Anda di halaman 1dari 39

Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

DIKTAT PENUNTUTUN PRAKTIKUM BIOKIMIA KLINIK

Penuntun Praktikum Biokimia Klinik DIKTAT PENUNTUTUN PRAKTIKUM BIOKIMIA KLINIK Oleh : Dr. Budi Untari, MSi, Apt

Oleh :

Dr. Budi Untari, MSi, Apt Dr.rer.nat Mardiyanto, MSi, Apt Tim Biokimia STIFI Bhakti Pertiwi

Nama Mahasiswa/NIM : ……………………………………………………… Kelompok : ………………………………………….

PROGRAM S1, EKSTENSI, DAN D3 ILMU FARMASI SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI (STIFI) BHAKTI PERTIWI PELEMBANG

2014

Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa Pencipta Semesta Alam yang berkat rahmat dan hidayahNya kami dapat merampungkan penyusunan Diktat Penuntun Praktikum Biokimia Klinik ini.

Diktat penuntun praktikum ini diperuntukkan bagi peserta praktikum Biokimia Klinik pada semester Ganjil 2014-2015 pada program S1, ekstension, dan D3 ilmu Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (STIFI) Bhakti Pertiwi Palembang, Sumatera Selatan. Praktikum ini dirancang untuk memberikan keterampilan pada mahasiswa dalam bidang Biokimia yang diletakkan padanya nilai kompetensi yang dapat diaplikasikan dalam bidang klinik. Selain itu, dengan praktikum ini mahasiswa juga dapat membuktikan pemahaman teori yang diperoleh saat perkuliahan Biokimia yang sepaket dengan praktikum ini. Oleh karena itu, mahaiswa harus membaca dengan baik diktat praktikum ini sebelum memulai percobaan supaya praktikum dapat dilaksanakan dengan sebagaimana mestinya.

Kami sadari, diktat penuntun ini adalah jauh dari sempurna, makanya akan ada selalu evaluasi dan perbaikan dari diktat penuntun ini. Akhir kata, kami ucapkan terimakasih untuk semua pihak yang telah membantu terealisasinya diktat penuntun ini. Semoga apa yang telah kami kerjakan ini bermanfaat adanya.

Palembang, 2 November 2014

Tim Biokimia Klinik

Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

Daftar Isi

Kata

Pengantar

………………………………………………… .......................

……………………… .........2

Daftar Isi ……………………………………………………………………… ..................... …………………

....

3

Tata

Tertib

Pengguna

Laboratorium dan Peraturan Praktikum ……… ..

…………………… ...4

 
  • 1. Deteksi

Gula

Pereduksi

…………………

.................

……………… ..

………………………………….

6

2.

Uji

Protein

………………………

…………………………………………

...

10

..........................

…………….

  • 3. Uji Lipid dan Kolesterol ……………………………………

.......

………………….

…………………… ...15

  • 4. Penetapan Kadar Gula Darah ……………………………………….……………… ..

………………

..

20

Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

Tata Tertib Penggunaan Laboratorium dan Peraturan Praktikum

  • A. Tata Tertib Pengguna Laboratorium

    • 1. Mahasiswa yang akan menggunakan laboratorium biokimia harus terdaftar sebagai mahasiswa aktif sebagai peserta mata kuliah dan mahasiswa yang menjalani tugas akhir yang mendapatkan surat ijin terlebih dahulu dari ketua program studi farmasi sebelum menggunakan peralatan.

    • 2. Penggunaan laboratorium di luar jam kerja harus sepengetahuan kepala laboratorium.

    • 3. Mahasiswa harus menggunakan pakaian laboratorium yang lengkap.

    • 4. Mahasiswa dilarang mengeluarkan suara yang tidak perlu, merokok, makan dan minum ataupun mengunyah permen karet di dalam laboratorium.

    • 5. Selesai menggunakan laboratorium harap mematikan peralatan, lampu dan kran air serta harus hemat dalam penggunaanya.

  • B. Peraturan Praktikum

    • 1. Lima belas menit sebelum praktikum dimulai, mahasiswa yang akan menjalankan praktikum harus sudah siap di depan laboratorium.

    • 2. Setiap akan menjalankan praktikum, terlebih dahulu dilakukan pretes yang telah disiapkan oleh dosen pengawas praktikum.

    • 3. Masing-masing praktikan harus memahami tujuan percobaan hari itu dan juga menguasai langkah kerja yang akan dicobakan.

    • 4. Jika ada bahan kimia yang akan ditimbang maka botol zat kimia yang telah ditimbang itu dikembalikan pada tempat semula dengan rapi sehingga anggota kelompok yang lain bisa dengan mudah menemukan zat tersebut pada tempat yang semestinya.

    • 5. Setelah itu anggota kelompok memeriksa kelengkapan alat di loker kelompok masing-masing sebelum praktikum dimulai. Jika ada kerusakan alat segera lapor pada dosen pengawas praktikum.

    • 6. Setiap mahasiswa yang memecahkan suatu alat diwajibkan mengisi form dan menandatangani kesanggupan untuk mengganti.

    • 7. Mulailah bekerja sebagai team work dengan tertib di bawah koordinir dosen pengawasan praktikum.

    • 8. Jika harus menggunakan pipet hisap, jangan gunakan mulut. Tersedian bola hisap dan silahkan digunakan.

    • 9. Lindungi kulit dan mata sewaktu bekerja, jika terjadi kontak dengan asam, basa,

  • ataupun bahan korosif, segera cuci dengan air mengalir dan laporkan pada pengawas praktikum untuk pertolongan pertama. 10. Mencampurkan asam kuat dan basa kuat adalah dalam lemari asam dan tutup segera botol zat berbahaya itu segera setelah digunakan. 11. Gunakan sarung untuk bekerja dengan urin, darah, dan air ludah. Hindari kontak langsung dengan sampel jenis itu untuk melimitasi penyebaran virus hepatits dan HIV. 12. Mahasiswa tidak diperkenankan meninggalkan ruang praktikum tanpa ijin asisten sebelum ada tanda praktikum selesai 13. Setiap selesai praktikum, peralatan dicuci dan keringkan serta dikembalikan ke tempat semula dalam keadaaan rapi.

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    14. Setiap mahasiswa harus mengikuti seluruh latihan atau acara praktikum. Apabila 2 kali tidak mengikuti acara praktikum tanpa pemberitahuan atau ijin maka mahasiswa yang bersangkutan dianggap mengundurkan diri atau gugur. 15. Jika mahasiswa berhalangan hadir maka harus memberitahukan dengan surat keterangan yang terpercaya.

    Hal-hal yang belum tercantum dalam tata tertib ini akan diatur kemudian

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    I. DETEKSI GULA PEREDUKSI

    • 1.1 Tujuan Percobaan

    Mahasiswa mampu memahami prinsip deteksi gula pereduksi secara umum yang

    merupakan keterampilan dasar dalam bidang keahlian biokimia klinik.

    • 1.2 Pendahuluan

    Karbohidrat merupakan sumber energi utama untuk metabolisme pada manusia dan sarana untuk memelihara kesehatan saluran pencernaaan manusia. Karbohidrat adalah penyumbang utama dari komponen yang membentuk produk pangan baik sebagai komponen alami maupun bahan yang ditambahkan. Karbohidrat meliputi lebih

    dari 90% dari berat kering tanaman. Karbohidrat banyak tersedia di lingkungan dan mudah didapat.

    Menurut strukturnya

    karbohidrat dapat dibagi menjadi kelompok sakarida:

    monosakarida, oligosakarida dan polisakarida. Monosakarida dan disakarida adalah gula sederhana yang tidak dapat dipecah lagi menjadi molekul yang lebih kecil dan monosakarida (inilah yang menjadi unit penyusun dari oligosakarida dan polisakarida). Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan merupakan

    oligosakarida, polimer dengan derajat polimerisasi 2-10 dan biasanya bersifat larut dalam air yang terdiri dari dua molekul yaitu glukosa dan fruktosa. Gula memberikan flavor dan warna melalui reaksi browning secara non enzimatis pada berbagai jenis makanan. Gula paling banyak diperdagangkan dalam bentuk kristal sukrosa padat. Gula digunakan untuk mengubah rasa menjadi manis dan keadaan makanan atau minuman. Penentuan kadar gula secara umum dilakukan dengan cara menganalisis sampel berupa sumber glukosa ataupun sampel yang ditambahkan gula. Terdapat beberapa jenis metode yang dapat dilakukan untuk menentukan kadar gula dalam suatu sampel. Salah satu metode yang paling mudah pelaksanaannya dan tidak memerlukan biaya mahal adalah metode Luff Schoorl. Metode Luff Schoorl merupakan metode yang digunakan untuk menentukan kandungan gula dalam sampel. Metode ini didasarkan pada pengurangan ion tembaga (II) di media alkaline oleh gula dan kemudian kembali menjadi sisa tembaga. Ion tembaga (II) yang diperoleh dari tembaga (II) sulfat

    Penetapan kadar gula pereduksi yaitu monosakarida dan disakarida kecuali sukrosa dapat ditunjukkan dengan pereaksi Fehling atau Benedict menghasilkan endapan merah bata (Cu2O). Selain pereaksi Benedict dan Fehling, gula pereduksi juga bereaksi positif dengan pereaksi Tollens.

