Anda di halaman 1dari 15

SURAT PERJANJIAN

TENTANG
JUAL BELI TENAGA LISTRIK
ANTARA
PT. PLN (Persero)
DISTRIBUSI JAKARTA RAYA DAN TANGERANG
AREA PELAYANAN PRIMA JAKARTA SELATAN
DAN
PT ALMARON PERKASA
( APARTEMEN BLOOMINTON)
Nomor PIHAK PERTAMA
: 0030 PJ/AGA.01.01/APPJS/2015
Nomor PIHAK KEDUA
: 004A/LK-PLN/V/2015
Pada hari ini Rabu tanggal delapan bulan Juli tahun Dua ribu lima belas
bertempat di Jakarta kami yang bertanda tangan dibawah ini :

( 08 07 2015)

I.

PT. PLN (Persero) Area Pelayanan Prima Jakarta Selatan, dalam hal ini diwakili oleh
Drs. JUSUP HUDIHARTO, selaku Manajer, berdasarkan Surat Kuasa General Manager
PT. PLN (Persero) Distribusi Jakarta dan Tangerang No. 010.SKu/432/DISJAYA/2015
tanggal 16 Januari 2015, berkantor di Jalan Warung Buncit Raya No. 10 Jakarta 12740,
selanjutnya dalam Surat Perjanjian ini disebut : PIHAK PERTAMA.

II.

PT. ALMARON PERKASA ( APARTEMEN BLOOMINTON), dalam hal ini diwakili oleh
LUCKY BUDIMAN dan IGNATIUS RAINER
berdasarkan Surat Kuasa No.
015.B/SK/LGL-AP/I/2015 tanggal 12 Januari 2015, selanjutnya dalam Surat Perjanjian
ini disebut : PIHAK KEDUA.

PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA selanjutnya secara bersama-sama disebut


PARA PIHAK terlebih dahulu menerangkan hal-hal sebagai berikut:
1. Surat Permohonan Pelanggan No.004/LK-PLN/V/2015 tanggal 11 Mei 2015
2. Rekomendasi Sistem No. 0016 /REN.06.03/A.BLG/2015 tanggal 03 Juni 2015
Nama
: APARTEMEN BLOOMINGTON
Alamat
: Jl. PANGERAN ANTASARI (KEMANG VILLAGE ) NO.36 JAKARTA
SELATAN
Tarif/Daya
: B3/2.770 kVA
3. Surat Ijin Penyambungan PIHAK PERTAMA No. 54840/150520/1837 tanggal 20 Mei
2015
Berdasarkan halhal tersebut di atas, PARA PIHAK sepakat untuk membuat Perjanjian Jual
Beli Tenaga Listrik dengan ketentuanketentuan sebagaimana tercantum dalam Pasal
Pasal sebagai berikut :

PASAL 1
MAKSUD DAN TUJUAN
1.

Maksud Perjanjian ini adalah PIHAK PERTAMA bersedia menjual dan menyalurkan
tenaga listrik kepada PIHAK KEDUA, dan PIHAK KEDUA bersedia membeli dan
menerima tenaga listrik tersebut yang akan disalurkan oleh PIHAK PERTAMA untuk
dipergunakan pada persil1 dan/ atau bangunan milik PIHAK KEDUA yang beralamat
di Jl. PANGERAN ANTASARI (KEMANG VILLAGE ) NO.36 JAKARTA SELATAN.
Tujuan Perjanjian adalah sebagai pedoman bagi PARA PIHAK dalam penyaluran
tenaga listrik ke persil dan/ atau bangunan milik PIHAK KEDUA.

2.

PASAL 2
RUANG LINGKUP
Ruang Lingkup Perjanjian ini meliputi:
1.
Ketentuan Teknis;
2.
Pengoperasian, pemeliharaan, perbaikan, perluasan, rehabilitasi instalasi dan/ atau
peralatan listrik;
3.
Pemakaian tenaga listrik pada waktu beban puncak;
4.
Uang Jaminan Langganan
5.
Biaya Penyambungan;
6.
Fasilitas bangunan gardu distribusi listrik
7.
Larangan menjual-belikan dan/ atau memberikan tenaga listrik;
8.
Batas pemilikan;
9.
Cara pengukuran dan pembatasan;
10.
Peneraan alat ukur;
11.
Keamanan instalasi atau peralatan;
12.
Tarif Listrik;
13.
Pembayaran rekening bulanan dan sanksi keterlambatan;
14.
Pajak dan/ atau pungutan;
15.
Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL)
16.
Force Majeure;
17.
Hak preferens (istimewa);
18.
Persil dan/ atau Bangunan
19.
Pengakhiran perjanjian;
20.
Penyelesaian perselisihan;
21.
Perubahan-perubahan;
22.
Berlakunya surat perjanjian.

Persil adalah lokasi/ tempat dimana terdapat sebidang tanah yang digunakan untuk bangunan.

PASAL 3
KETENTUAN TEKNIS
1.

2.
3.

4.

5.
6.

7.

