (zero tarif).
ASEAN mampu bertahan di tengah krisis di belahan dunia lainnya.
ASEAN telah memiliki 5 (lima) Free Trade Agreement (FTA), yaitu dengan RRT
(ACFTA), Jepang (AJCEPA), Korea Selatan (AKFTA), India (AIFTA, serta AustraliaSelandia Baru (AANZFTA).
Dimulainya negosiasi ASEAN Framework for Regional Comprehensive Economic
Partnership (RCEP) pada awal 2013 meletakkan ASEAN sebagai driving force
dalam pengembangan arsitektur ekonomi yang melibatkan kawasan lainnya
Hasil survey Japan ASEAN Integration Fund (JAIF) pada 2012 mencatat 73%
para pelaku bisnis di ASEAN yang menjadi responden perpandangan bahwa
integrasi ASEAN akan memberikan manfaat peningkatan ekonomi, dan 64 %
kalangan publik meyakini bahwa integrasi ASEAN akan meningkatkan kondisi
ekonomi secara keseluruhan.
14

Kesiapan Indonesia Menghadapi MEA


2015
KEKUATAN:

Pelemahan ekonomi AS dan austerity measures di Uni Eropa telah menciptakan


kebijakan moneter yang loose, sehingga arus investasi dari kedua kawasan
tersebut cukup deras. Dari tiga pusat pertumbuhan dunia (Asia Selatan, AsiaTimur
dan Asia Tenggara), yang menikmati pertumbuhan tertinggi yaitu Asia TenggaraASEAN. Dari seluruh anggota ASEAN, pertumbuhan ekonomi tertinggi dialami
Indonesia yaitu sebesar 6,4% % (Bank Dunia 2011),berada pada urutan ketiga di
Asia, setelah China dan India.

Realisasi Investasi pada 2012 mencapai Rp. 313,2 triliun (tertinggi sepanjang
sejarah Indonesia)

Kelas Menengah (middle class) Indonesia yang terus meningkat, dari hanya sebesar
37,7% pada 2003, menjadi 56,6% pada 2010 atau mencapai 134 juta jiwa (Bank
Dunia)

Total PDB Indonesia sebesar US$846 milyar (2011) terbesar di ASEAN dan ke-16 di
dunia (satu-satunya anggota ASEAN yang menjadi anggota G20)

Debt to GDP Ratio (Rasio Hutang terhadap PDB) Indonesia cukup rendah dibanding
negara ASEAN lainnya yaitu 24% (2011), sebagai salah satu indikator membaiknya
makro-ekonomi. Sebagai ilustrasi, Debt to GDP Ratio Malaysia mencapai 56%.

Peta usia penduduk Indonesia yang cukup muda, sumber daya alam yang besar dan
pasar yang besar mampu mendukung produktivitas nasional (Pulling Factor).

15

Kesiapan Indonesia Menghadapi MEA


2015
TANTANGAN

Mind-set masyarakat, khususnya pelaku usaha Indonesia yang belum


seluruhnya mampu melihat KEA 2015 sebagai peluang. Menurut Journal of
Current Southeast Asian Afairs (Guido Benny dan Kamarulnizam Abdullah
2011), kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai ASEAN masih sangat
terbatas.

Sinkronisasi program & kebijakan pemerintah (pusat dengan daerah)


menghadapi MEA 2015, diperlukan kesamaan pandang diantara pejabat pusat
dan daerah. Global Competitive Index oleh World Economic Forum
menempatkan Indonesia pada urutan ke 50, dibawah sebagian negara ASEAN
(Singapura, Brunei, Malaysia, Thailand).

Lemahnya Infrastruktur, khususnya bidang transportasi dan energi


menyebabkan biaya ekonomi tinggi, utamanya sektor produksi dan bagi pasar.

Pelaku usaha yang inward-looking. Besarnya pasar domestik mendorong pelaku


usaha memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pasar domestik.

Terbatasnya jumlah SDM yang kompeten untuk mendukung produktivitas


nasional
16

Potensi ASEAN bagi Pelaku Usaha


PELUANG EKONOMI:

Pasar ASEAN sebesar 600 juta, dengan jumlah kelas menengah yang semakin
meningkat. Menurut catatan Asian Development Bank (ADB), kelas-menengah
ASEAN berjumlah 24% pada 2010 akan meningkat menjadi 65% pada 2030.

