Anda di halaman 1dari 41

PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM

Penggunaan Serbuk Biji Molinga oleifera Lam. dalam Penurunan


kadar logam berat, intensitas warna, dan kekeruhan air Sungai
Kreo dengan Pre-Treatment Horizontal Roughing Filter

BIDANG KEGIATAN:

PKM-PENELITIAN

Diusulkan oleh :

Yunus Prayudi (NIM 21080115140085

/Angkatan 2015)

Yudha Bayu Laksono (NIM 21080114140114/Angkatan 2014)

Alfian Rizky R

Cagayana

(NIM 21080114130115/Angkatan 2014)

(NIM 21080114140116/Angkatan 2014)

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2015

PENGESAHAN USULAN PKM-PENELITIAN


1.

JudulKegiatan
: Penggunaan Serbuk Biji Molinga oleifera Lam. dalam Penurunan kadar logam
berat, intensitas warna, dan kekeruhan air Sungai Kreo dengan Pre-Treatment
Horizontal Roughing Filter

2.
BidangKegiatan
: PKM-P
3.
KetuaPelaksanaKegiatan

a.
NamaLengkap

: Cagayana

b.
NIM
: 21080114140116

c.
Jurusan
: Teknik Lingkungan

d.
Universitas/Institut/Politeknik
: Universitas Diponegoro

e.
Alamat Rumah dan No Tel./HP
:Jl. Gondang Timur 2 No. 15 B,
Bulusan, Tembalang

f.
Alamat email
: cagayanalp@gmail.com

4.

Anggota Penulis Kegiatan/Penulis


: 3 Orang
5.

Dosen Pendamping

a.
NamaLengkapdanGelar
:

b. NIDN
:

c. AlamatRumahdan No Tel./HP
:

6.
BiayaKegiatan Total

a.
Dikti
:Rp12.034.000,00

b.

Sumber lain
:7.
JangkaWaktuPelaksanaan
: 5 bulan
Semarang, 22 September 2015
Menyetujui
Pembantu Dekan III
Bidang Kemahasiswaan

(Dr. Ing.Asnawi, S.T.)

(Cagayana)

NIP 197107241997021001

NIM. 21080114140116

Pembantu Rektor III


Bidang Kemahasiswaan

(Dr. Budi Setiyono, S.Sos., M.Pol.Admin., Ph.D)


NIP. 197107241997021001

(Dosen Pembimbing)
NIP.
ii

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL
i
LEMBAR PENGESAHAN
ii
DAFTAR ISI

iii
DAFTAR TABEL
v
DAFTAR GAMBAR
v
RINGKASAN

vi
BAB I
PENDAHULUAN
1

1.1
Latar Belakang

1.2
Perumusan Masalah
2

1.3
Tujuan Khusus
2

1.4Urgensi Penelitian
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
3

2.1 Pencemaran Sungai oleh Air Lindi


4

2.2 Logam Berat


4

2.3
Pre-Treatment Horizontal Roughing Filter
5

2.4
Biji Kelor (Moringa oleifera Lam.)

5
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
6

3.1
Bahan Penelitian
6

3.2
Alat Penelitian
6

3.3
Tahap Percobaan
6

3.3.1 Variabel Penelitian


6

3.3.2 Preparasi Serbuk Biji Molinga oleifera Lam.

iii

3.3.3 Pengolahan dan Pengukuran kadar Pb Sampel Air


Sungai
7
3.3.4 Pengolahan dan Pengukuran kadar Cr Sampel Air
Sungai
7
3.3.5 Pengukuran Intensitas Warna pad air Sungai Kreo

7
3.3.6 Pengolahan dan Pengukuran kadar Cr Sampel Air
Sungai
8

BAB IV BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN


9
4.1 Anggaran Biaya
9
4.2 Jadwal Kegiatan
9
DAFTAR PUSTAKA
10

iv

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1.1 Hasil Uji Karakteristik Awal Lindi TPA Jatibarang
3
Tabel 1.2
Ringkasan Anggaran Biaya
8
Tabel 1.3. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan
9

