Anda di halaman 1dari 39

XII

Kompetensi Dasar Dan Materi


Kompetensi Dasar
Memahami pelaksanaan
pasal-pasal yang
mengatur tentang
keuangan, BPK, dan
kekuasaan kehakiman
Menyaji pelaksanaan
pasal-pasal yang
mengatur tentang
keuangan, BPK, dan
kekuasaan kehakiman

Materi:
Pengelolaan Keuangan
Negara
Badan Pemeriksa
Keuangan
Kekuasaan Kehakiman

Pasal UUD 1945 tentang Pengelolaan Keuangan


Negara
BAB VIII
HAL KEUANGAN
Pasal 23
1.
Anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan keuangan
negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara
terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar besarnya kemakmuran rakyat.3)
2.

Rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara diajukan oleh


Presiden untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan
pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah.3)

3.

Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui rancangan anggaran pendapatan


dan belanja negara yang diusulkan oleh Presiden, Pemerintah menjalankan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara tahun yang lalu.3)

LANJUTAN

Pasal 23A
Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk
keperluan negara diatur dengan undang-undang. 3)
Pasal 23B
Macam dan harga mata uang ditetapkan dengan
undang-undang.4)
Pasal 23C
Hal-hal lain mengenai keuangan negara diatur dengan
undang-undang.3)
Pasal 23D
Negara memiliki suatu bank sentral yang susunan,
kedudukan, kewenangan, tanggung jawab, dan
independensinya diatur dengan undang-undang.4)

PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA

PENGERTIAN KEUANGAN NEGARA


Secara Umum
semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta
segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat
dijadikan milik Negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan
kewajiban tersebut.
UU No. 17 tahun 2003
Dari sisi objek, yang dimaksud dengan Keuangan Negara meliputi
semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang,
termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter dan
pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan, serta segala sesuatu
baik berupa uang, maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik
negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.
Dari sisi subjek, yang dimaksud dengan Keuangan Negara meliputi
seluruh subjek yang memiliki/menguasai objek sebagaimana tersebut
di atas, yaitu: pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan
negara/daerah, dan badan lain yang ada kaitannya dengan keuangan
negara.

Menurut Para Ahli


M. Ikhwan:
Rencana kegiatan secara kuantitatif, yang akan dijalankan
untuk masa mendatang, lazimnya satu tahun mendatang
Van der Kemp:
semua hak yang dapat dinilai dengan uang, demikian pula
segala sesuatu(baik berupa uang atau barang) yang dapat
dijadikan milik negara berhubungan dengan hak-hak
tersebut
Otto Ekstein
bidang yang mempelajari akibat dari anggaran belanja atas
ekonomi, khususnya akibat dari dicapainya tujuan tujuan
ekonomi yang pokok, pertumbuhan, keadilan, dan efisiensi

Ruang Lingkup Keuangan Negara


hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan

uang, dan melakukan pinjaman;


kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan
umum pemerintahan negara dan membayar tagihan pihak ketiga;
penerimaan negara;
pengeluaran negara;
penerimaan daerah;
pengeluaran daerah;
kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh
pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hakhak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan
yang dipisahkan pada perusahaan negara/perusahaan daerah;
kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam
rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan dan/atau kepentingan
umum;
kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan
fasilitas yang diberikan pemerintah; dan
kekayaan pihak lain sebagaimana dimaksud meliputi kekayaan yang
dikelola oleh orang atau badan lain berdasarkan kebijakan pemerintah,
yayasan-yayasan di lingkungan kementeriannegara/lembaga, atau
perusahaan negara/daerah.