Kebijakan makro ekonomi dan kondisi yang kondusif di ASEAN telah


meningkatkan peluang masuknya investasi (FDI) dari luar kawasan. Sejak
2007 hingga 2010, investasi yang masuk ke ASEAN dari luar kawasan
meningkat sebesar 75% (Sumber: BKPM).

Perdagangan intra-ASEAN cenderung meningkat, tetapi porsinya masih relatif


kecil (25%). Sebagai ilustrasi, perdagangan intra NAFTA 50%, sedangkan EU
mencapai 70%.

Potensi pengembangan industri nasional dan mendorong Indonesia sebagai


production base di kawasan dengan ditopang pasar domestik yang besar,
penduduk usia muda/produktif, investasi yang meningkat dan sumber daya
alam yang besar.
Total Wisatawan intra-ASEAN dalam setahun mencapai lebih dari 76 juta
(Sumber: WEF 2012). Saat ini, namun posisi Indonesia masih dibawah
Malaysia, Thailand, Singapura.

17

Potensi ASEAN bagi Pelaku Usaha


PENCIPTAAN LAPANGAN KERJA (JOB-CREATION)
Pada 2012, seluruh anggota ASEAN telah meratifikasi ASEAN Comprehensive
Investment Agreement (ACIA), yang membawa dampak positif bagi iklim
investasi dan usaha di seluruh ASEAN dengan semakin meningkatnya
transparansi, kepastian-hukum, serta fasilitasi. Sejak 2007 hingga 2010,
investasi (FDI) yang masuk ke ASEAN dari luar kawasan meningkat sebesar
75% (Sumber: BKPM). Berlakunya ACIA harus dijadikan momentum untuk
mengakselerasi masuknya FDI, yang secara langsung menumbuhkan sektor
produksi dan industri nasional.
UKM sebagai tulang-punggung perekonomian nasional dan regional (ASEAN)
berkontribusi secara signifikan bagi PDB nasional dan menyerap sebanyak
97,2% dari seluruh tenaga kerja di Indonesia. Dengan jumlah UKM lebih dari
55,2 juta atau terbesar di ASEAN, Indonesia harus menjadi penggerak utama
pengembangan UKM di ASEAN agar akses UKM terhadap permodalan,
teknologi dan pasar semakin meningkat.
Komitmen-komitmen Negara Mitra Wicara ASEAN dan lembaga keuangan dunia
untuk merealisasikan berbagai proyek peningkatan konektivitas di kawasan
telah menjadi katalis pertumbuhan sektor-sektor lainnya. Konektivitas yang
handal akan membuka peluang-peluang usaha baru dan kegiatan ekonomi
lainnya.
18

4 Pilar Asean Economic Community

Komunitas Ekonomi ASEAN 2015

Kawasan dengan Integrasi dengan


Pasar Tunggal dan
Pembangunan
Perekonomian
Basis Produksi Kawasan BerdayaEkonomi
yang
saing
Tinggi
Dunia
Regional
Merata

19

Arah Pengembangan UMKM


ASEAN
Arahan Menteri Ekonomi dan Leaders ASEAN menuju ASEAN
Economic Community pada tahun 2015, berkaitan dengan
pengembangan UKM:

Menumbuhkan iklim berusaha yang kondusif bagi UKM;

Pengembangan SDM dan Kapasitas UKM:

Mengembangkan Common Curriculum for Entrepreneurship in ASEAN

Menumbuhkan wirausaha baru yang inovatif

Fasilitasi Akses Pasar

Fasilitasi dan pengembangan teknologi: Inkubator Bisnis dan Teknologi;

Meningkatkan akses finansial bagi UKM:

Pengembangan Fasilitasi Finansial bagi UKM

Pengembangan ASEAN SME Development Fund

Pengembangan Credit Rating System

Membentuk ASEAN Advisory Board;

Posisi UMKM

Peranan strategis UMKM :


Di Indonesia (BPS-2009):
Jumlahnya 52,76 juta unit (99,9%);
Kontribusi dalam PDB 56,92%;

Kontribusi dalam penyerapan tenaga kerja 97,30%.

