Anda di halaman 1dari 17

My Life

SABTU, 11 JANUARI 2014

Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Kasus Fistula Vesiko Vaginalis


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fistula Vesiko Vagina banyak ditemukan di negara sedang berkembang sebagai akibat
persalinan yang lama maupun penanganan yang kurang baik. Di negara maju Fistula Vesiko
Vagina terbanyak disebabkan oleh tindakan operasi histerektomi baik secara abdominal
maupun transvaginal. (Sarwono, 2010)
Fistula Vesiko Vagina merupakan kasus yang tidak seorangpun membayangkan akan
terjadi pada dirinya. Penderitaan pasien, bukan hanya pada fisik saja berupa mudahnya
mengalami ISK, namun memiliki dampak psikososial yang dirasakan lebih menyakitkan.
Penderita merasa terisolasi dari pergaulan, keluarga dan lingkungan kerjanya oleh karena
senantiasa mengeluarkan urine dan bau yang tidak sedap setiap saat. Tidak jarang suami akan
meninggalkannya dengan alasan tidak terpenuhinya kebutuhan biologis dengan wajar.
(Sarwono, 2010)
Kasus Fistulla Obstetri seringkali dialami oleh para wanita dari kalangan sosio ekonomi
yang rendah dimana pada saat kehamilan dan persalinan tidak mendapat pelayanan yang
memadai sehingga persalinan berlangsung lama dan terjebak pada persalinan kasip.
Kompresi kepala janin pada jalan lahir akan menyebabkan dinding vagina, kandung
kemih serta urethra mengalami nekrosis dan selanjutnya akan terjadi fistula. Kehidupan
masyarakat dengan tingkat sosio ekonomi yang rendah akan menyebabkan gangguan
kekurangan gizi yang menahun, akibatnya pada saat usia reproduksi dan melahirkan kelak
akan mengalami gangguan imbang janin dan jalan lahir.
Pada kasus seperti ini apabila tidak mendapatkan pelayanan obstetri yang memadai saat
persalinan, penderita akan mengalami persalinan kasip.
Angka kejadian pasti di Indonesia sulit didapatkan oleh karena banyak laporan hanya
menggambarkan kejadian pada penderita yang datang ke Rumah Sakit. WHO (1991)
melaporkan angka kejadian di Afrika 55 80 per 100.000 kelahiran hidup. Di Ethiopia 90 %
disebabkan oleh persalinan kasip.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum


1. Agar mahasiswa dapat memberikan asuhan kebidanan pada ibu post fistuloraphy atas
indikasi fistula vesiko vaginalis rawatan hari ke-5 dan 6
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Melakukan pengkajian data subjektif pada ibu post fistuloraphy atas indikasi fistula vesiko
vaginalis di ruang Ginekologi Kebidanan RSUP Dr. M. Djamil Padang
2. Melakukan pengkajian data objektif pada ibu post fistuloraphy atas indikasi fistula vesiko
vaginalis di ruang Ginekologi Kebidanan RSUP Dr. M. Djamil Padang
3. Melakukan diagnosis pada ibu post fistuloraphy atas indikasi fistula vesiko vaginalis di ruang
Ginekologi Kebidanan RSUP Dr. M. Djamil Padang
4. Melakukan penatalaksanaan asuhan kebidanan pada ibu post fistuloraphy atas indikasi fistula
vesiko vaginalis di ruang Ginekologi Kebidanan RSUP Dr. M. Djamil Padang
1.3 Rumusan Masalah
1. Bagaimana memberikan asuhan kebidanan pada ibu post fistuloraphy atas indikasi fistula
vesiko vaginalis rawatan hari ke-5 dan 6?
2. Bagaimana cara pengumpulan data Subjektif, Objektif, Assesment, Planning, pada ibu post
fistuloraphy atas indikasi fistula vesiko vaginalis rawatan hari ke-5 dan 6 yang dituangkan
dalam bentuk SOAP?

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Pengertian
Fistula genitourinaria adalah terbentuknya hubungan antara traktus genitalis dan traktus
urinarius. Bentuk yang tersering adalah fistula vesikovaginal dan fistula ureterovaginal.