Sumber Keuangan Negara


Pajak. Yang dimaksud dengan pajak ialah pembayaran iuran oleh

rakyat kepada pemerintah yang dpaat dipaksakan dengan tanpa balas


jasa yang secara langsung dapat ditunjuk. Misalnya: pajak kendaraan
bermotor, pajak penjualan dan lain sebagainya.
Retribusi. Yang dimaksud dengan retribusi ialah suatu pembayaran
dari rakyat kepada pemerintah dimana kita dapat melihat adanya
hubungan antara balas jasa yang langsung diterima dengan adanya
pembayaran retribusi tersebut. Misalnya: uang kuliah, uang langganan
air minum, uang langganan air listrik.
Keuntungan dari Perusahaan-perusahaan Negara. Penerimaan
yang berasal dari sumber ini merupakan penerimaan-penerimaan
pemerintah dari hasil penjualan (harga) barang-barang yang
dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan negara.
Denda-denda dan perampasan yang dilakukan oleh pemerintah.
Sumbangan masyarakat untuk jasa-jasa yang diberikan oleh
pemerintah seperti pembayaran biaya-biaya perizinan (lisensi), toll
atau pungutan sumbangan pada jalan raya tertentu seperti di Jagorawi.

Lanjutan

Pencetakan uang kertas. Karena sifat dan fungsinya, maka pemerintah


memiliki kekuasaan yang tidak dimiliki oleh para individu dalam masyarakat.
Pemerintah mempunyai kekuasaan untuk mencetak uang kertas sendiri atau
meminta kepada Bank Sentral guna memberikan pinjaman kepada pemerintah

walaupun tanpa suatu deking. Apabila pencetakan uang itu dijalankan dengan
kurang hati-hati, maka akibatnya akan kurang baik yaitu cenderung untuk
menimbulkan inflasi. Inflasi mempunyai pengaruh seperti halnya dengan
pajak. Oleh karena itu seringkali inflasi disebut sebagai pajak yang tidak
kentara, karena konsumen dengan jumlah uang yang sama akan dapat
memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang semakin sedikit jumlahnya
berhubungan dengan turunnya nilai uang.
Hasil dari Undian Negara. Dengan undian negara, pemerintah akan
mendapatkan dana yaitu perbedaan antara jumlah penerimaan dari lembaran
surat undian yang dapat dijual dengan semua pengeluaran-pengeluarannya
termasuk hadiah yang diberikan kepada pemenang dan undian negara
tersebut. Undian negara ini adalah baik sifatnya karena harga surat undiannya
adalah sangat murah, sehingga mereka yang membelinya tidak
begitumerasakan rugi kalau tidak memperoleh kemenangan, tetapi sekedar
menyumbang kepada pemerintah, sedangkan yang menang akan sungguhsungguh merasa senang, tetapi seringkali usaha-usaha mengumpulkan dana
melalui sistem undian ini membawa pengaruh-pengaruh yang kurang baik
terhadap kehidupan rakyat kecil karena mereka ini kemudian berlomba-lomba
dalam mencari kemenangan, tanpa melihat kemampuannya dan kurang
mengadakan perhitungan. Hal ini memang masuk akal karena bila mereka
menang, status sosialnya akan meningkat dengan cepat sekali. Contoh:
Sumbangan Yayasan Dana Bantuan.

Lanjutan
Pinjaman. Pinjaman ini dapat berasal dari luar negeri

maupun dari dalam negeri. Pada umumnya negara-negara


sedang berkembang mengandalkan pembiayaan
pembangunannya sebagian besar pada pinjaman ini.
Hadiah. Sumber dana jenis dapat terjadi seperti
pemerintah pusat memberikan hadiah kepada pemerintah
daerah, atau dari swasta kepada pemerintah dan dapat pula
terjadi dari pemerintah suatu negara kepada pemerintah
negara lain. Penerimaan negara dari sumber ini sifatnya
adalah volunteer tanpa balas jasa baik langsung maupun
tidak langsung.