    • 1.3 Alat yang digunakan dalam praktikum

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

     

    1.

    Beaker glass

     

    2.

    Erlemeyer

    3.

    Labu ukur

    4.

    Kaca objek dan penutup kaca objek

     

    5.

    Pipet tetes

    6.

    Sentrifugasi

    7.

    Tabung reaksi 10ml

     

    8.

    Penangas air

    1.4

    Bahan yang digunakan dalam praktikum

     

    1.

    CuSO 4 . 5H 2 O

    2.

    NaOH

    3.

    Asam sitrat

    4.

    Na 2 CO 3 anhidrat

     

    5.

    Glukosa

    6.

    Akuades

    1.5

    Prosedur Kerja

    1.5.1

    Uji Benedict

     

    Pembuatan Reagen

     
     

    a)

    Larutkan 17,3 CuSO 4 .5H 2 O dalam 100 ml aquadest, dengan pemanasan

    b)

    Larutkan 173 g natrium sitrat dan 100 Na 2 CO 3 anhidrat dalam 600ml aquadest, panaskan, kemudian saring

    c)

    Perlahan-lahan dengan adukan yang konstan tambahkan larutan sitrat karbonat.Bersihkan seluruh CuSO 4 dengan aquadest dan tambahkan aquadest sehingga mencapai volume 100 ml

    1.5.2

    Reaksi kimia

     

    a)

    Buat serial konsentrasi glukosa 1, 10, 50, dan 100 mg/mL

    b)

    Masukkan masing-masing konsentrasi sebanyak 1 mL dalam tabung reaksi

    c)

    Tambahkan 2,5 ml reagen Benedict ke dalam tabung reaksi tersebut

    d)

    Letakkan dalam penangas air mendidih selama 2-3 menit

    e)

    Angkat dan langsung amati tiap-tiap tabung reaksi itu.

    1.5.3

    Pengamatan hasil :

     
     
    • - Biru hijau tak ada endapan

    (-)

    0,0 – 0,1 g/dl

    • - Hijau dengan endapan kuning

    (+)

    0,5 – 1,0 g/dl

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    • - Kuning

    (++)

    1,0 – 1,5 g/dl

    • - Orange

    (+++)

    1,5 – 2,5 g/dl

    • - Merah

    (++++)2,5 – 4,0 g/dl

    Catatan :

    Pemerikasaan Benedict adalah semi kuantitatif artinya dapat menentukan kira-

    kira jumlah zat yang dicari dalam bahan pemeriksaan Keuntungan : - Lebih spesifik dan semi kuantitatif Kerugian : - Kurang sensitif Hal ini disebabkan karena Benedick dengan basa lemah

    1.6 Kepustakaan

    • 1. Harper's Illustrated Biochemistry, 2009, (Editor: Murray,Robert; Rodwell, Victor; Bender, David; Botham, Kathleen M, Weil, P. Anthony; Kennelly, and Peter J), Ed. 28 th , The Mc GrawHill companies, New York

    • 2. Lehninger. 1998. Dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga.

    • 3. Poedjiadi, Anna. 2007. Dasar Biokimia. Jakarta: UI Press

    LAPORAN SEMENTARA

    Judul Percobaan

    :

    :

    Prinsip

    :

    Hari/Tanggal/jam Nama Praktikan/NIM:

    Hasil/Interpretasi

    :

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    Acc Dosen/Asisten Praktikum

    ( ) ...................................

    • 2.1 Tujuan Percobaan

    II. UJI PROTEIN

    Mahasiswa mampu memahami prinsip uji protein yang merupakan keterampilan

    dasar dalam bidang keahlian biokimia klinik.

    • 2.2 Pendahuluan

    Protein merupakan nutrisi penting yang diperlukan tubuh untuk pertahanan, pengaturan, dan pembentukan tubuh makhluk hidup. Fungsi protein sebagai pengatur berhubungan dengn pengaturan hormon-hormon yang berfungsi dalam proses pencernaan dan metabolisme. Protein juga berperan dalam menjaga keseimbangan pH

    asam dan basa tubuh. Fungsi lainnya dari protein adalah sebagai cadangan makanan dan energi dalam tubuh. Karena pentingnya fungsi protein untuk tubuh kita, maka kita perlu mencukupi kebutuhan protein setiap harinya. Berdasarkan sumbernya, protein dibagi menjadi dua, yaitu protein nabati dan protein hewani. Protein nabati berasal dari tumbuhan sedangkan protein hewani berasal dari hewan. Protein hewani mengandung profil asam amino yang lengkap termasuk asam amino esensial yang mutlak dibutuhkan untuk perkembangan tubuh.

    Ada

    beberapa

    metode

    yang

    biasa

    digunakan

    dalam

    rangka

    penentuan

    konsentrasi preotein, yaitu metode Biuret, Lowry, dan lain sebagainya. Masing-masing metode mempunyai kekurangan dan kelebihan. Pemilihan metode yang terbaik dan tepat untuk suatu pengukuran bergantung pada beberapa faktor seperti misalnya, banyaknya material atau sampel yang tersedia, waktu yang tersedia untuk melakukan pengukuran, alat spektrofotometri yang tersedia (VIS atau UV). Reagen pendeteksi

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    gugus-gugus fenolik seperti reagen folin dan ciocalteu telah digunakan dalam penentuan

    konsentrasi protein oleh Lowry yang kemudian dikenal dengan metode Lowry. Dalam

    bentuk yang paling sederhana reagen folin ciocalteu apat mendeteksi residu tirosin

    (dalam protein) karena kandungan fenolik dalam residu tersebut mampu mereduksi

    fosfotungsat dan fosfomolibdat, yang merupakan konstituen utama reagen folin

    ciocalteu, menjadi tungsten dan molibdenum yang berwarna biru. Hasil reduksi ini

    menunjukkan puncak absorbsi yang lebar pada daerah merah. Sensitifitas dari metode

    folin ciocalteu ini mengalami perbaikan yang cukup signifikan apabila digabung dengan

    ion-ion Cu.

    • 2.3 Alat yang digunakan dalam praktikum

      • 1. Beaker glass

      • 2. Erlenmeyer

      • 3. Kaca objek dan penutup kaca objek

      • 4. Mikroskop

      • 5. Sentrifugasi

      • 6. Tabung reaksi 10ml

      • 7. Waterbath

      • 8. Disposible cuvette

      • 9. Spektofotometer

        • 10. Batang pengaduk

        • 11. Pipet tetes

  • 2.4 Bahan yang digunakan dalam praktikum

    • - CuSO 4

    • - NaOH

    • - Timbal asetat

    • - Ammonium sulfat

    • - Reagen biuret

    • - Asam asetat 1 M

    • - Buffer asetat pH 4.7

    - HCl 0.1 M

    • - Barium klorida

    • - Natrium karbonat

    • - Formaldehid

    • - Putih telur (larutan sampel dan larutan protein)

    • - Etanol

    • - Aquades

    • 2.5 Prosedur Kerja

      • 2.5.1 Uji Biuret

    Tambahkan 1 mL NaOH 2.5 N ke dalam 3 mL larutan protein putih telur dan aduk

    perlahan (hindari timbulnya busa). Tambahkan satu tetes CuSO 4 0.01 M (jika

    tidak timbul warna tambahkan lagi satu tetes CuSO 4 ). Absorbansi warna dapat

    diketahui pada panjang gelombang 540 nm.

    • 2.5.2 Uji Hopkins Cole

    Ke dalam tabung reaksi, dituangkan 1 mL protein dan ditambahkan larutan

    formaldehid encer. Tambahkan 1 mL H 2 SO 4 pekat melalu dinding tabung hingga

    terjadi dua lapisan. Amati apa yang terjadi.

    • 2.5.3 Pengendapan dengan logam

    Ke dalam 3 mL larutan protein tambahkan 5 tetes HgCl 2 0.2 M. Percobaan dapat

    juga dilakukan dengan 5 tetes Pb asetat 0.2 M.

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

     

    2.5.5

    Pengendapan dengan garam

     

    Jenuhkan 10 mL larutan protein dengan amonium sulfat secara bertahap dan

    sedikit demi sedikit dengan pengadukan. Pastikan sedikit garam amonium sulfat

    hingga tidak larut. Saring larutan jenuh ini dan uji kelarutan filtrat. Terhadap

    larutan hasil penyaringan diuji dengan reagen Biuret.