Fistula vesikovaginal yaitu terbentuknya fistel atau lubang pada dinding vagina yang
menghubungkan kandung kemih dengan vagina, akibatnya urine keluar melalui saluran
vagina tanpa disadari. (Sarwono, 2010)
2.2 Etiologi
Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya Fistula Vesiko Vagina antara lain :
1. Komplikasi Obstetrik, yaitu terjadi karena persalinan.
a. Karena robekan oleh forceps, alat-alat yang meleset atau karena sectio sesare
b. Karena nekrosis tekanan, dimana jaringan tertekan lama antara kepala anak dan sympisis
seperti pada persalinan dengan panggul sempit, hydrocepalus atau kelainan letak. Kalau
pembukaan belum lengkap dapat terjadi fistula cervicalis atau fistel ureter, sedangkan pada
pembukaan lengkap biasanya terjadi fistula vesico vaginalis. Pengawasan kehamilan yang
baik disertai pimpinan dan penanganan persalinan yang baik pula akan mengurangi jumlah
fistel akibat persalinan.
Fistel karena perlukaan atau robekan terjadi segera setelah partus, sedangkan fistel karena
nekrosis (partus lama) terjadi 4-7 hari post partum.
2. Operasi Ginekologi, terjadi pada :

Karsinoma, terutama karsinoma servisis uteri


Karena penyinaran : baru timbul 2-5 tahun setelah penyinaran
Karena operasi ginekologis : pada histerektomi abdominal dan vaginal atau operasi untuk
prolaps dapat terjadi perlukaan vesika urinaria. Pada histerektomi totalis dapat terjadi lesi dari
ureter atau kandung kemih.
3. Fistula Traumatik, terjadi pada:

Pada abortus kriminalis


Perlukaan oleh benda-benda runcing, misalnya karena terjatuh pada benda yang runcing.
Karena alat-alat : kateter, sonde, kuret
4. Penyebab lain yang jarang ditemukan seperti kondisi peradangan saluran pencernaan,
penyakit chronis, trauma yang berasal dari benda asing dan kelainan kongenital

2.3 Gejala
Secara klinis gejala Fistula Vesiko Vagina mengalami inkontinen urine dan tidak ada rasa
nyeri. Komplikasi yang sering terjadi yaitu adanya iritasi pada daerah perineum dan paha
atas, dermatitis kronis, infeksi saluran kemih serta penumpukkan kristal (Calculi pada bulibuli), amenorrhoe sekunder sebagai akibat sentral oleh karena depresi berat dan endometritis.
Juga dapat terjadi striktura / stenosis vagina yang merupakan gejala yang sering bersamaan
dengan fistula.
Fistula sebagai akibat trauma obstetrik dapat timbul segera setelah persalinan atau
beberapa lama setelah persalinan, sedangkan fistula akibat tindakan operasi ginekologi 5 - 14
hari pasca bedah.
Pada fistula yang kecil urine dapat merembes sedikit. Gejala paling sering dari Fistula
Vesiko Vagina adalah inkontinensia total involunter yaitu adanya iritasi daerah vulva dan

seringnya terjadi ISK. Trias gejala yang timbul setelah tindakan pembedahan : sekret air
kencing, nyeri perut dan kenaikan suhu badan dapat dipastikan adanya Fistula Vesiko Vagina.
2.4 Faktor Resiko
Faktor resiko terjadinya fistula vesikovaginalis adalah:
- Persalinan lama
- Operasi pelvis
- Riwayat pelvic inflamatory disease
- Keganasan pelvis
- Endometriosis
- Infeksi
- Diabetes
- Perubahan anatomi pelvis
2.5 Klasifikasi
Terdapat 2 jenis fistula vesikovaginalis, yaitu :
1. Simple vesicovaginal fistulae
Ukuran fistula < 2-3 cm dan terletak supratrigonal
Tidak ada riwayat radiasi atau keganasan
Panjang vagina normal
2. Complicated vesicovaginal fistulae
Mempunyai riwayat radiasi sebelumnya
Terdapat keganasan pelvis
Vagina pendek
Ukuran fistula > 3 cm
Mengenai trigonum vesika urinaria
2.6 Diagnosis
Pada Fistula yang besar untuk membuat diagnosis tidaklah sulit oleh karena dengan mudah
dapat dilihat dan diraba, akan tetapi Fistula yang kecil sangat sulit. Untuk itu diperlukan
pemeriksaan tambahan antara lain :
1. Tes pewarnaan Urine (Test Metilen Biru)
Dilakukan jika dengan pemeriksaan Spekulum lokasi Fistel sukar ditentukan. Beberapa kasa
diletakkan dalam vagina, kemudian kandung kemih diisi dengan metilen biru melalui kateter
sebanyak 30-50 cc. Setelah 3 5 menit kasa dalam vagina dikeluarkan satu per satu dengan
mudah dapat terlihat adanya cairan metilen biru dan sekaligus dapat mengetahui lokasi
Fistula Vesiko Vagina.
2. Cara lain yang hampir sama yaitu ( Test Tampon Moir )
Disini digunakan untuk membedakan antara Fistula Utero Vagina yang kecil dan Fistula
Vesiko Vagina.
Caranya : 150 200 cc larutan metilen biru dimasukkan dalam kandung kemih, sebelumnya
sudah dimasukkan 3 tampon dalam vagina. Pasien kemudian disuruh jalan-jalan selama 1015 menit, kemudian tampon dikeluarkan. Jika tampon bagian bawah basah dan berwarna biru
maka kebocoran dari urethra. Jika bagian tengah basah dan berwarna kebiruan berarti dari