Di ASEAN:
Lebih dari 96 % perusahaan di ASEAN adalah UMKM;
Kontribusi dalam PDB 30-57%;
Kontribusi dalam penyerapan tenaga kerja 50-98%

Permasalahan UMKM:

Iklim berusaha belum kondusif (un fair business practices)


Keterbatasan akses pasar
Rendahnya produktivitas (teknologi rendah)
keterbatasan akses kredit dari bank
Rendahnya jiwa dan semangat kewirausahaan
21

Produktivitas UMKM
Kriteria

Usaha Mikro
Usaha Kecil
Usaha
Menengah
Usaha Besar

Produktivitas/Tenaga
Kerja

Produktivitas/Unit

Rp. Juta

Rp.Juta

18,00
118,54

Rasio

1,00 29,69
6,59 909,74

193,72

10,76 15.906,02

804,29

44,69 477.383,58

Rasio
1,00
30,64
535,70
16.077,93

Target Pengembangan UMKM


tahun 2015
Produktivitas dan daya saing UMKM
meningkat;
Perkembangan ekspor UMKM tumbuh
20% per-tahun;
Tumbuhnya wirausaha baru yang
inovatif;
Meningkatnya akses kredit perbankan
bagi UMKM, khususnya KUR sebesar
Rp.100 triliun;

Tantangan UMUM UMKM dalam


MEA
Persaingan yang makin tajam, termasuk dalam
memperoleh sumber daya
Menjaga dan meningkatkan daya saing UKM
sebagai industri kreatif dan inovatif
Meningkatkan standar, desain dan kualitas produk
agar sesuai ketentuan ASEAN (Misal ISO-26000)
Diversifikasi output dan stabilitas pendapatan
usaha mikro agar tidak jatuh ke kelompok
masyarakat miskin
Meningkatkan kemampuan UMKM agar mampu
memanfaatkan fasilitas pembiayaan yang ada,
termasuk dalam kerangka kerjasama ASEAN
24

Isu-isu dan Tantangan Khusus


Akses Finansial

Bank masih ragu memberikan pinjaman kepada UMKM,


khususnya untuk pengusaha pemula dan UKM inovatif

Kewajiban penggunaan jaminan dalam pinjaman

Tingkat suku bunga yang tinggi bagi Usaha Mikro

Lembaga jaminan kredit belum ada atau terbatas

Pemeringkat kredit dan sistem informasi kredit tidak ada

Lembaga keuangan non-bank kurang berkembangn


luas (e.g. venture capital, angel investment, factoring
and leasing)

Akses Pasar

Kurang paham akan FTAs implikasi dan manfaatnya

Aktivitas promosi ekspor terbatas

Penggunaan e-channel and e-commerce belum meluas

Masih ada hambatan non-tarif

Kurang faham akan fasilitas perdagangan prosedur


kepabeanan

Tidak ada market intelligence di ASEAN dan luar ASEAN

Mahalnya biaya untuk menyesuaikan standar dan


sertifikasi internasional (e.g. HACCP, GMP, halal, ISO,
analisa sertifikasi)

Sebagian terbesar UMKM tergantung pada lembaga


keuangan informal

Jasa Konsultasi dan informasi

Teknology dan inovasi

Investasi UMKM untuk R&D masih rendah


sehingga produktivitas dan efisiensinya rendah
Dana untuk komersialisasi R&D tidak tersedia
karena ketidakpastian permintaan, pasar dan
cash flow
Apresiasi dan promosi UKM inovatif belum
berkembang luas
Mahalnya biaya sertifikasi

Informasi masih belum terpusat

Biaya membuat sistem informasi virtual secara


komprehensif dan terpusat masih mahal
Perlu melatih konselor bisnis
Kurang faham akan tersedianya layanan
konsultasi