     
     

    2.5.6

    Uji Koagulasi

     

    Tambahkan 2 tetes asam asetat 1 M ke dalam 5 mL larutan protein. Kemudian

    panaskan larutan ini selama 5 menit. Ambil endapan dan uji kelarutan endapan

    dalam air serta reaksikan dengan reagen Biuret.

     
     

    2.5.7

    Pengendapan dengan alkohol

     

    Tabung

    1

    2

    3

     

    Larutan putih telur

    mL

    • 5 mL

    5

    mL

    5

     

    HCl 0.1 M

    • 1 mL

    -

    -

     

    NaOH 0.1 M

    • - mL

    1

    -

    Buffer asetat pH 4.7

    • - mL

    -

    1

    Etil alkohol

    • 6 mL

    • 6 mL

    mL

    6

    Perhatikan setiap tabung percobaan tersebut, dan catat perubahan pada masing-

    masingnya. Tabung mana yang menunjukkan protein tidak larut ? Apakah kelarutan

    protein dalam air tersebut terjadi pada titik isoelektriknya ?

     

    2.5.8

    Denaturasi protein

     

    Tabung

    1

    2

    3

     

    Larutan putih telur

    mL

    • 9 mL

      • 9 mL

    9

    Buffer asetat pH 4.7

    HCl 0.1 M

    mL

    • 1 mL

    -

    1

     
    • - -

    -

     

    NaOH 0.1 M

    • - mL

    1

    -

    Panaskan kesemua tabung percobaan itu dalam air mendidih selama 15 menit dan

    dinginkan pada temperatur kamar. Tabung mana yang kelihatan proteinnya

    mengendap ? Selanjutnya untuk tabung 1 dan 2 tambahkan 10 mL buffer asetat pH 4.7,

    apa hasilnya?

    2.6 Kepustakaan

    • 1. Harper's Illustrated Biochemistry, 2009, (Editor: Murray,Robert;

    Rodwell, Victor; Bender, David; Botham, Kathleen M, Weil, P. Anthony;

    Kennelly, and Peter J), Ed. 28 th , The Mc GrawHill companies, New York

    • 2. Lehninger. 1998. Dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga.

    • 3. Poedjiadi, Anna. 2007. Dasar Biokimia. Jakarta: UI Press

    LAPORAN SEMENTARA

    Judul Percobaan

    :

    Prinsip

    :

    Hari/Tanggal/jam

    :

    Nama Praktikan/NIM:

    Hasil/Interpretasi

    :

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    Acc Dosen/Asisten Praktikum

    ( ) ...................................

    III. UJI LIPID DAN KOLESTEROL

    • 3.1 Tujuan Percobaan

    Mahasiswa mampu memahami prinsip uji lipid dan kolesterol yang merupakan

    keterampilan dasar dalam bidang keahlian biokimia klinik.

    • 3.2 Pendahuluan

    Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal lemak atau lipid, Lemak dan minyak

    ditemui permukaan kulit manusia, bahkan lemak bisa dengan mudah dilihat dalam

    kehidupan nyata sebagai minyak goreng, margarin dan mentega. Minyak umumnya

    berasal dari tumbuhan, contohnya minyak jagung, minyak zaitun, minyak kacang, dan

    lain-lain. Walaupun lemak berbentuk padat dan minyak adalah cairan, keduanya

    mempunyai struktur dasar yang sama. Lemak dan minyak adalah triester dari gliserol,

    yang dinamakan trigliserida. Lemak atau lipid adalah senyawa biomolekul yang

    digunakan sebagai sumber energi dan merupakan komponen struktural penyusun

    membran serta sebagai pelindung vitamin atau hormon. Lipid dapat dibedakan menjadi

    trigliserida, fosfolipid, dan steroid.

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    Kolesterol merupakan prekursor utama biosintesis hormon-hormon steroid,

    misalnya androgen dan glukortinoid, yang berperan dalam pembentukan membrane sel-

    sel eukariotik. Kolesterol adalah biomolekul sejenis lipid yang mempunyai rangkaian

    empat struktur siklik lima atau enam karbon. Kolesterol dapat ditemukan dalam

    membran sel dan disirkulasikan dalam plasma darah.

    Kolesterol memiliki kelarutan yang rendah dalam air dan tidak larut dalam darah

    sehingga kolesterol diangkut dalam darah dengan bentuk partikel seperti bola dan

    dibawa oleh protein yang disebut lipoprotein. Lapisan luar lipoprotein terbentuk dari

    kolesterol ampifilik dan molekul fosfolipid, dipenuhi dengan protein, yang mengelilingi

    inti hidrofobik trigliserida dan kolesterol ester. Terdapat lima jenis protein, yaitu

    kilomikron, very low density lipoprotein (VLDL), intermediet density lipoprotein (IDL),

    low density lipoprotein (LDL), dan high density lipoprotein (HDL). Kilomikron dan

    VLDL lebih banyak mengandung porsi trigliserida, sedangkan LDL dan HDL lebih

    banyak mengandung porsi kolesterol.

    Penentuan kolesterol secara akurat menjadi penting karena berhubungan erat

    dengan terjadinya penyakit jantung koroner. Penentuan kadar kolesterol dalam pangan

    sangat dipengaruhi oleh metode yang digunakan dalam menganalisisnya, baik pada saat

    ekstraksi maupun saat penentuan kuantitatifnya. Penentuan kadar kolesterol total dari

    serum dapat dilakukan dengan beberapa metode, di antaranya gravimetri, spektrometri,

    dan enzymatic assay.

    • 3.3 Alat yang digunakan dalam praktikum

    1.

    Beaker glass

    2.

    Erlenmeyer

    3.

    Kaca objek dan penutup kaca objek

    4.

    Mikroskop

    2.

    Sentrifugasi

    3.

    Tabung reaksi 10ml

    4.

    Waterbath

    5.

    Rak tabung reaksi

    6.

    Pipet tetes

    • 3.4 Bahan yang digunakan dalam praktikum

    1.

    pereaksi untuk lipid

    2.

    kertas saring

    3.

    pelarut organik

    4.

    minyak goreng

    5.

    kuning telur

    6.

    akuades

    7.

    empedu ayam

    • 3.5 Prosedur Kerja

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    • 3.5.1 Uji kelarutan lipid

    1.

    Disiapkan

    5

    tabung

    reaksi

    yang

    bersih dan berturut-turut dimasukkan

    sebanyak 1 mL : air suling, alkohol 96%, heksan, dan kloroform serta larutan

    natrium karbonat 0.5%.

     

    2.

    Ke dalam tabung tambahkan juga 10 tetes minyak goreng

    3.

    Semua tabung dikocok merata dan amati apa yang terjadi di dalam tabung

    • 3.5.2 Uji pembentukan emulsi

     

    Disiapkan tabung-tabung reaksi yang bersih dan kering. Berturut-turut diisi

    dengan :

     

    Tabung 1 : diisi 2 mL akuades dan 2 tetes minyak goreng

    Tabung 2 : diisi 2 mL akuades, 2 tetes minyak goreng, dan 2 tetes larutan natrium

    karbonat 0.5%

     

    Tabung 3 : diisi 2 mL larutan empedu yang encer (empedu yang dihaluskan) dan

    2 tetes minyak goreng.

     

    Dikocak semua tabung dengan merata dan amati apa yang terjadi di dalam

    tabung. Tulis dan catat semua pengamatan dengan rapi.

    • 3.5.3 Uji penyabunan lipid

     

    1.

    Tetesi minyak goreng pada kaca porselin dan tes pH nya dengan kertas pH

    stick. Catat berapa pH minyak goreng yang anda periksa.

    2.

    Masukkan 5 mL minyak goreng dalam tabung reaksi

    3.

    Tambahkan 1.5 NaOH dan 25 mL alkohol 96%

    4.

    Dipanaskan hingga mendidih selama 15 menit

    5.

    Untuk mengetahui apakah penyabunan ini telah berlangsung sempurna, maka

    diambil 3 tetes larutan dan tambah akuades. Jika larut berarti penyabunan

    telah terjadi.

    6.

    Dinginkan, dan tambahkan 75mL akuades dan dipanakan kembali hingga

    semua sabun larut.

    • 3.5.4 Uji Kolesterol

    1. Kuning telur sebanyak 10 mL dikocok dengan 10 mL kloroform hingga merata

    dan tambahkan 10 mL heksan. Kocok kembali dan biarkan larutan membentuk

    dua lapisan. Ambil larutan yang bewarna kekuningan, dan endapan dibuang.

    Buka tutup batung dalam lemari asam hingga heksan dan kloroform menguap

    dan larutan jadi agak kental.

