Anda di halaman 1dari 73

BAB I

CASE
Page 1
Tn. Parkino Demimi berusia 65 tahun, datang ke puskesmas dengan keluhan
gemetar pada tangan kiri yang terutama terlihat jika sedang tidak ada aktivitas.
Gemetar ini dirasakan sudah sejak 3 bulan terakhir, berjalan pun dirasakan mulai
sulit dan dengan langkah kaki yang sedikit demi sedikit, sehingga selalu dituntun
karena pasien takut terjatuh. Ia juga sudah tidak bisa melakukan kegiatan sehari-hari
seperti mengkancingkan baju sendiri maupun menulis. Selain itu juga pasien akhirakhir ini sering tidak bisa menahan untuk buang air kecil sehingga sering kali
mengompol
Sudah sejak 6 bulan terakhir, pasien mulai terlihat lupa akan hal-hal sepele,
seperti lupa jalan pulang dari taman dekat rumah, sehingga harus diantar satpam
perumahan untuk sampai rumah, lupa nama adik kandung serta terkadang tidak
mengenali cucunya sendiri. Ia juga mudah menangis dan dapat tiba-tiba berubah
menjadi marah-marah, ia mulai malas makan, pagi hari hanya mau sarapan satu
tangkup roti dengan selai coklat serta minum teh manis, sedangkan siangnya ia
hanya makan satu centong nasi dengan sayur mayur, dan malam harinya kadang
menolak untuk makan karena tidak nafsu makan. Gigi pasien sudah mulai banyak
yang ompong, sehingga hanya mau makan makanan lunak atau dengan sayuran
saja .
Riwayat penyakit dahulu : Tn. Parkino memiliki riwayat diabetes mellitus sejak 20
tahun terakhir dan setiap hari mengkonsumsi obat metformin 500 mg. Kadang
pasien suka lupa minum obatnya.

Page 2
-

Pemeriksaan fisik
o Keadaan umum : Kesadaran Compos Mentis, tampak sedikit gelisah
o Tensi : 120/80 mmHg
o Nadi : 80x/menit
o RR : 20x/menit
o Suhu : Afebris
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Telinga : Fungsi pendengaran masih baik
Paru :
o Inspeksi : Gerakan simetris, bentuk normal chest
o Palpasi : Vocal fremitus sama di kedua hemithoraxx

1 | Page

o Perkusi : Sonor di kedua hemithorax


o Auskultasi : Suara nafas vesikuler; ronkhii dan wheezing tidak ada
Jantung :
o Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
o Palpasi : Iktus kordis tidak teraba
o Perkusi : Batas jantung normal
o Auskultasi : Bunyi jantung I dan II reguler, tidak ada murmur
Abdomen :
o Inspeksi : Bentuk abdomen datar
o Palpasi : Supel, tidak teraba massa
o Perkusi : Tympani diseluruh abdomen, hepar dan lien tidak membesar
o Auskultasi : Bising usus normal
Ekstremitas : Tidak ada bengkaj
Px neurologis :
o Px rangsang meningeal : (-)
o Px nervus cranialis : N
o Px motorik : Resting tremor (+), rigiditas, bradikinesia, bicara monoton
o Px sensoris : Baal di ujung ekstremitas kaki kanan dan kiri
o Px koordinasi : Postur tubuh tidak stabil
o Px refleks fisiologis : (+)
o Px refeks patologis : (-)
o Px fungsi korteks : Hilang ingatan jangak pendek, dispraksia,
disorientasi
o Px neurofisiologi
MMSE : 22, menunjukkan disorientasi waktu dan tempat
Clock drawing test : 3
Activity of daily living (ADL) : Dibawah normal
Penampilan : Berdiri kaku
Perilaku : Gelisah, apatis
Contact / rapport : Kurang baik
Orientasi : Disorientasi waktu dan tempat
Bicara : Perlahan, monoton, hipophonic, dysarthria
Memory : Terganggu
Persepsi : Normal
Emosi : Gelisah
Perilaku : Gelisah
Insight : Terganggu
Lab test :
o Tes darah :
GDS : 205 mg/dk
o Tes urin : N
Px penunjang :
o MRI : Lobus temporal bilateral dan hipokampus atrofi

Page 3

2 | Page

Oleh dokter Tn. Parkino didiagnosa mengalami Parkinson disertai Demensia


dan Neurogenik Bladder yang disebabkan oleh Diabetes Mellitus yang tidak
terkontrol selama 20 tahun.
-

Pengobatan :
o Farmakologis :
L-DOPA
Metformin
Donepezil
o Non-Farmakologis
Untuk neurogenik bladder, keluarga di edukasi untuk melatih Tn.
Parkino agar tidak mengompol, yakni dengan memperkirakan
sebelum kandung kencing penuh, agar dikeluarkan
Tidak boleh jalan sendiri

BAB II
3 | Page

ISI

1.1. SUSUNAN SARAF AUTONOM

Karakteristik

Simpatis

Parasimpatis

Asal serat praganglion

Daerah torakal dan lumbal korda


spinalis (torakolumbal)

Otak
dan
daerah
sakral
korda
spinalis
(kraniosakral)

Asal
pascaganglion
ganglion)

Rantai ganglion simpatis (dekat


korda spinalis)atau ganglion
kolateral (sekitar separuh ajlan
antara korda spinalis dan organ
efektor)

Ganglion
terminal
(di
dalam atau di
organ efektor)

Panjang dan jenis serat

Serat praganglion
kolinergik
pendek, serat pascaganglion
adrenergik
panjang,
serat
pascaganglion
adrenergik
panjang

Serat
praganglion
kolinergik
panjang, serat
pasca
ganglionik
kolinergik
pendek

Organ efektor
dipersarafi

Otot jantung, >> otot polos,


>>kelenjar eksokrin, >> kelenjar
endokrin

Otot
jantung,
>>otot
polos,
>>kelenjar
eksokrin,
>>
kelenjar
endokrin

serat
(letak

yang

Perbedaan anatomis sistem simpatis dan parasimpatis

4 | Page

Sistem saraf simpatis


o Pengaturan
Keluar dari medulla spinalis segmen T1-L2
Serabut preganglionik berasal dari cornu lateralis medulla
spinalis
Mempersarafi organ viscera dan permukaan tubuh
Mempunyai lebih banyak ganglion dibandingkan sistem
parasimpatis
Soma (Badan) sel dari neuron motorik sympatetik terIetak di
substansia grisea dari sumsum tulang belakang di bagian thorax
dan lumbal.
Axonnya keluar melalui ventral root. Setelah bertemu dengan
saraf-saraf tulang belakang, axon tersebut bercabang dan
melalui sympathetic ganglia
Axon-axon tersebut disebut dengan neuron-neuron preganglion
(preganglionic neuron). Beberapa neuron preganglion

5 | Page

meninggalkan sumsum tulang belakang menuju ganglia


sympatetik lain yang terIetak di organ-organ internal. Semua
axon dari neuron preganglion bersinapsis ke neuron di salah
satu ganglia tujuannya. Neuron-neuron tempat bersinapsis
disebut
neuron
postganglion
(postganglionic
neuron).
Selanjutnya, neuron postganglion mengirim axon ke organ
tujuan, seperti usus halus, perut, ginjal, dan kelenjar keringat.

Ganglia Truncus Sympathicus


o Terletak pada kedua sisi columna vertebralis
o Dihubungkan satu sama lain oleh serabut saraf pendek membentuk
truncus sympathicus
o Bergabung dengan rami ventralis melalui rami communicantes alba
dan grisea

6 | Page

Ganglia Prevertebralis
o Tidak berpasangan, tidak tertata secara segmental
o Hanya ada di cavum abdomen dan pelvis
o Terletak pada bagian anterior columna vertebralis
o Ganglion utama : coeliacus, mesentericus superior, mesentericus
inferior, hypogastricus

Sistem Simpatis pada Extremitas


o Mempersarafi
Kelenjar keringat
Musculi errector pili
Pembuluh darah perifer

7 | Page

Sistem Simpatis pada Kepala


o Serabut preganglionik berasal dari medulla spinalis segmen T 1-T4
o Serabut ascendens pada truncus sympathicus
o Bersinaps pada ganglion cervicalis superior
o Serabut postganglionik berkaitan dengan arteri-arteri besar
o Dibawa menuju : :
Kelenjar
Otot polos
Pembuluh saraf menuju ke otak

8 | Page

Sistem Simpatis pada Organ Thorax


o Serabut preganglionik berasal dari medulla spinalis segmen T 1-T6
o Beberapa serabut bersinaps pada ganglia truncus symphaticus
terdekat
o Serabut postganglionik langsung menuju organ yang dipersarafinya
o Serabut simpatis tak langsung yang menuju ke jantung
o Fungsi :
peningkatan denyut jantung,
dilatasi bronkiolus,
dilatasi pembuluh darah dinding pembuluh darah,
menghambat kerja otot dan kelenjar di esofagus

Sistem Simpatis pada Organ Abdomen


o Serabut preganglionik berasal dari medulla spinalis segmen T 5-L2
o Keluar melalui ganglia truncus sympathicus didekatnya, lalu berjalan
dalam nervus splanchnicus thoracis
Bersinaps dalam ganglia prevertebralis pada aorta abdominalis
Ganglion coeliacus dan mesentericus superior
o Menghambat aktivitas musculus dan kelenjar pada organ visceral

9 | Page

Sistem Simpatis pada Organ Pelvis


o Serabut preganglionik berasal dari medulla spinalis segmen T 10 L2
o Beberapa serabut bersinaps pada truncus symphaticus
o Serabut preganglionik lain bersinaps di ganglion prevertebralis
o Serabut postganglionik berjalan melalui plexus menuju ke organ pelvis

Peran Medulla Adrenal pada Sistem Simpatis


o Organ utama pada sistem simpatis
o Merupakan ganglion simpatis yang terbesar
o Mensekresi norepinefrin dan adrenalin dalam jumlah besar

10 | P a g e

o Sekresi dirangsang oleh serabut simpatis preganglionik

Sistem Saraf Parasimpatik


o Soma sel yang mengandung axon-axon preganglion di sistem saraf
sympatetik terletak di dua bagian:
o sel-sel saraf di saraf-saraf kepala (terutama saraf vagus)
o substansia grisea di sumsum tulang belakang bagian sacral.
o Ganglia parasimpatetik terIetak didekat organ tujuan; axon
postganglion cenderung lebih pendek.
o Yang berasal dari cranial
Keluar dari otak
Mempersarafi organ di kepala, leher, thorax, dan abdomen
o Yang berasal dari sacral
Mempersarafi organ abdomen dan pelvis yang lain

11 | P a g e

Parasimpatis dari Nervus Cranialis


o Serabut preganglionik melalui:
N. Oculomotorius (N. III)
N. Facialis (N. VII)
N. Glossopharyngeus (N. IX)
N. Vagus (X)
Badan sel terletak dalam nuclei nervi craniales dalam batang
otak

