Anda di halaman 1dari 5

Tri Mulia Annisa

13/347348/GE/07507

1. Identitas Nasional
Kata identitas berasal dari bahasa Inggris yaitu Identity yang artinya ciri ciri atau tanda
tanda. Dalam term Antropologi, identitas diartikan sebagai sifat khas yang menerangkan dan
sesuai dengan kesadaran diri pribadi sendiri, golongan sendiri, kelompok sendiri atau Negara
sendiri. Sedangkan kata nasional dalam kamus besar Bahasa Indonesia, merupakan identitas
yang melekat pada kelompok kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan
kesamaan, baik fisik seperti budaya, agama, dan bahasa maupun non fisik seperti keinginan,
cita cita dan tujuan.
Bila dilihat dalam konteks Indonesia Identitas Nasiona merupakan manifestasi nilai nilai
budaya yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan dari ratusan suku
yang dihimpun menjadi satu kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan nasional dengan acuan
Pancasila dan jiwa Bhinneka Tunggal Ika.
Jadi, Identitas Nasional dapat diartikan sebagai ciri, karakter, dan sifat khas suatu bangsa dan
negara.Istilah identitas nasional secara terminologis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh
suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lain.
Berdasarkan pengertian yang demikian ini maka setiap bangsa di dunia ini akan memiliki
identitas sendidri-sendiri sesuai dengan keunikan, sifat, cirri-ciri serta karakter dari bangsa
tersebut. Jadi Identitas nasional adalah sebuah kesatuan yang terikat dengan wilayah dan
selalu memiliki wilayah (tanah tumpah darah mereka sendiri), kesamaan sejarah, sistim
hukum/perundang undangan, hak dan kewajiban serta pembagian kerja berdasarkan profesi.
Demikian pula hal ini juga sangat ditentukan oleh proses bagaimana bangsa tersebut
terbentuk secara historis. Berdasarkan hakikat pengertian identitas nasional sebagaimana
dijelaskan di atas maka identitas nasional suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dengan jati diri
suatu bangsa atau lebih populer disebut sebagai kepribadian suatu bangsa.

Intinya Identitas nasional adalah suatu ciri yang dimiliki suatu bangsa, secara fisiologi yang
membedakan bangsa tersebut dengan bangsa yang lainnya, biasanya ciri - ciri ini yang
nantinya menjadikan tanda suatu negara. seperti halnya Identitas nasional Indonesia,
Indonesia memiliki ciri sebagai berikut :
1)

Bahasa Nasional atau Bahasa Persatuan yaitu Bahasa Indonesia

2)

Bendera negara yaitu Sang Merah Putih

3)

Lagu Kebangsaan yaitu Indonesia Raya

4)

Lambang Negara yaitu Pancasila

5)

Semboyan Negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika

6)

Dasar Falsafah negara yaitu Pancasila

7)

Konstitusi (Hukum Dasar) negara yaitu UUD 1945

8)

Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat

9)

