Anda di halaman 1dari 3

Manajemen Inovasi Terbuka

Inovasi terbuka memungkingkan kolaborasi antara dua pihak (umumnya antara sebuah firma
dengan sebuah institusi penelitian) dalam menciptakan sebuah inovasi. Melalui makalah
tersebut, penulis beargumen bahwa dengan memegang kendali keputusan penelitian, sebuah
firma dapat memanfaatkan keuntungan maksimal melalui kolaborasi ini (inovasi terbuka).
Argumen ini menonjolkan pentingnya decision right pada kolaborasi di inovasi terbuka.
Secara sederhana karena pihak yang memiliki property right tidak harus memiliki decision
right , hal ini dapat berpengaruh pada hasil akhir dari inovasi yang diciptakan, yang tentu saja
memengaruhi keuntungan dari pihak firma. Berikut akan diberikan ringkasan singkat
mengenai argumen yang diberikan penulis.
Pertama, kita simbolkan pihak firma sebagai
R . Simbolkan

IPR

dan pihak institusi penelitian sebagai

sebagai hak cipta, dengan demikian kita mempunyai 3 jenis

kolaborasi yang mungkin terjadi, yaitu : 1. (Inbound innovation)


(Outbound innovation)

memiliki IPR ; 2.
F dan

memiliki IPR; 3. (Bidirectional innovation)

sama sama memiliki IPR. Ketiga kasus ini nantinya akan ditinjau masing-masing. Proses
inovasi terbuka berdasarkan alur waktunya dibagi menjadi 3, yaitu : ex ante, saat kedua pihak
mencapai kesepakatan kerja sama; interim, saat proses riset berlanguns; ex post, proses
penelitian telah selesai dan saat kedua pihak merundingkan hasil inovasi.
Pada proses ex ante, dikenal sebutan pihak pemegang kontrak yaitu pihak yang memberikan
penawaran kolaborasi kepada pihak lain. Pada proses interim, dikenal sebuah besaran yang
, dan

disebut sebagai variabel pengendali keputusan penelitian yang disimbolkan dengan


bernilai 1 (0) jika

atau

memegang kendali keputusan ( F

memegang kendali keputusan). Setelah menentukan nilai

atau

dan

tidak

pada proses interim, kedua

pihak akan memberikan investasi masing-masing yang disimbolkan sebagai


untuk investasi dari

secara berturut-turut. Hasil total dari inovasi

dan

V (E , e)

dimodelkan sebagai fungsi berikut :


V ( E ,e )=E+ eE+ e ,

(1)

dengan

adalah parameter nonnegatif yang menyatakan kontribusi

R relatif
Ee

Hal penting yang dapat kita lihat dari persamaan (1), adalah peran faktor
penegas efek kolaborasi (bandingkan dengan nilai
bagian dari hasil total inovasi
penelitian ( =1

V (E , e)

V ( E , 0)

atau

(0, e)

sebagai

). Setengah

didapat oleh pemegang kendali keputusan

pada saat proses riset (interim) berlansung, adapun sisanya dibagi

berdasarkan hasil perundingan pada fase ex post. Hasil total yang diperoleh oleh
R

F .

berturut-turut disimbolkan oleh

dan

u , yang kedua haruslah bernilai positif .

Tentunya secara alamiah kita menduga bahwa kolaborasi dapat terjadi apabila baik
ataupun

memperoleh nilai

dan

dan

(secara berturut-turut) yang lebih besar

dibanding saat proses kolaborasi tidak terjadi (closed innovation).


Selanjutnya, seperti pembagian jenis kolaborasi yang telah disebutkan sebelumnya, kita
memberi simbol

secara berturut-turut untuk

F, R

sebagai pemilik IPR yang

bernilai 1 (0) jika pemilik IPR (bukan pemilik IPR) ).


Berdasarkan hasil analisis model yang didapatkan untuk berbagai variasi nilai

(berbagai tipe kolaborasi), secara umum didapat bahwa pihak yang memegang kendali
kontrak cenderung mempertahankan posisi sebagai pemegang kendali pengambilan
keputusan. Kemudian, didapat pula bahwa ketiga bentuk kolaborasi bersesuaian dengan
asumsi kita bahwa pemegang kendali keputusan cenderung mendapat hasil inovasi yang
maksimal, walaupun tentunya dengan faktor
( , )=(1,0) didapat

yang berbeda beda (contohnya untuk kasus

1 , atau pada kasus ( , )=(1,1) didapat

> 2 ). Secara

umum dapat disimpulkan bahwa masalah terbesar yang dapat menghambat potensial inovasi
terbuka adalah ketidakmampuan sebuah firma untuk bertindak sebagai pengambil keputusan
kolaborasi riset dengan institusi penelitian. Faktor ini menurut penulis sangat penting namun
cenderung diabaikan. Terakhir penulis menekankan keterbatasan dari model yang diberikan
sekaligus memberikan kemungkinan perluasan penelitian dengan model yang lebih kompleks

misalnya : interaksi antara lebih dari 2 pihak, atau dengan model dimana hak pemegang
kendali keputusan dibagi dengan proporsi tertentu ke berbagai pihak yang berkolaborasi.