Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
Diare masih merupakan salah satu penyebab utama morbilitas dan mortalitas anak di
negara yang sedang berkembang. Dalam berbagai hasil Survei kesehatan Rumah Tangga
diare menempati kisaran urutan ke-2 dan ke-3 berbagai penyebab kematian bayi di
Indonesia. Sebagian besar diare akut disebabkan oleh infeksi. Banyak dampak yang terjadi
karena infeksi seluran cerna antara lain pengeluaran toksin yang dapat menimbulkan
gangguan sekresi dan reabsorpsi cairan dan elektrolit dengan akibat dehidrasi, gangguan
keseimbangan elektrolit dan keseimbangan asam basa. Invasi dan destruksi sel epitel,
penetrasi ke lamina propria serta kerusakan mikrovili dapat menimbulkan keadaan
maldiges dan malabsorpsi. Bila tidak mendapatkan penanganan yang adekuat pada
akhirnya dapat mengalami invasi sistemik.
Secara umum penanganan diare akut ditujukan untuk mencegah/menanggulangi
dehidrasi serta gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa, kemungkinan terjadinya
intolerasi, mengobati kausa diare yang spesifik, mencegah dan menanggulangi gangguan
gizi serta mengobati penyakit penyerta. Pemberian cairan intravena diperlukan jika
terdapat kegagalan oleh karena tingginya frekuensi diare, muntah yang tak terkontrol dan
terganggunya masukan oral oleh karena infeksi. Beberapa cara pencegahan dengan
vaksinasi serta pemakaian probiotik telah banyak diungkap dan penanganan menggunakan
antibiotika yang spesifik dan antiparasit.
Setiap tahun diperikirakan lebih dari satu milyar kasus diare di dunia dengan 3,3 juta
kasus kematian sebagai akibatnya. Diperkirakan angka kejadian di negara berkembang
berkisar 3,5 7 episode per anak pertahun dalam 2 tahun pertama kehidupan dan 2 5
episode per anak per tahun dalam 5 tahun pertama kehidupan. Hasil survei oleh Depkes.
diperoleh angka kesakitan diare tahun 2000 sebesar 301 per 1000 penduduk angka ini
meningkat bila dibanding survei pada tahun 1996 sebesar 280 per 1000 penduduk. Diare
masih merupakan penyebab utama kematian bayi dan balita. Hasil Surkesnas 2001 didapat
proporsi kematian bayi 9,4% dengan peringkat 3 dan proporsi kematian balita 13,2%
dengan peringkat 2. Diare pada anak merupakan penyakit yang mahal yang berhubungan
secara langsung atau tidak terdapat pembiayaan dalam masyarakat. Biaya untuk infeksi
rotavirus ditaksir lebih dari 6,3 juta poundsterling setiap tahunya di Inggris dan 352 juta
dollar di Amerika Serikat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Diare akut adalah buang air besar lembek /cair bahkan dapat berupa air saja yang
frekuensinya lebih sering biasanya (biasanya dalam sehari 3 kali atau lebih) dan
berlangsung kurang dari 7 hari.
2.2 Epidemiologi
Di Amerika Serikat, 20-35 juta kejadian diare terjadi setiap tahunnya. Di dunia
sebesar 6 juta anak meninggal tiap tahunnya karena diare, di mana sebagian kematian
tersebut terjadi di negara berkembang. Penyakit diare adalah salah satu penyebab utama
morbiditas dan mortalitas pada anak di seluruh dunia, yang menyebabkan 1 miliar kejadian
sakit dan 3-5 juta kematian setiap tahunnya.
Di Indonesia dilaporkan bahwa setiap anak mengalami diare sebanyak 1-2 episode
per tahun (Depkes, 2003). Berdasarkan survei demografi kesehatan Indonesia tahun 20022003, prevalensi diare pada anak anak dengan usia kurang dari 5 tahun di Indonesia
adalah : laki-laki 10,8% dan perempuan 11,2%. Berdasarkan umur, prevalensi tertinggi
terjadi pada usia 6-11 bulan(19,4%), 12-23 bulan (14,8) dan 24-35 bulan (12,0) (Biro pusat
statistik, 2003).
Berdasarkan laporan WHO 2003, kematian akibat diare di negara berkembang telah
turun dari 4,6 juta tahun 1982 menjadi 2,5 juta kematian pada tahun 2003. Di Indonesia
angka kematian diare juga telah turun tajam dari 40% tahun 1972 menjadi 24,9 pada tahun
1980, 10% tahun 1985 hingga 7,4 % tahun 1996 dari semua kasus kematian. Walaupun
angka kematian karena diare telah turun, angka kesakitan karena diare tetap tinggi baik di
negara maju maupun di negara berkembang.
Diare akut sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan, tidak saja di negara
berkembang tetapi juga di negara maju. Penyakit diare masih sering menimbulkan KLB
(Kejadian Luar Biasa) dengan penderita yang banyak dalam waktu yang singkat.

2.3 Etiologi
1. Faktor infeksi
a. Infeksi enteral (infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab
utama diare)
2

Infeksi bakteri : vibrio, E. coli, salmondla, shigella, campylo bacter,yersinia,


aeromonas, dan sebagainya
Infeksi virus : enterovirus, adenovirus, rotavirus, astrovirus, daii lain-lain
Infeksi parasit : cacing (ascaris), protozoa (entamoeba histolytica,giardia
lamblia, tricomonas hominis dan jamur (candida albicans)
b. Infeksi parenteral (infeksi diluar alat pencernaan) seperti: OMA (Otitis Media
Akut), tonsilitis, tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis, dan sebagainya
(sering terjadi pada bayi dan umur dibawah 2 tahun)
2. Faktor Malabsorpsi
a. Malabsorbsi karbohidrat
Disakarida ; intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa
Monosakarida: intoleransi glukosa, fruktosadan galaktosa
b. Malabsorbsi lemak
c. Malabsorbsi protein
3. Faktor makanan
Makanan besi, beracun, alergi terhadap makanan
4. Lain-lain
a. Imunodefisiensi
b. Gangguan psikologis (cemas dan takut)
c. Faktor-faktor langsung:
KKP (Kurang Kalori Protein)
Kesehatan pribadi dan lingkungan
Sosioekonomi
2.4 Patofisiologi
Menurut patofisiologinya diare dibedakan dalam beberapa kategori yaitu diare
osmotik, sekretorik dan diare karena gangguan motilitas usus.
-

Diare osmotik terjadi karena terdapatnya bahan yang tidak dapat diabsorpsi
oleh usus akan difermentasi oleh bakteri usus sehingga tekanan osmotik di
lumen usus meningkat yang akan menarik cairan.