PIHAK PERTAMA akan menyalurkan tenaga listrik kepada PIHAK KEDUA dengan
daya 2.770 kVA dengan tegangan nominal 20.000 Volt atau sesuai dengan Tingkat
Mutu Pelayanan (TMP) setempat, dengan pasokan TM/TM/TM.
PIHAK PERTAMA akan mengupayakan menyalurkan tenaga listrik dengan frekuensi
50 Hertz.
Pelaksanaan penyaluran tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal
ini akan dilakukan oleh PIHAK PERTAMA selambat-lambatnya dalam jangka waktu
100 (seratus) hari kerja terhitung sejak tanggal pembayaran Biaya Penyambungan
(BP).
PIHAK KEDUA akan menyesuaikan peralatan rele (relay : English) pengaman
instalasinya dengan peralatan rele pengaman PIHAK PERTAMA dan peralatan rele
PIHAK KEDUA dapat dikoordinasikan dengan peralatan rele PIHAK PERTAMA.
Peralatan kontrol instalasi PIHAK KEDUA harus tidak peka/ dibuat tidak peka
terhadap kedip tegangan sesuai Edaran Direksi PIHAK PERTAMA yang berlaku.
Penyaluran tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini
dilaksanakan secara terus menerus tanpa terputus-putus, kecuali dalam halhal
sebagai berikut :
a.
Diperlukan untuk melaksanakan suatu pekerjaan pemeliharaan, perbaikan
gangguan, perluasan atau rehabilitasi instalasi PIHAK PERTAMA yang
berkaitan dengan instalasi PIHAK KEDUA;
b.
Terjadi sesuatu hal pada instalasi yang membahayakan kelangsungan
penyaluran tenaga listrik, dan/ atau keselamatan umum serta keamanan jiwa
manusia;
c.
Dianggap membahayakan keselamatan umum serta keamanan jiwa manusia;
d.
Dianggap membahayakan keselamatan umum serta keamanan daerah dan
Negara;
e.
Atas perintah instansi yang berwajib dan/ atau pengadilan;
f.
Apabila terdapat perubahan standar dalam bidang ketenagalistrikan;
g.
Apabila terjadi sebab kahar (force majeure);
h.
Apabila dilakukan pemutusan sementara sesuai ketentuan dalam Surat
Perjanjian ini akibat adanya tunggakan dan tagihan Penertiban Pemakaian
Tenaga Listrik (P2TL);
i.
Apabila penggunaan tenaga listrik tidak sesuai dengan kesepakatan dan/
atau mengakibatkan gangguan tegangan sebagaimana dimaksud ayat (1)
Pasal ini.
Apabila terjadi penghentian penyaluran tenaga listrik karena alasan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (6) Pasal ini maka PIHAK KEDUA tidak berhak untuk
menuntut ganti rugi dalam bentuk apapun juga kepada PIHAK PERTAMA.

8.

PIHAK KEDUA wajib memasang instalasi milik PIHAK KEDUA sesuai Standart
teknis yang berlaku dan mendapatkan Sertifikat laik Operasi dari Lembaga sertifikasi
sesuai dengan UU RI No. 30 tahun 2009 tentang ketenagalistrikan pada pasal 44
ayat 4 : Setiap instalasi tenaga listrik yang beroperasi wajib memiliki Sertifikat laik
Operasi dan pasal 54 ayat 1: Setiap orang yang mengoperasikan instalasi tenaga
listrik tanpa sertifikat laik operasi sebagaimana yang di maksud dalam pasal 44 ayat
4 (dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling
banyak Rp. 500.000.000 ,- (lima ratus juta rupiah).

PASAL 4
PENGOPERASIAN, PEMELIHARAAN, PERBAIKAN, PERLUASAN, REHABILITASI
INSTALASI DAN/ ATAU PERALATAN LISTRIK
(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

PIHAK PERTAMA berhak untuk melakukan pekerjaan pengoperasian dan/ atau


pemeliharaan dan/ atau perbaikan dan/ atau perluasan dan/ atau rehabilitasi instalasi
dan/ atau peralatan listrik miliknya sekurang-kurangnya setiap satu tahun sekali, atau
melakukan pekerjaan perbaikan peralatan listrik miliknya setiap saat apabila terjadi
gangguan/ kerusakan secara mendadak terhadap instalasi dan/ atau peralatan listrik
dimaksud.
PIHAK PERTAMA akan memberitahukan kepada PIHAK KEDUA mengenai rencana
pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan dan/ atau perbaikan dan/ atau perluasan dan/
atau rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini minimal dalam
jangka waktu 7 (tujuh) hari kalender sebelum pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan
dimaksud.
Apabila diperlukan pekerjaan perbaikan secara mendadak sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) Pasal ini sebagai akibat adanya gangguan/ kerusakan instalasi dan/
atau peralatan listrik milik PIHAK PERTAMA, maka PIHAK PERTAMA akan
memberitahukan kepada PIHAK KEDUA mengenai pekerjaan perbaikan dimaksud
pada hari pelaksanaan pekerjaan tersebut.
PIHAK PERTAMA berhak melakukan pemadaman atau penghentian penyaluran
tenaga listrik dalam pelaksanaan pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
Pasal ini. Pemadaman/ penghentian penyaluran tenaga listrik dimaksud akan
diberitahukan terlebih dahulu oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA dalam
waktu 1 x 24 jam sebelum pelaksanaan pemadaman, kecuali apabila dalam keadaan
force majeure akan terjadi gangguan atau pemadaman mendadak.
PIHAK KEDUA memberi izin kepada PIHAK PERTAMA untuk memasuki halaman/
area tanah atau bangunan miliknya apabila pekerjaan pemeliharaan atau perbaikan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini dilaksanakan di halaman/ area
tanah milik PIHAK KEDUA atau di bangunan milik PIHAK KEDUA.