RINGKASAN

Air sungai digunakan untuk masyarakat dalam kebutuhan sehari-hari


seperti mandi, cuci, dan kakus. Berbagai kandungan air sungai dapat
membahayakan kesehatan. Kandungan logam merupakan salah satu kandungan
pada sungai yang tercemar dan dapat menyebabkan penyakit pada tubuh manusia.
Air sungai tercemar ditandai dengan adanya kandungan bahan kimia
berbahaya dalam air sungai salah satunya adalah logam berat. Air sungai yang
dekat dengan kawasan TPA berpotensi untuk tercemar lebih besar dibandingkan
air sungai lainnya. Kurangnya penanganan air lindi pada TPA menyebabkan
pencemaran pada air sungai contohnya sungai Kreo yang letaknya dekat dengan
TPA Jatibarang. Untuk itu, penelitian sungai Kreo perlu dilakukan salah satunya
dengan meneliti kandungan logam berat yang ada pada sungai tersebut.
Penggunaan serbuk biji Molinga oleifera Lam.merupakan serbuk yang
sedang banyak diteliti saat ini terutama untuk mengurangi kadar logam berat
dalam air. Dengan kemampuan yang dimiliki serbuk biji tersebut, diharapkan
dapat mengurangi kadar logam berat dalam air sungai Kreo serta mengurangi
kekeruhan dan intensitas warna dengan Pre-Treatment Horizontal Roughing Filter

vi1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kuantitas timbunan sampah akan meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah


penduduk. Jumlah penduduk kota Semarang adalah sebanyak 1.555.984 jiwa
3

(BPS, 2010) dengan rata - rata volume timbulan sampahnya sebesar 6500 m /hari.
Timbunan sampah ini akan menyebabkan limbah air lindi. Di TPA Jatibarang, air
lindi tampak mengalir dari kolam ke sungai Kreo. Penduduk dusun di TPA ini
memanfaatkan air sungai tersebut untuk air minum dan MCK (Mandi Cuci
Kakus). Hal ini akan mengakibatkan masalah kesehatan bagi masyarakat setempat
yang disebabkan oleh air lindi yang telah mencemari air sungai Kreo. Menurut
Pakar Kesehatan FKM UNDIP Dr. Onny Setiawan Ph.D (2010) menyatakan
bahwa TPA semakin memperparah pencemaran sungai Kali Garang karena lindi
dari tempat penampungan sampah mengalir ke sungai dan membawa kandungan
logam berat dan bakteri pencemar (Suara Merdeka, 2010). Studi uji karakteristik
awal lindi yang dilakukan di Laboratorium Teknik Lingkungan UNDIP tahun
2011 menyatakan bahwa kandungan Pb sebesar 0,30 mg/L dan Cr sebesar 0,66
mg/L yang masih diatas baku mutuberdasarkan Perda Jateng No. 10/2004 yaknia
mbang batas Pb sebesar 0,1 mg/L dan 0,5 untuk Cr.

Pengembangan mengenai penggunaan bahan alami sebagai adsorban terus


dilakukan. Biji kelor (Molinga oleifera, Lam.) Penelitian mengenai penurunan
kadar logam telah dilakukan oleh Bahtiar Aji Nugroho, dkk. pada tahun 2014
mengenai penurunan kadar Pb, kekeruhan, dan intensitas warna pada air sumur
gali. Hasilnya, serbuk biji kelor dapat dimanfaatkan untuk mengurangi kadar Pb,
kekeruhan, dan intensitas wana pada sumur gali. Penelitian pun akan dilakukan
dengna perlakuan yang sama dengan air sungai Kreo sebagai objek yang diteliti.

Perumusan Masalah

Apakah serbuk biji Molinga oleifera Lam. dapat digunakan sebagai adsorben pada
air Kreo setelah dilakukan Pre-Treatment Horizontal Roughing Filter?