Perlu pengembangan template standar, misal


perencanaan bisnis dan pemasaran bagi UMKM

25

Isu-isu dan Tantangan Khusus


Kerangka Kebijakan dan Pengaturan
Perlu pengembangan mekanisme pemantauan
Perlu pengembangan kordinasi terpusat untuk
mengkordinasikan kegiatan nasional
Walaupun mahal, perlu ada pengkajian terhadap
keluaran/dampak AFTA
Mungkin perlu pengembangan SME Policy Index
Pengurangan biaya birokrasi doing business
(e.g. import regulation, licensing, registration of
business)
26

Rekomendasi

27

Rekomendasi

28

Rekomendasi (lanjutan)

29

LANGKAH STRATEGI
STRATEGI I: Penguatan Daya Saing Global
o Penanganan issue domestik, meliputi:
Penataan lahan dan kawasan industri
Pembenahan infrastruktur dan energi,
Pemberian insentif (pajak maupun non pajak lainnya)
Membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan pengembangan
klaster UKM untuk peningkatan daya saing
Perluasan akses pembiayaan dan pengurangan biaya bunga (KUR,
Kredit Ketahanan Pangan dan Energi, modal ventura, keuangan
syariah, anjak piutang, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia,
dsb);
Pembenahan sistem logistik;
Perbaikan pelayanan publik (NSW, PTSP/SPIPISE dsb)
Penyederhanaan peraturan
Peningkatan kapasitas ketenagakerjaan
30

STRATEGI II: Pengamanan Pasar Domestik


O

Pengawasan di Border
Meningkatkan pengawasan ketentuan impor dan ekspor dalam
pelaksanaan FTA
Menerapkan Early Warning System untuk pemantauan dini terhadap
kemungkinan terjadinya lonjakan impor
Pengetatan pengawasan penggunaan Surat Keterangan Asal barang
(SKA) dari Negara Negara mitra FTA
Pengawasan awal terhadap kepatuhan SNI, Label, Ingridien,
kadaluarsa, kesehatan, lingkungan, security dsb.
Penerapan instrumen perdagangan yang diperbolehkan WTO
(safeguard measures) terhadap industry yang mengalami kerugian
yang serius (seriously injury) akibat tekanan impor (import surges)
Penerapan instrumen anti dumping dan countervailing duties atas
importasi yang unfair

31

STRATEGI II: Pengamanan Pasar Domestik (Lanjutan)


o

Peredaran barang di pasar Lokal


- Task Force pengawasan peredaran barang yang tidak sesuai
dengan ketentuan perlindungan konsumen dan industri
- Kewajiban penggunaan label dan manual berbahasa
Indonesia
o Promosi penggunaan produksi dalam negeri
- Mengawasi efektivitas promosi penggunaan produksi
dalam
negeri (Inpres No 2 Tahun 2009) termasuk
mempertegas dan
memperjelas kewajiban KLDI
memaksimalkan penggunaan
produk dalam negeri
dalam revisi Kepres No. 80 Tahun 2003
tentang Pengadaan
Barang/Jasa oleh Pemerintah.

32

STRATEGI III: Penguatan Ekspor


Penguatan peran perwakilan luar negeri (ITPC)
Pengembangan trading house (PT Sarinah, PT-PPI,
SMESCO UKM)
Promosi Pariwisata, Perdagangan dan Investasi (TTI)
Penanggulangan masalah akses pasar dan kasus ekspor
Pengawasan penggunaan SKA Indonesia
Peningkatan peran LPEI dalam mendukung pembiayaan
ekspor
Optimalisasi trade financing (bilateral swap)
Pemetaan potensi ekspor produk UMKM ke ASEAN dan
negara lain

33

KEMISKINAN
Tahun Prosentase
1999
2003

27%
16%

Jumlah

54 juta org
32 juta org

2009

14,15%

2014.

10,96%

28,28 juta orang

source: http://ekbis.sindonews.com/read/945128/34/bpsklaim-jumlah-penduduk-miskin-turun-1420172102

Catatan:
World Bank:
US$ 2 per hr/org = 54% = 110 juta org

PENGANGGURAN

PENGANGGURAN TERBUKA
1. Th 1996: 5.8% = 4.3 juta org
2. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
Februari 2015 sebesar 5,81 persen
3. Pada Februari 2015, penduduk bekerja
masih didominasi oleh mereka yang
berpendidikan SD ke bawah sebesar
45,19 persen, sementara penduduk
bekerja dengan pendidikan Sarjana ke
atas hanya sebesar 8,29 persen.