Konsepsi Wawasan Nusantara

10) Kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai Kebudayaan Nasional


jadi hal - hal diatas lah yang membedakan Indonesia dengan negara lainnya.
Contoh dari Implementasi Identitas nasional yaitu
- Kewajiban diadakanya upacara bendera setiap hari senin pada seluruh instansi sekolah
maupun non sekolah. Dalam upacara bendera, terdapat banyak sekali unsur identitas negara.
Seperti pengibaran sang saka merah putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya, menyanyikan
lagu nasional lain, pembacaan UUD 1945, pembacaan Pancasila, dan pada penutup di akhiri
dengan doa (agama). Kegiatan upacara ini dilaksanakan dari tingkat SD hingga SMA, bahkan
ada Perguruan Tinggi yang melaksanakan Upacara Bendera.
- Merealisasikan dasar negara indonesia yaitu pancasila, atau menjadikan pancasila sebagai
pandangan hidup.
2. Loyalitas vertikal dan horizontal
Integrasi nasional pada negara bangsa yang kompleks sangat ditentukan oleh faktor loyalitas
rakyat terhadap bangsanya dalam bentuk loyalitas vertikal terhadap pemerintah dan loyalitas
horizontal dari kelompok tertentu terhadap kelompok lainnya. Berikut ini penjelasannya.
Loyalitas horizontal, dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari seperti kesetiaan kepada
sesama organisasi atau lembaga. Ali (2011), menyatakan menanamkan loyalitas horizontal,
sebagai derajat kepatuhan dan kesetiaan dapat ditunjukan oleh:
1. Kelompok masyarakat terhadap kelompok masyarakat lainnya
2. Masyarakat terhadap kebudayaan (norma dan tata nilai) dan hukum
3. Pemerintah daerah terhadap pemerintah daerah lainnya.
Jika segala macam bentuk loyalitas bersifat horizontal itu sampai pada taraf konflik dan
menimbulkan ketidakpuasan, maka taruhannya ialah disintegrasi organisasi atau hancurnya
keutuhan rasa kebangsaan. Sebagai contoh dapat kita lihat di dalam masyarakat bahwa partaipartai politik yang terdapat di Indonesia sangatlah banyak, partai-partai itu saling berebut
untuk mendapatkan posisi yang paling tinggi dengan cara apapun, dari sini bisa memicu suatu
perkelahian massa yang sangat banyak. Misalnya satu partai melaksanakan kampanye disuatu

daerah, kemudian di daerah tersebut pendukung partai ini bisa dikatakan hanya sepertiga dari
masyarakat di daerah itu, maka bila ada pendukung partai itu melakukan suatu kegiatan yang
dipandang oleh masyarakat sangat tidak menyenangkan maka akan terjadi perkelahian massa
yang akan menimbulkan korban.
Loyalitas Vertikal
Ali (2011), berpendapat bahwa loyalitas vertikal adalah kesetiaan atau pengabdian kepada
seseorang dengan Negara atau pemerintahan. Ensiklopedia Britannica Eleventh 1911 (awal
abad 20) mendefinisikan loyalitas sebagai "setia kepada pemerintah berdaulat atau didirikan
negara seseorang dan juga devosi pribadi dan penghormatan kepada keluarga kerajaan
berdaulat. Ini berarti kesetiaan kepada seorang raja. Definisi loyalitas berdasarkan etimologi
kata ini dikumandangkan oleh Vandekerckhove, ketika ia berhubungan loyalitas dan
mengungkap rahasia (lebih pada yang di bawah).
Loyalitas bawahan terhadap atasannya sangat dipengaruhi oleh karakter pribadi pemimpin
tersebut dan gaya dalam memimpin sebuah organisasi atau lembaga. Ada tiga karakter
pempimpin yang memandang makna loyalitas bawahan terhadap dirinya, yang dapat diukur
berdasarkan :
1. Komitmen seorang individu organisasi terhadap bidang pekerjaan dan lembaganya
secara umum
2. Komitmen seorang individu organisasi terhadap bidang pekerjaan dan pimpinannya
3. Komitmen seorang individu organisasi terhadap pimpinannya saja.
3. Persoalan integrasi dan disintegrasi nasional
Secara umum integrasi nasional mencerminkan proses persatuan orang-orang dari berbagai
wilayah yang berbeda, atau memiliki perbedaan baik etnisitas, sosial dan budaya, atau latar
belakang ekonomi, menjadi bangsa nation terutama karena pengalaman sejarah dan politik
yang relatif sama. Selanjutnya dalam menjalani proses pembentukan suatu bangsa berbagai
suku bangsa, sebenarnya mencita-citakan suatu masyarakat baru, yaitu semua masyarakat
politik yang dibayangkan akan memiliki rasa persaudaraan dan solidaritas yang kental,
memiliki identitas kebangsaan dan wilayah kebangsaan yang jelas serta memiliki kekuasaan
memerintah. Dalam tataran integrasi politik terdapat dimensi vertikal yang menyangkut
hubungan elit dengan masa.
Integrasi yang dimaksud disini merujuk pada upaya penyatuan berbagai kelompok
masyarakat yang berbeda-beda secara sosial, budaya maupun politik suatu bangsa, yang
membangun kesetiaan lebih besar yang bersifat nasional. Dengan demikian, istilah integrasi
merujuk pada upaya pembangunan atau otoritas atau kewenangan nasional; penyatuan
pemerintah dengan yang diperintah, konsensus tentang nilai-nilai kolektif dan juga terkait
dengan kesadaran anggota masyarakat untuk memperkokoh ikatan antara mereka.