Pengelolaan keuangan negara di Indonesia dapat dijabarkan


sebagai berikut:
SIAPA YANG MENGELOLA KEUANGAN NEGARA?
Berdasarkan ketentuan Pasal 6 UU 17/2003, Presiden selaku Kepala

Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara


sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan yang selanjutnya:
1. dikuasakan kepada Menteri Keuangan, selaku pengelola fiskal dan
Wakil Pemerintah dalam kepemilikan kekayaan negara yang
dipisahkan;
2. dikuasakan kepada menteri/pimpinan lembaga selaku Pengguna
Anggaran/Pengguna Barang kementerian negara/lembaga yang
dipimpinnya;
3. diserahkan kepada gubernur/bupati/walikota selaku kepala
pemerintahan daerah untuk mengelola keuangan daerah dan
mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah
yang dipisahkan.
4. tidak termasuk kewenangan di bidang moneter, yang meliputi
antara lain mengeluarkan dan mengedarkan uang, yang diatur
dengan undang-undang.

Tugas Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal dan Wakil


Pemerintah dalam kepemilikan kekayaan negara
menyusun kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro;
menyusun rancangan APBN dan rancangan Perubahan

APBN;
mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran;
melakukan perjanjian internasional di bidang keuangan;
melaksanakan pemungutan pendapatan negara yang telah
ditetapkan dengan undang-undang;
melaksanakan fungsi bendahara umum negara;
menyusun laporan keuangan yang merupakan
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN;
melaksanakan tugas-tugas lain di bidang pengelolaan
fiskal berdasarkan ketentuan undangundang.

Menteri/Pimpinan Lembaga Sebagai Pengguna Anggaran


memiliki tugas :
menyusun rancangan anggaran kementerian negara/lembaga yang

dipimpinnya;
menyusun dokumen pelaksanaan anggaran;
melaksanakan anggaran kementerian negara /lembaga yang
dipimpinnya
melaksanakan pemungutan penerimaan negara bukan pajak dan
menyetorkannya ke Kas Negara;
mengelola piutang dan utang negara yang menjadi tanggung jawab
kementerian negara /lembaga yang dipimpinnya;
mengelola barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung
jawab kementerian negara /lembaga yang dipimpinnya;
menyusun dan menyampaikan laporan keuangan kementerian negara
/lembaga yang dipimpinnya;
melaksanakan tugas-tugas lain yang menjadi tanggung jawabnya

Menteri/Pimpinan Lembaga Sebagai Pengguna Anggaran


memiliki tugas :
menyusun rancangan anggaran kementerian negara/lembaga yang

dipimpinnya;
menyusun dokumen pelaksanaan anggaran;
melaksanakan anggaran kementerian negara /lembaga yang
dipimpinnya
melaksanakan pemungutan penerimaan negara bukan pajak dan
menyetorkannya ke Kas Negara;
mengelola piutang dan utang negara yang menjadi tanggung jawab
kementerian negara /lembaga yang dipimpinnya;
mengelola barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung
jawab kementerian negara /lembaga yang dipimpinnya;
menyusun dan menyampaikan laporan keuangan kementerian negara
/lembaga yang dipimpinnya;
melaksanakan tugas-tugas lain yang menjadi tanggung jawabnya

Dalam rangka pengelolaan Keuangan Daerah, Pejabat


pengelola Keuangan Daerah mempunyai tugas sebagai
berikut :
menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan

APBD;
menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan
APBD;
melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah
ditetapkan dengan Peraturan Daerah;
melaksanakan fungsi bendahara umum daerah;
menyusun laporan keuangan yang merupakan pertanggungjawaban pelaksanaan
APBD.

Sebagai Kepala satuan kerja perangkat daerah selaku


pejabat pengguna anggaran/barang daerah mempunyai
tugas sebagai berikut:
menyusun anggaran satuan kerja perangkat daerah

yang dipimpinnya;
menyusun dokumen pelaksanaan anggaran
melaksanakan anggaran satuan kerja perangkat daerah
yang dipimpinnya;
melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak;
mengelola utang piutang daerah yang menjadi
tanggung jawab satuan kerja perangkat daerah yang
dipimpinnya;
mengelola barang milik/kekayaan daerah yang
menjadi tanggung jawab satuan kerja