Diare sekretorik terjadi karena toxin dari bakteri akan menstimulasi cAMP
dan cGMP yang akan menstimulasi sekresi cairan dan elektrolit.

Diare karena gangguan motilitas usus terjadi akibat adanya gangguan pada
kontrol otonomik, misal pada diabetik neuropati, postvagotomi, post reseksi
usus serta hipertiroid.

Mekanisme primer yang menyebabkan diare akut adalah:


1. Rusaknya vili-vili di sekitar daerah brush boarder usus halus, yang menyebabkan
malabsorbsi yang menyebabkan diare karena gangguan osmotik.
2. Kuman yang melepaskan toxin yang berikatan dengan enterosit reseptor yg spesifik
yang menyebabkan terlepasnya ion klorida kedalam membran intestinal sehingga
menyebabkan gangguan absorbsi sehingga menyebabkan diare.

Patogenesis terjadinya diare yang disebabkan virus yaitu virus yang masuk melalui
makanan dan minuman sampai ke enterosit, akan menyebabkan infeksi dan kerusakan villi
usus halus. Enterosit yang rusak diganti dengan yang baru yang fungsinya belum matang,
villi mengalami atropi dan tidak dapat mengabsorpsi cairan dan makanan dengan baik,
akan meningkatkan tekanan koloid osmotik usus dan meningkatkan motilitasnya sehingga
timbul diare.
Diare karena bakteri terjadi melalui salah satu mekanisme yang berhubungan dengan
pengaturan transpor ion dalam sel-sel usus cAMP, cGMP, dan Ca dependen. Patogenesis
terjadinya diare oleh salmonella, shigella, E coli agak berbeda dengan patogenesis diare
oleh virus, tetapi prinsipnya hampir sama. Bedanya bekteri ini dapat menembus (invasi)
sel mukosa usus halus sehingga depat menyebakan reaksi sistemik.Toksin shigella juga
dapat masuk ke dalam serabut saraf otak sehingga menimbulkan kejang. Diare oleh kedua
bakteri ini dapat menyebabkan adanya darah dalam tinja yang disebut disentri.
2.5 Manifestasi kinis
Mula-mula anak cengeng, gelisah, suhu tubuh naik, nafsu makan berkurang
kemudian timbul diare. Tinja mungkin disertai lendir dan darah. Warna tinja makin lama
berubah kehijauan karena bercampur dengan, daerah anus dan sekitarnya timbul luka lecet
karena sering defekasi dan tinja yang asam akibat laktosa yang tidak diabsorbsi usus
selama diare. Gejala muntah dapat timbul sebelum atau selama diare dan dapat disebabkan
karena lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan
elektrolit.
Bila kehilangan cairan terus berlangsung tanpa pergantian yang memadai gejala dehidrasi
mulai tampak yaitu : BB turun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun cekung
(bayi), selaput lender bibir dan mulut, serta kulit kering. Bila keadaan ini terus
berlanjut, akan terjadi renjatan hypovolemik dengan gejala takikardi, denyut jantung
menjadi cepat, nadi lemah dan tidak teraba, tekanan daran turun, pasien tampak lemah
dan kesadaran menurun, karena kurang cairan, deuresis berkurang (oliguria-anuria).
Bila terjadi asidosis metabolik pasien akan tampak pucat, nafas cepat dan dalam
(pernafasan kusmaul).
2.6. Komplikasi Diare
Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi :
1. Kehilangan cairan (dehidrasi)
4

Dehidrasi terjadi karena output air lebih banyak dari pada input air. Klasifikasi
tingkat dehidrasi anak dengan diare yaitu :

Penilaian Dehidrasi Menurut MTBS


Terdapat dua atau lebih dari tanda-tanda
berikut ini:

Letargis atau tidak sadar

DEHIDRASI BERAT

Mata cekung

Tidak bisa minum atau malas minum

Cubitan kulit perut kembalinya


sangat lambat

Terdapat dua atau lebih dari tanda-tanda


berikut ini:

DEHIDRASI

Gelisah, rewel/mudah masalah

Mata cekung

Cubitan kulit perut kembalinya


lambat

Tidak

cukup

tanda-tanda

RINGAN/SEDANG

untuk
5

diklasifikasikan sebagai dehidrasi berat atau

TANPA DEHIDRASI

ringan/sedang
Kriteria Dehidrasi menurut WHO 2000

2. Gangguan keseimbangan asam-basa (metabolik asidosis)


Metabolik asidosis terjadi karena :
a. Kehilangan Na-bikarbonat bersama feses
b. Adanya ketosis kelaparan. Metabolisme lemak yang tidak sempurna sehingga
benda keton tertimbun dalam tubuh.
c. Terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoksia jaringan.
d. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat
dikeluarkan oleh ginjal.
e. Pemindahan ion Na dari cairan ekstraselular ke dalam cairan intraselular.
Secara klinis asidosis dapat diketahui dengan memperhatikan pernapasan,
pernapasan bersifat cepat, teratur dan dalam yang disebut pernapasan kuszmaull.
Pernapasan ini merupakan homeostasis respiratorik yaitu usaha dari tubuh untuk
mempertahankan pH darah.
3. Hipoglikemia
Pada anak-anak dengan gizi baik/cukup, hipoglikemia ini jarang terjadi, lebih sering
terjadi pada anak yang sebelumnya sudah menderita KEP. Hal ini terjadi karena :
a. Penyimpanan/persediaan glikogen dalam hati terganggu
6

b. Adanya gangguan absorbsi glukosa.


Gejala hipoglikemia dapat muncul jika kadar glukosa darah menurun sampai 40 mg
% pada bayi dan 50 mg% pada anak-anak. Gejala hipoglikemia tersebut berupa: lemas,
apatis, peka rangsang, tremor, pucat, berkeringat, syok, kejang sampai koma.
4. Gangguan gizi
Sewaktu anak menderita diare, sering terjadi gangguan gizi dengan akibat terjadinya
penurunan berat badan dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan karena :
a. Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare dan/atau
muntahnya akan bertambah berat.
b. Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengenceran.
c. Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik
karena adanya hiperperistaltik.

5. Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat diare dengan/tanpa disertai muntah, dapat terjadi gangguan sirkulasi
darah berupa rejatan (shock) hipovolemik. Akibatnya perfusi jaringan berkurang dan
terjadi hipoksia dan asidosis bertambah berat. Kemudian dapat mengakibatkan perdarahan
di otak yang menimbulkan turunnya kesadaran (soporokomatusa) dan bila tidak segera
ditangani penderita dapat meninggal.
2.7. Kriteria Diagnosis
a. Anamnesis

Lama diare berlangsung, frekuensi diare dalam sehari, warna dan konsistensi
tinja, lendir dan atau darah dalam tinja

Muntah, rasa haus, rewel, anak lemah, kesadaran menurun, buang air kecil
terakhir, demam, sesak, kejang, kembung

Jumlah cairan yang masuk selama diare

Jenis makanan dan minuman yang diminum selama diare, mengonsumsi makanan
yang tidak biasa

Penderita diare disekitarnya dan sumber air minum

b. Pemeriksaan fisik

Keadaan umum, kesadaran, dan tanda vital

Tanda utama: keadaan umum gelisah/cengeng atau lemah/letargi/koma, rasa haus,


turgor kulit abdomen menurun

Tanda tambahan: ubun-ubun besar, kelopak mata, air mata, mukosa bibir, mulu,
dan lidah

Berat badan

Tanda gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit, seperti napas cepat dan
dalam (asidosos metabolik), kembung (hipokalemia), kejang (hipo atau
hipernatremia)

Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai kriteria berikut:

Tanpa dehidrasi (kehilangan cairan < 5% berat badan)


Tidak ditemukan tanda utama dan tandda tambahan
Keadaan umum baik, sadar
Ubun-ubun besar tidak cekung, mata tidak cekung, air mata ada, mukosa
mulut dan bibir basah
Turgor abdomen baik, bising usus normal
Akral hangat

Dehidrasi ringan sedang (kehilangan cairan 5-10% berat badan)


Apabila didapatkan 2 tanda utama ditambah 2 atau lebih tanda tambahan
Keadaan umum gelisah atau cengeng
Ubun-ubun besar sedikit cekung, mata sedikit cekung, air mata kurang,
mukosa mulut dan bibir sedikit kering
Turgor kurang, akral hangat

Dehidrasi berat (kehilangan cairan > 10% berat badan)


Apabila didapatkan 2 tanda utama ditambah dengan 2 atau lebih tanda
tambahan
Keadaan umum lemah, letargi, atau koma
8

Ubun-ubun sangat cekung, mata sangat cekung, air mata tidak ada, mukosa
mulut dan bibir sangat kering
Turgor sangat kurang dan akral dingin

c. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut pada umumnya tidak
diperlukan, hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan misalnya penyebab
dasarnya tidak diketahui atau ada sebab-sebab lain selain diare akut atau pada
penderita dengan dehidrasi berat. Contoh : pemeriksaan darah lengkap, kultur urine
dan tinja pada sepsis atau infeksi saluran kemih. Pemeriksaan laboratorium yang
kadang-kadang diperlukan pada saat diare akut :
Darah: darah lengkap, serum elektrolit, analisa gas darah, glukosa darah, kultur
dan kepekaan terhadap antibiotika.

Feses :
PH asam diare osmotic
Leukosit > 5 / LPB disentri
Hal yang dinilai pada pemeriksaan feses:
-

Makroskopis : konsistensi, warna, lendir, darah, bau

Mikroskopis : leukosit, eritrosit, parasit, bakteri

Bentuk klinis diare berdasarkan penyebabnya :

2.8. Pengobatan Diare


Prinsip penatalaksanaan penderita diare adalah:
a. Mencegah terjadinya dehidrasi
Salah satu komplikasi yang paling sering terjadi adalah dehidrasi. Mencegah
terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah dengan memberikan minum
lebih banyak dengan rumah tangga yang dianjurkan, seperti air tajun, kuah sayur, air
sup, air teh. Bila tidak memberikan cairan rumah tangga yang dianjurkan, berikan air
matang. Jangan diberikan cairan yang osmolaritasnya tinggi, yaitu yang terlalu manis
sepeti soft drink.
b. Mengobati dehidrasi
Bila terjadi dehidrasi terutama pada anak balita, penderit harus segera dibawa ke
petugas kesehatan atau sarana kesehatan untuk mendapatkan pengobatan yang cepat
dan tepat, yaitu dengan oralit. Bila terjadi dehidrasi berat, penderita harus segera
diberikan cairan intravena dengan Ringer Laktat sebelum dilanjutkan terapi oral.
1. Diare Tanpa Dehidrasi
- Cairan rehidrasi oralit diberikan 5-10 mL/kgBB setiap diare cair atau
berdasarkan usia, yaitu umur < 1 tahun sebanyak 50-100 ml, umur 1-5 tahun
sebanyak 100-200 ml, dan umur di atas 5 tahun semaunya. Dapat diberikan
-

cairan rumah tangga sesuai kemauan anak. ASI harus tetap diberikan.
Pasien dapat dirawat di rumah, kecuali apabila terdapat komplikasi lain (tidak
mau minum, muntah terus menerus, diare frekuen dan profus)
10

2. Diare Dengan Dehidrasi Ringan Sedang


- Cairan rehidrasi oral (CRO) hipoosmolar deberikan sebanyak 75 ml/kgBB
dalam 3 jam untuk mengganti kehilangan cairan yang telah terjadi dan
-

sebanyak 5-10 ml/kgBB setiap diare cair


Rehidrasi parenteral (intravena) diberikan bila anak muntah setiap diberi
minum walaupun telah diberikan dengan cara sedikit demi sedikit atau melalui
pipa nasogastrik. Cairan intravena yang diberikan adalah ringer laktat atau
KaEN 3B atau NaCl dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan berat badan.

Status hidrasi dievaluasi secara berkala.


