Anda di halaman 1dari 20

1

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bidang

industri

merupakan

teknologi

yang

tengah

mengalami

perkembangan yang sangat pesat dalam era globalisasi seperti sekarang ini.
Seiring dengan kebutuhan manusia yang tidak terbatas, perkembangan bidang
industri tersebut harus diimbangi dengan tenaga ahli dari sumber daya manusia
yang berkualitas, berkepribadian mandiri dan mempunyai intelektualitas yang
mumpuni. Hal ini berlaku pula bagi mahasiswa sebagai harapan bangsa untuk
mewujudkan cita-cita negara Indonesia. Oleh karena itu, salah satu syarat yang
harus dimiliki oleh lulusan perguruan tinggi adalah dapat menyesuaikan diri
dengan kemajuan industri dan teknologi yang nantinya akan dihadapi di dunia
kerja yang selalu dinamis.
Magang kerja merupakan kegiatan praktek akademik mahasiswa untuk
memperoleh pengalaman kerja yang berguna untuk mengembangkan keprofesian.
Kegiatan magang kerja mencakup penerapan, pembandingan, dan penelaahan
ilmu pengetahuan yang didapat selama perkuliahan. Disamping itu, dengan
adanya magang kerja ini mahasiswa memiliki keleluasaan waktu, berkesempatan
untuk melakukan observasi dan menghimpun data, serta belajar bekerjasama
dalam tim dan beradaptasi dengan kondisi di lapang. dalam bidang pertanian,
magang kerja dapat dilaksanakan di instansi atau perusahaan yang secara umum
bergerak pada komoditas tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, dan palawija.
Salah satu perusahaan yang bergerak pada komoditas palawija adalah Mitra Tani
27, Jember. Mitra Tani 27 merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang
pertanian yang membudidayakan tanaman kedelai edamame.
Edamame merupakan kedelai asal Jepang dengan spesies Glycine max (L.)
Merrill yang sangat dikenal. Bentuk tanamannya lebih besar dari kedelai pada
umumnya, begitu pula biji dan polongnya. Menurut Johnson et al., (1999),
edamame mengandung 100 mg/100g vitamin A atau karotin, 0,27 mg/100g
vitamin B1, 0,14 mg/100g vitamin B2, 1 mg/100 g vitamin B3, dan 27% vitamin
C. Kedelai Edamame mimiliki potensi dan prospek yang masih luas. Dengan
adanya kandungan nutrisi yang tinggi menyebabkan tingginya permintaan kedelai,

baik dari dalam atau luar negeri. Pada tahun 2009 kebutuhan konsumsi kedelai
nasional adalah sebesar 1,97 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri sebesar
0,92 juta ton. Oleh karena itu, Indonesia mengalami kekurangan kedelai sebesar
1,05 juta ton, walaupun dari segi areal panen terjadi peningkatan yaitu pada tahun
2008 dari 591,0 ribu ha menjadi 701,4 ribu ha pada tahun 2009, sedangkan dari
segi produktivitasnya dari 1,29 ton/ha menjadi 1,32 ton/ha (Zakaria, 2010).
Budidaya

tanaman

kedelai

mengalami

berbagai

kendala

dalam

pelaksanaannya sebagai akibat dari belum berkembangnya penerapan teknologi


anjuran di tingkat usahatani, khususnya pemakaian benih unggul bermutu dan
pemakaian pupuk berimbang. Disamping itu, permasalahan lain yang sering
dijumpai dalam proses budidaya kedelai adalah timbulnya penyakit tanaman.
Mahendra et al., (2014) menyebutkan bahwa penyakit penting yang menyerang
tanaman kedelai diantaranya: Corynespora cassicola, Rizoctonia solani,
Colletotrichum dematium var truncatum, Sclerotium rolfsii, Phakopsora
pachyrhizi,

Soybean

Mosaic

Virus,

Cercospora

kikuchii,

Xanthomonas

axonopodis pv glycines dan Peronospora manshurica.


Permasalahan mengenai teknik budidaya dan pengelolaan penyakit
tanaman kedelai sangat penting diperhatikan. Oleh karena itu, timbul ketertarikan
penulis untuk melakukan magang kerja di PT. Mitra Tani 27, Jember untuk
mengetahui dan memahami secara langsung teknik budidaya dan pengelolaan
penyakit yang diterapkan di lahan PT. Mitra Tani 27, Jember.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pelaksanaan magang kerja ini antara lain:
1.

Mengetahui dan memahami secara langsung teknik budidaya dan pengelolaan


penyakit pada tanaman kedelai Edamame di Mitra Tani 27, Jember.

2.

Memberikan pengalaman kerja sektor pertanian yang relevan dengan bidang


ilmu yang didapat selama proses perkuliahan.

1.3 Sasaran Kompetensi yang Ditargetkan


Adapun kompetensi yang ditargetkan dalam pelaksanaan magang kerja
antara lain:
1.

Mampu menerapkan IPTEK di bidang teknologi budidaya tanaman


berdasarkan prinsip pertanian berkelanjutan.

2.