Parasimpatis dari N. Oculomotorius (N. III)


o Serabut parasimpatis mempersarafi otot polos bola mata
menyebabkan konstriksi pupil
o Badan sel preganglionik terletak dalam nucleus oculomotorius di
batang otak
o Badan sel postganglionik terletak dalam ganglion ciliaris

Parasimpatis dari N. Facialis (N. VII)


o Serabut parasimpatis merangsang sekresi kelenjar-kelenjar di kepala
o Nuclei lacrimalis terletak di pons

12 | P a g e

Bersinaps di ganglion pterygopalatinum


o Nucleus salivarius superior terletak di pons
Bersinaps di ganglion submandibularis

Parasimpatis dari N. Glossopharyngeus (N. IX)


o Serabut parasimpatis merangsang sekresi kelenjar parotis
o Nuclei salivarius inferior terletak di medulla oblongata
o Bersinaps di ganglion oticum

Parasimpatis dari N. Vagus (N. X)


o Mempersarafi organ visceral pada cavum thorax dan sebagian besar
organ abdomen
o Merangsang pencernaan, penurunan denyut jantung dan tekanan
darah
o Badan sel preganglionic
Terletak di nucleus motorik dorsalis di medulla oblongata
o Saraf postganglionic
Tertanam di dalam dinding organ yang dipersarafinya

Parasimpatis dari N. Vagus (N. X)


o Memberikan cabang-cabangnya melalui:
Plexus saraf otonom
Plexus cardiacus
Plexus pulmonary
Plexus esophagus
Plexus coeliacus
Plexus mesentericus superior

Parasimpatis dari Nervus Sacralis


o Keluar dari nervi spinales S2-S4
o Mempersarafi organ pada rongga pelvis dan abdomen bagian bawah
o Badan sel preganglionic
Terletak di regio motorik visceral pada substantia grisea medulla
spinalis
o Axon berjalan dalam radix ventralis nervus spinalis ramus ventralis
Membentuk nervi splanchnicus
Berjalan melalui plexus hypogastricus inferior

13 | P a g e

Pengendalian SSP pada Sistem Saraf Otonom


o Dikontrol oleh otak dan medulla spinalis
Formatio reticularis yang paling banyak berpengaruh langsung,
terutama :
Medulla oblongata
Substantia grisea periaquaductus
Kontrol oleh hipotalamus dan corpus amygdaloideum
Hipotalamus pusat integrasi utama sistem saraf
otonom
Corpus amygdaloideum regio limbik utama yang
mengatur cortex
Dikontrol oleh cortex hemispherium cerebri

1.2. TRAKTUS PIRAMIDALIS


-

Nama Lain : Traktus Kortikospinalis


o Traktus piramidalis adalah traktus yang lewat di bagian ventral medulla
oblongata
o Traktus piramidalis jaras ini terutama berhubungan dengan gerakan
terlatih dari otot-otot distal anggota gerak dan motorneuron.

14 | P a g e

Serabut traktus kortikospinalis muncul sebagai sel piramidal yg terletak di


lapisan kelima korteks serebri.
Sepertiga akson-akson dari jaras ini berasal dari area korteks motorik primer
(girus presentralis area 4), sepertiga lainnya dari area korteks motorik
sekunder (area 6) dan area motorik tambahan (area lapang mata prefrontal

15 | P a g e

(area 8), dan sepertiga sisanya berasal dari lobus parietalis (girus
postsentralis area 3, 1 dan 2).

Jaras traktus piramidalis

16 | P a g e

Serabut desendens mengumpul di corona radiata

Jalan melalui crus posterius capsula interna

Jalan melalui 3/5 bag. medial basis pedunculi mesencephalon

Pons
Medulla oblongata (membentuk kelompok di sepanjang tepi anterior dan membentuk
benjolan -> Pyramid)

Pada pertemuan antara medulla spinalis &


tetap

Serabut yang tidak menyilang

Medulla oblongata hampir semua serabut


anterior

berjalan turun di columna alba

menyilang pada decussatio pyramidum

medulla spinalis

Masuk columna alba lateralis medulla spinalis

Tractus corticospinalis anterior

Tractus corticospinalis lateralis

Berakhir di columna grisea anterior semua


sinaps dg segmen medulla spinalis

90% berakhir
interneuron

membentuk

Hantar impuls motorik ke neuron motor dan neuron motor

17 | P a g e

18 | P a g e

1.3. TRAKTUS EKSTRAPIRAMIDALIS


-

Adalah semua susunan jaras-jaras dan nuclei yang terletak di luar susunan
piramidal
Traktus-traktus yang termasuk :
o 1. Traktus rubrospinalis : memfasilitasi otot fleksor dan menghambat
aktivitas otot ekstensor/antigravitasi
o 2. Traktus olivospinalis : diragukan keberadaannya (?)
o 3. Traktus vestibulospinalis : memfasilitasi aktivitas otot ekstensor dan
menghambat aktivitas otot fleksor untuk menjaga keseimbangan.
o 4. Traktus retikulospinalis : mempengaruhi gerakan voluntar dan
aktivitas refleks.
o 5. Traktus tektospinalis : berkaitan dengan refleks postural sebagai
respons terhadap stimulus visual

1.4. CEREBELLUM

Menerima sangat byk impuls sensorik umum & khusus, tp tdk berperan sdkt
pun dalam persepsi atau diskriminasi sadar
Mempengaruhi fungsi motorik tp lesi serebelum tdk menimbulkan paralisis
Peran utama pada pembelajaran dan memori motorik
Sebagai pusat koordinasi untuk mempertahankan keseimbangan dan tonus
otot, diperlukan untuk mempertahankan postur dan keseimbangan untuk
berjalan dan berlari.
Cerebellum terletak di fossa cranii posterior & di bagian superior ditutupi oleh
tentorium cerebelli
Merupakan bagian terbesar otak belakang
Terletak di posterior ventriculus quartus, pons dan medulla oblongata

19 | P a g e

Cerebellum berbentuk agak lonjong dan menyempit pada bagian tengah,


terdiri dari dua hemispherium cerebelli yang dihubungkan oleh bagian
tengah yg sempit, yaitu vermis.

20 | P a g e

Berhubungan dengan aspek posterior batang otak melalui 3 berkas serabut


saraf:
o Pedunculus cerebellaris superior : korpus restiforme. Tdd jaras
aferen (traktus spinoserebelaris posterior), jaras eferen (traktus
fastigiobulbaris)

21 | P a g e

o Pedunculus cerebellaris medius : brakhium pontis. Tdd serabut


aferen. Traktus pontoserebelaris
o Pedunculus cerebellaris inferior : brakhium konjunktivum.
Mengandung sebagian besar serabut eferen serebelum ke talamus &
ke nukleus ruber dan formasio retikularis. Jaras aferen traktus
spinoserebelaris anterior

22 | P a g e

Pedunculus Cerebellaris
o Hubungan :
Pedunculus cerebellaris superior menghubungkan cerebellum
dengan mecencephalon
Pedunculus cerebellaris medius menghubungkan cerebellum
dengan pons
Pedunculus cerebellaris inferior menghubungkan cerebellum
dengan medulla oblongata
o Terbagi jadi 3 lobus:
Lobus anterior : terutama pada bagian vermis menerima input
dari jaras spinocerebelaris
Lobus medius (lobus posterior) : menerima proyeksi dari
hemisfer serebri
Lobus flocculonodularis : menerima proyeksi terutama dari intiinti vestibuler

Struktur Cerebellum
o Terdiri dari 2 lapisan:
Lapisan substansia grisea di bagian luar (cortex)
Lapisan substansia alba di bagian dalam
o Setiap hemisferium terdapat 3 masa substansia grisea yg membentuk
nuclei intracerebellaris di dalam substansia alba

Struktur Cortex Cerebelli


o Terbagi jadi 3 lapisan:
Lapisan molekular (luar)
terdiri dari 2 tipe neuron, yaitu sel stellatum (sblh luar)
dan sel basket (sblh dalam)
Lapisan sel Purkinje (tengah)
Memiliki banyak cabang-cabang.
o Cabang pertama & kedua halus,
o cabang sisanya dilapisi oleh spina dendritik yg
tebal & pendek.
o Spina membentuk kontak sinaptik dg serabut
paralel yg berasal dr akson sel-sel granular.
Di dasar sel purkinje, akson keluar & berjalan lewat
lap.granular -> masuk substansia alba -> mendapat
selubung mielin -> berakhir & bersinaps dgn sel pd salah
satu nuclei intracerebllaris.

23 | P a g e

Cabang kolateral akson purkinje berkontak sinaptik dg


dendrit sel basket dan sel stellatum.
Bbrp akson sel Purkinje lgsg berjalan & berakhir pd
nukleus vestibularis di batang otak.
Lapisan granular (dalam)
Dipadati oleh sel kecil dg inti berwarna gelap &
sitoplasma.
Tersebar sel-sel Golgi di seluruh granular.
Dendrit bercabang2 di lap.molekular, akson berakhir dg
membentuk cabang yg bersinaps dg dendrit sel granular
Msg2 sel punya 4 atau 5 dendrit.
Akson msg2 sel berjalan kedalam lapisan molekular.
Serabut2 ini berjalan dg sudut yg tepat menuju processus
dendrit sel purkinje
Sebagian besar serabut berkontak sinaptik dg processus
spinosus pd dendrit sel2 purkinje.

Nuclei Intracerebellaris
o 4 massa substansia grisea tertanam di substansia alba cerebellum pd
setiap sisi garis tengah. Dari lateral ke medial:
Nucleus dentatus
Nucleus emboliformis

24 | P a g e

Nucleu globosus
Nucleus fastigii

Mekanisme Cortical Cerebellaris


o Serabut asendens dan serabut seperti lumut (serabut terminal seluruh
traktus aferen cerebelli) membentuk 2 lintasan input utama ke korteks
dan merangsang sel-sel purkinje

Mekanisme Nuclei Intracerebellaris


o Menerima informasi saraf aferen dari 2 sumber:
Akson inhibitor dari sel purkinje atas korteks
Akson eksitator yg mrpkn cabang serabut asendens dan serabut
seperti lumut yg berkalan ke korteks yg berada di atasnya.

Serabut Aferen Cerebellum


o Serabut aferen cerebellum dari cortex cerebri:
1. Jaras corticopontocerebellaris
2. Jaras cerebro-olivocereberllaris
3. Jaras cerebroreticulocerebellaris

Serabut Aferen Cerebellum dari Medulla Spinalis


o Melalui 3 jaras:
Traktus spinocerebellaris
Traktus spinocerebellaris posterior
Traktus cuneocerebellaris

Serabut Aferen Cerebellum dari Nervus Vestibularis


o N. Vestibularis mengirim banyak serabut aferen langsung ke
cerebellum melalui pedunculus cerebellaris inferior

Serabut Eferen Cerebellum


o Jaras globosus-embokuformis-rubral
o Jaras dentothalamicus
o Jaras fastigial vestibularis
o Jaras fastigial reticularis

25 | P a g e

26 | P a g e

27 | P a g e

2. FISIOLOGI
2.1. SISTEM SARAF
- Komponen:
o Sistem saraf pusat (SSP) :
Dibentuk oleh :
otak
medulla spinalis.
o Sistem saraf perifer :
Dibentuk oleh
serat-serat aferen dan eferen yang menyalurkan sinyal
antara SSP dan perifer (bagian tubuh lain) melalui divisi
eferen sistem saraf perifer.
o Divisi eferen sistem saraf perifer: penghubung
komunikasi dengan SSP yang mengontrol aktivitas
otot dan kelenjar. Terdiri dari 2 cabang:
- Volunter (sistem saraf somatik)
- Involunter (sistem saraf otonom): terdiri dari
sistem saraf simpatis dan sistem saraf
parasimpatis.