Apakah serbuk biji Molinga oleifera Lam. dapat digunakan untuk menyisihkan
logam Pb, Cr, Cd, mengurangi kekeruhan dan intensitas warna pada air sungai
Kreo setelah dilakukan Pre-Treatment Horizontal Roughing Filter?

Berapa banyak serbuk biji Molinga oleifera Lam. yang dibutuhkan untuk
menyisihkan logam logam Pb, Cr, Cd, mengurangi kekeruhan dan intensitas
warna pada air sungai Kreo setelah dilakukan Pre-Treatment Horizontal Roughing
Filter?

Seberapa besar efisiensi penggunaan serbuk biji Molinga oleifera Lam. terhadap
pengolahan air sungai Kreo setelah dilakukan Pre-Treatment Horizontal Roughing
Filter?

Tujuan Khusus

Mengetahui apakah serbuk biji Molinga oleifera Lam. dapat digunakan sebagai
adsorben pada air Kreo setelah dilakukan Pre-Treatment Horizontal Roughing
Filter.

Mengetahui apakah serbuk biji Molinga oleifera Lam. dapat digunakan untuk
menyisihkan logam Pb, Cr, Cd, mengurangi kekeruhan dan intensitas warna pada
air sungai Kreo setelah dilakukan Pre-Treatment Horizontal Roughing Filter.

Mengetahui Berapa banyak serbuk biji Molinga oleifera Lam. yang dibutuhkan
untuk menyisihkan logam logam Pb, Cr, Cd, mengurangi kekeruhan dan intensitas

warna pada air sungai Kreo setelah dilakukan Pre-Treatment Horizontal Roughing
Filter.

Menganalisis efisiensi efisiensi penggunaan serbuk biji Molinga oleifera Lam.


terhadap pengolahan air sungai Kreo setelah dilakukan Pre-Treatment Horizontal
Roughing Filter.

Urgensi Penelitian

Sebagai salah satu solusi alternatif pengolahan air dengan memanfaatkan biji
Kelor (Molinga oleifera Lam.) dengan metode pengolahan air yaitu Pre-Treatment
Horizontal Roughing Filter.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pencemaran Sungai oleh Air Lindi

Air sungai merupakan salah satu sumber air yang digunakan oleh masyarakat terutama
masyarakat yang tinggal dekat dengan daerah sungai. Untuk beberapa masyarakat, air
merupakan sumber utama selain digunakan untuk MCK. Air sungai yang lokasinya
berdekatan dengan TPA berpotensi tinggi untuk tercemar air lindi. Lindi sangat berpotensi
menyebabkan pencemaran air, baik air tanah maupun permukaan sehingga perlu ditangani
dengan baik. Dalam penelitian terdahulu di Teknik Lingkungan UNDIP (2011) hasil
Karakterisasi Air Lindi TPA Jatibarang dalam parameter Pb dan Cr terlihat pada tabel 1.1.

Tabel 1.1 Hasil Uji Karakteristik Awal Lindi TPA Jatibarang

Parameter
Satuan
Hasil Pengujian
Perda Jateng
Keterangan

No. 10/2004

Pb
mg/l
0,30
0.1
Melebihi baku mutu

Cr
mg/l
0,66
0.5
Melebihi baku mutu

Sumber : Analisis Lab. Teknik Lingkungan UNDIP, 2011

Kandungan sampah yang beraneka ragam di TPA Jatibarang berpotensi besar di dalam
pencemaran terhadap lingkungan. Hal ini bisa terjadi karena sampah yang terdekomposisi
akan menghasilkan lindi (leachate). Lindi mengandung bahan organik maupun anorganik
yang mengandung berbagai mineral dan logam seperti timbal (Pb) dan Kadmium (Cd).
Kandungan logam berat ini mengalir bersama lindi masuk ke dalam sistem perairan dan
mengalami proses sedimentasi di aliran Sungai Kreo (Sudarwin, 2008).

