Anda di halaman 1dari 19

TUGAS

ANALISIS PENILAIAN KTSP DENGAN KURIKULUM 2013


Disusun untuk memenuhi salah satu tugas individu dalam
Mata Kuliah: Assesmen Pembelajaran Pendidikan Dasar
Dosen Pembina : Dr. Nurhikmah, S.Pd., M.Si.

OLEH
DIAN EKAWATI AMIR
14B14033
DIKDAS A

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2015

ANALISIS SISTEM PERBEDAAN PENILAIAN KTSP DENGAN KURIKULUM


2013
Perbedaan mendasar K13 dari KBK dan KTSP juga diklaim berdasarkan
pengembangan kompetensi yang sebelumnya berbasis mata pelajaran menjadi didasarkan
pada Kurikulum Inti (KI). Ditekankannya pendekatan scientific diklaim sebagai ciri khas
K13, padahal perubahan sebenarnya hanya dari segi istilah dan langkah-langkah teknisnya
saja. Hal ini dikarenakan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan KTSP (Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan) sejak awal menekankan pendekatan inquiry, yang pada
hakekatnya tidak berbeda secara signifikan dari pendekatan scientific. Melalui proses
inquiry siswa melakukan proses pembelajaran berdasarkan pengamatan, pengalaman,
diskusi, yang bermuara pada penyimpulan, yang tahapannya persis sama dengan
pendekatan yang diistilahkan dengan pendekatan scientific.
Metode pembelajaran K13 dicontohkan seolah berbeda dari KBK dan KTSP, di
mana proses pembelajaran tidak dilakukan dengan berbasis guru, melainkan melalui
pendekatan yang disebut scientific tersebut. Padahal dalam praktiknya, seluruh metode
pembelajaran yang selama ini dituntut digunakan dalam KBK dan KTSP tetap digunakan
dalam K13. Metode pembelajaran K13 sama sekali tidak berbeda dari kurikulum
sebelumnya.
Perbedaan paling jelas dari K13 dari KBK dan KTSP adalah pada digunakannya
pendekatan tematik. Kalau ada bagian yang dipandang berbeda mungkin di sinilah letak
perbedaan K13 dari KBK dan KTSP. Di jenjang sekolah dasar, pembelajaran tematik K13
diberlakukan pada seluruh tingkatan kelas, sementara sebelumnya hanya diterapkan di
kelas bawah (kelas 1-3). Hanya saja, berdasarkan buku-buku yang diterbitkan oleh
pemerintah, struktur materi pelajaran (sub tema) mulai kelas IV ke atas tidak lebih dari
kliping materi pelajaran yang berlaku dalam KBK dan KTSP, sekedar untuk menyamarkan
mata pelajaran ke dalam tema-tema yang telah ditentukan. Dengan kata lain, substansi
pembelajaran pada K13 sebenarnya tidak berbeda dari sebelumnya, sebab yang berbeda
hanya dalam penempatannya.
Penilaian dalam pendekatan scientific yang sebelumnya menggunakan penilaian
autentik diubah menjadi penilaian berdasarkan beberapa Kompetensi, yaitu K1, K2, K3
dan K4. Substansi penilaian tersebut pada prinsipnya tidak berbeda, alias sama dengan
KBK dan KTSP. Penilaian dengan menggunakan rubrik penilaian sudah ditekankan dalam