- Sistem Saraf Otonom


o Sistem saraf otonom mengatur aktivitas alat-alat dalam (viseral) yang
dalam keadaan normal di luar kesadaran dan kontrol volunter.
o Sistem saraf simpatis dan parasimpatis menimbulkan efek yang
bertentangan pada organ tertentu.
Contoh: stimulasi simpatis meningkatkan denyut jantung,
sementara stimulasi parasimpatis menurunkannya
o Satu sistem tidak selalu bersifat eksitatorik dan yang lain selalu
inhibitorik, kedua sistem meningkatkan aktivitas beberapa organ dan
menurunkan aktivitas organ-organ lain. Sistem parasimpatis
mendorong fungsi-fungsi tubuh seperti pencernaan dan pengosongan
vesika urinaria, dan juga memperlambat aktivitas-aktivitas yang
ditingkatkan oleh saraf simpatis.

28 | P a g e

Perbedaan Simpatis dan Parasimpatis


KARAKTERISTIK

SISTEM SIMPATIS

SISTEM PARASIMPATIS

Asal
praganglion

serat

Daerah torakal & lumbal medulla


spinalis

Otak dan daerah sakral


medulla spinalis

Asal
serat
pascaganglion
(letak ganglion)

Rantai ganglion simpatis (dekat


medulla spinalis) atau ganglion
kolateral (sekitar separuh jalan
antara medulla spinalis dan organ
efektor)

Ganglion terminal (di dalam


atau di dekat organ efektor)

Panjang dan jenis


serat

Serat praganglion kolinergik


pendek

Serat
praganglion
kolinergik panjang

Serat
pascaganglion
adrenergik
panjang
(sebagian besar)

Serat pascaganglion
kolinergik pendek

Serat
kolinergik
(beberapa)

pascaganglion
panjang

Organ efektor yang


dipersarafi

Otot jantung, hampir semua otot


polos, sebagian besar kelenjar
eksokrin dan sebagian kelenjar
endokrin

Otot jantung, sebagian


besar otot polos, sebagian
besar kelenjar eksokrin dan
sebagian kelenjar endokrin

Jenis
reseptor
untuk
neurotransmitter

, B1 , B2

Nikotinik dan muskarinik

Dominasi

Mendominasi
dalam
keadaan
darurat
fight
or
flight:
mempersiapkan
tubuh
untuk
aktivitas fisik yang memerlukan
kekuatan besar

Mendominasi dalam situasi


yang tenang dan rileks,
seperti pencernaan dan
pengosongan
vesika
urinaria

Jenis lepas muatan

Sering melepaskan muatan secara


massal sistem keseluruhan, dapat
melibatkan hanya organ-organ
tertentu

Biasanya lebih melibatkan


organ-organ tersendiri dan
jarang melepaskan muatan
secara massal

29 | P a g e

Organ-organ yang hanya dipersarafi oleh saraf simpatis :


o Medulla adrneal
o Ginjal
o Otot pilomotor
o Kelenjar keringat

30 | P a g e

Tempat Pengeluaran Asetilkolin dan Norepinefrin:


o Asetilkolin
o 1. Semua
praganglion
otonom

o Norepinefrin
ujung (terminal)
sistem
saraf

o 1. Sebagian besar
ujung pascaganglion
simpatis

o 2.
Semua
ujung
pasccaganglion simpatis

o 2. Medula adrenal

o 3.
Ujung
pascaganglion
simpatis di kelenjar keringat
dan sebagian pembuluh darah
di otot rangka

o 3. Susunan
pusat

o 4. Ujung neuron aferen yang


mempersarafi
otot
rangka
(neuron motorik)

o 5. Susunan saraf pusat

saraf

o 2.2. FUNGSI VEGETATIF


-

Miksi
o Fisiologi Miksi
Proses berkemih normal dibagi menjadi 2 fase :
1. Fase penyimpanan dan
2. Fase pengosongan.
Diperlukan struktur dan fungsi komponen saluran kemih bawah,
kognitif, fisik, motivasi, dan lingkungan.
Proses berkemih normal melibatkan mekanisme volunter dan
involunter.
Sfingter uretra eksternal dan otot dasar panggul berada
di bawah kontrol volunter dan disuplai oleh saraf
pudendal
Otot detrusor vesika urinaria dan sfingter uretra interna
berada di bawah kontrol involunter, yang mungkin
dimodulasi oleh korteks otak.
Struktur vesika urinaria :

4 lapisan:
o lapisan serosa,
o lapisan otot detrusor,
o lapisan submukosa, dan lapisan
o mukosa.
Otot detrusor berelaksasi terjadi pengisian vesika urinaria.
Otot detrusor berkontraksi terjadi pengosongan vesika
urinaria atau proses berkemih berlangsung.
Kontraksi vesika urinaria disebabkan oleh saraf parasimpatis
yang dipicu oleh asetilkolin pada reseptor muskarinik. Sfingter
uretra internal menyebabkan uretra tertutup, sebagai akibat
kerja aktivitas saraf simpatis yang dipicu oleh noradrenalin.
Mekanisme miksi:
1. Vesika urinaria terisi urin
2. Rangsang saraf diteruskan melalui saraf pelvis dan
medulla spinalis
3. Ke pusat saraf kortikal dan subkortikal (pada ganglia
basal dan serebelum)
4. Vesika urinaria berelaksasi
5. Vesika urinaria terisi urin tanpa mengalami desakan
untuk berkemih
6. Pengisian vesika urinaria berlanjut
7. Rasa penggembungan vesika urinaria disadari
8. Pusat kortikal (lobus frontal) bekerja menghambat
pengeluaran urin
9. Lama kelamaan vesika urinaria penuh
10. Terjadi desakan berkemih
11. Rangsang saraf dari korteks disalurkan melalui
medula spinalis dan saraf pelvis ke otot detrusor
12. Timbul aksi kolinergik oleh saraf pelvis
13. Otot detrusor berkontraksi
14. Terjadi pengosongan vesika urinaria
15. Interferensi aktivitas kolinergik saraf pelvis
menyebabkan pengurangan kontraktilitas otot. Kontraksi
otot detrusor tidak hanya tergantung pada inervasi
kolinergik oleh saraf pelvis. Otot detrusor juga
mengandung reseptor prostaglandin. Prostaglandininhibiting drugs dapat menganggu kontraksi detrusor.
Kontraksi vesika urinaria juga calcium-channel
dependent. Oleh karena itu, calcium-channel blockers
dapat juga mengganggu kontraksi vesika urinaria.
Mekanisme dasar proses berkemih diatur oleh refleks-refleks
yang berpusat di medula spinalis segmen sakral yang dikenal
sebagai pusat berkemih.

Fase pengisian (penyimpanan) vesika urinaria:


Terjadi peningkatan aktivitas saraf otonom simpatis
mengakibatkan
o penutupan leher vesika urinaria,
o relaksasi vesika urinaria,
o serta penghambatan aktivitas parasimpatis dan
mempertahankan inervasi somatik pada otot dasar
panggul.
Fase pengosongan vesika urinaria:
aktivitas simpatis dan somatik menurun,
sedangkan parasimpatis meningkat sehingga terjadi
kontraksi otot detrusor dan pembukaan leher vesika
urinaria.
Proses refleks ini dipengaruhi oleh system saraf yang lebih
tinggi yaitu batang otak dan supraspinal memfasilitasi.

Defekasi
o Definisi :
Mekanisme di mana tinja dikeluarkan melalui anus atau
kegiatan volunter untuk mengosongkan sigmoid dan rektum.
Defekasi seperti miksi juga yang merupakan mekanisme
automatis yang terintegrasi.
o Proses-prosesnya:
Pada defekasi, kegiatan susunan parasimpatik membangkitkan
kontraksi otot polos sigmoid dan rektum serta relaksasi otot
sfingter internus.
Kontraksi otot sigmoid dan rektum berjalan reflektorik.
Impuls aferennya dicetuskan oleh ganglion yang berada dalam
di dalam dinding sigmoid dan rektum akibat peregangan yang
disebabkan oleh penuhnya sigmoid dan rektum karena tinja.
Impuls ini dikirim ke korteks serebri dan dihasilkan keinginan
untuk buang air besar
Otot sfingter eksternus dipersarafi oleh saraf
somatomotorik nervus pudendus S2, S3, S4. Otot sfingter
internus dipersarafi oleh saraf simpatik nervus pelvikus.
Mekanisme defekasi dibagi dalam 2 tahap:
o Mekanisme :
1. Tahap pertama: tinja didorong ke bawah sampai tiba di
rektum yang berlangsung secara involunter. Karena penuhnya
rektum, kesadaran ingin buang air besar timbul.
2. Tahap kedua: semua kegiatan berjalan secara volunter.
Sfingter ani dilonggarkan dan sekaligus dinding perut
dikontraksikan, sehingga tekanan intra-abdominal yang
meningkat mempermudah pengeluaran tinja.