Mampu merencanakan, merancang, melaksanakan dan mengevaluasi sistem


produksi

tanaman

secara

efektif

dan

produktif,

serta

mampu

mengaktualisasikan potensi diri untuk bekerjasama dalam tim multidisiplin.


3.

Mampu berpikir analitik untuk mengidentifikasi, merumuskan masalah, dan


akar masalah serta mencari solusi berbasis ilmiah dalam sistem budidaya
pertanian yang berkelanjutan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Botani Kedelai Edamame


Kedelai termasuk kedalam famili leguminosae sub famili papionadeae dan
genus glycine. Menurut Adisarwanto (2008), Glycine max diketahui memiliki 40
kedudukan

tanaman

kedelai

dalam

sistematika

tumbuhan

(taksonomi)

diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom: Plantae, Devisio: Spermatophyta,


Kelas: Dicotiledoneae, Ordo: Polypetales, Familia: Leguminoceae, Subfamili:
Papillionoideae, Genus: Glycine, Spesies: Glycine max.
Secara morfologi, pertumbuhan tanaman kedelai mencakup organorgan
seperti, akar, batang, daun, bunga, dan biji.

Gambar 1. Tanaman kedelai. Sumber: Disperta Jambi


a.

Akar dan Bintil Akar


Sistem perakaran tanaman kedelai terdiri dari akar tunggang. Akar sekunder

yang tumbuh dari akar tunggang, serta akar cabang yang tumbuh dari akar
sekunder. Pada kondisi yang sangat optimal, akar tunggang kedelai dapat tumbuh
hingga kedalaman 2 meter. Perkembangan akar tanaman kedelai dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti, penyiapan lahan, tekstur tanah, kondisi fisik, dan kimia
tanah, serta kadar air tanah. Salah satu dari sistem perakaran tanaman kedelai
adanya interaksi simbiosis antara bakteri nodul akar(Rhizobium japonicum)
dengan akar tanaman kedelai yang menyebabkan terbentuknya bintil akar. Bintil
akar sangat berperan dalam proses fiksasi N2 yang sangat dibutuhkan tanaman
kedelai untuk kelanjutan pertumbuhannya (Adisarwanto, 2008).
b.

Batang
Pada tanaman kedelai dikenal dua tipe pertumbuhan batang, yaitu determinit

dan indeterminit. Jumlah buku pada batang akan bertambah sesuai pertumbuhan
umur tanaman, tetapi pada kondisi normal jumlah buku berkisar antara 1520

buku dengan jarak antar buku berkisar antara 29 cm. Batang pada tanaman
kedelai ada yang bercabang dan ada pula yang tidak bercabang, tergantung dari
karakter varietas kedelai, tetapi umumnya cabang pada tanaman kedelai berjumlah
antara 1 5 cabang (Adisarwanto, 2008).
c.

Daun
Daun kedelai hampir seluruhnya trifioliat (menjari tiga) dan jarang sekali

mempunyai empat atau lima jari daun. Bentuk daun kedelai bervariasi, yakni
antara oval dan lanceolate, tetapi untuk praktisnya di istilakan dengan berdaun
lebar (broad leaf) dan berdaun sempit (narrow leaf) (Adisarwanto, 2008).
d.

Bunga
Bunga kedelai termasuk sempurna karena pada setiap bunga memiliki alat

reproduksi jantan dan betina. Penyerbukan bunga terjadi pada saat bunga masih
tertutup sehingga kemungkinan penyerbukan silang sangat kecil, yaitu hanya
0,1%, warna bunga kedelai ada yang ungu dan putih. Potensi jumlah bunga yang
terbentuk bervariasi, tergantung dari varietas kedelai, tetapi umumnya berkisar
antara 40200 bunga pertanaman. Hanya saja, umumnya di tengah masa
pertumbuhannya, tanaman kedelai kerap kali mengalami kerontokan bunga
(Adisarwanto, 2008).
e.

Biji
Bentuk biji kedelai tidak sama tergantung kultivar, ada yang berbentuk bulat,

agak gepeng, atau bulat telur. Namun sebagian, besar biji kedelai berbentuk bulat
telur. Ukuran dan warna biji kedelai juga tidak sama, tetapi sebagian besar
berwarna kuning dengan ukuran biji kedelai yang dapat digolongkan dalam tiga
kelompok, yaitu biji kecil (< 10 g/100 biji), berbiji sedang ( 1012 gram/100 biji,
dan berbiji besar (1318 gram/100 biji) (Adisarwanto, 2008).

2.2 Ekologi
Tanaman kedelai memiliki syarat tumbuh tertentu, antara lain:
a.

Iklim
Tanaman kedelai sebagian besar tumbuh di daerah yang beriklim tropis dan

subtropis. Sebagai barometer iklim yang cocok bagi kedelai adalah bila cocok
bagi tanaman jagung. Bahkan daya tahan kedelai lebih baik daripada jagung.