PASAL 5
PEMAKAIAN TENAGA LISTRIK PADA WAKTU BEBAN PUNCAK
(1)

(2)

(3)

PIHAK KEDUA dapat menggunakan tenaga listrik yang disalurkan PIHAK PERTAMA
sesuai dengan daya dan peruntukkannya baik pada Luar Waktu Beban Puncak
(LWBP) maupun Waktu Beban Puncak (WBP), selama tidak terjadi kendala pada
sistem penyaluran tenaga listrik PIHAK PERTAMA.
Bahwa dalam hal terjadi kendala pada sistem penyaluran tenaga listrik PIHAK
PERTAMA, yang mengakibatkan berkurangnya penyaluran tenaga listrik kepada
PIHAK KEDUA, maka pada Waktu Beban Puncak, PIHAK KEDUA bersedia untuk
mengurangi pemakaian tenaga listrik/ keluar dari sitem jaringan PLN dan akan
dipasang Load Limitted Controller (LLC) atau Alat Pengatur Beban Otomatis dengan
mengoperasikan Alat Pembangkit Listrik (Genset) milik PIHAK KEDUA dan
dikembalikan seperti keadaan semula oleh pihak pertama sistem penyaluran tenaga
listrik normal.
PIHAK PERTAMA akan menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada PIHAK
KEDUA selambat-lambatnya 24 (dua puluh empat) jam sebelum saat terjadinya
kendala pada sistem penyaluran tenaga listrik PIHAK PERTAMA.

PASAL 6
UANG JAMINAN LANGGANAN

(1) Sesuai Keputusan Direksi PT.PLN (Persero) Nomor : 424.K/DIR/2013, tanggal 31


Mei 2013 tentang Uang Jaminan Langganan (UJL) PT. PLN (Persero),maka
besarnya UJL adalah :Rp.554.000.000,- (# Lima Ratus Lima Puluh Empat Juta
Rupiah #), dengan rincian sebagai berikut :
2.770.000 VA x Rp. 200,-/VA = Rp. 554.000.000,-

(2) UJL di bayar lunas sebelum pelaksanaan penyambungan baru tenaga listrik
dan/atau perubahan daya (penambahan/Pengurangan daya) dengan cara
membayar langsung pada Bank-Bank yang tergabung dalam Sistem Pembayaran
secara Online (PPOB), dengan mencantumkan nomor Registrasi.
(3) Apabila pelanggan Pasang Baru (PB) terbit belum dikenakan UJL,maka
diberlakukan TTL (Tarip Tenaga Listrik) Baru, dan apabila Tambah Daya belum
Penyesuaian UJL dengan TTL (Tarip Tenaga Listrik) Baru berlaku SK Direksi
Nomor 424.K/DIR/2013 tanggal 31 Mei 2013 pasal 9 tentang Ketentuan Peralihan.

(4) PIHAK KEDUA yang mengakhiri Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL), baik
atas permintaan PIHAK KEDUA maupun karena hal hal lain, maka UJL dapat di
restitusi dan akan dibayarkan kembali kepada PIHAK KEDUA setelah
diperhitungkan dengan tagihan listrik dan semua hutang kepada PIHAK PERTAMA
yang belum di lunasi.
(5) PIHAK KEDUA yang mengajukan pengurangan daya, maka UJL akan
diperhitungkan sesuai dengan tarif yang berlaku, apabila terdapat kekurangan harus
dibayar oleh PIHAK KEDUA kepada PIHAK PERTAMA dan apabila terdapat
kelebihan akan direstitusi oleh PIHAK PERTAMA.

PASAL 7
BIAYA PENYAMBUNGAN

(1)Besarnya Biaya Penyambungan (BP) sesuai TDL yang berlaku saat ini ( Sesuai
Lampiran Peraturan Menteri ESDM No: 33 Tahun 2014 tanggal 20 Nopember 2014)
adalah sebesar : Rp. 1.747.870.000,- (# Satu Milyar Tujuh Ratus Empat Puluh Tujuh
Juta Delapan Ratus Tujuh Puluh Ribu Rupiah #), dengan rincian sebagai berikut :
2.770.000 VA x Rp. 631,- / VA = Rp. 1.747.870.000,Diluar biaya materai dan Administrasi Bank jika ada.