o 2.3. FUNGSI LUHUR


o
-

Definisi
o Adalah fungsi yang memungkinkan manusia dapat memenuhi
kebutuhan jasmani dan rohani sesuai dengan nilai moral yang berlaku.
o Fungsi luhur merupakan sifat khas manusia, mencakup aktivitas yang
memiliki hubungan dengan kebudayaan, bahasa, ingatan, dan
pengertian.
o Untuk mengekpresikan FL itu mencakup bahasa baik lisan (verbal)
maupun tertulis (visual), sensibilitas taktil (kemampuan untuk
mengetahui dengan jalan perabaan, penekanan dan pemegangan).
Komponen fungsi luhur
o 1. Kemampuan berbahasa.
o 2. Daya ingat.
o 3. Kemampuan Visuospatial.
o 4. Afek dan emosi.
o 5. Kemampuan kognisi.
Fungsi kognisi :
o suatu proses mental untuk memperoleh pemahaman atau pengertian
terhadap sesuatu.
o Cara berpikir hemisfer kanan dan kiri berbeda :
Hemisfer kiri analitis, linier dan bertahap dan dasarnya
adalah kecerdasan.
Hemisfer kanan intuitif, holistik, garis besar, menyelesiakan
masalah sekaligus dan dasarnya adalah kreativitas.
Gangguan kognisi :
o Tidak dapat menjabarkan peribahasa.
o Tidak dapat mengenal persamaan, kalkulasi, konsep.
o

o
o 2.4. FUNGSI BAHASA
o
-

Orang berkomunikasi dengan sesamanya dengan dua jenis bahasa, yaitu


bahasa verbal dan nonverbal.
Bahasa verbal : ungkapan hasil pemikiran/ konsep/ opini dengan
menggunakan bahasa simbol bahasa dan tatabahasa melalui bentuk lisan
maupun tulisan.
Bahasa non verbal: ekspresi emosi untuk memperjelas bahasa verbal,
dengan intonasi, gerak mata, badan, kepala, isyarat, body language atau
bahasa isyarat. Bahasa nonverbal
menggunakan lagu kalimat dan

penekanan pada kata-kata tertentu sewaktu berbicara, gerak-gerik atau isarat


mata, tangan, bagian tubuh yang lain yang menyertai suatu pembicaraan,
dengan maksud agar lawan bicara dpt lebih mengerti.
Bahasa nonverbal dipakai bersamaan dengan bahasa verbal agar isi pikiran
dan perasaan yang diutarakan dapat lebih dipahami
Bahasa verbal berpusat di hemisfer kiri. Hemisfer ini mempunyai kemampuan
untuk memantau fungsi berbicara atau bertutur kata (bahasa ekspresif),
pemahaman bahasa (bahasa reseptif), menulis dan membaca.
Bahasa ekspresif berpusat dibagian depan (area Broca), dan bahasa reseptif
berpusat dibagian belakang (area Wernicke). Membaca dan menulis berpusat
di belakang area Wernicke yaitu di girus Angularis.
o
o
o

o 2.5. FUNGSI MEMORI (INGATAN)


o
-

Definisi :
o Memori ialah kemampuan seseorang untuk menyimpan informasi atau
pengalaman dan mengemukakannya setiap saat
Jenis memori :
o 1.Immediate memory
Letak : Korteks prefrontal
Waktu : Milidetik
o 2. Recent memory
Letak : Hipokampus, lobus temporal
Waktu : Bbrp detik-menit
o 3.Remote memory
Letak : Didistribusikan hampir ke seluruh hemisfer cerebri
Waktu : Jam, hari, bulan tahun (ingatan permanen)
o Proses memori :
Proses yg menyimpan informasi atau pengetahuan yg diperoleh
tadi dlm jangka pendek atau jangka panjang, yg kemudian dpt
mencari kembali sewaktu dibutuhkan.
Proses
memori
lebih
berhubungan
dengan
proses
pemeliharaan, mengingat dan mendapatkan kembali informasi
atau pengalaman yang telah direkam tadi[3].
o Proses mengingat
Seseorang yg ingin mengingat informasi yg diterima melalui tiga
proses mengingat, yaitu :
1. Belajar (learn),

o sebagai proses mengingat untuk memperoleh


informasi, penyandian, atau mencatat informasi.
2. Retensi,
o sebagai proses mengingat untuk menyimpan
informasi yg telah diperoleh.
3. Retrieval,
o proses mengingat mencari kembali informasi yg
telah disimpan.

o
o 2.6. FUNGSI EMOSI
o
-

Definisi :
o Emosi ialah perasaan kompleks (menyenangkan atau tidak
menyenangkan) pada organisme.
Emosi dasar:
o 1. Rasa senang
o 2. Marah
o 3. Takut
o 4. Kasih saying
Bagian otak yang berkaitan dengan emosi adalah system limbic.
o System limbic merupakan batas antara diencephalon (batang otak)
dan cerebrum.
o Bangunan utama sistem limbik :
Amigdala
septum (dinding)
hipokampus
girus singulatus
thalamus anterior dan hipotalamus
Afek dan emosi berpusat di hemisfer kanan. Sehingga
kelainan di hemisfer kanan dapat menyebabkan orang
menjadi sukar berbicara dengan lagu kalimat yang baik,
sukar mengungkapkan isi pikiran yang mengandung
kemarahan, kegembiraan atau kesedihan. Juga tidak
mengenali raut wajah orang yang sedang marah,
gembira atau sedih[3].
o
o

o 2.7. FUNGSI VISUOSPATIAL

o
- Kemampuan visuospasial berkaitan dengan fungsi pengamatan diri dan
lingkungan serta persepsi (pengamatan yang menimbulkan pengenalan dan
pemahaman), berpusat di hemisfer kanan
o
o

o
o 3. TREMOR
o
- Definisi :
o Gerakan involunter yg terjadi akibat aktifitas neuron yg berlebihan
-

dalam suatu area.


Epidemiologi :
o Tremor dapat terjadi pada usia berapapun
o Paling sering terjadi pada usia menengah dan lanjut usia (52-61
tahun).
o Prevalensi wanita sama dengan pria.
Klasifikasi berdasarkan etiologi
o 1. Tremor Cerebellar
Etiologi :

Lesi atau kerusakan pada otak kecil (stroke, tumor,


gangguan degeneratif diwariskan, alkoholisme kronis, dll)
Terjadi bila melakukan gerakan volunter dan timbul pada akhir
gerakan. Contoh: menyentuh jari ke ujung hidung seseorang.
o 2. Tremor Esensial
Etiologi :

Tidak diketahui.
Sering terjadi, bersifat ringan dan gerakannya sering begitu kecil
sehingga terkadang tidak dapat dilihat.
Timbul pada saat sedang digerakan dan berkurang saat
istirahat.
Bukan merupakan penyakit serius tetapi dapat mengganggu,
dan menyebabkan sulit menulis, minum, dll.
o 3. Tremor Ortostatik
Biasa terjadi pada ekstremitas bawah atau badan waktu berdiri
di tempat
o 4. Tremor Parkinson

Etiologi :
Lesi

pada
substansi
nigra
sehingga
terjadi
pengurangan/penghentian produksi dopamin sebagai
neurotransmiter sel-sel saraf daerah tersebut dan
menyebabkan menurunnya kontrol dari gerakan motorik
Disebut juga rest tremor terjadi pada saat istirahat dan
berkurang/hilang waktu melakukan gerakan volunter.
o 5. Tremor Fisiologis
Etiologi :

Emosi tinggi,
Stres,
Demam,
Kelelahan fisik,

Hipoglikemia,
Terjadi pada individu yang normal.

Contoh: tremor pada saat keadaan marah.


o 6. Tremor Psikogenik
Etiologi :
Penyakit Kejiwaan
Terjadi saat istirahat atau selama gerakan postural atau kinetik.
Umumnya timbul secara tiba-tiba.
o 7. Tremor iatrogenik
Etiologi :
Intoksikasi obat terhadap sistem EP daerah substansi
nigra atauserebelum (obat-obat golongan adrenergik,
prostigmin, fenitoin, metoklopramid,reserpin, fenotiasin
dan butirfenon)
Tremor dapat berciri lambat atau cepat bergantung frekuensiya,
frekuensi rendah < 4 HZ, medium 4-7HZ, dan tinggi >7HZ.
o Tremor esensial

o 4-12 HZ

o Tremor ortostatik

o 14-18HZ

o Tremor Parkinson

o 3-10 HZ

o Tremor Fisiologis

o 7-12 HZ

o Tremor Psikogenik

o 4-10 HZ

o Tremor Iatrogenik

o 2-12 HZ

o Tremor Distonik

o 3-12 HZ

o Tremor Holmes

o 2-5 HZ

o Multiple Sklerosis

2.10Z

o
-

Klasifikasi berdasarkan waktu


o 1. Tremor istirahat / Rest Tremor :
Terjadi ketika otot sedang beristirahat.
o 2. Tremor Postural :
Terjadi ketika melawan gravitasi selama waktu tertentu.
(Contoh: ketika menulis, memegang cangkir, menjulurkan
lengan, atau ketika berdiri tegak.)
o 3. Tremor Aksi / Action Tremor :
Terjadi ketika otot dalam keadaan aktif.
o 4. Tremor Intensi / Intention Tremor :
Terjadi pada akhir dari gerakan.
o
o Categ
ory of
Trem
or

o Tremor
Characteristics

o Associated
Conditions

o Rest
Trem
ors

o - Occurs in a
body part that is
not
voluntarily
activated and is
completely
supported against
gravity

o - Parkinsonism

o - Frequency: low
to medium (36
Hz)

Medical

o - essential tremor

o Postu
ral
tremo
rs

Occurs when a body


part (limb) is maintaining
a posture against the
force of gravity

Frequency: medium to
high (412 Hz)

o Actio
n
Trem
ors

Occurs
during
any
voluntary movement

Frequency: low to high


(3-12 Hz)

o Intenti
on
Tremo
rs

Occurs
with
targetdirected movement (eg,
finger-to-nose)

Frequency: < 5 Hz

physiologic tremor

Essential tremor

Orthostatic tremor

o - Dystonic tremor

o - Cerebellar etiology
(eg, multiple sclerosis,
trauma, stroke, tumor,
vascular disease)

o
-

Diagnosis
o Anamnesis :
Tremor terjadi saat sedang apa? istirahat dll?
o Pemeriksaan Fisik
o Pemeriksaan neurologi
Nilai tingkat keparahan tremor dan nilai ada/tidak kelainan
neurologis lain.
o Pemeriksaan Lab
Gula darah deteksi penyebab metabolik (co: hipoglikemi)
o Pemeriksaan penunjang
CT scan atau MRI deteksi kelainan di otak
Penatalaksaan
1 Jika sifatnya ringan dan tidak mengganggu kegiatan sehari-hari, biasanya
tidak diperlukan pengobatan.
2 Propanolol, misolin dan Antikejang lainnya mengurangi tremor.
3 Obat penenang yang ringan jika disebabkan stress.
4 Kafein harus dihindari, karena bisa memperburuk keadaan.
o
o

o 4. PARKINSON
o
-

Definisi
o Penyakit parkinson
Bagian dari parkinsonism yang secara patologis ditandai oleh
deegenerasi ganglia basalis terutama substansia nigra pars
compacta disertai adanya inklusi sitoplasmik eosinofilik yang
disebut lewy bodies.
o Parkinsonism
Suatu sindrom yang ditandai oleh tremor waktu istirahat,
kekakuan, bradikinesia, dan hilangnya refleks postural akibat
penurunan kadar dopamin dengan berbagai macam sebab.
Sindrom ini sering disebut sindrom Parkinson.
Epidemiologi
o terdapat diseluruh dunia
o pria >> wanita
o timbul pada usia 40 - 70 thn
o Amerika :
1% populasi usia > 50 thn
50.000 kasus baru/thn
o Indonesia :
data tepat belum ada
umur harapan hidup
penderita Parkinson
Klasifikasi
o 1. Primer atau idopatik
o 2. Sekunder atau akuisata
o 3. Sindrom Parkinson Plus
o 4. Kelainan degeneratif diturunkan
Etiologi
o

o
o
o

o
o
o

o
o

o
o
o

o
o

o
o

o
o
o
o

o
o
o
-

Gambaran klinis sindrom Parkinson :


o Biasanya gejala pertama (Primer) penyakit parkinson ialah:
1. Tremor pada ekstremitas, terutama bila sedang
istirahat.Tremor sering bermula pada satu sisi tubuh, sering
pada satu tangan.
2. Gerakan menjadi lamban (bradykinesia), ekstremitas kaku,
berjalan menggeser (shuffling), dan sikap badan menjadi
bongkok.
3. Mimik atau ekspresi wajah menjadi berkurang, dan suara
menjadi pelan.
4. Kadang-kadang penyakit ini menyebabkan depresi,
perubahan kepribadian, demensia, gangguan tidur, gangguan
berbicara, dan kesulitan seksual.
Temuan Neurologis Utama pada PP
o Tremor
Terjadi saat istirahat
Hilang pada gerakan & tidur
Frekuensi 4 7 gerakan/menit
Stadium :
A. Stad. Awal :
- Unilateral
- Mulai pada jari (pill roling)
- Wajah, bibir, lidah, kaki
B. Stad.lanjut : gangguan aktifitas
o Rigiditas
terjadi peningkatan tonus otot tahanan pada gerakan pasif
Terdapat 2 tipe :
Lead Pipe
Cog wheel
Dominan pada otot fleksor
Stadium :
Stad.awal:
- bahu,
- leher
- ekstremitas atas
Stad.lanjut:
- gangguan fungsionil
- mobilitas ditempat tidur
- transfer
- pola jalan
- gangguan makan