    2. Selanjutnya disiapkan 2 tabung reaksi yang bersih dan kering, tabung pertama

    diisi dengan minyak goreng dan tabung ke dua diisi dengan larutan heksan-

    kuning telur yang telah disiapkan tadi.

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    • 3. Pada masing-masing tabung tambahkan kloroform sebanyak 1 mL dan 10 tetes asam asetat anhidrat.

    • 4. Melalui dinding tabung, tambahkan 3 tetes asam sulfat pekat

    • 5. Dikocok hati-hati dan didiamkan beberapa detik

    • 7. Terhadap perubahan yang terjadi dalam tabung, amatilah dengan seksama dan dicatat dengan rapi.

    3.5.5 Uji kristal kolesterol

    • 1. Dilarutkan sedikit kolesterol dengan air panas di atas kaca objek

    • 2. Diambil satu tetes larutan tersebut dan dipersiaplan pada kaca preparat

    • 3. Tambahkan alkohol lalu biarkan hingga terjadi kristal dan alkohol menguap

    • 4. diperiksa kristal yang terjadi di bawah mikroskop

    3.6 Kepustakaan

    • 1. Harper's Illustrated Biochemistry, 2009, (Editor: Murray,Robert; Rodwell, Victor; Bender, David; Botham, Kathleen M, Weil, P. Anthony; Kennelly, and Peter J), Ed. 28 th , The Mc GrawHill companies, New York

    • 2. Lehninger. 1998. Dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga.

    • 3. Poedjiadi, Anna. 2007. Dasar Biokimia. Jakarta: UI Press

    LAPORAN SEMENTARA

    Judul Percobaan

    :

    Prinsip

    :

    Hari/Tanggal/jam

    :

    Nama Praktikan/NIM:

    Hasil/Interpretasi

    :

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    Acc Dosen/Asisten Praktikum

    (

    ...................................

    )

    IV. PENETAPAN KADAR GULA DARAH

    • 4.1 Tujuan Percobaan

    Mahasiswa mampu memahami prinsip penetapan kadar gula dan protein darah

    sebagai salah satu muatan kompetensi dalam bidang keahlian biokimia klinik.

    • 4.2 Pendahuluan

    Darah adalah jaringan penghubung khusus sebagai alat transpor yang membantu

    tubuh mengantarkan zat-zat gizi oksigen dan mengeluarkan sisa-sisa metabolisme sel

    dan jaringan tubuh makhluk hidup.

    Pada manusia, darah juga mengantarkan protein dan peptida serta hormon yang

    mampu melindungi tubuh dan membantu memperbaiki sistem jaringan yang rusak.

    Karakteristik darah manusia:

    pH darah dari 7,35 – 7,45; Kisaran ini memungkinkan keseimbangan cairan

    normal dan elektrolit

    Kekentalan Darah 3 - 4,5 Lebih kental dibandingkan dengan air yang

    dijernihkan

    Suhu, di pusat tubuh 37 0 C; Suhu ekstremitas bervariasi sesuai dengan

     

    lingkungan

    Komponen darah :

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    Air

    Protein : protein plasma (albumin, globulin), fibrin, fibrinogen dan thrombin

    Ion-Ion : Fe+2, Ca+2, Na+1, Cl-1, PO4-3, CO3-2, K+1,

    Zat-zat gizi: glukosa, asam amino, dan asam lemak

    Sisa-sisa metabolisme

    • 4.3 Alat yang digunakan dalam praktikum

      • 1. Beaker glass

      • 2. Erlenmeyer

      • 3. Kaca objek dan penutup kaca objek

      • 4. Mikroskop

      • 5. Sentrifugasi

      • 6. Tabung reaksi 10ml

      • 7. Lampu spiritus

      • 8. Disposible cuvette

      • 9. Spektofotometer

  • 4.4 Bahan yang digunakan dalam praktikum

    • 1. Zincsulfat 0,45 %

    • 2. NaOH 0,1 N

    • 3. K 3 Fe(CN) 6 0,005 N

    • 4. KI

    • 5. Asetic acid

    • 6. Amilum

    • 7. Na 2 S 2 O 3 0,005 N

    • 8. Darah

  • 4.5 Prosedur Kerja

    • 1. Campur NaOH dengan ZnSO 4 dalam testube masing-masing 1 ml dan 5 ml

    • 2. Tambahkan 0,1 ml darah kapiler, campur, lalu rebus selama 4 menit

    • 3. Saring dan cuci dengan akuades melalui saringan kapas (2 x 3 ml), Air cucian masukan ke filtrate

    • 4. Filtral ditambah dengan 2 ml K 3 Fe(CN) 6 rebus selama 15 menit, dinginkan lalu tambah 3 ml KI dan 2 ml acetic acid

    • 5. Tambahkan 2 -3 tetes amilum lalu titer dengan Na tiosulfat

    • 6. Blanko dibuat sama tapi tanpa darah, perlakuan yang lain sama

    • 7. Catat Na 2 SO 3 terpakai, kadar gula lihat table (sample-blanko)

  • Percobaan dapat dilakukan dengan kolorimetri sederhana dengan reagen Fehling A dan

    Fehling B, dengan pemanasah hingga timbulnya warna. Pertama sekali dibuat serial

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    kosentrasi glukosa 0.1, 0.3, 1, 3 dan 10 mg/mL untuk kurva kalibrasi. Pengukuran

    dilakukan pada panjang gelombang 540 nm suhu ruang. Sampel diperiksa dan kadarnya

    diketahui dengan menggunakan kurva kalibrasi yang telah diperoleh.

    4.6 Kepustakaan

    • 1. Harper's Illustrated Biochemistry, 2009, (Editor: Murray,Robert; Rodwell, Victor; Bender, David; Botham, Kathleen M, Weil, P. Anthony; Kennelly, and Peter J), Ed. 28 th , The Mc GrawHill companies, New York

    • 2. Lehninger. 1998. Dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga.

    • 3. Poedjiadi, Anna. 2007. Dasar Biokimia. Jakarta: UI Press

    • 4. Miner, S.E.S., J. Evrovski, and D.E.C. Cole, Clinical Chemistry and Molecular Biology of Metabolism: An update. Clinical Biochemistry, 2007. 30(3): p. 189-
      201.

    LAPORAN SEMENTARA

    Judul Percobaan

    :

    Prinsip

    :

    Hari/Tanggal/jam

    :

    Nama Praktikan/NIM:

    Hasil/Interpretasi

    :

    Acc Dosen/Asisten Praktikum

    ( ) ...................................

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    V. PEMERIKSAAN TERHADAP URIN

    • 5.1 Tujuan Percobaan

    Mahasiswa mampu memahami prinsip pemeriksaan terhadap urin sebagai salah

    satu muatan kompetensi dalam bidang keahlian biokimia klinik.

    • 5.2 Pendahuluan

    Secara umum urin berwarna kuning. Urin yang didiamkan agak lama akan

    berwarna kuning keruh. Urin berbau khas yaitu berbau ammonia. pH urin berkisar

    antara 4,8 – 7,5 dan akan menjadi lebih asam jika mengkonsumsi banyak protein serta

    urin akan menjadi lebih basa jika mengkonsumsi banyak sayuran. Berat jenis urin

    yakni 1,002 – 1,035 g/ml. Komposisi urin terdiri dari 95% air dan mengandung zat

    terlarut. Di dalam urin terkandung bermacam – macam zat, antara lain (1) zat sisa

    pembongkaran protein seperti urea, asam ureat, dan amoniak, (2) zat warna empedu

    yang memberikan warna kuning pada urin, (3) garam, terutama NaCl, dan (4) zat – zat

    yang berlebihan dikomsumsi, misalnya vitamin C, dan obat – obatan serta juga

    kelebihan zat yang yang diproduksi sendiri oleh tubuh misalnya hormon.

    Urin yang normal tidak mengandung protein dan glukosa. Jika urin mengandung

    protein, berarti telah terjadi kerusakan ginjal pada bagian glomerulus. Jika urin

    mengandung gula, berarti tubulus ginjal tidak menyerap kembali gula dengan sempurna.

    Hal ini dapat diakibatkan oleh kerusakan tubulus ginjal. Dapat pula karena kadar gula

    dalam darah terlalu tinggi atau melebihi batas normal sehingga tubulus ginjal tidak

    dapat menyerap kembali semua gula yang ada pada filtrat glomerulus. Kadar gula yang

    tinggi diakibatkan oleh proses pengubahan gula menjadi glikogen terlambat, kerena

    produksi hormon insulin terhambat. Orang yang demikian menderita penyakit kencing

    manis (diabetes melitus). Zat warna makanan juga dikeluarkan melalui ginjal dan sering

    memberi warna pada urin. Bahan pengawet atau pewarna membuat ginjal bekerja keras

    sehingga dapat merusak ginjal. Adanya insektisida pada makanan karena pencemaran

    atau terlalu banyak mengkonsumsi obat – obatan juga dapat merusak ginjal.