KBK dan KTSP, sekalipun karena berbagai kerumitan yang dihadapi dalam praktik,
akhirnya disederhakan dengan berbagai varian. Penilaian dalam K13 justru tidak
konsisten, sebab setiap kompetensi (K1-K4) belum tentu relevan dengan semua tema yang
dipelajari.
A. SISTEM PENILAIAN KTSP
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ini disusun untuk menjalankan
amanah yang tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintahan Republik
Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Secara umum, penilaian adalah proses sistematis pengumpulan informasi
(angka, deskripsi verbal), analisis, dan interpretasi informasi untuk memberikan
keputusan terhadap kadar hasil kerja. Penilaian yang diterapkan dalam KTSP adalah
Penilaian Berbasis Kelas (PBK). PBK memiliki pengertian penilaian sebagai
assessment, yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh dan mengefektifkan
informasi tentang hasil belajar siswa pada tingkat kelas selama dan setelah kegiatan
belajar mengajar. Data/informasi dari PBK merupakan salah satu bukti yang dapat
digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu program pendidikan.
Penilaian hasil belajar peserta didik harus memperhatikan prinsip-prinsip
sebagai berikut:
1. Sahih (valid), yakni penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan
kemampuan yang diukur;
2. Objektif, yakni penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak
dipengaruhi subjektivitas penilai;
3. Adil, yakni penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik, dan tidak
membedakan latar belakang sosial-ekonomi, budaya, agama, bahasa, suku bangsa,
dan jender;
4. Terpadu, yakni penilaian merupakan komponen yang tidak terpisahkan dari
kegiatan pembelajaran;
5. Terbuka, yakni prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan
keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan;
6. Menyeluruh dan berkesinambungan, yakni penilaian mencakup semua aspek
kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik yang sesuai, untuk memantau
perkembangan kemampuan peserta didik;
7. Sistematis, yakni penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan
mengikuti langkah-langkah yang baku;
8. Menggunakan acuan kriteria, yakni penilaian didasarkan pada ukuran
pencapaian kompetensi yang ditetapkan;

9. Akuntabel, yakni penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik,


prosedur, maupun hasilnya.
Ragam Penilaian Kelas
1. Tes Tertulis
Tes tertulis merupakan tes dalam bentuk bahan tulisan (baik soal maupun
jawabannya). Dalam menjawab soal siswa tidak selalu harus merespon dalam bentuk
menulis kalimat jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk mewarnai, memberi tanda,
menggambar grafik, diagram dan sebagainya.
Bentuk instrumen tes dan penskorannya
Obyektif :
a) Pilihan ganda
b) Benar Salah
c) Menjodohkan
d) Isian singkat
Non Obyektif (Subyektif):
a) Jawaban singkat atau isian singkat
b) Uraian obyektif (Esai berstruktur)
c) Uraian bebas (Esai bebas)
Bentuk instrumen ini dapat dipakai untuk mengukur kompetensi siswa dalam
semua tingkat ranah kognitif. Kaidah penulisan instrumen bentuk uraian bebas
adalah : (a) gunakan kata-kata seperti mengapa, uraikan, jelaskan, bandingkan,
tafsirkan, hitunglah dan buktikan; (b) hindari penggunaan pertanyaan seperti siapa,
apa, kapan, dan lain-lain.
d) Pertanyaan lisan
2. Penilaian Kinerja (Performance Asessment)
Performance Asessment merupakan penilaian dengan berbagai macam tugas
dan situasi dimana peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan
pengaplikasian pengetahuan yang mendalam, serta keterampilan di dalam berbagai
macam konteks.
Contoh-contoh alat penilaian kinerja : permainan, drama, demonstrasi,
olahraga, bermain musik, bernyanyi, pantomim, berdoa, membaca puisi, berpidato,
diskusi, wawancara, debat, bercerita, menari, kerajinan tangan, pesawat sederhana,
simpul tali-temali, dan sebagainya.
Contoh Tugas Penilaian Kerja
Form Penilaian Pembacaan Cerita
Nama Siswa :
Tema cerita :

Petunjuk

: Tuliskan centang di belakang huruf di mana kemampuan siswa teramati


pada waktu bercerita.

No
1

Ekspresi
Fisik (Physical Expression)

Berdiri tegak melihat pada penonton


Mengubah ekspresi wajah sesuai dengan perubahan

pernyataan yang disajikan


Suara (vocal expression)

Berbicara dengan kata-kata yang jelas


Nada suaranya berubah-ubah sesuai

dengan

pernyataan yang disajikan


Berbicara cukup keras untuk didengar oleh penonton
Verbal (Vercal expression)