Berat badan 3-10 kg: 200 ml/kgBB/hari
Berat badan 10-15 kg: 175 ml/kgBB/hari
Berat badan > 15 kg: 135 ml/kgBB/hari
Pasien dipantau selama proses rehidrasi sambil memberikan edukasi kepada
orangtua

3. Diare Dengan Dehidrasi Berat


- Diberikan cairan rehidrasi parenteral dengan ringer laktat atau ringer asetat 100
-

ml/kgBB, dengan cara pemberian:


Umur kurang dari 12 bulan: 30 ml/kgBB dalam 1 jam pertama, dilanjutkan70

ml/kgBB dalam 5 jam berikutnya


Umur di atas 12 bulan: 30 ml/kgBB dalam jam pertama, dilanjutkan 70
ml/kgBB dalam 2,5 jam berikutnya
11

Masukan cairan peroral diberikan bila pasien sudah mau dan dapat minum
dimulai dengan 5 ml/kgBB selama proses rehidrasi

c. Pemberian ASI / makanan


Pemberian ASI / makanan selama serangan diare bertujuan untuk memberikan gizi
pada penderita terutama bertujuan agar anak tetap kuat dan tumbuh serta mencegah
berkurangnya berat badan.
d. Pemberian Zinc
Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Lebih dari 90
macam enzim dalam tubuh memerlukan zinc sebagai kofaktornya, termasuk enzim
superoksida dismutase (Linder,1999). Enzim ini berfungsi untuk metabolisme radikal
bebas superoksida sehingga kadar radikal bebas ini dalam tubuh berkurang. Pada
proses inflamasi, kadar radikal bebas superoksida meningkat, sehingga dapat merusak
berbagai jenis jaringan termasuk jaringan epitel dalam usus (Cousins et al, 2006).
Zinc yang ada dalam tubuh akan hilang dalam jumlah besar pada saat seorang anak
menderita diare. Dengan demikian sangat diperlukan pengganti zinc yang hilang
dalam proses kesembuhan seorang anak dan untuk menjaga kesehatannya di bulanbulan mendatang.
Mulai tahun 2004, WHO-UNICEF merekomendasikan suplemen Zinc untuk
terapi diare karena suplementasi zinc telah terbukti menurunkan jumlah hari lamanya
seorang anak menderita sakit, menurunkan tingkat keparahan penyakit tersebut, serta
menurunkan kemungkinan anak kembali mengalami diare 2-3 bulan berikutnya.
Banyak uji klinik yang melaporkan bahwa suplemen Zinc sangat bermanfaat
untuk membantu penyembuhan diare. Zinc sebaiknya diberikan sampai 10-14 hari,
walaupun diarenya sudah sembuh. Sayangnya suplemen Zinc ini belum banyak
beredar di apotek di Indonesia. Di beberapa RS besar di Indonesia telah menggunakan
suplemen Zinc dalam bentuk suspensi untuk penatalaksanaan diare akut.
Adapun cara pemberian Tablet Zinc yaitu :
Untuk bayi usia di bawah 6 bulan berikan setengah tablet zinc (10mg) sekali sehari
selama sepuluh hari berturut-turut.

12

Untuk anak usia 6 bulan ke atas berikan satu tablet zinc (20 mg) sekali sehari
selama sepuluh hari berturut-turut.
Larutkan tablet tersebut dengan sedikit (beberapa tetes)air matang atau ASI dalam
sendok teh.
Jangan mencampur tablet zinc dengan oralit
Tablet harus diberikan selama sepuluh hari penuh (walaupun diare telah berhenti
sebelum 10 hari)
Apabila anak muntah sekitar setelah jam setelah pemberian tablet zinc, berikan lagi
tablet zinc dengan cara memberikan potongan lebih kecil dan berikan beberapa kali
hingga satu dosis penuh.
Bila anak menderita dehidrasi berat dan memerlukan cairan infus,tetap berikan
tablet zinc segera setelah anak dapat minum atau makan.
e. Pemberian Probiotik
Probiotik adalah suatu suplemen makanan, yang mengandung bakteri atau jamur yang
tumbuh sebagai flora normal dalam saluran pencernaan manusia, yang bila diberikan
sesuai indikasi dan dalam jumlah adekuat diharapkan dapat memberikan keuntungan
bagi kesehatan dengan cara meningkatkan kolonisasi bakteri probiotik didalam lumen
saluran cerna sehingga seluruh epitel mukosa usus telah diduduki oleh bakteri
probiotik melalui reseptor dalam sel epitel usus. Dengan mencermati penomena
tersebut bakteri probiotik dapat dipakai dengan cara untuk pencegahan dan
pengobatan diare baik yang disebabkan oleh Rotavirus maupun mikroorganisme lain,
speudomembran colitis maupun diare yang disebabkan oleh karena pemakaian
antibiotika yang tidak rasional (antibiotik asociated diarrhea ) dan travellerss diarrhea.
Terdapat banyak laporan tentang penggunaan probiotik dalam tatalaksana diare
akut pada anak. Hasil meta analisa Van Niel dkk menyatakan lactobacillus aman dan
efektif dalam pengobatan diare akut infeksi pada anak, menurunkan lamanya diare
kira-kira 2/3 lamanya diare, dan menurunkan frekuensi diare pada hari ke dua
pemberian sebanyak 1-2 kali. Kemungkinan mekanisme efekprobiotik dalam
pengobatan diare adalah : Perubahan lingkungan mikro lumen usus, produksi bahan
anti mikroba terhadap beberapa patogen, kompetisi nutrien, mencegah adhesi patogen
pada anterosit, modifikasi toksin atau reseptor toksin, efektrofik pada mukosa usus
dan imunno modulasi.
Terdapat berbagai macam jenis probiotik yang hingga saat ini sering digunakan
sebagai suplemen. Golongan yang paling banyak digunakan adalah Lactic Acid
13

Bacteria (LAB). Golongan LAB dapat mengubah gula dan karbohidrat menjadi asam
laktat, yang berfungsi menurunkan kadar pH saluran gastrointestinal, sehingga
menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Contoh strain golongan LAB adalah
Lactobacillus dan Bifidobacterium.
Sejak dipublikasikan pertama kali oleh seorang peneliti Rusia, Eli Metchnikoff,
pada awal abad 20, penelitian tentang probiotik hingga saat ini banyak dilakukan
untuk menguji kemanfaatannya pada populasi anak.

Produk komersial yang

mengandung probiotik sebagai suplemen banyak tersedia di pasaran. Kemanfaatan


probiotik terutama banyak dilihat dari aspek pencegahan dan terapi penyakit, terutama
penyakit alergi dan infeksi.
Penggunaan probiotik untuk diare pada anak merupakan fokus studi yang paling
banyak dilakukan dalam penilaian kemanfaatan probiotik. Secara teoritis, probiotik
dapat mengurangi keparahan diare melalui efek kompetisi dengan patogen,
imunomodulator, meningkatkan sekresi IgA mukosa usus, dan mengurangi kejadian
intoleransi laktosa.
Pemberian probiotik terlihat bermanfaat dalam tatalaksana diare akut. Metaanalisis yang dilakukan oleh Szajewska et al