    Analisa urin itu penting, karena banyak penyakit dan gangguan metabolisme

    dapat diketahui dari perubahan yang terjadi didalam urin. Zat yang dapat dikeluarkan

    dalam keadaan normal yang tidak terdapat adalah glukosa, aseton, albumin, darah dan

    nanah. Pemeriksaan urin merupakan pemeriksaan yang dipakai untuk mengetahui

    adanya kelainan di dalam saluran kemih yaitu dari ginjal dengan salurannya, kelainan

    yang terjadi di luar ginjal, untuk mendeteksi adanya metabolit obat seperti zat narkoba

    dan mendeteksi adanya kehamilan.

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    Bahan urin yang biasa di periksa di laboratorium dibedakan berdasarkan

    pengumpulannya yaitu : urin sewaktu, urin pagi, urin puasa, urin postprandial (urin

    setelah makan) dan urin 24 jam (untuk dihitung volumenya). Tiap-tiap jenis sampel urin

    mempunyai kelebihan masing-masing untuk pemeriksaan yang berbeda misalnya urin

    pagi sangat baik untuk memeriksa sedimen (endapan) urin dan urin postprandial baik

    untuk pemeriksaan glukosa urin. Jadi sebaiknya sebelum kita melakukan pemeriksaan

    urin sebaiknya meminta keterangan dari petugas laboratorium tentang bahan urin yang

    mana yang diperlukan untuk pemeriksaan.

    Pemeriksaan urin terbagi menjadi dua jenis yaitu pemeriksaan kimiawi dan

    pemeriksaan sedimen. Sebagaimana namanya dalam pemeriksaan kimia yang diperiksa

    adalah pH urin / keasaman, berat jenis, nitrit, protein, glukosa, bilirubin,

    urobilinogen,dll. Jenis zat kimia yang diperiksa merupakan penanda keadaan dari

    organ2 tubuh yang hendak didiagnosa. Seperti penyakit “kuning” yang disebabkan oleh

    bilirubin darah yang tinggi biasanya menghasilkan urin yang mengandung kadar

    bilirubin diatas normal. Begitu pula zat kimia lainnya yang dihubungkan dengan

    keadaan organ tubuh yang berbeda.

    • 5.3 Alat yang digunakan dalam praktikum

      • 1. Beaker glass

      • 2. kertas pH stick

      • 3. Kaca objek dan penutup kaca objek

      • 4. Mikroskop

      • 5. Pengukur berat jenis

      • 6. Tabung reaksi 10ml

      • 7. Waterbath

  • 5.4 Bahan yang digunakan dalam praktikum

    • 1. Pereaksi kimia

    • 2. Pelarut organik

    • 3. urin pagi

    • 4. urin sewaktu

    • 5. Akuades

  • 5.5 Prosedur Kerja 5.5.1 Volume

  • Volume urine normal orang dewasa 800 – 1600 ml/24 jam tergantung

    dari pemasukan cairan, penguapan dan sebagainya

    Volume urine siang hari biasanya 3 – 4 x volume urine malam hari

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    Peningkatan jumlah urine (poliuri) ditemukan pada diabetes mellitus,

    diabetes insipidus, nefritis kronis, pada saat keadaan edema menghilang

    dan masa penyembuhan dari penyakit febris acuta

    Pengurangan jumlah urine (oliguri) ditemukan pada nefritis akut,

    aklampsi, diare berat. Muntah-muntah hebat, terlalu banyak keluar

    keringat dan demam.

    Anuri (tidak terbentuk urine) terjadi pada colaps dengan tekanan darah

    sistolik < 70 mmHg, nefritis akut yang berat dan keracunan HgCl 2

    • 5.5.2 Warna Warna urine normal adalah kuning muda, hal ini disebabkan karena

    adanya pigmen dalam uirine (urokrom dan urobilin)

    Warna urine dipengaruhi oleh banyak factor, antara lain :

    • a. Konsentrasi urine, makin pekat warna urine makin gelap

    • b. Keasaman urine, makin alkalis warna urine makin gelap

    • c. Pigmen-pigmen abnormal dalam urine dan obat-obatan misalnya

      • - Darah, menyebabkan urine berwarna merah, coklat, keruh (berawan)

      • - Bilirubin, menyebabkan urine berwarna kuning tua, coklat kehijauan

      • - Fenol, salisilat dan resorsinol, menyebabkan urine berwarna hijau gelap

      • - Antipirin menyebabkan urine berwarna kuning hitam

      • - Phenacetin, menyeyebabkan urine berwarna kuning.

    • 5.5.3 Kekeruhan Urine normal biasanya jernih, dapat terjadi kekeruhan karena :

      • a. Fosfat dan nanah Kekeruhan putih dan tebal dalam urine alkalis atau netral disebabkan karena fosfat atau corbonat atau pus/nanah. Fosfat/carbonat menghilangkan pada penambahan asam cuka 6% (carbonat akan timbul gas), sedangkan pada pus tidak hilang pada penambahan asam

      • b. Darah Darah menyebabkan urine merah keruh, pada pemerikasaan sedimen ditemukan erythrocyte

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    c.

    Bakteri

    Biasanya kekeruhan merata, bakteri dapat dilihat dalam sedimen

    dengan pewarnaan gram

    d.

    Spermatozoa

    • 5.5.4 Keasaman / Reaksi

    Urine normal mempunyai pH antara 4,7 – 7,5 dengan rata-rata 6,0

    Untuk memeriksa pH urine dipakai kertas lakhmus merah dan kertas

    lakhmus biru.

    Bila lakhmus biru dicelupkan dalam urine berubah menjadi merah,

    bearti urine asam

    Bila lakhmus merah dicelupkan dalam urine berubah menjadi biru,

    bearti urine alkalis.

    Bila kertas lakhmus merah dan kertas lakhmus biru dicelupkan ke

    dalam urine kedua-duanya tidak berubah warna, berarti urine netral

    pH diukur dengan kertas pH atau kertas nitrazin, caranya kita ambil

    sedikit kertas, celupkan dalam urine dan warnanya disesuaikan dengan

    warna standar

    Pemeriksaan urine harus selalu dilakukan dengan urine yang asam

    • a. Pemeriksaan protein harus dilakukan dengan urine yang asam

    • b. Interprestasi hasil pemeriksaan urine lebih mudah, bila kita mengetahui reaksi dan berat jenis urine

    Manfaat pemeriksaan keasaman urine dalam klinik

    a) Urine baru yang alkalis pada penderita peradangan saluran kencing

    menunjukkan adanya infeksi oleh “Urea Splitting Organisme“ yang sangat

    resisten terhadap antibiotic, sehingga sering merupakan indikasi untuk

    operasi radikal

    • b) Penderita dengan asidosis (koma diabetikum) membutuhkan terapi dengan alkali atau atas penuntun alkali reserve

    • 5.5.5 Berat Jenis

    Dipakai urinometer yang kecil, dengan skala 1.000 – 1.040, yang selalu

    dikalibrasikan pada temperature 15 0 C

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    Normal Bj urine sewaktu adalah 1.002 – 1.030, sedangkan urine 24 jam

    adalah 1.015 – 1.025

    Hasil pemeriksaan Bj harus dikoreksi terhadap :

    • a. Suhu Ruang

    Per 3 0 C diatas 15 0 C

    hasil ditambah 1 (0.001)

    Per 3 0 C dibawah 15 0

    hasil dikurang 1 (0.001)

    • b. Kadar Gula

    Per 1 % glukosa

    hasil dikurang 4 (0.004)

    • c. Kadar protein

    Per 1 % protein

    hasil dikurang 3 (0.003)

    Contoh :

    Pada penetapan Bj urine yang mempunyai kadar glukosa 1 % dan kadar protein

    1 % didapatkan hasil Bj adalah 1010 pada suhu ruangan 18 0 C.

    Maka nila Bj yang sebenarnya pada urine tersebut adalah :

    1010 +

    1

    -

    4

    -

    3

    =

    1004

    Bila jumlah urine tidak cukup untuk pemeriksaan berat jenis maka tambahkan

    air dengan jumlah yang sama dan hasil pemeriksaan dikalikan dua terhadap tiga

    angka dibelakang koma.

    Arti Klinis Pemeriksaan Berat Jenis Urine :

    • a. Membantu mengdiagnosa glukosuri pada penderita koma, pada penderita koma diabetika didapat urine yang sangat jernih tetapi mempunyai berat jenis yang tinggi.