Memilih kata-kata yang tepat untuk menegaskan arti


Tidak mengulang-ulang pernyataan
Menggunakan kalimat yang lengkap untuk

mengutarakan suatu pikiran


Menyimpulkan pokok-pokok pikiran yang penting

3. Penilaian Portofolio
Portofolio merupakan kumpulan atas berkas pilihan yang dapat memberikan
informasi bagi suatu penilaian.
Tujuan portofolio :
a) Menghargai perkembangan yang dialami siswa
b) Mendokumentasikan proses pembelajaran yang berlangsung
c) Memberi perhatian pada prestasi kerja siswa yang terbaik.
Contoh alat penilaian portofolio : puisi, karangan, gambar/tulisan, peta/denah,
makalah, laporan observasi, sinopsis, naskah pidato, naskah drama, kartu ucapan, surat,
teks lagu, resep masakan, dan sebagainya.
Contoh Tugas Penilaian Portofolio (membuat makalah)
Nama siswa : ...............
Tanggal
No
1
2
3
4
5

: ...............
Aspek yang dinilai
Latar belakang masalah/pendahuluan
Kajian pustaka
Ketajaman pembahasan/analisis
Penyimpulan/penutup
Tata tulis dan bahasa
Skor total (maksimal 100)

Skor (10 20)

4. Penilaian Proyek
Yang dimaksud proyek adalah tugas yang harus diselesaikan dalam periode /
waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari pengumpulan,
pengorganisasian, pengevaluasian, hingga penyajian data. Hasil belajar dapat dinilai
ketika siswa sedang melakukan proyek, misalnya pada saat :
a) Merencanakan dan mengorganisasikan investigasi
b) Bekerja dalam tim
c) Arahan diri
Contoh Tugas Penilain Proyek
Materi
: Koperasi Sekolah, cara pengelolaan dan dampaknya bagi sekolah
Perancangan Kegiatan :
a) Observasi ke beberapa koperasi sekolah
b) Wawancara dengan beberapa ahli dari bidang perkoperasian, pengelola koperasi,
dan anggota koperasi.
c) Pembuatan laporan/makalah dari kegiatan observasi. Format dibuat oleh guru dan
dapat juga dikembangkan oleh siswa.
d) Mengadakan diskusi di dalam kelas yang dimoderatori oleh guru tentang makalah
yang telah disusun berdasarkan hasil observasi tersebut.
Penilaian dilakukan terhadap :
a) Keaktifan pada saat kegiatan wawancara
b) Makalah yang dibuat
c) Aktivitas dalam diskusi
5. Penilaian Hasil Kerja (Product Asessment)
Penilaian hasil kerja siswa merupakan penilaian terhadap keterampilan siswa
dalam membuat suatu produk benda tertentu dan kualitas produk tersebut. Terdapat dua
tahapan penilaian yaitu : pertama, penilaian tentang pemilihan dan cara penggunaan
alat serta prosedur kerja siswa. Kedua, penilaian tentang kualitas teknik maupun
estetika hasil karya / kerja siswa.
Hasil kerja dapat berupa produk kerja siswa yang bisa saja terbuat dari kain,
kertas, metal, kayu, plastik, keramik, dan hasil karya seni seperti lukisan, gambar, dan
patung. Hasil kerja yang berupa aransemen musik, koreografi, karya sastra tidak
termasuk hasil kerja yang dimaksud disini.
Contoh Tugas Penilaian Produk
Tugas : Buatlah rancangan model benda yang menggunakan roda!
Ketentuan:
a) Gambar rancangan model!
b) Bahan untuk model tertulis dalam rancangan!
c) Tentukan spesifikasi bahan untuk model!

Contoh penskoran tugas penilaian produk:


No
1
2
3
4

Kriteria
Ada gambar rancangan model
Bahan tertulis dalam model
Spesifikasi bahan tertulis
Unsur estetika

Skor
B
B
B
B

C
C
C
C

K
K
K
K

Kriteria penskoran
B = gambar proporsional, bahan tertulis lengkap, spesifikasi bahan jelas
C = gambar kurang proporsinal, bahan tertulis kurang lengkap, spesifikasi bahan
kurang jelas.
K = gambar tidak proporsional, bahan tertulis tidak lengkap, spesifikasi bahan tidak
jelas.
6. Penilaian sikap
Penilaian sikap merupakan penilaian terhadap perilaku dan keyakinan siswa
terhadap suatu obyek, fenomena/masalah.
Secara umum, penilaian sikap dalam berbagai mata pelajaran dapat dilakukan
berkaitan dengan berbagai obyek sikap sebagai berikut :
a) Sikap terhadap mata pelajaran
b) Sikap guru terhadap mata pelajaran
c) Sikap terhadap proses pembelajaran, dan lain-lain.
Penilaian ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
a) Observasi perilaku, misalnya tentang kerja sama, inisiatif, perhatian.
b) Pertanyaan langsung, misalnya tanggapan terhadap tata tertib sekolah yang baru
c) Laporan pribadi, misalnya menulis tentang tawuran antar pelajar
Contoh Penilaian Sikap
Pilihan Sikap
SS S
N

