Anda di halaman 1dari 8

DEPRESI POSTPARTUM DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN PERAN

PADA IBU NIFAS


Dewi Susilowati
Dosen Poltekkes Kemenkes Surakarta Jurusan Kebidanan
PENGANTAR
Proses penyesuaian menjadi ibu sangat rentan terhadap gangguan emosi
terutama selama kehamilan, persalinan dan postpartum. Beberapa penyesuaian
dibutuhkan oleh seorang wanita dalam mengahadapi aktivitas dan peran barunya
sebagai ibu pada beberapa minggu atau bulan pertama setelah melahirkan, baik
dari segi fisik maupun psikis. Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dengan
baik, tetapi ada sebagian lainnya yang tidak berhasil menyesuaikan diri dan
mengalami gangguan-gangguan psikologis dengan berbagai gejala atau sindrom.
Sistem dukungan yang kuat dan konsisten merupakan faktor utama
keberhasilan melakukan penyesuaian bagi ibu. ibu membutuhkan bantuan dalam
menyelesaikan tugas-tugas rumah tangganya seperti menyiapkan makanan,
mencuci pakaian dan berbelanja, dan juga ibu membutuhkan dorongan,
penghargaan dan pernyataan bahwa ia adalah ibu yang baik. Bantuan atau
dukungan yang paling efektif didapat dari suami.
Suami merupakan social support yang paling utama selain anggota
keluarga lain juga petugas kesehatan. Bila pasangan kurang memberikan dukungan
saat ibu memasuki masa postpartum, hal ini bisa menjadi pemicu munculnya
kejadian depresi postpartum, karena ibu postpartum merasa kurang dicintai dan
dihargai.
Masa nifas akan menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan pada organ
reproduksi. Begitupun halnya dengan kondisi kejiwaan (psikologis) ibu, juga
mengalami perubahan.
Salah satu gangguan psikologi tersebut adalah depresi postpartum yang
dialami ibu pada hari ketujuh sampai 8 minggu setelah melahirkan, dan dalam
kasus yang lebih parah, bisa berlanjut selama setahun (Mansur, 2009:157). Depresi
postpartum merupakan salah satu bagian integral dari permasalahan gangguan jiwa
yang terjadi pada ibu yang melahirkan.
DEPRESI
Depresi dapat mengenai seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan
status sosial, ekonomi, dan pendidikan. Bahkan menurut WHO, depresi adalah
masalah yang serius karena merupakan urutan keempat penyakit di dunia. Sekitar
20% wanita dan 12% pria, pada suatu waktu dalam kehidupannya pernah
mengalami depresi, yaitu kesedihan berkepanjangan, motivasi menurun, dan
kurang tenaga untuk melakukan kegiatan sehari-hari (Keliat et al., 2011: 20).
Menurut Keliat et al. (2011: 20) depresi adalah gangguan mood, kondisi
emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir,
perasaan, aktivitas) seseorang ditandai dengan pikiran negatif pada diri sendiri,
suasana hati menurun, kehilangan minat atau motivasi, pikiran lambat serta
aktivitas menurun. Penyebab gangguan ini meliputi:
Depresi Postpartum dalam Menghadapi Perubahan Peran Pada Ibu Nifas
(Dewi Susilowati)