Menurut Bahar (1998), integrasi nasional pada dasarnya mencakup dua pokok
permasalahan, pertama bagaimana membuat rakyat tunduk dan patuh kepada tuntutantuntutan negara yang mencakup perkara pengakuan rakyat terhadap hak-hak yang dimiliki
oleh negara. Kedua bagaimana meningkatkan konsensus normatif yang mengatur prilaku
anggota masyarakat, konsensus ini berkembang tumbuh diatas nilai-nilai dasar yang dimiliki
bangsa secara keseluruhan.
Dari dua pengertian diatas pada hakikatnya integrasi merupakan upaya politik kekuasaan
untuk menyatukan semua unsur-unsur masyarakat yang majemuk harus tunduk kepada
aturan-aturan kebijakan politik yang dibangun dari nilai-nilai kultur dalam masyarakat
majemuk. Proses integrasi disebabkan oleh persamaan sejarah, ada ancaman dari luar yang
dapat mengangu keutuhan NKRI, adanya kesepakatan pemimpin, hegomonitas sosial budaya
serta agama dan adanya saling ketergantungan dalam bidang politik dan pembangunan.
Nazaruddin berpendapat istilah integrasi nasional merujuk kepada seluruh unsur dalam
rangka melaksanakan kehidupan bangsa, meliputi sosial, budaya ekonomi, maka pada intinya
integrasi nasional lebih menekankan persatuan persepsi dan prilaku diantara kelompokkelompok dalam masyarakat.
Disintegrasi sosial merupakan suatu masalah social yang ada di Indonesia, menurut Soerjono
Soekanto masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau
masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antara
unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan
dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
Disintegrasi secara harfiah dipahami sebagai perpecahan suatu bangsa menjadi bagian-bagian
yang terpisah-pisah. Sedangkan disintegrasi social sendiri terjadi ketika unsur-unsur sosial
yang berbeda yang ada dalam masyarakat tidak mampu menyesuaikan diri satu sama lain.
Ketika unsur sosial yang satu memaksakan diri, maka unsur sosial yang lainnya akan
memberontak atau melawan.
Jadi disintegrasi nasional merupakan suatu masalah social yang didalamnya ada masyarakat
yang tidak mampu menyesuaikan diri satu sama lain secara nasional. Maksud secara nasional
disini, disintegrasi nasional yang terjadi sehingga dapat mempengaruhi keadaan masyarakat
secara menyeluruh.
Di samping itu, bahaya disintegrasi bangsa dan negara yang berhadapan dengan
kecenderungan baru di kalangan negara-negara Barat -- baik melalui PBB maupun melalui
bentuk kerjasama lainnya -- melakukan "intervensi kemanusiaan", kalau perlu dengan
kekuatan militer. Jika Pemerintah Indonesia tidak dapat mencapai penyelesaian politik atas
masalah-masalah di Aceh, Ambon, dan Irian Jaya misalnya, maka hal ini akan membuka
peluang bagi negara-negara Barat, LSM-LSM Barat, maupun elemen-elemen separatis di
dalam negeri untuk mendesak masyarakat internasional agar melakukan "intervensi
kemanusiaan" yang akan melanggar kedaulatan Indonesia. Dalam upaya menyikapi tantangan

disintegrasi tersebut, Pemerintah akan melaksanakan secara sungguh-sungguh. Di samping


itu yang perlu juga diupayakan adalah keharmonisan sikap di antara elite politik termasuk
pejabat negara dalam menyikapi proses penyelesaian masalah-masalah penting tersebut.
Contoh dari disinegrasi nasional itu ialah, Gerakan Aceh Merdeka.
Sumber :
http://hellogoodbyemiral.blogspot.com/2013/05/pengertian-identitas-nasional.html
http://achmadghozaliash.blogspot.com/2013/04/identitas-nasional.html
http://www.slideshare.net/dennibenk/loyalitas-vertikal-dan-horizontal
http://cinumpang.blogspot.com/2011/05/sosiologi-gejala-disintegrasi-nasional.html