menunjukkan bahwa pemberian

suplemen Lactobacillus mengurangi durasi diare akut sehari lebih cepat dibandingkan
plasebo (95% CI) dengan level of evidence 1a. Efektivitasnya terutama lebih baik pada
mereka dengan etiologi rotavirus, yang merupakan penyebab terbanyak diare akut
pada anak.
f. Pemberian Antibiotik
Sebagian besar kasus diare tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotika oleh
karena pada umumnya sembuh sendiri (self limiting). Antibiotik hanya diperlukan
pada sebagian kecil penderita diare misalnya kholera shigella, karena penyebab
terbesar dari diare pada anak adalah virus (Rotavirus). Kecuali pada bayi berusia di
bawah 2 bulan karena potensi terjadinya sepsis oleh karena bakteri mudah
mengadakan translokasi kedalam sirkulasi, atau pada anak/bayi yang menunjukkan
secara klinis gajala yang berat serta berulang atau menunjukkan gejala diare dengan
darah dan lendir yang jelas atau segala sepsis. Anti motilitis seperti difenosilat dan
loperamid dapat menimbulkan paralisis obstruksi sehingga terjadi bacterial
overgrowth, gangguan absorpsi dan sirkulasi.
Beberapa antimikroba yang sering dipakai antara lain:

14

Kolera : Tetrasiklin 12,5mg/kgBB/ dibagi 3 dosis (3 hari) atau Erytromycin 12,5


mg/kgBB 4x sehari selama 3 hari
Shigella : Ciprofloxacin 15 mg/kgBB 2x sehari selama 3 hari atau Ceftriaxone 50100 mg/kgBB 1x sehari IM selama 2-5 hari.
Amebiasis : Metronidasol 10mg/kg/ 3x sehari selama 5 hari (10 hari pada kasus
berat), Untuk kasus berat : Dehidro emetin hidrokhlorida 1-1,5 mg/kg (maks 90mg)
(im) s/d 5 hari tergantung reaksi (untuk semua umur)
Giardiasis : Metronidazole 5mg/kgBB 3x sehari selama 5 hari.
g. Mengobati masalah lain
Obat-obatan anti diare dan anti muntah tidak boleh diberikan pada anak dengan diare.
Anti diare tidak dianjurkan karena belum adanya bukti mengenai diare yang berdaya
guna, sehingga penggunaan anti diare hanya menimbulkan beban biaya.
h. Pemberian nasehat
Pemberian nasehat kepada orang tua anak (pengasuh) untuk segera membawa anaknya
kepada petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam 3 hari atau menderita sebagai
berikut:
Buang air besar cair lebih sering
Muntah berulang-ulang
Rasa haus yang nyata
Makan atau minum sedikit
Demam
Tinja berdarah

2.9. Tatalaksana Nutrisi Pada Diare


Ibu perlu dibimbing tentang cara pemberian makanan yang baik pada anak,
mengajari pentingnya meneruskan pemberian makanan penuh selama diare dan membantu
usaha mereka untuk mengikuti anjuran ini. Empat kunci utama tatalaksana gizi diare yang
benar:

Menilai status gizi

Memberi makanan yang tepat pada saat episode diare

Memberi makanan yang tepat pada waktu penyembuhan dengan tindak


lanjutnya.

Komunikasi yang efektif tentang anjuran diet kepada ibu.

Pemberian ASI selama diare tidak boleh di kurangi atau di hentikan tetapi
diperbolehkan sesering atau selama anak menginginkannya. ASI harus di berikan untuk
menambah larutan oralit. Susu sapi atau formula yang biasa di terima bila timbul dehidrasi
15

maka pemberian susu harus di hentikan selama rehidrasi untuk 4-6 jam dan kemudian
dilanjutkan lagi. Makanan lunak bila anak berumur 4 bulan atau lebih sudah bisa
menerima makanan lunak, makanan ini harus di teruskan. Bayi umur 6 bulan atau lebih
harus mulai di berikan makanan lunak bila belum pernah di beri. Bila timbul dehidrasi
makanan ini harus di hentikan 4 6 jan untuk rehidrasi untuk kemudian di lanjutkan lagi.
Paling tidak separuh makanan diet harus berasal dari makanan porsi kecil tetapi sering (6
kali atau lebih) dan mereka harus di bujuk untuk makan.
Banyak literatur yang menyebutkan bahwa probiotik memberikan kebaikan dalam
penanganan diare akut pada bayi. Probiotik dengan pemberian dua kali sehari selama 5
hari dipercaya terbukti memberikan kebaikan dalam mengurangi frekuensi, serta durasi
penyakit diare. Probiotik dipercaya dapat mengurangi lama waktu kesakitan, dengan
meningkatkan respon imun, memperbaiki mukosa usus, sebagai substansi penting dalam
antimikroba dan menyeimbangan jumlah mikroba diusus. Angka penguranga dari
frekuensi defekasi secara drastis dalam <3 hari

terdapat pada kelompok yang

memeperoleh probiotik dengan kelompok kontrol. Konsistensi faeces yang lebih padat dan
durasi yang lebih pendek pada kelompok probiotik. Rata-rata lama durasi diare juga
mengalami hasil yang signifikan pada kelompok probiotik.
2.10. Pencegahan Diare
Penatalaksanaan kasus yang benar, yang terdiri dari upaya rehidrasi oral dan
pemberian makanan dapat mengurangi efek buruk diare yang meliputi dehidrasi,
kekurangan gizi dan resiko kematian. Cara-cara lain juga dibutuhkan, untuk mengurangi
insidensi diare, yaitu intervensi yang selain mengurangi penyebaran mikroorganisme
penyebab diare juga meningkatkan resistensi anak terhadap infeksi kuman ini.
Sejumlah intervensi telah diusulkan untuk mencegah diare pada anak, kebanyakan
meliputi cara yang berhubungan dengan cara pemberian makanan kepada bayi, kebersihan
perseorangan, kebersihan makanan, penyediaan air bersih, pembuangan tinja yang aman
dan imunisasi. Ada 7 cara diidentifikasi sebagai sasaran untuk promosi, yaitu:
1. Pemberian ASI
2. Perbaikan makanan pendamping ASI
3. Penggunaan air bersih untuk kebersihan dan untuk minum
4. Cuci tangan
5. Penggunaan jamban
16

6. Pembuangan tinja bayi yang aman


7. Imunisasi campak.

Penderita yang dirawat inap harus ditempatkan pada tindakan pencegahan enterik,
termasuk cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan penderita, penggunaan jas
panjang bila ada kemungkinan pencemaran dan sarung tangan bila menyentuh bahan yang
terinfeksi. Penderita dan keluarganya harus dididik mengenai cara penularan
enteropatogen dan cara-cara mengurangi penularan.

