Anda di halaman 1dari 13

SISTEM PEMERINTAHAN 5

JULI 1959 SAMPAI 11 MARET


1966

OLEH:
ANANDA SRI MURTI
(03)
RAY YUDA SUYATNA MADE
(22)
NI NYOMAN TRI WAHYUNINGSIH
(26)
NI NYOMAN VIRA SOMANIA
(28)
GEDE YUDA DARMADI PUTRA
(30)

Sistem Pemerintahan 5 Juli 1959

Konstituante bersama presiden berusaha selekas-

lekasnya
menetapkan
UUD
RI
untuk
menggantikan UUDS 1950.
Pada sidang pertama konstituante tanggal 10
november
1956,
presiden
soekarno
memperkenalkan istilah demokrasi terpimpin.
Lebih dari 2 kali bersidang, badan konstituante
tidak berhasil menetapkan UUD baru. masalah
utamanya adalah mengenai mengenai dasar negara
bagi Indonesia.

Sistem Pemerintahan 5 Juli 1959

Pada bulan maret 1959 pemerintah memberikan

keterangan dalam sidang pleno DPR mengenai


demokrasi terpimpin dalam rangka kembali ke UUD
1945.
Pada tanggal 22 April 1959 Presiden Soekarno
menyampaikan amanat kepada Konstituante tentang
kembali ke UUD 1945 dan penegasan mengenai
pokok-pokok demokrasi terpimpin.

Isi amanat presiden terhadap konstituante


Demokrasi Terpimpin merupakan demokrasi yang cocok
dengan kepribadian pandangan hidup bangsa
2. Demokrasi Terpimpin merupakan demokrasi disegala
bidang kenegaraan dan kemasyarakatan yang meliputi
politik dan social.
3. Demokrasi Terpimpin bukanlah dictator, sentralistis,
maupun liberal.
4. Inti dari pimpinan dalam demokrasi terpimpin merupakan
permusyawaratan
yang
dipimpin
oleh
hiukmah
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan bukan
oleh penyiasatan dan perdebatan yang diakhiri dengan
pengaduan kekuatan dan perhitungan suara pro dan kontra.
1.

Isi amanat presiden terhadap konstituante


5. Demokrasi Terpimpin merupakan alat bukanlah tujuan
6. Oposisi dalam arti melahirkan pendapat yang sehat
dan membangun diharuskan dalam demokrasi
terpimpin
7. Sebagai alat, demokrasi terpimpin mengenal juga
kebebasan berpikir, berbicara,mengeluarkan pendapat
dalam koridor hokum.
8. Tujuan pelaksanaan demokrasi terpimpin untuk
mencapai masyarakat adil dan makmur yang penuh
kebahagiaan materiil dan spiritual sesuai dengan citacita Proklamasi Kemerdekaan RI 1945.

Prosedur yang harus ditempuh unntuk


kembali ke UUD 1945
Setelah terdapat kata sepakat antara Dewan Menteri

dengan Presiden, maka pemerintah minta supaya diadakan


siding pleno konstituante
Atas nama pemerintah, disampaikan oleh presiden amanat
berdasarkan pasal 134 UUDS 1950 kepada konstituante
yang berisi anjuran supaya UUD 1945 ditetapkan.
Jika anjuran itu diterima oleh konstituante, maka
pemerintah atas ketentuan pasal 134 UUDS 1950
mengumumkan
UUD
1945
dengan
keluhuran.
Pengumuman dengan keluhuran tersebut disampaikan
dalam sidang pleno konstitunte berbentuk piagam yang
ditandatangani oleh presiden, para menteri, dan anggota
konstituante. Ternyata anggota konstituase tidak bisa
secara utuh menerima piagam kembali ke UUD 1945 dalam
sidang plenonya.

Pengeluaran dekrit presiden 5 juli 1959


dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang pada intinya untuk kembali

ke UUD 1945 dan membubarkan Konstituante. Dengan


berlakunya kembali UUD 1945. karena pada saat itu tidak ada
lembaga negara pendukung dari UUD 1945 yang diberlakukan
kembali, maka:
1. Diadakan pembaharuan anggota DPR melalui Penetapan
Presiden No. 3 tahun 1960
2. Penyusunan DPR-GR dan pemberhentian DPR hasil pemilu
1955 dengan melalui Penetapan Presiden No.4 tahun 1960
3. Mengeluarkan Penetapan Presiden No. 2 tahun 1959 tentang
pembentukan MPRS susunan keanggotaan MPRS dengan
Penetapan Presiden No. 12 tahun 1960
4. Mengeluarkan Penetapan Presiden No. 3 tahun 1959 tentang
DPAS

Tinjauan selama terlaksananya sistem pemerintahan terpimpin

Pada masa ini terjadi banyak penyimpangan yang dilakukan yaitu :


1.