Iklim kering lebih disukai tanaman kedelai dibandingkan iklim lembab. Tanaman
kedelai dapat tumbuh baik di daerah yang memiliki curah hujan sekitar 100-400
mm/bulan. Sedangkan untuk mendapatkan hasil optimal, tanaman kedelai
membutuhkan curah hujan antara 100-200 mm/bulan. Suhu yang dikehendaki
tanaman kedelai antara 21-34C, akan tetapi suhu optimum bagi pertumbuhan
tanaman kedelai 23-27C. Pada proses perkecambahan benih kedelai memerlukan
suhu yang cocok sekitar 30C (Warintek, 2000).
b.

Suhu
Suhu udara yang sangat sesuai untuk pertumbuhan tanaman kedelai berkisar

antara 25C28C. Akan tetapi tanaman kedelai masih bisa tumbuh baik dan
produksinya masih tinggi pada suhu udara di atas 28C hingga 35C dan di bawah
25C hingga 20C tanaman masih toleran pada suhu di atas 35C-38C dan di
bawah 20C hingga 18C. Suhu udara di atas 38C dan di bawah 18C sudah
kurang sesuai lagi untuk pembudidayaan tanaman kedelai. Suhu yang terlalu
tinggi maupun rendah akan menghambat perkecambahan dan pertumbuhan
tanaman selanjutnya. Suhu yang terlalu tinggi (>40C) dapat mematikan bibit.
Sedangkan pada suhu yang sesuai, bibit akan tumbuh cepat (Adisarwanto, 2008).
c.

Kelembaban
Kelembaban sangat berpengaruh untuk perkecambahan dan pertumbuhan

bibit yang baik. Pada tanah yang cukup lembab, perkecambahan benih dan
pertumbuhan bibit akan sangat bagus. Akan tetapi jika tanah terlalu lembab, maka
perkecambahan dan pertumbuhan bibit akan terhambat, bahkan bibit bisa mati.
Pada tanah yang kering, perkecambahan benih dan pertumbuhan bibit juga kurang
bagus. Karena di tanah yang kering akar tidak bisa berkembang dengan baik dan
tidak bisa menyerap unsur hara dengan baik. Kelembaban yang sesuai untuk
pertumbuhan tanaman kedelai adalah 60%. Dengan kondisi suhu dan kelembaban
yang sesuai, maka tanaman dapat melakukan fotosintesis dengan baik
pembentukan karbohidrat dalam jumlah yang besar. Dengan demikian, sumber
energi tersedia cukup untuk proses pernapasan dan pertumbuhan tanaman, seperti
pembentukan batang, cabang, daun, bunga, dan buah (polong), dan pembentukan
selsel baru lainnya (Cahyono, 2007).
d.

Curah Hujan

Tanaman kedelai dapat tumbuh dengan baik dan produksinya tinggi


memerlukan curah hujan berkisar antara 1.5002.500 mm/tahun atau curah hujan
selama musim tanam berkisar antara 300 400 mm/tiga bulan. Akan tetapi,
tanaman kedelai masih toleran dan produksinya masih cukup baik dengan curah
hujan sampai 3.500 mm/tahun dan curah hujan di bawah 1.500 mm/tahun hingga
700 mm/tahun. Hujan yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan pertumbuhan
tanaman kedelai terhambat dan produksinya rendah (Cahyono, 2007).
e.

Cahaya Matahari
Cahaya matahari sumber energi yang diperlukan proses fotosintesis.

Fotosintesis tanaman dapat berjalan dengan baik apabila tanaman mendapatkan


penyinaran sinar matahari yang cukup. Bibit kedelai dapat tumbuh dengan baik,
cepat, dan sehat, pada cuaca yang hangat dimana cahaya matahari terang dan
penuh.kekurangan cahaya matahari dapat menyebabkan bibit pucat, batang
memanjang, kurus, dan lemah. Lahan kedelai harus terbuka (tidak terlindungi oleh
pepohonan) (Cahyono, 2007).
f.

Tanah
Kedelai sebenarnya bisa ditanam pada berbagai macam jenis tanah. Tetapi

yang paling baik adalah tanah yang cukup mengandung kapur dan memiliki
sistem drainase yang baik. Perlu diperhatikan, kedelai tidak tahan terhadap
genangan air. Kedelai bisa tumbuh baik pada tanah yang struktur keasamannya
(pH) antara 5,87. Tanahtanah yang cocok yaitu, alluvial, regosol, grumusol,
latotosol, dan andosol (Suhaeni, 2007).

2.3 Budidaya
2.3.1

Pembibitan

a. Persyaratan Benih
Untuk mendapatkan hasil panen yang baik, maka benih yang digunakan
harus yang berkualitas baik, artinya benih mempunyai daya tumbuh yang
besar dan seragam, tidak tercemar dengan varietas-varietas lainnya, bersih dari
kotoran, dan tidak terinfeksi dengan hama penyakit. Benih yang ditanam juga
harus merupakan varietas unggul yang berproduksi tinggi, berumur

