Anda di halaman 1dari 3

Populasi diartikan sebagai suatu kumpulan kelompok makhluk yang sama spesies

(atau kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi genetik), yang mendiami
suatu ruang khusus, yang memiliki berbagai karakteristik yang walaupun paling baik
digambarkan secara statistik, unik sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu
dalam kelompok itu. Populasi memiliki beberapa karakteristik berupa pengukuran statistik
yang tidak dapat diterapkan pada individu anggota populasi, karakteristik dasar suatu
populasi adalah ukuran besar populasi, kerapatan dan kelimpahan populasi (Odum, 1971).
Perhitungan populasi baik untuk hewan ataupun tumbuhan dapat dilakukan dengan
dua cara, yaitu dengan cara langsung dan tidak langsung dengan memperkirakan besarnya
populasi sedemikian rupa sehingga sesuai dengan sifat hewan atau tumbuhan yang akan di
hitung. Misalnya, untuk padang rumput dapat digunakan metode kuadrat untuk
memperkirakan memperkirakan populasi dengan cara track count atau fecal count.
Untuk hewan yang ralatif mudah ditangkap, misalnya tikus, belalang dapat di perkirakan
dengan metode capture-mark-release-recapture (CMRR) (Southwood, 1971 dalam
Adisendjaja, et.al, 2001).
Metode capture-mark-release-recapture (CMRR) dikembangkan untuk mengatasi
kesulitan yang berhubungan dengan estimasi ukuran populasi pada hewan. Prinsip umum
percobaan CMRR adalah untuk menandai individu dalam penangkapan sesi pertama dan
kemudian untuk mencatat proporsi individu yang ditandai dalam penangkapan kembali sesi
berikutnya (Williams et al. 2001).
Metode CMR dapat dibuat simulasi atau tiruan untuk menggantikan populasi hewan
yang dimaksud dengan teknik pengambilan sampel yang akurat akan didapatkan besarnya
populasi yang mendekati jumlah sebenarnya. Dua karakteristik penting pada populasi adalah
kepadatan dan jarak antar individu. Pada kasus yang luar biasa kita mungkin bisa menentukan
ukuran dan kepadatan populasi dengan menghitung langsung seluruh individu yang ada di
dalam batas suatu populasi. Pada beberapa kasus, ukuran populasi ditaksir bukan dengan
menghitung organismenya akan tetapi dengan menggunakan indikator tidak langsung, seperti
jumlah sarang, atau tanda-tanda seperti kotoran atau jejak (Boror dan Dwight, 1954).
Kekuatan teknik mark- dan -recapture adalah bahwa mereka dapat digunakan untuk
memberikan informasi tentang kelahiran, kematian , dan tingkat gerakan selain informasi
tentang kelimpahan absolut . Kelemahan teknik ini adalah bahwa mereka membutuhkan
waktu dan usaha untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dan , akurat , mereka memerlukan
seperangkat asumsi yang sangat ketat tentang sifat-sifat populasi yang sedang dipelajari
(Krebs,
)

Menurut Southwood (1971) dalam Adisendjaja, et.al, (2001) kadang-kadang ada


beberapa hewan yang bersifat suka ditangkap (trap happy) atau susah ditangkap (trapsy),
dalam pelaksanaan metode ini perlu diasumsikan bahwa:
1. Hewan yang ditandai tidak terpengaruh dan tanda tidak mudah hilang.
2. Hewan yang tercampur secara homogen dalam populasi.

3. Populasi harus dapat sistem tertutup (tidak ada emigrasi atau emigrasi dapat
dihitung).
4. Tidak ada kelahiran dan kematian dalam perioda sampling (jika ada selama
jumlahnya relatif tetap, secara regular tidak ada masalah).
5. Hewan yang tertangkap sekali atau lebih, tidak akan mempengaruhi kemungkinan
penangkapan selanjutnya.
6. Populasi dicuplik secara random dengan asumsi:
a. Semua kelompok umur dan jenis kelamin dapat ditangkap secara proposional.
b. Semua individu mempunyai kemampuan yang sama untuk tertangkap (probabilitas
tertangkapnya hewan yang ditandai sama untuk setiap anggota populasi equal
catchability).
7. Sampling dilakukan dengan interval waktu yang tetap termasuk penanganannya
yang tidak terlalu lama.
8. Hewan yang di tanfdai mempunyai probabilitas kesintasan.

Metode Peterson merupakan cara sederhana, karena merupakan single marked, cara
ini melibatkan penangkapan sebagian populasi, penandaan untuk pencirian, dan pelepasan.
Individu yang ditangkap diberi tanda yang mudah dibaca, kemudian dilepaskan kembali
dalam periode waktu yang pendek. Setelah beberapa hari ditangkap kembali dan dihitung
yang bertanda yang tertangkap, dari dua kali hasil penangkapan dapat diduga ukuran atau
besarnya populasi N. Pada metode Petersen ini individu yang sama dihitung lebih dari sekali
dalam keadaan ekologi tertentu selain itu semakin kecil sampel yang digunakan,
kemungkinan bisa semakin tinggi (Ruswahyuni, 2010)
Perkiraan populasi dengan menggunakan metode Petersen didasarkan pada
perbandingan ekuivalen seperti pada proporsi populasi yang ditandai dan dilepaskan akan
sama dengan proporsi individu dalam sampel tangkap ulang yang telah ditandai sebelumnya.
Karena merupakan teknik single capture-recapture, perkiraan Petersen merupakan estimator
terbias (biased estimator) dari kemelimpahan populasi, menghasilkan kelebihan perkiraan
dari besar populasi yang sebenarnya. Pembiasan tersebut dapat secara signifikan
mempengaruhi akurasi pendugaan. Kelebihan metode ini adalah lebih hemat tenaga dan tidak
membuang waktu karena hanya satu kali pengulangan (Olvido & Blumer, 2005).
Metode Schnabel adalah kelanjutan dari metode Petersen, dalam metode Schnabel
individu yang tertangkap pada setiap sampling merupakan perhitungan untuk penandaan
kemudian ditandai dan dilepas. Dalam metode ini ada dua tipe individu: yang ditandai karena
tertangkap pada sekali atau lebih pada sampel sebelumnya dan tidak ditandai, tidak pernah
tertangkap sebelumnya. Metode Schnabel ini lebih memperhatikan waktu saat penangkapan,

capture (C), Marked (M), dan recapture (R) adalah total komulatif dari pengulangan pertama
(Ruswahyuni, 2010).
Pada metode ini penangkapan dan pelepasan hewan lebih dari dua kali atau multiple
marked. Untuk periode setiap sampling, semua hewan yang belum bertanda diberi tanda dan
dilepaskan kembali kemudian N dapat ditentukan (Ruswahyuni, 2010). Berbeda dengan
Petersen, metode Schnabel merupakan beberapa runtutan penangkapan ulang, individu pada
penangkapan pertama ditandai, dan penandaan lebih lanjut tidak diperlukan. Metode ini
memiliki kesamaan asumsi dengan Petersen, tetapi berdasarkan beberapa runtutan sampling
(multiple sampling) membuatnya lebih sensitif terhadap beberapa asumsi dalam metode
Petersen. Kelemahan metode ini adalah membutuhkan banyak waktu dan tenaga untuk
melakukan pengulangan (Olvido & Blumer, 2005).
Teknik rangkaian penangkapan ulang (series recaptures) menggunakan tiga pilihan
penandaan antara lain menggunakan hanya satu tipe penandaan, tidak dibedakan diantara
sampel; menggunakan tipe pembeda (warna, urutan angka) yang menandai setiap sampel
followup menandai setiap individu yang tertangkap dengaan penanda unik sendiri (angka,
kombinasi warna pita). Schnabel dan Schumacher-Eschmeyer hanya digunakan untuk
mengestimasi kemelimpahan, tidak untuk mengukur survival (Olvido & Blumer, 2005).
Metode ini merupakan metode yang menyediakan fungsi perkiraan yang terpisah
untuk nilai populasi didasarkan pada upaya untuk mengurangi total bobot antara proporsi
hewan yang ditandai dalam sampel dan proporsi yang tidak diketahui dari hewan yang
ditandai dalam populasi. Kelebihan metode ini adalah keakuratannya paling tinggi jika
dibandingkan dengan metode Petersen dan Schnabel sedangkan kelemahannya yaitu
membutuhkan waktu yang lama dan tenaga untuk melakukan pengulangan (Carvalho dkk.,
2013).

Anda mungkin juga menyukai