17

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1

3.2

IDENTITAS PENDERITA
Nama

:MRDA

Umur

: 2 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Suku

: Bali

Agama

: Hindu

Alamat

: Jl Buding Indah No.1, Denpasar-Bali

Tanggal MRS

: 28 Desember 2014 (Pukul 16.30 WITA)

Tanggal Pemeriksaan

: 30 Desember 2014 (Pukul 10.00 WITA)

ANAMNESIS
KELUHAN UTAMA
Mencret disertai muntah
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien dikeluhkan mencret sejak 1 hari SMRS. Mencret lebih dari 10x sehari, kurang

lebih setengah gelas belimbing setiap mencret, konsistensi cair dan terdapat ampas
berwarna kekuningan, terdapat darah di sangkal dan lendir di sangkal. Sebelum mencret
penderita juga mengalami muntah 4x sebanyak kurang lebih setengah gelas belimbing tiap
muntah. muntah terutama setelah makan minum dan muntah berisikan makanan dan
cairan. Pada awalnya anak rewel dan terus menangis dengan minum sangat bernafsu
(seperti kehausan). Menurut Ibu pasien, anaknya juga mengalami demam sejak mencret
muncul. Demam terus menerus, muncul mendadak, dan langsung tinggi. Riwayat kejang
disangkal. Pasien masih bisa BAK dengan lancar, sehari 3 kali BAK. Pada saat sebelum
rumah sakit, pasien hanya sekali BAK sore sampai keesokan pagi. Gejala mimisan atau
gusi berdarah disangkal. Dirumah tidak ada yang menderita demam berdarah dan tidak ada
penyemprotan pada hari hari terakhir. Keluhan nyeri telinga disangkal. Nyeri saat buang
air kecil disangkal, nyeri saat menelan disangkal, nyeri perut disangkal.

18

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU DAN PENGOBATAN


Pasien memiliki riwayat pengobatan di Bidan 1 hari SMRS. Saat itu diberikan
Kaotin dan Mirasik, namun tidak ada perubahan. Satu hari sebelum keluhan muncul pasien
memiliki riwayat makan bakso yang dibeli disamping jalan bersama kedua orangtuanya.
Beberapa jam setelah itu pasien muntah. Muntahan berupa semua makanan yang dimakan.
Saat itu pasien mengeluh mual dan sakit perut. Muntah terjadi setiap pasien diberikan
makan ataupun minum.
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama dengan pasien.
Riwayat asma, penyakit jantung, hipertensi, kencing manis dan pada keluarga disangkal.
RIWAYAT PRIBADI DAN SOSIAL
Pasien merupakan yang anak yang aktif dan suka bergaul dengan teman-temannya.
Pasien merupakan anak kedua yang tinggal bersama kedua orangtuanya. Lingkungan
tempat tinggal pasien dikatakan memiliki sanitasi yang baik. Pasien dikatakan sering
bermain di got depan rumah. Tidak ada teman bermain atau anak sekitar tempat tinggal
pasien yang mengalami keluhan yang sama. Keluarga pasien menggunakan air yang
berasal dari PDAM. Tidak ada yang memiliki keluhan yang sama di lingkungan sekitar.
3.3 PEMERIKSAAN FISIK (30/12/2014)
Status Present
Keadaan umum : Sakit sedang, tampak haus
Gizi

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

GCS

: E4V5M6

Nadi

: 124 kali / menit

Respirasi

: 24 kali / menit

Suhu axila

: 37,5 0 Celcius

VAS

: 0/10

Status Antropometri

Berat Badan

: 10,5 kg

BB/U = (10,5/10,1) x 100 %

= 103% (Gizi baik) WHO

Kesan: Status gizi baik


19

Status General
Kepala

Bentuk

: Normocephal, Ubun-ubun cekung(-)

Mata

: Cekung (+), konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, air mata

masih keluar (+)

Hidung

: Sekret (-), darah (-) ,PCH (-)

Telinga

: Sekret (-), serumen (-)

Mulut

: Mukosa mulut kering (+), POC (-)

Leher :Pembesaran KGB (-), Retraksi SS (-)


Thorax

Pulmo

Inspeksi

: Pergerakan dinding thorax kiri-kanan simetris, tidak ada

bekas luka, tidak ada benjolan, retraksi ICS (-)

Palpasi : vocal fremitus sulit dinilai

Perkusi

: Sonor pada seluruh lapang paru kiri-kanan

Auskultasi

: Suara nafas bronkovesikuler diseluruh lapang paru kiri-

kanan. Ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Cor

Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis teraba di ICS 4 linea midklavikula sinistra.

Auskultasi

: Bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)

Inspeksi

: Supel, datar, retraksi epigastrium (-).

Auskultasi

: Bising usus meningkat

Palpasi

: Nyeri pada epigastrium (-), turgor kulit normal

Perkusi

: Timpani pada keempat kuadran abdomen

Abdomen

Ekstremitas :

Akral hangat, Edema (-), CRT < 2 detik

3.4 DIAGNOSIS BANDING

Diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang e.c Virus

Diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang e.c Bacterial infection

Diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang e.c Parasit

20

3.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG


A. Darah Lengkap (29/11/2014)
Pemeriksaan
WBC (103/L)

Hasil
7.4

Normal
4.5-11.0

Lymp (103/L)

1.9

1.0-4.0

Mid (103/L)

0.5

0.1-1.2

Gran (103/L)

5.2

2.5-7.5

Lymp (%)

25.9%

13.0-40.0

Mid (%)

3.7%

3.0-14.0

Gran (%)

70.4%

47.0-80.0

RBC (106/L)

5.78

4.5-5.30

HGB (g/dL)

11.2

13.5-17.5

HCT (%)

37.9

41.0-53.0

MCV (fl)

65.6

80.0-100.0

MCH (pg)

19.3

26.0-34.0

MCHC (g/dL)

29.5

31.0-37.0

RDW(%)

16.1

11.6-14.8

PLT (103/L)

300

150-400

B. Feses Lengkap (29/12/14)


Makroskopis
Warna
Bau
Keadaan
Darah
Lendir
Miroskopis
Eritrosit
Leukosit
Protein
Lemak
Serat
Parasit
Bakteri
Lain-lain
3.6

Negatif
2-4
Negatif
Negatif
Negatif
Tidak ditemukan
Positif
Negatif

DIAGNOSIS

3.7

Kuning
Khas
Encer
Negatif
Positif

Diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang e.c Bacterial infection

PENATALAKSANAAN
21

MRS
IVRL RL 24 tpm (makro) jika urine output membaik, 14 tpm (makro)
Ondansentron inj 3 x 2mg
Cefotaxime inj 3 x 1/3 vial (1gr)
Lacto-B 2x1 sachet
3.8

PLANNING
Bila pasien tidak membaik dilakukan
-

Biakan kuman

Tes resistensi terhadap berbagai antibiotika

pH dan kadar gula, jika diduga ada intoleransi laktosa

Kadar gula darah pada kasus dengan malnutrisi dan dehidrasi berat dan atau
dengan ensefalopati

3.9

MONITORING
-

Keluhan

Vital Sign

3.10 PROGNOSIS
Dubius ad bonam
3.11 FOLLOW UP
Tanggal
31-12- 2014

S
O
A
Diare 8x dengan N : 100 x/menit Diare akut
ampas.