- deformitas postural
o Bradikinesia dan Akinesia
Akinesia : kesulitan memulai gerakan
Bradikinesia : lamban dalam gerakan
Gangguan aktifitas yang terjadi :
Sulit untuk bangun dari duduk
Lamban berpakaian
o Gangguan Pola Jalan
Sulit untuk memulai berjalan
Sulit mengangkat kaki
Langkah kecil, terseret
Tubuh cenderung ke depan
Kesan terburu-buru
Tidak ada ayunan tangan
Kesulitan berganti arah saat berjalan
Sulit melakukan 2 pekerjaan sekaligus
o Instabilitas postur
Tidak ada antisipasi reaksi postural
Insidens jatuh
o
-

Gejala Sekunder
o Bradikinesia pada :
otot wajah : muka topeng
otot menelan : dysphagia dan drooling
otot pernafasan, pita suara, lidah, bibir : dysarthria
tangan : mikrographia
o Disfungsi otonom
o Disfungsi kognitif
o Gejala psikiatrik
o Gangguan penglihatan
o

Diagnosa
o Kriteria Klinis
Gejala utama :
Tremor,
Rigiditas,
Akinesia,
Postural Instability
gejala umum :
Gejala mulai pada 1 sisi & menetap pada 1 sisi
Disabilitas berlangsung progresif
Respon yg terbaik terhadap Levodopa
Perjalanan penyakit lebih dari 10 thn

o
-

Pemeriksaan penunjang
o MRI (Magnetic Resonance Imaging)
o PET (Positron Emission Tomography)
o SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography)
Kriteria Diagnosis
o Kriteria diagnosis klinis
o

o
o
o
o Kriteria diagnosis klinis modifikasi (Kriteria Hughes)
o

o
o Kriteria diagnosis Gelb dan Gilman
o Kriteria Diagnosis Koller
o
o
o

o
o
o
o
o

Penatalaksanaan
o Tujuan
1. Perbaikan keluhan/simtom
2. Kurangi disabilitas fungsional
3. Turunkan/hambat komplikasi jangka panjang : fluktuasi motor
dan dyskinesia
4. Perlambat progresi penyakit: neuroproteksi.
o

o
o
o
o

o
o
o Farmakoterapi
Pengganti Dopamin (levodopa, Carbidopa):
Di dalam badan levedopa akan diubah sebagai dopamin.
Agonis Dopamin
Bromocriptine, Pergolide, Pramipexole, Ropinirol

o
o

Merupakan obat yang mempunyai efek sama dengan


dopamin pada reseptor D1 maupun D2.
Di dalam badan tidak mengalami konversi, sehingga
dapat digunakan sebagai obat tunggal pengganti
levodopa.
Antikolinergik
Benztropin, Triheksifenidil, Biperiden
Obat ini mengahmbat aksi neurotransmiter otak yang
disebut asetilkolin.
Obat ini membantu mengoreksi keseimbangan antara
dopamin dan asetilkolin sehingga dapat mengurangi
gejala tremor.
Penghambat Monoamin oxidase/MAO (selegiline):
Peranan obat ini mencegah degradasi dopamin menjadi
3-4 dihydroxyphenilacetic di otak. Karena MAO di hambat
maka umur dopamin menjadi lebih panjang.
Non-Farmakologis
TerapiPembedahan
Teori Ablasi Lesi Di Otak (Pallidotomi dan Thalamotomi)
Terapi Stimulasi Otak Dalam (Deep Barain Stimulation, DBS)
Transplantasi Otak (Brain Grafting).
Terapi Rehabilitasi medik
Tujuan :
Mempertahankan kemampuan fungsionil
Meningkatkan kualitas hidup
Mandiri
Program :
Bersifat individu
- Tergantung :
- Gejala klinis
- Stadium penyakit
- Disabilitas
- Program terdiri :
- edukasi keluarga,
- terapi fisik,
- terapi okupasi
- terapi bicara,
- evaluasi psikologis & sosial medic
Edukasi keluarga
Tujuan
Keluarga mengetahui :
- Gejala Parkinson
- Gejala akibat obat
- Kemampuan fungsionil penderita
Manfaat program kemandirian dlm rehabilitasi
Terapi Fisik

Tidak akan menghilangkan gejala penyakit


Penderita memperoleh perbaikan aktifitas sehari-hari
o Program :
1. Latihan relaksasi
2. Latihan peregangan (stretching)
3. Latihan pernafasan
4. Latihan aktiftas fungsionil
mobilisasi ditempat tidur
transfer
5. Kontrol postural
6. Latihan keseimbangan
7. Ambulasi
o
o

o 5. DEMENSIA
o
-

Definisi
o Sindrom mental organik yg ditandai dengan hilangnya kemampuan
intelektual secara menyeluruh yg menckup gangguan mengingat,
penilaian dan pemikiran abstrak juga dengan perubahan perilaku,
tetapi tidak menakup gangguan kesadaran yg berkabut, depresi atau
gangguan fungsi mental lainnya.
Epidemiologi
o Sering dijumpai pada lansia
o 10 % diatas usia 65 tahun
o 45% diatas usia 85 tahun
Etiologi
o Demensia Reversible
Drugs
Antidepresi,
Antiansietas,
Sedatif,
Antiaritmia,
Antihipertensi,
Antikonvulsan,
Obat-obat jantung termasuk digitalis,
Obat-obat Antikolinergik.
Emosi/depresi
Depresi, Skizofrenia, Psikosis.
Metabolik
Penyakit tiroid,

hipoglikemi,
hipernatremi dan hiponatremi,
hiperklasemi,
gagal ginjal,
gagal hati,
penyakit cushing,
penyakit wilson
Difensiasi tiamin,
Difensiasi vitamin B12 (anemia pernisiosa),
Difensiasi asam fosfat,
difensiasi vitamin B6 (pellagra).
Trauma
Trauma kranioserebal,
hematon subdural akut dan kronis.
Tumor
Glioma,
meningioma,
tumor metastatis.
Infeksi
Meningitis dan ensefalitis bakterialis,
meningitis dan ensefalitis Akibat jamur,
meningitis akibat kriptokokus,
meningitis dan ensefalitis viral,
abses otak,
neurosifilis,
AIDS.
Autoimun
Lupus eritematosus diseminata,
multiple sklerosis,
arterioseklerosis
alkohol.
o Demensia Irreversible
Penyakit Degeneratif
Penyakit alzheimer,
dementia frontotemporal,
penyakit huntington,
penyakit parkinson,
penyakit lewy bodies,
atrofi olivopontoserebelar,
amiotropik lateral sklerosis/dementia parkinsonism
kompleks.
Penyakit Vaskular
Infrak multipel,
emboli serebral,

arteritis,
anoksia sekunder akibat henti jantung,
gagal jantung
keracunan karbon monoksida.
Trauma
Trauma kranioserebral berat
Infeksi
Sub akut spongiform ensefalopati (creutzfeldt-jacob
disease),
post ensefalitis,
leukoensefalopati multifokal progresif.
Gambaran Klinik
o Apraksia
Ketidakmampuan melakukan gerakan meskipun kemampuan
motorik, fungsi sensorik, & pengertian yang diperlukan tetap
baik. Dapat mengalami kesulitan dalam menggunakan benda
tertentu (menyisir rambut) atau mlakukan gerakan yang telah
dikenali (melambaikan tangan)
o Afasia
Kesulitan menyebut nama orang atau benda pada tahap lanjut.
Bisu atau mengalami ekolalia (meniru yang didengar) atau
palilalia (mengulang suara atau kata terus)
o Agnosia
Tidak mampu mengenali/mengidentifikasi benda meskipun
fungsi sensoriknya utuh. Penderita tidak mengenali kursi, pena,
meskipun visusnya baik.
Diagnosis
o Difokuskan pada:
Pembedaan antara delirium dan demensia
Bagian otak yang terkena
Penyebab yang potensial reversibel
Pemeriksaan laboratonium, pemeriksaan EEC, pencitraan otak
amat penting CT atau MRI
o Pada pemeriksaan fisik :
Diperlukan wawancara meliputi onset dan perjalanan penyakit,
usia,
Riwayat medis umum, dan neurologis,
Perubahan neurobehaviour,
o Riwayat psikiatri,
o Riwayat keluarga,
o Riwayat yang berhubungan dengan etiologi misalnya infeksi, gangguan
nutrisi, intoksikasi, dan penggunaan obat.
Diagnosis Banding
o Delirium

Gangguan memori juga terjadi pada delirium & demensia.