HUBUNGAN
EKONOMI MAKRO TENAGA KERJA

Perbaikan ekonomi makro, tak menyentuh


lapang kerja
Investasi menggunakan mesin canggih, tak padat
karya
Usaha yang ada gulung tikar
Sektor riel tak bangkit, sebab:
1. Kebijakan di bidang industri lemah
2. Kebijakan fiskal yang tak komprehensif
3. Kebijakan moneter yang tak memihak dunia usaha
karena
dianggap penuh resiko

EKONOMI MIKRO

Bergerak lambat
Kapasitas terpasang industri nasional belum
maksimal
Ekspor terbatas kualitas dan kuantitas
Daya saing rendah
Penanganan mikro tak serius, tak integratif, parsial
Pemilu mengabaikan mikro karena sibuk kursi dan
partai
Ekonomi mikro sebatas wacana, diskusi dan
kampanye
Indonesia semakin terpinggirkan dalam perdagangan
riel global

KREDIT INVENSTASI

BANK INDONESIA
1. Konsumsi 80%
2. Investasi 16%
3. Ekspor 4%

PERBANDINGAN KREDIT INVESTASI


1.
2.
3.
4.

Indonesia 20%
Thailand
60%
Korsel 80%
Malaysia 100%

MOTOR PENGGERAK PDB

Indonesia terjebak pada KONSUMTIF


Korsel dan Philipina menanam INVESTASI
Malaysia dan Thailand mendorong EKSPOR

SEKTOR RIEL REMUK

Sektor koorporasi tidak bangkit


Ekspor kehilangan pasar:
1.
2.
3.
4.
5.

Skill rendah
Kualitas barang rendah
Ekspor primer
Budaya curang manipulasi
Yang baik hanya seperti handycraft

Investor asing hanya beli asset-asset murah

Dampak:
1. Pengangguran naik
2. Basis produksi remuk

DENASIONALISASI

Denasionalisasi = peralihan kepemilikan asset


negara

Alasan denasionalisasi:
1. Peningkatan profesionalitas
2. Peningkatan produksi karena alih teknologi

Persoalan:
1. Mengapa mereka hanya mau membeli saham mayoritas?
2. Denasionalisasi menambah rumit restrukturisasi ekonomi mikro
3. Dalam koorporasi kapitalis, pemegang saham adalah penguasa tertinggi,
penentu
kebijakan strategis dan politis.

PENJUALAN ASSET NEGARA


Temasek Holdings Ltd.

STT (Singapore Technologies Telemedia)


- Menguasai 41.9% Indosat

SingTel (Singapore Technologies Group)


- Menguasai 46% Telkomsel
- Telkomsel menguasai lebih 50% pasar Indonesia

Sorak Financial Holdings


- Menguasai 51% BII

Asia Financial Holdings


- Menguasai 51% Danamon

Rencana membeli 51% BNI

PENJUALAN ASSET NEGARA

Singapores Cycle & Carriage


- Menguasai 39.8% Astra
- Mengembalikan basis produksi ke Jepang
- Konsentrasi pada pemasaran dan layanan pasca jual (dari produksi ke distribusi)

Cemex
- Menguasai 49% Indocement

Farindo Investment
- Menguasai 51% BCA

Commerce Asset-Holdings Berhard Malaysia


- Menguasai 50.9% Bank Niaga

Dairy Farm

(induk retail Giant)


- Menguasai Hero Supermarket

DEINDUSTRIALISASI

Deindustrialisasi, runtuhnya basis industri


Sebab:
1. Kebijakan yang tidak mendukung (Industri, fiskal dan moneter)
2. Pasar lemah
3. Denasionalisasi

Deindustrialisasi dan denasionalisasi hanya indah


di MAKRO tapi remuk di MIKRO

POSISI LKM

Bank-bank dikuasai pihak asing


Industri strategis dikuasai asing
Pemerintah tergantung asing
Konsep pembangunan tergantung asing
Kalangan swasta kerja sama dengan asing
Privatisasi terus berlangsung
Sumber daya tengah dieksploitasi habis-habisan
Orang miskin semakin besar dan akut
Pengangguran meningkat
Usaha semakin sulit
Lebih mudah mengemis ketimbang usaha
Tingkat kepercayaan masyarakat buruk
Pemerintah masih setengah hati memandang LKM
LKM masih dipandang sebelah mata
Dimana posisi dan bagaimana menyiasati LKM?