Fistula Vesiko Vagina. Jika bagian atas yang basah tetapi tidak berwarna biru berarti dari
ureter.
3. Endoskopi ( Cystoscopy )
Dapat membedakan lokasi dan ukuran Fistel serta derajat reaksi radang sekitar Fistel. Banyak
Fistel yang terjadi sesudah tindakan histerektomi dan lokasi biasanya dibelakang cela intra
uterin dan berhubungan dengan dinding anterior vagina.
4. Pemeriksaan Radiologis
IVP dilakukan untuk membedakan Fistula Vesiko Vagina atau Obstruksi Ureter dengan
retrograde Pyelogram paling bermakna untuk menentukan adanya Fistula Vesiko Vagina.
Retrograde Pyelogram dilakukan jika pada IVP ditemukan keadaan yang abnormal atau
lokasi Fistula sukar ditentukan.
2.7 Prinsip dan Metoda Penanganan
Suatu fistula yang diketahui 3 7 hari sesudah operasi dapat diperbaiki segera secara
transabdominal atau transvaginal. Tetapi fistula yang diketahui sesudah 7 10 hari
postoperasi akan diobservasi sampai proses radang dan indurasi hilang.
Suatu fistula postoperasi yang kecil dalam keadaan yang tenang dapat sembuh, dengan
drainase buli-buli selama 2-3 minggu. Ketika didiagnosis adanya fistula vesikovaginal
postoperasi, stent ureter segera dimasukkan dan dipasang selama 2 minggu. Karena oedema,
pemasangan ini bisa gagal dan diulangi minggu berikutnya. Penyembuhan spontan fistula
ureterovaginal dapat terjadi dimana kontinuitas lumen ureter dan infralesi ureter normal.
Fistula yang kecil, berukuran < 2 mm, dahulu dilakukan fulgurasi atau kauterisasi kimia
dengan drainase buli-buli. Cara ini memiliki angka kegagalan tinggi dengan tambahan
perlukaan serta kerusakan pada jaringan sekitar. Penanganan modern fistula persisten dengan
pembedahan meskipun fistula tersebut berukuran sangat kecil.
Tidak ada penanganan medikal yang dapat mengkoreksi fistula vesikovaginal dan fistula
ureterovaginal dengan memuaskan. Meskipun estrogen conjugated (oral atau transvaginal)
dapat memperbaiki jaringan vagina menjadi lebih lunak dan lembut untuk persiapan reparasi
fistula. Hal ini penting untuk wanita postmenopause dan wanita dengan vaginitis atropik.
Dapat juga diberikan estrogen vaginal cream pada pasien hipoestrogenik. Estrogen vaginal
cream diberikan selama 4 6 minggu, dosis 2 4 gr saat tidur sekali per minggu.
Untuk mengurangi risiko cystitis, produksi mukus yang banyak, dan terbentuknya batu
buli-buli, maka urine diasamkan dengan diberikan Vitamin C oral 3 x 500 mg per hari. Untuk
higiene pribadi dan perawatan kulit, maka rendam duduk dengan kalium permanganat. Untuk
fistula yang kecil, dapat dilakukan pemasangan katheter selama 4 6 minggu. Meskipun
drainase dengan katheter atau fulgurasi pada pinggir fistula jarang berhasil sebagai
pengobatan fistula.
Prinsip Perbaikan dengan Pembedahan 7,10 :
1. Waktu. Dianjurkan menunggu selama 3-6 bulan sampai infeksi dan udem hilang.
Penutupan dini saat diagnosis ditegakkan merupakan alternatif, bilamana jaringan

sekitar kering dan bebas infeksi. Fistula akibat radiasi penutupan dilakukan sesudah 12
bulan.
2.