2.2 Logam Berat

Logam berat ialah unsur logam dengan berat molekul tinggi.Logam berat yang sering
mencemari habitat ialah Hg, Cr, Cd, As, dan Pb (Soemirat,

2003). Menurut Darmono (1995), faktor yang menyebabkan logam berat termasuk dalam
kelompok zat pencemar adalah karena adanya sifat-sifat logam berat yang tidak dapat
terurai (non degradable) dan mudah diabsorbsi. Babich dan Stotzky (1978)
mengemukakan bahwa berbagai faktor lingkungan berpengaruh terhadap logam berat yaitu
keasaman tanah, bahan organik, suhu, tekstur, mineral liat, kadar unsur lain dan lain-lain.

Pre-Treatment Horizontal Roughing Filter

Roughing filter merupakan pengolahan pendahuluan yang digunakan untuk


menurunkan kekeruhan dan padatan tersuspensi di dalam air dimana air
dilewatkan pada bak dengan media kasar seperti kerikil, limestone, atau gerabah.
Roughing filter merupakan proses pengolahan air limbah yang efisien karena dapat
memisahkan partikel padatan tanpa penambahan bahan kimia. Selain itu roughing filter
mempunyai waktu operasional yang lama dan perawatan yang mudah (Wegelin, 1996).Ada
dua jenis tipe Roughing filter yaitu Vertical roughing filter (VRF) dan horizontal roughing
filter (HRF).Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui efisiensi
penyisihan kandungan TSS dan kekeruhan menggunakan roughing filter.Menurut
penelitian yang dilakukan oleh Rabindra (2008), penyisihan Total Suspended Solid (TSS)
dan Kekeruhan menggunakan HRF sebesar 95%. Penyisihan menggunakan VRF
berdasarkan penelitian Dastanaie (2007) didapatkan penurunan parameter Total Suspended
Solid (TSS) dan Kekeruhan sebesar 63,4 % dan 89 %. Penelitian yang telah dilakukan baru
menggunakan salah satu jenis roughing filter, yaitu VRF atau HRF saja. Untuk itu
diperlukan penelitian yang mengkombinasikan efisiensi pengolahan menggunakan HRF
untuk menyisihkan TSS guna mengefisiensikan treatment arang aktif.

2.4 Biji Kelor (Molinga oleifera Lam.)

Salah satu bahan penyerap alami yang dapat digunakan adalah serbuk biji kelor Moringa
oleifera Lamk. Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa serbuk biji kelor
ternyata dapat digunakan sebagai pengabsorbsi, menggumpalkan sekaligus menetralkan
tegangan permukaan dari partikel lumpur dan logam berat yang terkandung dalam
substansi limbah. Hal ini disebabkan tingginya kandungan protein kationik dan adanya
bahan aktif 4-alfa-4-rhamonsiloxy-benzil-isothio-Jurnal Alam dan

Lingkungan, Vol.5 (8) Maret 2014 ISSN 2086-460438 cyanate yang terkandung pada biji
kelor. Keberadaan zat aktif ini mampu mengabsorbsi dan menetralisir partikel-partikel
lumpur dan logam berat yang terkandung dalam limbah tersuspensi (Pandia dan Husin,
2005).
Kelor mengandung protein B, protein C, kalsium, dan zat besi, dapat dipakai sebagai obatobatan, bahan baku pembuatan sabun dan kosmetik, juga dapat dimanfaatkan sebagai
penjernih air. Biji kelor dapat digunakan sebagai bio-koagulan karena mengandung protein
bermuatan positif yang dapat berperan sebagai kation polielektolit dan penting dalam agen
bio-koagulan. Tanaman kelor merupakan tanaman yang mempunyai kasiat sebagai obatobatan mulai dari akar, batang, daun dan bijinya sudah dikenal sejak lama di lingkungan
pedesaan. Daun kelor biasanya digunakan sebagai pakan ternak, terutama sapi dan
kambing, dan juga dapat digunakan sebagai pupuk hijau (Suriawiria;2005 dalam
Mukarromah; 2008).