Delirium juga dicirikan oleh menurunnya kemampuan untuk
mempertahankan & memindahkan perhatian secara wajar.
Gejala delirium bersifat fluktuatif, sementara demensia bersifat
relatif stabil.
Gangguan kognitif yang bertahan tanpa perubahan selama
beberapa bulan lebih mengarah ke demensia.
o Retardasi Mental
Dicirikan oleh fungsi intelektual di bawah rata-rata diiringi oleh
gangguan dlm penyesuaian diri, terjadi di bawah umur 18 tahun.
o Skizofrenia
Pada skizofrenia mungkin terjadi gangguan kognitif multipleks.
Tetapi pada skizofrenia biasanya terjadi pada usia muda.
Gangguan kognitif skizofrenia lebih parah daripada demensia
o Depresi
Disertai keluhan tentang gangguan memori, sulit berpikir, dan
berkonsentrasi, & menurunnya kemampuan intelektual secara
menyeluruh.
o Amnesia
Dicirikan oleh gangguan memori yang berat tanpa gangguan
fungsi kognitif lainnya (afasia, apraksia, agnosia dan gangguan
fungsi eksekutif/daya abstraksi)
Pemeriksaan Klinik
o 1. Pemeriksaan memori
Dapat dilakukan dengan meminta pasien untuk mencatat,
menyimpan, mengingat & mengenal informasi.
o 2. Pemeriksaan kemampuan berbahasa
Penderita diminta untuk menyebutkan nama benda didalam
ruangan, mengikuti perintah/aba-aba, atau mengulang
ungkapan.
o 3. Pemeriksaan Apraksia
Keterampilan motorik dapat diperiksa dengan cara meminta
pasien untuk melakukan gerakan tertentu. Misal: cara
menggosok gigi, memasang sesuatu.
o 4. Pemeriksaan daya Abstraksi
Meminta pasien untuk menghitung 1-10, menyebut seluruh
alfabet, menyebut nama binatang sebanyak-banyaknya dalam
1menit, menghitung dengan kelipatan 7.
o 5. Mini Mental State Examination
MMSE meliputi 30 pertanyaan sederhana u/ memperkirakan
kognisi utama pada orang2 tua. Pemeriksaan ini dapat
dilakukan dalam waktu 10-15menit.
skor 24-30 = normal
skor 17-23 = kmungkinan gangguan kognitif
skor <16 = gangguan kognitif

Pemeriksaan Penunjang
o Laboratorium:
Darah lengkap,
urin lengkap,
gula darah,
tes fungsi hati,
tes fungsi ginjal,
tes fungsi tiroid,
pemeriksaan serologi,
TPHA/ VDRL,
HIV
Pemeriksaan cairan serebrospinal.
o Elektroensefalografi
Menunjukan gelombang lambat yang difus pada dementia
stadium lanjut.
o CT Scan/ MRI otak
Menunjukan keadaan struktural otak yang atrofi pada girus-girus
atau otak difus.
o PET Scan (Positron Emission Tomography)
Dapat mengukur regional CBF (Cerebral Blood Flow) asupan
glukosa dan O2 untuk membedakan tipe dementia.
o SPECT (Single Photon Emission Computerized Tomography)
Dapat membedakan dementia alzheimer dan atrofi cerebrilobar
Pengobatan
o Sebagian besar kasus demensia tidak dapat disembuhkan.
Obat takrin membantu penderita dengan penyakit Alzheimer, tetapi
menyebabkan efek samping yang serius.
o Takrin telah digantikan oleh donepezil, yang menyebabkan lebih sedikit
efek samping dan memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer
selama
1
tahun
atau
lebih.
Ibuprofen juga bisa memperlambat perjalanan penyakit ini.
Obat ini paling baik jika diberikan pada stadium dini.
o Demensia karena stroke yang berturut-turut tidak dapat diobati, tetapi
perkembangannya bisa diperlambat atau bahkan dihentikan dengan
mengobati tekanan darah tinggi atau kencing manis yang berhubungan
dengan stroke.
o Jika hilangnya ingatan disebabakan oleh depresi, diberikan obat antidepresi.
o Jika didiagnosis secara dini, maka demensia karena hidrosefalus
bertekanan normal kadang dapat diatasi dengan membuang cairan
yang berlebihan di dalam otak melalui selang drainase (shunting).
o Untuk mengendalikan agitasi dan perilaku yang meledak-ledak, yang
bisa menyertai demensia stadium lanjut, sering digunakanobat antipsikosa (misalnya tioridazin dan haloperidol). Tetapi obat ini kurang
efektif
dan
menimbulkan
efek samping
yang
serius.

Obat anti-psikotik efektif diberikan kepada penderita yang mengalami


halusinasi atau paranoia
o Membantu Penderita Demensia dan Keluarganya
Mempertahankan lingkungan yang familiar akan membantu
penderita tetap memiliki orientasi. Kalender yang besar, cahaya
yang terang, jam dinding dengan angka-angka yang besar atau
radio juga bisa membantu penderita tetap memiliki orientasi.
Menyembunyikan kunci mobil dan memasang detektor pada
pintu bisa membantu mencegah terjadinya kecelekaan pada
penderita yang senang berjalan-jalan.
Menjalani kegiatan mandi, makan, tidur dan aktivitas lainnya
secara rutin, bisa memberikan rasa keteraturan kepada
penderita.
Memarahi atau menghukum penderita tidak akan membantu,
bahkan akan memperburuk keadaan.
Meminta bantuan organisasi yang memberikan pelayanan sosial
dan perawatan, akan sangat membantu.
Prognosis
o Perkembangan
demensia
pada
setiap
orang
berbeda.
Demensia karena AIDS biasanya dimulai secara samar tetapi
berkembang terus selama beberapa bulan atau tahun.
Sedangkan demensia karena penyakit Ceutzfeldt-Jakob biasanya
menyebabkan demensia hebat dan seringkali terjadi kematian dalam
waktu 1 tahun.
o Pada sebagian besar demensia stadium lanjut, terjadi penurunan
fungsi
otak
yang
hampir
menyeluruh.
Penderita menjadi lebih menarik dirinya dan tidak mampu
mengendalikan perilakunya. Suasana hatinya sering berubah-ubah
dan
senang
berjalan-jalan
(berkelana).
Pada akhirnya penderita tidak mampu mengikuti suatu percakapan dan
bisa kehilangan kemampuan berbicara.

o 6. GIZI PADA MANULA


o
-

Konsumsi makanan berkaitan erat dengan status gizi/status kesehatan dan


umur harapan seseorang.
Tanpa memperhitungkan faktor-faktor lain, maka dengan meningkatnya
konsumsi makanan bergizi tinggi, status gizi akan bertambah baik dan umur
harapan akan meningkat, sehingga jumlah individu berusia lanjut (manula,
manusia lanjut usia) akan bertambah banyak [1].
Di negara-negara maju, yang termasuk manula adalah mereka yang telah
berusia 51 tahun atau lebih. Sedangkan di Indonesia, menurut Widya Karya

Pangan dan Gizi (1988) yang dimaksud dengan manula adalah mereka yang
berusia diatas 60 tahun.
Dalam cakupan yang lebih luas, WHO menggunakan patokan pembagian
umur usia lanjut sebagai berikut:
o 1. Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45-59 tahun
o 2. Usia lanjut (elderly) usia 60-74 tahun
o 3. Tua (old) usia 75- 90 tahun
o 4. Sangat tua (very old) diatas 90 tahun.
Bagi lansia pemenuhan kebutuhan gizi yang diberikan dengan baik dapat
membantu dalam proses beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan
perubahan-perubahan yang dialaminya selain itu dapat menjaga
kelangsungan pergantian sel-sel tubuh sehingga dapat memperpanjang usia.
o

Faktor-faktor yang memperngaruhi kebutuhan gizi pada lansia:


o 1. Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan
gigi atau ompong.
o 2. Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan
terhadap cita rasa manis, asin, asam, dan pahit.
o 3. Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran
o 4. Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.
o 5. Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya
menimbulkan konstipasi.
o 6. Penyerapan makanan di usus menurun.
o 7. Besar otot berkurang karena jumlah dan besar serabut otot
berkurang,
o 8. Metabolism basal menurun,
o 9. Kemampuan bernafas menurun karena elastisitas paru-paru
berkurang,
o 10. kepadatan tulang menurun karena berkurangnya mineral, sehingga
lebih mudah terkena cedera,
o 11. Sistem kekebalan tubuh menurun hingga peka terhadap penyakit
dan alergi
o 12. Sistem pencernaan terganggu yang disebabkan oleh tanggalya
gigi, kemampuan mencerna dan menyerap zat gizi kurang efisien dan
gerakan peristaltic usus menurun,
o 13. indra pengecap dan pembau sudah kurang sensitive (kurang peka)
yang menyebabkan selera makan menurun[3].
Masalah gizi pada lansia
o 1. Gizi berlebih
Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat
dan kota-kota besar.
Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan
berat badan berlebih, apalagi pada lansia penggunaan kalori
berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik. Kebiasaan

makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk


mengurangi makan. Kegemukan merupakan salah satu
pencetus berbagai penyakit, misalnya : penyakit jantung,
kencing manis, dan darah tinggi.
o 2. Gizi kurang
Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social
ekonomi dan juga karena gangguan penyakit.
Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan
menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini
disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakankerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut
rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan
akan mudah terkena infeksi.
o 3. Kekurangan vitamin
Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan
ditambah dengan kekurangan protein dalam makanan akibatnya
nafsu makan berkurang, penglihatan menurun, kulit kering,
penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.
Menjadi manula secara alami akan dirasakan oleh setiap orang. Prosesnya
tidak dapat dihindari, dicegah, atau ditolak, kecuali pada mereka yang
ditakdirkan meninggal pada usia muda. Kekuatan fisik dan daya tahan tubuh
pada manula telah menurun, serta mekanisme kerja organ tubuh mulai
terganggu.
Kemunduran tersebut disebabkan oleh perubahan yang secara alami terjadi
pada manula, antara lain:
o (1) besar otot berkurang karena jumlah dan besar serabut otot
berkurang,
o (2) metabolism basal menurun,
o (3) kemampuan bernafas menurun karena elastisitas paru-paru
berkurang,
o (4) kepadatan tulang menurun karena berkurangnya mineral, sehingga
lebih mudah terkena cedera,
o (5) system kekebalan tubuh menurun hingga peka terhadap penyakit
dan alergi
o (6) system pencernaan terganggu yang disebabkan oleh tanggalya
gigi, kemampuan mencerna dan menyerap zat gizi kurang efisien dan
gerakan peristaltic usus menurun,
o (7) indra pengecap dan pembau sudah kurang sensitive (kurang peka)
yang menyebabkan selera makan menurun[3].
Masalah gizi yang dihadapi para manula berhubungan dengan menurunnya
aktivitas fisiologis tubuhnya. Konsumsi pangan yang kurang seimbang akan
memperburuk kondisi manula yang secara alami memang sudah menurun.
Dibandingkan dengan usia dewasa, kebutuhan gizi manula umumnya lebih
rendah karena adanya penurunan metabolism basal dan kemunduran lain
seperti diuraikan di atas

o
-

Pemantauan status nutrisi


o 1.Penimbangan Berat Badan
Penimbangan BB dilakukan secara teratur minimal 1 minggu
sekali, waspadai peningkatan BB atau penurunan BB lebih dari
0.5 kg/ minggu.
Peningkatan BB lebih dari 0.5 kg/minggu berisiko terhadap
kelebihan berat badan
Penurunan berat badan lebih dari 0.5 kg/ minggu menunjukkan
kekurangan berat badan.
Menghitung berat badan ideal pada dewasa :
Rumus : Berat badan ideal = 0.9 x (TB dalam cm
100)
o Catatan untuk wanita dengan TB kurang dari 150
cm dan pria dengan TB kurang dari 160 cm,
digunakan rumus : Berat badan ideal = TB dalam
cm 100
Jika BB lebih dari ideal artinya gizi berlebih
Jika BB kurang dari ideal artinya gizi kurang
o 2. Kekurangan kalori protein
Waspadai lansia dengan riwayat :
Pendapatan yang kurang,
Kurang bersosialisasi,
Hidup sendirian,
Kehilangan pasangan hidup atau teman,
Kesulitan mengunyah,
Pemasangan gigi palsu yang kurang tepat,
Sulit untuk menyiapkan makanan,
Sering mengkonsumsi obat-obatan yang mangganggu
nafsu makan,
Nafsu makan berkurang, makanan yang ditawarkan tidak
mengundang selera. Karena hal ini dapat menurunkan
asupan protein bagi lansia, akibatnya lansia menjadi lebih
mudah sakit dan tidak bersemangat.
o 3. Kekurangan vitamin D
Biasanya terjdai pada lansia yang kurang mendapatkan paparan
sinar matahari, jarang atau tidak pernah minum susu dan
kurang mengkonsumsi vitamin D yang banyak terkandung pada
ikan, hati, susu, dan produk olahannya.
o