(1) Pembayaran Biaya Penyambungan (BP) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

(2)

(3)

(4)

(5)

dibayar oleh PIHAK KEDUA kepada PIHAK PERTAMA dengan cara membayar
langsung pada Bank-Bank yang tergabung dalam Sistem Pembayaran secara
Online (PPOB), dengan mencantumkan nomor Registrasi.
PIHAK KEDUA yang telah melunasi Biaya Penyambungan dan belum
mendapatkan penyambungan daya listrik, menyetujui untuk diterapkan perubahan
biaya penyambungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
dan PIHAK KEDUA menyetujui untuk membayar selisih Biaya Penyambungan
apabila :
a. Dalam batas waktu sebagaimana dimaksud Pasal 3 ayat (3) Perjanjian ini
belum dilaksanakan penyambungan, atau;
b. Lewat batas waktu sebagaimana dimaksud Pasal 3 ayat (3) Perjanjian ini,
Instalasi PIHAK KEDUA belum siap untuk dilaksanakan penyambungan
karena sebab apapun juga.
Jika PIHAK PERTAMA telah siap sambung akan tetapi PIHAK KEDUA belum siap,
maka PIHAK PERTAMA akan tetap melaksanakan penyambungan dan tagihan
rekening akan terbit pada bulan depan setelah PIHAK PERTAMA melaksanakan
penyambungan dengan perhitungan Tagihan Rekening Minimum yaitu : Daya
tersambung x 40 jam nyala x biaya pemakaian.
Biaya Penyambungan yang telah dibayarkan oleh PIHAK KEDUA kepada PIHAK
PERTAMA, selanjutnya menjadi hak milik PIHAK PERTAMA dan tidak bisa
diganggu gugat oleh PIHAK KEDUA, meskipun Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga
Listrik ini berakhir karena sebab apapun juga.
Apabila PIHAK PERTAMA mengakhiri perjanjian ini secara sepihak sebelum tenaga
listrik disalurkan oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA, maka PIHAK
PERTAMA akan memberitahukan hal tersebut secara tertulis kepada PIHAK
KEDUA disertai dengan alasannya. Dalam kejadian tersebut, maka PIHAK
PERTAMA akan mengembalikan seluruh jumlah uang Biaya Penyambungan (BP)
yang telah diterima oleh PIHAK PERTAMA dari PIHAK KEDUA.

PASAL 8
FASILITAS BANGUNAN GARDU DISTRIBUSI LISTRIK
(1). Untuk keperluan penyaluran tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat
(1) Perjanjian ini, PIHAK KEDUA akan menyerahkan kepada PIHAK PERTAMA
secara cumacuma penggunaan tanah dan atau ruangan untuk bangunan Sipil Gardu
Distribusi dengan status pinjam pakai untuk jangka waktu selama diperlukan oleh
PIHAK PERTAMA, sebagai fasilitas Gardu Distribusi Listrik guna penempatan instalasi
beserta perlengkapan milik PIHAK PERTAMA yang diperlukan dalam penyaluran
tenaga listrik;
(2). Lokasi dan luas serta batasbatas tanah dan/ atau ruang untuk Gardu Distribusi
dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Surat
Perjanjian ini;
(3). Penyerahan hak pakai atas tanah / ruangan dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini akan
dilakukan oleh PIHAK KEDUA kepada PIHAK PERTAMA dengan Perjanjian Pinjam
Pakai Tanah/ Ruang untuk Gardu Distribusi Listrik yang ditanda-tangani PARA PIHAK
yang akan dituangkan kedalam akta otentik yang dibuat dihadapan Notaris;
(4). Biaya yang timbul akibat peningkatan Perjanjian Pinjam Pakai sebagaimana dimaksud
ayat (3) Pasal ini kedalam akta otentik yang dibuat dihadapan Notaris sepenuhnya
menjadi beban dan tanggung jawab PIHAK KEDUA;
(5). Hak atas Tanah atau ruangan dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini tetap menjadi milik
PIHAK KEDUA;
(6). PIHAK KEDUA menjamin PIHAK PERTAMA dan bertanggung jawab sepenuhnya
bahwa PIHAK PERTAMA tetap dapat menggunakan tanah dan/ atau ruangan
dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini walaupun terjadi peralihan hak atas tanah dan/ atau
bangunan tersebut;
(7). PIHAK KEDUA tidak diperkenankan memasuki area tanah atau ruangan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini dan atau memindahkan atau mengubah instalasi
beserta perlengkapannya milik PIHAK PERTAMA sebagaimana terdapat dalam area
tanah dan/ atau ruangan dimaksud tanpa persetujuan tertulis dari PIHAK PERTAMA.
(8). PIHAK KEDUA mengijinkan PIHAK PERTAMA atau petugaspetugas PIHAK
PERTAMA untuk memasuki jalan/ halaman/ daerah/area/ tanah PIHAK KEDUA setiap
saat diperlukan untuk memasuki instalasi beserta perlengkapannya milik PIHAK
PERTAMA yang terletak di dalam daerah/ area tanah PIHAK KEDUA, guna
mengadakan pemeriksaan, pemeliharaan atau perbaikan instalasi tersebut dengan
memperhatikan ketentuan mengenai keamanan yang berlaku di area PIHAK KEDUA.
(9). Pajak Bumi dan Bangunan yang dikenakan atas tanah dan/ atau bangunan tersebut
dalam ayat (1) Pasal ini menjadi beban dan tanggung jawab PIHAK KEDUA.
(10). PIHAK KEDUA akan membantu PIHAK PERTAMA untuk mengurus dan
mendapatkan ijinijin yang diperlukan dalam melakukan kegiatan pemasangan atau
pembangunan instalasi listrik beserta perlengkapan milik PIHAK PERTAMA.