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian akan dilakukan di Laboratorium Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro,


Semarang. Dengan Metode Eksperimental, akan dilakukan 2 tahap yakni: (1)
Pembentukan serbuk biji Molinga oleifera Lam. (2) Penggunaan serbuk biji kelor pada air
sungai yang telah melalui proses Pre-Treatment Horizontal Roughing Filter

Bahan Penelitian
Bahan- bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah biji Molinga
oleifera Lam., sampel air sungai Kreo serta dengan reagent grade pro analyst buatan
Merck.
3.2 Alat Penelitian
Alat alat yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah Flocculator jar test, Mascotte,
spektrofotometer AAS Perkin Elmer type Aanalyst 100, turbidimeter Hach 2100 P,
Shaker, magnetic stirrer, dan colourimeter Millipore.

3.3 Tahap Percobaan

Variabel Penelitian

Variabel Bebas

: Serbuk biji Kelor

Variabel Terikat : Konsentrasi Pb, Cr, Cd, kekeruhan, dan intensitas


warna pada air sungai Kreo
c. Variabel kontrol

: Lama pengadukan pada flocculaor jar test.


7

Preparasi Serbuk Biji Molinga oleifera Lam.

Preparasi serbuk biji kelor dilakukan dengan cara yang sangat sederhana dan sangat
mudah. Buah yang kering di pohon disortir kemudian dikupas ambil biji kelornya
kemudian dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 110oC. Biji kelor yang sudah
dikeringkan kemudian diblender dan di oven kembali selama 1 jam dengan suhu 100oC.
Serbuk biji kelor yang sudah di oven kemudian diayak dengan ukuran 50 mesh.

Pengolahan dan Pengukuran kadar Pb Sampel Air Sungai

Pengolahan dan pengukuran kadar Pb sampel air sungai (variasi massa serbuk biji kelor
dan lama pengadukan): diambil 5 sampel air sumur gali masing-masing sebanyak 100 mL
dan masukkan dalam beaker glass dengan volume 1 L. Kemudian ditambahkan serbuk biji
kelor dengan massa 5, 10, 15, 20 dan 25 g. Mengaduk dengan variasi waktu 5, 10, 15, 20
dan 25 menit kemudian sampel didiamkan sampai terbentuk dua lapisan. Setelah itu
dipisahkan dengan corong pisah. Mengukur kadar Pb sampel air sungai yang telah
dimasukkan dalam flocculator jar test dengan AAS.

Pengolahan dan Pengukuran kadar Cr Sampel Air Sungai


Pengolahan dan pengukuran kadar Cr sampel air sungai (variasi massa serbuk biji kelor
dan lama pengadukan): diambil 5 sampel air sumur gali masing-masing sebanyak 100 mL
dan masukkan dalam beaker glass dengan volume 1 L. Kemudian ditambahkan serbuk biji
kelor dengan massa 5, 10, 15, 20 dan 25 g. Mengaduk dengan variasi waktu 5, 10, 15, 20
dan 25 menit kemudian sampel didiamkan sampai terbentuk dua lapisan. Setelah itu
dipisahkan dengan corong pisah. Mengukur kadar Cr sampel air sungai yang telah
dimasukkan dalam flocculator jar test dengan AAS.

Pengukuran Intensitas Warna pad air Sungai Kreo

Pada pengukuran intensitas warna, diambil 6 sampel air sumur gali masing-masing
sebanyak 100 mL masukkan dalam beaker glass dengan volume 1 L. Mengukur intensitas
warna sampel air sungai terlebih dahulu sebelum perlakuan. Kemudian ditambahkan
serbuk biji kelor dengan massa 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 g. Sampel dimasukkan ke dalam
flocculator jar test dengan kecepatan 100 rpm selama 25 menit. Sampel kemudian
didiamkan sampai terbentuk dua lapisan, kemudian dipisahkan corong pisah. Mengukur
intensitas warna sampel yang telah dimasukkan ke dalam flocculator jar test dengan
kolorimeter.