Posisi yang tepat sangat diperlukan, dengan pasien biasa pada posisi litotomi dorsal
sedikit Trendelenburgs. Sebagian besar fistula nampak pada posisi ini. Pada beberapa
kasus dengan posisi knee-chest, terutama untuk lesi vaginal anterior dengan tarikan
pada bagian belakang pubis. Asisten pada kedua sisi diperlukan, dan paparan yang
bagus didapat dengan menggunakan retraktor Sims, Breisky, atau Wertheim .

3.

Mobilisasi dan diseksi saluran fistula dan jaringan sekitar sangat penting. Dianjurkan
mengeksisi seluruh mukosa vagina untuk menutup saluran fistula.

4.

Penutupan dengan pembedahan dilakukan tanpa tekanan dan sebaiknya diperhatikan


kedua sisinya agar tidak terjadi tumpang tindih. Jika kemudian tidak bisa dilakukan,
interposisi jaringan flap mungkin dapat dikerjakan. Penutupan buli-buli harus kuat,
dan ini bisa diuji dengan memasukkan larutan metilen biru atau susu steril ke dalam
buli-buli.

5.

Drainase buli-buli postoperasi lebih baik dipasang katheter suprapubis selama 10-14
hari, dan keuntungan pemasangan katheter suprapubis dibanding katheter uretra
terutama pada penurunan risiko infeksi saluran kencing, pasien lebih nyaman, dan
pengosongan dini

6.

Materi dan instrumen

Penggunaan lampu penerang, instrumen dan materi yang memadai sangat dianjurkan.
Instrumen yang diperlukan gunting Kelly, Allis forsep, pengait, retraktor Sims, alat penghisap
ukuran kecil dan bisturi dengan pegangan panjang. Benang yang dipakai ukuran 3-0 atau 4-0
yang diserap tubuh dengan jarum atraumatik. Gunakan jahitan interupted karena lebih
hemostatik, dan dijahit 2 lapis.
Macam-macam benang yang diserap (absorbable) :
Catgut
: diabsorbsi lengkap dalam 2 3 minggu
Polyglactin 910 (Vicryl)
: diabsorbsi lengkap dalam 60 90 hari
Polyglycolic acid (Dexon)
: diabsorbsi lengkap dalam 90 120 hari
Polydioxanone (PDS II)
: diabsorbsi lengkap dalam 180 hari
2.8
1.
a.
b.
c.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pre-operasi
Konseling pasien dan keluarga tentang keberhasilan operasi dan kompliksainya
Persiapan fisik , dan laboratorium
Sebelum menentukan perencanaan penanganan, maka harus dapat diidentifikasi dengan baik
dan benar mengenai :
Keadaan organ urogenital
Lokasi, ukuran dan jumlah fistula
Jaringan sekitar fistula dapat atau layak untuk penutupan fistula
Fungsi uretra dan leher buli-buli

Jika ada infeksi saluran kemih harus diobati dahulu dengan pemeriksaan kultur urine dan tes
sensitivitas. Sehingga dapat diberikan antibiotika yang tepat karena adanya fistula penderita
sering mengalami bakteriuri
d. Jika ada peradangan pada vagina dan proses inkrustasi pada pinggiran fistula diperlukan
perawatan khusus dengan pembilasan vagina dengan mengunakan larutan asam laktat satu
sendok dilarutkan dalam satu liter air hangat 1 -2 kali sehari. Sedangkan pembilasan buli-buli
dengan boorwater.
e. Diberikan injeksi IM 1 mg estradiolbenzoat setiap hari selama 1-2 minggu dilanjutkan 2
minggu pasca bedah.
f. Iritasi kulit genitalia eksterna dan sekitarnya yang mengalami dermatitis diberikan salep
antibiotika dan setelah peradangan sembuh diberikan perlindungan salep zinc

2. Penatalaksanaan operasi
Operasi transvaginal
Reparasi transvaginal memberikan keuntungan, perdarahan minimal, morbiditas dan
mortalitas rendah, waktu operasi lebih pendek, dan waktu pemulihan post operasi lebih
pendek. Pendekatan pervaginal mengurangi manipulasi saluran pencernaan, mengurangi
morbiditas khususnya pada pasien dengan fistula karena radiasi.
Sebelum memulai operasi transvaginal harus terlebih dulu dilakukan seleksi terhadap
jenis fistula urogenital yang akan dioperasi .
Jenis fistula urogenital :
fistula urethrovaginal
fistula vesikovaginal
fistula vesikoservikal
fistula ureterovaginal
Penanganan dengan pendekatan transvaginal hanya dikerjakan pada jenis fistula
urethrovaginal , fistula vesikovaginal , fistula vesikoservikal dan tidak dilakukan pada fistula
ureterovaginal yang biasanya terjadi sebagai komplikasi histerektomi.