a. Faktor biologis.
1) Genetik. Transmisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis
keturunan. Frekuensi gangguan alam perasaan meningkat pada kembar
monozigot dibanding dizigot walaupun diasuh secara terpisah.
2) Neurotransmiter.
Penurunan katekolamin otak atau aktivitas sistem katekolamin, peningkatan
asetilkolin, dan defisit serotonin dapat menyebabkan terjadinya depresi.
3) Endokrin.
Depresi berkaitan dengan gangguan hormon seperti pada hipotiroidisme dan
hipertiroidisme, terapi ekstrogen eksogen dan pascapartum.
b. Faktor lingkungan.
1) Kehilangan orang yang dicintai.
2) Rasa bermusuhan, kemarahan, kekecewaan yang ditujukan pada suatu objek
atau pada diri sendiri.
3) Sumber koping tidak adekuat.
4) Individu dengan kepribadian dependen, obsesif-kompulsif, dan histeris.
5) Adanya masalah atau kesulitan hidup.
6) Belajar perilaku dari lingkungan yang tidak berdaya dan bergantung.
7) Pengalaman negatif masa lalu.
Selain trias depresi diatas, gejala depresi lainnya adalah:
a. Konsentrasi dan perhatian kurang.
b. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang.
c. Suasana hati sedih dan rasa bersalah.
d. Rasa bersalah dan tidak berguna.
e. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis.
f. Kehilangan minat melakukan kegiatan yang biasa dilakukan.
g. Ide atau percobaan bunuh diri.
h. Gangguan pola tidur (susah tidur dan tidur berlebih).
i. Nafsu makan berkurang.
Sedangkan gejala fisik dari depresi menurut Pieter dan Lubis (2010: 120) antara
lain: a) sakit kepala atau pusing, b) nyeri lambung dan mual bahkan muntahmuntah, c) nyeri dada dan sesak nafas, d) gangguan tidur (sulit tidur), e) jantung
berdebar-debar, f) tidak nafsu makan atau makan berlebihan, g) diare, h) lesu dan
tidak bergairah, i) gerakan lambat, j) berat badan turun, k) gangguan menstruasi
dan tidak respons pada hubungan seks.
Menurut Maslim (2000), gejala-gejala yang dapat terlihat dari seseorang yang
mengalami depresi adalah: a) konsentrasi dan perhatian berkurang; b) harga diri
dan kepercayaan diri berkurang; c) gagasan tentang rasa bersalah dan tidak
berguna; d) pandangan masa depan yang suram dan pesimistis; e) gagasan atau
perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri; f) tidur terganggu; g) nafsu makan
berkurang.
Depresi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Depresi ringan, minimal harus ada dua dari tiga gejala utama depresi, ditambah
sekurang-kurangnya dua gejala sampiganyang tidak boleh ada gejala berat
diantaranya, lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar
Depresi Postpartum dalam Menghadapi Perubahan Peran Pada Ibu Nifas
(Dewi Susilowati)

dua minggu, hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang
bisa dilakukannya.
b. Depresi sedang, minimal harus ada dua dari tiga gejala utama, sekurangkurangnya empat dari gejala lainnya, seluruh episode berlangsung minimal dua
minggu, menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial,
pekerjaan dan urusan rumah tangga, tanpa gejala somatik atau dengan gejala
somatik.
c. Depresi berat tanpa gejala psikoti, semua gejala utama harus ada, ditambah
minimal empat dari gejala lainnya dan berbagaidan beberapa diantaranya harus
berintensitas berat, sangat tidak mungkin untuk meneruskan kegiatan sosial,
pekerjaan, dan urusan rumah tangga kecuali pada taraf sangat terbatas.
d. Depresi berat dengan gejala psikoti, memenuhi seluruh kriteria depresi berat
tanpa gejala psikotik, disertai waham, halusinasi atau stupor depresi.
Menurut Soam dan Wahyuni (2012: 138) intensitas depresi lebih berat dan lebih
lama dari perasaan tidak bahagia dan perasaan sedih. Depresi tersebut digolongkan
menjadi depresi ringan, sedang dan berat. Orang yang mengalami depresi ringan
lebih banyak daripada depresi sedang dan berat. Depresi dipengaruhi oleh
pengalaman kejadian-kejadian yang kita alami dan kemampuan pribadi untuk
mengatasi stres.
POSTPARTUM
Postpartum atau masa nifas adalah masa kembalinya organ reproduksi
seperti keadaan sebelum hamil dalam waktu 6 minggu setelah melahirkan
(Mansur, 2009: 153).
Mochtar (2000) dan Saifudin dkk. (2001) dalam Indriyani (2013: 27) juga
mengatakan bahwa masa nifas adalah masa pulih kembali mulai dari persalinan
sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-hamil, yaitu kira-kira 6-8 minggu.
Masa nifas (puerperium) dibagi dalam 3 periode, yaitu puerperium dini,
puerperium intermedial, dan remote puerperium. Puerperium dini, yaitu
kepulihan, yang mana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan, yaitu
kurang lebih sampai 40 hari. Puerperium intermedial, yaitu kepulihan menyeluruh
alat-alat genital yang lamanya 6-8 minggu. Sementara remote puerperium adalah
waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil
atau waktu persalinan mempunyai komplikasi (Indriyani, 2013: 28).
Saleha (2009: 64) menyatakan bahwa hal-hal yang harus dapat dipenuhi
selama masa nifas adalah sebagai berikut: 1) fisik yaitu seperti istirahat, makan
makanan bergizi, sering menghirup udara segar, dan lingkungan yang bersih; 2)
psikologi yaitu stres setelah persalinan dapat segera distabilkan dengan dukungan
dari keluarga yang menunjukkan rasa simpati, mengakui, dan menghargai ibu; 3)
sosial yaitu menemani ibu bila terlihat kesepian, ikut menyayangi anaknya,
menanggapi dan memperhatikan kebahagiaan ibu, serta menghibur bila ibu terlihat
sedih; 4) psikososial.
PERUBAHAN PERAN PADA IBU POSTPARTUM
Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh wanita untuk melakukan aktivitas
dan peran barunya sebagai ibu pada minggu-minggu atau bulan-bulan pertama
Depresi Postpartum dalam Menghadapi Perubahan Peran Pada Ibu Nifas
(Dewi Susilowati)