genjah/pendek dan tahan terhadap serangan hama penyakit (Ramadhani dan


Salamun, 2010).
b. Penyiapan Benih
Pada tanah yang belum pernah ditanami kedelai, sebelum benih ditanam
harus dicampur dengan legin, (suatu inokulum buatan dari bakteri atau kapang
yang ditempatkan di media biakan, tanah, kompos, untuk memulai aktivitas
biologinya Rhizobium japonicum). Ada tanah yang sudah sering ditanam
dengan kedelai atau kacang-kacangan lain, berarti sudah mengandung bakteri
tersebut. Bakteri ini akan hidup di bintil akar dan bermanfaat sebagai pengikat
unsur N dari udara (Ramadhani dan Salamun, 2010).
c. Teknik Penyemaian Benih
Jarak tanam pada penanaman benih berdasarkan tipe pertumbuhan tegak
dapat diperpendek, sebaliknya untuk tipe pertumbuhan agak condong (batang
bercabang banyak) diusahakan agak panjang, supaya pertumbuhan tanaman
yang satu dengan yang lainnya tidak terganggu (Ramadhani dan Salamun,
2010).
2.3.2

Pengolahan Media Tanam

a. Persiapan
Terdapat 2 cara mempersiapkan penanaman kedelai, yakni: persiapan
tanpa pengolahan tanah (ekstensif) dan persiapan dengan pengolahan tanah
(intensif). Persiapan tanam pada tanah tegalan atau sawah tadah hujan
sebaiknya dilakukan 2 kali pencangkulan. Pertama dibiarkan bongkahan
terangin-angin 5-7 hari, pencangkulan ke 2 sekaligus meratakan, memupuk,
menggemburkan dan membersihkan tanah dari sisa-sisa akar. Jarak antara
waktu pengolahan tanah dengan waktu penanaman sekitar 3 minggu
(Ramadhani dan Salamun, 2010).
b. Pembentukan Bedengan
Pembentukan bedengan dapat dilakukan dengan pencangkulan ataupun
dengan bajak lebar 50-60 cm, tinggi 20 cm. Apabila akan dibuat drainase,
maka jarak antara drainase yang satu dengan lainnya sekitar 3-4 m
(Ramadhani dan Salamun, 2010).

2.3.3

Teknik Penanaman

a. Penentuan Pola Tanam


Jarak tanam pada penanaman dengan membuat tugalan berkisar antara 2040 cm. Jarak tanam yang dipakai adalah 30 x 20 cm, 25 x 25 cm, atau 20 x 20
cm. Jarak tanam hendaknya teratur, agar tanaman memperoleh ruang tumbuh
yang seragam dan mudah disiangi. Jarak tanam kedelai tergantung pada
tingkat kesuburan tanah dan sifat tanaman yang bersangkutan. Pada tanah
yang subur, jarak tanam lebih renggang, dan sebaliknya pada tanah tandus
jarak tanam dapat dirapatkan (Ramadhani dan Salamun, 2010).
b. Pembuatan Lubang Tanam
Jika areal luas dan pengolahan tanah dilakukan dengan pembajakan,
penanaman benih dilakukan menurut alur bajak sedalam kira-kira 5 cm.
Sedangkan jarak antara alur yang satu dengan yang lain dapat dibuat 50-60
cm, dan untuk alur ganda jarak tanam dibuat 20 cm (Ramadhani dan Salamun,
2010).
c. Cara penanaman
Menurut Ramadhani dan Salamun (2010), sistem penanaman yang biasa
dilakukan adalah:
1. Sistem tanaman tunggal
Dalam sistem ini seluruh lahan ditanami kedelai dengan tujuan
memperoleh produksi kedelai baik mutu dan jumlahnya. Kedelai yang
ditanam dengan sistem ini, membutuhkan lahan kering namun cukup
mengandung air, seperti tanah sawah bekas ditanami padi rendeng dan
tanah tegalan pada permulaan musim penghujan. Kelebihan lainnya adalah
memudahkan pemberantasan hama dan penyakit. Kelemahan sistem ini
adalah: penyearan hama dan penyakit kedelai relatif lebih cepat, sehingga
penanaman kedelai dengan sistem ini memerlukan perhatian khusus. Jarak
tanam kedelai sebagai tanaman tunggal adalah: 20 x 20 cm, 20 x 35 cm
atau 20 x 40 cm.
2. Sistem tanaman campuran
Dengan sistem ini harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
-

Umur tanaman tudak jauh berbeda.

10

Tanaman yang satu tidak boleh mengalahkan tanaman yang liar.

Jenis hama dan penyakit sama atau salah satu tanaman tahan terhadap
hama dan penyakit.

Kedua tanaman merupakan tanaman palawija, misalnya kedelai


dengan kacang tunggak/kacang tanah, kedelai dengan jagung, kedelai
dengan ketela pohon.