Operasi transabdominal ( suprapubik )


Pendekatan yang biasa dipakai oleh ahli ginekologi adalah melalui vagina. Terdapat
beberapa fistula yang tidak bisa melalui perbaikan vagina. Jika pasien dirujuk ke ahli urologi,
pendekatan abdominal menjadi pilihan utama kecuali fistula terletak di bagian yang sangat
rendah dari vagina. Ada beberapa situasi yang oleh seorang ahli ginekologi disarankan untuk
dilakukan pendekatan abdominal :
Kegagalan perbaikan berulang kali.
Diameter fistula lebih dari 4 cm
Daerah operasi sangat sempit, ada scar vagina.
Jika lubang fistula berdekatan dengan muara ureter, diperlukan pemasangan ureter katheter,
mobilisasi buli-buli.

Lubang ureter menutup puncak fistula.


Jika memerlukan ureteroneocystostomy
Pasien menginginkan untuk perabdominal
Kontraktur vesika sehingga diperlukan operasi tambahan membesar kapasitas vesika dengan
penambahan dari sigmoid, colon, atau ileum
Prinsip pendekatan abdominal untuk penutupan fistula sama seperti pada pendekatan
vagina. Dinding buli-buli harus dapat bergerak bebas, dan jahitan penutup harus dua lapis
dengan jahitan jelujur 3-0 poliglikolik atau kromik. Bila lubang ureter menutup puncak
fistula, dipasang stent ureter untuk mencegah perlukaan pada ureter. Pada keadaan dimana
ureter tepat di atas fistula, dilakukan pemotongan dan pemasangan kembali jauh dari daerah
penutupan. Pada kasus dengan peradangan hebat atau minimalnya vaskularisasi perlu
dilakukan pembersihan sebelumnya, omental flap atau paravesical peritoneal flap dapat
membantu proses penyembuhan.

Kombinasi transvaginal dan transabdominal

2. Penatalaksanaan pasca operasi


a. Luka operasi penutupan fistula pada dinding vagina dilindungi dengan sofratule selama 24
jam pasca bedah untuk mencegah infeksi
b. Dipasang dauer katheter selama 2 minggu agar buli-buli tetap kering sehingga buli-buli tidak
teregang.
c. Buli-buli setiap hari dibilas dua kali dengan 50 ml larutan boorwater 3% dan instilasi
antibiotika (uronebacetin) 10 ml selama 30 menit, selama ini dauer katheter diklem untuk
sementara. Kantong penampung urin setiap 24 jam diganti yang baru .
d. Selama 7 hari post operasi bedrest total, kemudian mobilisasi ditempat tidur miring kiri dan
ke kanan dan setelah 12-14 hari boleh jalan
e. Pada hari ke-10 pasca bedah katheter diklem setiap 20 menit dan berikutnya diklem lebih
lama dan maksimal setiap 2 jam sekali, pada hari ke-14 katheter dilepas. Jika penderita dapat
kencing, maka penderita disuruh mengosongkan buli-buli setiap 1 jam, kemudian bertahap
setiap 2-3 jam.
f. Proses penyembuhan luka operasi dipercepat dengan injeksi IM 5 mg folikelhormon
seminggu sekali
g. Jika selama 2-3 hari setelah katheter dilepas, kencing tidak bocor lagi maka penderita
dipulangkan dan kontrol 6 minggu kemudian
h. Disarankan tidak melakukan coitus selama 10-12 minggu setelah pulang dari rumah sakit.
Komplikasi pasca operasi :
Ureter obstruksi, dapat berupa obstruksi karena terjahit atau terlipat akibat jahitan di sekitar
ureter. Dapat diketahui dengan evaluasi cystoskopi.