setelah melahirkan, baik dari segi fisik maupun segi psikologis. Sebagian wanita
berhasil menyesuaikan diri dengan baik, tetapi sebagian lainnya tidak berhasil
menyesuaikan diri bahkan mengalami gangguan-gangguan psikologis (Janiwarty
dan Pieter, 2013: 155-156) yaitu sebagai berikut:
a. Periode Taking In
1) Berlangsung 1-2 hari setelah melahirkan.
2) Ibu pasif terhadap lingkungan. Oleh karena itu, perlu menjaga komunikasi
yang baik. Ibu menjadi sangat bergantung pada orang lain. Perhatiannya
tertuju pada kekhawatiran akan perubahan tubuhnya. Ibu mungkin akan
bercerita tentang pengalamannya ketika melahirkan secara berulang-ulang.
Diperlukan lingkungan yang kondusif agar ibu dapat tidur dengan tenang
untuk memulihkan keadaan tubuhnya seperti sedia kala. Nafsu makan
bertambah sehingga dibutuhkan peningkatan nutrisi, kurangnya nafsu
makan menandakan ketidaknormalan proses pemulihan.
b. Periode Taking Hold
1) Berlangsung 3-10 hari setelah melahirkan.
2) Pada fase ini ibu merasa khawatir atas ketidakmampuannya dalam merawat
bayi. Ibu menjadi sangat sensitif, sehingga mudah tersinggung. Oleh karena
itu, ibu membutuhkan sekali dukungan dari orang-orang terdekat. Saat ini
merupakan saat yang baik bagi ibu untuk menerima berbagai penyuluhan
dalam merawat diri dan bayinya. Dengan begitu ibu dapat menumbuhkan
rasa percaya dirinya. Pada periode ini ibu berkonsentrasi pada pengontrolan
fungsi tubuhnya, misalnya buang air kecil atau buang air besar, mulai
belajar untuk mengubah posisi seperti duduk atau jalan, serta belajar
tentang perawatan bagi diri dan bayinya.
c. Periode Letting Go
1) Berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Secara umum fase ini terjadi
ketika ibu kembali ke rumah.
2) Ibu menerima tanggung jawab sebagai ibu dan mulai menyesuaikan diri
dengan ketergantungan bayinya. Keinginan untuk merawat bayi meningkat.
Ada kalanya, ibu mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan
bayinya.
Proses penyesuaian menjadi ibu, sangat rentan terhadap gangguan emosi
terutama selama kehamilan, persalinan dan postpartum. Sistem dukungan yang
kuat dan konsisten merupakan faktor utama keberhasilan melakukan penyesuaian
bagi ibu. Dukungan yang paling efektif didapat dari suami. Pada periode
postpartum awal, ibu membutuhkan bantuan dalam menyelesaikan tugas-tugas
rumah tangganya seperti menyiapkan makanan, mencuci pakaian dan berbelanja,
dan juga ibu membutuhkan dorongan, penghargaan dan pernyataan bahwa ia
adalah ibu yang baik (Murray et.al, 2001).
Dukungan anggota keluarga lainnya juga ikut mempengaruhi kesejahteraan
ibu. Kehadiran orang tua sebagai model peran sebagai ibu sangat mendukung
kesiapan psikologis ibu untuk menjalankan peran sebagai ibu, dan demikian juga
anggota keluarga lainnya termasuk saudara, anak yang sudah dewasa dan pekerja
di rumah tangga, juga membantu ibu sebagai tempat mengekspresikan perasaan