PASAL 9
LARANGAN MENJUAL BELIKAN DAN / ATAU MEMBERIKAN TENAGA LISTRIK
(1)

(2)

(3)

PIHAK KEDUA dengan alasan apapun tidak berhak untuk menjual atau memberikan
kepada pihak lain tenaga listrik yang diterima dan dibeli dari PIHAK PERTAMA di luar
persil dan/ atau bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) Perjanjian
ini, kecuali dengan persetujuan tertulis terlebih dahulu dari PIHAK PERTAMA.
Apabila PIHAK KEDUA menjual atau memberikan tenaga lisitrik kepada pihak lain
diluar persil dan/ atau bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1)
Perjanjian ini tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari PIHAK PERTAMA, maka
PIHAK PERTAMA berhak untuk mengakhiri perjanjian ini secara sepihak dengan
menyampaikan pemberitahuan secara tertulis terlebih dahulu kepada PIHAK KEDUA
selambatlambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja sebelum saat pengakhiran.
PIHAK KEDUA dilarang untuk menjual atau memberikan kepada pihak lain tenaga
listrik yang diterima dan dibeli dari PIHAK PERTAMA. Apabila PIHAK KEDUA
melakukan usaha penjualan tenaga listrik harus memenuhi perizinan yang diperlukan
sebagai usaha penjualan tenaga listrik yaitu penetapan wilayah usaha dari Badan
Kordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan mendapatkan Izin Usaha Penyediaan
Tenaga Listrik (IUPTL) dari Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM) atau
Pemerintah Provinsi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

PASAL 10
BATAS PEMILIKAN
Semua instalasi Listrik setelah alat pengukuran dan pembatas milik PIHAK PERTAMA yang
terdapat pada instalasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) Perjanjian ini,
baik instalasi tenaga listrik maupun instalasi penerangan di halaman PIHAK KEDUA
adalah milik dan tanggung jawab PIHAK KEDUA.

PASAL 11
CARA PENGUKURAN DAN PEMBATASAN
(1)

(2)

(3)

(4)

Pemakaian tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) Perjanjian ini
oleh PIHAK KEDUA, akan diukur dengan seperangkat Meter Elektronik yang
pembacaannya menggunakan sistem AMR (Automatic Meter Reading) milik PIHAK
PERTAMA.
Kelas Meter Elektronik yang akan digunakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
Pasal ini disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku di lingkungan PIHAK
PERTAMA.
Sistem pasokan sambungan listrik PIHAK KEDUA adalah sistem TM/TM/TM *)
(Pelanggan TM / diukur di sisi TM / di pasok dengan TM)*
* Sistem TM/TM/TM
: energi yang digunakan = 1,00 x energi terukur
Perangkat meter elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini dipasang
pada sisi jaringan Tegangan Menengah TM) (*) instalasi milik PIHAK PERTAMA
tersebut dalam Pasal 8 Surat Perjanjian ini.

(5)

Pembatasan daya tersambung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dan (2)
Surat Perjanjian ini dilakukan dengan penyetelan rele arus lebih yang bekerja pada :
In

In =
Q=
E=

100 % Q
3 E

Arus untuk menentukan peneraan rele dengan satuan Ampere (A).


Daya tersambung sesuai Pasal 3 ayat (1) Surat Perjanjian ini dengan satuan
Volt Ampere.
Tegangan sesuai Pasal 3 ayat (1) Surat Perjanjian ini dengan satuan Volt (V).

Ketentuan peneraan rele sesuai tabel dibawah ini :


Pada arus
Waktu Trip
1,05 x In
Tidak trip sebelum 60 menit
1,20 x In
Trip sebelum 20 menit
1,50 x In
Trip sebelum 10 menit
4,00 x In
Dikoordinasikan dengan pengaman hubung singkat (OCR)

(6)

(7)

Untuk seting pelanggan I3 dan I4 peleburan baja, batasan seting disesuaikan


dengan ketentuan yang berlaku di lingkungan PIHAK PERTAMA.
Jika perangkat alat pengukur dan pembatas Meter Elektronik tersebut, karena sesuatu
hal rusak dan/ atau hilang, maka PIHAK KEDUA diwajibkan mengganti perangkat
Meter Elektronik tersebut dan untuk perhitungan energi yang tidak terukur yang
digunakan PIHAK KEDUA selama Meter Elektronik tersebut rusak dan/ atau hilang
berdasarkan pemakaian rata-rata disepakati oleh PARA PIHAK.
PIHAK KEDUA tidak diperbolehkan untuk melakukan sistem pasokan listrik secara
Pararel dengan Captive Power / Generator Set milik PIHAK KEDUA kecuali PIHAK
KEDUA menggunakan Tarif Layanan Premium Diamond dari PIHAK PERTAMA.