APBN
merupakan instrumen untuk mengatur pengeluaran dan

pendapatan negara dalam rangka membiayai pelaksanaan


kegiatan pemerintahan dan pembangunan, mencapai
pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan
nasional, mencapai stabitas perekonomian, dan
menentukan arah serta prioritas pembangunan secara
umum
Pemerintah menyusun RAPBN dalam bentuk nota
keuangan,di ajukan ke DPR.OlehDPR, RAPBN tersebut di
sidangkan. Jika RAPBN di tolak maka yang di gunakan
adalah APBN tahun lalu. Jika RAPBN di terima maka di
sahkan menjadi APBN. APBNtersebut selanjutnya di
kembalikan pemerintah (presiden dan para menteri di
laksanakan)

Fungsi APBN
Fungsi otorisasi, mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi

dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang


bersangkutan.
Fungsi perencanaan, mengandung arti bahwa anggaran negara
dapat menjadi pedoman bagi negara untuk merencanakan kegiatan
pada tahun tersebut.
Fungsi pengawasan, berarti anggaran negara harus menjadi
pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintah
negara sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
Fungsi alokasi, berarti bahwa anggaran negara harus diarahkan untuk
mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya serta
meningkatkan efesiensi dan efektivitas perekonomian.
Fungsi distribusi, berarti bahwa kebijakan anggaran negara harus
memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan
Fungsi stabilisasi, memiliki makna bahwa anggaran pemerintah
menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan
fundamental perekonomian.

Peran Bank Indonesia sebagai Bank


Central
Sebagai Bank Sentral, Bank

Indonesia memiliki tujuan


tunggal, yaitu mencapai
dan memelihara kestabilan
nilai rupiah
Kestabilan nilai rupiah
memiliki dua aspek:
1. Kestabilan nilai mata
uang terhadap barang
dan jasa (inflasi)
2. Kestabilan nilai tukar
rupiah terhadap nilai
mata uang negara lain

Untuk mencapai tujuan

Bank Indonesia memiliki


tujuan:
1. Menetapkan dan
melaksanakan kebijakan
moneter
2. Mengatur dan menjaga
kelancaran sistem
pembayaran
3. Mengatur dan
mengawasi bank

Kedudukan Bank Indonesia dalam sistem


Ketatanegaraan Indonesia
Independen dan tidak sejajar dengan lembaga tinggi

negara lainnya
Kedudukannya tidak sama dengan kementerian
negara yang berada di luar pemerintahan
Mempunyai hubungan kerja dan koordinasi dengan
lembaga negara lainnya

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


Landasan Konstitusional
Pasal 23E
(1) Untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara
diadakan satu Badan Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri.
(2) Hasil pemeriksaan keuangan negara diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat,
Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, sesuai dengan
kewenangannya.
(3) Hasil pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan dan/atau badan
sesuai dengan undang-undang.
Pasal 23F
(1) Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan
memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.
(2) Pimpinan Badan Perneriksa Keuangan dipilih dari dan oleh anggota.
Pasal 23G
(1) Badan Pemeriksa Keuangan berkedudukan di ibu kota negara dan memiliki
perwakilan di setiap provinsi.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai Badan Pemeriksa Keuangan diatur dengan undangundang.

Landasan Operasional
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15

TAHUN 2006 TENTANG BADAN PEMERIKSA


KEUANGAN SEBAGAI PENGGANTI UNDANG-UNDANG
REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1973 TENTANG
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15
TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN
TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1
TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17
TAHUN 2003 TENTANG KEUANGAN NEGARA

Tugas BPK:
Untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab
tentang keuangan negara diadakan satu Badan
Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri.
Hasil pemeriksaan keuangan negara diserahkan
kepada Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan
Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, sesuai
dengan kewenangannya