Perdarahan vesika, dapat terjadi akibat perlukaan mukosa vesika. Bekuan dapat menyumbat
katheter sehingga distensi vesika yang berlebihan mengakibatkan jaringan yang baru dijahit
terbuka. Bekuan ini dapat dibersihkan dengan penghisap melalui uretra.
Infeksi , terjadi karena invasi kuman daerah genital, umumnya gram negatip. Antibiotika
profilaksis diberikan sebelum operasi.
Fistula terbuka, kegagalan penutupan fistula biasanya diketahui hari 7 10, penderita
mengeluh ngompol kembali. Ganti katheter dengan ukuran lebih besar memastikan urine
dapat keluar dengan lancar, penutupan spontan diharapkan dapat terjadi. Jika tetap bocor,
dilakukan operasi ulang setelah 3 bulan.
Inkontinensia , pada vesika yang kontraktur terjadi gangguan pada sfingter, meskipun fistula
sudah tertutup baik, penderita tidak dapat menahan kencing, urine keluar spontan.

BAB III
STUDI KASUS
3.1 Kasus
Seorang pasien perempuan usia 29 tahun datang ke Ruang Ginekologi RSUP Dr. M.
Djamil Padang tanggal 4 September 2013 pukul 09.30 WIB kiriman poliklinik dengan
diagnosa fistula vesiko vaginalis.
Pasien mengeluhkan BAK keluar dari vagina sejak 2 tahun yang lalu, mengalir tanpa
disadari sehingga pasien menggunakan pampers (2-3 x ganti). Pasien melahirkan anak ke-2 di
Puskesmas 2 tahun yang lalu, lahir bayi perempuan 4000 gram secara spontan dan
meninggal. BAB biasa. Tanda-tanda vital ibu dalam batas normal, yaitu tekanan darah 110/70
mmHg, nadi 82x/menit, pernapasan 20x/menit dan suhu 37 C.
Pada saat itu dilakukan pemeriksaan:
- Inspekulo
Vagina : tumor (-), laserasi (-), tampak cairan bening merembes dari dinding anterior vagina,
berbau pesing
Portio : ukuran sebesar jempol tangan dewasa, OUE tertutup
- VT Bimanual
Vagina : teraba fistula sebesar jari tangan dewasa pada 1/3 tengan vagina anterior
Portio : ukuran sebesar jempol tangan dewasa, OUE tertutup
Pada tanggal 5 September 2013 pukul 11.00 WIB, dilakukan operasi fistuloraphy selama
180 menit. Setelah dilakukan operasi, pasien diberi NaCl 0,9 % pada three way kateter no.22,
16 tetes/ menit selama 2 minggu.

3.2 Format Pengkajian Data


MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI PADA
NY M POST FISTULORAPHY ATAS INDIKASI FISTULA
VESIKO VAGINALIS DI RUANG GINEKOLOGI IRNA A
KEBIDANAN RSUP Dr. M. DJAMIL PADANG
TANGGAL 9-10 SEPTEMBER 2013
Tanggal
Pukul

: 9 September 2013
: 15.00 WIB

No.MR

I. PENGUMPULAN DATA
A. Identitas / Biodata
Nama Ibu
: Ny. M
Umur
: 29 tahun
Suku/Bangsa
: Minang/ Indonesia
Agama
: Islam
Pendidikan
: SD
Pekerjaan
: IRT
Alamat rumah : Surian, Kab. Solok
Solok
Selatan

Nama Suami : Tn. N


Umur
: 48 tahun
Suku/Bangsa : Minang/ Indonesia
Agama
: Islam
Pendidikan
: SD
Pekerjaan
: Swasta
Alamat rumah : Surian, Kab.
Selatan

B. Data Subjektif
1. Keluhan utama (jika ada pengeluaran pervaginam kaji warnanya, bau, banyaknya), nyeri
yang dirasakan ibu atau ada pembengkakan): tidak ada

2.
-

Riwayat Perkawinan
Kawin
Kawin pertama umur
Dengan suami sekarang

: 1 kali
: 22 tahun
: 8 tahun

3.
-

Riwayat menstruasi
. Haid pertama
Teratur/tidak teratur
Siklus
Lamanya
Banyaknya
Sifat darah
dismenorrhoe

: umur 13 tahun
: tidak teratur
: 30 hari
: 3-4 hari
: 2-3 x ganti duk
: encer
: ada

4. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu


N
o

Tgl
lahir
anak

Usia
kehamila
n

Tempat
persalina
n

Jenis
persalina
n

Penolon
g

Komplikasi
Ib
Bayi
u

200
7

Aterm

Dukun

Spontan

Dukun

201
1

Aterm

Puskes
mas

Menin
g
gal

Spontan

Bidan

J
k
P
r
P
r

Bayi
BB/P Keadaa
B
n
Tidak
baik
diukur
4000g
Mening
r
gal
49 cm

Nifas
Lak Keadaa
tasi
n
bai
baik
k
bai
k

baik

5. Riwayat kontrasepsi
-

Jenis kontrasepsi

: Pil KB

Mulai penggunaan

: th. 2007

Berhenti

: th. 2009

Alasan berhenti

: ingin punya anak lagi

6.
-

Riwayat Kesehatan
Penyakit yang pernah/sedang diderita
Penyakit yang pernah/sedang diderita keluarga
Riwayat penyakit sekarang

: fistula vesiko vaginalis


: tidak ada
: post fistuloraphy

7. Pola Pemenuhan Kebutuhan sehari- hari


- Pola nutrisi
Makan
Minum
Frekuensi
: 2-3x sehari
6-7 gelas/ hari
Macam
: nasi, lauk, sayur
air putih, air teh
Jumlah
: 1 piring sedang
1 gelas sedang
- Pola Eliminasi
BAK
BAB
Frekuensi
: dikateterisasi
1x 2 hari
Warna
: kuning jernih
kuning kecoklatan
Jumlah
: 2000 cc/ hari
- Pola Aktivitas
Kegiatan sehari-hari
: pekerjaan rumah tangga
Istirahat/Tidur
: 9 jam/ hari
- Seksualitas
Frekuensi
: sejak sakit tidak ada
Keluhan
: urine mengalir dari vagina tanpa disadari
- Personal Hygiene
Kebiasaan mandi
: 2 x sehari
Membersihkan alat kelamin
: ada, setiap mandi dan habis BAK, BAB
Mengganti pakaian dalam
: 2 x sehari
Jenis pakaian dalam yang digunakan
: bahan katun
8. Keadaan psikososial spiritual
- Pengetahuan ibu tentang gangguan/penyakit yang diderita saat ini :
Ibu tidak mengetahui mengenai penyakit yang sedang dideritanya.
- Pengetahuan ibu tentang kesehatan reproduksi :
Ibu tidak tahu tentang kesehatan reproduksi.
- Dukungan suami/ keluarga :
Ada, suami selalu mendampingi ibu selama di rawat di ruang ginekologi.

C. Data Objektif
1. Pemeriksaan umum
- Kesadaran
: CMC
- Tanda Vital
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi
: 82 x/ menit
Pernafasan
: 20 x/ menit
Suhu
: 37 C
- BB
: 60 kg
TB
: 150 cm
2. Pemeriksaan Khusus
- Rambut
: bersih, tidak ada ketombe
- Mata
: konjungtiva merah muda, sklera tidak ikterik
- Mulut
: bersih, tidak pucat, gigi tidak ada karies
- Leher
: tidak ada pembesaran dan pembengkakan
- Payudara
Bentuk
: simetris kiri dan kanan
Pembengkakan
: tidak ada
Pengeluaran
: (-)
- Abdomen
Bentuk
: normal
Pembesaran
: normal
Bekas Luka
: tidak ada
Nyeri tekan
: tidak ada
Massa
: tidak ada
- Genitalia eksterna
Kebersihan
: baik
Kemerahan
: tidak ada
Pembengkakan : tidak ada
Varices
: tidak ada
Oedema
: tidak ada
Pengeluaran pervaginam: tidak ada
- Pemeriksaan dalam : tidak dilakukan
- Ekstermitas
Atas
: tidak oedema
Bawah : tidak oedema
D. Pemeriksaan Laboratorium (disesuaikan dengan indikasi)

Labor biasa
Pemeriksaan getah vulva dan vagina
Pemeriksaan sitologi vagina (pap smear)

: Hb : 13,3 gr %
: tidak dilakukan
: tidak dilakukan

3.3 Pendokumentasian SOAP


MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI PADA
NY M POST FISTULORAPHY ATAS INDIKASI FISTULA
VESIKO VAGINALIS DI RUANG GINEKOLOGI IRNA A
KEBIDANAN RSUP Dr. M. DJAMIL PADANG
TANGGAL 9-10 SEPTEMBER 2013