    • b. Untuk mengetahui faal ginjal, melalui perobaan konsentrasi menurut Fisshberg:

    Penderita tidak diperbolehkan minum lagi sesudah jam 18.00

    Tidak boleh makan bahan makanan yang mengandung air

    Boleh kencing sewaktu-waktu

    Yang diperiksa adalah urine pagi

    Bila berat jenis urine ini melebihi 1020, bearti faal ginjal sangant baik

    Bila berat jenis kurang dari 1020, ada beberapa kemungkinan

    1.

    Ada gangguan faal ginjal akibat penyakit primer dari ginjal (Glomerulo

    nefritis),dsb

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    • 2. Ada udem yang dikeluarkan pada malam hari, misalnya pada penderita dekompensasi jantung

    Dalam klinik, percobaan konsentrasi menurut Fishberg ini dilakukan :

    • a. Bila diduga adanya suatu penyakit ginjal yang primer

    • b. Bila diduga adanya dekompensasi jantung

    Keuntungan percobaan konsentrasi menurut Fishberg ini adalah :

    • a. Mudah dikerjakan tanpa menyulitkan penderita

    • b. Selain memeriksa faal ginjal kita sekaligus memperoleh urine dengan berat

    jenis tinggi untuk pemeriksaan bahan-bahan yang sering kali negatif bila

    dilakukan pada urine yang mempunyai berat jenis rendah

    • 5.5.6 Bau

    Bau urine normal disebabkan oleh sebagian asam-asam organic yang mudah

    menguap, yaitu :

    • a. Bau aromatic, timbul karena pemecahan urem dalam urine oleh bakteri

    • b. Bau buah (fruity) terdapat pada ketonuria

    • c. Bau jengkol terdapat pada keracunan jengko dengan proteinuria

    • 5.5.7 Unsur Sedimen Urine Organik

      • 1. Erytrocyte

        • - Normal dapat dijumpai 0 – 1 / LPB (perbesaran obyektif 40 x)

        • - Eritrocyte ini dapat dilihat dalam bentuk-bentuk :

          • a. Bentuk normal Bentuk bundar, batas tegas dengan diameter sama besar yaitu + 7 µ dan berwarna kuning muda. Bentuk ini dapat dijumpai pada urine baru.

          • b. Bentuk berduri (Creanated) Berbentuk seperti durian, terdapat pada urine dengan berat jenis tinggi, karena erythrocyte kehilangan cairan

      • - Arti Klinis Erytrocyte Terdapat erythrocyte pada sedimen, selalu mempunyai arti penting, terutama bila dijumpai pada pria. Bila dijumpai pada wanita, maka

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    pemeriksaan harus diulangi dengan “Gewassen Urine” atau

    “Catheter Urine”

    • - Erytrocyte dalam urine disebabkan oleh :

    Pendarahan

    : tumor ginjal, karsinoma kandung kemih

    Trauma

    : batu, Kristal, dsb

    Peradangan

    : TBC, glomerulonefritis, dsb

    Ditemukannya erythrocyte dalam sedimen merupakan indikasi untuk

    pemeriksaan yang lebih teliti

    Keterangan

    Gewassen Urine

     

    Wanita :

     

    Vagina dicuci dahulu, terutama sekitar urethra. Waktu berkemih, labia

    dibuka kemudian diambil “midstream urine” yaitu bagian pertama urine

    yang keluar dibiarkan dahulu, kemudian diambil urine yang berikutnya,

    urine yang terakhir juga tidak diambil

     

    Pria :

    Lubang urethra dibersihkan, peputium dibuka lebar. Diambil “medistream

    urine

    √ Urine Catheter

    Banyak klinisi yang berkeberatan untuk melakukan katheterisasi karena sering

    menyebabkan infeksi. Oleh karena itu sebaiknya jangan melakukan katheterisasi

    hanya untuk pemeriksaan urine saja.

    • 2. Leucocyte

      • - Dalam keadaan normal terdapat < 6 leucocyte / LPB

      • - Leucocyte berdiameter kira-kira 11 µ, batas tidak jelas dan selalu penuh dengan granula

      • - Pada urine baru masih tampak gerakan amuboid, pada urine alkalis sering berkelompok

      • - Arti klinis leucocyte dalam urine

    Adanya leucocyte dalam sedimen menunjukkan suatu peradangan disalah

    satu tempat dalam system urogenitalia

    • 3. Silinder

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    Patogenesis terjadinya silinder

    Pengendapan albumin / protein baik itu albumi yang berasal dari

    filtrate ataupun secret tubuli (Thramhorsfall) akan menjaring bahan-

    bahan yang banyak ditemukan dalam urine. Oleh karena itu dapat

    ditemukan bermacam macam silinder tergantung dari bahan yang

    banyak terkandung dalam urine tersebut

    Macam-macam silinder

    • a. Silinder Hialin

    Silinder ini tampak pucat bening homogeny

    Untuk memperjelas dapat diwarnai dengan menambahkan

    kalium iodide dimana silinder akan tampak berwarnakuning

    Silinder ini dijumpai pada nefritis akut, juga pada ikhterus

    tanpa albuminuria dan pada orang sehat setelah olahraga

    • b. Silinder Epitel

    Silinder ini mengandung beberapa sel epitel (1-2 sel epitel)

    Bila nefritis masih akut, maka struktur sel epitel tersebut

    masih jelas, tetapi bila prosesnya menjadi sebacuta atau

    chronic maka struktur epitel akan berubah menjadi butir-butir

    lemak

    Adanya silinder ini menunjukkan proses degenerasi yang

    berat dari epitel tubuli ginjal

    • c. Silinder Berbutir

    Silinder ini mengandung butir-butir halus sampai kasar

    Materi dari butir-butir ini adalah albumin, sel epitel, lemak,

    leucocyte dan erythrocyte yang rusak

    Silinder ini biasanya dijumpai pada nefritis chronic

    • d. Silinder Erytrocyte

    Silinder ini mengandung sel-sel erythrocyte

    Biasanya dijumpai pada nefritis acuta

    • e. Silinder Leucocyte

    Silinder ini mengandung leucocyte

    • f. Silinder Lemak

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    Silinder ini mengandung butir-butir lemak

    Biasanya dijumpai pada stadium lanjut nefritis berat

    • g. Silinder lilin

    Silinder ini tidak berwarna, lebih besar dari silinder hialin,

    pinggirannya sering tidak rata oleh karena adanya lekukan-

    lekukan

    Biasanya dijumpai pada perubahan degenerasi berat pada

    ginjal, kadang-kadang dijumpai pada amiloid ginjal

    • h. Silinder Campuran

    Silinder ini mengandung bermacam-macam unsure, misalnya

    campuran epitel, lemak dan erythrocyte

    • i. Silinder Fibrin

    Silinder ini mengandung fibri

    Silinder ini adalah silinder palsu

    • 4. Sel epitel

      • - Sel ini berasal dari ginjal, urether, kandung kemih dan urethra

      • - Yang paling penting adalh sel epitel dari tubuli ginjal, sel ini lebih kecil dari sel epitel urether dan kandung kemih tetapi lebih besar dari leucocyte

      • - Biasanya sel epitel selalu terdapat dalam urine, pada glomerulonefritis sel-sel ini bertambah banyak

  • 5. Spermatozoa

    • - Biasanya dijumpai pada urine setelah coitus

    • - Spermatozoa mempunyai bentuk badan oval memanjang, tipis dan mempunyai ekor halus

  • 6. Parasit Sering ditemukan :

  • Schistosoma

    Trichomonas vaginalis

    • 5.5.7 Pemeriksaan Unsur Sedimen Bukan Organik Yang termasuk unsur ini adalah Kristal dan amorf Kristal yang dapat dijumpai dalam keadaan normal :

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    • 1. Dalam suasana asam :

      • - Kristal asam urat

      • - Kristal calcium oksalat

    • 2. Dalam suasana basa :

      • - Kristal triple phosphate

      • - Kristal kalsium fosfat

      • - Kristal kalsium carbonat

    Kristal yang dijumpai dalam urine abnormal :

    • 1. Kristal sistin : dijumpai pada kelainan konginetal

    • 2. Kristal tyrosin dan leusin : dijumpai pada penyakit hepar yang berat

    Bahan amorf yang dapat ditemukan pada pemeriksaan sedimen, misalnya :

    • - Amorf urat dalam urine asam

    • - Amorf fosfat dalam urine alkali.

    5.6 Kepustakaan

    • 1. Harper's Illustrated Biochemistry, 2009, (Editor: Murray,Robert; Rodwell, Victor; Bender, David; Botham, Kathleen M, Weil, P. Anthony; Kennelly, and Peter J), Ed. 28 th , The Mc GrawHill companies, New York

    • 2. Lehninger. 1998. Dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga.