Fungsi BPK:
Optatif: berupa pemeriksaan, pengawasan, dan

penyelidikan atas penguasaan, pengurusan dan


pengelolaan kekayaan atas negara Negara
Fungsi Yudikatif: kewnangan menuntut
perbendaharaandan tuntutan ganti rugi terhadap
perbendaharawan dan pegawai negeri bukan bendahara
yang karena perbuatannya melanggar hukum dan atau
melalaikann kewajibabn yang menimbulkan kerugian
keuangan dan kekayaan Negara
Fungsi advisiory: memberikan pertimbangan kepada
pemerintah mengenai pengurusan dan pengelolaan dan
tanggung jawab keuangan Negara

Wewenang BPK :
a. Menentukan objek pemeriksaan merencanakan dan melaksanakan
pemeriksaan menentukan waktu dan metode pemeriksaan serta menyusun
dan menyajikan laporan pemeriksaan.
b. Meminta keterangan dan atau dokumen yang wajib diberikan oleh lembaga
negara yang mengelola keuangan.
c. Melakukan pemeriksaan ditempat penyimpanan uang dan barang milik
negara yang berkaitan dengan penelolaan keuangan negara.
d. Menetapkan jenis dokumen atau lainnya tentang pertanggung jawaban
keuangan negara yang wajib disampaikan kepada BPK.
e. Menetapkan standar pemeriksaan keuangan negara .
f. Menetapkan kode etik pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan negara.
g. Menggunakan tenaga ahli dan atau tenaga pemeriksa di luar BPK yang
bekerja untuk dan atas nama BPK.
h. Membina jabatan fungsional pemeriksa.
i.
Memberi pertimbangan atas standar akuntansi pemerintahan.
j. Memberi pertimbangan atas rancangan sistem pengendalian intern
pemerintah

TUGAS Hubungan Kerja BPK dengan Presiden, DPR

DPD DPRD, MPR dan lembaga Negara lainnya

Kekuasaan Kehakiman
Pasal 24

(1) Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang

merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna


menegakkan hukum dan keadilan. *
(2) Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah
Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di
bawahnya dalam lingkungan peradilan umum,
lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan
militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan
oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
(3) Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan
kekuasaan kehakiman diatur dalam undang-undang

Mahkamah Agung
Pasal 24A
(1) Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi,

meguji peraturan perundang-undangan di bawah undangundang terhadap undang-undang, dan mempunyai wewenang
lainnya yang diberikan oleh undang-undang.
(2) Hakim Agung harus memiliki integritas dan kepribadian
yang tidak tercela, adil, profesional, dan berpengalaman di
bidang hukum.
(3) Calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada Dewan
Perwakilan Rakyat untuk mendapatkan persetujuan dan
selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden
(4) Ketua dan wakil ketua Mahkamah Agung dipilih dari dan
oleh hakim agung
(5) Susunan, kedudukan, keanggotaan, dan hukum acara
Mahkamah Agung serta badan peradilan di bawahnya diatur
dengan undang-undang.

Organisasi
Jumlah hakim Agung maksimal 60 orang
Masa jabatan 5 tahun
Anggota Hakim Agung diusulkan oleh Komisi
Yudisial, disetujui oleh DPR dan diangkat/ditetapkan
oleh Presiden
Ketua dan Wakil ketua dipilih oleh para anggota
Pimpinan terdiri dari ketua wakil ketua dan ketua
muda.
Wakil Ketua ada dua, yaitu Wakil ketua yudisial yang
membawahi ketua muda di bidang pidana, perdata,
agama, militer dan tata usaha Negara. Wakil ketua
non-yudisial membawahi bidang pembinaan dan
pengawasan

Tugas dan wewenang :


Memeriksa dan memutus permohonan kasasi ,

sengketa tentang kewenangan mengadili,


permohonan peninjauan kembali (PK) putusan
pengadilan yang memperoleh kekuasaan hukum tetap
Memberi pertimbangan dalam bidang hukum baik
yang diminta atau tidak diminta kepada Lembaga
tinggi Negara
Memberikan nasehat hukum kepada Presiden selaku
kepala Negara untuk pemberian dan penolakan grasi
Menguji secara material hanya terhadap peraturan
perundang-undangan dibawah undang-undang