PASAL 12
PENERAAN ALAT UKUR
(1)

(2)

Meter elektronik yang digunakan untuk mengukur pemakaian tenaga listrik PIHAK
KEDUA harus ditera oleh Direktorat Metrologi dan disegel oleh PIHAK PERTAMA,
dan biaya peneraan serta penyegelan dimaksud menjadi beban dan tanggung jawab
PIHAK PERTAMA.
Apabila terjadi keraguraguan dari PIHAK KEDUA terhadap bekerjanya meter
elektronik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini, maka PIHAK KEDUA
dapat meminta kepada PIHAK PERTAMA untuk dilakukan peneraan kembali meter
elektronik dimaksud dan biaya tersebut menjadi beban dan tanggung jawab PIHAK
KEDUA.

PASAL 13
KEAMANAN INSTALASI ATAU PERALATAN

PIHAK KEDUA wajib menjaga instalasi atau peralatan milik PIHAK PERTAMA yang
terdapat di areal tanah dan atau bangunan milik PIHAK KEDUA agar instalasi atau
peralatan dimaksud selalu dalam keadaan baik.
PASAL 14
TARIF LISTRIK
(1)
(2)

(3)

(4)

Tarif listrik yang berlaku untuk jual beli tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 ayat (1) Perjanjian ini adalah Tarif B3 / TM;
Apabila terjadi perubahan mengenai tarif listrik sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) Pasal ini, maka PIHAK KEDUA akan menyesuaikan tarif listrik dimaksud dengan
tarif listrik yang baru.
Ketentuan mengenai tarif listrik yang baru sebagai perubahan dari tarif listrik
terdahulu akan diberitahukan secara tertulis oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK
KEDUA dan berlaku sejak tanggal diberlakukannya tarif listrik yang baru tersebut.
Perubahan tarif sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) Pasal ini akan berlaku
dengan sendirinya tanpa dibuatkan Amandemen dengan diberitahukannya secara
tertulis oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA. Pemberitahuan dimaksud
mengikat kedua belah pihak dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Perjanjian ini.

PASAL 15
PEMBAYARAN REKENING BULANAN DAN SANKSI KETERLAMBATAN
(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

Rekening untuk pemakaian tenaga listrik PIHAK KEDUA akan diperhitungkan atas
dasar jumlah pemakaian tenaga listrik selama 1 (satu) bulan sesuai dengan hasil
pembacaan dan pencatatan meter sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11
Perjanjian ini.
Pembayaran rekening listrik bulanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini
untuk pemakaian tenaga listrik bulan sebelumnya akan dilakukan oleh PIHAK
KEDUA antara tanggal 5 (lima) sampai dengan tanggal 20 (dua puluh) pada bulan
berikutnya.
Perubahan waktu pembayaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal ini akan
berlaku dengan sendirinya tanpa dibuatkan Amandemen/ Suplemen dengan
diberitahukan secara tertulis oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA.
Pemberitahuan dimaksud mengikat PARA PIHAK dan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Perjanjian dan Suplemen.
Apabila batas waktu terakhir sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal ini jatuh
pada hari Minggu atau hari libur, maka pembayaran rekening listrik dimaksud harus
dilakukan pada hari kerja sebelumnya.
Apabila ada permintaan dari PIHAK KEDUA, mengenai besarnya rekening listrik
bulanan tersebut dalam ayat (1) Pasal ini akan dikirim melalui email berupa Invoice
oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA antara tanggal 5 sampai dengan
tanggal 10 setiap bulan, kecuali apabila tanggal 10 jatuh pada hari Minggu atau hari
libur, maka pemberitahuan dimaksud akan disampaikan pada hari kerja berikutnya.
Pembayaran rekening listrik bulanan tersebut dalam ayat (2) Pasal ini akan dilakukan
oleh PIHAK KEDUA kepada PIHAK PERTAMA dengan cara membayar langsung

10

pada Bank-Bank yang tergabung dalam Sistem Pembayaran secara Online (PPOB),
sebelum jatuh tempo pembayarannya;
(7)

a.

Apabila PIHAK KEDUA tidak dapat melunasi rekening listrik bulanan sesuai
dengan jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal ini, maka
PIHAK KEDUA harus membayar biaya keterlambatan kepada PIHAK
PERTAMA sebesar 3 (tiga) persen dari jumlah rekening bulanan yang
bersangkutan untuk setiap bulan keterlambatan *).
*)

Yang dimaksud dengan setiap bulan keterlambatan adalah :


Pembayaran rekening listrik bulanan yang dilakukan oleh PIHAK KEDUA
setelah melewati batas waktu yang telah ditetapkan pada bulan yang
bersangkutan. Untuk bulan keterlambatan berikutnya dihitung mulai
tanggal 1 (satu) setiap bulan sampai dengan batas waktu terakhir untuk
pembayaran rekening listrik bulanan yang bersangkutan dilunasi.

b.