    • 3. Poedjiadi, Anna. 2007. Dasar Biokimia. Jakarta: UI Press

    • 4. Miner, S.E.S., J. Evrovski, and D.E.C. Cole, Clinical Chemistry and Molecular Biology of Metabolism: An update. Clinical Biochemistry, 2007. 30(3): p. 189-
      201

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    LAPORAN SEMENTARA

    Judul Percobaan

    :

    Prinsip

    :

    Hari/Tanggal/jam

    :

    Nama Praktikan/NIM:

    Hasil/Interpretasi

    :

    Acc Dosen/Asisten Praktikum

    (

    ...................................

    )

    VI. PENENTUAN PROTEIN DALAM URIN

    • 6.1 Tujuan Percobaan

    Mahasiswa mampu memahami prinsip penentuan protein dalam urin sebagai

    salah satu muatan kompetensi dalam bidang keahlian biokimia klinik.

    • 6.2 Pendahuluan

    Sistem urin tersusun atas ginjal, ureter, vesica urinaria, dan urethra. Berfungsi

    membantu terciptanya homeostasis dan pengeluaran sisa-sisa metabolisme. Ginjal selain

    berfungsi sebagai alat ekskresi juga berperan menghasilkan hormon seperti: renin-

    angiotensin dan erythropoetin.

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    Urin merupakan keluaran akhir yang dihasilkan ginjal sebagai akibat kelebihan

    urine dari penyaringan unsur-unsur plasma (Frandson, 1992). Urine atau urin

    merupakan cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal kemudian dikeluarkan dari dalam

    tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urine diperlukan untuk membuang molekul-

    molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis

    cairan tubuh. Urine disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung

    kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra (Ningsih, 2012). Proses

    pembentukan urin di dalam ginjal melalui tiga tahapan yaitu filtrasi (penyaringan),

    reabsorpsi (penyerapan kembali), dan augmentasi (penambahan) (Budiyanto, 2013).

    Pada filtrasi terjadi proses sebagai berikut. Filtrasi darah terjadi di glomerulus,

    yaitu kapiler darah yang bergelung-gelung di dalam kapsul Bowman. Pada glomerulus

    terdapat sel-sel endotelium sehingga memudahkan proses penyaringan. Selain itu, di

    glomerulus juga terjadi pengikatan sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar

    protein plasma agar tidak ikut dikeluarkan. Hasil proses infiltrasi ini berupa urine

    primer (filtrate glomerulus) yang komposisinya mirip dengan darah, tetapi tidak

    mengandung protein. Di dalam urine primer dapat ditemukan asam amino, glukosa,

    natrium, kalium, ion-ion, dan garam-garam lainnya (Budiyanto, 2013).

    Proses reabsorpsi terjadi di dalam pembuluh (tubulus) proksimal. Proses ini

    terjadi setelah urine primer hasil proses infiltrasi mengalir dalam pembuluh (tubulus)

    proksimal. Bahan-bahan yang diserap dalam proses reabsorpsi ini adalah bahan-bahan

    yang masih berguna, antara lain glukosa, asam amino, dan sejumlah besar ion-ion

    anorganik. Selain itu, air yang terdapat dalam urine primer juga mengalami reabsorpsi

    melalui proses osmosis, sedangkan reabsorpsi bahan-bahan lainnya berlangsung secara

    transpor aktif. Proses penyerapan air juga terjadi di dalam tubulus distal. Kemudian,

    bahan-bahan yang telah diserap kembali oleh tubulus proksimal dikembalikan ke dalam

    darah melalui pembuluh kapiler yang ada di sekeliling tubulus. Proses reabsorpsi ini

    juga terjadi di lengkung Henle, khususnya ion natrium. Hasil proses reabsorpsi adalah

    urine sekunder yang memiliki komposisi zat-zat penyusun yang sangat berbeda dengan

    urine primer. Dalam urine sekunder tidak ditemukan zat-zat yang masih dibutuhkan

    tubuh dan kadar urine meningkat dibandingkan di dalam urine primer.

    6.3 Alat yang digunakan dalam praktikum

    • 1. Beaker glass

    • 2. Erlenmeyer

    • 3. Kaca objek dan penutup kaca objek

    • 2. Mikroskop

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    • 3. Sentrifugasi

    • 4. Tabung reaksi 10ml

    • 5. Waterbath

    • 6. Disposible cuvette

    • 7. Spektofotometer

    • 8. Hotplate

    • 9. Pipet tetes

    10. Stopwatch

    • 6.4 Bahan yang digunakan dalam praktikum

      • 1. Asam asetat 10%

      • 2. Natrium asetat

      • 3. Asam asetat glacial

      • 4. Aquadest

      • 5. Urine

  • 6.5 Prosedur Kerja

  • 6.5.1 Tes Pemanasan Dengan Asam Asetat

    6.5.1.1 Prinsip

    Protein akan membentuk andapan/menggumpal bila dipanaskan dalam suasana

    asam.

    6.5.1.2.Pembuatan reagen

    Asam asetat 10%

    6.5.1.3.Cara kerja

    • a) Tabung diisi dengan urine sebanyak ¾ nya

    • b) Didihkan selama 1-2 menit

    • c) Kekeruhan yang terjadi disebabkan oleh fospat, karbonat atau albumin

    • d) Tambahkan 3 tetes asam asetat 10% tetes dalam keadaan mendidih. Kekeruhan yang disebabkan oleh karbonat dan fospat akan hilang. Pengamatan hasil

    • - Tidak ada kekeruhan

    (-)

    • - Kekeruhan sedikit sekali

    (+)

    • - Kekeruhan sedikit (tanpa butir-butir)

    (+)

    10-50 mg %

    • - Kekeruhan jelas (berbutir-butir)

    (++)

    50-200 mg %

    • - Kekeruhan hebat (berkeping-keping)

    (+++)

    200-500 mg

    %

    • - Menggumpal

    (++++)

    >500 mg %

    Pemeriksaan Secara Bang

    6.5.2.1 Prinsip

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    Protein akan membentuk endapan/mengumpal bila dipanaskan dalam

    suasana asam

    • 6.5.2.2 Pembuatan reagen Natrium asetat 11,8 g dan asam asetat glacial dilarutkan dalam aquadest sampai volumnya 100 ml

    6.5.2.3 Cara kerja

    5 ml urine ditambah 0.5 ml reagen bang, kemudian dipanaskan dalam air

    mendidih selama 5 menit

    • 6.5.2.4 Pengamatan hasil Bila timbul kekeruhan bearti terdapat protein

    Catatan

    Keuntungan cara bang adalah tidak terganggu oleh kekeruhan oleh garam-

    garam kalsium, fosfat, dengan adanya buffer dari asam asetat maka didapat pH

    ideal untuk pengendapan protein

    6.6 Kepustakaan

    • 1. Harper's Illustrated Biochemistry, 2009, (Editor: Murray,Robert; Rodwell, Victor; Bender, David; Botham, Kathleen M, Weil, P. Anthony; Kennelly, and Peter J), Ed. 28 th , The Mc GrawHill companies, New York

    • 2. Lehninger. 1998. Dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga.

    • 3. Poedjiadi, Anna. 2007. Dasar Biokimia. Jakarta: UI Press

    • 4. Miner, S.E.S., J. Evrovski, and D.E.C. Cole, Clinical Chemistry and Molecular Biology of Metabolism: An update. Clinical Biochemistry, 2007. 30(3): p. 189-
      201.

    LAPORAN SEMENTARA

    Judul Percobaan

    :

    Prinsip

    :

    Hari/Tanggal/jam

    :

    Nama Praktikan/NIM:

    Hasil/Interpretasi

    :

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    Acc Dosen/Asisten Praktikum

    (

    ...................................

    )

    VII. PEMERIKSAAN URIN ATAS INDIKASI BILIRUBIN

    • 7.1 Tujuan Percobaan

    Mahasiswa mampu memahami prinsip pemeriksaan terhadap bilirubin urin

    sebagai salah satu muatan kompetensi dalam bidang keahlian biokimia klinik.

    • 7.2 Pendahuluan

    Pemeriksaan bilirubin total merupakan pengukuran jumlah total bilirubin dalam

    darah, meliputi bilirubin tak terkonjugasi dan terkonjugasi. Bilirubin dibentuk dari

    pemecahan haem pada sistem retikuloendotelial. Bilirubin akan terikat dengan albumin

    dan bersikulasi di dalam darah, kemudian dikonjugasi dan disekresi oleh hati. Bilirubin

    terkonjugasi bersifat larut dalam air, sehingga dapat ditemukan di dalam urin.

    Sementara, bilirubin tak terkonjugasi tidak dapat larut di dalam air.

    Deteksi berbagai kondisi seperti : 1) penyakit hepatobilier, hepatitis, sirosis, dan

    penyakit hati lainnya; 2) malnutrisi dan anoreksia; 3) anemia pernisiosa, anemia

    hemolitik, neonatal jaundice, hematoma, dan fetal aritoblastosis; 4) pulmonary

    embolism; 5) congestive heart failure (CHF).