LAHIRNYA LKM

IDEAL
1.
2.
3.
4.
5.

Pemberdayaan
Menawarkan alternatif lembaga keuangan mikro syariah
Membentuk lembaga keuangan mikro syariah yang handal
Menyiapkan SDM yang memiliki ketrampilan dalam micro finance
Lebih bersifat ideologis

KOMERSIAL
1. LKM punya potensi bisnis & dapat dikembangkan sesuai format bisnis
2. Mudah dimiliki bahkan oleh perorangan karena:
a. Aspek legal masih longgar
b. Akses mendekati funding relatif mudah
c. Modal tidak besar

IKUT-IKUTAN
1. Siapapun dengan mudah dapat mendirikan LKM

2. Yang lain bisa, mengapa tidak dicoba

KONDISI LKM

INTERNAL
1. Kelembagaan
2. SDM
3. Manajemen
4. Dana

EKSTERNAL
1. Pemerintah
2.
3.
4.
5.
6.

Politik
Ekonomi
Sosial
Teknologi
Jaringan

KONDISI INTERNAL LKM

KELEMBAGAAN
1.
2.
3.
4.

PIMPINAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Legalitas (koperasi, yayasan, perkumpulan, PT)


Pemilik (kelompok, yayasan, organisasi sosial, perusahaan, perorangan)
Tujuan (visi pemberdayaan, sosial atau bisnis)
Terdiri atas Maal dan Tanwil; Tanwil terdiri atas simpan pinjam dan sektor riel

Adil
Ketegasan, kemampuan menyelesaikan konflik
Visioner, kreatif - inovatif
Kemampuan manajerial
Kemampuan mendorong team building team work
Gaya otoriter, demokratis, situasional
Peran sebagai bapak, rekan atau lawan

SDM
1.
2.
3.
4.
5.

Fit and proper test, latar pendidikan


Patuh, gigih, komit, kesungguhan
Jujur dan amanah
Pilihan atau batu loncatan
Sesuai minat dan keinginan untuk maju dan berkembang

KONDISI INTERNAL LKM

MANAJEMEN
1.
2.
3.
4.

Aturan main, SOP


Hak dan kewajiban
Jenjang karier
Fasilitas dan jenis kesejahteraan

DANA
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Modal & dana pihak ketiga


Likuiditas, CAR, LDR, ROI
Prosentase bagi hasil
= bank bahkan lebih ganas; mensyariatkan praktek perbankan
Alokasi 90% pembiayaan murabahah (investasi, modal kerja dan konsumtif)
Prosentase modal untuk perdagangan > produksi

KONDISI EKSTERNAL LKM

PEMERINTAH
1. Setengah hati menempatkan LKM
2. Regulasi kontrol
3. Dana untuk LKM teramat kecil
4. Selalu gagap dan sulit berterima kasih apalagi memberi penghargaan kepada
praktisi LKM
5. Memenuhi kebutuhan sekaligus menjawab kebuntuan dalam membantu ekonomi
akar rumput

POLITIK
1. Sense of politic lemah:
a. Sebagai kekuatan akrab dg masy, tak dicurigai, tak terjebak pada politik praktis
b. Sebagai kelemahan tak punya bargaining position & bargaining power

3. Ada kecurigaan:

KONDISI EKSTERNAL LKM

EKONOMI
1.
2.
3.
4.
5.
6.
a.
b.