PARA PIHAK akan menyesuaikan besarnya biaya keterlambatan dengan


biaya keterlambatan yang baru yang ditetapkan oleh PIHAK PERTAMA.
c.
Perubahan biaya keterlambatan sebagaimana dimaksud pada huruf b. ayat
ini, akan berlaku dengan sendirinya tanpa dibuatkan Amandemen dengan
diberitahukannya secara tertulis oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK
KEDUA dan pemberitahuan tersebut mengikat PARA PIHAK dan merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian ini.
(8)
Apabila PIHAK KEDUA tidak dapat melunasi rekening listrik bulanan sampai dengan
pukul 24.00 WIB pada hari terakhir dari jangka waktu pelunasan pembayaran
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) Pasal ini, maka PIHAK PERTAMA akan
memberitahukan secara tertulis kepada PIHAK KEDUA mengenai keterlambatan
dimaksud dan PIHAK PERTAMA akan melakukan pemutusan sementara
penyaluran tenaga listrik.
(9) Pelaksanaan pemutusan sementara penyaluran tenaga listrik sebagaimana dimaksud
dalam ayat (8) Pasal ini akan dilakukan oleh PIHAK PERTAMA terhitung sejak
tanggal diterimanya pemberitahuan pemutusan sementara tersebut oleh PIHAK
KEDUA.
(10) Penyaluran kembali tenaga listrik yang telah diputus sementara sebagaimana
dimaksud dalam ayat (9) Pasal ini akan dilakukan oleh PIHAK PERTAMA setelah
rekening listrik yang terhutang berikut biaya keterlambatannya dibayar lunas oleh
PIHAK KEDUA.
(11) Apabila dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari kalender terhitung sejak tanggal
surat pemberitahuan pemutusan sementara tersebut dalam ayat (10) Pasal ini,
PIHAK KEDUA tidak dapat melunasi pembayaran rekening listrik bulanan yang
terhutang berikut biaya keterlambatan dimaksud dalam ayat (7) Pasal ini, maka
PIHAK PERTAMA berhak mengakhiri Perjanjian ini secara sepihak dengan
melakukan pemutusan rampung berupa penghentian penyaluran tenaga listrik
dengan mengambil sebagian atau seluruh instalasi listrik milik PIHAK PERTAMA
yang ada dalam halaman atau bangunan milik PIHAK KEDUA.
(12) Penyaluran kembali tenaga listrik yang telah diputus rampung sebagaimana dimaksud
dalam ayat (11) Pasal ini akan dilaksanakan oleh PIHAK PERTAMA setelah PIHAK
KEDUA menandatangani Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik baru dan

11

membayar Biaya Penyambungan serta melunasi semua rekening listrik yang masih
terhutang berikut biaya keterlambatannya dan setelah melunasi Tagihan Susulan dan
tunggakan lainnya bila ada.
(13) PIHAK KEDUA bersedia membayar Rekening Minimum sesuai ketentuan tarif tenaga
listrik yang berlaku di lingkungan PIHAK PERTAMA apabila karena suatu hal,
kesiapan instalasi di bangunan PIHAK KEDUA belum terpenuhi dan/ atau
pemakaian tenaga listrik kurang dari 40 (empat puluh) jam nyala.
(14) Apabila pada lokasi PIHAK KEDUA terdapat lebih dari satu IDPEL, dan salah satu
IDPEL mengalami Pemutusan Sementara / Bongkar Rampung karena menunggak
pembayaran tagihan listrik atau Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL), maka
IDPEL lainnya haru dalam keadaan diputus sementara oleh PIHAK PERTAMA.

PASAL 16
PAJAK DAN ATAU PUNGUTAN
Pajak-pajak dan atau pungutan yang ada sehubungan dengan jual beli tenaga listrik ini
menjadi beban dan tanggung jawab PIHAK KEDUA.

P A S A L 17
PENERTIBAN PEMAKAIAN TENAGA LISTRIK
(1)

PIHAK PERTAMA berhak untuk melakukan penertiban pemakaian tenaga listrik


terhadap sambungan listrik yang terdapat pada persil dan/ atau bangunan PIHAK
KEDUA sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(2)

Apabila terdapat temuan penertiban pemakaian tenaga listrik di bangunan PIHAK


KEDUA, maka PIHAK PERTAMA akan mengenakan sanksi sesuai dengan
ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku

PASAL 18
PERSIL DAN/ ATAU BANGUNAN
(1)

(2)

(3)