    • 7.3 Alat yang digunakan dalam praktikum

      • 1. Beaker glass

      • 2. Erlenmeyer

      • 3. Kaca objek dan penutup kaca objek

      • 4. Mikroskop

      • 5. Sentrifugasi

      • 6. Tabung reaksi 10ml

      • 7. Waterbath

  • 7.4 Bahan yang digunakan dalam praktikum

    • - Zn (CH 3 COO) 2

    • - Alkohol 96 %

  • Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    • - I 2

    • - KI

    • - Aquadest

    • - Urine

    7.5 Prosedur Kerja

    • 7.5.1 Pembuatan Reagen

      • a. Reagen Schlesinger

    10 g Zn(CH 3 COO) 2 disuspensikan dalam 100 ml alcohol 96 %

    • b. Larutan Lugol 0,5 g I 2 dan 1 g KI dilarutkan dalam air, setelah larut ditambahkan air sampai

    150 ml

    • 7.5.2 Cara pemeriksaan

      • a. 5 ml urine ditambah 2 tetes larutan lugol

      • b. Tambahkan 7,5 ml reagen Schlesinger, kemudian kocok

      • c. Saring sampai didapat filtrate yang jernih

      • d. Filtrat diperiksa / dilihat dengan latar belakang hitam

  • 7.5.3 Pengamatan hasil

  • Positif bila didapat flourescensi hijau pada filtrate

    Keterangan

    Dalam keadaan normal, selalu terdapat flourescensi hijau yang amat ringan

    Bila hasil ragu-ragu harus dibandingkan dengan percobaan Schlesinger

    pada urine normal

    Adanya bilirubin dalam urine akan menggangu hasil pemeriksaan karena

    menyebabkan flourescensi merah muda. Oleh karena itu bila ada bilirubin

    maka Bilirubin ini harus dikeluarkan dahulu dengan CaCI 2 dan Na 2 CO 3

    Filtrat yang diperoleh dari percobaan untul bilirubin menurut Harrison

    tidak dapat dipakai untuk pemeriksaan urobilin menurut Schlesinger karena

    urobilin akan diabsorbsi oleh endapan yang terjadi karena BaCl 2 (dari

    reagen Fauchet) oleh karena itu dalam reagen Fauchet, BaCl 2 diganti

    dengan CaCl 2 sehingga pemeriksaan bilirubin menurut Harrison dan

    pemeriksaan urobilin menurut Schlesinger dapat dirangkap, yaitu filtrate

    untuk pemeriksaan Schlesinger dan endapan untuk pemeriksaan bilirubin

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    Riboflavin (vitamin B 2 ) yang terdapat dalam table / injek B-Kompleks akan

    mempengaruhi flourescensi hijau, tetapi flourescensi ini telah tampak pada

    urine sebelum diberi reagen Schlesinger

    7.6 Kepustakaan

    • 1. Harper's Illustrated Biochemistry, 2009, (Editor: Murray,Robert; Rodwell, Victor; Bender, David; Botham, Kathleen M, Weil, P. Anthony; Kennelly, and Peter J), Ed. 28 th , The Mc GrawHill companies, New York

    • 2. Lehninger. 1998. Dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga.

    • 3. Poedjiadi, Anna. 2007. Dasar Biokimia. Jakarta: UI Press

    • 4. Miner, S.E.S., J. Evrovski, and D.E.C. Cole, Clinical Chemistry and Molecular Biology of Metabolism: An update. Clinical Biochemistry, 2007. 30(3): p. 189-
      201.

    LAPORAN SEMENTARA

    Judul Percobaan

    :

    Prinsip

    :

    Hari/Tanggal/jam

    :

    Nama Praktikan/NIM:

    Hasil/Interpretasi

    :

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    Acc Dosen/Asisten Praktikum

    (

    ...................................

    )

    VIII. PEMERIKSAAN TERHADAP AKTIVITAS ENZIM

    • 8.1 Tujuan Percobaan

    Mahasiswa mampu memahami prinsip pemeriksaan terhadap aktivitas enzim

    sebagai salah satu dasar keahlian dalam bidang keahlian biokimia klinik.

    • 8.2 Pendahuluan

    Enzim adalah biomolekul secara

    struktural

    dibangun

    oleh asam amino

    membentuk protein yang aktif dan berperan dalam reaksi metabolisme. Enzim sebagai

    protein fungsional itu diketahui berfungsi sebagai biokatalis (senyawa yang

    mempercepat proses reaksi tanpa ikut bereaksi) dalam suatu reaksi kimia organik.

    Molekul awal yaitu substrat akan dipercepat perubahannya menjadi molekul lain yang

    disebut produk. Jenis produk yang akan dihasilkan bergantung pada suatu kondisi reaksi

    dan jenis substrat.

    Enzim

    bekerja

    dengan

    cara

    bereaksi

    dengan

    molekul

    substrat

    untuk

    menghasilkan senyawa intermediat melalui suatu reaksi kimia organik yang

    membutuhkan energi aktivasi lebih rendah, sehingga percepatan reaksi kimia terjadi

    karena reaksi kimia dengan energi aktivasi lebih tinggi dan membutuhkan waktu lebih

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    lama. Meskipun senyawa katalis dapat berubah pada reaksi awal, pada reaksi akhir

    molekul katalis akan kembali ke bentuk semula. Enzim tersusun atas gugus protein dan

    gugus nonprotein.

    • 8.3 Alat yang digunakan dalam praktikum

      • 1. Beaker glass

      • 2. Erlenmeyer

      • 3. Kaca objek dan penutup kaca objek

      • 4. Mikroskop

      • 5. Sentrifugasi

      • 6. Tabung reaksi 10ml

      • 7. Waterbath

      • 8. Disposible cuvette

      • 9. Spektofotometer

  • 8.4 Bahan yang digunakan dalam praktikum

    • - larutan amylum 0.5 dan 1 %

    • - NaCl 0.1 dan 1 %

    • - HCl 1 N

    • - Larutan iodium

    • - kalium iodida

    • - akuades

    • - air ludah

  • 8.5 Prosedur Kerja

    • 5. Amylum 0.5 dan 1 % sebanyak 3 mL dimasukkan dalam tabung reaksi

    • 6. Kemudian tambahkan larutan NaCl 0.1 dan 1 % sebanyak 1 mL ke dalam tabung reaksi . tersebut.

    • 7. Masukkan 1 mL air ludah dan 1 tetes larutan iodium

      • e. Inkubasi larutan pada suhu 37 0 C.selama 15 menit.

      • f. Amati perubahan yang terjadi dalam tabung

      • g. Ulangi prosedur dengan menggunakan 3 mL air ludah

      • h. Cobakan prosedur berikut ini dan catat dengan seksama pengamatan yang terjadi dalam tabung reaksi.

        • - kepada larutan amylum 3 mL ditambahkan 1 mL HCl 1 N dan 1 tetes larutan iodium serta 1 mL air liur. Inkubasi pada suhu 37 0 C.selama 15 menit. Amati perubahan yang terjadi

        • - kepada larutan amylum 3 mL ditambahkan 1 mL akuades dan 1 tetes larutan iodium serta 1 mL air liur. Inkubasi pada suhu 37 0 C.selama 15 menit. Amati perubahan yang terdeteksi

        • - kepada larutan amylum 3 mL ditambahkan 1 mL NaCl 0.1 dan 1 % dan 1 tetes larutan iodium serta 1 mL air liur. Inkubasi pada suhu 37 0 C.selama

  • 15 menit ..

    Apa perubahan yang saudara ketahui ?

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    • - Nasi dibagi atas dua bagian, satu bagian dikunyah 33 kali dan yanglaini hanya digerus dengan lumpang. Kedua jenis perlakuan diencerkan dengan air dalam tabung reaksi lalu ditetesi dengan laruran iodium. Apa yang dapat saudara simpulkan tentang pengarug air ludah pada percobaan ini ?

    8.6 Kepustakaan

    • 1. Harper's Illustrated Biochemistry, 2009, (Editor: Murray,Robert; Rodwell, Victor; Bender, David; Botham, Kathleen M, Weil, P. Anthony; Kennelly, and Peter J), Ed. 28 th , The Mc GrawHill companies, New York

    • 2. Lehninger. 1998. Dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga.

    • 3. Poedjiadi, Anna. 2007. Dasar Biokimia. Jakarta: UI Press

    LAPORAN SEMENTARA

    Judul Percobaan

    :

    Prinsip

    :

    Hari/Tanggal/jam

    :

    Nama Praktikan/NIM:

    Hasil/Interpretasi

    :

    Penuntun Praktikum Biokimia Klinik

    Acc Dosen/Asisten Praktikum

    ( ) ...................................