Komisi Yudisial
* Pasal 24B
(1) Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang

mengusulkan pengangkatan hakim agung dan


mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan
menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta
perilaku hakim.
(2) Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai
pengetahuan dan pengalaman di bidang hukum serta
memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela.
(3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dan
diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan
Dewan Perwakilan Rakyat.
(4) Susunan, kedudukan, dan keanggotaan Komisi
Yudisial diatur dengan undangundang

Organisasi:
Terdiri dari tujuh anggota
Masa jabatan 5 tahun
Anggota diangkat dan diberhentikan oleh Presiden
atas persetujuan DPR

Tugas dan wewenang

Komisi Yudisial:

Dalam kewenangan

Mengusulkan

pengangkatan hakim
agung dan hakim ad hoc di
Mahkamah Agung kepada
DPR untuk mendapatkan
persetujuan
Menjaga dan menegakkan
kehormatan keluhuran
martabat dan perilaku
hakim

pengusulan hakim Agung


pada DPR, Komisi Yudisial
melaksanakan tugas
Melaskukan pendaftaran
calon hakim Agung
Melakukan seleksi
terhadap calon hakim
Agung
Menetapkan calon hakim
agung
Mengajukan calon hakim
Agung ke DPR

Dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan,

keluhuran martabat, serta perilaku hakim, Komisi


Yudisial mempunyai tugas:
Melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap perilaku

hakim;
Menerima laporan dari masyarakat berkaitan dengan
pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim;
Melakukan verifikasi, klarifikasi, dan investigasi terhadap
laporan dugaan pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku
Hakim secara tertutup;
Memutus benar tidaknya laporan dugaan pelanggaran Kode
Etik dan Pedoman Perilaku Hakim,
Mengambil langkah hukum dan/atau langkah lain terhadap
orang perseorangan, kelompok orang, atau badan hukum
yang merendahkan kehormatan dan keluhuran martabat
hakim.

Mahkamah Konstitusi
Pasal 24C
(1) Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama

dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undangundang terhadap UndangUndang Dasar, memutus sengketa
kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh
Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan
memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.
(2) Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat
Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh
Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut Undang-Undang Dasar.
(3) Mahkamah Konstitusi mempunyai sembilan orang anggota hakim
konstitusi yang ditetapkan oleh Presiden, yang diajukan masingmasing tiga orang oleh Mahkamah Agung, tiga orang oleh Dewan
Perwakilan Rakyat, dan tiga orang oleh Presiden.
(4) Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi dipilih dari dan oleh
hakim konstitusi.
(5) Hakim Konstitusi harus memiliki integritas dan kepribadian yang
tidak tercela, adil, negarawan yang menguasai konstitusi dan
ketatanegaraan, serta tidak merangkap sebagai pejabat negara.
(6) Pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi, hukum acara
serta ketentuan lainnya tentang Mahkamah Konstitusi diatur dengan
undang-undang.

Organisasi
Terdiri dari Sembilan hakim

Ditetapkan oleh Presiden


Tiga dipilih oleh Presiden, Tiga dipilih oleh DPR, Tiga

dipilih oleh Mahkamah Agung


Ketua dan Wakil dipilih oleh anggota masa jabatan 3
tahun
Anggota masa jabatan 5 tahun

Tugas dan wewenang:


Menguji undang-undang terhadap Undang-Undang

Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.


Memutus Sengketa kewenangan lembaga negara yang
kewenangannya diberikan oleh UUD Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
Memutus pembubaran partai politik, dan
Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan
umum.

Kewajiban:
Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas

pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil


Presiden diduga:
1. Telah melakukan pelanggaran hukum berupa
a) penghianatan terhadap negara;
b) korupsi;
c) penyuapan;
d) tindak pidana lainnya;
2. atau perbuatan tercela, dan/atau
3. tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden
dan/atau Wakil Presiden sebagaimana dimaksud
dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Tugas Portofolio: hubungan kerja


Lembaga
Presiden
DPR

Mahkamah
Agung

Komisi
Yudisial

Mahkamah
Konstitusi