Apabila dikemudian hari ternyata pada persil dan/ atau bangunan PIHAK KEDUA
pernah ada tunggakan pemakaian listrik dari pemilik lama dan/ atau tagihan susulan
akibat Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL), maka PIHAK KEDUA
bertanggung jawab menyelesaikannya;
PIHAK PERTAMA berhak menebang atau memotong tumbuhan-tumbuhan yang
menghalangi jaringan milik PT PLN (Persero) yang berada di pekarangan atau
halaman bangunan PIHAK KEDUA;
PIHAK KEDUA mengijinkan Kawat/ kabel milik PIHAK PERTAMA berupa jaringan
tegangan rendah/ menengah melintas di atas atau di bawah persil dan/ atau
bangunan dan/ atau halaman PIHAK KEDUA yang dibangun di atas atau di bawah
tanah;

12

(4)

PIHAK KEDUA mengijinkan PIHAK PERTAMA menempatkan Alat Pengukur dan


Pembatas (APP) milik PIHAK PERTAMA sedemikian rupa, sehingga aman dan
mudah diperiksa oleh PIHAK PERTAMA;

PASAL 19
FORCE MAJEURE
Yang dimaksud dengan sebab kahar/ force majeure tersebut dalam Pasal 3 ayat (6) huruf g
adalah semua kejadian di luar kemampuan PIHAK PERTAMA untuk mengatasinya,
termasuk didalamnya, tetapi tidak terbatas oleh karena adanya peraturan Pemerintah baik
Pusat maupun Daerah, atau perintah dari Militer atau Polisi, kerusuhan, huruhara, halilintar,
banjir, musim kemarau yang panjang, gangguangangguan pada peralatan listrik PIHAK
PERTAMA yang dapat mengakibatkan gangguan pada kontinuitas penyaluran tenaga listrik
tersebut dalam Pasal 3 ayat (1) Perjanjian ini.

PASAL 20
HAK PREFERENS ( ISTIMEWA )

(1)

(2)

Apabila dikemudian hari PIHAK KEDUA dinyatakan pailit berdasarkan Putusan


Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, maka PIHAK PERTAMA
mempunyai hak preferens (hak istimewa) atas tunggakan tagihan rekening listrik
dan/ atau tagihan susulan yang belum dilunasi oleh PIHAK KEDUA sesuai dengan
ketentuan yang berlaku;
PIHAK KEDUA akan menempatkan kedudukan PIHAK PERTAMA sebagai Kreditur
Preferens sehingga mengakibatkan tunggakan tagihan rekening listrik/ tagihan
susulan harus didahulukan untuk dibayar oleh PIHAK KEDUA yang telah dinyatakan
pailit.
PASAL 21
PENGAKHIRAN PERJANJIAN

(1)

(2)

Apabila PIHAK KEDUA akan mengakhiri Perjanjian ini, maka PIHAK KEDUA harus
memberitahukan terlebih dahulu secara tertulis kepada PIHAK PERTAMA,
sekurang kurangnya 2 (dua) bulan sebelum tanggal yang diusulkan untuk
pengakhiran dimaksud.
Apabila salah satu PIHAK melakukan pemutusan perjanjian, PARA PIHAK sepakat
untuk tidak memberlakukan ketentuan Pasal 1266 Kitab UndangUndang Hukum
Perdata.

PASAL 22
PENYELESAIAN PERSELISIHAN

13

(1)
(2)

Apabila terjadi perselisihan pendapat dalam pelaksanaan Perjanjian ini, maka PARA
PIHAK akan menyelesaikan dengan cara musyawarah.
Apabila penyelesaian perselisihan dengan cara musyawarah sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) Pasal ini tidak tercapai, PARA PIHAK akan menyerahkan
penyelesaiannya melalui Pengadilan sesuai dengan ketentuan Peraturan
Perundang-undangan yang berlaku.

PASAL 23
PERUBAHAN PERUBAHAN
(1)

(2)

Setiap perubahan ketentuan Pasal atau Pasal-pasal Surat Perjanjian ini kecuali untuk
perubahan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (4) dan atau
Pasal 15 ayat (3) Perjanjian ini setelah disepakati dibuat dalam suatu Amandemen/
Suplemen yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian ini.
Usul perubahan ketentuan Pasal atau Pasalpasal sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) Pasal ini harus diajukan secara tertulis oleh PIHAK yang berkepentingan
kepada pihak yang lainnya selambatlambatnya dalam jangka waktu 2 (dua) bulan
sebelum saat perubahan yang diusulkan.

PASAL 24
BERLAKUNYA PERJANJIAN
Surat Perjanjian ini berlaku sejak tanggal ditandatangani untuk waktu yang tidak terbatas
dan dapat diakhiri oleh masing-masing PIHAK dengan memperhatikan ketentuan untuk
pengakhiran dimaksud.
PASAL 25
PENUTUP
Perjanjian ini dibuat dalam 2 (dua) rangkap, yang masingmasing mempunyai kekuatan
hukum yang sama, 1 (satu) rangkap untuk PIHAK PERTAMA dan 1 (satu) rangkap untuk
PIHAK KEDUA.

PIHAK KEDUA

PIHAK PERTAMA
Meterai 6000

LUCKY BUDIMAN

IGNATIUS RAINER

Meterai 6000

JUSUP HUDIHARTO
Manajer

14

15