Berdasarkan tinjauan konstitusional, pembentukan MPRS,


DPR-GR dan DPAS dengan Penetapan Presiden, pembubaran
DPR hasil pemilihan umum dengan peratutan pemerintah No. 7
tahun 1953 yang berdasarkan UUDS 1950, penetapan presiden
sebagai produk hukum menurut UUD 1945 merupakan suatu
penyimpangan.

2. Situasi politik yang sering tarik menarik antar kekuatan politik.


3. Lembaga negara yang dibentuk masih bersifat sementara.
4. Legislatif

dan partai politik memiliki kedudukan lemah,


sedangkan eksekutif memiliki kedudukan yang sangat kuat.

5. Demokrasi terpimpin banyak terjadi penyelewengan terhadap


pancasila dan UUD 1945 karena:
Konsep pancasila diselewengkan ke konsep Nasakom
Terjadi pemusatan kekuasaan Presiden/Pemimpin Besar Revolusi

dimana pimpinam MPRS dan DPAS diangkat oleh presiden dan


dijadikan Menteri Koordinator
MPRS dengan Ketetapan MPRS No. III/MPRS.1963 tentang
Pengangkatan Soekarno seumur hidup
Pada tahun 1960 DPR hasil pemilu tahun 1955 dibubarkan gara-gara
menolak RAPBN diajukan Presiden, selanjutnya dibentuk DPR-GR
Politik Luar Negeri yang Bebas Aktif diselewengkan menjadi Politik
Poros Jakarta Veking-Pyongyang
Indonesia keluar dari PBB pada tanggal 7 Januari 1965 dan kembali
menjadi anggota PBB kembali pada tanggal 28 September 1966.

SISTEM PEMERINTAHAN 11 MARET 1966


Orde

baru lahir dengan diawali berhasilnya


penumpasan terhadap G.30.S/PKI pada tanggal 1
Oktober 1965.
. Orde Baru bertekad untuk melaksanakan Pancasila
dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Orde
Baru ingin mengadakan koreksi total terhadap
sistem pemerintahan Orde Lama.

SISTEM PEMERINTAHAN 11 MARET 1966


Pada tanggal 11 Maret 1966, Presiden Soekarno

mengeluarkan surat perintah kepada Letjen Soeharto


atas nama presiden untuk mengambil tindakan yang
dianggap perlu guna mengamankan pelaksanaan
UUD 1945 secara murni dan konsekuen, untuk
menegakkan RI berdasarkan hukum dan konstitusi.
Maka tanggal 12 Maret 1966, dikeluarkanlah Kepres
No. 1/3/1966 yang berisi pembubaran PKI, ormasormasnya dan PKI sebagai organisasi terlarang di
Indonesia serta mengamankan beberapa menteri
yang terindikasi terkait kasus PKI.

CIRI PEMERINTAHAN
Konstitusi yang dipakai adalah UUD 1945 yang

murni dan konsekuen.


Bentuk negara adalah kesatuan.
Sistem pemerintahannya adalah presidensiil
Lembaga-lembaga dan alat perlengkapan negara
tunduk di bawah presiden
Sistem kepartaian menggunakan sistem
multipartai
Adanya doktrin P4 yang sangat kuat dan Wawasan
Nusantara guna mempertahankan kedudukan
penguasa

CIRI PEMERINTAHAN
Tidak ada protes terhadap aktivitas pemerintah, hak

bersuara hilang, banyak hak warga negara yang


dipaksakan untuk dihilangkan. Kedudukan warga negara
lemah didepan penguasa.
Diadakan tata urutan terhadap peraturan perundangundangan. Berdasarkan pada TAP MPRS No.
XX/MPRS/1966 urutannya adalah sebagai berikut :
UUD 1945
Ketetapan MPR
UU
Peraturan Pemerintah
Kepres