No Pernyataan

TS

ST
S

Kegiatan

pentas

seni

drama

perlu

diadakan di sekolah
Kepala sekolah dan guru hendaknya ikut
aktif dalam apresiasi terhadap sastra

khusunya drama
Pementasan drama tidak mendukung
untuk menumbuhkan kreativitas siswa.

7. Penilaian Diri (Self Assessment)


Penilaian diri di tingkat kelas (PDK) atau Classroom Self Assessment (CSA)
adalah penilaian yang dilakukan sendiri oleh guru atau siswa yang bersangkutan untuk
kepentingan pengelolaan kegiatan belajar mengajar (KBM) di tingkat kelas. Penerapan

konsep PDK adalah sejalan dengan penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
yang menerapkan penilaian berbasis kelas atau Classroom Based Assessment. Hasil
PDK merupakan masukan bagi guru di kelas dan bagi pimpinan sekolah untuk
meningkatkan kinerja semua staf dan guru-guru di sekolah di masa datang.
Contoh Penilaian Diri
Format Penilaian Diri Siswa dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Nama Siswa :
Hari
: .
1) Terhadap pelajaran Bahasa Indonesia, saya .
2) Tujuan mempelajari atau memahami Bahasa Indonesia adalah .
3) Menurut saya, Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang .
4) Semester ini, pokok bahasan yang paling saya sukai dari Bahasa Indonesia
adalah ..