Kalori
o Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan metabolism basal
pada orang-orang berusia lanjut menurun sekitar 15-20%. Hal ini

terutama disebabkan berkurangnya massa otot. Di samping itu,


aktivitas (kerja, olahraga) yang dilakukan oleh lansia umumnya
menurun.
o Kebutuhan energy tiap orang berbeda, tergantung ukuran tubuh dan
aktivitasnya.
Umumnya orang dewasa membutuhkan 1000-2700 kal per
harinya. Sedangkan untuk manula membutuhkan energinya
yaitu 1960 kal untuk laki-laki dan 1700 kal untuk manula wanita.
o
-

Protein
o Pada lansia, massa otot berkurang, sehingga total protein tubuhnya
juga berkurang. Tetapi ternyata kebutuhan tubuhnya akan protein tidak
berkurang, bahkan harus lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Hal
ini disebabkan pada orang tua efisiensi penggunaan senyawa nitrogen
(protein)
tubuh
berkurang
(disebabkan
pencernaan
dan
penyerapannya kurang efisien). Disamping itu, adanya stress (tekanan
batin), penyakit infeksi, patah tulang, dan lain-lain penyakit, akan
meningkatkan kebutuhan protein bagi manula. Beberapa penelitian
merekomendasikan, untuk manula sebaiknya konsumsi proteinnya
ditingkatkan sebesar 12-14 persen dari porsi untuk orang dewasa.
Sumber protein yang baik diantaranya adalah pangan hewani dan
kacang-kacangan.
o

Lemak
o Selain sebagai sumber energi, lemak juga berfungsi sebagai
sumber/pelarut vitamin A, D, E dan K, dan sebagai sumber asam-asam
lemak esensial (linoleat, linolenat dan arachidonat). Asam-asam lemak
esensial diperlukan oleh tubuh untuk berbagai macam tujuan, tetapi
asam lemak ini tidak dapat disintesa oleh tubuh, sehingga harus
disuplai dari makanan. Sumber asam-asam lemak esensial adalah
minyak/lemak nabati (kedelai, biji bunga matahari, jagung).
o Konsumsi lemak yang dianjurkan :
30 persen atau kurang dari total kalori yang dibutuhkan.
Konsumsi lemak yang terlalu tinggi (lebih dari 40 persen dari
konsumsi energi) dapat menimbulkan penyakit atherosclerosis.
Juga dianjurkan 20 persen dari konsumsi lemak tersebut adalah
asam lemak tidak jenuh.
o Minyak nabati merupakan sumber asam lemak tidak jenuh yang baik,
sedangkan lemak hewan banyak mengandung asam lemak jenuh.
o

Karbohidrat
o Salah satu masalah yang menghinggapi banyak orang berusia lanjut
adalah konstipasi (sulit untuk buang air besar) dan terbentuknya
benjolan-benjolan pada usus (divertilulosis).
o Serat makanan telah terbukti dapat menyembuhkan kesulitan tersebut.
Sumber serat makanan yang baik adalah sayuran dan buah-buahan
segar, serta serealia utuh.
o Bagi manula tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi suplemen serat
makanan (banyak dijual di health food atau supermarket), karena
dikhawatirkan akan mengikat mineral dan zat gizi lain sehingga tidak
dapat diserap oleh tubuh.
o Masalah lain sehubungan dengan karbohidrat ini adalah apa yang
disebut sebagai lactose intolerance.
Pada sebagian besar orang Asia dan Afrika, dalam ususnya
tidak terkandung enzim pencerna gula susu (laktosa), sehingga
setiap kali minum susu sapi akan berakibat diare, inilah yang
dimaksud dengan lactose intolerance tersebut. Umumnya para
manula akhirnya menjadi enggan untuk minum susu, padahal
susu adalah smber mineral kalsium yang sangat diperlukan
untuk pembentukan tulang, sumber protein bermutu tinggi,
sumber riboflavin dan zat gizi lainnya.
o Perlu dijelaskan bahwa produk-produk susu sapi yang dibuat dengan
cara fermentasi (misalnyayoghurt dan keju) tidak akan menimbulkan
diare, karena sebagian laktosanya telah digunakan oleh mikroba selam
proses fermentasi.
o Direkomendasikan pula agar para manula mengurangi gula-gula
sederhana (gula pasir, sirup), dan mengganti sumber kalori ini dengan
karbohidrat kompleks.
o

Vitamin dan mineral


o Data yang berhasil dikumpulkan dari beberapa penelitian
menyimpulkan bahwa umumnya para orang tua berusia lanjut kurang
mengkonsumsi vitamin A, B1, B2, B6, niacin, folate, vitamin C, D, dan
E. Umumnya kurangnya konsumsi vitamin ini disebabkan terutama
dibatasinya konsumsi makanan
o Mineral yang sangat direkomendasikan adalah kalsium, phosphor,
magnesium, zat besi, seng, serta iod. Sementara itu juga beberapa
mineral mikro seperti chromium, tembaga, fluorida, mangan,
molybdenum dan selenium. Jumlah vitamin dan mineral yang
dianjurkan sama seperti porsi untuk orang dewasa muda usia [1].
o Masalah defisiensi yang paling menonjol adalah kurangnya mineral
kalsium yang dapat mengakibatkan kerapuhan tulang, serta defisiensi
zat besi yang dapat mengakibatkan anemia.

o
-

Perencanaan makanan untuk lansia


o Perencanaan makan secara umum
1. Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang
beraneka ragam, yang terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun
dan zat pengatur.
2. Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang.
Porsi makan hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga
dapat makan lebih sering dengan porsi yang kecil. Contoh
menu:
Pagi : Bubur ayam
o Jam 10.00 : Roti
Siang : Nasi, pindang telur, sup, papaya
o Jam 16.00 : Nagasari
Malam
: Nasi, sayur bayam, tempe goreng, pepes
ikan, pisang
3. Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum
dapat memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan
menghindari makanan yang terlalu asin akan memperingan
kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya darah
tinggi.
4. Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan
makanan yang berlemak seperti santan, mentega dll.
5. Bagi pasien lansia yang proses penuaannya sudah lebih
lanjut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
o Makanlah makanan yang mudah dicerna
o Hindari makanan yang terlalu manis, gurih, dan goring-gorengan.
o Bila kesulitan mengunyah karena gigirusak atau gigi palsu kurang baik,
makanan harus lunak/lembek atau dicincang.
o Makan dalam porsi kecil tetapi sering.
o Makanan selingan atau snack, susu, buah, dan sari buah sebaiknya
diberikan.
1.Batasi minum kopi atau teh, boleh diberikan tetapi harus
diencerkan sebab berguna pula untuk merangsang gerakan
usus dan menambah nafsu makan.
2. Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan,
hati, telur, daging rendah lemak, bayam, dan sayuran hijau.
3. Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara
dikukus, direbus, atau dipanggang kurangi makanan yang
digoreng.
o

Perencanaan makan untuk mengatasi perubahan saluran cerna


o Untuk mengurangi resiko konstipasi dan hemoroid :

1. Sarankan untuk mengkonsumsi makanan berserat tinggi


setiap hari, seperti sayuran dan buah-buahan segar, roti dan
sereal.
2. Anjurkan pasien untuk minum paling sedikit 8 gelas cairan
setiap hari untuk melembutkan feses.
3. Anjurkan untuk tidak menggunakan laksatif secara rutin ,
karena pasien akan menjadi tergantung pada laksatif.

o
o 7. NEUROGENIC BLADDER
o
-

Definisi
o Suatu disfungsi kandung kemih akibat kerusakan sistemsaraf pusat
atau saraf tepi yang terlibat dalam pengendalian berkemih
Etiologi
o Kelainan pada sistem saraf pusat:
1. Alzheimers disease
2. Meningomielocele
3. Tumor otak atau medulla spinalis
4. Multiple sclerosis
5. Parkinson disease
6. Cedera medulla spinalis
o Kelainan pada sistem saraf tepi:
1. Neuropati alkoholik
2. Diabetes neuropati
3. Kerusakan saraf akibat operasi pelvis
4. Kerusakan saraf dari herniasi diskus
5. Defisiensi vitamin B12
Klasifikasi
o Gangguan vesica urinaria dapat terjadi pada bagian tingkatan lesi.
Tergantung jaras yang terkena :
A. Lesi supra pons
Pusat miksi pons merupakan pusat pengaturan refleksrefleks miksi dan seluruh aktivitas nya diatur kebanyakan
oleh input inhibisi dari lobus frontal bagian medial,
gangkia basal.
Kerusakan pada umumnya akan berakibat hilangnya
inhibisi dan menimbulkan keadaan hiperrefleksi. Pada
kerusakan
lobus
depan,
tumor,
demyelinisasi
periventrikuler, dilatasi kornu anterior ventrikel lateral pad
a hidrosefalus
atau
kelainan
ganglia

basalis, dapat menimbulkan kontraksi kandung kemih


yang hiperrefleksi. Retensi urine dapat ditemukan secara
jarang yaitu bila terdapat kegagalan dalam memulai
proses miksi secara volunter
B. Lesi antara pusat miksi pons dan sakral medula spinalis
Lesi medula spinalis yang terletak antara pusat miksi
pons
dan
bagian
sacralmedula spinalis akan mengganggu jaras yang men
ginhibisi kontraksi detrusor dan pengaturan
fungsi sfingter detrusor.
Beberapa
keadaan yang
mungkin terjadi antara lain
adalah :
o Vesica urinaria yang hiperrefleksi
o Disinergia detrusor-sfingter (DDS)
o Kontraksi detrusor yang lemah
o Peningkatan volume residu pasca miksi
C. Lesi Lower Motor Neuron (LMN)
Kerusakan pada radiks S2-S4.
Proses pendahuluan miksi secara volunteer hilang dan
karena
mekanisme
untuk menimbulkan
kontraksi
detrusor hilang, vesica urinaria menjadi atonik atau
hipotonik bilakerusakan denervasinya adalah parsial.
Sensibilitas dari peregangan vesica urinaria terganggu
namun sensasi nyeri masih didapatkan karena informasi
aferen yang dibawa oleh sistim saraf simpatis melalui
n.hipogastrikus ke daerahthorakolumbal. Denervasi otot
sfingter mengganggu mekanisme penutupan namun
jaringan
elastik
dari
leher
vesica
urinaria
memungkinkan terjadinya miksi.