3. Sistem tanaman tumpang sari


Sistem ini biasa diterapkan pada tanah yang mendapat pengairan terus
menerus sepanjang waktu, misalnya tanah sawah yang memiliki irigasi
teknis. Untuk mendapatkan kedelai yang bermutu baik, biasanya kedelai
ditanam bersamaan (Ramadhani dan Salamun, 2010).
d. Waktu tanam
Pemilihan waktu tanam kedelai ini harus tepat, agar tanaman yang masih
muda tidak terkena banjir atau kekeringan. Karena umur kedelai menurut
varietas yang dianjurkan berkisar antara 75-120 hari, maka sebaiknya kedelai
ditanam menjelang akhir musim penghujan, yakni saat tanah agak kering
tetapi masih mengandung cukup air (Ramadhani dan Salamun, 2010).
2.3.4

Pemeliharaan Tanaman

a. Penjarangan dan Penyulaman


Kedelai mulai tumbuh kira-kira umur 5-6 hari. Dalam kenyataannya tidak
semua biji yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, sehingga akan terlihat
tidak seragam. Untuk menjaga agar produksi tetap baik, benih kedelai yang
tidak tumbuh sebaiknya segera digantidengan biji-biji yang baru yang telah
dicampur legin atau nitrogen. Hal ini perlu dilakukan apabila jumlah benih
yang tidak tumbuh mencapai lebih dari 10%. Waktu penyulaman yang terbaik
adalah sore hari (Ramadhani dan Salamun, 2010).
b. Penyiangan
Penyiangan ke-1 pada tanaman kedelai dilakukan pada umur 2-3 minggu.
Penyiangan ke-2 dilakukan pada saat tanaman selesai berbunga, sekitar 6
minggu setelah tanam. Penyiangan ke-2 ini dilakukan bersamaan dengan
pemupukan ke-2 (pemupukan lanjutan). Penyiangan dapat dilakukan dengan
cara mengikis gulma yang tumbuh dengan tangan atau kuret. Apabila

11

lahannya luas, dapat juga dengan menggunakan herbisida (Ramadhani dan


Salamun, 2010).
c. Pembubunan
Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak
merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit
yang berbahaya (Ramadhani dan Salamun, 2010).
d. Pemupukan
Dosis sekitar 50 kg Urea, 75 kg SP36 dan 100-150 kg KCl/ha, diberikan
seluruhnya pada saat tanam atau diberikan 2 kali (saat tanam atau diberikan 2
kali (saat tanam dan 2 MST). Pada sawah yang subur dan bekas padi yang
dipupuk dengan dosis tinggi, tanaman keelai tidak perlu tambahan NPK
(Kementan, 2010).
e. Pengairan dan penyiraman
Kedelai menghendaki tanah yang lembab teapi tidak becek. Kondisi
seperti ini dibutuhkan sejak benih ditanam hingga pengisian polong. Saat
menjelang panen, tanah sebaiknya dalam keadaan kering. Kekurangan air pada
masa pertumbuhan akan menyebabkan tanaman kerdil, bahkan dapat
menyebabkan kematian apabila kekeringan telah melalui batas toleransinya.
Pengairan tidak dilakukan lagi apabila polong telah terisi penuh. Pada
tanah yang keras (drainase buruk) kelebihan air akan menyebabkan akar
membusuk. Di tanah berdrainase buruk harus dibuat saluran drainase di setiap
3-4 meter lahan memanjang sejajar dengan barisan tanam. Hal ini terutama
dilakukan pada saat musim hujan (Ramadhani dan Salamun, 2010).

2.3.5

Pengendalian Hama dan Penyakit

a. Pengendalian hama
Menurut Kementan (2010), beberapa hama pada tanaman kedelai yang
perlu diwaspadai dan dikendalikan adalah: lalat bibit (Ophiomyia phaseoli),
penghisap polong (Riptortus linearis), ulat grayak (Spodoptera litura),
penggerek polong (Etielia zincekenella). Teknik pengendaliannya yaitu:

12

Pengendalikan hama dilakukan berdasarkan pemantauan. Jika populasi


hama tinggi atau kerusakan daun 12,5% dan kerusakan polong 2,5%,
tanaman perlu disemprot dengan insektisida efektif.

Pengendalian secara kultur teknis antara lain penggunaan mulsa jerami,


pergiliran tanaman dan tanam serentak dalam satu hamparan, serta
penggunaan tanaman perangkap jagung dan kacang hijau yang ditanam
pada pematang sawah.

(a)

(b)

Gambar 2. Hama pada tanaman kedelai (a) Riptortus linearis, (b) Spodoptera
litura. Sumber: (a) tbg.org.tw, (b) nbair.res.in
b. Pengendalian penyakit

Penyakit utama pada kedelai adalah karat daun (Phakopsora pachyrhizi),


hawar daun (Pseudomonas syringae) dan virus yang belum dapat
dikendalikan dengan pestisida.

Pengendalian virus dilakukan dengan mengendalikan vektornya yaitu


serangga hama kutu. Waktu pengendalian adalah pada saat tanaman
berumur 14, 28 dan 42 hari atau menyemprot berdasarkan populasi
hama/vektornya.