Berikut contoh Format penilaian kurikulum KTSP 2006


DAFTAR NILAI HARIAN
MATA PELAJARAN
KELAS /SEMESTER

N
O

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

NAMA

:IA

ULANGAN HARIAN
R PRAKTEK/PERBUA
TULIS
LISAN
T
TAN
RT
1 2 3 4 5
1 2 3 4 5
1 2 3 4 5

R
T

TUGAS/PORTOF
OLIO

R
T

RT

UL
AKHI
R
SMS
T

R
T
1

AINURRAFIQAH
ANDI TENRI AJENG
AISYAH
CINTARA FIRDAUS
MUTIAH
WIDIANTI
AHMAD NURDIYANTO
AL-FIEKRAH
RIZAL
RISWALDI

Bajoe, 12 April 2015


Mengetahui,
Kepala Sekolah

UL
TENGA
H
SMST

Guru Kelas

T P

R
T

NR

_________________

_________________

Analisis Sistem Penilaian KTSP


Penilaian dalam KTSP harus dirancang untuk dapat mengukur dan memberikan
informasi mengenai pencapaian kompetensi peserta didik yang diperoleh melalui kegiatan
tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.
Penilaian dalam KTSP adalah penilaian berbasis kompetensi, yaitu bagian dari
kegiatan pembelajaran yang dilakukan untuk mengetahui pencapaian kompetensi peserta
didik yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Penilaian dilakukan selama
proses pembelajaran dan/atau pada akhir pembelajaran. Fokus penilaian pendidikan adalah
keberhasilan belajar peserta didik dalam mencapai standar kompetensi yang ditentukan.
Pada tingkat mata pelajaran, kompetensi yang harus dicapai berupa Standar Kompetensi
(SK) mata pelajaran yang selanjutnya dijabarkan dalam Kompetensi Dasar (KD).
Penilaian dilakukan secara menyeluruh yaitu mencakup semua aspek kompetensi
yang meliputi kemampuan kognitif, psikomotorik, dan afektif. Namun pada KTSP lebih
bertitik tolok pada aspek kognitif, tetapi bukan berarti mengabaikan aspek afektif dan
psikomotor peserta didik. Dalam artian penilaian KTSP dominan pada aspek kognitif.
Model format penilaian pada KTSP juga menyatukan antara kognitif, afektif dan
psikomotor sehingga guru dengan mudah merangkum semua nili dari setiap peserta didik.
Sistem penilaian dalam KTSP ini dominan berdasarkan pada hasil. Penilaian proses hanya
berlaku saat pengamatan guru terhadap sikap yang diaplikasikan oleh peserta didik.
Penilaian dalam KTSP menggunakan acuan kriteria. Maksudnya, hasil yang dicapai
peserta didik dibandingkan dengan kriteria atau standar yang ditetapkan. Apabila peserta
didik telah mencapai standar kompetensi yang ditetapkan, ia dinyatakan lulus pada mata
pelajaran tertentu. Apabila peserta didik belum mencapai standar, ia harus mengikuti
program remedial/perbaikan sehingga mencapai kompetensi minimal yang ditetapkan.
Penilaian yang dilakukan harus memiliki asas keadilan yang tinggi. Maksudnya,
peserta didik diperlakukan sama sehingga tidak merugikan salah satu atau sekelompok
peserta didik yang dinilai. Selain itu, penilaian tidak membedakan latar belakang sosialekonomi, budaya, bahasa, jender, dan agama. Penilaian juga merupakan bagian dari proses
pendidikan yang dapat memacu dan memotivasi peserta didik untuk lebih berprestasi
meraih tingkat yang setinggi-tingginya sesuai dengan kemampuannya.
B. SISTEM PENILAIAN KURIKULUM 2013
Pemberlakukan kurikulum 2013 sudah barang tentu sebagai sarana untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional. UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional pada Pasal 1 Butir (1),dinyatakan bahwa Pendidikan adalah

usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajardan proses pembelajaran
agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri,kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Deskripsi
pada Pasal 1 Butir (1) secara eksplisit sudah nampak dalam kurikulum 2013, yakni
pada Kompetensi Inti Satu (KI 1) yang berkaitan dengan sikap spiritual, Kompetensi
Inti Dua (KI 2) berkaiatan sengan sikap sosial, Kompetensi Inti Tiga (KI 3) tentang
pengetahuan, dan Kompetensi Inti Empat (KI 4) berdimensi keterampilan.
Adapun prinsip penilaian dalam peraturan baru (Pemendiknas No 66 tahun
2013) tersebut sebagai berikut:
1. Objektif, berarti penilaian berbasis pada standar dan tidak dipengaruhi faktor
subjektivitas penilai.
2. Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik dilakukan secara terencana, menyatu
dengan kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan.
3. Ekonomis, berarti penilaian yang efisien dan efektif dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan pelaporannya.
4. Transparan, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan
keputusan dapat diakses oleh semua pihak.
5. Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak internal
sekolah maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur, dan hasilnya.
6. Edukatif, berarti mendidik dan memotivasi peserta didik dan guru.
Kurikulum 2013 menekankan pada pembelajaran berbasis aktivitas sehingga
penilaiannya lebih menekankan pada penilaian proses, baik pada aspek sikap,
pengetahuan, maupun keterampilan. Dengan demikian, hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam merancang penilaian adalah sebagai berikut:
1. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian KD-KDpada KI-3 dan KI-4.
2. Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan hal-hal yang dapat
dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk
menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
3. Sistem penilaian yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan.
Artinya semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan
KD yang telah dikuasai dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan peserta
didik.
4. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut, berupa perbaikan proses
pembelajaran berikutnya, program remedial bagi peserta didik yang pencapaian