Jadi kekuatan sbg agent of grass-root economic development


Merubah tradisi KSP & KSP yang sulit berkembang
Program memiliki manfaat yang nyata
Kesulitan memperoleh bantuan dana
Pandangan keliru dari sisi bisnis tidak memberi kontribusi laba yang besar
Baru mengeksplorasi sebagian potensi ekonomi:
Simpan pinjam pun masih belum maksimal
Tak berani merambah sektor riel

SOSIAL
1. Lembaga yang bisa berkembang secara kultural ideologis religius
2. Menjadi dakwah bil hal
3. Mediasi banyak pihak (pemerintah, perusahaan, LSM, LPZ, lembaga profesi, perorangan,
pedagang akar rumput, pengrajin, produsen home industry)
4. Lembaga yang bisa menampung pemagangan masyarakat
5. LKM bermasalah memberi kontribusi image jelek
6. Jadi batu loncatan

KONDISI EKSTERNAL LKM

TEKNOLOGI
1. Belum ditunjang software yang memadai
2. Sistem komputerisasi belum tepat dan cocok
3. Belum mengadakan hubungan dengan pihak di luar ideologi

JARINGAN
1. Belum mampu mengadakan sinerjitas
2. Masing-masing sudah bekerja keras, namun bekerja sendiri, gagap how to start
3. Ukhuwah
a. Terbentuk karena senasib dan sependeritaan

Semu karena terbentuk dalam kondisi terpaksa (no choice)


Musuh bersama adalah ketidakmampuan
Kemajuan harus dicapai bersama
Tak bisa menerima kemajuan satu pihak, sementara yang lain tidak maju

b. Terbentuk di saat mapan

Solid karena terbentuk dalam kondisi banyak pilihan


Sadar akan apa yang harus dikerjasamakan
Berbagi peran dan fungsi
Berbagi daerah operasi

PEMBINA LKM

LEMBAGA INTERMEDIARY
1. Pinbuk
2. PNM
3. BMM

NGO LSM
1. CARE
2. CRP

LPZ
1. Dompet Dhuafa Republika
2. Bazis DKI

MASYARAKAT
1. Perorangan
2. Kelompok

CIRI PEMBINAAN

UMUM
1. Pelatihan
2. Pendanaan
a. Penyaluran
b. Share saham
c. Memiliki

KHUSUS
Tergantung visi lembaga pembina

PEMBINAAN KHUSUS

PINBUK
1.
2.
3.
4.

Sosialisasi
Gerakan massal
politis
Pinbuk merupakan intermediary

PNM
1. Satu ujung tombak penyalur
2. Bagi hasil
3. PNM merupakan intermediary

BMM
1. Ujung tombak utama penyalur
2. Bagi hasil
3. BMM merupakan intermediary

PEMBINAAN KHUSUS

PERORANGAN
1. LKM sebagai alat
2. Cenderung profit
3. Kepentingan pribadi

KELOMPOK
1. LKM sebagai alat perjuangan & aktualisasi
2. Tumpuan masa depan & karir
3. Kerja dan ibadah

PERAN STRATEGIS

LEMBAGA KEUANGAN
1. Punya uang
2. Punya nasabah
3. Punya ketrampilan

LEMBAGA INTERMEDIARY
Menjembatani ekonomi bawah dengan investor, pemerintah, pengusaha, NGO, LPZ

LEMBAGA GRASS-ROOT
1. Lembaga yang paling pas mewakili kepentingan ekonomi super mikro
2. Lembaga yang lincah, luwes, fleksibel dan mudah bergerak
3. Punya kelebihan dibanding KSM, KSP & USP
4. Punya sistem bagi hasil yang memberi harapan ekonomi bawah

ppp

LEMBAGA KULTURAL IDEOLOGIS


1. Secara kultural dapat diterima masyarakat
2. Tumbuh atas tuntunan agama
3. Menjadi lembaga dakwah

FORMAT ULANG VISI


LKM milik siapa
Tujuan pendirian LKM untuk apa
Pahamkah LKM akan potensi diri
Sudahkah dieksplorasi siapa nasabah LKM
Sudahkah digunakan manfaat yang tumbuh dari
pengelolaan LKM
Apa sesungguhnya yang hendak dimanfaatkan
Apakah juga sudah mencoba memahami lingkungan sekitar
dan keterpurukan bangsa
Apa yang hendak LKM berikan untuk BANGSA

- SELAMAT BERJUANG -