(a)

(b)

Gambar 3. Penyakit pada tanaman kedelai: (a) Pseudomonas syringae, (b)


Phakopsora pachyrhizi. Sumber: (a) omafra.gov.on.ca, (b)
http://nadp.sws.uiuc.edu

13

2.4 Panen
2.4.1

Ciri dan Umur Panen


Panen kedelai dilakukan apabila sebagian besar daun sudah menguning,

tetapi bukan karena serangan hama atau penyakit, lalu gugur, buah mulai berubah
warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak-retak, atau polong sudah
kelihatan tua, batang berwarna kuning agak coklat dan gundul. Perlu diperhatikan
umur kedelai yang akan dipanen yaitu sekitar 75-110 hari, tergantung pada
varietas dan ketinggian tempat. Kedelai yang akan digunakan bahan konsumsi
dipetik pada usia 75-100 hari, sedangkan untuk dijadikan benih dipetik pada umur
100-110 hari, agar kemasakan biji sempurna dan merata (Ramadhani dan
Salamun, 2010).
2.4.2

Cara Panen
Pemungutan hasil kedelai dilakukan pada saat tidak hujan, agar hasilnya

segera dapat dijemur.


a. Pemungutan dengan cara mencabut
Sebelum tanaman dicabut, keadaan tanah perlu diperhatikan terlebih
dahulu. Pada tanah ringan dan berpasir, proses pencabutan akan lebih mudah.
Cara pencabutan yang benar ialah dengan memegang batang pokok, tangan
dalam posisi tepat di bawah ranting dan cabang yang berbuah. Pencabutan
harus dilakukan dengan hati-hati sebab kedelai yang sudah tua mudah sekali
rontok bila tersentuh tangan (Ramadhani dan Salamun, 2010).
b. Pemungutan dengan cara memotong
Alat yang biasanya digunakan untuk memotong adalah sabit yang cukup
tajam, sehingga tidak terlalu banyak menimbulkan goncangan. Di samping itu
dengan alat pemotong yang tajam, pekerjaan bisa dilakukan dengan cepat dan
jumlah buah yang rontok akibat goncangan bisa ditekan. Pemungutan dengan
cara memotong bisa meningkatkan kesuburan tanah, karena akar dengan
bintil-bintilnya yang menyimpan banyak senyawa nitrat tidak ikut tercabut,
tapi tertinggal di dalam tanah. Pada tanah yang keras, pemungutan dengan
cara mencabut sukar dilakukan, maka dengan memotong akan lebih cepat
(Ramadhani dan Salamun, 2010).

14

2.5 Pengelolaan Penyakit


Pengendalian penyakit tumbuhan dilakukan bertujuan untuk melindungi
tanaman atau megurangi tingkat kerusakan penyakit tanaman. Pengendalian
penyakit dapat dilakukan dengan berbagai cara yang pada dasarnya adalah
pengelolaan segitiga penyakit, yaitu menekan populasi patogen serendahrendahya,

membuat

mengusahakan

tanaman

lingkungan

tahan

agar

terhadap

menguntungkan

serangan
tanaman

patogen,

serta

tetapi

tidak

menguntungkan kehidupan patogen (Abadi, 2003).


Nugarajan dan Muralidharan (1995) dalam Saleh (2015) menerangkan
komponen pengelolaan penyakit secara terpadu yang meliputi: 1) ketahanan
genetik, 2) kemoterapi dan 3) penanggulangan.
1.

Ketahanan genetik
Ketahanan genetik merupakan sifat ketahanan suatu varietas kedelai terhadap

patogen penyebab penyakit yang bersifat diturunkan pada keturunannya. Varietas


tahan merupakan komponen utama untuk mengendalikan penyakit kedelai.
2.

Kemoterapi
Bahan yang bersifat sistemik, banyak dipergunakan sebagai bahan aktif untuk

mengendalikan penyakit tanaman kedelai, misalnya berupa fungisida, bakterisida,


antibiotika dan mengendalikan serangga penular (vektor) virus tanaman, misalnya
berupa insektisida, akarisida dan nematisida.
3.

Penanggulangan
Terdiri dari empat komponen yaitu Pencegahan infeksi oleh patogen,

Perlindungan tanaman inang, Peraturan dan Eradikasi patogen.


a. Pencegahan infeksi patogen
Untuk mencegah dan menghindari infeksi patogen maka beberapa cara
yang dapat dilakukan adalah :
Pemilihan lokasi untuk usaha tani hendaknya dihindarkan lokasi (petakan)
yang diketahui merupakan daerah endemis penyakit tanaman kedelai.
Misalnya penyakit rebah semai oleh jamur Sclerotium rolfsii, hawar
batang/polong oleh