Depresi Postpartum dalam Menghadapi Perubahan Peran Pada Ibu Nifas


(Dewi Susilowati)

atau tempat meminta bantuan dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga selama
periode postpartum awal (Bick et.al, 2003).
DEPRESI POSPARTUM
Menurut Janiwarty dan Pieter (2013: 275) depresi postpartum adalah perasaan
sedih yang dibawa ibu sejak masa hamil yang berkaitan dengan sikap ibu yang
sulit menerima kehadiran bayinya. Perubahan ini merupakan respons alamiah
sebagai akibat kelelahan pasca persalinan.
Depresi postpartum hampir sama dengan baby blues syndrome, perbedaan
keduanya terletak pada frekuensi, intensitas, serta durasi berlangsungnya gejalagejala yang timbul.
Pada postpartum depression, ibu akan merasakan berbagai gejala yang ada
pada baby blues syndrome, tetapi dengan intensitas yang lebih sering, lebih hebat,
serta lebih lama (Mansur, 2009: 157).
Postpartum blues (baby blues) adalah gangguan suasana hati yang
berlangsung selama 3-6 hari pascamelahirkan, dimana perasaan ini berkaitan
dengan bayinya. Apabila keadaan tersebut berlangsung sampai 2 minggu dan tidak
mampu menyesuaikan dengan tuntutan tugas maka akan lebih serius menjadi
postpartum depression.
Wanita dengan depresi postpartum tidak mudah diidentifikasi, dapat
menunjukkan tanda dan gejala yang bervariasi. Gejala awal terjadinya tidak mudah
untuk ditentukan, biasanya penderita sudah menampakkan tanda sebelum
memasuki masa postpartum.
Tanda dan gejalanya seperti mudah menangis, putus asa, tidak bergairah
dalam kehidupannya, selalu ada dalam keadaan sedih, adanya keinginan untuk
bunuh diri, cemas, dan adanya kekhawatiran yang berlebihan (irrational thingking)
dengan kesehatan dirinya dan bayinya.
Depresi postpartum merupakan gangguan perasaan yang dialami ibu setelah
melahirkan dimana yang bersangkutan merasakan kesedihan, kehilangan energi,
susah berkonsentrasi, gundah gulana, dan perasaan bersalah dan tak berharga.
Depresi postpartum dapat terjadi kapanpun dalam jangka satu tahun setelah
melahirkan.
Aspek-aspek yang dapat menimbulkan depresi postpartum yaitu adanya
perubahan mood yang terjadi hampir tiap hari, adanya gangguan tidur seperti
insomnia dan hipersomnia, kurangnya nafsu makan, merasa lelah dan kehilangan
energi, adanya perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang dapat menyebabkan
pikiran-pikiran untuk mencoba bunuh diri atau membunuh bayinya sendiri, dan
kehilangan konsentrasi serta kemampuan untuk mengambil keputusan.
Menurut Pillitteri dan Regina (2001), faktor-faktor yang menyebabkan
terjadinya depresi postpartum yaitu: 1) kelelahan setelah melahirkan yang
menyebabkan berubahnya pola tidur dan kurangnya istirahat menyebabkan ibu
yang baru melahirkan belum kembali ke kondisi normal; 2) kegalauan dan
kebingungan dengan kelahiran bayi yang baru, dan perasaan tidak percaya diri
untuk dapat merawat bayinya yang baru sementara masih merasa bertanggung
jawab dengan semua pekerjaan yang ada; 3) perasaan stres dari perubahan dalam
pekerjaan maupun rutinitas dalam rumah tangga; 4) perasaan kehilangan akan
Depresi Postpartum dalam Menghadapi Perubahan Peran Pada Ibu Nifas
(Dewi Susilowati)