Darah RR : 24 x/menit

(+)

Suhu: 36.9 C

dengan
dehidrasi

Lemas (+), BAK

ringan-

lancar.

sedang e.c

Makan/minum

Bacterial

+/+

infection +
Parasite

Diare 5x dengan N : 108 x/menit Diare akut


1-1-2015

ampas.
(+)

Darah RR : 25 x/menit
Suhu: 37 C

dengan
dehidrasi

P
Cek FL
Parasit (-)
IVRL RL 14
tpm (makro)
Ondansentron
inj 3 x 2mg
Cefotaxime inj
3 x 1/3 vial
(1gr)
Metronidazole
3 x C1
Lacto-B 2x1
sachet
IVRL RL 14
tpm (makro)
Ondansentron
inj 3 x 2mg
22

Lemas (+), BAK

ringan-

lancar.

sedang e.c

Makan/minum

Bacterial

+/+

infection +
Parasite

2-1-2015

Diare 2x dengan N : 104 x/menit Diare akut

ampas. Darah (-) RR : 24 x/menit dengan


Lemas (-), BAK Suhu: 36.8 C

dehidrasi

lancer.

ringan-

Makan/minum

sedang e.c

+/+

Bacterial

Cefotaxime inj
3 x 1/3 vial
(1gr)
Metronidazole
3 x C1
Lacto-B 2x1
sachet
Aff infuse
Metronidazole
3 x C1
Lacto-B 2x1
sachet
BPL
Kontrol Poli

infection +
Parasite

23

BAB IV
PEMBAHASAN
Pasien merupakan anak laki-laki dengan usia 2 tahun dengan keluhan diare lebih dari
10 kali dalam sehari dan tanda dehidrasi ringan yang terjadi sejak 1 hari SMRS. Keluhan
ini terjadi setelah pasien mengkonsumsi makanan berupa bakso yang dibeli di pedagang
kaki lima. Berdasarkan definisi pasien termasuk kasus diare akut pada anak karena
memiliki keluhan buang air besar lembek /cair bahkan dapat berupa air saja yang
frekuensinya lebih sering biasanya (biasanya dalam sehari 3 kali atau lebih) dan
berlangsung kurang dari 7 hari. Epidemiologi kejadian diare di Indonesia menunjukkan
prevalensi diare pada anak anak dengan usia kurang dari 5 tahun di Indonesia adalah :
laki-laki 10,8% dan perempuan 11,2%. Berdasarkan umur, prevalensi tertinggi terjadi pada
usia 6-11 bulan(19,4%), 12-23 bulan (14,8%) dan 24-35 bulan (12,0%)
Berdasarkan anamnesis didapatkan diare dominan berupa air dengan sedikit ampas.
Lama kelamaan diare tersebut menjadi hanya air sebelum masuk rumah sakit. Warna tinja
menjadi seikit kehijauan. Tidak ada darah disampaikan oleh orang tua pasien. Pasien juga
menglami muntah sebelum terjadi diare. Anak terlihat haus dan tidak seaktif biasanya,
namun pasien masih sadar baik. Buang air kecil terakhir sebelum masuk rumah sakit
sekitar 12 jam. Tidak ada perut kembung. Pasien masih bisa minum karena merasa haus.
Pasien tidak mau makan karena setiap makan pasien merasa perutnya sakit dan ingin diare.
Pasien dan keluarga meimiliki sumber air dari PDAM, namun untuk minum menggunakan
air kemasan.
Hal ini sesuai dengan anamnesis dari diare akut dimana mencakup lama diare
berlangsung, frekuensi diare dalam sehari, warna dan konsistensi tinja, lendir dan atau
darah dalam tinja. Adanya muntah, rasa haus, rewel, anak lemah, kesadaran menurun,
buang air kecil terakhir, demam, sesak, kejang, kembung. Selain itu perlu diketahui jumlah
cairan yang masuk selama diare, jenis makanan dan minuman yang diminum selama diare,
mengonsumsi makanan yang tidak biasa. Hal lain adalah sumber air minum pasien.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan keadaan umum tampak sakit sedang dan tampak
haus. Berat badan saat di bidan adalah 10,5kg. Orang tua pasien lupa berat badan sebelum
sakit. Pada mata ditemukan mata sedikit cekung dengan bila menangis mengeluarkan air
mata. Pada mulut ditemukan mukosa yang kering. Pemeriksaan abdomen menunjukkan
tidak kembung, bising usus meningkat dengan turgor kulit normal. Extrimitas hangat pada
keempat alat gerak.
24