Rhizoctonia solani. Musim tanam akan sangat

berpengaruh terhadap kemunculan penyakit. Musim hujan pada umumnya


merupakan musim yang lebih cocok untuk perkembangan berbagai penyakit

15

oleh jamur Rhizoctonia solani, Colletrotichum dematium yang untuk


perkembangannya memerlukan kelembaban udara yang tinggi. Waktu tanam
dan lokasi yang diperhitungkan dengan baik akan dapat menghindarkan
tanaman kedelai dari infeksi penyakit virus. Populasi vektor virus (Aphis spp.,
Bemisia tabaci) umumnya mulai ada pada akhir musim penghujan dan
meningkat pada musim kemarau. Oleh karena itu intensitas serangan penyakit
virus pada MK-II umumnya lebih tinggi dibanding pada pertanaman MH
ataupun MK-I. Stok benih yang terleksi dan terbebas dari penyakit tular benih.
Jamur Colletotrichum sp., Cercospora kikuchii, bakteri Pseudomonas
syringae, Soybean mosaic virus (SMV), soybean stunt virus (SSV) diketahui
ditularkan melalui benih kedelai.
b. Perundangan
Karantina Tumbuhan bertujuan mencegah masuknya patogen dari negara
lain atau dari satu wilayah ke wilayah yang lain dalam satu negara, khususnya
untuk patogen yang belum ditemukan di negara/wilayah yang bersangkutan.
Phytosanitary certificate dapat dipergunakan untuk membatasi lalu lintas
tersebarnya patogen di berbagai daerah.
c. Eradikasi patogen
Berbagai cara dapat dilakukan untuk eradikasi patogen yang secara umum
dikelompokkan menjadi lima , yaitu :
-

Perlakuan suhu tinggi ( hot air treatment/ hot water treatment) yang
dilakukan untuk benih/ stok benih, peralatan pertanian.

Perlakuan kimia (seed treatment, fumigasi, disinfectant) dapat


diperlakukan untuk benih, stok benih dan peralatan pertanian.

Cara Biologi, beberapa cara biologi yang dapat mengurangi sumber


inokulum di lapang antara lain adalah aplikasi agens antagonis,
hiperparasit, mikoriza, pengendalian gulma dan serangga vektor.

Cara bercocok tanam, dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman,


pemupukan yang berimbang, pengaturan populasi tanaman dengan
mengatur jarak tanam, Sanitasi, mencabut dan membakar tanaman
yang terinfeksi, disinfeksi pada gudang, sterilisasi peralatan pertanian.

Mencabut tanaman yang dapat berperan sebagai inang alternatif.

16

4.

Perlindungan terhadap tanaman inang


Ada dua cara yang dapat dipergunakan untuk melindungi tanaman inang dari

infeksi penyakit : Manipulasi Lingkungan dan Perlakuan Kimia.


a. Manipulasi lingkungan
-

Pengaturan kelembaban tanah melalui pengaturan air irigasi dan sistem


drainase. Sistem drainase yang baik sehingga tidak terjadi genangan air
dapat mengurangi serangan penyakit jamur Rhizoctonia solani.

Pengaturan suhu dan kelembaban mikro melalui pengaturan populasi


dan jarak tanam.

Solarisasi lahan dengan sinar UV matahari dapat mengurangi intensitas


serangan penyakit jamur tular tanah.

b. Perlakuan kimia
-

Perlakuan kimia yang memperhatikan ambang kerusakan oleh


penyakit.

Perlakuan kimia yang memperhatikan ambang batas pengendalian.

Perlakuan kimia yang memperhatikan ambang ekonomi.

Implementasi Pengelolaan Penyakit secara terpadu sejalan dengan


Program pemerintah untuk meningkatkan produktivitas dan produksi kedelai
melalui pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).

17

III. METODE

3.1 Tempat dan Waktu


Magang kerja dimulai pada tanggal 1 Juli 2015 sampai 30 September 2015
dilaksanakan di wilayah kerja Mitra Tani 27 yang ada di Jember. Pelaksanaan
magang kerja dimulai pikul 08.00 sampai pukul 17.00 dengan hari aktif kerja
yaitu hari Senin sampai Jumat.

3.2 Metode Pelaksanaan Magang Kerja


Magang kerja ini dilakukan dengan mengikuti seluruh kegiatan budidaya
dan pengelolaan penyakit tanaman kedelai di lahan Mitra Tani 27, Jember.
Adapun metode kegiatan yang akan dilakukan antara lain:
3.2.1 Orientasi Perusahaan dan Lapang
Orientasi perusahaan dan lapang dilakukan untuk mempercepat adaptasi
dalam melakukan magang kerja di lahan Mitra Tani 27, Jember. Orientasi ini
mencakup pengenalan terhadap pekerja lapang, staf perusahaan, dan pimpinan
kebun, termasuk pengarahan tata tertib perusahaan yang harus dipatuhi. Selain itu
pengenalan lokasi lahan Mitra Tani 27, Jember juga diperlukan untuk
mempermudah dalam mengetahui lokasi kegiatan magang kerja. Lokasi lahan
Mitra Tani 27, Jember dapat dilihat dari peta atau denah yang menggambarkan
seluruh komponen yang ada di lokasi tersebut termasuk kultivar kedelai yang
dibudidayakan dan pembagian lahan yang berupa plot (blok). Denah atau peta
lokasi kebun ini dapat diperoleh dengan cara membuat sendiri dari hasil survei
lokasi kebun, diskusi, dan wawancara dengan pihak perusahaan atau diperoleh
dari arsip perusahaan.
3.2.2 Diskusi dan Wawancara
Diskusi dan wawancara dilakukan dengan pekerja lapang, staf perusahaan,
dan pimpinan kebun serta pihak-pihak yang terkait dengan kegiatan magang.
Kegiatan ini dilakukan untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai
teknik budidaya dan pengelolaan penyakit tanaman kedelai. Teknik budidaya dan
pengendalian hama yang akan didiskusikan diantaranya adalah (1) penentuan
kultivar atau varietas yang dibudidayakan, (2) sistem pengadaan bibit, (3)