identitas diri, akan kemampuan diri, akan figur tubuh sebelum kehamilan dan
perasaan akan menjadi kurang menarik; 5) kurangnya waktu untuk diri sendiri
sebagaimana yang dilakukan sebelum dan selama kehamilan dan harus tinggal di
dalam rumah dalam jangka waktu yang lama.
Menurut Paykel (2001), yang mengutip pendapat Regina faktor penyebab
depresi postpartum adalah: a) riwayat keluarga yang memiliki penyakit kejiwaan;
b) kurangnya dukungan dari suami dan keluarga; c) perasaan khawatir yang
berlebihan pada kesehatan janin; d) ada masalah pada kehamilan atau kelahiran
bayi sebelumnya; e) sedang menghadapi masalah keuangan; f) hamil usia muda.
Menurut Comerford (2008: 73) penyebab depresi tersebut diantaranya
adalah: a) perasaan ragu mengenai kehamilan; b) stress sebelumnya c) kurangnya
sistem pendukung; d) Kelahiran cesarea yang tidak direncanakan; e) masalah
menyusui, f) perubahan kadar hormon g) kelahiran bayi yang terlalu dini dapat
menyebabkan ibu merasa tidak siap; h) masalah tidak terpecahkan dan tidak bisa
menjadi ibu sempurna; i) kekecewaan pada jenis kelamin bayi atau karakteristik
lainnya.
Determinan Depresi Postpartum
Menurut Indriyani (2013: 112-117) saat memasuki masa nifas, seorang ibu bisa
beresiko mengalami permasalahan adaptasi psikologis sehingga terjadi depresi
postpartum. Masing-masing individu tentunya tidaklah sama dalam hal faktor
pendukung kejadian depresi postpartum. Namun, secara umum faktor yang
mendukung kejadian depresi postpartum adalah seperti di bawah ini.
a. Biologis
Ibu yang memasuki masa nifas akan beradaptasi salah satunya terhadap
fungsi endokrin. Perubahan hormon antara lain seperti hormon progesteron,
estrogen, dan prolaktin bisa memicu kondisi ketidakstabilan emosional
seseorang.
b. Pendidikan
Secara umum latar belakang pendidikan seseorang erat kaitannya dengan
pengetahuan yang dimiliki. Pendidikan juga diduga berkontribusi terhadap
peristiwa depresi postpartum. Ibu nifas yang memiliki pendidikan rendah
kemungkinannya belum memiliki kemampuan pengetahuan yang memadai
dalam penyesuaian persepsi dalam menghadapi masa-masa sulit dan hal baru
dalam perjalanan hidupnya.
c. Usia
Usia seseorang identik dengan pengalaman dan maturitas dalam
menjalani suatu kehidupan. Usia dalam hal ini adalah kondisi usia ibu saat
memasuki masa postpartum. Dalam kesehatan reproduksi usia yang
dikatakan aman untuk bereproduksi adalah sekitar 20-35 tahun, karena usia
ini dianggap matur dalam hal fungsi reproduksi maupun adaptasi psikologis
ibu.
Maka, dapat dikatakan bahwa ibu nifas yang mengalami masa adaptasi
pada usia di bawah 20 tahun diduga dapat mengalami kendala dalam
penyesuaian baik fisik dan mental. Sementara ibu dengan usia di atas 35

Depresi Postpartum dalam Menghadapi Perubahan Peran Pada Ibu Nifas


(Dewi Susilowati)

tahun menjadi lebih beresiko dalam kondisi kehamilan, persalinan, dan juga
masa nifasnya.
d. Pengalaman
Menurut Barbara (2004) faktor-faktor yang mempengaruhi pengalaman
postpartum adalah: a) sifat persalinan dan kelahiran serta tujuan kelahiran; b)
persiapan persalinan, kelahiran, dan peran menjadi orang tua; c) transisi
menjadi orang tua yang mendadak; d) pengalaman keluarga secrara
individual atau bersama terhadap kelahiran dan membesarkan anak; e)
harapan peran anggota keluarga; f) kepekaan dan efektivitas asuhan; g)
faktor-faktor resiko pada komplikasi pascapartum.
e. Perkawinan
Status perkawinan disharmoni memiliki kriteria antara lain komunikasi yang
tidak efektif, adaptasi dalam keluarga bermasalah, perasaan tidak nyaman
dan aman dalam keluarga.
f. Dukungan sosial
Hasil penelitian menunjukkan bahwa suami merupakan social support yang
paling utama selain anggota keluarga lain juga petugas kesehatan. Bila
pasangan kurang memberikan dukungan saat ibu memasuki masa
postpartum, hal ini bisa menjadi pemicu munculnya kejadian depresi
postpartum. karena merasa kurang dicintai dan dihargai.
g. Peristiwa saat menjalani persalinan
h. Emotional relationship
i. Komunikasi dan kedekatan
j. Struktur keluarga
k. Antropologi
l. Demografi
Status demografi ibu postpartum merupakan karakteristik yang berkaitan
dengan tempat tinggal, jumlah anak (paritas), pendidikan, suku, agama dan
lain sebagainya. Paritas (jumlah anak) bisa dibagi menjadi primipara yaitu
seorang wanita yang melahirkan bayi hidup untuk pertama kali, multipara
atau pleuripara yaitu wanita yang pernah melahirkan bayi viabel beberapa
kali (sampai 5 kali), grandemultipara adalah wanita yang pernah melahirkan
bayi 6 kali atau lebih, hidup ataupun mati (Sofian, 2011: 69).
m. Stressor psikososial
n. Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor yang juga menentukan individu untuk
terpapar stressor. Lingkungan, baik internal maupun eksternal merupakan
stimulus bagi ibu postpartum dalam proses penyesuaian diri.
KEPUSTAKAAN
Comerford, KC. 2008. Maternal-Neonatal Facts Made Incredibly Quick! 2ndEd.
Lippincott Williams & Wilkins. USA. Terjemahan L. Dwijayanthi. 2011.
Buku Saku Maternal-Neonatal Edisi 2. EGC. Jakarta
Indriyani, D. 2013. Aplikasi Konsep & Teori Keperawatan Maternitas Postpartum
dengan Kematian Janin. Ar-Ruzz Media. Jogjakarta.
Depresi Postpartum dalam Menghadapi Perubahan Peran Pada Ibu Nifas
(Dewi Susilowati)

Janiwarty, B. dan H. Z. Pieter. 2013. Pendidikan Psikologi untuk Bidan-Suatu


Teori dan Terapannya. Rapha Publishing. Yogyakarta.
Keliat, BA, A. P. Wiyono dan H. Susanti. 2011. Manajemen Kasus Gangguan
Jiwa: CMHN (Intermediate Course). EGC. Jakarta.
Mansur, H. 2009. Psikologi Ibu dan Anak untuk Kebidanan. Salemba Medika.
Jakarta.
Neil, N. 2000. Psikologi Kesehatan: Pengantar untuk Perawat & Profesional
Kesehatan Lain. EGC. Jakarta.
Pieter, HZ. dan N. L. Lubis. 2010. Pengantar Psikologi dalam Keperawatan.
Prenada Media Group. Jakarta.
Saleha, S. 2009. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Salemba Medika. Jakarta.
Sister School Program. 2004. Modul Asuhan Keperawatan Postpartum. Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Semarang.
Soam, Z. dan S. Wahyuni. 2012. Psikologi Keperawatan.Rajawali Pers. Jakarta.
Sofian, A. 2011.Rustam Mochtar Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri
Patologi, Ed. 3, Jilid I. EGC. Jakarta.

Depresi Postpartum dalam Menghadapi Perubahan Peran Pada Ibu Nifas


(Dewi Susilowati)