kompetensinya di bawah ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik


yang telah memenuhi ketuntasan.
5. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh
dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan
tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses, misalnya
teknik wawancara, maupun produk berupa hasil observasi lapangan.
Terdapat empat aspek yang menjadi fokus dalam rencana implementasi dan
keterlaksanaan kurikulum 2013 antara lain:
1. Kompetensi guru dalam pemahaman substansi bahan ajar, yang menyangkut
metodologi pembelajaran, yang nilainya pada pelaksanaan uji kompetensi guru
(UKG) baru mencapai rata-rata 44,46.
2. Kompetensi akademik di mana guru harus menguasai metode penyampaian ilmu
pengetahuan kepada siswa.
3. Kompetensi sosial yang harus dimiliki guru agar tidak bertindak asosial kepada
siswa dan teman sejawat lainnya.
4. Kompetensi manajerial atau kepemimpinan karena guru sebagi seorang yang akan
digugu dan ditiru siswa.
Kurikulum 2013 sebagai hasil dari penjabaran Permendikbud No. 65 Tahun
2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah yang mengisyaratkan
mengisyaratkan tentang perlunya proses pembelajaran yang dipandu dengan kaidahkaidah pendekatan saintifik atau ilmiah. Penerapan pendekatan saintifik/ilmiah dalam
pembelajaran menuntut adanya perubahan setting dan bentuk pembelajaran tersendiri
yang berbeda dengan pembelajaran konvensional. Hal ini sesuai dengan beberapa
metode pembelajaran yang dipandang sejalan dengan prinsip-prinsip pendekatan
saintifik/ilmiah, antara lain metode: (1) Problem Based Learning; (2) Project Based
Learning; (3) Inkuiri/Inkuiri Sosial dan (4) Group Investigation.
Model Penilaian Otentik pada Kurikulum 2013
Sebagaimana diketeahui bahwa penilaian pada kurikulum KTSP berbeda dengan
kurikulum 2013. Dalam kurikulum 2013, penilaian dilakukan secara komperehensif untuk
menilai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran meliputi: ranah
sikap, pengetahuan dan keterampilan (bdk. Lampiran Permendikbud No. 66 tahun 2013).
Penilaian otentik menilai kesiapan peserta didik serta proses dan hasil belajar
secara utuh. Dalam penilaian otentik setiap pendidik mengetahui perkembangan siswa

dalam setiap proses kegiatan belajar mengajar di kelas. Setiap komponen yang ada di kelas
termasuk antar siswa ikut terlibat dalam penilaian otentik ini. pada kurikulum sebelumnya
penilaian menggunakan skala 0 hingga 100, sedangkan aspek afektif menggunakan huruf
A, B, C, dan D.
Pada kurikulum 2013 skala nila tidak lagi 0 100, melainkan 1 4 untuk aspek
kognitif dan psikomotor, sedangkan untuk aspek afektif menggunakan SB = Sangat Baik,
B= Baik, C = Cukup, K = Kurang. Skala nilai 1 4 dengan ketentuan kelipatan 0,33.
Diantara aspek penilaian pada kurikulum 2013 adalah penilaian sikap, penilaian
knowlidge dan penilaian skill.
1. Penilaian Sikap

Contoh Format Penilaian Kurikulum 2013


1. Penilaian Sikap

No

Nama

Percaya Diri
BT

MT

MB

Santun
SM

BT

MT

MB

Bekerja Sama
SM

BT

MT

MB

SM

1
AINURRAFIQAH
2
ANDI TENRI AJENG
3
AISYAH
4
CINTARA FIRDAUS
5
MUTIAH
6
WIDIANTI
7
AHMAD NURDIYANTO
8
AL-FIEKRAH
9
RIZAL
10
RISWALDI
Ket :
BT : Belum Terlihat
MB : Mulai Berkembang
MT : Mulai Terlihat
SM : Sudah Membudaya
a. Percaya Diri
- BT : Jika siswa belum berani tampil melakukan kegiatan yang diminta oleh guru
- MT : Jika siswa sudah berani melakukan kegiatan yang diminta guru namun masih terlihat malu malu
- MB : Jika siswa sudah melakukan kegiatan yang diminta guru dan berani berbicara di depan kelas
- SM : Jika siswa berani menjawab pertanyaan yang diajukan guru, tanpa harus disebut namanya
b. Disiplin (sesuaikan dengan KD 3 dan 4)
- BT : Jika siswa masih sering terlambat masuk kelas dan mengumpulkan tugas
- MT : Jika siswa tidak terlambat masuk kelas namun masih sering terlambat mengumpulkan tugas
- MB : Jika siswa masuk kelas dan menyelesaikan tugas tepat waktu
- SM : Jika siswa sudah masuk kelas dan segera menyiapkan segala perlengkapan belajarnya tanpa menunggu instruksi dari
guru

c. Bekerja Sama
- BT
:
Jika siswa belum mau bekerja dengan teman kelasnya
- MT
:
Siswa mau bekerja sama, tetapi hanya dengan teman sebangkunya
- MB
:
siswa mau bekerja sama, tetapi hanya dengan teman sama dengan kemampuan dan jenis kelaminnya
- SM
:
siswa mau bekerja sama dengan semua temannya tanpa melihat lagi tingkat kemampuan dan jenis
kelaminnya (heterogen)