18

pengelolaan tanah dan air, (4) sistem pemupukan, (5) mekanisme pengelolaan
penyakit, dan (6) sistem penanganan panen.
3.2.3 Partisipasi Aktif
Partisipasi aktif dilakukan dengan mengikuti secara langsung kegiatan
budidaya dan pengelolaan penyakit di lahan Mitra Tani 27, Jember. Kegiatan
budidaya tanaman kedelai secara umum adalah mulai persiapan tanam sampai
panen. Kegiatan pemeliharaan yang dimaksud meliputi: pemupukan, pengairan,
penjarangan dan penyulaman, pembubunan serta pengendalian penyakit.
Kegiatan pemupukan yang akan diamati adalah jenis pupuk, dosis pupuk,
waktu pemberian pupuk, cara pemupukan, dan indikator tanaman kedelai yang
perlu dilakukan pemupukan. Kegiatan pengairan diikuti dengan penentuan waktu
pengairan dan sistem pengairan yang digunakan, termasuk cara mengetahui
kebutuhan air tanaman kedelai. Kegiatan penyulaman, penjarangan dan
pembubunan yang akan diamati secara langsung adalah cara dan waktu kegiatan
tersebut.
Pengamatan penyakit dilakukan dengan langkah awal mengamati gejala
yang ada di lapang, kemudian mengidentifikasi berdasarkan kenampakan atau ciri
makroskopis dan melakukan pengkajian berdasarkan literatur. Hasil pengamatan
kemudian didokumentasikan, termasuk gejala yang ditimbulkan oleh hama
tersebut.

3.3 Pengumpulan Data


Data yang digunakan dalam kegiatan magang kerja ini adalah data primer
dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui orientasi perusahaan dan
lapang, diskusi dan wawancara, serta partisipasi aktif. Sedangkan data sekunder
diperoleh dari arsip laporan manajemen yang berkaitan dengan keadaan umum di
lahan Mitra Tani 27 Jember, seperti tata guna lahan, keadaan wilayah, sarana dan
prasarana, struktur organisasi, ketenagakerjaan, dan keadaan tanaman serta studi
pustaka.

19

Tabel 1. Jadwal rencana kegiatan magang


No

Kegiatan

Juli
1

3
4
5
6
7

8
9

10

Pengenalan lahan, staff dan pekerja.


Penjelasan
tugas
di
lapang.
Pengenalan tanaman kedelai dan
kegiatan tanam.
Persiapan dan pembekalan tentang
kegiatan pengelolaan penyakit dan
penyiangan.
Libur hari raya idul fitri.
Pengamatan
penyakit
tanaman
kedelai Edamame.
Pengelolaan
penyakit
tanaman
kedelai Edamame.
Perawatan
tanaman
kedelai
Edamame.
Pembahasan hasil pengamatan dan
perumusan
hasil
pengamatan
penyakit.
Persiapan panen tanaman kedelai
Edamame.
Mencari informasi data yang masih
kurang
sebagai
penyempurnaan
laporan.
Pembuatan laporan sementara.

Agustus
3

September
4

20

DAFTAR PUSTAKA

Abadi, Abdul Latief. 2003. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Malang: Bayumedia


Publishing
Adisarwanto, T dan Wudianto R. 2008. Meningkatkan Hasil Panen Kedelai.
Jakarta: Penebar Swadaya
Cahyono, B. 2007. Kedelai. Semarang: Aneka Ilmu
Johnson, Duane, Shaoke Wang and Akio Suzuki. 1999. Edamame: A Vegetable
Soybean for Colorado. J. Janick (ed.), ASHS Press, Alexandria, VA.
Kementan. 2010. Petunjuk Teknis Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Kedelai.
Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat
Mahendra, Wisnu, Achmad Ridok dan Nurul Hidayat. 2014. Penerapan Teorema
Bayes Untuk Identifikasi Penyakit Pada Tanaman Kedelai. Doro Jurnal
Volume 2 no. 7
Ramadhani, Nurfitri dan Salamun Taufik. 2010. Agribisnis Tanaman Pangan
Teknik Budidaya Kacang Kedelai (Glicyne max (L.) Merril). Bandung:
Universitas Padjajaran
Saleh, Nasir. 2015. Modul Implementasi Pengendalian Penyakit Terpadu Pada
Tanaman Kedelai. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbiumbian Malang
Suhaeni, N. 2007. Petunjuk Praktis Menanam Kedelai. Bandung: Nuansa
Warintek. 2000. Kedelai (Glicyne max L.). Jakarta: Kantor Deputi Menegristek
Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi
Zakaria, Amar K. 2010. Kebijakan Pengembangan Budidaya Kedelai Menuju
Swasembada Melalui Partisipasi Petani. Analisis Kebijakan Pertanian.
Volume 8 no. 3, September 2010: 259-272