SUBJEKTIF
Tanggal : 9September

2013
Pukul : 15.00

WIB
Ibu merasa kainnya basah
karena banyak
air
yang
keluar
dari kemaluannya

OBJEKTIF
Tanda vital :
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Suhu : 37 C
Pernapasan : 20 x/menit
Nadi : 82 x/menit
Inspeksi : Semua dalam batas normal
Teraphy/
Cefixime 2x1
Asam mefenamat 3x1
B.comp 2x1
Ibu terpasang NaCl 0,9 % pada three way cateter
no.22, 16 tetes/menit

ASSESSMENT

PELAKSANAAN

Ibu post
1. Mengontrol KU dan
fistuloraphy
TTV
ibu
serta
atas indikasi
menginformasikan
fistula vesiko
pada ibu bahwa KU
vaginalis
ibu
baik
setelah
rawatan hari
operasi..
ke-5
E : Ibu sudah mengetahui
hasil pemeriksaan
2. Menganjurkan
ibu
untuk bed rest total
dan tidak boleh duduk

setelah
- Pemeriksaan Labor :
Hb : 13,3 gr%
kembali dari
kamar mandi

dan berjalan ke kamar


mandi dulu selama 7
hari ini, karena ibu
masih dalam proses
pemulihan
setelah
operasi.
E : Ibu mengerti dan
berjanji untuk tidak
duduk dan berjalanjalan dulu
3. Memeriksa keadaan
kateter ibu.
E : Sambungan selang
infus ke kateternya
longgar dan telah
dieratkan lagi.
4. Menganjurkan
ibu
untuk banyak minum
air putih yaitu 3 botol
aqua besar per hari
agar urine ibu lancar
dan untuk mengontrol
keadaan urine ibu.
E : Ibu hanya mampu
menghabiskan 1
botol aqua besar air
putih per harinya.
5. Menganjurkan
ibu
untuk makan yang
cukup agar kondisi ibu
segera pulih
E : Porsi yang diberikan
petugas rumah sakit
habis oleh ibu.
6. Mengingatkan
ibu
untuk minum obat
yang telah di resepkan

dokter
untuk
memulihkan kondisi
ibu.
E : Ibu sudah minum
obat setelah makan
siang tadi
Tanggal : 9September

2013
Pukul : 08.00

WIB
Ibu
mengatakan
gerah
dan
ingin mandi
-

Tanda vital :
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Suhu : 37 C
Pernapasan : 22 x/menit
Nadi : 84 x/menit
Inspeksi : Semua dalam batas normal
Teraphy/
Cefixime 2x1
Asam mefenamat 3x1
B.comp 2x1
Ibu terpasang NaCl 0,9 % pada three way cateter
no.22, 16 tetes/menit

Ibu post
1. Menginformasikan
fistuloraphy
kepada ibu bahwa
atas indikasi
keaadaan umum ibu
fistula vesiko
baik.
vaginalis
E
:
Ibu
sudah
rawatan hari
mengetahui
hasil
ke-6
pemeriksaan
2. Memfasilitasi
ibu
untuk mandi di tempat
tidur.
E : Ibu sudah dibantu
untuk mandi di tempat
tidur
3. Melakukan
vulva
hygiene.
E : vulva hygiene telah
dilakukan
4. Menganjurkan
ibu
untuk makan pagi.
E : ibu sudah makan,
porsi yang diberikan
habis oleh ibu
5. Mengingatkan
ibu
untuk minum obat.
E : ibu sudah minum
obat setelah makan
pagi
6. Menganjurkan
untuk istirahat.
E
:
ibu

ibu
akan

beristirahat

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pelayanan asuhan kebidanan pada ibu post fistuloraphy atas indikasi fistula vesiko
vaginalis harus sesuai dengan instruksi dokter. Asuhan yang diberikan kepada ibu tersebut,
seperti mengontrol keadaan umum ibu dan tanda-tanda vital, menganjurkan ibu untuk bed
rest total dan banyak minum air putih sesuai yang diinstruksikan dokter, menganjurkan ibu
untuk makan yang cukup dan mengingatkan ibu untuk rutin minum obat yang diresepkan
dokter.
4.2 Saran
Semoga dalam pembuatan makalah ini berguna bagi pembaca pada umumnya dan
khusunya berguna bagi penulis dalam memberikan Asuhan kebidanan patologi pada ibu post
fistuloraphy atas indikasi fistula vesiko vaginalis. Dalam pembuatan makalah ini, penulis
menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan untuk itu penulis mengharapkan kritik
dan saran yang sifatnya membangun, agar pembuatan makalah selanjutnya bisa lebih baik
lagi.