Pemeriksaan fisik pada kasus diare akut haruslah mencakup keadaan umum,
kesadaran, dan tanda vital. Pada tanda utama kita melihat keadaan umum gelisah/cengeng
atau lemah/letargi/koma, rasa haus, turgor kulit abdomen menurun. Tanda tambahan yang
diperhatikan adalah pada ubun-ubun besar, kelopak mata, air mata, mukosa bibir, mulu,
dan lidah, berat badan. Pada tahap lanjut pemeriksaan meliputi tanda gangguan
keseimbangan asam basa dan elektrolit, seperti napas cepat dan dalam (asidosos
metabolik), kembung (hipokalemia), kejang (hipo atau hipernatremia).
Dari anamnesis dan pemeriksaan ini menunjukkan pasien menderita diare akut
dengan dehidrasi. Derajat dehidrasi dapat dinilai dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Pada kasus ini didapatkan pasien tampak lemas, mata yang sedikit cekung, dan merasa
haus. Tanda ini menunjukkan pasien mengalami dehidrasi drajat ringan-sedang karena
memilki 3 gejala.
Sehingga pasien ini dengan diagnosis kerja diare akut dengan dehidrasi ringansedang ec. Suspect virus dengan diagnosis banding e.c. susp virus, bakteri, atauparasit.
Untuk menegakkan diagnosis dilakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan darah
lengkap dan feses lengkap.
Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan dalam batas normal. Sedangkan pada feses
lengkap menunjukkan adanya bakteri. Sehingga ini didiagnosis dengan diare akut e.c.
bakteri dengan dehidrasi ringan-sedang.
Diare akut pada umumnya disebabkan oleh infeksi virus (40-60%). Rotavirus
sebagai patogen penyebab tersering pada usia 6-24 bulan. Di RSUP Sanglah, Rotavirus
merupakan 61% dari penyebab diare pada anak usia kurang dari 5 tahun. Hanya 10% diare
disebabkan oleh infeksi bakteri, terutama pada beberapa bulan awal kehidupan (bayi
muda) dan pada anak usia sekolah. Infeksi di luar usus yang sering disertai diare adalah
otitis media akut, infeksi saluran kemih dan penyakit paru, yang biasanya menyebabkan
diare ringan dan dapat sembuh sendiri seiring dengan sembuhnya penyakit dasar.
Penggunaan beberapa obat, terutama antibiotik, sering dihubungkan dengan Clostridium
difficile. Alergi terhadap protein susu sapi (CMPA) merupakan satu diagnosis banding
yang perlu dipikirkan selain sindrom malabsorpsi bila diare tidak sembuh dalam10-14 hari.
Berdasarkan diagnosis tersebut maka pasien mendapatkan penanganan berupa pasien
di MRS-kan dengan pengobatan rehidrasi, antibiotik, dan simptomatis lainnya. Untuk
rehidrasi diberikan cairan RL 24 tpm sampai urine membaik, kemudian dijadikan 14 tpm
menggunakan tetes makro. Cairan melalui intravena diberikan karena pasien memiliki
keluhan muntah sehingga tidak memungkinkan memberikan oral. Jumlah cairan intravena
25

pada kasus ini adalah 175ml/kgBB/hari sehingga diberikan sebanyak 24 tpm. Keberhasilan
rehidrasi dinilai dengan urine output. Jika telah mencapai urine output yang optimal,
jumlah cairan intravena disesuaikan dengan berat badan. Pasien memiliki berat badan 10kg
sehingga cairan yang dibutuhkan adalah 100ml/kgBB/24jam. Tetesan pasien menjadi 14
tpm dengan menggunakan infus makro. Obat simptomatis juga diberikan berupa
antiemetik berupa ondansentron dengan dosis 0,15mg/kgBB sehingga diberikan 3 x 2mg.
Antiemetik bertujuan mengurangi cairan yang hilang. Pasien juga diberikan antibiotik
karena terdapat bakteri pada pemeriksaan fesesnya. Pilihan antibiotik adalah Cefotaxime
dengan dosis 50-200mg/kgBB/hari yang dibagi tiga dosis, sehingga diberikan 3x1/3 vial.
Hari pertama perawatan pasien menunjukkan keadaan dehidrasi telah teratasi. Nafsu
makan sudah ada tapi pasien tetap merasa haus. Pasien masih mengalami kehilangan
cairan dikarenakan saat itu dalam 1 hari pasien diare lebih dari 8 kali. Orang tua pasien
mengatakan diare pasien terdapat darah. Kemudian pasien dilakukan cek feses ulang.
Namun tidak ditemukan parasit. Adanya darah pada kotoran menunjukkan adanya parasit.
Pengobatan

dilanjutkan

dengan

menambahkan

metronidazole

dengan

dosis

30mg/kgBB/hari terbagi 3-4 dosis sehingga dosis yang diberikan 3x100mg.


Pada hari berikutnya keluhan diare mulai berkurang dengan frekuensi 5x/hari dengan
masih ada darah. Keadaan pasien masih lemas namun leih baik dari hai sebelumnya.
Pasien sudah bisa makan dan minum dengan baik. Terapi dilanjutkan sampai hari ke-5
sejak MRS. Pada hari terakhir keadaan pasien sudah tidak lemes dengan bisa makan dan
minum. Frekuensi diare hanya 2x/hari dengan tanpa darah dan lendir. Pasien sudah tidak
muntah dn aktif beraktivitas. Berdasarkan keadaan tersebut pasieb diperbolehkan pulang
dan diminta kontrol ke poli anak. Selain itu pasien juga dibekali mengenai pengetahuan
diare akut dan cara mengatasi hilangnya cairan dengan cairan hipoosmolar. Pasien juga
diberi informasi agar selalu menjaga kebersihan baik dilingkungan rumah maupun sekitar.

26

BAB V
KESIMPULAN

Diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama,
karena masih tingginya angka kesakitan dan kematian. Penyebab utama diare akut adalah
infeksi Rotavirus yang bersifat self limiting sehingga tidak memerlukan pengobatan
dengan

antibiotika.

Pemakaian

antibitika

hanya

untuk

kasus-kasus

yang

diindikasikan.Masalah utama diare akut pada anak berkaitan dengan risiko terjadinya
dehidrasi. Upaya rehidrasi menggunakan cairan rehidrasi oral merupakan satu-satunya
pendekatan terapi yang paling dianjurkan. Penggantian cairan dan elektrolit merupakan
elemen yang penting dalam terapi diare akut. Pemakaian anti sekretorik,probiotik, dan
mikronutrien dapat memperbaiki frekuensi dan lamanya diare. Hal lain yang perlu
diperhatikan adalah pemberian makanan atau nutrisi yang cukup selama diare dan
mengobati penyakit penyerta.

27

DAFTAR PUSTAKA

1. Behrman, R.E et.all. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th edition. International


Edition. Saunders 2004. p 1239-1241
2. Budiarso, Aswita.dkk. Buku Pedoman Pengendalian Penyakit Diare . Jakarta:
Departement Kesehatan R.I PPM & PLP. 2009
3.

Depatemen Kesehatan. Diare Pada Anak . Kamis, 31 September 2010


www.depkes.go.id

4.

Ganna, Herry. Melinda, Heda. Ilmu Kesehatan Anak Pedoman Diagnosis dan
Terapi. Edisi 3. Bandung : 2005

5. Santoso, N. Budi, Diare Pada Bayi Dan Anak, Lab/SMF. Ilmu Kesehatan Anak
FK. Unibraw/RSU Dr. Saiful Anwar Malang. 2001
6. Pusponegoro. H, dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi I. Ikatan
Dokter Anak Indonesia. 2004
7. Rasad S., 2005, Radiologi Diagnostik (2nd edition), Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
8. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak, 1985, Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak.
Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

28