Terapi
o Dasar dari penatalaksanaan dari disfungsi kandung kemih adalah untu
k mempertahankan fungsi gunjal dan mengurangi gejala.
o Macam Terapi :
1. Penatalaksanaan gangguan pengosongan kandung kemih
dapat dilakukan dengan cara :
Stimulasi kontraksi detrusor, suprapubic tapping atau
stimulasi perianal
Kompresi eksternal dan penekanan abdomen
Clean intermittent self-catheterisation
2. Penatalaksanaan hiperrefleksia detrusor
Bladder training (bladder drill)
Pengobatan oral, Propantheline
3. Penatalaksanaan operatif

Tindakan operatif
berguna pada
penderita
usia
muda dengan kelainan neurologis kongenital atau cedera
medula spinalis

o
o

o 8. GANGGUAN PSIKIATRI PADA MANULA


o
-

Proses penuaan pada lanjut usia


o Batasan lanjut usia
WHO (1989) telah mencapai konsensus bahwa yang dimaksud
dengan lanjut usia (elderly ) adalah seseorang yang berumur 60
tahun atau lebih.
Menurut Departemen Kesehatan RI, batasan lanjut usia adalah
seseorang dengan usia 60-69 tahun. Sedangkan usia lebih dari
70 tahun dan lanjut usia berumur 60 tahun atau lebih dengan
masalah
kesehatan seperti kecacatan
akibat sakit disebut lanjut usia resiko tinggi.
o

PROSES PENUAAN
o Banyak
penelitian
dilakukan
untuk
lebih
memahami proses penuaan baik
dari segi fisiologis, psikologis, dan,sosiologis. Para peneliti menyadari
pentingnya membedakan proses
penuaan yang fisiologis dan penuaan yang bersifat patologis.
Efek
proses penuaan yang fisiologis penting untuk dipahami sebagai dasar
respons terhadap pengobatan atau terapi serta komplikasi yang
timbul.
o Variabel-variabel fisiologis seperti kardiovaskuler, sistem imun,
endokrin, ginjal, dan paru, menunjukan penurunan fungsi dan
perubahan seiring dengan meningkatnya usia. Namun, perubahan
pada salah satu organ akibat usia tidak menjadikannya sebagai
prediktor atau tolak ukur bahwa akan terjadi perubahan-perubahan
pada organ yang lainnya.
o Sebagai contoh, seseorang yang tampak sehat pada usianya yang ke60 ternyata ditemukan curah jantungnya menurun. Hasil pemeriksaan
tersebut
tidak
bernilai
dalam
memprediksikan kapan ginjal, kelenjar tiroid, sistem saraf simpatis,
atau organ lain orang tersebut mengalami perubahan.

o Perjalanan dari perubahan fisiologis atau psikologis dengan


bertambahnya usia pada masing-masing individu dipengaruhi
prosespenuaan intrinsik dan bermacam faktor ekstrinsik, contohnya
genetik, pengaruh lingkungan, gaya hidup, diet, faktor psikososial.
o Proses penuaan bukanlah suatu penyakit melainkan suatu proses
normal yang harus dimengerti dengan jelas untuk mendiagnosis
secara tepat kemudian memberikan penatalaksanaan yang tepat
sehingga yang dirasakan akibat penyakit dapat berkurang
o
-

GANGGUAN MENTAL PADA LANJUT USIA


o Program Epidemiological Catchment Area (ECA) dari National Institude
of Mental Health telah menemukan bahwa gangguan mental yang
paling sering pada lanjut usia adalah gangguan depresif,
gangguan kognitif, fobia dan gangguan pemakaian alkohol. Lanjut usia
juga memiliki resiko tinggi untuk bunuh diri dan gejala psikiatrik akibat
obat.
o Banyak gangguan mental pada lanjut usia dapat dicegah
,dihilangkan , atau bahkan dipulihkan
o Macam-maca gangguan mental :
1. GANGGUAN DEMENSIA
Demensia, suatu gangguan intelektual yang umumnya
progresif dan ireversibel, meningkat prevalensinya
dengan bertambahnya usia
Berbeda dengan retardasi mental, gangguan intelektual
pada demensia terjadi dengan berjalannya waktu yaitu
fungsi
mental
yang
sebelumnya
telah
tercapai secara bertahap akan hilang. Perubahan
karakteristik
dari
demensia
melibatkan
fungsi
kognisi
, daya ingat
,bahasa
dan
fungsi
visuospasial, tetapi gangguan perilaku adalah
sering. Gangguan perilaku adalah berupa agitasi,
kegelisahan ,berkelana , penyerangan, kekerasan,
berteriak, disinhibisi social dan
seksual, impulsivitas,
gangguan tidur dan waham.
Macam demensia :
o Demensia Alzheimer
Dari semua pasien dengan demensia, 50
sampai 60 persennya memiliki demensia
tipe
Alzheime
,yang merupakan tipe demensia tersering.
Prevalensi demensia tipe Alzheimer adalah
lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria.

Demensia tipe Alzheimer ditandai oleh


penurunan fungsi kognitif dengan onset
yang
bertahap
dan
progresif.
Daya ingat mengalami
gangguan
dan
sekurangnya ditemukan satu seperti afasia,
apraksia, agnosia dan gangguan fungsi
eksekutif. Urutan umum defisit adalah daya
ingat, bahasa dan fungsi visuospasial.
Awalnya, pasien mungkin memiliki suatu
ketidakmampuan
mempelajari
dan
mengingat informasi baru, selanjutnya
gangguan
penamaan,
selanjutnya
ketidakmampuan untuk mencontoh gambar.
Penyebab penyakit Alzheimer adalah tidak
diketahui,
walaupun
pemeriksaan
neuropatologi dan biokimiawi postmortem
telah menemukan kehilangan selektif
neuron kolinergik. Temuan anatomik
makroskopis adalah penurunan volume
girus pada lobus frontalis dan temporalis ,
dengan
relatif terjaganya korteks motorik dan senso
rik primer
o DEMENSIA VASKULAR
Demensia vaskular adalah tipe demensia
kedua yang tersering.Demensia ini ditandai
oleh defisit kognitif yang sama seperti
demensiatipe Alzheimer ,tetapi demensia ini
memiliki tanda gejala neurologisfokal,
seperti
meningkatnya refleks tendon dalam, respon
plantar ekstensor, palsi pseudobulbar,
kelainan
gaya
berjalan,
dan
kelemahanpada anggota gerak.
Dibandingkan dengan demensia tipe
Alzheimer
demensia
vaskular
memiliki onset yang tiba-tiba
dan
merupakan penyebab pemburukan yang
bertahap. Demensia vaskular mungkin
dapat dicegah dengan menurunkan faktor
resiko
yang diketahui,seperti hipertensi, diabetes,
merokok,dll
2. GANGGUAN DEPRESIF

Gejala depresif ditemukan pada kira-kira 25 persen dari


semua penduduk komunitas lanjut usia dan pasien rumah
perawatan. Tanda dan gejala yang sering dari gangguan
depresif ialah penurunan energi dan konsentrasi,
gangguan tidur (terutama terbangun dini hari dan sering
terbangun di malam hari), penurunan nafsu makan
penurunan berat badan, dan keluhan somatik.
Gejala yang tampak mungkin berbeda dibandingkan
dengan pasien dewasa muda, pada pasien lanjut usia
terdapat peningkatan pada keluhan somatik.Lanjut usia
rentan terhadap episode depresif berat dengan ciri
melankolik,
ditandai
oleh
depresi
,hipokondriasis, harga diri yang
rendah,
perasaan
tidak berharga, dan kecenderungan menyalahkan diri
sendiri, dengan ide paranoid dan bunuh diri.
Macam gangguan depresif :
o 1. Gangguan Bipolar
Gangguan bipolar
biasanya dimulai
pada
masa
dewasa
pertengahan, walaupun prevalensi seumur
hidup sebesar 1 persen
adalah stabil sepanjang hidup. Kerentanan
akan rekurensi tetap,sehingga
pasien
dengan riwayat gangguan bipolar I mungkin
datang dengan periode manik di kemudian
hari.
Tanda dan gejala pada lanjut usia adalah
serupa dengantanda dan gejala pada orang
dewasa yang lebih muda dan berupa mood
yang meninggi, ekspansif, atau mudah
tersinggung;
penurunan
kebutuhan
akan tidur; distraktibilitas; impulsivitas; dan,
sering kali, asupan alkohol yang berlebihan.
Perilaku
bermusuhan
atau
paranoid
biasanya
ditemukan. Adanya gangguan kognitif, disor
ientasi, atau tingkat kesadaran yang
berfluktuasi harus menyebabkan klinisi
curiga akan penyebab organik.
o 2. Gangguan Delusional
Usia onset gangguan delusional biasanya
antara usia 40 dan 55tahun; tetapi,
gangguan ini dapat terjadi kapan saja
dalam periode geriatrik.
Gangguan

delusional terjadi dibawah stress fisik dan


psikologis pada orang yang rentan dan
mungkin
dicetuskan
oleh
kematian
pasangan,
kehilangan
pekerjaan,
pensiun, isolasi sosial, keadaan finansial
yang tidak baik, penyakit medis atau
pembedahan
yang
menimbulkan
kecacatan, gangguan penglihatan, dan
ketulian.
o 3. Gangguan Kecemasan
Gangguan kecemasan berupa gangguan
panic, fobia, gangguanobsesif kompulsif,
gangguan kecemasan umum, gangguan
stres akut,dan gangguan stress pasca
traumatik.
Menurut
ECA,
gangguan
palingsering adalah fobia sebanyak 4
persen
dan
gangguan
panik
sebanyak1 persen.
Onset awal gangguan panik adalah jarang t
etapi dapatterjadi.Orang lanjut usia telah ha
rus menyiapkan diri menghadapi kematian
dan kecemasan dapat timbul akibat
pikiran mengenaikematian, bukan dengan
ketenangan hati dan rasa integritas.
o 4. Gangguan Tidur
Fenomena yang berhubungan dengan tidur
yang lebih seringpada orang usia lanjut
adalah gangguan tidur, mengantuk di
sianghari, tidur sejenak di siang hari dan
pemakaian
obat
hipnotik.Disamping
perubahan fisiologis dan sistem regulasi,
penyebab gangguan tidur pada lanjut usia
adalah gangguan tidur primer,gangguan
mental lain,
kondisi medis umum,
dan
faktor sosial dan lingkungan. Di antara
gangguan tidur primer, disomnia adalah
yang paling sering, terutama insomnia
primer,
mioklonus
nocturnal,sindroma
kaki gelisah (Restless leg syndrome) dan
apnea
tidur.
Kondisi
yang
sering
menggangu tidur pada lanjut usia adalah
nyeri, nokturia,dll
o

o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

o DAFTAR PUSTAKA
o
-

http://web.ipb.ac.id/~tpg/de/pubde_ntrtnhlth_gizimanula.php
http://resources.unpad.ac.id/unpadcontent/uploads/publikasi_dosen/KEBUTU

HAN%20NUTRISI%20DAN%20CAIRAN%20%20PADA%20LANSIA.pdf
http://www.warintek.ristek.go.id/pangan_kesehatan/pangan/ipb/Menu

%20sehat%20bagi%20manula.pdf
Fisiologi Sherwood
Neurologi Klinis Dasar Dian Rakyat
Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I
Neuroanatomi Snell