Pengolahan dan Pengukuran kadar Cd Sampel Air Sungai

Pengolahan dan pengukuran kadar Cd sampel air sungai (variasi massa serbuk biji kelor
dan lama pengadukan): diambil 5 sampel air sumur gali masing-masing sebanyak 100 mL
dan masukkan dalam beaker glass dengan volume 1 L. Kemudian ditambahkan serbuk biji
kelor dengan massa 5, 10, 15, 20 dan 25 g. Mengaduk dengan variasi waktu 5, 10, 15, 20
dan 25 menit kemudian sampel didiamkan sampai terbentuk dua lapisan. Setelah itu
dipisahkan dengan corong pisah. Mengukur kadar Cd sampel air sungai yang telah
dimasukkan dalam flocculator jar test dengan AAS.

BAB IV

BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN

4.1 Anggaran Biaya

Tabel 1.2 Ringkasan Anggaran Biaya

No
Jenis Pengeluaran
Biaya (Rp)

1
Peralatan Penunjang dan Biaya Peminjaman Alat

Rp 3.000.000,00

2
Bahan Habis Pakai dan Biaya Analisis
Rp 2.000.000,00

3
Perjalanan dan Operasional
Rp

500.000.00

4
Pendaftaran Jurnal Akreditasi Dikti dan kesekertariatan
Rp

499.000,00

Jumlah
Rp 5.999.000,00

4.2 Jadwal Kegiatan

Tabel 1.3 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan

Bulan ke-

Kegiatan

1
2

3
4

1
2

3
4
1
2

3
4
1
2

3
4

Studi Literatur

Persiapan Alat

Penelitian

Analisa Hasil

Pembuatan Laporan

Seminar

10

DAFTAR PUSTAKA

Burton, Paul D. 2004. Wastewater Engineering. Mc-Graw Hill International


Edition, United States

Crittenden, J. C., dkk. 2005. Water treatment: Principles and Design. Seconded,
Wiley, New Jersey.

Kienle, H.V. 1986. Carbon Di dalam: Ulmans Encyclopedia of Industrial


Chemistry. 5thCompletely Resived Edition, Volume 5. Cancer Chemotherapy to
Ceramics Colorants. VCH, Weinheim.

Kumalasari Fety dan Yogi Satoto, 2012. Teknik Mengolah Air Kotor Menjadi
Air Bersih Hingga Siap Minum.Jakarta: Laskar Aksara

Kusnaedi.2010.Mengolah Air Kotor Untuk Air Minum. Jakarta: Penebar


Swadaya. Mikrajuddin Abdullah, 2009. Pengantar Nanosains. Penerbit ITB :
Bandung

Mukarromah. 2008. Efektifitas Bioflokulan Biji Kelor (Moringa oleifera Lamk.)


dalam Mengurangi Kadar Cr (IV). Skripsi. Universitas Islam Negeri Malang.

Nugroho, Bahtiar Aji, dkk. 2014. Penggunaan Serbuk Biji Kelor, untuk
Menurunkan Kadar Pb, Kekeruhan, dan Intensitas warna. Indonesian Journal of
Chemical Science. Universitas Negeri Semarang.

Pandia, S. dan A. Husin, 2005. Pengaruh Massa dan Ukuran Biji Kelor pada
Proses Penjernih-an Air. Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, Medan.
Jurnal Teknologi Proses (4) 2. Hal. 2.

Sudarwin. 2005. Analisis Spasial Logam Berat (Pb dan Cd) pada Sedimen Aliran
Sungai dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Jatibarang, Semarang.
Jurnal Konsentrasi Kesehatan Lingkungan Industri

Suriawiria, U. 2005. Air dalam Kehidupan dan Lingkungan yang Sehat. bandung:
PT. Alumni.