2. Penilaian Pengetahuan ( Tes Tertulis )


Lingkarilah huruf ( B ) Benar / ( S ) Salah, cara yang baik menyambut ayah/ibu pulang kerja
No
Gambar
Nama Kegiatan
Pilihan jawaban
1

MEMBAWAKAN SEPATU AYAH

MARAH KARENA AYAH PULANG TELAT

MEMBAWAKAN TAS IBU

BERTENGKAR DENGAN ADIK

MENYAMBUT AYAH DENGAN RIANG

Rubrik Penilaian
No
1
2

KRITERIA
Menjawab dengan jawaban benar
Menjawab dengan jawaban salah
Tidak menjawab sama sekali
Menjawab dengan jawaban benar
Menjawab dengan jawaban salah
Tidak menjawab sama sekali
Menjawab dengan jawaban benar
Menjawab dengan jawaban salah
Tidak menjawab sama sekali
Menjawab dengan jawaban benar
Menjawab dengan jawaban salah
Tidak menjawab sama sekali
Menjawab dengan jawaban benar
Menjawab dengan jawaban salah
Tidak menjawab sama sekali
Jumlah skor yang di peroleh

SKOR
2
1
0
2
1
0
2
1
0
2
1
0
2
1
0

SKOR MAKSIMAL
2
2

2
10

Penilaian :
Jumlah skor yang diperolehsiswa
x 100
skor maksimal
3. Penilaian Keterampilan

Hasil pengamatan kegiatan bermain peran


No
Nama Siswa

1
T

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

AINURRAFIQAH
ANDI TENRI AJENG
AISYAH
CINTARA FIRDAUS
MUTIAH
WIDIANTI
AHMAD NURDIYANTO
AL-FIEKRAH
RIZAL
RISWALDI

2
BT

3
BT

BT

Analisis Sistem Penilaian Kurikulum 2013


Dalam proses penilaian, digunakan pendekatan penilaian menggunakan sistem
penilaian otentik, siswa dinilai pada proses pembelajaran berlangsung. Pada proses
pembelajaran,

mengedepankan

pendekatan

saintifik,

siswa

diarahkan

untuk

mengelabolarisakan, menemukan dan menjelaskan fenomena yang terjadi dilapanan


berdasarkan hasil temuannya. Dengan demikian, pendekatan ini mengarahkan pada satu
kesimpulan bahwa siswa akan memahami pengetahuan berdasarkan apa yang ia rasakan
dan ditemukan.
Dalam kurikulum 2013 ini, penilaian dipusatkan pada penilaian sikap, meskipun
tidak melalaikan penilaian pengetahuan maupun keterampilan. Selain kaidah umum
penilaian pendidikan, terdapat kaidah khusus yang dapat dijadikan dasar pelaksanaan
penilaian selama proses pembelajaran di kelas oleh pendidik. Proses penilaian di dalam
kelas yang dilakukan oleh pendidik dikenal dengan istilah penilaian kelas.
Adapun model penelilain yang terdapat dalam kurikulum 2013 dapat berupa
penilaian berbasis tes dan non tes (porfolio), menilai proses dan output dengan
menggunakan authentic assesment, rapor memuat penilaian kuantitatif tentang
pengetahuan dan deskripsi kualitatif tentang sikap dan keterampilan kecukupan.
Teknik dan isntrumen penilaian dalam kurikulum 2013 sebagai berikut.
1. Penilaian kompetensi sikap
Pendidik melakukan penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian
diri, penilaian teman sejawat(peer evaluation) oleh peserta didik dan jurnal.
Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antarpeserta
didik adalah daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik,
sedangkan pada jurnal berupa catatan pendidik.
2. Penilaian Kompetensi Pengetahuan
Menilai kompetensi pengetahuan melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan.
3. Penilaian Kompetensi Keterampilan
Pendidik menilai kompetensi keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu
penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu
dengan menggunakan tes praktik, projek, dan penilaian portofolio. Instrumen yang
digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik.